Anda di halaman 1dari 35

PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN METODE SUBJECTIVE GLOBAL ASSESSMENT (SGA)

Pengembangan Penilaian status Gizi dengan metode SGA


Detsky et al, 1987: Menilai status gizi 202 pasien bedah SGA dapat dengan mudah dilakukan oleh residen dan perawat

Penilaian status gizi berdasar SGA


Tergolong baru dibanding dengan penilaian status gizi metode sebelumnya Menggunakan formulir sederhana yang berisi beberapa pertanyaan diajukan kepada pasien

Penilaian status gizi berdasar metode SGA


Kualitas data tergantung dari: * Kemampuan petugas penilai berkomunikasi secara efektif dengan pasien * Ketajaman observasi indikator fisik.

Penilaian status gizi dengan metode SGA Penilaian status gizi dengan SGA berdasar pada 2 komponen penilaian: 1. Riwayat Medis 2. Pemeriksaan Fisik

Penilaian status gizi dengan SGA berdasar pada : Riwayat Medis


1. 2. 3. 4. 5. Perubahan berat badan Perubahan asupan makan Gejala gangguan gastrointestinal Perubahan kapasitas fungsional Ada tidaknya kaitan penyakit dengan kebutuhan gizi

Penilaian status gizi dengan SGA berdasar pada : Pemeriksaan Fisik 6. Fisik fokus pada aspek gizi

SGA 1. Perubahan Berat Badan


Perubahan berat badan selama 6 bulan terakhir. Perubahan berat badan selama 2 minggu terakhir.

SGA 2.Perubahan Asupan Makan Tidak ada perubahan Ada perubahan - Lamanya - Bentuknya

SGA
3. Gejala Gangguan Gastrointestinal (GI)

Ada tidaknya gangguan GI : Mual Muntah Anoreksia Diare

SGA 4.Kapasitas Fungsional


Deskripsi keadaan fungsi tubuh : Normal, tidak ada perubahan

Ada kelainan fungsi tubuh : - Mengalami sedikit penurunan - tanpa aktivitas/di tempat tidur

SGA 5.Kaitan Penyakit dengan Kebutuhan Gizi


Ada tidaknya perubahan metabolisme atau penyakit yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi (stress metabolik): - Tidak ada - Ada: * rendah * sedang * tinggi

SGA 6.pemeriksaan fisik


Ada tidak berkurangnya lemak subkutan Berkurangnya masa otot Ada tidaknya edema Ada tidaknya asites

SGA, Penentuan status gizi


Gizi Baik (A) Gizi kurang atau diduga (suspect) gizi kurang (B) Gizi buruk (C)

PENGGUNAAN SGA BERDASAR FAKTA: Adanya korelasi signifikan SGA dengan penilaian obyektif Penilaian status gizi dengan SGA maupun dengan cara obyektif perbedaan bermakna Dengan SGA (skor B/C) memperkirakan secara statistik kecenderungan untuk terjadinya infeksi (pada pasien bedah)

Aplikasi Penilaian Status Gizi dengan SGA di RS

Kriteria pasien baru masuk RS: -pasien baru masuk <48 jam, -komunikatif -berbahasa Indonesia -tidak hamil, tidak post partum -tidak dalam keadaan gawat darurat.

Aplikasi Penilaian Status Gizi dengan SGA di RS, Penilaian awal status gizi pasien baru masuk RS berguna bagi team kesehatan (dokter, dietisien) untuk merancang terapi diet yang tepat dan bahkan pemberian dukungan gizi. Berguna untuk menilai kejadian hospital malnutrition

Kendala dan Solusi


Beberapa kendala yang ditemui di lapangan : 1. Lost of patients kehilangan kesempatan untuk dilakukan pemeriksaan SGA awal pada pasien baru masuk yang di rawat inap. Contoh : pasien masuk RS pada hari Jumat malam, sementara petugas hadir pada hari Senin, sehingga kriteria pasien masuk dengan batas waktu < 48 jam terlampaui. Solusi : petugas penilai hendaknya tidak hanya berasal dari dietisien saja namun juga berasal dari perawatan dan bahkan dari dokter penanggung jawab pasien.

Kendala dan Solusi


2. Tidak semua pasien

yang dinilai mengetahui riwayat berat badan dan perubahan berat badannya.

Solusi : Model pertanyaan dirubah ada tidaknya perubahan ukuran ikat pinggang, perubahan ukuran pakaian atau perasaan terlihat lebih kurus atau bahkan merasa lebih gemuk
(Budiningsari,2004)

Kendala dan Solusi


3. Petugas pemula kesulitan menentukan stress metabolik kedalam tingkatan : stress rendah, stress sedang dan tinggi. Tingkat stress dikaitkan dengan penyakit dan hubungannya dengan kebutuhan gizi. Kesulitan inipun dialami oleh petugas penilai saat Detsky (1987) melakukan penelitian terhadap 202 pasien rawat inap bedah digestiv elektif.

Stres Fisiologik
Pada keadaan stres, sel darah putih yang meradang mengeluarkan sitokin Sitokin-sitokin (tumor necrosis factor,interleukin1 dan 6) merangsang Katekolamin, glukagon dan kortisol Meningkatkan Glukoneogenesis dari asam amino Menekan nafsu makan Merangsang lipogenesis Memacu sintesis protein fase akut di hati

Bagaimana menilai ada tidaknya stres metabolik?


Klinis: trauma atau bedah mayor, sepsis Suhu > 38 derajat Celcius Nadi > 100 /min Pernapasan >36/min Leukosit> 12000 atau < 3000 Kultur darah positif Inflammatory bowel disease (IBD) aktif Fokus infeksi dipastikan ada

Cara Menilai Stres Metabolik


Objektif: RME (indirect calorimeter) Indeks katabolik (CI) CI = UNN (g) N diet (g) + 3 2 Jika CI < 0 Tak ada stres Cl 0 5 Stres Sedang CI > 5 Stres Berat

Solusi : memastikan diagnosis penyakit primer misalnya pasien dengan kolitis ulserativ disertai diare dikategorikan kedalam stress berat, pasien dengan infeksi, keganasan dikategorikan kedalam stress sedang.
(Detsky,1987,Mitch&Klhar 2002,McCann,L,1999).

Kendala dan Solusi


4. Menilai ada tidaknya kehilangan

massa otot dibagian scapula (tulang belikat), clavicula (tulang selangka) ) quadrisep (otot paha).

Solusi : Sering berlatih melakukan palpasi di bagian bagian tersebut pada pasien yang secara nyata berada dalam keadaan gizi kurang-buruk dan membandingkannya dengan pasien yang berstatus gizi baik.

Solusi : Apabila dalam pemeriksaan ditemukan tulang utama di bagian selangka terlihat menonjol atau dibagian tulang belikat terlihat cekungan diantara tulang rusuk, ditemukan cekungan diantara tulang belikat dengan pundak maka dikategorikan ke dalam nilai C (gizi buruk).

Alokasi Waktu Penilaian


Observasi dan wawancara untuk memperoleh data riwayat medis serta pemeriksaan fisik yang dilakukan penilai terhadap pasien 7-11 menit setiap kali penilaian.

Kesimpulan
1. Penilaian status gizi dengan SGA menekankan pada riwayat medis dan pemeriksaan fisik. 2. Penilaian status gizi dengan SGA dapat diterapkan di rumah sakit dengan terlebih dahulu dilakukan pelatihan.

Kesimpulan
3. Penilaian dapat dilakukan oleh dietisien, perawat, dokter. 4. Kendala yang ditemukan dilapangan terutama bagi petugas pemula dapat diminimalisir dengan meningkatkan ketrampilan melalui seringnya melakukan penilaian terhadap pasien.