Anda di halaman 1dari 12

Edisi 357 9 September 2013

Sekapur Sirih, Cerita Musim Panas, Halaman 2 Sikap, Wajah Masisir Baru, Halaman 3 Laporan Utama, LPJ PPMI Diterima Tanpa Syarat, Halaman 4 Komentar Peristiwa, Pesan Masisir untuk Birrul, Halaman 5

Pesan dari Masisir Untuk Birrul


Amrizal Batubara dan Sifrul Akhyar didaulat menjadi pemimpin di PPMI untuk satu tahun ke depan. Berbagai suara pun disampaikan kepada mereka.
Simak Komentar Peristiwa hal 5

Wawancara, Sifrul: Tantangan Berat Kita adalah Menyatukan Masisir, Halaman 6-7 Sasrta, Berapa Tahun?, Halaman 8 Sketsa, Mesir, Halaman 9 Opini, Egoisme Evakuasi, Halaman 10 Opini, Rancunya Pendidikan Indonesia, Halaman 11

Selamat Membaca! Santai dan penting dibaca Tajam tanpa melukai Kritis tanpa menelanjangi

TROBOSAN ADVERTISING

Media ini dikelola oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia sebagai media informasi, opini dan komunikasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Redaksi menerima tulisan dari pelbagai pihak dan berhak mengeditnya tanpa menghilangkan makna dan tujuan.

Sekapur Sirih
hingga kenaikan harga bahan makanan pun menjadi alasan yang logis untuk tetap mendesak evakuasi. Namun ternyata isunya sekarang mulai berubah menjadi kritikan terhadap Duta Besar Nurfaizi Suwandi. Sebagian pihak menjadikan momen ini sebagai waktu yang pas untuk mengeluarkan unek-uneknya. Di dalam grup Mendesak Evakuasi Jilid II beberapa hari lalu terlihat ada akun yang menyebarkan sebuah fanpage yang berjudul Boikot Dubes Nurfaizi Suwandi yang entah siapa yang membuatnya. Kecurigaan kami tertuju pada beberapa akun palsu di jejaring sosial yang sepertinya memang berniat untuk memperburuk suasana. Tidak sedikit akunakun palsu di jejaring sosial yang dibuat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang kemudian melemparkan isu lalu bersembunyi di balik akun tersebut. Akun-akun palsu itu jelas telah mencoreng nama Masisir secara keseluruhan. Dunia mahasiswa yang seharusnya diisi oleh ide-ide segar dan pembaruan ternyata dikotori oleh oknumoknum yang kerdil dan tidak bertanggungjawab. Semoga musim panas yang paling panas ini segera berakhir, dan kita bisa mengambil pelajaran dari masa-masa krisis ini. []

Cerita Musim Panas


Selamat kami ucapkan kepada pasangan Amrizal Batubara dan Sifrul Akhyar yang mendapatkan kepercayaan dari Masisir untuk memegang amanat menjadi pemimpin di PPMI untuk satu tahun ke depan. Tak lupa juga kami ucapkan selamat kepada para pimpinan MPA dan BPA yang baru saja dilantik bersama dengan pelantikan presiden PPMI. Kami berharap semoga jalannya roda organisasi PPMI lebih lancar dan lebih baik dari sebelumnya. Pemakzulan terhadap Presiden Mursi pada tangga 3 Juli lalu mengejutkan Mesir dan Dunia, tak luput juga Masisir yang berada di dalamnya. Sejak saat itu, liburan musim panas kali ini memiliki cerita yang berbeda dari liburan tahuntahun sebelumnya. Kisruh politik di Mesir kali ini mau tidak mau kembali menguras pikiran kita. Bahkan jika krisis saat 2011 lalu Masisir tidak terlalu memperdulikan siapa yang pantas untuk memimpin Mesir, krisis kali ini lebih menguras pikiran Masisir karena tubuh Masisir pun sekarang terpecah kepada dua kubu yang tak akan bisa disatukan lagi. Berbagai kegiatan yang telah direncanakan sejak jauh hari pun terkendala dan terpaksa diundur, bahkan dibatalkan. Pemilu raya, sidang LPJ PPMI, pergantian pengurus kekeluargaan, hingga rencana rekreasi pun terganggu.

Liburan kali ini pun akhirnya diisi dengan perdebatan-perdebatan yang tak pernah usai. Di beranda jejaring sosial facebook tak pernah habis kita melihat perdebatan antara pro dan kontra Presiden Mursi. Di grup PPMI pun berulang kali terjadi perdebatan karena beberapa berita yang menjatuhkan karakter Syeikh Azhar yang dimuat oleh beberapa situs informasi di Indonesia. Perdebatan ini masih berlangsung hingga kini. Idul fitri yang menjadi ajang untuk bermaafan kemarin pun seolah hanya menjadi formalitas untuk sekedar menuliskan kata Mohon maaf di akun facebook, namun tak lama kemudian perdebatan itu pun kembali dimulai. Gaung evakuasi pun masih terus diusahakan oleh beberapa pihak. Meski bapak Presiden SBY sudah menyatakan tidak akan memulangkan pelajar Indonesia dari Mesir sesuai dengan pernyataan dari Grand Syeikh Ahmad Thayyib, namun wacana evakuasi ini masih terus didengungkan. Segala macam kejadian yang terjadi di sekitar Masisir pun kemudian dihubunghubungkan dengan kata Evakuasi WNI secepatnya! Pemboman terhadap kediaman Menteri Dalam Negeri Mesir, pemberlakuan jam malam, pemeriksaan yang dilakukan terhadap beberapa rumah,

Express Copy
Menerima segala jenis fotokopi Mahatthah Mutsallas, Hay `Asyir Building 102 Sweesry. Hp: 01001726484

Terbit perdana pada 21 Oktober 1990 . Pendiri: Syarifuddin Abdullah, Tabrani Sabirin. Pemimpin Umum: Tsabit Qodami. Pemimpin Redaksi: Fahmi Hasan Nugroho. Pemimpin Perusahaan: Erika Nadarul Khoir. Dewan Redaksi: Abdul Majid, M. Hadi Bakri. Reportase: A. Ainul Yaqien, M. Zainuddin, Dirga Zabrian, Luthfiatul Fuadah Al Hasan, Ainun Mardiah, Heni Septianingsih. Editor: Zulfahani Hasyim. Pembantu Umum: Keluarga TROBOSAN. Alamat Redaksi: Indonesian Hostel-302 Floor 04, 08 el-Wahran St. Rabea el-Adawea, Nasr City Cairo-Egypt. Telepon: 22609228, E-mail: terobosanmasisir@yahoo.com. Facebook : Terobosan Masisir. Untuk pemasangan iklan, pengaduan atau berlangganan silakan menghubungi nomor telepon : 01159319878 (Tsabit), 01122217176 (Fahmi), 01148433704 (Erika)

02

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

Sikap

Wajah Masisir Baru


Masisir sudah mempunyai para pemimpin baru. Beberapa hari yang lalu wajah baru para pemimpin resmi disandingkan di muka umum. Keadaan Mesir yang terus bergejolak sempat menunda pergantian. Namun kini wajah baru sudah nampak ke permukaan publik Masisir. Lalu siapakah para pemilik wajah baru tersebut? Biasanya yang dikenal di Masisir ini hanyalah presiden dan wakil presiden eksekutif (DPP PPMI). Padahal tidak demikian. Sebagai penganut sistem trias politika, Masisir mempunyai tiga atasan pemangku kebijakan. Mereka adalah DPP PPMI, BPA dan MPA. Jadi jangan salah pahami jikalau Masisir hanya dipimpin badan eksekutif, DPP PPMI saja. Masih ada dua pilar pemimpin Masisir lainnya yaitu MPA dan BPA. BPA sendiri berfungsi sebagai lembaga legislatif pembuat udang-undang. Sebagai pembuat undang-undang BPA harus mengetahui keadaan Masisir secara personal maupun kelembagaan organisasi. Dalam artian BPA harus mengetahui kenyataan lapangan. Dalam tulisan ini kami hendak menyampaikan masukan kepada BPA selaku pembuat undang-undang Masisir. Jika melihat undang-undang, nampaknya banyak yang harus ditilik kembali. Maka cara yang baik untuk melihat kenyataan adalah turun ke peradaban Masisir untuk melihat lapangan. Jangan sampai undang-undang ada namun tidak dilaksanakan. Ini bisa berakibat fatal. Jangan sampai undang-undang hidup tetapi tanpa nyawa! Pilar kedua yaitu DPP PPMI yang berfungsi sebagai badan eksekutif yang menjadi kepala pemerintahan Masisir. Tugasnya melaksanakan undang-undang yang dibuat oleh BPA. Saat kampanye pasangan Birrul berkoar tentang blusukan. Itu pastinya menjadi harapan Masisir mengingat banyak hal yang perlu dibenahi di Masisir ini. Tidak hanya sebatas undang-undang organisasinya saja, namun banyak hal lainnya. Sebagai eksekutif tentunya DPP PPMI memiliki andil besar dalam menentukan nasib Masisir . Pilar yang terkahir yaitu MPA. Fungsi selmbaga ini adalah penegakkan hukum. Sebagai lembaga yudisial, MPA wajib bersikap tegas mengawasi gerak-gerik elemen di Masisir. Akhir-akhir ini tidak banyak sepak terjang MPA yang kita rasakan kecuali dalam sidang saja. Padahal banyak sekali keluhan dan kenyataan lapangan yang melanggar undang-undang. Semoga MPA tahun ini segera mengepakkan sayapnya! Setelah membicarakan atasan, ada baiknya kita membahas keadaan Masisir secara umum. Ini karena sering kita mendengar keluhan tentang Masisir yang banyak apati terhadap PPMI. Jika beberapa tahun lalu Masisir sering berdebat keras di dalam sidang, akhir-akhir ini malah sebaliknya. Sidang selalu sepi, bahkan tidak pernah mencapai kuorum. Hal ini memberi artian kepada kita bahwa Masisir sedang lesu secara kelembagaan. Tapi bagaimana kehidupan Masisir dalam kesehariannya? Ini dia yang terkadang membuat kita batan lahir dari pelempar isu dengan akun palsu? Ada beberapa kemungkinan mengapa akun palsu banyak bermunculan di jejaring dunia maya Masisir. Pertama, pengelola akun palsu memiliki kepentingan. Entah apa kepentingannya kita mungkin susah berspekulasi. Yang jelas, kepentingan dalam bentuk isu yang diarahkan ke Masisir sangat merugikan komunitas kita. Kedua, pola berpikir sebagian Masisir masih belum dewasa. Alasannya, bagi mereka yang berpikir dewasa tentunya tidak akan tertarik membuat akun abal-abal. Kalau saja semua Masisir mau berpikir jauh tentang bahaya akun palsu semacam itu, pastinya Masisir akan damai dan lebih memusatkan perhatian untuk membangun peradabannya. Pada dasarnya akun yang tidak menamplikan sosok asli pemiliknya itu sah-sah saja. Selama akun tidak mengacaukan opini publik pasti tidak merugikan banyak pihak. Namun tidak demikian dengan akun yang beredar di Masisir ini. Jadi Masisir yang hampir mayoritasnya hidup di dunia maya banyak dirugikan. Lagi-lagi harus membicarakan pembenahan. Namun jangan sampai bosan karena letak inti kehidupan memanglah di sini (pembenahan). Karena kita diciptakan untuk membuat perubahan, maka sudah menjadi kewajiban untuk kita melaksanakan titah-Nya. Pantaslah bagi Masisir untuk berharap karena sudah disuguhi wajah-wajah pemimpun baru. Namun jangan jauh berharap jika Masisir sendiri tidak mau bersuara untuk berbenah. Kita sebagai penghuni komunitas mahasiswa tentu tidak mutlak harus selalu disibukkan untuk berorganisasi. Sebagai pelajar masih punya tugas belajar, di kampus atau di ruang pembelajaran lain. Hanya saja, tidak lantas pula meninggalkan organisasi seratus persen. Karena pada kenyataannya masih banyak kebutuhan Masisir yang dilimpahkan ke organisasi. Ada baiknya organisasi berjalan dengan baik, serta rakyatnya bersikap sama pula. Jadi, mari bersama-sama bersikap dewasalah! []

bingung. Akhir-akhir ini jika kita melihat Masisir di dalam sidang selalu sepi, namun di dunia maya terutamanya di grup jejaring sosial PPMI sering ramai perdebatan. Baik itu perdebatan politik Mesir, politik Masisir , soal keamanan, pro-kontra evakuasi dan isuisu lainnya. Memang seharusnya perdebatan yang hangat tersebut tidak menjadi masalah bagi kita. Malah seharusnya kita senang dengan susana dialog yang ada di lingkungan PPMI, meskipun baru sebatas di dunia maya. Hanya saja, mengapa banyak sekali perde-

Rubrik Sikap adalah editorial buletin TROBOSAN. Ditulis oleh tim redaksi TROBOSAN dan mewakili suara resmi dari TROBOSAN terhadap suatu perkara. Tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab redaksi.

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

03

Laporan Utama

LPJ PPMI Diterima Tanpa Syarat


29Agustus 2013 kemarin akhirnya DPP PPMI masa bakti 2012-2013 resmi melepas jabatan setelah mengalami dua kali penundaan jadwal LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban). Penundaan ini disebabkan dua hal, pertama tak lain karena keputusan MPA yang ingin mengadakan sidang umum pada bulan Ramadhan bertentangan dengan kesepakatan Masisir sebelumnya. MPA PPMI sempat salah langkah karena pada awalnya sudah menentukan sidang pada bulan Ramadhan. Namun akhirnya mereka meralat keputusan tersebut dengan memindahkan agenda pada pertengahan Agustus lalu. Namun rencana sidang harus kembali tertunda karena pada tanggal 14 Agustus kerusuhan politik Mesir meledak. Pada akhirnya agenda sidang baru bisa terlaksana pada tanggal 29 Agustus kemarin di gedung Konsuler. Berbagai kegiatan yang meliputi Pemilu Raya dan sidang umum dipusatkan di gedung Konsuler. Keputusan ini didasari alasan keamanan yang tidak memungkinkan. Terlebih Wisma Nusantara yang biasanya menjadi pusat kegiatan PPMI dinilai tidak layak menjadi pusat kegiatan PPMI karena dekat dengan salah satu pusat kerusuhan. Setelah pihak PPMI mengadakan koordinasi dan dengan KBRI, akhirnya mereka memutuskan pemusatan kegiatan PPMI di gedung Konsuler. Sidang umum I ini dihadiri oleh semua pimpinan MPA terlantik, kecuali Amrizal Batubara yang sudah mengundurkan diri karena maju ke bursa pencalonan presiden PPMI. Sidang mundur dari jadwal dan baru dimulai selepas zuhur karena menunggu kedatangan peserta sidang. Sampai sidang dibuka ternyata peserta belum memenuhi kuorum. Namun demikian sidang akhirnya dibuka dengan dimulai pembahasan tata tertib sambil menunggu kedatangan peserta lain. Pada pembahasan ini Wahyuddin, selaku peserta sidang mempertanyakan pihak MPA karena tidak sempat melaksanakan sidang istimewa. Pihak MPA menanggapi dengan beralasan kondisi keamanan Mesir yang tidak kondusif. Selain itu masalah internal yaitu kekurangan SDM karena para pimpinan MPA pulang ke Indonesia menjadi kendala tersendiri bagi mereka, sehingga keadaan ini memaksa MPA untuk membatalkan agenda yang sudah niatkan. Setelah pembahasan tata tertib, presidium sepakat sidang diskorsing selama sepuluh menit.Sambil menunggu jeda skorsing, peserta dipersilahkan pimpinan sidang untuk membentuk fraksi. Pada saat itu peserta berjumlah sekitar lima puluh satu orang dan membentuk delapan fraksi. Delapan fraksi tersebut adalah: Garuda, Purai, Wihdah, Suq Sayarat, Sayonara, Mutsallats dan terakhir Indo-Mesir. Setelah terbentuk, akhirnya sidang kembali dibuka dan fraksi disahkan tepat pukul 14.00 CLT. Sidang pun dilanjutkan dengan penyampaian LPJ Kabinet Bersama dan Bersatu yang dipimpin oleh Jamil. Selain itu, Delfa (selaku Wapres), Izdiyan (selaku Sekjen), Eko Wahyu (selaku Bendahara) ikut mendampingi duduk di meja LPJ.DPP PPMI diberikan waktu untuk LPJ selama 45 menit dan selanjutnya dilanjutkan dengan sesi tanggapan fraksi. Fraksi yang pertama menanggapi adalah fraksi RX King. Fraksi ini diwakili oleh Muhaimin dan Wahyuddin. Mereka mempertanyakan PPMI efektifitas acara yang banyak diadakan pada akhir masa jabatan dan perihal wujud saldo PPMI. Pada akhir tanggapan, RX King mengklaim DPP PPMI tahun ini sukses karena hampir semua kegiatan mereka terlaksana dengan baik. Selanjutnya giliran Fraksi Garuda yang diwakili oleh Nanang dan Muhith. Fraksi ini mengapresiasi semua kegiatan PPMI yang mereka anggap efektif dengan keadaan Masisir setahun belakangan ini. Selain tanggapan positif itu mereka juga menyampaikan kekurangan PPMI, yaitu minimnya Turba. PPMI dianggap kurang turun ke bawah (kekeluargaan) untuk bersilaturrahim dan bertukar pendapat bersama kekeluargaan. Namun demikian mereka menganggap kegiatan PPMI yang berupa pendidikan, olahraga, seni-budaya bagus dan berhasil terlaksana dengan baik. Fraksi ketiga yang maju bernama Sayonara. Hanafis dan Arzil yang maju mewakili Sayonara mengatakan dengan tegas kinerja PPMI tidak memuaskan. Apalagi dengan banyak munculnya akun abal-abal jejaring sosial yang meresahkan Masisir. Halaqah Ilmiyah juga mereka sorot karena ternyata ada pihak peserta yang mengaku tidak menerima sertifikat sebagaimana panitia menjanjikannya. Website PPMI pun mereka anggap tidak maksimal, bahkan mereka menganggap website milik organisasi kekeluargaan lebih baik daripada milik PPMI. Mereka juga mengusulkan agar PPMI mengadakan suvei untuk mengetahui pandangan publik Masisir akan kinerja PPMI. Namun demikian, pada akhirn-

ya mereka memberikan apresiasi terhadap acara Coffee Break yang dianggap menyatukan Nusantara Masisir. Selanjutnya, Fraksi Suq Sayarat yang diwakili oleh Abdul Ghafur dan Yusron maju menyampaikan suara mereka terkait kinerja PPMI. Suq Sayarat menganggap DPP PPMI berhasil dan sukses karena program terlaksananya dianggap berkualitas. Diantara alasannya adalah dengan melihat kegiatan terlaksana semisal Hari Kebersamaan Masisir, Indonesian Games, Halaqah Ilmiyah dan hubungan organisasi lain dianggap cukup baik. Barulah pertanyaan muncul di akhir pembicaraan mengenai kartu PPMI yang sampai saat ini belum dibagikan kepada anggota angkatan baru, Gaza. Setelah sebelumnya suara hanya keluar dari kaum adam, akhirnya Fraksi Wihdah yang diwakili oleh Nurul Chasanah dan Tsaqofina Hanifah menyampaikan aspirasi mereka. Wihdah menganggap PPMI sudah bekerja dengan baik. Hal ini bisa dilihat dari berbagaia aspek. Diantaranya adalah: tercipatanya suasana dialogis yang baik, kedekatan PPMI dengan ketua-ketua kekeluargaan, manajemen keuangan yang baik serta PPMI telah berhasil mengkader Masisir dengan mengadakan kegiatan bersamaangkatan Gaza. Lalu, mereka mempertanyakan perihal surat-menyurat (keluar-masuk surat) yang dianggap belum rapi. Selain itu mereka juga menyarankan agar Presiden PPMI sebaiknya menggunakan pulsa langganan selama setahun karena Fraksi ini menganggap lebih murah daripada harga pulsa reguler. Setelah Wihdah, tibalah suara muncul dari Fraksi Mutsallats yang diwakili oleh Muhyidin dan Bakri. Mustallats mengatakan bahwa PPMI kali ini sungguh luar biasa karena banyak memperhatikan elemen organisasi lain di Masisir semisal Senat dan kekeluargaan. Selain itu kedekatan PPMI dengan instansi al-Azhar juga menjadi tambahan
Bersambung ke hal 7...

04

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

Komentar Peristiwa

Pesan Masisir Untuk Birrul


Rasa penasaran Masisir terhadap siapa yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan di Masisir terjawab sudah. Setelah penghitungan suara yang mendebarkan dan sempat dihiasi dengan sedikit ketegangan, akhirnya pasangan Amrizal Batubara dan Sifrul Akhyar didaulat untuk menjadi pemimpin PPMI dengan perbedaan suara yang signifikan, 260 suara dari pasangan Duo Ramadhan. Dan pada 1 September kemarin mereka pun dilantik dalam Sidan Umum I MPA PPMI yang dihadiri oleh perwakilan dari tiap-tiap organisasi di Masisir dan diadakan di kantor Konsuler. Sebagaimana mestinya, pasangan presiden PPMI baru pastilah menjadi tumpuan harapan Masisir terhadap masa depan PPMI selanjutnya, maka tidak heran banyak sekali harapan dan pesan yang diucapkan oleh Masisir baik secara langsung maupun tidak langsung kepada mereka. Dan untuk kali ini, Terobosan berniat untuk mengumpulkan beberapa pesan dari Masisir kepada Birrul yang akan mengemban amanat selama satu tahun kedepan. Tsaqofina Hanifah, Ketua WIHDAH PPMI. Selamat memimpin nahkoda PPMI ke depan, menjadi pioner yang baik bagi Masisir, menanggapi saran, kritikan membangun anggota-anggotanya, bijak dalam mengambil langkah dan keputusan. Ingatlah saudaraku, Amanah kalian cukup berat, tapi dengan kebulatan tekad, keikhlasan, semangat yg berkobar di jiwa raga kalian dan dengan selalu berada dijalanNya, semoga Allah meridloi dan mempermudah urusan-urusan itu. (Amin). Muhammad Syukron, Mantan Wakil Presiden PPMI Periode 2011-2012 Semoga dengan pemimpin baru membawa warna dan suasana baru di lingkungan Masisir dan bisa membawa Masisir untuk lebih INDAH lagi serta mengemban amanah dengan sebaik-baiknya. Amiiin Ramlan Indra Jaya, Mantan Pimpinan MPA PPMI Periode 2012-2013 Mensosialisasikan program kerja PPMI sekalipun di RAPBO sudah dilakukan dan mensingkronkan program/agenda PPMI dengan berbagai elemen masisir : Kekeluargaan, Ormas Masisir, Afiliatif, Almamater sehingga tidak terkesan bertabrakan dengan agenda PPMI...Solusi dengan mengadakan konsolidasi intra dengan Elemen-elemen tersebut atau mensolisasikan program tersebut melalui media/FB bila diperlukan. PPMI harus punya karakter moderat, artinya tanpa mengindahkan sebagian golongan. Dan itu salah satu jargon Birrul ketika mencalonkan menjadi Capres & Cawapres PPMI 2013-2014. Saya pikir ini akan ditagih oleh masisir dan harus terealisasikan, sehingga dengan langkah tersebut PPMI bisa merangkul semua elemen Masisir. Berdiri diatas dan untuk semua golongan. Saya pribadi melihat ada beberapa point yang menjadi titik temu Masisir yang mungkin menjadi solusi: dengan mengadakan Temu Tokoh/ Dialog Interaktif, Seni Budaya, Olaraga, Budaya Talaqih/Diskusi. Nah, bagaimana kemudian hal ini kemudian disiasati sehingga bisa mendorong Masisir dari sisi akademis. Karena pada hakekatnya titik temu seperti inilah yang kita harapkan, karena ini merupakan dinamika intelektual dimana proses ini benar-benar mengedepankan maslahat kita sebagai mahasiswa. PPMI Harus peka terhadap perkembangan Masisir dan harus bertindak atau bersikap tegas ketika ada hal yang bersinggungan dengan Masisir, kemudian disosialisasikan sikap tersebut dengan berbagai elemenelemen yang ada di masisir atau melalui media Online Fardan Satrio Semoga dapat menjalankan amanah, sebagai pimpinan para duta bangsa di bumi kinanah ini. PPMI memiliki tugas sebagai mediator untuk menjalin hubungan antar elemen -elemen yang ada dalam tubuh Masisir untuk senantiasa dapat bersinergi mewujudkan harapan agar Masisir lebih progresif dan aktif. Mediator disini memili dua pola , baik secara vertikal maupun horizontal. Secara vertikal, PPMI mencoba menjembatani atau menjadi mediasi antara warganya dengan pihak-pihak yang berbagai pihak baik KBRI,Kampus, dan juga Instasi-instasi yang berkaitan dengan kehidupan Masisir. Maupun secara horizontal, antar kekeluargaan dan afiliatif serta personalia. Harapan kami, PPMI ke depan lebih dapat mendekatkan warganya terhadap dunia perkuliahan, geliat kajian maupun pengajian, karena aktifitas yang bersifat pengembangan lebih dititikberatkan pada masing-masing individu. Ahmad Hujaj Nurrahim. Beberapa kawan pelajar Indonesia ingin mengusulkan kepada Syaikh al-Azhar untuk membuka kembali Ruwak Jawy/serambi Jawa di masjid al-Azhar. Dahulu yang dikenal orang Jawa oleh alAzhar adalah pelajar dari Nusantara, Melayu dan Pattani, lebih gampangnya pelajar dari Asia Tenggara. Menurut saya ini positif, karena antusias pelajar Indonesia untuk talaqqi di masjid alAzhar semakin meningkat. Apalagi setelah pelajar dari Thailand dan Malaysia pulang kampung, masjid al-Azhar seolah dikuasai oleh pelajar dari Indonesia. Tepatnya saya tidak tahu, apakah rencana ini perlu melibatkan PPMI atau tidak. Namun jika ini berhasil, wajah PPMI dihadapan Syaikh al-Azhar akan semakin bersinar. Nantinya Ruwak Jawy akan menjadi tempat kajian dan kegiatan keilmuan pelajar dari Indonesia khususnya, dan Asia Tenggara pada umumnya. Tergantung kepada kebijakan Syaikh al-Azhar, Ruwak itu tetap bernama Ruwak Jawy atau diganti menjadi Ruwak Nusantara. Kurniawan Saputra Semoga mampu membawa Masisir menjadi lebih azhary. Romal Mujaddedi Ahda Jadilah pasangan Masisir yg azhari dan meng-azharikan Masisir. Toton Fathoni Agar Lebih Meningkatkan stabilitas keamanan untuk para masisir, menimbang tindak kriminal yang makin tak terbendung. Hendaklah selalu mengayomi dengan cara sering terjun langsung mencari permasalahn dalam lingkup kemasisiran. Menjalin kerjasama dengan lembaga2 pemberi beasiswa, baik dari dalam maupun luar demi kemudahan studi bagi para pelajar yg kurng mampu dan juga yang berprestasi. Bekerjasama membuka jalan kemudahan bagi para Masisir dalam pengurusan studi, baik di azhar maupun selain azhar (umum). Agar menjadi jembatan yg baik bagi para masisir untuk menyampaikan segala bentuk aspirasi kepada pihak atasan yaitu KBRI dan juga atase pendidikan". Mujadid Ramli "Harapan terbesar, adalah terjalinnya komunikasi dan silaturahim antara masisir dalam keberagamannya, serta menumbuhkan kembali rasa peduli keamanan sesama masisir" Irvan Juliansyah "Jangan janji doang, kerjanya juga harus nyata" Dhiyaul Haq "Melaksanakan kegiatan secara proporsional antara yang akademik dan non akademik" Jafar Sadiq "Agar lebih mendekatkan Masisir, sang presiden dan wakilnya tidak hanya terlihat ketika ada acara formal tapi warga Masisir tidak mendapatkanya di keseharian. Make your leadership like Jokowi for Masisir" [] Fahmi.

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

05

Wawancara

Sifrul: Tantangan berat kita adalah menyatukan Masisir


Di mata anda, apa itu PPMI? PPMI adalah Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Apakah ada pandangan lain mengenai PPMI? Yang jelas, salah satu fungsi PPMI adalah sebagai penyambung lidah antar elemen2, misalnya KBRI. Inilah yang kapasitasnya tidak bisa sepenuhnya dilakukan oleh organisasi organisasi selain PPMI. Yang kedua, PPMI adalah representasi masisir, oleh karenanya seperti saat kampanye lalu, salah satu misi kita adalah independen. Kita perlu independen karena itu adalah wajah dari masisir. Jadi ketika berinteraksi dengan pihak luar, kita bisa mengatasnamakan masisir seluruhnya, bukan hanya satu atau dua kelompok tertentu. Seperti motto yang kemarin kita usung, masisir yang progresif, dinamis dan independen. Mengapa memilih independen? Karena dinamika itu heterogen. Plural. Kita bermacam-macam suku daerah, almamater, afiliatif dsb. Secara pribadi, wajar -wajar saja saya mengatasnamakan diri KSW karena saya warga KSW. Namun ketika duduk di PPMI saya tidak bisa menyimpulkan saya KSW, tapi harus mengatasnamakan masisir seluruhnya. Begitu pula dengan almamater dsb. Kita menampung semua aspirasi teman teman lalu menyuarakan keluar. Mengapa ingin menjadi wapres PPMI? Apa motivasinya? Saya tidak maju atau mengajukan diri. Pada awalnya isu bahwa teman-teman ingin mengajukan saya sebagai cawapres mulai berkembang ketika saya masih menjadi pemred Informatika. Saya anggap itu sebagai lelucon dari teman-teman. Singat cerita, menjelang pemilihan, saya ditelpon oleh Batubara (untuk menjadi cawapres) lalu kami putuskan untuk ngobrol seputar hal ini di Wisma. Dan saya sedikit menolak. Pertanyaan yang pertamakali saya ajukan kepada Batubara adalah, mengapa anda memilih saya (sebagai cawapres)? setelah beberapa kali berdiskusi di beberapa tempat, singkat cerita saya meminta diberi waktu 3 hari untuk istikhoroh, konsultasi dengan senior dan teman-teman. Akhirnya setelah 3 hari berkonsultasi dengan senior dan teman2, mereka semua mendukung. Walaupun beberapa orang mendukung dengan beberapa catatan khusus. Tidak ingin mengecewakan mereka, akhirnya -bismillah- saya putuskan untuk maju. Dan alhamdulillah akhirnya seperti sekarang (terpilih). Apa tantangan terbesar bagi PPMI saat ini? Melihat kondisi Mesir saat ini, yang jelas suhu perpolitikan Mesir sedang memanas. PPMI jelas harus punya sikap. Sedangkan sikap masisir banyak berbeda. Kita harus arif dan bijak mengambil sikap sebagai instansi induk. Ini tantangan sendiri bagi sebuah komunitas yang internalnya sendiri mengalami perbedaan. Intinya tantangan berat kita adalah menyatukan masisir itu sendiri. Bagaimana solusi atas tantangan tersebut? PPMI tidak boleh masuk ke dalam masalah itu sendiri. Artinya, kita cukup di permukaan saja, melihat sejauh mana perbedaan itu (di kalangan masisir). Saat ini yang tengah kita jalankan adalah berinteraksi langsung, dengan bersilaturrahim satu persatu. Kita minta pandangan mereka besrta solusinya. Mayoritas yang kita ajak diskusi bisa menerima perbedaan tersebut Cuma, tidak ada wadah untuk menampungnya. Sementara facebook, twitter (jejaring sosial) itu adalah media yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita menyandarkan pada sosial media, itu tidak objektif karena banyak akun -akun anonim yang banyak berkembang dan cukup memperkeruh suasana. Bagi yang menggunakan akun asli mereka cukup toleran dan saya kira, masisir tidak sebrutal itu dengan menyatakan bahwa ini salah itu salah dsb. Saya kira hanya ada satu dua (oknum) yang ingin memperkeruh suasana. Ini yang harus kita persempit. Menurut anda, orientasi masisir saat ini ke arah mana? Saya setuju dengan tulisan Pak Jamil di Suara PPMI bahwa masisir ini paling tidak terbagi menjadi 3. Pertama, muqoqoris atau akademis. Mereka berkutat dengan muqoror, rajin kuliah dan ngaji di al Azhar. Orientasi mereka jelas, yaitu menuntut ilmu. Yang kedua, organisatoris. Mereka banyak berkutat dengan organisasi -organisasi di masisir, seperti kegiatan-kegiatan yang baik itu menunjang akademis maupun sekedar ekstra. Yang ketiga adalah bisnis. Yang ini adalah bagi mahasiswa yang sedang memperjuangkan tingkat ekonominya untuk kehidupan mereka di sini. Saya tidak menyalahkan atau membenarkan salah satunya, yang jelas, orang yang berkutat di organisasi tidak sepenuhnya acuh tak acuh terhadap akademis. Mereka juga sibuk dengan akademis, namun porsinya terbagi (lebih besar ke organisasi). Begitu pula dengan bisnis, saya kira ini bukan unsur kesengajaan, tapi mungkin juga karena unsur keterpaksaan. Jadi masing-masing tidak bisa dipandang sebelah mata. karena masing -masing memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda. Bidang apa yang menjadi prioritas untuk dikerjakan? Seperti yang sering dikatakan Batubara saat kampanye, kita akan lebih pada sisi akademis. Artinya progam yang akan diselenggarakan lebih menunjang pada sisi akademis. Salah satunya adalah kita akan merumuskan standar kualifikasi untuk mahasiswa. Kita tidak bisa menyatakan mahasiswa itu gagal atau berhasil tanpa adanya standar. Oleh karenanya kita akan buat kuallifikasi, misalnya mahasiswa tingkat satu itu harus bisa apa, begitu juga tingkat dua dan seterusnya. Ketika sudah kita dapatkan formula tersebut, bisa kita follow up satu persatu. Meskipun tidak semuanya, misalkan tingkat empat harus menguasai mawaris, maka akan kita coba adakan seminar tentang mawaris dan sebagainya. Memantau jalannya sidang LPJ yg selama ini digelar, sistem SGS terlihat kurang maksimal. Bagaimana anda menyikapinya? Maksimal atau tidak maksimal sistem SGS ini berbeda di kalangan masisir. Ada yang bilang SGS itu kurang efektif, tapi ada juga yang bilang sistem ini sudah efektif. Artinya, hal ini perlu kita kaji ulang, perlu rekonstruksi lagi. Apakah sistem ini masih cocok atau tidak. Tidak hanya itu, jika memang kurang cocok, kita harus merumuskan sistem apa yang lebih cocok. Misalnya kembali seperti dulu, PPMI menjadi central dan tidak ada BPA serta MPA agar birokrasinya tidak rumit. Tapi untuk ke depan memang perlu kita kaji lagi. Apa yang akan anda lakukan terhadap rival anda? Ketika pertama kali terpilih saya menelpon saudara Muttaqin dan saudara Agung. Saya sampaikan permintaan maaf, terima kasih dan sebagainya. Yang jelas akan terus kita tuntut untuk

bekerjasama, dan itu sudah bagian dari kesepakatan sejak masa kampanye untuk selalu bekerjasama. Kerjasama itu tidak hanya dalam ben-

Doc: Facebook.com/sifrul.akhyar

06

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

Wawancara
tuk kabinet atau tidak, yang jelas dari luar maupun dalam kita bisa saling bekerjasama. Sedangkan kabinet sendiri masih kita musyawarahkan dengan berbagai kekeluargaan. Saat ini kita sedang dalam tahap meminta delegasi 2 orang dari tiap kekeluargaan. Setelah mendapatkan berbagai nama, baru nanti kita saring satu persatu dengan bantuaan beberapa senior. Bisa jadi termasuk dalam nama-nama tersebut teman teman (rival) kemarin. Saat dialog capres cawapres, anda bilang akan ada program blusukan? Maksud dari blusukan itu adalah kita lebih ingin mendekatkan diri kepada masisir. Dalam hal ini kita adakan program silaturrahim ke setiap kekeluargaan dan afiliatif. Konsolidasi dan sebagainya. Dan itu sudah kita lakukan ke KMJ, teman-teman di Hussein, Gamajatim. Tidak harus resmi, namun kita akan lebih sering berinteraksi dengan mereka untuk konsolidasi tentang PPMI itu sendiri. Seperti menjemput bola, artinya kami ingin PPMI tidak menjadi sebuah organisasi yang eksklusif dan eksekutif. PPMI adalah organisasi yang pro rakyat, merakyat. Jika rakyat tidak bisa ke pemerintahan, maka pemerintahanlah yang turun ke bawah. Bukan berarti PPMI sebagai atasan dan masisir sebagai bawahan, namun kita semua sama. PPMI hanya sebagai pelaksana saja. Apa pesan anda kepada masisir secara keseluruhan? Pertama, agar menyatukan ukhuwah. Itu yang masih perlu kita maksimalkan. Dengan menjaga etika berkomunikasi, baik langsung ataupun tidak langsung. Misalnya dalam sosial media dan sebagainya. Untuk mengutamakan akhlaq dan adab. Ketika kita mengkritik alangkah baiknyauntuk langsung kepada orangnya untuk tabayun, klarifikasi. Jangan langsung diposting, yang hal itu bisa berujung fitnah. Dalam beretika, hal ini sangat penting terlebih kita sebagai mahasiswa. Saya sendiri merasa paling tidak suka dengan orang suka menghujat tanpa bisa berkontribusi atau paling tidak menawarkan solusi. Misalnya dalam masalah evakuasi. Sebelum saya menjabat sebagai wapres, saya mencoba secara langsung menyampaikan masukan secara tertulis kepada wakil presiden dan ketua Wihdah untuk solusi masalah evakuasi dsb. Ini yang saya harapkan dari masisir, agar lebih cerdas dan bertanggungjawab dalam menyuarakan aspirasinya. Kedua, saya ingin menciptakan masisir yang progresif. Artinya lebih suka bergerak. Baik dalam bidang kajian, kuliah, organisasi. Tidak hanya diam. Mari kita tingkatkan dunia menulis masisir, olahraga, kita geliatkan lagi kajian masisir, kita PPMI sangat terbuka untuk bisa membantu. Seperti misi kita, harmonis dan dinamis. Harmonis untuk ukhuwah, progresif bergerak, dan independen. Karena masisir berbeda -beda, khususnya dalam masalah ideologi. Maka sebaiknya kita tidak memaksakan kehendak, namun lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara. Karena dengan banyak berbicara itu hanya akan memperkeruh suasana. Namun saya kira masisir sudah cukup bagus sekarang. [] Heni, Ainun.

penilaian di atas. Barulah setelah itu kritikan dari Mustallats muncul, di antaranya mereka menganggap PPMI kurang perhatian akan Buletin Suara PPMI, asrama Indonesia yang sedang dibangun dan DKKM kurang maksimal. Selain itu mereka menganggap banyak kegiatan kaget PPMI yang dilaksanakan, atau acara yang insidentil. Mustallats juga mengeluhkan PPMI yang kurang memperhatikan mahasiswa yang rasib. Fraksi selanjutnya yang menyampaikan suara adalah Kurai. Fraksi ini diwakili oleh Mohammad Syukron dan Jasri Waldi. Pada awalnya mereka menyampaikan apresiasi terhadap PPMI, terutamanya mengenai kedekatan PPMI dengan al-Azhar juga dengan acara-acaranya yang dianggap berhasil. Mereka menanyakan PPMI yang mengaku kurang SDM, padahal Masisir sendiri kaya akan SDM. Meskipun PPMI yang sebelumnya dianggap oleh Fraksi lain banyak mengadakan acara di bidang keilmuan, namun Kurai menganggap acara penunjang akademik masih minim. Hal ini terlihat dari minimnya tingkat kenajahan pada tahun 2013. Selanjutnya mereka mempertanyakan mengenai subsidi dana yang dikeluarkan untuk lembaga semisal BPA. Pada akhir tanggapan, Kurai menganggap PPMI kurang merespon isu politik yang terjadi di Mesir ini. Fraksi Indo-Mesir merupakan Fraksi terakhir yang muncul. Mereka mempertanyakan dewan redaksi buletin Suara PPMI yang dianggap tidak jelas. Selain itu mereka menanyakan bukti tanda terima serah terima jabatan dari bendahara lama ke yang baru. Indo Mesir menanyakan terkait publikasi kegiatan PPMI yang dianggap kurang maksimal. Sum-

bangan umum yang tertera di LPJ PPMI juga dipertanyakan kronologinya.Begitulah tanggapan yang muncul dari Fraksi peserta sidang umum II. Setelah sesi tanggapan dari para Fraksi, tibalah saatnya DPP PPMI menjawab pertanyaan. Menanggapi perntanyaan RX King, bendahara PPM mengatakan uang saldo dan tanda serah terima jabatan ada di tangan mereka. Menanggapi Sayonara terkait akun abal abal, PPMI menyatakan sudah merespon dengan mengeluarkan surat sikap PPMI. Sedangkan mengenai kartu PPMI sebenarnya PPMI sudah mengurus dan sudah naik cetak. Hanya saja pihak percetakan terkait kemalingan mesin percetakannya. Jadi PPMI menyampaikan permintaan kemakluman hadirin sidang. Adapaun mengenai pulsa langganan (sanawi) yang disarankan Wihdah, PPMI mengira pulsa tersebut lebih mahal dari pulsa reguler dengan kisaran plus 50 pound. Adapun tanggapan mengenai Suara PPMI, pihak DPP menyatakan rasa syukurnya karena meskipun banyak kendala namun akhirnya bisa cetak enam kali. Jumlah tersebut mereka klaim hampir memenuhi target dengan jumlah delapan terbitan. Mengenai perkembangan asrama, Jamil mengatakan sudah ada bangunan asrama, hanya saja masih mencari dana tambahan. Selanjutnya terkait DKKM, PPMI hanya bisa mengeluarkan himbauan. Mereka menganggap tidak bijak jika seandainya DKKM mengadakan ronda keliling sedangkan keadaan keamanan tidak memungkinkan. Sedangkan mengenai tanggapan kegiatan

yang dianggap Mustallats banyak kegiatan kaget, PPMI menjawab bahwa kegiatan diukur dengan RAPBO. Selama acara insidental itu untuk kemaslahatan umat, maka mereka menganggap tidak apa-apa untuk diadakan. Dari pertanyaan Fraksi Kurai PPMI menjawab bahwa sudah ada koordinasi dengan Senat, seperti try out. Memfungsikan senat mereka anggap penting agar bisa menjadikan organisasi berjalan sebagaimana tujuannya. Sedangkan tentang masalah data mahasiswa yang rasib tahun 2013, itu bukan di bawah kinerja Kabinet Bersama dan Bersatu. Namun itu terkait dengan PPMI sebelumnya karena lapor pendidikan yang tertera pada Desember 2012 adalah hasil dari usaha Masisir pada tahun sebelumnya. Terkait tanggapan isu Mesir, PPMI menyatakan sudah mengeluarkan sikap kecaman terhadap pembantaian berdarah. Namun terkait isu politik, PPMI mengikuti jalur sikap KBRI supaya tidak membahayakan WNI. Adapun mengenai Fushul Taqwiyah yang tidak ada dalam kegiatan tahun ini adalah karena PPMI menggantinya dengan kegiatan semisal, yaitu Halaqah Ilmiyah. Begitulah kurang lebihnya tanggapan dari para Fraksi terhadap LJP PPMI. Saat itu presidium sepakat untuk tidak menerima standar penilaian (semisal: mumtaz, jayyid jiddan, jayyid, maqbul). Forum hanya menyepakati LPJ untuk diterima atau ditolak. Dari pantauan kami, semua tujuh Fraksi di atas menerima LPJ dan tanpa mengajukan syarat sama sekali. Dengan demikian LPJ Kabinet Bersama dan Bersatu diterima tanpa syarat oleh presidium. [] Tsabit

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

07

Sastra

Berapa Tahun?
Oleh: Nashrullah*
Dalam beberapa minggu terakhir ini, para duta bangsa di asrama buust mendapat berkah dari langit. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja ada sinyal internet (Wi -Fi) di samping gedung tempat tinggalku. Dan ajaibnya lagi, tidak dibutuhkan kode untuk mengaisnya. Tanpa ada aba-aba apapun dan dari siapapun, segera saja berita itu menyebar ke seluruh penjuru asrama. Bagi mereka yang termasuk pemuda masa kini (jamak dari miskin = enggak punya modem), mungkin ini adalah salah satu berita paling menggembirakan sepanjang hidupnya. Dalam beberapa hari ini saja, puluhan manusia dari berbagai Negara yang tinggal di buust, berduyun duyun memanfaatkan berkah itu secara bergantian, tertib. Jumlahnya bisa mencapai belasan dalam setiap harinya, termasuk aku. Namun sayang seribu sayang, entah siapa yang mengadukan kebahagiaan para pelajar tersebut, hingga beberapa hari terakhir ini, walaupun sinyal itu masih ada, tapi harus menggunakan kode khusus untuk menghubungkannya dengan laptop kami. Masalah! Aku sudah tidak bisa lagi berFesBuk ria secara gratis. Ya sudahlah, takdir Tuhan untuk hamba-Nya selalu yang terbaik, husnuzhan-ku. Dengan berat hati, aku kemudian berencana membeli modem sendiri ke gerai pusat Vodafone. Ahmad sebagai teman setia bersedia menemaniku, sekaligus dia juga mau membeli kartu internet, karena sudah punya modem sejak kedatangannya di Mesir. Pada hari yang telah direncanakan, kami pun berangkat bersama. Sesampainya di gerai Vodafone, aku dan ahmad langsung menemui petugas atau satpam yang berjaga di depan tempat nomor antrian. Setelah bertanya-tanya sebentar tentang bagaimana prosedur yang harus kami jalani nantinya, kami kemudian dipersilahkan duduk di tempat antrian. Beberapa menit berselang, nomor antrian kami terdengar nyaring di telinga, kami pun bergegas menuju customer service. Selamat sore dan selamat datang di gerai Vodafone! Ada yang bisa kami bantu? ucap customer service berbasa-basi telat, karena kami sudah datang puluhan menit yang lalu. Ampyuuun! Mereka menggunakan bahasa amiyah. Duh! Baru muqaddimah saja kami harus dibuat geleng-geleng tak paham. Bahkan bahasa pak satpam tadi lebih bagus dan lebih bisa dimengerti. Kami yang hanya paham suwayya bass, berusaha memahami dari konteks kalimat dan gerakan isyarat yang selalu muncul sebagaimana gaya orang Mesir berbicara pada umumnya. Sempat khawatir akan terjadi kesalahpahaman. Tapi, seperti kata Gus Mus, aku harus bagaimana?, hanya itu yang bisa kami lakukan. Sore juga, kami mau beli modem Vodafone berikut kartunya yang dua puluh lima pound saja, jawabku, fusha. Dalam hatiku berdoa, semoga tidak dibalas dengan shadaqallahulazhim sebagaimana nasib mereka yang berbicara fusha dengan orang Mesir. Alhamdulillah doaku terkabul secara langsung. Mungkin karena aku berada di gerai Vodafone, jadi sinyalnya kuat. Mereka menjawab dengan sopan, khas salesman. Huu, modus! Oke, tunggu sebentar ya, pintanya. Kemudian dia memproses modem yang sebentar lagi akan menjadi milikku. Ha..ha..ha.. Sejurus kemudian, kami melakukan ijab kabul modem untuk menjadi milikku secara sah. Dia kemudian menjelaskan banyak bagaimana nanti aturan penggunaan barang kecil nan ajaib itu. Sebenarnya sih, banyak tak pahamnya. Tapi daripada urusan ribet, kami mengiyakan saja apa yang petugas katakan. Aiwah! Aiwah, itu yang berulangkali mereka dengar dari kami. Sekarang giliran Ahmad yang melakukan transaksi. Namun, karena bahasa yang menjadi pengantar adalah amiyah, sepertinya terjadi banyak kesalahpahaman. Transaksi tampaknya gagal terlaksana. Akhirnya kami berniat pulang dengan tangan hampa sebelah. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Belum sempat keluar, kami menjumpai sosok berwajah asia yang tampak sedang asyik melihat-lihat pernak-pernik souvenir yang dipajang di bagian depan counter. Dan dari pengakuannya kami ketahui kemudian, bahwa dia dari Jawa. Klop, lah. Kita semua satu ras, Cak! Hatiku bersorak kegirangan. Kami kemudian mengutarakan maksud hati kami ingin membeli kartu internet. Syukurlah, dia bersedia membantu memuluskan niat kami. Salam, Ya sayyidi, ucap kawan kami. Alaikassalam, ada perlu apa? balasnya. Ini temanku mau beli kartu internet, dia sudah punya modem, jawab si kawan. Dengan asyik aku perhatikan obrolan mereka berdua, amiyah. Oh, jadi dia sudah punya modem? Tanya petugas lagi. Ho-oh, dia pengen kartunya saja, sekali lagi si kawan menegaskan. Petugas kemudian memproses kartu tersebut. Sambil menunggu proses jadinya kartu, aku berbasa-basi dengan sang kawan. Wah, jawanya mana tadz? tanyaku. Madiun, jawab dia singkat. Lhoalah, tetangga sendiri. Aku Ponorogo tadz, jawabku sedikit sok akrab. Di sini tinggal di mana? lanjutku. Di Asyir. Ustaaaadz, nggak nanya balik?? Hehe.., celoteh hatiku, basi. Hmm, udah berapa tahun di Mesir? tanyaku lagi laiknya wartawan. Si kawan tampak kikuk ditanya soal tahun. Berapa tahun ya..? udah lupa. Hehe, jawab dia sekenanya. Ada sesuatu yang tampak ditutup-tutupi. Udah jago ya bahasa amiyahnya, mantap! kataku pura-pura kagum, sambil mengacungkan dua jempolku. Teman ngobrolku ini malah tampak lebih kikuk lagi. Ah, enggak, biasa aja, jawabnya merendah. Aku mulai menangkap gelagat tak biasa darinya. Sesaat, kami pun terkurung dalam diam. Aku melirik ahmad, wajahnya tampak sedikit mengkerut. Ini udah kan? tanyanya tiba-tiba. Aku yang terlanjur kehabisan barang basi, hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. Ya udah, kalau gitu saya mau balik dulu ya, pungkasnya kemudian dan mengakhiri pertemuan itu dengan salam. Ok, tadz. Makasih banyak ya udah bantu, waalaikumsalam, jawabku. Kami pun berpisah. Aku dan Ahmad kemudian menunggu petugas yang sibuk mengurus kartu. Tampaknya sebentar lagi segera selesai. Lain kali jangan tanya berapa tahun, kalau emang pengen tahu, tanya aja udah lama tinggal di sini? Itu juga kalau pengen tahu, lagian juga ngapain sih pengen tahu yang begituan? Penting ya? tiba-tiba Ahmad membuyarkan diamku, atau lebih tepatnya, protes. Hehe, iya ya. Tapi udah terlanjur mau gimana?Jawabku asal. Kasihan tuh, dia tersinggung kayaknya, lanjut dia. Aku baru ngeh pas dia jawab tadi. Sudahlah, Cuma nge-test teori aja kok, kilahku membela diri. Cuma mau nge-test benar apa enggak penyataan Pak Hasan waktu di Indonesia. Pak Hasan adalah alumni AlAzhar, seorang guru yang dekat dengan kami. Waktu itu beliau bilang kalau pertanyaan berapa tahun udah bukan barang tabu lagi saat ini, karena sistem seleksi Al-Azhar yang sekarang katanya lebih ketat, otomatis kualitasnya lebih bagus. Nyatanya tetap aja pertanyaan itu masih enggak enak di telinga kita. Berarti teori itu enggak sepenuhnya benar, tukasku mengakhiri, setengah merasa berdosa. Ahmad hanya diam. Pertanyaan sudah berapa tahun? memang pertanyaan yang kurang lazim diutara-

08

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

Sketsa

Mesir
Oleh: Ahmad Ramdani*
Republik Arab Mesir, yang lebih akrab kita kenal dengan sebutan Mesir atau bumi kinanah adalah salah satu Negara yang banyak di dalamnya tinggal warga Negara asing, entah itu pelajar, pekerja dan yang lainlainnya. Indonesia adalah salah satu dari banyaknya warga Negara asing di Mesir dan saya adalah salah satu dari dari begitu banyaknya warga Negara Indonesia di Mesir. Tepat pada tanggal 25 September 2012 saya menginjakkan kaki di bumi kinanah ini buminya para pencari ilmu, ilmu agama maupun umum juga tempat yang penuh dengan sejarah, juga orang-orang hebat didalamnya. Rasa di hati ini bercampur aduk, senang, sedih, dan yang lainnya, karena saya tak habis pikir saya bisa pergi bahkan mencari ilmu ditempat yang saya impikan sejak saya duduk di bangku SMP. Mesir adalah tempat yang indah penuh dengan bangunan besar yang megah layaknya Negara-negara Eropa itulah bayangan Mesir ketika saya masih di Indonesia. Tapi semua itu sedikit meleset, ternyata Mesir tidak jauh berbeda dengan Indonesia, bahkan untuk masalah pemandangan Indonesia lebih memiliki banyak tempat rekreasi juga panorama indah di dalamnya. Pemikiran saya masih awam ketika awal saya tinggal di bumi kinanah ini, tapi lambat laun saya menyadari betapa hebatnya Negara ini, Negara yang penuh dengan ilmu, juga banyak kebesaran Allah didalamnya. Saya mencintai Indonesia tetapi Mesir juga mulai kukagumi. Negara yang tidak seluas dan tidak sebesar Indonesia ini memliki kepadatan jumlah penduduk yang mencapai 74 juta jiwa kurang lebih. Bagaimana Mesir tidak saya kagumi, betapa banyak konsep-konsep Islam yang ditegakan di Negara ini mulai dari berdagang sampai kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari saya memang lebih sering dengan masyarakat Indonesia dibandingkan dengan masyarakat Mesir, akan tetapi itu tidak mengurangi kekaguman saya terhadap Mesir itu sendiri. Berawal dari sungai nil, lalu munculah peradaban dan kehidupan di Mesir, Negara yang dahulunya dipimpin oleh seorang raja yang mengaku tuhan atau yang sering kita kenal dengan nama Firaun, sampai sekarang kebanyakan jumlah penduduknya adalah muslim. Betapa banyak alim ulama yang lahir dari kan. Bagi kebanyakan mahasiswa Indonesia di Mesir, pertanyaan itu seolah mengisyaratkan keingintahuan seseorang terhadap masalah pribadi orang lain. Entahlah, sejak kapan pertanyaan itu menjadi barang pribadi. Mungkin juga karena malu, sebab ketahuan bahwa merekamin ahli rasibin. Padahal Negara ini dan menyebabkan banyaknya orang berbondong-bondong datang ke Mesir untuk belajar. Bahkan sebagian juga ada yang datang untuk berziarah, karena tidak sedikit maqam para ulama di Mesir seperti maqam Imam SyafiI juga maqam cucu nabi Muhammad Saw. yaitu Husain lalu maqam nabi Harun As. dan juga maqam-maqam para alim ulama. Ekonomi mesir bergantung kepada pertanian, media, pariwisata, ekspor minyak bumi dan gas alam tidak jauh berbeda dengan Indonesia yang mayoritas masyarakatnya bekerja sebagai petani. Walaupun tidak memiliki banyak pegunungan seperti Indonesia, tidak memiliki pepohonan dan hutan yang banyak seperti Indonesia akan tetapi Mesir memiliki banyak tempat bersejarah, bahkan terkenal dengan peradaban kuno dan monument kuno termegah di dunia. Misalnya Piramid Giza, Kuil Karnak dan Lembah Raja serta Kuil Ramses, di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan, terdapat kira-kira artefak kuno yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini, Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah Arab dan Timur Tengah. Dan menurut saya, Mesir dengan Indonesia sedikit memiliki persamaan jika kita ingat berapa lama presiden ke-2 Indonesia Soeharto menjabat, Mesir juga memiliki presiden yang sama-sama menjabat lebih dari 30 tahun, bahkan Mesir adalah Negara pertama di dunia yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Ketidakstabilan itulah yang sedang Negara ini alami, mulai dari krisis ekonomi, juga adanya beberapa masalah khususnya dalam hal politik, tapi itu semua tidak mengganggu aktifitas masyarak Mesir seperti dalam bidang keilmuwan. Semua mahasiswa terlihat tetap aktif dengan kuliah mereka dan tidak banyak ikut campur dalam masalah yang sedang menimpa Negara ini. Mesir bisa dikatakan adalah pusatnya ilmu agama Islam karena banyak pelajar dari penjuru dunia yang menuntut ilmu agama ke Negara ini. Bahkan ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Mesir adalah ummu dunya, yaitu ibunya dunia, karena bisa dikatakan banyaknya peradaban dunia yang bermula dari sini. Akan tetapi jika kita berbicara politik, rasib atau mumtaz bukanlah standar penilaian kualitas mahasiswa. Percayalah..! Beberapa menit berselang, petugas telah selesai menjalankan tugas dengan baik. Tafadhal, katanya sambil menyodorkan sepotong kartu berikut embel-embelnya kepada Ahmad. mungkin bisa dikatan Mesir sedikit kurang bagus dalam hal ini, karena banyaknya masyarakat yang kurang puas akan upaya pemerintah dalam mengembangkan atau memajukan Negara ini. Dan akhirnya terjadilah demo di beberapa daerah, Mursy ahsannaas lakin huwa musy queis fii siyaasah ujar beberapa masyarakat Mesir. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Mursy memang orang baik akan tetapi beliau kurang dalam masalah menangani politik. Ramdhan pun tiba bulan yang penuh barakah dan rahmat Allah Swt. Tahun ini lah tahun saya pertama kali berpuasa ramadhan di Mesir, banyak dari kaka kelas yang mengatakan puasa ramadhan di Mesir itu enak karena banyaknya maidatu ar-rahman disini, tidak hanya di masjid bahkan di jalan-jalan pun juga banyak. Maidatu ar-rahman adalah makanan yang disediakan untuk para shooim secara cumacuma, bukan makanan ringan saja yang diberikan akan tetapi juga makanan berat seperti daging, ayam, dan yang lainnya. Maidatu ar-rahman tidak hanya bisa ditemukan di masjid-masjid, akan tetapi di jalan-jalan pun dapat kita temukan, jadi tidak perlu takut dalam masalah berbuka jika kita berada di Mesir. Ramadhan kariim, mungkin konsep itulah yang diterapkan di Negara ini karena banyak para hamba Allah yang berlomba dalam kebaikan untuk saling tolong menolong sehingga menjadikan bulan ini benar-benar bulan yang sangat mulia, mulia dihadapan Allah juga di hadapan hambaNYA. Tetapi bukan hanya itu yang menjadikan bulan ini menjadi bulan yang mulia karena di bulan ini lah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berpuasa dan mendekatkan diri kepada-Nya, juga tepat pada bulan ini lah diturunkannya Al-Quran, kitab suci umat muslim lalu di mana terdapat di dalamnya malam lailatul qodr, malam yang lebih baik dari 1000 bulan, dan masih banyak lagi hal lainnya yang membuat bulan ini bulan yang sangat mulia. Mesir Negara yang banyak terdapat kekuasaan Allah di dalamnya, yang membuat nengara ini memiliki keistimewaan tersendiri. Saya mencintai Indonesia dan Mesir pun mulai ku kagumi. [] *Penulis adalah kru TROBOSAN. Syukron, assalamalaikum, ucap kami serempak. Tanpa menunggu jawaban, kami pun pulang. *Penulis adalah Mahasiswa al-Azhar Fakultas Bahasa Arab tingkat dua.

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

09

Dinamika

EGOISME EVAKUASI
Oleh: Thaiburrifqi Ananda Hafifuddin*
Evakuasi, merupakan sebuah kata yang menjadi sangat popular di kalangan masisir akhir-akhir ini. Terlebih semenjak konflik perang saudara di Mesir bertambah parah. Tidak hanya popular, evakuasi menjadi harapan mayoritas mereka agar dapat kembali menghirup udara kampung halaman dan berliburan di Indonesia. Namun dibalik itu semua, sebenarnya evakuasi adalah suatu tindakan yang jika kita melihatnya dari sudut pandang manapun akan terlihat sangat menyeramkan. Karena memang ia akan berkaitan dengan suatu kondisi yang termasuk kedalam tingkatan sangat berbahaya. Sebagaimana definisi evakuasi secara etimologi yaitu perpindahan dari suatu tempat yang berbahaya ketempat yang lebih aman dikarenakan adanya gempa bumi, peperangan, bencana alam, menyebarnya virus mematikan dan sebagainya. Dan untuk melaksanakannya kondisi pada tempat yang berbahaya tersebut mestilah sudah termasuk kedalam posisi membahayakan nyawa penduduk yang ada di sana. jika belum membahyakan, seperti adanya gempa kecil yang tidak merusak bangunan sedikitpun tidak perlu mengevakuasi masyarakay yang ada di tempat bencana. Sebenarnya evakuasi tidak perlu dengan mengadakan perjalanan jauh dan dalam jumlah besar. Ketika seseorang melihat rumah yang berada tak jauh dari rumahnya hangus terbakar dan kemudian mengajak tetangganya tersebut untuk tinggal sementara di rumahnya, itu sudah termasuk kedalam kategori evakuasi. Namun istilah ini lebih identik dengan hal-hal yang berkuantitas besar dengan efek akibat yang besar pula. Istilah evakuasi merupakan bahasa serapan dari bahasa inggris yaitu evacuation, dan cukup populer di kalangan pembawa berita dan relawan penyelamat Indonesia dikarenakan Negara kita merupakan salah satu Negara yang rawan akan bencana alam. Masisir sendiri baru mengenal dengan baik istilah ini semenjak adanya krisis revolusi Mesir pada tahun 2011 yang berujung dengan lengsernya presiden berkuasa Mesir ketika itu, Husni Mubarak. Selama krisis yang hanya berlangsung kurang dari sebulan itu, keadaan Mesir sangatlah mengkhawatirkan. Ekonomi tidak berjalan sama sekali, keamanan tidak bisa dijamin bahkan membahayakan. Masisir ketika berada di ujung tanduk. Saat itulah presiden merekomendasikan untuk mengevakuasi WNI yang berada di Mesir. Akhirnya di bawah koordinasi langsung dari ketua tim khusus evakuasi bapak Hatta Radjasa hampir seluruh WNI yang ada di mesir berhasil dipulangkan ke Indonesia. Sebelum akhirnya mereka dikirim kembali ke negeri tersebut demi melanjutkan urusan mereka yang belum selesai baik sekolah maupun pekerjaan, tentunya setelah Negara Mesir sendiri aman. Terlepas dari suksesnya evakuasi yang dilaksanakan dua tahun silam, proses besar ini memakan anggaran yang tidak sedikit. Bayangkan, sekitar 6 pesawat diterbangkan langsung dari Jakarta untuk mengangkut para WNI yang terbagi ke dalam beberapa kloter. Bahkan ada salah satu sumber yang menyatakan bahwa sampai saat ini utang dari anggaran evakuasi tahun 2011 tersebut masih belum terlunasi. Tidak hanya itu, proses ini membutuhkan bantuan tenaga yang tidak sedikit. Panitia sendiri terbagi kepada beberapa bagian operasional, mulai dari penjemputan WNI, pemusatan di titik pemberangkatan, dan sebagainya. Secara garis besar, evakuasi memiliki dampak negatif yang lebih besar dari dampak positifnya. Namun tetap saja ketika keadaan sudah mencapai tingkat darurat, evakuasi berarti sangat penting bagi korban. 2011dan 2013 Krisis yang terjadi tahun ini berbeda dengan krisis dua tahun silam. Sebagaimana kita ketahui pada krisis 2011 lalu, demonstrasi massa terjadi hampir di setiap sudut Mesir, baik di ibu kota ataupun di pedesaan pesisir Mesir. Oleh karena itu, laju pergerakan ekonomi Mesir mati total dan juga sector lainnya yang ada di negeri seribu menara ini tidak berjalan. Akibatnya, keamanan dan juga keselamatan para WNI juga dirisaukan dan dikhawatirkan. Akhirnya jalan akhir yang ditempuh pemerintah untuk menjamin keselamatan mereka adalah dengan mengevakuasi mereka menuju Indonesia. Berbeda halnya dengan krisis yang terjadi saat ini, dimana walaupun korban yang berjatuhan bisa dikatakan lebih besar jumlahnya dari krisis sebelumnya, namun nyawa dan keselamatan WNI belum terancam. Sampai saat tulisan ini diketik belum ada laporan yang mengatakan bahwa WNI yang ada di Mesir terancam hidupnya sebagai dampak dari krisis politik ini. Hanya ada beberapa insiden kecil yang terjadi akibat kurangnya kewasapadaan dan kehati-hatian WNI sendiri, seperti perampokan, pencurian dan sebagainya. Berdasarkan hal tersebut, kebutuhan evakuasi bukanlah menjadi prioritas utama pemerintah. Benar halnya langkah yang diambil KBRI Mesir untuk tidak mengiyakan tawaran atau rekomendasi Presiden Republik Indonesia untuk mengebakuasi WNI. Karena selain menghemat pengeluaran, juga mengurangi dampak negatif evakuasi dalam keadaan yang belum terdata sebagai darurat. Egoisme Evakuasi Walaupun begitu, sampai detik ini banyak kita jumpai WNI yang berharap pemerintah kembali melaksanakan proses evakuasi episode kedua. Hal ini tidaklah salah sepenuhnya, karena evakuasi merupakan langkah pewaspadaan yang paling aman dengan tidak mengancam nyawa satu orangpun. Hanya saja, bukankah terlalu egois jika kita mengharapkan keuntungan sepihak saja. Bayangkan, jika kita mengharapkan evakuasi, artinya kita juga berharap keadaan konflik akan semakin gawat karena evakuasi tidak dapat dilakukan dalam keadaan yang masih terbilang aman. Demikian halnya, kita juga mengharapkan banyak WNI yang akan kembali merasakan trauma konflik, terutama mereka yang masih kecil. Kenapa saya katakan demikian, karena tanpa adanya evakuasi, WNI yang berada di Mesir masih menganggap keadaan belum membahayakan. Namun ketika sudah dilaksanakannya evakuasi, suasana yang sebenarnya aman akan berubah mencekam seperti kejadia dua tahun silam. Dengan berharap adanya evakuasi, secara tidak langsung kita juga berharap kondisi konflik ini bertambah parah. Bukankah hal ini merupakan kezaliman kasat mata yang berada di luar pemikiran kita? Terlebih, saat ini kita masih berjalan santai menikmati pemandangan sore Kairo tanpa takut sedikitpun akan kejadian yang mengancam nyawa kita. Bukankah ini merupakan sebuah egoisme pribadi yang sangat akut? Oleh karena itu, sungguh sangat tidak bijak jika kita hanya mengharapkan keuntungan pada pihak kita saja -- Karena tentunya dengan adanya evakuasi WNI di Mesir dapat kembali ke kampung halaman dengan gratis, terlebih sekarang kita sedang berada di masa mudik lebaran -- tanpa memperhatikan maslahat orang-orang selain kita, warga Negara Mesir sendiri. Sebagai penutup, penulis menyarankan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia yang berdomisili di Mesir, baik dalam rangka belajar maupun bekerja untuk tidak mulukmuluk terus menerus berharap evakuasi. Ada baiknya kita sebagai sesama muslim mendoakan agar Mesir kembali aman sebagaimana sebelum konflik, sehingga kita tidak membutuhkan lagi wacana yang berbau dengan evakuasi dan sebagainya. Bukankah seharusnya evakuasi itu bermakna menyeramkan dan menakutkan, namun kenapa malah terasa nikmat? Wallahu Alam bishshawab. [] *Penulis adalah kru TROBOSAN.

10

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

Opini

Rancunya Pendidikan Indonesia


Oleh: Puteri Rezeki Rahayu*
Indonesia telah merdeka sejak 68 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1945. Indonesia juga kaya akan SDA (Sumber daya alam). Namun perkembangan Negara masih terlambat, apalagi di bidang pendidikan. Kita telisik lagi perkembangan pendidikan di Indonesia yang sangat memprihatinkan. Miris sekali jika melihat wajah pendidikan Indonesia yang masih jauh dari cantik. Ketika wajah itu terlihat cantik dapat dipastikan terdapat banyak polesan dan juga korban. Penulis bilang korban karena dari 50 anak umur sekolah hanya 25% dari mereka yang mengenyam pendidikan bangku sekolah. Selebihnya mereka melewati hari-hari mereka dengan bekerja membantu orang tua. Bahkan yang berhasil menyelesaikan jenjang strata 1 hanya 5%. ini hanya salah satu faktor penyebab tersendatnya laju pendidikan yang menjadi tolok ukur kemajuan suatu bangsa. Bukti bahwa negara kita tertinggal dalam bidang pendidikan sebagaimana survey yang dilakukan oleh UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) yang menyatakan bahwa Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara se Asia Pasifik dalam kualitas pendidikan. Sedangkan dari kualitas guru, Indonesia menempati urutan ke 14 dari 14 negara, berada di bawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu. Dan dari kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39 dari 42 negara berkembang di dunia. Dari hasil survey ini kita tidak bisa mengelak lagi betapa tertinggalnya negara kita. Jangankan bersaing dengan negara seperti Malaysia ataupun Singapura, dengan Vietnam saja kita masih di bawah mereka. Padahal jika kita tengok ke belakang sejarah perkembangan Indonesia yang menjadi tujuan belajar bagi negara-negara tetangga. Sebut saja Malaysia, Negara bekas persemakmuran Inggris ini dahulu mengirim warganya untuk belajar di Indonesia, terutama universitas ternama negri kita, dan juga mengambil beberapa dosen dari Indonesia untuk mengajar di Malaysia. Namun kenyatannya sekarang terbalik, banyak warga Indonesia memimpikan sekolah di negara menara kembar itu dan menganggap pendidikan di sana lebih baik. Begitupun dengan Singapura yang luas negaranya tidak lebih besar dari kota Jakarta, negara maju ini banyak digandrungi warga Indonesia untuk melanjutkan studi mereka. Sangat nyata dan terjadi di kehidupan kita. Fenomena yang sangat memprihatinkan, namun tindakan nyata dari pemerintah tidak terlihat gelagatnya sampai sekarang. Kalaupun ada tindakan itu hanya sekedarnya saja, tidak memberikan dampak yang berarti. Untuk sekolah tingkat SD/MI, SMP bahkan SMA yang terakreditasi, hampir semuanya memiliki titik lemah pada standar sarana dan prasarana serta tenaga pendidik dan juga kependidikan. Hasil ini berdasarkan analisa hasil akreditasi 2008 -2012 oleh Badan Akreditasi Nasional Sekolah. Sudah jelas sekali penyebab terlambatnya perkembangan Indonesia. Survey di atas hanya terkhusus sekolah yang sudah terakreditasi, bagaimana dengan sekolah yang tidak mendapat sorotan pemerintah yang terletak di pelosok daerah? Pastinya lebih buruk dari sekolah yang terakreditasi. Banyak faktor yang membuat terlambatnya perkembangan Indonesia. Jika kita llihat dari sekolah dan pengajarannya, setidaknya ada 7 sebab: pertama, materi pelajaran terbatas dari buku paket. Walaupun kurikulum di Indonesia selalu berubah dari kurikulum lama ke kurikulum baru, dari KBK menjadi KTSP tapi kondisinya tidak lebih baik. Sebenarnya apapun kurikulum yang diterapkan tidak membawa perubahan karena sejak era 60 -an pembelajaran di sekolah hanya terpaku dari buku paket dan pemateri tidak mencari refernsi buku lain. Kedua, metode pengajaran. Para guru menggunakan metode pelajaran berceramah saja karena memang metode inilah yang paling mudah dan simple. Tidak perlu banyak persiapan dan tenaga, padahal pembelajaran seperti inilah yang membuat pemikiran murid terbatasi. Ketiga, rendahnya sarana dan prasarana. Sekolah yang fasilitasnya lengkap dan bagus dijamin bayaran yang ditangguhkan kepada murid pun besar karena sekarang persekolahan sudah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Keempat, aturan yang mengikat. Seharusnya setiap sekolah mempunyai peraturan sendiri-sendiri yang mana bisa meningkatkan kualitas sekolahnya. Jangan hanya monoton dengan kurikulum yang diterapkan pemerintah. Kelima, tidak diterapkannya metode diskusi. Untuk membuat murid aktif di kelas, guru seharusnya menerapkan system diskusi dalam pembelajaraan. Bukan hanya menyuruh murid mendengarkan dan menyimak penjelasan guru. Inilah yang membuat anak tidak kritis dan tidak terbiasa bertanya apa yang belum dia pahami. Keenam, metode soal terbuka tidak diterapkan. Padahal Finlandia yang sudah menerapkan metode ini menempati posisi teratas dalam bidang bidang pendidikan. metode yang menggunakan soal terbuka dan murid boleh menjawab dengan membaca buku. Guru-guru di Indonesia belum bisa menerapkannya karena masih kesulitan untuk membuat soal terbuka. Ketujuh, budaya mencotek. Hal yang sangat biasa bahkan menjadi suatu adat ketika ujian adalah mencotek. Budaya ini diwariskan turun temurun dan diajarkan dari mulai SD sampai tingkat guru. Kita lihat saja tes masuk pegawai negeri jarang yang bersih dari kebiasaan ini. Bukan hal aneh lagi ketika murid menyontek, toh gurunya saja nyontek. Memprihatinkan. Kita kaji dari sisi murid dan wali murid. Pertama, sistem kebut semalam. Murid didoktrin bahwa nilai akademis selalu yang utama dan niali akhir selalu menjadi patokan. Padahal proses lah yang penting. Dari doktrin inlah mereka hanya belajar saat ujian saja. Mereka berpikir belajar itu melelahkan yang pentingkan hasilnya memuaskan. Kedua, pembatasan kegiatan dari orang tua. Kegiatan anak yang tidak berhubungan dengan akademis tidak mendapat dukungan dari orang tua. Mereka terkesan membatasi dan hanya memperbolehkan anak-anaknya mengikuti les atau semacamnya. Menurut mereka kegiatan kegiatan tersebut hanya mengganggu dan membuat anak malas belajar. Pemikiran seperti ini salah besar. Kecondongan anak berbedabeda begitupun kemampuannya. Apapun kegiatan yang bisa membantu perkembangan anaknya seharusnya mendapat support dari orang tua. Tidak dipungkiri juga banyak orang tua yang membebaskan anaknya untuk mengikuti kegiatan selama itu positif. Ketiga, pelajar adalah mesin pencari kerja. Orang tua mengarahkan anaknya untuk mendapatkan pekerjaan yang profitable dan mempunyai masa depan, contohnya bekerja di perusahan ternama dengan jabatan tinggi atau menjadi pegawai negri. Mereka tidak dibiasakan untuk membuat lapangan pekerjaan. Keempat, pelajar belajar dari lingkungan. Kehidupan zaman sekarang memprihatinkan. Pergaulan pemuda yang sudah mengikuti barat dan meninggalkan adat timur membuat mereka egois terhadap sekitar. Jauh dari sopan santun dan moral yang mencerminkan seorang penuntut ilmu. Tayangan yang disuguhkan dan menjadi santapan mereka setiap hari mengajarkan pergaulan bebas yang mempengaruhi perkembangan psikologis dan moral mereka. Dari sebab-seba yang disebutkan di atas menjadi hal dasar yang menghambat pertimbuhan pendidikan Indonesia. Inilah yang harus dijadikan sorotan utama para pemerhati pendidika untuk Indonesia lebih maju. Kita rubah pola pendidikan Indonesia dari strukturalisasi sistem pendidikan dan hasil didikan ke konsepsi pengetahuan. Dari generasi-generasi seperti merekalah tongkat estafet perjuangan negeri ini dilanjutkan. Jika penerusnya tidak berkopenten dalam bersaing bagaimana nasib Indonesia kedepannya? [] *Penulis adalah kru TROBOSAN.

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013

11

Email/YM: transferindo.mesir@yahoo.com FB: Tranferindo Mesir

TROBOSAN Mengucapkan Selamat Kepada para pimpinan MPA, BPA dan Presiden PPMI terpilih masa bakti 2013-2014. Semoga dapat mengemban amanah dengan maksimal, dan dapat memberi perubahan yang berarti bagi komunitas Masisir.

12

TROBOSAN, Edisi 357, 9 September 2013