Anda di halaman 1dari 18

Laporan Pendahuluan Trauma Tumpul Abdomen

DEFINISI Traumaadalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan

cedera(Sjamsuhidayat, 1998). Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang

terletakdiantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yangmenusuk Trauma pada abdomen dapat di bagi menjadi dua jenis, yaitu :

A. Trauma penetrasi 1. Luka tembak 2. Luka tusuk B. Trauma non-penetrasi 1. Kompres 2. Hancur akibat kecelakaan 3. Sabuk pengaman 4. Cedera akselerasi Trauma pada dinding abdomen terdiri dari : 1. Kontusio dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi

Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinanterjadi eksimosis atau penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darahdapat menyerupai tumor. 2. Laserasi, Jikaterdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen harus dieksplorasi. Trauma Abdomen Atau adalah terjadi terjadinya fisiologi atau karena kerusakan pada trauma organ gangguan penetrasi. abdomen yang

dapatmenyebabkan

perubahan

sehingga

terjadi

metabolisme,

kelainanimonologi dan gangguan faal berbagai organ.

Trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Suddarth &Brunner (2002) terdiri dari: 1. Perforasi organ viseral intraperitoneum Cedera pada isi abdomen mungkin di sertaioleh bukti adanya cedera pada dinding abdomen. 2. Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostik ahlibedah.

3. Cedera thorak abdomen Setiap luka padathoraks yang mungkin menembus sayap kiri diafragma, atau sayap kanan dan hatiharus dieksplorasi (Sjamsuhidayat, 1998).

ETIOLOGI Menurut(Hudak & Gallo, 2001) kecelakaan atau trauma yang terjadi pada abdomen,umumnya banyak diakibatkan oleh trauma tumpul. Pada kecelakaan kendaraanbermotor, kecepatan, deselerasi yang tidak terkontrol merupakan kekuatan yangmenyebabkan trauma ketika tubuh klien terpukul setir mobil atau benda tumpullainnya. Trauma akibat benda tajam umumnya disebabkan oleh luka tembakyang menyebabkan kerusakan yang besar didalam abdomen. Selain luka tembak,trauma abdomen dapat juga diakibatkan oleh luka tusuk, akan tetapi luka tusuksedikit menyebabkan trauma pada organ internal diabdomen. Trauma pada abdomen disebabkan oleh 2 kekuatan yang merusak,yaitu : 1. Paksaan /benda tumpul Merupakan traumaabdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum. Luka tumpul pada abdomenbisa disebabkan oleh jatuh, kekerasan fisik atau pukulan, kecelakaan

kendaraanbermotor, cedera akibat berolahraga, benturan, ledakan, deselarasi, kompresiatau sabuk pengaman. Lebih dari 50% disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. 2. Trauma tembus Merupakan traumaabdomen dengan penetrasi ke dalam rongga peritoneum. Luka tembus pada abdomendisebabkan oleh tusukan benda tajam atau luka tembak.

PATOFISIOLOGI Jikaterjadi trauma penetrasi atau non-pnetrasi kemungkinan terjadi pendarahan intraabdomen yang serius, pasien akan memperlihatkan tanda-tanda iritasi yangdisertai penurunan hitung sel darah merah yang akhirnya gambaran klasik syokhemoragik. Bila suatu organ viseral mengalamiperforasi, maka tanda-tanda perforasi, tanda-tanda iritasi peritonium cepattampak. Tanda-tanda dalam trauma abdomen tersebut meliputi nyeri tekan, nyerispontan, nyeri lepas dan distensi abdomen tanpa bising usus bila telah terjadiperitonitis umum.Bila syok telah lanjut pasien akan mengalami takikardi danpeningkatan suhu tubuh, juga terdapat leukositosis.

Biasanya tanda-tandaperitonitis mungkin belum tampak. Pada fase awal perforasi kecil hanyatanda-tanda tidak khas yang muncul. Bila terdapat kecurigaan bahwa masuk ronggaabdomen, maka operasi harus dilakukan (Mansjoer, 2001).

MANIFESTASI KLINIS Menurut (Hudak & Gallo, 2001) tanda dangejala trauma abdomen, yaitu : 1. Nyeri Nyeridapat terjadi mulai dari nyeri sedang sampai yang berat. Nyeri dapat timbul dibagian yang luka atau tersebar. Terdapat nyeri saat ditekan dan nyeri lepas. 2. Darah dan cairan Adanya penumpukan darah atau cairandirongga peritonium yang disebabkan oleh iritasi. 3. Cairan atau udara dibawah diafragma Nyeridisebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan limpa. Tanda ini ada saat pasien dalam posisirekumben. 4. Mual dan muntah 5. Penurunan kesadaran (malaise, letargi,gelisah) Yangdisebabkan oleh kehilangan darah dan tanda-tanda awal shock hemoragi

PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Pemeriksaan diagnostik 1. Foto thoraks Untuk melihat adanya trauma pada thorak. 2. Pemeriksaan darah rutin Pemeriksaan Hb diperlukan untuk base-linedata bila terjadi perdarahan terus menerus. Demikian pula denganpemeriksaan hematokrit. Pemeriksaan leukosit yang melebihi 20.000/mm tanpaterdapatnya infeksi menunjukkan adanya perdarahan cukup banyak kemungkinanruptura lienalis. Serum amilase yang meninggi menunjukkan kemungkinan adanyatrauma pankreas atau perforasi usus halus. Kenaikan transaminase menunjukkankemungkinan trauma pada hepar. 3. Plain abdomen foto tegak Memperlihatkan udara bebas dalam ronggaperitoneum, udara bebas retroperineal dekat duodenum, corpus alineum danperubahan gambaran usus.

4. Pemeriksaan urine rutin Menunjukkan adanya trauma pada salurankemih bila dijumpai hematuri. Urine yang jernih belum dapat menyingkirkanadanya trauma pada saluran urogenital. 5. VP (Intravenous Pyelogram) Karena alasan biaya biasanya hanyadimintakan bila ada persangkaan trauma pada ginjal. 6. Diagnostik Peritoneal Lavage (DPL) Dapat membantu menemukan adanya darah ataucairan usus dalam rongga perut. Hasilnya dapat amat membantu. Tetapi DPL inihanya alat diagnostik. Bila ada keraguan, kerjakan laparatomi (gold standard). 1. Indikasi untuk melakukan DPL adalah sebagaiberikut : o Nyeri abdomen yang tidak bisa diterangkansebabnya o Trauma pada bagian bawah dari dada o Hipotensi, hematokrit turun tanpa alasanyang jelas o Pasien cedera abdominal dengan gangguankesadaran (obat, alkohol, cedera otak) o Pasien cedera abdominal dan cedera medulaspinalis (sumsum tulang belakang) o Patah tulang pelvis 2. Kontra indikasi relatif melakukan DPLadalah sebagai berikut : o Hamil o Pernah operasi abdominal o Operator tidak berpengalaman o Bila hasilnya tidak akan merubahpenatalaksanaan 7. Ultrasonografi dan CT Scan Sebagai pemeriksaan tambahan pada penderitayang belum dioperasi dan disangsikan adanya trauma pada hepar danretroperitoneum. B. Pemeriksaan khusus 1. Abdomonal Paracentesis Merupakan pemeriksaan tambahan yang sangatberguna untuk menentukan adanya perdarahan dalam rongga peritoneum. Lebih dari100.000 eritrosit/mm dalam larutan NaCl yang keluar dari rongga peritoneumsetelah dimasukkan 100200 ml larutan NaCl 0.9% selama 5 menit, merupakanindikasi untuk laparotomi. 2. Pemeriksaan Laparoskopi

Dilaksanakan bila ada akut abdomen untukmengetahui langsung sumber penyebabnya. 3. Bila dijumpai perdarahan dananus perlu dilakukan rekto-sigmoidoskopi. C. Penatalaksanaan Medis 1. Abdominal paracentesis Menentukan adanya perdarahan dalam ronggaperitonium, merupakan indikasi untuk laparotomi. 2. Pemeriksaan laparoskopi Mengetahui secara langsung penyebab abdomenakut. 3. Pemasangan NGT Memeriksa cairan yang keluar dari lambung padatrauma abdomen. 4. Pemberian antibiotik Mencegahinfeksi. 5. Laparotomi

PENANGANAN PRE HOSPITAL DAN HOSPITAL A. Pre Hospital Pengkajian yang dilakukan untuk menentukanmasalah yang mengancam nyawa, harus mengkaji dengan cepat apa yang terjadi dilokasi kejadian. Paramedik mungkin harus melihat apabila sudah ditemukan lukatikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus segera ditangani, penilaian awaldilakukan prosedur ABC jika ada indikasi. Jika korban tidak berespon, makasegera buka dan bersihkan jalan napas. 1. Airway Dengan kontrol tulang belakang. Membukajalan napas menggunakan teknik head tilt chin lift atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu,periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas.Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya. 2. Breathing Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksapernapasan dengan menggunakan cara lihat-dengarrasakan tidak lebih dari 10detik untuk memastikan apakah ada napas atau tidak. Selanjutnya lakukanpemeriksaan status respirasi korban (kecepatan, ritme dan adekuat tidaknyapernapasan). 3. Circulation

Dengan kontrol perdarahan hebat. Jikapernapasan korban tersengal-sengal dan tidak adekuat, maka bantuan napas dapatdilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi, lakukan resusitasi jantungparu segera. Rasio kompresi dada dan bantuan napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas). Penanganan awal trauma non- penetrasi(trauma tumpul) 1. Stop makanan dan minuman 2. Imobilisasi 3. Kirim kerumah sakit. Penetrasi (trauma tajam) 1. Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan(pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh dicabut kecuali dengan adanya timmedis. 2. Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukupdengan melilitkan dengan kain kassa pada daerah antara pisau untuk memfiksasipisau sehingga tidak memperparah luka. 3. Bila ada usus atau organ lain yang keluar,maka organ tersebut tidak dianjurkan dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudianorgan yang keluar dari dalam tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verbansteril. 4. Imobilisasi pasien. 5. Tidak dianjurkan memberi makan dan minum. 6. Apabila ada luka terbuka lainnya maka balutluka dengan menekang. 7. Kirim ke rumahsakit. B. Hospital 1. Trauma penetrasi Bila ada dugaan bahwa ada luka tembusdinding abdomen, seorang ahli bedah yang berpengalaman akan memeriksa lukanyasecara lokal untuk menentukan dalamnya luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila adaluka masuk dan luka keluar yang berdekatan. a. Skrinning pemeriksaan rontgen Foto rontgen torak tegak berguna untukmenyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanyaudara intraperitonium. Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untukmenentukan jalan peluru atau adanya udara retroperitoneum. b. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning Ini di lakukan untuk mengetauhi jeniscedera ginjal yang ada.

c. Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra. d.

Uretrografi.

Sistografi Ini digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing,contohnya pada :

o fraktur pelvis o traumanon-penetrasi 2. Penanganan pada trauma benda tumpul dirumah sakit : a. Pengambilan contoh darah dan urine Darah di ambil dari salah satu venapermukaan untuk pemeriksaan laboratorium rutin, dan juga untuk pemeriksaanlaboratorium khusus seperti pemeriksaan darah lengkap, potasium, glukosa,amilase. b. Pemeriksaan rontgen Pemeriksaan rongten servikal lateral,toraks anteroposterior dan pelvis adalah pemeriksaan yang harus di lakukan padapenderita dengan multi trauma, mungkin berguna untuk mengetahui udaraekstraluminal di retroperitoneum atau udara bebas di bawah diafragma, yangkeduanya memerlukan laparotomi segera. c. Study kontras urologi dan gastrointestinal Dilakukan pada cedera yang meliputi daerahduodenum, kolon ascendens atau decendens dan dubur (Hudak & Gallo, 2001).

PATHWAY Trauma (kecelakaan) Penetrasi& Non-Penetrasi Terjadiperforasi lapisan abdomen (kontusio,laserasi, jejas, hematom) Menekansaraf peritonitis

Terjadiperdarahan jar.lunak dan rongga abdomen Nyeri Motilitasusus Disfungsi usus Resiko infeksi Refluks usus output cairan berlebih

Gangguan cairan dan eloktrolit Kelemahan fisik Gangguan mobilitasfisik

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

(Sumber : Mansjoer,2001)

ASUHAN KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN Dasar pemeriksaan fisik head to toe harusdilakukan dengan singkat tetapi menyeluruh dari bagian kepala ke ujung kaki.

Pengkajian data dasar menurut Doenges (2000), adalah : 1. Aktifitas/istirahat Data Subyektif : Pusing, sakit kepala,nyeri, mulas Data Obyektif : Perubahan kesadaran,masalah dalam keseimbangan cedera (trauma). 2. Sirkulasi DataObyektif : Kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas(hipoventilasi,hiperventilasi, dll). 3. Integritas ego Data Subyektif : Perubahan tingkahlaku/ kepribadian (tenang atau dramatis)

Data Obyektif : Cemas, bingung, depresi. 4. Eliminasi Data Subyektif : Inkontinensia kandungkemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.

5. Makanan dan cairan Data Subyektif : Mual, muntah, danmengalami perubahan selera makan.

Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen 6. Neurosensori Data Subyektif : Kehilangan kesadaran sementara,vertigo Data Obyektif : Perubahan kesadaran bisa sampai koma, perubahan statusmental, kesulitan dalam menentukan posisi tubuh 7. Nyeri dan kenyamanan DataSubyektif : Sakit pada abdomen dengan intensitas dan lokasi yang berbeda,biasanya lama. Data Obyektif : Wajah meringis,gelisah, merintih. 8. Pernafasan DataSubyektif : Perubahan pola nafas 9. Keamanan Data Subyektif : Trauma baru /trauma karena kecelakaan. Data Obyektif : Dislokasigangguan kognitif, gangguan rentang gerak.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Defisit Volume cairan dan elektrolitberhubungan dengan perdarahan

Tujuan : Terjadi keseimbangan volume cairan. Intervensi :

1. Kaji tanda-tanda vital R/untuk mengidentifikasi defisit volume cairan 2. Pantau cairan parenteral dengan elektrolit,antibiotik dan vitamin R/mengidentifikasi keadaan perdarahan 3. Kaji tetesan infus R/awasi tetesan untuk mengidentifikasi kebutuhan cairan. 4. Kolaborasi : Berikan cairan parenteralsesuai indikasi. R/ cara parenteral membantu memenuhikebutuhan nuitrisi tubuh. 5. Tranfusi darah R/ menggantikan darah yang keluar.

Nyeri berhubungan dengan adanya traumaabdomen atau luka penetrasi abdomen. Tujuan : Nyeriteratasi Intervensi : 1. Kaji karakteristik nyeri R/ mengetahui tingkat nyeri klien. 2. Beri posisi semi fowler. R/ mengurngi kontraksi abdomen 3. Anjurkan tehnik manajemen nyeri sepertidistraksi R/ membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan perhatian 4. Kolaborasi pemberian analgetik sesuaiindikasi. R/ analgetik membantu mengurangi rasanyeri. 5. Managemant lingkungan yang nyaman R/ lingkungan yang nyaman dapat memberikanrasa nyaman klien

Resiko infeksi berhubungan dengan tindakanpembedahan, tidak adekuatnya pertahanan tubuh. Tujuan :Tidak terjadi infeksi Intervensi : 1. Kaji tanda-tanda infeksi R/ mengidentifikasi adanya resiko infeksi lebih dini. 2. Kaji keadaan luka R/ keadaan luka yang diketahui lebih awal dapat mengurangi resiko infeksi. 3. Kaji tanda-tanda vital R/ suhu tubuh naik dapat di indikasikan adanya proses infeksi. 4. Perawatan luka dengan prinsip sterilisasi R/ teknik aseptik dapat menurunkan resiko infeksi nosokomial 5. Kolaborasi pemberian antibiotik R/ antibiotikmencegah adanya infeksi bakteri dari luar

Ansietas

berhubungan

dengan

krisis

situasidan

perubahan

status

kesehatan

Tujuan : Ansietas teratasi Intervensi : 1. Kaji perilaku koping baru dan anjurkanpenggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu lalu R/koping yang baik akan mengurangi ansietas klien. 2. Dorong dan sediakan waktu untukmengungkapkan ansietas dan rasa takut dan berikan penanganan R/mengetahui ansietas, rasa takut klien bisa mengidentifikasi masalah dan untukmemberikan penjelasan kepada klien. 3. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beripenguatan penjelasan mengenai penyakit R/apabila klien tahu tentang prosedur dan tindakan yang akan dilakukan, klienmengerti dan diharapkan ansietas berkurang 4. Pertahankan lingkungan yang tenang dantanpa stres

R/ lingkungan yang nyaman dapat membuat klien nyaman dalam menghadapi situasi 5. Dorong dan dukungan orang terdekat R/memotifasi klien

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengankelemahan fisik Tujuan : Dapat bergerak bebas Intervensi :

1. Kaji kemampuan pasien untuk bergerak R/identifikasi kemampuan klien dalam mobilisasi 2. Dekatkan peralatan yang dibutuhkan pasien R/meminimalisir pergerakan kien 3. Berikan latihan gerak aktif pasif R/melatih otot-otot klien 4. Bantu kebutuhan pasien R/ membantu dalam mengatasi kebutuhan dasarklien 5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi. R/terapi fisioterapi dapat memulihkan kondisi klien

DAFTAR PUSTAKA Sjamsuhidayat. 1998. Buku Ajar Bedah.Jakarta : EGC Doenges.2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan danPendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3. Jakarta : EGC Mansjoer,Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius FKUI : Jakarta Hudak& Gallo. 2001. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC Suddarth & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC http://www.primarytraumacare.org/ptcmam/training/ppd/ptc_indo.pdf/10,17,2009,13.10am

ASUHANKEPERAWATAN PADA Tn. T DENGAN TRAUMATUMPUL ABDOMEN DI RUANG BEDAH MINORRUMAH SAKIT Dr. MOEWARDI SURAKARTA

PENGKAJIAN 1. Identitas Klien Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Tangga&JamPengkajian 2. Identitas PenanggungJawab Nama Umur Alamat Hubungandengan klien : Tn. W : 41 tahun : Sumber Banjarsari Surakarta : Anak : Tn. T : 65 tahun : SD : Wiraswasta : Islam : Tepurejo RT 3/2 Sumber Banjarsari Surakarta : 15 Oktober 2009

3. Riwayat Penyakit a. Keluhan Utama Sakit pada perut sebelah kanan.

b. Riwayat Penyakit Sekarang

klienmengalami kecelakaan. Sepeda motor klien menabrak truk yang ada di depannya.Klien terjatuh dengan posisi dada dan perut kanan membentur aspal. Setelahkejadian, klien masih bisa pulang sendiri dengan mengendarai sepeda motornya.Tapi setelah beberapa saat di rumah, klien merasa perut sebelah kanan ampegsampai punggung dan terasa sesak nafas. Oleh keluarga di antar ke IGD RumahSakit Dr. Moewardi Surakarta. c. Riwayat Keluarga Keluarga dan klien mengatakan anggota keluarga tidak ada yang menderitapenyakit serupa. 4. Primary Survay a. Airway Bebas,tidak ada sumbatan, tidak ada secret b. Breathing Klienbernafas secara spontan. Klien menggunakan O22 l/menit R :26x/menit, pernafasan reguler c. Circulasi TD :120/80 mmHg N : 88x/menit Capillaryreffil : < 2 detik d. Disability GCS : E4M5V6 Kesadaran: Compos Mentis e. Exposure Terdapatluka lecet ,jejas dan hematoma pada abdomen sebelah kanan 5. SecondarySurvay a. AMPLE o Alergi: Kliendan keluarga mengatakan klien tidak memiliki alergi, baik makanan ataupunobat-obatan. o Medicasi: Klien mengatakan sebelummasuk rumah sakit tidak mengkonsumsi obat apapun. o Pastillnes:

Klien sebelumnya pernahdi rawat di RS Dr. Moewardi Surakarta dengan penyakit paru-paru. o Lastmeal: Klien mengatakan sebelumkecelakaan, klien hanya minum segelas teh. o Environment Klien tinggal di daerahyang padat penduduknya. b. PemeriksaanHead To Toe o Kepala Bentuk simetris, rambutdan kulit kepala tampak cukup bersih. Kepala dapat digerakkan kesegala arah,pupil isokor, sklera tidak ikhterik, konjungtiva tidak anemis. Hidung simetristidak ada secret. o Leher Tidak ada kaku kuduk o Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi o Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi o Ekstremitas Ekstermitas atas danbawah tidak ada oedem, turgor kulit baik. Kekuatan otot ektermitas atas danbawah dalam batas normal. 6. PemeriksaanPenunjang Hasil laboratoriumtanggal 15 -10-2009 Hemoglobin Eritrosit Leukosit Hematokrit : 14,5 g/dl : 5,05 106/ul : 12,1 103/ul :43,8% (n :14-17,5 g/dl) (n : 4,5-5,9106/ul) (n :4,0-11,3 103/ul) (n : 40-52%) : terdapat jejas dan hematomapada abdomen sebelah kanan : peristaltik usus 7x/menit : tidak adapembesaran hati : pekak : bentuk simetris, gerakanantara kanan dan kiri sama : fremitus vokalkanan dan kiri sama :sonor : vesikuler

Trombosit Goldarah HBSAG

: 204 :O :-

ANALISA DATA No 1. Data (Sign & Symptom) DS : Klien mengatakan sesak nafas Klien mengatakan perut sebelah kanan terasa ampeg DO : Klien gelisah R : 26x/menit 2. DS : Trauma Nyeri akut Etiologi Penurunan ekspansi paru Problem Pola nafas tidak efektif

Klien mengatakan perut sebelah kanan abdomen sakit P : bila bergerak dan bernafas Q : seperti tertusuk-tusuk R : perut sebelah kanan S :7 T : hilang timbul DO : Klien tampak mengerang-erang menahan sakit. Terdapat luka lecet dan jejas pada abdomen sebelah kanan 3. DS : DO : Terdapat luka lecet pada perut kanan Terdapat jejas dan hematoma pada Luka penetrasi abdomen non- Resiko infeksi

abdomen sebelah kanan Hb : 14,5 g/dl Leukosit : 12,1 103/ul

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Polanafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru 2. Nyeriakut berhubungan dengan trauma abdomen. 3. Resikoinfeksi berhubungan dengan luka non-penetrasi abdomen.

NURSING CARE PLAN No Dx 1. Setelah dilakukan Kaji pola nafas Untuk menentukan Tujuan/Kriteria Hasil Intervensi Rasional

tindakan keperawatan Kaji tanda vital selama 1x15 menit, Posisikan klien semi fowler pola nafas efektif Dengan KH : Klien mengatakan Beri oksigen sesuai indikasi

intervensi yang tepat Mengetahui perkembangan klien Mengurangi nafas Mengurangi nafas sesak sesak

sesak nafas berkurang Klien rileks Pernafasan normal : 20-24 x/ menit 2. Setelah dilakukan Kaji intensitas nyeri

Untuk

menentukan

tindakan keperawatan Jelaskan penyebab nyeri 1x10 teratasi Dengan KH : Klien nyeri berkurang/hilang menit, nyeri Beri posisi nyaman Ajarkan teknik relaksasi Kolaborasi

intervensi yang tepat. Untuk menenangkan

klien dan keluarga.

pemberian Meningkatkan kenyamanan Mengurangi ketegangan otot klien.

mengatakan analgetik

Klien tenang tidak mengerang-erang kesakitan Skala nyeri 1-3 3. Setelah dilakukan Pasang kateter

sehingga nyeri. Analgetik

mengurangi

berfungsi

menghilangkan nyeri Untuk mengurangi

tindakan keperawatan Pasang NGT 1x20 menit,

aktivitas klien. mengetahui perdarahan

tidak Pasang trail pada tempat tidur Untuk klien Ajurkan keluarga adanya untuk dalam.

terjadi infeksi Dengan KH :

Tidak ada tanda-tanda menemani klien infeksi Tidak ada perdarahan Monitor hasil

Menurunkan laboratorium cidera. Memenuhi pemberian klien. Mengetahui

resiko

terutama Hb

kebutuhan

Suhu tubuh normal : Kolaborasi 36-37 antibiotik

perkembangan klien Mencegah infeksi

CATATAN PERAWATAN DAN PERKEMBANGAN No Dx 1. 15 Okt 09 11.10 Mengkaji pola nafas klien Memposisikan fowler Memberikan 2L/menit nasal klien S : semi klien mengatakan sesak Rima Tgl&Jam Implementasi Evaluasi TTD

nafas berkurang kanul klien nyaman R : 24x/menit A : masalah teratasi P : intervensi dihentikan mengatkan lebih

2.

11.25

Mengkaji tingkat nyeri

S: mengatakan nyeri

Rima

Memberikan injeksi ketorolak klien

2ml

sedikit berkurang

Mengajarkan nafas dalam bila O : nyeri timbul klien masih gelisah klien masih tampak merintih kesakitan A: masalah teratasi sebagian P: lanjutkan bangsal 3. 11.45 Memasang kateter Memasang NGT Mengambil sample darah Memasang trail tempat tidur Memonitor NGT S :O: urine jernih tidak ada Rim intervensi di

perdarahan. Volume urine 200cc

Memberikan injeksi cefotaxim Keluaran NGT cairan bersih 1g Hb : 14,5 g/dl A: Masalah teratasi sebagian P: lanjutkan bangsal intervensi di