Anda di halaman 1dari 28

AUTISME

I.

PENDAHULUAN Anak yang terlahir dengan profil ideal, dan dapat tumbuh berkembang dengan sempurna adalah harapan dari setiap orangtua, sehingga mereka memiliki kebanggaan serta tuntutan yang sesuai dengan harapannya di masa depan. Namun pada kenyataan hidup, adakalanya harapan-harapan itu tidak terwujud. Dan setiap orang akan memiliki sikap yang dapat mereka tampilkan bila menyadari sesuatu yang tidak diharapkan terjadi pada diri mereka. Sehingga berbagai sikap dapat terjadi pada setiap orang tua yang menyadari bahwa anak tercintanya menyandang Autisme . Banyak cara penerimaan yang ditunjukkan. Dalam keadaan ini biasanya yang dikehendaki adalah anak akan dapat tumbuh dan kembali normal sama seperti anak lainnya. Semakin besar penolakan pada kondisi yang ada, semakin lama proses ini dapat diatasi oleh orang tua. Bagaimanapun juga peran orang tua sangatlah penting bagi anak-anak dengan gangguan autisme.1 Dalam waktu terakhir ini kasus penderita autisme tampaknya semakin meningkat pesat. Autisme tampak menjadi seperti epidemik ke berbagai belahan dunia. Dilaporkan terdapat kenaikan angka kejadian penderita Autisme yang cukup tajam di beberapa Negara. Keadaan tersebut diatas cukup mencemaskan mengingat sampai saat ini penyebab Autisme adalah multifaktorial, dan sampai saat ini penyebab autis masih misterius dan menjadi bahan perdebatan diantara para ahli dan dokter di dunia.1

II.

DEFINISI Istilah Autisme berasal dari kata Autos yang berarti diri sendiri dan Isme yang berarti suatu aliran. Jadi Autisme dapat diartikan sebagai suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri.2 Autisme adalah penyakit neuropsikiatrik atau gangguan perkembangan yang kompleks yang ditandai oleh gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan aktivitas imajinasi serta disertai dengan keterbatasan tingkah laku atau pengulangan tingkah laku dan perhatian.2 Kelainan perkembangan yang berhubungan dengan autisme ini akan muncul dalam waktu tiga tahun pertama kehidupan anak dan akan menetap pada masa dewasa. Bahkan pada autistic infantile gejalanya sudah ada sejak lahir.2 Autisme secara tipikal ditandai sebagai bagian dari kelompok gangguan yang terdiri dari Sindrom Asperger (AS) dan gangguan menetap atau Pervasive Developmental Disorders (PDD) lainnya. AS dibedakan dari gangguan autistik oleh keterlambatan yang bermakna secara klinik dalam perkembangan bahasa (1 kata pada umur 2 tahun), selain gejala-gejala kegagalan interaksi sosial dan tingkah laku atau perhatian maupun aktifitas yang terbatas dan berulang yang menandai autism-spectrum disorders (ASDs), artinya jenis gejala yang tampak serta berat-ringannya bisa sangat bervariasi. Tidak ada anak yang mempunyai diagnosis yang sama menunjukkan pola dan variasi perilaku yang sama persis. PDD digunakan untuk mengkategorikan anak-anak yang kriterianya kurang sesuai untuk autisme tetapi mereka sangat mendekati diagnosis autisme dengan 2-3 gejala autisme. Autisme infantile (autisme pada masa anak-anak) adalah PDD yang

awitannya muncul sebelum umur 30-36 bulan dan kegagalan pada interaksi sosial dan komunikasi berhubungan dengan pola tingkah laku yang terbatas, berulang (repetisi) dan stereotipi.2

III.

EPIDEMIOLOGI Jumlah anak yang terkena autisme makin betambah. Di Canada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40% sejak tahun 1980. Di California pada tahun 2002 disimpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya.3 Badan Pusat Statistik mencatat, saat ini 1,5 juta anak di Indonesia yang mengalami autis. Namun, karena terbatasnya sarana pendidikan luar biasa, baru sekitar 50.000 anak yang mengenyam pendidikan.Diperkirakan 75-80% penyandang autis ini mempunyai retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu. Estimasi prevalensi (peluang terjadinya) autisme antara 4-5 pasien/10.000 individu. Berdasarkan penelitian akhir-akhir ini diperkirakan prevalensi meningkat menjadi 10- 12/10.000 individu. Di AS tahun 1980-an, dari hanya 4-5 anak yang autis per 10.000 kelahiran naik menjadi 15-20 per 10.000 kelahiran pda tahun 1990-an. Pada tahun 2000-an, sudah mencapai 60 per 10.000 kelahiran. Dari prevalensi ini sudah sangat diketahui bahwa jumlah penderita laki-laki 4x lebih banyak dibanding perempuan. Atau 80%nya adalah laki-laki. Belum ada data prevalensi autisme di Indonesia. Namun, mengingat pola hidup kurang sehat di Negara maju pun sudah merambah masyarakat kota-kota besar si Indonesia, fenomenanya diyakini mirip AS.3

IV.

ETIOLOGI 1. Faktor Genetika Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa factor genetika memegang peranan penting pada terjadinya autistik. Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit genetik yang paling sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-34%). Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan autistik yang mirip dengan saudara kembarnya. Juga ditemukan beberapa anak dalam satu keluarga atau dalam satu keluarga besarnya mengalami gangguan yang sama. 1,3 Aberasi Kromosom Kelainan kromosom seperti delesi, translokasi, fragile site pada autosom dan kromosom seks sering berkaitan dengan autisme infantile. Hampir semua penelitian menemukan frekuensi kelainan kromosam pada autisme antara 5-12%. Yang paling sering adalah kelainan struktur kromosom 15 (15q11q13). 3 Gillberg melaporkan enam penderita autisme dengan inverse duplikasi pada kromosom 15 dan empat kasus tersebut kelainannya berasal dari ibunya. Bentuk kelainan kromosam autosom lainnya yang dilaporkan pada penderita autistic adalah fragile 16q23 (rapuh lengan panjang kromosom 16) dan kelainan struktur kromosom 17p11. 3 Dan akhir-akhir ini dilaporkan juga bahwa Sindrom

Turner, wanita yang hanya memunyai 1 kromosom X menunjukkan gejala-gejala autisme. Diantara penderita sindrom Turner yang membawa pewarisan kromosom X dari ibu (maternal) ternyata mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk menderita autisme disbanding mereka yang mewarisi

kromosom X dari bapak (paternal). Tampaknya krpmosom X berperanan dalam perkembangan otak dan kecerdasan. 3 Kelainan Genetik Biokimiawi Beberapa peneliti berpendapat bahwa pada keluarga dengan anak yang autistik ada ketidak-seimbangan

neurotransmitter yang mengganggu pertumbuhan otak bayi pada masa-masa awal kehamilan. Bahan-bahan kimiawi monoamine, 5HT (5 hdroxytryptamine/serotonine) dan

cathecolamine (adrenalin atau epinephrine, dopamine, dan noradrenaline) telah banyak diteliti secara luas pada autisme karena keterlibatannya dalam menimbulkan gangguan tingkah laku dan efek dari dari antagonis dopamine yang mengurangi gejala-gejala atau tingkah laku pada autisme. 3 Kelainan Gen Tunggal Patofisiologi penyakit akhir-akhir ini telah dibuktikan berbasis perubahan struktur asam nukleat (mutasi) yang diwariskan maupun akibat tekanan lingkungan seperti infeksi virus. 3

2. Komplikasi Obstetrik Virus seperti Rubella, toxo, herpes, jamur, nutrisi yang buruk, perdarahan, keracunan makanan, dsb pada kehamilan dapat

menghambat pertumbuhan sel otak yang dpat menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung terganggu terutama fungsi pemahaman, komunikasi dan interaksi. 3

3. Vaksinasi Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada

kemungkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak, terutama vaksinasi MMR ( Measles, Mumps, Rubella). Juga Thimerosal yang digunakan sebagai pengawet vaksin diduga dapat menyebabkan autisme. Yakni bahan yang digunakan pada vaksin untuk mencegah perkembangbiakan jamur atau bakteri selama proses manufacturing (pembuatan, pengemasan, pengiriman, penyimpanan, penggunaan). Terutama pada vaksin multidosis yang telah dibuka. Dan sampai sekarang Thimerosal masih dianggap paling efektif membunuh virus, jamur atau bakteri pada vaksin. 3 Pernah dilaporkan kasus meningoensefalitis pada minggu ke3-4 setelah imunisasi di Inggris dan beberapa tempat lainnya. Reaksi klinis yang pernah dilaporkan meliputi kekakuan leher, iritabilitas hebat, kejang, gangguan kesadaran, serangan ketakutan yang tidak beralasan dan tidak dapat dijelaskan, deficit motorik/sensorik, gangguan penglihatan, defisit visual atau bicara yang serupa dengan gejala pada autisme. 3

Namun teori ini telah dibantah oleh berbagai pihak. Dan telah disimpulkan bahwa imunisasi MMR tidak mengakibatkan Autisme, bila anak sehat dan tidak berbakat autisme. Tetapi teori, penelitian atau pendapat beberapa kasus yang mendukung keterkaitan autisme dengan imnisasi, tidak boleh diabaikan begitu saja. Walaupun adanya beberapa bukti yang menyingkirkan pendapat adanya hubungan autisme dengan MMR, tetapi diduga imunisasi dapat memicu memperberat timbulnya gangguan perilaku pada anak yang sudah mempunyai bakat autisme secara genetik sejak lahir. Sangatlah bijaksana untuk lebih waspada bila anak sudah mulai tampak ditemukan penyimpangan

perkembangan atau perilaku sejak dini, memang sebaiknya untuk mendapatkan imunisasi MMR harus berkonsultasi dahulu dengan dokter anak. Bila anak sudah dicurigai ditemukan bakat kelainan Autisme sejak dini atau beresiko untuk menjadi autisme, mungkin bisa saja menunda dahulu imunisasi MMR sebelum dipastikan diagnosis Autisme dapat disingkirkan. Meskipun sebenarnya pemicu atau faktor yang memperberat Autisme bukan hanya imunisasi. Kekhawatiran terhadap imunisasi tanpa didasari pemahaman yang baik dan pemikiran yang jernih akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru pada anak. Dengan menghindari imunisasi maka akan timbul permasalahan baru yang lebih berbahaya dan dapat mengancam jiwa terutama bila anak terkena infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.3 WHO (World Health Organisation), pada bulan Januari 2001 menyatakan mendukung sepenuhnya penggunaan imunisasi MMR

dengan didasarkan kajian tentang keamanan dan efikasinya.3

V.

PATOFISIOLOGI AUTISME Bahan-bahan kimiawi dan monoamine, cathecolamine 5HT (adrenalin (5 atau

hdroxytryptamine/serotonine)

epinephrine, dopamine, dan noradrenaline) telah banyak diteliti secara luas pada autisme karena keterlibatannya dalam menimbulkan gangguan tingkah laku dan efek dari dari antagonis dopamine yang mengurangi gejala-gejala atau tingkah laku pada autisme. 4 Norephineprine (NE) dan Epinephrine terlibat dalam mengatur perhatian dan stimulasi, gangguan pada transpor neurotransmiter ini juga dikaitkan dengan autisme. Bahan-bahan ini berfungsi untuk system sensoris, belajar, ingatan, nafsu makan, tidur dan fungsi motorik. Sehingga adanya ketidak seimbangan neurotansmiter tersebut dapat mengakibatkan gangguangangguan fungsinya. 4 Dan beberapa penelitian telah mendeteksi kenaikan 5HT didalam darah pada pasien-pasien autistik, selain itu juga adanya peninggian serotonin platelet dalam darah dan urin. Maka pemberian inhibitor serotonin memperbaiki gejala-gejala autisme. 4 Wanita hamil dalam keadaan normal mempunyai kadar Dopamine dan Serotonine serum maternal meninggi dan diekspresikan pada jonjot plasenta. Neurotransmitter ini berfungsi pada regulasi pertumbuhan dan kehidupan sel saraf /otak bayi. Aktivitas enzim Dopamine Beta Hydroxylase (DBH) serum menurun pada hampir semua ibu yang mempunyai 2 anak laki-laki autistik (multipleks). Penurunan ini berhubungan dengan alel spesifik DBH yang

disebut DBH- (ada tanda minus). Karena DBH berfungsi untuk mengkonversi Dopamine ke Norepinephrine, maka Dopamine dalam sirkulasi akan meninggi pada ibu yang mempunyai alel DBH- homozigot. Kenaikan Dopamine level bersama-sama dengan kenaikan normal Dopamine dan 5HT selama kehamilan akan mengganggu sistem penghantar sel-sel saraf sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan awal bayi dan diduga dapat menyebabkan autisme/PDD. 4

VI.

DIAGNOSA Diagnostic and Statistical Manual IV atau DSM-IV merupakan suatu system diagnosis yang dibuat oleh perhimpunan psikiater Amerika, sedangkan International Classification of Diseases-10 atau ICD-10 merupakan suatu sistem diagnosis yang dibuat oleh WHO. Kedua system ini menyebutkan tentang Pervasive Developmental Disorder. Seorang anak dapat disebut mengalami Gangguan Autistik harus memenuhi kriteria dibawah ini : 5 A. Klasifikasi Autisme Enam atau Lebih Gejala dari (1),(2),dan (3) dengan paling sedikit 2 dari (1) dan 1 dari masing-masing (2) dan (3) 5 1. Gangguan kualitatif interaksi sosial, yang terlihat sebagai paling sedikit 2 dari gejala berikut : 5 1.1. Gangguan yang jelas dalam perilaku non-verbal (perilaku yang dilakukan tanpa bicara) misalnya kontak mata, ekspresi wajah, posisi tubuh, dan mimik untuk mengatur interaksi sosial 1.2. Tidak bermain dengan teman seumurnya, dengan cara yang

sesuai 1.3. Tidak berbagi kesenangan, minat, atau kemampuan mencapai sesuatu hal dengan orang lain, misalnya tidak

memperlihatkan mainan pada orang tua, tidak menunjuk ke suatu benda yang menarik, tidak berbagi kesenangan dengan orang tua. 1.4. Kurangnya interaksi social timbale balik, misalnya tidak berpartisipasi aktif dalam bermain, lebih senang bermain sendiri 2. Gangguan kualitatif komunikasi yang terlihat sebagai paling tidak satu dari gejala berikut : 5 2.1. Keterlambatan atau belum dapat mengucapkan kata-kata berbicara, tanpa disertai usaha kompensasi dengan cara lain, misalnya mimik dan bahasa tubuh 2.2. Bila dapat berbicara, terlihat gangguan kesanggupan memulai atau mempertahankan komunikasi dengan orang lain 2.3. Penggunaan bahasa yang stereotipik dan berulang, atau bahasa yang tidak dapat dimengerti 2.4. Tidak adanya cara bermain yang bervariasi dan spontan, atau bermain meniru secara sosial yang sesuai dengan umur perkembangannya 3. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan tidak berubah (stereotipik), yang ditunjukkan dengan adanya 2 dari gejala berikut : 5 3.1. Minat yang terbatas, stereotipik dan menetap dan abnormal

10

dalam intensitas dan fokus 3.2. Keterikatan pada ritual yang spesifik tetapi tidak fungsional secara kaku dan tidak fleksibel 3.3. Gerakan motorik yang stereotipik dan berulang, misalnya flapping tangan dan jari, gerakan tubuh yang kompleks 3.4. Preokupasi terhadap bagian dari benda Keterlambatan atau fungsi abnormal pada keterampilan berikut, yang muncul sebelum umur 3 tahun : 5 1. Interaksi sosial 2. 3. Bahasayang digunakan sebagai komunikasi social bermain simbolik atau imajinatif

B. Karakteristik Autisme Anak autistik mempunyai masalah atau gangguan dalam bidang : 1. Komunikasi5 Perkembangan bahasa lambat atau sama sekli tidak ada Anak tampak seperti tuli, sulit bicara, atau pernah berbicara tapi kamudien sirna Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi Senang meniru atau membeo (echolalia) Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanian

11

tersebut tanpa mengerti artinya Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu 2. Interaksi sosial5 Pada masa bayi, kadang anak autisme tidak mau digendong atau terbaring berjam-jam tanpa menangis atau

membutuhkan orang tua Penyandang autistic lebih suka menyendiri Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan Tidak tertarik untuk bermain bersama teman atau sulit untuk berteman, dan kadang cara bertemannya aneh Bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh 3. Gangguan sensoris5 Sangat sensitive terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk Bila mendengar suara keras langsung menutuo telinga Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda Tidak sensitive terhadap rasa sakit dan rasa takut 4. Pola Bermain5 Tidak bermain seperti pada anak-anak pada umumnya Tidak suka bermain pada anak sebayanya

12

Tidak kreatif dan tidak imajinatif Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar Senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angina, roda sepeda Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana 5. Perilaku5 Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau kekurangan (hipoaktif) Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyanggoyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke pesawat televise, lari, berjalan bolakbalik, melakukan gerakan yang diulang-ulang Tidak suka pada perubahan Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong 6. Emosi5 Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan Temper tantrum (mengamuk tanpa kendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya Kadang suka menyerang dan merusak Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri

13

Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain Namun harus diperhatikan bahwa gejala dari Gangguan Autistik sangat bervariasi dari anak ke anak. Tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama jenisnya, dan tidak semua anak menunjukkan gejala sama berat. 5

C. Tanda-tanda awal Autisme Bayi lahir usia 6 bulan5 Anak terlalu tenang/baik Mudah terangsang (irritable) Banyak menangis terutama malam, susah ditenangkan Jarang menyodorkan kedua lengan untuk minta diangkat Jarang mengoceh Jarang menunjukkan senyuman sosial Jarang menunjukkan kontak mata Perkembangan gerakan kasar tampak normal Usia 6 bulan 2 tahun5 Tidak mau dipeluk, atau menjadi tegang bila diangkat Acuh menghadapi kedua orang tuanya Tidak mau mengikuti permainan sederhana seperti ciluk ba, bye-bye Tidak berupaya menggunakan kata-kata

14

Seperti tidak tertarik pada boneka atau binatang mainan untuk bayi Bisa sangat tertarik pada kedua tangnnya sendiri Mungkin menolak makanan keras atau tidak mengunyah Usia 2 3 tahun5 Tidak tertarik (terbatas) atau menunjukkan perhatian khusus Meganggap orang lain sebagai alat atau benda Menunjukkan kontak mata yang terbatas Mungkin mencium atau menjilati benda-benda Menolak untuk dipeluk dan menjadi tegang atau sebaliknya (tubuh menjadi lemas) Relatif cuek menghadapi kedua orang tuanya Usia 4-5 tahun5 Bila anak akhirnya berbicara, tidak jarang echolalic Menunjukkan nada suara yang aneh (biasanya bernada tinggi dan monoton) Merasa sangat terganggu bila terjadiperubahan rutin pad kegiatan sehari-hari Kontak mata masih sangat terbatas, walaupun bisa terjadi perbaikan Tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi bisa juga berangsur-angsur berkurang Melukai diri sendiri 15

Merangsang diri sendiri

Menurut PPDGJ III, kelompok gangguan perkembangan pervasive ini ditandai dengan kelainan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik dan dalam pola komunikasi, serta minat dn aktivitas yang terbatas, streotipik, berulang. Kelainan kualitatif ini menunjukkan gambaran yang pervasif dari fungsi-fungsi individu dalam semua situasi, meskipun dapat berbeda dalam derajat keparahannya. F 84.0 Autisme masa kanak9 Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan fungsi dalam 3 bidang : interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang. Biasanya tidak jelas ada perkembangan yang normal sebelumny, tetapi bila ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas

sebelum usia 3 tahun, sehingga diagnosis sudah dapat ditegakkan. Tetapi gejala-gejalanya (sindrom) dapat di diagnosis pada semua kelompok umur. Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik (reciprocal social interaction). Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat sosio-emosional, yang tampak sebagai kurangnya respon terhadap emosi orang lain dan/atau kurangnya modulasi trhadap perlaku dalam konteks sosial, buruk dalam menggunakan isyarat sosial dan integritas yang lemah dalam perilaku sosial, emosional dan komunikatif, dan khususnya, kurangnya

16

respons timbal balik sosio-emosional. Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk kurangnya pengguanaan keterampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan sosial, hendaya dalam permainan imaginative dan imitasi sosial, keserasian yang buruk dan kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan, buruknya keluwesan dalam bahasa ekspresif dan kreativitas dan fantsai dalam proses pikir yang relatif kurang, kurangnya respon emosional terhadap ungkapan verbal dan nonverbal orang lain, hendaya dalam mengguanakan variasi iramaatau penekanan sebagai modulasi komunikatif, dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau memberi arti tambahan dalam komunikasi lisan. Kondisi ini juga di tandai oleh pola perialku, minat, dan kegiatan yang terbatas, berulang dan streotipik. Ini bentuk kecenderungan untuk bersikap kaku dan rutin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, ini biasanya berlaku untuk kegiatan baru dan juga kebiasaaan sehari-hari serta pola bermain. Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autism, tetapi pada tiga perempat kasus secara signifikan terdapat retardasi mental. F 84.1 Autisme tak khas Gangguan perkembangan pervasif yang berbeda dari autism dalam hal onset maupun tidak terpenuhinya ketiga kriteria diagnostik. Jadi kelainan dan atau hendaya perkembangan menjadi jelas untuk pertama kalinya pada usia setelah 3 tahun, dan/atau tidak cukup

17

menunjukkan kelainan dalam satu

atau

dua dari tiga bidang

psikopatologi yang dibutuhkan untuk diagnosis autism (interaksi sosial timbal-balik, komunikasi, dan perilaku terbatas, streotipik, dan berulang) meskipun terdapat kelainan yang khas dalam bidang lain. Autisme tidak khas sering muncul pada individu dengan retardasi mental yang berat, yang sangat rendah kemampuannya, sehingga psien tidak mampu menampakkan gejala yang cukup untuk menegakkan diagnosis autisme, ini juga tampak pada individu dengan gangguan perkembangan yang khas dari bahasa resptif yang berat.

Tidak ada satupun pemeriksaan medis yang dapat memastikan suatu diagnosis autism pada anak. Tetapi terdapat beberapa pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi. 8 Elektroensefalogram (EEG) EEG untuk memeriksa gelombang otak yang mennujukkan gangguan kejang, diindikasikan pada kelainan tumor dan gangguan otak. 8 Skrening Metabolik Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan darah dan urine untuk melihat metabolisme makanan di dalam tubuh dan pengaruhnya pada tumbuh kembang anak. Beberapa spectrum autism dapat disembuhkan dengan diet khusus. 8 Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Computer Assited Axial Tomography (CT Scan) MRI atau CAT Scans sangat menolong untuk mendiagnosis kelainan struktur otak, karena dapat melihat struktur otak secara lebih detail. 8

18

Pemeriksaan Genetik Pemeriksaan darah untuk melihat kelainan genetik, yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan. Beberapa penelitian

menunjukkkan bahwa penderita autism telah dapat ditemukan pola DNA dalam tubuhnya.8

VII.

DIAGNOSIS BANDING 1. Asperger Disorder Ditandai dengan gangguan sosial. Anak-anak dengan kelainan ini mungkin mempunyai perhatian atau minat yang terbatas dan sering terlihat canggung. Pada umumnya mempunyai IQ yang lebih dari 70 tanpa disertai keterlambatan perkembangan bahasa.1 2. Disintergrative Disorder Anak dengan disintegrative Disorder dapat berkembang normal di semua bidang sampai mereka berumur 2-10 tahun. Pada saat itu, mereka mengalami kemunduran komunikasi verbal, sosial dan kemampuan kognitif yang berat dan biasanya meninggalkan kelainan yang menetap.1 3. Rett Syndrome Berhentinya perkembangan psikomotor pada umur 7-18 bulan dan diikuti kemunduran fungsi mental, merupakan kelainan neurology yang sebagian besar ditemukan pada anak perempuan.1 4. Pervasive Developmental Disorder not Otherwise Spesified (PDDNOS)

19

Istilah ini digunakan untuk pasien yang tidak dapat dimasukan kedalam kategori yang telah disebut sebelumnya. 1

VIII.

TERAPI Manajemen pada Autistic Spectrum Disorder harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu, meliputi semua disiplin ilmu yang terkait meliputi tenaga medis yaitu psikiatri, dokter anak, neurologi, dokter rehabilitasi medik dan non-medis yaitu antara lain tenaga pendidik, psikolog, ahli terapi wicara/okupasi/fisik, dan pekerja sosial.6 Tujuan terapi pada ASD adalah untuk: Mengurangi masalah perilaku Meningkatkan kemampuan belajar dan perkembangannya terutama dalam penguasaan bahasa Manajemen disiplin ilmu dapat dibagi 2: 1. Non Medikamentosa 2. Medikamentosa A. Non Medikamentosa6 Terapi Edukasi Hambatan pada individu dengan ASD terutama pada interaksi sosialnya. Hal ini akan berlanjut bila tidak segera ditangani pada usia sekolah, anak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, bersosialisasi dengan lingkungan barunya (teman,guru). Oleh karena itu sebaiknya anak sesegera mungkin dikenalkan dengan

lingkungannya. 6 Metode pengajaran : TEACCH (Treatment and Education of

20

Autistic

and

Related suatu

Communication yang

Handicappes sangat

Children). yang

Merupakan

program

terstruktur

mengintegrasikan metode klasikal yang individual, metode pengajaran yang sistematik, terjadwal, dan dalam ruang kelas yang ditata khusus. 6 Terapi perilaku Gangguan perilaku pada individu dengan ASD biasaya merupakan satu gejala yang membuat orang tua menyadari bahwa anaknya berbeda perkembangaanya dengan anak lain seusianya. Selain hiperaktivitas, impulsivitas, gerakan stereotipik, cara bermain yang tidak sama dengan anak lain, juga adanya agresivitas dan perilaku yang cenderung melukai diri sendiri. Kondisi inin sangat menguras tenaga, fisik/psikis orang-orang disekitarnya. 6 Terapi Wicara Terapi wicara yang diberikan pada individu dengan ASD berbeda dengan gangguan lain, sehingga diperlukan pengetahuan yang baik mengenai ciri-ciri bicara dan berbahasa anak autistik. Terpi ini harus diberikan sejak dini dan intensif, bersama dengan terapi-terapi yang lain. 6 Terapi Okupasi Diperlukan intervensi terapi olupasi/fisik agar individu dengan ASD dapat melakukan gerakan, memegang, menggunting, menulis, melompat dengan terkontrol dan teratur sesuai kebutuhan saat itu. 6 Sensori Integrasi Sensori intergrasi adalah pengorganisasian informasi melalui

21

semua sensori yang ada (gerakan, sentuhan, penciuman, penglihatan, pendengaran, body awareness dan gravitasinya) untuk menghasilkan respon yang bermakna. Melalui semua indera yang ada,otak menerima aliran informasi tentang kondisi fisik dan lingkungan sekitarnya. Pad ASD terjadi disorganisasi pada fungsi sarafnya, sehingga terjadi gangguan dalam aliran informasi ke otak. Hal ini yang sering menimbulkan pelbagai macam gangguan sensorik pada individu dengan ASD, seperti koordinasi motorik yang buruk, aktivitas yang tidak terkontrol, hipo/hipersensitif, perilaku melukai diri sendiri. 6 Dengan pendekatan sensori integrasi yang bertujuan

mengintegrasikan sensorik yang ada, diharapkan semua gangguan akan dapat diatasi. 6 AIT (Auditory Integration Training) Pada intervensi AIT pada awlnya ditentukan suara yang mengganggu pendengaran dengan perangkat audiometer. Lalu diikuti dengan seri terapi yang memperdengarkan suara-suara yang direkam, tapi tidak disertai dengan suara yang menyakitkan. Selanjutnya dilakukan desensitisasi terhadap suara-suara yang menyakitkan tersebut. 6 Intervensi Keluarga Pada dasarnya anak hidup dalam keluarga, perlu bantuan keluarga baik perrlindungan, pengasuhan, pendidikan, maupun dorangan untuk dapat tercapainya perkembangan yang optimal dari seorang anak, mandiri dan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. 6

22

B. Medikamentosa Perilaku Disruptif Neuroleptik7 1. Neuroleptik tipikal potensi rendah : Thioridazine (Melleril) Dapat menurunkan agresivitas dan agitasi Dosis : 0,5-3mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3x/hari

2. Neuroleptik Tipikal potensi tinggi : Haloperidol (Haldol, Serenace), Pimozide (Orap) Dapat menurunkan agresivitas, hiperakrivitas, iritabilitas, dan stereotipik Dalam dosis kecil : 0,25-3 mg/hari 3. Neuroleptik Atipikal : Risperidone (Risperdal, Noprenia), Clozapine (Clozaril), Olanzapine (Zyprexa) Risperidone bila dipakai dalam dosis yang

direkomendasikan:0,5-3mg/hari dibagi dalam 2-3x/hari, yang dapat dinaikkan 0,25mg setiap 3-5 hari sampai dosis inisial tercapai 1-2mg/hari dalam 4-6 minggu, akan tampak perbaikan pada hubungan sosial, atensi, dan gejala obsesif.7

Perilaku Repetitif Perilaku stereotipik seperti perilaku yang melukai diri sendiri, resisten terhadap perubahan hal-hal rutin, ritual obsesif dengan anxietas yang tinggi dapat diatasi dengan Neuroleptik seperti

23

Risperidone ataupun Selective Serotonine Reuptake Inhibitors (SSRI). Kedua jenis medikamentosa ini dapat dipakai secara efektif dalam bentuk kombinasi, masing-masing dalam dosis rendah. SSRI yang banyak dipakai adalah Fluoxetine (Prozac), Fluvoxamine (Luvox) dalam dosis kecil. Fluoxetine mulai dengan dosis 5-10mg pagi hari dan secara bertahap dinaikkan dosisnya sampai mencapai dosis terapeutik. Naltrexone (Potent Long-Acting Opioid Antagonist) mempunyai potensi untuk mengatasi perilaku melukai diri sendiri dan ritual pada anak dengan ASD dengan dosis 0,5-2mg/kg/hari. 7

Inatensi Stimulan : Methylphenidat (Ritalin, Concerta) dapat meningkatkan atensi dan mengurangi distraktibilitas. Dosis rendah 0,3mg/kgBB/hari.7

Insomnia Intervensi farmakoterapi dapat diberikan untuk waktu yang tidak terlalu lama, sekitar 4-6 minggu dengan Diphenhydramine (Benadryl) dosis12,5-50mg setengah jam sebelum tidur. Juga diberikan

Neuroleptik yaitu Thioridazine 10-25mg menjelang waktu tidur. 7 Gangguan Metabolisme Pada anak dengan ASD banyak ditemukan adanya gangguan metabolisme, seperti gangguan pencernaan, alergi makanan, ganguan kekebalan tubuhm ketidakmapuan anak-anak ini untuk membuang racun dari tubuhnya sehingga banyak dari mereka yang keracunan legam berat. Semua ganguan ini saling berkaitan dan akhirnya mengganggu fungsi otak. 7

24

Intervensi

biomedis

dapat

dilakukan

setelah

hasil

tes

laboratorium diperoleh.. semua gangguan metabolisme yang ada diperbaiki dengan obat-obatan maupun pengaturan diet antara lain diet bebas gleten dan casein. 7

IX.

PROGNOSIS Prognosis umunya ditentukan beratnya gejala, tingginya intelegensi dan umur saat didiagnosa. Makin berat gejala, prognosis makin buruk. Makin muda diagnosis ditegakkan , makin baik karena intervensi dapat segera dilakukan. Otak masih dapat dirangsang untuk membentuk myelin, yaitu bagian putih dari otak sampai 5 tahun.3 Selain itu juga tergantung dari kecerdasan. Makin cerdas anak tersebut, makin baik prognosisnya, karena ia akan bisa menagkap pelajaran lebih cepat.3

X.

KESIMPULAN Autisme merupakan suatu gangguan perkembangan yang komplek, yang akhir-akhir ini jumlahnya semakin meningkat. Autis bukanlah suatu penyakit yang menular dan membahayakan orang lain yang ada disekitarnya.1 Pada dasarnya gangguan autisme tergolong dalam gangguan perkembangan pervasive, namun bukan satu-satunya golongan yang termasuk dalam gangguan perkembangan pervasive ( Pervasive Developmental Disorder) menurut DSM IV ( 1995). Namun dalam kenyataannya hampir keseluruhan golongan gangguan perkembangan pervasif disebut oleh para orangtua atau masyarakat sebagai Autisme. Padahal di dalam gangguan

25

perkembangan pervasive meski sama-sama ditandai dengan gangguan dalam beberapa area perkembangan seperti kemampuan interaksi sosial, komunikasi serta munculnya perilaku stereotipe, namun terdapat beberapa perbedaan antar golongan gangguan autistik (Autistic Disorder) dengan gangguan Rett ( Retts Disorder), gangguan disintegatif masa anak ( Childhood Disintegrative Disorder ) dan gangguan Asperger ( Aspergers Disorder ).3 Neurotransmitter merupakan cairan kimiawi yang berfungsi

menghantarkan impuls dan menerjemahkan respon yang diterima. Jumlah neurotransmitter pada penyandang autisme berbeda dari orang normal dimana sekitar 30-50% pada penderita autisme terjadi peningkatan jumlah serotonin dalam darah (Nikita,2002). Selanjutnya, penelitian kemudian mengarahkan perhatian pada faktor biologis, diantaranya kondisi lingkungan, kehamilan ibu, perkembangan perinatal, komplikasi persalinan, dan genetik.4 Perlu disadari pentingnya pengenalan dan penanganan secara dini untuk perkembangan anak anak ini. Penanganan terpadu secara dini akan membantu anak lebih siap lagi untuk mengikuti pendidikan bersama-sama anak pada umumnya.7

26

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Kaplan, Saddoks. 2007. Synopsis of psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins Reinecke, AM, dkk. 2006. Cognitive Therapy ith children and adolescents second edition. London : The Guilford Press

3.

Brasic,

R,

dkk.

Autism

(Online)

(Available

at

http://emedicine.medscape.com/article/912781-overview#showall) (Di akses tgl 19 Februari 2013) 4. Moldin, S O, dkk. 2006. Understanding autism from basic neuroscience to treatment. Taylor and Francis Group 5. Packham,K. 2011. Autism: recognition, referral and diagnosis of children and young people on the autism spectrum. The Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 6. Jennifer,K, dkk. Autism. (Online) (available :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002494/) (Di akses tgl 19 Februari 2013) 7. Autism Society. Diagnosis of autism (Online) (Available :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/PMH0002494/) (Di akses tgl 19 Februari 2013) 8. Brasic, J B. Autism workup (Online) (Available :

http://emedicine.medscape.com/article/912781-workup#showall) (Di akses tgl 19 Februari 2012) 9. Maslim, R. 2001. Diagnosis gangguan jiwa rujukan ringkas dari PPDGJ III. Jakarta : PT Nuh Jaya

27

28