Anda di halaman 1dari 68

PENGARUH SARI UBI JALAR UNGU TERHADAP KADAR CEC (Circulating Endothelial Cell) PADA TIKUS MODEL DIABETES

SKRIPSI

Oleh Emilia Puspita Sari NIM. 092010101029

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

PENGARUH SARI UBI JALAR UNGU TERHADAP KADAR CEC (Circulating Endothelial Cell) PADA TIKUS MODEL DIABETES

SKRIPSI

diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Studi Pendidikan Dokter (S1) dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran

Oleh Emilia Puspita Sari NIM 092010101029

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

ii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk : 1. Ayahanda H.Suparlan dan Ibunda Hj.Dewi Suudah yang senantiasa memberikan doa dan kasih sayangnya tiada henti, serta yang telah mendidik dan menjadikanku menjadi manusia yang lebih baik; 2. Guru-guruku yang mulia, mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, yang tidak pernah putus asa dan lelah memberikan ilmu dan mendidikku dengan penuh kesabaran; 3. Almamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

iii

MOTTO

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Terjemahan QS. Al-Mujadalah ayat 11)* )

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan. (Terjemahan QS. Al-Insyirah ayat 5)* ) Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu nasib kaum kecuali mereka sendiri mengubah keadaan jiwanya. (Terjemahan QS. Ar Ra'd:11)*)

*) Departemen Agama Republik Indonesia. 2005. Al-Quran Al-Karim dan Terjemah Makna ke Dalam Bahasa Indonesia. Kudus: Menara Kudus.

iv

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Emilia Puspita Sari NIM : 092010101029

menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang berjudul Pengaruh Sari Ubi Jalar Ungu terhadap Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) Pada Tikus Model Diabetes adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika dalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada institusi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, tanpa adanya tekanan dan paksaan dari pihak manapun serta bersedia mendapat sanksi akademik jika ternyata di kemudian hari pernyataan ini tidak benar.

Jember, 05 November 2012 Yang menyatakan,

Emilia Puspita Sari NIM 092010101029

SKRIPSI

PENGARUH SARI UBI JALAR UNGU TERHADAP KADAR CEC (Circulating Endothelial Cell) PADA TIKUS MODEL DIABETES

Oleh Emilia Puspita Sari NIM 092010101029

Pembimbing

Dosen Pembimbing I: dr. Edy Junaidi, M.Sc Dosen Pembimbing II: dr. Heni Fatmawati, M.Kes

vi

PENGESAHAN

Skripsi berjudul Pengaruh Sari Ubi Jalar Ungu Terhadap Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) Pada Tikus Model Diabetes telah diuji dan disahkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Jember pada: hari, tanggal : Selasa, 06 November 2012 tempat : Ruang Sidang Fakultas Kedokteran Universitas Jember

Penguji I,

Penguji II,

dr. Sugiyanta, M.Ked NIP 19790207 200501 1 001

dr. Nindya Shinta Rumastika, M.Ked NIP 19780831 200501 2 001

Penguji III,

Penguji IV,

dr.Edy Junaidi, M.Sc NIP 19750901 200312 1 003

dr. Heni Fatmawati, M.Kes NIP 19760212 2005 2 001

Mengesahkan, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember

dr. Enny Suswati, M.Kes NIP 197002141999032001

vii

RINGKASAN

Pengaruh Sari Ubi Jalar Ungu terhadap Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada Tikus Model Diabetes; Emilia Puspita Sari; 092010101029; 2012: 51 halaman; Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit metabolik dengan

terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Penurunan sekresi insulin akan menyebabkan kadar gula darah meningkat. Hiperglikemia akan mengkatalisis pembentukan radikal anion superoksida (O2-) dari sumber mitokondria sehingga pada DM terjadi peningkatan radikal bebas dalam tubuh. DM merupakan penyebab utama kematian terutama di negaranegara berkembang. Sebagian besar (90%) tergolong diabetes melitus tipe 2 sedangkan 10% adalah diabetes mellitus tipe 1 (Wulandari, 2003). Stress oksidatif pada diabetes melitus disebabkan karena

ketidakseimbangan reaksi redoks akibat perubahan metabolisme karbohidrat dan lipid (Setiawan dan Suhartono, 2005). Stress oksidatif dapat menyebabkan jejas endotel yang irreversibel yang akan mengarah ke lepasnya sel endotel (CEC) dan nekrosis. Kadar CEC dapat dihitung melalui ekspresi sel CD 146. Jejas endotel akibat stress oksidatif pada DM dapat dicegah oleh senyawa antioksidan. Terkini, ditemukan riset bahwa ubi jalar ungu mengandung senyawa antosianin yang merupakan suatu antioksidan (Fuadi, 2011). Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.,) merupakan tanaman komoditi di Indonesia yang mengandung senyawa antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan, antimutagenik, dan antihiperglisemik. Kandungan antosianin pada ubi jalar ungu lebih tinggi daripada ubi yang berwarna putih, kuning, dan jingga. Antosianin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan penangkap radikal bebas (Santoso, 2006). Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian ilmiah untuk mengetahui apakah ubi jalar ungu mempunyai pengaruh terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes.

viii

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes dan untuk mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dosis 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari sari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC pada tikus model diabetes. Jenis penelitian ini adalah true experimental laboratories (Pratiknya, 2010) dengan desain post test only control group design. Hewan coba yang digunakan sebanyak 25 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi dalam 5 kelompok 2 kelompok kontrol, yaitu kontrol negatif (pellet Turbo 521 dan aquadest) dan kontrol positif (injeksi alloxane) serta 3 kelompok perlakuan, yaitu P1 (sari ubi jalar ungu 1,4 cc/ekor/hari), P2 (sari ubi jalar ungu 3,5 cc/ekor/hari), dan P3 (sari ubi jalar ungu 5,6 cc/ekor/hari). Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember pada bulan Agustus-Oktober 2012. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sari ubi jalar ungu mempunyai pengaruh sekitar 42,5% terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes. Hasil analisis data dengan uji one way ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan antar kelompok.

ix

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Sari Ubi Jalar Ungu Terhadap Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) Pada Tikus Model Diabetes. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan strata satu (S1) pada Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. dr. Enny Suswati, M.Kes., selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Jember; 2. dr. Edy Junaidi, M.Sc selaku Dosen Pembimbing I dan dr.Heni Fatmawati, M.Kes selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak membantu dan

meluangkan waktu, pikiran serta perhatiannya untuk membimbing penulisan skripsi ini sejak awal hingga akhir; 3. dr. Rena Normasari dan dr. Cholis Abrori, M.Kes.,Mpd.ked Selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama studi; 4. dr. Heni Fatmawati, M.Kes., selaku koordinator KTI yang telah menyetujui penyusunan skripsi ini; 5. dr. Sugiyanta, M.Ked dan dr. Nindya Shinta Rumastika, M.Ked sebagai dosen penguji yang banyak memberikan kritik, saran, dan masukan yang membangun dalam penulisan skripsi ini; 6. Ayahanda H.Suparlan dan Hj.Dewi Suudah tercinta atas dukungan moril, materi, doa, dan semua curahan kasih sayang yang tak akan pernah putus. Kebahagiaan kalian adalah segalanya untukku; 7. Mas Bambang Yulystiawan dan adik Putri Fajriyatul Hasanah yang selalu memberiku motivasi untuk menyelesaikan tugas akhir ini; 8. Sahabat-sahabat Risma, Yundos, Mbecil, Mberim, Yhang, Atun dan semua penghuni kost terimakasih atas semua keceriaan yang kalian berikan selama di kost BatuRaden 1/02;

9.

Rekan satu timku Cynthia dan Achmad terimakasih atas dukungan dan nasehat-nasehatnya;

10. Teman-teman Avicenna yang selalu saling support dan menjadi teman seperjuangan demi mendapatkan gelar sarjana kedokteran; 11. Sahabat-sahabat mulai dari MI Alfalah, MTs. Assaadah II Bungah, SMA Negeri 1 Sidayu, dan KKT Desa Pace Silo terimah kasih atas doanya; 12. Teknisi Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dan Laboratorium Biomedik Universitas Brawijaya terimakasih sudah memberi pengalaman baru dan atas bantuannya selama penelitian; 13. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satupersatu. Penulis juga menerima segala kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi pembaca dan khususnya untuk perkembangan Fakultas Kedokteran Universitas Jember.

Jember, 05 November 2012

Penulis

xi

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN SAMPUL ................................................................................ HALAMAN JUDUL ................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................. HALAMAN MOTTO ................................................................................. HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................... HALAMAN BIMBINGAN ......................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................... RINGKASAN .............................................................................................. PRAKATA .................................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................... i ii iii iv v vi vii viii x xii xv xvi

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xvii BAB 1. PENDAHULUAN........................................................................... 1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................... 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 2.1 Diabetes Melitus ..................................................................... 2.1.1 Definisi Diabetes Melitus ................................................. 2.1.2 Epidemiologi Diabetes Melitus ........................................ 2.1.3 Patofisiologi Diabetes Melitus.......................................... 2.2 Pembentukan Radikal Bebas Pada DM ................................ 2.3 CEC (Circulating Endothelial Cell) pada Diabetes Melitus... 2.4 Alloxane .................................................................................. 2.5 Ubi Jalar Ungu ....................................................................... 2.5.1 Klasifikasi Tanaman ........................................................ 1 1 2 2 3 4 4 4 4 5 6 10 13 14 14

xii

2.5.2 Deskripsi Tanaman Ubi Jalar Ungu .................................. 2.5.3 Kandungan Kimia ............................................................ 2.6 Kerangka Konseptual............................................................. 2.7 Hipotesis Penelitian ................................................................ BAB 3. METODE PENELITIAN............................................................... 3.1 Jenis Penelitian ....................................................................... 3.2 Rancangan Penelitian ............................................................. 3.3 Besar Sampel .......................................................................... 3.4 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................... 3.4.1 Tempat Penelitian ........................................................... 3.4.2 Waktu Penelitian ............................................................ 3.5 Variabel Penelitian ................................................................. 3.5.1 Variabel Bebas ................................................................ 3.5.2 Variabel Terikat .............................................................. 3.5.3 Variabel Terkendali ......................................................... 3.6 Definisi Operasional ............................................................... 3.7 Alat dan Bahan ....................................................................... 3.7.1 Alat ................................................................................. 3.7.2 Bahan .............................................................................. 3.8 Prosedur Penelitian ................................................................ 3.8.1 Persiapan penelitian ......................................................... 3.8.2 Pembuatan Kondisi Diabetik pada Tikus .......................... 3.8.3 Pemberian sari Ubi Jalar Ungu .........................................

15 16 20 21 22 22 22 23 24 24 24 24 24 24 24 25 25 25 25 26 26 27 28

3.8.4 Pengukuran Kadar CEC dengan menggunakan flowcytometry ........................................................................................ 3.9 Analisis Data .......................................................................... 3.10 Alur Penelitian ....................................................................... BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 4.1 Hasil Penelitian ....................................................................... 4.1.1 Data Hasil Penelitian ........................................................ 4.1.2 Hasil Uji Analisis ............................................................. 28 28 29 31 31 30 34

xiii

4.2 Pembahasan ............................................................................ BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 5.1 Kesimpulan ............................................................................. 5.2 Saran ....................................................................................... DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. LAMPIRAN ................................................................................................

36 40 40 40 41 46

xiv

DAFTAR TABEL

Halaman 2.1 4.1 4.2 4.3 Kandungan kimia pada ubi jalar ..................................................... Rata-rata kadar CEC tiap kelompok ................................................ Data Hasil Analisis uji regresi linier ............................................... 17 32 35

Besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat pada uji regresi linier ............................................................................................... 35 36

4.4

Hasil Analisis data one way ANOVA .............................................

xv

DAFTAR GAMBAR

Halaman 2.1 2.2 2.3 2.4 2.6 3.1 3.2 4.1 4.2 Skema pembentukan radikal bebas pada diabetes melitus ................ Mekanisme pembentukan sel endotel dan detasement ...................... Struktur kimia alloxane ................................................................... Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) ................................................... Skema kerangka konseptual penelitian ........................................... Skema rancangan penelitian ............................................................ Skema alur penelitian ...................................................................... Gambar diagram batang rata-rata kadar CEC ................................... Gambaran hasil perhitungan kadar CEC dengan flowcytometry pada kelompok kontrol negatif ................................................................. 4.3 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC dengan flowcytometry pada kelompok kontrol positif .................................................................. 4.4 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC dengan flowcytometry pada kelompok perlakuan 1 ...................................................................... 4.5 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC dengan flowcytometry pada kelompok perlakuan 2 ...................................................................... 4.6 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC dengan flowcytometry pada kelompok perlakuan 3 ...................................................................... 34 33 33 32 32 9 11 13 16 20 22 29 31

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman A. B. Tabel Konversi Hewan Percobaan dan Manusia .............................. Tabel Daftar Volume Maksimal Larutan Sediaan Uji yang Dapat Di berikan pada Berbagai Hewan ........................................................ C. Gambar Penelitian ........................................................................... 52 59 47

xvii

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah melebihi normal. Terdapat beberapa tipe diabetes yang diketahui dan umumnya disebabkan oleh suatu interaksi yang kompleks antara faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup. Bila hal ini dibiarkan tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut maupun komplikasi vaskuler jangka panjang, baik mikroangiopati maupun makroangiopati (Harrison, 2005). Diabetes melitus merupakan penyakit gangguan metabolisme yang cukup banyak dijumpai dan mengenai kurang lebih 2% - 4% populasi. Secara global, World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa pada tahun 2004 terdapat 1,1 juta penduduk mengalami kematian akibat diabetes dengan prevalensi sekitar 1,9 % dan pada tahun 2007 dilaporkan bahwa terdapat 246 juta penderita diabetes, 6 juta kasus baru DM dan 3,5 juta penduduk mengalami kematian akibat diabetes. 10 dari seluruh kematian akibat DM di dunia, 70 % kematian terjadi di negara-negara berkembang. Sebagian besar (90%) tergolong diabetes melitus tipe 2 sedangkan 10% adalah diabetes mellitus tipe 1 (Wulandari, 2003). Diabetes mellitus yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati. Komplikasi ini terjadi akibat perubahan pertumbuhan sel dan kematian sel yang tidak normal terutama pada endotel pembuluh darah, sel otot polos pembuluh darah dan sel mesangial ginjal (Sudoyo, 2007 A. W, et al,. ). Stress oksidatif pada diabetes melitus disebabkan karena ketidakseimbangan reaksi redoks akibat perubahan metabolisme karbohidrat dan lipid (Setiawan dan Suhartono, 2005). Stress oksidatif dapat menyebabkan jejas endotel sehingga

permeabilitas endotel meningkat. Kehilangan integritas lapisan endotel yang irreversibel akan menyebabkan sel endotel lepas dan sel-sel yang lepas (CEC) ini akan mengalami apoptosis atau nekrosis. CEC bersirkulasi di pembuluh darah perifer dan diidentifikasi melalui ekspresi CD 146 (Erdbruegger, et al,. 2006) . Ubi jalar ungu merupakan tanaman komoditi di Indonesia yang memiliki kandungan antosianin lebih besar dari pada ubi jalar dengan varietas yang lain yaitu sekitar 110-210mg/100 gr (Suprapta, 2004). Menurut Pakorny et al,. (2001) sekelompok antosianin yang tersimpan dalam ubi jalar ungu sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia, yaitu dapat berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menghalangi laju perusakan sel radikal bebas pada pasien diabetes melitus. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penulis ingin melakukan penelitian mengenai Pengaruh Sari Ubi Jalar Ungu terhadap Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada Tikus Model Diabetes Melitus

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini antara

lain: 1. Apakah ada pengaruh ubi jalar ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes? 2. Bagaimana pengaruh perbedaan pemberian dosis 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC pada tikus model diabetes?

1.3

Tujuan Penelitian Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk:

1.

Untuk mengetahui pengaruh ubi jalar ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes

2.

Untuk mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dosis 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC pada tikus model diabetes

1.4

Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan dan

bukti bahwa ubi jalar ungu dapat menurunkan kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada diabetes. Selain itu, penelitian ini digunakan untuk mendorong para petani agar meningkatkan mutu varietas ubi jalar dan dapat digunakan sebagai dasar penelitian-penelitian selanjutnya.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Diabetes melitus 2.1.1 Definisi Menurut American Diabetes Association (2004), diabetes melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemik yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemik kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan pada beberapa organ tubuh terutama mata, ginjal, saraf jantung, dan pembuluh darah. Diabetes melitus merupakan suatu sindrom dengan terganggunya

metabolisma karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin (Guyton and Hall, 2008).

2.1.2 Epidemiologi Diabetes Melitus Pada negara berkembang, DM cenderung diderita oleh penduduk usia 45-64 tahun, sedangkan pada negara maju penderita DM cenderung diderita oleh penduduk usia di atas 64 tahun. 24 Penderita DM Tipe 1 biasanya berumur < 40 tahun dan penderita DM Tipe 2 biasanya berumur 40 tahun. Hasil penelitian Ditjen Yanmed Depkes RI pada tahun 2002, diperoleh data bahwa DM berada di urutan keenam dengan PMR sebesar 3,6% dari sepuluh penyakit utama yang ada di Rumah Sakit yang menjadi penyebab utama kematian. Dan penelitian Ditjen Yanmed Depkes pada tahun 2005 menyatakan bahwa DM menjadi penyebab kematian tertinggi pada pasien rawat inap akibat penyakit metabolik, yaitu sebanyak 42.000 kasus dengan 3.316 kematian (CFR 7,9%) (Ardian, 2012). Menurut laporan PERKENI tahun 2005 dari berbagai penelitian epidemiologi di Indonesia, menunjukkan bahwa angka prevalensi DM terbanyak terdapat di kota-

kota besar, antara lain : Jakarta 12,8 %, Surabaya 1,8 %, Makassar 12,5 %,dan Manado 6,7 %. Sedangkan prevalensi DM terendah terdapat di daerah pedesaan antara lain Tasikmalaya sebesar 1,8 % dan Tanah Toraja sebesar 0,9 %. Adanya perbedaan prevalensi DM di perkotaan dengan di pedesaan menunjukkan bahwa gaya hidup mempengaruhi kejadian DM (Purba, 2010). Peningkatan angka kesakitan DM dari waktu ke waktu lebih banyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. WHO menyatakan penderita DM Tipe 2 sebanyak 171 juta pada tahun 2000 akan meningkat menjadi 366 juta pada tahun 2030 (Purba, 2010).

2.1.3 Patofisiologi Diabetes Melitus Diabetes melitus (DM) tipe I diperantarai oleh degenerasi sel Langerhans pankreas akibat infeksi virus, kelainan autoimun, dan factor genetic, pemberian senyawa toksin, diabetogenik (alloxane), atau secara genetik (wolfram sindrome) yang mengakibatkan produksi insulin sangat rendah atau berhenti sama sekali. Hal tersebut mengakibatkan penurunan pemasukan glukosa dalam otot dan jaringan adiposa. Secara patofisiologi, penyakit ini terjadi lambat dan membutuhkan waktu yang bertahun-tahun, biasanya terjadi sejak anak-anak atau awal remaja. Penurunan berat badan merupakan ciri khas dari penderita DM I yang tidak terkontrol. Gejala yang sering mengiringi DM I yaitu poliuria, polidipsia, dan polifagia. Pada DM I, kadar glukosa darah sangat tinggi, tetapi tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara optimal untuk membentuk energi. Oleh karena itu, energi diperoleh melalui peningkatan katabolisme protein dan lemak. Seiring dengan kondisi tersebut, terjadi perangsangan lipolisis serta peningkatan kadar asam lemak bebas dan gliserol darah. Dalam hal ini terjadi peningkatan produksi asetil-KoA oleh hati, yang pada gilirannya diubah menjadi asam asetoasetat dan pada akhirnya direduksi menjadi asam hidroksibutirat atau mengalami dekarboksilasi menjadi aseton. Pada kondisi normal, konsentrasi benda-benda keton relatif rendah karena insulin dapat menstimulasi sintesis asam lemak dan menghambat lipolisis (Nugroho, 2006).

Diabetes melitus (DM) tipe II disebabkan karena dua hal yaitu penurunan respon jaringan perifer terhadap insulin, Penurunan sensitivitas terhadap insulin ini seringkali disebut resistensi insulin, dan penurunan kemampuan sel pankreas untuk mensekresi insulin sebagai respon terhadap beban glukosa. Biasanya terjadi pada usia dewasa diatas umur 30 tahun, seringkali diantara usia 50-60 tahun, dan penyakit ini timbul secara perlahan-lahan. Akan tetapi, akhir-akhir ini dijumpai peningkatan kasus yang terjadi pada individu yang berusia lebih muda, sebagian berusia kurang dari 20 tahun dengan diabetes mellitus tipe 2. Sebagian besar DM tipe II diawali dengan kegemukan karena kelebihan makan. Sebagai kompensasi, sel pankreas merespon dengan mensekresi insulin lebih banyak sehingga kadar insulin meningkat (hiperinsulinemia). Konsentrasi insulin yang tinggi mengakibatkan reseptor insulin berupaya melakukan pengaturan sendiri (self regulation) dengan menurunkan jumlah reseptor atau down regulation. Hal ini membawa dampak pada penurunan respon reseptornya dan lebih lanjut mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Di lain pihak, kondisi hiperinsulinemia juga dapat mengakibatkan desensitisasi reseptor insulin pada tahap postreseptor, yaitu penurunan aktivasi kinase reseptor, translokasi glucose transporter dan aktivasi glycogen synthase. Kejadian ini mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Secara patologis, pada permulaan DM tipe II terjadi peningkatan kadar glukosa plasma dibanding normal, namun masih diiringi dengan sekresi insulin yang berlebihan (hiperinsulinemia). Pada penderita DM II, pemberian obat-obat oral antidiabetes sulfonilurea masih dapat merangsang kemampuan sel Langerhans pankreas untuk mensekresi insulin (Nugroho, 2006).

2.2 Pembentukan Radikal Bebas pada Diabetes Melitus Radikal bebas sebenarnya berasal dari molekul oksigen yang secara kimia strukturnya berubah akibat dari aktifitas lingkungan. Aktifitas lingkungan yang dapat memunculkan radikal bebas antara lain radiasi, merokok, polusi, dan lain sebagainya. Radikal bebas yang beredar dalam tubuh berusaha untuk mengambil elektron yang ada pada molekul lain seperti DNA dan sel. Pengambilan ini jika berhasil akan

merusak DNA dan sel tersebut. Dengan demikian, jika radikal bebas banyak dalam tubuh maka akan banyak pula sel yang akan rusak. Kerusakan yang ditimbulkan dapat menyebabkan sel tersebut menjadi tidak stabil yang berpotensi menyebabkan proses penuaan dan kanker (Handoko, 2008). Menurut Gordon (1991) diacu dalam Marpaung (2008), mekanisme reaksi pembentukan radikal bebas terdiri atas tiga tahap, yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Tahap inisiasi, merupakan tahap awal pembentukan radikal bebas. Tahap kedua adalah propagasi, yaitu perubahan suatu molekul radikal bebas menjadi radikal bentuk lain (pembentukan radikal bebas baru). Tahap yang terakhir adalah terminasi. Terminasi adalah tahap dimana terjadi penggabungan dua molekul radikal bebas dan membentuk produk yang stabil. Mekanisme reaksi ketiga tahapan tersebut dapat ditulis sebagai berikut: Tahap 1 (Inisiasi): Cl-Cl
UV

2Cl. (Radikal bebas)

Tahap 2 (Propagasi): CH4 + Cl. .CH3 + Cl2 Tahap 3 (Terminasi): .CH3 + Cl. .CH3 + .CH3 CH3Cl CH3CH3 .CH3 + HCl CH3Cl + Cl. (dapat bereaksi dengan CH4)

Stress oksidatif timbul bila pembentukan Reactiv Oxygen Species (ROS) melebihi kemampuan sel dalam mengatasi radikal bebas, yang melibatkan sejumlah enzim dan vitamin yang bersifat antioksidan. Stress oksidatif pada diabetes melitus disebabkan karena ketidakseimbangan reaksi redoks akibat perubahan metabolisme karbohidrat dan lipid, sehingga terjadi penurunan antioksidan. Peningkatan stress oksidatif pada diabetes melitus terjadi melalui 3 mekanisme (glikasi nonenzimatik pada protein, jalur poliol-sorbitol (aldose reduktase), dan autooksidasi glukosa) (Setiawan dan Suhartono, 2005).

1. Jalur poliol Di dalam status yang normoglikemik, kebanyakan glukosa intrasellular adalah di phosphorylated ke glucose-6-phosphate oleh heksocinase. Hanya sebagian kecil dari glukosa masuk polyol pathway. Dibawah kondisi-kondisi hiperglikemi, heksocinase disaturasi, maka akan terjadi peningkatan influks glukosa ke dalam polyol pathway aldose reductase, yang mengkatalisa pengurangan glukosa ke sorbitol, adalah rate limiting enzim didalam pathway ini. Aldose reductase, yang secara normal mempunyai fungsi mengurangi aldehid beracun didalam sel ke alkohol non aktif, tetapi ketika konsentrasi glukosa di dalam sel menjadi terlalu tinggi, aldose reductase juga mengurangi glukosa itu ke sorbitol, yang mana kemudian dioksidasi menjadi fruktose. Sedang dalam proses mengurangi glukosa intraselluler tinggi ke sorbitol, aldose reductase mengkonsumsi co-factor NAPH (nicotinamide adenin dinucleotide phospat hydrolase). NADPH adalah juga co-factor yang penting untuk memperbaharui suatu intraselluler critical antioxidant, dan pengurangan glutathione. Dengan mengurangi jumlah glutathione, polyol pathway meningkatkan kepekaan ke intracelluler oxidative stress. 2. Autooksidasi glukosa Proses autooksidasi glukosa dikatalisis oleh senyawa logam dalam jumlah kecil seperti besi dan seng. Hasil katalisis tersebut adalah senyawa oksigen reaktif. Autooksidasi glukosa terjadi pada fase I proses glikasi nonenzimatik pada protein yang secara alamiah masih bersifat reversibel. Fase ini merupakan sumber hidrogen peroksida yang mampu menghambat Cu/ZnSOD.1 Selain hidrogen peroksida, radikal superoksida juga dihasilkan oleh proses autooksidasi glukosa tersebut serta terkait dengan pembentukan protein glikasi dalam plasma penderita diabetes. Akibat yang ditimbulkan berupa peningkatan aktivitas radikal superoksida serta kerusakan enzim superoksida dismutase. Superoksida dismutase merupakan salah satu enzim antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh.

3. Glikasi non enzimatik pada protein Glikosilasi non enzimatik. Glukosa adalah suatu aldehid yang bersifat reaktif, yang dapat bereaksi secara spontan, walaupun lambat dengan protein. Melalui proses yang disebut dengan glikosilasi non enzimatik, protein mengalami modifikasi. Gugus aldehid glukosa bereaksi dengan gugus amino yang terdapat pada suatu protein, membentuk produk glikosilasi yang bersifat reversible. Produk ini mengalami serangkaian reaksi dengan gugus NH2 dari protein dan mengadakan ikatan silang membentuk advanced glycoliation end-product (AGE). Akumulasi AGE pada kolagen dapat menurunkan elastisitas jaringan ikat sehingga menimbulkan perubahan pada pembuluh darah dan membrane basalis (Wulandari, 2003).

Gambar 2.1. Skema pembentukan radikal bebas pada diabetes mellitus (Sumber: Baido, 2011)

Metabolik oksidatif terlibat pada inaktivasi fungsional endotel dengan peningkatan permeabilitas, dan menyebabkan kematian sel endotel. NO yang dihasilkan endotel dapat berinteraksi dengan stress oksidatif, dengan demikian berperan sebagai molekul anti aterogenik dan anti inflamasi. Peningkatan stress

10

oksidatif akan menurunkan ketersediaan biologis NO dan menyebabkan disfungsi endotel (Napitupulu, 2011). Gangguan pada sel endotel dapat mengakibatkan ketidakseimbangan pada pengaturan fungsi endotel vaskuler. Gangguan pada sel endotel dapat terjadi pada penyakit diabetes melitus, dislipidemia, hipertensi, obesitas, dan merokok. Selain itu, disfungsi endotel paling banyak disebabkan karena stress oksidatif. Gangguan pada sel endotel mengakibatkan ketidakseimbangan berbagai faktor yang menyebabkan penyakit-penyakit pembuluh darah. Sel endotel normal bekerja mempertahankan tonus dan struktur pembuluh darah, regulasi pertumbuhan sel vaskuler (remodelling vaskuler), regulasi trombosit dan fungsi fibrinolisis, mediator mekanisme inflamasi dan imun, regulasi leukosit dan adhesi platelet pada permukaan, modulasi oksidasi lipid (aktivitas metabolik), dan regulasi permeabilitas vaskuler (Sari, 2011).

2.3 CEC (Circulating Endothelial Cell) pada Diabetes Melitus Sel endotel melapisi bagian dalam lumen dari seluruh pembuluh darah dan berperan sebagai penghubung antara sirkulasi darah dan sel-sel otot polos pembuluh darah. Disamping berperan sebagai sawar fisik antara darah dan jaringan, sel endotel memfasilitasi berbagai fungsi yang kompleks dari sel otot polos pembuluh darah dan sel-sel didalam kompartemen darah. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sel endotel memegang peran penting dalam proses homeostasis yang terjadi melalui integrasi berbagai mediator kimiawi. Kerusakan sel endotel menyebabkan ekspresi dan sekresi molekul adhesi sel endotel terganggu, dan faktor inflamasi yang menyebabkan perubahan morfologi dan fungsi sel-sel endotel dan menyebabkan penyakit pembuluh darah (Shahab, 2009). CEC (Circulating Endothelial Cell) adalah sel endotel dari dinding pembuluh darah yang bersirkulasi di pembuluh darah perifer. CEC merupakan penanda terjadinya kerusakan vaskuler. Normalnya kadar CEC dalam orang normal 0-12/ml darah. CEC akan meningkat pada penyakit yang menyerang pembuluh darah misalnya diabetes melitus, penyakit jantung, sklerosis sistemik, Cytomegalovirus

11

(CMV) infeksi, endotoksemia, vaskulitis, transplantasi ginjal, dan kanker (Erdbruegger et al., 2006). Sel endotel dapat diaktifkan dengan berbagai rangsangan, seperti sitokin proinflamasi, pertumbuhan faktor, menular agen, lipoprotein, atau stres oksidatif. Kehilangan integritas lapisan endotel yang irreversibel akan mengarah ke detasemen sel dan sel-sel yang terpisah (CEC) ini akan menjadi apoptosis atau nekrosis. CEC diidentifikasi melalui ekspresi CD 146. Selain itu juga ditemukan kaderin endotel vaskular (VE-cadherin), vWF(von willebrand factor) dan antibody monoclonal (SEndo 1) untuk antigen CD 146 (Erdbruegger, U. et al., 2006).

Gambar 2.2 Mekanisme pembentukan dan lepasnya sel endotel (Sumber: Erdbruegger, U. et al., 2006)

Hiperglikemia persisten merangsang produksi radikal bebas oksidatif yang disebut (reactive oxygen species). Radikal bebas membuat kerusakan endotel vaskuler dan menetralisir NO, yang berefek menghalangi vasodilatasi pembuluh darah. Nitric oxide merupakan vasodilator yang menyebabkan relaksasi otot polos

12

yang berfungsi sebagai regulator aliran dan tekanan darah, meregulasi permeabilitas endothelial terhadap lipoprotein dan zat lainnya dan mencegah agregasi dan adhesi platelet sehingga pada DM terjadi komplikasi vasculopathy. Pada orang yang menderita diabetes melitus terjadi peningkatan kadar CEC karena resistensi insulin. Saat nitric oxide berkurang atau tidak adekuat, endotelium menjadi prokoagulan dari pada antikoagulan, dan molekul vasoaktif seperti sitokin, dan growth factor terbentuk. Endotelium menjadi lebih permeabel dimana dapat terjadi peningkatan lipoprotein, monosit, dan makrofag. Substansi ini meningkatkan migrasi sel otot polos, mempercepat pembentukan, mengubah fungsi dan struktur pembuluh darah. Akibatnya, sel endotel banyak yang lepas dan kemudian menjadi apoptosis atau nekrosis (Idhayu, 2006). CEC diisolasi dengan menggunakan metode flowcytometry. Flowcytometry merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik permukaan setiap sel dengan kemampuan memisahkan sel-sel yang berada dalam suatu suspense menurut karakteristik masing-masing secara otomatis melalui suatu celah yang ditembus oleh seberkas sinar laser. Pengukuran dengan flowcytometry menggunakan label fluoresensi dan mengukur jumlah, ukuran sel, petanda dinding sel, granula intraseluler, struktur intrasitoplasmik, dan inti sel (Barrus, 2011) Morfologi dari CEC adalah berbentuk bulat atau oval dengan diameter 10 sampai 100m (Woywodt et al., 2002). Pengukuran kadar CEC dilakukan dengan mengambil PBMC (peri blood mononuclear cell). Normalnya, dalam PBMC ditemukan limfosit, monosit, basofil, makrofag dan sel hematopoiesis lainnya. Tapi, dalam keadaan hiperglikemia akan ditemukan sel endotel yang lepas dengan dideteksinya CD146. Pada pemeriksaan CEC dengan flowcytometry digunakan 2 marker yaitu CD 146 dan CD 45. CD 146 merupakan marker dari sel endotel, sel limfosit, dan sel melanoma, sedangkan CD 45 merupakan marker spesifik dari sel limfosit. Penggunaan CD 45 pada pengukuran CEC bertujuan untuk menarik sel limfosit sehingga CD 146 dapat dijadikan marker untuk CEC (Mancuso, et al.,).

13

2.4 Alloxane Alloxane adalah suatu substrat yang secara struktural adalah derivate pirimidin sederhana. Nama lain dari Alloxane adalah 2,4,5,6-tetraoxypirimidin; 2,4,5,6primidinetetron; 1,3-Diazinan-2,4,5,6-tetron (IUPAC) dan asam Mesoxalylurea 5oxobarbiturat. Rumus kimia Alloxane C4H2N2O4. Alloxane murni diperoleh dari oksidasi asam urat oleh asam nitrat. Alloxane adalah senyawa kimia tidak stabil dan senyawa hidrofilik. Pada pH 7,4 dan suhu 370 C waktu paruh alloxane adalah 1,5 menit (McLetchie 2002, Szkuldelski 2001).

Gambar 2.3 Struktur kimia alloxane (Sumber: Nugroho, 2006)

Alloxane relatif toksik terhadap hati dan ginjal, tetapi dalam dosis tertentu menyebabkan destruktif selektif pada sel pankreas. Alloxane bereaksi dengan merusak substansi essensial di dalam sel pankreas sehingga menyebabkan berkurangnya granula-granula pembawa insulin di dalam sel pankreas. Pemberian Alloxane adalah suatu cara yang cepat untuk menghasilkan kondisi diabetic eksperimental (hiperglikemik) pada hewan percobaan (Rosalina, 2009). Faktor lain selain pembentukan oksigen reaktif adalah gangguan pada homeostatis kalsium intraseluler. Alloxane dapat meningkatkan konsentrasi ion kalsium bebas sitosolik pada sel Langerhans pankreas. Efek tersebut diikuti oleh beberapa kejadian, yaitu influks kalsium dari cairan ekstraseluler, mobilisasi kalsium dari simpanannya secara berlebihan, dan eliminasinya yang terbatas dari sitoplasma. Influks kalsium akibat aloksan tersebut mengakibatkan depolarisasi sel Langerhans, membuka kanal kalsium dan menambah masuknya ion kalsium ke sel. Akibatnya,

14

proses oksidasi sel terganggu dan sel Langerhans pancreas akan mengalami kerusakan. Alloxane juga diduga berperan dalam penghambatan glukokinase dalam proses metabolisme energi (Szkudelski 2001, Walde et al. 2002). Alloxane lazim digunakan karena zat kimia ini menimbulkan hiperglikemik yang permanen dalam 2-3 hari (Suharmiati, 2003). Alloxane dapat diberikan secara intravena, intraperitoneal, atau subkutan pada binatang percobaan (Nugroho, 2006). Tikus hiperglikemik dapat dihasilkan dengan pemberian suntikan aloksan monohidrat secara intravena dengan dosis 75 mg / kg BB tikus (Lestari, 2006). Dosis pemberian aloksan bervariasi tergantung pada spesies, nutrisi, dan rute pemberiannya (Szkudelski, 2001). Kemampuan aloksan untuk dapat menimbulkan diabetes juga tergantung pada jalur penginduksian, dosis, hewan coba, dan status nutrisinya (Andayani, 2003).

2.5 Ubi jalar ungu Ubi jalar adalah tanaman dikotiledon dengan akar serabut yang dapat tumbuh secara adventif dari kedua sisi tiap ruas pada bagian batang yang bersinggungan dengan tanah. Organ penyimpanan yang layak santap disebut ubi yang terbentuk dari penebalan akar sekunder dan terbentuk pada kedalaman 25 cm dari permukaan tanah. Pembentukan ubi akibat pembelahan sel yang cepat diikuti oleh pembesaran sel dan penimbunan pati pada jaringan parenkim pusat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998:145) Ubi jalar mempunyai banyak nama atau sebutan, antara lain ketela rambat huwi boled (Sunda), tela rambat (Jawa), sweet potato (Inggris), dan shoyu (Jepang).

2.5.1 Klasifikasi Tanaman Dalam sistematika (taksonomi) ubi jalar dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Ludvina, 2010): Kingdom : Plantae (tumuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Subdivisi: Angiospermae (biji tertutup)

15

Class : Dicotyledoneae (biji berkeping dua) Ordo : Convolvulales Famili : Convolvulaceae Genus : Ipomoea Spesies : Ipomoea batatas Blackie

2.5.2 Deskripsi Morfologi Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas) Ubi jalar merupakan tanaman ubi-ubian dan tergolong tanaman musiman (berumur pendek). Tanaman ubi jalar tumbuh menjalar pada permukaan tanah dengan panjang tanaman dapat mencapai 3 meter. Ubi jalar berbatang lunak, tidak berkayu, berbentuk bulat dan bagian tengah bergabus. Batang ubi jalar beruas-ruas dengan panjang ruas 1-3 cm. Daun ubi jalar berbentuk bulat hati dan bulat lonjong tergantung dari varietasnya. Daun yang berbentuk bulat lonjong (oval) memiliki tepi daun rata, berlekuk dangkal, atau berlekuk dalam. Ubi jalar mempunyai bunga yang berbentuk terompet yang panjangnya antara 3-5 cm dan lebar bagian ujung antara 3-4 cm. Makota bunga berwarna ungu keputih-putihan dan bagian dalam mahkota bunga (pangkal sampai ujung) berwarna ungu muda (Juanda Js dan Bambang Cahyono, 2009). Tanaman ubi jalar yang sudah berumur 3 minggu setelah tanam biasanya sudah membentuk ubi. Bentuk ubi biasanya bulat sampai lonjong dengan permukaan rata sampai tidak rata. Bentuk ubi yang ideal adalah lonjong agak panjang dengan berat antara 200-250 g per ubi. Kulit ubi berwarna ungu atau ungu kemerah-merahan, tergantung dari varietasnya. Struktur kulit ubi bervariasi antara tipis sampai dengan tebal, dan biasanya bergetah. Jenis atau varietas ubi jalar yang berkulit tebal dan bergetah memiliki kecenderungan tahan terhadap hama penggerak ubi (Cylas sp). Daging ubi berwarna ungu. Ubi yang berkadar tepung tinggi cenderung manis (Rukmana, 2000).

16

Gambar 2.4 Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas) (Sumber: Ludvina, 2010)

2.5.3 Kandungan kimia Ubi jalar merupakan karbohidrat dan sumber kalori yang cukup tinggi. Ubi jalar juga sumber vitamin dan mineral, vitamin yang terkandung dalam ubi jalar antara lain vitamin A, vitamin C, thiamin (vitamin B1), dan riboflavin. Sedangkan mineral dalam ubi jalar diantaranya adalah zat besi (Fe), Fosfor (p), dan Kalsium (Ca). Kandungan lainnya adalah protein, Lemak, serat kasar dan abu. Ubi jalar juga merupakan salah satu hasil pertanian Indonesia yang memiliki kandungan gizi dan mineral yang cukup banyak. Di bawah ini adalah komponen-komponen yang terkandung dalam 100 gram ubi jalar beserta jumlahnya (Fuadi, 2011).

17

Tabel 2.1 Kandungan kimia yang ada pada ubi jalar Komponen Kadar air (%) Pati (%) Protein (%) Lemak (%) Gula reduksi (%) Mineral (%) Asam askorbat (mg/100 g) K (mg/100 g) S (mg/100 g) Ca (mg/100 g) Mg (mg/100 g) Na (mg/100 g) Fe (mg/100 g) Mn (mg/100 g) Vitamin A (IU/100 g) Energi (kJ/100 g)
Sumber: Kotecha dan Kadam (1998)

Jumlah 72,84 24,28 1,65 0,4 0,85 0,95 22,7 204,0 28,0 22,0 10,0 13,0 0,59 0,355 20063,0 441,0

Ubi jalar ungu yang rasanya manis mengandung antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan, antimutagenik, hepatoprotektif antihipertensi dan

antihiperglisemik (Suda et al, 2003). Kandungan antosianin pada ubi jalar ungu lebih tinggi daripada ubi yang berwarna putih, kuning, dan jingga. Ubi jalar ungu mengandung antosianin sekitar 110-210mg/100 gr (Suprapta, 2004). Kandungan antosianin yang tinggi pada ubi jalar tersebut dan stabilitas yang tinggi dibanding antosianin dari sumber lain, membuat tanaman ini sebagai pilihan yang lebih sehat (Kumalaningsih, 2006).

18

Antosianin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan penangkap radikal bebas. Umumnya senyawa flavonoid berfungsi sebagai antioksidan primer, chelator dan scavenger terhadap superoksida anion. Antosianin dalam bentuk aglikon lebih aktif daripada bentuk glikosidanya (Santoso, 2006). Kemampuan antioksidatif antosianin timbul dari reaktifitasnya yang tinggi sebagai pendonor hidrogen atau elektron, dan kemampuan radikal turunan polifenol untuk menstabilkan dan mendelokalisasi elektron tidak berpasangan. Aktivitas antioksidan antosianin dipengaruhi oleh sistem yang digunakan sebagai substrat dan kondisi yang dipergunakan untuk mengkatalisis reaksi oksidasi (Pokorny et al., 2001). Antioksidan dalam arti biologis adalah senyawa yang mampu menangkal atau meredam dampak negatif oksidan dalam tubuh. Antioksidan bekerja dengan cara mendonorkan satu elektronnya kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitas senyawa oksidan tersebut bisa dihambat. Keseimbangan oksidan dan antioksidan sangat penting karena berkaitan dengan berfungsinya sistem imunitas tubuh. Kondisi tersebut terutama untuk menjaga integritas dan berfungsinya membran lipid, protein sel dan asam nukleat serta mengontrol transduksi signal dan ekspresi gen dalam sel imun (Winarsi, 2007). Menurut Kuncahyono & Sunardi (2007), berdasarkan sumbernya antioksidan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: 1. Antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh kita sendiri, misalnya superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase, perxidasi dan enzim kalatase. 2. Antioksidan alami yang dapat diperoleh dari hewan atau tanaman yaitu tokoferol, vitamin C, betakaroten, flavonoid, antosianin dan senyawa fenolik. Antioksidan alami umumnya memiliki gugus hidroksil dalam struktur molekulnya. 3. Antioksidan sintetik yang dibuat dari bahan-bahan kimia yaitu Butylated Hroxyanisole (BHA), BHT, TBHQ, PG, dan NDGA yang ditambahkan dalam makanan untuk mencegah kerusakan lemak.

19

Menurut Kumalaningsih (2007), berdasarkan fungsinya antioksidan dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu: 1. Antioksidan primer Antioksidan primer adalah antioksidan yang berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas baru, karena dapat merubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya sebelum sempat bereaksi. Contoh antioksidan primer adalah enzim SOD (superokside dismutase), enzim tersebut dapat melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas. Kinerja enzim (SOD) superokside dismutase dipengaruhi oleh beberapa mineral, seperti Zn, Mn, Cu, dan Se yang harus ada dalam makanan dan minuman. 2. Antioksidan sekunder Antioksidan sekunder adalah senyawa antioksidan yang mampu memotong reaksi berantai (propagasi) yang ditimbulkan oleh radikal bebas. Sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan yang lebih besar. Contoh antioksidan sekunder adalah betakaroten, vitamin C, dan vitamin E. 3. Antioksidan tersier Antioksidan tersier merupakan antioksidan yang mampu memperbaiki kerusakan sel atau jaringan akibat oksidasi radikal bebas. Metionin sulfoksidan merupakan contoh antioksidan tersier yang mampu memperbaiki kerusakan DNA akibat oksidasi radikal bebas. Enzim tersebut bermanfaan untuk perbaikan DNA pada penderita kanker. 4. Oxygen scavenger Oxygen scavenger adalah antioksidan yang mampu mengikat radikal oksigen, sehingga tidak mendukung terjadinya reaksi oksidasi. Asam askorbat (vitamin C) merupakan contoh dari oxygen scavenger. 5. Chelator Chelator berfungsi mengikat kofaktor logam yang mampu mengkatalisis reaksi oksidasi, misalnya asam sitrat dan asam amino.

20

2.6 Kerangka konseptual

Alloxane

Destruksi sel pankreas

Sekresi insulin

Kadar gula darah Ubi jalar ungu (-) Peningkatan radikal bebas

Sintesis NO (Nitrit Okside)

Pelepasan sel endotel (Circulating Edndothelial Cell)

Jalur alloxane Jalur ubi jalar ungu Variabel tidak diteliti Variabel diteliti

21

Injeksi alloxane dapat menyebabkan diabetes melitus tipe 1 pada binatang percobaan. Karena alloxane merupakan suatu radikal bebas yang dapat merusak DNA sel pancreas. Selain itu, alloxane menginduksi pengeluaran ion kalsium dari mitokondria yang mengakibatkan proses oksidasi sel terganggu. Keluarnya kalsium dari mitokonria mengakibatkan homeostasis yang merupakan awal dari matinya sel. Akibatnya, granula-granula pembawa insulin berkurang sehingga kadar gula darah tikus meningkat. Kadar gula darah yang meningkat akan mengurangi sintesi dari NO (Nitrit oxide), dimana NO berfungsi untuk mengatur tonus sel otot polos, mencegah agregasi trombosit, dan regulasi permeabilitas vaskuler. Turunnya sintesis NO akan menyebabkan pembuluh darah mengalami vasokonstriksi sehingga suplai darah ke jaringan terganggu dan menybabkan lepasnya sel endotel (CEC).

2.7 Hipotesis Hipotesis dalam penelitian ini adalah 1. Ubi jalar ungu memiliki efektivitas menurunkan kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes. 2. Terdapat perbedaan hasil dalam menurunkan kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes dengan pemberian dosis sari ubi jalar ungu yang berbeda.

22

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian

eksperimental laboratoris (Pratiknya, 2010).

3.2

Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah post test only control group

design. Rancangan penelitian ini dilakukan dengan membagi sampel dalam kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Perlakuan dilakukan pada lebih dari satu kelompok dengan bentuk perlakuan yang berbeda. Setelah semua perlakuan selesai, dilakukan observasi (posttest) pada semua kelompok untuk diperoleh kesimpulan mengenai perbedaan diantaranya melalui analisis data tertentu (Notoatmodjo, 2005). Secara sistematis rancangan penelitian digambarkan sebagai berikut: K K(-) K(+) Pop R S P P1 P2 P3 Keterangan : Pop R : Populasi : Simple random sampling
30 hari 3o hari

OK(-) OK(+)

30 hari

O1 O2 O3

30 hari

30 hari

23

S K(-) K(+)

: Sampel : Kelompok kontrol negatif dengan pemberian pur Turbo 521 aquadest biasa : Kelompok Kontrol positif dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB dan

P1, P2, P3

: Kelompok perlakuan dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB + sari ubi jalar ungu 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari secara berturut-turut

OK(-)

: Data hasil pengamatan kadar CEC(Circulating Endothelial Cell) dengan pur dan aquadest biasa setelah masa penelitian selesai

OK(+)

: Data hasil pengamatan kadar CEC(Circulating Endothelial Cell) yang dibuat diabetes setelah masa penelitian selesai

O1, O2, O3 : Data hasil pengamatan kadar CEC(Circulating Endothelial Cell) yang dibuat diabetes dan sari ubi jalar ungu 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari setelah masa penelitian selesai

3.3

Besar Sampel Hewan yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah tikus putih jantan

strain Wistar (Rattus norvegicus) dengan kondisi sehat, umur 3 bulan dan dengan rentang berat badan antara 150-275 gram. Menurut perhitungan dengan analisis One way Anova yang menggunakan aplikasi G power, besar sampel yang digunakan: F tests - ANOVA: Fixed effects, omnibus, one-way Analysis: A priori: Compute required sample size Input: Effect size f err prob Power (1- err prob) Number of groups Output: Noncentrality parameter Critical F = 0.80 = 0.05 = 0.80 = 5 = 16.0000000 = 2.8660814

24

Numerator df Denominator df Total sample size Actual power

= 4 = 20 = 25 = 0.8253110

Jadi peneliti menggunakan 25 ekor tikus yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol (kontrol negatif dan kontrol positif) dan 3 kelompok perlakuan. Pembeda 3 kelompok perlakuan ini adalah dosis sari ubi jalar ungu sebesar 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, dan 5,6 cc/ekor/hari.

3.4

Tempat dan Waktu Penelitian

3.4.1 Tempat Penelitian Perlakuan dilakukan di Laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. 3.4.2 Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan perlakuan dan pemeriksaan CEC (Circulating Endothelial Cell) pada bulan Agustus November 2012.

3.5

Variabel Penelitian Penelitian ini menggunakan 3 macam variabel, yaitu:

a. Variabel bebas: Sari ubi jalar ungu dengan dosis 1,4 cc/ekor/hari, 3,5 cc/ekor/hari, 5,6 cc/ekor/hari untuk kelompok perlakuan 1,2, dan 3. b. Variabel tergantung: kadar CEC (Circulating Endothelial Cell). c. Variabel kendali: 1. Umur hewan coba 2. Jenis hewan coba 3. Berat badan hewan coba

25

4. Waktu dan lama perlakuan 5. Pemeliharaan dan perlakuan hewan coba 6. Ketepatan dosis alloxane dan sari ubi jalar ungu 7. Jumlah pakan standar

3.6

Definisi Operasional Variabel

3.6 1. Sari ubi jalar ungu Sari ubi jalar ungu didapat dengan menghaluskan 100 gr ubi jalar ungu dalam 1 liter aquadest. Kemudian disaring dengan kain kasa dan dipanaskan selama 45 menit. Sari ubi jalar ungu diberikan melalui sonde setiap hari selama 14 hari.

3.6 2. Kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) CEC (Circulating Endothelial Cell) adalah sel endotel yang lepas yang disebabkan karena peningkatan kadar glukosa dalam darah. CEC diukur dengan menggunakan flowcytometry.

3.7

Alat dan Bahan Penelitian

3.7.1 Alat Penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kandang hewan dari kotak plastik, botol minuman hewan coba, kawat penutup kandang, sekam untuk alas kandang, mikrotom, gunting, papan fiksasi, jarum pentul, pinset, scapel, spuit, vial, sonde, neraca digital, dan glukotest easytouch

3.7.2 Bahan Perlakuan Bahan yang digunakan adalah alloxane , diet normal adalah pakan ternak (pellet) merk Turbo-521-CP, dan sari ubi jalar ungu.

26

3.8

Prosedur Penelitian

3.8.1 Persiapan penelitian Menyiapkan kandang dari kotak plastik dengan tutup terbuat dari ram kawat, dan didalamnya diberi sekam, menyiapkan tempat minum tikus. Seleksi hewan yang akan digunakan sebagai model sesuai kriteria yang telah ditetapkan, dalam hal ini tikus putih jantan strain Wistar. Melakukan adaptasi hewan coba, yaitu tikus dimasukkan dalam kandang yang sudah disiapkan dengan diberi pakan biasa dan minum selama 7 hari. Setelah itu, membuat sari ubi jalar ungu, caranya yaitu: 1) ubi jalar ungu segar dicuci kemudian dikupas kulitnya, ditimbang dan dipotong kecilkecil, 2) memasukkan 100 gram potongan ubi jalar dan 1 liter aquades kedalam blender, 3) diblender selama kurang lebih 5 menit, 4) homogenat lalu disaring menggunakan 3 lapis kain kasa dan dipanaskan pada suhu mendidih selama 45 menit, 5) kemudian sari ubi jalar ungu didinginkan dan siap digunakan untuk penelitian (Jawi, 2008).

3.8.2 Pembuatan Kondisi Diabetik pada Tikus Pemeriksaan glukosa darah puasa tikus dilakukan dengan alat pengukur glukosa darah easy touch untuk diukur glukosa darahnya. Kadar gula darah puasa normal pada tikus 50-109 mg/dl (Wulandari, 2010). Dua puluh tikus yang meliputi kontrol positif, perlakuan 1, perlakuan 2, perlakuan 3 dibuat hiperglikemik dengan pemberian suntikan aloksan monohidrat secara intravena dengan dosis 75 mg/kgBB. Suntikan dilakukan di pembuluh darah vena yang ada di ekor, atau cuping telinga. Injeksi alloxane dilakukan secara intravena pada ekor tikus, yang dilakukan dengan cara: 1) masukkan tikus ke dalam kotak berlubang, sehingga ekor bisa ditarik keluar, 2) kompress ekor tikus dengan kapas yang dibasahi air hangat selama 5 menit sehingga pembuluh darah venanya terlihat, 3) injeksi vena dengan kemiringan 15 derajat, lalu diaspirasi. Apabila telah yakin jarum sudah masuk ke dalam vena (darah terlihat memasuki spuit), maka injeksi perlahan dilakukan 4) Setelah injeksi dilakukan, ditunggu selama 1 minggu sehingga tikus dalam kondisi hiperglikemik

27

(Maliya, 2006). Setelah 1 minggu, kadar gula darah puasa diuku untuk memastikan tikus dalam eadaan hiperglikemik.

3.8.5 Pemberian Sari Ubi Jalar Ungu Penelitian yang dilakukan oleh Jawi (2008) menggunakan ubi jalar ungu dengan dosis 0,5 cc/ekor/hari pada sampel mencit selama 7 hari. Dosis yang dibutuhkan peneliti untuk diberikan kepada tikus dengan rerata berat badan 200 gram adalah dosis ubi jalar ungu pada mencit dikalikan dengan faktor konversi, yaitu 0,5 cc x 7 (setara dengan 3,5 cc/ekor/hari). Sebagai pembanding peneliti menggunakan dosis 1,4 cc/ekor/hari dan 5,6 cc/ekor/hari. Sari ubi jalar ungu diberikan dengan cara sonde selama 14 hari. Volume maksimal pemberian ekstrak ubi jalar pada hewan coba menurut Suhardjono (1975) per oral 10cc.

3.8.6 Pengukuran kadar CEC dengan menggunakan flowcitometry Isolasi PBMC (peri blood mononuclear cell) dengan menambah ficoll 5ml pada tabung dan 5ml darah dengan perbandingan 1:1. Kemudian sentrifus dengan kecepatan 10rpm selama 30 menit. Mengambil cincin dan memindahknnya ke tabung yang lain. Masukkan PBS (Phospat Buffer Saline) sebanyak 10 ml. Sentrifus dengan kecepatan 1200rpm selama 10 menit. Kemudian buang supernatannya dan ambil pelet. Tambahkan RBC lisis buffer sebanyak 5 ml. Sentrifus lagi dengan kecepatan 1200rpm selama 10 menit. Buang supernatan dan ambil pelet. Tambahkan PBS (Phospat Buffer Saline) dan sel staining buffer sebanyak 100ml. Lakukan pipeting sampai dengan homogen kemudian bagi menjadi 2 eppendorf masing-masing 50ml. Sentrifus eppendorf I dengan kecepatan 2000 rpm selama 3 menit. Buang PBS dengan cara dituang. Tambahkan reagen flowcytometry@ 400 l, resuspen dengan homogen. Bungkus tiap eppendorf dengan alufoil. Beri penandaan pada bagian atas eppendorf. Inkubasi di waterbath 37C, 10 menit untuk mengaktivasi RNase. Jangan disimpan di kulkas/freezer/suhu kamar karena akan meningkatkan debris. Resuspen lagi sebelum ditransfer ke flowcyto-tube. Transfer suspensi sel ke dalam flowcyto-

28

tube melalui filter

(kain nylon/kain kaca) menggunakan mikropipet 1 ml. Baca

dengan flowcytometer FACS Calibur.

3.9 Analisis Data Penelitian Untuk mengetahui pengaruh sari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes, peneliti menggunakan regresi linier. Selanjutnya, untuk mengetahui perbedaan pemberian dosis sari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes pada kelima kelompok digunakan uji One Way Anova.

29

3.10

Alur Penelitian N Sampel

K(-)

K(+)

P1

P2

P3

Diukur kadar glukosa darah Injeksi alloxane 75 mg/Kg BB Setelah 1 minggu diukur kadar glukosa darah Sari ubi jalar ungu 1,4 cc/per ekor/hari selama 14 hari Sari ubi jalar ungu 3,5 cc/per ekor/hari selama 14 hari Sari ubi jalar ungu 5,6 cc/per ekor/hari selama 14 hari

Pemeriksaan kadar CEC (Circulating Endothelial Cell)

30

BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil penelitian

4.1.1 Data Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus wistar jantan yang dikelompokkan menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok 1 dengan pemberian pur Turbo 521 dan aquades biasa (K-); kelompok 2 dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB, diberi pur Turbo 521, aquades (K+); kelompok 3 dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB, diberi pur Turbo 521, aquades dan sari ubi jalar ungu 1,4 cc/ekor/hari (P1); kelompok 4 dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB, diberi pur Turbo 521, aquades, dan sari ubi jalar ungu 3,5 cc/ekor/hari (P2); kelompok 5 dengan injeksi intravena alloxane 75 mg/Kg BB, diberi pur Turbo 521, aquades, dan sari ubi jalar ungu 5,6 cc/ekor/hari. Pada proses penelitian ini terdapat lima ekor tikus yang mati, yaitu 1 ekor dari kelompok 2 (K+), 1 ekor dari kelompok 3 (P1), 2 ekor dari kelompok 4 (P2), 1 ekor dari kelompok 5 (P3). Lima kelompok dengan kelompok kontrol negatif (non diabetes), kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan yang sudah diabetes dengan kadar gula darah lebih dari 110 mg/dl dilakukan pemeriksaan dengan flowcytometry untuk mengukur kadar CEC. Kadar gula darah puasa tikus untuk setiap kelompok bisa dilihat di lampiran. Rata-rata ekspresi CEC berdasarkan data tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.1.

31

Tabel 4.1 Rata-rata kadar CEC tiap kelompok

Kelompok K1 K2 P1 P2 P3

Rata-rata 0,0250 0,0325 0,1275 0,0750 0,0200

Std. Deviasi 0,00707 0,04573 0,15414 0,02121 0,01414

Keterangan: K1 = kelompok kontrol negatif (perawatan tanpa injeksi alloxane dan ubi jalar ungu) K2 = Kelompok kontrol positif (Alloxane 75mg/Kg/BB) P1 = Kelompok perlakuan 1 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 1,4cc/ekor/hari) P2 = Kelompok perlakuan 2 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 3,5cc/ekor/hari) P3 = Kelompok perlakuan 3 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 5,6cc/ekor/hari) Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa rerata kadar CEC terbesar pada kelompok perlakuan 1 yakni sebesar 0,1275 pada pemberian dosis Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 1,4 cc/ekor/hari dan rata-rata kadar CEC terkecil pada kelompok perlakuan 3 yakni sebesar 0,0200 pada pemberian Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 5,6 cc/ekor/hari. Selain itu, dapat dilihat bahwa terdapat penurunan kadar CEC seiring dengan meningkatnya dosis pemberian ekstrak ubi jalar ungu. Diagram batang rerata hasil pemeriksaan kadar CEC dengan menggunakan flowcytometry dapat dilihat pada Gambar 4.1.
.3000 .2000 .1000 .0000 K-.1000 K+ P1 Perlakuan P2 P3 .0325 .1275 .0750 .0250 .0200

Gambar 4.1 Diagram batang rata-rata kadar CEC

32

Keterangan: K1 = kelompok kontrol negatif (perawatan tanpa injeksi alloxane dan ubi jalar ungu) K2 = Kelompok kontrol positif (Alloxane 75mg/Kg/BB) P1 = Kelompok perlakuan 1 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 1,4cc/ekor/hari) P2 = Kelompok perlakuan 2 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 3,5cc/ekor/hari) P3 = Kelompok perlakuan 3 (Alloxane 75mg/Kg/BB + ubi jalar ungu 5,6cc/ekor/hari)
Gambar 4.2 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC pada kelompo k kontrol negatif

Gambar 4.3 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC pada kelompok kontrol positif

33

Gambar 4.4 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC pada kelompok perlakuan 1

Gambar 4.5 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC pada kelompok kontrol perlakuan 2

34

Gambar 4.6 Gambaran hasil perhitungan kadar CEC pada kelompok perlakuan 3

4.1.2 Hasil Uji Analisis Syarat yang harus dimiliki oleh data penelitian agar dapat melakukan analisa data dengan uji parametric one way Anova ialah harus memiliki data yang terdistribusi normal dan varians datanya seragam. Oleh karena itu, perlu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas terhadap data sebelum melakukan analisis one way Anova. Uji normalitas dan uji homogenitas dikatakan significan jika nilai sig > 0,05. Hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov didapatkan significancy sebesar 0,380 dan hasil uji homegenitas dengan Levene didapatkan nilai significancy sebesar 0,122. Hal ini menandakan bahwa data terdistribusi normal dan varians datanya seragam atau homogen.

35

Tabel 4.2 Hasil analisis data regresi linier


Standardized Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) Dosis B .163 -.026 Std. Error .077 .022 -.425 Coefficients Beta t 2.133 -1.149 Sig. .077 .294

Keterangan: variable terikat = kadar CEC

Tabel 4.3 Besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat pada uji regresi linier
Adjusted R Model 1 R .425
a

Std. Error of the Estimate

R Square .180

Square .044

.10949

Berdasarkan uji regresi linier R square = 0,180. Koefisien korelasi R sebesar 42,5%, yang berarti ubi jalar ungu memberikan pengaruh sebesar 42,5% terhadap kadar CEC. Sedangkan sisanya 57,5% dipengaruhi oleh faktor luar. Bentuk umum garis regresi (x terhadap y) yaitu Y = a + bX, dengan a = 0,163 dan b = -0,026 yang didapat dari hasil uji regresi linier. Sehingga persamaannya menjadi Y = 0,163-0,026X. Dengan Y adalah kadar CEC dan X adalah sari ubi jalar ungu. Jadi, dari rumus tersebut berarti setiap kenaikan 1 mg dosis, akan menurunkan kadar CEC sebesar 0,026. Grafik pengaruh pemberian dosis bertingkat terhadap kadar CEC dapat dilihat pada gambar 4.1. Hasil uji analisis one way ANOVA diperoleh significancy 0,564 (sig. > 0,05) yang berarti kadar CEC terdapat perbedaan yang tidak bermakna (terima H0) pada 5 kelompok, yaitu 2 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan.

36

Tabel 4.4 Hasil analisis data one way ANOVA


Sum of Squares Between Groups Within Groups Total .027 .078 .105 df 4 9 13 Mean Square .007 .009 F .783 Sig. .564

4.2

Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian sari ubi jalar

ungu terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes. Ubi jalar ungu diberikan dalam berbagai dosis dengan tujuan mengetahui pengaruh perbedaan pemberian dosis ubi jalar ungu tersebut terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes. Tikus Wistar yang digunakan merupakan tikus jantan karena karena tikus
jantan dapat memberikan hasil penelitian yang lebih stabil karena tidak dipengaruhi oleh adanya siklus menstruasi dan kehamilan seperti pada tikus putih betina. Tikus jantan juga mempunyai kecepatan metabolisme obat yang lebih cepat dan kondisi biologis tubuh yang lebih stabil dibanding tikus betina (Setiawan, 2010). Selain itu, hewan coba yang digunakan berumur 3 bulan dengan berat badan 150-275gram.

Meningkatnya kadar glukosa darah pada pemberian alloxane dapat disebabkan oleh dua proses yaitu terbentuknya radikal bebas dan kerusakan permeabilitas membran sel sehingga terjadi kerusakan sel beta pancreas yang berfungsi menghasilkan insulin. Aksi toksik alloxane pada sel pankreas diinisiasi oleh radikal bebas yang dibentuk oleh reaksi redoks. Alloxane dan produk reduksinya, asam dialurik, membentuk siklus redoks dengan formasi radikal superoksida. Radikal ini mengalami dismutasi menjadi hydrogen peroksida. Radikal hidroksil dengan kereaktifan yang tinggi dibentuk oleh reaksi Fenton. Aksi radikal bebas dengan rangsangan tinggi meningkatkan konsentrasi kalsium sitosol yg menyebabkan

37

destruksi cepat sel beta pankreas. Meningkatnya konsentrasi kalsium sitosol juga disebabkan karena aloksan menginduksi pengeluaran kalsium dari mitokondria yang kemudian menyebabkan terganggunya proses oksidasi sel beta pankreas. Karena rusaknya sel pankreas maka insulin tidak terbentuk sehingga kadar glukosa darah meningkat. Hal ini seperti proses yang terjadi pada diabetes melitus tipe 1 pada manusia (Yuriska, 2009). Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Rosalina (2009) membuktikan bahwa kenaikan kadar glukosa darah (hiperglikemi) memiliki peran penting terhadap kerusakan vaskuler. Bagian terdalam vaskuler dilapisi oleh sel endotel. Hiperglikemia akut akan menyebabkan jejas endotel yang nantinya akan mengarah ke nekrosis dan lepasnya sel endotel (CEC). Ubi jalar ungu yang digunakan dalam penelitian ini mengandung antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas pada diabetes. Kemampuan antioksidatif antosianin timbul dari reaktifitasnya yang tinggi sebagai pendonor hidrogen atau elektron, dan kemampuan radikal turunan polifenol untuk menstabilkan dan mendelokalisasi elektron tidak berpasangan (Pokorny et al., 2001). Dari penelitian yang dilakukan oleh Jawi (2008) telah terbukti mengenai efek antioksidan dari ekstrak air ubi jalar ungu dapat menurunkan kadar MDA (malondialdehyde) yang merupakan indikator stress oksidtif pada darah dan berbagai organ mencit yang diberikan beban aktivitas fisik maksimal. Pada penelitian ini terlihat efek antioksidan dari ubi jalar ungu terhadap kadar CEC dalam tubuh tikus model diabetes terbukti dengan menurunnya kadar CEC seiring bertambahnya pemberian dosis ubi jalar ungu. Namun, secara statistik perbedaannya tidak bermakna. Rendahnya kadar CEC pada kelompok 2 bisa dipengaruhi faktor biologis tikus, yakni tikus yang laju aliran darahnya tinggi akan mengurangi lepasnya sel endotel (CEC) sehingga pada kelompok 2 perhitungan CEC dengan flowcytometry rendah (Zeiher, 2008).

38

Tidak ada perbedaan secara statistik antar kelompok perlakuan yang diberi sari ubi jalar ungu. Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Pertama, pada saat pembuatan sari ubi jalar ungu kandungan antosianinnya berkurang karena pemanasan. Sesuai dengan penelitian Apriliyanti tahun 2010, bahwa pemanasan yang tinggi akan merusak antosianin. Tantituvanont et al., (2008) menyatakan bahwa suhu yang semakin tinggi akan mendorong terlepasnya bagian glikosil pada antosianin dengan menghidrolisis ikatan glikosidik sehingga terbentuk aglikon tidak stabil dan selanjutnya antosianin kehilangan warna. Kedua, jika kandungan gula dalam ubi jalar ungu tinggi akan menurunkan kandungan antosianin dalam ubi jalar ungu. Ketiga, dengan semakin lama waktu ekstraksi maka interaksi antara pelarut (air) dengan zat terlarut (antosianin dalam jaringan) semakin lama, sehingga proses pelarutan maksimal dan akhirnya zat yang terekstrak juga besar. Namun setelah waktu pemanasan sekitar 25 menit total antosianin mengalami penurunan dan paling rendah pada waktu 30 menit. Karena bila terlalu lama akan berdampak negatif yaitu kemungkinan kerusakan zat yang dilarutkan (antosianin). Peda penelitian ini ada lima ekor tikus yang mati yang disebabkan karena tikus sudah terlalu tua yang dalam penelitian ini tikus sudah mencapai umur 4 bulan, tikus mengalami perdarahan lambung akibat pemberian ekstrak ubi jalar ungu melalui per oral/sonde. Pada pengukuran CEC dengan flowcytometry ada empat sampel yang tidak bisa digunakan untuk uji flowcytometry karena pada pembentukan cincin PBMC
(Peripheral Blood Mononuclear Cell) tidak terbentuk cincin dan tidak bisa ditemukan

densitas sel yang baik untuk uji flowcytometry. Pengukuran kadar CEC dapat dideteksi melalui ekspresi antigen CD146 dengan menggunakan pemeriksaan flowcytometry. CD 146 merupakan marker dari sel melanoma, nerve endings, sel limfosit T, sel otot polos dan sel endotel. Oleh karena itu, untuk mengetahui kadar CEC dalam tubuh perlu dilakukan penghitungan sel hematopoiesis melalui marker CD 45 untuk menghindari positif palsu pada kadar CEC (Sethi, 2012). Dalam keadaan normal, kadar CEC dalam pembuluh darah perifer sangat rendah sekitar 0-12 ml/darah. pembuluh CEC akan meningkat pada penyakit

39

yang menyerang pembuluh darah salah satunya diabetes melitus (Erdbruegger et al., 2006). Pemberian sari ubi jalar ungu mempunyai pengaruh terhadap kadar CEC sebesar 42,5% dan pemberian dosis sari ubi jalar ungu tidak menunjukkan adanya perbedaan secara statistik.

40

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan: 1. Ubi jalar ungu mempunyai pengaruh sebesar 42,5% terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes 2. Pemberian sari ubi jalar ungu dengan dosis yang berbeda terhadap kadar CEC (Circulating Endothelial Cell) pada tikus model diabetes tidak menunjukkan adanya perbedaan secara statistik.

5.2 Saran 1. Perlu dilakukan penelitian yang sama untuk mendukung penelitian ini dengan metode yang tepat untuk mendapatkan hasil yang signifikan. Salah satunya membuat sari ubi jalar ungu dengan alokasi waktu 20 menit dan dengan suhu 115oC. 2. Perlu dikaji ulang mengenai penentuan dosis sari ubi jalar ungu, hewan coba yang digunakan berumur kurang dari 3 bulan, dan sonde yang terbuat dari plastik sehingga mengurangi perdarahan lambung.

41

DAFTAR PUSTAKA American Diabetes Association. 2004. Publication Manual of Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus. North Beauregard Street. Alexandria: ADA.

Ardian. 2012. Tingkat Pengetahuan Pasien Diabetes Mellitus tentang Risiko Terjadinya Ulkus Kaki Diabetes di Poli Klinik Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Skripsi. Diterbitkan. Medan: Fakultas Perawatan Universitas Sumatera Utara.

Barrus, B., M. 2011. Perubahan jumlah total limfosit sebagai alternative pemeriksaan cd4 pada pasien hiv aids yang diberikan antiretroviral. Diterbitkan. Thesis. Medan: Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Erdbruegger, U., Woywodt, A., and Haubitz, M. 2006. Circulating endothelial cells: A novel marker of endothelial damage. Clinica chimica Acta. Vol 373: 17-26.

Escandon, J. C., and Cipolla, M. 2009. Diabetes and Endothelial Dysfunction: A Clinical Perspective. Endocrine reviews. Vol. 22(1): 36-52.

Evans, J. L., Goldfine, I. D., Maddux, B. A., dan Grodsky, G. M., 2001. Oxidativ stress and Stress Activated Signlaing Pathways: A unifying Hypothesis of Type 2 Diabetes. Endocrinre reviews. Vol. 23(5): 599-622

Fitriasari, A. 2009. Prosedur Tetap Preparasi Sampel Untuk Flowcitometry. Yogyakarta: Cancer Chemoprevention Research Center Farmasi UGM.

Fuadi, A. 2011. Analisis Bahan Produk AgroindustriAnalisis Zat Bahan Ubi Jalar. Diterbitkan. Skripsi. Semarang; Universitas Diponegoro.

42

Guyton, A. C. dan Hall, J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11. Jakarta : EGC Goon, P., 2006. Circulating Endothelial Cells, Endothel Progenitor Cell, and Microparticel Endothelial Cell. Journal of medicine. Vol. 8: 2.

Haryo, T. 2011. Hubungan Kadar Apolipoprotein B Dengan Aterosklerosis Arteri Karotis Interna Pada Pasien Pasca Stroke Iskemik. Diterbitkan. Thesis. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Haubitz, M. dan Woywodt, A. 2004. Circulating Endothelial Cells and Vasculitis. Internal Medicine. Vol. 43 (8): 660-667

Juanda, Js., Dede., Cahyono, B. 2009. Ubi Jalar. Budi Daya dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta: Kanisius.

Jawi, I. M., Suprapta, D. N., Dwi, S. U., Wiwiek, I. 2006. Efek Antioksidan Ekstrak Umbi Ubi Jalar Ungu pada Darah dan Berbagai Organ pada Mencit yang Diberikan Beban Aktivitas Fisik Maksimal. Denpasar: Bappeda, Provinsi Bali.

Kumalaningsih, S. 2006. Antioksidan Alami. Surabaya: Trubus Agrisarana.

Keller, T., Mairuhu, A., Kruif, M. D., Gerdes, V. A. Infections and Endothelial Cells. Oxford Journal. Vol. (60) : 40-48.

Ludvina, S. 2010. Pengaruh Jenis Pelarut dan Pengolahan Terhadap Aktivitas Antioksidan pada Produk Olahan Ubi Jalar (Ipomoe batatas). Diterbitkan. Skripsi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Maliya, A. 2006. Perbedaan Profil Lipid Serum dan Perkembangan Lesi Aterosklerotik Aorta Abdominalis Antara Kelompok yang Diberi Perasan Pare (Momordica charantia) dan Kontrol. Diterbitkan. Thesis, Diponegoro: Universitas Diponegoro.

43

Mancuso, P., Colleoni, M., Orlando, L., Calleri, A., Maisonneuve, P., Pruneri, G. Circulating endothelial-cell kinetics and viability predict survival in breast cancer patients receiving metronomic chemotherapy. European Institute of Oncology. [16 Maret 2006]

Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Pratiknya, A. W. 2010. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers.

Purba, D. 2010. Perbandingan Kadar C-Peptide Pada Diabetes Melitus Tipe 2 Yang Baru Didiagnosa Dengan Non Diabetes Melitus. Diterbitkan. Thesis. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Rajagopalan, S., Somers, E. C. Endothelial Cell Apoptosis in Systemic Lupus Erythematosus: a Common Pathway for Abnormal Vascular Function and Thrombosis Propensity. http://bloodjournal.hematologylibrary.org/content/103/10/3677.full.html. [15 Januari 2004]

Riyadi dan Sukarmin. 2008.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Eksokrin dan Endokrin Pada Pankreas. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Rosalina, R. 2009. Efek Rumput Laut (Eucheuma sp.) terhadap Kadar Glukosa Darah dan Jumlah Monosit pada Tikus Wistar yang Diinduksi Aloksan. Diterbitkan. Karya Tulis Ilmiah. Semarang: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro.

Sari, A, A. 2011. Hubungan Kadar Fibrinogen dengan Ketebalan Tunika Intima Media Arteri Karotis Interna Pada Pasien Pasca Stroke Iskemik. Diterbitkan. Thesis. Semarang: Universitas Diponegoro.

Sethi, S. 2011. Comparison of circulating Endothelial Cell /Platelet Count Ratio to Aspartate Transaminase/Platelet Ratio Index. Journal of Clinical and Experimental Hepatology. Published.

44

Setiawan, B. dan Suhartono, E. 2005. Stress Oksidatif dan Peran Antioksidan pada Diabetes Melitus. Jurnal Kedokteran Indonesia. Kalimantan Selatan: Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat.

Sri, S, D. 2012. Effect ethanol extract of morinda citrifolia l to blood glucose, neutrofil count, glomerulus fibronektin in diabetes mellitus rat. Thesis. Diterbitkan. Diponegoro: Universitas Diponegoro.

Suda, I., T. Oki, M. Masuda, M. Kobayashi, Y. Nishiba, and S. Furuta. 2003. Physiological Functionality of Purplefleshed Sweet Potatoes Containing Anthocyanins and Their Utilization in Foods. JARQ. Vol. 37 (3): 167-173.

Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M., dan Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi IV. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Nigro, J., Osman, N., Dart, A. M., and Little, P.J. 2005. Insulin Resistance and Atherosclerosis. Endocrine reviews. Vol. 27(3): 242-259.

Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta: Kanisius.

Widowati, W. Potensi Antioksidan sebagai Antidiabetes. JKM. Vol 7 (2) 2008: 198202.

Woywodt, A. 2002. Necrosis, Detachment and Apoptosis endothelial cell. Oxford Journal. ISSN 1460-2385. Vol. 17: 1728-1730.

Wulandari, C. E. 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Bawang Merah (allium ascalonicum) Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Wistar dengan Hiperglikemia. Diterbitkan. Karya Tulis Ilmiah. Diponegoro: Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Diponegoro.

45

Wulandari, N. 2003. Perubahan Pupil Cycle Time Pada Penderita Diabetes Mellitus. Diterbitkan. Sumatera Utara: Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Yudiono, K. 2011. Ekstraksi Antosianin dari Ubi Jalar Ungu (ipomoea batatas cv. Ayamurasaki) Dengan teknik Ekstraksi subcritical water. Jurnal Teknologi Pangan. Vol. 2 (1):2-3.

Wuri, E., Rasni, H., Aini, L. 2010. Modul Praktikum Biostatistik. Tidak diterbitkan. Universitas Jember: Program Studi Ilmu Keperawatan.

46

LAMPIRAN

A. Tabel Konversi Hewan Percobaan dan Manusia *) 20g mencit 20g mencit 200g tikus 400g marmut 1,5 kg kelinci 2 kg kucing 4 kg kera 12 kg anjing 70 kg manusia 1,0 200g tikus 7,0 400g 1,5 kg 2 kg 4 kg kera 64,1 12 kg anjing 124,2 70 kg manusia 287,0

marmut kelinci kucing 12,25 27,8 29,7

0,14

1,0

1,74

3,9

4,2

9,2

17,8

56,0

0,03

0,57

1,0

2,25

2,4

5,2

10,2

31,5

0.04

0,25

0,44

1,0

1,05

2,4

4,5

14,2

0,03

0,23

0,41

0,92

1,0

2,2

4,1

13,0

0,016

0,11

0,19

0,42

0,45

1,0

1,9

6,1

0,008

0,06

0,1

0,22

0,24

0,52

1,0

3,1

0,0026

0,018

0,031

0,07

0,076

0,16

0,32

1,0

(Suhardjono D. 1995. Percobaan Hewan Laboratorium. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, hal. 207)
*)

Digunakan untuk perkiraan konversi dosis dari spesies hewan yang satu terhadap

yang lain dengan satuan dosis perbobot bahan tertentu.

47

B. Tabel Daftar Volume Maksimal Larutan Sediaan Uji yang Dapat Diberikan pada Berbagai Hewan Jenis hewan uji i.v Mencit (20-30g) Tikus (100g) Hamster (50 g) Marmot (250 g) Kelinci (2,5 kg) Kucing (3 kg) Anjing (5 kg) 0,5 1,0 5 - 10 5 - 10 10 - 20 Volume maksimal (mL) sesuai jalur pemberian i.m 0,05 0,1 0,1 0,25 0,5 1,0 5,0 i.p 1,0 25 12 25 10 - 20 10 - 20 20 - 50 s.c 0,5-1,0 2-5 2,5 5,0 5 - 10 5 - 10 10,0 p.o 1,0 5,0 2,5 10,0 20,0 0,50 100,0

(Suhardjono D. 1995. Percobaan Hewan Laboratorium. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, hal. 207) Keterangan i.v. : intravena i.m. : intramuscular i.p. : intraperitoneal s.c. : subcutan p.o. : perora

48

C. Kadar gula darah puasa pada kelima kelompok


Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Pada Kelompok Kontrol Negatif

No. Tikus 1 2 3 4 5 Mean

KGD Awal 74 72 67 84 68 73

KGD 2 75 62 75 62 62 67,2

Keterangan : KGD 2 : kadar glukosa darah setelah perlakuan standar


Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Pada Kelompok Kontrol Positif

No. Tikus 1 2 3 4 5 Mean

KGD Awal 73 92 86 69 80

KGD 1 132 95 104 137 117

Keterangan : KGD 1 : Kadar glukosa darah setelah injeksi alloxane


Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Pada Kelompok 3 (Perlakuan 1)

No. Tikus 1 2 3 4 5

KGD Awal 66 78 67 73 72

KGD 1 123 144 104 123 110

49

Mean

71,2

120,8

Keterangan : KGD 1 : Kadar glukosa darah setelah injeksi alloxane


Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Pada Kelompok 4(Perlakuan 2)

No. Tikus 1 2 3 4 5 Mean

KGD Awal 93 65 86 93 80 83,4

KGD 1 93 90 95 90 122 98

Keterangan : KGD 1 : Kadar glukosa darah setelah injeksi alloxane


Hasil Pengukuran Kadar Glukosa Darah Pada Kelompok 5

No. Tikus 1 2 3 4 5 Mean

KGD Awal 70 88 78 69 77 76,4

KGD 1 84 112 132 96 122 109,2

Keterangan : KGD 1 : Kadar glukosa darah setelah injeksi alloxane

50

D. Gambar Penelitian 1. Perlakuan

Potongan Ubi Jalar Ungu

Ekstrak Ubi Jalar Ungu

Hewan Uji Tikus Putih Strain Wistar

Pemberian Ekstrak Per Oral / Sonde

Pengambilan Darah dari Ventrikel Dextra

51

2. Flowcytometry

Sentrifuge

Hasil dari Staining Flowcytometry

Alat Flowcytometry