Anda di halaman 1dari 11

PRESENTASI EKSKURSI LABORATORIUM PETROLOGI DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 3-7 JUNI 2013 BERIKUT INI SYARAT MASUK PRESENTASI

1. PAKAIAN RAPI 2. PASSWORD


SKALA WENTWORTH HUKUM DASAR GEOLOGI BOWEN REACTION SERIES KELOMPOK MINERAL OLIVINE, FELDSPAR, PIROKSEN, AMPHIBOLE, MIKA KLASIFIKASI BATUAN BEKU MENURUT CLAN WILLIAMS, 1954 STRUKTUR BATUAN SEDIMEN KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN

Hukum dasar geologi: 1. law of unformitarianism

hukum ini meyatakan bahwa keadaan sekarang adalah kunci bagi keadaan masa lalu (the present is the key to the past). proses geologi terjadi pada saat ini juga terda pada masa lampau. sebagai contoh dapat disebutkan bahwa pada saat ini batu gamping koral sedang tumbuh dilaut, jadi kalau pada saat ini terdapat dipucak gunung dapat disimpulkan bahwa pada jaman yang lalu daerah pegunungan tersebut merupakan dasar laut.hukum ini pertama kali dicetuskan oleh james hutton pada tahun 1795 dan dipopulerkanoleh charles lyell pada tahun 1830 melalui bukunya yang berjudul principle of geologi. 2. law of originali horizontaly hukum ini dicetuskan oleh steno. pada mulanya batuan sedimen diendapkan secara horizontal di dasar cekungan sejajar denga peremukaan bumi. jadi kalau sekarang dijumpai batuan sedimen denga kedudukan lapisan miring berarti bauan tersebut sudah dipengaruhi oleh gaya tektonik. 3. law of superposition dalam law of super position steno(1638-1687) dan secara efektif didemontrasikan oleh james hutton 1795 mengamati bahwa batuan sedimen di bentuk oleh lapisan akumulasi banyak lapisan. pada sekuan lapisan yang belum tergantung batuan yang tertua atau yang terendapkan lebih awal akan berada paling bawah dan batuan yang termuda atau yang terendapkan paling akhir akan berada paling atas, secara singkat the lower is the older, the upper is the younger. 4. principles of cross cutting relationship hukum ini menyatakan bahwa satuan batuan atau sesar yang memotong menyilang satuan batuan lain atau sesar lain berumur lebih muda daripada batuan atau sesar yang dipotongya 5. principle of faunal succestion william smith atau yang sering disebut pula sebagai bapak geologi sejarah mengamati dan mendokumentasikan lapisan batuan di inggris dapatdiidentifikasikan dan ditelusuridengan kelompok fosil yang terkandung. berdasarkan pengamatan ni, menyebutkan bahwa karena evolosi berbagai fosil yang terawetkan di dalam suatu sekuen batuan, kenampakan fisiknya berubah secara granular dan teratur sejalan dengan waktu. kelompok fosil dan batun yang mengadungnya dapat digunakan untuk mengkorelasikan secara geografik antara suatu daerah dengan daerah lainnya. KOMPOSISI MINERAL Menurut Walker T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral yaitu : A. Mineral Utama Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukkan dalam penamaan batuan.

1. Mineral felsic ( mineral berwarna terang dengan densitas rata-rata 2,5 - 2,7 ), yaitu : - Kwarsa ( SiO2 ) - Kelompok feldspar, terdiri dari seri feldspar alkali (K, Na) ALSi3O8. Seri feldspar alkali terdiri dari sanidin, orthoklas, anorthoklas, adularia dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesin, labradorit, biwtonit dan anortit. - Kelompok feldspartoid (Na, K Alumina silika), terdiri dari nefelin, sodalit, leusit. 2. Mineral mafik (mineral-mineral feromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata-rata 3,0 - 3,6), yaitu : - Kelompok olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsterite - Kelompok piroksen, terdiri dari Enstatite, Hiperstein, Augit, Pigeonit, Diopsid. - Kelompok mika, terdiri dari Biotit, Muscovit, Plogopit. - Kelompok Amphibole, terdiri dari Anthofilit, Cumingtonit, Hornblende, Rieberkit, Tremolit, Aktinolite, Glaukofan, dll. B. Mineral Sekunder Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, hidrotermal maupun metamorfisma terhadap mineral-mineral utama. Dengan demikian mineral-mineral ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan magma (non pirogenetik). Mineral sekunder terdiri dari : - Kelompok kalsit (kalsit, dolomit, magnesit, siderit), dapat terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas. - Kelompok serpentin (antigorit dan krisotil), umumnya terbentuk dari hasil ubahan

mineral mafik (terutama kelompok olivin dan piroksen). - Kelompok klorit (proktor, penin, talk), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral kelompok plagioklas. - Kelompok serisit sebagai ubahan mineral plagioklas. - Kelompok kaolin (kaolin, hallosyte), umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan beku. C. Mineral Tambahan (Accesory Mineral) Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, umumnya dalam jumlah sedikit. Termasuk dalam golongan ini antara lain : - Hematite, Kromit, Muscovit, Rutile, Magnetit, Zeolit, Apatit dan lain-lain.

struktur sedimen

1. Perlapisan/Bedding Disebut juga emaknya batuan sedimen. kalau ada batu punya perlapisan, langsung bisa ketahuan kalau itu batuan sedimen!, bidang perlapisan terbentuk jika terdapat suatu periode singkat di mana proses deposisi (pengendapan) menjadi sedikit sekali, karena kalau terlalu lama, apalagi sampai terbentuk bidang erosi, ini sudah menjadi ketidakselarasan atau unconformity. bidang perlapisan juga bisa terbentuk kalau ada perubahan lingkungan pengendapan. 2. Laminasi Ini merupakan cucunya perlapisan karena laminasi adalah perlapisan yang tipis sekali, dari beberapa mili sampai 1 cm. Ini biasanya terbentuk kalau suplai sedimennya sangat sedikit. Contoh: endapan silika di dasar laut. laminasi yang tampak terlipat (pernah keluar di OSN 2008). Struktur convolute lamination ini muncul bukan karena perlipatan akibat gaya endogen loh, melainkan akibat pengaruh arus yang mengalir di sekitarnya atau akibat proses dewatering

/liquefaksi (sedimen kehilangan kandungan air secara tiba-tiba akibat terkena gangguan). Kehilangan air yang tiba-tiba ini membuat sedimen kehilangan kekuatannya. Nah, gangguan tadi berupa stress (tekanan) yang disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya yang sering terjadi ialah oleh gempa bumi. 3. Silang Siur/Cross-bedding Struktur eksotis ini terbentuk kalau agen transportasi sedimen berupa arus/current; ini bisa arus sungai, arus laut, angin, dll. Yang namanya arus jelas punya arah, karena itu struktur silang siur sangat <3 disayang-sayang ahli geologi <3 karena berguna untuk menentukan paleocurrent alias arus purba. Tidak Cuma itu saja, silang siur juga bisa memberitahu kita mana bagian atas perlapisan dan mana bagian bawahnya. Dengan kata lain, dia penanda top and bottom 4. Mud Cracks Kretak-kretak pas zamannya El Nino melanda Indonesia, kita sering ngelihat sawah-sawah mengering sampai retak-retak itulah mud cracks. Permukaan lumpur yang di-oven sinar matahari akan memperlihatkan struktur mud cracks. Kalau tidak terjadi pembalikan lapisan, biasanya tampak samping mud cracks berbentuk trapesium dengan sisi di atas lebih pendek daripada sisi di bawah. Karenanya, top and bottom lapisan sedimen bisa ketahuan. 5. Ripple marks Ripple marks, sama seperti cross-bedding, disebabkan oleh arus. Bedanya, ripple marks cuma bentukan yang ada di permukaan perlapisan sedimen. Struktur ini bisa menandakan arus purba juga. 6. Flute cast Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat material-material yang dibawa arus menggerus bagian dasar sungai. Arus sungai mempunyai arah menuju ke bagian yang memanjang. Dengan demikian, struktur ini juga penentu paleocurrent. Karena struktur ini hanya ada di bagian dasar suatu tubuh arus dan bagian yang menggembung selalu di bawah, maka flute cast pun handal dalam menentukan top-bottom perlapisan sedimen. 7. Flame Structure (check) Dinamai flame structure karena kenampakannya mirip lidah api yang menjilat-jilat ke atas. Flame structure terbentuk saat suatu lapisan mudstone berada di bawah lapisan batupasir. Batu pasirini membebani mudstone yang lemah, sehingga sedikit massa mudstone di bawah muncrat ke atas dan membentuk lidah.

Klasifikasi batuan

Batuan merupakan semua bahan pembentuk kerak bumi dan merupakan kumpulan (agregat) mineral mineral yang terbentuk secara alami dan mempunyai sifat fisik dan kimiawi tertentu.

Pengelompokkan batuan : A. Batuan Beku Merupakan batuan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan magma, suatu masa larutan silikat cair liat, pijar dan mudah bergerak (mobile). Pengelompokkan batuan beku berdasarkan proses terjadinya : 1. Batuan beku Vulkanik/ekstrusi : batuan beku yang proses pendinginan magma berada di permukaan atau didekat permukaan bumi, sehingga proses pembekuannya terjadi dengan relatif cepat dengan melepaskan kandungan gasnya. Oleh karena itu sering memperlihatkan struktur aliran dan banyak lubang gasnya (vesikuler), yang menyebabkan terbentuknya mineral penyusun berukuran halus atau masif (< 1 mm). Contoh : Basalt, Andesit, Dasit, Obssidian, dll. 2. Batuan beku Plutonik/intrusif : batuan beku yang proses pendinginan magma berada pada kedalaman yang besar dan proses pembekuannya terjadi secara perlahan sehingga memberi kesempatan untuk pengintian dan pembentukan kristal secara sempurna yang dicirikan dengan mineral penyusun batuan berukuran besar (> 1 mm). Contoh : Gabro, Diorit, Granit, Granodiorit, Dunit, Peridotit, dll. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kimiawi : 1. Batuan Beku Asam, bila batuan tersebut mengandung SiO2 lebih besar dari 66%, Contoh : Granit, Riolit, Dasit, Granodiorit, dll. Riolit,Trakit,

2. Batuan Beku Intermediet/Menengah, bila batuan beku mengandung 52% 66% SiO2, Contoh : Andesit, Diorit, Trakit, Syenit, dll. 3. Batuan Beku Basa, bila batuan beku tersebut mengandung 45% - 52% SiO2, Contoh : Gabro, Basalt, Diabas, Basanit, dll. 4. Batuan Beku Ultra Basa, bila batuan beku tersebut mengandung kurang dari 45 % SiO2, Contoh : Peridotit, Dunit, Serpentinit, Piroksenit,dll.

A.

Batuan Sedimen Merupakan batuan yang terbentuk sebagai hasil pembatuan (lithifikasi) dari endapan bahan bahan rombakan atau hasil kegiatan organisme atau hasil reaksi kimia tertentu. Pengelompokkan Batuan Sedimen :

1.

Batuan sedimen klastik, adalah batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapn kembali rombakan atau pecahan batuan asal, baik yang berasal dari batuan beku, batuan metamorfik/ubahan maupun batuan sedimen sendiri yang lebih tua. Contoh : Batupasir, Batulempung, Breksi, Konglomerat, dll. Fragmentasi batuan secara asal tersebut dimulai dari pelapukan mekanis dan

(disintegrasi)maupun

kimiawi

(dekomposisi),

kemudian

tererosi

tertransportasi menuju suatu cekungan pengendapan. Setelahpengendapan berlangsung sedimen mengalami diagenesa yakni proses perubahan perubahan yang berlangsung pada temperatur rendah didalam suatu sedimen, selama dan sesudah lithifikasi ini merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras. Proses diagenesa lain: Kompaksi Sedimen, termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban diatasnya, sehingga volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dan lainnya menjadi rapat. Sementasi, turunnya material material diruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir butir satu dengan yang lainnya. Rekristalisasi, pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan metrial sedimen selama diagenesa atau jauh sebelumnya.

Autigenesis, terbentuknya mineral baru dilingkungan diagenetik, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Metasomatisme, pergantian mineral sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal.

2.

Batuan sedimen non klastik, adalah batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau dari hasil kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung atau reaksi organik (penggaraman unsur unsur laut, pertumbuhan kristal dari agregat kristal yang terpresipitasi dan replacement). Contoh : Rijang, Halite, Batugamping Terumbu, Gypsum, Dolomit, dll.

Kalsifikasi Batuan Sedimen menurut R.P. Koesoemadinata :

Golongan detritus kasar, golongan ini dapat dikenali melalui butiran penyusun batuannya yang relatif berukuran kasar dengan diameter 1/16 mm dan umumnya dihasilkan oleh proses sedimentasi mekanis.

Contoh : Batupasir, Breksi, Konglomerat, dll.

Golongan detritus halus, golongan ini dapat dikenali melalui butiran penyusun batuannya yang berukuran relatif halus (diameter <1/16mm) sebagaihasil sedimentasi mekanis.

Contoh : lempung, lanau, serpih, napal (proses sedimentasi kimiawi)

Golongan Karbonat, golongan ini tersusun oleh kelompok mineral karbonat (kalsit, dolomit, aragonit)dan cangkang cangkang binatang karang (mollusca, foraminifera).

Contoh : batu gamping bioklastik (sedimentasi mekanis), batu gamping terumbu (sedimentasi organis), batu gamping dolomit (sedimentasi kimiawi)

Golongan Evaporit, pada umumnya batuan ini terbentuk dilingkungan danau yang tertutup dan untuk terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Umumnya bersifat monomineralik.

Contoh : gypsum, anhydrite, halite

Golongan Sedimen Silika, proses terbentuknya batuan ini merupakan gabungan dari proses organik dan kimiawi untuk menyempurnakan, bersifat monomineralik dan tersusun dari mineral silika.

Contoh : Rijang, Radiolaria, Diatomea

Golongan Batubara, batuan sedimen ini terbentuk karena adanya akumulasi unsur unsur organik yang kaya unsur C yaitu dari tumbuh tumbuhan, dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal diatasnya sehingga tidak memungkinkan untuk terjadinya pelapukan. Termasuk jenis sedimen organoklastik.

Contoh : Gambut, Bituminous, Antrasit

Deret Bowen Mineral Pembentuk Batuan (Rock Forming Minerals )

Minerals adalah bahan atau senyawa anorganik yang terbentuk secara alamiah, padat, mempunyai komposisi, dan mempunyai sturuktur dalam/kristal tertentu. Sedangkan bedanya dengan mineraloid ialah tidak mempunyai struktur dalam/kristal tertentu (amorf). Menurut W.T Huang (1962) komposisi mineral pembentuk batuan dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral, yaitu: I. MINERAL UTAMA (Essensial Mineral) Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukkan dalam penamaan batuan. mineral utama dapat dilihat dari deret bowen series(1928). Deret Bowen menggambarkan secara umum urutan kristalisasi suatu mineral sesuai dengan penurunan suhu [bagian kiri] dan perbedaan kandungan magma [bagian kanan], dengan asumsi dasar bahwa semua magma berasal dari magma induk yang bersifat basa. Bagan serial ini kemudian dibagi menjadi dua cabang; kontinyu dan diskontinyu.

Continuous branch [deret kontinyu]

Deret ini dibangun dari mineral feldspar plagioklas. Dalam deret kontinyu, mineral awal akan turut serta dalam pembentukan mineral selanjutnya. Dari bagan, plagioklas kaya kalsium akan terbentuk lebih dahulu, kemudian seiring penurunan suhu, plagioklas itu akan bereaksi dengan sisa larutan magma yang pada akhirnya membentuk plagioklas kaya sodium. Demikian seterusnya reaksi ini berlangsung hingga semua kalsium dan sodium habis dipergunakan. Karena mineral awal terus ikut bereaksi dan bereaksi, maka sangat sulit sekali ditemukan plagioklas kaya kalsium di alam bebas. Bila pendinginan terjadi terlalu cepat, akan terbentuk zooning pada plagioklas [plagioklas kaya kalsium dikelilingi plagioklas kaya sodium].

Discontinuous branch [deret diskontinyu]

Deret ini dibangun dari mineral ferro-magnesian sillicates. Dalam deret diskontinyu, satu mineral akan berubah menjadi mineral lain pada suhu tertentu dengan melakukan melakukan reaksi terhadap sisa larutan magma. Bowen menemukan bahwa pada suhu tertentu, akan terbentuk olivin, yang jika diteruskan akan bereaksi kemudian dengan sisa larutan magma, membentuk pyroxene. Jika pendinginan dlanjutkan, akan dikonversi ke pyroxene,dan kemudian biotite [sesuai skema]. Deret ini berakhir ketika biotite telah mengkristal, yang berarti semua besi dan magnesium dalam larutan magma telah habis dipergunakan untuk membentuk mineral. Bila pendinginan terjadi terlalu cepat dan mineral yang telah ada tidak sempat bereaksi seluruhnya dengan sisa magma, akan terbentuk rim [selubung] yang tersusun oleh mineral yang terbentuk setelahnya. Tulisan ini saya ambil dari http://apitnoparagon.wordpress.com/2010/01/21/deret-reaksi-bowen-bowens-reactionseries/. Berdasarkan warna mineral, dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu, I.I Mineral Felsik ( mineral-mineral berwarna terang )

Kelompok Plagioklas ( Anortit, bitownit, Labradorit, Andesin, oligoklas, Albit) kelompok Alkali Feldspar (ortoklas, Mikrolin, Anortoklas, Sanidin) Kelompok Feldspatoid (Leusit, Nefelin, Sodalit) Kuarsa Muskovit

Kelompok plagioklas dan kelompok alkali feldspar sering disebut kelompok feldspar. catatan : Tidak semua mineral felsik berwarna terang tetapi ada mineral felsik yang berwarna gelap yaitu, obsidian. Mineral yang berwarna terang disebabkan banyaknya kandungan SiO2 dan jarang mengandung Fe dan Mg I.2 Mineral Mafik (mineral yang berwarna gelap)

Olivin (Forsterite dan Fayalite) Piroksen, dibagi menjadi dua kelompok yaitu Orto Piroksen (Piroksen tegak) dan klino piroksen (piroksen miring). Orto piroksen antara lain; Enstatite dan Hypersten. Klino piroksen antara lain; Diopsit, Augit, Pigeonit, Aigirin, Spodemen, Jadeit. Amfibol (Hornblande, Labprobolit, Riebeokit, Glukofan) Biotit.

II. Mineral Tembahan ( Accessory Minerals) Adalah mineral-mineral yang terbentuk oleh kristalisasi magma, terdapat dalam jumlah yang sedikit (kurang dari 5%). kehadirannya tidak menentukan nama batuan. Contoh dari mineral tambahan ini antara laian : ZIRKON, MAGNESIT, HEMATIT, PYRIT, RUTIL APATIT, GARNET,SPHEN. III. Mineral Sekunder (Secondary Minerals) Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapukan, reaksi hidrotermal maupun hasil metamorfosisme terhadap mineral utama. contoh dari mineral sekunder antara lain; SERPENTIN, KALSIT, SERISIT, KALKOPIRIT, KAOLIN, KLORIT, PIRIT.