Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

CERVICAL POLYP
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh :
Vitis Finivera Syafitriningrum, S. Ked (20080310043)

Dokter Pembimbing : dr. HMA Ashari, Sp.OG (K)

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL 2012

HALAMAN PENGESAHAN
POLIP SERVIKS

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun Oleh: Vitis Finivera Syafitriningrum, S. Ked 20080310043

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal Desember 2012 Oleh : Dosen Pembimbing

dr. HMA Ashari, Sp. OG (K)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Alhamdulillahirabbilalamin, hanya itu kalimat pujian yang pantas penulis persembahkan kepada Allah SWT atas segala nikmat, petunjuk dan kemudahan yang telah diberikan kepada penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan pesentasi kasus ini yang diberi judul Cervical Polyp. Shalawat dan salam untuk junjungan alam Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Presentasi kasus ini selain disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir di bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi, dan juga untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang penatalaksanaan hiperemesis gravidarum. Penulis menyadari presentasi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik dan saran sangat penulis harapkan. Dalam kesempatan yang sangat baik ini perkenankanlah penulis mengucapkan penghargaan dan terima kasih yang tidak ternilai kepada: 1. Allah SWT, telah memberikan segala nikmat yang tidak terhingga sehingga mampu menyelesaikan Krya Tulis Ilmiah ini dengan baik. 2. dr. Ani Ashari, Sp. OG (K), selaku dokter pembimbing dalam menyelesaikan presentasi kasus ini. Terima kasih atas perhatian dan bimbingan yang sangat bermanfaat. 3. dr. Bambang Basuki, Sp. OG, terima kasih atas bimbingan selama ini. 4. Teman-teman Co-Assistensi seperjuangan di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Bantul, Desember 2012 Penulis

Vitis Finivera S., S.Ked

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Serviks merupakan bagian uterus yang berada di bagian bawah, berupa s a l u r a n y a n g m e n g h u b u n g k a n u t e r u s d e n g a n v a g i n a . P a d a d a e r a h i n i s e r i n g didapatkan pola pertumbuhan jaringan abnormal, baik jinak maupun ganas. Salah s a t u k a s u s y a n g d a p a t d i t e m u k a n adalah bentuk polip serviks. Polip serviks merupakan pertumbuhan massa polip atau tumor bertangkai, yang berasal dari p e r m u k a a n k a n a l s e r v i k s . P o l i p s e r v i k s t u m b u h d a r i kanal berbagai serviks ukuran d e n g a n pertumbuhan ke arah vagina. Terdapat dan biasanya berbentuk gelembung-gelembung

dengan tangkai yang kecil. Secara histopatologi, polipserviks sebagian besar bersifat jinak (bukan merupakan keganasan) dan dapat terjadi pada seseorang atau kelompok populasi. Polip serviks dapat tumbuh dari lapisan permukaan luar serviks d a n disebut sebagai polip ektoserviks. Polip ektoserviks sering diderita oleh wanitayang telah memasuki periode paskamenopause, meskipun dapat pula diderita oleh wanita usia produktif. Prevalensi kasus polip serviks berkisar antara 2 hingga 5% wanita. Pada wanita premenopause (di atas usia 20 tahun) dan telah memiliki setidaknya satu anak, pertumbuhan polip sering berasal dari bagian dalam serviks, atau disebut polip endoserviks. Meskipun pembagian polip serviks menjadi polip e k t o s e r v i k s dan endoserviks cukup praktis untuk menentukan lokasi lesi berdasarkan usia, namun hal itu bukan merupakan u k u r a n a b s o l u t u n t u k menetapkan letak polip secara pasti. Sejumlah prosedur lain tetap harus dilakukan sebelum tindakan bedah dan pengobatan dilakukan. Polip serviks memiliki ukuran kecil, yaitu antara 1 hingga 2 cm. Namun,ukuran polip dapat melebihi ukuran rata-rata dan disebut polip serviks

raksasa bilam e l e b i h i d i a m e t e r 4 c m . P o l i p s s e r v i k s b e r u k u r a n besar jarang ditemukan di populasi dan gambaran mengenai penyakit ini sedikit sekali dibahas dalam literatur-literatur ginekologi. Dalam laporan kasus international yang termuat di MEDLINE, hanya terdapat 8 kasus yang dilaporkan sepanjang periode 1966 2002, menggambarkan kecilnya angka kejadian tersebut di dunia.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi Serviks Secara anatomi makro, serviks memiliki ukuran diameter antara 2,5-3 cm d a n panjang 3-5cm.Posisi anatomi serviks normal adalah sedikit angulasi ke bawah-depan.Di bagian bawah,serviks berhubungan dengan vagina sebagai portio vaginalis dan bagian kanal s e r v i k s y a n g b e r h u b u n g a n d e n g a n v a g i n a disebut orificium uterina externus atau mulut rahim. Kanal serviks berukuran s e k i t a r 8 m m . Bagian antara endoserviks dan kavum uteri disebut itsmus dan merupakan bagian dari segmen bawah rahim. Sirkulasi limfatik serviks yang utama meliputi n o d u s p a r a m e t r i a l , obturator, iliaka internal, dan iliaka eksternal. Aliran limfe sekunder meliputi nodus presakral, iliaka komunis, dan nodus para-aortika. Innervasi serviks adalah plexus Frankenhauser, yang merupakan bagian terminal dari plexus presakral. Serabut saraf memasuki segmen bawah rahim dan bagian atas serviks membentuk pleksus semisirkuler. Vaskularisasi utama serviks berasal dari cabang desendens a r t e r i u t e r i n a dan cabang servikal arteri vaginalis. Aliran vena m e n g i k u t i pembuluh darah arteri. Secara anatomi mikroskopis, stroma servikal terdiri atas campuran serabut fibrous, muskular (15%) dan jaringan elastik. Epitel tersusun atas skuamosa di bagian ektoserviks dan kolumnar di bagian endoserviks. Di antara kedua area tersebut, terdapat bentuk peralihan antara epitel di ektoserviks dan endoserviks yang disebut squamocolumnar junction. Pada bagian distal area ini tersusun atas epitel metaplastik squamosa yang imatur. Trauma, iritasi kronis, dan infeksi berperan penting terjadinya perkembangan dan maturitas epitel serviks menjadi bentuk neoplastik.

A. Definisi Polip serviks adalah tumor jinak berupa adenoma maupun adenofibroma yang tumbuh menonjol dan bertangkai, tumbuh di permukaan mukosa serviks

ataupun pada saluran endoserviks dan biasanya menonjol keluar dari mulut serviks. B. Etiologi/ Patofisiologi Etiologi dari polip serviks belum diketahui pada beberapa kasus, namun ada beberapa teori yang menspekulasi etiologi polip serviks. Pertumbuhan polip merupakan implikasi dari degenerasi hiperplastik fokal di daerah serviks, yang merupakan reaksi sekunder dari inflamasi serviks lalu berikutnya akibat stimulasi hormonal seperti estrogen, kongesti pembuluh darah pada canalis cervicalis. Polip tersusun atas stroma jaringan ikat vaskuler dan dilapisi oleh kolumner, skuamosumkolumner atau epitel skuamosa. Kejadian polip sering dihubungkan dengan hiperplasia endometrial, yang menunjukkan adanya keterlibatan faktor estrogen yang berlebihan. Polip serviks dapat mengakibatkan perdarahan abnormal. Perdarahan dapat terjadi saat jeda antar menstruasi, setelah berhubungan seksual dan setelah menstruasi. C. Morfologi Polip Serviks Morfologi polip serviks biasanya lembut, berwarna kemerahan dan berbentuk seperti jari. Biasanya memiliki tangkai yang pendek, namun beberapa dapat memiliki dasar yang lebar. Namun sebagian lainnya dapat memiliki tangkai yang panjang hingga keluar dari canalis cervicalis. Epitel yang melapisinya biasanya merupakan epitel endoserviks yang pada beberapa kasus dapat pula mengalami metaplasia menjadi semakin kompleks. Bagian ujung polip dapat mengalami nekrosis serta mudah berdarah. Maka dari itu sebenarnya polip harus ditegakkan apakah polip tersebut suatu adenoma, sarcoma botriodes, adenokarsinoma serviks ataupun mioma melalui pemeriksaan histologic setelah dilakukan pengangkatan. Polip endoserviks biasanya berwarna merah, dengan ujung seperti nyala api, fragil, dan bervariasi dalam ukuran, dari beberapa mm hingga mencapai lebar 3 c m d a n p a n j a n g b e b e r a p a c m ( g a m b a r 1). Polip seringkali tumbuh d i endoserviks yang berbatasan dengan ektoserviks, berbasis lebat, dan mengandung jaringan ikat fibrosa.

Karena sering terjadi ekstravasasi darah ke jaringan, maka sering terjadi perdarahan pada kelainan ini. Infiltrasi sel-sel radang menyebabkan leukorea. Polip ektoserviks berwarna agak pucat atau merah d a g i n g , l u n a k , d a n tumbuh melingkar atau memanjang dari pedikel. Polip ini tumbuh di area porsio dan jarang sekali menimbulkan perdarahan sebagaimana polip endoserviks atau degenerasi polipoid maligna. Secara mikroskopis, jaringan polip ektoserviks lebih banyak mengandung serat fibrosa di banding polip endoserviks. Polip ektoserviks memiliki atau bahkan tidak mengandung kelenjar mukosa. B a g i a n l u a r p o l i p ektoserviks dilapisi oleh epitel stratifikatum skuamosa. Perubahan sel menjadi ganas dapat terjadi, terutama pada polip ektoserviks yang disertai inflamasi kronik, yang sering menyebabkan nekrosis di bagian ujung polip. Insidensi degenerasi maligna dari polip ektoserviks diperkirakan dilaporkan. Struktur polip memiliki vaskularisasi yang adekuat, sehingga bila terjadi t o r s i atau trauma (saat koitus) dapat terjadi perdarahan. Selain itu, dapat pula terjadi infeksi dan inflamasi y a n g c u k u p b e r p o t e n s i m e l u a s k e o r g a n - o r g a n sekitar. Karena setiap polip memiliki kemungkinan untuk berdegenerasi maligna, m a k a pemeriksaan sitologi perlu dilakukan setelah polip d i e k s i s i a t a u diekstirpasi. kurang dari 1%. Karsinoma sel skuamosa m e r u p a k a n y a n g t e r s e r i n g , m e s k i p u n adenokarsinoma juga pernah

D. Diagnosis Polip Serviks Diagnosis polip serviks dibuat dengan cara menginspeksi serviks menggunakan spekulum. Jika terdapat perdarahan harus dilakukan pemeriksaan untuk menyingkirkan kelainan, terutama keganasan serviks dan endometrium. Gejala dari polip serviks biasanya intermenstrual bleeding , postcoital bleeding, leukorea , hipermenorrhea dan tidak terasa nyeri. 1. Gejala dan Tanda Polip serviks sering kali tidak bergejala, namun perlu dipertimbangkan bila ternyata terdapat riwayat: - Leukorea - Perdarahan di luar siklus menstruasi - Perdarahan setelah koitus - Perdarahan setelah menopause - Perdarahan intermenstrual atau paska-koitus dengan h i p e r m e n o r e a m e r u p a k a n g e j a l a u m u m untuk polip serviks. - Pada kasus infertilitas wanita juga patut dilacak apakah t e r d a p a t adanya peradangan serviks atau polip. Polip serviks tampak sebagai massa kecil, merah, dan tampak seperti jari yang keluar melalui kanal serviks dan biasanya berukuran panjang 1-2 cm dandiameter 0,5-1 cm. Umumnya, polip ini teraba lunak bila dilakukan pemeriksaan menggunakan jari. 2. Pemeriksaan Radiologi Polip yang terletak jauh di endoserviks dapat d i e v a l u a s i m e l a l u i pemeriksaan histerosalfingografi atau sonohisterografi dengan infus salin. Biasanya, hasil pemeriksaan ini memberikan hasil yang bermakna dalam mengetahui adanya polip atau kelainan lainnya. 3. Pemeriksaan Laboratorium Sitologi vagina dapat menunjukkan adanya tanda infeksi dan sering kali d i t e m u k a n s e l - s e l a t i p i k . P e m e r i k s a a n d a r a h d a n u r i n t i d a k t e r l a l u b a n y a k membantu menegakkan diagnosis. 4. Pemeriksaan Khusus Polip yang terletak jauh di kanal endoserviks tidak dapat dinilai melalui in speculo biasa, tetapi dapat dilakukan pemeriksaan khusus menggunakan speculum endoserviks atau histeroskopi. Seringkali polip endoserviks ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan perdarahan abnormal. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menyingkirkan adanya massa atau polip yang tumbuh dari uterus.

E. Diagnosis Banding Massa polipoid yang tampak tumbuh dari serviks tidak selalu didiagnosis sebagai polip serviks. Adenokarsinoma endometrium atau sarkoma endometrial dapat tumbuh di bagian mulut rahim, dan sering kali kelainan ini menyebabkan perdarahan dan leukorea lebih sering. Pada dasarnya, polip serviks tidak sulit d i b e d a k a n dengan bentuk k e l a i n a n p o l i p o i d l a i n n y a s e c a r a i n s p e k s i . B e n t u k pertumbuhan ulseratif dan atipik merupakan ciri mioma submukosa pedenkel k e c i l atau polip endometrial yang tumbuh di bagian bawah uterus. B i a s a n y a kelainan ini menyebabkan dilatasi serviks, dan keluar melalui OUE menyerupai polip. Hasil konsepsi, misalnya desidua, dapat mendorong keluar serviks sehinggamenyerupai jaringan polipoid. Mioma geburt merupakan mioma pedunkulata submukosa yang memiliki tangkai. Bersumber dari rongga rahim dan dapat keluar sampai ke vagina melalui canalis cervicalis. Sedangkan polip serviks merupakan suatu adenoma ataupun adenofibroma yang berasal dari mukosa endoserviks. Tangkainya dapat panjang hingga keluar dari OUE. Epitel yang melapisi biasanya adalah epitel endo yang dapat juga mengalami metaplasia menjadi semakin kompleks. Bagian ujung polip dapat mengalami nekrosis sehingga membuatnya mudah berdarah. Hal inilah yang membedakannya dari Mioma Geburt dimana bagian yang mudah berdarah bukan merupakan ujung mioma tapi merupakan endometrium yang mengalami hyperplasia akibat pengaruh ovarium, selain itu juga terjadi atropi endometrium di atas mioma submukosa. Selain mioma geburt, Endometrial sarcoma, adenocarcinoma, condylomata, submukosa myoma, polypoid carcinoma juga termasuk diagnosis banding pada beberapa kasus.

F. Faktor Resiko : Kemungkinan terjadinya polip serviks akan meningkat ketika wanita tersebut menderita: 1. Diabetes Mellitus

2. Vaginitits berulang 3. Servisitis 4. Usia reproduksi terutama usia 40 tahun hingga 50 tahun 5. Wanita hamil G. Komplikasi Polip serviks dapat terinfeksi, biasanya oleh kelompok Staphylococcus, Streptococcus, dan jenis patogen lainnya. Infeksi serius biasanya terjadi setelah dilakukan instrumentasi medik untuk menegakkan diagnosis atau setelah membuang polip. Antibiotik spektrum luas perlu diberikan bila tanda awal infeksi telah tampak. Inisiasi atau eksaserbasi salfingitis akut dapat terjadi sebagai konsekuensi polipektomi. H. Penatalaksanaan - Dilakukan ekstirpasi pada tangkainya - Dilakukan curettage sehingga seluruhnya dapat dikeluarkan - Hasil pemeriksaan menentukan terapi lebih lanjut Sebagian besar polip serviks dapat dihilangkan di poliklinik atau tempat p r a k t i k . Hal ini karena sebagian besar polip cara atau s e r v i k s b e r u k u r a n k e c i l . T e k n i k pembuangan polip serviks yang berukuran kecil umumnya tidak sulit. Biasanya d e n g a n memfiksasi pedikel menggunakan hemostat

i n s t r u m e n t pemfiksasi lain kemudian memutar pedikel hingga lepas. Perdarahan yang terjadi biasanya sedikit. Polip serviks yang berukuran besar biasanya dilakukan eksisi di r u a n g o p e r a s i . P a d a t i n d a k a n i n i , pasien perlu di anestesi dan selama e k s i s i dilakukan, perdarahan harus dikontrol. Bila serviks lunak dan berdilatasi, sedangkan polip cukup besar, maka histeroskopi harus dilakukan, terlebih lagi bila pedikel sukar dilihat. Eksplorasi s e r v i k s menggunakan untuk dan kavum uteri histeroskop dilakukan

mengidentifikasi adanya polip lain di daerah itu. Seluruh

jaringan yang diambil p e r l u d i p e r i k s a s e c a r a h i s t o P A u n t u k

m e n i l a i s e c a r a s p e s i f i k a p a k a h m a s s a polipoid berdegenerasi jinak, pre-maligna, atau malignansi. Bila dari hasil pemeriksaan sekret serviks ditemukan profil sel-sel infektif, a t a u s e c a r a k l i n i s d a n l a b o r a t o r i s m e n g a r a h k e p a d a i n f e k s i , m a k a p e m b e r i a n antibiotik dianjurkan untuk kasus ini. Sebelumnya pasien dipuasakan 8 jam, lalu dipasangi infus glukosa. Pasien diposisikan litotomi, lalu dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentkan besar dan letak uterus serta ada tidaknya kelainan pada uterus dan organ adneksa. Pasien diberikan drip oksitosin 10 IU untuk kontraksi dinding uterus dan mencegah kemungkinan perforasi uterus. Setelah itu pasang speculum sims posterior dan anterior. Pasang tenaculum pada serviks jam 11 dan jam 1, lalu lepas speculum anterior, sedangkan speculum posterior dipegang oleh asisten. Kemudian anastesi lidocain diinjeksikan pada fornix dextra dan sinistra sebanyak 2 ml (40 mg) yang diencerkan dalam 2 ml NaCl. Dilakukan pemuntiran polip dengan menggunakan klem ovarii. Selanjutnya sondase dilakukan untuk mengetahui seberapa panjangnya cavum uteri dan arahnya anteflexi ataukah dorsoflexi. Lalu dilakukan dilatasi canalis cervicalis dengan busi hegar dari nomor yang terkecil namun tidak boleh lebih dari busi nomor 12 pada multipara. Lalu kuretasi dilakukan boleh dengan kuret tajam maupun tumpul, searah dengan jarum jam. Setelah kuretase pasien diberikan terapi berbagai macam obat untuk profilaksis dan pencegahan perdarahan dan berupa suplemen zat besi. Yaitu yang pertama amoxicillin diberikan sebagai profilaksis. Lalu asam mefenamat diberikan sebagai analgesic. Sulfas ferrous diberikan sebagai suplemen zat besi dan dikombinasikan dengan pemberian vitamin C untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Yang terakhir metergin diberikan agar kontraksi uterus tetap terjaga dan mencegah perdarahan. I. Prognosis Pengangkatan polip merupakan tindakan yang cukup kuratif, biasanya keluhan sudah dapat teratasi sepenuhnya, namun tetap harus diwaspadai jika sebelumnya polip sudah terinfeksi terlebih dahulu karena bisa menjadi salpingitis.

BAB II PRESENTASI KASUS

A. IDENTITAS PASIEN No RM Nama Umur Alamat Agama Pekerjaan Paritas Tgl masuk RS B. ANAMNESA Keluhan Utama : Massa 0,5x0,5x1 yang keluar dari canalis cervicalis. Keluhan Tambahan : Perut bawah terasa tidak nyaman. Riwayat Penyakit Sekarang : Seorang pasien P2A0 usia 43 tahun datang melalui poli obsgyn RSUD Bantul dengan membawa surat rujukan dari puskesmas dengan keterangan polip serviks. Adanya polip diketahui setelah pasien melakukan pemeriksaan IVA pada tanggal 18 Desember 2012 untuk pertama kalinya. Riwayat perdarahan abnormal, perdarahan di luar siklus menstruasi, perdarahan pasca berhubungan sexual, keputihan, serta nyeri pada bagian perut bawah dan alat genital disangkal. Pasien dan suami tidak pernah menderita penyakit kelamin dan tidak pernah berhubungan intim dengan orang lain. Pasien tidak pernah merasa sakit setelah hubungan seksual dan tidak ada gangguan pada BAK dan BAB. Riwayat Obstetri: I II Riwayat Ginekologi 13th, 3400, spontan, aterm 8th, 3200, spontan, aterm : 487835 : Ny. SN : 43 tahun : Panjang RT4 Panjangrejo, Pundong, Bantul : Islam : Karyawan Swasta : P2A0 : 22 Desember 2012

Riwayat keguguran : (-) Riwayat pernikahan : Riwayat menstruasi : Menikah 1x dengan suami sekarang saat umur 25th Cenderung teratur namun pernah beberapa kali tidak teratur Riwayat Akseptor KB : Suntik KB sejak 8 tahun yang lalu, 1 tahun terakhir berhenti. Riwayat pemeriksaan USG : (-) Riwayat Operasi (SC, curetage, dll) : (-) Riwayat Penyakit Dahulu :. - Riwayat alergi / Asma - Riwayat gangguan mentruasi disangkal., - Riwayat keputihan - Riwayat penyakit menular seksual :disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal :

Riwayat perdarahan selama kehamilan

- Riwayat Penyakit paru-paru, Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), DM

Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat Penyakit paru-paru Riwayat Penyakit Jantung Riwayat Penyakit gula (DM) Riwayat Asma : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi) : disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Generalis Keadaan umum : Vital sign : baik, sadar, tak anemis T = 120/80 N = 80 x/mnt TB = 152 Cm S = 36,3 0C R = 16 x/mnt BB = 40kg

Kepala Mata

: :

Mesochepal, rambut hitam, panjang, tidak mudah dicabut. Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem palpebra (-/-).

Hidung Telinga Mulut Leher

dbn

:dbn : : dbn JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran

kelenjar . Thoraks Jantung : I : Ictus cordis tidak tampak Pa : Ictus cordis kuat angkat Pe : redup (+) A : S1 > S2 murni, tidak ada bising Pulmo : I : simetris tidak ada ketinggalan gerak, retraksi dada tidak ada Pa : vokal fremitus ka = ki Pe : Sonor seluruh lapang paru A : Suara Dasar : vesikuler +/+ Suara Tambahan : ronkhi (-), wheezing (-) Extremitas : Nadi teraba kuat, simetris, oedem - / -, dan varises - / -, turgor kulit normal, capillary refill<2. 2. Status Gynekologi Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Inspekulo : Perut simetris, tidak tampak luka bekas operasi, tak tampak stria. : Abdomen supel, nyeri tekan (-), massa tumor (-).Fundus Uteri tak teraba, Nyeri tekan epigastrika (+) : timpani : peristaltic (+) : Terlihat massa keluar dari OUE sebagai pertumbuhan yang tumpul,pucat, dan rapuh (mudah berdarah).

Periksa Dalam : V/U tenang, dinding vagina licin, portio mencucu teraba massa 0,5x0,5x1 cm bisa digerakkan dan tidak nyeri.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium Hematologi : Gol. Darah Hb AL AT HMT PPT APTT HbsAg :B : 12.6 g% (normal) : 8.4 ribu/mm3 (normal) : 278 ribu/ul (normal) : 37.4% (normal) : 12.6 detik (normal) : 31.5 detik (normal) : (-)

.F DIAGNOSIS
Polip serviks pada P2A0

G. PENATALAKSANAAN
Dilatasi & kuretase dan pemuntiran

H. FOLLOW UP
22 Desember 2012 Ax: Perut bawah terasa tidak nyaman Px: KU TD N S RR : baik, composmetis : 140/100 mmHg : 82x/menit : 36 C : 20x/menit

Diagnosis: Polip Serviks pada P2A0 Terapi: Rencana ekstirpasi dan kuretase iringan

23 Desember 2012 Jam 10.00 Dilakukan ekstirpasi dan kuretase iringan Laporan kuretase: Pasien litotomi, dilakukan toilet vulva vagina dengan iodine, pasang duk steril. Spekulum sims posterior anterior dipasang, servik ditampilkan. Tenaculum dipasang pada servik bagian anterior (pukul 11 dan 01), speculum sims anterior dilepas. Dilakukan injeksi lidokain 2% 4cc (diencerkan 1:1) pada para servikal. Dilakukan sondase uterus antefleksi 7 cm. Dilakukan pemuntiran polip dan kuretase iringan / sisa polip dengan sendok kuretase tajam no.2 sampai kesan bersih. Keluar jaringan 1 cc dan darah 1 cc. Tenakulum dilepas, control perdarahan, speculum sims posterior dilepas. Pemuntiran dan kuretase polip selesai.

24 Desember 2012 Ax: perut bawah terasa mulas dan tidak nyaman. Keluar sedikit flek dari jalan lahir Px: KU: Baik, composmentis, konjuntiva tidak anemis VS: TD: 110/70 mmHg N: 24x/menit RR: 84x/menit S: 36,1C Dx: post ekstirpasi dan kuretase iringan atas indikasi polip serviks Tx: Amoxycillin 3x500 mg Asam mefenamat 3x500 mg Sulfas Ferosus 2x1 tab Vit.C 2x1 tab Vit. B complex 2x1 tab

BAB III PEMBAHASAN


Diagnosis polip pada kasus ini diketahui ketika pasien melakukan pemeriksaan IVA secara mandiri di puskesmas pada tanggal 18 desember 2012. Pada pemeriksaan ditemukan adanya massa yang keluar dari canalis servicalis. Dengan kata lain sebenarnya meskipun pasien memiliki polip serviks namun belum ada gangguan yang timbul. Karena dari anamnesis didapatkan riwayat perdarahan abnormal, perdarahan di luar siklus menstruasi, perdarahan pasca berhubungan sexual, keputihan, serta nyeri pada bagian perut bawah dan alat genital disangkal. Pasien dan suami tidak pernah menderita penyakit kelamin dan tidak pernah berhubungan intim dengan orang lain dan pasien tidak pernah merasa sakit setelah hubungan seksual. Pertumbuhan polip merupakan implikasi dari degenerasi hiperplastik fokal di daerah serviks, yang merupakan reaksi sekunder dari inflamasi serviks lalu berikutnya akibat stimulasi hormonal seperti estrogen, serta kongesti pembuluh darah pada canalis cervicalis. Timbulnya polip belum dapat dijelaskan secara pasti, namun jika menghubungkan dengan teori yang dibahas pada bab sebelumnya, kemungkinan timbulnya polip ada hubungannya dengan riwayat pemakaian kontrasepsi, karena fungsi alat kontrasepsi tersebut memang untuk mengganggu konsepsi, dan tidak menutup kemungkinan terjadi inflamasi walaupun dalam derajat yang kecil. Namun hal tersebut bukan suatu kepastian karena penyebab polip itu sendiri masih belum dapat dipastikan dan pasien memiliki faktor resiko lainnya seperti usia. Prognosis polip sendiri cenderung baik setelah dilakukan pengangkatan dengan metode pemuntiran yang dilanjutkan dengan kuretase. Seharusnya setelah dilakukan pengangkatan jaringan yang diangkat diperiksa secara histologi karena meskipun kecil tetap ada kemungkinan polip merupakan keganasan sekitar 1%. Setelah kuretase pasien diberikan terapi berbagai macam obat untuk profilaksis dan pencegahan perdarahan dan berupa suplemen zat besi. Yaitu yang pertama amoxicillin diberikan sebagai profilaksis. Lalu asam mefenamat diberikan sebagai analgesic. Sulfas ferrous diberikan sebagai suplemen zat besi dan dikombinasikan dengan pemberian vitamin C untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

BAB IV KESIMPULAN
1. Diagnosis pada pasien ini adalah polip serviks. 2. Polip serviks sering timbul tanpa gejala klinis seperti perdarahan di luar siklus menstruasi, perdarahan pasca berhubungan sexual, keputihan, serta nyeri pada bagian perut bawah dan alat genital, Sehingga penegakan diagnosis didapatkan dengan melakukan inspekulo. 3. Pada inspekulo sering didapatkan: terlihat massa keluar dari OUE sebagai pertumbuhan yang tumpul,pucat, dan rapuh (mudah berdarah). 4. Penanganan pada polip serviks adalah dilakukan ekstirpasi atau pemuntiran polip dan diikuti kuretase iringan untuk membersihkan sisa-sisa polip dari serviks. 5. Setelah dilakukan pengangkatan jaringan yang diangkat diperiksa secara histologi karena meskipun kecil tetap ada kemungkinan polip merupakan keganasan sekitar 1%.

6. DAFTAR PUSTAKA Achadiat, C M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. EGC. Jakarta Bucella D, Frdric B, Nol JC. Giant cervical polyp: a case report andreview of a rare entity. Arch Gynecol Obstet 2008;278(3):295-8 Cunningham., et al. 2005. Obstetri Williams.Ed 21. Alih bahasa, Hartono A, et al. EGC. Jakarta. Merck Manual Professional. Benign Gynecologic Lession: Cervical Polyp.Gynecology and Obstersics, 2008. Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi, Ed 2. EGC. Jakarta. NHS Foundation Trust. Cervical Polyp. Doncaster and Bassetlaw Hospital Gynecology 2002. Sipahutar, A. 2005. Hiperemesis Gravidarum (http://zerich150105.wordpress.com/) diakses tgl 4/7/11. Wiknjosastro, H., et al. 2007. Ilmu Kebidanan, Ed ketiga. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. Dirk C, Yves vB, Guido V, Xavier dM, Edgar dM, Rudi C. Hysteroscopicfinding in patients with a cervical polyp. Am J Obstet Gynecol 1993;169(6):1563-5