Anda di halaman 1dari 27

FORMULASI DAN PENGUJIAN SALEP EKSTRAK BONGGOL PISANG AMBON (Musa paradisiaca var. sapientum (L.

)) TERHADAP LUKA TERBUKA PADA KULIT TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus)

Disusun Oleh :
Yuanisa Ristiani Hernawati Agustina Nurhayati Gita Agustina Agus Salim Erik Saputra Rifki Prayoga

DEPARTEMEN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MATHLAUL ANWAR BANTEN
1

2013
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di zaman yang semakin canggih dan maju ini semakin banyak ditawarkan obat obatan semua penyakit dengan berbagai nama dan jenis yang kurang diketahui betul apa kandungan dan manfaatnya. Hal ini mendorong masyarakat untuk semakin selektif dalam memilih obat yang tepat. Salah satunya adalah obat untuk menghentikan luka berdarah pada kulit.Kulit adalah bagian dari tubuh yang mempunyai fungsi sangat vital, antara lain:proteksi, sensasi, regulasi panas, kontrol evaporasi, estetik dan komunikasi, penyimpanan dan pembuatan, ekskresi, absorpsi. Selain itu, sejumlah obat dapat teradministrasi melalui kulit, seperti salep (Anonim, 2008). Apabila kulit tersebut tergores benda tajam dan meninggalkan luka lecet, menyebabkan kekhawatiran karena akan membuat bagian dari tubuh terutama fungsi organ yang terluka terganggu, selain itu membuat noda bekas luka yang sulituntuk dihilangkan. Pada saat teknologi belum berkembang seperti sekarang ini, masyarakat masih menggunakan setiap bahan yang ada disekitarnya untuk menolongnya bertahan hidup. Salah satunya adalah menggunakan getah pisang untuk mengobati luka ketika terjadi luka berdarah. Pada zaman tradisional, getah pisang dipercaya dapat menghentikan luka berdarah, menutupi luka dan bahkan menyembuhkan dengan cepat. Caranya juga mudah, yaitu dengan mengoleskan atau meneteskan getah pisang ke luka kita.Melihat kenyataan itu, telah banyak peneliti sebelumnya yang meneliti kandungan dari getah pisang. Pada penelitian sebelumnya, hasil uji efek penyembuhan sa cairan getahbonggol pisang menunjukkan bahwa cairan bonggol pisang tersebut mampu mempercepat pengerinagn luka berdarah. Dan dari hasil penelitian didapat bahwa getah bonggol pisang mengandung bahan yang
2

dapat menghentikan luka. Tetapi melihat kenyataanbahwa bukan hal yang mudah untuk menemukan getah bonggol pisang setiap kita terluka,maka penulis menggagas untuk membuat suatu bentuk cairan yang merupakan hasil dariekstrak getah bonggol pisang sehingga dapat dikemas dengan baik dan dapat dengan mudahdibawa-bawa. Berdasarkan hasil sapientum Untuk sediaan wistar. Sediaan kontrol positif salep ekstrak didalam penelitian ini diuji dengan sebagai pembanding yaitu Betadine Salep. Salep dipilih (L.)) memiliki penelitian tersebut maka, penulis tertarik efek dalam penyembuhan luka terbuka. untuk meneliti apakah bonggol pisang Ambon ( Musa paradisiaca var. efektivitas penggunaan maka bonggol pisang Ambon (Musa topikal dalam bentuk salep, kemudian diuji kembali

paradisiaca var. sapientum (L.)) perlu dikembangkan menjadi suatu aktifitasnya terhadap penyembuhan luka pada tikus putih jantan galur

sebagai bentuk sediaan karena stabilitasnya baik, berupa sediaan halus, mudah digunakan, mampu menjaga kelembapan kulit, tidak mengiritasi kulit dan mempunyai tampilan yang lebih menarik (Ansel, 2005). 1.2 Rumusan Masalah: 1. Bagaimana potensi getah bonggol pisang sebagai alternatif untuk penyembuhan luka? 2. Bagaimana formulasi dan pengujian salep ekstrak bonggol pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum (L.)) terhadap luka terbuka pada kulit tikus putih jantan galur wistar ( Rattus norvegicus)? 1.3 Tujuan Penulisan: 1. Untuk mengetahui potensi getah bonggol pisang sebagai alternatif untuk penyembuhan luka.

2. Untuk mengetahui formulasi dan pengujian salep ekstrak bonggol pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum (L.)) terhadap luka terbuka pada kulit tikus putih jantan galur wistar ( Rattus norvegicus). 1.4 Manfaat Penulisan: 1. Bagi Penulis: Gagasan ini bermanfaat bagi penulis sebagai wadah untuk menambah pengetahuan danwawasan mengenai obat-obatan tradisional. 2. Bagi Masyarakat: Menambah pengetahuan tentang obat-obatan tradisional pengganti obat berbahan kimiawiSelain itu dapat meningkatkan nilai ekonomis limbah bonggol pisang karena dapatdimanfaatkan secara maksimal menjadi bahan yang lebih bermanfaat. 3. Bagi Ilmuwan: Mendorong untuk giat mengembangkan bahan obat alami yang tidak berbahaya bagi kita. 4. Bagi Pemerintah: Memberi masukan bagi pemerintah agar lebih memperhatikan secara khusus padapengembangan obat-obatan tradisional yang alami dan tidak berbahaya bagi kesehatan kita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman Pisang Pisang adalah nama umum yang diberikan pada tumbuhan terna raksasa berdaun besar memanjang dari suku Musaceae. Beberapa jenisnya (Musa acuminata, M. balbisiana, dan M. paradisiaca ) menghasilkan buah konsumsi yang dinamakan sama. Buah ini tersusun dalamtandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir. Hampir semua buahpisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, ungu, atau kalium. bahkan hampir hitam. Buah pisang sebagai bahan panganmerupakan sumber energi (karbohidrat) dan mineral, terutama

Gambar 1.Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum (L.)) 2.1.1 Klasifikasi ilmiah Kerajaan Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies 2.1.2 a. Akar Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada umbi batang. Akar terbanyak berada pada bagian bawah tanah. Akar ini menuju bawah sampai kedalaman 75150 cm. sedang akar yang ada di bagian samping umbi batang tumbuh
6

: Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida : Zingiberales : Musaceae : Musa. : Musa sp Morfologi Tanaman Pisang

kesamping atau mendatar. Dalam perkembanganya akar samping bias mencapai 4-5 meter. b. Batang Batang pisang sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang. Di bagian atas umbi batang terdapat. Tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Sedang yang berdiri tegak di dalam tanah yang biasanya dianggap batang itu adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun panjang yang saling menelengkup dan meutupi dengan kuat dan kompak sehingga bias berdciri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 meter tergantung jenisnya. c. Daun Daun pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang. Pada bagian bawahnya berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30-40 cm. daun pisang mudah sekali robek atau terkoyak oleh hembusan angina yang keras karena tidak mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun. d. Bunga Bunga berkelamin satu, berumah satu dalam tandan. Daun penumpu bunga berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung berwarna merah tua, berlilin, dan mudah rontok dengan panjang 1-25 cm. bunga tersusun dalam 2 baris melintang. Bunga betina berada dibawah bunga jantan (jika ada). lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi, panjangnya 6-7 cm. benang sari 5 buah pada betina tidak sempurna, bakal buah persegi, sedang pada bunga jantan tidak ada. e. Buah Sesudah bunga keluar, akan terbantuk sisir pertama, kemudian memanjang lagi dan terbentu sisir kedu, ketiga dan seterusnya. Jantungnya perlu di potong sebab sudah tidak menghasilkan sisir lagi. 2.1.3 Kandungan Dalam Getah Pisang

Pada pohon pisang terdapat berbagai kandungan yang dapat membermanfaat bagi kita. Di dalam getahnya terdapat kandungan saponin, antrakuinon, dan kuinon yang dapat berfungsi sebagai antibiotik danpenghilang rasa sakit (Budi, 2008). Getah batang pohon pisang mengandung beberapa jenis fitokimia yaitu saponindengan kandungan yang paling banyak, kemudian flavonoid dan tanin dan tidak mengandungalkaloid, steroid dan triterpenoid. Polifenol dan flavono merupakan golongan fenol yang telah diketahui memilikiaktivitas antiseptik. Senyawa flavonoid menurut strukturnya merupakan turunan senyawaflavon golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan C6 - C3 - C6 (cincin benzentersubstitusi) disambung oleh rantai alifatik 3 karbon, senyawa ini merupakan senyawaflavonoid larut dalam air serta dapatdiekskresikan menggunakan etanol 70 %(Harborne, 1987).

2.2 Luka 2.2.1 Pengertian Luka Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit ( Taylor, 1997). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier,1995). Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul: 1. 2. 3. 4. 5. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Respon stres simpatis Perdarahan dan pembekuan darah Kontaminasi bakteri Kematian sel

2.2.2 Proses Penyembuhan Luka

Tubuh secara normal akan memberikan respon terhadap cedera dengan jalan proses peradangan, yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling),kemerahan (redness), panas (heat), nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase 1. Fase Inflamasi Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yangterjadi pada jaringan lunak. 2. Fase Proliferatif Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkanluka dan ditandai dengan proliferasi sel. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikanyaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan.3. Fase MaturasiTujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu.

2.3 Ekstrak Getah Pisang Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair denganbantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yangdiinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatubahan dari campurannya, ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstraksimenggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalamcampuran (Suyitno, 1989).Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut daripadatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karenakomponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalamiperubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat
9

dilakukan

jika

bahan

yang

diinginkandapat

larut

dalam

solven

pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila pada tanhanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larutkarena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry ] Ekstraksi merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yangtidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein, dan lain-lain (Anonim, 2000). 2.4.Salep Salep atau krim adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan. Bahan bakunya berupa sediaan galenik yang larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep/ krim yang cocok dan digunakan sebagai obat luar. 1. Dasar Salep Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok, yaitu dasar salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah satu dasar salep tersebut. 1). Dasar Salep Hidrokarbon Dasar salep ini dikenal sebagai dasar salep berlemak, antara lain vaselin putih dan salep putih. Hanya sejumlah kecil komponen berair yang dapat dicampurkan kedalamnya. Salep ini dimaksudkan untuk memperpanjang kontak bahan obat dengan kulit dan bertindak sebagai pembalut penutup. Dasar salep hidrokarbon digunakan terutama sebagai emolien, sukar dicuci, tidak mengering dan tidak tampak berubah dalam waktu lama. 2). Dasar Salep Serap Dasar salep serap ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar salep yang dapat bercampur dengan air
10

membentuk emulsi air dalam minyak (parafin hidrofilik dan lanolin anhidrat), dan kelompok kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan air tambahan (lanolin). Dasar salep ini juga berfungsi sebagai emolien. 3). Dasar Salep yang dapat dicuci dengan air. Dasar salep ini adalah emulsi minyak dalam air, antara lain salep hidrofilik (krim). Karena mudah dicuci dari kulit atau dilap basah sehingga lebih dapat diterima untuk dasar kosmetika. Beberapa bahan obat dapat menjadi lebih efektif menggunakan dasar salep ini dari pada dasar salep hidrokarbon. Keuntungan lain dari dasar salep ini adalah dapat diencerkan dengan air dan mudah menyerap cairan yang terjadi pada kelainan dermatologik. 4). Dasar Salep LarutDalam Air Kelompok ini disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari konstituen larut air. Dasar salep jenis ini memberikan banyak keuntungannya seperti dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan tak larut dalam air, seperti parafin, lanolin anhidrat atau malam. Dasar salep ini lebih tepat disebut gel. Beberapa contoh contoh dasar salep : 1 Dasar salephidrokarbon Vaselin putih ( white petrolatum : white soft parafin), vaselin kuning (yellow petrolatum : yellow soft parafin), campuran vaselin dengan cera, parafin cair, parafin padat, minyak nabati. Adeps lanae, unguentum simpleks (cera flava : oleum sesami = 30 : 70), hydrophilic petrolatum ( vaselin alba : cera alba : stearyl alkohol : kolesterol = 86 : 8 : 3 : 3 ). Dasar salep emulsi tipe m/a (seperti vanishing cream), emulsifying ointment B.P., emulsifying wax, hydrophilic ointment. Poly Ethylen Glycol (PEG), campuran PEG,
11

Dasar salep serap (dasar salep absorbsi) Dasar salep dapat dicuci dengan air Dasar salep larut air

tragacanth, gummi arabicum.

Kualitas dasar salep yang baik adalah: Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembaban kamar. Lunak, semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus, dan seluruh produk harus lunak dan homogen. Mudah dipakai. Dasar salep yang cocok. Dapat terdistribusi merata. (1) Peraturan Salep Pertama Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak dilarutkan kedalamnya, jika perlu dengan pemanasan. (2)Peraturan Salep Kedua Bahan-bahan yang dapat larut dalam air, jika tidak ada peraturanperaturan lain dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan air yang digunakan dapat diserap seluruhnya oleh basis salep. Jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis. (3) Peraturan Salep Ketiga Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak dan air, harus diserbuk lebih dahulu kemudian diayak dengan pengayak B40. (4)Peraturan Salep Keempat Salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin.

2. Ketentuan Umum Cara Pembuatan Salep

12

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai bahan analisis didapatkan dari: 1. Studi Pustaka Studi pustaka digunakan sebagai landasan teori dan pijakan penulis dalam menganalisis masalah yang dikaji. Studi pustaka didapatkan dari artikel dari internet, teori dan pendapat para ahli baik dari skripsi maupun hasil penelitian. 2. Pengamatan fenomena

13

Hasil pengamatan terhadap fenomena yang terjadi digunakan sebagai titik tolak terhadappembahasan suatu masalah. Pengamatan ditujukan pada fenomena bahwa masyarakat menggunakan obat berbahan kimiawi ketika menderita luka berdarah yang membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat sembuh. Padahal ada bahan alternatif alami yang dapatdimanfaatkan. Selain itu nilai ekonomis pada obat penyembuh luka yang relatif mahal,sehingga perlu dikembangkan pemanfaatan obat luka berbahan alami seperti dari getahbonggol pisang yang tentunya mudah didapat dan memiliki nilai ekonomis yang lebih baik. 3.2. Alat dan Bahan Peralatan cawan yang digunakan ialah batang pengaduk, blender, ukur, kapas, kandang, surgical blade penguap, erlenmeyer, gelas

lumpang&alu, penangas air, pencukur bulu, penggaris,

sterile, pot salep, rotary evaporator, termometer, timbangan analitik, timbangan hewan, sarung tangan, masker, oven, pisau, aluminium foil, kertas saring, kamera, pinset, label, soklet, water bath dan cawan petri. Sedangkan bahan yang digunakan ialah Ekstrak bonggol pisang Ambon, adeps lanae, vaselin album, alkohol 70%, Betadine salep, tikus putih jantan galur wistar dan aquades 3.3 Prosedur Kerja

14

3.4.1. Pembuatan Salep Ekstrak Bonggol Pisang Ambon Formula standar dasar salep menurut Goeswin Agoes (2006) ialah : R/ Adeps lanae Vaselin album 15 g 85 g
15

m.f. salep

100 g

Sediaan salep yang akan dibuat dalam penelitian ini memiliki konsentrasi ekstrak bonggol pisang Ambn yang berbeda-beda, yaitu 10%, 15% dan 20% sebanyak 20g untuk 3 kali pemakaian dalam sehari selama 8 hari pengamatan. 1) Formulasi salep ekstrak bonggol pisang Ambon 10% R/ Ekstrak bonggol pisang Ambon Adeps Lanae Vaselin Album Aquades m.f. salep R/ Ekstrak bonggol pisang Ambon Adeps Lanae Vaselin Album Aquades m.f. salep R/ Ekstrak bonggol pisang Ambon Adeps Lanae Vaselin Album Aquades m.f. salep 2g 2.7 g 15.3 g 0.05 ml 20 g 3g 2.55 g 14.45 g 0.05 ml 20 g 4g 2.4 g 13.6 g 0.05 ml 20 g

2) Formulasi salep ekstrak bonggol pisang Ambon 15%

3) Formulasi salep ekstrak bonggol pisang Ambon 20%

3.5. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini ialah eksperimen deskriptif laboratorium. Dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 6 (enam) perlakuan dan masing-masing perlakuan diulangi sebanyak 3 (tiga) kali.

16

Dengan demikian jumlah tikus putih jantan yang digunakan yaitu sebanyak 6 perlakuan x 3 ulangan = 18 ekor tikus putih jantan. 3.5.1. Penyiapan Hewan Uji dan Pembuatan Luka Hewan uji yang digunakan dalam penelitian ini ialah tikus putih jantan galur wistar sebanyak 18 ekor dengan berat badan 260-280 g. Sebelum pembuatan luka, tikus diaklimatisasi selama 5 hari. Sehari sebelum pembuatan luka, hewan uji dicukur bulunya didaerah punggung sampai licin kemudian dibersihkan dengan alkohol 70%. Selanjutnya dibuat luka sayatan dengan ukuran panjang 1.5 cm. 3.5.2. Perlakuan dan Pengamatan atau Pengumpulan Data Perlakuan a. Sebelum dan pengamatan ditentukan atau pengumpulan tikus data pada penelitian ialah sebagai berikut : perlakuan, putih jantan dengan cara pengacakan. b. Setelah tikus putih jantan dibuat luka, kemudian diukur luas luka awal sebelum dilakukan perlakuan. c. Masing-masing tikus putih jantan diberi perlakuan sebagai berikut : Perlakuan A : Luka tanpa perlakuan Perlakuan B : Luka diberi dasar salep Perlakuan C : Luka diberi Betadine salep Perlakuan D : Luka diberi salep ekstrak bonggol pisang Ambon 10% Perlakuan E : Luka diberi salep ekstrak d. Kemudian dilakukan pengamatan bonggol pisang Ambon 15% selama 8 hari untuk melihat Perlakuan F: Luka diberi salep ekstrak bonggol pisang Ambon 20% diameter penutup luka. e. Sediaan salep diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah luka tiga kali sehari. f. Pengamatan pada luka dilakukan sebelum pemberian dan sesudah perlakuan sampai menunjukkan adanya tanda-tanda kesembuhan dengan cara mengukur diameter luka.

17

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil


18

1. Potensi

Getah

bonggol

pisang

sebagai

alternatif

untuk

penyembuhan luka Bonggol pisang adalah salah satu bagian dari pohon pisang yang biasanya tidak dimanfaatkankarena dianggap tidak memiliki nilai. Masyarakat jarang memanfaatkan bonggol pisang. Padahal Ekstrak batang pohon pisang mengandung beberapa jenis fitokimia yaitu saponindengan kandungan yang paling banyak, kemudian flavonoid dan tanin dan tidak mengandungalkaloid, steroid dan triterpenoid. Sementara itu, kandungan lektin pada getah batang pisang berfungsi menstimulasi pertumbuhan sel kulit. Dengan adanya lektin pertumbuhan sel-sel kulit penutup luka menjadi lebih cepat, karena lektin dapat merangsang tumbuhnya sel. Selain itu luka yang telah kering tidak akan menimbulkan parut yang sangatterlihat. Hal ini menjadi bukti khasiat pohon pisang yang sangat besar dalam proses penyembuhan luka 2. Membuat Ekstrak getah bonggol pisang Di negara tropis seperti Indonesia, adalah hal yang mudah untuk dapat menemukan pohonpisang. Karena getah bonggol pisang memiliki khasiat dalam penyembuhan luka, maka sudah sepantasnya masyarakat menggunakan getah bonggol pisang tersebut sebagai obat alternatif.Tetapi untuk mencari getah pisang ketika kita terluka, kemudian memeras getahnya, adalah halyang rumit. Oleh karena itu, getah bonggol pisang harus di ekstrak agar dapat menghasilkan cairan yang dapat mengentikan pendarahan pada luka berdarah dan menyembuhkan luka itu. Ekstrak getah batang pisang yang telah dihasilkan dapat dikemas dengan baik sehingga mudah untuk dipakai. Dan jika dikembangkan, cairan itu dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan dikemas supaya dapat dikomersilkan dalam jumlah banyak dan masyarakat dapat merasakan manfaat dari obat tradisional seperti ini. 3. Hasil Skrining Fitokimia Hasil pengujian skrin ing fitokimia menunjukan bahwa ekstrak yang dioleskan pada hewan coba mengandung tannin, saponin, dan
19

flavonoid (Tabel 1). Pada uji alkaloid sampel menun jukan hasil negatif terhadap ketiga pereaksi (Wagner, Mayer, dan Dragendorf). Hasil uji saponin menunjukan tinggi busa 1,5 cm. Adanya flavonoid ditunjukan dengan terbentuknya warna merah jingga setelah ditambahkan serbuk Mg, 1 ml HCl pekat dan 20 tetes amil alkohol lalu dikocok kuat. Pada uji steroid dantriterpenoid tidak terbentuk warna hijau sehingga ekstrak batang pisang tidak mengandung senyawa tersebut. Ekstrak mengandung senyawa tannin ditunjukan dengan terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan setelah ditambah kan 2 te tes pereaksi FeCl 3. Tabel 1. Hasil uji fitokimia ekstrak batang pisang Ambon

Efek tannin sebagai astrin gensia yang banyak digunakan sebagai pengencang kulit dalam kosmetik atau estetika (Olivia et al., 2004). Saponin berkhasiat sebagai antiseptik dan pembersih sedangkan flavonoid memiliki kemampuan bereaksi dengan komponen seperti allergen, virus dan karsinogenik sehingga flavonoid dapat berfungsi sebagai anti alergi, anti kanker dan antiinflamasi (Lewis et al., 1999).

4. Pengujian Salep Terhadap Penyembuhan Luka Hasil pengukuran rata-rata panjang luka terhadap proses penyembuhan luka terbuka pada hewan tikus putih jantan selama 8 hari pengamatan dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.

20

Tabel 2. Hasil Pengukuran Panjang Luka Tikus Putih Jantan Hari ke-0 sampai Hari ke-8

Ket : LTP : Luka Tanpa Perlakuan SBPA : Salep Bonggol Pisang Ambon Untuk perlakuan, terhadap 0,00% ialah membandingkan maka panjang panjang dengan sama. Hasil demikian presentase penyembuhan untuk tiap luka (hari ke bahwa luka luka antar luka dipresentasekan 0) dianggap persentase

luka sebelum perlakuan dapat dikatakan penyembuhan

penyembuhan

luka sebelum perlakuan pada semua subjek penelitian persentase masing-masing

perlakuan dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 3. Persentase penyembuhan luka setelah perlakuan dengan kelompok luka tanpa perlakuan, dasar salep, Betadine salep, serta salep bonggol pisang Ambon 10%, 15% dan 20%

21

Perbedaan persentase penyembuhan luka terbuka dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

4.2. Pembahasan Getah tanaman pisang selama ini dianggap sebagai limbah yang tidak berguna. Sejumlah mahasiswa Uni versitas Gadjah Mada, Yogya
22

karta, berhasil meneliti manfaat getah pisang untuk menyembuhkan nyeri pada gigi. Pisang raja (Musa sapientum) dikenal sebagai jenis pisang yang cocok untuk dikonsumsi langsung, tidak perlu diolah lebih dulu. Sebagai buah konsumsi, cita rasa pisang tersebut memang enak. Namun, sayangnya, pisang kerap kali mengandung getah, terutama pada bagian pohonnya. Getah itu merupakan limbah yang dianggap kebanyakan masyarakat tidak berguna. Pandangan tersebut ternyata tidak berlaku pada masyarakat di Desa Kandangan, Sayegan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Getah dari batang pisang mereka manfaatkan untuk menyembuhkan luka. Caranya, getah tersebut dioleskan pada bagian tubuh yang luka. Apa yang dilakukan masyarakat Desa Kandangan menjadi inspirasi bagi sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, untuk melakukan penelitian ilmiah mengenai manfaat getah pisah bagi penyembuhan luka setelah pencabutan gigi. Selama ini diketahui bahwa pencabutan gigi pada umumnya menimbulkan luka. Penyembuhan luka pasca pencabutan gigi itu perlu dipercepat karena, jika terlalu lama didiamkan, bisa mengakibatkan infeksi. Kami tertarik untuk meneliti apa benar getah pisang bisa mempercepat kesembuhan luka. Kalau benar, bagaimana efeknya, ungkap Rahma Ningsih, salah satu anggota tim penelitian tersebut. Ketua tim peneliti, Yosaphat Bayu Rosanto, mengatakan getah tanaman pisang selama ini hanya dianggap sebagai limbah yang tidak berguna. Namun, masyarakat di sejumlah desa justru menggunakannya untuk menyembuhkan luka. Setelah diteliti, kebiasaan masyarakat itu memiliki dasar ilmiah yang kuat. Getah pisang, jelas Yosaphat, diketahui mengandung tiga zat yang berperan dalam menyembuhkan luka. Ketiga zat itu ialah saponin, flavonoid, dan asam askorbat. Getah tanaman pisang banyak mengandung saponin yang berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru, flavonoid untuk memperpendek fase peradangan (inflamasi)
23

yang dapat mencegah infeksi, dan asam askorbat untuk membentuk jaringan ikat kolagen, urai Yosaphat. Selain membuktikan khasiat getah pisang dari sisi sains, penelitian itu bermaksud menemukan dosis dan efek dari pengobatan menggunakan getah pisang. Menurut Yosaphat, apabila getah pisang digunakan dalam bentuk segar, penyembuhan luka lebih lama karena konsentrasi air pada getah itu sangat tinggi. Oleh karena itu, pengobatan akan lebih manjur apabila getah pisang diolah terlebih dahulu. Penelitian yang dilakukan Yo saphat Bayu Rosanto, Nur Ferliana Sari, Hajar Novelty Wity, Rahma Ningsih, dan Sekar Putri itu saat ini baru diujicobakan pada 24 ekor marmut. Getah pisang yang diberikan kepada hewan percobaan itu telah diolah dalam bentuk salep. Hasilnya, pada bagian tubuh hewan yang terluka diketahui adanya peningkatan jumlah angioge nesis dan osetoblas serta kepadatan kolagen. Ke-24 marmut itu awalnya dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diberi kontrol positif dengan menggunakan obat penyembuh luka. Kelompok kedua diberi kontrol negatif dengan gel CMC Na (Carboxymethyl Cellulose Natrium), dan kelompok ketiga diberikan kombinasi antara getah tanaman pisang raja dan CMC Na. Dari hasil percobaan, didapati proses penyembuhan pada marmut yang diberi kombinasi obat antara getah tanaman pisang dan CMC Na lebih cepat. Marmut yang mendapatkan perlakuan kombinasi dapat sembuh dua kali lebih cepat dibandingkan marmut yang tidak mendapat perlakuan tersebut. Dalam waktu lima hari, luka pada tubuh marmut sudah sembuh, dan tingkat kesembuhannya bisa mencapai 100 persen, kata Yosaphat. Hasil tersebut, tambah dia, membuktikan bahwa getah pisang raja dapat mempercepat penyembuhan luka setelah pencabutan gigi meski sementara ini baru diujicobakan pada marmut. Mudah dan Murah Hasil penelitian yang dilakukan para mahasiswa itu setidaknya memberi harapan akan adanya obat penyembuh luka yang
24

murah dengan bahan baku yang mudah diperoleh. Biaya penelitian yang dikeluarkan terbilang sangat kecil. Apabila ditotal, biayanya hanya mencapai sekitar 135 ribu rupiah. Dana sebesar itu digunakan untuk membeli batang pisang dan membiayai proses pengeringan dengan oven. Dilihat dari prosesnya, pembuatan obat luka dari getah tanaman pisang raja terbilang sederhana serta mudah diaplikasikan. Rahma menjelaskan cara pengolahan getah tanaman pisang itu. Awalnya, tanaman pisang raja dipotong-potong, kemudian air dan getahnya diperas. Air dan getah pisang itu kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven selama tiga hari.Suhu pengeringan mencapai 55 derajat celcius. Hasil pengeringan itu kemudian dicampurkan dengan CMC Na. Perbandingannya, getah pisang 80 persen sedangkan CMC Na sekitar 20 persen. Dengan komposisi seperti demikian, maka luka lebih cepat tertutup 30 hingga 60 persen, papar Rahma. Lebih lanjut, dia menyatakan hasil penelitian itu mungkin bisa pula segera diterapkan pada manusia setelah melalui serangkaian pengujian, seperti uji kandungan, uji toksisitas, uji klinis, dan paten. Menurut Rahma, meski penelitian terfokus pada pisang raja, tidak berarti pisang jenis lain tidak bisa dimanfaatkan sebagai obat. Semua jenis pisang memiliki kandungan dan khasiat yang relatif sama. Ada banyak bahan alam bisa dimanfaatkan sebagai obat. Namun, pemanfaatannya masih amat sederhana. Pemanfaatan getah tanaman pisang itu dinilai berdampak positif bagi lingkungan karena dapat mengurangi limbah yang ada di lingkungan. Penelitian yang telah dilakukan Yosaphat dan rekan-rekannya itu berhasil mengantarkan mereka meraih juara pertama kategori Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XXIII yang diselenglgarakan di Universitas Mahasaraswati, Denpasar, Bali. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
25

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Getah batang pisang bermanfaat untuk menghentikan pendarahan pada luka berdarahdan mempercepat proses penyembuhan. 2. Dengan ekstraksi getah pisang, dapat dihasilkan ekstrak getah pisang yang dapat denganmudah digunakan pada luka. 3. Hasil ekstraksi getah pisang dapat dikemas sehingga mudah untuk digunakan danpraktis. 5.2 Saran 1. 2. 3. Bagi Penulis : Dapat ditingkatkan sebagai bahan kajian penelitian selanjutnya.b. Bagi Masyarakat : Dapat digunakan sebagai obat alternatif. Bagi Pemerintah : Dapat berkhasiat dikembangkan untuk dapat dikomersilkan agar

masyarakatdapat menggunakan obat tradisional yang relatif murah dan

DAFTAR PUSTAKA Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat . UGM Press : Yogyakarta.

26

Ansel

Howarrd,C. 2005. Pengantar Bentuk Universitas Indonesia Press : Jakarta. Tumbuhan

Sediaan

Farmasi.

Dalimartha,S. 2005. Atlas Agriwidya : Jakarta.

Obat Indonesia . Trubus

Kaplan NE, Hentz VR. 1992 . Emergency Management of Skin and Soft Tissue Wounds, An Illustrated Guide, Little Brown. Boston : USA. Klokke. 1980. Pedoman Untuk Pengobatan Luar Penyakit Kulit. PT. Gramedia : Jakarta. Listyanti AR. 2006. Pengaruh Pemberian Getah Bonggol Pisang Ambon (Musa paradisiacal var. Sapientum) dalam Proses Persembuhan Luka pada Mencit (Mus musculus albinus). [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan IPB : Bogor. Priosoeryanto BP, Huminto H, Wientarsih I, Estuningsih S. 2006. Aktivitas Getah Batang Pohon Pisang dalam Proses Persembuhan Luka dan Efek Kosmetiknya pada Hewan . Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat. InstitutPertanian Bogor : Bogor.

27