Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN A.

DEFINISI Stroke, atau cedera serebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer & Bare, 2002). Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut saraf otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan/atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darak otak non traumatik (Mansjoer, 2000). Stroke hemoragik adalah suatu kondisi yang terjadi terutama disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Pembuluh darah pecah dan melepaskan darah ke otak. Penelitian menunjukkan bahwa hampir 20% dari stroke yang terjadi secara keseluruhan adalah perdarahan di alam (Anonim, 2010). B. ETIOLOGI 1. 2. Hipertensi yang menimbulkan perdarahan intraserebral rupture aneurisme sakular. Arteriosklerosis (trombosis) 40% kaitannya dengan kerusakan lokal dinding pada akibat ateriosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai dengan plak berlemak pada lapisan intima arteri besar. Bagian intima arteri serebri menjadi tipis dan

berserabut, sedangkan sel-sel otonya menghilang. Lumina elastika interna robek dan berjumbal, sehingga lumen pembuluh sebagian berisi oleh materi sklerotik tersebut. 3. 4. Embolisme Perdarahan serebri Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh subtura arteri serebri ekstrapasasi darah terjadi di daerah otak dan atau subarakhnoid, sehingga jaringan yang terletak di dekatnya akan tergeser dan tertekan. 5. Aneurisma pembuluh darah serebral Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan manuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan. 6. Kelainan jantung/penyakit jantung Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan cardiac output dan menurunkan aliran darah ke otak. Disamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah.
7. Diabetes mellitus (DM)

Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yaitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan mikrovaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.
8. Usia lanjut

Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.
9. Peningkatan kolesterol (lipid total)

Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.

10. Obesitas

Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh darah otak. 11. Perokok Pada perokok akan timbul plak pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis. 12. Kurang aktivitas fisik Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (pembuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak. C. PATOFISIOLOGI (Joko, 2008) Otak sendiri merupakan 2% dari berat tubuh total. Dalam keadaan istirahat otak menerima seperenam dari curah jantung. Otak mempergunakan 20% dari oksigen tubuh. Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang terjadi pada cerebro vaskular accident di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total). Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral dan arteri karotis interna. Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu: 1. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan atau penyumbatan lumen sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan mengakibatkan perubahanperubahan iskemik otak. Bila hal ini terjadi sedemikian hebatnya, dapat menimbulkan nekrosis. 2. 3. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke kejaringan (hemoragik). Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak.

4.

Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial jaringan otak. Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan

pada aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai perdarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur anastomosis yang ada. Perubahan awal yang terjadi pada korteks akibat oklusi pembuluh darah adalah gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi arteri serta arteriole. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama berlangsungnya peristiwa ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah mengikuti secara pasif segala perubahan tekanan darah arteri. Di samping itu reaktivitas serebrovaskuler terhadap PCO2 terganggu. Berkurangnya aliran darah serebral sampai ambang tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi neural dan terjadi kerusakan jaringan secara permanen. D. TANDA DAN GEJALA (Doni, 2009) Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena. 1. Pengaruh terhadap status mental Tidak sadar: 30%-40%. Konfuse: 45% dari pasien biasanya sadar. 2. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan: Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianestesia (30%-80%). Afasia bila mengenai hemisfer dominan (35%-50%). Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%). 3. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:

Hemiplegia dan hemianestesia kontralateral terutama tungkai (30%80%). Inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena. 4. Daerah arteri serebri posterior Nyeri spontan pada kepala. Afasia bila mengenai hemisfer dominan (35%-50%). 5. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan: Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak. Hemiplegia alternans atau tetraplegia. Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil). Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena, gejala dapat berupa: 1. Stroke hemisfer kanan Hemiparese sebelah kiri tubuh. Penilaian buruk. Mempunyai 2. Stroke hemisfer kiri Mengalami hemiparese kanan. Perilaku lambat dan sangat berhati-hati. Kelainan bidang pandang sebelah kanan. Disfagia global. Afasia. Mudah frustasi. E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. 2. CT Scan memperlihatkan edema, hematoma, iskemia dan adanya infark. Sinar X menggambarkan klasifikasi parsial dinding aneurisma pada perdarahan subarakhnoid. kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan.

3. 4. 5. 6.

EEG mengidentifikasi masalah berdasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik. Angiografi serebral memperlihatkan adanya perdarahan arteri atau adanya oklusi atau ruptur. MRI menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, malformasi arteriovena (AVM). Pungsi lumbal memperlihatkan adanya peningkatan dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan intrakranial.

F. PENGKAJIAN PRIMER a. Airway Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk b. Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi c. Circulation TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut d. Pemeriksaan fisik - BI (Breathing): Dispneu, resiko terjadi aspirasi den gagal pernafasan akut - B2 (bleeding):Hipotensi / hipertensi, tskiksrdi / bradikardi - B3 (Brain): Kelemahan otot etrakolur yang menyebabkan palsi ocular, jatuhnya kelopak mata atau dislopia intermien, bicara klien mungkin disatrik - B4: (Bladder): Menururunkan fungsi kandung kemih, retensi urine, hilanhnya sensasi saat berkemih - B5: (Bowel): kesulitan menelan-mengunyah, disfagia, kelemahan otot diafragma dan peristaltic usus turun

- B6: (Bone): gangguan aktifitas/mobilitas fisik, kelemahan otot yang berlebihan G. PENGKAJIAN SEKUNDER a. Aktivitas dan istirahat Data Subyektif: kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Perubahan tingkat kesadaran Perubahan tonus otot gangguan penglihatan ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ) , kelemahan umum. Data obyektif:

b. Integritas ego Data Subyektif: c. Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan kesulitan berekspresi diri Eliminasi Data Subyektif: d. Inkontinensia, anuria distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) Makan/ minum Data Subyektif: Nafsu makan hilang Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK Data obyektif:

e.

Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ) Obesitas ( factor resiko )

Data obyektif:

Sensori neural Data Subyektif: Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA ) nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati Penglihatan berkurang Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral ) Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik Data obyektif:

Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral

f. Nyeri / kenyamanan Data Subyektif: Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial Data obyektif: g. Respirasi Data Subyektif: Perokok ( factor resiko ) h. Keamanan Data obyektif: i. Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri Interaksi social Data obyektif: Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi (Doenges E, Marilynn,2000) j. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum Kesadaran : umumnya mengelami penurunan kesadaran Suara bicara : kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara

Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi

b. Pemeriksaan integumen - Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien CVA Bleeding harus bed rest 2-3 minggu Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis Rambut : umumnya tidak ada kelainan Kepala : bentuk normocephalik Muka : umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi Leher : kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)

c. Pemeriksaan kepala dan leher

d. Pemeriksaan dada Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan. e. Pemeriksaan abdomen Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung. f. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine g. Pemeriksaan ekstremitas Sering didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. h. Pemeriksaan neurologi Pemeriksaan nervus cranialis Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central. Pemeriksaan motorik Hampir selalu terjadi kelumpuhan/kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Pemeriksaan sensorik

Dapat terjadi hemihipestesi. Pemeriksaan refleks

H. Pada fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian

a) Aktivitas dan istirahat Data subyektif: Kesulitan dalam beraktivitas; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegi). Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot). Data obyektif: Perubahan tingkat kesadaran. Perubahan tonus otot (flaksid atau spastis), paraliysis (hemiplegia), kelemahan umum.. Gangguan penglihatan. Gangguan tingkat kesadaran. b) Sirkulasi Data subyektif: Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung, endokarditis bakterial), polisitemia, riwayat hipotensi postural. Data obyektif: Hipertensi arterial. Disritmia, perubahan EKG. Pulsasi: kemungkinan bervariasi. Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal. c) Integritas ego Data subyektif: Perasaan tidak berdaya, hilang harapan.

Data obyektif: Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan, kegembiraan. Kesulitan untuk mengekspresikan diri. d) Eliminasi Data objektif: Inkontinensia, anuria. Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh), tidak adanya suara usus (ileus paralitik). e) Makan/cairan Data subyektif: Nafsu makan hilang. Nausea/vomitus menandakan adanya PTIK. Kehilangan sensasi lidah, pipi, tenggorokan, disfagia. Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah. Data obyektif: Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum dan faring). Obesitas (faktor resiko). f) Sensori neural Data subyektif: Pusing/sinkope (sebelum CVA/sementara selama TIA). nyeri kepala: pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati. Penglihatan berkurang. Sentuhan: kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral (sisi yang sama).

Gangguan rasa pengecapan dan penciuman. Data obyektif: Status mental; koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif. Ekstremitas: kelemahan/paraliysis (kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral). Wajah: paralisis/parese (ipsilateral). Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/kesulitan berkata kata, reseptif/kesulitan berkata kata komprehensif, global/kombinasi dari keduanya. Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil. Apraksia: kehilangan kemampuan menggunakan motorik. Reaksi dan ukuran pupil: tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral. g) Nyeri/kenyamanan Data subyektif: Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya. Data obyektif: Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot/fasial. h) Respirasi Data subyektif: Perokok (faktor resiko). Data obyektif: Kelemahan menelan/batuk/melindungi jalan napas. Timbulnya pernapasan yang sulit dan/atau tak teratur. Suara nafas terdengar ronkhi/aspirasi. i) Keamanan

Data subjektif: Motorik/sensorik: masalah dengan penglihatan. Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit. Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali. Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh. Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri. j) Interaksi sosial Data subjektif: Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi. k) Pengajaran/pembelajaran Data subjektif: Riwayat hipertensi keluarga, stroke (faktor risiko), penggunaan kontrasepsi oral, kecanduan alkohol (faktor risiko). l) Pertimbangan rencana pulang Menentukan regimen medikasi/penanganan terapi. Bantuan untuk transportasi, berbelanja, menyiapkan makanan, perawatan diri dan pekerjaan rumah. 2. Rencana Asuhan Keperawatan a) Dx 1. Perubahan perfusi serebral b.d interupsi aliran darah: gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral dan edema serebral. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya atau membaik, fungsi kognitif dan motorik sensori.

Menunjukkan TTV stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Intervensi Mandiri Menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian/penyebab khusus selama koma/penurunan perfusi serebral dan potensial terjadinya peningkatan TIK. Memantau dan mencatat status neurologis sesering mungkin dan bandingkan dengan keadaan normal atau standar. Pantau TTV, seperti: adanya hipertensi, frekuensi dan irama jantung, auskultasi adanya murmur, catat pola irama dari pernapasan. Evaluasi pupil, catat ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksinya terhadap cahaya. Catat perubahan dalam penglihatan seperti adanya kebutaan, gangguan lapang pandang dan persepsi. Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis. Pertahankan keadaan tirah baring, ciptakan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung atau aktivitas klien sesuai indikasi. Cegah terjadinya mengedan saat defekasi. Kolaborasi Memberikan oksigen sesuai indikasi. Memantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, seperti masa protrombin, kadar dilantin. b) Dx 2. Kerusakan mobilitas fisik b.d keterlibatan neuromuskuler, kelemahan, parestesia, flaksid/paralisis hipotonik, paralisis spastis. Kerusakan perceptual/kognitif. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan:

Mempertahankan posisi optimal dari fungsi. Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi tubuh. Mempertahankan integritas kulit. Intervensi Mandiri Mengkaji kemampuan secara fungsional/luasnya kerusakan awal dengan cara yang benar. Klasifikasikan melalui skala 0 4. Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring) dan sebagainya. Melakukan latihan gerak aktif dan pasif pada semua pada saat masuk. Menganjurkan melakukan latihan seperti latihan quadrisep/gluteal, meremas bola karet, melebarkan jari-jari dan telapak tangan. Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi tegak. Tinggikan tangan dan kepala. Kolaborasi Memberikan tempat tidur dengan matras bulat sesuai indikasi. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif dan ambulasi pasien. c) Dx 3. Kerusakan komunikasi verbal b.d kerusakan sirkulasi serebral, kerusakan neuromuskular, kehilangan tonus, kelemahan/kelelahan umum. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Mengindikasikan pemahaman tentang masalah komunikasi. Menerima pesan-pesan melalui metode-metode alternatif. Memperlihatkan peningkatan kemampuan untuk mengerti. Intervensi Mandiri

Mengkaji tipe/derajat disfungsi seperti pasien tidak tampak memahami kata atau mengalami kesulitan berbicara atau membuat pengertian sendiri. Memperhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik. Meminta pasien untuk mengikuti perintah sederhanan ulangi dengan kata atau kalimat sederhana. Menunjukkan objek dan meminta pasien untuk menyebutkan nama tersebut. Menganjurkan pengunjung/orang terdekat mempertahankan usahanya untuk berkomunikasi dengan pasien, seperti membaca surat, diskusi tentang hal-hal yang terjadi pada keluarga. Kolaborasi Konsultasikan kepada ahli terapi wicara. d) Dx 4. Perubahan persepsi sensori b.d perubahan persepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis). Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Mempertahankan tingkat kesadaran dan fungsi perseptual. Mengakui perubahan dalam kemampuan untuk dan adanya keterbatasan residual. Mendemonstrasikan terhadap/defisit hasil. Intervensi Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/dingin, tajam/tumpul. Dekati pasien dari daerah penglihatan yang normal. Biarkan lampu menyala, letakkan banda dalam jangkauan lapang penglihatan yang normal. Tutup mata yang sakit jika perlu. perilaku mengkompensasikan

Ciptakan lingkungan yang sederhana, pindahkan perabotan yang membahayakan. Lindungi pasien dari suhu yang berlebih, kaji adanya lingkungan yang membahayakan. Rekomendasikan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan yang normal. Hindari kebisingan/stimulasi eksternal yang berlebih sesuai kebutuhan. Lakukan validasi terhadap persepsi pasien. Orientasikan kembali pasien secara teratur pada lingkungannya, staf dan tindakan yang akan dilakukan. e) Dx 5. Kurang perawatan diri b.d kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/koordinasi otot; kerusakan perseptual/kognitif; nyeri/ketidaknyamanan; depresi. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Mendemonstrasikan teknik/perubahan gaya hidup untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri. Melakukan aktivitas perawatan diri dalam tingkat kemampuan sendiri. Mengidentifikasi Intervensi Mandiri Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan (dengan menggunakan skala 0-4) untuk melakukan kebutuhan sehari-hari. Hindari melakukan sesuatu untuk pasien yang dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan. Sadari perilaku/aktivitas impulsive karena gangguan dalam mengambil keputusan. sumber pribadi/komunitas memberikan bantuan sesuai kebutuhan.

Pertahankan dukungan, sikap yang tegas. Beri pasien waktu yang cukup untuk mengerjakan tugasnya. Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan atau keberhasilannya. Gunakan alat bantu pribadi, seperti kombinasi pisau bercabang, sikat tangkai panjang, dll. Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi tentang kebutuhannya. Identifikasi kebiasaan defekasi sebelumnya dan kembalikan pada kebiasaan pola normal. Kolaborasi Berikan obat supositoria dan pelunak feses. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi. f) Dx 6. Risiko tinggi kerusakan menelan b.d kerusakan neuromuskular/perseptual. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah. Mempertahankan berat badan yang diinginkan. Intervensi Mandiri Tinjau ulang patologi/kemampuan menelan pasien secara individual, catat luas paralisis fasial, gangguan lidah. Timbang berat badan secara teratur. Bantu pasien dengan mengontrol kepala. Letakan pasien pada posisi duduk/tegak selama setelah makan.

Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan di atas bibir/di bawah dagu jika dibutuhkan. Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu. Sentuh bagian pipi bagian dalam dengan spatel lidah/tempatkan es untuk mengetahui adanya kelemahan lidah. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang. Pertahankan masukan dan haluaran dengan akurat, catat jumlah kalori yang masuk. Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/kegiatan. Kolaborasi Berikan cairan melalui IV dan/atau makanan melalui selang. g) Dx 7. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan serta perawatan. Tujuan. Setelah 3 x 24 jam pemberian asuhan keperawatan, pasien akan: Berpartisipasi dalam proses belajar. Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/prognosis dan aturan terapeutik. Memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan. Intervensi Tinjau ulang keterbatasan saat ini dan diskusikan rencana/kemungkinan melakukan kembali aktifitas. Tinjau ulang/pertegas kembali pengobatan yang diberikan. Identifikasi cara meneruskan program setelah pulang. Sarankan menurunkan/membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berpikir. Identifikasi sumber-sumber yang ada dimasyarakat, seperti perkumpulan stroke, atau program pendukung lainnya.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2010. Pathway Stroke Non Hemoragik. Diakses dari

http://downloads.ziddu.com/downloadfile/8377454/Pathwaysstroke.doc.html Anonim. 2010. Patofisiologi Diagram of Dengue Stroke. Diakses dari http://www.scumdoctor.com/Indonesian/disease-prevention/braindisease/stroke/hemorrhagic-stroke/Pathophysiology-Diagram-OfHemorrhagic-Stroke.html Doenges, M. E., et al. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta: EGC. Doni. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Stroke. Diakses dari http://mhs.blog.ui.ac.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatan-pada-kliendengan-stroke/comment-page-1/

Farin.

2008.

Asuhan

Keperawatan

Stroke

Hemoragik.

Diakses

dari

http://farinqhusyank.blogspot.com/2008/04/asuhan-keperawatan-strokehemoragik.html Harsono. 1996. Buku Ajar: Neurologi Klinis. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Joko, S. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Stroke. Diakses dari http://jokosp.blogspot.com/2008/02/asuhan-keperawatan-pada-klienstroke.html Mansjoer, A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. Price, S. A., & Lorraine, M. W. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Volume 2. Edisi 6. Jakarta: EGC. Smeltzer, S. C., & Brenda, G. B. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Edisi 8. Jakarta : EGC.