Anda di halaman 1dari 31

BAB II TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Berat Bayi Lahir a. Pengertian Berat Bayi Lahir 1) Menurut Pudjiadi (2003, p.11), berat bayi lahir adalah berat badan bayi yang ditimbang dalam waktu 1 jam setelah bayi lahir. Pada umumnya bayi dilahirkan setelah dikandung kurang lebih 40 minggu dalam rahim ibu. Pada waktu lahir bayi mempunyai berat badan sekitar 3000 gram dan panjang badan 50 cm. 2) Menurut Supariasa (2001, p.39), berat badan merupakan ukuran antropometri yang terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus). Berat badan digunakan untuk diagnosa bayi normal atau BBLR. Dikatakan BBLR apabila berat bayi lahir dibawah 2500 gram atau dibawah 2,5 kg. 3) Menurut Muwakhidah dkk (2004, p.15) pada bayi yang cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi dua kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5 bulan, menjadi tiga kali berat badan lahir pada umur 1

tahun, dan menjadi empat kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. b. Klasifikasi Berat Bayi Lahir 1) Menurut Kosim dkk (2008, p.12) Berat Badan Lahir berdasarkan berat badan dapat dikelompokkan menjadi: a) Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Berat yang dilahirkan dengan berat lahir < 2500 gram tanpa memandang usia gestasi (Kosim dkk, 2008, p.12). Menurut Prawirohardjo (2007, p.376), BBLR adalah neonates dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram). Dahulu bayi ini dikatakan premature kemudian disepakati disebut low birth weight infant atau Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Karena bayi tersebut tidak selamanya premature atau kurang bulan tetapi dapat cukup bulan maupun lebih bulan. Penelitian oleh gruendwald, menunjukkan bahwa sepertiga berat bayi lahir rendah adalah bayi aterm (Kosim dkk, 2008, p.11). BBLR terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena umur hamil kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup atau karena kombinasi keduanya (Manuaba, 2010, p.326).

10

Menurut Jitowiyono dan Weni (2010, p.78 - 79) bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu Prematur murni dan Dismaturitas. (1) Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan, atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan. (2) Dismaturitas atau Kecil untuk Masa Kehamilan adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan sesungguhnya untuk masa kehamilan. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK) adalah bila berat bayi kurang dari 10 tahun persentile untuk berat sebenarnya dengan umur kehamilannya (Manuaba, 2010, p.329). Bayi berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam pengelolaannya karena mempunyai kecenderungan kearah peningkatan terjadinya infeksi, kesukaran mengatur nafas tubuh sehingga mudah untuk menderita hipotermia. Selain itu bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mudah terserang komplikasi tertentu seperti ikterus, hipoglikomia yang dapat menyebabkan kematian. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat di istilahkan dengan kelompok

11

resiko tinggi, karena pada bayi berat lahir rendah menunjukkan angka kematian dan kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup. WHO memperkirakan bahwa prevalensi BBLR dinegara maju sebesar 3 - 7% dan di negara berkembang berkisar antara 13 - 38%. Untuk Indonesia belum ada angka pesat secara keseluruhan, hanya perkiraan WHO pada tahun 1990 adalah 14% dari seluruh koheren hidup (Moehji, 2003). b) Bayi Berat Lahir Normal Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan sampai 42 minggu dan berat badan lahir > 2500 - 4000 gram (Jitowiyono &Weni, 2010, p.60). Berat lahir yang cukup menjadi titik awal yang baik bagi proses tumbuh kembang pasca lahir, serta menjadi petunjuk bagi kualitas hidup selanjutnya (Kardjati dkk, 1985, p.28). c) Bayi Berat Lahir Lebih Bayi berat lahir lebih adalah Bayi yang dilahirkan dengan berat lahir lebih > 4000 gram (Kosim dkk, 2008, p.12). Bayi dengan berat lahir lebih bisa disebabkan karena adanya pengaruh dari kehamilan posterm, bila terjadi perubahan anatomik pada plasenta maka terjadi penurunan janin, dari penelitian Vorher tampak bahwa sesudah umur

12

kehamilan 36 minggu grafik rata-rata pertumbuhan janin mendatar dan tampak adanya penurunan sesudah 42 minggu. Namun seringkali pula plasenta masih dapat berfungsi dengan baik sehingga berat janin bertambah terus sesuai dengan bertambahnya umur kehamilan. Zwerdling menyatakan bahwa rata-rata berat janin > 3600 gram sebesar 44,5% pada kehamilan posterm, sedangkan pada kehamilan term sebesar 30,6 %. Risiko persalinan bayi dengan berat > 4000 gram pada kehamilan posterm meningkat 2-4 kali lebih besar dari kehamilan term (Prawirohardjo, 2008, p.691). Selain itu faktor risiko bayi berat lahir lebih adalah ibu hamil dengan penyakit diabetes militus, ibu dengan DMG 40% akan melahirkan bayi dengan BB berlebihan pada semua usia kehamilan (Prawirohardjo, 2007, p.291). c. Faktor yang Mempengaruhi Berat Bayi Lahir Berat lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu proses yang berlangsung selama berada dalam kandungan. Menurut Kardjati dkk (1985, p.21) dalam

Setianingrum (2005) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut :

13

1) Faktor lingkungan internal mempengaruhi berat bayi lahir antara lain sebagai berikut : a) Umur Ibu Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkandengan kehamilan pada wanita yang cukup umur (Sitorus, 1999, p.13 dalam Setiyaningrum, 2005). Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan

kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut secara belum dapat dan menanggapi terjadi

kehamilannya

sempurna

sering

komplikasi. Selain itu semakin muda umur ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan (Setianingrum, 2005). Dalam proses persalinan sendiri, kehamilan umur lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan

kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada umur antara 20 - 30 tahun.

14

Meski kehamilan dibawah umur sangat beresiko tetapi kehamilan diatas umur 35 tahun juga tidak dianjurkan karena sangat berbahaya. Mengingat mulai umur ini sering muncul penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, organ kandungan sudah menua dan jalan lahir telah kaku. Kesulitan dan bahaya yang akan terjadi pada kehamilan diatas umur 35 tahun ini adalah preeklamsia, ketuban pecah dini, perdarahan, persalinan tidak lancar dan berat bayi lahir rendah (Poedji Rochjati, 2003). b) Jarak Kehamilan/Kelahiran Menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana (BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih, karena jarak kelahiran yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya. Menurut Sitorus (1999, p.16) dalam

Setianingrum (2005), bahwa risiko proses reproduksi dapat ditekan apabila jarak minimal antara kelahiran 2 tahun. c) Paritas Para adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran bayi atau bayi telah mencapai titik mampu bertahan hidup. Titik ini dipertimbangkan dicapai pada usia kehamilan 20 minggu (atau berat janin 500 gram) yang

15

merupakan batasan pada definisi abortion (Varney, 2007). Paritas yang ideal adalah 2 3 dengan jarak persalinan 3 4 tahun (Siswosudarmo, 2008, p.82). d) Kadar Hemoglobin (Hb) Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat

mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Menurut Prawirohardjo (2007, p.448), seorang ibu hamil dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya dibawah 12 gr/dl. Data Depkes RI (2008) diketahui bahwa 24,5% ibu hamil menderita anemia. Anemia pada ibu hamil akan menambah risiko mendapatkan bayi berat lahir rendah (BBLR), risiko perdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapat menyebabkan kematian ibu dan bayinya, jika ibu hamil tersebut menderita anemia berat (Depkes RI, 2008). Hal ini disebabkan karena kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada plasenta yang akan berpengaruh pada fungsi plasenta terhadap janin. e) Status Gizi Ibu Hamil Status gizi ibu pada waktu pembuahan dan selama hamil dapan mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung (Pudjiadi, 2003, p.8). Selain itu hamil menentukan berat bayi yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran

16

antropometri merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antopometri yang paling sering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar lengan atas (LLA) selama kehamilan. Menurut Sitorus (1999, p.41) dalam Setianingrum (2005), sebagai ukuran sekaligus pengawasan bagi

kecukupan gizi ibu hamil bisa di lihat dari kenaikan berat badannya. Ibu yang kurus dan selama kehamilan disertai penambahan berat badan yang rendah atau turun sampai 10 kg, mempunyai risiko paling tinggi untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Sehingga ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan berkisar 11 - 12,5 kg atau 20% dari berat badan sebelum hamil. Sedang Lingkar Lengan Atas (LILA) adalah antropometri yang dapat menggambarkan keadaan status gizi ibu hamil dan untuk mengetahui resiko Kekurangan Energi Kalori (KEK) atau gizi kurang. Ibu yang memiliki ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) di bawah 23,5 cm berisiko melahirkan bayi BBLR

(Kristyanasari, 2010, p. 68). Pengukuran LILA lebih praktis untuk mengetahui status gizi ibu hamil karena alat ukurnya sederhana dan mudah dibawa kemana saja, dan dapat dipakai untuk ibu dengan kenaikan berat badan yang ekstrim. Seorang ibu

17

yang sedang hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 10-12 kg. Pada trimester I kenaikan berat badan seorang ibu tidak mencapai 1 kg, namun setelah mencapai trimester II penambahan berat badan semakin banyak yaitu 3 kg dan pada trimester III sebanyak 6 kg. kenaikan tersebut disebabkan karena adanya pertumbuhan janin, plasenta dan air ketuban. Kenaikan BB yang ideal untuk ibu yang gemuk yaitu antara 7 kg dan 12,5 kg untuk ibu yang tidak gemuk, jika BB ibu tidak normal maka akan memungkinkan terjadinya keguguran, lahir premature, BBLR, gangguan kekuatan rahim saat kelahiran, dan perdarahan setelah persalinan (Proverawati, 2009, p.53). f) Pemeriksaan kehamilan Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah yang timbul selama

kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat persalinan. Menurut Sarwono (2007) pemeriksaan kehamilan dilakukan setelah terlambat haid sekurang-kurangnya 1 bulan, dan setelah kehamilan harus dilakukan pemeriksaan secara berkala, yaitu : (1) Setiap 4 minggu sekali selama kehamilan 28 minggu

18

(2) Setiap 2 minggu sekali selama kehamilan 28 36 minggu (3) Setiap minggu atau satu kali seminggu selama kehamilan 36 minggu sampai masa melahirkan. Selain dari waktu yang telah ditentukan di atas ibu harus memeriksakan diri apabila terdapat keluhan lain yang merupakan kelainan yang ditemukan. Ciri ciri aktivitas bayi dengan berat badan lahir rendah berbeda-beda sehingga perlu diperhatikan gambaran umum kehamilan menurut Manuaba (2010, p.326), sebagai berikut: (1) Ingat hari pertama menstruasi (2) Denyut jantung terdengar pada minggu 18 sampai 22 (3) Fetal quickening minggu 16 sampai 18 (4) Pemeriksaan : tinggi fundus uteri, ultrasonografi (konsultasi) (5) Penilaian secara klinik : berat badan lahir, panjang badan, lingkaran dada, dan lingkaran kepala. g) Penyakit Saat Kehamilan Penyakit pada saat kehamilan yang dapat

mempengaruhi berat bayi lahir diantaranya adalah Diabetes Melitus Gestasional (DMG), cacar air, dan penyakit infeksi TORCH. Penyakit DMG adalah intoleransi glukosa yang

19

dimulai atau baru ditemukan pada waktu hamil. Tidak dapat dikesampingkan kemungkinan adanya intoleransi glukosa yang tidak diketahui yang muncul seiring kehamilan, komplikasi yang mungkin sering terjadi pada kehamilan dengan diabetes adalah bervariasi, Pada ibu akan meningkatkan risiko terjadinya preeklamsia, seksio sesaria, dan terjadinya diabetes mellitus tipe 2 di kemudian hari, sedangkan pada janin meningkatkan risiko terjadinya makrosomi (Prawirohardjo, 2008, p.851). Penyakit infeksi TORCH adalah suatu istilah jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma, Rubella,

Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit ini sama bahayanya bagi ibu hamil yaitu dapat menganggu janin yang dikandungnya. Bayi yang dikandung tersebut mungkin akan terkena katarak mata, tuli, Hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, paruparu, dan limpa). Bisa juga mengakibatkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, radang iris mata, dan beberapa jenis penyakit lainnya (Prawirohardjo, 2008, p.935 - 942).

20

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir secara tidak langsung/eksternal dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Faktor lingkungan eksternal yang meliputi kondisi

lingkungan, asupan zat gizi ibu hamil dan tingkat social ekonomi ibu hamil, kebersihan dan kesehatan lingkungan serta ketinggian tempat tinggal. Faktor kebersihan dan kesehatan lingkungan

berkaitan dengan cacing tambang, Seseorang yang asupan zat besinya cukup tetapi jika sering terinfeksi cacing tambang dapat menderita anemia. Demikian juga jika seorang yang asupan zat besi rendah maka daya tahan tubuhnya berkurang sehingga mudah sering mudah terserang penyakit dan akhirnya akan mengalami

penurunan kadar Hb. Faktor ketinggian tempat tinggal menurut Jitowiyono dan Weni (2010, p.77) menyebutkan salah satu faktor penyebab berat bayi lahir tidak normal adalah tempat tinggal yaitu dataran tinggi. Menurut Kristyanasari (2010, p. 50) pada dasarnya suhu tubuh dipertahankan pada suhu 36,5 370 C untuk metabolisme yang optimum adanya perbedaan suhu antara tubuh dan lingkungan, maka mau tidak mau tubuh harus menyesuaikan diri demi kelangsungan hidupnya yaitu tubuh harus melepaskan sebagian panasnya diganti dengan

21

hasil metabolisme tubuh, makin besar perbedaan antara tubuh dengan lingkungan maka akan semakin besar pula panas yang dilepaskan. b) Faktor ekonomi, sosial dan meliputi jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, dan pengetahuan ibu hamil : Menurut Kristyanasari (2010, p. 49 50)

menyatakan bahwa keadaan ekonomi keluarga akan mempengaruhi pemilihan ragam dan kualitas bahan makanan, ekonomi seseorang mempengaruhi dalam

pemilihan makanan yang akan dikonsumsi sehari harinya. Seseorang dengan ekonomi yang tinggi kemudian hamil maka kemungkinan besar sekali gizi yang dibutuhkan tercukupi ditambah lagi adanya pemeriksaan membuat gizi ibu semakin terpantau. Jenis pekerjaan atau aktifitas juga mempengaruhi Berat Bayi Lahir, jika aktivitas ibu hamil tinggi, kebutuhan energinya juga akan tinggi. pengetahuan ibu dalam pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilakunya, ibu dengan pengetahuan gizi yang baik, kemungkinan akan memberikan gizi yang cukup bagi bayinya. kepercayaan terhadap adat juga dapat

mempengaruhi asupan makanan ibu hamil, misalnya, ada kepercayaan bahwa pada waktu hamil ibu dilarang makan

22

ikan karena dikhawatirkan bayinya cacingan dan berbau amis, padahal, konsumsi ikan terutama ikan laut justru sangat dianjurkan karena kandungan lemaknya rendah, proteinya tinggi, serta mengandung omega 3 dan omega 6 yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan otak janin dalam kandungan. Semua faktor tersebut berpengaruh pada status gizi ibu hamil yang selanjutnya berpengaruh kadar hemoglobin ibu hamil dan berat bayi lahir (Wibisono, 2008, p.63 64). c) Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan kehamilan / ANC. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah yang timbul selama

kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat persalinan. Pemeriksaan kehamilan hendaknya dimulai seawal

mungkin, yaitu segera setelah tidak haid selama 2 bulan berturut-turut tujuanya agar kalau ada kelainan pada kehamilan, masih cukup waktu untuk menangani sebelum persalinan (Depkes RI, 2008, p.36). Menurut Huliana (2002, p.80) selama masa hamil ibu dianjurkan

23

memeriksakan kondisi kehamilan secara teratur dan berkala: (1) Pada awal kehamilan sampai dengan 28 minggu, pemeriksaan dilakukan setiap satu bulan satu kali (2) Pada kehamilan 28-32 minggu, pemeriksaan yang dilakukan setiap tiga minggu satu kali (3) Pada kehamilan 3236 minggu, pemeriksaan yang dilakukan setiap dua minggu satu kali (4) Pada kehamilan 3640 minggu, pemeriksaan yang dilakukan setiap satu minggu satu kali Menurut Profil kesehatan Jawa Tengah tahun 2009 Kunjungan ibu hamil yang sesuai standar adalah pelayanan yang mencakup minimal: (1) Timbang badan dan ukur tinggi badan (2) Ukur tekanan darah (3) Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian imunisasi tetanus toxoid) (4) Ukur tinggi fundus uteri (5) Pemberian tablet Fe (90 tablet selama kehamilan) (6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling)

24

(7) Test laboratorium sederhana (Hb, protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAG, Sifilis, HIV, Malaria, TBC). 2. Umur Ibu a. Pengertian Umur Ibu 1) Umur adalah lama waktu untuk hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan) (Hoetomo, 2005). Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa umur aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 30 tahun (Prawirohardjo, 2008, p.23). 2) Umur seorang wanita pada saat hamil sebaiknya tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Umur yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, beresiko tinggi untuk melahirkan. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil harus siap fisik, emosi, psikologi, social dan ekonomi (Ruswana, 2006). Dalam proses persalinan sendiri, kehamilan di usia lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada umur antara 20 - 30 tahun (Setianingrum, 2005).

25

b. Kehamilan Umur Ibu Kurang dari 20 tahun Menurut Cunningham (2005, p.225) sekitar 13% persalinan terjadi pada wanita berusia antara 15 sampai 19 tahun. Remaja memiliki kemungkinan lebih besar mengalami anemia, dan beresiko lebih tinggi memiliki janin yang pertumbuhannya terhambat, persalinan prematur dan angka kematian bayi yang lebih tinggi. Karena tidak direncanakan, sebagian besar kehamilan remaja jarang mendapat konseling konsepsi. Konseling pada kehamilan tahap awal masih mungkin bermanfaat. Para remaja biasanya masih tumbuh dan berkembang, sehingga memiliki kebutuhan kalori yang lebih besar daripada wanita yang lebih tua. Remaja dengan berat badan normal atau kurang harus dianjurkan untuk meningkatkan asupan kalori sebesar 400 kkal/hari. Pertanyaan yang tidak baik menghakimi mungkin dapat

mengungkapkan riwayat pemakaian obat terlarang. Seperti pada semua asuhan prenatal yang baik, perlu dilakukan pengkajian terhadap semua penyulit yang umum terjadi (Cunningham, 2005, p.226). Penyebab utama kematian pada perempuan berumur 15 19 tahun adalah komplikasi keguguran. Kehamilan dini mungkin akan menyebabkan para remaja muda yang sudah menikah merupakan keharusan sosial (karena mereka diharapkan untuk membuktikan kesuburan mereka), tetapi remaja tetap menghadapi

26

risiko-risiko kesehatan sehubungan dengan kehamilan dini dengan tidak memandang status perkawinan mereka. Kehamilan yang terjadi pada sebelum remaja berkembang secara penuh, juga dapat memberikan risiko bermakna pada bayi termasuk cedera pada saat persalinan, berat badan lahir rendah, dan kemungkinan bertahan hidup yang lebih rendah untuk bayi. Wanita hamil kurang dari 20 tahun dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan dan perkembangan janin karena belum matangnya alat reproduksi untuk hamil. Penyulit pada kehamilan remaja (< 20 tahun) lebih tinggi dibandingkan kurun waktu reproduksi sehat antara 20 30 tahun. Keadaan tersebut akan makin menyulitkan bila ditambah dengan tekanan (stress) psikologi, social, ekonomi, sehingga memudahkan terjadinya keguguran (Manuaba, 2007, p.41). Manuaba (2007, p.42), menambahkan bahwa kehamilan dengan umur di bawah 20 tahun mempunyai risiko : 1) Sering mengalami anemia. 2) Gangguan tumbuh kembang janin. 3) Keguguran, prematuritas, atau BBLR. 4) Gangguan persalinan. 5) Preeklampsi. 6) Perdarahan antepartum.

27

7) Pascapartus: a) Subinvolusi uteri. b) Infeksi puerperalis. c) Pembentukan pengeluaran ASI kurang. 8) Bayi mungkin ber-IQ rendah. Para wanita yang hamil pada umur yang masih kurang matang untuk bereproduksi akan menyebabkan peningkatan kematian ibu dan kematian bayi. Bayi yang lahir akan mempunyai berat badan yang kurang atau biasa lahir dengan prematuritas. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2 - 4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur (Sitorus, 1999, p.13 dalam Setianingrum, 2005). Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda umur ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan.

28

c. Kehamilan Setelah 35 tahun atau Umur Ibu lebih dari 35 tahun Saat ini, sekitar 10% kehamilan terjadi pada wanita dalam kelompok umur ini. Wanita yang lebih tua lebih besar kemungkinannya meminta konseling prakonsepsi, baik karena ia telah menunda kehamilan dan sekarang ingin mengoptimalkan kehamilannya, atau ia melakukannya sebelum terapi infertilitas. Dahulu, istilah gravida tua (eldery gravida) digunakan untuk secara kasar mendefinisikan wanita berusia lebih dari 35 tahun. Walaupun diharapkan istilah ini ditinggalkan, kelainan tertentu pada hasil akhir kehamilan yang terkait umur memang mulai meningkat pada kelompok umur ini (Cunningham, 2005, p. 226). Penelitian-penelitian awal mengisyaratkan bahwa wanita berusia lebih dari 35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami penyulit obstetris serta morbiditas dan mortalitas perinatal. Bagi wanita berumur yang mengidap penyakit kronik atau yang kondisi fisiknya kurang, risiko ini sangat mungkin terjadi. Namun, bagi wanita yang beratnya normal, secara fisik bugar dan tanpa masalah medis, risikonya jauh lebih rendah daripada yang sebelumnya dilaporkan (Cunningham, 2005, p.226). Pentingnya status sosioekonomi dan kesehatan

digambarkan oleh dua studi tentang hasil akhir kehamilan pada populasi wanita berumur yang berbeda. Berkowitz dan rekan

29

(1990) dalam Cunningham (2005, p.226) meneliti hasil akhir dari hampir 800 nullipara diatas 35 tahun yang mereka rawat sebagai pasien swasta di Mount Sinai Hospital di New York. Mereka melaporkan bahwa risiko untuk diabetes gestasional, hipertensi akibat kehamilan, plasenta previa atau solusio plasenta, dan seksio sesarea hanya sedikit meningkat. Para wanita ini tidak

memperlihatkan peningkatan risiko untuk persalinan prematur, gangguan pertumbuhan janin, atau kematian perinatal. Sebaliknya, pengamatan dari Parkland Hospital (Cunningham dan Leveno, 1995) terhadap hampir 900 wanita berusia lebih dari 35 tahun memperlihatkan peningkatan bermakna dalam insiden hipertensi, diabetes, solusio plasenta, persalinan prematur, lahir mati dan plasenta previa. Tidaklah mengherankan bahwa kelompok ini juga

memperlihatkan angka kematian perinatal yang lebih tinggi. Hasil akhir yang berbeda pada kedua kelompok wanita ini mungkin disebabkan oleh status sosioekonomi, yang mempengaruhi akses ke perawatan kesehatan dan status kesehatan. Risiko janin yang terkait umur ibu berakar dari persalinan prematur yang harus dilakukan pada sebagian penyulit pada ibu seperti hipertensi, dan diabetes, dari persalinan prematur spontan (Cunningham, 2005, p.226).

30

Selain itu semakin muda umur ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan. Meski kehamilan dibawah umur sangat berisiko tetapi kehamilan diatas umur 35 tahun juga tidak dianjurkan, sangat berbahaya. Mengingat mulai umur ini sering muncul penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, atau penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang dan panggul. Kesulitan lain kehamilan diatas umur 35 tahun ini yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan membawa kelainan (Sitorus, 1999, p.15 dalam Setianingrum, 2005). Para tenaga ahli kesehatan sekarang membantu para wanita hamil yang berusia 30 dan 40 tahun untuk menuju ke kehamilan yang lebih aman. Ada beberapa teori mengenai risiko kehamilan umur 35 tahun atau lebih, diantaranya : 1) Wanita pada umumnya memiliki beberapa penurunan dalam hal kesuburan mulai pada awal umur 30 tahun. Hal ini belum tentu berarti pada wanita yang berusia 30 tahun atau lebih memerlukan waktu lebih lama untuk hamil dibandingkan wanita yang lebih muda umurnya. Pengaruh usia terhadap penurunan tingkat kesuburan mungkin saja memang ada hubungan, misalnya mngenai berkurangnya frekuensi ovulasi atau mengarah ke masalah seperti adanya penyakit endometritis, yang menghambat uterus untuk menangkap sel

31

telur melalui tuba fallopii yang berpengaruh terhadap proses konsepsi. 2) Masalah kesehatan yang kemungkinan dapat terjadi dan berakibat terhadap kehamilan diatas 35 tahun adalah

munculnya masalah kesehatan yang kronis. Umur berapa pun seorang wanita harus

mengkonsultasikan diri mengenai kesehatannya ke dokter sebelum berencana untuk hamil. Kunjungan rutin ke dokter sebelum masa kehamilan dapat membantu memastikan apakah seorang wanita berada dalam kondisi fisik yang baik dan memungkinkan sebelum terjadi kehamilan. Kontrol ini merupakan penyebab penting yang biasanya terjadi pada wanita hamil berusia 30 40 tahun dibandingkan pada wanita yang lebih muda, karena dapat membahayakan kehamilan dan pertumbuhan bayinya. Pengawasan kesehatan dengan baik dan penggunaan obat-obatan yang tepat mulai dilakukan sebelum kehamilan dan dilanjutkan selama

kehamilan dapat mengurangi risiko kehamilan di umur lebih dari 35 tahun, dan pada sebagian besar kasus dapat menghasilkan kehamilan yang sehat.

32

3) Risiko terhadap bayi yang lahir pada ibu yang berusia di atas 35 tahun meningkat, yaitu bisa berupa kelainan kromosom pada anak. Kelainan yang paling banyak muncul berupa kelaianan Down Syndrome, yaitu sebuah kelainan kombinasi dari retardasi mental dan abnormalitas bentuk fisik yang disebabkan oleh kelaianan kromosom. 4) Risiko lainnya terjadi keguguran pada ibu hamil berusia 35 tahun atau lebih. Kemungkinan kejadian pada wanita umur 35 tahun ke atas lebih banyak dibandingkan pada wanita muda. Pada penelitian tahun 2000 ditemukan 9% pada kehamilan wanita umur 20 24 tahun. Namun, risiko meningkat menjadi 20% pada umur 35 39 tahun dan 50% pada wanita umur 42 tahun. Peningkatan insiden pada kasus abnormalitas kromosom bisa sama kemungkinannya seperti risiko keguguran. 3. Paritas a. Pengertian Paritas 1) Para adalah jumlah kehamilan yang berakhir dengan kelahiran bayi atau bayi telah mencapai titik mampu bertahan hidup. Titik ini dipertimbangkan dicapai pada usia kehamilan 20 minggu (atau berat janin 500 gram) yang merupakan batasan pada definisi aborsi (Varney, 2007).

33

2) Menurut Hakimi (2003,p.58), para menunjukkan kehamilankehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas (mampu hidup), sedangkan paritas menunjukkan jumlah kehamilan terdahulu yang telah mencapai batas viabilitas dan telah dilahirkan, tanpa mengingat jumlah anaknya baik janinnya hidup atau mati pada waktu lahir. 3) Apabila kehamilan > 4 anak atau jarak kelahiran < 2 tahun dapat mempunyai resiko terhadap berat bayi lahir rendah, nutrisi kurang, waktu / lama menyusui berkurang, lebih sering terkena penyakit, tumbuh kembang lebih lambat serta pendidikan atau pengetahuan lebih rendah (Hartanto, 2004, p.23). Paritas yang ideal adalah 2 3 dengan jarak persalinan 3 4 tahun (Siswosudarmo, 2008, p.82). b. Klasifikasi Paritas Menurut Armi (2006), Wiknjosastro (2002), Prawirohardjo (2002) dan Varney (2007, p.523) jenis-jenis para adalah sebagai berikut : 1) Nullipara Seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi yang dapat hidup di dunia luar (viable). 2) Primipara Wanita yang telah melahirkan bayi yang viable untuk pertama kalinya.

34

3) Multipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viable beberapa kali, yaitu 2-4 kali. 4) Grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viable lima kali atau lebih. 5) Great grandemultipara Seorang wanita yang telah melahirkan bayi yang sudah viable 10 kali atau lebih. Menurut (Manuaba, 2007, p.158) istilah-istilah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan adalah : 1) Primipara Adalah seorang wanita yang telah pernah melahirkan aterm sebanyak satu kali. 2) Multipara (pleuripara) Adalah wanita yang telah melahirkan anak hidup beberapa kali, dimana persalinan tersebut tidak lebih dari lima kali. Multipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang viable untuk beberapa kali (Wiknjosastro, 2008, p.180). 3) Grandemultipara Adalah wanita yang telah melahirkan janin aterm lebih dari lima kali. bayi

35

4) Nulipara Adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan bayi. Jika terjadi persalinan lama, yaitu kala I lebih dari 13 jam pada kehamilan pertama (primigravida) atau kala I lebih dari 7 jam pada kehamilan kedua atau lebih (multigravida). B. Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Berat Bayi Lahir Umur ibu dan paritas ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Wanita berumur antara 15 sampai 19 tahun memiliki kemungkinan lebih besar mengalami anemia, dan beresiko lebih tinggi memiliki janin yang pertumbuhannya terhambat (Sitorus, 1999, p.13) dalam Setyaningrum (2005). Sedangkan paritas yang tinggi akan berdampak pada timbulnya berbagai masalah kesehatan baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan. Salah satu dampak kesehatan yang mungkin timbul dari paritas yang tinggi adalah berhubungan dengan kejadian BBLR. Hasil penelitian yang dilakukan Muazizah (2011) bahwa faktor yang mempengaruhi berat badan lahir adalah penyuluhan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik, perlu dukungan sektor lain yang terkait untuk turut dalam meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil.

36

Beberapa faktor lainnya dalam penelitian Trihardiani (2011) yang dapat mempengaruhi berat badan lahir, antara lain tinggi badan ibu, jarak kelahiran, dan pekerjaan ibu. Pada wanita yang pendek sering ditemukan adanya panggul yang sempit dan keadaan ini dapat mempengaruhi jalannya persalinan sehingga menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan rendah. Jarak kelahiran yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya, sehingga berisiko terganggunya sistem reproduksi yang akan berpengaruh terhadap berat badan lahir. Ibu yang bekerja cenderung memiliki sedikit waktu istirahat sehingga berisiko terjadinya komplikasi kehamilan, seperti terlepasnya plasenta yang secara langsung berhubungan dengan BBLR. Berdasarkan hasil penelitian lain oleh (Esse Puji dkk, 2007) beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR antara lain: penyakit yang diderita ibu selama hamil, status gizi ibu hamil dan adanya plasenta previa atau bayi kembar.

37

C. Kerangka Teori

Faktor Internal : 1. Umur Ibu 2. Jarak kehamilan/kelahiran 3. Paritas Ibu 4. Kadar Hemoglobin (Hb) 5. Asupan Zat Gizi Ibu Hamil 6. Pemeriksaan Kehamilan 7. Penyakit saat Kehamilan yaitu hipertensi, asma, Diabetes Melitus.

Faktor Eksternal : 1. Kondisi Lingkungan 2. Social Ekonomi Ibu Hamil 3. Kebersihan dan kesehatan Lingkungan 4. Ketinggian Tempat Tinggal

Berat Bayi Lahir

Gambar 2.1. Kerangka Teori Penelitian Sumber : Sri Kardjati dkk (1985, p.21) dalam Setianingrum (2005), Sitorus (1999, p.41) dalam Setianingrum (2005), Proverawati (2009, p.53), Prawirohardjo (2008, p.851), Jitowiyono dan Weni (2010, p.50), Kristyanasari (2010, p.50). D. Kerangka Konsep Variabel Bebas Umur Ibu Variabel Terikat Berat Bayi Lahir

Paritas Ibu Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

38

E. Hipotesis 1. Ha : Ada hubungan umur ibu dengan berat bayi lahir di Rumah Bersalin Citra Insani. Ho : Tidak ada hubungan umur ibu dengan berat bayi lahir di Rumah Bersalin Citra Insani 2. Ha : Ada hubungan paritas ibu dengan berat bayi lahir di Rumah Bersalin Citra Insani. Ho : Tidak ada hubungan paritas ibu dengan berat bayi lahir di Rumah Bersalin Citra Insani.