Anda di halaman 1dari 26

MASTOIDITIS

OLEH : Tanti Adelia Kesuma ( 406112009)

PEMBIMBING : dr. Nurlina, Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA JAKARTA BAB I. PENDAHULUAN 1

KATA PENGANTAR

Pertama-tama penulis memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan rahmat yang telah diberikan, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul Mastoiditis ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan pembuatan referat in i adalah untuk memenuhi tugas di kepaniteraan klinik Ilmu Telinga Hidung Tenggorokan di Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi periode 22 Juli 2013 24 Agustus 2013, serta agar dapat menambah kemampuan dan ilmu pengetahuan bagi para pembacanya. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada: dr. Nurlina, Sp.THT-KL dr. Tenty, Sp.THT-KL, M.Kes

Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam penyusunan referat ini, oleh karena itu penulis menerima saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan referat ini. Demikian harapan penulis agar referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya.

Jakarta, 8 Agustus 2013

Penulis

LEMBAR PENGESAHAN

Mastoiditis
Oleh : Tanti Adelia Kesuma 406112009

Telah diuji tanggal :

Agustus 2013

Kepala KSMF

Pembimbing

(dr. Nurlina, Sp.THT-KL)

(dr. Nurlina, Sp.THT-KL)

Ciawi, Agustus 2013 Bagian Ilmu THT Rumah Sakit Umum Daerah Ciawi
3

DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................. Kata Pengantar ............................................................................. Lembar Pengesahan...................................................................... Daftar Isi ....................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang............................................................... ... I.2. Tujuan.......................................................................... I.3. Manfaat........................................................................ BAB II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Anatomi dan Fisiologi.................................................... II.2. Mastoiditis........................................................................... 2.2.1. Etiologi...................................................................... 2.2.2. Mastoiditis Koalesens Akut....................................... 2.2.3. Infeksi Kronik Telinga Tengah dan Mastoid............. II.3. Komplikasi......................................................................... BAB III. KESIMPULAN BAB IV. DAFTAR PUSTAKA ... 1

i ii iii iv

1 1

2 6 6 8 11 16 21 22

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG Penyakit pada telinga tengah dan mastoid lazim ditemukan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia. Beberapa penelitian menunjukan bahwa otitis media merupakan masalah paling umum kedua pada praktek pediatrik, setelah pilek. Sejak penggunaan antibiotik secara luas terhadap otitis media dan mastoiditis pada pertengahan 1930-an, angka mortalitas dan penyulit serius dari otitis media telah sangat menurun. Namun, sekarang penyakit telinga tengah seringkali terdapat dalam bentuk kronik atau lambat yang menyebabkan kehilangan pendengaran dan pengeluaran sekret. Mastoiditis adalah suatu infeksi bakteri pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol dibelakang telinga). Mastoiditis marupakan peradangan kronik yang mengenai rongga mastoid dan komplikasi dari otitis media kronis. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel sel sel mastoid udara yang melekat ditulang temporal.

1.2. TUJUAN 1. Untuk mengetahui tentang penyakit mastoiditis. 2. Untuk mengetahui cara-cara pengobatannya.

1.3. MANFAAT Dengan mempelajari tentang mastoiditis maka kita dapat mengantisipasi agar tidak terserang penyakit mastoiditis dengan cara lebih menjaga kebersihan.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Gambar 1. Anatomi Telinga

Secara anatomi telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu telinga luar, tengah dan dalam.

1.

Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun

telinga terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh liang telinga.Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.

2.

Telinga tengah

Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari : Membran timpani yaitu membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara. Berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani dibagi ats 2 bagian yaitu bagian atas disebut pars flasida (membrane sharpnell) dimana lapisan luar merupakan lanjutan epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, dan pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin. Tulang pendengaran yang terdiri dari maleus, inkus dan stapes. Tulang pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan. Tuba eustachius, yang menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.

3. Telinga dalam

Gambar 2. Anatomi Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. 7

Skala vestibule dan skala timpani berisi perilimfa sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dimana cairan perilimfe tinggi akan natrium dan rendah kalium, sedangkan endolimfe tinggi akan kalium dan rendah natrium. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners Membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam (3000) dan tiga baris sel rambut luar (12000). Sel-sel ini menggantung lewat lubanglubang lengan horizontal dari suatu jungkat jangkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan selsel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal sebagai membrane tektoria. Membran tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial disebut sebagai limbus.

Gambar 3. Potongan melintang koklea

Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang diebut membrane tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti, yang membentuk organ Corti.

Tulang Mastoid Tulang mastoid adalah tulang keras yang terletak di belakang telinga, didalamnya terdapat rongga seperti sarang lebah yang berisi udara. Rongga-rongga udara ini ( air cells ) terhubung dengan rongga besar yang disebut antrum mastoid. Kegunaan air cells ini adalah sebagai udara cadangan yang membantu pergerakan normal dari gendang telinga, namun demikian hubungannnya dengan rongga telinga tengah juga bisa mengakibatkan perluasan infeksi dari telinga tengah ke tulang mastoid yang disebut sebagai mastoiditis.

Gambar 4. Anatomi telinga dan tulang mastoid

Struktur didalam tulang Mastoid : antrum mastoid ( rongga di belakang epitimpani/ atik). Aditus ad antrum adalah saluran yang menghubungkan antrum dengan epitimpani. Lempeng dura (dura plate ) adalah lempeng tips yang keras dibanding tulang sekitarnya yang membatasi rongga mastoid dengan sinus lateralis. Sudut sinodura adalah sudut yang dibentuk oleh pertemuan duramater fosa media dan fosa posterior otak dengan sinus lateral di posterior. Sudut ini ditemukan dengan membuang sebersih-bersihnya sel-sel pneumatisasi mastoid di bagia posterior inferior lempeng dura dan postero superior lepeng sinus. Sudut keras/ solid angel / hard angel adalah penulangan yang keras sekali yang dibentuk oleh pertemuan 3 kanalis semisirkularis. Segitiga trautmann adalah daerah yang terletak di balik antrum yang dibatasi oleh sinus sigmoid, sinus lateral ( sinus petrosus superior), dan tulang labirin. Batas medialnya adalah lempeng dura fosa posterior.

2.2. MASTOIDITIS Rongga telinga tengah dan rongga mastoid berhubungan langsung melalui aditus ad antrum. Oleh karena itu infeksi kronis telinga tengah yang sudah berlangsung lama bisanya disertai infeksi kronis di rongga mastoid. Infeksi rongga mastoid dikenal dengan mastoiditis. Beberapa alhi menggolongkan mastoiditis ke dalam komplikasi OMSK.

Gambar 5. Tulang mastoid

2.2.1.Etiologi Mastoiditis merupakan hasil dari infeksi yang lama pada telinga tengah, bakteri yang didapat pada mastoiditis biasanya sama dengan bakteri yang didapat pada infeksi telinga tengah. Bakteri gram negative dan Streptococcus aureus adalah beberapa bakteri yang paling sering didapatkan pada infeksi ini. Selain itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang kemudian dapat menyebabkan infeksi traktus respiratorius. Pada pemeriksaan telinga akan menunjukkan bahwa terdapat pus yang berbau busuk akibat infeksi traktus respiratorius. Beberapa hal yang mempengaruhi berat dan ringannya penyakit adalah faktor tubuh penderita (imunitas) dan faktor dari bakteri itu sendiri. Dapat dilihat dari angka kejadian anak-anak yang biasanya berumur di bawah dua tahun, pada usia inilah imunitas belum baik. Beberapa faktor lainnya seperti bentuk tulang, dan jarak antar organ juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. Faktor-faktor dari bakteri sendiri adalah, lapisan pelindung pada dinding bakteri, pertahanan terhadap antibiotic dan kekuatan penetrasi bakteri terhadap jaringan keras dan lunak dapat berperan pada berat dan ringannya penyakit.

10

Kuman aerob

Gram positif : S pyogenes dan S. aureus

Gram negative : proteus, pseudomonas spp E colli, kuman anaerob

Bakterioides spp

Timbul Infeksi pada telinga

Eksogen infeksi dari luar melalui perforosi membrane tympani

Rinogen dari penyakit ronggga hidung dan sekitarnya

Endogen alergi,DM, TBC paru

Peradangan pada Mastoid

Mastoiditis

Nyeri

Timbul suara denging

Kemerahan pada mastoid

Keluarnya push

Gangguan rasa nyaman Nyeri

Cemas

Hiperemi

push

Gangguan pendengaran

Kerusakan jaringan/dikontinuitas jaringan

Otolitis

Gangguan Komunikasi

Penurunan harga diri

11

2.2.2. Mastoiditis koalesens akut Komplikasi serius pada zaman pra-antibiotik ini telah jarang ditemukan kini. Namun karena beberapa alasan, masih dapat ditemukan satu atau dua kasus demikian per tahun pada institusi-institusi utama. Diagnosis dapat terluputkan karena pasien telah mendapat antibiotik yang efektif dalam mengubah temuan fisik klasik tapi tidak mampu membasmi infeksi.

Menurut H. Nurbaiti Iskandar (1997), manifestasi klinis dari mastoiditis adalah : 1. Febris / subfebris 2. Nyeri pada telinga 3. Hilangnya sensasi pendengaran 4. Bahkan kadang timbul suara berdenging pada satu sisi telinga (dapat juga pada sisi telinga yang lainnya) 5. Kemerahan pada kompleks mastoid 6. Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir. 7. Matinya jaringan keras (Tulang, Tulang Rawan). 8. Adanya abses (Kumpulan jaringan mati dan nanah)

Gambar 6. Mastoiditis 12

Gejala demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika demam tetap dirasakan setelah pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi mastoid lebih besar. Keluhan nyeri dirasakan cenderung menetap dan berdenyut. Gangguan pendengaran dapat timbul atau tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi. Jika tidak diobati dapat terjadi ketulian yang berkembang secara progresif, sepsis, meningitis, abses otak atau kematian. Membran timpani menonjol keluar, dinding posterior kanalis menggantung, pembengkakan post aurikula mendorong pinna keluar dan ke depan, dan nyeri tekan pada mastoid, terutama di posterior dan sedikit di atas liang telinga (segitiga Macewen). Di dalam tulang juga bisa terbentuk abses. Biasanya gejala muncul dalam waktu 2 minggu atau lebih setelah otitis media akut, dimana penyebaran infeksi telah merusak bagian dalam dari prosesus mastoideus.

Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan CT scan bisa dilihat bahwa sel-sel udara dalam prosesus mastoideus terisi oleh cairan (dalam keadaan normal terisi oleh udara) dan melebar. Contoh cairan dari telinga dibiakkan di laboratorium untuk mengetahui organisme penyebabnya.

Gambar 7. Mastoiditis

Gambar 8. CT scan mastoiditis

13

Pemeriksaan radiologis pada mastoiditis koalesens mengungkapkan adanya opasifikasi sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabekulasi normal dari sel-sel tersebut. Hilangnya kontur masing-masing sel, membedakan temuan ini dengan temuan pada otitis media serosa di mana kontur sel tetap utuh. Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau mereka yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Penyakit ini agaknya berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab. Organisme penyebab yang lazim adalah sama dengan penyebab otitis media akut.

Tatalaksana Pengobatan awal berupa miringotomi yang cukup lebar, biakan dan antibioltik yang sesuai diberikan intravena. Jika dalam 48 jam tidak didapatkan perbaikan atau keadaan umum pasien bertambah buruk, maka disarankan untuk dilakukan mastoidektomi sederhana. Bila gambaran radiologis memperlihatkan hilangnya pola trabekular atau adanya progresi penyakit, maka harus dilakukan mastoidektomi lengkap dengan segera untuk mencegah komplikasi serius seperti petrosis, labirintis, meningitis dan abses otak.

Gambar 9. Miringotomi

14

2.2.3. Infeksi kronik pada telinga tengah dan mastoid Karena telinga tengah berhubungan dengan mastoid, maka otitis media kronik sering kali disertai mastoiditis kronik. Kedua peradangan ini dapat dianggap aktif atau inaktif. Aktif merujuk pada adanya infeksi dengan pengeluaran sekret telinga (otorrhea) akibat perubahan patologi dasar seperti kolesteatoma atau jaringan granulasi. Inaktif merujuk pada sekuele dari infeksi aktif terdahulu yang telah terbakar habis, dengan demikian tidak ada otorrhoe. Pasien dengan otitis media kronik inaktif seringkali mengeluh gangguan pendengaran. Mungkin terdapat gejala lain seperti vertigo, tinitus, atau suatu rasa penuh dalam telinga. Biasanya tampak perforasi membrana timpani yang kering. Perubahan lain dapat menunjukan timpanosklerosis (bercak-bercak putih pada membrana timpani), hilangnya osikula yang terkadang dapat terlihat lewat perforasi membrana timpani, serta fiksasi atau terputusnya rangkaian osikula akibat infeksi terdahulu. Bila gangguan pendengaran dan cacat cukup berat, dapat dipertimbangkan koreksi bedah atau timpanoplasti.

Tanda dan gejala Otitis media kronik aktif berarti adanya pengeluaran sekret dari telinga. Otorrhoe dan supurasi kronik telinga tengah dapat menunjukan pada pemeriksaan pertama sifat-sifat dari proses patologi yang mendasarinya. Umumnya otorrhoe pada otitis media kronik bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium peradangannya. Sekret yang mukus dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Sekret yang sangat bau, bewarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat telihat keping-keping kecil, berwarna putih dan mengkilap. Pemeriksaan bakteriologi dari sekret supurasi kronik telinga tengah hanya

memberikan sedikit informasi praktis mengenai penatalaksanaan. Bakteri penginvasi sekunder, seperti stafilokok, Proteus vulgaris, dan Pseudomonas aeruginosa, serta sejumlah bakteri anaerob yang merupakan bagian dari suatu flora campuran, selalu ditemukan dalam sekret telinga kronik. Anaerob yang paling sering ditemukan adalah dari spesies Bacteroides. Suatu sekret yang encer berair dengan awitan tanpa nyeri harus mengarah pada kemungkinan tuberkulosis. Jika sekret encer berbau bususk dan tercampur darah, maka perlu dipertimbangkan kemungkinan keganasan. Salah satu kelainan patologi yang dapat ditemukan pada otitis media dan mastoiditis kronik adalah kolesteatoma, yaitu epitel skuamosa yang mengalami keratinisasi (kulit) yang terperangkap dalam rongga telinga tengah dan mastoid. Kolesteatoma biasanya 15

terbentuk sekunder dari invasi sel-sel epitel liang telinga melalui attis ke dalam mastoid. Suatu kolesteatoma dapat mencapai ukuran yang cukup besar sebelum terinfeksi atau menimbulkan gangguan pendengaran, dengan akibat hilangnya tulang mastoid, osikula, dan pembungkus tulang saraf fasialis.

Gambar 10. Kolesteatoma

Perubahan patologi lain yang tampak pada otitis media kronik adalah jaringan granulasi, yang dapat pula menyebabkan destruksi tulang dan perubahan-perubahan hebat dalam telinga tengah dan mastoid. Jaringan granulasi dapat matur atau imatur (fibrosa). Sejenis jaringan granulasi khusus adalah granuloma kolesterol, dimana dijumpai celah-celah kolesterin dalam suatu palung jaringan granulasi dengan sel-sel raksasa yang tersebar. Kelainan ini selalu diatasi dengan pembedahan dan memerlukan mastoidektomi. Gejala otitis media kronik yang penting lainnya adalah gangguan pendengaran, yang biasanya konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit, ataupun kolesteatoma, dapat menghantarkan bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya duramater atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Vertigo pada pasien dengan supurasi telinga tengah kronik merupakan gejala serius lainnya. Gejala ini memberi kesan adanya suatu fistula, berarti ada erosi pada labirin tulang. Fistula merupakan temuan yang serius , karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam, sehingga timbul labirintis (ketulian komplit), dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji fistula perlu dilakukan pada setiap kasus supurasi telinga tengah kronik dengan riwayat vertigo.

16

Perforasi membrana timpani dapat bersifat sentral atau marginal. Jika perforasi marginal atau pada attic, maka kolesteatoma perlu dicurigai. Jaringan granulasi dapat tampak mengisi perforasi atau pada beberapa kasus, membentuk polip yang cukup besar dan menonjol ke dalam liang telinga.

Gambar 11. Perforasi attic

Gambar 12. Kolesteatoma dan Polip

Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil dengan pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah attic (kehilangan skutum) memberi kesan kolesteatoma.

17

Penatalaksanaan Terapi konservatif untuk otitis media kronik pada dasarnya berupa nasihat untuk menjaga telinga agar tetap kering, serta pembersihan telinga dengan penghisap secara berhatihati. Untuk membersihkan dapat digunakan hidrogen peroksida atau alkohol dengan menggunakan aplikator kawat berujung kapas untuk mengangkat jaringan yang sakit dan supurasi yang tidak berhasil keluar. Kemudian dapat diberikan bubuk atau obat tetes yang biasanya mengandung antibiotik dan steroid. Antibiotik dapat membantu dalam mengatasi eksaserbasi akut otitis media kronik. Namun antibiotik tidak sepenuhnya berguna untuk mengobati penyakit ini, sebab dari definisinya, otitis media kronik bersrti telah ada perubahan patologi yang membandel, dan antibiotika tidak terbukti bermanfaat dalam penyembuhan kelainan ini. Jika direncanakan tindakan bedah, maka pemberian antibiotik sistemik bebrapa minggu sebelum operasi dapat mengurangi atau menghentikan supurasi aktif dan memperbaiki hasil pembedahan.

Gambar 13. Mastoidektomy

Pembedahan bertujuan membasmi infeksi dan mendapatkan telinga yang kering, dan aman melalui berbagai prosedur timpanoplasti dan mastoidektomi. Tujuan utama dari pembedahan adalah menghilangkan penyakit, dan hal ini tercapai bila terjadi kesembuhan.

18

Tujuan mastoidektomi adalah menghilangkan jaringan infeksi, menciptakan telinga yang kering dan aman. Sedangkan tujuan timpanoplasti adalah menyelamatkan dan memulihkan pendengaran, dengan cangkok membrana timpani dan rekonstruksi telinga tengah. Tujuan sekunder adalah mempertahankan atau memperbaiki pendengaran (timpanoplasti) bilamana mungkin.

Gambar 14. Timpanoplasti

Jika otitis media dan mastoiditis kronik bersifat serius, dan terutama bila telah ada komplikasi atau ancaman komplikasi, maka dapat dipertimbangkan pembedahan mastoid pada usia berapapun. Secara umum, timpanoplasti lebih jarang dilakukan pada anak di bawah usia lima tahun. Hal ini karena tingginya insidens infeksi telinga pada kelompok umur kuran dari lima tahun.

Gambar 15. Pembersihan kolesteatoma

19

2.3. KOMPLIKASI Komplikasi penyakit otitis media dan mastoiditis (akut dan kronik) dapat melibatkan perubahan-perubahan langsung dalam telinga tengah dan mastoid, atau infeksi sekunder pada struktur di sekitarnya. Tendensi otitis media mendapatkan komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna. Akan tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan suatu komplikasi. Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati, sehingga memungkinkan infeksi menjalar ke struktur di sekitarnya. Pertahanan pertama adalah mukosa kavum timpani yang menyerupai mukosa saluran nafas yang mampu melokalisasi dan mengatasi infeksi. Bila sawar ini runtuh, masih ada sawar kedua, yaitu dinding tulang kavum timpani dan sel mastoid. Bila sawar ini runtuh, maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena.

Gambar 16. Infeksi di telinga tengah memungkinkan penjaralan ke struktur di sekitarnya

Runtuhnya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses sub-periosteal. Tetapi bila infeksi mengarah ke tulang temporal, maka akan menyebabkan paresis fasialis atau labirintis. Bila ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus lateralis, meningitis atau abses otak. Pada kebanyakan kasus, bila sawar tulang terlampaui, suatu dinding pertahanan ketiga, yaitu jaringan granulasi akan terbentuk.

20

Pada

kasus

akut

atau

eksaserbasi

akut,

penyebaran

biasanya

melalui

osteotromboflebitis (hematogen). Pada kasus lain, terutama

yang kronis, penyebaran

biasanya melalui erosi tulang. Cara penyebaran lainnya ialah melalui jalan yang sudah ada, misalnya fenestra rotundum, meatus akustikus interna, dusktus perilimfatik atau duktus endolimfatik.

Complications in acute mastoiditis. Extension of the infectious process beyond the mastoid system leads to intracranial and extracranial suppurative complications, including : - subperiosteal abscess (A), - epidural abscess (B), - subdural empyema (C), - brain abscess (D), - meningitis (E), - lateral sinus thrombosis (F), - carotid artery involvement (G), - apical petrositis (H).

Gambar 17. Komplikasi dari mastoiditis

Beberapa pola penyebaran penyakit : Penyebaran hematogen, yaitu penyebaran melalui osteotromboflebitis dapat diketahui dengan adanya : 1. Komplikasi terjadi pada awal suatu infeksi atau eksaserbasi akut, dapat terjadi pada hari pertama atau kedua sampai hari kesepuluh 2. Gejala prodromal tidak jelas seperti didapatkan pada gejala meningitis lokal 3. Pada operasi, didapatkan dinding tulang telinga utuh dan tulang serta lapisan mukoperiosteal meradang dan mudah berdarah, sehingga disebut juga mastoidits hemoragika.

21

Penyebaran melalui erosi tulang, dapat diketahui, bila : 1. Komplikasi terjadi beberapa minggu atau lebih setelah awal penyakit 2. Gejala prodromal infeksi lokal biasanya mendahului gejala infeksi yang lebih luas, misalnya paresis n. Fasialis ringan yang total, atau gejala meningitis lokal mendahului meningitis purulen 3. Pada operasi dapat ditemukan lapisan tulang yang rusak di antara fokus supurasi dengan struktur di sekitarnya. Struktus jaringan lunak yang terbuka biasanya dilapisi ileh jaringan granulasi

Penyebaran melalui jalan yang sudah ada, penyebaran ini dapat diketahui bila : 1. Komplikasi terjadi pada awal penyakit 2. Ada serangan labirintis atau meningitis berulang, mungkin dapat ditemukan fraktur tengkorak, riwayat operasi tulang atau riwayat otitis media yang sudah sembuh. Komplikasi intrakranial mengikuti komplikasi labirintis supuratif. 3. Pada operasi dapat ditemukan jalan penjalaran melalui sawar tulang yang bukan oleh karena erosi.

Beberapa penulis mengemukakan klasifikasi komplikasi otitis media yang berlainan, tetapi dasarnya tetap sama.

Adams dkk (1989) mengmukakan klasifikasi sebagai berikut : a. Komplikasi telinga tengah : Perforasi membran tumpani persisten Erosi tulang pendengaran Paralisis nervus fasialis

b. Komplikasi telinga dalam : Fistula labirin Labirintis supuratif Tuli saraf (sensorineural)

22

c. Komplikasi ekstradural : -

Abses ekstradural Trombosis sinus lateralis Petrosis

d. Komplikasi ke susunan saraf pusat Meningitis Abses otak Hidrosefalus otitis

Souza dkk (1999) membagi komplikasi otitis media menjadi : I. Komplikasi intratemporal a. Komplikasi telinga tengah Paresis nervus fasialis Kerusakan tulang pendengaran Perforasi membran timpani

b. Komplikasi ke rongga mastoid Petrositis Mastoiditis koalesen

c. Komplikasi ke telinga dalam Labirintis Tuli saraf / sensorineural

II. Komplikasi ekstratemporal a. Komplikasi intrakranial Abses ekstradura Abses subdura Abses otak Meningitis Tromboflebitis sinus lateralis Hidrosefalus otikus

b. Komplikasi ekstrakranial Abses retroaurikular Abses Bezolds Abses zygomatikus 23

Schambough (2003) membagi komplikasi otitis media sebagai berikut : a. Komplikasi intratemporal Perforasi membran timpani Mastoiditis akut Paresis nervus fasialis Labirintis Petrosis

b. Komplikasi ekstratemporal Abses subperiosteal

c. Komplikasi intrakranial Abses otak Tromboflebitis Hidrosefalus otikus Empiema subdura Abses subdura / ekstradura

24

BAB III. KESIMPULAN

Mastoiditis adalah suatu infeksi bakteri pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol dibelakang telinga). Mastoiditis marupakan peradangan kronik yang mengenai rongga mastoid dan komplikasi dari otitis media kronis. Lapisan epitel dari telinga tengah adalah sambungan dari lapisan epitel sel sel mastoid udara yang melekat ditulang temporal. Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau mereka yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Komplikasi penyakit otitis media dan mastoiditis (akut dan kronik) dapat melibatkan perubahan-perubahan langsung dalam telinga tengah dan mastoid, atau infeksi sekunder pada struktur di sekitarnya.

25

BAB IV. DAFTAR PUSTAKA

1.

Soepardie EA, Iskandar N, Bashirudin J, Restuti RD, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.

2.

Ludman, Harold. Petunjuk Penting Pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Jakarta: Hipokrates. 1996.

3.

Dejong, W., Sjamsuhidajat, R.. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : 2005

26