Anda di halaman 1dari 8

1df6b345d20b25

Usia Aisyah Saat Dinikahi Rasulullah (SAAW)


Oleh: T.O. Shanavas

Berapa Usia Aisyah Ketika Dinikahi oleh Rasulullah?

Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, “Akankah anda
menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua
berumur 50 tahun?” Saya terdiam. Dia melanjutkan, “Jika anda tidak akan
melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7
tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?” Saya katakan padanya, “Saya tidak punya
jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini.” Teman saya tersenyum dan
meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.

Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat


pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan
Nabi saw dengan Aisyah.

Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang
naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan
seperti itu.

Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh


sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di
Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan
saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur
50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang,
walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami
tua tersebut.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak


pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di
bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam
oraganisasi- oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon
pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John
Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang
mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap
Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50
tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam
menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos
berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur
hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah
tidak bisa dipercaya.
1
Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat
pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan
menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu
`Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak
bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber

Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang
semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas
otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus
mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak
ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia
71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-
murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.
Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana
dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.

Tehzibu’l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para
periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : “Hisham sangat bisa
dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah
pindah ke Iraq ” (Tehzi’bu’l- tehzi’b, Ibn Hajar Al-`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-
Islami, 15th century. Vol 11, p.50).

Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang
dicatat dari orang-orang Iraq: ” Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak
riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tehzi’b u’l-tehzi’b, IbnHajar Al-
`asqala’ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).

Mizanu’l-ai` tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist
Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran
yang mencolok” (Mizanu’l-ai` tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’ l-athriyyah,
Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN:
berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah buruk dan riwayatnya setelah
pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur
pernikahan Aisyah adalah tidak
kredibel.

KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam
sejarah Islam:

Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu


610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M: Hijrah ke Abyssinia.
616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah
2
622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah

Bukti #2: Meminang

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah
dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.

Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang)
dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-umam wa’l-mamlu’k, Al-
Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-fikr, Beirut, 1979).

Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun
623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M.
Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M,
Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).

Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah
dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika
dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi
saw berusia 35 tahun… Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah” (Al-isabah fi
tamyizi’l-sahabah, Ibn Hajar al- Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l- Riyadh al-
haditha, al-Riyadh,1978) .

Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia
40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah
ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama
lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos
tak berdasar.

Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’

Menurut Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah
(Siyar A`la’ma’l-nubala’ , Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’ l-risalah,
Beirut, 1992).

Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah
wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).

Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5
hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20
hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian.
3
Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal,
dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-
fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)

Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada
73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi’l-nisa’, al-
harfu’l-alif, Lucknow).

Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih
usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma
seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M).

Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga),
Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun
ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.

Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda’l-Rahman ibn abi zanna’d, usia Aisyah ketika
beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.

Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti
#4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17
atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar ? 12 atau 18..?

KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam
hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l- isti`anah fi’l-ghazwi
bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan
selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari
pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.

Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari
(Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama` a’lrijal) : “Anas
mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah.
[pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka
menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam
perjalanan tsb].”

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan
Badr.

Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-


ahza’ b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya
berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi
ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut
dalam perang tsb.”

Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan


4
dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam
perang badar dan Uhud

KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan
bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun.
Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah
seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi
mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)

Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum


hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal
ini: “Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar
diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum
wa’l-sa`atu adha’ wa amarr).

Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The


Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan
pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada
usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic)
pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual
tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika
pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s
Arabic English Lexicon).

Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun
pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21
tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia
9 tahun.

Bukti #7: Terminologi bahasa Arab

Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama
Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk
menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah.
Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita
yang pernah menikah (thayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis
tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.

Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam
bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.

Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti
dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita
yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan,
sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”. Oleh karena itu, tampak
jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn
5
Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).

Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita
dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karena itu,
Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.

Bukti #8. Text Qur’an

Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari
petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh
para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya.
Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7
tahun?

Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah
ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan
memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak Yatim juga
valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.

Ayat tersebut mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang


yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang
dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari
hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.

Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara


harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)

Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan
untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan
(d) menguji mereka thd kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum
mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.

Disini, ayat Qur’an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat
kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki
usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.

Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang
bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada
seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia
berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak
memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal
(Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang
berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada
mengambil tugas sebagai isteri.

Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang
tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan
Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi
menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
6
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita
memunculkan sebuah pertanyaan,” berapa banyak di antara kita yang percaya
bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka
mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah Nol besar.

Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan
memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana
mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7
tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?

Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia
akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum
secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan
menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis
belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan
menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.

KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum


kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyah
gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.

Bukti #9: Ijin dalam pernikahan

Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia
lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p.
665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan
syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.

Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis
belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah
pernikahan.

Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan
berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7
tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.

Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis
yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya
ketika berumah tangga dengan Rasulullah.

KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak
memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari
pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah
seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.

Summary:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang
berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah
ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan
7
pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa
riwayat.

Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah
tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat
lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn
`Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat
riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable.

Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu
sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar
periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi,
riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya
kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.

Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia
Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup
banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai
mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum
dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-
tanggung jawab.

T.O. Shanavas is a physician based in Michigan. This article first appeared in The Minaret in
March 1999.
© 2001 Minaret
Extracted 09/06/02 from The Minaret