Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MEDAN ELEKTROMAGNETIK I
GROUND PENETRATING RADAR

Kelompok Peminatan Geofisika A. Labib Fardhany Faisal (1106065445) Diajeng Liati (1106017162) Dian Kusumawati (1106050840) Diana Ratnasari (1106018171) Galih Dika Pranata (1106065470) Haryo Ajie Nugroho (0906529880) Mohamad Lutfi Ismail (1106050992) Tanto Wiji Nugroho (1106051036) Taufik Mulya Budiman (1106050922) Verayani Arif (1106008006) Yoga Julian Prasutiyo (1106014476)

DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS INDONESIA

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah ini dibuat oleh penulis untuk mengetahui manfaat mempelajari medan elektromagnetik dalam peminatan yang akan. Penulis telah berusaha seoptimal mungkin dalam penyelesaian makalah ini, agar makalah ini selesai dengan hasil yang optimal. Namun, sebesar apapun usaha yang sudah dibuat oleh penulis, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Penulis tidak mencari kesempurnaan tersebut, tetapi penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Saran dan kritik tersebut bertujuan, agar dalam penulisan makalah berikutnya penulis dapat menulis makalah yang lebih baik. Terakhir penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian makalah ini. Bantuan secara langsung maupun tidak langsung, baik itu dukungan dalam bentuk moril maupun materil.

Depok,

Februari 2013

Penulis

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Geofisika merupakan peminatan di departemen fisika universitas Indonesia. Geofisika berperan dalam banyak aspek di bawah permukaan tanah. Biasanya displin ilmu ini banyak diterapkan dalam pertambangan, perminyakan panas bumi atau hal lain yang berada di atas permukaan tanah seperti mengetahui cuaca di bidang meteorologi. Medan elektromagnetik adalah mata kuliah wajib bagi mahasiswa semester 5 berdasarkan kurikulum 2009. Hal ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa untuk mendalami mata kuliah pendukung di peminatan masing masing untuk selanjutnya. Dalam hal ini, penulis mengambil contoh aplikasinya pada Ground Penetrating Radar (GPR). GPR adalah alat yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik untuk mengetahui kondisi yang ada dibawah tanah. Radar ini mendeteksi sinyal yang direfleksikan / dipantulkan oleh gelombang untuk kemudian dideteksi oleh sensor. Namun radar ini tidak mampu menembus lapisan yang terlalu tebal. Jangkauannya bergantung pada konduktivitas elektrik tanah, frekuensi dan daya nya. Perangkat keras yang digunakan umumnya berupa encoder , converter, monitor, unit kontrol dan antena. Encoder merupakan alat yang seperti roda, encoder digunakan untuk menentukan seberapa jauh letak target dan mendeteksi pulsa trigger. Converter bentuk hubungan antena dan unit control perubah signal dari analog ke digital begitu sebaliknya. Monitor digunakan sebagai visualisasi informasi dari GPR dan untuk mengoperasikan sistem GPR nya. Unit kontrol merupakan pusat otak untuk sistem GPR untuk bertanggung jawab terhadap operasi koordinatnya. Jika unit kontrol merupakan otak, antena adalah lehernya. Antena menangkap gelombang elektromagnetik yang dipantulkan/ direfleksikan oleh permukaan dibawah tanah. Selanjutnya bagaimana teoritis fisisnya akan dibahas pada bagian isi.

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

Gambar 1. Contoh alat (a) encoder, (b) converter, (c)monitor, (d)unit kontrol dan (e)antena

B. Tujuan Mengetahui aplikasi medan elektromagnetik pada pemianatan geofisika.

C. Rumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan Ground Penetrating System (GPR) ? Bagaimana cara kerja GPR ? Bagaimana cara menggunakan GPR ? Bagaimana sistem kerjanya dalam fisika ?

D. Hipotesa GPR merupakan alat pendeteksi keadaan dibawah permukaan tanah GPR memanfaatkan medan elektromagnetik Data dihasilkan dari pantulan/ refleksi medan elektromagnetik yang ditangkap oleh antena.

BAB II GROUND PENETRATING RADAR


Ground Penetrating Radar atau biasa disingkat dengan GPR merupakan suatu alat geofisika yang digunakan untuk mendeteksi benda-benda di bawah permukaan tanah dengan kedalaman yang dangkal. GPR pada dasarnya mendeteksi anomaly dengan menggunakan frekuensi yang tinggi sehingga memberikan resolusi yang terlihat jelas. Metode dengan menggunakan GPR memanfaatkan gelombang elektromagnetik (pulsa radio) yang dipancarkan ke dalam medium (lapisan bawah permukaan tanah) yang terefleksikan pada bidang pantulan bawah permukaan tanah akibat adanya sifat kelistrikan yang berbeda. GPR sering diaplikasikan terhadap benda-benda yang berada pada kedalaman dangkal.

Gambar 2. Gelombang elektromagnetik yang digunakan pada alat GPR berada pada domain panjang gelombang radio.

Pengukuran dengan menggunakan GPR memanfaatkan sebuah antenna transmitter (pemancar) dan receiver (penerima) pada geometri yang tetap, yang mana bergerak sepanjang permukaan untuk mendeteksi refleksi dari benda-benda di bawah permukaan tanah. Transmitter memancarkan gelombang elektromagnetik dengan rentang frekuensi sebesar 10 sampai 10000

MHz. Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari transmitter kemudian diterima kembali oleh antenna penerima (receiver) dalam bentuk gelombang yang telah direfleksikan dan mengirimnya langsung ke dalam unit digital control. Sinyal yang diterima dari berbagai lapisan ini menunjukkan gambar kondisi di bawah permukaan tanah.

Gambar 3. Jika dilakukan survey geofisika dengan menggunakan GPR dengan frekuensi sebesar 50-MHz pada lahan yang berada di atas terowongan, hasil yang didapatkan setelah di lakukan beberapa macam koreksi dalam processing memberikan hasil seperti gambar yang ada di bawah. Terlihat bahwa terdapat batasan-batasan seperti membentuk bukit yang mana menunjukkan terdapat terowongan yang berisi udara dan juga terlihat jelas anomaly-anomali di sekitarnya. Terlihat dari gambar di bawah, amplitude signal GPR digambarkan dalam bentuk fungsi posisi (arah horizontal axis) dan waktu penjalaran / travel time (arah vertikal axis).

GPR menjadi alat yang sukses untuk mendeteksi benda-benda dengan kedalaman kurang dari 50 meter. GPR menjadi pilihan untuk beberapa macam situs kecil yang diinvestigasi ketika beberapa objek metalik maupun non-metalik terkubur pada kedalaman yang dangkal seperti tangki minyak di bawah tanah. Selain itu, beberapa macam benda-benda pada kedalaman yang dangkal seperti situs arkeologi, saluran pipa, gua yang telah tertimbun tanah dan sebagainya.

Prinsip dasar Ground Penetrating Radar (GPR)


Fondasi GPR berdiri pada teori elektromagnetik. Persamaan Maxwell secara matematik menggambarkan medan elektromagnetik yang terkait dengan sifat-sifat material. Pada istilah matematika, Medan elektromagnetik dan hubungannya diekspreksikan kedalam bentuk :

Dimana adalah besar vector medan elektrik (V/m); q adalah densitas muatan elektrik (C/m3); adalah vector flux magnetic (T); adalah adalah vector arus elektrik (A/m2); adalah vector perpindahan elektrik (C/m2); t adalah waktu (s); dan adalah intensitas medan magnetic (A/m). Hubungan konstitutif menjelaskan respon material terhadap medan elektromagnetik. Untuk GPR, sifat magnetic dan elektrik begitu penting. Persaman konstitutif menyediakan deskripsi makroskopik bagaimana electron, atom, dan molekul merespon terhadap aplikasi medan elektromagnetik.

Konduktivitas elektrik mengkarakterisasi adanya pergerakan muatan yang bebas (sehingga membuat arus listrik) ketika terdapat medan elektrik. Adanya resistansi menyebabkan energi terdisipasi dari muatan yang terbawa. Permitivitas dielektrik mengkarakterisasi perpindahan muatan yang dibatasi dan terdapat pada struktur material. Perpindahan muatan menyebabkan energy terkumpul pada material. Permeabilitas magnetik menjelaskan bagaimana atom intrinsic dan moment molecular magnetic memberikan respond pada medan magnetic.

Untuk GPR, permitivitas dielektrik merupakan bagian yang sangat penting. Permitivitas atau konstanta dielektrik dijabarkan dalam bentuk:

Dimana

adalah permitivitas ruang vakum, 8,89 x 10-12 F/m.

Gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari antenna, mengalami penetrasi ke dalam material. Energy tersebut akan direfleksikan kembali menuju antenna receiver ketika terdapat batas lapisan diantara material yang memiliki perbedaan konstanta dielektrik. Signal yang terefleksi memberikan memberikan informasi mengenai seberapa cepat signal menjalar di bawah permukaan tanah dan seberapa banyak teratenuasi. Kuantitas tergantung pada konfigurasi spasial dan material. Ketebalan lapisan diberikan pada persamaan.

di

Cti 2 r ,i

Dimana di merupakan ketebalan lapisan i, ti merupakan total travel time dari suatu lapisan, C adalah kecepatan cahaya dan
ii

adalah konstanta dielektrik suatu perlapisan. Sedangkan untuk

mengetahui seberapa besar kemungkinan gelombang radar dapat terpantulkan (terefleksikan) jika menemui batas permukaan ditentukan koefisien refleksi.

1, 2

r1 r 2 r1 r 2

dimana 12 merupakan koefisien refleksi dan r1 dan r2 adalah konstanta dielektrik. Karakter gelombang menjadi fakta bahwa persamaan Maxwell ditulis untuk mengeleminasi elektrik atau medan magnetic. Menggunakan medan magnetic, menuliskan hasil persaman gelombang vector transverse. A B

Ground penetrating radar efektif pada material yang tidak konduktif ketika energy yang terdisipasi (term B) lebih kecil dibandingkan dengan energy yang tersimpan (term C). Jika pada material yang tidak konduktif, maka kecepatan dan atenuasi dapat dihitung. =

Dimana v adalah kecepatan dan adalah atenuasi. Untuk kasus signal gelombang elektromagnetik dengan bentuk yang utuh tanpa adanya perambatan yang mengalami disperse, kecepatan, atenuasi dan impedansi dapat dijelaskan dengan persamaan. =

Persamaan diatas akan menjadi valid ketika variasi sifat magnetic diabaikan, sehingga = dimana atas, c merupakan kecepatan cahaya (3 x 108 m/s) dan Z0 adalah impedansi ruang hampa.

yang mana merupakan permeabilitas magnetic yang diabaikan. Di

( )

Dalam GPR, untuk mengukur waktu tempuh (travel time, t) gelombang elektromagnetik di pancarkan dari transmitter menuju receiver. Waktu (t) diperoleh dari record pada antenna, sedangkan kecepatan (v) dari gelombang berada pada range antara 0.06 0.175 m/ns

Gambar 4. Gelombang elektromagnetik yang terpantul pada bidang batas permukaan dapat diketahui jaraknya dengan menghitung nilai waktu tempuh (t).

Untuk menghitung waktu tempuh, digunakan persamaan seperti di bawah ini. (L/2)2 = (X/2)2 + h2

L= Dari hubungan (t) di atas dapat dikonversi menuju kedalaman (h).

Gambar 5. Konfigurasi gelombang elektromagnetik (radio pulsa) yang terpantul di bawah bidang permukaan beserta processing yang dilakukan pada GPR.

Cara Kerja
Gelombang elektromagnetik dipancarkan dari Transmitter Antena dan diterima setelah dipantulkan dari bawah permukaan tanah oleh Receiver Antena. Gelombang elektromagnetik akan terpantul jika menemui suatu impedansi yang berbeda antara satu lapisan dengan lapisan yang lain dan terdapat koefisien refleksi mendekati 1 (satu). Gelombang elektromagnetik akan mengalami atenuasi jika menemui benda konduktif dikarenakan energy dari gelombang elektromagnetik mengalami perubahan menjadi panas. Dengan kata lain, semakin konduktif suatu benda di bawah permukaan tanah, maka hasil yang didapatkan tidak terlalu baik dengan menggunakan metode GPR. Hal ini terkait dengan permitivitas relative (konstanta dielektrik). Kecepatan gelombang radar sangat ditentukan oleh permitivitas relative (konstanta dielektrik).

Tabel 1. Konstanta dielektrik, nilai konduktivitas dan kecepatan dari setiap material geologi.

Ketika dilakukan akuisisi GPR, perlu dilakukan perencanaan konfigurasi pengukuran. Konfigurasi pengukuran dalam GPR secara garis besar terdiri dari dua yaitu Common Mid Point (CMP) dan Common Offset Point (COP). Common Mid Point mengubah jarak antara transmitter dan receiver sehingga hanya menemui satu titik di bawah permukaan tanah dan Common Offset

Point tidak mengubah jarak antara transmitter dan receiver akan tetapi hanya bergeser ke tempat di sebelahnya dengan jarak yang bervariasi.

Gambar 6. Konfigurasi CMP dan COP. CMP mendeteksi dengan satu titik pantul di bawah permukaan sedangkan COP terdapat titik pantul yang berbeda jarak di bawah permukaan tanah.

Setelah ditentukan konfigurasi apa yang dipakai, maka alat GPR harus disediakan. Secara garis besar, GPR terdiri dari tiga bagian yaitu. 1. Control Unit 2. Display Unit 3. Transmitting dan Receiving Unit Control unit berfungsi untuk mengatur nilai frekuensi, sampling interval dan time window yang akan dipakai. Display unit untuk memperlihatkan hasil pemetaan di bawah permukaan tanah dengan GPR dan Transmiter dan Receiver untuk memancarkan serta menerima gelombang elekromagnetik yang dipancarkan ke dalam tanah. Setelah alat siap, dilakukan pengukuran dengan GPR. Dengan mengikuti konfigurasi pengukuran seperti yang telah dijabarkan di atas (CMP dan COP), pengukuran dengan GPR dapat mencapai hasil yang maksimal.

Gambar 7. Akuisisi GPR di Lapangan.

Aplikasi
Aplikasi GPR dalam dunia geoscience adalah sebagai sensor untuk mempelajari batuan, tanah, air tanah, serta es. Aplikasi lainnya adalah untuk mendeteksi adanya mineral mineral di dalam tanah, seperti serpihan emas, permata, atau benda-benda yang sudah terkubur lama tanpa harus menggalinya terlebih dahulu.

(a)

(b)
Gambar 8. (a) bongkahan emas dan (b) bongkahan timah

DAFTAR PUSTAKA

http://4.bp.blogspot.com/ni2oYzCJreQ/UApj3ieG4oI/AAAAAAAAAUY/Qw5FL4csEk4/s1600/timah-hitam.jpg http://bocahningrat.blogspot.com/2012/03/asal-usul-emas-dan-investasi-emas.html http://www.malags.com/innovation/gpr-explained