Anda di halaman 1dari 27

STATUS PASIEN BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARDINAH TEGAL Nama Mahasiswa NIM

I. : Theresia Karina : 030.06.257 Dokter Pembimbing : Dr.H.R.Setyadi,Sp.A Tanda tangan :

IDENTITAS PASIEN Data Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Agama Suku Bangsa Pendidikan Pekerjaan Penghasilan Keterangan Asuransi No. RM Pasien An. Z 11 bulan Laki-laki Ayah Tn. A 28 tahun Laki-laki Ibu Ny. S 26 tahun Perempuan

Debong Kidul RT 05 RW 02, Tegal Selatan Islam Jawa Pelajar Islam Jawa SMA Pegawai swasta 2.000.000 Islam Jawa SD Ibu rumah tangga -

Hubungan orangtua dengan anak adalah anak kandung Jamkesta 652003

II.

ANAMNESIS (Alloanamnesis dan Autoanamnesis) Anamnesis dilakukan dengan pasien, ayah dan ibu pasien pada tanggal 09 April 2013 di Bangsal Melati pada pukul 14.00 WIB. Keluhan Utama: demam a. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien anak, laki-laki, datang ke poliklinik anak RSU Kardinah bersama ibunya dengan demam sejak 6 hari SMRS. Panas dirasakan naik turun. Sudah diberi obat penurun panas tetapi hanya turun sebentar kemudian tidak lama naik lagi. Pasien sudah berobat ke bidan tetapi belum ada perbaikan. Selain panas Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa anaknya batuk berdahak sulit untuk dikeluarkan sejak 4 hari SMRS, dan batuknya disertai adanya pilek. Muntah juga ada terutama kalau pasien batuk dan memaksakan mengeluarkan dahak. Dahak awalnya berwarna putih namun kemudian menjadi agak kental kehijauan. Ibu pasien mengaku

batuk disertai adanya sesak nafas karena dada anak terlihat cekung dan terlihat megap-megap saat bernapas. Ibu pasien mengaku anak mencret 2 kali dalam sehari, tidak ada ampas, berlendir bening campur kehijauan tetapi tidak ada darah. Nafsu makan pasien menurun, pasien rewel, lemas, dan tampak selalu haus. Minum ASI masih mau tetapi sedikit-sedikit berhenti.

b. Riwayat Penyakit Dahulu Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah sesak nafas sebelumnya. Namun sudah pernah batuk dan pilek biasa. Pasien belum pernah dirawat di Rumah Sakit sebelumnya Tidak ada riwayat asma, alergi makanan maupun obat-obatan

c. Riwayat Penyakit Keluarga Ibu pasien mengatakan bahwa tidak ada anggota keluarganya yang memiliki keluhan atau penyakit seperti pasien. Riwayat asma dan alergi dalam keluarga disangkal

d. Riwayat Pasien Pasien adalah pertama. Riwayat Kehamilan dan Persalinan o Kehamilan Perawatan Antenatal: Rutin periksa ke bidan. Selama kehamilan, kontrol 4 kali yaitu 1 kali saat awal kehamilan, 2 kali saat pertengahan kehamilan dan 1 kali saat menjelang kelahiran. Ibu pasien juga meminum vitamin penambah darah yang diberikan dari puskesmas. Ibu pasien tidak meminum jamu selama kehamilan, dan tidak ada riwayat trauma ataupun perdarahan selama kehamilan. Penyakit Kehamilan o Kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi : bidan : spontan : Cukup bulan (9 bulan) : Tidak ada

o Keadaan bayi

Berat badan lahir Panjang badan lahir Lingkar kepala Langsung menangis Nilai APGAR Kelainan bawaan

: 3100 gram : 47 cm : ibu tidak tahu : ya : ibu tidak tahu : tidak ada

Kesan : riwayat kelahiran dan kehamilan baik

Riwayat Tumbuh Kembang Anak Pertumbuhan: o Berat badan lahir 3100 gram. Panjang badan lahir 47 cm. o Berat badan sekarang 8 kg. Tinggi badan 74 cm. Perkembangan: o senyum o miring o tengkurap o duduk o gigi keluar o merangkak o berdiri : ibu lupa : ibu lupa : ibu lupa : 6 bulan : ibu lupa : 8 bulan : 9 bulan

Saat ini anak berusia 11 bulan. Tidak ada gangguan perkembangan dalam mental dan emosi. Interaksi dengan orang sekitar baik. Kesan: pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai umur

Riwayat Makanan o Ibu mengaku memberikan ASI eksklusif sejak lahir sampai sekarang o Usia 8 bulan diberikan ASI dan bubur tim 3 x sehari. Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan cukup baik

Riwayat Imunisasi
DASAR (umur) 0 bulan 2 bulan 4 bulan 6 bulan ULANGAN (umur) -

VAKSIN BCG DPT/ DT

POLIO CAMPAK HEPATITIS B

2 bulan 0 bulan

4 bulan 1 bulan

6 bulan 9 bulan 6 bulan

Kesan : Pasien mendapatkan imunisasi dasar lengkap

Riwayat Keluarga o Corak Reproduksi No Umur Jenis Kelamin 1 11 bulan Hidup Hidup Lahir Mati Sakit Abotus Mati Keterangan

o Susunan keluarga

Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

e. Riwayat Keluarga Berencana Ibu pasien mengaku mengikuti program KB suntik setiap 3 bulan

f. Riwayat Lingkungan Perumahan Kepemilikan Rumah : Rumah Pribadi Pasien tinggal bersama kedua orangtua di kawasan yang padat penduduknya. Tempat tinggal pasien berukuran 6 x 15 m, beratap genteng, lantai disemen dengan 2 kamar tidur yang berjendela, 1 ruang tamu, ruang makan menjadi satu dengan dapur. Cahaya matahari dapat masuk melalui jendela. Kamar mandi ada 1 dan terdapat di dalam rumah. Penerangan dengan listrik. Air berasal dari PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan melalui selokan di depan rumah. Selokan dibersihkan 2 kali dalam sebulan dan aliran air di dalamnya lancar. Kesan : rumah dan sanitasi lingkungan baik

III.

PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 9 April 2013 di Bangsal Melati pukul 15.00 WIB. Keadaan Umum Kesan umum Tingkat kesadaran Berat badan Tinggi badan Status gizi : tampak sakit sedang, tampak sesak (+) : compos mentis : 8 kg : 74 cm : perhitungan status gizi standar baku antropometri NCHS

BB/U = 8/10 x 100% = 80 % BB normal TB/U = 74/74 x 100% = 100 % TB normal BB/TB = 8/10 x 100% = 80 % Status Gizi normal Kesimpulan: Berat Badan normal, Tinggi badan normal, Status Gizi normal

Tanda Vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernafasan Status Internus Kepala Rambut Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorok Leher Thorax o Pulmo : normocephali : Hitam, lebat, tampak terdistribusi merata, tidak mudah dicabut : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem palpebra (-/-) : Bentuk normal, simetris, sekret (-/-), napas cuping hidung (-/-) : Bentuk dan ukuran normal, discharge (-/-) : Bibir kering (-), bibir sianosis (-), stomatitis (-) : Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1 hiperemis (-), detritus (-) : Simetris, pembesaran KGB (-) :Dinding thorax normothorax dan simetris : : Pergerakan dinding thorax kiri dan kanan simetris, retraksi : tidak dilakukan pemeriksaan : 156 x/menit, isi dan tegangan cukup, reguler, equal. : 37.3C diukur pada axilla kanan : 56 x/menit

Inspeksi

intercostal (+) suprasternal (+) Palpasi Perkusi : vocal fremitus sama kuat kiri dan kanan : Sonor pada seluruh lapang paru kiri dan kanan

Auskultasi

: Suara nafas bronkovesikuler diseluruh lapang paru, ronkhi

(+/+), wheezing (-/-) o Cor : : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba di ICS IV garis midclavicula sinistra : Sulit dinilai : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)

Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi :

Abdomen o Inspeksi o Auskultasi o Palpasi o Perkusi

: buncit : bising usus (+) 2x/menit. : Supel, nyeri tekan (-) : timpani di seluruh abdomen. : fimosis (-), OUE hiperemis (-). : Dalam batas normal, hiperemis perianal (-). : Superior Inferior -/-/<2 -/-

Genitalia Anorektal Ekstremitas

Akral Dingin Akral Sianosis CRT Oedem

-/-/<2 -/-

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium 9 April 2013 Jenis Hasil Nilai rujukan HEMATOLOGI Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit 7.8 5.7 11.1 36.3 63.7 19.5 30.6 310 4.5 14.5 4.0 5.2 11.5 15.5 35 45 76 96 27 31 33.0 37.0 150 400 10^3/ul 10^6/uL g/dL % U Pcg g/dL 10^3/ul Satuan

Netrofil Limfosit Monosit Eosinofil Basofil

42.9 49.0 7.6 0 0.1

50 70 25 40 28 24 01

% % % % %

LAJU ENDAP DARAH LED 1 Jam LED 2 jam 5 11 0 15 0 25 mm/jam mm/jam

Pemeriksaan rontgen thorax 10 April 2013

Infiltrate paracardial (+) Silhoute sign (+) COR CTR < 0,5 Kesan: Bronchopneumonia

V.

RESUME Pasien anak, laki-laki, datang ke poliklinik anak RSU Kardinah bersama ibunya dengan demam sejak 6 hari SMRS. Panas dirasakan naik turun. Sudah diberi obat penurun panas tetapi hanya turun sebentar kemudian tidak lama naik lagi. Pasien sudah berobat ke bidan tetapi belum ada perbaikan.

Selain panas Ibu pasien juga mengeluhkan bahwa anaknya batuk berdahak sulit untuk dikeluarkan sejak 4 hari SMRS, dan batuknya disertai adanya pilek. Muntah juga ada terutama kalau pasien batuk dan memaksakan mengeluarkan dahak. Dahak awalnya berwarna putih namun kemudian menjadi agak kental kehijauan. Ibu pasien mengaku batuk disertai adanya sesak nafas karena dada anak terlihat cekung dan terlihat megapmegap saat bernapas. Ibu pasien mengaku anak mencret 2 kali hari ini, tidak ada ampas, berlendir bening campur kehijauan tetapi tidak ada darah. Nafsu makan pasien menurun, pasien rewel, lemas, dan tampak selalu haus. Minum ASI masih mau tetapi sedikit-sedikit berhenti. Dari pemeriksaan fisik didapatkan retraksi intercostal dan suprasternal pada dinding dada, juga terdapat ronki pada kedua lapang paru. Dari pemeriksaan penunjang didapatkan kesan bronkopneumonia pada foto rontgen thorax pasien.

VI.

DAFTAR PERMASALAHAN 1. Sesak napas 2. Batuk 3. Demam 4. Pilek 5. Pemeriksaan fisik: retraksi intercostal dan suprasternal pada dinding dada, juga terdapat ronki pada kedua lapang paru 6. foto rontgen thorax: kesan bronkopneumonia

VII.

DIAGNOSA BANDING 1. Sesak napas dan batuk Pulmonal o Pneumonia o Bronkopneumonia o TB Primer o Bronchitis Non Pulmonal o Penyakit Jantung Bawaan Asianotik 2. Demam dan pilek

Infeksi Saluran Pernapasan Akut

VIII.

DIAGNOSA SEMENTARA Pneumonia dextra

IX.

PENATALAKSANAAN Medikamentosa Oksigenasi Infus Asering 10 tpm Injeksi: o Amoxicillin 3 x 250 mg iv o Colsanta 3 x 250 mg iv Oral: o Sanmol drop 4 x 0.8 ml Non medikamentosa Tirah baring Meminum obat yang diberikan secara teratur Mengatur pemberian diet ASI dan PASI Edukasi kepada orangtua untuk kemungkinan proses spesifik

X.

USULAN PEMERIKSAAN Mantoux test Foto roentgen thorax ulang setelah pengobatan selesai

XI.

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad sanationam : ad bonam : ad bonam

Quo ad fungsionam : ad bonam

XII.

PERJALANAN PENYAKIT 9 April 2013 S: demam (+), kejang (-), batuk (+) dahak (+) sulit keluar, pilek (+), sesak (+), BAB cair (+) 2x, ampas (-), lendir (+), BAK (+), muntah 2x, isi makanan, rewel (+), lemas (+), haus (+)

O: KU: compos mentis, tampak lemas (+), tampak sesak (+), tanda dehidrasi (-) HR: 156 x/menit RR: 46 x/menit S: 37,30C Mata: ca -/- si -/Thorax: retraksi intercostasl (+), retraksi suprasternal (+) sn. Bronkovesikuler +/+ ronki +/+ wheezing -/-, S1>S2 reguler, murmur (-) gallop (-)

Abdomen: supel, datar, BU (+) Ekstremitas: hangat +/+/+/+ oedem -/-/-/- CRT <2 detik A: susp. Bronkopneumonia P: Oksigenasi Infus Asering 10 tpm Injeksi: o Amoxicillin 3 x 250 mg iv o Colsanta 3 x 250 mg iv Oral: o Sanmol drop 4 x 0.8 ml

10 April 2013 S: demam (+), kejang (-), batuk (+) dahak (+) sulit keluar, pilek (+), sesak (+), BAB cair (+) 1x, ampas (+), lendir (-), BAK (+), muntah (-), rewel (+), lemas (+), haus (+) O: KU: compos mentis, tampak lemas (+), tampak sesak (+), tanda dehidrasi (-) HR: 150 x/menit RR: 42 x/menit S: 37,60C Mata: ca -/- si -/Thorax: retraksi intercostasl (+), retraksi suprasternal (+) sn. Bronkovesikuler +/+ ronki +/+ wheezing -/-, S1>S2 reguler, murmur (-) gallop (-)

10

Abdomen: supel, datar, BU (+) Ekstremitas: hangat +/+/+/+ oedem -/-/-/- CRT <2 detik A: Pneumonia Dextra P: Infus KA-EN 3A 10 tpm Inhalasi NaCl 3% 2,5 ml 3x1 Injeksi: o Amoxicillin 3 x 250 mg i.v. o Colsanta 3 x 250 mg i.v. o Dexamethasone 2 x 1/3 ampul i.v. Oral: o Sanmol drop 4 x 0.8 ml

11 April 2013 S: demam (+), kejang (-), batuk (+) , pilek (+), sesak (+) , BAB cair (+) 2x, ampas (+), lendir (-), BAK (+), lemas (+), haus (+) O: KU: compos mentis, tampak lemas (+), tampak sesak (+), tanda dehidrasi (-) HR: 150 x/menit RR: 44 x/menit S: 37,60C Mata: ca -/- si -/Thorax: sn. Bronkovesikuler +/+ ronki -/- wheezing -/S1>S2 reguler, murmur (-) gallop (-)

Abdomen: supel, datar, BU (+) Ekstremitas: hangat +/+/+/+ oedem -/-/-/- CRT <2 detik A: Pneumonia Dextra P: Infus KA-EN 3A 10 tpm Inhalasi NaCl 3% 2,5 ml 3x1 Injeksi: o Amoxicillin 3 x 250 mg i.v.

11

o Colsanta 3 x 250 mg i.v. o Dexamethasone 2 x 1/3 ampul i.v. Oral: o Sanmol drop 4 x 0.8 ml

12 April 2013 (pulang) S: demam (-), kejang (-), batuk (+) , pilek (-), sesak (-), BAB cair (-), BAK (+) O: KU: compos mentis, tampak lemas (-) HR: 128 x/menit RR: 28 x/menit S: 37,30C Mata: ca -/- si -/Thorax: sn. Bronkovesikuler +/+ ronki +/+ wheezing -/S1>S2 reguler, murmur (-) gallop (-)

Abdomen: supel, datar, BU (+) Ekstremitas: hangat +/+/+/+ oedem -/-/-/- CRT <2 detik A: Pneumonia Dextra P: Sanmol drop 3 x 0.8 ml Cefadroxil 2 x 1 cth Bromhexine 3 mg + lasal 1 mg 3 x 1 pulv

12

ANALISA KASUS

Dari gambaran klinis yang disebutkan oleh Ibu pasien yaitu panas, batuk berdahak sulit untuk dikeluarkan, pilek, muntah terutama kalau memaksakan mengeluarkan dahak, dahak awalnya berwarna putih namun kemudian menjadi agak kental kehijauan disertai sesak nafas dan dada anak terlihat cekung mengarah pada kemungkinan pneumonia. Disamping itu pada pemeriksaan fisik thorax juga ditemukan adanya ronki basah halus pada paru kanan. Dari pemeriksaan penunjang foto thorax AP terakhir pada pasien menunjukkan gambaran Pneumonia dextra. Pada pasien ini di diagnosa suatu Pneumonia Dextra karena dari gambaran klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang Foto Thorax termasuk dalam kriteria diagnosis Pneumonia Dextra. Namun belum dapat disingkirkan kemungkinan ke arah proses spesifik, karena seringkali gambaran proses spesifik pada anak-anak tidak khas dan dapat memberikan gambaran menyerupai pneumonia.

13

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Pulmo Paru-paru merupakan organ yang elastis, berbentuk kerucut, dan letaknya berada di dalam rongga dada atau thorax. Kedua paru-paru saling terpisah oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru-paru mempunyai apeks (bagian atas paru-paru) dan basis. Paru-paru kanan lebih besar dari pada paru-paru kiri. Paruparu kanandibagi menjadi 3 lobus yaitu lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior. Paru-paru kanan terbagi lagi atas 10 segmen yaitu pada lobus superior terdiri atas3 segmen yakni segmen pertama adalah segmen apical, segmen kedua adalah segmen posterior, dan segmen ketiga adalah segmen anterior. Pada lobus medius terdiri atas 2 segmen yakni segmen keempat adalah segmen lateral, dan segmen kelima adalah segmen medial. Pada lobus inferior terdiri atas 5 segmen yakni segmen keenam adalam segmen apical, segmenketujuh adalah segmen mediobasal, segmen kedelapan adalah segmen anteriobasal, segmen kesembilan adalah segmen laterobasal, dan segmen kesepuluh adalah segmen posteriobasal.

Paru-paru kiri terbagi atas dua lobus yaitu lobus superior dan lobusinferior. Paru-paru kiri terdiri dari 8 segmen yaitu pada lobus superior terdiri darisegmen pertama adalah segmen
14

apikoposterior, segmen kedua adalah segmen anterior, segmen ketiga adalah segmen superior, segmen keempat adalah segmeninferior.Pada lobus inferior terdiri dari segmen kelima segmen apical atau segmensuperior, segmen keenam adalah segmen mediobasal atau kardiak, segmen ketujuh adalah segmen anterobasal dan segmen kedelapan adalah segmen posterobasal. Sebenarnya saluran pernafasan mempunyai mekanisme daya tahan tersendiri yang sangat efisien untuk mencegah infeksi. Mekanisme daya tahan tersebut antara lain : 1. Susunan anatomis rongga hidung. 2. Jaringan limfoit di naso-oro-faring. 3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel saluran pernafasan dan sekret liat yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut. 4. Refleks batuk. 5. Refleks epiglottis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi. 6. Drainase sistem limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional. 7. Fagositosis, aksi enzimatik dan respon imuno-humoral terutama dari Ig A 8. Sekresi enzim-enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai antimikroba yang non-spesifik. Anak dengan daya tahan yang terganggu akan dapat menderita pneumonia berulang sehingga anak tersebut tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia ialah daya tahan badan yang menurun, misalnya akibat malnutrisi energi protein (MEP), penyakitmenahun, faktor iatrogenik seperti trauma pada paru, anesthesia, aspirasi serta pengobatan dengan antibiotik yang tidak sempurna.

Definisi Pneumonia Pneunomia adalah peradangan parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, yang disebabkan oleh mikroorganisme.

Epidemiologi Pneumonia Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran napas yangterbanyak di dapatkan dan sering merupakan penyebab kematian hampir diseluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungandengan infeksi saluran napas yang terjadi di masyarakat (pneumonia komunitas/PK) atau di dalam rumah sakit (pneumonia

nosokomial/PN).Pneumonia yang merupakan bentuk infeksi saluran nafas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20%.
15

Di AS pneumonia mencapai 13% dari semua penyakit infeksi pada anak dibawah 2 tahun. Berdasarkan hasil penelitian insiden pada pneumonia didapat 4kasus dari 100 anak prasekolah, 2 kasus dari 100 anak umur 5-9 tahun,dan 1 kasusditemukan dari 100 anak umur 9-15 tahun.UNICEF memperkirakan bahwa 3 juta anak di dunia meninggal karena penyakit pneumonia setiap tahun. Di Inggris pneumonia menyebabkan kematian10 kali lebih banyak dari pada penyakit infeksi lain, sedangkan di AS merupakan penyebab kematian urutan ke 15. Meskipun penyakit ini lebih banyak ditemukan pada daerah berkembang akan tetapi di negara majupun ditemukan kasus yangcukup signifikan.Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun2007, menunjukkan prevalensi nasional ISPA: 25,5% (16 provinsi di atas angkanasional), angka kesakitan (morbiditas) pneumonia pada bayi: 2.2 %, balita: 3%,angka kematian (mortalitas) pada bayi 23,8%, dan balita 15,5%.Berdasarkan umur, pneumonia dapat menyerang siapa saja. Meskipunlebih banyak ditemukan pada anak-anak. Pada berbagai usia penyebabnyacenderung berbeda-beda, dan dapat menjadi pedoman dalam memberikan terapi.

Etiologi Pneumonia Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme yaitu bakteri, virus, jamur, protozoa, yang sebagian besar disebabkan oleh bakteri. Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri positif-gram, Streptococcus pneumonia yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza. Ada bermacammacam pneumonia yang disebabkan oleh bakteri lain, misalnya bronkopneumonia yang penyebabnya sering Haemophylus influenza dan pneumococcus.

Klasifikasi Pneumonia Menurut Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia yang dikeluarkan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2003 menyebutkan tiga klasifikasi pneumonia. 1. Berdasarkan klinis dan epidemiologis: a. Pneumonia komuniti (community-acquired pneumonia). b. Pneumonia nosokomial, (hospital-acquired pneumonia/nosocomial pneumonia). c. Pneumonia pada penderita immunocompromised. d. Pneumonia aspirasi. 2. Berdasarkan penyebab: a. Pneumonia bakteri/tipikal.
16

Dapat terjadi pada semua usia. Beberapa bakteri mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka, misalnya Klebsiella pada penderita alkoholik, Staphylococcus pada penderita pasca infeksi influenza. b. Pneumonia virus. c. Pneumonia jamur Sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama pada penderita dengan daya tahan lemah (immunocompromised). d. Pneumonia atipikal Disebabkan Mycoplasma, Legionella, dan Chlamydia. 3. Berdasarkan lokasi infeksi a. Pneumonia lobaris Sering disebabkan aspirasi benda asing atau oleh infeksi bakteri (Staphylococcus), jarang pada bayi dan orang tua. Pneumonia yangterjadi pada satu lobus atau segmen kemungkinan sekunder disebabkan oleh obstruksi bronkus misalnya pada aspirasi benda asing atau proses keganasan. Pada gambaran radiologis, terlihat gambaran gabungan konsolidasi berdensitas tinggi pada satu segmen/lobus atau bercak yang mengikutsertakan alveoli yang tersebar. Air bronchogram adalah udara yang terdapat pada percabangan bronchus, yang dikelilingi oleh bayangan opak rongga udara. Ketika terlihat adanya bronchogram, halini bersifat diagnostik untuk pneumonia lobaris b. Bronko pneumonia (Pneumonia lobularis) Inflamasi paru-paru biasanya dimulai di bronkiolus terminalis. Bronkiolus terminalis menjadi tersumbat dengan eksudat mukopurulen membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang bersebelahan. Penyakit ini seringnya bersifat sekunder, mengikuti infeksi dari saluran nafas atas, demam pada infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan sistem pertahanan tubuh. Biasanya terjadi pada bayi dan orangorang dengan kondisi yang lemah pneumonia dapat muncul sebagai infeksi primer. c. Pneumonia interstisial Terutama pada jaringan penyangga, yaitu interstitial dinding bronkusdan peribronkhil. Peradangan dapat ditemukan pada infeksi virus dan mycoplasma. Terjadi edema dinding bronkhioli dan juga edema jaringan interstisial prebronkial. Radiologis berupa bayangan udara pada alveolus masih terlihat, diliputi perselubungan yang tidak merata.
17

WHO memberikan pedoman klasifikasi pneumonia, sebagai berikut : 1. Usia kurang dari 2 bulan a. Pneumonia berat Chest indrawing (subcostal retraction) Bila ada napas cepat (> 60 x/menit)

b. Pneumonia sangat berat tidak bisa minum kejang kesadaran menurun hipertermi / hipotermi napas lambat / tidak teratur

2. Usia 2 bulan-5 tahun a. Pneumonia bila ada napas cepat

b. Pneumonia Berat Chest indrawing Napas cepat dengan laju napas o > 50 x/menit untuk anak usia 2 bulan 1tahun o > 40 x/menit untuk anak > 1 5 tahun c. Pneumonia sangat berat tidak dapat minum kejang kesadaran menurun malnutrisi

Patofisiologi Pneumonia Pneumonia yang dipicu oleh bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia lanjut. Pecandu alkohol, pasien pasca operasi, orang-orang dengan gangguan penyakit pernapasan, sedang terinfeksi virus atau menurun kekebalan tubuhnya adalah yang paling berisiko.

18

Sebenarnya bakteri pneumonia itu ada dan hidup normal pada tenggorokan yang sehat. Pada saat pertahanan tubuh menurun, misalnya karena penyakit, usia lanjut, dan malnutrisi, bakteri pneumonia akan dengan cepat berkembang biak dan merusak organ paruparu. Kerusakan jaringan paru setelah kolonisasi suatu mikroorganisme paru banyak disebabkan oleh reaksi imun dan peradangan yang dilakukan oleh pejamu. Selain itu, toksintoksin yang dikeluarkan oleh bakteri pada pneumonia bakterialisdapat secara langsung merusak sel-sel sistem pernapasan bawah. Ada beberapacara mikroorganisme mencapai permukaan: a) Inokulasi langsung b) Penyebaran melalui pembuluh darah c) Inhalasi bahan aerosol d) Kolonisasi dipermukaan mukosa Dari keempat cara tersebut diatas yang terbanyak adalah cara kolonisasi. Secara inhalasi terjadi pada infeksi virus, mikroorganisme atipikal, mikrobakteria atau jamur. Kebanyakan bakteri dengan ukuran 0,5-2,0 nm melalui udara dapat mencapai bronkus terminal atau alveoli dan selanjutnya terjadi proses infeksi. Bila terjadi kolonisasi pada saluran napas atas (hidung, orofaring) kemudian terjadi aspirasi ke saluran napas bawah dan terjadi inokulasi mikroorganisme, hal inimerupakan permulaan infeksi dari sebagian besar infeksi paru. Aspirasi darisebagian kecil sekret orofaring terjadi pada orang normal waktu tidur (50%) juga pada keadaan penurunan kesadaran, peminum alkohol dan pemakai obat (drug abuse).

19

Basil yang masuk bersama sekret bronkus ke dalam alveoli menyebabkan reaksi radang berupa edema seluruh alveoli disusul dengan infiltrasi sel-sel PMN dan diapedesis eritrosit sehingga terjadi permulaan fagositosis sebelum terbentuknya antibodi. Pneumonia bakterialis menimbulkan respon imun dan peradangan yang paling mencolok. Jika terjadi infeksi, sebagian jaringan dari lobus paru-paru, ataupun seluruh lobus, bahkan sebagian besar dari lima lobus paru-paru (tiga di paru-paru kanan, dan dua di paru-paru kiri) menjadi terisi cairan. Dari jaringan paru-paru, infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah. Bakteri pneumokokus adalah kuman yang paling umum sebagai penyebab pneumonia.

20

Setelah mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu: a) Stadium kongesti (4 12 jam pertama) Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediatormediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstitium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dansering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. b) Stadium hepatisasi merah (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar. Pada

21

stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak. Stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam. c) Stadium hepatisasi kelabu (3 8 hari) Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti. d) Stadium resolusi (7 12 hari) Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorbsi olehmakrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

Penegakan Diagnosis Penegakan diagnosis pneumonia dapat dilakukan melalui: a. Gambaran Klinis Gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia, meliputi: Demam dan menggigil akibat proses peradangan Batuk yang sering produktif dan purulen Sputum berwarna merah karat atau kehijauan dengan bau khas Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan hipoksia apabila infeksinya serius.

Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran napas akut bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40 C, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi. Juga disertai batuk, dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang berdarah. Pada pemeriksaan fisik frekuensi nafas merupakan indeks paling sensitif untuk mengetahui beratnya penyakit. Hal ini digunakan untuk mendukung diagnosis dan memantau tatalaksana. Pengukuran frekuensi nafas dilakukan dalam keadaan anak tenang atau tidur. Perkusi thorak tidak bernilai diagnostik karena umumnya kelainan patologisnya menyebar. Suara redup pada perkusi biasanya karena adanya efusi pleura. WHO menetapkan kriteria takipneu berdasarkan usia, sebagai berikut : usia kurang dari 2 bulan: 60 kali per menit usia 2 bulan - 1 tahun: 50 kali per menit

22

usia 1 5 tahun: 40 kali per menit.

Suara nafas yang melemah seringkali ditemukan pada auskultasi. Ronkhi basah halus khas untuk pasien yang lebih besar, mungkin tidak terdengar pada bayi. Pada bayi dan anak kecil karena kecilnya volume thorak biasanya suaranafas saling berbaur dan sulit diidentifikasi.
b. Pemeriksaan Laboratorium

Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 40.000 /mm3 dengan pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan dengan infeksi virus atau mycoplasma.

Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun. Peningkatan LED. Kultur dahak dapat positif pada 20 50 % penderita yang tidak diobati.Selain kultur dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan tenggorok (throat swab). Analisa gas darah (AGD) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia.Pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis metabolik .

c. Pemeriksaan Radiologis Gambaran radiologis pada foto thorax pada penyakit pneumonia antaralain: Perselubungan homogen atau inhomogen sesuai dengan lobus atau segment paru secara anatomis. Batasnya tegas, walaupun pada mulanya kurang jelas. Volume paru tidak berubah, tidak seperti atelektasis dimana paru mengecil. Tidak tampak deviasi trachea/septum/fissure/ seperti pada atelektasis. Silhouette sign(+) : bermanfaat untuk menentukan letak lesi paru; batas lesi dengan jantung hilang, berarti lesi tersebut berdampingan dengan jantung atau di lobus medius kanan. Seringkali terjadi komplikasi efusi pleura. Bila terjadinya pada lobus inferior, maka sinus phrenico costalis yang paling akhir terkena. Pada permulaan sering masih terlihat vaskuler. Pada masa resolusi sering tampak Air Bronchogram Sign (terperangkapnya udara pada bronkus karena tiadanya pertukaran udara pada alveolus). Foto thorax saja tidak dapat secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi, misalnya penyebab pneumonia lobaris

23

tersering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa sering memperlihatkan infiltrat bilateral atau gambaran bronkopneumonia sedangkan Klebsiela pneumonia sering menunjukan konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan meskipun dapatmengenai beberapa lobus. Tampak gambaran gabungan konsolidasi berdensitas tinggi pada satusegmen/lobus (lobus kanan bawah PA maupun lateral) atau bercak yang mengikutsertakan alveoli yang tersebar. Air bronchogram biasanya ditemukan pada pneumonia jenis ini. Dasar diagnosis pneumonia menurut Henry Gorna tahun 1993 adalah ditemukannya paling sedikit 3 dari 5 gejala berikut ini : Sesak nafas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada Panas badan Ronkhi basah sedang nyaring (crackles) Foto thorax menunjukkan gambaran infiltrat difus Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)

Diagnosa Banding TB paru primer Bronkiolitis Aspirasi pneumonia

Penatalaksanaan Pneumonia Indikasi rawat inap anak dengan pneumonia yaitu bila pasien tampak toksik, usia <6 bulan, distres pernapasan berat, dehidrasi atau muntah, hipoksemiadan hipoksia (saturasi O2 < 93-94% pada kondisi ruangan), apneu, perburukanstatus klinis setelah inisiasi terapi, atau adanya kompliksi seperti efusi pleura atauempiema, pemberian nutrisi yang kurang, ketidakmampuan orang tua untuk merawat, imunokompromais, ada penyakit penyerta seperti penyakit jantung bawaan, dan pasien membutuhkan antibiotik parenteral (pneumonia berat). Biasanya pneumonia tanpa komplikasi akan menunjukkan perbaikan secara klinissetelah 48-96 jam pemberian antibiotik.Pasien yang dirawat inap perlu diberi cairan dan kalori yang cukup (bila perlu perparenteral) dan suplementasi oksigen jika saturasi oksigen < 92%. Terapiantibiotik parenteral dihentikan dan diganti dengan antibiotik oral jika pasienafebris dan tidak lagi membutuhkan suplementasi oksigen.Tatalaksana pneumonia

24

berdasarkan perkiraan penyebab dan keadaanklinis pasien. Namun, identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak selaludapat dilakukan, oleh karena itu antibiotik dipilih berdasarkan pengalaman(empiris).Pada pneumonia ringan rawat jalan, dapat diberi antibiotik lini pertama peroral seperti amoksisilin dan kotrimoksazol. Efektifitas pemberian antibiotik tunggal oral mencapai 90%. Dosis amoksisilin yaitu 25 mg/kgBB, sedangkankotrimoksazol 4 20 mg/kgBB.Pada pneumonia rawat inap, lini pertama dapat menggunakan golongan beta-laktam atau kloramfenikol. Jika tidak responsif dengan kedua antibiotik tersebut, dapat diberikan gentamisin, amikasin, atau sefalosporin sesuai petunjuk etiologi yang ditemukan. Terapi antibiotikditeruskan selama 7-10 hari jika tidak ada komplikasi. Pada neonatus dan bayi kecil, karena tingginya kejadian sepsisdan meningitis, terapi awal antibiotik intravena harus sesegera mungkin dimulai. Bila keadaan telah stabil dapat diberi antibiotik oral selama 10 hari. Pemberianzink peroral (20 mg/hari) dapat membantu mempercepat penyembuhan pneumonia berat. Bakteri atipik tidak responsif terhadap antibiotik golongan beta-laktam.Pilihan utamanya adalah makrolida. Dosis eritromisin untuk anak 30-50mg/kgBB/hari, diberikan setiap 6 jam selama 10-14 hari. Klaritromisin danroksitromisin diberikan 2 kali sehari dengan dosis 15 mg/kgBB untuk klaritromisin dan 5-10 mg/kgBB untuk roksitromisin. Azitromisin diberikansekali sehari selama 3-5 hari dengan dosis 10 mg/kgBB pada hari pertama,dilanjutkan dengan dosis 5 mg/kgBB untuk hari berikutnya. Jika dicurigai pneumonia viral, penundaan pemberian antibiotik dapat diterima. Sekitar 30% pneumonia viral juga disertai pneumonia bakteri. Namun, antibiotik segeradiberikan jika terjadi perubahan status klinis. Tabel 3.1 Pilihan penggunaan antibiotika pada pneumonia Um ur < 3 Enterobacteriaceae bula n Streptococcus pneumonia e Streptococcusgroup B Stapylococcusaureus Clamydiatrachomatis Etiologi Rawat inap Kloksasilin iv dan aminoglikosida (gentamisin,netromisin, amikasin) iv/im Ampisilin iv dan aminoglikosida Sefalosporin generasi 3 iv(cefotaxim, ceftriaxon,ceftazidin, cefuroksin) Meropenem iv dan aminoglikosida iv/im Streptococcus pneumonia Ampisilin iv dan kloramfenikol iv Amoksisilin Pilihan antibiotik Rawat jalan

25

e Stapylococcusaureus Haemophylusinfluenza

Ampisilin iv dan kloksasilin iv Sefalosporin generasi 3 iv (cefotaxim, ceftriaxon,ceftazidin, cefuroksin) Meropenem iv dan aminoglikosida iv/im

Kloksasilin Amiksisilin asamklavulanat Eritromisin Klaritromisin Azitromisin Sefalosporin oral (sefiksim,sefaklor)

Streptococcus pneumonia e Mycoplasma pneumoniae Clamydia pneumoniae

Ampisilin iv Eritromisin po Klaritromisin po Azitromisin po Kotrimoksasol po Sefalosporin gen 3 iv

Amoksisilin Eritromisin Klaritromisin Azitromisin Kotrimoksasol Sefalosporin oral (sefiksim, sefaklor)

Komplikasi Pneumonia Komplikasi dari pneumonia adalah: Atelektasis, yaitu pengembangan paru-paru yang tidak sempurna ataukolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang. Empiema, yaitu suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura. Abses paru Infeksi sistemik Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

Prognosis Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi proteindan yang datang terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.

26

BAB IV DAFTAR PUSTAKA 1. Budiono E, Hidyam B, Berkala Ilmu Kedokteran, dalam Pola Kuman Pneumonia pada Penderita di RSUP Dr. Sardjito 1995 1998, Vol. 32, No. 3, Penerbit FK UGM, Yogyakarta, 2000, hal: 161-164. 2. Price SA, Wilson LM, Pathophysiology: Clinical Concepts of Disease Processes (Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit), Edisi 4, Penerbit EGC, Jakarta, 1995, hal: 709-712. 3. Soeparman, Waspadji S (ed), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1995, hal: 695-705. 4. Alatas H, Hasan R (ed), Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, Percetakan Infomedika, Jakarta, 1986, hal: 1228-1235. 5. Kumala P, dkk (ed), Kamus Saku Kedokteran Dorland, Edisi 25, Penerbit EGC, Jakarta, 1998, hal: 167. 6. Bordow RA, Moser KM (ed), Manual of Clinical Problems in Pulmonary Medicine with Annotated Key References, 2nd edition, Little Brown & Co (Inc.), USA, 1986, pp: 85-105. 7. Behrman RE, Vaughan VC, Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Edisi 12, Penerbit EGC, Jakarta, 1992, hal: 617-628. 8. Rudolph AM, et al, Pediatrics, 14th edition, Appleton & Lange, California, 1987, pp:1427-1428. 9. Shulman TS, et al, Paduan penyakit Infeksi dan Terapi Antimikroba pada Anak, EGC, Jakarta, 2001, hal 496-522.

27

Anda mungkin juga menyukai