Anda di halaman 1dari 13

BAB IV MEMBACA KRITIS

HM Nur Fawzan Ahamd, S.S.,M.A. Kompetensi Dasar


Mahasiswa dapat menemukan informasi-informasi penting melalui membaca kritis berbagai ragam wacana untuk menulis akademik.

4.1 Pengertian Membaca Membaca berarti (a) melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, dengan melisankan dalam hati; (b) mengeja atau melafalkan apa yang tertulis. Dalam pengertian tersebut, membaca merupakan langkah awal untuk memahami suatu tulisan. Kegiatan membaca tidak sekadar mengeja tulisan saja, tetapi juga menyerap pengertian ke dalam alam pikiran pembaca. Jadi, tujuan membaca adalah upaya pemerkayaan pengetahuan guna pengembangan daya nalar. Hal ini merupakan modal pokok untuk penulisan ilmiah. Kegiatan membaca berhubungan dengan pemahaman, kata, kalimat, dan alinea dalam tulisan. Alinea merupakan satuan gagasan terkecil dalam sebuah karangan. Oleh karena itu, pemahaman alinea-alinea merupakan tahapantahapan pemahaman karangan secara keseluruhan. Kegiatan membaca merupakan kegiatan penunjang bagi seorang penulis. Dalam konteks penulisan ilmiah, menulis berarti membaca. Jadi, Dapat dikatakan bahwa penulis yang menghasilkan karya tulis yang berkualitas proses membaca. 4.2 Pengertian Membaca Kritis Membaca kritis adalah kegiatan membaca sumber bacaan dengan cermat dan teliti. Membaca kritis juga dapat diartikan membaca dengan cepat dan tepat untuk mendapatkan berbagai informasi. Di samping itu, membaca kritis juga dapat diartikan sebagai kegiatan membaca dengan memberikan penilaian terhadap sumber bacaan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa membaca kritis adalah kegiatan membaca sumber bacaan untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentu melalui

17

dengan memberikan penilaian atau pertimbangan tertentu terhadap akurasi sumber bacaan yang dilakukan dengan cepat, tepat, dan teliti. Membaca kritis untuk menulis pada dasarnya merupakan kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi yang relevan dan diperlukan untuk tulisan yang akan dikembangkan. Oleh karena itu, sebelum membaca perlu dipertimbangkan apakah bacaan tersebut relevan dengan topik yang akan di kembangkan. 4.3 Ragam Membaca Kritis Sumber bacaan untuk menulis bermacam-macam jenisnya. Sumber itu bisa berasal dari sumber yang tersaji baik dalam bentuk cetakan maupun sumber yang tersaji dalam jaringan internet. Sumber yang tersaji dalam bentuk cetakan dapat berupa buku, laporan penelitian, jurnal ilmiah, makalah, artikel ilmiah populer dari berbagai majalah dan surat kabar; sedangkan sumber yang tersaji dalam jaringan internet berasal dari berbagai situs web yang kebanyakan berupa informasiinformasi aktual. Banyaknya sumber bacaan dan jenis tulisan tersebut serta kebutuhan akan jenis informasi tertentu yang dibutuhkan menyebabkan munculnya berbagai ragam dan teknis membaca kritis. Keberagaman membaca kritis tersebut dapat dilakukan sekurang-kurangnya dengan dua teknis membaca, yaitu: (1) membaca cepat/ sekilas dan (2) membaca intensif/ teliti. Membaca cepat/ sekilas bisa dilakukan untuk dua tujuan, yaitu (1) membaca cepat untuk menemukan topik sumber bacaan dan (2) membaca cepat untuk menemukan informasi khusus dari sumber bacaan; sedangkan membaca intensif/ teliti digunakan untuk mencari informasi rinci dari sumber bacaan. 4.3.1 Membaca Cepat Membaca cepat sangat dibutuhkan oleh seorang penulis terlebih ketika harus menjelaskan berbagai konsep teori, pendapat pakar, hasil-hasil penelitian, dan informasi aktual lain dari berbagai sumber bacaan yang akan dipakai untuk mendukung karya ilmiahnya, sedangkan penulis hanya mempunyai kesempatan menulis yang terbatas. Oleh karena itu, teknis membaca cepat/

18

sekilas harus dikuasai dan dilakukan seorang penulis untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya. 4.3.2 Membaca Cepat/ Sekilas untuk Menemukan Topik Teknik membaca cepat/ sekilas dapat dilakukan dengan cara mencari topiktopik utama dari sumber bacaan. Teknis membaca ini dapat dilakukan dengan melihat kalimat-kalimat utama paragraf pada sumber bacaan, sehingga tidak perlu memfokuskan perhatian pada bagian-bagian tertentu yang lebih spesifik. Karena kalimat-kalimat utama bacaan pada umumnya terletak di awal, tengah, atau akhir paragraf, pembaca cukup melihat pada bagian-bagian tersebut, sehingga dengan cepat dapat memperoleh topiktopik utama dari sumber bacaan yang dihadapinya dari awal sampai akhir. Selanjutnya, agar topik-topik utamanya dapat dikuasai, pembaca harus mencatat topik-topik tersebut pada kartu-kartu data atau catatan khusus, sehingga ketika akan digunakannya untuk menulis menjadi mudah. 4.3.3 Membaca Cepat untuk Menemukan Informasi Khusus Untuk menemukan informasi-informasi khusus pada sumber bacaan yang diperlukan tidak perlu kiranya pembaca melihat semua kalimat topik pada sumber bacaan, tetapi ia dapat menemukan informasi khusus itu sesuai dengan keinginannya melalui daftar isi dan indeks sumber bacaan. Dari daftar isi, ia dapat menemukan bab atau subbab tertentu yang dibutuhkannya untuk menulis, sedangkan dari indeks dapat diperoleh informasi tambahan yang sesuai dan relevan dengan informasi yang dibutuhkan, tetapi tidak tersaji dalam bab maupun subbab secara khusus pada sumber bacaan. Di samping langkah tersebut, untuk menemukan informasi khusus dapat dilakukan dengan melihat kalimat-kalimat definisi dan pendapat pakar. Kalimat-kalimat definisi baik yang berupa penjelasan konsep tertentu maupun teori tertentu yang dibutuhkan pembaca dapat dimanfaatkan untuk memperjelas tulisan yang akan dibuatnya. Begitu juga pendapat-pendapat

19

pakar

yang beragam biasanya juga akan membantu mempertajam baik

analisis maupun pendapat yang akan dikemukakan dalam tulisannya. 4.3.4 Membaca Teliti/ Cermat untuk Menemukan Informasi Rinci Teknik membaca cermat atau teliti adalah teknik membaca untuk menemukan sesuatu secara rinci dan detil. Teknik membaca demikian harus dilakukan dengan cermat dan teliti pada sumber bacaan sebab teknik ini dilakukan tidak semata-mata untuk memperoleh informasi yang sebanyakbanyaknya dari sumber bacaan, tetapi lebih menekankan pada suatu usaha untuk menemukan informasi-informasi penting yang dingiinkan pembaca itu, sebenarnya pembaca tidak relevan secara terinci. Dengan teknis semacam

harus membaca semua kalimat topik yang ada dalam sumber bacaan, tetapi dapat memilih pokok bahasan tertentu yang dibutuhkan dan sebagai bahan yang akan direncanakannya. Informasi rinci dalam pengertian di sini dapat berupa konsep-konsep dan teori yang sudah teruji, hasil penelitian dan konklusinya, prosedurprosedur kerja, tahapan-tahapan kegiatan, serta informasi-informasi faktual dan aktual lainnya. Informasi-informasi tersebut harus dibaca secara intensif, sehingga pembaca sumber bacaan dapat memahami informasi dengan benar sebelum ia mencatatnya. Dengan demikian, teknis membaca cermat ini lebih banyak menuntut hasil yang berkualitas daripada kuantitasnya. Oleh karena itu, prinsip kecermatan dan ketelitian dalam membaca sumber bacaan itu harus diutamakan dari yang lainnya. 4.4 Membaca Kritis Tulisan/ Artikel Ilmiah Tulisan atau artikel ilmiah adalah sejenis esai yang membahas suatu masalah berdasarkan logika, pustaka, atau fakta yang biasanya dimuat dalam majalah dan jurnal ilmiah. Tulisan ilmiah bisa juga berasal dari intisari atau bagian dari hasil penelitian dan makalah yang pernah dipresentasikan dalam forum tertentu yang kemudian diterbitkan dalam majalah atau jurnal ilmiah. Karena nilai digunakan dalam tulisan yang sedang

20

keilmiahan yang teruji itu, teknik membaca tulisan jenis ini harus dibedakan dengan membaca tulisan lain seperti artikel yang dimuat di surat kabar atau karangan ilmiah populer lainnya. Oleh karena itu, dalam membaca kritis terhadap artikel ilmiah ini, pembaca harus memperhatikan beberapa hal berikut ini. 4.4.1 Mengenali Tesis/ Pernyataan Masalah Tulisan ilmiah biasanya memuat tesis atau pernyataan umum tentang masalah yang dibahas. Pada umumnya tesis diungkapkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dari tesis tersebut, sebenarnya bisa dilihat sejauh mana keberhasilan penulis artikel ilmiah dalam mengungkapkan permasalahan, proses pemecahannya, dan hasil yang dicapainya dalam kajian ilmiah. Oleh karena itu, setelah pembaca mengenali tesis atau pernyataan umum yang muncul dalam artikel ilmiah tersebut, pembaca harus mencatatnya. Setelah semua tesis dalam artikel itu teridentifikasi, pembaca dapat menyeleksi sesuai dengan kebutuhan dan relevansi tulisan yang akan dibuatnya serta jangan lupa menimbang bobot pernyataan yang ada. Apakah penulis artikel berhasil atau tidak, serta tuntas atau tidak dalam membahas dan memecahkan persoalan yang disajikan dalam artikel ilmiahnya. 4.4.2 Meringkas Butir-butir Penting Setiap Artikel Ringkasan atau rangkuman dari berbagai sumber pustaka merupakan hal sangat membantu dalam penulisan karya ilmiah. Dengan ketersediaan ringkasan sumber pustaka yang cukup, pembaca tidak harus membaca ulang sumbersumber pustaka yang dipakainya, tetapi cukup menggunakan ringkasan itu sebagai bahan atau referensi untuk tulisannya kelak. Oleh karena itu, meringkas butir-butir penting setiap artikel perlu dilakukan. Butir-butir penting yang perlu dibuat ringkasan itu sekurang-kurangnya menggambarkan latar belakang dan permasalahannya, tujuan yang ingin dicapai, metode yang dipakai untuk memecahkan masalah dan hasil temuan yang diperoleh dalam penelitiannya.

21

4.4.3 Menyitir Konsep-Konsep Penting Konsep-konsep, teori, pendapat-pendapat pakar, dan hasil-hasil temuan terbaru yang terungkap dalam artikel ilmiah sangat penting untuk penulisan karya ilmiah sebab hal itu akan membantu penulis untuk mendukung tulisan yang akan dibuatnya terutama untuk memperdalam dan mempertajam kerangka berpikirnya. Oleh karena itu, dalam membaca artikel ilmiah, pembaca perlu mencatat konsep-konsep penting tersebut. Konsep-konsep penting yang berupa teori-teori dan aneka pendapat pakar tersebut dapat disitir langsung dalam tulisan yang akan dibuat atau bisa dijadikan jembatan rujukan untuk melihat sumber aslinya. Kedua hal itu dapat dilakukan sepanjang penulisnya bersikap dengan benar. 4.4.4 Menentukan Bagian yang akan Dikutip Dalam menulis karya ilmiah, penulis sering merujuk atau mengutip pendapatpendapat pakar. Kutipan pendapat yang diambil dari sumber tertulis itu bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung sepanjang tidak mengubah substansi dari sumber yang dirujuknya. Kedua cara itu bisa digunakan sekaligus dalam penulisan sebuah karya ilmiah sepanjang dilakukan dengan aturan dan teknik mengutip yang benar. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis harus memperhatikan bagianbagian yang akan dikutipnya. Bagian-bagian yang akan dikutip tersebut tentu dipilih dengan mempertimbangkan relevansi dan efektifitas dalam tulisan yang sedang dibuatnya. Relevansi sangat berkaitan dengan topik yang digarapnya, sedangkan efektifitas berkait dengan teknis pengutipannya. Oleh karena itu, dalam membaca kritis terhadap artikel ilmiah, harus benar-benar selektif sehingga hal-hal yang tidak berkaitan dengan topik harus dikesampingkan dan tidak perlu dicatat. 4.4.5 Menentukan Implikasi dari Bagian/ Sumber yang akan Dikutip Berkaitan dengan kutipan yang digunakan sebagai rujukan, perlu kiranya diperhatikan implikasinya. Implikasi yang muncul dari kutipan yang dipakai jujur dan mencantumkan sumber bacaannya

22

seorang penulis bisa berefek ganda. Kutipan itu bisa dipakai untuk memperkuat gagasan seseorang sepanjang kutipan itu selaras dengan pendapat yang akan disajikannya. Sebaliknya, kutipan itu akan dinilai lemah, jika pendapat yang terdapat di dalamnya bertentangan dengan pendapat penulis yang merujuknya. Oleh karena itu, penulis yang baik harus bisa menentukan implikasinya ketika ia memanfaatkan pendapat orang lain. 4.4.6 Menentukan Posisi Penulis sebagai Pengutip Penentuan implikasi terhadap sumber atau pendapat yang diambil dari artikel ilmiah yang dipakai sebagai bahan atau referensi dalam karya ilmiah yang akan atau sedang ditulisnya berdampak pada posisi dan sikap penulis yang dan sikap penulis bisa netral, menyetujui, atau tanggapan apapun terhadap pendapat yang mengambil pendapat. Posisi apabila ia tidak memberikan

menolak pendapat yang dikutipnya. Posisi dan sikap penulis dikatakan netral dikutipnya. Sikap dan posisi penulis dikatakan menyetujui jika ia menggunakan kutipan itu untuk mendukung pendapatnya. Sebaliknya, posisi penulis dikatakan tidak menyetujui atau menolak jika ia menilai bahwa pendapat yang diambilnya bertentangan dengan pendapatnya, dinilai kurang tepat, kurang sempurna, atau divonis tidak benar. 4.5 Membaca Kritis Tulisan/ Artikel Populer Berdasarkan medianya artikel populer berbeda dengan artikel ilmiah. Artikel populer pada umumnya dimuat di berbagai surat kabar dan majalah populer, sedangkan artikel ilmiah dimuat di majalah dan jurnal ilmiah. Di samping itu, gaya penuturannya juga berbeda, artikel populer tidak menggunakan kaidah ilmiah dengaan ketat, baik dari segi tata tulisnya maupun pemilihan kata dan kalimatnya. Dari segi isinya, artikel populer lebih banyak mengungkap sesuatu yang aktual yang sedang menjadi isu besar di masyarakat. Artikel jenis ini banyak mengungkap fakta yang dikupas oleh penulisnya tanpa menggunakan metodologi dan landasan teori yang jelas karena yang lebih dipentingkan pandangan penulisnya terhadap isu yang sedang berkembang.

23

4.5.1 Mengenali Persoalan atau Isu yang Dibahas dalam Artikel Populer Meskipun nilai keilmiahannya kurang, bukan berarti artikel populer tidak dapat dipakai sebagai bahan dan bekal menulis ilmiah. Artikel jenis ini justru sangat membantu untuk menulis karya ilmiah karena kebaruan fakta dan informasinya. Oleh karena itu, pembaca sumber bacaan harus bisa mengenali persoalan atau isu yang dibahasnya. Isu yang diangkat dalam artikel tersebut perlu dikenali dan dipahami. Setelah dikenali isu tersebut dengan jelas, maka isu yang muncul dalam artikel tersebut dicatat terlebih dahulu lengkap dengan sumbernya: pengarang, nama media yang menerbitkan, halaman, edisi, dan tahun penerbitannya. 4.5.2 Menentukan Signifikansi/ Relevansi Isu dengan Tulisan yang akan Dihasilkan. Isu atau persoalan yang telah dicatat tersebut dilihat lebih detil apakah isu tersebut cukup signifikan untuk tulisan yang akan dibuat, apakah isu tersebut ada relevansinya dengan tulisan yang akan dibuat. Jika isu tersebut cukup signifikan dan relevan dengan karangan yang akan kita buat, tentukan dan pastikan bahwa isu tersebut bisa digunakan sebagai bahan. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak cukup signifikan dan tidak relevan maka isu itu harus dikesampingkan dan artikel tersebut tidak perlu dipergunakan sebagai bahan untuk menulis. 4.5.3 Memanfaatkan Isu Artikel Populer untuk Bahan/ Inspirasi dalam Menulis Meskipun kadar ilmiah artikel populer kurang begitu jelas, jenis tulisan ini mempunyai kelebihan yang tidak dapat ditemukan pada artikel ilmiah. Kelebihan tulisan ini terletak pada isu atau persoalan yang diungkapkan lebih menarik dibanding isu artikel ilmiah. Oleh karena itu, agar karya ilmiah yang akan dibuat lebih aktual dan menarik, isu artikel populer itu dapat dijadikan bahan atau inspirasi untuk menulis karya ilmiah. Isu yang aktual dan faktual itu bisa dijadikan bahan untuk kajian ilmiah. Jika isu yang muncul dalam artikel populer itu hanya dianalisis menurut pandangan pribadi penulisnya, maka isu tersebut dapat dikaji lebih dalam dan objektif

24

dengan memanfaatkan prosedur ilmiah. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, sekurang-kurangnya isu yang menarik itu dapat dijadikan inspirasi atau ilham penulisan karya ilmiah yang akan dibuatnya. 4.5.4 Membedakan Isi Artikel Populer dengan Isi Artikel Ilmiah dan Buku Ilmiah Isi artikel populer pada umumnya lebih menarik daripada artikel ilmiah atau buku ilmiah sebab isi artikel populer biasanya berisi pembahasan tentang sebuah isu yang diminati masyarakat atau diambil dari persoalan faktual dan aktual yang sedang berkembang di masyarakat. Artikel populer sering mengesampingkan teori dan signifikansi data. Sebaliknya, artikel dan buku ilmiah seringkali bertolak dari isu yang mungkin tidak diminati masyarakat. Kedua jenis karya ilmiah itu sangat mementingkan peranan teori, prosedur ilmiah, serta kuantitas dan kualitas data. Oleh karena itu, sebagai pembaca sumber bacaan yang sedang merencanakan membuat sebuah tulisan ilmiah, harus dapat membedakan isi artikel populer yang dibacanya dengan artikel ilmiah dan buku ilmiah. 4.6 Membaca Kritis Buku Ilmiah Membaca buku ilmiah tidak semudah membaca bacaan populer. Buku ilmiah mengandung konsep-konsep yang mendalam kompleks dan digunakan istilah-istilah teknis yang mempunyai pengertian khusus. Oleh karena itu, membaca buku ilmiah memerlukan teknik membaca yang tepat. Di antara teknik-teknik membaca itu dipaparkan berikut ini. 4.6.1 Memanfaatkan Indeks untuk Menemukan Konsep Penting Buku ilmiah yang baik pada umumnya dilengkapi dengan indeks yang biasanya diletakkan di bagian akhir buku. Indeks pada umumnya berisi kata-kata dan nama-nama disertai nomor halaman yang diambil dari buku. Kata-kata dalam indeks dapat berupa konsep-konsep dan istilah-istilah yang dianggap penting, sedangkan nama-nama merupakan nama-nama penulis buku yang dirujuk atau yang dipakai pendapatnya dalam buku tersebut. Dengan melihat indeks buku,

25

pembaca tidak perlu membaca semua halaman buku dari awal hingga akhir, tetapi cukup membaca pada konsep-konsep penting yang dibutuhkan untuk menulis karya ilmiah. Oleh karena itu, dalam membaca buku ilmiah secara kritis, indeks dapat kita pakai untuk menemukan konsep-konsep, pendapat-pendapat pakar, dan teori-teori yang dibutuhkan untuk menulis. 4.6.2 Menemukan Konsep-Konsep Penting untuk Bahan Menulis Konsep-konsep, teori-teori, pendapat-pendapat pakar, dan informasiinformasi penting dapat dicari dalam buku ilmiah. Hal itu dapat dengan mudah ditemukan dengan memanfaatkan indeks buku. Dalam pencarian konsepkonsep penting, pembaca harus mempertimbangkan relevansinya dengan topik tulisan yang akan dibuat. Konsep-konsep penting tersebut harus dicatat lengkap atau intisarinya saja disertai dengan nomor halaman dan sumber rujukan. Oleh karena itu, hal yang dianggap tidak penting dan tidak relevan seharusnya tidak perlu diperhatikan dan dicatat. 4.6.3 Menentukan dan Menandai Bagian-bagian Buku yang akan Dikutip Dengan tercatatnya konsep-konsep penting dalam kartu data atau catatan khusus pembaca, maka langkah berikutnya adalah menentukan dan menandai bagian-bagian buku yang akan dikutip sebab tidak semua konsep-konsep penting yang tercatat itu dapat dikutip. Hal ini menuntut pembaca untuk menilai dan menyeleksinya, sehingga konsep penting manakah yang harus dikutip dalam tulisannya nanti menjadi jelas. Hal lain yang harus dipertimbangkan setelah pembaca menentukan dan menandai bagian buku yang akan dikutip adalah teknis mengutipnya. Apakah konsep penting itu akan dikutip langsung sebagaimana teks aslinya atau akan dikutip secara tidak langsung. Penentuan teknis mengutip langsung maupun tidak langsung ini tentu saja harus memperhatikan efektivitas dan tata tulis penulisan karya ilmiah.

4.6.4 Menentukan Implikasi dari Bagian/ Sumber yang Dikutip

26

Sebagaimana diuraikan dalam subbab sebelumnya, penulis yang akan mengutip sumber bacaan harus mampu menentukan implikasi yang muncul dari bagian atau sumber yang dikutip. Implikasi yang dipakai seorang penulis bisa berefek ganda. Kutipan itu bisa dipakai untuk memperkuat gagasan penulis sepanjang kutipan itu selaras dengan pendapat yang akan disajikannya. Sebaliknya, kutipan itu akan dinilai lemah, jika pendapat yang terdapat di dalamnya bertentangan dengan pendapat penulis yang merujuknya. Oleh karena itu, penulis yang baik harus bisa menentukan implikasinya ketika ia memanfaatkan pendapat orang lain. 4.6.5 Menentukan Posisi Penulis sebagai Pengutip Sebagaimana diuraikan dalam subbab sebelumnya, dalam mengutip buku ilmiah, penulis harus menentukan posisi dirinya. Posisi itu bisa berupa persetujuan bila pendapat dalam kutipan menguatkan pendapat penulisnya; bisa berupa persetujuan dengan catatan bila pendapat itu tidak mendukung sepenuhnya pendapat penulis; bisa juga berupa ketidaksetujuan, bahkan penolakan terhadap konsep tersebut, jika konsep dalam kutipan itu bertentangan dengan pendapat penulis. 4.7 Membaca kritis bahan yang tersaji dalam jaringan Internet Jaringan internet merupakan jaringan yang luas tanpa batas. Jaringan ini bisa diakses oleh seseorang tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Pada jaringan ini ditawarkan informasi yang tanpa batas pula termasuk informasi-informasi yang bersifat akademik, sehingga jaringan ini dapat dimanfaatkan untuk mencari dan menemukan bahan-bahan untuk menulis. Mengingat luasnya informasi yang ditawarkan oleh jaringan ini, maka sumber-sumber bacaan yang terdapat di dalamnya harus dibaca secara kritis, terlebih untuk bahan penulisan karya ilmiah.

4.7.1 Kiat Praktis Mencari dan Menemukan Bahan-bahan dalam Jaringan Internet

27

Untuk menemukan sumber-sumber bacaan dalam internet yang bersifat keilmuan, pembaca bisa memanfaatkan website atau situs web yang berkaitan dengan topik yang akan ditulis. Banyak organisasi, lembaga, bahkan individu yang membuat website dengan topik tertentu. Yang dapat kita manfaatkan untuk penggalian sumber menulis adalah web-web yang menyajikan kajian-kajian, analisis, dan penelitian; misalnya web-web jurnal ilmiah, majalah dan surat kabar, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, lembaga-lembaga penelitian, termasuk lembaga perguruan tinggi, bahkan dapat juga menelusuri web-web pribadinya para pakar. 4.7.2 Memilih dan Mengevaluasi Bahan-bahan dalam Jaringan Internet Setelah pembaca mendapatkan sejumlah informasi dan data dari sumber internet, pembaca harus melakukan seleksi terhadap hasil temuannya itu berdasarkan pada relevansinya dengan tulisan yang akan dibuat serta berdasarkan pada kebenaran kaidah keilmuan. Oleh karena itu, pembaca harus memilih dan memilah serta mengevaluasi bahan-bahan yang diambil dari sumber internet itu apakah diperlukan atau tidak. Jika bahan-bahan itu sesuai dengan topik yang akan ditulis, bahan-bahan itu bisa diambil; sedangkan jika tidak sesuai dengan topik, sebaiknya bahan-bahan itu ditinggalkan saja sebab akurasi dan urgensinya belum jelas. 4.7.3 Menentukan Isi/ Gagasan Penting dalam Bahan-bahan yang Tersedia di Internet Setelah melakukan seleksi dan evaluasi terhadap sejumlah bahan dan data dari sumber internet, tentu sudah dapat diketahui data mana yang layak dan tidak layak digunakan sebagai bahan untuk menulis. Bahan dan data yang terpercaya serta sesuai dengan topik tulisan yang akan dibuat itulah yang harus diambil sebagai sumber menulis, sedangkan yang kurang atau tidak terpercaya dan tidak sesuai topik tulisan harus ditinggalkan. 4.7.4 Memanfaatkan secara kritis Bahan-bahan dalam Jaringan internet

28

Setelah pembaca memutuskan mengambil bahan-bahan dari jaringan internet yang berupa gagasan-gagasan, konsep-konsep, dan data-data, pembaca harus membaca bahan-bahan tersebut dengan kritis. Pembaca harus curiga terhadap kebenaran bahan-bahan tersebut. Oleh karena itu, pembaca perlu membandingkan bahan-bahan tersebut dengan bahanbahan lain yang diambil dari sumber di luar internet. Langkah tersebut perlu dilakukan karena tidak semua informasi dan data yang disajikan dalam jaringan internet itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Banyak bahan dan data serta konsep yang belum teruji kebenarannya oleh masyarakat dan dunia keilmuan karena menerbitkan tulisan dalam jaringan internet dapat dilakukan siapapun dengan sangat mudah. Jika pembaca merasa ragu-ragu terhadap bahan-bahan tersebut atau menemukan beberapa kejanggalan setelah membandingkan dengan bahan-bahan lain yang lebih terpercaya, maka bahan-bahan yang meragukan itu harus ditinggalkan.

29