Anda di halaman 1dari 151

Analisis Fasies Seismik (Seismic Facies Analysis)

Hidrokarbon (minyak dan gas) terdapat di dalam batuan sediment yang terbentuk dalam berbagai
lingkungan pengendapan seperti channel sungai, sistem delta, kipas bawah laut (submarine fan),
carbonate mound, dan reef. Batuan sedimen yang terbentuk pada berbagai lingkungan
pengendapan tersebut dikenal dengan benda geologi.

Gelombang seismik yang menembus dan terefleksikan kembali ke permukaan akan memberikan
gambaran bentuk eksternal dan tekstur internal dari benda-benda geologi tersebut. Analisis
bentuk eksternal dan tekstur internal benda geologi dari penampang rekaman seismik dikenal
dengan analisa fasies seismik atau seismic facies analysis.

Terdapat 8 jenis bentuk eksternal benda geologi: sheet, sheet drape, wedge, bank, lens, mound,
fan dan fill.

Batas Sekuen Seismik


Didalam analisis fasies seismik, batas dari benda-benda geologi diatas disebut dengan reflection
terminations. Pemetaan reflection terminations merupakan kunci didalam analisis fasies seismik.
Umumnya terminasi tesebut memiliki karakter refleksi yang kuat (amplitudo refleksi yang cukup
dominan). Terdapat dua jenis batas benda geologi: batas atas dan batas bawah, selanjutnya istilah
batas benda geologi tersebut dikenal dengan batas sekuen seismik (sequence seismic boundary),
mereka itu adalah: erosional truncation dan top lap sebagai batas atas, onlap dan downlap
sebagai batas bawah.
Batas atas sekuen seismik (a)
erosional truncation, top lap, batas bawah (b) onlap dan downlap.

Erosional Truncation atau dikenal dengan unconformity (ketidakselaraasan) diakibatkan oleh


peristiwa erosi karena terekspos ke permukaan.
Toplap diakibatkan karena tidak adanya peristiwa sedimentasi dan tidak ada peristiwa erosi.
Onlap, pada lingkungan shelf (shelfal environment) disebabkan karena kenaikan muka air laut
relatif, pada lingkungan laut dalam akibat sedimentasi yang perlahan, dan pada channel yang
tererosi akibat low energy fill.
Downlap, diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup intensif.

Prinsip tekstur seismik


Sebagimana yang disebutkan diawal analisis fasies seismik meliputi pembahasan tesktur internal
benda geologi.

Parallel: disebabkan oleh


pengendapan sedimen dengan rate yang seragam (uniform rate), atau pada paparan (shelf)
dengan subsiden yang uniform atau sedimentasi pada stable basin plain.
Subparallel: terbentuk pada zona pengisian, atau pada situasi yang terganggu oleh arus laut.
Subparallel between parallel: terbentuk pada lingkungan tektonik yang stabil, atau mungkin
fluvial plain dengan endapan berbutir sedang.
Wavy parallel: terbentuk akibat lipatan kompresi dari lapisan parallel diatas permukaan
detachment atau diapir atau sheet drape dengan endapan berbutir halus.
Divergent: terbentuk akibat permukaan yang miring secara progresif selama proses sedimentasi.
Chaotic: pengendapan dengan energi tinggi (mounding, cut and fill channel) atau deformasi
seteah proses sedimentasi (sesar, gerakan overpressure shale, dll.)
Reflection free: batuan beku, kubah garam, interior reef tunggal.
Local chaotic: slump (biasanya laut dalam) yang diakibatkan oleh gempabumi atau
ketidakstabilan gravitasi, pengendapan terjadi dengan cepat.

Tekstur yang terprogradasi

Sigmoid: tekstur ini dapat


terbentuk dengan suplai sediment yang cukup, kenaikan muka laut relatif cepat, rejim
pengendapan energi rendah, seperti slope, umumnya sediment butir halus.
Oblique tangential: suplai sediment yang cukup sampai besar, muka laut yang konstan seperti
delta, sediment butir kasar pada delta plain, channel dan bars.
Oblique parallel: oblique tangensial varian, sediment terpilah lebih baik.
Complex: lidah delta dengan energi tinggi dengan slope terprogradasi dalam energi rendah.
Shingled: terbentuk pada zona dangkal dengan energi rendah.
Hummocky: terbentuk pada daerah dangkal tipikal antar delta dengan energi sedang.

Tekstur Pengisian Channel

Onlap Fill: sedimentasi pada


channel dengan energi relative rendah.
Mounded Onlap Fill: sedimentasi dengan energi tinggi. Setidaknya terdapat dua tahap
sedimentasi.
Divergent Fill: shale prone yang terkompaksi dengan sedimenatsi energi rendah, juga sebagai
tipikal tahap akhir dari pengisisan graben.
Prograded Fill: transport sediment dari ujung atau pada lengkungan channel.
Chaotic Fill: sedimenatsi pada channel dengan energi yang sangat tinggi.
Complex Fill: terdapat perubahan arah sedimentasi atau perubahan aliran air.

Tekstur Karbonat

Reflection free Mound: patch reef


atau pinnacle reef; strata menunjukkan sedimen miring yang lebih terkompaksi (mungkin shale).
Pinnacle with Velocity Pull-Up: patch reef atau pinnacle reef, dengan pertumbuhan beberapa
tahap (multi stage), mungkin cukup poros.
Bank-Edge with Velocity Sag: Shelf edge reef dengan porositas yang sangat bagus, sediment
penutupnya mungkin carbonate prone.

Bank-Edge Prograding Slope: shelf edge reef yang bertumpuk, tertutup oleh klastik, mengalami
perubahan suplai sediment.

Tekstur ‘Mounded’

Fan Complex: penampang lateral


dari kipas (fan) yang dekat dengan sumber sediment
Volcanic Mound: margin konvergen pada tahap awal; pusat aktivitas rifting pada rift basin
Compound Fan Complex: superposisi dari berbagai kipas.
Migrating wave: diakibatkan oleh arus laut, laut dalam.

Tipe-tipe fasis seismik basin slope dan basin floor


Sheet-drape (low energy): seragam, pengendapan laut dalam yang tidak tergantung pada relief
dasar laut, litologi seragam, tidak ada pasir.
Slope Front Fill: kipas laut dalam, lempung dan silts (energi rendah)
Onlap-Fill (low energy): pengendapan dengan kontrol gravitasi (arus turbidit kecepatan rendah)
Fan-Complex (high energy): diendapkan sebagai kipas, mound dan slump, meskipun energi
tinggi, mungkin masih mengandung batupasir sebagai reservoar .
Contourite (variable energy): biasanya sedimen butir halus, tidak menarik unutk eksplortasi,
bentuk tidak simetris, arus tak berarah.
Mounded Onlap-Fill (High Energy): fasies peralihan antara chaotic dan onlap fill, control
gravitasi, reflector tidak menerus, semakin menebal kearah topografi rendah yang menandakan
endapan energi tinggi.
Chaotic Fill (variable energy): mounded, terdapat pada topografi rendah, slump, creep dan
turbidit energi tinggi, komposisi material tergantung pada sumber biasanya sedikit pasir.

Referensi:
1. R.M. Mitchum Jr. and P.R. Vail (1977) Seismic stratigraphic interpretation
procedure. AAPG Memoir; Seismic Stratigraphy - Applications to Hydrocarbon
Exploration 26, 135–143.
2. R.M. Mitchum Jr., P.R. Vail, and J.B. Sangree (1977) Stratigraphic interpretation
of seismic reflection patterns in depositional sequences. AAPG Memoir;
Seismic Stratigraphy - Applications to Hydrocarbon Exploration 26, 117–133.
3. R.E. Sheriff (1975) Factors affecting seismic amplitudes. Geophysical
Prospecting 23, 125–138.
Angle Mute

Istilah angle mute digunakan untuk menjelaskan teknik pemotongan pada CDP gather sebelum
memproduksi angle stack.

Angle mute terdiri atas inner mute (batas kiri) dan outer mute (batas kanan). Berikut ilustrasinya.

Gambar diatas menunjukkan angle mute sebelum memproduksi


near angle stack dan far angle stack. Untuk near angle stack batas kiri berwarna merah dan batas
kanan berwarna kuning. Sedangkan untuk far angle stack batas kiri berwarna kuning dan batas
kanan berwarna pink.

Batas merah dipakai untuk mereduksi efek multiple pada near offset, sedangkan warna pink
dipakai untuk mereduksi efek ‘stretching’ akibat koreksi NMO.

Gambar diatas courtesy, Western Geco, 2003.

Angle Stack

Istilah angle stack dipakai untuk menjelaskan stacking tras-tras seismic pada sebagian offset saja.
Lihat item Near offset Far Offset pada blog ini. Near offset artinya low angle stack dan far stack
adalah high angle stack.

Biasanya low angle stack berukuran (5-15 derajat), middle angle stack (15-25 derajat) dan high
angle stack (25-35 derajat).

Studi angle stack kerap kali dipakai untuk menganalisis fenomena AVO. Berikut contohnya:
Gambar diatas courtesy Contreras A. et al., Geophysics, Vol. 71, 2006

Anisotropy (Seismic Anisotropy)

Seismic anisotropy adalah variasi kecepatan gelombang seismik terhadap arah. Adanya
perbedaan kecepatan gelombang terhadap arah ini diakibatkan oleh konfigurasi susunan mineral,
rekahan, pori-pori, lapisan atau konfigurasi kristal dari suatu material.

Gambar dibawah ini menunjukkan perbedaan antara material homogen isotropis (a) dengan
material anisotropis(b).
Bintang merah menunjukkan sumber gelombang seismik dan panah menunjukkan arah
pergerakan gelombang. Untuk material homogen isotropis, gelombang akan merambat dengan
kecepatan yang sama ke semua arah yang akan menghasilkan muka gelombang lingkaran (bola),
sedangkan pada material anisotropy akan menghasilkan muka gelombang bukan lingkaran
(bola).

Posted by Agus Abdullah, PhD at 12:31 PM


Labels: Sifat Fisis
Anomalous Amplitude noise Attenuation (AAA)

Adalah teknologi pengolahan data seismik yang merupakan multi step flow
(tahapan prosesing bertingkat). AAA ditujukan untuk mengidentifikasi anomali
amplitudo seismik (dalam hal ini amplitudo noise) seperti spike noise, swell noise,
trace yang bernoise, dll.

AAA merupakan filter yang diterapkan pada data didalam domain frekuensi baik
dalam CDP, shot maupun offset gather.

Gambar di atas adalah contoh


aplikasi AAA didalam pengolahan data seismik. (A) adalah CDP gather sebelum, (B)
adalah setelah proses AAA dan (C) adalah perbedaan antara A dan B. Perhatikan
noise di dalam lingkaran hitam yang dapat dihilangkan dengan baik setelah proses
AAA.

Teknologi AAA merupakan salah satu portofolio pengolahan data seismik yang dimiliki oleh
Western Geco.

Aperture

Aperture adalah bagian dari suatu data, seperti data seismik, data log, dll., dimana
sebuah fungsi diterapkan, fungsi yang dimaksud diantaranya windowing, filter, dll.

Aperture waktu sebagai contoh digunakan untuk menjelaskan bagian data seismik
untuk rentang interval waktu tertentu (perhatikan gambar di bawah ini).
[Gambar asli diambil dari Kou
et al., The Leading Edge, 2007]

APF.VO (Amplitude, Phase and Frequency versus Offset)

Merupakan pengembangan dari metoda AVO konvensional untuk menganalisa efek


sifat elastik batuan seperti kecepatan gelombang, fluida pori, litologi, dll. terhadap
amplitudo, fasa dan frekuensi sejalan dengan bertambahnya offset.

Publikasi terkait dengan masalah ini nampaknya sampai saat ini masih terbatas.
Penelitian APF.VO yang dilakukan oleh Mazzotti A [1991] menujukkan perubahan
karakter plot APF.VO untuk model lapisan batuan dengan kondisi fluida pori maupun
litologi yang berbeda yang menghasilkan pergeseran fasa gelombang maupun
variasi amplitudo.

Pengetahuan tambahan adanya variasi fasa dan frekuensi terhadap offset sebagai
efek dari sifat elastik batuan tentunya akan membantu interpretasi teknik AVO
konvensional.

Untuk topik ini, pemilik blog tidak mencantumkan gambar hasil penelitian APF.VO
yang dilakukan oleh Mazzotti A [1991], karena terkait copyright, walaupun
beberapa gambar bisa dibeli seharga ratusan dollar. Adakah peneliti muda di tanah
air tercinta yang mau mengangkat topik ini?

Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier

Persamaan Zoeppritz [lihat persamaan (4) pada subject Persamaan Zoeppritz


(detail)] menunjukkan kepada kita hubungan antara amplitudo sebagai fungsi dari
sudut, tetapi tidak menunjukkan hubungannya dengan karakteristik fisis.

Aki, Richards dan Fasier mencoba untuk menformulasikan berdasarkan parameter


densitas, kecepatan gelombang P, dan kecepatan gelombang S :
Aproksimasi Mobil

Persamaan Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier menunjukan amplitudo sebagai


fungsi dari parameter fisis.

Padahal pada penampang seismik, kita mengukur amplitudo sebagai fungsi


koefisien refleksi. Gelfand et al. pada tahun 1986 menyusun kembali persamaan
Aproksimasi Aki, Richards dan Fasier

dengan mengasumsikan γ=α/β mendekati 2 :

[Persamaan (1)]

Untuk mendapatkan Aproksimasi Gelfand, kita tentukan γ=α/β dan mengabaikan suku ketiga,
sehingga diperoleh :

[Persamaan (2)]

Perhatikan bahwa pada persamaan (2), kita peroleh :

[Persamaan (3)]

dan
[Persamaan (4)]

Kemudian persamaan (2) dapat ditulis ulang :

[Persamaan (5)]

Aproksimasi Shuey

Pada tahun 1985 Shuey


mempublikasikan persamaan Zoeppritz sebagai fungsi dari α, ρ, dan σ (poisson’a
ratio):

[Persamaan (1)]

Hilterman menyederhakan Persamaan Shuey, dengan mengasumsikan

(1) Hanya digunakan dua suku pertama pada persamaan Shuey jika

[Persamaan (6)]

<sin²θ><sin²θ>(2)σ=1/3, yang berarti A0=-1 .


</sin²θ></sin²θ>

Sehingga diperoleh :

[Persamaan (2)]
dengan penyederhanaan lebih lanjut :

[Persamaan (3)]

Persamaan (2) dan (3) menunjukkan respon AVO didominasi oleh pada sudut kecil dan oleh pada
sudut besar. Alternatifnya, persamaan (2) diatas ditulis ulang menjadi :

[Persamaan (4)]

Persamaan diatas mengekspresikan bahwa dengan estimasi R0 dan G, perubahan poisson’s ratio
dapat diestimasi sebagai persamaan :

[Persamaan (5)]

Gambar (a) menunjukkan perbandingan hasil yang diperoleh untuk model geologi sederhana
pada batas atas dan bawah dengan menggunakan kalkulasi Zoeppritz dan aproksimasi-
aproksimasi diatas. Gambar (b) menunjukkan distribusi kesalahan pada lapisan atas (kurva
bawah, jika koefisien refleksi negatif) pada Gambar (a) Perhatikan bahwa semua kecocokan
bernilai 2% untuk sudut diatas 20°. Aproksimasi Gelfand sangat baik pada 35°. , dan
Aproksimasi Shuey pada semua sudut.
Posted by Agus Abdullah, PhD at 11:06 PM

Labels: AVO

Atenuasi (attenuation)

Atenuasi dilambangkan dengan Q, dimana 1/Q adalah fraksi dari energi gelombang yang hilang
setiap cycle saat gelombang tersebut merambat. Sehingga ‘Q rendah’ berarti lebih teratenuasi
dan ‘Q tinggi’ berarti sedikit teratenuasi.
Umumnya, didalam aplikasi seismik eksplorasi, besaran Q diprediksi untuk memberikan
kompensasi terhadap amplitudo gelombang seismik yang hilang dalam perambatannya.

Didalam mendeterminasi besaran Q, terdapat beberapa macam metoda. Metoda yang cukup
sering digunakan di dalam industri migas adalah metoda rasio spektral, yakni Q merupakan
slope (kemiringan) rasio natural logaritmik (ln) spektral ’gelombang dalam’ dengan ’gelombang
dangkal’.

Untuk lebih jelasnya perhatikan diagram di bawah ini (klik untuk memperbesar):

Akhir-akhir ini analisis Q mulai dilirik sebagai metoda yang cukup jitu didalam
karakterisasi reservoar. Hal ini dilakukan karena Q lebih sensitif terhadap kehadiran
gas maupun temperatur daripada sifat kecepatan gelombang seismik.

Contoh dibawah adalah Analisis Q untuk kasus monitoring zona minyak dan gas
serta monitoring injeksi karbon dioksida. Apakah anda melihat bahwa gelombang
lebih teratenuasi (Q rendah) di sekitar antiklin sebagai perangkap gas?
Courtesy: Clark R., University of
Leeds, School of Earth & Environment

Seismik Attribute

Seismik Attribute adalah segala informasi yang diperoleh dari data seismik baik
melalui pengukuran langsung, komputasi maupun pengalaman.

Mengapa seismik attribute perlu dalam explorasi?


Seismik attribute diperlukan untuk ’memperjelas’ anomali yang tidak terlihat secara
kasat mata pada data seismik biasa.
Secara analitiksebuah signal seismik dapat dituliskan sbb:

u(t) = x(t) + i y(t)


dimana x(t) adalah data seismik itu sendiri (data yang biasa anda gunakan untuk
interpretasi geologi). Sedangkan y(t) adalah quadraturenya, yakni fasa gelombang
x(t) digeser 90 derajat.
u(t) dapat diperoleh dengan menggunakan tranformasi Hilbert pada data seismik,
dimana komponen realnya adalah data seismik itu sendiri dan quadratur-nya
merupakan komponen imaginer.
Terdapat beberapa macam seismik attribute: instantaneous energy (envelope),
instantaneous phase, instantaneous frequency, dll. (Jenis-jenis attribut tersebut
dijelaskan lebih lanjut pada blog ini dengan masing-masing subject). Gambar diatas
milik Taner [1979] dengan sedikit modifikasi.

Auto – Korelasi (Auto Correlation)

teAdalah korelasi sebuah vektor dengan dirinya sendiri.

Contoh proses perhitungan lihat Cross-Korelasi.

Auto-Korelasi fungsi a =[1, 2, 3] akan menghasilkan 3,8,14,8,3

AVA (Amplitude versus Angle)

Adalah perilaku besarnya kecilnya amplitudo gelombang seismik dengan sudut


datang tertentu jika melewati batas medium dengan densitas, kecepatan
gelombang kompresi (P) dan kecepatan gelombang geser (S) yang berbeda.
Gambar dibawah ini adalah perilaku amplitudo gelombang seismik terhadap sudut
datang dengan menggunakan tiga persamaan amplitudo sebagai fungsi dari ketiga
sifat fisis diatas (densitas, kecepatan gelombang kompresi dan kecepatan
gelombang geser) .

Persamaan Aki and Richards [1980], Shuey [1985] dan Bortfeld [1961] merupakan
pendekatan terhadap persamaan Zoeppritz untuk amplitudo gelompang refleksi
sebagai fungsi dari sudut datang.

Berbagai pendekatan tersebut dilakukan karena persamaan Zoeppritz tidak


memberikan pemahaman langsung bagaimana amplitudo gelombang seismik
refleksi sebagai fungsi dari sifat fisis medium.

Berikut adalah persamaan Aki and Richards [1980] dan Shuey [1985]:

Pendekatan Aki and Richards [1980]:


Pendekatan Shuey [1985]

Persamaan Zoeppritz dapat diaproksimasi sbb [Hampson & Russell]


Bowtie

Bowtie adalah reflektor semu yang diakibatkan oleh gelombang seismik yang
terdifraksi. Struktur sinklin atau lembah dasar laut yang cukup ‘sempit’ sering kali
menyebabkan efek dasi ’bowtie’.

Rekaman seismik dibawah ini menunjukkan fenomena bowtie.

Garis pink putus-putus adalah


reflektor dasar laut yang ’seharusnya’, sedangkan reflektor biru dan merah (di
dalam lingkaran biru) yang menyerupai bentuk dasi bowtie adalah akibat difraksi.
Efek ini dapat dihilangkan dengan melakukan proses migrasi.

Brute Stack

Adalah penampang seismik yang diperoleh dari stacking CMP (Common Mid Point)
sebelum NMO (Normal Move Out) akhir maupun koreksi statik diterapkan.

Tujuan ditampilkannya brute stack adalah untuk quick look sejauh mana kualiatas
data seismik yang baru diperoleh dari sebuah akuisisi, atau sekedar mendapatkan
gambaran awal kondisi bawah permukaan.

Dibawah ini adalah contoh penampang brute stack. Data adalah courtesy PGS.
BSR (Bottom Simulating Reflector)

Adalah anomali amplitudo yang disebabkan oleh kehadiran gas hidrat di bawah
permukaan bumi.

Karakter BSR bisanya ditunjukkan dengan amplitudo yang tinggi (cukup kontras)
yang memotong struktur geologi (discordance).

Akibat kehadiran gas hidrat maka BSR akan menghasilkan response AVO (Amplitude
versus Offset). Jika dibawah BSR terdapat gas bebas, maka akan terjadi anomali
kecepatan gelombang seismik dari tinggi menjadi rendah.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini.

(a) BSR ditunjukkan dengan refleksi yang kuat yang memotong struktur geologi.

(b) Respons AVO pada BSR, perhatikan amplitudo meningkat sejalan dengan
bertambahnya offset.
Gambar diatas courtesy Yan et al., Journal of Geophysical Research , vol 104, 1999

CDP...

CDP (Common Deep Point) adalah istilah dalam pengambilan data seismik untuk
konfigurasi sumber-penerima dimana terdapat satu titik tetap dibawah permukaan
bumi. Untuk kasus reflektor horisontal (tidak miring) CDP kadang-dagang dikenal
juga dengan CMP (Common Mid Point).

Selain CDP dikenal juga CR (Common Receiver) untuk konfigurasi beberapa sumber
satu penerima, CS (Common Shoot) untuk konfigurasi satu sumber beberapa
penerima dan Common Offset untuk konfigurasi sumber penerima dengan jarak
(offset) yang sama.

Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah berikut respon seismiknya.


Posted by Agus Abdullah, PhD at 8:56 PM

Labels: Akuisisi Data Seismik

Coherence

Coherence adalah salah satu atribut seismik yang menampilkan kemiripan satu tras
seimsik dengan tras yang lainnya. Tras-tras seismik yang mirip akan dipetakan
dengan koefisien coherence yang tinggi sedangkan ketidakmenerusan akan
terpetakan dengan koefisien coherence yang rendah.

Sebuah zona yang tersesarkan akan menghasilkan ketidakmenerusan yang tajam dengan
demikian akan menghasilkan koefisien coherence yang rendah disepanjang bidang sesar tersebut.

Dalam eksplorasi, atribut coherence digunakan untuk mempertajan kehadiran struktur sesar,
perangkap stratigrafi, delta, channel, reef dll.

Atribut coherence diestimasi berdasarkan kros korelasi tras-tras seimsik yang selanjutnya
sembalance dan algoritma dekomposisi eigen structure diterapkan.

Dalam praktiknya, attribut coherence sering kali ditampilkan bersamaan (overlay) dengan
attribut yang lain (amplitudo, akustik impedance, dll.)

Berikut contoh-contohnya;

Perhatikan coherence yang mempertajam kehadiran sesar dan kekar NW-SE (b) yang kurang
terlihat pada peta amplitudo (a). Gambar (c) adalah coherence di-overlay dengan amplitudo.

Perhatikan batas reef yang ditunjukkan secara lebih tajam oleh coherence (kanan) dibandingkan
oleh amplitudo (kiri).
Overlay coherence dengan impedansi akustik yang melokalisir batas-batas batupasir dalam
sistem channel.

Semua gambar courtesy Chopra, CSEG, 2001


CWT (Continuous Wavelet Transform)

Adalah metoda dekomposisi waktu-frekuensi (time-frequency decomposition) yang


dikenal juga dengan dekomposisi spectral (lihat subject dekomposisi spectral pada
blog ini) yang ditujukan untuk mengkarakterisasi respon seismik pada frekuensi
tertentu.

Ide dasar dari metoda ini adalah dilakukannya FFT (Fast Fourier Transform) dari
setiap window waktu secara menerus (continuous) sehingga diperoleh gambaran
kisaran frekuensi pada zona target (reservoar).

Gambar dibawah ini adalah contoh penerapan CWT pada salah satu trace seismik
sintetik:

Gambar atas sebelah kiri adalah


trace seismik sintetik sedangkan gambar sebelah kanan adalah hasil CWT dengan
menggunakan persamaan (1). Perhatikan bahwa CWT ditampilkan dalam kawasan
waktu terhadap frekuensi. Waktu tersebut adalah waktu TWT (Two Way Travel Time)
dari penampang seismik itu sendiri.
Lalu dengan menganalisis
gambar CWT, katakanlah target reservoar anda berapa pada kisaran 0.9 detik,
maka anda akan mendapatkan gambaran frekuensi dominan dari target anda,
katakanlah 32Hz. Lalu dengan menggunakan persamaan (2), penampang CWT di-
inversi kembali untuk mendapatkan penampang seismik pada frekuensi 32Hz,
yang harapannya dapat meng-emphasize target reservoar anda. Lihat subject
dekomposisi spectral pada blog ini yang menujukkan hasil dari aplikasi metoda CWT
terhadap data real.

Gambar dan persamaan diatas courtesy: Satish Sinha, School of Geology and
Geophysics, University of Oklahoma, Norman, OK 73019 USA, Partha Routh
Department of Geosciences, Boise State University, Boise, ID 83725 USA, Phil Anno
Seismic Imaging and Prediction, ConocoPhillips, Houston, TX 77252 USA, John
Castagna, School of Geology and Geophysics, University of Oklahoma, Norman, OK
73019 USA, Spectral Decomposition of Seismic Data with Continuous
Wavelet Transform, 2005.

Konvolusi (Convolution)

Secara umum konvolusi didefinisikan sebagai cara untuk mengkombinasikan dua


buah deret angka yang menghasilkan deret angka yang ketiga. Didalam dunia
seismik deret-deret angka tersebut adalah wavelet sumber gelombang,
reflektivitas bumi dan rekaman seismik.
Secara matematis, konvolusi adalah integral yang mencerminkan jumlah lingkupan
dari sebuah fungsi a yang digeser atas fungsi b sehingga menghasilkan fungsi c.
Konvolusi dilambangkan dengan asterisk ( *).

Sehingga, a*b = cberarti fungsi a dikonvolusikan dengan fungsi b menghasilkan


fungsi c.

Konvolusi dari dua fungsi a dan fungsi b dalan rentang terbatas [0, t] diberikan
oleh:

Contoh:

a = [1, 2, 3] dan b = [4,5,6] maka a*b :


Sehingga a*b adalah [4,13,28,27,18]

Dari contoh diatas terlihat bahwa jumlah elemen c adalah jumlah elemen a
ditambah jumlah elemen b dikurangi 1

(3+3-1 = 5).

Konvolusi dikawasan waktu (time domain) ekuivalen dengan perkalian dikawasan


frekuensi dan sebaliknya konvolusi dikawasan frekuensi ekuivalen dengan perkalian
dikawasan waktu [Bracewell, 1965]

Cross-Korelasi (Cross Correlation)

Secara matematis Cross-Korelasi dituliskan sebagai:

Dimana a dan b memiliki panjang N dengan (N>1).

Jika panjang salah satu data tidak sama maka bagian yang kosong dari data yang
pendek di-nol kan sampai panjangnya sama.

m=1, ..., 2N-1. dan b * adalah conjugate dari b .

Contoh Cross Korelasi fungsi a = [1, 2, 3] dan b =[4, 5, 6]:


Sehingga untuk cross korelasi antara fungsi a dan b diperoleh: 12, 23, 32, 17, 6.

Curvature

Curvature adalah kebalikan jari-jari sebuah lingkaran yang menyentuh sebuah


bidang atau garis.

Semakin melengkung sebuah garis semakin besar nilai curvature dan sebaliknya.

Sebuah garis yang datar memiliki curvature nol, jika melengkung ke arah yang
sebaliknya maka curvatur akan bernilai negatif.

Didalam geologi, struktur sinklin akan memiliki curvature positif dan struktur
antiklin memiliki curvature negatif.

Didalam eksplorasi migas, curvature memiliki peranan penting untuk meng-


highlight keberadaan atau orientasi rekahan (fracture), sesar, identifikasi batas
channel, dll.
Terdapat beberapa jenis curvature: Mean curvature, Gaussian curvature, Dip
curvature, strike curvature, shape-index, most-positive curvature, most-
negative curvature.

Mean curvature: rata-rata curvature minimum dan curvature maksimum dan


biasanya didominasi oleh curvature maksimum.
Gaussian curvature: produk dari minimum curvature dan maksimum curvature.
Dip curvature: curvature yang diekstrak sepanjang arah dip (kemiringan struktur).
Strike curvature: curvature yang diekstrak sepanjang arah strike.
Shape-index: bentuk permukaan lokal, dengan biru menunjukkan mangkuk,
lembah dengan cyan, saddle dengan hijau, ridge dengan kuning dan dome dengan
merah.
Most-positive curvature: curvature dengan nilai positif tertinggi yang akan
memperjelas struktur antiklin dan domal.
Most-negative curvature: curvature dengan nilai negatif tertinggi yang akan
memperjelas struktur sinklin dan bowl.

gambar dibawah menunjukkan aplikasi curvature untuk mempertajam keberadaan


channel dan interpretasi fracture (click gambar untuk memperbesar). (a) time slice
(b) most-positive curvature untuk mempertajam batas channel (c) most-positive
curvature untuk interpretasi fracture (d) diagram rosset fracture (c).
[Courtesy Chopra dan Marfurt CSEG, 2006]

Deconvolusi (Deconvolution)

Deconvolusi adalah proses pengolahan data seismik yang bertujuan untuk


meningkatkan resolusi temporal (baca: vertikal) dengan cara mengkompres wavelet
seismik.

Deconvolusi umumnya dilakukan sebelum stacking akan tetapi dapat juga


diterapkan setelah stacking.

Selain meningkatkan resolusi vertikal, deconvolusi dapat mengurangi efek 'ringing'


atau multiple yang mengganggu interpretasi data seismik.

Deconvolusi dilakukan dengan melakukan konvolusi antara data seismik dengan


sebuah filter yang dikenal dengan Wiener Filter .

Filter Wiener diperoleh melalui permasaan matriks berikut:

axb=c

a adalah hasil autokorelasi wavelet input (wavelet input diperoleh dengan


mengekstrak dari data seismik), b Filter Wiener dan c adalah kros korelasi antara
wavelet input dengan output yang dikehendaki.

Output yang dikehendaki terbagi menjadi beberapa jenis [Yilmaz, 1987]:


1. Zero lag spike (spiking deconvolution)
2. Spike pada lag tertentu.
3. time advanced form of input series (predictive deconvolution)
4. Zero phase wavelet
5. Wavelet dengan bentuk tertentu (Wiener Shaping Filters)

Zero lag spike memiliki bentuk [1 , 0, 0, 0, ..., 0] yakni amplitudo bukan nol terletak
para urutan pertama. Jika Output yang dikehendaki [0 , 0, 1, 0, ..., 0] maka
memiliki bentuk

disebut spike pada lag 2 (amplitudo bukan nol terletak para urutan ketiga) dan
seterusnya.

Dalam bentuk matrix, Persamaan Filter Wiener dituliskan sbb:


dimana n adalah jumlah
elemen.

Matriks a diatas merupakan matriks dengan bentuk spesial yakni matriks Toeplitz,
dimana solusi persamaan diatas secara efisien dapat dipecahkan dengan solusi
Levinson. Dengan demikian operasi Deconvolusi jenis ini seringkali dikenal dengan
Metoda Wiener-Levinson.

Untuk memberikan kestabilan dalan komputasi numerik diperkenalkan sebuah


Prewhitening e yakni dengan memberikan pembobotan dengan rentang 0 s.d 1
( )

pada zero lag matriks a (sehingga elemen a0 matrix diatas menjadi a0(1+e).
Gambar dibawah ini menunjukkan diagram alir proses Deconvolusi.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 4:08 PM

Labels: Pengolahan Data Seismik

Dekonvolusi Maximum-Likelihood

Gambar 1 mengilustrasikan asumsi fundamental dekonvolusi maximum-likelihood,


yakni reflektivitas bumi tersusun atas event-event besar yang bercampur dengan
latar belakang event-event kecil Gaussian.
Gambar 1 : Asumsi dasar metoda Maximum-Likelihood

Hal ini berlawanan dengan dekonvolusi spiking, yang mengasumsikan distribusi random
sempurna koefisien refleksi. Reflektivitas real log sonik pada Gambar 1 menunjukkan bahwa
model seperti ini bisa dipertanggung jawabkan. Secara geologis, event-event besar tersebut
berasosiasi dengan ketidakselarasan dan batas litologi utama.

Dari asumsi-asumsi model tersebut, kita dapat menurunkan fungsi objektif yang dapat
diminimalkan untuk menghasilkan reflektivitas yang paling mirip dan kombinasi wavelet yang
konsisten dengan asumsi statistika. Perhatikan bahwa metoda ini memberikan estimasi
reflektivitas sparse dan wavelet.

Fungsi objektif J diberikan oleh :

dimana r(k) = koefisien refleksi


pada sampel ke-k, m = jumlah refleksi, L = jumlah total sampel, N = akar kuadrat variasi bising,
n = noise pada sampel ke-k, λ = likelihood bahwa sampel mempunyai sebuah refleksi. Urutan
reflektivitas diasumsikan bersifat jarang , berarti sebuah spike yang diharapkan diatur oleh
parameter λ yang merupakan rasio dari jumlah spike tidak nol yang diharapkan diatur oleh
jumlah sampel trace.

Biasanya λ mempunyai nilai kurang dari 1. Parameter lainnya yang diperlukan untuk
mendeskripsi perilaku yang diharapkan adalah R , ukuran RMS spike besar, dan N, ukuran RMS
dari noise. Setelah parameter-parameter tersebut dispesifikasi, semua solusi dekonvolusi dapat
diuji untuk melihat apakah ia merupakan hasil proses statistika dengan parameter-parameter
tersebut.

Sebagi contoh, bila estimasi reflektivitas mempunyai jumlah spike yang lebih besar
daripada nilai yang diharapkan, maka ia mencerminkan hasl yang tidak benar.
Dalam ungkapan yang lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa kita mencari solusi
dengan jumlah spike minimum pada reflektivitasnya dan komponen noise yang
lebih rendah.

Gambar 2a & b menunjukkan dua kemungkinan solusi untuk input trace seismik
yang sama.

Gambar 2 : (a) Fungsi objektif untuk satu alternatif solusi pada input trace seismik
(b) Fungsi objektif untuk aternatif kedua solusi trace seismik

Tentu saja terdapat jumlah yang tidak terbatas dari solusi yang mungkin didapatkan
sehingga akan memerlukan waktu yang lama untuk melihat masing-masing
kemungkinan solusi tersebut. Oleh karenanya digunakan metoda yang lebih
sederhana untuk mendapatkan jawaban yang paling optimum.

Prinsipnya kita mulai dengan estimasi wavelet awal, estimasi reflektivitas sparse,
selanjutanya di-iterasi sampai sebuah fungsi objektif yang rendah dapat tercapai
dan dapat diterima. Hal ini ditunjukkan dengan Gambar 3 .
Gambar 3 : Diagram alir
untuk memperoleh reflektivitas dan wavelet, iterasi dilakukan sampai diperoleh
konvergenitas

Terdapat dua tahap prosedur yakni estimasi wavelet, memperbaharui reflektivitas


sehingga diperoleh refektivitas estimasi, dan memperbaharui wavelet.

Prosedur diatas diilustrasikan pada data model (Gambar 4 dan 5) pada Gambar 4
prosedur untuk memperbaharui reflektivitas ditunjukkan. Ia terdiri atasperosedur
penambahan koefisien refleksi satu persatu sampai satu set koefisien sparse yang
optimum diperoleh. Algoritma untuk memperbaharui reflektivitas ini dikenal dengan
nama Single Most Likely Addition (SMLA) karena setiap selesai satu tahapan ia akan
mencoba menemukan spike optimum untuk ditambahkan.
Gambar 4 : Algoritma Single Most Likely
Addition (SMLA) yang mengilustrasikan model reflekivitas sederhana

Gambar 5 menunjukkan prosedur untuk memperbaharui fasa wavelet. Model


masukan ditunjukkan pada bagian atas gambar, dan reflektivitas serta fasa yang
diperbaharui ditujukkan setelah iterasi kesatu, kedua, kelima, dan kesepuluh.
Perhatikan bahwa hasil akhir yang diperoleh cukup bisa mengestimasi wavelet
model.
Gambar 5 : Prosedur untuk
memperbaharui wavelet pada metoda Maximum-Likelihood

Densitas Batuan

Densitas adalah massa batuan per unit volume.


Berikut kisaran densitas meterial bumi:

[courtesy Grand and West]

Dephasing

Dalam terminologi seismik, dephasing adalah proses untuk mengubah fasa sebuah
wavelet.
Ingat sebuah wavelet dapat memiliki fasa berbeda: fasa nol, fasa minimum, fasa
maksimum dan fasa campuran.
Biasanya, dephasing dilakukan dalam proses deconvolusi sehingga Output yang
dikehendaki memiliki fasa tertentu (lihat subject Deconvolusi pada blog ini).
Filter deconvolusi dengan jenis ini dinamakan Wiener Shaping Filters

Proses dephasing memerlukan informasi wavelet input, dalam realitas wavelet


input diperoleh dengan cara mengekstrak dari data seismik secara statistik.

Analisis Fourier-Deret Fourier-Transformasi Fourier

Analisis Fourier adalah metoda untuk mendekomposisi sebuah gelombang seismik


menjadi beberapa gelombang harmonik sinusoidal dengan frekuensi berbeda-beda.

Dengan kalimat lain, sebuah gelombang seismik dapat dihasilkan dengan


menjumlahkan beberapa gelombang sinusoidal frekuensi tunggal. Sedangkah
sejumlah gelombang sinusoidal tersebut dikenal dengan Deret Fourier.

Gambar dibawah ini adalah contoh Analisis Fourier.

Sedangkan Transformasi Fourier adalah metoda untuk mengubah gelombang


seismik dalam domain waktu menjadi domain frekuensi. Proses sebaliknya adalah
Inversi Transformasi Fourier (Inverse Fourier Transform).
Kedua gambar diatas
courtesy: Margrave G. et al., Consortium for Research in Elastic Wave Exploration
Seismology, The University of Calgary.

Istilah Fourier digunakan untuk menghormati Jean Baptiste Joseph Fourier (1768 –
1830), matematikawan yang memecahkan persamaan differensial parsial dari
model difusi panas, beliau memecahkannya dengan menggunakan deret tak hingga
dari fungsi-fungsi trigonometri. Foto Jean Baptiste Joseph Fourier adalah courtesy
Wikipedia.

Referensi text: Aki and Richard, 1980, Quantitative Seismology, Blackwell Publishing

Difraksi (Diffraction)

Difraksi adalah reflektor semu yang dihasilkan akibat penghamburan gelombang


utama yang menghantam ketidakmenerusan seperti permukaan sesar,
ketidakselarasan, pembajian, perubahan kontras jenis batuan, dll.
Difraksi nampak seperti parabola terbalik yang dapat mengganggu interpretasi
seismik. Untuk menghilangkan difraksi dilakukan proses migrasi.

Gambar dibawah menunjukkan difraksi akibat lapisan garam.

[Gambar diatas dimodifikasi


dari Veritas DGC]

Posted by Agus Abdullah, PhD at 10:37 PM

Labels: Fisika Gelombang

DMO (Dip Move Out)


Pada kasus lapisan miring, titik
tengah M tidak lagi merupakan proyeksi vertikal dari titik hantam D, sehingga pada
kasus lapisan miring, CDP gather tidak ekuivalen dengan CMP gather (lihat kedua
topik tersebut pada blog ini).

Secara sederhana DMO dapat diterjemahkan dengan koreksi NMO pada lapisan
miring.
Untuk kasus lapisan miring, Levin (1971), menurunkan persamaan waktu tempuh:

[Persamaan (1)]

Sedangkan untuk kecepatan DMO terlihat pada persamaan (2). Dari persamaan (2)
terlihat bahwa kontrol cosinus dari kemiringan menyebabkan kecepatan DMO harus
lebih besar dari kecepatan medium v (baca: kecepatan gelombang seismik pada
batuan), karena cosinus memiliki nilai maksimum 1.

Didalam Aplikasinya, proses DMO tidak serumit yang dibayangkan, prosesnya sama
seperti NMO, lebih-lebih software-software processing sudah semakin interaktif.
Gambar dibawah adalah contoh proses DMO.
Sketsa raypath diatas digambar ulang dari Yilmaz [1989]

Dog leg

Dog leg adalah istilah yang digunakan untuk lintasan seismik yang membelok
secara tiba-tiba.

Dog leg biasanya terjadi akibat perubahan rencana survey seismik untuk
menghindari medan yang berat atau tidak memungkinkan seperti lembah yang
curam, gedung bersejarah, atau dasar laut yang dangkal sehingga kapal survey
tidak bisa melewatinya.

Berikut ilustrasinya:
Posted by Agus Abdullah, PhD at 12:55 AM

Labels: Akuisisi Data Seismik

Elastic Impedance (Impedansi Elastik)

Seperti hal-nya Impedansi Akustik yang merupakan produk perkalian densitas


dengan kecepatan gelombang kompresi (gelombang P), Impedansi Elastik
merupakan produk perkalian densitas dengan ’komposit’ kecepatan gelombang P
dan S.

Secara praktis, Impedansi Elastik diperoleh melalui inversi far angle stack
(katakanlah lebih besar dari 30°) dengan menggunakan wavelet yang diekstrak dari
stack tersebut sehingga diperoleh sifat Impedansi Elastik.

Impedansi Akustik
Impedansi Elastik

Gambar diatas menunjukkan


hasil inversi Impedansi Elastik dan Impedansi Akustik courtesy ARCO Exploration.

Envelope

Envelope merepresentasikan total energi sesaat (instantaneous), nilai ampitudonya


bervariasi antara nol sampai amplitude maksimum tras seismik. Secara matematis
envelope dituliskan sbb:
E(t)= (x(t)^2 +y(t)^2)^0.5

Envelope berhubungan langsung dengan kontras impedansi akustik yang


bermanfaat untuk melihat:

Kontras impedansi akustik, bright spot, akumulasi gas, batas sekuen, efek ketebalan tuning,
ketidakselarasan, perubahan lithologi, perubahan lingkungan pengendapan, sesar, porositas, dll.

Gambar berikut menunjukkan perbandingan antara tras data real (x), quadrature (y)
dan envelope (E) serta perbandingan antara data sesmik dengan envelope untuk
data lapangan. Data real courtesy U.S. Department of Energy.
Posted by Agus Abdullah, PhD at 2:19 AM

Labels: Post Prosesing

Fasa Sesaat

Fasa Sesaat merupakan sudut diantara phasor (rotasi vektor yang dibentuk oleh
komponen real dan komponen imajiner dalam deret waktu) dan sumbu real sebagai
fungsi dari waktu, oleh karena itu selalu mempunyai nilai antara -180 derajat
sampai + 180 derajat .

Fasa sesaat didefisikan sebagai :

[Persamaan (1)]

dimana h(t) merupakan jejak kuadratur dan f(t) jejak real.


Fasa Sesaat (b), Perubahan
dari puncak ke palung pada jejak seismik memiliki (a) menghasilkan Fasa Sesaat
antara 0 – 180 derajat. Palung seismik real ber-fasa –180 derajat s/d 180 derajat.
(sumber : digambar ulang dari Landmark, 1996).

Fasa Sesaat berperan dalam meningkatkan event refleksi lemah dan meningkatkan
kontinyuitas event, oleh karena itu atribut ini dapat membantu interpreter untuk
mengidentifikasi sesar, pembajian, channels, kipas, dan geometri internal sistem
endapan.

Disamping itu, Fasa Sesaat digunakan untuk identifikasi pembalikan polaritas yang
berasosiasi dengan kandungan gas.

Instantaneous Phase (Fasa Sesaat)

Secara matematis Instantaneous Phase (fasa sesaat) dituliskan sbb:

IP(t)=acrtan[y(t)/x(t)]

Dalam interpretasi digunakakan untuk melihat kontinuitas lapisan secara lateral,


ketidakmenerusan, batas sekuen, konfigurasi perlapisan, dan digunakan untuk menghitung
kecepatan fasa.

Gambar dibawah menunjukkan perbandingan tras data seismik beserta quadraturenya dengan
tras Instantaneous Phase. Juga, perbandingan antara data seismik 3D dengan Instantaneous Phase
3D ditunjukkan pada gambar yang paling bawah.
Posted by Agus Abdullah, PhD at 3:44 AM

Labels: Post Prosesing

Feather

Feather adalah istilah yang digunakan untuk menujukkan sifat penyimpangan


streamer dari line seismik yang dikehendaki di dalam akuisisi seismik laut. Efek
feather ini muncul dikarenakan arus laut.

Berikut ilustrasinya:

Kehadiran feather ini tentu


kurang menguntungkan di dalam akuisisi laut, akan tetapi masih bisa di toleransi
dengan syarat jangan melebihi 10°.

Cara yang mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi efek ini adalah dengan
melakukan survey arus laut terlebih dahulu sebelum mendesain lintasan seismik.
Memang anda bisa ber-argumen bahwa desain lintasan seismik tersebut haruslah
mempertimbangkan aspek geologi yang menjadi target anda (seperti strike ataupun
bentuk struktur) akan tetapi apakah tidak ada celah komunikasi untuk
mempertimbangkan aspek arus laut di dalam mendesain lintasan tersebut?

Prinsip Fermat (Fermat's Principle)

Prinsip Fermat menyatakan bahwa jika sebuah gelombang merambat dari satu titik
ke titik yang lain maka gelombang tersebut akan memilih jejak yang tercepat.

Kata tercepat di-boldkan untuk memberikan penekanan bahwa jejak yang akan
dilalui oleh sebuah gelombang adalah jejak yang secara waktu tercepat bukan yang
terpendek secara jarak. Tidak selamanya yang terpendek itu tercepat.

Dengan demikian jika gelombang melewati sebuah medium yang memiliki variasi
kecepatan gelombang seismik, maka gelombang tersebut akan cenderung melalui
zona-zona kecepatan tinggi dan menghindari zona-zona kecepatan rendah. Untuk
lebih jelasnya perhatikan gambar dibawah ini. Apakah anda melihat bahwa Prinsip
Fermat berlaku?

[Gambar di atas courtesy


Rawlinson et al., my PhD adviser at Research School of Earth Sciences, Australian
National University]

Filtering

Adalah upaya untuk 'menyelamatkan' frekuensi yang dikehendaki dari gelombang


seismik dan 'membuang' yang tidak dikehendaki. Terdapat beberapa macam
filtering: band pass, low pass (high cut) dan high pass (low cut).

Didalam pengolahan data seismik band pass filter lebih umum digunakan karena
biasanya gelombang seismik terkontaminasi noise frekuensi rendah (seperti ground
roll) dan noise frekuensi tinggi (ambient noise).

Gambar dibawah ini menunjukkan ketiga jenis filtering, baik dalam kawasan waktu
(time domain) maupun frekuensi domain (frequency domain).
Tanda A, B, C, D pada band pass
filter merupakan frekuensi sudut (corner frequency).

Secara matematis, operasi filtering merupakan konvolusi dalam kawasan waktu


antara gelombang 'mentah' dengan fungsi filter diatas dan perkalian dalam
kawasan frekuensi.

First Break

Adalah gelombang seismik yang terekam pertama kali. Gelombang ini merupakan
gelombang yang tercepat sampai ke penerima.
Didalam studi seismik refleksi, first break digunakan untuk mencari informasi
kondisi lapisan lapuk juga digunakan untuk koreksi statik.
Didalam studi sesmik tomografi, first break digunakan sebagai input waktu tempuh
gelombang untuk mencitrakan anomali kecepatan gelombang seismik di bawah

permukaan.

Gambar diatas adalah contoh first break (elips pink). Gambar adalah courtesy
Interpex

Pengolahan Data Seismik

Beberapa tahapan yang biasa dilalui didalam pengolahan data seismik:

1.Edit Geometri
Data sebelumnya di-demultiplex dan mungkin di-resampel kemudian di-sorting
didalam CDP (common depth point) atau CMP (common mid point). Informasi
mengenai lokasi sumber dan penerima, jumlah penerima, jarak antara penerima
dan jarak antara sumber di-entry didalam proses ini.

2. Koreksi Statik
Koreksi statik dilakukan untuk mengkoreksi waktu tempuh gelombang seismik yang
ter-delay akibat lapisan lapuk atau kolom air laut yang dalam.

3. Automatic Gain Control (AGC)


Kompensasi amplitudo gelombang seismik akibat adanya divergensi muka
gelombang dan sifat attenuasi bumi.

4.Dekonvolusi (Pre-Stack)
Dekonvolusi dilakukan untuk meningkatkan resolusi vertikal (temporal) dan
meminimalisir efek multiple.

5. Analisis Kecepatan (Velocity Analysis) dan Koreksi NMO


Analisis kecepatan melibatkan semblance, gather, dan kecepatan konstan stack.
Informasi kecepatan dari velocity analysis digunakan untuk koreksi NMO (Normal
Move Out)

6. Pembobotan tras (Trace Weighting)


Teknik ini dilakukan untuk meminimalisir multiple yang dilakukan dalam koridor CMP
sebelum stacking. Proses ini menguatkan perbedaan moveout antara gelombang
refleksi dengan multiplenya sehingga dapat mengurangi kontribusi multiple dalam
output stack.

7. Stack
Penjumlahan tras-tras seismik dalam suatu CMP tertentu yang bertujuan untuk
mengingkatkan rasio sinyal terhadap noise. Nilai amplitudo pada waktu tertentu
dijumlahkan kemudian dibagi dengan akar jumlah tras.

8. Post-Stack Deconvolution
Dekonvolusi mungkin dilakukan setelah stacing yang ditujukan untuk mengurangi
efek ringing atau multipel yang tersisa.

9. Migrasi F-K (F-K Migration)


Migrasi dilakukan untuk memindahkan energi difraksi ke titik asalnya. Atau lapisan
yang sangat miring ke posisi aslinya. Mingrasi memerlukan informasi kecepatan
yang mungkin memakai informasi kecepatan dari velocity analysis. Gambar
dibawah menunjukkan karakter rekaman seismik sebelum dan sesudah migrasi.
Bisakah anda melihat perbedaannya?

10. Data Output


Rekaman seismik di atas adalah courtesy USGS

Frekuensi Gelombang Seismik

Frekuensi gelombang seismik yang 'berguna' biasanya berada dalam rentang 10


sampai 70Hz dengan frekuensi dominan sekitar 30Hz [Ozdogan Yilmaz].
Gambar berikut menunjukkan tipikal spektrum amplitudo gelombang seismik (tras
ditunjukkan di sebelah kiri).
Terlihat rentang frekuensi
gelombang seismik 10-70Hz dengan frekuensi dominan 30Hz, juga karakter spektrum amplitudo
wavelet yang digunakan. Komponen frekuensi rendah data sumur ( <>

Foto disamping adalah Dr Ozdogan Yilmaz, Geofisikawan kondang berkebangsaan


Turki.
Karyanya yang paling monumental adalah:
'Seismic Data Processing' dan 'Seismic Data Analysis : Processing, Inversion, and Interpretation
of Seismic Data'

Frekuensi Sesaat (Instantaneous Frequency )

Fekuensi Sesaat merepresentasikan besarnya perubahan Fasa Sesaat terhadap


waktu atau sebagai slope jejak Fasa yang diperoleh dari turunan pertama dari Fasa
Sesaat :

[Persamaan (1)]
Frequensi Sesaat (b) sebagai
turunan pertama Fasa Sesaat (a)

Frekuensi Sesaat memiliki rentang frekuensi dari (–) Frekuensi Nyquist sampai (+) Frekuensi
Nyquist, tetapi sebagian besar Frekuensi Sesaat bernilai positif.

Frekuensi Sesaat memberikan informasi tentang perilaku gelombang seismik yang


mempengaruhi perubahan frekuensi seperti efek absorbsi, rekahan, dan ketebalan sistem
pengendapan.

Atenuasi gelombang seismik ketika melewati reservoir gas dapat dideteksi sebagai penurunan
frekuensi, fenomena ini lebih dikenal dengan ‘low frequency shadow’ (Barnes, Arthur E.,1999).
Hilangnya frekuensi tinggi menunjukkan daerah overpressure.

Instantaneous Frequency (Frekuensi Sesaat)

Instantaneous Frequency merupakan turunan fasa terhadap waktu (dt):

IF(t)=2/dt Imag[u(t2)-u(t1)/ u(t2)+u(t1)]

Imag adalah komponen imaginer. Lihat subject Seismik Attribute untuk memahami simbol-
simbol diatas.

Dalam interpretasi digunakakan untuk melihat anomaly hidrokarbon yang akan ditunjukkan
dengan anomaly frekuensi rendah. Efek ini kadangkala disebabkan oleh batupasir yang tidak
terkonsolidasi dikarenakan kandungan minyak. Instantaneous Frequency digunakan juga untuk
melihat zona fraktur (rekahan) karena zona fraktur akan berasosiasi dengan zona frekuensi
rendah. Disamping itu digunakan juga sebagai indikator ketebalan lapisan. Juga untuk melihat
geometri perlapisan yang masif seperti sand-prone lithologies.
Gambar dibawah menunjukkan perbandingan tras data seismik beserta quadraturenya dengan
tras Instantaneous Frequency. Juga, perbandingan antara data seismik 2D dengan Instantaneous
Frequency 2D ditunjukkan pada gambar yang paling bawah.
Posted by Agus Abdullah, PhD at 3:46 AM

Labels: Post Prosesing

Zona Fresnel (Fresnel Zone)

Adalah lebar bidang benda anomali yang mampu 'dilihat' oleh gelombang seismik
(lihat Resolusi Seismik).

Lebar sempitnya Zona Fresnel (B-B') tergantung pada panjang gelombang dan
frekuensi gelombang seismik yang digunakan. Semakin tinggi frekuensi seismik
yang digunakan, semakin sempit Zona Fresnel dan sebaliknya. Artinya untuk
melihat benda-benda anomali kecil di bawah perut perlu digunakan frekuensi
gelombang yang tinggi. Sayangnya karena adanya attenuasi, frekuensi tinggi hanya
mampu melihat anomali-anomali dangkal.

Istilah 'Fresnel' digunakan untuk menghormati Fisikawan


perancis Augustin Jean Fresnel (1788-1827) yang menemukan teori gelombang
optik.
(Foto Augustin Jean Fresnel diambil dari wikipedia)

Posted by Agus Abdullah, PhD at 4:46 PM

Labels: Fisika Gelombang

Gain

Gain adalah penskala-an amplitudo gelombang seismik untuk menampilkan


amplitudonya yang menurun akibat geometrical spreading.

Secara matematis, operasi gain


merupakan perkalian antara tras seismik dengan fungsi gain.

Untuk membuat fungsi gain yang akan diterapkan pada tras seismik yang belum
dilakukan koreksi geometrical spreading, persamaan gain berikut dapat digunakan:

g(t)=(v(t)/v(0))^2 (t/t0), dimana t adalah TWT (two way traveltime) dan v(t) adalah
kecepatan rms dan v(0) adalah kecepatan rms pata waktu t0.
Gelombang Rayleigh (Groundroll)

Gelombang rayleigh atau groundroll adalah gelombang yang menjalar di permukaan


bumi dengan pergerakan partikelnya menyerupai ellip (lihat gambar). Karena
menjalar di permukaan, amplitudo gelombang rayleigh akan berkurang dengan
bertambahya kedalaman.

[courtesy of darylscience]

Nama Rayleigh diberikan untuk menghormati penemunya John William Strutt, 3rd
Baron Rayleigh (1842-1919), Fisikawan berkebangsaan Inggris.

Didalam rekaman seismik, gelombang rayleigh dicirikan dengan amplitudonya yang


besar (hampir 2x amplitudo refleksi) dan dicirikan dengan frekuensi rendah.

Higher Order Moveout

Perhatikan persamaan di bawah ini:

Persamaan (1) adalah


persamaan NMO konvensional sedangkan persamaan (2) adalah persamaan NMO
order 4 (fouth order) dengan alpha sebuah koefisien. Koefisien tersebut mewakili
sifat anisotropi batuan dan variasi kecepatan seismik vertikal.

Yang dimaksud dengan Higher Order Moveout adalah analisis NMO (Normal
Moveout) dengan menggunakan persamaan NMO order yang lebih tinggi.

Proses NMO konvensional dengan menggunakan persamaan NMO order dua dapat
berkerja dengan baik pada model bumi homogen isotropis. Sedangkan pada model
bumi yang kompleks persamaan NMO order yang lebih tinggi sangat diperlukan.

Selain untuk memenuhi kondisi ‘kompleksitas’ bumi, persamaan NMO order yang
lebih tinggi diperlukan juga untuk mengkoreksi tras-tras seismik pada offset yang
cukup jauh ( seperti offset 6 sampai 10 km). Sebagaimana yang kita pahami,
koreksi NMO akan memiliki error yang lebih besar pada offset yang jauh.

Gambar di bawah ini menunjukkan perbedaan gather seismik dengan koreksi NMO
order dua dan gather yang dikoreksi NMO order dua terlebih dahulu (kiri) kemudian
di-fine tune dengan order 4 (kanan) untuk data sintetik dan data real.

Data sintetik:

Data real:

Gambar diatas courtesy Leggott et al, Veritas DGC Ltd.

Transformasi Hilbert dan Jejak Kompleks


Transformasi Hilbert menggeser fasa sebesar -90° pada jejak seismik atau
mengkonversi gelombang cosinus menjadi sinus.

Jejak kompleks, sebagaimana


yang diterangkan oleh Tarner et.al (1996) terdiri dari komponen real (jejak seismik
konvensional) dan komponen imajiner (jejak kuadratur):
[persamaan (1)]

dimana f(t) adalah jejak seismik real, h(t) jejak kuadratur.

Jejak kuadratur h(t) dapat dideterminasi dari jejak real f(t) dengan menggunakan
Transformasi Hilbert (Bracewell 1965, op.cit. Landmark, 1996) :

[persamaan (2)]

dimana (*) merupakan konvolusi. Dari persamaan (2) terlihat bahwa h(t) adalah
pergeseran fasa 90 derajat dari jejak seismik real f(t).
Jejak seismik real f(t) dapat diekspresikan dengan Amplitudo yang tergantung pada
waktu A(t) dan fasa yang tergantung pada waktu q(t), seperti dinyatakan sebagai
berikut:

[persamaan (3)]
dan jejak kuadratur didefinisikan sebagai :

[persamaan (4)]

Sehingga jejak kompleks F(t) didefinisikan sebagai :

[persamaan (5)]

Jika f(t) dan h(t) diketahui (ingat bahwa h(t) dapat diturunkan dari f(t) dengan
menggunakan Transformasi Hilbert), maka untuk A(t) dan q(t) diperoleh :

[persamaan (6) dan persamaan (7)]

A(t) disebut dengan ‘Kuat Refleksi’ dan q(t) disebut dengan ‘Fasa Sesaat’.
Selanjutnya dengan menurunkan Fasa Sesaat diperoleh ‘Frekuensi Sesaat’

[persamaan (8)]

Hockey Stick

Adalah istilah yang populer digunakan dalam industri pengolahan data seismik
untuk menjelaskan fenomena sebuah event seismik yang melengkung menyerupai
bentuk stick hockey. Event seismik tersebut berada dalam gerbang CDP setelah
proses NMO.

Dalam proses NMO, bentuk


event yang dikehendaki adalah sedatar mungkin (flat), akan tetapi karena efek
anisotropi dan karakter jejak gelombang, bentuk hockey stick adalah bentuk yang
lazim diperoleh. Dengan memahami bentuk hockey stick dalam gerbang CDP, kita
dapat mendesain mute yang optimal sehingga diperoleh final stack yang bagus.
Desain mute yang optimal terletak pada titik lengkung hockey stick tersebut. Jika
desain mute terlalu ke arah far offset, maka gelombang frekuensi rendah akibat
stretching akan muncul di dalam stack. Jika desain mute terlalu kearah near offset
maka kita akan kehilangan data.

HSP (Horizontal Seismic Profiling)

Adalah metoda pengambilan data seismik, dimana posisi sumber dan penerima
(geophone) diletakkan di permukaan bumi. Jadi istilah metoda HSP adalah istilah
lain untuk metoda seismik refleksi biasa.

Contoh konfigurasi metoda HSP, geophone (kiri) dan layout kabel seismik (kanan):

Gambar courtesy: Anniston Army Depot, Alabama

Prinsip Huygens (Huygens Principle)

Prinsip Huygens menyatakan bahwa setiap titik-titik pengganggu yang berada


didepan muka gelombang utama akan menjadi sumber bagi terbentuknya deretan
gelombang yang baru.

Jumlah energi total deretan gelombang baru tersebut sama dengan energi utama.

Gambar dibawah ini menunjukkan prinsip Huygens.


[Gambar diatas courtesy
Answer.com]

Didalam eksplorasi seismik titik-titik diatas dapat berupa patahan, rekahan,


pembajian, antiklin, dll. Sedangkan deretan gelombang baru berupa gelombang
difraksi. Untuk menghilangkan efek ini dilakukanlah proses migrasi.

Nama Huygens diberikan untuk menghormati matematikawan, astronomer dan


fisikawan kondang Christiaan Huygens (1629-1695). Sebelum menggeluti bidang
sains beliau sempat kuliah di Fakultas Hukum Universitas Leiden.
Lukisan Christiaan Huygens diatas diambil
dari wikipedia.

Kecepatan Interval

Kecepatan lapisan ke-n dapat dihitung berdasarkan rumus Dix (Dix Formula), yang
diturunkan dari kecepatan rms.
Gambar diatas menunjukkan
perbedaan kurva kecepatan rms dan kecepatan interval.

Inversi Maximum-Likelihood

Salah satu penerapan langsung dari teori dekonvolusi di atas adalah dengan
menginversi reflektivitas hasil estimas menjadi impedansi band lebar atau bloki dari
data seismik. Jika diketahui refektivitas r(i), maka impedansi Z(i) dapat ditulis :

[Persamaan (1)]

Sayangnya, penerapan persamaan ini dalam mengestimasi treflektivitas dari MLD memberikan
hasil yang kurang memuaskan karena kehadiran bising tambahan. Meskipun algoritma MLD
mengekstrapolasi di luar bandwith wavelet untuk menghasilkan estimasi reflektivitas band lebar,
reabilitas estimasi ini berkurang karena bising pada frekuensi rendah diujung spektrum.
Hasilnya adalah bahwa saat fenomena panjang gelombang pendek impedansi dapat
direkonstruksi, pola umum tidak dapat dipecahkan dengan baik. Hal ini ekuivalen dengan
menyatakan bahwa skala waktu pada spike estimasi reflektivitas dapat dipecahkan lebih baik
daripada amplitudonya.

Untuk menstabilkan estimasi reflektivitas ini rekaman independen pola impedansi


dapat dimasukkan sebagai input kontrol.

[Persamaan (2)]

Kehadiran seri error n(i) menunjukkan fakta bahwa informasi pola yang diberikan
adalah berupa estimasi. Sekarang kita mempunyai 2 seri waktu : trace seismik T(i)
dan log Impedasi ln Z(i), masing-masing dengan waveletnya dan parameter bising.
Fungsi objektif dimodifikasi sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga
mengandung dua suku yang diboboti oleh variasi bising relatif.

Peminimalan fungsi ini akan memberikan solusi bagi koefisien refleksi yang
berusaha mengkompromikan dengan pemodelan silmultan trace seismik saat
menyesuaikan dengan pola impedansi yang telah diketahui.

Jika noise seismik dan Impedansi trend noise dimodelkan sebagai sekuen Gaussian
maka variansinya menjadi parameter ‘tuning’ dimana penggunan dapat
memodifikasi untuk menggeser titik-titik dimana kompromi terjadi. Artinya pada
satu sisi ekstrim saja informasi seismik digunakan dan pada ekstrim lainnya hanya
digunakan trend impedansi.

Pada contoh pertama, metoda tersebut diuji pada sebuah sintetik sederhana.
Gambar 1 menunjukkan log sonik, deviasi reflektivitas, wavelet fasa nol yang
digunakan untuk membangun sintetik dan sintetiknya itu sendiri. Contoh ini dipakai
pada awalnya karena ia merepresentasikan impedansi ‘bloki’ sehingga memenuhi
asumsi dasar metoda tersebut.
Gambar 1: Parameter-parameter model masukan

Pada Gambar 2 hasil inversi Maximum-Likelihood ditunjukkan. Pada kasus ini, kita telah
mengunakan versi ‘dihaluskan’ kecepatan sonik untuk memberikan kontrol . komparasi visual
akan menunjukkan bahwa profil kecepatan diekstrak berkorelasi dengn sangat baik terhadap
input.

Gambar 2 : Hasil Inversi Maximum Likelihood dari Gambar 1

Inversi Sparse Spike

Dasar teori dekonvolusi maximum-likelihood (MLD) telah dikembangkan oleh


Mendel pada tahun 1984.
Selanjutnya pada tahun 1985 dimodifikasi oleh Hampson dan Russel agar mudah
diterapkan pada data seismik real.

Kesimpulan yang diperoleh dari modifikasi tersebut adalah bahwa metoda MLD
dapat diperluas untuk digunakan dalam reflektivitas sparse.

Model dasar trace seismik didefisikan dengan :

s(t) = w(t) * r(t) + n(t) (1)

dimana s(t) = trace seismik, w(t) = wavelet seismik, r(t) = reflektivitas bumi, n(t)
noise.

Perhatikan bahwa untuk menyelesaikan persamaan (1) harus diketahui tiga anu.

Dengan mengunakan asumsi tertentu permasalahan dekonvolusi dapat


diselesaikan.

Seperti yang kita lihat sebelumnya, metoda rekursif seismik inversi didasarka pada
teknik dekonvolusi klasik, dimana diasumsikan reflektivitas random dan wavelet
fasa minimum atau fasa nol.

Hal ini akan menghasilkan keluaran wavelet dengan frekuensi lebih tinggi, tetapi tak
pernah me-recover deret koefiesien refleksi yang lengkap.

Beberepa teknik dekonvolusi sekarang dapat dikelompokkan kedalam katagori


metoda sparse spike. Dimana diasumsikan model reflektivitas tertentu dan wavelet
yang diestimasi berdasarkan asumsi model tersebut.

Teknik-teknik tersebut meliputi :

(1) Inversi dan dekonvolusi maximum-likelihood.

(2) Inversi dan dekonvolusi norma L1.

(3) Dekonvolusi entropi minimum (MED)

Dipandang dari segi seismik inversi, metoda sparse spike mempunyai kelebihan
dibandingkan dengan metoda dekonvolusi klasik yaitu pengontrol ekstra yang dapat
digunakan sebagai estimasi full-bandwith reflektivitas.

Kecepatan Gelombang P

Setiap material bumi memiliki kecepatan gelombang P tertentu.


Secara umum, kecepatan gelombang P (seismik refleksi) semakin meningkat
dengan meningkatnya kekompakakan suatu material.
Lihat karakteristik kecepatan gelombang P untuk berbagai material bumi pada
gambar dibawah ini.

[courtesy Grand and West]

Kelly Bushing dll...

KB (Kelly Bushing) adalah


sebuah perangkat pengeboran yang dipasang sebagai konektor antara Kelly dan
Rotary Table (lihat foto dibawah).

KB Elevation adalah ketinggian KB dari permukaan tanah (untuk sumur bor darat)
atau dari permukaan laut (untuk sumur bor laut).

TVD (True Vertical Depth) adalah kedalaman sumur bor secara vertikal dari
permukaan tanah sampai ke TD (Terminal Depth).
MD (Measured Depth) adalah kedalaman sumur bor secara keseluruhan dihitung
dari permukaan tanah. Pada kasus sumur bor vertikal, MD akan sama dengan TVD.
MD tentunya akan sama dengan TD.

TVD dan MD digunakan untuk kasus sumur bor di darat.

A adalah TVDSS (True Vertikal Depth Sub Sea) sama seperti kasus TVD diatas hanya
saja dihitung dari muka air laut (MSL = Mean Sea Level).

B adalah TVDBML (True Vertical Depth Below Mud Line) adalah TVD yang dihitung
dari Sea Floor (ML=Mud Line)

C adalah MDSS (Measured Depth Sub Sea) sama seperti definisi MD diatas hanya
saja dihitung dari MSL.

D adalah MDBML (Measured Depth Below Mud Line) adalah MD dihitung dari ML.

Photo courtesy of AXPC


(American Exploration & Production Council)

Terimakasih kepada Zulfitriadi yang telah memverifikasi artikel ini. Kini Zulfitriadi
sedang menempuh program Master di Department Earth and Planetary Sciences,
Rutgers University, New Jersey, USA.

Ketidakselarasan

Ketidakselarasan adalah permukaan erosi atau non-deposisi yang memisahkan


lapisan yang lebih muda dari yang lebih tua dan menggambarkan suatu rumpang
waktu yang signifikan. Ketidakselarasan digolongkan berdasarkan hubungan
struktur antar batuan yang ditumpangi dan yang menumpangi. Ia menjelaskan
rumpang pada sikuen stratigrafi, yang merekam periode waktu yang tidak
terlukiskan di kolom stratigrafi. Ketidakselarasan juga merekam perubahan penting
pada satu lingkungan, mulai dari proses pengendapan menjadi non-deposisi
dan/atau erosi, yang umumnya menggambarkan satu kejadian tektonik yang
penting. Lihat tipe-tipe ketidakselarasan pada Gambar 1.

Pengenalan dan pemetaan sebuah ketidakselarasan merupakan langkah awal untuk


memahami sejarah geologi suatu cekungan atau provinsi geologi. Ketidakselarasan
diketahui dari singkapan, data sumur, dan data seismik yang digunakan sebagai
batas sikuen pengendapan.

Gambar 1. Tipe – tipe ketidakselarasan

Ketidakselarasan menyudut (angular unconformity)


Ketidakselarasan dimana lapisan yang lebih tua memiliki kemiringan yang berbeda
(umumnya lebih curam) dibandingkan dengan lapisan yang lebih muda. Hubungan
ini merupakan tanda yang paling jelas dari sebuah rumpang, karena ia
mengimplikasikan lapisan yang lebih tua terdeformasi dan terpancung oleh erosi
sebelum lapisan yang lebih muda diendapkan.

Disconformity
Ketidakselarasan dimana lapisan yang berada di bagian atas dan bawah sejajar,
namun terdapat bidang erosi yang memisahkan keduanya (umumnya berbentuk
tidak rata dan tidak teratur).

Paraconformity
Lapisan yang berada di atas dan di bawah bidang ketidakselarasan berhubungan
secara sejajar/paralel dimana tidak terdapat bukti permukaan erosi, namun hanya
bisa diketahui berdasarkan rumpang waktu batuan.

Nonconformity
Ketidakselarasan yang terjadi ketika batuan sedimen menumpang di atas batuan
kristalin (batuan metamof atau batuan beku).

Gambar diatas courtesy www.strata.geol.sc.edu, artikel ini kontribusi dari Hendra Wahyudi,
Teknik Geologi UGM 2003]

Lambda-Rho dan Mu-Rho (LMR)

Lambda-Rho dan Mu-Rho merupakan parameter Lame yang diperoleh dari inversi
AVO (Amplitude Versus Offset) yang berguna untuk mempertajam identifikasi zona
reservoar [Goodway et al., 1997].

Lambda-Rho dan Mu-Rho diturunkan dari persamaan reflektivitas impedansi


gelombang P dan S [Fatti et al., 1994].

Berikut turunan persamaan Fatti untuk Lambda-Rho dan Mu-Rho berikut contoh
lapangannya (click gambar untuk memperbesar).
Gambar diatas menunjukkan
zona gas dengan Lambda-Rho yang rendah (biru) dan Mu-Rho yang tinggi (merah
dan kuning).
Biasanya inversi AVO untuk Lambda-Rho dan Mu-Rho dilakukan pada reservoar
klastik.

Gambar inversi AVO diatas courtesy Satinder Chopra, Core Lab Reservoir
Technologies, Calgary, Canada and Doug Pruden, GEDCO, Calgary, Canada.

Gelombang Love

Gelombang Love adalah gelombang geser (S wave) yang terpolarisasi secara


horizontal (SH). Gelombang Love termasuk kategori gelombang permukaan.

[courtesy of darylscience]

Nama Love diberikan untuk menghormati Augustus Edward Hough Love (1863-
1940), matematikawan kondang asal Oxford. Beliau dianugrahi Adam prize setelah
menemukan model gelombang permukaan jenis ini.

Main Lobe…Side Lode…


Main lobe adalah bagian utama dari sebuah wavelet sedangkan side lobe adalah
bagian samping dari sebuah wavelet.

Di dalam dunia seismik, wavelet yang baik adalah wavelet dengan jumlah side lobe
yang minimal (sekecil mungkin) dan cukup dominan pada bagian main lobe-nya.
Bagian side lobe dapat memberikan efek noise pada rekaman seismik, yakni
munculnya reflektor-reflektor semu.

Gambar dibawah menunjukkan bagian main lobe dan side lobe dari sebuah wavelet
fasa nol.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 7:45 PM

Labels: Miscellaneous

Matrix Toeplitz

Matrix Toeplitz adalah sebuah matrix dengan elemen diagonalnya sama dengan
penurunan dari kiri ke kanan bersifat konstan.
Berikut contohnya:

Matrix ini dinamakan Toeplitz untuk menghormati Otto Toeplitz, Profesor Matematika
yang dilahirkan di Jerman tahun 1881.

Otto Toeplitz diusir oleh Nazi karena dia seorang


Yahudi dan wafat di Israel.

Foto disamping adalah Otto Toeplitz, courtesy The MacTutor History of Mathematics
Archive.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 6:15 AM

Labels: Matematika Seismik

Metoda Norma L1

Metoda Norma L1 adalah metoda inversi refkursif dengan menggunakan asumsi


‘sparse spike’. Teori dasar metoda ini dikemukakan oleh Oldenburg dkk pada tahun
1983, pada bagian awalnya didiskusikan model konvolusional bebas noise sbb :

[Persamaan (1)]
dimana x(t) = jejak seismik, w(t) = wavelet, r(t) = reflektivitas.
Oldenburg dkk menunjukkan bahwa jika dekonvolusi resolusi tinggi dilakukan pada trace
seismik, estimasi reflektivitas dapat dianggap sebagai nilai rata-rata dari reflektivitas asal, seperti
ditunjukkan pada Gambar 1, refelektivitas rata-rata ini tidak mengandung komponen frekuensi
rendah dan tinggi dan hanya akurat pada spektrum bandlimited.

Gambar 1 : Uji sintetik inversi norma L1 (a) input impedansi , (b) input reflektivitas
(c) spektrum dari b, (d) trace frekuensi rendah (e) dekonvolusi dari d, (f) spektrum
dari d, (g) estimasi impedansi dari norma L1, (h) reflektivitas estimasi, (i) spektrum
dari h

Meskipun terdapat cara yang tidak terbatas dimana komponen frekuensi yang
hilang dapat ditambahkan, Oldenburg menunjukkan bahwa ketidakunikan ini dapat
dikurangi dengan mensuplai informasi uyang lebih pada permasalahan terkait.
Seperti pada model geologi berlapis :

[Persamaan (2)]

dimana δ = 0 jika t = τj dan δ = 1 jika t ≠ τj

Secara matematis, persamaan diatas dapat dianggap sebagai pengontrol pada


masalah inversi. Sekarang model bumi berlapis identik dengan fungsi impedansi
bloki, yang kemudian akan identik dengan fungsi reflektivitas ‘sparse spike’ .
pegontrol diatas kemudian akan membatasi hasil inversi menjadi suatu struktur
yang sparse .

Beberapa peneliti lainnya, seperti Claerbuur dan Muir (1973) dan Taylor et al. (1979)
beranggapan bahwa Norma L1 adalah solusi dari proses dekonvolusi.

Hasil algoritma mereka dijunkukkan pada bagian bawah Gambar 1. Implementasi


aktual algoritma L1 pada adat seismik real dilakukan oleh Inversion Theory and
Application (ITA). Algoritma metoda invesi pemorgraman linear ditunjukkan pada
Gambar 2.

Gambar 2 : Algoritma Metoda Norma L1

Metoda Smith Gidlow


Smith dan Gidlow menyusun kembali persamaan Aproksimasi Aki, Richards dan
Fasier menjadi :

[Persamaan (1)]

Selanjutnya, untuk menghilangkan kebergantungan terhadap densitas, dengan


menggunakan Persamaan Gardner :

[Persamaan (2)]

yang dapat diturunkan menjadi :

[Persamaan (3)]

Dengan mensubstitutsikan persamaan (3) ke persamaan (1), kita dapat


mengekspresikan kembali Persamaan Aki & Richard sebagai berikut :

[Persamaan (4)]
Dimana

[Persamaan (5)]

Selanjutnya Aki & Richard mendefinisikan ‘pseudo poisson’s ratio’ dengan


persamaan berikut :

[Persamaan (6)]

Menurut Castagna, kecepatan gelombang P sebagai fungsi dari gelombang S :

[Persamaan (7)]

Jika persamaan (7) diturunkan maka diperoleh :

[Persamaan (8)]

Persamaan (8) dapat ditulis ulang menjadi :

[Persamaan (9)]

Persamaan (9) sesuai untuk kasus ‘wet non-productive reservoir’, untuk


menganalisis anomali reservoir, kita dapat mendefinisikan ‘fluid factor’ error dari
persamaan tersebut :

[Persamaan (10)]

Dengan kata lain, jika ΔF=0 maka reservoir adalah tidak prospektif tetapi jika ΔF >0
maka reservoir adalah prospektif.

Migrasi

Proses migrasi dilakukan pada data seismik dengan tujuan untuk mengembalikan
reflektor miring ke posisi 'aslinya' serta untuk menghilangkan efek difraksi akibat
sesar, kubah garam, pembajian, dll.
Terdapat beberapa macam migrasi: Kirchhoff migration, Finite Difference migration,
Frequency-Wavenumber migration dan Frequency-Space migration [Yilmaz, 1987].

Fasa Nol, Minimum, Maksimum

Sebuah wavelet memiliki panjang yang terbatas dengan fasa tertentu. Didalam
istilah eksplorasi seismik, fasa sebuah wavelet dikenal sebagai:fasa minimum, fasa
nol dan fasa maksimum.

Sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di atas,


fasa minimum dicirikan jika sebagian besar energi amplitudo wavelet berada
diawal, fasa nol dengan simetris di tengah-tengah dan fasa maksimum diakhir
wavelet.

Untuk mengubah fasa diatas dilakukan pendekatan matematis sbb:


Posted by Agus Abdullah, PhD at 7:53 AM

Labels: Miscellaneous

Mis tie

Mis tie adalah ketidakcocokan antara lintasan seismik yang berpotongan satu sama
lain. Ketidakcocokan tersebut dapat berupa perbedaan vintage seismik seperti fasa
wavelet, amplitudo, waktu, dll. Untuk mengantisipasi hal ini dapat dilakukan proses
pengubahan fasa, pergesaran waktu (time shifting), gaining, dll.
Berikut contoh mistie akibat pergesaran waktu (time shifting) dan perbedaan
amplitudo:
Fenomena mis tie banyak
terjadi pada interpretasi seismik 2 dimensi. Kalau kita tidak peduli dengan mis tie,
maka ketika kita memplot kontur horizon tertentu maka kontur tersebut akan
menghasikan artifak yang menyesatkan.

Multi Azimuth Seismic

Adalah metoda pengambilan data seismik 3D dengan arah penembakan (shooting)


dari berbagai arah (azimuth).

Dibandingkan dengan survey seismik 3D ‘konvensional’, survey seismik multi


azimuth memiliki keunggulan seperti meningkatkan resolusi, ketajaman dan
meningkatnya rasio sinyal terhadap noise (SNR). Hal positif ini muncul sebagai buah
dari meningkatnya jumlah ‘fold’ dan iluminasi.

Berikut prinsip pengambilan data seismik 3D multi azimuth:


Gambar di bawah ini menunjukkan
perbandingan rekaman seismik ‘konvensional (kiri) dan multi azimuth (kanan).
Apakah anda melihat perbedaan yang cukup signifikan?

Gambar diatas courtesy


Barley B. and Summers T., BP Exploration, The Leading Edge 2007

MTM (Multi Taper Method)

MTM adalah salah satu metoda spektral untuk mengkonversi kawasan waktu
sebuah gelombang menjadi kawasan frekuensi. MTM memberikan prediksi frekuensi
yang lebih bagus yakni menghindari ’kebocoran’ spektral dibandingkan dengan
metoda spectral konvensional (baca: Fast Fourier Transform taper tunggal (single
taper FFT)).

Didalam FFT konvensional mungkin anda menggunakan taper tunggal dari jenis
Hanning, Hamming, Box Car, dll. Sedangkan didalam MTM digunakan beberapa
taper orthonormal yakni sekuen prolate spheroidal diskrit (discrete prolate
spheroidal sequences) atau taper Slepian.

Algoritma MTM ditunjukkan pada lampiran berikut ini:


Gambar dibawah menujukkan
discrete prolate spheroidal sequences untuk 5 orde terendah.

Persamaan C.1 diatas


‘berbunyi’ sebagai berikut: bila kita memiliki gelombang dengan window tertentu
katakanlah 100 mili detik, gelombang tersebut dikalikan dengan taper orde 0 (taper
warna biru pada gambar C.1) lalu dihitung FFTnya. Kemudian gelombang asal tadi
dikalikan dengan taper oder 1 (taper warna hijau pada gambar C.1) lalu dihitung
FFTnya, dst. sampai selesai (orde 4-warna pink) Kemudian dicari nilai rata-rata dari
semuanya. Nah hasil rata-rata ini adalah spektral dengan metoda MTM.

Persamaan dan gambar diatas courtesy: Agus Abdullah, 2007, PhD Thesis,
Research School of Earth Sciences, Australian National University.

Multiple
Multiple adalah pengulangan refleksi akibat ’terperangkapnya’ gelombang seismik
dalam air laut atau terperangkap dalam lapisan batuan lunak.

Terdapat beberapa macam multiple: (a) water-bottom multiple, (b) peg-leg multiple
dan (c) intra-bed multiple.

Perhatikan model di bawah ini:

Didalam rekaman seismik,


masing-masing multiple akan menunjukkan ‘morfologi’ reflektor yang sama dengan
reflektor primernya akan tetapi waktunya berbeda.

Untuk model water bottom multiple (model a) katakanlah kita memiliki waktu
tempuh sea bottom sebesar 500ms maka multiplenya akan muncul 500 x 2 =
1000ms. Jika gelombang tersebut terperangkap tiga kali maka multiple water
bottom berikutnya akan muncul pada 500 x 3 = 1500ms, dst.

Untuk model peg leg multiple (model b), multiple akan muncul pada waktu tempuh
gelombang refleksi primer (top gamping) ditambah waktu tempuh sea bottom.

Untuk model intra bed multiple, multiple akan muncul pada waktu tempuh
gelombang primer top gamping ditambah waktu tempuh dalam shale (tambah
sedikit lah…)

Gambar dibawah adalah rekaman seismik yang menunjukkan fenomena multiple.


Perhatikan terdapat 4 multiple akibat dasar laut, berarti gelombang seismik
tersebut ‘terperangkap’ empat kali!
Posted by Agus Abdullah, PhD at 12:15 AM

Labels: Miscellaneous

Near Offset... Far Offset...

Near Offset adalah tras-tras seismik yang terdekat dengan sumber getar sedangkan
Far Offset adalah tras-tras yang terjauh. Lihat gambar dibawah ini:

Jika tras-tras seismik tersebut di NMO (Normal Move Out) selanjutnya di stack maka
akan diperoleh near offset stack dan far offset stack.
Perbedaan amplitudo seismik near offset dan far offset seringkali digunakan di
dalam studi AVO (Amplitude Versus Offset).

Gambar diatas adalah contoh tras-tras seismik dari satu shot pada akuisisi laut.
Tras-tras near offset terlihat lebih ’noisy’ dibanding tras-tras far offset. Efek noise
pada near offset diakibatkan oleh ambient noise seperti: baling-baling kapal, deru
mesin, gelombang laut, dll.

NMO (Normal Move Out)

NMO adalah perbedaan antara TWT (Two Way Time) pada offset tertentu dengan
TWT pada zero offset.
Koreksi NMO dilakukan untuk menghilangkan efek jarak (ingat penampang seismic
yang anda interpretasi adalah offset nol (zero offset)).
Untuk model perlapisan horizontal, Koreksi NMO dirumuskan sbb:

Didalam melakukan koreksi NMO, pemilihan model kecepatan (Vrms maupun


Vstack) merupakan hal yang sangat penting.
Gambar berikut menunjukkan efek pemilihan model kecepatan: (a) sebelum koreksi
NMO (b) model kecepatan yang tepat (c) kecepatan terlalu rendah (d) kecepatan
terlalu tinggi.
Koreksi NMO akan
menghasilkan efek 'stretching' yaitu penurunan frekuensi gelombang seismik. Oleh
karena itu langkah 'muting' dilakukan untuk menghilangkan efek ini.

[Gambar diatas courtesy


Yilmaz, 1987]

Noise dan Data

Noise adalah gelombang yang tidak dikehendaki dalam sebuah rekaman seismik
sedangkan data adalah gelombang yang dikehendaki. Dalam seismik refleksi,
gelombang refleksilah yang dikehendaki sedangkan yang lainya diupayakan untuk
diminimalisir.
Gambar diatas menunjukkan sebuah rekaman dengan data gelombang refleksi dan
noise (gelombang permukaan / ground roll) dan gelombang langsung (direct wave).
Noise terbagi menjadi dua kelompok: noise koheren (coherent noise) dan noise acak
ambient (random ambient noise).

Contoh noise keheren: ground roll (dicirikan dengan amplitudo yang kuat dan
frekuensi rendah), guided waves atau gelombang langsung (frekuensi cukup tinggi
dan datang lebih awal), noise kabel, tegangan listrik (power line noise: frekuensi
tunggal, mudah direduksi dengan notch filter), multiple (adalah refleksi sekunder
akibat gelombang yang terperangkap). Sedangkan noise acak diantaranya:
gelombang laut, angin, kendaraan yang lewat saat rekaman, dll.

Gambar diatas diambil dari Kennett [1983] dengan beberapa modifikasi.

Foto diatas adalah Prof. B.L.N.


Kennett (sebelah kanan), bintang seismologi kaliber dunia. Sekarang [2007]
menjabat sebagai direktur Research School of Earth Sciences, Australian National
University. Sudah puluhan doktor 'dicetaknya' termasuk pemilik blog ini (disamping
kiri) ...ha..ha...

Non Zero Apex

Adalah fenomena pada CDP (Common Depth Point) gather dengan puncak parabola
(apex) tidak pada posisi offset sama dengan nol (non zero).

Berikut contohnya:
Non zero apex dapat terjadi pada akuisisi seismik 2D dimana jejak sinar seismik
(ray path) tidak lurus atau tidak ‘menghantam’ depth point akan tetapi malah
menghantam litologi di sampingnya. Adanya penyimpangan ray path tersebut
diakibatkan oleh prinsip Fermat.

Gambar diatas courtesy Kansas Geological Survey

Frekuensi Nyquist

Adalah frekuensi tertinggi yang dimiliki oleh gelombang seismik.


Secara matematis Frekuensi Nyquist dituliskan sbb:

FN=1/(2 x interval sampling)

Sehingga jika interval sampling 0.0025 mili detik (2.5 detik) , maka Frekuensi
Nyquist adalah 200Hz.

Gelombang Kompresi ( P wave)

Jika bumi yang 'tenang' diberikan gangguan, misalnya diganggu dengan


diledakannya sebuah dinamit, maka partikel-partikel material bumi tersebut akan
bergerak dalam berbagai arah. Fenomena pergerakan partikel material bumi ini
disebut dengan gelombang.

Jika pergerakan partikel tersebut sejajar dengan arah penjalaran gelombang, maka
disebut dengan gelombang kompresi (gelombang primer atau primary wave atau
gelombang P).
Gambar dibawah menunjukkan karakter material sebelum diganggu dan karakter
gelombang P.

[courtesy of darylscience]

Rekaman seismik refleksi suatu eksplorasi migas merupakan rekaman gelombang P


yang menjalar dari sumber (dinamit, vibroseis, dll.) ke penerima (geophone).

Gelombang P menjalar dengan kecepatan tertentu. Jika melewati material yang


bersifat kompak atau keras misalnya dolomit maka kecepatan gelombang P akan
lebih tinggi dibanding jika melewati material yang 'lunak' seperti batulempung.

Sebagai fungsi dari modulus bulk(k) , modulus geser (u), dan densitas (r),
kecepatan gelombang P (Vp) adalah:

Vp=[(k+4/3u)/r]^0.5.

Perigram

Perigram adalah envelope amplitudo (Kuat Refleksi) dengan menghilangkan kembali


komponen dc (lihat gambar).

Komponen frekuensi rendah pada Kuat Refleksi dihitung sebagai berikut :

[Persamaan (1)]

Selanjutnya komponen frekuensi rendah, B(t) dikurangi dari Kuat Refleksi, A(t),
untuk memperoleh Perigram, g(t) :

[Persamaan (2)]
Perigram sebagai envelope amplitudo (Kuat Refleksi) dengan menghilangkan
komponen dc (sumber : Landmark,1996).

Pada dasarnya Perigram mempunyai kegunaan yang sama dengan Kuat Refleksi,
tetapi Perigram memiliki nilai positif dan negatif sehingga dapat dianalisis dengan
peta warna standar dan dapat digunakan untuk penggabungan jejak seismik atau
peningkatan kualitas data.

Sedangkan Kuat Refleksi hanya mempunyai komponen positifnya saja, sehingga


tidak cocok untuk beberapa macam analisis dan prosesing.

Perigram X Cosinus Fasa

Hasil perkalian antara Perigram dan Cosinus Fasa menghasilkan atribut lain yang
berguna (Shtivelman et al, op.cit. Landmark, 1996).
Jejak seismik real didefinisikan sebagai perkalian amplitudo dan fasa:

[Persamaan (1)]

Dengan kata lain, jejak real f(t), sama dengan Kuat Refleksi A(t), dikalikan dengan
cosinus fasa, cos q(t).Perigram didefinisikan oleh :

[Persamaan (2)]

Hasil perkalian Perigram dan Cosinus Fasa didefinisikan sebagai :

[Persamaan (3) dan (4)]

Dengan menggabungkan dengan definisi sebelumnya, kita peroleh :

[Persamaan (5) dan (6)]

dan,

[Persamaan (7)]

Dengan kata lain, walaupun Perigram bernilai positif, hasil perkalian Perigram
dengan Cosinus Fasa sama dengan data masukan f(t), dikali dengan jejak skalar,

[Persamaan (8)]

yang berharga kurang dari 1.

Jika Perigram bernilai perigram negatif maka amplitudo bernilai nol.


Perigram X Cosinus Fasa berperan dalam menampilkan zona amplitudo tinggi dan
event-event kontinyu.

‘Bright Spot’ yang berasosiasi dengan gas sand, misalnya, akan terlihat secara jelas
secara ketika reflektor energi rendah sekitar tereduksi menjadi nol.

Poisson’s Ratio

Poisson’s Ratio adalah sebuah konstanta elastik yang merepresentasikan sifat fisis
batuan.

Pengertian fisis Poisson’s Ratio dapat dijelaskan dengan contoh sbb:


Bayangkan sebuah sampel batuan yang berbentuk selinder dengan panjang L dan
jari-jari R. Sampel tersebut ditekan dengan gaya berkekuatan F. Karena tekanan
tersebut maka panjang sample akan memendek dan jari-jarinya akan melebar. Jika
perubahan panjangnya adalah dL dan perubahan jari-jarinya adalah dR, maka
besaran Poisson’s Ratio adalah dR/dL.

Poisson’s Ratio dapat dituliskan sebagai fungsi dari kecepatan gelombang kompresi
dan geser:

Berdasarkan hasil uji laboratorium,


setiap batuan memiliki nilai Poisson’s Ratio yang spesifik, misalnya: Sedimen laut
dangkal (Hamilton, 1976) memiliki kisaran Poisson’s Ration antara 0.45-0.50;
Batupasir tersaturasi air garam (Domenico, 1976): 0.41; Batupasir tersaturasi gas
(Domenico, 1976): 0.10

Dari hasill uji lab Domenico (1976) kita melihat bahwa batupasir yang tersaturasi
gas memiliki Poisson’s Ratio 25% lebih rendah dibandingkan batupasir yang
tersaturasi air garam. Adanya kontras Poisson’s Ratio yang tajam pada lapisan
batuan akibat kehadiran gas, seringkali sifat fisis ini digunakan untuk
mendeterminasi zona akumulasi gas.

Gambar dibawah ini menunjukkan hubungan antara besaran Poisson’s Ratio sebagai
fungsi dari prosentase kehadiran gas dalam batuan bersamaan dengan sifat
kecepatan gelombang.
Persamaan diatas diturunkan sbb. (click gambar untuk memperbesar).
Posted by Agus Abdullah, PhD at 6:24 PM

Labels: Sifat Fisis

Polaritas Normal Polaritas 'Reverse'

Saat ini terdapat dua jenis konvesi polaritas: Standar SEG (Society of Exporation
Geophysicist) dan Standar Eropa. Keduanya berkebalikan.

Gambar dibawah ini menunjukkan Polaritas Normal dan Polaritas 'Reverse' untuk
sebuah wavelet fasa nol (zero phase) dan fasa minimum (minimum phase) pada
kasus Koefisien Refleksi atau Reflection Coefficient (KR atau RC) meningkat (RC
positif) yang terjadi pada contoh batas air laut dengan dasar laut/lempung.
Contoh penentuan polaritas
pada data seismik real, seabed ditunjukkan dengan trough (merah), hal ini berarti
polaritas seismik yang digunakan adalah normal SEG.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 6:09 PM

Labels: Interpretasi Seismik

Preserve - Non Preserve Amplitude


Adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan status data seismik, yakni apakah
sudah diterapkan proses Gain atau belum.

Preserve amplitude adalah data ‘original’ sebelum terapkan gain, sedangkan non
preserve adalah data seismik setelah diterapkan gain.

Untuk keperluan interpretasi seismik, pemetaan horizon, sesar, struktur , dll.,


sebaiknya menggunakan data non preserve amplitude, dimana efek kehilangan
energi akibat spherical divergensi telah dihilangkan.

Sedangkan preserve amplitude digunakan untuk berbagai komputasi geofisika


lanjut seperti seismik atribut, seismik inversi, AVO, dll.

Namun, untuk keperluan ‘display’, time-variant gain kadang-kadang diterapkan


pada data yang akan digunakan untuk berbagai komputasi geofisika diatas asalkan
zona targetnya bersifat ‘lateral’.

Prewhitening

Prewhitening adalah pembobotan matrix pada proses deconvolusi (lihat subject


deconvolusi pada blog ini) dengan menambahkan sebuah konstanta dengan
rentang 0 s.d 1 untuk memberikan kestabilan dalam komputasi numerik.

R3M (Remote Resistivity Reservoir Mapping)

Akhir-akhir ini, metodologi R3M semakin populer digunakan untuk mendeteksi


apakah sebuah reservoir mengandung hidrokarbon (HC) atau tidak.

(from Srnka, 2007)

Penggunaan R3M dalam mendeteksi HC berangkat dari pemahaman bahwa


terdapat perbedaan sifat fisika (dalam hal ini adalah RESISTIVITAS) antara reservoir
yang mengandung HC dan tidak (saline brine). Gambar diatas (kanan) menunjukkan
bahwa reservoir yang mengandung HC akan memiliki resistivitas lebih tinggi
daripada reservoir yang tidak megandung HC (mengandung saline brine).

Jika kita melihat tabel diatas (kiri), survey R3M akan memiliki tantangan yang serius
jika kontras resistivitas antara reservoir yang mengandung HC dan yang tidak
mengandung HC
terlalu kecil. Walaupun demikian, kita masih memiliki ‘harapan’ jika kontras
resistivitas tersebut cukup besar.

(modified from Srnka, 2007)

Berdasarkan tabel di atas, frekuensi sinyal R3M berkisar antara ~0.125 sampai
20Hz. Terlihat jelas bahwa R3M memiliki ‘irisan’ dengan frekuensi gelombang
seismik refleksi (i.e. 10 – 120 Hz). Akan tetapi pada prakteknya, kisaran frekuensi
R3M yang digunakan sangat kecil (sekitar 0.125 s.d 2.0Hz).

Teknik pengambilan data R3M serupa dengan teknik pengambilan data seismik 2D
OBC (Ocean Botton Cable). Sumber listrik (Source) ditarik oleh sebuah kapal survey
dengan kecepatan 1-2 knot. Posisi sumber ditempatkan berapa beberapa meter
diatas dasar laut (25-30m), sedangkan penerima (receivers) ditempatkan pada
dasar laut. Perhatikanlah sketsa pengambilan data R3M dan perangkat-
perangkatnya pada gambar dibawah ini:

(from Amundsen, 2006)

(from Rosten et al., emgs)

Gambar dibawah menunjukkan respon data R3M untuk sebuah survey. Pada
Gambar A, titik-titik MERAH menunjukkan respon untuk reservoir yang mengandung
HC dan PUTIH untuk latar belakang saline brine (wet). Sementara gambar (B)
adalah rasio antara kasus HC dan kasus saline brine (wet). Pada gambar B terlihat
jelas bahwa kehadiran HC akan menghasilkan respon peningkatan magnitude lalu
penurunan megnitudo resistivitas sejalan dengan bertambahnya offset.
Gambar A (modified from
Johansen, 2008)

Gambar B (modified from


Johansen, 2008)

Referensi:
Amundsen, et. al, Decomposition of electromagnetic fields into
upgoing and downgoing components, Geophysics, vol 71, no 5, October 2006.

Johansen, S., et al., How EM survey analysis validates current technology,


processing and interpretation methodology, first break vol 26 June 2008.

Rosten, T., et.al, Stat Oil R&D Center, Norsk Hydro R&D Center, Electromagnetic
Geoservices (emgs), Earth and Planetary Exploration Services (EPX).

Srnka, L.J. (ExxonMobil Upstream Research Company, Houston, TX), EGM 2007
International Workshop, Innovation in EM, Grav and Mag Methods: a new
Perspective for Exploration
Capri, Italy, April 15 – 18, 2007.
Kuat Refleksi (Reflection Strength)

Kuat refleksi didefinisikan sebagai envelop dari jejak seismik (lihat gambar). Untuk
masing-masing sampel waktu, Kuat Refleksi dirumuskan sebagai :

Sehingga kuat refleksi selalu


bernilai positif dan selalu mempunyai magnitudo yang sama dengan jejak seismik
real.

Jejak Kuat Refleksi (b) sebagai envelop amplitudo dari jejak Reflektivitas (a)

Kuat Refleksi memberikan informasi mengenai kontras Impedansi Akustik.

Perubahan lateral pada Kuat Refleksi sering berasosiasi dengan perubahan litologi
secara umum dan berasosiasi dengan akumulasi hidrokarbon.

Reservoir gas secara khusus, sering muncul sebagai refleksi amplitudo tinggi atau
lebih dikenal dengan ‘bright spot’. Perubahan tajam pada Kuat Refleksi bisa
berasosiasi dengan struktur patahan atau zona pengendapan misalnya channels.

Kuat Refleksi juga berguna untuk identifikasi perlapisan batuan dan membantu
untuk mendeskripsi satu reflektor masif seperti ketidakselarasan dari kelompok
komposit reflektor.

Gambar diatas courtesy: Agus Abdullah, 2001, Identifikasi sealing rock dan DHI
(Direct Hydrocarbon Indicator) berdasarkan studi Atribut Seismik, Impedansi
Akustik dan AVO (Amplitude versus Offset) (Studi Kasus), Program Studi Geofisika
Terapan, Program Pascasarjana., Institut Teknologi Bandung.

Reflektivitas (Reflectivity)
Reflektivitas adalah kontras Impedansi Akustik (IA) pada batas lapisan batuan
sediment yang satu dengan batuan sediment yang lain. Besar-kecilnya nilai
reflektivitas selain tergantung pada Impedansi Akustik, juga tergantung pada sudut
datang gelombang atau jarak sumber-penerima. Di dalam seismik refleksi,
reflektivitas biasanya ditampilkan pada jarak sumber-penerima sama dengan nol
(zero offset) sehingga dapat diformulasikan sbb:

Reflektivitas berbanding lurus dengan amplitudo gelombang


seismik refleksi. Jika reflektivitas semakin tinggi, maka amplitudo-nya pun semakin
tinggi pula.

Gambar dibawah ini menunjukkan hubunganreflektivitas, amplitudo dan impedansi


akustik.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 2:51 PM

Labels: Miscellaneous

Resolusi Seismik

Resolusi seismik adalah kemampuan untuk memisahkan dua reflektor yang


berdekatan.

Didalam dunia seismik, resolusi terbagi dua: resolusi vertikal (temporal) dan lateral
(spasial).

Resolusi vertikal didefinisikan dengan ¼ panjang gelombang seismik (λ), dimana


= v/ f dengan v adalah kecepatan gelombang seismik (kompresi) dan f adalah
λ

frekuensi.
Frekuensi dominan gelombang seismik bervariasi antara 50 and 20 Hz dan semakin
berkurang terhadap kedalaman.

Tabel dibawah ini menunjukkan contoh hubungan antara v , f dan λ:

Dari tabel diatas kita melihat bahwa untuk anomali dangkal dengan kecepatan
gelombang seismik 2500 m/s dan frekuensi 50Hz diperoleh resolusi vertikal 12.5
meter, artinya batas minimal ketebalan lapisan (ketebalan tuning / tuning
thickness) yang mampu dilihat oleh gelombang seismik adalah 12.5 meter.

Widess[1973] dalam papernya 'How thin is a thin bed', Geophysics, mengusulkan


1/8λ sebagai batas minimal resolusi vertikal. Akan tetapi dengan
mempertimbangkan kehadiran noise dan efek pelebaran wavelet terhadap
kedalaman maka batas minimal resolusi vertikal yang dipakai adalah 1/4λ.

Resolusi lateral dikenal dengan zona Fresnel (r) dengan:

Dengan t adalah waktu tempuh gelombang seismik (TWT/2).

Untuk anomali dalam dengan waktu tempuh 4s, v 5500 m/s dan f 20 Hz, batas
minimal lebar anomali yang mampu dilihat oleh gelombang seismik adalah 1229.8
meter.

Rich Azimuth (RAZ) Seismic

Adalah metoda pengambilan data seismik 3 dimensi (3-D) yang merupakan kombinasi antara
seismik multi-azimuth (MAZ) dan wide azimuth (WAZ) (lihat entry mengenai seismik multi-
azimuth dan wide azimuth pada blog ini). Tujuan dari pengambilan data dengan metoda ini
adalah untuk membuat distribusi offset-azimuth yang merata ke semua arah. Hal ini dijelaskan
pada gambar di bawah ini:
Gambar di atas menunjukkan konsep rich azimuth survey, yang digambarkan sebagai
MAZ + WAZ = RAZ. Panel atas menggambarkan diagram rose dari distribusi offset-
azimuth.

Warna panas (merah) menunjukkan jumlah fold yang tinggi dan warna dingin (biru)
menunjukkan jumlah fold yang rendah. Panel bawah menunjukkan posisi kapal (bintik
hitam) dan kabel perekam (garis hijau) untuk masing-masing survey.

Panel kiri menunjukkan distribusi offset-azimuth untuk survey MAZ, dengan azimuth 3
arah, tetapi tiap arah memiliki azimuth yang sempit. Panel tengah menunjukkan
distribusi offset-azimuth untuk survey WAZ, dengan azimuth yang cukup lebar, tetapi
hanya ke satu arah.

Panel kanan menunjukkan distribusi offset-azimuth untuk survey RAZ, dengan azimuth
yang lebar dan memiliki distribusi ke 3 arah.

Gambar di atas courtesy Howard, M, Marine seismic surveys with enhanced azimuth
coverage: Lessons in survey design and acquisition, The Leading Edge, April 2007.

Artikel ini kontribusi Befriko Murdianto , Chevron Indonesia Company

Kecepatan RMS (Root Mean Square)

Perhatikan model bumi yang tersusun atas beberapa interval perlapisan batuan
yang horizontal. Setiap lapisan memiliki kecepatan gelombang seismik tertentu.
Setiap lapisan memiliki kecepatan interval (V1, V2, V3,...,Vn), n adalah jumlah
lapisan.
Sehingga kecepatan RMS sampai titik tertentu pada lapisan ke-n adalah:

Posted by Agus Abdullah, PhD at 9:30 PM

Labels: Pengolahan Data Seismik

Analisis Fisika Batuan (Rock Physics Analysis)

Untuk memahami karakter dan sifat fisis batuan dan fluida diperlukan sebuah
analisis fisika batuan (rock physics analysis). Dengan tujuan utamanya adalah
mencari suatu sifat fisis yang dapat memisahkan antara zona prospek dengan zona
yang tidak prospek.

Sifat-sifat fisis yang dimaksud diantaranya: kecepatan gelombang seismik P (Vp), kecepatan
gelombang seismik S (Vs), Poisson’s Ratio, Impedansi Akustik, Lambda-Rho, Mu-Rho, dll.

Gambar dibawah adalah contoh analisis fisika batuan untuk memisahkan non-pay, gas-pay, wet-
shally, dll. (click gambar untuk memperbesar)

Data yang ditampilkan dalam plot diatas biasanya diperoleh dari data sumur atau data hasil
inversi seismik.
Plot diatas sangat berguna diantaranya untuk konversi sebuah peta sifat fisis ke peta sifat fisis
yang lainnya.

Courtesy Chopra, CSEG, 2006

Seismik Inversi

Seismik inversi adalah proses pemodelan geofisika yang dilakukan untuk


memprediksi informasi sifat fisis bumi berdasarkan informasi rekaman seismik yang
diperoleh.

Upaya inversi merupakan kebalikan (inverse) dari upaya pengambilan data seismik
(forward modeling).

Sebagaimana yang kita ketahui forward modeling adalah operasi konvolusi antara
wavelet sumber dengan kontras impedansi akustik bumi (koefisien refleksi).

Proses inversi merupakan proses 'pembagian' rekaman seismik terhadap wavelet


sumber yang diprediksi.

Berdasarkan gambar diatas kita melihat bahwa secara


bebas dapat dikatakan bahwa impedansi akustik (hasil inversi) merepresentasikan
sifat fisis 'internal' batuan sedangkan rekaman seismik merepresentasikan 'batas
batuan'. (Sebenarnya bagi ahli geofisika, sifat fisis internal pun dapat Sehingga hasil inversi dapat digunakan untuk menginterpretasi perubahan fasies dalam suatu horizon geologi.

'dilihat' berdasarlam karakter amplitudo atau frekuensi rekaman seismiknya, anda


setuju?).

Pemilihan 'wavelet yang diprediksi' pada proses inversi merupakan prosedur yang
sangat penting, anda harus yakin betul bahwa sifat 'wavelet yang diprediksi'
mencerminkan horizon yang menjadi target anda. Caranya ? diantaranya dengan
mengekstrak wavelet pada horizon yang menjadi target inversi. Inipun tidak ada
jaminan...karena sifat wavelet yang tergantung terhadap fasa dan attenuasi.
Dikarenakan bandwith frekuensi gelombang seism ik terbatas (band limited), maka kontribusi impedansi akustik (IA) dari komponen frekuensi rendah diperlukan. Secara praktis, komponen frekuensi rendah ini diperoleh dari informasi sumur (well) dan ditambahkan untuk mendapatkan impedansi akustik absolut.

IA absolut = IA seism ik (band limited: 10-70Hz) + IA sumur (frekuensi rendah: <10hz).> 8200. Dengan logika ini kita dapat menampilkan IA dengan nilai > 8200 untuk m elihat karakter penyebaran batu pasir tersebut (lihat gambar di bawah ini).

Gambar di bawah merupakan penampang IA (slice). Perhatikan interpretasi batupasir dalam 'channeling system' berdasarkan kontras IA.

Gambar data real dan 'hasil inversi' diatas adalah courtesy Ashley Francis,
Earthworks Environment & Resources Ltd. - U.K
Rekaman Seismik (Seismic Record)

Rekaman seismik dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari tras seismik. Jika
ditampilkan dalam penampang dua dimensi, ke arah lateral mencerminkan jarak
atau lokasi dan ke arah vertical mencerminkan waktu (two way travel time/ TWT)
atau kedalam (apabila telah di migrasi kedalaman / depth migration). Contoh
rekaman seismik ditunjukkan pada gambar di bawah ini dengan batas antara
lapisan-lapisan batuan diinterpretasi sebagai puncak maupun palung amplitudo-
nya.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 2:45 PM

Labels: Miscellaneous

Seismic Reference Datum (SRD)

Adalah level maya yang menunjukkan rekaman seismik berada pada waktu tempuh
nol.
Pada data seismik laut, SRD biasanya didefinisikan dengan muka air lautnya itu
sendiri (Mean Sea Level). Pada data seismik darat, SRD adalah level acuan semu
pada koreksi statik sehingga trace-trace seismik mencerminkan kontinuitas
reflektor.

Gambar di bawah ini menunjukkan datum atau SRD dalam sebuah koreksi statik.
A,B,C adalah trace-trace seismik yang terekam pada posisi A, B, C sebelum koreksi
statik. Sedangkan A’, B’, C’ adalah trace-trace seismik setelah koreksi statik dengan
acuan level datum (SRD) garis putus-putus merah.
Pada gambar diatas terlihat bahwa:
A’ memiliki nilai koreksi nol.
B’ adalah B + waktu tempuh b (waktu tempuh b = (kedalaman b / Velocity 1)x2)
C’adalah C- waktu tempuh c (waktu tempuh c = (kedalaman c / Velocity 1)x2)

Tras Seismik (seismic trace)

Tras seismik adalah data seismik yang terekam oleh satu perekam (geophone).
Tras seismik mencerminkan respon dari medan gelombang elastik terhadap
kontras impedansi akustik (reflektivitas) pada batas lapisan batuan sediment
yang satu dengan batuan sediment yang lain.

Secara matematika, tras seismik merupakan konvolusi antara wavelet sumber


gelombang dengan reflektivitas bumi, sehingga:

Tras seismik =wavelet sumber gelombang * reflektivitas

Secara grafis ditunjukkan pada gambar di bawah ini:


Posted by Agus Abdullah, PhD at 2:42 PM

Labels: Miscellaneous

Kecepatan

Didalam seismologi terdapat beberapa macam kecepatan, diantaranya: kecepatan


interval (interval velocity), kecepatan sesaat ( instantaneous velocity), kecepatan
semu (apparent velocity), kecepatan rms (rms velocity), kecepatan rata-rata
(average velocity), kecepatan tengah (mean velocity), kecepatan stack (stacking
velocity), kecepatan horisontal (horizontal velocity), kecepatan vertikal (vertical
velocity), kecapatan fasa (phase velocity), kecepatan grup (group velocity),
kecepatan gelombang P (P-wave velocity), kecapatan gelombang S (S-wave
velocity), kecepatan migrasi (migration velocity), kecepatan lapisan lapuk
(weathering velocity), dll.

Jenis-jenis kecapatan diatas dibagi menjadi dua: kecepatan fisis (physical velocities)
dan kecepatan pengukuran (velocity measures.).

Kecepatan fisis adalah kecepatan aktual perambatan gelombang, contoh:


instantaneous velocity, P- danS-wave velocities, phase dan group velocity.

Sedangkan kecepatan pengukuran diturunkan dari analisa data seismik yang


memprediksi kecepatan fisis, diantaranya: average, mean, dan rms velocities,
interval velocity, stacking velocity, apparent velocity, dan migration velocity.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 2:47 AM


Labels: Miscellaneous

Seismik Multicomponent (Multicomponent Seismic)

Akuisisi data seismik konvensional baik 2D, 3D maupun 4D hanyalah menggunakan


geophone 1 komponen. Komponen tersebut adalah komponen vertikal yang hanya
didesain untuk merekam gelombang kompresi (gelombang P). Sedangkan geophone
yang digunakan dalam seismik multikomponen, baik 3C (three component) maupun
4C (four component) selain memiliki komponen vertikal, juga memiliki komponen
horizontal yang didesain untuk merekam gelombang geser (shear wave /
gelombang S).

Geophone 3 komponen mengukur pergerakan partikel secara vertikal (atas-bawah)


dan dua arah horizontal (timur-barat dan utara-selatan). Komponen timur-barat
disebut ’EW’ dan komponen utara selatan disebut ’NS’. Berikut ilustrasinya:

Komponen geophone vertikal (warna


hijau) memiliki kemampuan mencatat gelombang P lebih baik dibanding gelombang
S, sedangkan komponen horizontal (warna merah dan biru) akan merekam
gelombang S lebih baik dibanding merekam gelombang P (mengapa? lihat definisi
gelombang P dan S dalam blog ini).

Gelombang S itu sendiri merupakan gelombang yang terkonversi dari gelombang P


akibat menghantam reflektor, selanjutnya disebut dengan (PS), sementara
gelombang P yang terefleksikan disebut dengan (PP) , lihat gambar dibawah ini:
Courtesy Western Geco -
Schlumberger

Didalam prakteknya, kedua komponen gelombang yang terekam secara horizontal


tersebut akan dikalkulasi lebih lanjut sehingga diperoleh komponen gelombang
yang lain yaitu gelombang SH (Tangensial) dan SV (Radial), melalui persamaan:

SV=(NS cos θ)+(EW sin θ) 1)


SH=(-NS sin θ)+(EW cos θ) 2)

θ merupakan azimuth, yakni sudut yang dibentuk oleh proyeksi horizontal sumber
penerima terhadap arah utara.

Dikarenakan kecepatan gelombang P lebih tinggi (~2 kali) daripada gelombang S,


maka waktu tempuh nya pun berbeda.
Gambar sebelah kiri adalah
rekaman PP dan kanan adalah rekaman PS, perhatikan TWT PS sekitar 2X TWT PP.
Courtesy: Lawton, Don C, et al., 2001, Multicomponent survey at Calgary
AirportCREWES Research Report — Volume 13

Didalam akuisisi seismik, untuk menempatkan geophone multicomponent sangatlah


susah, menurut laporan CREWES, untuk crew yang sangat berpengalamanpun error
azimuth dapat mencapai 10 derajat.

Didalam industri, aplikasi Multicomponen geophone atau Multicomponent seismic


memiliki kelebihan yang tidak bisa diberikan oleh geophone komponen tunggal.
Kelebihan itu diantaranya memberikan prediksi gas cloud, Lambda Mu Rho, analisis
Vp/Vs, shear wave splitting untuk mendelineasi orientasi fracture/anisotropy, dll.

Persamaan 1 dan 2 diatas courtesy: Agus Abdullah, 2007, PhD Thesis, Research
School of Earth Sciences, Australian National University.

Referensi tambahan:
Bland, H.C, Robert R. Stewart, 1996, Geophone orientation, location, and polarity
checking for 3-C seismic surveys, CREWES Research Report — Volume 8.

Semblance, Amplitude Stacking, ...

Perhatikan tras-tras seismik dalam sebuah CDP (Common Depth Point) setelah
koreksi NMO diterapkan.
Asumsikan jumlah tras seismik tersebut adalah n dan amplitudo masing-masing tras
dalam waktu (t) tertentu adalah w. Maka Amplitudo Stacking dan Semblance dapat
dituliskan sbb:
Posted by Agus Abdullah, PhD at 4:18 PM

Labels: Pengolahan Data Seismik

Gelombang Geser (S wave)

Jika bumi yang 'tenang' diberikan gangguan, misalnya diganggu dengan


diledakannya sebuah dinamit, maka partikel-partikel material bumi tersebut akan
bergerak dalam berbagai arah. Fenomena pergerakan partikel material bumi ini
disebut dengan gelombang.

Jika pergerakan partikel tersebut tegaklurus dengan arah penjalaran gelombang,


maka disebut dengan gelombang geser (gelombang sekunder atau secondary wave
atau gelombang S).

Gambar dibawah menunjukkan karakter material sebelum diganggu dan karakter


gelombang S.

[courtesy of darylscience]
Sebagai fungsi dari modulus geser (u), dan densitas (r), kecepatan gelombang S
(Vs) adalah:

Vs=[u/r]^0.5.

Shear Wave Splitting

Shear Wave Splitting merupakan studi untuk menganalisis tingkat anisotropi (lihat
subject anisotropi pada blog ini) dari sebuah medium. Dalam hal ini azimuthal
anisotropy.
Pemisahan (splitting) dari gelombang S tersebut diakibatkan oleh perbedaan waktu
tempuh (delay time atau Δτ) antara dua komponen gelombang S yang saling tegak
lurus satu sama lain.

Ingat, gelombang S memiliki komponen SV dan SH, SV adalah gelombang S yang


bergerak secara vertikal dan SH adalah gelombang S yang bergerak secara
horizontal, berikut ilustrasinya:

Jika gelombang S melewati


sebuah medium homogen isotropis, maka waktu tempuh gelombang SV akan sama
dengan waktu tempuh gelombang SH (lihat persamaan matematika pada subject
seismic multicomponent pada blog ini untuk menurunkan gelombang SH dan SV
dari sebuah survey seismik multicomponent).

Sedangkan jika terdapat perbedaan sifat fisis (contoh: foliasi mineral) maupun
perbedaan karakter struktur medium (contoh: orientasi fracture) ke arah vertikal
maupun ke arah horizontal maka akan menghasilkan waktu tempuh yang berbeda
bagi kedua jenis gelombang tersebut, fenomena perbedaan waktu tempuh tersebut
dikenal dengan shear wave splitting. Berikut ilustrasinya untuk sebuah gelombang S
yang melewati medium dengan fracture vertikal:
Dari gambar diatas terlihat
bahwa sebuah gelombang S yang melewati medium dengan fracture berorientasi
vertikal akan meghasilkan pemisahan komponen SH dan SV dengan SV datang lebih
cepat (lebih awal) dibandingkan SH yang datang lebih lambat. Dengan kata lain
gelombang S yang merambat tegak lurus dengan fracture akan datang lebih lambat
sedangkan gelombang S yang sejajar dengan fracture akan datang lebih cepat. Jika
kita kembangkan lebih lanjut, delay time (Δτ) akan semakin besar jika gelombang S
merambat tegak lurus dengan fracture dan semakin kecil jika merambat sejajar
dengan fracture.

Dengan mempergunakan logika di atas, multi azimuth atau wide azimuth seismic
(lihat kedua subject tersebut pada blog ini) dengan multicomponent geophone
dapat dipergunakan untuk mendeterminasi orientasi fracture.

Dengan menghitung tingkat anisotropi (baca delay time) pada berbagai azimuth
anda akan mendapatkan gambaran orientasi fracture pada zona bersangkutan.
Sehingga pada reservoar dengan porositas sekunder, dalam hal ini porositas akibat
fracture. Studi shear wave splitting dapat membantu untuk menempatkan posisi
sumur bor sedemikian rupa sehingga produksi hidrokarbon lebih optimal.

Sebagai informasi tambahan, tingkat homogenitas medium dapat dijustifikasi oleh


resolusi seismik, sehingga medium dengan derajat keheterogenan lebih kecil dari
resolusi seismik masih dipertimbangkan sebagai medium homogen (Backus, 1962).
Sebagai konsekuensi teori Backus tersebut, anda jangan bermimpi untuk
mendeteksi fracture reservoar yang berada di bawah resolusi seismik.

Slant Stack / Transformasi Radon

Slant Stack atau Transformasi Radon adalah teknik penjumlahan tras-tras seismik
pada sudut tertentu yang ditujukan untuk memperjelas kehadiran reflector miring
dan ditujukan juga untuk meningkatkan rasio signal terhadap noise (SNR-Signal to
Noise ratio).

Terdapat dua tahap didalam melakukan Slant Stack. Pertama, koreksi LMO (Linear
Move Out). LMO adalah proses proyeksi tras-tras pada gerbang CDP (Common Deep
Point) atau CMP (Common Mid Point) dengan sudut tertentu. Sudut yang dimaksud
berkorelasi dengan parameter sinar (p) dan offset (x).

Dengan LMO, kita memperoleh reflektor dengan waktu :

Tahap kedua, setelah LMO dilakukan, tras-tras tersebut


dijumlahkan (stack) sehingga diperoleh Slant Stack.

Dekomposisi Spektral (Spectral Decomposition)

Penampang seismik konvensional yang anda amati merupakan komposit dari


rentang frekuensi gelombang (umumnya 10 s/d 70 Hz, dengan frekuensi dominant
sekitar 30Hz).

Perbedaan penampang pada frekuensi yang berbeda akan menampilkan fitur


geologi yang berbeda pula, karena pada hakikatnya sifat geologi seperti ketebalan,
kandungan fluida (baca: hidrokarbon), dll. hanya akan lebih jelas dilihat pada level
frekuensi yang sesuai.

Metoda dekomposisi spectral digunakan untuk menampilkan penampang seismik


pada
level frekuensi tertentu, katakanlah pada frekuensi 10Hz, 20Hz, 30Hz, dll.

Contoh dibawah ini menunjukkan perbedaan antara penampang waktu seismik


konvensional dengan penampang seismik pada frekuensi 32Hz.

Penampang seismik
‘konvensional’, fluvial channel ditunjukkan dengan panah kuning. Geologi di bagian
baratdaya tidak ditunjukkan dengan baik.
Penampang seismik pada
32Hz, fluvial channel ditunjukkan dengan panah kuning. Channel dibagian barat
daya (panah biru) dapat ditunjukkan dengan lebih baik.

Courtesy Sinha S et al,. ‘Spectral Decomposition of Seismic Data with Continuous


Wavelet Transform’, School of Geology and Geophysics, University of Oklahoma,
Norman, OK 73019 USA, Department of Geosciences,Boise State University, Boise,
ID 83725 USA, ConocoPhillips, Houston, TX 77252 USA

Spike

Secara bahasa spike diterjemahkan sebagai ’paku’. Di dalam terminologi seismik


istilah spike digunakan untuk menjelaskan sifat ’kelangsingan’ dari sebuah wavelet
atau gelombang refleksi.

Ingat bahwa batas perlapisan batuan ditunjukkan oleh bentuk gelombang yang
’gemuk’. Interpreter menginginkan bentuk gelombang tersebut selangsing
mungkin...idealnya seperti paku (spike).

Sifat gelombang yang gemuk tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya:
atenuasi, absorbsi, signature sumber, dll.

Upaya diet yang bisa dilakukan untuk melangsingkan gelombang adalah dengan
cara deconvolusi. Namun hal inipun ada batasannya, mustahil untuk mendapakan
gelombang refleksi atau wavelet berbentuk paku.
Perhatikan gambar dibawah ini:

Posted by Agus Abdullah, PhD at 12:50 AM

Labels: Miscellaneous

Surface Related Multiple Elimination (SRME)

SRME adalah metoda untuk menghilangkan energi multiple yang dihasilkan oleh batas air-udara.
Multiple yang dihasilkan oleh batas air-udara ini kadang-kadang sangat sulit dihilangkan dengan
menggunakan metoda demultipel konvensional seperti Radon atau pun Tau-P (Geotrace).

Walaupun metoda SMRE sudah diperkenalkan oleh Verschuur dan Berkhout sejak tahun 1997,
namun metoda ini baru populer di industri migas sejak tahun 2003-an.

Metoda SRME memiliki tiga tahap utama: pertama, menghilangkan noise non fisis, regulasisasi
data sehingga diperoleh grid sumber-penerima yang konstan, interpolasi near dan intermediate
offset yang hilang, menghilangkan gelombang langsung dan gelombang permukaan. Kedua:
prediksi multiple, prediksi ini didasarkan pada observasi bahwa multiple yang terkait dengan
permukaan dapat diprediksi melalui konvolusi temporal dan spasial dari data itu sendiri
(Berkhout, 1982). Ketiga: data input dikurangi dengan multiple yang terprediksi pada tahap dua
(Long et al., 2005).

Tahapan-tahapan metoda SRME dapat dilihat pada gambar dibawah ini (gambar
courtesy: Long et al., 2005):
Untuk memahami teori SRME
secara mendalam, terdapat sebuah referensi yang cukup bagus yakni Seismic
multiple removal techniques. Past, present and future oleh Eric Verschuur, EAGE
Publications BV.

Gambar dibawah menunjukkan keampuhan metoda SRME dibandingkan dengan metoda


konvensional (Gambar courtesy: Geotrace Technologies, Inc, 2007):

Referensi: Long et al., 2005,


Multiple Removal Success in The Carnarvon Basin with SRME, APPEA Journal

Stacking

Stacking adalah proses menjumlahkan tras-tras seismik dalam satu CDP setelah
koreksi NMO (Normal Move Out).
Proses stacking memberikan keuntungan untuk mengingkatkan rasio signal
terhadap noise (S/N ratio).
Gambar diatas menunjukkan
prinsip koreksi NMO, hiperbola refleksi di-adjust dengan menggunakan model
kecepatan (kecepatan rms atau kecepatan stacking) sehingga berbentuk lapisan
horizontal, selajutnya tras-tras NMO dijumlahkan (stacking).

Koreksi Statik (Static Correction)

Koreksi statik adalah proses pengolahan data seismik untuk menggeser waktu tras
seismik yang bergeser akibar lapisan lapuk di permukaan bumi atau akibat
perbedaan topografi sumber dan penerima atau akibat perbedaan yang ekstrim
pada batimetri dasar laut.

Gambar dibawah menunjukkan penampang seismik refleksi sebelum dan setelah


koreksi statik.

[courtesy Marine Geosciences


Purdue]

Sweep Vibroseis
Adalah gelombang mini atau pulsa yang dihasilkan oleh sumber getar vibroseis.
Sweep berkarakter sinusoidal dengan frekuensi semakin besar terhadap waktu.

Gambar berikut menunjukkan karakter sweep dan contoh pengolahan data seismik
dengan sumber getar vibroseis.

Gambar (a) adalah sweep (b) adalah respon reflektivitas bumi (c) konvolusi antara
(a) dan (b), (d) adalah kros-korelasi antara (a) dan (c).

Perhatikan hasil (d) yang merepresentasikan karakter bumi (b). Menakjubkan bukan
?
Gelombang sweep diatas dihasilkan dengan menggunakan persamaan:
dengan fo=40Hz dan setelah dilakukan taper hanning.

Teori Inversi Rekursif Reflektivitas

Teori Inversi Rekursif Reflektivitas didefinisikan seagai perubahan Impedansi


Akustik:

[Persamaan (1)]

dimana r = koefisien refleksi, ρ = densitas, V = kecepatan gelombang P, Z =


Impedansi Akustik.

Perumusan inversi dari persamaan (1) dapat diturunkan dengan :

[Persamaan (2)]
Persamaan (2) disebut dengan persamaan inversi rekursif diskrit. Permasalahan
utama yang terjadi pada inversi rekursif adalah kehilangan komponen frekuensi
rendah. Untuk mengatasi hal ini, frekuensi rendah dapat terpenuhi dari log sonik
yang telah di filter, analisa kecepatan seismik, dan model geologi.

Posted by Agus Abdullah, PhD at 12:17 AM

Labels: Post Prosesing

Inversi Reflektivitas Lapisan Tipis

Portniaguine dan Castagna [2005] mengusulkan metoda inversi spektral post stack
yang dapat me-recover lapisan-lapisan tipis dibawah ketebalan tuning. Metoda yang
diusulkan dilakukan dengan penekanan pada aspek geologi dibanding aspek
matematis serta dengan memperhatikan aspek kunci pada spektrum frekuensi lokal
yang diperoleh dengan dekomposisi spektral.

Secara komersial metoda ini dikenal dengan ThinMAN™ yang berkerja dengan mengekstrak
refleksi secara detail dengan menghilangkan pengaruh wavelet seismik tanpa menimbulkan
masalah munculnyanoise frekuensi tinggi.

Gambar dibawah menunjukkan perbedaan sebelum (kiri) dan sesudah(kanan) inversi reflektivitas
lapisan tipis. Sonic log ditunjukkan untuk melihat perbandingannya. Menakjubkan? (click
gambar untuk memperbesar)

[courtesy Chopra et al., CSEG, 2006]


Bacaan lebih lanjut:

Castagna, J.P., S.Sun and R.W. Siegfried, 2003, Instantaneous spectral analysis:
Detection of low-frequency shadows associated with hydrocarbons, The Leading
Edge, 22, 120.
Chung, H. -M. and Lawton, D., 1999, A Quantitative Study of the Effects of Tuning on
AVO Effects for Thin Beds: J. Can. Soc. Expl. Geophys., 35, no. 01, 36-42.
Chung, H. and Lawton, D. C., 1995, Frequency characteristics of seismic reflections
from thin beds: J. Can. Soc. Expl. Geophys., 31, no. 1/2, 32-37.
Kallweit, R. S. and Wood, L. C., 1982, The limits of resolution of zero-phase wavelets
Geophysics, Soc. of Expl. Geophys., 47, 1035-1046.
Portniaguine, O. and J. P. Castagna, 2005, Spectral inversion: Lessons from modeling
and Boonesville case study, 75th SEG Meeting, 1638-1641.
Portniaguine, O. and J. P. Castagna, 2004, Inverse spectral decomposition, 74th SEG
Meeting, 1786-1789.
Widess, M.B., 1973, How thin is a thin bed, Geophysics,38, 1176-1180.

Transformasi Gabor

Transformasi Gabor didasarkan atas prinsip 'pemotongan' sinyal seismik menjadi


beberapa segmen. Operasi pemotongan tersebut dilakukan dengan menggunakan
pisau ’window’. Berikut ilustrasinya:

Lalu potongan-potongan
sinyal diatas (yang masih dalam domain waktu) ditransformasi menjadi domain
frekuensi dengan Transformasi Fourier untuk menghasilkan Spektrum Gabor.

Transformasi potongan-potongan sinyal tersebut dikenal dengan Transformasi


Gabor. Berbeda dengan Transformasi Fourier yang langsung mentranformasi sinyal
secara utuh.

Sementara Inversi
Transformasi Gabor dapat dilakukan dengan dua cara berikut:
Didalam dunia seismik, metoda Gabor ini digunakan dalam mengestimasi refl

ektivitas seismik beresolusi tinggi secara akurat.

Istilah Gabor digunakan untuk menghormati Dennis Gabor, Fisikawan Hongaria,


yang dianugerahi hadiah nobel atas penemuan hologram yang sangat bermanfaat
untuk peradaban.

Semua gambar diatas courtesy: Margrave G. et al., Consortium for Research in


Elastic Wave Exploration Seismology, The University of Calgary.

Foto Dennis Gabor adalah courtesy: fotoartmagazine

True Amplitude Recovery (TAR)


True Amplitude Recovery atau Real Amplitude Recovery adalah upaya untuk
memperoleh amplitudo gelombang seismik yang seharusnya dimiliki. Saat
perekaman, variasi amplitudo terjadi akibat geometrical spreading, atenuasi, variasi
jarak sumber-penerima dan noise.

Variasi amplitudo diatas terbagi menjadi empat kategori:

1. Variasi amplitude secara vertikal atau travel-time dependent. Variasi ini


terjadi akibat geometrical spreading dan atenuasi.
2. Variasi lateral yang terjadi akibat: geologi bawah permukaan, efek coupling
sumber dan penerima, serta perbedaan jarak sumber-penerima.
3. Variasi amplitude yang muncul karena noise
4. Bad shots atau perekam yang mati/rusak.

Koreksi untuk variasi amplitudo kategori (1) adalah:

Sedangkan koreksi akibat


jarak sumber-penerima (kategori 2) adalah:

Untuk koreksi yang berasosiasi dengan variasi geologi bawah permukaan, efek
coupling sumber dan penerima dapat dilakukan dengan analisis nilai Amplitudo RMS
(Root Mean Square) yang disusun dalam Common Receiver dan Common Source:
Koreksi akibat variasi kategori
3 dan 4 dapat dilakukan dengan filtering, serta berbagai metoda eliminasi noise dan
kill trace.

Refersensi: Jain, S., 44th Annual International SEG Meeting, Dallas, TX, 1974 and
Joint CSEG-CSPG Convention, Calgary, 1975.

Ketebalan Tuning (Tuning Thickness)

Ketebalan tuning adalah batas minimal ketebalan lapisan batuan yang mampu
dilihat atau dibedakan oleh gelombang seismik.
Besaran ketebalan tuning yang biasanya dipakai oleh kalangan geofisikawan adalah
1/4 panjang gelombang seismik.

Untuk lebih jelasnya silakan lihat subject Resolusi Seismik pada blog ini.

TWT (Two-Way Traveltime)

TWT adalah waktu tempuh gelombang seismik dari sumber-reflektor-penerima,


dengan jarak sumber-penerima (offset) sama dengan nol (zero offset).
Dengan kalimat lain TWT
adalah waktu yang diperlukan oleh gelombang seismik untuk merambat dari
sumber gelombang (dinamit, vibroseis, dll.) menuju reflektor (lapisan batuan
dibawah permukaan bumi) kemudian kembali memantul ke penerima gelombang di
permukaan bumi (receiver), dengan jarak sumber gelombang dengan penerima
sama dengan nol (lokasi sumber-penerima sama).

Rekaman seismik yang diperoleh umumnya ditampilkan dalam TWT.

[Data seismik courtesy Siliqi


R., First Break, 2001]

Analisa Kecepatan (Velocity Analysis)

Analisa kecepatan adalah upaya untuk memprediksi kecepatan gelombang seismik


sampai kedalaman tertentu. Analisa kecepatan dilakukan didalam proses
pengolahan data seismik pada data CMP (Common Mid Point) gather.
Terdapat empat macam analisa kecepatan:
1. Analisa t^2-x^2 (^2 adalah simbol untuk kuadrat)
2. CVP (Constant Velocity Panels)
3. CVS (Constant Velocity Stacks)
4. Analisa Velocity Spectra: Amplitudo Stacking, Amplitudo Stacking yang
dinormalisasi, Semblance.
Analisa t^2-x^2
Jika informasi waktu (t^2) dan offset (x^2) pada sebuah hiperbola refleksi (sebelum
dilakukan koreksi NMO) diplot, maka akan menghasilkan garis linear. Kemiringan
garis linear ini mencermikan kecepatan bumi (v^2) dari permukaan sampai batas
refleksi yang bersangkutan. Akar dari v^2 adalah kecepatan bumi yang diprediksi
melalui analisis ini.

CVP (Constant Velocity


Panels)
Beberapa kecepatan (dari permukaan bumi sampai kedalaman sebuah reflektor
tertentu) di-tes untuk melakukan koreksi NMO pada gather CMP. Kecepatan yang
menghasilkan reflektor horisontal adalah kecepatam CVP.

CVS (Constant Velocity Stacks)


Mirip dengan CVP akan tetapi metoda CVS diterapkan pada CMP gather kemudian
dilakukan Stacking. Kecepatan yang menghasilkan amplitudo stacking yang terbaik
(amplitudo tertinggi) adalah kecepatan CVS yang dipilih.
Analisa Velocity Spectra
Analisis ini dilakukan jika hasil stacking untuk beberapa kecepatan diplot dalam
sebuah panel untuk masing-masing kecepatan. Hasilnya dapat diplot sebagai tras
maupun kontur amplitudo.

[Beberapa gambar diatas courtesy Yilmaz, 1987]

Posted by Agus Abdullah, PhD at 10:01 PM

Labels: Pengolahan Data Seismik


Velocity Sag

Adalah anomali gelombang refleksi yang diakibatkan oleh zona kecepatan rendah
sehingga waktu tiba gelombang seismik menjadi terlambat.

Didalam penampang refleksi fenomena velocity sag ini terlihat sebagai ‘pelendutan’
refleksi dengan keadaan geologinya tidaklah demikian.

Gambar dibawah ini adalah contoh anomali velocity sag pada zona gas yang
terperangkap pada sebuah antiklin (merah terang). Perhatikan reflector biru terang
sebagai gas-fluid contact yang ‘melendut’ akibat zona gas diatasnya. Keadaan
geologi gas-fluid contact seharusnya flat bukan?

Fenomena ini kadang-kadang disebut juga dengan puss-down velocity anomaly.


Lawannya adalah pull-up velocity anomaly.

Gambar diatas courtesy Alistair Brown [2004].


Posted by Agus Abdullah, PhD at 7:12 PM

Labels: Interpretasi Seismik

VSP (Vertical Seismic Profiling)

VSP adalah operasi seismik lubang bor dimana sumber seismik diletakkan di
permukaan bumi sementara perekam (geophone) diletakkan pada level kedalaman
yang berbeda di sepanjang lubang bor.

Jika sumur bor tersebut memiliki geometri vertikal, maka lokasi sumber getar
diletakkan pada posisi yang tetap, sedangkan untuk sumur bor miring, lokasi
sumber tidak tetap, lokasinya disesuaikan dengan posisi perekam dalam lubang bor.

Walaupun geophone diletakkan disepanjang lubang bor, resolusi vertikal VSP harus
dipertimbangkan masih berada dalam resolusi seismik, sementara secara lateral,
resolusinya dibatasi oleh zona Fresnel.

Geometri survey VSP beserta sketsa rekaman yang dihasilkan ditunjukkan pada
gambar dibawah ini:

Rekaman VSP merupakan


komposit dari gelombang downgoing dan upgoing dari jenis gelombang kompresi
(P) dan/atau gelombang geser (S) dan juga gelombang Stoneley yang berhubungan
dengan lubang bor dan fluida sumur.

Gelombang downgoing adalah gelombang yang terekam oleh geophone tanpa


terefleksikan terlebih dahulu. Sedangkan gelombang upgoing adalah gelombang
yang terefleksikan.

Pengolahan VSP
Pengolahan data VSP terbagi menjadi beberapa tahap: demultiplex, korelasi (jika
sumber getarnya vibrator), koreksi dari efek fluktuasi, koreksi rotasi alat dan sumur
miring, eliminasi data yang buruk, stacking, pemilahan komponen gelombang jika
perekam yang dipakai multicomponent.

Gambar di bawah ini adalah contoh rekaman VSP setelah editing dan stacking:
Selanjutnya, jika sumber dan penerima dianggap memiliki garis yang tegak lurus
dengan reflektor, maka standar pengolahan data VSP adalah sbb:

1. Dekonvolusi gelombang upgoing dengan gelombang downgoing. Proses ini


ditujukan untuk mengeliminasi efek sinyal sumber dan multiple downgoing.
2. Flattening gelombang upgoing yang telah didekonvolusi, proses ini
menjadikan gelombang upgoing mirip dengan rekaman seismik biasa.
3. Membuat stack VSP

Gambar dibawah adalah contoh korelasi rekaman VSP (upgoing wave) dengan log
lithofasies
Referensi: Jean-Luc Mari, Geophysics of Reservoir and Civil Engineering, 1999,
Institut Francais Du Petrole Publications

Gambar rekaman VSP courtesy: US Dept. of Transportation (www.cflhd.gov)

Volume Assessment

Topik ini bukanlah istilah seismik, akan tetapi karena penggunaannya sangat penting didalam
eksplorasi maka saya memasukkannya ke dalam blog ini.

Volume assessment adalah evaluasi volumetrik kandungan hidrokarbon suatu reservoir. Terdapat
beberapa point yang menjadi perhatian evaluasi ini:
1. GRV (Gross Rock Volume) adalah volume total reservoir yang dibatasi oleh TOP reservoir,
BASE reservoir dan Structural Spill Point (SSP). Satuan GRV adalah meter kubik atau acre foot.
Structural Spill Point sendiri adalah level sejauh mana hidrokarbon dapat mengisi reservoir
sebelum akhirnya ‘tumpah’ ke tempat lain karena kontrol struktur. Gambar dibawah ini
menunjukan sistem perangkap struktur dengan dua buah antiklin yang terisi hidrokarbon. GRV
prospek ini adalah = GRV1+GRV2.
2. Net to Gross (N/G) adalah persentase reservoir setelah dikurangi kandungan shale. N/G
memiliki satuan persen atau desimal. Sebagai contoh reservoir silisiklastik dengan N/G=80%,
memiliki kandungan 20% shale.
3. Porositas (satuan persen atau desimal)
4. Oil Saturation (OS) adalah tingkat kejenuhan minyak (persen atau desimal)
5. Gas Saturation (GS) adalah tingkat kejenuhan gas (persen atau desimal)
6. Recovery Factor (RF) untuk minyak dan gas : seberapa persenkah minyak dan gas dapat
diangkat kepermukaan (persen atau desimal)
7. Formation Volume Factor (FVF) adalah tingkat ‘pengembangan’ minyak di permukaan bumi
setelah dikeluarkan dari reservoir. Karena pengaruh tekanan satu liter volume minyak di dalam
reservoir akan mengembang setelah dikeluarkan ke permukaan. Kisaran FVF pada 3500 psia
adalah 1.333 bbl/STB.
8. Gas Expansion Factor (GEF), definisi sama dengan FVF tetapi untuk kasus gas. Kisaran GEF
230-300 scf/cf.
9. Net Rock Volume (NRV) = GRV x N/G (meter kubik atau acre foot)
10. Net Pore Volume (NPV) = NRV x Porositas (meter kubik atau acre foot)
11. Original Oil in Place (OOIP) = NPV x OS x FVF (satuan mbo)
12. Original Gas in Place (OGIP) = NPV x GS x GEF (satuan tcf)
13. Recoverable Oil = OOIP x RF (mbo)
14. Recoverable Gas = OGIP x RF (tcf)
15. Recoverable Oil with risk = Recoverable Oil x risk factor (mbo)
16. Recoverable Gas with risk = Recoverable Gas x risk factor (tcf)
Risk factor merupakan nilai hipotetik persentase resiko.
Water Column Statics

Adalah koreksi statik pada data seismik marin yang diakibatkan oleh sifat air laut seperti
salinitas, temperatur, dll.

Pada data seismik dengan kedalaman air laut yang cukup dangkal, mungkin koreksi ini dapat
’diabaikan’ akan tetapi jika data seismik tersebut merupakan data laut dalam tentu sifat lokal
salinitas, temperatur, dll. akan memberikan efek yang cukup signifikan pada kualitas data
seismik.

Jika koreksi ini tidak diperhatikan maka akan memberikan kualitas stack yang kurang bagus,
demikian juga pada respon AVO.

Berikut contoh perbedaan data seismik sebelum (kiri) dan setelah (kanan) koreksi Water Column
Statics pada respon AVO maupun stack (klik untuk memperbesar).

Data courtesy Geotrace


Technologies, Inc, 2007

Data courtesy Sheng Xu and Don Pham, Veritas DGC Inc.

Wavelet
Adalah gelombang mini atau ’pulsa’ yang memiliki komponen amplitude, panjang
gelombang, frekuensi dan fasa. Dalam istilah praktis wavelet dikenal dengan
gelombang yang merepresentasikan satu reflektor yang terekam oleh satu
geophone.

Gambar di atas menunjukkan Wavelet Ricker dengan frekuensi 20, 30 dan 40Hz dan
fasa = 0 (zero phase).

Secara matematis, Wavelet Ricker didefinisikan dengan:

Dimana f adalah frekuensi, dt adalah interval sampling, t adalah waktu dan to


adalah waktu awal.

Wide Azimuth Seismic

Adalah metoda pengambilan data seismik yang didesain sedemikian rupa sehingga
menghasilkan azimuth antara sumber dan penerima yang cukup lebar dibandingkan
dengan pengambilan data seismik konvensional.
Tujuan utama dari desain ini adalah untuk meningkatkan fold, rasio sinyal terhadap
noise, meningkatkan iluminasi, dll.

Berikut ilustrasi pengambilan data wide azimuth seismic:


Berdasarkan gambar diatas, secara sederhana
wide azimuth seismic hanyalah menempatkan kapal utama dengan streamer dan
gun (paling kiri) serta beberapa kapal gun disampingnya (kedua dan ketiga
disamping kanannya).

Gambar diatas courtesy Long A.S., et al AESC2006, Melbourne, Australia.

Zero Crossing

Zero Crossing adalah salah satu komponen gelombang (lihat subject Komponen
Gelombang pada blog ini) dimana amplitudo gelombang adalah nol dan fasa-nya
adalah nol atau 90 derajat.

Persamaan Zoeppritz
Posted by Agus Abdullah, PhD at 8:51 PM

Labels: Matematika Seismik

Persamaan Zoeppritz (detail)

Satu asumsi dasar tentang data stack adalah jejak seismik sebagai konvolusi antara
wavelet dengan deret koefisien refleksi. Masing-masing koefisien refleksi
merupakan hasil sinar seismik melewati batas antara dua lapisan.

Pada kasus ini , koefisien refleksi sebagai fungsi dari kecepatan gelombang P dan
densitas masing-masing lapisan batuan.
Persamaannya diberikan oleh :

[Persamaan (1)]
dimana r = koefisien refleksi, ρ = densitas, α = kecepatan gelombang P, dan Z =
impedansi akustik.

Jika sinar seismik melewati batas lapisan pada sudut datang tidak sama dengan nol dengan
geometri penembakan common shot, maka akan terjadi konversi gelompang P menjadi
gelombang S dan koefisien refleksi menjadi fungsi kecepatan gelombang P, kecepatan
gelombang S, dan densitas masing-masing lapisan.

Dengan demikian dapat diturunkan 4 kurva : amplitudo refleksi gelombang P, amplitudo


transmisi gelombang P, amplitudo refleksi gelombang S, amplitudo transmisi gelombang S (lihat
gambar).

Variasi amplitudo terhadap offset melibatkan parameter fisis Poisson’s ratio, yang berhubungan
dengan rasio gelombang P terhadap gelombang S.
Formulasi untuk Poisson’s ratio diberikan oleh :

[Persamaan (2)]

dimana σ = Poisson’s ratio, α = kecepatan gelombang P, dan β= kecepatan gelombang S.

Secara teoritik Poisson’s ratio memiliki harga antara 0 sampai 0,5 dimana 0 untuk gas dan 0,5
untuk liquid.

Dari persamaan (2), terlihat bahwa ketika Poisson’s ratio mendekati 0,5 maka rasio kecepatan
α/β menuju tak terhingga.

Hal ini terjadi karena kecepatan gelombang S = 0 jika melewati fluida. Sebaliknya rasio
kecepatan α/β = jika Poisson’s ratio = 0.

Schoenberg menyarankan bahwa parameter yang dapat digunakan untuk menyederhanakan


transformasi dari kecepatan ke Poisson’s ratio adalah γ=(α/β)² , pada kasus ini kita melihat bahwa
:

[Persamaan (3)]

Bentuk akhir dari persamaan Zoeppritz ditunjukkan pada persamaan (4) dimana berhubungan
dengan jejak gelombang pada di bawah ini.

Perambatan gelombang P
yang melewati batas lapisan, terbagi menjadi 4 gelombang; A = gelombang P
refleksi, B= gelombang S refleksi, C= gelombang P transmisi, dan D = gelombang S
transmisi.