Anda di halaman 1dari 30

UJI KEMAMPUAN SERTA OPTIMASI ADSORPSI KADMIUM (II) DALAM MEDIUM AIR MENGGUNAKAN NANOMATERIAL SERUPA HIDROTALSIT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian

Proposal Skripsi

Oleh Nina Muminah 3325101445 Program Studi Kimia

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam, nikmatnya yang tak terkira yang telah memberikan cahaya dan manfaat untuk masa depan yang lebih baik bagi umat manusia dan segala kehidupan yang diciptakanNya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dengan rasa syukur, penulis telah menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul Uji Kemampuan Serta Optimasi Adsorpsi Kadmium (II) dalam Medium Air Menggunakan Nanomaterial Serupa Hidrotalsit. Dalam penyelesaian makalah ini, penulis banyak mendapatkan banyak bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik berupa moril maupun materil yang sangat berarti bagi penyelesaian makalah ini. Untuk itu ungkapan terima kasih penulis haturkan kepada kedua orang tua, Prof. Dr. Rukaesih A., M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian, dan juga kepada rekan-rekan mahasiswa kimia angkatan 2010. Penulis berharap semoga proposal ini dapat dimanfaatkan

seoptimal mungkin dan dapat menjadi pembangkit motivasi bagi para peneliti-peneliti yang lain untuk mencari dan mengembangkan adsorben yang efektif. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna dan tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan meminta saran dan kritik yang konstruktif untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta informasi. Jakarta, Juni 2013

Nina Muminah

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. I DAFTAR ISI ............................................................................................... II DAFTAR TABEL ...................................................................................... IV DAFTAR GAMBAR ................................................................................... V BAB I ......................................................................................................... 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1 A. B. C. D. E. F. LATAR BELAKANG .............................................................................. 1 IDENTIFIKASI MASALAH....................................................................... 2 PEMBATASAN MASALAH ..................................................................... 3 PERUMUSAN MASALAH ...................................................................... 3 TUJUAN PENELITIAN........................................................................... 3 MANFAAT PENELITIAN ........................................................................ 3

BAB II ........................................................................................................ 4 A. KAJIAN TEORI .................................................................................... 4 1. Kadmium .............................................................................. 4 2. Nano-Hidrotalsit.................................................................... 5 3. Adsorpsi ............................................................................. 13 KERANGKA BERPIKIR ....................................................................... 16 PENELITIAN SEBELUMNYA ................................................................ 16 HIPOTESIS PENELITIAN..................................................................... 16

B. C. D.

BAB III ..................................................................................................... 17 A. B. C. D. E. F. G. H. TUJUAN OPERASIONAL ..................................................................... 17 WAKTU DAN TEMPAT........................................................................ 17 METODE PENELITIAN ....................................................................... 17 DESAIN EKSPERIMEN ....................................................................... 17 SAMPEL PENELITIAN ........................................................................ 18 VARIABEL........................................................................................ 18 ALAT DAN BAHAN............................................................................. 18 PROSEDUR KERJA ........................................................................... 19 1. Sintesis Media Adsorpsi ..................................................... 19 2. Karakterisasi nano-hidrotasit .............................................. 19 3. Adsorpsi Pb2+ dengan Hidrotalsit ....................................... 20

iii

I.

J.

K.

BAGAN KERJA ................................................................................. 21 1. Sintesis Media Adsorpsi ..................................................... 21 2. Uji Adsorpsi ........................................................................ 21 HIPOTESIS STATISTIK ....................................................................... 22 Hipotesis statistik ini digunakan dalam pengujian kemampuan adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotasit .............................................. 22 TEKNIK ANALISIS DATA .................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 23

iv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.Desain Eksperimen ................................................................................18

DAFTAR GAMBAR Gambar 1.Struktur kristal hidrotalsit (L van der Ven, dkk. 2000) .....................5 Gambar 2.Prinsip kerja XRD .................................................................................8 Gambar 3.Skema alat FTIR .................................................................................10 Gambar 4.Instrumen TEM ...................................................................................11 Gambar 5.Proses adsorpsi ..................................................................................13

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pencemaran air telah lama menjadi masalah serius yang perlu ditangani. World Health Organization (WHO) melaporkan kasus

pencemaran air mengakibatkan kematian lebih dari 3,5 juta jiwa per tahun di seluruh dunia. Kasus ini semakin terpuruk dengan adanya pencemaran air oleh logam berat, karena toksisitas yang cukup tinggi dan nonbiodegradabilitas. Kadmium digunakan untuk pelapisan logam dan pengerjaan pelapisan termasuk peralatan transportasi, mesin, fotografi dan lain-lain. Logam ini juga berpengaruh pada kesehatan dimana beberapa orang yang minum air yang mengandung kadar kadmium berlebihan akan beresiko tinggi terhadap pembuluh darah. Kadmium berpengaruh terhadap manusia dalam jangka waktu panjang dan dapat terakumulasi pada tubuh khususnya hati dan ginjal. Penelitian tentang penghilangan Cd (II) dari air limbah cukup meningkat dalam dekade terakhir karena kesadaran akan dampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan. Beberapa metode kimia maupun biologis telah banyak digunakan untuk menghilangkan Cd (II) dari air limbah, salah satunya adalah metode adsorpsi. Berbagai adsorben telah digunakan untuk menghilangkan Cd (II) dari air limbah, dengan beberapa faktor yang mempengaruhi efektifitas adsorpsi adalah luas permukaan, distribusi ukuran pori, polaritas, dan gugus fungsional adsorben. Adsorben yang biasa digunakan berasal dari alam. Namun adsorben jenis ini memiliki untuk kekurangan, yaitu ini ukuran adalah nano luas

permukaannya. Solusi dengan merekayasa

mengatasi

kekurangan

adsorben dinilai

menjadi cukup

berskala efektif karena

(nanomaterial). Nanomaterial

permukaannya yang lebih besar, sehingga mampu memperbaiki diri sendiri, potensi katalitik, dan tidak mempunyai hambatan difusi internal. Penelitian tentang adsorpsi oleh nanopartikel ini menggunakan bahan yang berasal dari Hidroksida biner berlapis (LDHs) atau hidrotalsit (HT) sebagai adsorben logam pada air limbah. Rumus umum dari hidrotalsit (HT) adalah [ (OH)2]x+ [ . mH2O ]x- dimana M2+

dan M3+ adalah ion logam positif divalen dan trivalen. Strukturnya terdiri dari lapisan menyerupai brucite dengan muatan positif untuk penggantian Mg2+ oleh Al3+, muatan ini menjadi seimbang oleh anion interlayer (An-). HT memiliki kapasitas kation pertukaran ion yang itu, HT lebih besar

dibandingkan

dengan

lempung. Selain

mempunyai

kemampuan untuk memperbaiki strukturnya pada temperatur tinggi sampai dengan kisaran 500-800C, sebagai produk hasil kalsinasi, HT memiliki efek memori dan karenanya memungkikan HT untuk

merekonstruksi struktur aslinya memberikan peluang untuk digunakan kembali dan didaur ulang. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki karakter dan potensi nano HT dalam menyerap ion Cd (II). Variabel kontrol yang digunakan antara lain: temperatur, pH, dan waktu kontak. Diharapkan beberapa variabel tersebut dapat menunjukkan situasi dan kondisi efektif untuk adsorpsi ion Cd (II) oleh nano HT. B. Identifikasi Masalah Dari proses sintesis nano-hidrotasit masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut: 1. Apakah nano-hidrotalsit yang disintesis dapat digunakan sebagai adsorben Cd(II) dalam medium air? 2. Berapa waktu interaksi optimum adsorpsi Cd(II) oleh nanohidrotalsit?

3. Berapa pH optimum adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit? 4. Berapa temperatur optimum adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit? C. Pembatasan Masalah Pada penelitian ini masalah yang dikaji dibatasi pada untuk mengetahui apakah nano-hidrotalsit yang disintesis dapat digunakan sebagai adsorben Cd(II) dalam medium air, waktu interaksi, pH optimum dan temperatur optimum pada uji adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit. D. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, perumusan masalah pada penelitian ini adalah: 1. Apakah nano-hidrotalsit yang disintesis dapat digunakan sebagai adsorben Cd(II) dalam medium air? 2. Berapa waktu interaksi optimum adsorpsi Cd(II) oleh nanohidrotalsit? 3. Berapa pH optimum adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit? 4. Berapa temperatur optimum adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit?

E. Tujuan Penelitian Penelitian mengetahui ini bertujuan untuk mensintesis hasil nano-hidrotalsit, menguji

karakteristik

nano-hidrotalsit

sintesis,

kemampuan nano-hidrotalsit pada proses adsorpsi Cd(II) dalam medium air dan optimasi proses adsorpsinya. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan mampu memberi informasi mengenai karakteristik nano-hidrotalsit hasil sintesis, kapasitas adsorpsi dan optimasi proses adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotalsit dalam medium air.

BAB II Landasan Teori A. Kajian Teori 1. Kadmium Kadmium adalah logam berat berwarna kebiruan yang lunak, termasuk ke dalam golongan II B. Unsur ini mempunyai berat atom 48, mempunyai bobot atom 112,41 g/mol dan memilikidensitas 8,65 g/cm3. Titik didih dan titik lelehnya berturut-turut 765C dan320,9C. Sifat kimia Cd antara lain: Logam yang cukup aktif, bereaksi dengan halogen dan non-logam, tidak larut dalam basa, larut dalam H2SO4 encer dan HCl encer (Arifin, 2008). Kadmium digunakan pula dalam pembuatan solder dan digunakan sebagai pembuat baterai Ni-Cd (Yulianto, 2006).Logam Cadmium sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Logam ini telah digunakan sejak tahun 1950 dan total prosduksi Dunia sekitar 1500018000 pertahun. Kadmium adalah logam yang ditemukan dalam endapan alam seperti bijih dan berikatan dengan unsur-unsur lainnya. Logam ini digunakan untuk pelapisan logam dan pengerjaan pelapisan termasuk peralatan transportasi, mesin, fotografi dan lain-lain. Logam ini juga berpengaruh pada kesehatan dimana beberapa orang yang minum air yang mengandung kadar kadmium berlebihan dari maximum contaminant level (MCL) dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sumber utama kadmium dalam air minum adalah korosi pada pipa galvanis, erosi endapan alam, debit dari kilang logam, limpasan dari sampah baterai dan cat. Metode perlakuan berikut telah terbukti efektif untuk menghilangkan kadmium hingga di bawah 0,005 mg/L atau 5 ppb yaitu dengan koagulasi / filtrasi, pertukaran ion, lime softening dan reverse osmosis.

Berdasarkan

peraturan tentang

menteri persyaratan

kesehatan kualitas air

nomor minum,

492/Menkes/Per/IV/2010

kadmium termasuk parameter yang berhubungan langsung dengan kesehatan. Kadar maksimun kadmium yang diperbolehkan adalah 0,003 mg/l. 2. Nano-Hidrotalsit Senyawa hidrotalsit merupakan hidroksida ganda berlapis, yang di dalam strukturnya terjadi substitusi parsial logam trivalen untuk logam divalen. Substitusi ini menciptakan muatan positif di dalam lapisan-lapisan hidroksidanya, yang kemudian muatan positif ini akan dinetralkan oleh anion dan molekul air yang berada di dalam interlayer struktur senyawa hidrotalsit tersebut. Salah satu aplikasi dari senyawa hidrotalsit adalah sebagai adsorben (Gunawan, 2005, 4).

Gambar 1.Struktur kristal hidrotalsit (L van der Ven, dkk. 2000) Rumus umum dari hidrotalsit adalah [ [ (OH)2]x+

.mH2O]x- dimana M2+ dan M3+ adalah ion logam positif divalen dan Mg 2+

trivalen. Salah satu aturan dari sintesis hidrotalsit adalah jari-jari kation logam yang digunakan tidak jauh berbeda dari kation logam (Cavani, 2010, 173-301).

Senyawa hidrotalsit yang ditemukan dialam masih dalam ukuran yang cukup besar. Hidrotalsit tersebut kurang efektif untuk dijadikan adsorben karena kurang luasnya permukaan adsorben. Maka perlu disintesis adsorben yang memiliki luas permukaan yang besar sehingga memiliki situs aktif yang lebih banyak pula. Hal ini dapat diatasi dengan merekayasa hidrotalsit menjadi berukuran nano yaitu antar 1-100nm. a) Aplikasi Nano-hidrotasit Hidrotalsit memiliki banyak aplikasi, di antaranya adalah sebagai katalis, padatan pendukung katalis, penukar anion, adsorben, stabilizer, dan penangkap. Mengingat kemampuan hidrotalsit yang dapat menukar anion-anion negatif yang dimilikinya, maka hidrotalsit dapat diaplikasikan sebagai agen penukar anion. HT akan menyerap anion tersebut dan akan menggantikan posisi OH pada lembar bidang lapisnya ataupun anion pada bidang antar lapisnya. Hal ini, akan bermanfaat untuk pengolahan limbah cair yang mengandung banyak kontaminan yang berbentuk anion. Setiap anion mempunyai kapasitas pertukaran yang berbeda-beda. Kapasitas

pertukaran anion dalam hidrotalsit bergantung pada perbandingan mol M3+/(M2+/M3+) (Ookubo, 1994). b) Sintesis Nano-Hidrotasit Keberadaan hidrotalsit di alam cukup sulit untuk ditemukan. Namun, hidrotalsit dapat disintesis dalam skala laboratorium. Terdapat beberapa metode untuk sintesis hidrotalsit antara lain adalah metode penukaran ion, metode kopresipitasi, metode rekonstruksi yang

didasarkan pada sifat khas memory effect dari HT dan metode sintesis sol-gel menggunakan larutan etanol dan aseton. Setiap metode dikembangkan sesuai dengan aplikasinya kemudian.

Metode yang paling umum digunakan adalah metode kopresipitasi yaitu dengan mencampurkan larutan mengandung kation divalen dan trivalen kation. Kemudian anion dapat ditambahkan secara langsung ke dalam campuran tersebut, yang digunakan sebagai prekursor. Metode kopresipitasi dilakukan dengan mengendapkan dua logam atau lebih dan proses pemisahan endapan dalam kondisi jenuh (Trifiro dan Vaccari, 1996). Kondisi jenuh dapat dicapai dengan mengendalikan pH larutan Kopresipitasi pada kondisi jenuh dengan konsentrasi rendah yang dibuat dengan mencampurkan logam divalen dan trivalen perlahan ke dalam larutan basa yang mengandung anion. Dalam metode ini garam logam dan larutan basa yang digunakan memiliki konsentrasi rendah dan pada pH konstan dengan temperatur antara 60 - 80oC. Pada pH konstan, hal ini karena laju pertumbuhan kristal lebih tinggi (Trifiro dan Vaccari, 1996). c) Karakterisasi nano-hidrotasit Untuk mengetahui sifat-sifat nano-hidrotasit hasil sintesis perlu dilakukan karakterisasi. Pada penelitian ini karakterisasi dilakukan dengan menggunakan XRD, TEM, FTIR, dan TGA. XRD digunakan untuk komposisi dari nanopartikel. TEM digunakan untuk mengetahui morfologi dari nano-hidrotasit. FTIR digunakan untuk mengetahui gugus fungsi yang terdapat pada polifenol. Untuk mengetahui stabilitas termal dari

nanopartikel digunakan TGA. 1) Penentuan Komposisi Kristal dengan X-Ray Diffractometer (XRD) XRD (X-Ray Diffractometer) merupakan instrumen yang digunakan untuk mengkarakterisasi struktur kristal. Semua bahan yang mengandung kristal tertentu ketika dianalisa menggunakan XRD akan memunculkan puncak-puncak yang spesifik. Sehingga kelemahan alat ini tidak dapat

untuk mengkarakterisasi bahan yang bersifat amorf. Prinsip dasar dari difraksi adalah hasil dari hamburan monokromatis sinar-X memberikan interferensi yang konstruktif.

Gambar 2.Prinsip kerja XRD Prinsip kerja XRD secara umum adalah sebagai berikut : XRD terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, tempat objek yang diteliti, dan detektor sinar-X. Berkas sinar-X dijatuhkan pada sampel kristal, maka bidang kristal itu akan membiaskan sinar-X yang memiliki panjang gelombang sama dengan jarak antar kisi dalam kristal tersebut. Sinar yang dibiaskan akan ditangkap oleh detektor kemudian

diterjemahkan sebagai sebuah puncak difraksi. Makin banyak bidang kristal yang terdapat dalam sampel, makin kuat intensitas pembiasan yang dihasilkannya. Objek dan detektor berputar untuk menangkap dan merekam intensitas refleksi sinar X. Detektor merekam dan memproses sinyal sinar X dan mengolahnya dalam bentuk grafik.

Grafik pola XRD mempunyai puncak-puncak yang akan dianalisis. Tiap puncak yang muncul pada pola XRD mewakili satu bidang kristal yang memiliki orientasi tertentu dalam sumbu tiga dimensi. Puncakpuncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar JCPDS difraksi sinar-X untuk hampir semua jenis material. 2) Penentuan Komposisi Organik dengan FTIR Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) adalah sebuah teknik analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi material organik dan beberapa material anorganik. Teknik pengukuran FTIR adalah

berdasarkan penyerapan pada panjang gelombang pada daerah infra merah (IR) tertentu oleh suatu material. Pita serapan IR pada FTIR secara khusus mengidentifikasi komponen molekul dan struktur. Sistem optik FTIR menggunakan radiasi LASER yang berfungsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi IR diterima utuh dan lebih baik oleh detektor. Detektor yang digunakan dalam FTIR adalah Tetra Glycerine Sulphate (disingkat TGS) atau Mercury Cadmium Telluride (disingkat MCT). Detektor MCT lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingkan detektor TGS, yaitu memberikan respon yang lebih baik pada frekwensi modulasi tinggi, lebih sensitif, lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperatur, sangat selektif terhadap energi vibrasi yang diterima dari radiasi IR.

10

Gambar 3.Skema alat FTIR Bagian dalam FTIR adalah cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam. Radiasi IR akan menimbulkan perbedaan jarak yang ditempuh menuju cermin yang bergerak (M) dan jarak cermin yang diam (F). Perbedaan jarak tempuh radiasi tersebut adalah 2 yang selanjutnya disebut sebagai retardasi (). Hubungan antara intensitas radiasi IR yang diterima detektor terhadap retardasi disebut sebagai interferogram. Cara kerja spektrometer IR adalah sebagai berikut: Mula mula sampel yang diidentifikasi berupa atom atau molekul. Sinar IR berperan sebagai sumber sinar dibagi menjadi dua berkas, satu dilewatkan melalui sampel dan yang lain melalui pembanding. Kemudian secara berturutturut melewati chopper. Setelah melalui prisma atau grating, berkas akan jatuh pada detektor dan diubah menjadi sinyal listrik yang kemudian direkam oleh rekorder dan memberikan gambaran spektrum. Struktur kimia dan bentuk ikatan molekul serta gugus fungsional tertentu sampel yang diuji menjadi dasar bentuk spektrum yang akan diperoleh dari hasil analisa.

11

3) Penentuan Morfologi dan Ukuran dengan TEM TEM bekerja pada prinsip-prinsip dasar yang sama dengan mikroskop cahaya. Perbedaanya adalah pada sumber cahayanya, TEM menggunakan elektron. Pada mikroskop cahaya, objek penglihatan dibatasi oleh panjang gelombang cahaya, dengan menggunakan TEM, terdapat panjang gelombang yang lebih rendah memungkinkan untuk

mendapatkan resolusi seribu kali lebih baik dibandingkan dengan mikroskop cahaya. Objek yang teramati dalam rentang dari beberapa angstrom (10-10 m).

Gambar 4.Instrumen TEM Prinsip kerja dari TEM secara singkat adalah sinar elektron mengiluminasi spesimen dan menghasilkan sebuah gambar diatas layar pospor. Aplikasi utama TEM adalah sebagai berikut: analisis

mikrostruktur, identifikasi defek, analisis interfasa, struktur kristal, tatanan atom pada kristal, serta analisa elemental skala nanometer.

12

4) Penentuan Stabilitas Termal Menggunakan TGA Analisis Termogravimetri (TGA) adalah salah satu teknik analisis termal yang digunakan untuk menggambarkan berbagai bahan. TGA menyediakan informasi karakterisasi bebas dan tambahan untuk teknik termal. TGA mengukur jumlah dan laju (kecepatan) perubahan massa sebuah sampel sebagai fungsi temperatur atau waktu dalam suasana yang dikendalikan. massa Teknik baik ini dapat menganalisis atau bahan yang karena

menunjukkan

kekurangan

kelebihan

dekompositus, oksidasi atau hilangnya bahan mudah menguap (seperti kelembaban). Prinsip penggunaan TGA ialah mengukur kecepatan rata-rata perubahan massa suatu bahan/cuplikan sebagai fungsi dari temperatur atau waktu pada tekanan terkontrol. Pengukuran digunakan khususnya untuk menentukan kompositus dari suatu bahan atau cuplikan dan untuk memperkirakan stabilitas termal pada temperatur diatas 1000 oC. Perubahan massa sampel pada TGA, bahan akan mengalami kehilangan maupun kenaikan massa. Proses kehilangan massa terjadi karena adanya proses dekomposi yaitu pemutusan ikatan kimia, evaporasi yaitu kehilangan atsiri pada peningkatan temperatur, reduksi yaitu interaksi bahan dengan pereduksi, dan adsorpsi. Sedangkan kenaikan massa disebabkan oleh proses oksidasi yaitu interaksi bahan dengan suasana pengoksidasi, dan absorpsi. 5) Penentuan kadar Cd (II) Menggunakan AAS Spektrometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakan pada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombang tertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skoog et al., 2000). AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya

13

tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya Spektrometri Serapan Atom (SSA) meliputi absorpsi sinar oleh atom-atom netral unsur logam yang masih berada dalam keadaan dasarnya (Ground state). Sinar yang diserap biasanya ialah sinar ultra violet dan sinar tampak. Prinsip Spektrometri Serapan Atom (SSA) pada dasarnya sama seperti absorpsi sinar oleh molekul atau ion senyawa dalam larutan. Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatu sel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagian cahaya tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurus dengan banyaknya atom bebas logam yang berada pada sel.

3. Adsorpsi Adsorpsi merupakan suatu proses yang pengikatan fluida (cairan atau gas) pada duatu permukaan padatan da akhirnya membentuk suatu lapisan tipis (Saputra, 2008). Dapat pula didefinisikan dengan pengikatan ion-ion bebas dalam medium air oleh adsorben.

Gambar 5.Proses adsorpsi Terdapat istilah adsorbat dan adsorben pada proses adsorpsi, dimana adsorbat adalah substansi yang terjerap atau substansi yang akan dipisahkan dari pelarutnya, sedangkan adsorben adalah merupakan suatu media penyerap yang dalam hal ini berupa senyawa karbon. Adsorben

14

yang biasa digunakan adalah zeolit dan resin hasil polimerisasi dari polihidrik fenol dan formaldeid. Proses adsorpsi terjadi karena adanya gaya tarik-menarik antara permukaan adsorben dan energi kinetik molekul adsorbat, dapat berupa adsorpsi fisika, adsorpsi kimia dan adsorpsi isoterm. Pada adsorpsi fisika terjadi gaya van der waals antara molekul adsorbat dan adsorben. Hal ini terjadi terjadi akibat perbedaan energi gaya tarik elektrostatik, sehingga adsorpsi fisika merupakan reversibel. Berbeda dengan adsorpsi kimia yang terjadi akibat interaksi antara elektron-elektron pada permukaan adsorben dengan molekul-molekul adsorbat membentuk ikatan yang lebih kuat dibandingkan dengan adsorpsi fisika dimana prosesnya berlangsung secara irreversibel (Saputra, 2008). a) Isoterm Adsorpsi Isoterm adsorpsi digunakan untuk karakterisasi dari persamaan antara jumlah adsorbat yang terakumulasi dalam adsorben dan

konsentrasi larutan adsorbat. Isotermis adsorpsi Langmuir dan Isotermis adsorpsi Freundlich adalah dua persamaan isotermis yang sering digunakan. 1) Isoterm Langmuir Isotermis Langmuir diasumsikan sebagai proses adsorpsi yang terjadi dengan permukaan dan energi yang sama. Persamaan isoterm Langmuir dapat menentukan kapasitas adsorpsi maksimum pada seluruh permukaan satu lapis permukaan adsorben, berikut persamaan isoterm adsorpsi Langmuir (Adamson, 1990, 421-426): =

15

dimana, qe = Banyaknya zat yang terserap per satuan berat adsorben (mol/g) Ce = Konsentrasi adsorbat pada saat kesetimbangan (mol/L) qo = Kapasitas adsorpsi maksimum (mol/g) b = Konstanta Langmuir (L/mol) Persamaan di atas dapat disusun secara linear menjadi:

2) Isoterm Freundlich Isotermis Freundlich dapat digunakan untuk menghitung adsorpsi permukaan yang beragam (adsorpsi multilayer). Persamaan ini

merupakan perbandingan zat yang teradsorpsi per berat adsorben dalam konsentrasi larutan. Persamaan isotermis Freundlich memperkirakan intensitas adsorbsi yang terserap dalam biomassa (Adamson, 1990, 421426). Persamaan Freundlich adalah:

dimana: qe = Banyaknya zat yang terserap (mol/g) Ce = Konsentrasi adsorbat pada saat kesetimbangan (mol/L) n = Kapasitas adsorpsi maksimum (mol/g) Kf = Konstanta freundlich (L/mol) Persamaan di atas dapat diubah kedalam bentuk linier dengan mengambil bentuk logaritmanya: ) = ln +

Bentuk linear dapat digunakan untuk menentukan kelinearan data percobaan dengan cara mengeplotkan Ce /qe vs Ce. Konstanta Langmuir K

16

dan konstanta Freundlich Kf dapat diperoleh dari kemiringan garis lurusnya, sedangkan harga 1/qo dan 1/n merupakan harga slop. Bila qo dan n diketahui maka K dan Kf dapat dicari, semakin besar harga K dank Kf maka daya adsorpsi akan semakin baik dan dari harga K dan Kf. B. Kerangka Berpikir Hidrotalsit yang akan disintesis menggunakan campuran dari logam Cr dan Mn. Penggunaan campuran dari dua ogam tersebut karena divalent dan trivalent. Sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa hidrotalsit adalah hidroksida lapis ganda, yang di dalam strukturnya terdapat logam trivalen untuk logam divalen. Kedua muatan positif ini akan dinetralkan oleh anion dan molekul air yang berada di dalam interlayer struktur senyawa hidrotalsit tersebut. Nano-hidrotasit mempunyai muatan negatif pada daerah interlayer yang berisi anion, sehingga diperkirakan bahwa anion-anion tersebut mampu mengadsorpsi Cd(II) pada medium air. C. Penelitian Sebelumnya Penelitian sebelumnya yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Katlego (2011). Penelitian yang dilakukan oleh Katlego adalah sintesis nano-hidrotalsit menggunakan campuran logam Cr dan Mg untuk mengadsorpsi logam Pb (II) dari medium air. Kelebihan dari metode sintesis yang dlakukan oleh Katlego adalah luas permukaan nano-hidrotalsit yang besar, sehingga kapasitas adsorpsi HT terhadap Pb (II) juga semakin besar. Pada penelitian ini, nanohidrotalsithasil sintesis memiliki kapasitas adsorpsi sebesar D. Hipotesis Penelitian Hipotesis penelitian ini adalah nano-hidrotalsit hasil sintesis berpotensi untuk mengurangi kadar Cd(II) dari medium air.

17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Operasional Tujuan operasional dari penelitian ini adalah untuk menyintesis nano-hidrotalsit dan menguji kemampuan adsorpsinya terhadap Cd(II) dalam medium air.

B. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2013 hingga November 2013 di Laboratorium Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta.

C. Metode Penelitian Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan tahapan: 1. Sistesis nano-hidrotalsit dari campuran logam polivalen. 2. Karakterisasi nano-hidrotalsit hasil sintesis menggunakan TGA, XRD, FTIR, TEM 3. Pengujian kemampuan adsorpsi nano-hidrotalsit terhadap Cd2+ dalam medium air.

D. Desain Eksperimen Desain eksperimen yang digunakan adalah Posttest Only Control Design yaitu terdapat dua kelompok yang dipilih secara random (R), kelompok pertama diberi perlakuan (X) dan kelompok yang lain tidak.

18

Kelompok yang diberi perlakuan disebut kelompok eksperimen dan kelompok yang tidak diberi perlakuan disebut kelompok kontrol. Pengaruh adanya perlakuan (treatment) adalah (O1:O2). Tabel 1.Desain Eksperimen R R X O1 O2

Keterangan : - O1 : Hasil pengukuran setengah kelompok yang diberi perlakuan O2 : Hasil pengukuran setengah kelompok yang tidak diberi perlakuan : Treatment yang diberikan (Variabel independent) - X

E. Sampel Penelitian Sampel larutan yang diadsorpsi adalah larutan Cd(CH3COO)2. F. Variabel Variabel bebas Variabel terikat G. Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat-alat analisis instrumen seperti: fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray diffraction (XRD), transmission electron microscope (TEM) : waktu interaksi, pH, dan temperatur : konsentrasi Cd(II) yang teradsorpsi

dan themogravimetric Bahan-bahan yang digunakan antara lain: Reagen kimia seperti NaOH, HNO3 (Sigma Aldrich) dan beberapa garam logam

polivalen. Sampel air limbah yang terkontaminan logam berat dengan menggunakan garam ion logam.

19

H. Prosedur Kerja Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap. Tahapan dalam penelitian ini adalah sintesis media adsorpsi, karakterisasi media adsorpsi, dan adsorpsi dengan nano-hidrotalsit. 1. Sintesis Media Adsorpsi Langkah pertama adalah sintesis nanopartikel serupa-hidrotalsit. Sintesis ini menggunakan metode presipitasi standar Reichle dkk. (1986) dengan mengalirkan gas nitrogen secara konstan lalu diaduk. Campuran antara 100 ml larutan Mg(NO3)2.6H2O (0,75 mol) / Cr(NO3)3.9H2O (0,25 mol) ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 0,5 M dan Na2CO3 hingga pH-nya konstan yaitu pada pH 10,5. Campuran ini kemudian didiamkan selama 14 jam dalam temperatur 65oC. Padatan yang dihasilkan dicuci dengan air deionisasi sebanyak tiga kali lalu dikeringkan pada temperatur 110C selama satu malam. 2. Karakterisasi nano-hidrotasit Struktur dari nano-hidrotasit menggunakan mikroskop elektron (JEOL JEM-100S). Pertama, suspensi nano-hidrotasit diteteskan dalam 2propanol di atas grid tembaga. Dilakukan pula karakterisasi terhadap gugus fungsi menggunakan FTIR dengan pelet KBr. Karakterisasi FTIR dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesetimbangan muatan anion pada interlayer, jenis ikatan yang terbentuk anion dan

kecenderungannya. Karakterisasi struktur kristal dan ukuran kristal sebelum dan setelah adsorpsi menggunakan XRD Panalytical X'Pert PRO PW 3040/60 dengan Cu K (=0,154 nm), sumber radiasi monokromatik dioperasikan pada 45,0 kV dan 40,0 mA. Data XRD diperoleh pada 2 mulai 5-160

20

dengan rentang tiap 0,02. Stabilitas termal dari Nanopartikel HT dicapai melalui analisis oleh themogravimetric analysis (TGA) pada temperatur berkisar dari 0-900C. 3. Adsorpsi Pb2+ dengan Hidrotalsit a) Kinetika Adsorpsi Percobaan dilakukan dalam reaktor batch 1 L dengan konsentrasi awal Pb (II) sebesar 90,75 mg/L dan massa adsorben sebanyak 0,1 g. Reaktor diaduk dengan perputaran 200 rpm. Pada interval waktu yang telah ditentukan, 10 ml sampel diambil dari reaktor, kemudian disaring melalui jarum suntik filter dan konsentrasi residu Pb (II) diukur oleh AAS. Setelah diketahui konsentrasi bahan ketika mencapai

kesetimbangan, maka dapat dilakukan analisis kinetik untuk mengetahui jumlah Ion Pb (II) yang teradsorpsi b) Pengaruh Temperatur Data isoterm adsorpsi diteliti dengan mereaksi antara 0,05 g adsorben dan larutan yang Pb (II). Sebanyak 50 ml sampel Pb (II) dengan variasi konsentrasi antara 100 - 400 mg/L dimasukkan ke dalam 100 ml botol plastik. Botol-botol itu kemudian ditempatkan dalam

pengaduk termostatik dan diaduk selama 24 jam pada temperatur 298, 308 dan 318K dengan laju putaran 200 rpm. Selanjutnya sampel diambil dari botol uji kemudian disaring menggunakan jarum suntik filter dan konsentrasi residu Pb (II) diukur oleh AAS. c) Pengaruh pH Pengaruh pH dilakukan dengan memvariasikan pH awal larutan Pb (II) dengan rentang 1 sampai 8, baik menggunakan NaOH atau HCl. Oleh karena itu, adsorpsi dilakukan dalam botol plastik dengan menambahkan 0,05 g nanoHT ke dalam 50 ml sampel yang mengandung Pb (II) 400

21

mg/L. Botol tersebut diletakkan dalam pengaduk termostatik dan diaduk selama 24 jam. Kemudian sampel disaring dan residu Pb (II) diukur konsentrasinya menggunakan AAS. I. Bagan Kerja 1. Sintesis Media Adsorpsi

100 mL campuran Mg(NO3)2.6H2O (0,75 mol) dan Cr(NO3)3.9H2O (0,25 mol) + NaOH 0,5 M dan Na2CCO3 pH konstan 10,5 Didiamkan selama 14 jam pada 65C Padatan Dicuci dengan air deionisasi Dikeringkan selama satu malam pada 110C Adsorben

2. Uji Adsorpsi Larutan Pb 90,75 mg/L + 0,1 g adsorben Diputar 200 rpm Disaring Residu Cd dalam filtrat Diukur dengan AAS

22

J. Hipotesis Statistik Hipotesis statistik ini digunakan dalam pengujian kemampuan adsorpsi Cd(II) oleh nano-hidrotasit

H0 : 1 = 2 H1 : 1 2 Keterangan : 1 : rerata kadar Cd tanpa perlakuan 2 : rerata kadar Cd dengan penambahan adsorben

K. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis variansi (ANAVA), kemudian dilakukan uji T untuk mengetahui adanya perbedaan nyata pada tiap perlakuan dengan taraf signifikansi () sebesar 1%.Hipotesis nol (H0) ditolak jika nilai t hitung dari analisis data lebih besar disbanding nilai t tabel, dengan kata lain hipotesis penelitian (H1) diterima. Sebaliknya hipotesisnol (H0) diterima jika nilai t hitung dari analisis data lebih kecil dibanding nilai t tabel, dengan kata lain hipotesis penelitian (H1) ditolak.

23

DAFTAR PUSTAKA Adamson. W. A., 1990, Physical Chemistry of Surfaces, fifth edition. John Wiley and Sons. Inc, America, pp 421-426 Cavani, F., Trifiro, F., and Vaccari, A. 1991. Hydrotalcite -Type Anlonlc Clays:Preparation, Properties And Applications. Catal. Today, Vol.11, p.173-301. Chalid Al Ayubi, Mochamad. 2007. Studi Keseimbangan Adsorpsi Merkuri(Ii) Pada Biomassa Daun Enceng Gondok (Eichhornia Crassipes). Skripsi. Malang: Universitas Islam Negeri Malang Fan T, Liu Y, Feng B, Zeng G, Yang C, Zhou M, Zhou H, Tan Z, Wang X. 2008. Biosorption of cadmium (II), zinc(II), and lead(II) by Penicillium simplicissimum: Isotherm, kinetics and thermodynamics. Journal of Hazardous Materials 160: 655-661. Ghassabzadeh H, Torab-Mostaedi M, Mohaddespour A, Maragheh MG, Ahmadi SJ, Zaheri P. 2010. Characterizations Of Co (II) And Pb (II) Removal From Aqueous Solution Using Expanded Perlite. Desalination, 262: 73-79. Gunawan, Anita. 2005. Pengaruh Variasi Komposisi Bahan Pada Pembuatan Hidrotalsit Cu/Al Dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Asam Oksalat. In: Seminar Tugas Akhir S1 Jurusan Kimia FMIPA UNDIP Gupta SS, Bhattacharyya KG. 2008. Immobilization of Pb (II), Cd(II) and Ni(II) ion on kaolinite and montmorillonite surface from aqueous medium. Journal of Environmental Management, 87: 46-58. Hickey, L., Kloprogge, J.T. and Frost, R.L. 2000. The Effec ts Of Various Hydrothermal Treatments On Magnesium-Aluminium Hydrotalcites. Journal of Materials Science, 35, 4347-4355

24

L van der Ven, M.L.M van Gemert, L.F Batenburg, J.J Keern, L.H Gielgens, T.P.M Koster, H.R Fischer. 2000. On The Action Of Hydrotalcite-Like Clay Materials As Stabilizers In Polyvinylchloride. Applied Clay Science, Volume 17, Issues 12, Pages 2534 Mohan D, Pittman Jr CU, Steele PH. 2006. Single, binary and multi component adsorption of copper and cadmium from aqueous solutions on Kraft ligninabiosorbent. Journal of Colloid and Interface Science, 297: 489-504. Ookubo, A. Ooi, K. Tani, F. Hayashi, H. 1994. Phase Transition of Cl -Intercalated Hydrotalcite-like Compound during Ion Exchange with Phosphates. Langmuir, 10 (2), pp 407411. Rahman, R., (2008), Pengaruh Proses Pengeringan, Anil, Dan

Hidrotermal Terhadap Kristalinitas Nanopartikel TiO2 Hasil Proses Solgel. Skripsi. Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Saputra, Bobi Wahyu. 2008. Desain Sistem Adsorpsi dengan Dua Adsorber. Skripsi. Fakultas Teknik Universitas Indonesia Depok Setshedi, Katlego. dkk.. 2012. Removal Of Pb(II) From Aqueous Solution Using Hydrotalcite-Like Nanostructured Material. International Journal of the Physical Sciences Vol. 7(1), pp. 63 - 72 Trifiro, Vaccari. 1996. :Comprehensive Supramolecular Chemistry. Pergamon Press, Vol. 7, Ch. 10 pp. 97-152 Zhang, S., dkk. 2006. Removal Of Nickel Ions From Wastewater By Mg(OH)2/MgO Nanostructures Embedded in Al2O3 Membranes. Journal of Alloys and Compounds, 426: p. 281-285.