Anda di halaman 1dari 57

BAB I PENDAHULUAN

Banyaknya pasangan infertil di Indonesia dapat diperhitungkan dari banyaknya wanita yang pernah kawin dan tidak mempunyai anak yang masih hidup, maka menurut Sensus Penduduk terdapat 1,2% baik di desa maupun di kota, atau kira-kira 3 juta pasangan infertil di seluruh Indonesia. Ilmu kedokteran masa kini baru berhasil menolong 5070 pasangan infertile memperoleh anak yang diinginkannya. Itu berarti separuhnya lagi terpaksa menempuh hidup tanpa anak, mengangkat anak (adopsi), poligini, atau bercerai, Berkat kemajuan teknologi kedokteran, beberapa pasangan telah dimungkinkan memperoleh anak dengan jalan inseminasi buatan donor, "bayi tabung", atau membesarkan janin di rahim wanita lain. Di Indonesia masih langka sekali dokter yang berminat dalam Iimu Infertilitas. Kalaupun ada, masih terlampau sering dokter dan perawatnya belum menghayati duka-nestapa pasangan yang ingin anak itu. Mereka berobat dari satu dokter ke dokter lain karena kurang bimbingan dan penyuluhan tentang cara-cara pengelolaan pasangan infertil. Infertilitas dapat diartikan sebagai ketidakmampuan pasangan suami istri untuk menghasilkan konsepsi atau kehamilan cukup umur, setelah satu tahun atau lebih perkawinannya, dengan hubungan seksual yang teratur (normal) dengan tidak menggunakan cara-cara keluarga berencana untuk menunda kehamilannya. Hubungan normal dapat diartikan tidak ada gangguan pada pasangan tersebut dalam melakukan hubungan seksual, tidak ada gangguan libido, ereksi maupun gangguan ejakulasi dan tidak ada kelainan anatomis, fungsi dan psikis pada wanita (hymen imperforate, vaginismus). Dalam istilah hubungan normal tidak disebutkan: frekuensi dan timing (saat hubungan) dilakukan. Untuk terjadinya konsepsi, hubungan harus dilakukan sekitar masa ovulasi karena di luar masa ovulasi kemungkinan terjadinya konsepsi kecil ( hubungan efektif). Berdasarkan masa hidup ovum (12-24 jam) dan masa hidup spermatozoa di dalam serviks (fungsi reservoir) dan

1|Page

rahim (105 jam), maka frekuensi hubungan yang normal dan efektif 3-4 kali per minggunya atau selang sehari dalam masa ovulasi sudah mencukupi. Jadi untuk definisi dari infertilitas ini perlu ditegaskan, disebut infertil bila hubungan yang normal dan teratur atau hubungan yang efektif telah dilakukan, tanpa cara-cara penundaan kehamilan, tetapi dalam 1 tahun perkawinannya belum pernah terjadi konsepsi atau kehamilan cukup umur. Dalam kehidupan perkawinan di Indonesia, pasangan yang belum memperoleh keturunan dirasakan sebagai suatu kejanggalan. Bagi suami dirasakan sebagai jalan untuk meneruskan nama keluarga dan sebagai suatu kegagalan memberikan sesuatu kepada istri yang dicintainya. Bagi istri, hal ini pun dianggap sebagai ketidaksempurnaan keibuan atau kewanitaan karena tidak mampu untuk mengandung dan melahirkan anak dari suami yang dicitainya. Tujuan pembangunan jangkan panjang bidang kesehatan adalah pengembangan Keluarga Berencana dan Sejahtera yang dilaksanakan melalui program Keluarga Berencana dengan NKKBS-nya (Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera). Sesungguhnya Keluarga Berencana tidak pernah lengkap tanpa penangguhan masalah infertilitas. Ditinjau dari sudut pandang kesehatan, keluarga berencana harus meliputi pencegahan dan pengobatan infertilitas, apalagi kalau kejadian infertilitas itu terjadi sebelum pasangan memperoleh anak. Lagipula penanggulangan infertilitas berdampingan dengan pelayanan keluarga berencana itu sendiri dan dapat membuat pelayanan keluarga berencana itu sendiri dan dapat membuat pelayanan keluarga berencana menjadi lebih mudah diterima karena program ini secara bersamaan memperhitungkan kebahagiaan dan kesejahteraan keluar

2|Page

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Fertilitas ialah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilkannya. Jadi, fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. Sebelum dan sesudahnya tidak seorangpun tahu, apakah pasangan itu fertil atau tidak. Riwayat fertrlitas sebelumnya sama sekali tidak menjamin fertilitas di kemudian hari, baik pada pasangan itu sendiri, maupun berlainan pasangan. Infertilitas menyatakan kesuburan yang berkurang. Suatu pasangan disebut infertil apabila istri tidak hamil dalam waktu satu tahun setelah menikah (hubungan seksual) tanpa menggunakan kontrasepsi. Disebut infertilitas primer kalau istri belum pernah hamil walaupun bersanggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Disebut infertilitas sekunder kalau istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Penyelidikan lamanya waktu yang diperlukan untuk manghasilkan kehamilan menunjukkan bahwa 32,7% hamil dalam satu bulan pertama, 57,0% dalam 3 bulan, 72,1.% dalam 6 bulan, 85,4% dalam 12 bulan, dan93,4% dalam 24 bulan. waktu median yang diperlukan untuk menghasilkan kehamilan ialah 2,3 bulan sampai 2,8 bulan. Makin lama pasangan itu kawin tanpa kehamilan, makin turun kejadian kehamilannya. Oleh karena itu, kebanyakan dokter baru menganggap ada masalah infertilitas kalau pasangan yang ingin punya anak itu telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan lebih dari 72 bulan.

3|Page

Infertilitas dibagi menjadi: 1. Infertilitas primer : suatu keadaan dimana tidak pernah adanya kehamilan.

2. Infertilitas sekunder : suatu keadaan dimana pernah hamil sebelumnya tetapi gagal untuk mendapatkan kehamilan lagi. 3. Terdapat istilah yang berhubungan dengan infertilitas, yaitu : a. Fekundabilitas : kemungkinan keberhasilan menjadi hamil dalam satu siklus menstruasi. b. Fekundasi : keberhasilan lahir hidup dalam satu siklus menstruasi. B. EPIDEMIOLOGI Infertilitas terjadi pada 10-15 % pasangan usia reproduksi di Amerika Serikat. Satu dari tiga wanita di Amerika Serikat dilaporkan terkait masalah infertilitas. Beberapa variable demografis termasuk usia dan status sosial ekonomi telah dihubungkan dengan kejadian infertilitas. Prevalensi dari infertilitas tidak mempunyai perbedaan yang signifikan pada ras atau etnik. Hubungan antara usia seorang wanita dengan pengurangan fekundabilitas telah banyak dilaporkan. Turunnya fekundabilitas dimulai pada awal usia 30-an dan menurun secara drastis pada akhir 30-an dan 40-aan. Rata-rata 30 % dari pasangan yang istrinya berusia 35-44 tahun adalah infertile. Faktor lain yang juga berperan dalam penurunan fekunditas pada wanita usia reproduktif yang tua adalah peningkatan resiko abortus spontan. Jumlah abortus spontan meningkat lebih dari dua kali lipat anatara usia 20-40 tahun. 12 % dari perkawinan di USA adalah infertile. Fertilitas dipengaruhi umur dan ternyata fertilitas menurun sesudah umur 35 tahun. Meurut Guttnaucher, wanita diantara umur 16-20 tahun : 4,5 % infertil; umur 35-40 tahun : 31,3 5 infertil. Lebih dari 40 tahun : 70 % infertile.

4|Page

C. ETIOLOGI PENYEBAB INFERTILITAS PADA WANITA:

1. Tuba Falopi Tersumbat atau Rusak Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh salpingitis (peradangan tuba falopi). Selain membuat sulit hamil, salpingitis juga dapat menyebabkan kehamilan di luar kandungan (ektopik). Penyakit menular seksual (PMS) klamidia dapat menyumbat saluran tuba falopi yang menyulitkan keluarnya sel telur. Sekitar 70% sumbatan tuba falopi disebabkan oleh infeksi klamidia.

2. Endometriosis

Endometriosis adalah pertumbuhan abnormal jaringan implan di luar uterus, yang normalnya hanya tumbuh di uterus. Endrometriosis dapat menghalangi proses konsepsi dan perlekatan embrio di dinding uterus.

3. Kelainan Hormon Kekurangan hormon lutein dan hormon perangsang folikel dapat menyebabkan sel telur tidak dapat dilepaskan (ovulasi). Kelainan kelenjar hipotalamus-pituitari juga dapat menyebabkan anomali hormonal yang menghalangi ovulasi.

5|Page

4. Tumor Pituitari Tumor yang biasanya jinak ini dapat merusak sel-sel pelepas hormon di kelenjar pituitari yang membuat siklus menstruasi terhenti pada wanita atau produksi sperma menurun pada pria. 5. Kelebihan Prolaktin (Hiperprolaktinemia) Prolaktin adalah hormon yang merangsang produksi ASI. Kelebihan hormon prolaktin dapat mengganggu ovulasi. Bila seorang wanita banyak mengeluarkan ASI meskipun tidak sedang menyusui, kemungkinan dia menderita hiperprolaktinemia. 6. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Sindroma ini ditandai banyaknya kista ovarium dan produksi androgen (hormon laki-laki) berlebihan, terutama testosteron. Akibatnya, sel telur sulit matang dan terjebak di folikel (tidak ovulasi). 7. Menopause Prematur Menopause prematur terjadi bila wanita berhenti menstruasi dan folikel ovariumnya menyusut sebelum usia 40 tahun. Kelainan imunitas, radioterapi, kemoterapi dan merokok dapat memicu kelainan ini. 8. Tumor Rahim (Uterine Fibroids) Tumor jinak di dinding rahim ini sering dijumpai pada wanita usia 30-40 tahun. Tumor ini dapat menyebabkan infertilitas bila menghalangi tuba falopi dan perlekatan telur yang sudah dibuahi di dinding rahim. 9. Adesi Adesi (adhesion) adalah sekelompok jaringan skar yang saling berkait sehingga menyatukan dua
6|Page

permukaan organ yang normalnya saling terpisah. Adesi yang melibatkan tuba falopi karena infeksi atau pembedahan dapat menghalangi fungsi ovarium dan tuba falopi. 10. Kelainan Kelenjar Tiroid Kelainan ini menyebabkan kelebihan atau kekurangan hormon tiroid yang mengacaukan siklus menstruasi. 11. Kelainan Anatomi Bawaan Kelainan bawaan pada organ reproduksi dapat menyebabkan infertilitas. Kelainan yang disebut Mullerian agenesis ditandai dengan tidak berkembangnya vagina atau rahim. Wanita dengan kelainan ini masih dapat punya anak melalui bayi tabung dengan menyewa rahim wanita lain. 12. Merokok Merokok dapat membahayakan ovarium dan mengurangi jumlah/kualitas sel telur. Riset menunjukkan wanita perokok cenderung mengalami menopause lebih awal.

13. Stres Neurotransmiter (pengirim pesan kimiawi) bekerja di kelenjar hipotalamus untuk mengendalikan hormon-hormon reproduksi dan stres. Tingkat hormon stres yang tinggi dapat mengganggu sistem reproduksi.

14. Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk Wanita yang terlalu kurus, misalnya para atlet maraton atau penderita anorexia, dapat kehilangan fungsi reproduksinya. Kegemukan dapat menyebabkan infertilitas dengan berbagai cara. Policystic ovarian sydrome (PCOS), misalnya, lebih sering terjadi pada wanita yang kegemukan.

7|Page

15. Faktor Lingkungan Herbisida, pestisida, limbah industri dan polusi lainnya dapat mempengaruhi fertilitas. Phtalate, zat kimia untuk melunakkan plastik, diduga dapat mengganggu fungsi hormon-hormon tubuh.

PENYEBAB INFERTILITAS PADA PRIA 1. Bentuk dan gerakan sperma yang tidak sempurna Sperma harus berbentuk sempurna serta dapat bergerak cepat dan akurat menuju ke telur agar dapat terjadi pembuahan. Bila bentuk dan struktur (morfologi) sperma tidak normal atau gerakannya (motilitas) tidak sempurna sperma tidak dapat mencapai atau menembus sel telur. 2. Konsentrasi sperma rendah Konsentrasi sperma yang normal adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml atau kurang maka menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma. Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya karena selalu memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi (hiperseks), merokok, alkohol dan kelelahan. 3. Tidak ada semen Semen adalah cairan yang mengantarkan sperma dari penis menuju vagina. Bila tidak ada semen maka sperma tidak terangkut (tidak ada ejakulasi). Kondisi ini biasanya disebabkan penyakit atau kecelakaan yang memengaruhi tulang belakang. 4. Varikosel (varicocele) Varikosel adalah varises atau pelebaran pembuluh darah vena yang berhubungan dengan testis. Sebagaimana diketahui, testis adalah tempat produksi dan penyimpanan sperma. Varises yang disebabkan kerusakan pada sistem katup pembuluh darah tersebut membuat pembuluh darah
8|Page

melebar dan mengumpulkan darah. Akibatnya, fungsi testis memproduksi dan menyalurkan sperma terganggu. 5. Testis tidak turun Testis gagal turun adalah kelainan bawaan sejak lahir, terjadi saat salah satu atau kedua buah pelir tetap berada di perut dan tidak turun ke kantong scrotum. Karena suhu yang lebih tinggi dibandingkan suhu pada scrotum, produksi sperma mungkin terganggu. 6. Kekurangan hormon testosteron Kekurangan hormon ini dapat mempengaruhi kemampuan testis dalam memproduksi sperma. 7. Kelainan genetik Dalam kelainan genetik yang disebut sindroma Klinefelter, seorang pria memiliki dua kromosom X dan satu kromosom Y, bukannya satu X dan satu Y. Hal ini menyebabkan pertumbuhan abnormal pada testis sehingga sedikit atau sama sekali tidak memproduksi sperma. 8. Infeksi Infeksi dapat memengaruhi motilitas sperma untuk sementara. Penyakit menular seksual seperti klamidia dan gonore sering menyebabkan infertilitas karena menyebabkan skar yang memblokir jalannya sperma. 9. Masalah seksual Masalah seksual dapat menyebabkan infertilitas, misalnya disfungsi ereksi, ejakulasi prematur, sakit saat berhubungan (disparunia). Demikian juga dengan penggunaan minyak atau pelumas tertentu yang bersifat toksik terhadap sperma. 10. Ejakulasi balik Hal ini terjadi ketika semen yang dikeluarkan justru berbalik masuk ke kantung kemih, bukannya keluar melalui penis saat terjadi ejakulasi. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkannya, di
9|Page

antaranya adalah diabetes, pembedahan di kemih, prostat atau uretra, dan pengaruh obat-obatan tertentu. 11. Sumbatan di epididimis atau saluran ejakulasi Beberapa pria terlahir dengan sumbatan di daerah testis yang berisi sperma (epididimis) atau saluran ejakulasi. Beberapa pria tidak memiliki pembuluh yang membawa sperma dari testis ke lubang penis. 12. Lubang kencing yang salah tempat (Hypo-epispadia) Kelainan bawaan ini terjadi saat lubang kencing berada di bagian bawah penis. Bila tidak dioperasi maka sperma dapat kesulitan mencapai serviks. 13. Antibodi pembunuh sperma Antibodi yang membunuh atau melemahkan sperma biasanya terjadi setelah pria menjalani vasektomi. Keberadaan antibodi ini menyulitkannya mendapatkan anak kembali saat vasektomi dicabut. 14. Cystic fibrosis Cystic fibrosis adalah penyakit bawaan yang menyebabkan masalah dalam sistem pernafasan dan pencernaan. Beberapa pria penderita penyakit ini tidak dapat mengeluarkan sperma dari testis mereka, meskipun sperma tersedia dalam jumlah yang cukup. 15. Kanker Testis Kanker testis berpengaruh langsung terhadap kemampuan testis memproduksi dan menyimpan sperma. Penyakit ini paling sering terjadi pada pria usia 18 32 tahun.

10 | P a g e

D. SYARAT PEMERIKSAAN PASANGAN INFERTIL Syarat-syarat pemeriksaan Setiap pasangan infertil harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Itu berarti, kalau istri saja sedangkan suaminya tidak mau diperiksa, maka pasangan itu tidak diperiksa.

Adapun syarat-syarat pemeriksaan- pasangan .infertil adalah sebagai berikut: 1) Istri yang 'berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha ,untuk mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila: (a) pernah mengalami keguguran berulang; (b) diketahui mengidap kelainan endokrin; (c) pernah mengalimi peradangan rolgga panggul atau rongga perut; dan (d) pernah mengalami bedah ginekologik 2) istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter 3) istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitais dan belum mempunyai anak dari perkawinan ini. 4) Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah saru anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri atau anaknya'

11 | P a g e

BAB II FAKTOR-FAKTOR INFERTILITAS

I. FAKTOR PRIA

1. Fisiologi Saluran reproduksi pria terdiri dari testis, epididimis, vas deferens, prostat, vesica seminalis, duktus ejakulatorius, kelenjar bulbouretra, dan uretra. Testis mengandung 2 jenis sel: sel Sertoli di tubulus seminiferus (tempat terjadinya spermatogenesis), dan sel Leydig (tempat sintesis androgen). Pada pria, kelenjar hipofisis mensekresikan LH dan FSH, yang bekerja pada testis. LH merangsang sintesis dan sekresi testosteron oleh sel Leydig, dan FSH merangsang sel Sertoli untuk mensekresi inhibin. FSH dan testosteron bekerja pada tubulus seminiferus untuk merangsang spermatogenesis. Pada manusia, proses perubahan spermatogonia menjadi sel sperma matang berlangsung selama 74 hari. Spermatogonia yang imatur mengalami pembelahan mitotik, menghasilkan spermatosit, yang kemudian mengalami miosis, atau pembelahan reduksi, yang paling berperan menghasilkan spermatozoa yang mengandung 23 kromosom. Spermatozoa kemudian masuk ke epididimis, dan berubah selama 12-21 hari sampai matang dan menjadi lebih motil. Selama ejakulasi, spermatozoa matang dilepaskan dari vas deferens bersama dengan cairan dari prostat, vesica seminalis, dan kelenjar bulbouretra. Semen yang dilepaskan merupakan gelatin campuran dari spermatozoa dan plasma semen; akan tetapi pencairan umumnya muncul dalam 20-30 menit karena adanya enzim proteolitik dalam cairan prostat. Spermatozoa yang dilepaskan tidak selalu mampu untuk fertilisasi. Akibatnya, rangkaian kejadian elektrik dan biokimiawi yang rumit, dinamakan kapasitasi, menggantikan lapisan permukaan luar sperma sebelum fertilisasi dapat terjadi. Normalnya, kapasitasi terjadi pada mukus serviks, tetapi dapat pula muncul dalam media fisiologis in vitro. Pada akhir fertilisasi, sperma mengalami reaksi akrosom (pelepasan enzim dari membran dalam akrosom) yang mengakibatkan pemecahan membran plasma luar dan fusinya dengan membran akrosom luar. Beberapa enzim dalam akrosom berperan penting dalam penetrasi
12 | P a g e

sperma ke zona pellucida sel telur. Saat sperma penetrasi ke sel telur, terjadi pengerasan dari zona pellucida (reaksi kortikal), yang mencegah penetrasi sperma lainnya. 2. Etiologi Ada banyak penyebab infertilitas pria, namun dapat dirangkum menjadi 3 faktor utama: kelainan produksi sperma, kelainan fungsi sperma, dan obstruksi pada sistem duktal. a. Kelainan produksi sperma dapat berasal dari kegagalan testis primer (hipergonadotropic hipogonadism), akibat kelainan genetik (Klinefelter syndrome, Y chromosome microdeletions), kerusakan pada anatomi testis (cryptorchidism, varicocele), infeksi (mumps orchitis), atau gonadotoksin. Stimulasi gonadotropin yang abnormal akibat genetik (defisiensi gonadotropin terisolasi), efek langsung maupun tidak langsung tumor hipofisis atau hipotalamus, atau penggunaan androgen eksogen (penekanan sekresi gonadotropin) merupakan penyebab lain produksi sperma yang kurang. b. Kelainan fungsi sperma ada kaitannya dengan antibodi antisperma, peradangan saluran genital (prostatitis), varicocele, kegagalan reaksi akrosom, kelainan biokimia (spesies oksigen reaktif), atau masalah dalam pengikatan sperma (ke zona pellucida) atau penetrasi. c. Obstruksi pada sistem duktal dapat berasal dari vasektomi, tidak adanya vas deferens kongenital bilateral, maupun obstruksi kongenital atau didapat pada epididimis atau duktus ejakulatorius.

Gonadotoksin. Paparan lingkungan yang relevan mencakup panas, rokok, radiasi, logam berat, pelarut organik, dan pestisida. Peningkatan suhu skrotum dapat mempengaruhi spermatogenesis, dan febris juga dapat berakibat pada penurunan densitas dan motilitas sperma yang sementara maupun permanen.

13 | P a g e

Analisis Semen Jika terdapat infertilitas pada pria, hampir selalu diperlukan analisis semen. Evaluasi pertama faktor infertilitas pria harus mencakup setidaknya dua analisis semen yang tepat yang diambil sekurang-kurangnya berjarak 4 minggu. Berikut ini adalah nilai-nilai normal yang direkomendasikan oleh WHO: Volume pH Viskositas Konsentrasi sperma Jumlah sperma total Motilitas Kemajuan Morfologi normal 1,5 5,0 ml > 7,2 < 3 (skala 0-4) > 20 juta / ml > 40 juta / ejakulasi > 50% > 2 (skala 0-4) > 50% normal > 30% normal > 14% normal Round cells Aglutinasi sperma < 5 juta / ml < 2 (skala 0-3)

Nilai abnormal menunjukkan adanya faktor infertilitas pria yang membutuhkan evaluasi klinis dan laboratorium tambahan. Kejadian infertilitas pria meningkat dengan jumlah parameter semen utama (konsentrasi, motilitas, morfologi): jika satu parameter abnormal kemungkinan infertil 2-3 kali lebih tinggi, jika ada dua yang abnormal 5-7 kali lebih tinggi, dan jika ketiga-tiganya abnormal 16 kali.

14 | P a g e

Tes Fungsi Sperma Sayangnya, selain perkembangan rangkaian tes dan prosedur yang didesain untuk mengevaluasi perlekatan sperma ke zona pellucida, penetrasi ke membran oosit, atau pelepasan enzim akrosome, tidak ada tes yang dapat dipercaya untuk uji fungsi sperma. Berikut adalah tes-tes yang dikenal : 1. Sperm Penetration Assay 2. Human Zona Binding Assay 3. Computer-Assisted Sperm Analysis 4. Acrosin and the Acrosome Reaction 5. Biochemical test

II. FAKTOR WANITA A. Gangguan Ovulasi Gangguan ovulasi jumlahnya sekitar 30-40% dari seluruh kasus infertilitas wanita. Gangguan-gangguan ini umumnya sangat mudah didiagnosis menjadi penyebab infertilitas. Panjang siklus menstruasi normal pada wanita usia reproduktif bervariasi antara 25-35 hari; kebanyakan wanita memiliki panjang siklus 27-31 hari. Wanita yang memiliki haid bulanan teratur (rata-rata tiap 4 minggu) dengan moliminal symptom, seperti pembengkakan payudara premenstruasi dan dismenorea, hampir selalu memiliki siklus ovulasi yang bervariasi. Karena ovulasi sangat berperan dalam konsepsi, ovulasi harus dicatat sebagai bagian dari penilaian dasar pasangan infertil. Penyebab gangguan ovulasi dapat dijabarkan menjadi 3: 1. faktor susunan saraf pusat yaitu: tumor, disfungsi hipotalamus, faktor psikogen, disfungsi hipofisis 2. faktor-faktor intermediet
15 | P a g e

yaitu : gizi, penyakit kronis, penyakit metabolis 3. faktor-faktor ovarial yaitu : tumor-tumor, disfungsi ovarial dan sindrom Turner

Metode Penilaian Ovulasi Evaluasi ovulasi merupakan bagian penting dari seluruh penilaian infertilitas. Seluruh metode berbeda-beda, dan bermanfaat, tidak ada satupun yang lebih baik dari yang lain. Berikut akan dibahas beberapa metode penilaian ovulasi yang banyak digunakan di masyarakat. 1. Basal Body Temperature (BBT) Metode yang termudah dan termurah untuk mendeteksi ovulasi adalah dengan mencatat suhu tubuh setiap pagi pada kartu BBT. Suhu tubuh diukur sebelum pasien beraktivitas, makan atau minum. Tidak boleh merokok. Metode ini dianjurkan karena ketepatan angka kisaran suhunya tidak terlalu melenceng. Suhu tubuh diukur setiap hari dan juga dicatat waktu koitus. Prinsip pencatatan ini sederhana. Sekresi progesteron oleh ovarium umumnya terjadi hanya setelah ovulasi. Progesteron adalah hormon termogenik; sekresi progesteron mengakibatkan naiknya suhu sekitar 0,5 oF diatas suhu tubuh dasar pada fase folikuler, yang berkisar antara 97-98 oF. Perbedaan antara dua fase siklus menghasilkan pola bifasik yang khas sebagai indikasi ovulasi. Seringkali terdapat titik terendah di antara fluktuasi produksi LH, tetapi tidak konsisten. Fase lutein ditandai dengan peningkatan suhu tubuh selama sekurang-kurangnya 10 hari. 2. Midluteal Serum Progesteron Peningkatan kadar progesteron serum mendasari perubahan secara tidak langsung pada ovulasi. Batas terendah kadar progesteron pada fase lutein bervariasi untuk tiap laboratorium, namun kadar > 3ng/ml (10 nmol/l) menandakan pasti adanya ovulasi. Pengukuran harus dilakukan saat sekresi progesteron mencapai puncaknya pada fase midlutein (biasanya pada hari ke 21-23 dari siklus ideal 28 hari). Khasnya, ovulasi dianggap terjadi bila kadarnya lebih tinggi dari 3 ng/ml. Interpretasi dalam satu kali
16 | P a g e

pengukuran kadar progesteron dipersulit dengan adanya variasi alami sekresi hormon ini; sehingga kadar yang rendah belum tentu menandakan anovulasi, tetapi jika konsentrasinya cukup pada fase lutein, menunjukkan ada ovulasi sebelumnya. 3. Monitoring Luteinizing Hormone Pencatatan gelombang produksi LH merupakan metode untuk memprediksi ovulasi. Ovulasi muncul 34-36 jam setelah onset gelombang LH dan sekitar 10-12 jam setelah puncak LH. Beberapa perusahaan obat telah mengembangkan peralatan yang bisa digunakan sendiri di rumah untuk mendeteksi gelombang LH pada urine. Peralatan ini cukup akurat, cepat, nyaman, dan relatif murah. 4. Biopsi Endometrium Metode lain untuk menunjukkan adanya ovulasi adalah biopsi endometrium; penemuan sekret endometrium memastikan adanya ovulasi. Karena prosedur ini lebih invasif daripada metode lain dan tidak nyaman bagi beberapa orang, peran utamanya dalam evaluasi infertilitas bukanlah untuk menunjukkan adanya ovulasi, tetapi lebih kepada apakah ada gangguan pada fase lutein. Umumnya, biopsi dilakukan 2-3 hari sebelum hari pertama perkiraan haid. 5. Ultrasound Monitoring Ovulasi dapat dicatat dengan memonitor perkembangan folikel dominan oleh ultrasound sampai terjadi ovulasi. Ovulasi ditandai dengan adanya penurunan ukuran folikel dan munculnya cairan dalam cul-de-sac. Ovulasi dilaporkan terjadi saat ukuran folikel mencapai 21-23 mm, meskipun mungkin saja ukuran folikel bervariasi dari 17 hingga 29 mm. Karena ketidaknyamanan dan mahalnya teknik pengukuran ini, penggunaan metode ini untuk mengetahui adanya ovulasi tidak dianjurkan, hasilnya lebih baik digunakan pada pasien-pasien ART untuk memonitor induksi ovulasinya. 6. Gangguan Fase Lutein Dinyatakan ada gangguan fase lutein bila pada 2 biopsi endometrium menunjukkan keterlambatan perkembangan histologis endometrium lebih dari 2 hari dari hari siklus yang sesungguhnya.

17 | P a g e

7. Vaginal Smear Pembentukkan progesteron menimbulkan perubahan-perubahan sitologis pada sel-sel superfisial. 8. Pemeriksaan lendir serviks Adanya progesteron menyebabkan perubahan sifat lendir serviks yaitu lendir tersebut menjadi lebih kental, juga hilangnya gambaran fern (daun pakis) yang terlihat pada lendir yang telah dikeringkan

B. Kelainan Anatomis Kelainan anatomis yang sering ditemukan berhubungan dengan infertilitas adalah abnormalitas tuba fallopii dan peritoneum, faktor serviks, serta faktor uterus.

1. Faktor Tuba dan Peritoneum Faktor tuba dan peritoneum menjadi penyebab kasus infertilitas yang cukup banyak dan merupakan diagnosis primer pada 30-40% pasangan infertil. Faktor tuba mencakup kerusakan atau obstruksi tuba fallopii, biasanya berhubungan dengan penyakit peradangan panggul, pembedahan panggul atau tuba sebelumnya. Adanya riwayat Pelvic Inflammatory Disease (PID), abortus septik, ruptur apendiks, pembedahan tuba, atau kehamilan ektopik sebelumnya menjadi faktor resiko besar untuk terjadinya kerusakan tuba. PID tidak diragukan lagi menjadi penyebab utama infertilitas faktor tuba dan kehamilan ektopik. Studi klasik pada wanita dengan diagnosis PID setelah dilaparoskopi menunjukkan bahwa resiko infertilitas tuba sekunder meningkat seiring dengan jumlah dan tingkat keparahan infeksi panggul; secara keseluruhan, insidensi berkisar pada 1012% setelah 1 kali menderita PID, 23-35% setelah 2 kali menderita PID, dan 54-75% setelah menderita 3 kali episode akut PID. Resiko kehamilan ektopik meningkat 6-7 kali lipat setelah infeksi panggul. Meskipun banyak wanita dengan penyakit tuba atau perlekatan pelvis tidak diketahui adanya riwayat infeksi sebelumnya, terbukti kuat bahwa
18 | P a g e

silent infection sekali lagi merupakan penyebab yang paling sering. Penyebab lain faktor infertilitas tuba adalah peradangan akibat endometriosis, inflammatory bowel disease, atau trauma pembedahan. Mekanisme infertilitas faktor tuba di antaranya adalah kelainan anatomi yang mencegah bersatunya sperma dan ovum. Obstruksi tuba proksimal mencegah sperma mencapai tuba falopi bagian distal dimana fertilisasi normalnya terjadi. Oklusi tuba bagian distal mencegah ovum tertangkap dari ovarium yang berdekatan.

2. Faktor Serviks Faktor serviks berjumlah tidak lebih dari 5% penyebab infertilitas secara keseluruhan. Tes klasik untuk evaluasi peran potensial faktor serviks pada infertilitas adalah postcoital test (PCT). PCT dibuat untuk menilai kualitas mukus serviks, adanya sperma dan jumlah sperma motil pada saluran genitalia wanita setelah coitus, serta interaksi antara mukus serviks dan sperma. PCT harus dilakukan tepat sebelum ovulasi karena interpretasinya yang baik membutuhkan pemeriksaan mukus serviks pada saat paparan dengan estrogen yang cukup. Kadar estrogen serum mencapai puncak tepat sebelum ovulasi, menjadi stimulus yang optimal untuk glandula serviks sensitif-estrogen penghasil mukus. PCT harus dilakukan 1 atau 2 hari sebelum waktu antisipasi dari ovulasi. LH urine pasien dapat membantu dalam menjadwalkan tes untuk pasien dengan siklus yang ireguler. Namun ada satu kontroversi mengenai waktu coitus sebelum pemeriksaan mukus serviks. Meskipun interval yang optimal adalah kurang dari 2 jam dari coitus ke PCT, tes yang adekuat tetap dapat dilakukan dalam 24 jam setelah coitus. Meskipun datanya tidak pasti, namun jika coitus setelah 2 hari abstinensia, atau rata-rata 2-12 jam sebelum PCT dilakukan, informasi yang disampaikan tetap adekuat. Satu hal lagi, para pasangan harus diingatkan untuk tidak menggunakan lubrikan yang mungkin mengandung agen spermisida.

19 | P a g e

3. Faktor Uterus Kelainan uterus secara umum banyak dikaitkan dengan abortus berulang daripada dianggap sebagai infertilitas. Padahal, kelainan anatomi tertentu dari uterus dapat dianggap sebagai penyebab infertilitas. Fibroid uteri, khususnya leiomyoma submukosa, ada kaitannya dengan abortus. Beberapa peneliti berspekulasi bahwa lokasi fibroid dalam rongga endometrium dapat berpengaruh pada sistem transportasi sperma atau bahkan pada pada proses implantasi. Perdarahan abnormal dikarenakan fibroid uteri ini mungkin tidak akan membuat persiapan yang baik dari endometrium untuk implantasi yang berhasil. Hubungan antara fibroid intramural dan submukosa dengan infertilitas mungkin bahkan lebih kecil daripada dengan hubungannya dengan abortus. Akan tetapi, fibroid merupakan penyebab yang kurang sering pada infertilitas, bahkan myomektomi abdomen lebih dapat menyebabkan infertilitas melalui pembentukan perlekatan post-operatif. Malformasi uterus kongenital, seperti uterus unicorneata, septum uteri, dan uterus didelphys, lebih erat kaitannya dengan abortus spontan daripada dengan infertilitas. Hubungan antara in utero DES dengan infertilitas tetap masih kontroversial. Kelainan uterus, seperti rongga endometrium klasik berbentuk-T sama seperti kelainan serviks dan tuba, tampak sangat berkaitan dengan paparan DES. Hubungan antara kelainan ini dengan infertilitas sebenarnya masih kurang jelas; ada yang melaporkan bahwa peningkatan insidensi infertilitas dan yang lain-lain tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada angka infertilitas, baik antara wanita terpajan DES dan wanita yang tidak terpajan DES. Akan tetapi, tidak ada pembedahan yang efektif untuk menolong wanita dengan malformasi uterus terkait-DES. Pasien dengan perlekatan intrauterine, atau Ashermans syndrome, dapat menjadi infertil. Dalam bentuk yang lebih berat, Ashermans syndrome dihubungkan dengan amenore, iregularitas menstruasi, dan abortus spontan. Seperti myoma submukosa, perlekatan intrauterine diduga berpengaruh pada implantasi embrio.

20 | P a g e

Infertilitas yang Tidak Teridentifikasi Infertilitas yang tidak teridentifikasi didiagnosis bila seluruh elemen standar evaluasi infertilitas menunjukkan hasil yang normal. Insidensi infertilitas ini berkisar dari 10% sampai paling tinggi 30% di antara populasi infertil, tergantung dari kriteria diagnostik yang digunakan. Minimal, diagnosis infertilitas tak teridentifikasi menunjukkan analisis semen yang normal, bukti objektif adanya ovulasi, rongga uterus yang normal, serta patensi tuba bilateral. Sebelumnya, diharapkan hasil PCT yang positif dan penanggalan endometrium in phase, tetapi kriteria ini tidak lagi digunakan.

21 | P a g e

BAB IV PEMERIKSAAN MASALAH INFERTILITAS

1. Masalah air mani Penampungan air mani Air mani ditampung dengan jalan masturbasi langsung ke dalam botol gelas bersih yang bermulut lebar (atau gelas minum), setelah abstinensi 3-5 Lari. sebaiknya penampungan air mani itu dilakukan di rumah pasien sendiri, kemudian dibawa ke laboratorium dalam 2 jam setelah dikeluarkan. Air mani yang dimasukkan ke kondom dahulu, yang biasanya mengandung zat spermatisid, akan mengelirukan penilaian motilitas spermatozoa. Karahteristik air mani 1) Koagwlasi dan likwefaksi, Air mani yang diejakulasikan dalam bentuk cair akan segera menjadi "agar atau koagulum, untuk kemudian melikuefaksi lagi dalam 5-20 menit menjadi cairan yang agak pekat guna memungkinkan spermatozoa bergerak dengan leluasa. Proses koagulasi din likuefaksi diatur oleh enzim. Suatu faktor likuiefaksi telah dapat dipisahkan dari air mani normal, yang ternyata merupakan enzim proteolitik dengan berat molekul 33.000 Enzim itu terbukti dapar melikuefaksikan air mani yang tidak dapat berlikuefaksi. 2) Viskositas. setelah berlikuefaksi, ejakulat akan menjadi cairan homogen yang agak pekat, yang dapat membenang kalau dicolek dengan sebatang lidi. Daya membenangnya,dapat mencapai 3-10 cm. Makin panjang benangnya, makin tinggi viskositasnya. Pengukuran viskositas seperti itu sangat subyektif. Pengukuran viskositas yang lebih tepat ialah dengan pipet Eliasson, volumnya 0,J Tl yang berkalibrasi O,O5 ml dan 0,1 ml. Air mani diisap sampai tanda 0,1 ml, kemudian tekanan isapnya dilepaskan. waktu yang diperlukan sejak tekanan isapnya dilepas sampai menjatuhkan sereres air mani dicatat dengan stopwatch. viskositas normal memerlukan waktu 1-2 detik. Viskositas tinggi lebih dari 5 detik. Pada umumnya viskositas tinggi tidak menimbulkan masalah infertilitas, kecuali kalau pada pemeriksaan tampak spermarozoa seperti bergerak dalam lumpur, atau bergerak di tempat. Menurul Tjioe & Oentoeng tidak terdapat korelasi langsung antara
22 | P a g e

viskositas tinggi air mani dan gerakan buruk spermatozoa pada kadar spermatozoa lebih dari 60 iuta/ml.. Akan tetapi, pada kadar spermatozoa kurang dari 60 juta/ml vistkositas tinggi air mani itu sangat menghambat gerakan spermatozoa. 3) Rupa dan bau. Air mani yang baru diejakulasikan rupanya putih-kelabu, mirip agar-agar. Setelah berlikuefaksi menjadi cairan, kelihatannya jernih atau keruh, tergantung dari konsentrasi spermatozoa yang dikandungnya. Baunya langu, seperti bau bunga akasia. 4) Volum. Setelah abstinensi selama 3 hari volum air mani berkisar antara 2,0- 5,O lt. Volum kurang dari I ml atau lebih dari 5 ml biasanya disertai kadar spermarozoa rendah. pada volum kurang dari 1,5 ml sesungguhnya baik diinseminasi buatan suami (IBS) karena volum yang kurang itu tidak akan cukup menggenangi lendir yang menjulur dari serviks, sehingga dapat merupakan masalah infertilitas. Pada ejakulasiterbagi (split ejacwlate), 90% dari ejakulat pertama akan mengandung konsentrasi, viskositas, gerakan dan kadang-kadang morfologi spermatozoa yang lebih baik daripada eiakulat kedua. Sisanya kadang-kadang sama saja, atau malahan sebaliknya. 5) pH. Air mani yang baru diejakulasikan pH-nya berkisar antara 7,3-7,7,yang bila dibiarkan lebih lama, akan meningkat karena penguapan CO2-nya. Apabila pH lebih dari 7,7 hal itu mungkin disebabkan oleh peradangan mendadak kelenjar atau saluran genital sedangkan pH yang kurang dari 7,2 mungkin disebabkan oleh peradangan menahun kelenjar tersebut. Sekret kelenjar Prostat pH-nya lebih rendah dari 7. 6) Fruktosa. Fruktosa air mani adalah hasil vesikula seminalis , yang menunjukkan adanya rangsangan androgen. Fruktosa terdapat pada semua air mani, kecuali pada: ozoospermia karena tidak terbentuknya kedua vas deferens. Air maninya tidak terkoagulasi segera setelah ejakulasi karena vesikula seminalisnya pun tidak terbentuk. kedua duktus ejakulatoriusnya tertutup dan keadaan luar biasa dari ejakulasi retrograd, dimana sebagian kecil eiakulat yang tidak mengandung spermatozoa sempat keluar. setiap air mani yang Ozoospermia harus diuji secara rutin akan adanya fruktosa. Dengan jalan ini setiap kecurigaan tidak adanya sperma dapat lebih diyakinkan, tanpa harus melakukan eksplorasi skrotum,

23 | P a g e

Ada tidaknya koagulasi trgantung setelah ejakulasi harus diperiksa dalam 5 menit setelah ejakulasi.

Pemeriksaan mikroskopik Bagi orang yang berpengalaman, memeriksa setetes air mani di bawah mikroskop sudah memungkinkannya menaksir konsentrasi, jenis gerakan, dan morfologi spermatozoa dengan ketepatan yang tidak jauh berbeda dari kenyataan. Sel-sel radang menunjukkan adanya peradangan. Kadang-kadang tampak pula Trikomonas vaginalis atau Kandida albikans. Air mani yang dibiarkan lama akan membentuk kristal spermin fosfat. Kadang-kadang tampak pulaupulau aglutinasi spermarozoa, berkisar antara jarang sampai banyak. Terdapat 3 jenis aglutinasi: kepala dengan kepala, kepala dengan ekor, ekor dengan ekor. Spermatozoa di bagian luar aglutinasi itu biasanya masih tampak bergerak, akan tetapi di pusatnya sudah tidak bergerak lagi. Air mani tanpa spermatozoa (azoospermia) atau sedikit spermatozoa akan segera tampak pada pemeriksaan mikroskop. Sumbatan duktus dapat disingkirkan apabila tampak sel-sel muda yang bulat. Sebelum menyatakan tidak adanya sel-sel muda, sebaiknya air mani disentrifugasikan dahulu 3000 putaran per menit selama 5 menit, kemudian sedimennya diperiksa kembali. Semua air mani yang azoospermia harus diperiksa akan adanya fruktosa, yang dihasilkan oleh vesikula seminalis. Pada tidak tumbuhnya kedua vas deferens dan vesikula seminalis, air maninya tidak mengandung fruktosa dan tidak dapat berkoagulasi setelah ejakulasi. Demikian pula kalau kedua duktus ejakulatoriusnya tersumbat, atau pada ejakulasi retrograd.

24 | P a g e

Skala gerakan ekor, kemajuan, arah, dan kecepatan spermatozoa

Jarang sekali semua atau hampir semua spermatozoa ditemukan tidak bergerak. Apabila ternyata demikian, sebaiknya darah pasien diperiksa untuk kemungkinan antibodi imobilisasi spermatozoa dengan uji Isojima. Untuk meyakinkan apakah semua spermatozoa itu telah mati, dilakukan pulasan eosin-nigrosin. Biasanya pada analisis air mani normal 2-3 jam setelah ejakulasi akan maiih terdapat 60% spermatozoa bergerak maju lurus cepat. Sebagaimana dikatakan oleh Macleod, plasma mani bukanlah medium yang baik untuk menyimpan spermatozoa dalam waktu yang lama, kecuali hanya untuk beberapa menit saja, seperti terjadi pada sanggama yang normal. Pada pemeriksaan pasca sanggama-segera, ternyata spermatozoa dapat mencapai lendir maksimal 1 1/2 menit-setelah ejakulasi, dan tidak dapat hidup lama dalam secret vagina karena keasamannya yang tinggi. Dengan demikian,.spermatozoa yang akan membuahi ovum itu, harus secepatnya membebaskan diri dari lingkungan plasma mani dan sekresi vagina. Oleh karena itu, faktor vagina hampir tidak berpengaruh. Motilitas spermarozoa kurang dapat diperoleh dari suami sehat seteiah tidak bersanggama lebih dari 1O hari. Hal ini mungkin karena kerusakan spermatozoa akibat terlampau lama ditimbun dalam sistem duktus. Pemeriksaal air mani berikutnya setelah abstinensi yang singkat akan .memulihkan motilitas spermatozoa seperti semula.

25 | P a g e

Uji hetidakcocokan imunologik Uji kontak air mani dengan lendir serviks (sperm cervical mucws contdct test .cMC.test) yang dikembangkan oleh Kremer dan Jager dapat mempertunjukkan adanya antibodi lokal pada pria atau wanita.

2. Masalah vagina Kemampuan menyampaikan air mani ke dalam vagina sekitar serviks perlu untuk fertilitas. Masalah vagina yang dapat menghambat penyampaian ini ialah adanya sumbatan atau peradangan. Sumbatan psikogen disebut vaginimus atau disparcnia, sedangkan sumbatan anatomik dapat karina bawaan atau perolehan. vaginitis karena Kandida albikans atau Trikomonas vaginalis hebat dapat merupakan masalah, bukan karena antispermisidalnya, melainkan antisanggamanya.sobrero menemukan spermatozoa di dalam lendir serviks dalam 90 detik sejak diejakulasikan, dan Bedford yang menghancurkan semua spermarozoa dalam vagina kelinci 5.rnenit sejak diejakulasikan mencatat bahwa penghancuran itu sama sekali tidak menghalangi terjadinya kehamilan. Itulah sebabnya mengapa vaginitis tidak seberapa menjadi masalah infertilitas.

3. Masalah serviks Infertilitas yang berhubungan dengan factor serviks dapat disebabkan oleh sumbatan kanalis servikalis, lender serviks yang abnormal, malposisi serviks, atau kombinasinya. Selain itu juga terdapat berbagai kelainan anatmi yang berperan pada timbulnya infertilitas. Untuk masalah serviks, terdapat beberapa uji, yaitu uji pasca senggama (mengetahui ada/tidaknya sperma yang melewati seviks, dilakukan 6 jam pasca senggama), uji gelas obyek, serta uji kontak air mani dengan lender serviks.

26 | P a g e

Uji pasca sanggama Walaupun uji Sims-Huhner atau uji pascasanggama telah lama dikenal di seluruh dunia, tetapi ternyata nilai kliniknya belum diterima secara seragam. Salah satu sebabnya ialah belum adanya standardisasi cara melakukannya. Kebanyakan peneliti sepakat untuk melakukannya pada tengah siklus haid, yang berarti 7 - 2 harr sebelum meningkatnya suhu basal badan yang diperkirakan. Akan tetapi, belum ada kesepakatan berapa hari abstinensi harus dilakukan sebelumnya, walaupun kebanyakan menganjurkan 2 hari. Demikian pula belum terdapat kesepakatan kapan pemeriksaan itu dilakukan setelah sanggama. Menurut kepustakaan, ada yang melakukannya setelah 90 detik sampai setelah 8 hari. Sebagaimana telah diuraikan, spermatozoa sudah dapat sampai pada lendir serviks segera setelah sanggama, dan dapat hidup di dalamnya sampai 8 hari. Menurut Denezis uji pascasanggama baru dapat dipercaya kalau dilakukan dalam 8 jam setelah sanggama. Perloff melakukan penelitian pada golongan fertil dan infertil, dan berkesimpulan tidak ada perbedaan hasil antara kedua golongan itu kalau pemeriksaannya dilakukan lebih dari 2 jam setelah sanggama. Jika kesimpulan ini benar, maka uji pascasanggama dilakukan secepatnya setelah sanggama. Davajan menganjurkan 2 jam setelah sanggama, walaupun penilaian secepat itu tidak akan sempat menilai ketahanan hidup spermatozoa dalam lendir serviks. Berapa banyak spermatozoa harus tampak dalam 1 LPB, belum. Terdapat kesepakatan pula. Jette & Glass menemukan peningkatan persenrase kehamiian yang secara statistik bermakna kalau terdapat lebih dari 20 spermarozoa/LPB; dan tidak berbeda bermakna pada golongan dengan 1 5, 6 - 10 atau 1,1 20 spermatozo a/LPB.

Cara perneriksaan: Setelah abstinensi selama 2 hari, pasangan dianjurkan melakukan sanggama 2 jam sebelum saat yang ditentukin untuk datang ke dokter. Dengan spekulum vagina kering, serviks ditampilkan, kemudian lender serviks yang tampak dibersihkan dengan kapas kering pula. Jangan menggunakan kapas basah oleh antiseptik karena dapat mematikan spermitozoa. Lindir serviks diambil dengan isapan semprit tuberkulin, kemudian disemprotkan keluar pada gelas obyek, lalu ditutup dengan gelas penutup. Pemeriksaan mikroskopik dilakukan dengan lapangan pandangan besar (LPB)
27 | P a g e

Uji in vitro 1) Uji gelas obyek Miller Kurzok pada tahun 1932 memakai teknik yang sangat sederhana untuk mengukur kemampuan spermatozoa masuk ke dalam lendir serviks. Caranya dengan menempatkan seteies air mani dan setetes lender serviks pada gelas obyek, kemudian kedua bahan itu disinggungkan saru sama lain dengan meletakkan sebuah gelas penutup di atasnya. speimatozoa akan tampak menyerbu ke dalam lendir serviks, didahului olih pembentukan phalanges,air mani ke dalam lendir serviks. Menurut Perloff Ec Steinberger, pembentukan pbalanges itu bukan merupakan kegiatan spermatozoa, meli'in- kan fenomena fisik kalau dua cairan yang berbeda viskositas, regangan permukaan, dan reologinya bersinggungan itu lain di di bawah gelas penutup.

2) Uji kontak air mani dengan lendir servihs. Menurut Kremer & Jager, pada ejakulat dengan autoimunisasi, gerakan maju spermatozoa akan berubah menjadi terhenti, atau gemetar di tempat kalau bersinggungan dengan lender serviks. Perangai gemetar di tempat ini terjadi pula kalau air mani yang normal bersinggungan dengan lendir serviks

28 | P a g e

dari wanita yang serumnya mengandung antibodi terhadap spermatozoa. Kremer & Jager melakukan uji tersebut dengan dua cara.

Cara pertarna. Setetes lendir serviks praovulasi dengan tanda-tanda pengaruh estrogen yang baik dan pH lebih dari 7 diletakkan pada sebuah gelas obyek di samping setetes air mani. Kedua tetesan itu dicampur dan diaduk dengan sebuah gelas penutupt fang kemudian dipakai untuk menutup campuran itu. Setetes mani yang sama diletakkan pada gelas obyek itu juga, kemudian ditutup dengan gelas penutup. Penilaian dilakukan dengan membandingkan motilitas spermatozoa dari kedua sediaan itu. Sediaan itu kemudian disimpan ke dalam tatakan petri yang lembab, pada suhu kamar, selama 30 menit, untuk kemudian diamati lagi.

Cara kedua, Setetes besar lendir serviks diletakkan pada sebuah gelas obyek, kemudian dilebarkan sampai diameternya 1 cm. Setetes air mani diletakkan di tengah-tengah lendir serviks itu, kemudian lendir serviks dan air mani ditutup dengan sebuah gelas penutup, sambil ditekan sedikit supaya air maninya dapat menyebar tipis di atas lendir serviks. Setetes air mani yang sama diletakkan pula pada gelas obyek itu, kemudian ditutup dengan sebuah gelas penutup. Penilaian dilakukan seperti cara pertama. Uji ini sangat berguna untuk menyelidiki adanya faktor imunologi apabila ternyata uji pascasanggama selalu negatif atau kurang baik, sedangkan kualitas air mani dan lendir serviks norrnal. Perbandingan banyaknya spermatozoa yang gemetar di tempat, yang maju pesat, dan yang tidak bergerak mungkin menentukan prognosis fertilitas pasangan itu.

4. Masalah uterus Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba Fallopii manusia secepat 5 menit setelah inseminasi. Dibandingkan dengan besar spermatozoa dan iarak yang harus ditempuhnya, kiranya tidak mungkin migrasi spermatozoa berlangsung hanya karena gerakannya sendiri. Tidak disangkal, kontraksi vagina dan uterus memegang peranan penting dalam transportasi spermatozoa ini. Pada binatang kontraksi alat-alat itu terjadi karena pengaruh oksitosin yang dikeluarkan oleh hipotalamus sewaktu bersanggama.Pada manusia, oksitosin tidak berpengaruh
29 | P a g e

terhadap uterus yang tidak hamil akan tetapi prostaglandin dalam air mani dapat membuat uterus berkontraksi secara ritmik. Ternyata, prostagladinlah yang memegang peranan Penting dalam transportasi spermatozoa ke dalam uterus dan melewati penyempitanpada batas uterus dengan tuba itu. Ternyata pula, uterus sangat sensitif terhadap prostaglandin pada akhir fase proliferasi dan permulaan fase sekresi. Dengan demikian, kurangnya prostaglandin dalam air mani dapat merupakan masalah infertilitas. Masalah ini yang dapat mengganggu transportasi spermatozoa melalui uterus ialah distorsi kavum uteri karena sinekia, mioma, atau polip implantasi, pertumbuhan intrauterin, dan nutrisi serta oksigenisasi janin. peradangan endometrium dan gangguan kontraksi uterus. Kelainan-kelainan terseut mengganggu dalam hal

Biopsi Endometrium Barangkali tidak ada satu alasan yang paling penting untuk melakukan biopsi, kecuali untuk menilai perubahan khas yang terjadi pada alat yang dibiopsi itu. Gambaran endometrium merupakan bayangan dari pengaruh hormon-hormon ovarium. Akan tetapi, sebagaimana juga berlaku bagi setiap prosedur kedokteran, keterangan yang ingin diperoleh harus seimbang dengan resiko melakukan prosedur itu. Kapan biopsi itu dilakukan, tergantung dari keterangan yang ingin diperoleh. Apabila ingin memperoleh keterangan tentang pengaruh esrrogen atau yang lain yang bukan hormonal, maka biopsi endometrium dilakukan pada hari ke-14. Apabila yang ingin diketahui adalah peradangan menahun (tuberkulosis), ovulasi, atau neoplasia, maka biopsinya dilakukan setelah ovulasi. Pada umumnya, waktu yang terbaik untuk melakukan biopsi adalah 5-6 hari setelah ovulasi, yaitu sesaat sebelum terjadinya implantasi blastosis pada permukaan endometrium. Biopsi yang dilakukan sebelum harike-7 setelah ovulasi itu akan mengurangi kemungkinan terganggunya kehamilan yang sedang terjadt. Biopsi yang dilakukan dalam 12 jam setelah haid masih dapat menilai endometrium yang bersekresi, malahan granuloma tuberkulosis akan tampak lebih jelas.

30 | P a g e

Histerosal pingografi Prinsip pemeriksaannya sama dengan pertubasi, hanya peniupan gas diganti dengan penyuntikan media kontras yang akan melimpah ke dalam kavum peritoneal kalau tubanya paten, dan penilaiannya dilakukan secara radiografik. Kini, alat yang dianggap terbaik untuk menyuntikkan media kontras ialah kateter pediatrik Foley nomor 8, sebagaimana diuraikan oleh Ansari, untuk menghindarkan perlukan dan perdarahan serviks, menghindarkan perforasi uterus mengurangi rasa-nyeri, dan karena mudah mengatur sikap pasien. Kateter dimasukkan ke dalam kavum uteri dengan bantuan kiem, kemudian dipertahankan pada tempatnya dengan menyuntikkan 2 ml air. Setelah spekulum vagrna dilepaskan, media kontras disuntikkan ke dalarn kavqm uteri secukupnya dengan pengawasan fluoroskopi. Llntuk mendapat gambaran segmen bawah uterus dan kanalis servikaiis, bilon dikernpeskan sebentar. sambil Menyuntikkan media kontras. Keuntungan memakai media kontras larut air iaiah penyebarannya rata dalam kavum peritonei, cepat diserap (daiam 50menit), menghindarkan kernungkinan terjadinya emboli, dan menirnbulkan reaksi peritcneai yang tidak berarti Kadang-kadang terjadi kejang tuba, sebagai reaksi terhadap nyeri atau ketakutan sewaktu dilakukan histerosalpingografi, yang akan memberikan garnbaran palsu seperti sumbatan. Usaha menghindarkannya ialah antara lain dengan obat nitrogliserin di bawah lidah, obat penenang, anastesi paraservikal. atau pemberian parenteral isoksuprin, vang tidak seialu akan berhasil. Histerosaipingografi ,yang dilakukan dengan baik dapat memberikan keterangan tentang selukbeluk kavum uteri, pitensi tuba, din kalau tubanya paten tentang peritoneumnya juga.

Histeroskopi Histeroskopi adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digelembungkan dengan media dekstran 32% glukosa 5% garam fisiologik. atau gas Co2. Dalam infertilitas, pemeriksaan histeroskopi dilakukan apbila terdapat: a) kelainan pada pemeriksaan histerosalpingografi; b) riwayat abortus habitualis;

31 | P a g e

c) dugaan adanya mioma atau polip submukosa; d) perdarahan abnormal dari uterus; atau e) sebelum dilakukan bedah plastik tuba, untuk menempatkan katerer sebagai splint pada bagian proksimal tuba. Histeroskopi tidak dilakukan kalau diduga terdapat infeksi akut rongga panggul, kehamilan, atau perdarahan banyak dari uterus.

5. Masalah tuba Faktor tuba merupakan salah satu faktor yang paling sering ditemukan dalam infertilitas. Penilaian patensi tuba dianggap sebagai salah satu pemeriksaan terpenting. Terdapat beberapa cara pemeriksaan, seperti pertubasi, histerisalpingografi, serta laparoskopi. Histerosalpingografi (HSG) HSG merupakan tes pertama untuk mendeteksi adanya patensi tuba. Tes harus dilakukan di antara siklus pada hari ke-6 hingga 11. Untuk mengurangi kemungkinan infeksi berkaitan dengan prosedur, menghindari bercampurnya darah dan bekuan di intrauterine, idealnya HSG dilakukan setelah 2-5 hari setelah haid berhenti; serta untuk mencegah kemungkinan iradiasi fetus, HSG harus dilakukan sebelum ovulasi. Laparoskopi Gold standard untuk diagnosis penyakit tuba dan peritoneum adalah laparoskopi. Pemeriksaan harus mencakup uterus, anterior dan posterior cul-de-sac, permukaan dan fossa ovarium, serta tuba falopi. Teknik ini menghasilkan visualisasi dari seluruh organ pelvis serta memungkinkan deteksi fibroid uterine intramural dan serosal, perlekatan perituba dan periovarium, serta endometriosis. Patensi tuba dapat dikonfirmasi melalui laparoskopi dengan observasi saluran, seperti metilen biru atau indigo carmine, melalui pembukaan fimbria tuba. Laparoskopi memungkinkan penilaian yang teliti dari struktur tuba, khususnya fimbria.
32 | P a g e

6. Masalah ovarium Deteksi ovulasi merupakan bagian integral pemeriksaan infertilitas karena kehamilan tidak mungkin terjadi tanpa ovulasi. Ovulasi yang jarang terjadi pun dapat menyebabkan infertilitas. Terdapat beberapa pemeriksaan seperti perubahan lender serviks, pencatatan suhu basal tubuh, sitologi vagina (pemeriksaan usap forniks lateral vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina akibat hormone).

7. Masalah peritoneum Laparoskopi diagnostik telah menjadi bagian integral terakhir pengelolaan infertilitas untuk memeriksa masalah peritoneum. Pada umrnya untuk mendiagnosis kelainan yang samar, khususnya pada istri pasangan infertil yang berumur 30 tahun lebih, atau yang telah mengalami infertilitas selama 3 tahun lebih. Esposito menganjurkan agar laparoskopi diagnostik dilakukan 6 8 bulan setelah pemeriksaan infertilitas dasar selesai dilakukan. Lebih terperinci lagi, menurut Albano, indikasi untuk melakukan laparoskopi diagnostik adalah: a) apabila selama 1 tahun pengobatan belum juga terjadi kehamilan; b) kalau siklus haid tidak teratur, atau suhu basal badan monofasik; c) apabila istri pasangan infertil berumur 28 tahun lebih, atau mengalami infertilitas selama 3 tahun lebih; d) kalau terdapat riwayat laparotomi; e) kalau pernah dilakukan histerosalpingografi dengan media kontras larut minyak; f) kalau terdapat riwayat apendisitis; g) kalau pertubasi berkali-kali abnormal; h) kalau disangka endometriosis; dan i) kalau akan dilakukan inseminasi buatan.

33 | P a g e

Saat terbaik untuk melakukan laparoskopi diagnostik ialah segera setelah ovulasi. Segera setelah ovulasi akan tampak korpus rubrum, sedangkan sebeium ovulasi akan tampak folikel Graaf. Pada siklus haid 28 hari laparoskopi dilakukan antara hari ke-14 dan21. Pada kesempatan itu dapat pula diperiksa biopsi endometrium, pregnandiol, 17-ketosteroid urin24 jam, dan fungsi tiroid. Pada siklus haid yang tidak berovulasi (amenore), laparoskopi dapat dilakukan setiap saat. Cacat bawaan uterus biasanya didiagnosis dengan histerosalpingografi dilakukan laparoskopi kalau akan meyakinkan uterus septus dari uterus ganda, dan untuk menilai kelayakan operasi metroplastik. Endometriosis dapat ditemukan pada 30oh istri pasangan infertil, dan kejadiannya akan lebih meningkat Cengan bertambahnya usia istri. Kelainan tuba, seperti hidrosalping, tuba fimosis, perlekatan perituber, hanya dapat diyakini dengan laparoskopi diagnostik. Kelayakan untuk melakukan operasi plastik tuba dilakukan dengan laparoskopi diagnostik.

34 | P a g e

BAB V PENATALAKSANAAN INFERTILITAS

I. FAKTOR PRIA Terapi Medis Infertilitas pria umumnya tidak banyak yang dapat diobati. Namun evaluasi yang teliti memungkinkan para pria dengan beberapa kondisi tertentu sembuh dengan terapi medis. (A) Hipogonadotropik Hipogonadisme Para pria dengan kegagalan testis sekunder berkaitan dengan hipogonadotropik hipogonadisme mewakili sekelompok pria yang mungkin sembuh dengan terapi medis, setelah penyebab infertilitasnya diketahui dengan pasti. - Exogenous Pulsatile GnRH Terapi dengan GnRH eksogen dapat berhasil mengembalikan kadar normal sekresi gonadotropin sehingga dapat menginduksi produksi testosteron dan spermatogenesis. Bukti adanya spermatogenesis dapat diamati dalam jangka waktu setahun setelah terapi GnRH eksogen dimulai, tetapi mungkin perlu waktu 2 tahun terapi untuk mencapai pertumbuhan testis, spermatogenesis, dan fertilitas yang maksimal; pria dengan endokrinopati setelah usia pubertas pada umumnya berespon lebih cepat dibanding pria dengan defisiensi GnRH kongenital. - Gonadotropin Eksogen Spermatogenesis normal dapat diinduksi dengan terapi kombinasi hCG dan human menopausal gonadotropin (hMG, mengandung FSH dan LH) atau FSH murni (450 IU per minggu dalam 2-3 dosis terbagi). Sekali spermatogenesis dicapai dengan terapi kombinasi hCG dan FSH/hMG, selanjutnya dapat dipertahankan hanya dengan hCG untuk intervalnya, meskipun kualitas semen perlahan menurun lagi tanpa terapi FSH lebih lanjut.
35 | P a g e

- Dopamin Agonis Terapi dengan bromokriptin atau kabergolin secara efektif dapat mengembalikan kadar prolaktin dan testosteron normal, dan kemudian meningkatkan libido, potensi, kualitas semen, dan fertilitas pada pria dengan hipogonad hiperprolaktinemia. Meningkatnya kadar dan potensi testosteron diamati kira-kira selama 3-6 bulan setelah prolaktin normal dicapai; perubahan pada kualitas semen umumnya memakan waktu lebih lama. (B) Eugonadisme Hipogonadotropik Pria dengan oligospermia berat (kurang dari 5 juta sperma/ml), kadar testosteron rendah (kurang dari 300 ng/dL) dan rasio testosteron (ng/dL) / estradiol (pg/mL) rendah yang abnormal (kurang dari 10) dapat berhasil bila mendapat terapi medis dengan inhibitor aromatase. Pada pria-pria seperti ini, terapi (testolakton 50-100 mg 2x/hari, anatrazole 1 mg/hari) dapat menormalkan rasio dan meningkatkan kualitas semen. (C) Oligospermia, Asthenospermia, dan Teratospermia Idiopatik Sebagian besar pria infertil eugonadotropik, jantan, bahkan benar-benar, tetapi memiliki densitas sperma yang rendah atau kelainan semen lainnya yang penyebabnya tidak diketahui. Pria subfertil idiopatik sudah menjadi umum, dan terapi medis empiris yang menjadi perhatian sudah dikembangkan; androgen, gonadotropin, dan antiestrogen. Sayangnya, tidak ada terapi medis yang terbukti efektif untuk meningkatkan parameter semen atau fertilitas pada pria dengan subfertilitas idiopatik. - Androgen Terapi androgen telah dipercaya sebagai stimulasi spermatogenesis, secara langsung dengan meningkatkan konsentrasi andogen testis, dan tidak langsung dengan meningkatkan rebound sekresi gonadotropin hipofisis setelah interval supresi terinduksi androgen. Akan tetapi, hasil meta-analisis dari 11 uji coba klinis yang mencakup hampir 1000 pria menunjukkan bahwa tidak ada strategi terapi yang terbukti dapat meningkatkan parameter semen atau fertilitas.

36 | P a g e

- Gonadotropin Hasil penelitian tentang penggunaan FSH eksogen untuk stimulasi spermatogenesis secara langsung banyak mendapat pertentangan. Sementara pada 2 percobaan acak pada pria subfertil tidak terbukti terdapat peningkatan parameter semen maupun fertilitas, yang lain menunjukkan bahwa FSH eksogen dapat meningkatkan kualitas semen pada pria dengan oligospermia idiopatik yang biopsi testisnya menunjukkan hipospermatogenesis, FSH, serta kadar inhibin-B yang normal. - Antiestrogen Terapi empiris (3-6 bulan) dengan klomifen sitrat (25 mg/hari) atau tamoxifen (20 mg/hari) umum digunakan untuk stimulasi peningkatan sekresi gonadotropin hipofisis dan spermatogenesis pada pria dengan subfertilitas idiopatik. Akan tetapi hasil dari beberapa studi tidak konsisten. Di satu sisi terapi tampaknya berhasil untuk beberapa orang, tetapi belum ada metode yang terbukti bahwa terlihat perbedaan antara siapa yang berespon dan siapa yang tidak. Selain itu, terapi antiestrogen tidak terlalu efektif. Uji coba klinis acak yang diselenggarakan WHO yang mengambil sampel 200 orang dan lebih dari tahunan pengamatan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan di antara pria yang mendapat klamofen atau placebo. Lebih lanjut, metaanalisis yang mencakup 10 uji coba acak lebih dari 700 pria menunjukkan bukti yang ada tidak cukup untuk menyatakan bahwa terapi antiestrogen meningkatkan kualitas semen atau fertilitas pria.

Intrauterine Insemination Inseminasi buatan telah banyak digunakan untuk pasangan infertil selama hampir 200 tahun dan diterima sebagai bentuk terapi untuk para pria dengan hipospadia berat, ejakulasi retrograd, impotensi neurologis, dan disfungsi seksual. Selain itu inseminasi buatan juga digunakan untuk mengatasi oligospermia, asthenospermia, volume ejakulasi rendah, antibodi antisperma, dan faktor serviks.

37 | P a g e

Inseminasi buatan dapat dilakukan dengan memasukkan sperma ke dalam os serviks atau langsung ke dalam uterus, namun kini IUI sudah luas digunakan, untuk beberapa alasan. Pertama, dalam usaha untuk mengatasi densitas atau motilitas sperma yang rendah pada terapi faktor infertilitas pria, inseminasi serviks tidak menunjukkan keuntungan yang signifikan dibanding dengan hasil yang dapat dicapai melalui hubungan seksual. Kedua, sementara reaksi potensial terhadap protein, prostaglandin, dan bakteri dalam semen sangat membatasi volume semen (kemudian mempengaruhi jumlah semen itu sendiri) yang dihantarkan ke saluran genitalia wanita, IUI dengan konsentrasi sperma yang sudah dicuci (tidak ada sama sekali plasma semen) menghantarkan hampir seluruh sperma dalam satu kali ejakulasi. Yang paling penting, hasil IUI lebih baik dibanding hasil pada inseminasi serviks. Data yang ada menunjukkan bahwa siklus kesuburan bervariasi antara 3-10% bila IUI dilakukan dengan menggunakan sperma pasangan infertil, dan 3 kali lebih tinggi (9-30%) bila menggunakan sperma donor.

Persiapan Sperma untuk IUI a. Pencucian Sperma Metode paling sederhana dalam pencucian sperma mencakup pelarutan sampel semen yang dicairkan dalam medium buffer pada tabung steril (1:1-1:3, tergantung volume), lalu dilakukan sentrifus kecepatan-rendah (200-300g selama lebih kurang 10 menit) dan kemudian supernatannya dibuang. Setelah 2 siklus atau lebih, butir terakhir yang dimasukkan kembali dalam volume kecil (sekitar 0,5 mL) medium untuk inseminasi. Pencucian sperma menghasilkan jumlah sperma yang sangat banyak, tetapi spesimen terakhir juga mengandung sperma mati dan abnormal serta debris sel lainnya. Bila kelangsungan hidup atau motilitas sperma abnormal rendah atau konsentrasi sel bulat dalam semen abnormal tinggi, perlu dipertimbangkan untuk mengeluarkannya dari spesimen inseminasi.

38 | P a g e

b.

Swim-Up Metode swim-up untuk mempersiapkan sperma menjadi langkah selanjutnya dalam proses pencucian. Butir terakhir perlahan dimasukkan ke dalam 0,5 1,0 ml medium segar dan diinkubasi pada 37
0

C selama 30-60 menit, sehingga sebagian besar

sperma motil berenang naik menuju supernatan. Metode ini menghasilkan spesimen yang lebih bersih, tidak ada sperma mati dan debris sel lain, tetapi juga menghasilkan jumlah sperma yang cukup sedikit (namun dengan motilitas tinggi). c. Sentrifugasi Gradien Densitas Metode khusus untuk sentrifugasi gradien densitas adalah dengan memasukkan ejakulat yang dicairkan pada media dengan densitas tinggi yang dilapisi untuk menciptakan gradien dengan peningkatan densitas dari kolom teratas hingga terbawah, diikuti dengan sentrifus kecepatan rendah selama 15-30 menit. Seperti halnya pada prosedur swim-up, hasil sperma juga rendah dibanding dengan cara pencucian kovensional.

Parameter Semen dan Prognosis Tidak mengherankan, kecenderungan keberhasilan IUI dengan menggunakan sperma pasangan infertil, tergantung dari tingkat keparahan kelainan semen. Densitas, motilitas, dan morfologi sperma mempengaruhi angka keberhasilannya. Jumlah Total Sperma Motil Hasil terbaik dicapai bila jumlah total sperma motil > ambang batas rata-rata 10 juta. Morfologi Sperma Angka keberhasilan IUI paling tinggi bila 14% atau lebih sperma dengan morfologi normal, intermediate bila berada di antara nilai 4 14%, dan buruk bila kurang dari 4% sperma yang normal.

39 | P a g e

Faktor Prognostik Lain Usia ibu Usia ibu merupakan variabel penting pada pasangan infertil. Sekalipun sperma donor yang digunakan, kemungkinan berhasil tetap akan menurun dengan bertambahnya usia ibu. Wanita dengan ovarium yang buruk memiliki kemungkinan yang rendah untuk keberhasilan IVF, dan kesempatan yang rendah pula untuk keberhasilan dengan IUI. Fungsi Ovulasi Bila fungsi ovulasi normal, terapi dengan IUI saja masih tepat dan memungkinkan. Bila IUI pada siklus spontan atau indikasi induksi klomifen gagal (sekitar 3-4 siklus) atau bila pasangan wanita sudah lebih dari 35 tahun, stimulasi gonadotropin eksogen akan meningkatkan angka keberhasilan. Faktor Tuba dan Uterus Histerosalpingografi (HSG) direkomendasikan untuk wanita di atas 35 tahun dan bila dari riwayat kesehatan atau pemeriksaan fisik dicurigai adanya endometriosis atau terdapat faktor infertilitas uterus atau tuba, karena IUI menjadi kurang berhasil pada pasangan dengan kombinasi faktor infertilitas pria ditambah faktor infertilitas tuba; sehingga, IVF dengan atau tanpa ICSI, biasanya menjadi terapi yang lebih dipilih.

Terapi Bedah Meskipun IVF dengan ICSI sekarang menjadi sarana untuk mengobati pria dengan bentuk infertilitas yang paling berat sekalipun; termasuk obstruksi saluran reproduksi yang tidak dapat diperbaiki dan azoospermia non-obstruktif. Selain itu beberapa teknik lain dalam terapi bedah untuk infertilitas pria di antaranya adalah :

40 | P a g e

Assisted Reproductive Technologies (ART) IVF dan ICSI telah menjadi revolusi dalam terapi infertilitas pria. IVF merupakan inseminasi tiap oosit dengan 2-6 juta sperma; sehingga, metode ini terbatas hanya bila pria sangat oligospermik. Dengan teknik yang berkembang, jumlah sperma motil yang digunakan untuk inseminasi cukup 50.000-100.000 per oosit, sehingga membuka jalan untuk melakukan ART pada pasangan dengan faktor infertilitas pria. Dewasa ini, faktor pria menjadi diagnosis tunggal yang paling umum di antara pasangan yang melakukan IVF. Pada hampir 80% pasangan dengan faktor infertilitas pria yang menjalani IVF, juga dilakukan ICSI. Secara keseluruhan, hasil yang dicapai dengan IVF pada pasangan dengan faktor infertilitas pria, dengan atau tanpa ICSI, sebanding dengan hasil yang didapatkan pada pasangan dengan indikasi lain IVF. Jika sedikit atau tidak ada sama sekali sperma yang dapat dikumpulkan dari ejakulat, teknik perolehan sperma pada IVF dan ICSI dapat divariasikan untuk mendapatkan sperma. Sekalipun sejumlah kecil sperma dapat diperoleh, tetap bijaksana untuk melakukan ICSI karena sperma yang diperoleh dari sumbatan kronis pada sistem reproduksi biasanya menghasilkan penurunan motilitas dan kapasitas fertilisasi

II. FAKTOR OVULASI Pengobatan tergantung pada etiologi maka dapat berupa diet thyroid hormon, operasi. Kalau terdapat disfungsi kelenjar hypofise dapat diusahakan : 1. Reboud phenomenon misalnya dengan oral pills 2. Terapi substitusi - pemberian FSH dan LH - LH

41 | P a g e

Pilihan pengobatan untuk gangguan ovulasii meliputi berbagai obat pemicu ovulasi dan tindakan pembedahan pada kasus ovulasi polikistik. Pasien infertile akibat faktor vulasi memiliki keberhasilan yang paling tinggi dengan pengobatan infertilitas. 1. Clomiphene citrate Pilihan pertama untuk pengobatan pada pasien dengan ovulatory infertility adlah clomiphene citrate (clomid, serophene). Keberhasilan dengan menggunakan obat ini sangat memuaskan deangan angka keberhasilan ovulasi sekitar 80-85 % dan angka keberhasilan konsepsi 40 %. Kebanyakan kehamilan terjadi dalam waktu 6 bulan pertama pengobatan. Efek sampaingnya meliputi sindrom hiperstirilisasi ovarium, merasa tidak nyaman di daerah pelvis, mual nyeri payudara dan gangguan visus. Dosis permulaan adalah 50 mg/hari. Diberikan mulai hari kelima haid diteruskan hingga hari kesembilan. Beberapa dokter memulai pengobatan pada hari ke-2, ke-3, ke-4 haid. Kalau tidak terjadi ovulasi, dosisnya ditingkatkan 50 mg/hari pada siklus-siklus berikutnya dengan dosis maksimum 200 mg/hari. 2. Gonadotrophin Induksi ovulasi dengan gonadotrophine digunakan pada wanita yang gagal dengan terapi clomiphene atau pada wanita denagan disfungsi ovulasi sekunder akibat hypogonadotroihic hypogonadis. Obat yang sering digunakan adalah hMG. Human menopausal gonadotropin (Pergonal, Humegon) adalah campuran dari FSH dan LH yang dimurnikan dari urin wanita pasca menopause, dan diberikan dalam bentuk suntikan intramuskuler campuran 75 IU FSH dan &% IU LH. Dosis awal diberikan 2 ampul perhari dimulai hari ke-7 HPHT. Pada pasien PCOD diberikan dosis awal 1 ampul/hari karena dianggap lebih responsif dan dipantau mulai hari ke-5 pengobatan. FSH (Metrodin) mengandung &% IU FSH. Cara pemberiannya sama deangan hMG, terutama istri dengan PCOD (penyakit ovarium polikistik) dan anovulasi. Gonadotropin releasing hormon (GnRH) dan analognya digunakan untuk pasien dengan
42 | P a g e

kegagalan hipotalamus dan disusul denan kelainan faktor ovulasi. Pengeluaran GnRh secar pulsasi, sehingga pemberian nay pun harus secara pulsasi. Obat ini diberikan intranasal atau subkutan dan dapat juga diberikan melalui short protocol pada asat daur haid hari pertama atau melalui long protocol pada asat hari ke-21 atau 22 daur haid sebelumnya 3. Bromocriptine dan Dexametason Pada pasien tertantu dengan infertilitas yang disebabkan faktor ovulasi, penambahan bromokriptine dan dexametason pada obat pemicu ovulasi perbaikan ovulasi pada 90 % pasien. Penggunaan bromokriptine tunggal atau penambahan bromokriptin pada pengobatan klomifen sitrat pada pasien dengan kadar prolaktin normal atau sedikit meningkat masih kontroversi. Beberapa penulis melaporkan ada kaitannya denagn meningkatnya angka kehamilan pada wanita normoprolaktin dengan infertilitas yang tidak dapat diterangkan sebabnya dan galaktore. Penambahan dexametason pada wanita dengan hiperandrogenisme dan infertilitas karena faktor ovualsi masih kontroversi. Glukokortikoid menyebabkan supresi derivate androgen adrenal pada wanita dengan atau tanpa hiperandrogenisme 4. Defek fase luteal Secara umum pengobatan yang sering digunakan adalah pemberian progesterone fase luteal dan klomiphene sitrat pada fase folikuler. Progesteron diberikan pada jari ke-3 setelah pertengahan siklus dengan dosis 25-50 mg untuk vaginal suppositoria dan 50-100 mg/hari intramuskuler. Pemberian klomiphene sitrat hamper sama dengan pemberian untuk pemicu ovulasi. Dosis yang diberikan adalah 50 mg/hari pada hari ke-5 sampai hari ke-9 siklus haid. Dosis maksimal 200 mg/hari. akan bermanfaat, terutama pada pasien deangan hiperprolaktinemi dan diikuti dengan

43 | P a g e

III. FAKTOR TUBA DAN PERITONEUM Oklusi Tuba Proksimal Terapi oklusi tuba proksimal telah banyak mendapat perhatian. Akan tetapi. angka keberhasilan prosedur ini dapat menjadi sulit dipastikan karena diagnosis obstruksi tuba proksimal dengan HSG terkenal tidak akurat. Distal Terapi penyakit tuba distal mencakup koreksi bedah melalui fimbrioplasti atau neosalpingotomi. Secara definisi, fimbrioplasti adalah lisis dari perlekatan fimbria atau dilatasi fimosis fimbria, sementara neosalpingostomi maksudnya adalah pembentukan pembukaan tuba yang baru pada tuba falopi yang tersumbat. Pasien dengan penyakit tuba proksimal dan distal menjadi kandidat yang paling buruk untuk menjalani penanganan infertilitas secara bedah. Penelitian terapi bedah untuk pasien-pasien ini jumlahnya baru sedikit tetapi secara umum telah menggambarkan hasil yang suram. Kelompok pasien ini paling baik diterapi dengan IVF. Faktor Peritoneum Faktor infertilitas peritoneum dan faktor infertilitas tuba sering terjadi secara bersamaan, dan pendekatan terapinya hampir sama. Seperti halnya perlekatan tuba, perlekatan peritoneum mungkin saja merupakan akibat proses peradangan panggul atau abdomen atau prosedur pembedahan panggul. Jika penyakit perlekatan peritoneum yang signifikan diyakini mempengaruhi motilitas tuba atau akses ovum ke fimbria tuba, adhesiolisis bedah minor merupakan terapi terpilih. Sebab utama lain faktor infertilitas peritoneum yang tidak didiskusikan sebagai kelainan tuba adalah endometriosis. Data terapi endometriosis berkaitan dengan infertilitas menunjukkan bahwa tidak ada bukti cukup yang menyatakan endometriosis ringan atau minimal dapat menyebabkan infertilitas. Peran endometriosis yang lebih berat sangat erat kaitannya dengan penyakit perlekatan. Pada studi literatur mengenai terapi endometriosis berkaitan dengan infertilitas, dapat dibuat kesimpulan berikut dan rekomendasi secara umum :
44 | P a g e

1. Supresi ovulasi dengan danazol, gestrinone, medroksiprogesteron asetat, agonis GnRH, dan pil kontrasepsi oral tidak efektif untuk indikasi ini; penelitian lebih lanjut mengenai efikasi obat-obat ini tidak dijamin. 2. Destruksi laparoskopi pada implantasi endometrium dapat efektif; penelitian yang lebih besar dan lebih terencana dijamin untuk menentukan efektivitas prosedur ini. 3. Terapi danazol tidak menunjukkan perbaikan hasil dibanding dengan laparoskopi saja. 4. Terapi bedah konservatif dengan laparotomi mungkin lebih menguntungkan, khususnya pada kasus endometriosis berat, tetapi penelitian lebih lanjut masih terus dianjurkan. 5. Terapi danazol tidak lebih baik dibanding laparotomi konservatif saja.

IV. FAKTOR UTERUS Terapi utama infertilitas faktor uterus adalah dengan pembedahan. Sebelumnya, terapi untuk polip intrauterine dan leiomyoma dilakukan dengan histeroskopi, meskipun untuk membuang beberapa fibroid submukosa yang bertangkai dan polip intrauterine cukup dilakukan di ruang kerja dokter.

V. FAKTOR SERVIKS Patensi anatomi dan produksi mukus dengan jumlah yang cukup adalah 2 karakteristik serviks yang penting untuk reproduksi normal. Terapi faktor infertilitas serviks ditujukan pada kelainan daerah ini. Riwayat terpapar DES, biopsi konus sebelumnya atau kauterisasi serviks, kelainan kongenital, servisitis, anovulasi, dan penggunaan klomifen sitrat untuk induksi ovulasi semuanya berkaitan dengan potensial stenosis servikal atau kualitas mukus yang buruk. Adanya antibodi antisperma pada mukus serviks juga dapat mengakibatkan interaksi sperma dan mukus serviks yang buruk. Terapi antibodi antisperma pada mukus serviks sampai saat ini masih menjadi topik perdebatan. Baik ART maupun IUI diduga sangat potensial memberi keuntungan pada pasien dengan antibodi antisperma, namun data relevan masih tetap belum dapat disimpulkan. Demikian pula, meskipun IUI dilakukan secara luas digunakan untuk infertilitas faktor serviks
45 | P a g e

tanpa kelainan imunitas humoral, data angka fertilitas selanjutnya juga belum ada yang konsisten.

INFERTILITAS YANG TIDAK TERIDENTIFIKASI Di antara pasangan dengan infertilitas yang tak teridentifikasi, IVF merupakan terapi terpilih untuk sebagian pasangan, sementara bagi sebagian yang lain merupakan terapi cara terakhir. Sejumlah peneliti mengamati adanya insidensi tinggi kegagalan fertilisasi dan penurunan angka kehamilan secara keseluruhan pada pasangan yang telah gagal diterapi dengan gonadotropin/IUI, menandakan adanya kelainan fertilisasi, perkembangan embrionik dini atau implantasi yang berpengaruh pada infertilitas yang tak teridentifikasi pada banyak pasangan.

Teknik reproduksi yang dibantu (Assisted Reproductive Technique-ART)


1. Inseminasi Buatan Upaya lain untuk melakukan pengobatan pada infertilitas adalah melalui teknik inseminasi buatan, yaitu upaya membuahi sel telur tanpa senggama. Inseminasi homolog adalah upaya mambuahi sel telur istri dengan sperma dari suaminya sendiri. Inseminasi heterolog adalah upaya membuahi sel telur dengan sperma donor. DI Indonesia hanya diperbolehkan inseminasi homolog.

2. Bayi tabung Cara pelayanan pengobatan lainnya adalah teknik reproduksi yang dibantu Assisted Reproductive Technique yang dikenal di masyarakat denagn istilah bayi tabung. Teknik ini berhasil pertama kali pada manusia pada tahun 1978 di Inggris dengan lahirnya Louise Brown sebagai bayi tabung pertama di dunia.

46 | P a g e

Berbagai metode/teknik bayi tabung yang telah dilakuakn antara lain: 1. IVT-ET (In Vitro Fertilization Embryo Transfer) 2. GIFT (Gamette Intrafallopian Transfer) 3. ZIFT (Zygote Intra Fallopian Transfer) 4. TET (Tubal Embryo Transfer) 5. POST (Peritoneal Oocyte and Sperm Transfer) 6. SUZI (Subzonal Sperm Injection) 7. ISCI (Intra Cytoplasmic Sperm Injection) 8. MESA (Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration) 9. TESE (Testicural Sperm Extraction) 10. ROSI (Round Spermatid Injection) 11. ROSNI (Round Spermatid Nuclear Injection) Proses bayi tabung : a. Memeriksa suami dan istri meliputi hormon reproduksi, kondisi reproduksi, dan kemungkinan adanya infeksi virus atau penyakit lain seperti diabetes, gangguan ginjal dan kelenjar tiroid b. Ovarium dirangsang agar mengeluarkan banyak folikel yang mengandung sel telur dengan cara menyuntikkan obat stimulasi setiap hari selama 7-9 hari. c. Setelah sel telur matang, sel telur dikeluarkan dengan cara menyuntikkan folikel yang tampak pada USG melalui vagina, kemudian dilakukan pengisapan. d. Kultur embrio, sel telur dan sel sperma di persiapkan. Sel sperma diperoleh dengan masturbasi. Sel telur dan sel sperma dipertemukan dengan perbandingan 1 sel telur : 50.000100.000 sperma di dalam cawan petri dengan tujuan satu sperma yang masuk ke dalam sel telur agar terjadi pembuahan. e. Setelah terjadi pembuahan, hasilnya yang berupa embrio dimasukkan lagi ke dalam rahim melalui serviks.

47 | P a g e

In Vitro Fertilization Biasanya, pasien tanpa tuba falopi atau dengan kerusakan tuba sebelumnya dan dengan prognosis buruk untuk perbaikan yang efektif adalah kandidat untuk dilakukannya IVF primer. Beberapa pasien dengan sterilisasi tuba sebelumnya paling tepat mendapat rujukan primer untuk IVF. Pasien yang gagal berkonsepsi dalam 18 bulan setelah perbaikan tuba juga merupakan kandidat untuk ART. Pasien yang gagal berkonsepsi setelah 3-6 kali siklus induksi ovulasi dan kombinasi dengan inseminasi juga harus dirujuk untuk ART.

Transfer Embrio Jumlah dan pemilihan embrio untuk transfer embrio bukan hal yang mudah. Keberhasilan induksi ovulasi cara modern dan regimen fertilisasi memungkinkan pembentukan embrio dalam jumlah yang cukup banyak untuk ditransferkan dalam 1 kali siklus. Kriopreservasi dari embrio ini memungkinkan transfer embrio ke pasien yang sama pada siklus berikutnya yang tidak distimulasi. Beberapa pasien menerima kriopreservasi embrio selama siklus alami, yang lain menjalani persiapan endometrium dengan estrogen dan progesteron eksogen.

GIFT / ZIFT / TET Dibandingkan dengan standar regimen transfer IVF, transfer gamet atau embrio ke tuba falopi dapat menyerupai proses reproduksi fisiologi. Teknik seperti GIFT, ZIFT, dan Tubal Embryo Transfer (TET) seluruhnya mempergunakan mikrolingkungan tuba sebagai titik pertama kontak setelah transfer. Pasien yang dianggap calon yang tepat untuk teknik ini harus memiliki tuba falopi yang berfungsi. Seperti standar IVF, seluruh regimen menyebabkan induksi ovulasi dengan hMG/hCG setelah downregulasi agonis GnRH. Hal yang berbeda pada teknik ini adalah waktu transfernya. Untuk prosedur GIFT, perolehan oosit dilakukan baik secara transvaginal atau laparoskopis dan segera diikuti dengan laparoskopi penempatan oosit yang diperbaharui serta sperma yang telah diproses ke dalam tuba falopi. Kelemahan GIFT ini adalah ketergantungan
48 | P a g e

terhadap laparoskopi dan ketidakmampuan menunjukkan fertilisasi sebelum transfer gamet. Alternatif untuk pendekatan laparoskopi adalah penempatan gamet transervikal ke dalam tuba falopi. Usaha GIFT transervikal telah dicoba dengan angka keberhasilan dan reproduksibilitas yang rendah. Pasien yang terpilih untuk dilakukan GIFT primer yang gagal berkonsepsi harus dievaluasi ulang untuk menentukan kapasitas fertilisasinya. Pada prosedur ZIFT, perolehan oosit difertilisasi dan dikultur semalaman. Embrio stadium zigot kemudian ditransfer ke dalam tuba falopi secara laparoskopik 24 jam setelah perolehan oosit. TET mencakup kultur embrio lebih dari 24 jam sebelum laparoskopik transfer tuba atau laparoskopik transfer embrio kriopreservasi ke dalam tuba falopi. Seluruh prosedur transfer diikuti dengan dukungan fase lutein standar.

Donor Oosit Wanita dengan kegagalan ovarium tidak memiliki pilihan banyak. Penggunaan donor oosit tampaknya menjadi metode pilihan dimana sebagian besar pasien yang menggunakan metode ini punya kemungkinan besar untuk hamil. Pasien lain yang sesuai untuk teknologi donor oosit antara lain adalah yang punya riwayat kegagalan fertilisasi, khususnya dalam kaitan dengan infertilitas faktor oosit. Program donor oosit yang merupakan donor langsung dan rahasia sekarang tersedia di berbagai pusat pelayanan. Tipe paling sering dari program donor oosit adalah dimana pasien infertil harus menyediakan donor fertilnya sendiri khususnya teman atau saudara kandung, tetapi sering kali donor diberi kompensasi uang oleh pasien.

49 | P a g e

BAB VI PENCEGAHAN DAN PROGNOSIS INFERTILITAS

A. Pencegahan Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah: 1. Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infertilitas terutama infeksi prostat, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi di daerah ini haruslah ditangani secara serius. 2. Beberapa zat dapat meracuni pertumbuhan sperma. Banyak penelitian menunjukkan pengaruh buruk merokok terhadap jumlah dan kualitas sperma. Walaupun tiap penelitian berbeda dalam menentukan jumlah batang rokok yang berpengaruh, sudah cukup alasan bagi pria dengan jumlah dan kualitas sperma kurang untuk berhenti merokok. 3. Alkohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormon testosteron yang tentu akan mengganggu pertumbuhan sperma. Mariyuana juga dikenal sebagai salah satu penyebab gangguan pertumbuhan sperma, sehingga penghentian penggunaan mariyuana dan alkohol merupakan usaha preventif untuk infertilitas. 4. Cukup banyak obat-obatan yang mempengaruhi sperma. Oleh karena itu, beri tahukan selengkapnya obat yang pernah dan sedang dipakai kepada dokter yang menolong Anda.
B. Prognosis

Menurut Behrman & Kistner, prognosis terjadinya kehamilan tergantung pada umur suami, umur istri, dan lamanya dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan (frekuensi sanggama dan lamanya perkawinan). Fertilitas maksimal wanita dicapai pada umur 24 tahun, kemudian menurunkan perlahanlahan sampai umur 30 tahun, dan setelah itu menurun dengan cepat.

50 | P a g e

Menurut Macl-eod, fertilitas maksimal pria dicapai pada umur 24 25 tahun. Hampir pada setiap golongan umur pria proporsi terjadinya kehamilan dalam waktu kurang dari 6 bulan meningkat dengan meningkatnya frekuensi sanggama. Ternyata, sanggama 4 kali seminggu paling meluangkan terjadinya Kehamilan. karena ternyata kualitas dan jenis motilitas spermatozoa menjadi lebih baik dengan seringnya ejakulasi. Penyelidikan jumlah bulan yang diperlukan untuk terjadinya kehamilan tanpa pemakaian kontrasepsi telah dilakukan di Taiwan dan di Amerika Serikat dengan kesimpulan bahwa 25% akan hamil dalam 1 bulan perrama, 63% dalam 6 bulan pertama 75% dalam 9 bulan pertama,80% dalam 12bulan pertama, dan 90% dalam 18 bulan perrama. Dengan demikian, makin lama pasangan kawin tanpa hasil, makin turun prognosis kehamilannya.Pengelolaan mutakhir terhadap pasangan infertil dapat membawa kehamilan kepada lebih dari 50% pasangan, walaupun masih selalu ada 10 20% pasangan yang belum diketahui etiologinya. Separuhnya lagi terpaksa harus hidup tanpa anak, atau memperoleh anak dengan jalanlain, mirip dengan inseminasi buatan donor, atau mengangkat anak (adopsi). Hasil penyelidikan Dor et al. menunjukkan, apabila umur istri akan dibandingkan dengan angka kehamilannya, maka pada infertilitas primer terdapat penurunan yang tetap setelah umur 30 tahun. Pada infertilitas sekunder terdapat juga penurunan, akan tetapi tidak securam seperti pada infertilitas primer Penyelidikan tersebut selanjutnya mengemukakan bahwa istri yang baru dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 3 tahun kurang, prognosis kehamilannya masih baik. Akan tetapi, kalau sudah dihadapkan selama 5 tahun lebih, pronosisnya buruk. oleh karena itu dianjurkan untuk tidak menunda pemeriksaan dan pengobatan infertiiitas selama 3 tahun lebih. Jones & Pourmand berkesimpulan sama, bahwa pasangan yang. Telah dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 3 tahun kurang, dapat mengharapkan angka kehamilan sebesar 50% yanglebih dari 5 tahun, menurun menjadi 30%.Turner et at. menyatakan pula bahwa lamanya infertilitas sangat mempengaruhi prognosis terjadinya kehamilan.

51 | P a g e

ALGORITMA PENATALAKSANAAN INFERTILITAS Pemeriksaan untuk pasangan infertil (PASUTRI) secara lengkap A. Pemeriksaan istri 1. Anamnesis : o Lama infertilitas o Riwayat haid. Ovulasi, dimenore o Riwayat sanggama, frekuensi sanggama, dispareuni o Riwayat komplikasi postpartum, abortus, KET, kehamilan terakhir o Kontrasepsi yang digunakan sebelumnya o Pemeriksaan infertilitas dan pengobatab sebelumnya o Riwayat penyakit sistemik ( TBC, DM, Tiroid) o Pengobatan radiasi, sitostatika, alkoolisme o Riwayat bedah perut/ hipofisis/ ginekologi o Riwayat PID, PHS, Lekore o Riwayat keluar ASI o Pengetahuan kesuburan 2. Pemeriksaan fisik : o Pemeriksaan fisik umum o Pemeriksaan payudara termasuk ada / tidaknya sekresi asi (galaktore) 3. Pemeriksaan dalam o Genitalia, termasuk kemungkinan cacat bawaan 4. Profil ovulasi dan endokrin : o FSH, prolaktin, estradiol, progesteron o Fungsi tiroid

52 | P a g e

o Uji gestagen o Suhu basal badan o USG o Biopsi endometrium 5. Pemeriksaan utero-tuba-peritoneum : o HSG, histeroskopi, laparoskopi 6. Uji pasca sanggama 7. Kariotip lekosit

B. Pemeriksaan suami 1. Anamnesis : o Lamanya infertilitas, primer / sekunder o Pemeriksaan dan pengobatan sebelumnya o Riwayat penyakit sistemik yang mungkin mengganggu fertilitas : parotitis, sinusitis kronis, bronkitis kronis, KP, hipertensi, DM, penyakit tiroid o Kelainan pada testis ; kelainan kongenital, kriptorkhidi, trauma / torsi testis o Penggunaan obat-obatan : sitostatika, radiasi, androgen, kortikosteroid, antihipertensi, anti-ulkus peptikum, psikotropika, narkotika o Operasi terdahulu : daerah genital, hernia, torsi testis, kriptorkidi, prostat o Infeksi saluran kencing-kelamin (PHS) o Sanggama : - frekuensi (>3x/minggu, baik) - keteraturan - ereksi - ejakulasi (di dalam / di luar vagina) 2. Pemeriksaan fisik termasuk tanda kelamin sekunder

53 | P a g e

3. Pemeriksaan genital : Meliputi penis, skrotum, inguinal, testis, epididimis, vas deferens, funikulus Spermatikus. 4. Laboratorium: Termasuk didalamnya adalah analisis sperma (sebaiknya 2x pemeriksaan sebagai data dasar, dengan interval 2 minggu) dan pemeriksaan hormon : FSH, LH, Testosteron) o Pemeriksaan bakteriologis terhadap sperma dan pijatan prostat bila perlu o Pemeriksaan urine pasca orgasmus untuk memeriksa adakah sedimen spermatozoa, bila perlu fruktosa. o Antibodi antisperma o Sitologi sperma o Biokomia plasma semen o Kariotip 5. Pemeriksaan penunjang lain : o Termografi o Ekografi doppler, Ultrasonografi Doppler Sound o Rontgen sela tursika, bila ada indikasi o Biopsi testis, bila ada indikasi

Pengelolaan Infertilitas dasar terdiri dari: 1. Anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi 2. Suhu basal badan, uji pasca sanggama 3. Pemeriksaan hormonal

54 | P a g e

4. Penilaian siklus haid, USG, HSG 5. Uji penetrasi sperma invitro dan invivo 6. Uji gestagen 7. Uji stimulasi ovulasi 8. Laparoskopi dan histeroskopi diagnostik

Ringkasan Penatalaksanaan dan Evaluasi Pasangan Infertil.

55 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

56 | P a g e

Bader, T.J. 2005. Ob/Gyn Secrets. Updated Third Edition. Philadelphia : Mosby. Speroff L. & Fritz M.A. 2005. Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. Seventh edition. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins. Berek, J.S. & Adashi E.Y. & Hillard P.A. 2004. Novaks Gynecology. Twelfth Edition. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkins. De Charney. Alan H, M.D. 2003. Current Obstetric and Gynaecology Diagnosis and Treatment. New York : McGraw Hill. Prof. dr. Sarwono Prawirohardjo . 2007. Ilmu kandungan. Edisi kedua. Jakarta : Prof.dr. Hanifa wiknjosastro, Spog. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD. 1981. Ginekologi. Bandung: Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSHS Dr. Hasan Sadikin.. Hidayat Wijayanegara, Achmad Suardi, Wiryawan Permadi, Tina Dewi Judistiani. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RSUP Dr.Hasan Sadikin Edisi kedua. Bandung: Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FKUP/RSUP Dr.Hasan Sadikin. Medscape General Medicine, 2006 in Infertility. www.medscape.com, Diakses 11 Desember 2006. http://www.f-buzz.com/2008/07/25/penyebab-infertilitas-pada-wanita/ http://www.lusa.web.id/infertilitas/ http://www.unsri.ac.id/digilib/jurnal/health-sciences/infertilitas/mrdetail/895

57 | P a g e