Anda di halaman 1dari 14

SEORANG WANITA DENGAN PENGLIHATAN MATA KANAN BURAM DAN MERAH KELOMPOK 5 030.08.

284 Muhammad Ikmal Bin Hazli 030.08.288 Nadirah Bt Roslan 030.08.038 Arie Reza 030.08.039 Arina M Sikana 030.08.043 Aryc Oktarian J 030.08.044 Aseptri Wijaya 030.08.045 Asti Meidianti 030.08.049 Ayu Ningtyas Nugroho 030.08.051 Ayuniza Harmayati 030.08.055 Bayu Aulia R 030.08.056 Bena Miralda 030.08.057 Benediktus Dhewa

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA, 31 MARET 2011 BAB I


1

PENDAHULUAN Glaukoma kini menjadi ancaman kebutaan nomor dua setelah katarak, dengan angka prevalensi 0,20 persen. Glaukoma biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Ada beberapa faktor risiko yang mempermudah terjadinya glaukoma. Di antaranya usia lanjut, mempunyai riwayat keluarga penderita glaukoma, rabun jauh (myopia), rabun dekat (hipermetropia), tekanan darah tinggi, ras kulit hitam, diabetes mellitus, dan adanya riwayat trauma mata. Glaukoma akut terjadi ketika sistem pengaliran cairan internal (humuor aquous) di mata tiba-tiba terhambat, yaitu hambatan sistem trabekula oleh iris. Hal ini terjadi akibat peninggian yang tibatiba dari tekanan bola mata sampai pada tingkat yang berbahaya. Mata menjadi sangat sakit dan penglihatan sangat kabur. Mata menjadi merah dan gejala mungkin sangat berat sampai menyebabkan mual dan muntah. Keadaan ini dapat membuat kerusakan permanen pada penglihatan apabila tidak diobati.

BAB II
2

LAPORAN KASUS Ny. X, wanita, umur 56 tahun, datang ke puskesmas tempat anda bertugas dengan keluhan penglihatan mata kanan buram. Selain buram mata kanan pasien juga merah. Anamnesis tambahan : Penglihatan mata kanan mendadak buram di rasakan pasien sejak 1 hari yang lalu saat pasien berada di dalam bioskop. Buram diserta mata merah dan nyeri. Nyeri menjalar ke kepala. Tidak ada keluhan pada mata kiri. Pasien sudah lama menggunakan kacamata untuk penglihatan jauh dengan ukuran kacamata kanan S + 3.5 D dan mata kiri S + 2.50 D. Ukuran kaca mata baca add S + 2.50 D. Saat ini kaca mata tersebut tidak membantu penglihatan mata kanan pasien. Riwayat pernah sakit mata yang sama disangkal pasien. Kontak dengan mata merah disangkal. Riwayat memakai lensa kontak disangkal. Riwayat trauma dan operasi mata disangkal. Ibu pasien menderita penyakit ang sama an menjadi buta.

BAB III PEMBAHASAN


3

ANAMNESIS Identitas : o Nama o Umur o Alamat o Pendidikan o Status pernikahan o Suku : Ny. X : 56 tahun ::::-

Keluhan utama Keluhan tambahan Riwayat penyakit sekarang

: Mata kanan buram dan merah : Nyeri pada mata kanan. Nyeri menjalar ke kepala. : Kontak dengan mata merah, pemakaian lensa kontak,

trauma, dan operasi mata disangkal. Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga buta Riwayat pengobatan : : Menyangkal pernah menderita penyakit yang sama. : Ibu pasien menderita penyakit yang sama dan menjadi

ANAMNESIS TAMBAHAN A. Riwayat penyakit sekarang o Apakah keluar air mata berlebih (hiperlakrimasi) pada mata kanan? o Apa ada keluhan lain seperti demam, mual dan muntah?
4

B. Riwayat kebiasaan o Bagaimana higienitas pasien? o Apa saja yang pasien konsumsi sehari-hari? C. Riwayat pengobatan : o Pengobatan apa saja yang sudah dilakukan untuk mengurangi gejala? (oral, tetes, salep)

PEMERIKSAAN FISIK PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan visus Pemeriksaan reaksi cahaya Pemeriksaan lapang pandang Pemeriksaan tonometri Pemeriksaan sudut COA

Mata merah dengan penurunan visus : 1. Keratitis 2. Iridosiklitis akut 3. Ulkus kornea 4. Endoftalmitis
5

5. Glaukoma akut Daftar masalah Mata kanan merah Penurunan visus Mata mendadak buram sejak 1 hari yang lalau saat berada di ruangan gelap Nyeri pada mata Nyeri alih Nyeri yang menjalar ke kepala Dasar masalah Hipotesis

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

Mata membutuhkan sejumlah tekanan tertentu agar dapat berfungsi baik. Pada beberapa orang, tekanan bola mata ini dapat meninggi sehingga akan menyebabkan kerusakan saraf optik. Dapat pula terjadi bahwa tekanan bola mata masih normal akan tetapi tetap terjadi kerusakan syaraf optik yang disebabkan karena syaraf optiknya sendiri yang sudah lemah. Glaukoma berasal dari bahasa Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaucoma. Kelainan mata glaucoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata, atrofi papil saraf optic, dan berkurangnya lapangan pandang. Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraocular ini disebabkan oleh bertambahnya produksi cairan mata oleh badan siliar dan berkurangnya pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil. Pada glaukoma akan terdapat melemahnya fungsi mata dengan terjadinya cacat lapangan pandang dan kerusakan anatomi berupa ekskavasi serta degenerasi papil saraf optik, yang dapat berakhir dengan kebutaan. Glaukoma akut terjadi ketika sistem pengaliran cairan internal (humuor aquous) di mata tiba-tiba terhambat, yaitu hambatan sistem trabekula oleh iris. Hal ini terjadi akibat peninggian yang tibatiba dari tekanan bola mata sampai pada tingkat yang berbahaya. Mata menjadi sangat sakit dan
7

penglihatan sangat kabur. Mata menjadi merah dan gejala mungkin sangat berat sampai menyebabkan mual dan muntah. Keadaan ini dapat membuat kerusakan permanen pada penglihatan apabila tidak diobati.

Insiden Penyakit Glaukoma Akut


Glaukoma kini menjadi ancaman kebutaan nomor dua setelah katarak, dengan angka prevalensi 0,20 persen. Glaukoma biasanya terjadi pada mereka yang berusia di atas 40 tahun. Ada beberapa faktor risiko yang mempermudah terjadinya glaukoma. Di antaranya usia lanjut, mempunyai riwayat keluarga penderita glaukoma, rabun jauh (myopia), rabun dekat (hipermetropia), tekanan darah tinggi, ras kulit hitam, diabetes mellitus, dan adanya riwayat trauma mata.

Etiopatogenesis Penyakit Glaukoma Akut


Korpus siliaris yang terletak dibelakang iris bertugas memproduksi cairan yang disebut humour aquous. Cairan ini akan mengalir menuju lubang pupil dan akan meninggalkan bola mata melalui saluran kecil menuju pembuluh darah. Normalnya antara produksi humour aquous dan aliran keluarnya adalah seimbang. Jika aliran keluarnya terhambat atau produksinya berlebihan, maka tekanan bola mata akan meninggi. Cairan mata yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir melalui pupil sehingga mendorong iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme blokede pupil).

Tekanan bola mata ini gunanya untuk membentuk bola mata. Kalau tekanannya normal, berarti bola mata itu terbentuk dengan baik. Kalau tekanannya terlalu tinggi, berarti bola mata itu menjadi keras seperti kelereng. Akibatnya, akan menekan saraf mata ke belakang dan menekan saraf papil N II dan serabut-serabut saraf N II. Saraf-saraf yang tertekan itu dan yang menekan saraf papil II ini terjadi penggaungan. Glaukoma terjadi ketika produksi dari cairan bola mata meningkat atau cairan bola mata tidak mengalir dengan sempurna sehingga tekanan bola mata tinggi, serabut-serabut saraf di dalam saraf mata menjadi terjepit dan mengalami kematian. Besarnya kerusakan tergantung pada besarnya dan lamanya tekanan, maupun buruknya aliran darah disaraf optik. Tekanan yang sangat tinggi akan menyebabkan kerusakan yang cepat, sedangkan tekanan yang tidak tinggi akan menyebabkan kerusakan yang perlahan-lahan dan akan menyebabkan kebutaan perlahan-lahan dan akan menyebabkan kebutaan perlahan-lahan pula apabila tidak segera ditangani.

Banyak dari serangan ini terjadi di dalam ruang yang gelap, seperti gedung bioskop. Hal ini disebabkan ruangan yang gelap menyebabkan pupil berdilatasi. Ketika hal ini terjadi, ada kontak yang maksimum antara lensa dan iris, yang selanjutnya menyebabkan menyempitnya sudut antara iris dan kornea, sehingga merangsang terjadinya serangan. Pupil juga membesar ketika kita senang atau cemas. Akibatnya banyak serangan glaukoma akut terjadi akibat suatu stress. Beberapa macam obat juga dapat menyebabkan pembesaran dari pupil sehingga dapat menyebabkan glaukoma. Obat-obat tersebut antara lain anti depressan, obat anti alergi, dan beberapa obat anti muntah.

Gejala Klinik Penyakit Glaukoma Akut


Tanda-tanda glaukoma sendiri, secara klinis tergantung dari jenis glaukomanya sendiri. Bilamana terjadi serangan akut atau subakut seperti yang dikeluhkan pasien tersebut di atas pertolongan harus segera diberikan dalam beberapa jam, karena tekanan bola mata yang tinggi akan menekan struktur anatomi mata yang lemah seperti saraf penglihatan (papil nervus optikus) dengan segala akibatnya. Ini yang hampir selalu tidak dimengerti oleh penderita dan dianggap seperti keluhan sakit mata merah biasa. Berikut beberapa gejala yang dikeluhkan pasien : Mata mendadak terasa nyeri dan merah. Kelopak mata bengkak.
10

Penglihatan terganggu bahkan sampai tidak dapat melihat. Terkadang disertai mual, muntah Terlihat gambaran pelangi sewaktu melihat bola lampu. Kerusakan pada saraf optik dapat terjadi dengan cepat dan menyebabkan gangguan penglihatan yang permanen. Bradikardi akibat refleks okulokardiak.

Diagnosis Penyakit Glaukoma Akut


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan mata yang dilakukan. Pemeriksaan mata dapat digunakan untuk mendiagnosis glaukoma. Bagaimanapun, memeriksa tekanan intraokuler saja (tonometry) adalah tidak cukup sebab tekanan bola mata sering berubah. Pemeriksaan ke dalam bola mata adalah dengan melihat melalui pupil, kadang pengguanaan obat tetes untuk dilatasi pupil diperlukan. Biasanya pemeriksaan mata yang lengkap diperlukan. Pemeriksaan tersebut meliputi: o Pemeriksaan refleks pupil Tampak pupil midilatasi, mengkerut, bahkan kadang irregular.

o Pemeriksaan tekanan intraocular dengan tonometry Terjadi peningkatan tekanan intraokuler. Dijelaskan bila tekanan bola mata sudah di atas 20 mmHg kemungkinan orang tersebut menderita glaukoma. Adakalanya orang tidak menyadari kalau salah satu dari matanya terkena glaukoma dan baru diketahui ketika kedua mata sudah terkena glaukoma. o Slit lamp Peninggian tekanan intraokuler sampai ke level yang tinggi menyebabkan edema epitel kornea, yang memberi gejala pada penglihatan. Selain itu juga dapat terlihat kongesti episklera dan pembuluh darah konjungtiva, juga BMD dangkal yang kadang memperlihatkan beberapa sel aquous juga kadang terlihat sinekia posterior.
11

o Pemeriksaan ketajaman penglihatan Tajam penglihatan sangat menurun dan pasien terlihat sakit berat.

o Pemeriksaan lapangan pandang Penglihatannya seperti melihat dari lubang kunci. Penglihatan sentralnya bisa melihat, tetapi pinggir-pinggirnya tidak dapat melihat.

o Pemeriksaan retina dan saraf optik Fungsi saraf mata normal umumnya akan meneruskan bayangan yang kita lihat ke otak. Di otak, bayangan tersebut akan bergabung di pusat penglihatan dan membentuk suatu benda (vision). Yang terjadi pada penderita glaukoma adalah kerusakan serabut saraf mata dan menyebabkan daerah tidak melihat (titik buta). Saraf optik dapat membengkak selama serangan akut.

o Gonioscopy Pemeriksaan rutin menggunakan gonioskopi dapat memprediksikan kemungkinan terjadinya serangan akut. Suatu lensa yang khusus yang berisi suatu cermin ditempatkan di depan mata dan lebar sudut dapat terlihat secara visual. Pasien dengan sudut yang sempit dapat diperingatkan tentang gejala awal penyakit ini, sehingga mereka dapat mencari perawatan yang segera bila tanda tersebut muncul.

Penanganan Penyakit Glaukoma Akut


12

Tujuan penanganan adalah untuk mengurangi tekanan intraokuler. Keadaan ini merupakan suatu kedaruratan medis. Apabila cepat didiagnosa dan cepat ditangani dengan tepat kemungkinan penglihatan dapat kembali membaik. Menunda-nunda pengobatan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan yang permanen. Suatu serangan yang akut dapat dihentikan melalui kombinasi obat tetes mata yang dapat mengurangi dilatasi pupil dan obat yang mampu mengurangi produksi humuor aquous. Tekanan harus dikurangi pada awalnya dengan mengurangi jumlah cairan yang diproduksi oleh mata. Hal ini dapat dilakukan dengan menyuntikkan Acetazolamide secara intravena. Obat tetes juga digunakan untuk mengurangi ukuran dari pupil. Agen antikolinergik misalnya pilocarpin 1-2% dapat menginduksi terjadinya miosis. Penggunaan miotikum kuat harus dihindari karena dapat menyebabkan kongesti vaskular yang dapat memperberat sumbatan aliran. Anastesi retrobulbar xilocain 2% dapat mengurangi produksi humour aquous selain mengurasngi rasa sakit. Hanya pembedahan yang dapat mengobati glaucoma akut kongestif. Tindakan pembedahan harus dilakukan pada mata dengan glaucoma sudut sempit karena serangan akan berulang lagi suatu saat. Bila baru terjadi gejala prodromal saja maka tindakan pembedahan cukup dengan iridektomi saja. Bila tekanan dalam bola mata telah turun dalam batas yang aman, maka dokter dapat melakukan suatu laser iridotomi. Laser iridotomy adalah suatu prosedur yang dilakukan dimana sinar laser digunakan untuk membuka iris. Hal Ini memungkinkan cairan aquous mengalir dengan bebas. Obat tetes akan digunakan untuk menganastesi mata, sehingga tidak terasa sakit. Prosedur ini secara keseluruhan membutuhkan waktu kurang dari tigapuluh menit. Penanganan tersebut biasanya berhasil menurunkan tekanan ke tingkat yang aman.namun karena serangan yang kuat ini telah mempengaruhi aliran aquous yang normal, maka pengunaan obat tetes jangka panjang kadang diperlukan. Pada umumnya operasi untuk mengurangi tekanan secara permanent sangat diperlukan, yaitu dengan membuat lubang terbuka kecil pada mata. Operasi ini disebut dengan trabekulektomi.
13

Prognosis Penyakit Glaukoma Akut


Perawatan dan diagnosa yang cepat dari suatu serangan adalah kunci untuk mempertahankan penglihatan. Mata yang tidak ditangani, memiliki kemungkinan 40-80% untuk mengalami serangan akut pada 5-10 tahun ke depan.

Pencegahan Penyakit Glaukoma Akut


Orang-Orang yang beresiko tinggi untuk glaukoma akut bisa memilih untuk melakukan iridotomy sebelumnya. Pasien yang mempunyai riwayat serangan akut sebelumnya bisa melakukan prosedur ini ubtuk mencegah kekambuhan.

14