Anda di halaman 1dari 3

Apendikular Abses a. Definisi Merupakan akibat lain dari perforasi. Teraba masa lunak di abdomen kanan bawah.

Seperti tersebut diatas karena perforasi terjadilah walling off (pembentukan dinding) oleh omentum atau viscera lainnya, sehingga terabalah massa (infiltrat) di regio abdomen kanan bawah tersebut. Masa mula-mula bisa berupa plegmon, kemudian berkembang menjadi rongga yang berisi pus. Dengan USG bisa dideteksi adanya bentukan abses ini. Untuk massa atau infiltrat ini, beberapa ahli menganjurkan antibiotika dulu, setelah 6 minggu kemudian dilakukan appendektomi. Hal ini untuk menghindari penyebaran infeksi. Abses apendikular adalah komplikasi apendisitis akut yang merupakan invasi usus besar oleh bakteri biasanya karena obstruksi. Abses apendikular adalah kumpulan nanah akibat perforasi atau pecahnya usus buntu akut meradang. Nanah tetap terlokalisasi dekat dengan usus buntu, karena adhesi dinding dibentuk oleh struktur perut sekitarnya. Ini mencegah kebocoran nanah dan infeksi menyebar ke seluruh rongga peritoneal. Ketika usus buntu menjadi meradang (usus buntu), komplikasi timbul jika infeksi ini tidak diobati segera. Pada beberapa pasien, usus buntu dapat menyebabkan gangren usus buntu. Dalam sebagian besar pasien kumparan usus dan omentum dalam rongga perut cenderung menutupi usus buntu meradang gangren. Ini membentuk suatu massa apendikular. Proses supuratif terus dalam massa apendikular dapat menyebabkan pembentukan abses. Pengembangan abses biasanya mengikuti pecahnya usus buntu dalam massa apendikular. Abses tetap dibatasi oleh dinding rongga yang dibentuk oleh gulungan meradang usus, usus buntu dan omentum dan biasanya terbentuk di perut kanan bawah. Tempat lain dari abses apendikular berada di panggul dan di belakang usus buntu. Beberapa pasien dengan apendisitis akut yang secara medis dikelola dengan antibiotik juga dapat kadang-kadang berkembang menjadi abses apendikular. b. Tanda dan Gejala Pasien dengan abses apendikular biasanya memiliki riwayat nyeri kolik hebat di perut kanan bawah (fossa iliaka kanan) dengan berawa lembut pembengkakan pada perut kanan bawah. Baca lebih lanjut tentang lokasi nyeri usus buntu . Sebuah demam tinggi dengan menggigil dan kerasnya juga hadir.Gejala lain mungkin termasuk muntah, sembelit atau kurang sering, diare. Pada pemeriksaan perut mungkin kaku dan bengkak bisa dirasakan.

Ada jenis lain dari abses di perut yang dapat menimbulkan gejala yang sama di lokasi yang diberikan. c. Diagnosis Diagnosis abses apendikular didasarkan pada gejala klinis, klinis dan penyelidikan. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. X-ray kadang-kadang dapat menunjukkan adanya abses meskipun USG dan CT scan lebih umum digunakan investigasi radiologi untuk mengkonfirmasi kehadiran abses dan untuk menilai ukuran abses. d. Pengobatan Pasien dengan abses kecil yang berada dalam kondisi baik dapat dikelola awalnya dengan antibiotik saja. Pasien yang menunjukkan tidak ada respon maka mungkin memerlukan drainase abses. Hal ini untuk menghindari risiko komplikasi yang berhubungan dengan menjahit dari sekum meradang. Pasien dengan abses yang lebih besar dari 4 cm dan demam tinggi biasanya diterapi dengan drainase abses. Drainase dapat dilakukan melalui rektum (transrectal), melalui vagina (transvaginal) atau melalui kulit (percutaneous) tergantung pada lokasi. Appendicular Abcess panggul dikeringkan secara transrectal atau transvaginal. Beberapa pasien mungkin memerlukan drainase bedah terbuka (laparotomi). Drainase abses didukung dengan terapi antibiotik. Antibiotik disesuaikan dengan spectrum yang digunakan dan dapat diberikan secara intravena. Drainase dilakukan dengan cara membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Abses dicapai secara ekstraperitoneal, bila apendiks mudah diambil, lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. Bila apendiks sukar dilepas, maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar, dan dikeluarkan lewat samping perut. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam, bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari, drain dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di Rectal Toucher. Manajemen yang buruk atau pecahnya Appendicular Abcess dapat menyebabkan lebih berbahaya yaitu terjadinya infeksi peritoneal umum (peritonitis).

Dapus : Lasson, Ake. Lundagads, Jan. Loren, Ingemar. Nilsson, Paul. 2002. Appendiceal abscesses: primary percutaneous drainage and selective interval appendicectomy. European Journal of Surgery. Prancis. Volume 168, Issue 5, pages 264269, August 2002