Anda di halaman 1dari 72

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN INVERTER SATU FASA UNTUK FLOW CONTROL BERBASIS PI FUZZY PADA POMPA AIR (Subjudul : Hardware)

Nanang Malpiyan NRP.7309.030.010

Dosen Pembimbing : Ir. Yahya Chusna Arief, MT NIP. 19600906.198903.1.002 Suhariningsih, S.ST,MT NIP. 19640404.198903.2.002

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2012

i1
1

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN INVERTER SATU FASA UNTUK FLOW CONTROL BERBASIS PI FUZZY PADA POMPA AIR (Subjudul : Hardware)

Nanang Malpiyan NRP. 7309.030.010

Dosen Pembimbing : Ir. Yahya Chusna Arief, MT NIP. 19600906.198903.1.002 Suhariningsih, S.ST, MT NIP. 19640404.198903.2.002

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2012 ii

Rancang Bangun Inverter Satu Fasa Untuk Flow Control Berbasis PI Fuzzy Pada Pompa Air (Hardware)
Oleh: Nanang Malpiyan NRP.7309.030.010 Proyek Akhir ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Ahli Madya Di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Disetujui oleh : Tim Penguji Proyek Akhir Dosen Pembimbing

1. Arman Jaya, ST, MT. NIP. 196602081989031002

1.

Ir. Yahya Chusna Arif ,MT. NIP. 196009061989031002

2.

Ir. Hendik Eko Hadi S, MT NIP. 196211221987011001

2. Suhariningsih ,SST,MT. NIP. 196404041989032002

3. \

Ir. Sutedjo, MT NIP. 196101071990031001

Mengetahui Ketua Prodi D3 Teknik Elektro Industri

Novie Ayub Windarko, ST, MT, Phd NIP. 197511142000031001

ii

Abstrak Pada saat ini di dalam kehidupan sehari-hari pasti tidak akan pernah lepas dari suatu komponen utama berupa air. Dimana air tersebut perlu didistribusikan untuk kehidupan sehari-hari. Salah satu cara yang digunakan untuk proses pendistribusian yaitu dengan memanfaatkan pompa air. Pemanfaatan pompa air untuk pendistribusian pada saat sekarang ini masih belum efisien, walaupun keluaran (tekanan ataupun debit air) dari pompa air itu berubah-ubah tetapi pompa air membutuhkan energy yang konstan. Apabila kerja pompa air tersebut dapat diatur menggunakan suatu kontroler yang sesuai, yaitu suatu pengendali yang dapat menyesuaikan antara tekanan dan debit (flow) air pada keluaran pompa air dengan mengatur putaran motor penggeraknya dengan cara menjaga tekanan air agar tetap konstan sebesar 5 Kg/cm3 maka penggunaan energi listrik akan dapat direduksi serta kerugian daya listrik akan semakin kecil. Dari pemikiran tersebut maka dibuatlah modul flow control dari keluaran pompa air dengan cara mengatur kecepatan putaran motor penggerak pompa air menggunakan inverter sebagai drive yang dikendalikan oleh kontroler logika PI Fuzzy.Tegangan masukan inverter sebesar 220 Volt dc, sedangkan keluaran inverter senilai 220 Volt ac, switching inverter yang digunakan yaitu gelombang PWM yang berasal dari microcontroller dengan range frekuensi antara 35 Hz sampai 50 Hz. Hasil keluaran dari sistem ini berupa debit air yang nantinya akan disensing untuk pengontrolan, jika debit air yang terukur sebesar 19,68 L/min maka tegangan keluaran inverter sebesar 219 V, dengan kecepatan putar 2914 rpm., jika nilai debit air yang terukur turun sebesar 5.24 L/min maka keluaran inverter sebesar 180 V, dengan kecepatan putar motor 2845 rpm. Kata kunci : PI fuzzy, Inverter, Motor induksi, Waterflow sensor

ii

Abstrack

Now, in the life every days certain will not ever to free from some eminent like to water . so the water it must to distribution in every days. One of method that use to distribution water process with benefit to water pump. Benefit of water pump to distribution when now, is not yet efficient although output ( pressure or water debit ) from water pump it have some kinds but water pump was needed constant energy. If water pump process it can arrange to some appropriate controller that is some controller which can appropriated between pressure and water flow in water pump exit with to arrange movement circle motor, with method keep water pressure so constant permanent, than used electric energy can be reducted and than disadvantage electric power will be can to small. From the opinion it, so it made module flow control from output water pump with arrange method swiftness circle motor activator by water pump use to inverter as drive that controlled by logic PI Fuzzy controller. Inverter input voltage of 220 volts dc with a voltage of 220 V ac output value, which is used the inverter switching PWM wave from microcontroller with a range of frequencies between 35 Hz and 50 Hz. The output of this system in the form of discharge of water that can be controlled by a variable value that if the inverter output voltage is 220 volts worth of the flow of water worth 19.68 liters/minute, 2914 rpm motor rotation, the flow of water will change if the inverter output voltage change is when the the output voltage drops to 180 volts then the water level dropped to 5.24 liters/minute and the water pump motor speed to 2845 rpm. Key word : PI Fuzzy, Induction motor, Waterflow Sensor, Inverter.

ii

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan proyek akhir yang berjudul : Rancang Bangun Inverter Satu Fasa untuk Flow Control Berbasis PI Fuzzy Pada Pompa Air

Pembuatan dan penyusunan proyek akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Diploma 3 (D3) dan memperoleh gelar Ahli Madya (Amd) di jurusan Elektro Industri Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Penulis berusaha secara optimal dengan segala pengetahuan dan informasi yang didapatkan dalam menyusun laporan proyek akhir ini. Namun, penulis menyadari berbagai keterbatasannya, karena itu penulis memohon maaf atas keterbatasan materi laporan proyek akhir ini. Penulis sangat mengharapkan masukan berupa saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan laporan proyek akhir ini. Demikian besar harapan penulis agar laporan proyek akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Surabaya, Juli 2012

Penulis

iv

UCAPAN TERIMA KASIH


Dengan penuh rasa syukur kehadirat Allah S.W.T dan tanpa menghilangkan rasa hormat yang mendalam, saya selaku penyusun dan penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis untuk menyelesaikan proyek akhir ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 2. 3. 4. 5. Untuk kedua orang tua dan keluarga tercinta yang selalu memberi dukungan dan mendoakan. Bapak Dr. Ir. Dadet Pramadihanto, M.Eng selaku direktur PENS-ITS. Bapak Novie Ayub Windarko, ST, MT, Ph.D selaku ketua jurusan Teknik Elektro Industri PENS-ITS. Bapak Ir. Yahya Chusna Arif, MT dan Ibu Suhariningsih S.ST selaku dosen pembimbing proyek akhir dari penulis. Seluruh Bapak dan Ibu dosen yang telah membimbing dan membekali ilmu kepada penulis selama menempuh pendidikan di kampus tercinta, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya-ITS (PENS-ITS). Teman-teman D3 Elin 2009 yang telah membantu dan memberikan dukungan langsung maupun tidak langsung atas terselesainya proyek akhir ini. Semua pihak yang telah membantu penulis hingga terselesainya proyek akhir ini yang tidak dapat penulis sebutkan semua.

6.

7.

Semoga Allah S.W.T selalu memberikan perlindungan, rahmat dan nikmat-Nya bagi kita semua. Amin!

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN ........................................................... i ABSTRAK ................................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................. iii UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................ iv DAFTAR ISI ................................................................................ v DAFTAR GAMBAR ................................................................... ix DAFTAR TABEL ....................................................................... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................... 1 1.2 Tujuan Proyek Akhir ...................................................... 2 1.3 PerumusanMasalah ........................................................ 2 1.4 Batasan Masalah ............................................................ 3 1.5 Metodologi .................................................................... 3 1.5.1 StudiLiteratur ........................................................ 3 1.5.2 Perancangan Sistem............................................... 4 1.5.3 Pembuatan Sistem ................................................. 4 1.5.4 Pengujian Alat yang Dibuat .................................. 5 1.5.5 Integrasi Sistem ..................................................... 5 1.5.6 Analisa Terhadap Kinerja Alat .............................. 6

viii

1.5.6 Analisa Terhadap Kinerja Alat .............................. 5 1.5.7 Pembuatan Buku dan Laporan Tugas akhir ............ 5 1.6 Sistematika Pembahasan ................................................ 5 1.7 Tinjauan Pustaka ............................................................ 7 BAB II TEORI PENUNJANG 2.1 Rectifier (Penyearah) ..................................................... 9 2.2 Opto Coupler ............................................................... 12 2.3 Single Phase Full Bridge Inverter ................................. 15 2.4 PWM (Pulsa Witdh Modulation) .................................. 16 2.5 Microcontroller ............................................................ 18 2.6 Motor Pompa Air ......................................................... 27 2.7 Water Flow Sensor ....................................................... 28

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT 3.1 Pendahuluan................................................................. 31 3.2 Perencanaan dan Pembuatan Rangkaian 1 fasa ............. 32 3.3 Perencanaan dan Pembuatan Rangkaian Inverter .......... 34 3.4 Perencanaan dan Pembuatan Water Flow Sensor .......... 37 3.5 Perencanaan dan Pembuatan Gelombang PWM dengan Microcontroller .................................................................. 38

ix

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT 4.1 Pengujian Rangkaian Rectifier .................................... 41 4.2 Pengujian Rangkaian Optocoupler ............................... 44 4.3 Metode Penyulutan Pada Single Phase Full Bridge inverter .......................................................................................... 45 4.4 Pengujian Rangkaian Inverter ...................................... 47 4.5 Pengujian Motor Pompa Air ......................................... 51 4.6 Pengujian Sensor Tekanan ........................................... 51 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan .................................................................. 55 5.2 Saran............................................................................ 55 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.5.2 Blok Diagram Sistem ..................................... 4 Gambar 2.1.1 rangkaian rectifier saat siklus positif ............. 9 Gambar 2.1.2. angkaian rectifier saat siklus negative ........ 10 Gambar 2.1.3. Grafik sinyal ............................................... 10 Gambar 2.1.4 Rangkaian rectifier menggunakan 2 dioada siklus positif ...................................................................... 11 Gambar 2.1.5. Rangkaian rectifier menggunakan 2 dioda siklus negative ................................................................... 11 Gambar 2.1.6. Grafik sinyal ............................................... 12 Gambar 2.2.1 Dasar rangkaian optocoupler ........................ 15 Gambar 2.3.1. Rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter dengan Penyulut PWM ...................................................... 16 Gambar 2.4.1 Konfigurasi PIN Atmega 16 ......................... 19 Gambar 2.4.2 Peta memori Flash ....................................... 21 Gambar 2.4.5 Code Vision AVR 1.24.0 ............................. 23 Gambar 2.4.6 Dialog box untuk membuat project baru....... 23 Gambar 2.4.7 Blok Penginisialisasian Program ................. 24 Gambar 2.4.8 Bagian Penulisan Program .......................... 25 Gambar 2.5.1 Interface ATMega 16 dengan LCD 20 x4 .... 26 Gambar 2.5.2 Blok Penginisialisasian LCD....................... 26 Gambar 2.6.1 Pompa Air ................................................... 27

xi

Gambar 2.7.1 Waterflow Sensor ........................................ 28 Gambar 3.1.1 gambar block diagram system ...................... 31 Gambar 3.2.1 Gambar penyearah gelombang penuh ........... 33 Gambar 3.2.2 gambar penyearah gelombang penuh ........... 33 Gambar 3.2.3 gambar gelombang rangakaian penyearah gelombang penuh ............................................................... 34
Gambar 3.2.1 Rangkaian Driver Inverte ................................... 35

Gambar 3.3.1 Rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter dengan Penyulut PWM ...................................................... 36 Gambar 3.3.2 Gelombang output inverter...37 Gambar 3.3.3 Gelombang output inverter integrasi..37 Gambar 3.5.1 Gelombang PWM dengan frekwensi 50 Hz.. 39 Gambar 4.1 gambar block diagram system ......................... 41 Gambar 4.1.1 Rangkaian penyearah .................................. 42 Gambar 4.1.2 hasil pembacaan avometer pada sisi input .... 42 Gambar 4.1.2 hasil pembacaan avometre pada sisi output .. 43 Gambar 4.2.1 Rangkaian Optocoupler................................ 44 Gambar 4.2.2 gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 50 Hz ........................................................ 45 Gambar 4.2.2 gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 40 Hz ........................................................ 45 Gambar 4.2.2 gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 30 Hz ........................................................ 44

xii

Gambar 4.3.1 Rangkaian Full bridge inverter 1 phasa ........ 45 Gambar 4.4.1 rangkaian inverter dengan IGBT .................. 46 Gambar 4.4.2 gambar pengujian inverter dengan beban lampu pijar ................................................................................... 46 Gambar 4.4.3 Gambar percobaan rangkaian inverter dengan beban lampu TL ................................................................. 47 Gambar 4.5.1 motor pompa air........................................... 49 Gambar 4.6.2 Manometer .................................................. 50

xiii

DAFTAR TABEL
Table 4.1.1 data gasil percobaan rangkaian rectifier ........... 43 Tabel 4.3.1 Kondisi Penyulutan Untuk Rangkaian gambar . 47 Table 4.4.1 data hasil pengujian inverter dengan beban lampu pijar ................................................................................... 49 Tabel 4.4.2 data hasil pengujian inverter dengan beban motor pompa air ........................................................................... 50 Table 4.5.1 data hasil percobaan motor pompa air .............. 51 Table 4.6.1 data hasil pembacaan Waterflow Sensor .......... 52 Table 4.6.2 data hasil integrasi53

xiv

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari pasti tidak akan pernah lepas dari suatu komponen utama berupa air. Salah satu cara yang digunakan untuk proses pendistribusian air yaitu dengan memanfaatkan pompa air. Sistem pendistribusian air pada era sekarang ini masih kurang baik, dimana dilihat dari sisi keluaran dari pompa air sendiri sangat tidak efisien, walaupun debit air yang dikeluarkan itu besar ataupun kecil tetapi energi yang digunakan motor pompa air konstan, selain itu besar tekanan keluaran dari pompa air walupun berbeda-beda (besar atau kecil) tetapi energi yang digunakan oleh pompa air tetap konstan, tidak ada perbedaan energy ketika tekanan bernilai kecil ataupun besar. Apabila dilihat dari sistim pendistribusian PDAM, biasanya konsumen sangat membutuhkan air pada pagi hari, tetapi pada malam hari sedikit konsumen yang membutuhkan air. Dari hal inilah apabila keluaran tekanan besar tetapi debit air yang dikeluarkan kecil dengan energy yang konsatan dapat mengakibatkan pecahnya pipa saluran itu sendiri. Apabila kerja pompa air tersebut dapat disesuaikan antara tekanan ataupun besarnya debit air tetapi energy yang dibutuhkan oleh pompa air sesuai dengan kebutuhannya maka efisiensi dapat meningkat. Dari pemikiran tersebut maka dibuatlah pengaturan tekanan air dari keluaran pompa air dengan cara mengatur kecepatan putaran motor penggerak pompa air dengan menggunakan inverter sebagai drive motor, dengan menggunakan inverter tegangan dapat diatur berdasarkan frekwensi yang diberikan, frekwensi inilah yang nantinya akan dikendalikan oleh kontroler PI Fuzzy, dengan menggunakan controller PI Fuzzy, akan menghasilkan pengontrolan 1

dengan respon cepat dan akurat dalam setiap perubahannya, pada umumya yang biasa digunakan untuk mengatur keluaran debit ataupun tekanan air dengan mengatur buka tutup valve pada pompa air. Tujuan dari pemanfaatan modul ini sendiri yaitu untuk memaksimalkan efisiensi pada pompa air, sehingga diharapkan akan menghasilkan efisiensi yang tinggi, sehingga motor pompa air tersebut dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan. 1.2. Tujuan

Tujuan utama dari pembuatan modul ini adalah untuk memaksimalkan efisiensi daya pada pompa air, sehingga dapat meminimalisasi pemakaian daya listrik. Pada proyek akhir ini, inverter 1 fasa akan digunakan sebagai drive pada motor pompa air, untuk mengatur kecepatan motor pompa air dengan memanfaatkan sensor tekanan. Hasil yang diharapkan adalah motor pompa air dapat menghasilkan daya keluaran yang maksimal, efisiensi yang tinggi, serta kecepatan motor yang dapat diatur secara variabel. 1.3. Perumusan Masalah

Dari uraian singkat diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Bagaimana pembacaan dari sensor tekanan yang menyensing tekanan air pada pompa yang akan dimasukkan pada ADC internal mikrokontroller sebagai umpan balik bagi kontroller 2. Bagaimana cara pengaturan putaran motor pompa air untuk mengatur kecepatan atau tekanan air sehingga tekanan air selalu konstan atau tidak berubah. 3. Bagaimana cara membangkitkan gelombal kotak atau PWM ( Pulsa Widh Modulation ) untuk mentriger IGBT atau MOSFET pada Inverter.

1.4. 1. 2. 3. 4.

Batasan Masalah Batasan masalah dari pengerjaan proyek akhir ini adalah: Sumber yang digunakan berasal dari sumber PLN 1 phasa dengan tegangan sebesar 220 Volt. Menggunakan kontrol logika PIfuzzy sebagai metode pengontrolan sistem. Setting point yang digunakan adalah tetap dan ditentukan di dalam program. Parameter masukan kontroler yang digunakan adalah hasil pembacaan dari level transmitter yang terbaca melalui sensor tekanan, bukan diambil dariparameter kecepatan motor. Output yang dikeluarkan dari pompa air hanya 2 buah. Metode penyulutan dengan menggunakan inverter PWM.

5. 6.

1.5.

Metodologi Dalam pengerjaan Proyek Akhir ini diperlukan suatu metode untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk itu, penulis merencanakan suatu langkah-langkah yang dapat memaksimalkan dalam pelaksanaan pengerjaan Tugas Akhir ini. Rancangan metodologi Tugas Akhir yang akan dibuat adalah sebagai berikut : 1.5.1 Studi Literatur Pengambilan dan pengumpulan data data serta dasar teori yang digunakan sebagai acuan dalam penyelesaian Proyek Akhir. Dalam proses perancangan sistem, studi literatur digunakan untuk mendapatkan performa parameter dari kontroller proporsional, kontroller integral, fuzzy logic controller, serta microcontroller yang akan digunakan yaitu AT mega 16. Perancangan dan pengujian. Literatur

didapatkan dari buku buku, makalah-makalah, dan beberapa forum diskusi di internet. 1.5.2 Perancangan Sistem Setelah mempelajari dan memahami literatur yang tersedia, maka bisa dimulai dengan membuat perancangan sistem dibawah ini :
AC SOURCE

UNCONTROLLED RECTIFIER

WATER RESERVOIR SOURCE

OUTPUT TEKANAN
SINGLE PHASE INVERTER MOTOR POMPA AIR

SENSOR TEKANAN

Sensor Flow

LCD 16 X 2 FUZZY LOGIC CONTROLLER

PWM

MICRO CONTROLLER

ADC

Gambar 7.2.1 Blok Diagram Sistem

1.5.3 Pembuatan Sistem Pada tahap ini dilakukan analisa terhadap rangkain rectifier, inverter, microkontroller, pressure transmiter selanjutnya akan dimulai pembuatan hardware system pada akhirnya juga akan di uji

1.5.4 Pengujian Alat yang dibuat Ketika peralatan yang dibuat telah selesai, dibutuhkan adanya suatu pengujian untuk mengetahui kekurangan dari sistem yang dibuat apakah sistem telah mencapai kesempurnaan ataupun tidak sempurna. 1.5.5 Integrasi Sistem Setelah pengujian dilakukan pada masing-masing blok, dan hasil kerja sistem sesuai dengan hasil yang diharapkan maka kemudian dilakukan penggabungan (integrasi) untuk membentuk sistem yang lebih kompleks sesuai dengan tujuan dari pembuatan proyek akhir ini. 1.5.6 Analisa Terhadap Kinerja Alat Pada tahap ini membahas analisa pada setiap percobaan perangkat keras. Setelah mengintegrasikan seluruh sistem dan pengujian, kemudian berdasarkan data hasil pengujian, dilakukan analisa terhadap kinerja keseluruhan sistem. 1.5.7 Pembuatan Buku dan Laporan Tugas Akhir Pembuatan buku laporan dilakukan untuk menyusun sistematika dan proses pembuatan sistem yang dibuat mulai dari awal sampai akhir. Buku laporan ini berisi laporan mengenai semua yang dilakukan pada proyek akhir ini dan tentang teori-teori yang mendukung dalam pembuatan sistem. 1.6 Sistematika Pembahasan Buku laporan proyek akhir ini tersusun atas beberapa bab pembahasan. Sistematika pembahasan tersebut adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan, menguraikan secara singkat latar belakang, tujuan, perumusan masalah, batasan masalah, metodologi, sistematika pembahasan dan tinjauan pustaka. BAB II Teori Penunjang, yang berisi pembahasan secara garis besar tentang rectifier, rangkaian full bridge inverter 1 phasa dan sistem PWM. BAB III Perencanaan dan implementasi, memuat cara kerja dalam proses kerja sistem, blok tipe sistem serta integrasi keseluruhan sistem. BAB IV Pengujian dan Analisa, memuat hasil pengujian dan analisa terhadap hasil yang didapat, memberikan analisa hasil percobaan, kegagalan serta penyebabnya. BAB V Penutup, berisi kesimpulan yang diambil berdasarkan analisa hal-hal penting, keunikan, kelebihan/kekurangan, serta saran-saran untuk penyempurnaan dari proyek akhir yang dibuat. DAFTAR PUSTAKA Pada bab daftar pustaka ini berisi referensi yang digunakan dalam proses pembuatan proyek akhir ini.

1.7

Tinjauan Pustaka Pada pengerjaan Proyek Akhir ini penulis menggunakan beberapa literatur sebagai acuan. 1. Jun Yuan, Michael Ryan, James Power, Using Fuzzy Logic, London : Prentice Hall international.1994. 2. Imam Abadi, Aulia Siti Aisjah, Riftyanto N.S., Aplikasi Metode Neuro-Fuzzy Pada Sistem Pengendalian Antisurge Kompresor. Jurnal Teknik Elektro Vol. 6, No. 2, September 2006 3. Ismail, Baharuddin Bin. 2008. Design and Development Of Unipolar SPWM Switching Pulses For Single Phase Full Bridge Inverter Application. Thesis Master of Science University Sains Malaysia. 4. Heres Deny Wasito, Pengaturan Tekanan Pompa Air PDAM Untuk menjaga Kestabilan Pelayanan Konsumen Dan Pengaruh Pada Manajemen Energi Listrik, Proyek Akhir PENS-ITS.2002. 5. Atmel Data Sheet 8-bit AVR Microcontroller AT mega 16, 6. Atmel corporation, 2002. 7. Rashid, Muhammad H. 2001. Power Electronics Circuits, Devices, and Application 2nd Edition. PT. Prenhallindo. Jakarta.

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

BAB II TEORI PENUNJANG 2.1 Rectifier (penyearah)

Saat digunakan sebagai penyearah gelombang penuh, dioda secara bergantian menyearahkan tegangan AC pada saat siklus positif dan negatif. Penyearah gelombang penuh ada 2 macam dan penggunaannya disesuaikan dengan transformator yang dipakai. Untuk transformator biasa digunakan jembatan dioda (dioda bridge) sementara untuk transformator CT digunakan 2 dioda saja sebagai penyearahnya. A.Penyearah gelombang penuh dengan jembatan dioda (dioda bridge) Pada dioda bridge, hanya ada 2 dioda saja yang menghantarkan arus untuk setiap siklus tegangan AC sedangkan 2 dioda lainnya bersifat sebagai isolator pada saat siklus yang sama. Untuk memahami cara kerja dioda bridge, perhatikanlah kedua gambar berikut.

Gambar 2.1.1 Rangkaian rectifier saat siklus positif

Saat siklus positif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda B menuju beban dan kembali melalui dioda C. Pada saat yang bersamaan pula, dioda A dan D mengalami reverse bias sehingga tidak ada arus yg mengalir atau kedua dioda tersebut bersifat sebagai

isolator.

Gambar 2.1.2.Rangkaian rectifier saat siklus negative

Sedangkan pada saat siklus negatif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda D menuju beban dan kembali melalui dioda A. Karena dioda B dan C mengalami reverse bias maka arus tidak dapat mengalir pada kedua dioda ini. Kedua hal ini terjadi berulang secara terus menerus hingga didapatkan tegangan beban yang berbentuk gelombang penuh yang sudah disearahkan (tegangan DC). Grafik sinyal dari penyearah gelombang penuh dengan jembatan dioda (dioda bridge) ditunjukkan seperti pada gambar berikut :

Gambar 2.1.3. Grafik sinyal

Jembatan dioda (dioda bridge) tersedia dalam bentuk 1 komponen saja atau pun bisa dibuat dengan menggunakan 4 dioda yang sama karakteristiknya. Yang harus diperhatikan adalah besar arus yang dilewatkan oleh dioda harus lebih besar dari besar arus yang dilewatkan pada rangkaian.

10

a. gelombang penuh menggunakan 2 dioda Seperti telah disebutkan diatas, penyearah gelombang penuh menggunakan 2 dioda ini hanya bisa digunakan pada transformator CT, dimana tegangan sekunder yang dihasilkan oleh trafo CT ini adalah : dimana V1=teg primer dan V2=teg sekunder Cara kerja penyearah gelombang penuh jenis ini dapat dijelaskan seperti berikut:

Gambar 2.1.4 Rangkaian rectifier menggunakan 2 dioada siklus positif

Pada artikel mengenai trafo diketahui bahwa pada bagian sekunder trafo CT terdapat 2 sinyal output yang terjadi secara bersamaan, mempunyai amplitudo yang sama namun berlawanan fasa. Saat tegangan input (teg primer) berada pada siklus positif, pada titik AO akan terjadi siklus positif sementara pada titik OB akan terjadi siklus negatif. Akibatnya D1 akan mengalami panjaran maju (forward bias) sedangkan D2 mengalami panjaran balik (reverse bias) sehingga arus akan mengalir melalui D1 menuju ke beban dan kembali ke titik center tap.

11

Gambar 2.1.5. Rangkaian rectifier menggunakan 2 dioda siklus negative

Saat tegangan input (teg primer) berada pada siklus negatif, pada titik AO akan terjadi siklus negatif sementara pada titik OB akan terjadi siklus positif. Akibatnya D2 akan mengalami panjaran maju (forward bias) sedangkan D1 mengalami panjaran balik (reverse bias) sehingga arus akan mengalir melalui D2 menuju ke beban dan kembali ke titik center tap. Dari penjelasan cara kerja penyearah gelombang penuh jenis ini terlihat bahwa tegangan yang terjadi pada beban mempunyai polaritas yang sama tanpa memperdulikan dioda mana yang menghantar karena arus mengalir melalui arah yang sama sehingga akan terbentuk gelombang penuh yang disearahkan seperti ditunjukkan pada grafik sinyal berikut.

Gambar 2.1.6. Grafik sinyal1

Rashid, Muhammad H. 2001. Power Electronics Circuits, Devices, and Application 2nd Edition. PT. Prenhallindo. Jakarta. 12

2.2

Optocoupler

Optocoupler adalah suatu piranti yang terdiri dari 2 bagian yaitu transmitter dan receiver, yaitu antara bagian cahaya dengan bagian deteksi sumber cahaya terpisah. Biasanya optocoupler digunakan sebagai saklar elektrik, yang bekerja secara otomatis. Pada dasarnya Optocoupler adalah suatu komponen penghubung (coupling) yang bekerja berdasarkan picu cahaya optic. Optocoupler terdiri dari dua bagian yaitu: 1. Pada transmitter dibangun dari sebuah LED infra merah. Jika dibandingkan dengan menggunakan LED biasa, LED infra merah memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap sinyal tampak. Cahaya yang dipancarkan oleh LED infra merah tidak terlihat oleh mata telanjang. 2. Pada bagian receiver dibangun dengan dasar komponen Photodiode. Photodiode merupakan suatu transistor yang peka terhadap tenaga cahaya. Suatu sumber cahaya menghasilkan energi panas, begitu pula dengan spektrum infra merah. Karena spekrum inframerah mempunyai efek panas yang lebih besar dari cahaya tampak, maka Photodiode lebih peka untuk menangkap radiasi dari sinar infra merah. Oleh karena itu Optocoupler dapat dikatakan sebagai gabungan dari LED infra merah dengan fototransistor yang terbungkus menjadi satu chips. Cahaya infra merah termasuk dalam gelombang elektromagnetik yang tidak tampak oleh mata telanjang. Sinar ini tidak tampak oleh mata karena mempunyai panjang gelombang , berkas cahaya yang terlalu panjang bagi tanggapan mata manusia. Sinar infra merah mempunyai daerah frekuensi 1 x 1012 Hz sampai dengan 1 x 1014 GHz atau daerah frekuensi dengan panjang gelombang 1m 1mm. LED infra merah ini merupakan komponen elektronika yang memancarkan cahaya infra merah dengan konsumsi daya sangat kecil. Jika diberi bias maju, LED infra merah yang terdapat pada optocoupler akan mengeluarkan panjang gelombang sekitar 0,9 mikrometer. Proses terjadinya pancaran cahaya pada LED infra merah dalam optocoupler adalah sebagai 13

berikut. Saat dioda menghantarkan arus, elektron lepas dari ikatannya karena memerlukan tenaga dari catu daya listrik. Setelah elektron lepas, banyak elektron yang bergabung dengan lubang yang ada di sekitarnya (memasuki lubang lain yang kosong). Pada saat masuk lubang yang lain, elektron melepaskan tenaga yang akan diradiasikan dalam bentuk cahaya, sehingga dioda akan menyala atau memancarkan cahaya pada saat dilewati arus. Cahaya infra merah yang terdapat pada optocoupler tidak perlu lensa untuk memfokuskan cahaya karena dalam satu chip mempunyai jarak yang dekat dengan penerimanya. Pada optocoupler yang bertugas sebagai penerima cahaya infra merah adalah fototransistor. Fototransistor merupakan komponen elektronika yang berfungsi sebagai detektor cahaya infra merah. Detektor cahaya ini mengubah efek cahaya menjadi sinyal listrik, oleh sebab itu fototransistor termasuk dalam golongan detektor optik. Fototransistor memiliki sambungan kolektorbasis yang besar dengan cahaya infra merah, karena cahaya ini dapat membangkitkan pasangan lubang elektron. Dengan diberi bias maju, cahaya yang masuk akan menimbulkan arus pada kolektor. Fototransistor memiliki bahan utama yaitu germanium atau silikon yang sama dengan bahan pembuat transistor. Tipe fototransistor juga sama dengan transistor pada umumnya yaitu PNP dan NPN. Perbedaan transistor dengan fototransistor hanya terletak pada dindingnya yang memungkinkan cahaya infra merahmengaktifkan daerah basis, sedangkan transistor biasa ditempatkan pada dinding logam yang tertutup. Ditinjau dari penggunaanya, fisik optocoupler dapat berbentuk bermacam-macam. Bila hanya digunakan untuk mengisolasi level tegangan atau data pada sisi transmitter dan sisi receiver, maka optocoupler ini biasanya dibuat dalam bentuk solid (tidak ada ruang antara LED dan Photodiode). Sehingga sinyal listrik yang ada pada input dan output akan terisolasi. Dengan kata lain optocoupler ini digunakan sebagai optoisolator jenis IC. Prinsip kerja dari optocoupler adalah : a. Jika antara Photodiode dan LED terhalang maka Photodiode tersebut akan off sehingga output dari kolektor akan berlogika high. b. Sebaliknya jika antara Photodiode dan LED tidak terhalang maka Photodiode dan LED tidak terhalang maka 14

Photodiode tersebut akan on sehingga outputnya akan berlogika low. Sebagai piranti elektronika yang berfungsi sebagai pemisah antara rangkaian power dengan rangkaian control. Komponen ini merupakan salah satu jenis komponen yang memanfaatkan sinar sebagai pemicu on/off-nya. Opto berarti optic dan coupler berarti pemicu. Sehingga bisa diartikan bahwa optocoupler merupakan suatu komponen yang bekerja berdasarkan picu cahaya optic optocoupler termasuk dalam sensor, dimana terdiri dari dua bagian yaitu transmitter dan receiver. Dasar rangkaian dapat ditunjukkan seperti pada gambar dibawah ini:

Gambar 2.2.1 Dasar rangkaian optocoupler

Sebagai pemancar atau transmitter dibangun dari sebuah led infra merah untuk mendapatkan ketahanan yang lebih baik daripada menggunakan led biasa. 2.3 Single Phase Full Bridge Inverter

Dalam hal ini, single phase full bridge inverter digunakan untuk mengubah tegangan DC menjadi tegangan AC. Gambar perencanaan inverter secara lengkap ditunjukan pada Gambar 3.1. Pada single phase full bridge inverter menggunakan metode switching SPWM (Sinusoidal Pulse Width Modulation) yang dibangkitkan dengan menggunkan mikrokontroller ATMEGA16 ( secara digital ). Drive switching dari mikrokontroller tidak langsung disambungkan ke IGBT (inverter) tetapi melalui optocoupler dan totempole. Optocoupler digunakan sebagai pemisah antara Mikrokontroller dengan IGBT Single Phase Full Bridge Inverter. Dengan rangkaian optorcoupler Mikrokontroller sebagai 15

pembangkit SPWM utama terhindar dari kerusakan , apabila terdapat arus balik dari rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter. Rangkaian totempole digunakan untuk melakukan switching atau perubahan kondisi dari low ke high dengan cepat. Inverter ini di desain dengan frekuensi 50 Hz dan tegangan output inverter 220 Vac.

Gambar 2.3.1. Rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter dengan Penyulut PWM2

2.4

PWM (Pulsa Width Modulation)

Prinsip Dasar PWM PWM adalah singkatan dari Pulse Width Modulation, merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengontrol daya yang berkaitan dengan power supply, contohnya pada power supply PC. Selain fungsi PWM yang digunakan untuk mengontrol daya power supply, PWM juga dapat difungsikan sebagai pengatur gerak perangkat elektronika, misalnya pada motor servo. Sesuai dengan namanya Pulse Width Modulation, maka dalam penerapannya sinyal tegangan-lah yang di rubah lebarnya. Sistem pengontrolan dengan PWM ini merupakan sistem digital,
2

Ismail, Baharuddin Bin. 2008. Design and Development Of Unipolar SPWM Switching Pulses For Single Phase Full Bridge Inverter 16

yang jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan sistem konfensional. Komponen yang biasa digunakan untuk membangkitkan sinyal PWM adalah sejenis IC digital yaitu IC 555 atau mikrokontroler. Modulasi lebar pulas (PWM) dicapai/diperoleh dengan bantuan sebuah gelombang kotak yang mana siklus kerja (duty cycle) gelombang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan sebuah tegangan keluaran yang bervariasi yang merupakan nilai rata-rata dari gelombang tersebut.

Gambar 2.4.1 Gambar Gelombang PWM

Ton adalah waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi tinggi (baca: high atau 1) dan, Toff adalah waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi rendah (baca: low atau 0). Anggap Ttotal adalah waktu satu siklus atau penjumlahan antara Ton dengan Toff , biasa dikenal dengan istilah periode satu gelombang. Rumus T-total .(1) Siklus kerja atau duty cycle sebuah gelombang di definisikan sebagai,

17

(2) Tegangan keluaran dapat bervariasi dengan duty-cycle dan dapat dirumusan sebagai berikut, .(3) Sehingga.

..(4) Dari rumus diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tegangan keluaran dapat diubah-ubah secara langsung dengan mengubah nilai Ton. Apabila Ton adalah 0, Vout juga akan 0. Apabila Ton adalah Ttotal maka Vout adalah Vin atau katakanlah nilai maksimumnya. 2.5 Microcontroller Dibawah ini merupakan penjelasan dari microcontroller. Pengendali mikro (Inggris: microcontroller) adalah sistem mikroprosesor lengkap yang terkandung di dalam sebuah chip. Mikrokontroler berbeda dari mikroprosesor serba guna yang digunakan dalam sebuah PC, karena sebuah mikrokontroler umumnya telah berisi komponen pendukung sistem minimal mikroprosesor, yakni memori dan antarmuka I/O Informasi Umum Microcontroller AVR AVR merupakan seri microcontroller CMOS 8 bit buatan Atmel, berbasis RISC ( Reduced Instruction Set Computer ). Hampir semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR mempunyai 32 register general purpose, timer/counter fleksibel dengan mode compare, interrupt internal dan eksternal, serial UART programmable Watchdog Timer, dan mode power saving. Beberapa diantaranya mempunyai ADC dan PWM internal. AVR juga mempunyai In-System Programmable Flash on chip yang 18

mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI. 1. AT Mega 16 Mikrokontroler ATMega 16 adalah mikrokontroler CMOS 8bit dan merupakan keluarga dari mikrokontroler AVR (AVR Familys) yang beraksitektur RISC. Hsl inilah yang membedakan mikrokontroler ini dengan MCS-51 Beberapa fitur yang disediakan oleh mikrokontroler ini adalah sebagai beikut : flash program memory dengan kapabilitas Read-While-Write, 512 bytes EEPROM, 1K byte SRAM, 32 jalur I/O, 32 register, a JTAG interface for Boundary-scan, On-chip Debugging support dan programming, 3 flexible Timer/Counters dengan compare modes, Internal and External Interrupts, a serial programmable USART, a byte oriented Two-wire Serial Interface, an 8-channel, 10-bit ADC with optional differential input stage with programmable gain (TQFP package only), a programmable Watchdog Timer with Internal Oscillator, an SPI serial port. Beberapa tool atau software yang digunakan untuk mensupport AtMega 16 adalah C Compiler, macro ,assembly program debugge / simulator dan beberapa kits yang lain. Beberapa keistimewaan dari AVR Atmega16: Advanced RISC Architecture o 130 Powerful Instructions Most Single Clock Cycle Execution o 32 x 8 General Purpose Working registers o Fully Static Operation o Up to 16 MIPS Throughput at 16 MHz o On chip 2 cycle Multiplier Nonvolatile Program and Data Memories o 8K Bytes of In-System Self programmable Flash o Optional Boot Code Section o 512 Bytes EEPROM o 512 Bytes Internal SRAM o Programming Lock for Software Security Peripheral Features o Two 8 bit Timer/Counters 19

Konfigurasi Pin-pin ATMega 16

Gambar 2.4.1 Konfigurasi PIN Atmega 163

Penjelasan dari gambar di atas sebagai berikut : 1. VCC Sebagai tegangan penyuplai. 2. Ground Sebagai ground. 3. Port A (PA7PA0) a. Port A sebagai input analog ke A/D konverter. Port A juga sebagai 8-bit bi-directional port I/O, jika A/D konverter tidak digunakan. Pin-pin port dapat menyediakan resistor-resistor internal pull-up. Ketika port PA0PA7 digunakan sebagai input dan pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistor-resistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port A adalah tri-state ketika kondisi reset menjadi aktif sekalipun Port B (PB7PB0) b. Port B adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistor-resistor internal pull-up. Buffer output port B mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port B yang mempunyai pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistorresistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port B adalah tristate ketika kondisi reset menjadi aktif seklipun clock tidak aktif.
3

Atmel corporation, 2002. 20

c.

Port C (PC7PC0) Port C adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistor-resistor internal pull-up. Buffer output port C mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port C yang mempunyai pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistorresistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port C adalah tristate ketika kondisi reset menjadi aktif seklipun clock tidak aktif. Jika antarmuka JTAG enable, resistorresistor pull-up pada pin-pin PC5(TDI), PC3(TMS), PC2(TCK) akan diktifkan sekalipun terjadi reset. d. Port D (PD7PD0) Port D adalah port I/O 8-bit bi-directional dengan resistor-resistor internal pull-up. Buffer output port D mempunyai karaketristik drive yang simetris dengan kemampuan keduanya sink dan source yang tinggi. Sebagai input, port D yang mempunyai pull eksternal yang rendah akan menjadi sumber arus jika resistorresistor pull-up diaktifkan. Pin-pin port D adalah tristate ketika kondisi reset menjadi aktif seklipun clock tidak aktif. e. Reset Input Reset, pulsa akan menjadi minimum sekalipun clok bekerja f. XTAL1 Input ke Inverting Oscillator Amplifier. g. XTAL2 Output

dari

Inverting Amplifier.

Oscillator

h.

AREF AREF adalah referensi analog ke A/D converter.

21

2. Flash Memori ATMega 16 ATmega16 memiliki 16K byte flash memori dengan lebar 16 atau 32 bit. Kapasitas memori itu sendiri terbagi manjadi dua bagian yaitu bagian boot program dan bagian aplikasi program

Gambar 2.4.2 Peta memori Flash

Flash memori memiliki kemampuan mencapai 10.000 write dan erase. 3. Memori SRAM ATMega 16 Penempatan memori data yang lebih rendah dari 1120 menunjukkan register, I/O memori, dan data internal SRAM. 96 alamat memori pertama untuk file register dan memori I/O, dan 1024 alamat memori berikutnya untuk data internal SRAM. Lima mode pengalamatan yang berbeda pada data memori yaitu direct, indirect, indirect dis-placement, indirect pre-decreament dan indirect post-increament .Pada file register, mode indirect mulai dari register R26-R31. Pengalamatan mode direct mencapai keseuruhan kapasitas data. Pengalmatan mode indirect displacement mencapai 63 alamat memori dari register X atau Y. Ketika meggunakan mode pengalamatan indirect dengan predecrement dan post increment register X, Y, dan Z akan didicrement-kan atau di-increment-kan. Pada ATMega 16(L) memiliki 32 register, 64 register I/O dan 1024 data internal SRAM yang dapat mengakses semua mode-mode pengalamatan.

22

4. Port sebagai Analog Digital Converter (ADC) ATmega16 mempunyai ADC (Analog to Digital Converter) internal dengan fitur sebagai berikut (untuk lebih detil dapat mengacu pada datasheet : a. 10-bit Resolution b. 65 - 260 s Conversion Time c. Up to 15 kSPS at Maximum Resolution d. 8 Multiplexed Single Ended Input Channels e. Optional Left Adjustment for ADC Result Readout f. 0 - VCC ADC Input Voltage Range g. Selectable 2.56V ADC Reference Voltage h. Free Running or Single Conversion Mode i. ADC Start Conversion by Auto Triggering on Interrupt Sources j. Interrupt on ADC Conversion Complete k. Sleep Mode Noise Canceler 5. Code Vision AVR 1.24.0.1 Merupakan suatu software yang digunakan dalam pembuatan program yang nantinya akan di download pada microcontroller AVR ATMega16. Dapat dilihat seperti pada struktur program dibawah ini:

Gambar 2.4.5 Code Vision AVR 1.24.0

23

Dalam penggunaan microcontroller AVR menggunakan software CodeVision AVR. Seperti umumnya microcontroller, CodeVision AVR merupakan software C-cross compiler, dimana program dapat ditulis menggunakan bahasa-C. Dengan menggunakan pemrograman bahasa-C diharapkan waktu desain (deleloping time) akan menjadi lebih singkat. Setelah program dalam bahasa-C ditulis dan dilakukan kompilasi tidak terdapat kesalahan (error) maka proses download dapat dilakukan. Microcontroller AVR mendukung sistem download secara ISP (InSystem Programming). Untuk membuat project baru maka dipilih File New, maka akan terlihat dialog box seperti gambar di bawah ini :

Gambar 2.4.6 Dialog box untuk membuat project baru.

Dalam menggunakan program ini terlebih dahulu diperlukan inisialisasi chip yang digunakan, clock, I/O port, dan segala hal diperlukan dalam mendesain suatu pemrograman pada umumnya. Blok inisialisasi dapat dilihat pada gambar 6.5 di bawah ini.

24

Gambar 2.4.7 Blok Penginisialisasian Program Setelah penginisialisasian chip maka selanjutnya Generate, Save and Exit. Selanjutnya yaitu penulisan program pada blok bagian yang telah tersedia, seperti ditunjukkan pada gambar 6.6 berikut:

25

Gambar 2.4.8 Bagian Penulisan Program

Pada software CodeVision AVR telah disediakan beberapa rutin standar yang dapat langsung digunakan. Anda dapat melihat lebih detail pada manual dari CodeVisionAVR. 2.6 LCD LCD yang digunakan adalah LCD 20 x 4 produksi SEIKO Electronics. Setelah kita memberikan input tegangan output tertentu, maka angka tersebut akan dieksekusi sebagai besar dari sudut penyulutan yang dikirimkan ke microcontroller. Interface antara LCD dengan ATMega 16 sangatlah mudah jika dibandingkan dengan microcontroller keluarga MCS 51. Karena dengan ATMega 128 ini hanya membutuhkan 7 I/O sebagai kontroller LCD.

26

LCD1
LM044L

+5V

VSS VDD VEE

RS RW E 4 5 6

10k

10u

1 2 3

U1
9 22p 11.0592 13 12 40 39 38 37 36 35 34 33 1 2 3 4 5 6 7 8 RESET XTAL1 XTAL2 PA0/ADC0 PA1/ADC1 PA2/ADC2 PA3/ADC3 PA4/ADC4 PA5/ADC5 PA6/ADC6 PA7/ADC7 PB0/XCK/T0 PB1/T1 PB2/INT2/AIN0 PB3/OC0/AIN1 PB4/SS PB5/MOSI PB6/MISO PB7/SCK ATMEGA16 PC0/SCL PC1/SDA PC2/TCK PC3/TMS PC4/TDO PC5/TDI PC6/TOSC1 PC7/TOSC2 PD0/RXD PD1/TXD PD2/INT0 PD3/INT1 PD4/OC1B PD5/OC1A PD6/ICP PD7/OC2 22 23 24 25 26 27 28 29 14 15 16 17 18 19 20 21 +5v 30 32

22p

AVCC AREF

Gambar 2.5.1 Interface ATMega 16 dengan LCD 20 x4 .

Gambar 2.5.2 Blok Penginisialisasian LCD4


4

Atmel Data Sheet 8-bit AVR Microcontroller AT mega 16,

7 8 9 10 11 12 13 14

D0 D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7

27

2.6 Motor Pompa Air

Gambar 2.6.1 Pompa Air

Prinsip kerja motor pompa air terjadi ketika kutup-kutup dari stator (bagian dari motor pompa air yang diam atau tidak bergerak seperti kern, lilitan, isolator dan casing cover) dan rotor ( bagian yang berputar pada pompa air) yang senama mendekat, sehingga terjadilah peristiwa tolak-menolak dan rotor berputar. Kutup rotor menghampiri kutup stator yang tidak sejenis, sehingga rotor tertarik. Ketika kutup dari rotor dan stator yang berlainan mulai mendekat, ini akan mengakibatkan perubahan arus. Arus yang semula negatif akan berobah menjadi positif, begitu juga sebaliknya. Perubahan ini akan mengakibatkan perubahan kutup-kutup magnet pada stator. Kutup yang berbeda dengan rotor, berubah menjadi kutup yang sama dengan rotor, sehingga akan menjadi tolak-menolak, dan rotor akan menjadi berputar kearah yang berlainan. Peristiwa ini akan menyebabkan rotor berputar secara terus menerus yang sangat cepat sehingga rotor akan terus berputar.5

Heres Deny Wasito, Pengaturan Tekanan Pompa Air PDAM Untuk menjaga Kestabilan Pelayanan Konsumen Dan Pengaruh Pada Manajemen Energi Listrik, Proyek Akhir PENS -ITS.2002.

28

2.7 Waterflow Sensor

Gambar 2.7.1 Waterflow Sensor

Sensor aliran ini terbuat dari plastic dimana didalamnya terdapat rotor dan sensor hall effect. Saat air mengalir melewati rotor, rotor akan berputar. Kecepatan putaran ini akan tergantung dengan kedepatan aliran air. Hall effect sensor akan mengeluarkan output pulsa sesuai dengan besarnya aliran air. Spesifikasi : Working Voltage 5V-24V Maximum current 15 mA (DC 5V) Weight 43 gr External diameters 20 mm Flow Rate Range 1~30 L/min Operating Temperature 0oC-80oC Liquid Temperature <120oC Opearting Humidity 35%~90%RH O Operating Pressure under 1.2Mpa Store Temperature -25oC~+80oC

29

Karakteristik Sinyal : Ouput pulse high level signal voltage>4.5 V (input DC 5 V) Ouput pulse low level signal voltage<0.5 V (input DC 5 V) Precision 3% (Flow Rate from 1L/min to 10L/min) Output Sinyal Dutycycle 40%~60% Untuk mendapatkan nilai aliran dalam L/menit bisa didapat dengan rumusan sebagai berikut : Q=(jumlah pulsa permenit)/7.5 Jika diambil sampling waktu 1 detik setiap pembacaan pulsa, maka hasil pembacaan pulsa dikalikan 60 dan seterusnya. 6

Imam Abadi, Aulia Siti Aisjah, Riftyanto N.S., Aplikasi Metode Neuro-Fuzzy Pada Sist em Pengendalian Antisurge Kompresor. Jurnal Teknik Elektro Vol. 6, No. 2, September 2006

30

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS


3.1. Pendahuluan

Pada perencanaan dan pembuatan perangkat keras rancang bangun inverter 1 phasa berbasis PI Fuzzy pada pompa air mengacu pada gambar block diagram di bawah ini :
SUMBER AC (220 V)

RANGKAIAN PENYEARAH 1 FASA

TANDON PENAMPUNG AIR

KELUARAN TEKANAN
INVERTER SATU FASA MOTOR POMPA AIR

SENSOR TEKANAN

Sensor Flow

LCD 16 X 2

KONTROL LOGIKA PI FUZZY

SPWM

MICRO CONTROLLER AT Mega 16

ADC

Gambar 3.1.1 Gambar block diagram system

Tugas akhir rancang bangun inverter 1 phasa berbasis PI Fuzzy pada pompa air ini bertujuan untuk memperbaiki system pompa air sekarang yang kurang efisien dalam segi penggunaanya, tugas akhir ini dilengkapi dengan sesor pressure transmite yang digunakan untuk mendeteksi besarnya tekanan air pada pompa air, output dari sensor pressure transmite akan diumpankan pada mikrokontroller, dalam mikrokontroller akan memroses pembuatan gelombang SPWM, tampilan LCD, dan PI Fuzzy. SPWM sendiri merupakan suatu metode yang digunakan untuk mentriger Mosfet 31

inverter, sedangkan inverter sendiri digunakan untuk mendrive motor sehingga motor dapat berputar secara variable sesuai sensor pressure transmite. Berdasarkan Gambar 3.1 perencanaan dan pembuatan perangkat keras pada Tugas Akhir ini meliputi: 1) Perencanaan dan pembuatan rangkaian penyearah 1 fasa. 2) Perencanaan dan pembuatan rangkaian driver inverter 1 fasa. 3) Perencanaan dan pembuatan inverter 1 fasa. 4) Perencanaan dan pembuatan sensor pressure transmite. 5) Perencanaan dan mikrokontroller. pembuatan gelombang SPWM pada

3.2 Perencanaan dan pembuatan rangkaian penyearah 1 fasa Saat digunakan sebagai penyearah gelombang penuh, dioda secara bergantian menyearahkan tegangan AC pada saat siklus positif dan negatif. Penyearah gelombang penuh ada 2 macam dan penggunaannya disesuaikan dengan transformator yang dipakai. Untuk transformator biasa digunakan jembatan dioda (dioda bridge) sementara untuk transformator CT digunakan 2 dioda saja sebagai penyearahnya. a. Penyearah gelombang penuh dengan jembatan dioda (dioda bridge) Pada dioda bridge, hanya ada 2 dioda saja yang menghantarkan arus untuk setiap siklus tegangan AC sedangkan 2 dioda lainnya bersifat sebagai isolator pada saat siklus yang sama. Untuk memahami cara kerja diode bridge, perhatikanlah kedua gambar berikut.

32

Gambar 3.2.1 Gambar penyearah gelombang penuh

Saat siklus positif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda B menuju beban dan kembali melalui dioda C. Pada saat yang bersamaan pula, dioda A dan D mengalami reverse bias sehingga tidak ada arus yg mengalir atau kedua dioda tersebut bersifat sebagai isolator.

Gambar 3.2.2 gambar penyearah gelombang penuh

Sedangkan pada saat siklus negatif tegangan AC, arus mengalir melalui dioda D menuju beban dan kembali melalui dioda A. Karena dioda B dan C mengalami reverse bias maka arus tidak dapat mengalir pada kedua dioda ini. Kedua hal ini terjadi berulang secara terus menerus hingga didapatkan tegangan beban yang berbentuk gelombang penuh yang sudah disearahkan (tegangan DC). Grafik sinyal dari penyearah

33

gelombang penuh dengan jembatan ditunjukkan seperti pada gambar berikut

dioda

(dioda

bridge)

Gambar 3.2.3 Gambar gelombang rangakaian penyearah gelombang penuh

Jembatan dioda (dioda bridge) tersedia dalam bentuk 1 komponen saja atau pun bisa dibuat dengan menggunakan 4 dioda yang sama karakteristiknya. Yang harus diperhatikan adalah besar arus yang dilewatkan oleh dioda harus lebih besar dari besar arus yang dilewatkan pada rangkaian. 3.3 perencanaan dan pembuatan rangkaian driver inverter Rangkaian driver ini terdiri dari rangkaian optocoupler, rangkaian penguat dan rangkaian totem pole. Rangkaian driver ini terdiri dari beberapa komponen utama yaitu : optocoupler, 4N25, TR9013, TR139 dan TR140. Gambar 3.17merupakan gambar dari keseluruhan rangkaian driver inverter. Rangkaian Optocoupler berfungsi sebagai pemisah rangkaian pembangkit pulsa pada sisi masukan dengan rangkaian keluaran. Sehingga jika terjadi gangguan pada rangkaian keluaran tidak berpengaruh pada rangkaian pembangkit pulsa. Tipe IC 4N25 juga dapat digantikan dengan tipe IC 4N26 yang juga memiliki fungsi dan kaki-kaki yang sama dengan tipe IC 4N25.

34

Untuk rangkaian Optocoupler supplai tegangan harus beda antara masukan dan keluaran rangkaian, sehingga mempunyai supplai tegangan sendiri. Sedangkan untuk ground pada kaki nomor 2 dan ground pada kaki nomor 4 harus dipisahkan. Hal-hal tersebut dimaksudkan agar fungsi Optocoupler sebagai isolator electric dapat berfungsi. Karena pulsa yang dihasilkan oleh pembangkit pulsa ada dealapan maka optocoupler yang dibutuhkan juga delapan rangkaian.
5 Vcc 1000

BD 139 1000 Input dari komparator 330 1 2 3 A C 4N25 NC E B C 6 5 4 B To Source Mosfet Optocoupler C9013 1000 BD140 1000 100 To Gate Mosfet A

5 Vcc

1000

BD 139 Input dari komparator 330 1 2 3 A C 4N25 NC E B C 6 5 4 D To Source Mosfet Optocoupler C9013 1000 BD140 1000 1000 100 To Gate C Mosfet

5 Vcc

1000

BD 139 Input dari komparator 330 1 2 3 A C 4N25 NC E B C 6 5 4 F To Source Mosfet Optocoupler C9013 1000 BD140 1000 1000 100 To Gate E Mosfet

5 Vcc

1000

BD 139 1000 Input dari komparator 330 1 2 3 A C 4N25 NC E B C 6 5 4 H To Source Mosfet Optocoupler C9013 1000 BD140 1000 100 To Gate G Mosfet

Gambar 3.2.1 Rangkaian Driver Inverter

35

3.4 Perencanaan dan pembuatan inverter 1 fasa Dalam hal ini, single phase full bridge inverter digunakan untuk mengubah tegangan DC menjadi tegangan AC. Gambar perencanaan inverter secara lengkap ditunjukan pada Gambar 3.1. Pada single phase full bridge inverter menggunakan metode switching SPWM (Sinusoidal Pulse Width Modulation) yang dibangkitkan dengan menggunkan mikrokontroller ATMEGA16 ( secara digital ). Drive switching dari mikrokontroller tidak langsung disambungkan ke IGBT (inverter) tetapi melalui optocoupler dan totempole. Optocoupler digunakan sebagai pemisah antara Mikrokontroller dengan IGBT Single Phase Full Bridge Inverter. Dengan rangkaian optorcoupler Mikrokontroller sebagai pembangkit SPWM utama terhindar dari kerusakan , apabila terdapat arus balik dari rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter. Rangkaian totempole digunakan untuk melakukan switching atau perubahan kondisi dari low ke high dengan cepat. Inverter ini di desain dengan frekuensi 50 Hz dan tegangan output inverter 220 Vac.

Gambar 3.3.1 Rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter dengan Penyulut PWM

36

Berikut merupakan gambar output dari inverter.

Gambar 3.3.2 Gelombang output inverter

Berikut merupakan gambar output dari inverter dengan di integrasikan dengan rangkaian rectifier.

Gambar 3.3.3 Gelombang output inverter integrasi

3.5 Perencanaan dan pembuatan water flow sensor Saat air mengalir melewati rotor, rotor akan berputar. Kecepatan putaran ini akan tergantung dengan kedepatan aliran air. Hall effect sensor akan mengeluarkan output pulsa sesuai dengan besarnya aliran air. Spesifikasi : Working Voltage 5V-24V Maximum current 15 mA (DC 5V) Weight 43 gr External diameters 20 mm Flow Rate Range 1~30 L/min Operating Temperature 0oC-80oC Liquid Temperature <120oC Opearting Humidity 35%~90%RH O 37

Operating Pressure under 1.2Mpa Store Temperature -25oC~+80oC Karakteristik Sinyal : Ouput pulse high level signal voltage>4.5 V (input DC 5 V) Ouput pulse low level signal voltage<0.5 V (input DC 5 V) Precision 3% (Flow Rate from 1L/min to 10L/min) Output Sinyal Dutycycle 40%~60% Untuk mendapatkan nilai aliran dalam L/menit bisa didapat dengan rumusan sebagai berikut : Q=(jumlah pulsa permenit)/7.5 Jika diambil sampling waktu 1 detik setiap pembacaan pulsa, maka hasil pembacaan pulsa dikalikan 60 dan seterusnya. 3.6 Perencanaan dan pembuatan gelombang PWM pada mikrokontroller. PWM adalah singkatan dari Pulse Width Modulation, merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengontrol daya yang berkaitan dengan power supply, contohnya pada power supply PC. Selain fungsi PWM yang digunakan untuk mengontrol daya power supply, PWM juga dapat difungsikan sebagai pengatur gerak perangkat elektronika, misalnya pada motor servo. Sesuai dengan namanya Pulse Width Modulation, maka dalam penerapannya sinyal tegangan-lah yang di rubah lebarnya. Sistem pengontrolan dengan PWM ini merupakan sistem digital, yang jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan sistem konfensional. Modulasi lebar pulas (PWM) dicapai/diperoleh dengan bantuan sebuah gelombang kotak yang mana siklus kerja (duty cycle) gelombang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan sebuah tegangan keluaran yang bervariasi yang merupakan nilai rata-rata dari gelombang tersebut.

38

Ton adalah waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi tinggi (baca: high atau 1) dan, Toff adalah waktu dimana tegangan keluaran berada pada posisi rendah (baca: low atau 0). Anggap Ttotal adalah waktu satu siklus atau penjumlahan antara Ton dengan Toff , biasa dikenal dengan istilah periode satu gelombang. Berikut merupakan gelombang PWM dengan frekwensi 50 Hz.

Gambar 3.6.1 Gelombang PWM dengan frekwensi 50Hz

39

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

40

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA


Dalam bab ini akan dijelaskan tentang proses pengujian alat beserta analisa dari sitem yang telah dibuat.

SUMBER AC (220 V)

RANGKAIAN PENYEARAH 1 FASA

TANDON PENAMPUNG AIR

KELUARAN TEKANAN
INVERTER SATU FASA MOTOR POMPA AIR

SENSOR TEKANAN

Sensor Flow

LCD 16 X 2

KONTROL LOGIKA PI FUZZY

SPWM

MICRO CONTROLLER AT Mega 16

ADC

gambar 4.1 Gambar block diagram system

4.1

Pengujian Rangkaian Rectifier

Pada pengujian power supply yang terlihat pada gambar 4.1.1 ini akan diperlihatkan hasil tegangan keluaran dari rangkaian rectifier. Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan bahwa pada proyek akhir ini langsung menggunakan sumber dari PLN (220 Vac), dengan tujuan agar memperoleh tegangan keluaran DC yang besar sesuai dengan kebutuhan untuk dimasukkan pada rangkaian

41

inverter dan inverter dapat menjalankan motor pompa air. Berikut gambar dari rangkaian rectifier.

Gambar 4.1.1 Rangkaian penyearah

Pada gambar dibawah ini merupakan hasil percobaan dengan menggunakan alat ukur Avometer, berikut gambar dari pegukuran pada sisi input :

Gambar 4.1.2 Hasil pembacaan avometer pada sisi input

Pada gambar dibawah ini merupakan hasil pembacaan ranngkaian rectifier pada sisi output : 42

Gambar 4.1.2 Hasil pembacaan avometre pada sisi output

Berikut merupakan data hasil percobaan rangkaian rectifier:


Table 4.1.1 Data gasil percobaan rangkaian rectifier

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Input Tegangan AC (V) 10 Volt 30 Volt 50 Volt 70 Volt 100 Volt 120 Volt 150 Volt 170 Volt 200 Volt 220 Volt

Output Tegangan DC 13.7 41.7 68.8 99.6 139.5 167.6 209.4 236.9 279.4 306.4

43

4.2

Pengujian Rangkaian Optocoupler

Pada pengujian rangkaian optocoupler akan ditampilkan pada gambar 4.2.1 sebagai hasil output dari rangkaian optocoupler.

Gambar 4.2.1 Rangkaian Optocoupler

Berikut merupakan gambar gelombang PWM yang akan dijadikan input rangkaian optocoupler yang dibangkitkan dengan menggunakan mikrokontroller.

44

a.

Berikut merupakan gelombang PWM dengan frekwensi 50 Hz

Gambar 4.2.2 Gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 50 Hz

b.

Berikut merupakan gelombang PWM dengan frekwensi 40 Hz

Gambar 4.2.2 Gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 40 Hz

45

c.

Berikut merupakan gelombang PWM dengan frekwensi 30 Hz

Gambar 4.2.2 Gelombang PWM untuk input rangkaian optocoupler f = 30 Hz

Rangkaian optocoupler pada Gambar 4.17. menggunakan IC 4N25. Ground pada sisi masukan harus dipisahkan dengan ground pada sisi keluaran. Pemisahan ground terkait dengan sifat dasar dari optocoupler yang berfungsi mengisolasi rangkaian masukan dengan rangkaian keluaran. Untuk pemisahan gronding dapat dipisahkan dengan menggunakan 3 buah transpormator. Pada saat pengujian optocoupler diberikan masukan sinyal PWM yang dibangkitkan dari rangkaian mikrokontroller, dengan Vcc untuk IC 4N25 adalah 12 volt, maka magnitude keluaran juga sama dengan masukannya.

46

4.3

Metode Penyulutan Pada Single Phase Full Bridge Inverter

Pada proses switching pada inverter single phase full bridge inverter terlihat pada tabel kondisi switching pada gate ( mosfet ) untuk inverter berdasarkan gambar 4.21 rangkaian Single Phase Full Bridge Inverter

motor

Gambar 4.3.1 Rangkaian Full bridge inverter 1 phasa Tabel 4.3.1 Kondisi Penylutan Untuk Rangkaian gambar 4.22

State Q(mosfet) 1,4 ON dan Q(mosfet) 2,3 OFF Q (mosfet)1,4 OFF dan Q(mosfet) 2,3 ON

Vout put Vs - Vs

Penyulutan IGGBT atau MOSFET terdapat 2 kondisi, pada kondisi positif IGBT atau MOSFET 1 dan 4 akan menyala bersama, sedangkan pada kondisi negatif IGBT atau MOSFET 2 dan 3 akan menyala, hal ini sesuai dengan tabel 4.3.1

4.4 pengujian rangkaian inverter Pada tugas akhir ini inverter merupakan komponen yang paling utama, dimana inverter digunakan untuk mendrive motor, 47

inverter digunakan untuk merubah tegangan DC menjadi AC, rangkaian inverter di drive langsung dengan rangkaian optocoupler, sedangakan input optocoupler dapat input gelombang PWM yang disulut langsung dengan menggunakan rangkaian mikrokontroller. Pada tugas akhir ini rangkaian inverter menggunakan komponen IGBT. Berikut merupakan gambar rangkaian inverter dengan IGBT.

Gambar 4.4.1 Rangkaian inverter dengan IGBT

Berikut merupakan gambar pengujian inverter dengan menggunakan lampu pijar.

Gambar 4.4.2 Gambar pengujian inverter dengan beban lampu pijar

48

Berikut merupakan hasil pengukuran dari percobaan rangkaian inverter dengan beban lampu pijar
Table 4.4.1 Data hasil pengujian inverter dengan beban lampu pijar

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tegangan Input (V) 20 Volt 40 Volt 60 Volt 80 Volt 100 Volt 120 Volt 140 Volt 160 Volt 180 Volt 200 Volt 220 Volt

Arus Input (A) 0.2 Ampere 0.3 Ampere 0.4 Ampere 0.42 Ampere 0.5 Ampere 0.58 Ampere 0.6 Ampere 0.6 Ampere 0.63 Ampere 0.7 Ampere 0.72 Ampere

Tegangan Output (V) 20.56 Volt 40.7 Volt 50.8 Volt 70.3 Volt 93 Volt 110 Volt 133 Volt 153 Volt 172 Volt 191 Volt 217 Volt

Berikut merupakan gambar percobaan rangkain inverter dengan menggunakan beban lampu TL.

Gambar 4.4.3 Gambar percobaan rangkaian inverter dengan beban lampu TL

49

Pada saat percobaan inverter dengan menggunakan beban lampu TL ini input tegangan DC diberikan tegangan sebesar 223.6 Volt, sedangkan arus input yang terukur sebesar 0.4 Ampere, dan tegangan output yang terukur sebesar 220 Volt. Berikut merupakan hasil pengukuran dari rangkaian inverter dengan beban motor pompa air.
Tabel 4.4.2 Data hasil pengujian inverter dengan beban motor pompa air.

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

I In (A) 0.6 0.62 0.62 0.7 1 1.1 1.3 1.4 1.5

V Out (V) 129.8 140 148 153.5 160.6 176 185 198 207

P In (W) 77.88 86.8 91.76 107.45 160.6 193.6 240.5 277.2 310.5

I Out (V) 0.5 0.52 0.54 0.64 0.68 0.71 0.76 0.8 0.9

V Out (V) 140 150 160 170 180 190 200 210 220

P Out (W) 70 78 86.4 108.8 122.4 134.9 152 168 198

50

4.5 Pengujian motor pompa air Pada tugas akhir ini, pompa air digunakan sebagai beban dari rangkaian inverter, dimanna fungsi dari motor pompa air sendiri digunakan untuk memompa air hingga airnya naik. Berikut merupakan table dari hasil percobaan motor pompa air.

Gambar 4.5.1 Motor pompa air Table 4.5.1 Data hasil percobaan motor pompa air

No 1 2 3 4 5

Frekwensi (Hz) 30 35 40 45 50

Tegangan (V) 171 182 190 211 219

Kecepatan (RPM) 2823 2845 2867 2888 2914

4.6 Pengujian Water Flow Sensor Sensor water flow pada tugas akhir ini merupakan suatu komponen yang sangat penting, dimana pembacaan dari sensor akan digunakan untuk pengontrolan pada switching inverter, data dari pembacaan sensor akan dimasukkan kedalam ADC mikrokontroller, didalam mikrokontroller akan diolah dengan menggunakan metode PI Fuzzy, keluaran dari mikrokontrollerakan berupa PWM, sedangkan PWM sendiri digunakan untuk switching inverter. 51

Bentuk water sensor dapat dilihat pada gambar 2.7.1 Untuk alat ukur dari tekanan sendiri dapat menggunakan Manometer, berikut merupakan gambar dari manometer.

Gambar 4.6.1 Manometer

Berikut merupakan data hasil dari percobaan sensor tekanan.


Table 4.6.1 Data hasil pembacaan water flow sensor

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tekanan (Kg/cm3) 0 1.2 1.1 1.0 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5

V out sensor 0.013 0.32 0.68 0.94 1.19 1.38 1.62 1.87 2.12

Flow (L/min) 0.104 2.56 5.44 7.52 9.32 11.04 12.96 14.96 19.36

52

Berikut merupakan hasil dari integrasi system


Table 4.6.2 Data hasil integrasi

No 1 2 3 4 5

Frekwensi (Hz) 30 35 40 45 50

V Dc (V) 220 220 220 220 220

V Out (Volt) 171 182 190 211 219

Kecepatan (Rpm) 2823 2845 2867 2888 2914

Flow (L/min) 5.44 7.52 9.32 12.96 19.36

53

(Halaman ini sengaja dikosongkan)

54

BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Setelah dilakukan proses perencanaan, pembuatan dan pengujian alat serta dari data yang didapat dari perencanaan dan pembuatan rangkaian inverter full bridge 1 phasa dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. 2. Besarnya frekwensi PWM yang digunakan untuk penyulutan inverter dapat mempengaruhi besarnya tegangan keluaran. Sistem ini hanya dapat bekerja pada range pengaturan frekwensi putaran motor antara 35 Hz sampai dengan 50Hz. Pada saat frekwensi 35 Hz flow bernilai 5.44 (L/min) dan ketika frekwensi 50 Hz flow bernilai 16.96 (L/min). Hal ini dikarenakan pada frekwensi dibawah nilai tersebut motor tidak dapat bekerja secara maksimal, sehingga pompa air tidak bisa menaikkan air. Dengan menggunakan metode penyulutan dengan PWM maka menghasilkan torsi yang kecil, yang dikarenakan harmonisa keluaran dari inverter besar, THDi bernilai 29.39% dan THDv bernilai 43.45%, harmonisa besar dikarenakan bentuk gelombang keluaran dari inverter berbentuk kotak, tidak sinus murni. Besarnya tekanan berbanding terbalik dengan flow, pada saat valve dibuka sedikit maka tekanan yang terukur sebesar 1.2 Kg/cm3 dan nilai flow yang terbaca sebesar 2.56 L/min, ketika valve dibuka secara penuh dan tekanan yang terukur sebesar 0.5 Kg/cm3 dan nilai flow yang terbaca sebesar 19.36 L/min.

3.

4.

5.2

SARAN-SARAN

Dalam pengerjaan dan penyelesaian Proyek Akhir ini tentu tidak lepas dari berbagai macam kekurangan dan kelemahan, baik 55

itu pada sistem maupun pada peralatan yang telah dibuat. Untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dari peralatan, maka perlu melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Diharapkan nantinya lanjut alat ini dapat dikembangkan menjadi inverter satu fase yang dikombinasikan atau dibandingkan dengan metode switching SPWM dan yang lainnya. 2. Dalam penelitian yang lebih lanjut, diharapkan alat ini memiliki kontrol otomatis dalam menghasilkan arus kompensasi sehingga hasil yang didapat bisa maksimal

56

DAFTAR PUSTAKA [1] Jun Yuan, Michael Ryan, James Power, Using Fuzzy Logic, London : Prentice Hall international.1994. [2] Imam Abadi, Aulia Siti Aisjah, Riftyanto N.S., Aplikasi Metode Neuro-Fuzzy Pada Sistem Pengendalian Antisurge Kompresor. Jurnal Teknik Elektro Vol. 6, No. 2, September 2006 [3] Ismail, Baharuddin Bin. 2008. Design and Development Of Unipolar SPWM Switching Pulses For Single Phase Full Bridge Inverter Application. Thesis Master of Science University Sains Malaysia. [4] Heres Deny Wasito, Pengaturan Tekanan Pompa Air PDAM Untuk menjaga Kestabilan Pelayanan Konsumen Dan Pengaruh Pada Manajemen Energi Listrik, Proyek Akhir PENS -ITS.2002. [5] Atmel Data Sheet 8-bit AVR Microcontroller AT mega 16, [6] Atmel corporation, 2002. [7] Rashid, Muhammad H. 2001. Power Electronics Circuits, Devices, and Application 2nd Edition. PT. Prenhallindo. Jakarta.

PROFIL PENULIS

Penulis dilahirkan di kota Banyuwangi tanggal 29 April 1991. Dia merupakan anak kedua dari 2 bersaudara. Penulis masuk di PENS-ITS pada jurusan D3 Elektro Industri pada tahun 2009.

Nama Panggilan TTL Alamat HP Email Pendidikan

Nanang Malpiyan Nanang Surabaya, 29 April 1991 Watukebo-Rogojampi-Banyuwangi, Indonesia 085232370270 rock_well_laros@yahoo.com SDN Watukebo 1 (1997-2003) SMPN 1 Rogojampi (2003-2006) SMKN 1 Glagah Banyuwangi (2006-2009) Motto : Kegagalan merupakan suatu pembelajaran untuk menambah pengalaman dan ilmu. Organisasi di PENS: BEM PENS-ITS Anggota Ristek (2010-2011)

: : : : : : :