Anda di halaman 1dari 8

PERTEMUAN V

FORMULASI ANALISA ALIRAN DAYA


5.1 UMUM
Analisa aliran daya adalah penentuan atau perhitungan tegangan, arus, daya, dan factor
daya atau daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik dalam suatu jaringan listrik pada
keadaan pengoperasian normal, baik yang sedang berjalan maupun yang diharapkan
akan terjadi pada masa yang akan datang. Analisa aliran daya sangat penting dalam
perencanaan pengembangan suatu sistem untuk masa yang akan datang, karena
pengoperasian yang baik dari sistem tersebut banyak tergantung pada diketahuinya efek
interkoneksi dengan sistem tenaga yang lain, beban yang baru, stasiun pembangkit baru,
serta saluran transmisi baru, sebelum semuanya itu dipasang.
Sebelum komputer digital besar dikembangkan, analisa aliran daya dilakukan
pada papan hitung ac yang memberikan model berfasa tunggal dalam skala kecil dari
sistem yang sebenarnya, yaitu dengan saling menghubungkan beberapa elemen
rangkaian dan sumber tegangan. Pekerjaan melaksanakan hubungan, pengaturannya,
serta pembacaan data yang didapat sangat melelahkan dan memerlukan banyak waku.
Pada masa kini digital komputer dapat dengan cepat memberikan jawaban atas analiran
aliran daya untuk sistem yang kompleks sekalipun.
Para perencana sistem melibatkan dirinya dalam analisa sistem tenaga yang akan
ada dan diperlukan pada masa 3 tahun atau 5 tahun yang akan datang. Untuk
membangun sebuah pusat tenaga uap berkapasitas ratusan MW yang baru misalnya,
sejak dimulainya perencanaan hingga dialirkannya tenaga lewat saluran transmisi, akan
membutuhkan waktu lebih dari 5 tahun. Suatu perusahaan pembangkit tenaga jauh-jauh
sebelum memulai usahanya sudah harus mengetahui masalah-masalah yang
berhubungan dengan lokasi pusat itu dan cara pengaturan saluran-saluran transmisi yang
sebaik-baiknya untuk menyampaikan tenaga yang dihasilkan ke pusat-pusat beban yang
memerlukannya, yang mungkin sekali belum ada pada saat perencanaan sudah harus
dibuat. Pada pertemuan ini dan beberapa pertemuan ke depan akan dilakukan
pembahasan bagaimana analisa aliran daya dapat diselesaikan.
5.2 KLASIFIKASI REL
Setiap rel atau simpul dalam suatu sistem tenaga listrik seperti dapat dilihta pada gambar
5.1, terkait dengan 4 kuantiti yaitu:
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 25
a. Daya aktif
b. Daya reaktif
c. Magnitud tegangan
d. Sudut fasa tegangan
Gambar 5.1 Variabel yang ada pada rel
Dalam suatu analisa aliran daya, dua dari empat kuantiti tersebut terspesifikasi
(nilainya sudah diketahui) dan 2 lainnya yang perlu dicari melalui solusi dari persamaan
jaringan. Untuk menentukan kuantiti mana yang terspesifikasi, perlu dibuat kategorisasi
rel seperti berikut ini:
a. Rel beban. Pada rel ini, komponen daya aktif dan daya reaktif terspesifikasi. Magnitud
tegangan dan sudut fasa tegangan perlu dicari melalui solusi aliran daya. Pemilihan
daya aktif dan daya reaktif sebagai kuantiti yang terspesifikasi karena tegangan pada
rel beban diperbolehkan bergerak dalah kisaran tertentu misalnya 5% di atas dan di
bawah nominalnya. Juga sudut fasa tegangan tidak terlalu penting untuk beban.
b. Rel generator atau rel tegangan terkontrol. Pada rel ini, komponen magnitud tegangan
dan daya aktif terspesifikasi, sedangkan sudut fasa tegangan dan daya reaktif perlu
dicari. Pada rel generator, melalui pengaturan dengan menyetelan (setting) governor,
yakni torsi penggerak utama, maka suatu besaran tertentu dari daya aktif dapat
diinjeksikan ke dalam jaringan. Begitupula, melalui aksi regulator tegangan maka
tegangan pada terminal generator dapat dijaga dalam batas-batas tertentu
(terspesifikasi). Karena itu, suatu simpul dimana pembangkit terhubung akan terkait
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 26
dengan injeksi daya aktif konstan dan magnitud tegangan konstan.
c. Rel acuan (slack, swing). Pada rel ini, komponen magnitud tegangan dan sudut fasa
tegangan terspesifikasi, sedangkan daya aktif dan daya reaktif perlu dicari.
Penyebutan rel ini sebagai slack atau swing karena rel ini akan menyediakan
tambahan daya aktif dan daya rekatif untuk mensuplai rugi-rugi (losses) transmisi.
Klasifikasi rel yang dijelaskan di atas disimpulkan pada tabel 5.1
Tabel 5.1 Klasifikasi rel
Tipe rel Kuantiti terspesifikasi Kuantiti yang dicari
Rel beban P, Q V,
Rel generator P, V Q,
Rel acuan V, P, Q
5.3 PERSAMAAN ALIRAN DAYA
Untuk memudahkan dalam memahami permasalahan aliran daya, maka penjelasan
tentang aliran daya akan menggunakan suatu contoh sistem tenaga berukuran kecil
seperti dapat dilihat pada gambar 5.2, terdiri atas dua pusat pembangkit tenaga listrik
(generator), satu beban, tiga saluran transmisi, dan satu kapasitor statik yang
dihubungkan ke rel beban. Beberapa asumsi dibuat antara lain: pengabaian admitansi
shunt saluran, jeringan simetris dan beroperasi pada kondisi seimbang, frekuensi
konstan, dan yang dinginkan adalah solusi kondisi ajek (steady state).
Gambar 5.2 Jaringan untuk solusi aliran daya
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 27
Metode penyelesaian klasik permasalahan seperti ini dapat dicapai dengan
menerapkan hukum Kirchhoff dan dapat menggunakan bentuk arus jala-jala atau metode
tegangan simpul. Namun demikian, metode tegangan simpul cocok diterapkan pada
permasalahan sistem tenaga karena semua tegangan simpul diekspresikan dengan
mengacu pada simpul netral dan juga generator dan beban (konsumen) menginjeksi atau
menyerap arus pada simpul-simpul sistem.
Penerapan metode tegangan simpul kepada jaringan tiga simpul umum memberikan
persamaan klasik sebagai berikut:
3 33 2 32 1 31 3
3 23 2 22 1 21 2
3 13 2 12 1 11 1
V Y V Y V Y I
V Y V Y V Y I
V Y V Y V Y I
+ +
+ +
+ +
, (5.1)
atau dapat ditulis secara singkat atau berbentuk matrik sebagai berikut:
[ ] [ ][ ] V Y I (5.2)
Untuk jaringan khusus seperti pada gambar 5.2, persamaan (5.1) akan berbentuk
sebagai berikut:
3
23 13
2
23
1
31
3
3
23
2
23 12
1
12
2
3
31
2
12
1
31 12
1
1 1 1 1 1
1 1 1 1
1 1 1 1
V
X Z Z
V
Z
V
Z
I
V
Z
V
Z Z
V
Z
I
V
Z
V
Z
V
Z Z
I
c

,
_

+ + +

,
_

+ +

,
_

+
(5.3)
Perlu ducatat bahwa semua elemen admitansi bersama bertanda negatif dan semua
arus injeksi bertanda positif tetapi arus yang diserap (oleh beban) bertanda negatif.
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dalam suatu jaringan tenaga listrik, kuantiti
yang ditimbang adalah daya aktif dan daya reaktif, bukan arus, karena yang ditransfer
dari pembangkit (generator) ke beban (konsumen) adalah P dan Q, dan pada saat yang
sama tegangan-tegangan di jaringan (sistem) tenaga harus dijaga supaya tetap pada
batas-batas yang seharusnya. Pada persamaan (1.3), dan disini akan ditulis kembali
bahwa daya kompleks dinyatakan oleh persamaan:
S = V I* = P + jQ
atau:
*

,
_

V
jQ P
I (5.4)
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 28
Dengan demikian, persamaan (5.1) dapat dibuat menjadi:
3 33 2 32 1 31
*
3
3 3
3 23 2 22 1 21
*
2
2 2
3 13 2 12 1 11
*
1
1 1
V Y V Y V Y
V
jQ P
V Y V Y V Y
V
jQ P
V Y V Y V Y
V
jQ P
+ +

,
_

+
+ +

,
_

+
+ +

,
_

+

(5.5)
Pada setiap simpul (rel) terdapat 4 variabel yaitu: daya aktif dan reakti, serta
magnitud dan sudut fasa tegangan. Untuk sistem dengan 3 rel, maka akan terdapat 12
variabel, namun persamaan (5.5) yang berbentuk kompleks hanya menyediakan 6
persamaan yang diperoleh dengan memisahkan bagian rel dan bagian imajiner. Oleh
karena itu, menjadi keharusan untuk menurunkan jumlah variabel yang tidak diketahui
dari 12 menjadi 6 variabel supaya sepadan dengan jumlah persamaan. Hal ini dapat
dibuat dengan mengaitkan jenis-jenis rel yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada rel
generator, P dan V merupakan variabel yang diketahui, sedangkan Q dan merupakan
variabel tidak diketahui. Pada rel beban, kebutuhan konsumen dapat diperkirakan
dengan baik dan karena itu P dan Q menjadi variabel yang diketahui, sedangkan V dan
menjadi variabel yang tidak diketahui. Tentunya daya aktif dan daya reaktif pada semua
rel tidak dapat diketahui (dispesifikasi) karena ini akan berarti bahwa rugi-rugi sistem telah
diketahu sebelumnya (hal tidak memungkinkan secara matematik). Karena itu, salah satu
dari rel generator harus menjadi rel acuan, dimana pada rel ini V dan sebagai variabel
diketahui (V biasanya diambil 1 dan diambil 0), sedangkan P dan Q sebagai variabel
yang tidak diketahui.
Pengaruh formulasi yang dijelaskan di atas adalah mereduksi 1 (satu) persamaan
simultan yang seharusnya diselesaikan. Katakanlah rel 1 pada gambar 5.2 dijadikan
sebagai rel acuan dimana V1 dan 1 terspesifikasi. Hanya persamaan kedua dan ketiga
dari persamaan (5.5) Yng perlu diselesaikan secara simultan untuk menentukan 4
variable yang tidak diketahui yaitu: Q2, 2, V3, dan 3. Setelah nilai ke 4 variabel tersebut
diperoleh, kemudian persamaan pertama pada persamaan (5.5) dievaluasi untuk
memperoleh P1 dan Q1, yaitu daya kompleks pada rel acuan. Jika pada rel ke n
tersambung pembangkit dengan indeks g, dan beban dengan indeks l, maka daya aktif
pada rel tersebut adalah Pg-Pl. Solusi dari permasalahan aliran daya akan menghasilkan
data reaktif Qn untuk rel ini, dan daya reaktif generator kemudian diberikan oleh Qg=Qn-Ql.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 29
5.4 SOLUSI PERSAMAAN ALIRAN DAYA
Bila diperhatikan secara saksama, maka persamaan (5.5) merupakan peremaan dalam
bentuk nonlinier, artinya persamaan ini mengandung perkalian-perkalian dari kuantiti yang
tidak diketahui. Solusi analitik untuk persamaan seperti ini mungkin sangat sulit atau
biasanya malah tidak memungkinkan diperolehnya suatu solusi. Hal ini tidak perlu
menjadi halangan, karena dengan bantuan komputer digital, solusi numerik dapat
digunakan.
Solusi seperti yang dijelaskan di atas merupakan sifat iterasi, yaitu diawali dengan
penetapan perkiraan informal dari nilai variabel yang tidak diketahui, kemudian
persamaan diselasaikan, selanjutnya nilai yang lebih baik dari variabel yang tidak
diketahui dapat ditentukan. Prosedur ini dihentikan ketika perbaikan kecil dari variabel
yang tidak diketahui sudah diperoleh pada iterasi yang berurutan. Ratusan bahkan
mungkin ribuan makalah telah diterbitkan pada berbagai jurnal teknik yang mengusulkan
berbagai teknik atau metode luarbiasa untuk memperoleh solusi dari permaslahan aliran
daya.
Disini (kuliah mendatang), hanya 2 metode yang akan dijelaskan. Metode pertama
didasarkan pada algoritma Gauss-Seidel. Metode ini sangat sederhana, dan mudah
dimengerti dan diprogram. Pada awal perkembangan analisa aliran daya, banyak
program didasarkan pada algoritma ini.
Yang kedua didasarkan pada metode Newton-Raphson. Metode ini merupakan
teknik yang luarbiasa karena kecepatannya dalam mencapai konvergensi karena hanya
memerlukan beberapa iterasi. Tetapi sayangnya, metode ini sangat sulit dimengerti dan
diprogram. Walaupun demikian, metode ini telah digunakan secara ekstensif karena
keutamaan karakteristiknya.
Data yang perlu disiapkan untuk suatu sistem dengan N buah rel adalah sebagia
berikut:
a. Impedansi antara simpul-simpul dan admitansi ke tanah.
b. Daya aktif yang dibangkitkan oleh pembangkit atau yang dikonsumsi oleh beban pada
semua rel selain rel acuan.
c. Daya reaktif yang dikonsumsi pada semua rel beban.
d. Magnitud tegangan pada semua rel tegangan terkontrol.
e. Magnitud dan sudut fasa tegangan pada satu rel (rel acuan) pada sistem atau
jaringan.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 30
5.5 PERMASALAHAN ALIRAN DAYA
Metode Gauss-Seidel dan Newton-Raphson akan diterapkan pada solusi sistem tenaga
seperti pada gambar 5.2. Sistem yang dianalisa termasuk sederhana, karena itu semua
langkah-langkah dalam solusi akan ditunjukkan. Penyelesaian yang disajikan
menggunakan kalkulator kantong. Sebagai latihan, mahasiswa haris mengembangkan
solusi untuk beberapa iterasi lagi. Untuk sistem yang lebih kompleks yaitu sistem yang
mempunyai lebih dari 4 rel, penggunaan kalkulator kantong akan menghabiskan waktu
saja dan suatu program seharusnya ditulis sesuai dengan flow chart yang diberikan pada
pertemuan-pertemuan berikutnya.
5.5.1 Persiapan Data
Data rel (pembangkit/generator, dan beban) dan saluran untuk sistem tenaga listrik pada
gambar 5.2 disajikan pada tabel 5.2 dan tabel 5.3. Sedangkan pada tabel 5.4 dapat dilihat
data input dan variabel-variabel yang tidak diketahui (yang perlu dicari melalui solusi
aliran daya).
Tabel 5.2 Data rel untuk sistem pada gambar 5.2
Rel Jenis V Pg Qg Pl Ql
pu der. pu pu pu pu
1 Swing 1,1 0 - - 0 0
2 Tegangan terkontrol 1,08 - 0,6355 - 0 0
3 Beban - - 0 0 1,5343 0,9659
Tabel 5.3 Data saluran untuk sistem pada gambar 5.2
Saluran Dari rel Ke rel R (pu) X (pu)
1 1 2 0,09 0,33
2 2 3 0,02 0,15
3 1 3 0,05 0,25
4 3 Ke tanah 0 -10
Tabel 5.3 Data input dan variabel-variabel yang tidak diketahui
Rel Data input Variabel yang tidak diketahui
1 V1 = 1,1; 1 = 0 P1, Q1
2 V2 = 1,08; P2 = 0,6355 Q2, 2
3 P3 = -1,5343; Q3 = -0,9659 V3, 3
5.5.2 Matriks Admitansi
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 31
Urutan selanjutnya dalam analisa aliran daya adalah penentuan elemen-elemen matriks
admitansi yang dapat dilakuakn dengan mengacu pada persamaan (5.3) sebagai berikut:
8205 , 2 7692 , 0
7449 , 74 3420 , 0
1
33 , 0 09 , 0
1 1
12
12
j
j Z
Y +


+

65502 , 6 8734 , 0
6901 , 78 2549 , 0
1
15 , 0 02 , 0
1 1
23
23
j
j Z
Y +


+

8461 , 3 7692 , 0
6901 , 78 2549 , 0
1
25 , 0 05 , 0
1 1
13
13
j
j Z
Y +


+

6513 , 6 5385 , 1
13 12 11
j Y Y Y
3707 , 9 6426 , 1
23 21 22
j Y Y Y
3964 , 10 6426 , 1 1 , 0
10
1
32 31 32 31 33
j j Y Y
j
Y Y Y +

+
Dengan demikan, suatu matriks admitansi Y dapat ditulis sebagai berikut:
1
1
1
]
1

+ +
+
+

3964 , 10 6426 , 1 5502 , 6 8734 , 0 8461 , 3 7692 , 0


5502 , 6 8734 , 0 3707 , 9 6426 , 1 8205 , 2 7692 , 0
8461 , 3 7692 , 0 8205 , 2 7692 , 0 6523 , 6 5385 , 1
j j
j j j
j j j
Y


PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Dr. Ir. Hamzah Hillal M.Sc
ANALISA SISTEM TENAGA LISTRIK II 32