Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

ANALISIS KECELAKAAN KERJA PADA KASUS KECELAKAAN Pekerja Proyek Pembangunan Hotel Panghegar Tewas Terjatuh dari Lantai 20, Rabu 23 Maret 2011

Oleh : HARUN ALRASYID 10101001032

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA NOPEMBER 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Program pembangunan telah membawa Indonesia pada kemajuan yang sigfnifikan di segala sektor kehidupan, seperti sektor industri, properti, transportasi, pertambangan dan lainnya. Dapat kita lihat dan rasakan gedung tinggi menjulang, pabrik-pabrik beroperasi tanpa henti, berbagai macam barang telah diproduksi, dan berbagai kemudahan sebagai manifestasi dari

pembangunan yang pesat. Namun pernahkah kita berpilir sejenak mengenai hal ini. Setiap hal memiliki dua sisi logam yang saling bertentangan. Begitu pula dengan program pembangunan. Ada sisi positif ada pula sisi negatif. Banyak keuntungan yang didapat namun tidak sedikit kerugian yang ditanggung. Kecelakaan kerja, pencemaran lingkungan, perubahan ilim, polusi udara, global warming, penyakit akibat kerja, dan kenegasian lain dari dampak pembangunan ini telah kita rasakan. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya kepedulian mengenai lingkungan dan terlebih sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di tengah masyarakat. Proses pembangunan di Indonesia belum menunjukkan keseimbangan antara kemajuan program pembangunan dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya manajemen K3. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya kecelakaan kerja yang terjadi dan meningkatnya penyakit akibat kerja serta prevalensi morbiditas dan mortalitas akibat kerja yang meningkat. Menurut Dirut PT. Jamsostek Hotbonar Sinaga yang dilansir dari poskota.co.id menyatakan bahwa jumlah kasus kecelakaan kerja dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Kasus kecelakaan kerja tertinggi terjadi tahun lalu, yakni mencapai 98.711 kasus, jumlah ini lebih besar dibandingkan jumlah ini

lebih besar jika dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya. Menurutnya, rata-rata kasus kecelakaan kerja setiap tahun sekitar 93.000 kasus. Oleh karena itu, pada makalah ini penulis akan melakukan analisis mengenai salah satu kasus kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia yaitu kasus kecelakaan pekerja proyek pembangunan Hotel Panghegar yang tewas terjatuh dari lantai 20, Rabu 23 Maret 2011. 1.2 RUMUSAN MALAH Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 1. Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan pada kasus Proyek Pembangunan Hotel Panghegar tersebut ? 2. Bagaimana melakukan penangan dan pencegahan agar tidak terjadi kecelakaan lagi ? 1.3 TUJUAN Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan pada kasus tersebut 2. Untuk mengetahui bagaimana cara penanganan dan pencegahan agar tidak terjadi kecelakaan yang sama

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Kecelakaan Menurut Frank Bird, an accident is undesired event that result in physical harm to a person or damage to property. It is usually the result of a contact with a source of energy (kinetic, electrical, chemical, thermal, etc) (Soehatman, 2010) Menurut Heinrich, Petersen dan Roos, 1980 Kecelakaan kerja atau kecelakaan akibat kerja adalah suatu kejadian yang tidak terencana dan tidak terkendali akibat dari suatu tindakan atau reaksi suatu objek, bahan, orang atau radiasi yang mengakibatkan cidera atau kemungkinan akibat lainnya. (Mayendra, 2009). Kecelakaan adalah semua kejadian yang tidak direncanakan yang menyebabkan atau berpotensial menyebabkan cidera, kesakitan, kerusakan, atau kerugian lainnya. (Standar AS/NZS 4801:2001). Sementara itu, menurut OHSAS 18001:2007 Kecelakaan Kerja didefinisikan sebagai kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan cidera atau kesakitan (tergantung dari keparahannya) kejadian kematian atau kejadian yang dapat menyebabkan kematian. Pengertian ini digunakan juga untuk kejadian yang dapat menyebabkan merusak lingkungan (Sumber : OHSAS 18001:2007). Kecelakaan kerja menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.3 adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang adapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa kecelakaan akibat kerja adalah suatu peristiwa yang tidak terduga, tidak terencana tidak dikehendaki dan menimbulkan kerugian baik jiwa maupun harta yang disebabkan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan yaitu ketika pulang dan pergi ke tempat kerja melalui rute yang biasa dilewati.

2.2 Klasifikasi Kecelakaan Kerja Pengertian kejadian menurut standar Australian AS 1885 1 (1990) adalah suatu proses atau kejadian cidera atau penyakit akibat kerja. ( Mayendra,2009) Banyak tujuan yang dicapai dengan melakukan pengklasifikasian kejadian kecelakaan akibat kerja. Salah satu diantaranya adalah untuk mengidentifikasi proses alami suatu kejadian seperti dimana terjadinya kecelakaan, apa yang dilakukan oleh karyawan dan alat apa yang digunakan oleh karyawan sehingga menyebabkan kecelakaan. Dengan menerapkan kode-kode kecelakaan kerja maka akan sangat membantu proses investigasi dalam menginterpretasikan informasi-informasi yang di dapat. ada banyak refrensi yang menjelaskan mengnai kode-kode dari kecelakaan kerja, salah satunya adalah standar Australian 1885 1 (1990). Berdasarkan standar tersebut, kode yang diguakan untuk mekanisme terjadinya cidera/sakit akibat kerja dibagi sebagi berikut : 1. Jatuh dari atas ketinggian 2. Jatuh dari ketinggian yang sama 3. Menabrak objek dengan bagian tubuh 4. Terpajan oleh getaran mekanik 5. Tertabrak oleh objek yang bergerak 6. Terpajan oleh suara yang tiba-tiba 7. Terpajan oleh suara yang lama 8. Terpajan tekanan yang bervariasi 9. Pergerakan berulang dengan pengangkatan otot yang rendah 10. Otot tegang lainnya 11. Kontak dengan listrik 12. Kontak atau terpajan dengan dingin atau panas 13. Terpajan radiasi

14. Kontak tunggal dengan bahan kimia 15. Kontak jangka panjang dengan bahan kimia 16. Kontak lainnya dengan bahan kimia 17. Kontak dengan atau terpajan dengan faktor biologi 18. Terpajan faktor stress mental 19. Longsor atau runtuh 20. Kecelakaan kendaraan/mobil 21. Lain-lain mekanisme cidera berganda atau banyak

2.3 Teori Penyebab dan Model Kecelakaan 2.3.1 Model Kecelakaan Dalam proses terjadinya kecelakaan terkait 4 unsur produksi yaitu People, Equipment, Material, dan Environment (PEME) yang saling berinteraksi dan bersama-sama menghasilkan suatu produk atau jasa. (Soehatman, 2010) Kecelakaan dapat terjadi karena konsdisi alat atau material yang digunakan dalam bekerja. Alat dan material ada kemungkinan besar memiliki kondisi yang berbahaya. Selain itu kecelakan juga dapat disebabkan oleh lingkungan tempat bekerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan tempat bekerja yang tidak aman seperti, kebisingan, pencahayaan yang kurang, banyaknya asap atau debu, dan bahan-bahan kimia yang bersifat toksik. Kemudian faktor terakhir yang dapt menyebabkan terjadinya kecelakaan adalah orang/pekerja itu sendiri. Adanya human error pada perkerja yang

mengakibatkan kecelakaan semakin sering terjadi. Berdasarkan teori Heinrich dikatakan bahwa manusia memiliki kecendrungan untuk melakukan kesalahan yang akan berasosiasi dengan faktor penyebab kecelakaan lainnya sehingga menimbulkan an accident. Menurut Mayendra, 2009 dalam makalahnya pentingnya mempelajari model kecelakaan adalah sebagai berikut

1. Memahami klasifikasi sistem yang logis, objektif dan dapat diterima secara universal. Dengan mengklasifikasikan sistem maka beberapa fenomena, kejadian yang melatarbelakangi kecelakaan dapat

dikelompok-kelompokkan sehingga mudah dianalisa. 2. Model kecelakaan dapat mempermudah identifikasi bahaya karena kerangka logiknya jelas. 3. Model kecelakaan dapat membantu investigasi kecelakaan dan membantu cara-cara pengendaliannya. 2.3.2 Teori Penyebab Kecelakaan Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh berbagai faktor penyebab, berikut teori-teori mengenai terjadinya suatu kecelakaan : 1. Pure Chance Theory (Teori Kebetulan Murni) Teori yang menyimpulkan bahwa kecelakaan terjadi atas kehendak Tuhan, sehingga tidak ada pola yang jelas dalam rangkaian peristiwanya, karena itu kecelakaan terjadi secara kebetulan saja. 2. Accident Prone Theory (Teori Kecenderungan Kecelakaan) Teori ini berpendapat bahwa pada pekerja tertentu lebih sering tertimpa kecelakaan, karena sifat-sifat pribadinya yang memang cenderung untuk mengalami kecelakaan kerja. 3. Three Main Factor (Teori Tiga Faktor) Menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan peralatan, lingkungan dan faktor manusia pekerja itu sendiri. 4. Two main Factor (Teori Dua Faktor) Kecelakaan disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe condition) dan tindakan berbahaya (unsafe action). 5. Human Factor Theory (Teori Faktor Manusia) Menekankan bahwa pada akhirnya seluruh kecelakaan kerja tidak langsung disebabkan karena kesalahan manusia.

2.4 Teknik Identifikasi Bahaya Pemilihan teknik/metode identifikasi bahaya yang sesuai dengan sebuah perusahaan sangat menentukan efektifitas identifikasi bahaya yang dilakukan. Ada beberapa pertimbangan dalam menentukan teknik identifikasi bahaya antara lain: 1. Sistematis dan tersetruktur, 2. Mendorong pemikiran kreatif tentang kemungkinan bahaya yang belum pernah dikenal sebelumnya, 3. Harus sesuai dengan sifat dan skala kegiatan perusahaan, 4. Mempertimbangkan ketersediaan informasi yang diperlukan. Beberapa teknik identifikasi bahaya adalah sistem

monitoring/checklist, safety review, preleminary hazard analysis (pha), hazard operability studies (hazops), fault tree analysis (fta), inspeksi, human error analysis, what if, brainstorming, failure models and effects analysis, dan lain-lain. Pada kasus ini penulis menggunakan teori domino Heinrich sebagai teknik analisis kecelakaan sekaligus teknik identifikasi bahaya pada kasus kecelakaan tersebut. 2.5 Karakteristik bidang konstruksi Bidang konstruksi adalah satu bidang produksi yang memerlukan kapasitas tenaga kerja dan tenaga mesin yang sangat besar, bahaya yang sering ditimbulkan umumnya dikarenakan faktor fisik, yaitu : terlindas dan terbentur yang disebabkan oleh terjatuh dari ketinggian, kejatuhan barang dari atas atau barang roboh. 1. Kemungkinan jatuh dari ketinggian terjadinya lebih besar, kerusakan yang ditimbulkannya lebih parah. Penyebab jatuh dari ketinggian umumnya adalah : pekerja pada saat bekerja di tempat kerja memiliki kepercayaan dirinya berpengalaman atau mencari jalan cepat, mulai bekerja tanpa mengenakan alat pelindung apapun atau baju pelindung, sehingga begitu terjatuh tidak ada sabuk pengaman atau jaring pengaman bisa

mengakibatkan kematian. Selain kurangnya pemahaman pekerja tentang keamanan, perlindungan tenaga kerja yang dilakukan pemilik usaha sering tidak mencukupi, sebagai contoh bila bekerja di kerangka yang tinggi, harus dipasang balok menyilang, disamping untuk menjaga kestabilan, selain itu untuk memberikan topangan yang kuat bagi tenaga kerja; pada saat pekerja tidak hati-hati terjatuh, ada satu lapisan pengaman, untuk mengurangi dampak yang terjadi. Pemilik usaha tidak seharusnya mengabaikan hidup para pekerjanya demi untuk mengejar keuntungan. 2. Penyebab kejatuhan benda dari atas seringkali karena kecerobohan pekerja; seperti pada saat mengoperasikan mesin penderek, mesin penggali lubang atau mesin pendorong, semestinya ada pagar pembatas di sekelilingnya, guna mencegah masuknya pekerja, apabila tetap diperlukan pekerja lain untuk memberikan bantuan operasional, maka di sampingnya perlu ada seorang mandor yang memberikan komando dan pengawasan; selain pagar pembatas pekerja di area tersebut harus memakai secara benar perlengkapan pelindung seperti helm, sarung tangan dan sepatu pengaman dan lain-lain. Selain itu pada saat memindahkan barang berat, sebaiknya menggunakan kekuatan mesin sebagai pengganti tenaga manusia, demi menghindari terjadinya kecelakaan pada saat pemindahan. 3. Tertimpa barang yang roboh biasanya terjadi karena tidak adanya pagar pembatas di area yang mudah runtuh, karena keruntuhan itu biasanya terjadi dalam waktu sekejap tanpa peringatan terlebih dahulu, oleh karena itu dibuatkan demi mengurangi resiko kecelakan terhadap pekerja yang memasuki area tersebut. Benturan atau tabrakan biasanya terjadi dikarenakan kecerobohan pekerja, mesin penggerak dan kendaraan yang digunakan berukuran sangat besar, pandangan petugas operator tidak mudah mencapai luasnya batas area kerjanya sehingga terjadi benturan.

Cara pencegahan benturan adalah dengan memperdalam pengetahuan keselamatan pekerja, di sekeliling area penempatan mesin dibuatkan pagar pembatas, pekerja tidak diperkenankan berada di sekitar area tersebut; selain itu jumlah mandor lapangan ditambah, dan membantu mengawasi pengoperasian mesin bermotor atau kendaraan, sehingga bisa mengurangi resiko benturan.

2.6 Kebijakan dan Undang-Undang Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan ketentuan

perundangan dan memiliki landasan hukum yang wajib dipatuhi semua pihak, baik pekerja, pengusaha atau pihak yang terkait lainnya. Ada beberapa peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, beberapa diantaranya : Undang-undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatn kerja Undang-unang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan Undang-undang No. 8 tahun 1998 tentang perlindungan konsumen Undang-undang No. 19 tahun 1999 tentang jasa konstruksi Undang-undang No. 28 tahun 2002 tentang bangunan gedung Undang-undang No. 30 tahun 2009 tentang keteknikan memuat aspek keselamatan Kebijakan merupakan persyaratan utama dalam semua sistem manajemen seperti Manajemen Lingkungan, Mutu dan lain-lain. kebijakan merupakan roh dari sebuah sistem. Oleh karena itu, OHSAS 18001 mensyaratkan ditetapkannya kebijakan K3 dalam organisasi oleh manajemen puncak. Kriteria kebijaka K3 adalah sebagai berikut. 1. Sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 organisasi 2. Mencakup komitmen untuk peningkatan berkelanjutan

3. Termasuk

adanya

komitmen

untuk

sekuarngnya

memenuhi

perundangan K3 yang berlaku 4. Didokumentasikan, diimplimentasikan, dan dipelihara 5. Dikomunikasikan kepada seluruh pekerja 6. Tersedia bagi pihak lain yang terkait 7. Ditinjau ulang secara berkalauntuk memastikan bahwa masih relevan dan sesuai dengan organisasi

10

BAB III ANALISIS KASUS KECELAKAAN

3.1 Deskripsi Kasus Terjun dari Lantai 20, Pekerja Proyek Tewas (Seputar Indonesia) Thursday, 24 March 2011 Sumber : www.seputarindonesia.com BANDUNG Seorang pekerja, Agus Iding, 35, tewas seketika setelah terjatuh dari lantai 20 proyek pengerjaan Apartemen Panghegar di Jalan Merdeka, Kota Bandung, kemarin pukul 14.15 WIB. Namun disayangkan, pihak proyek tidak melaporkan ke kepolisian. Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, korban yang bekerja sebagai mekanik leader konstruksi lift saat itu hendak mengecek lift di lantai 20. Saat pintu terbuka, seketika itu korban terdorong dan pintu tertutup otomatis dengan cepat, sedangkan kotak lift berada di lantai dasar.Korban pun langsung terjatuh hingga lantai GF. Salah seorang rekan kerja korban, Leman Nugraha, 20, mengatakan bahwa korban terdorong sangat cepat.Biasanya lift passenger itu selalu berada di lantai 20, ini malah di lantai GF; jadi pas dibuka, kosong, jelas Leman. Saudara korban, Dadang, mengaku mendapat kabar kecelakaan tersebut sekitar pukul 16.00 WIB.Kalau keluarga dapat kabarnya pukul tigaan, katanya kecelakaan, ungkap Dadang di Rumah Sakit Bungsu, Jalan Veteran, Kota Bandung, tadi malam. KorbantewaswargaJalanCikuda RT 02/11,Cibiru,Kota Bandung, itu

mengalami luka patah kaki dan mengeluarkan darah segar dari bibir, serta beberapa bagian tubuhnya mengalami pembengkakan. Korban langsung dilarikan ke RS Bungsu.Sementara itu,pihak pengembang hotel bungkam ketika ditanya wartawan mengenai kejadian tersebut. No comment, saya nggak tahu, ungkap beberapa pekerja dan pihak keamanan. Pihak kepolisian pun baru mengetahuinya sekitar pukul 17.30 dari pihak rumah sakit.

11

Tim identifikasi langsung meluncur ke lokasi kejadian,tetapi pihak pengembang terlihat menutupnutupi. Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP Tubagus Ade Hidayat membenarkan terkait kejadian tersebut.Iya,kita baru tahu sekitar pukul 17.30, ungkap Tubagus ketika dihubungi wartawan. Pihaknya pun saat ini memeriksa beberapa orang saksi yang mengetahui kejadian tersebut. yugi prasetyo

Pekerja Projek Pembangunan Hotel Panghegar Tewas Terjatuh dari Lantai 20 Rabu, 23/03/2011 - 21:11 Sumber : www.pikiran-rakyat.com BANDUNG, (PRLM).- Agus Iding (35) tewas setelah terjatuh dari lantai 20 tempat ia bekerja, di projek pembangunan Hotel dan Apartemen Panghegar, Jln. Merdeka, Rabu (23/3) siang. Agus adalah pekerja bangunan di projek tersebut. sebagai mekanik leader konstruksi lift. Meskipun peristiwa terjadi pukul 14.15 WIB, tapi kepolisian baru mengetahui kejadian itu selepas pukul 17.30 WIB. Pasalnya, manajemen hotel tidak memberitahukannya ke kepolisian terdekat dan terkesan menutup-nutupi peristiwa itu. Polisi mendapat informasi dari RS Bungsu di Jln. Bungsu, yang sempat merawat korban. Berdasarkan sejumlah saksi mata yang dimintai keterangan polisi, menuturkan, saat itu korban hendak mengecek lift di lantai 20. Lift baru terpasang pintunya saja. Sementara lift passenger berada di lantai dasar. Saat Agus memencet tombol, pintu lift terbuka dengan cepat. Agus kaget sehingga terdorong ke dalam lift yang belum ada passenger lift-nya. Tubuh Agus melayang dan terhempas dengan keras di lantai GF (ground floor). Leman Nugraha (20), rekan kerja korban, mengatakan, peristiwa itu terjadi sangat cepat. "Biasanya, passenger lift, selalu ada di lantai 20. Tidak tahu kenapa, hari itu kok ada di bawah. Jadi pas pintu terbuka, liftnya tidak ada sehingga korban kaget dan jatuh," katanya kepada polisi.

12

Sementara itu, saudara korban, Dadang, ditemui di RS Bungsu, mengatakan, dia mendapat informasi tersebut sekitar pukul 16.00 WIB. Sementara keluarga lainnya mendapatkan informasi itu pukul 15.00 WIB. Berdasarkan identifikasi rumah sakit dan kepolisian, korban yang merupakan warga Jln. Cikuda, Cibiru Kota Bandung itu, mengalami luka patah kaki, mengeluarkan darah segar dari bibir, dan sejumlah memar dan bengkak di tubuhnya. Kasat Reskrim Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Tubagus Ade Hidayat menuturkan, kepolisian baru mengetahui sekitar pukul 17.30 WIB. Polisi pun telah memeriksa sejumlah saksi. Namun kepolisian menyayangkan dengan sikap manajemen hotel yang terkesan berusaha menutup-nutupi peristiwa itu dengan tidak segera melaporkan ke kepolisian. (A-128/das)***

Jatuh Dari Lantai 20 Apartemen Panghegar, Agus Tewas Seketika Sumber : www.bandung.detik.com Baban Gandapurnama - detikBandung Bandung - Agus iding (35), tewas seketika setelah jatuh dari lantai 20 proyek pembangunan Grand Royal Panghegar Apartement, sekitar pukul 14.15 WIB, Rabu (23/3/2011). Jenazah pekerja proyek itu langsung dibawa ke RS Bungsu, Jalan Veteran. Sebelum kejadian, Agus dan rekan kerjanya, Leman Nugraha (25), sedang mengecek lift ke lantai 20 bangunan tersebut. Agus ini bekerja sebagai mekanik leader konstruksi lift. "Saat itu pintu lift dalam keadaan tertutup. Almarhum membuka pintu itu menggunakan tangan, dia masuk dan pintu tiba-tiba pintu menutup. Ternyata pas dibuka melompong, enggak ada boks liftnya," kata Leman ditemui di RS Bungsu. Diketahui, kata dia, boks lift berada di lantai bawah. "Biasanya juga lift passenger itu setiap hari ada di lantai 20. Tapi tadi di bawah," ujarnya. Leman menambahkan, Agus tewas seketika di lokasi kejadian. Lalu jenazahnya diboyong ke RS Bungsu, "Kondisinya mulut berdarah, tubuh bengkak dan kaki patah," ungkapnya. Korban merupakan warga Jalan Cikuda, RT 2 RW 11,

13

Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Dia sudah bekerja di proyek Apartemen Panghegar sejak Maret 2010 lalu. Sementara itu, pihak keluarga korban mengaku diberitahu pihak perusahaan dua jam setelah peristiwa tersebut. "Tadi dikasih tahu jam empat. Kalau kejadiannya enggak tahu. Tapi dibilang jatuh," ujar Dadang dari pihak keluarga korban saat ditemui di RS Bungsu. Pantauan detikbandung, sejumlah polisi yang diberi tahu oleh RS Bungsu sekitar pukul 17.30 WIB, langsung mengidentifikasi data diri korban. Usai meminta keterangan keluarga korban dan rekan kerja, polisi meninggalkan RS Bungsu sekitar pukul 19.30 WIB. Sementara jasad korban dibawa keluarga sekitar pukul 20.00 WIB. Pihak proyek yang ditemui di lokasi kejasian enggan berkomentar soal kasus ini. Enggak tahu. No comment," ujar seorang petugas proyek saat wartawan meminta konnfirmasi. Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Tubagus Ade Hidayat

membenarkan kejadian tersebut. "Kami masih menyelidikinya. Sejumlah saksi kami minta keterangan," ujarnya saat dikonfirmasi wartawan via ponsel. Sementara itu dihubungi secara terpisah PR Panghegar Restina Setiawan mengaku belum mendapat konfirmasi soal peristiwa itu. "Belum ada konfirmasi apa-apa, saya tadi pulang duluan. Jadi belum bisa ngomong apa-apa. Mungkin besok saya bisa kasih keterangan," ujarnya.

3.2 Analisis Kasus Pada kasus kecelakaan ini penulis menggunakan model analisis kasus Teori Domino yang berasal dari Heinrich (1930). Hal ini disebabkan karena kondisi kasus kecelakaan sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Heinrich ini. Dalam Teori Domino Heinrich, kecelakaan terdiri atas lima faktor yang saling berhubungan yaitu, kondisi kerja (environment), kelalaian manusia (person), tindakan tidak aman (hazard), kecelakaan (accident) dan cedera/kematian (injury).

14

1. Identitas korban kecelakaan Pada kasus ini dapat kita ketahui bahwa korban bernanma Agus Iding. Ia adalah seorang Pemimpin Konstruksi Lift dari proyek

pembangunan Apartemen Panghegar di Jalan Merdeka, Kota Bandung. Dari artikel tersebut dpat kita kategorikan bahwa korban berkerja pada bidang konstruksi bangunan dan sudah cukup berpengalaman karena ia diposisikan sebagai leader dalam proyek pembangunan lift apartemen ini. 2. Identifikasi sumber bahaya Dalam kasus ini korban melakukan tindakan yang tidak aman yaitu tidak menggunakan body harness/full body harness (Hazard yang berupa unsafe act). Sedangkan Menurut undang-undang keselamatan kerja,

bekerja di ketinggian ini memerlukan fix platform atau memakai alat pelindung diri berupa full body harness. Selain itu, bila pekerjaan dilakukan pada tempat yang memiliki ketinggian lebih dari lima meter, diperlukan sebuah ijin khusus, yang mana ijin ini diperlukan untuk menganalisa bahaya apa saja yang mungkin terjadi dan menyiapkan alat pengaman yang cocok untuk meminimalisir resiko yang akan dihadapi bila bekerja pada ketingian tersebut. Working at High atau sering disingkat WaH, memiliki arti dalam bahasa Indonesia adalah bekerja pada ketinggian. Kategori bekerja pada

15

ketinggian adalah melakukan pekerjaan yang memiliki ketinggian sama dengan atau lebih dari 1,8 meter dari permukaan tanah. Kemudian dapat kita ketahui pula bahwa kondisi kerja (environment) pada saat itu mendukung terjadinya kecelakaan. Berdasarkan berita tersebut lift passanger biasanya berada di lantai 20 tempat korban berada, namun entah mengapa pada hari tersebut box liftnya berada di GS (Ground Floor). Dari deskripsi berita yang diberikan dapat kita analisa bahwa korban melakukan kesalahan (fault of person), selain tidak memakai alat pelindung diri, korban tidak berlaku hati-hati terhadap segala kemungkinan yang ada. Disini mungkin ia merasa aman karena seperti biasanya box lift berada di lantai 20, namun kenyataannya tidak. 3. Kronologis kecelakaan kerja

Dalam kasus kecelakaan yang terjadi pada Agus Icing ini merupakan sebuah kasus yang komplikatif. Artinya banyak penyebab yang dpat kita analisis didalamnya dan membentuk sebuah kemungkinan terjadinya kecelakaan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian baik secara langsung (direct cost) maupun tidak langsung (Indirect cost). Pada kasus ini penulis akan menjelaskan kejadian berdasarkan teori yang dikemukaan oleh Heinrich pada tahun 1930 yaitu teori Domino. Teori domino merupakan visualitas yang menggambarkan berbagai peluang dan sumber bahaya yang pada akhirnya mengakibatkan

16

terjadinya kecelakaan. Tahap-tahap kejadian pada kasus ini berdasarkan analisa berita yaitu sebagai berikut. 1. Environment atau keadaan/kondisi kerja. Pada kasus ini

digambarkan kondisi kerja yang menimbulkan resiko terjadinya kecelakaan yaitu Working at High atau WaH. Korban berada pada ketinggian yang ditaksir lebih dari 40 meter karena berada pada lantai 20 (estimasi 1 lantai = 2 meter). 2. Kemudian pada kartu yang kedua sesuai dengan teori Domino Heinrich terdapat Fault of person (kelalaian manusia) yang bergerak/jatuh akibat dari kondisi kerja yang memungkinkan (kartu pertama). Pada kasus ini kesalahan yang dilakukan korban adalah tidak berhati-hati pada setiap kondisi lingkungan yang ada, sehingga korban merasa jika dirinya sudah aman. Di sumber berita disebutkan bahwa Saat pintu terbuka, seketika itu korban terdorong dan pintu tertutup otomatis dengan cepat, sedangkan kotak lift berada di lantai dasar atau Saat Agus memencet tombol, pintu lift terbuka dengan cepat. Agus kaget sehingga terdorong ke dalam lift yang belum ada passenger lift-nya. Disini dapat kita pahami bahwa korban terkejut dengan kondisi lift tidak berisi box-nya sehingga ia terdorong dan jatuh ke lantai dasar. Penulis berpendapat bahwa korban setelah membuka pintu, korban telah bersiap dan segera memasuki box-lift tanpa melihat ada atau tidaknya box-lift tersebut. 3. Kartu yang ketiga adalah Hazard. Hazard dalam model Heinrich ini dapat diartikan sebagai unsafe condition atau unsafe act. Berdasarkan berita selain kondisi yang tidak aman karena berada pada ketinggian yang berisiko menimbulkan kecelakaan, korban juga tidak

menggunakan APD seperti yang telah diatur dalam undang-undang keselamatan kerja, apabila melebihi ketinggian 1,8 meter maka harus

17

menggunakan alat pelindung diri yang berupa body harness/full body harness. 4. Dari ketiga sumber bahaya tersebut yang saling berkolerasi dan menjatuhkan kartu berdasarkan urutannya maka timbulah sebuah Accident (kecelakaan) yang terjadi di Bandung pada tanggal 23 Maret 2011 di Hotel Panghegar pada pukul 14.15 WIB. 5. Dampak dari semua runtutan kartu di atas berdasarkan model Domino Heinrich menimbulkan sebuah kerugian (injury), dalam hal ini nyawa korban. Kerugian ini dapat berupa biaya kompensasi untuk korban. Selain kerugian langsung tersebut banyak lagi kerugian yang di dapatkan pihak hotel Panghegar yaitu kerugian tidak langsung seperti, kerugian jam kerja, kerugian sosial, serta citra dan kepercayaan pelanggan berkurang. Hal ini lebih berdampak karena korban adalah mekanik leader dalam proyek pembangunan hotel tersebut.

18

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Pada hakikatnya kecelakan merupakan proses interaksi dari faktor-faktor penyebab yang menimbulkan peluang terjadinya hal tersebut. Kecelakaan bukan merupakan sebuah kejadian tunggal yang spontanitas terjadi, tetapi ia telah didahului oleh insiden-insiden kecil sehingga pada tahap akhirnya akan menyebabkan accident atau kecelakaan tersebut (FTA). Kecelakaan bukan kejadian yang tidak dapat dicegah atau dihindari. Kecelakaan dapat dicegah dengan menerapkan prinsip sistem K3 dan pendekatanpencegahan kecelakaan. Pada kasus Agus icing ini, seharusnya kecelakaan dapat dihindarkan dengan melakukan tindakan preventif seperti berhati-hati dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai ketentuan. Jika saja hal tersebut dilakukan oleh korban maka kecelakaan dapat dihindari. 4.2 Saran Pada kesempatan ini penulis hanya berpesan bahwa pada prinsipnya kecelakaan dapat kita cegah. Angka kecelakaan yang semakin memuncak dapat kita landai dengan melakukan tindakan preventif dan berpedoman pada prinsip kehati-hatian. Mematuhi segala peraturan undanng-undang dan kebijakan sistem K3 bukan merupakan hal yang berat jika menyangkut dengan nyawa. Tumbuhkan kesadaran dalam diri kita akan pentingnya K3. Maka kecelakaan dapat kita hindari dan angka mortalitas dapat dieliminir seminimal mungkin. MARI CIPTAKAN MASYARAKAT INDONESIA, SADAR K3 !!!

19