Anda di halaman 1dari 2

Pada restorasi amalgam kelas II, ada beberapa tahapan : a.

Initial Clinical Procedures Pada tahap ini, dilakukan persiapan sebelum dilakukan preparasi gigi yang akan direstorasi amalgam kelas II. Sebelumnya perlu dilakukan pengecekan oklusi pasien dengan articulating paper. Keadaan trauma oklusi harus dibenarkan agar tidak merusak tumpatan yang telah dibuat. Pada umumnya, anastesi perlu dilakukan untuk restorasi amalgam kelas II. Pemasangan rubber dam juga diperlukan apabila lesi karies cukup luas. b. Preparasi Kavitas Hal yang harus diperhatikan yaitu tepi dari preparasi haruslah tajam dan bersih. Celah pada bagian dinding fasial dan lingual dengan groove bentuknya datar, sedangakan pada daerah gingival floor halus. Operator haruslah yakin bahwa celah atau lubang preparasi sudah tepat. Pertama, harus dibuat occlusal outline form atau occlusal step. Dengan menggunakan bur nomor 245, dilakukan pemotongan pada bagian fisur atau pit yang paling dekat dengan bagian proksimal. Sumbu panjang bur harus sejajar dengan axis gigi. Kedalaman seitar 1,5 mm sampai 2 mm. Agar tercipta preparasi yang konservatif, maka itsmus dibuat sesempit mungkin atau selebar bur nomor 245. Pulpal floor harus dibuat rata, namun tetap disesuaikan dengan pola DEJ. Ketika kita menjaga bur tetap paralel terhadap axis gigi, maka akan tercipta preparasi yang sedikit konvergen. Beberapa perluasan juga dapat digunakan sebagai retensi, bisa dibuat dovetail atau yang berasal dari fisur central.Yang harus diperhatikan adalah sebelum seorang dokter gigi memperluas area preparasinya sampai bagian marginal ridge, ia harus mmvisualisasikan lokasi akhir dari facial dan lingual walls dari proximal box relatif terhadap kontak area. Hal ini dapat menghindari overextension. Tahap selanjutnya adalah membuat proximal outline form atau disebut juga proximal box. Tujuan pembuatan proximal box adalah Menghilangkan semua lesi karies, kesalahan, dan material restorative yang lama. Menciptakan margin carvosurface sebesar 90 derajat. Penghilangan jaringan yang dekat dengan bagian fasial, lingual, dan gingival tidak lebih dari 0,5 mm (idealnya). Pada pembuatan proximal box, hal pertama yang dibuat adalah isolasi bagian enamel proksimal dengan proximal ditch cut. Dengan mengunakan bur berdiameter 0,8 mm memotong enamel dan dentin ke arah gingiva. Untuk enamel sekitar 0,2-0,3 mm, sedangkan dentin sebesar 0,5-0,6mm. Selain itu, jarak dengan gigi terdekat juga harus diperhatikan: untuk lesi yang kecil 0,5 mm. Bagian proximal ditch dapat dibuat divergen ke arah gingiva untuk memastikan dimensi fasiolingual bagian gingival lebih besar dari pada bagian oklusal. Enamel yang terkurung dalam preparasi dihilangkan dengan spoon excavator. Dengan menggunakan enamel hatchet atau bin-angle chiset atau keduanya, enamel proksimal yang tidak didukung dengan dentin. Carvosurface diindikasikan sebesar 90 derajat untuk memastikan tidak ada enamel rods yang tertinggal pada bagian proksimal.

Setelah proximal box telah terbentuk dengan baik, maka selesailah tahap initial preparation. Tahap kedua adalah Final Tooth Preparation. Tahapan ini diawali dengan penghilangan lesi karies pada dentin dan menghilangkan enamel yang tidak didukung dentin. Penghilangan jaringan karies di dentin menggunakan excavator, sedangkan pada lesi yang meluas ke arah pulpa dihilangkan menggunakan round bur.
Kedalaman dari preparasi oklusal adalah 2,0 mm dan kedalam dari proksimal adalah 3 mm. lebar dari gingival floor sekitar 1 mm. Pada preparasi ini, pulpal floor dan gingival floor pada bagian proksimal harus cukup rata. Hal ini bisa dilakukan dengan chisel atau hatchet. Kerataan preparasi adalah faktor penting lain, karena ketidak teraturan floor akan menyebabkan titik konsentrasi tekanan. Saat pasien menggigit restorasi, tekanan akan menyebabkan amalgam retak (cracking) atau patah. Axio-pulpal line angle tidak perlu di-bevel pada preparasi kavitas. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari tekanan dari sudut yang menyebabkan restorasi patah.