Anda di halaman 1dari 10

PROF. DR. IBRAHIM R. SH., MH.

STATUS HUKUM INTERNASIONAL DAN PERJANJIAN


INTERNASIONAL DI DALAM HUKUM NASIONAL
(Permasalahan teoritik dan praktek)

3. Vege normen (norma kabur); dan


4. Antinomi (konflik norma).

Persoalan dasar yang dihadapi Negara


lndonesia dari dulu sampai sekarang adalah
pada fundamen (grand unified theory).
Persoalan dan pertanyaan yang dimunculkan
oleh TOR untuk dapat diberikan jawaban,
teoritik maupun praktek, sebagai berikut:

− Sistem Hukum Nasional belum tegas


mengatur mengenai hubungan Hukum
Nasional dengan Hukum Internasional?
Lokakarya Evaluasi Undang-Undang No. 24 − Bagaimanakah mengimplementasikan
Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, Hukum Internasional ke dalam Hukum
18 – 19 Oktober 2008, Surabaya.
Nasional?
− Belum berkembangnya doktrin dan praktek
tentang Perjanjian Internasional dalam
Latar Belakang dan Permasalahan Hukum Nasional?
− Bagaimana suatu Perjanjian Internasional
Jika dilihat dari Term of Reference (TOR) dapat diterapkan pada suatu persoalan yang
yang diberikan oleh Focus Group Discussion dihadapi?
(FGD), kajian yang harus dilakukan pada
− Apakah hukum nasional lebih tinggi
tataran teori dan praktek, maka level makalah
derajatnya dari pada Hukum Internasional
ini, seperti derajat sebuah disertasi, suatu beban
atau sebaliknya lndonesia menganut aliran
dan tanggungjawab yang tidak ringan, tapi
monisme atau dualisme atau campuran
menarik, dan mudah-mudah bisa dicapai,
dalam hubungan Hukum Nasional dengan
sehingga hasil dari FGD dapat dijadikan
Hukum Internasional?
pijakan operasional dalam memperjuangkan
harkat dan martabat Bangsa di era globalisasi − Posisi Hukum Internasional dalam Hukum
saat ini. Namun, sejarah menunjukkan bahwa Tata Negara Indonesia?
segala hal yang dilakukan Bangsa Indonesia − Pengaturan Hukum Tata Negara Indonesia
sangat tergantung pada selera para penguasa tentang status Hukum Internasional?
(orde lama, orde baru, orde reformasi), karena − Pengaturan UUD NRI 1945 tentang status
UUD 1945 atau UUD NRI 1945 tidak di desain Hukum Internasional?
berdasarkan kerangka ketatanegaraan yang
terstruktur. Praktek penerapan hukum, diawali Landasan Teoritik
dengan identifikasi aturan hukum dan saat yang
sama akan dijumpai empat kemungkinan, yaitu: Teori dan praktek merupakan dua hal yang
berpasangan, kalaupun tidak jarang keduanya
1. Kesenjangan antara das sollen dan das sein bertentangan, tetapi teori tanpa praktek
(benturan antara teori dan praktenya); tidaklah lengkap dan praktek tanpa teori tidak
2. Leemten in het recht (kekosongan hukum); akan pernah mapan. Untuk mengkaji
23
pengaturan, posisi, dan kedudukan Hukum namun harus disadari bahwa karakter
Internasional dalam Hukum Nasional dapat rechtstaat ber-umbrella dan refleksi dari civil
ditinjau dari berbagai segi sebagai law system dan rule of law ber-umbrella dan
implementasi dari: refleksi dari common law system. Kemudian
the founding fathers, memilih sistem
a. konsep Negara hukum yang dipengaruh pemerintahan Presidensial yang merupakan
aliran hukum yang melekat padanya; refleksi dari rule of law, pembagian kekuasaan
b. sistem pemerintahan dan pembagian memilih percampuran yang merupakan model
kekuasaan Negara yang dianut dan dari pembagian kekuasaan pada sistem
menentukan kedudukan dan hubungan kerja pemerintahan Parlementer dalam bayang-
antara lembaga Negara; bayang logika trias politika. Namun,
c. Negara yang berdaulat sebagai Subyek percampuran kekuasaan yang dipilih tidak
Hukum Internasional yang melahirkan menggunakan bayang-bayang logika trias
hubungan Hukum Nasional dengan Hukum politika, tetapi melahirkan Lembaga-lembaga
Internasional (Negara sebagai Subyek Negara, yaitu Lembaga Tertinggi Negara dan
Hukum Internasional diwakili oleh Lembaga Tinggi Negara dan boleh dikatakan
eksekutif); tanpa bentuk. Kini, setelah amandemen UUD
d. apakah hirarki “Negara hukum menurut Soepomo 1945 makin tidak
perundang-undangan (salah satu the founding fathers menentu, yaitu
nasional seirama Indonesia) memberi arti rechtstaat melahirkan main state’s
dengan hirarki Hukum sebagai Negara berdasarkan atas organ (lembaga negara
Internasional. hukum, sebenarnya yang diinginkan utama), auxiliary state
oleh Soepomo adalah
e. dalam praktek organ (lembaga negara
mensintesakan unsur rechtstaat
hubungan hukum dengan rule of law, tetapi belum bantu), dan komisi
nasional dengan sempat diselesaikan dan bagaimana Negara. Lembaga
hukum internasional bentuk refleksinya belum jelas.” legislasi nasional
dikenal dua aliran, yaitu monisme dan berdasarkan UUD NRI 1945 adalah DPR dan
dualisme. Presiden, karena Presiden sebagai bagian dari
lembaga legislasi, maka setiap melakukan dan
Teori kewenangan melaksanakan Hukum Internasional harus
dengan persetujuan DPR, perhatikan macam
Negara Berdasarkan atas Hukum dan jenis Hukum Internasional.
Negara hukum menurut Soepomo (salah satu
the founding fathers Indonesia) memberi arti Sistem Pemerintahan dan Pembagian
rechtstaat sebagai Negara berdasarkan atas Kekuasaan
hukum, sebenarnya yang diinginkan oleh
Soepomo adalah mensintesakan unsur Pemegang Hak Paten sistem pemerintahan
rechtstaat dengan rule of law, tetapi belum yang menjadi pilihan saat ini adalah Inggris
sempat diselesaikan dan bagaimana bentuk dengan sistem pemerintahan Parlementer
refleksinya belum jelas. Empat unsur rechtstaat sebagai mother of parliament, Amerika Serikat
dari Immanuel Kant dan Friedrich Julius Stahl, dengan sistem pemerintahan Presidensial
yaitu jaminan perlindungan HAM, pemisahan sebagai mother of presidentialism, dan
kekuasaan berdasarkan trias politika, tindakan Perancis dengan sistem pemerintahan Semi-
Pemerintah berdasarkan atas Undang-Undang, Presidensial sebagai mother of semi-
dan Peradilan Administrasi Negara. Ke-empat presidentialism. Negara-negara lain sebagai
unsur tersebut belum lengkap untuk pemegang lisensi dengan varian-varian yang
dikonstruksikan dalam konsep Negara hukum disesuaikan perkembangan sejarah
Indonesia, oleh sebab itu, masih diperlukan dua ketatanegaraanya, pilihan terbanyak adalah
unsur dari rule of law A.V. Dicey. Unsur yang sistem pemerintahan parlementer.
belum tercermin dari rechtstaat yaitu
supremacy of law dan equality before the law. Sistem Pemerintahan Parlementer
Sistem pemerintahan Inggris di mana kepala
Untuk mensintesakan keduanya dengan Negara adalah Raja/Ratu, Eksekutif adalah
jiwa bangsa yang disebut dengan Pancasila, Perdana Menteri yang berasal dari anggota
24
Badan Perwakilan yang menang dalam Pemilu Majelis dan sifat monistik yang melahirkan
(Ketua Partai), maka yang disebut Parlemen di ajaran supremasi parlemen dan berpengaruh
Inggris adalah Raja/Ratu, Perdana Menteri, dan terhadap sistem pemerintahan demokrasi
Badan Perwakilan (House of Lords dan House moderen. Unsur pokok dalam sistem
of Commons). Parlemen terdiri dari: raja, wakil pemerintahan Inggris adalah keseimbangan,
bangsawan, dan wakil rakyat. Kerajaan lnggris kabinet dan parlemen mempunyai hak-hak
melaksanakan konsep kekuasaan yang sifatnya yang setingkat dan mampu saling kontrol,
monistik, artinya raja, wakil golongan terlihat pada mekanisme perimbangan antara
bangsawan, dan wakil rakyat berada dalam satu tanggung jawab politik para Menteri pada satu
wadah yang disebut Parlemen. Parlemen pihak dan hak pembubaran dewan di lain pihak
merupakan hak untuk membuat atau tidak yang merupakan persamaan derajat antara
membuat suatu aturan hukum apapun, tidak eksekutif dengan legislatif. Untuk persamaan
seorangpun atau suatu badan yang diakui oleh dalam ha1 waktu ada arbitrasi, seperti kalau
hukum mempunyai hak mengubah atau kabinet minoritas atau terancam menjadi
meniadakan hukum yang dibuat oleh Parlemen minoritas, ia tidak dibubarkan sekonyong-
(dikenal dengan Supremasi Parlemen). Inggris konyong secara ex abrupto, melainkan
menjalankan pemerintahan yang demokratis dinyatakan pembubaran dewan, sehingga apa
dan sangat menghormati kebiasaan. Sistem yang menjadi persoalan dalam dewan dapat
Parlemen ditandai oleh hubungan kerja sama diajukan kepada pemilih. Kalau dalam
yang erat antara Raja, wakil, bangsawan, dan pemilihan memberikan suara terbanyak kepada
wakil rakyat dalam Parlemen. Sifat monistik dewan, maka para Menteri mengikuti dan
diperlihatkan dengan meletakkan kedudukan tunduk kepada penetapan rakyat dan
Raja dalam Parlemen sebagai ciri khas sistem mengundurkan diri. Kalau sebaliknya, hasil
pemerintahan parlementer Inggris, pemilihan membenarkan tindakan kabinet,
dibandingkan dengan pemerintahan adalah giliran dewan untuk tunduk kepada
parlementer Negara lain. Secara individual dan kedaulatan rakyat. Parlemen Inggris terdiri
kolektif menteri bertanggungjawab terhadap dari: Majelis Tinggi (House of Lords) adalah
Parlemen, sistem pertanggungjawaban kabinet wakil bangsawan dan Majelis Rendah (House
yang merupakan konsekuensi dari pelaksanaan of Commons) adalah wakil rakyat, dan Raja
demokrasi di Inggris. Pemerintah terdiri dari (Ratu). Artinya: RajalRatu, House of Lords,
tiga unsur: House of Commons, berada dalam satu wadah
1. Perdana Menteri, bukan sebagai anggota disebut Parlemen. Dalam sistem Inggris
kabinet, tetapi sebagai pemimpin cabinet; memberikan kekuasaan yang sangat besar
2. Kabinet, yang beranggotakan manteri- kepada House of Commons untuk membentuk
menteri yang di-angkat oleh monarch atas Undang-Undang (Act of Parliament).
usul; Raja/Ratu yang merupakan bagian dari
3. Perdana Menteri; Parlemen hanya memiliki fungsi formal,
4. Ada menteri yang berfungsi sebagai pejabat artinya setiap Undang-Undang wajib diajukan
administrasi dan tidak duduk dalam kepada Raja/Ratu untuk ditandatangani.
kabinet; Kedudukan parlemen yang sangat kuat, karena
diisi oleh orang-orang partai pemenang
Kabinet secara formal ditetapkan oleh pemilihan umum. Perdana Menteri berasal dari
monarch, keanggotaannya ditentukan oleh hasil kalangan mereka dan memerintah selama
pemilihan umum sebagai sifat parlemennya. kepercayaan masih diberikan kepadanya.
House of Lords tidak banyak pengaruhnya Namun, oposisi dibiarkan tumbuh dengan
terhadap pembentukan kabinet. subur, sehingga demokrasi dapat berkembang.
Pertanggungjawaban eksekutif arahnya kepada Kedaulatan ada ditangan rakyat dan sistem
Parlemen, tetapi evaluasi hanya dilakukan oleh ketatanegaaran Inggris sering disebut
House of Commons. Sistem pemerintahan Parliamentary Sovereignty dan secara historis
parlementer Inggris, berjalan melalui proses kekuasaan tersebut berkembang sejak Glorius
pengurangan kekuasaan absolut raja dan Revolution 1688. Kewenangan utama parlemen
diberikan kepada perwakilan bangsawan, adalah memiliki hak monopoli dalam membuat
proses ini, akhirnya melembaga menjadi dan menyusun peraturan perundang-undangan
Majelis. Pertumbuhan sejarah pembentukan dan pendelegasian wewenang legislatif hanya
25
boleh dilakukan oleh parlemen. Peraturan disahkan oleh Kongres Kontinental di
perundang-undangan dibedakan atas tiga Philadelphia pada tanggal 4 Juli 1776, yang
bentuk: (1). Act of Parliament. (2). Delegated ditandatangani oleh 56 anggota Kongres.
Legislation. (3). Autonomic Legislation. Amerika Serikat mempunyai konstitusi setelah
Peranan utama anggota Parlemen, berikut: tiga belas tahun merdeka, yaitu tahun 1789.
Setelah konstitusi disahkan dilanjutkan dengan
a. Menilai secara kontinyu rekan separtai yang pemilihan Presiden, George Washington
menduduki jabatan-jabatan menteri dan (1789-1797) terpilih sebagai Presiden pertama
rekan-rekan mereka yang mungkin. secara aklamasi, seperti juga pemilihan
Seorang Menteri mungkin memperoleh Presiden Indonesia pertama Soekarno (1901-
mosi kepercayaan secara resmi, tetapi 1970), yang dipilih tanggal 18 Agustus 1945
sebenarnya kehilangan posisi diantara para setelah UUD 1945 di sahkan oleh PPKI.
rekannya di parlemen, apabila pendapatnya Presiden Amerika Serikat yang pertama, telah
dilumpuhkan dalam perdebatan dan hanya mewariskan suatu tradisi dua kali masa jabatan
mempunyai pengetahuan yang sangat Presiden dengan cara menolak dipilih untuk
sedikit tentang hal yang ditangani. ketiga kalinya. Jika ia mau tidak ada yang akan
b. Undang-Undang yang dilahirkan disebut menghalanginya dan dapat dipastikan bahwa
Acts of Parliament, tetapi Rancangan akan terpilih secara aklamasi, karena
Undang-Undang disiapkan oleh ahli hukum merupakan mantan panglima perang
di Whitehall yang berkerja atas intruksi para kemerdekaan dan salah seorang the founding
pegawai Pemerintah berdasarkan kebijakan fathers yang sangat disegani dan berpengaruh.
Menteri. Amerika Serikat, pada saat diproklamasikan
c. Mengawasi pelaksanaan Undang-Undang, terdiri dari tiga belas Negara Bagian dan
seorang anggota parlemen dapat sekarang lima puluh Negara Bagian. Perang
mengajukan secara langsung kepada kemerdekaan yang terjadi pada musim semi
Menteri terhadap suatu keputusan. Apabila tahun 1775 di Concord, Lexington, dan Bunder
hasil jawaban tidak puas, dapat diajukan Hill menimbulkan pro dan kontra dikalangan
dalam sidang House of Commons. tokoh dan masyarakat, apakah revolusi
d. Parlemen dapat menyampaikan gagasan merupakan satu-satunya jalan untuk merdeka,
politik, karena partai mempunyai komite- yaitu: yang mendukung jalan perang adalah
komite ahli dan mengawasi kegiatan Samuel Adams dan John Hancock, tetapi yang
Departemen Pemerintahan. memilih cara damai dengan Inggris adalah
e. Eksekutif dapat menggunakan publisitas George Washington (1732-1799) dan Thomas
Parlemen untuk mendapatkan persetujuan Jefferson (1743-1826).
tentang kebijakan-kebijakan pemerintah, Arsitek konstitusi Amerika Serikat boleh
tetapi oposisi justru sebaliknya. dikatakan dilakukan oleh ahli hukum,
pemerintahan, dan politik, yaitu 33 ahli hukum
Sistem Pemerintahan Presidensial dari 55 peserta konvensi, kalau diperhatikan
Amerika Serikat membagi pemerintahan secara seksama bahwa Amerika Serikat
menjadi tiga cabang, yaitu legislatif (Senate menganut bentuk Negara federal, bentuk
dan House of Representatives), eksekutif pemerintahan republik, dan sistem
(Presiden sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan presidensial. Prinsip dasar dalam
Pemerintahan), dan Yudisial (Mahkamah konstitusi Amerika Serikat, membagi
Agung), pembagaian kekuasaan ini berdasarkan pemerintahan menjadi tiga cabang, yaitu:
atas prinsip pemisahan kekuasaan dari Trias legislatif, eksekutif, dan yudisial: Juga
Politika Montesquieu, yang kemudian menetapkan bagaimana jabatan kenegaraan
dilengkapi dengan checks and balances system, harus dipilih, batas kekuasaan Federal dengan
yaitu ketiga kekuasaan tersebut dapat saling Negara Bagian, memberikan hukum substantif
kontrol secara terbatas oleh kekuasaan yang dasar terbatas yang berhubungan dengan
sama secara terbatas. masalah-masalah kontroversial, seperti:
The United States of America perbudakan, kebebasan sipil, hutang Negara,
diproklamasikan tahun 1776 dan naskah perpajakan, perdagangan, Perjanjian
deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat yang Internasional, dan gelar bangsawan. Sistem
disusun Thomas Jefferson (1743-1826) dan pemerintahan Amerika Serikat merupakan
26
“Indonesia menurut Mochtar
Kusumaatmadja menganut aliran − HI lebih tinggi dari HN (primat HI).
monisme dengan primat Hukum
Internasional. Untuk saat ini, Indonesia Negara penganut monisme: Perancis,
dan Negara-Negara sedang berkembang Jerman, dan Belanda.
seharusnya menganut dualisme, dan
kalaupun memilih monisme harus primat b. Dualisme menempatkan HN dan HI
Hukum Nasional.” sebagai sistem hukum yang terpisah,
masing-masing berdiri sendiri dan tidak
yang paling rumit di dunia dengan prinsip ada hubungan satu dengan yang lainnya,
Government by the People, artinya kedaulatan tokoh aliran ini adalah Triepel dan
ada di tangan rakyat dan dinyatakan melalui Anzilotti. Negara penganut dualisme:
pemilihan umum, Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.
dipilih untuk masa jabatan empat tahun dan
sesuai dengan tradisi hanya untuk dua periode Indonesia menurut Mochtar Kusumaatmadja
masa jabatan. Ketika tradisi yang diciptakan menganut aliran monisme dengan primat
Presiden pertama George Washington (1789- Hukum Internasional. Untuk saat ini, Indonesia
1797) dilanggar oleh Presiden F. D. Roosevelt dan Negara-Negara sedang berkembang
(1933-1945) yang terpilih untuk keempat seharusnya menganut dualisme, dan kalaupun
kalinya, maka lahirlah amandemen pembatasan memilih monisme harus primat Hukum
masa jabatan presiden dua periode tahun 1951. Nasional.
Tidak seorang pun harus dipilih untuk jabatan
Presiden lebih dari dua kali, tidak seorang pun Hirarki Hukum lnternasional
yang telah memegang jabatan Presiden atau
ditugaskan sebagai Presiden, untuk lebih dari J.G. Starke membagi sumber materiil
dua tahun dari suatu masa jabatan untuk mana Hukum Internasional, dalam lima bentuk:
seseorang lain dipilih menjadi Presiden harus
dipilih untuk jabatan Presiden lebih dari sekali. (1) Kebiasaan;
Keadilan ditegakan melalui Supreme Court (2) Traktat;
yang merdeka dan bebas dari pengaruh (3) Keputusan pengadilan atau badan arbitrase;
legislatif dan eksekutif, para hakim dan Hakim (4) Karya para ahli hukum;
Agung diangkat oleh Presiden setelah (5) Keputusan organisasi lembaga
menadapatkan persetujuan Senate, Hakim internasional;
Agung tidak diangkat seumur hidup, tetapi
diangkat sepanjang Hakim tersebut Sumber Hukum Internasional berdasarkan
melaksanakan tugas dengan baik dalam Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah
rentangan waktu seumur hidup, dapat Internasional, sebagai berikut:
diberhentikan apabila melakukan pelanggaran, a. International Conventions;
kejahatan, dan pemberhentiannya harus b. International Custom;
didukung dua pertiga anggota Senat. c. General Principles of Law;
d. Judicial Decisions; dan
Teori Hubungan Hukum Nasional dan e. Teachings of the Most Highfy Qualified
Hukum lnternasional Publicists.

Mengenai hubungan antara perangkat Sumber Hukum Internasional itu dijadikan


Hukum Nasional (HN) dengan Hukum dasar untuk membuat Perjanjian Internasional,
Internasional (HI), yaitu: dan bagaimana menempatkan sumber Hukum
Internasional dalam kategori Perjanjian
a. Monisme menempatkan HN dan HI sebagai Internasional dalam kerangka dan hirarki
bagian dari satu kesatuan sistem hukum Hukum Nasional.
pada umumnya, keduanya saling
berhubungan. Tokoh aliran ini adalah Hans Kekuatan mengikat Hukum Internasional
Kelsen dan Georges Scelle, yang menurut Corbett adalah sebagai kehendak
memunculkan dua paham: Negara-Negara agar hubungan timbal balik
− HN lebih tinggi dari HI (primat HN); yang mereka adakan karena tidak dapat dilepas

27
dari sifat sosial mereka diatur seraga dan Protocol; Pact; Process verbal; Modus
serasional mungkin, melalui tahapan: Vivendi; Act; Final Act; General Act; Accord;
Pertama, tahap atau arti pertama dari perkataan Compromis; Concordat.
“sumber” ini merupakan yang paling abstrak
dan yang paling kontroversial, diartikan sebagai Dalam praktek, treaty dan convention
ketentuan yang prosedural (tidak pada cita-cita menduduki tempat paling tinggi dalam urutan
atau ide). Perjanjian Internasional.
Kedua, tahap kedua kita mengartikan “sumber”
sebagai unsur konstitutif bagi aturan Hukum 1. Traktat, istilah ini yang sudah umum
Internasional atau kriteria untuk menyatakan digunakan dalam perjanjian-perjanjian
bahwa Hukum Internasional atau bukan, ini internasional, seperti:
sebagai landasan Hukum Internasional sebagai 2.1.Treaty Banning Nuclear Weapon Tests
suatu sistem dari peraturan-peraturan yang in the Atmosphere, in Outer Space and
membentuknya, yaitu kesepakatan Negara- Underwater of August 5, 1963.
Negara menurut Corbett. 2.2.Treaty on Extradition between the
Ketiga, sumber dalam arti manisfestasi relevan United States of America and Japan of
atas dasar mana ada tidaknya unsur konstitutif March 3, 1978.
dapat dibuktikan dan dalam konsepnya 2. Konvensi, digunakan untuk perjanjian-
Brownlie sebagai sumber material. Dalam perjanjian internasional yang multilateral
Hukum Internasional, subyek-subyek itu yang mengatur masalah besar dan penting
sendiri merupakan pembentuk hukum dan berlaku sebagai kaidah hukum
(legislator) tidak selalu terdapat prosedur internasional berlaku secara khas, seperti:
serupa. Akibatnya, persoalan tentang apakah 2.1.Convention on the Prevention and
suatu peraturan sungguh-sungguh merupakan Punishment of the Crime of Genocide
peraturan internasional harus dijawab atas dasar of December 9, 1948.
fenomena yang tidak begitu formal dan 2.2.Convention on the Law of the Sea of
terstruktur, yang dalam ha1 ini diberi istilah December 10, 1982.
“manifestasi unsur konstitutif”. Jadi, Hukum 3. Deklarasi, pernyataan atau pengumuman
Internasional harus memenuhi dua persyaratan, dan isinya kesepakatan yang bersifat umum
yaitu derajat kepastian dan kejelasan setinggi- dan pokok-pokoknya saja, menurut J.G.
tingginya, perhatian yang cukup terhadap Starke dibedakan 4 macam:
hubungan antar hukum dan hubungan 3.1.Deklarasi sebagai suatu perjanjian
kemasyarakatan. Kesemua itu harus dilihat dalam arti yang sejati, seperti:
dalam tiga karakteristik masyarakat Deklarasi Paris 1856; Deklarasi
internasional yang mempengaruhi Hukum Bangkok 8 Agustus 1967; Universal
Internasional, yaitu: Declaration of Human Rights, 10
Desember 1948.
(1) Ada sejumlah Negara yang hidup 3.2.Deklarasi sebagai suatu instrumen yang
berdampingan (co-exist), yaitu Negara tidak formal yang dilampirkan pada
merdeka dan berdaulat yang tidak tunduk suatu perjanjian (konvensi atau traktat).
pada kekuasan yang lebih tinggi. 3.3.Deklarasi sebagai persetujuan informal
(2) Terjadi interaksi antara Negara-Negara yang berhubungan dengan masalah
yang termasuk ke dalam sistem tidak begitu penting.
internasional, terjadi melalui intensitas 3.4.Deklarasi sebagai sebuah resolusi yang
tertentu secara historis. dikeluarkan dalam suatu konperensi
(3) Pengakuan atau persepsi pada Negara- diplomatik yang berisi beberapa
Negara tentang perlunya pengaturan pernyataan tentang beberapa prinsip
hubungan timbal balik antara mereka. yang harus dihormati oleh semua
Negara, seperti:
Berbicara Hukum Internasional harus − Declaration on the Prohibition of
memahami 18 istilah yang sering digunakan Military, Political, or Economics
dalam Hukum Internasional, yaitu: Treaty; Coercion in the Conclution of
Convention; Agreement; Arrangement; Treaty (Konvensi Wina 1969);
Declaration; Charter; Covenant; Statute;
28
− Declaration of Principles 10. Protokol, menurt J.G. Starke merupakan
Governing the Seabed and the jenis Perjanjian Internasional yang kurang
Ocean Floor, and the Subsoil formal, jika dibandingkan dengan traktat,
thereof, Beyond the Limit of sebagai instrumen pembantu pada suatu
National Jurisdiction. konvensi, tetapi berkedudukan secara
4. Statuta, biasa dipergunakan untuk berdiri sendiri dan tunduk pada ratifikasi
perjanjian-perjanjian internasional yang atas konvensi itu sendiri.
dijadikan sebagai konstitusi suatu
Organisasi Internasional, seperti Statute of Teori Kewenangan jabatan kenegaraan
Permanent Court of lnfernafional Justice; pada setiap sistem pemerintahan, wajib
Statute of International Court of Justice. dipertautkan dengan pembagian kekuasaan
5. Piagam, dipergunakan untuk Perjanjian Negara, untuk menentukan batas dan
Internasional yang dijadikan sebagai tanggungjawab masing-masing lembaga,
konstitusi suatu Organisasi Internasional, sesuai dengan prinsip dan hakikat pembagian
seperti Charter of the Unifed Nations; kekuasaan, berikut:
Charter of the Organization of African (1) Setiap kekuasaan wajib
Unity; Charter of the Organization of dipertanggungjawabkan;
American States 1948. (2) Setiap pemberian kekuasaan harus
6. Kovenan, artinya hampir sama dengan dipikirkan beban tanggung jawab untuk
Piagam, digunakan sebagai konstitusi suatu setiap penerima kekuasaan;
Organisasi Internasional, seperti: Covenan (3) Kesediaan untuk melaksanakan tanggung
of the League of Nations; International jawab harus secara inklusif sudah
Covenan on Civil and Political Rights of diterima pada saat menerima kekuasaan;
December 16, 1966; International Covenan (4) Tiap kekuasaan dittentukan batasnya
on Economic, Social, and Cultural Rights, dengan teori kewenangan.
December 16, 1966.
7. Persetujuan, digunakan untuk Perjanjian Dalam teori beban tanggung jawab,
Internasional yang ditinjau dari segi isinya ditentukan oleh cara kekuasaan itu diperoleh
lebih tehnis administratif, seperti: yaitu: pertama-tama kekuasaan diperoleh
− Agreement between the Government of melalui attributie, setelah itu dilakukan
the Republic of Indonesia and the pelimpahan (afgeleid) yang dilakukan dengan
Government of the Commonwealth of dua cara: delegatie dan mandaat. Delegatie
Australia Establishing Certain Seabed dilakukan oleh yang punya wewenang dan
Boundaries, May 18, 1971. hilangnya wewenang dalam jangka waktu
− Agreement between the Government of tertentu, penerima bertindak atas nama diri
the Republic of Indonesia and the sendiri dan bertanggungjawab secara eksternal.
Republic of India Relating to the Sedangkan, mandaat tidak menimbulkan
Delimination of the Continental Shelf pergeseran wewenang dari pemiliknya,
Boundary between the Two Countries, sehingga tanggung jawab pelaksanaan tetap
August 8, 1974. berada pada pemberi kuasa. Penerima
8. Perjanjian, arti generik untuk menyangkut kewenangan atribusi, tergantung pada pola
segala bentuk, jenis, macam perjanjian sistem pembagian kekuasaan yang membawa
internaional, arti spesifik digunakan untuk nilai kedaulatan rakyat dan menghindari
perjanjian-perjanjian internasional yang absolutisme.
penting, besar baik yang menyangkut
Bilateral dan Multilateral. Dalam praktek di Ketentuan Hukum lnternasional Dalam
Indonesia: Perjanjian disahkan dengan UU, Hukum Nasional
sedangkan Persetujuan dengan keputusan
Presiden. Meletakkan Hukum Internasional dalam
9. Pakta, biasanya digunakan dalam perjanjian sistem hukum Indonesia dalam teori dan
yang berkaitan dengan bidang mliter dan praktek tidak mudah, karena sistem
pertahanan, seperti: NATO; Pakta Warsawa. ketatanegaraan Indonesia masih mengandung
problema pada grand unified theory
ketatanegaraan, sehingga praktek
29
ketatanegaraan selama ini (sejak proklamasi nasib Surat Presiden No. 2826/HK/1960 tidak
sampai sekarang) tidak pernah dapat jelas, apa sudah dicabut atau belum.
melengkapi dan memperkuat struktur
ketatanegaran Indonesia, tetapi justru makin Ketentuan Peraturan Perundang-
memburamkan sistem ketatanegaraan Undangan.
Indonesia. Dalam mengkaji pengaturan, posisi, Undang-Undang No. 24 Tahun 2000, tidak
dan status Hukum Internasional dalam sistem singkrun dengan Jiwa dan Semangat UUD
hukum Indonesia, harus dilihat dalam UUD NRI 1945 sebagai mana diamanatkan
NRI 1945 dan ketentuan perundang-undangan. Pembukaan UUD NRI 1945, kurang pas
Pengaturan dalam UUD baru diatur pada dengan struktur pembagian kekuasaan Negara,
amandemen UUD 1945 (2001 dan 2002), hirarki peraturan perundang-undangan, jika
sebelumnya tidak diatur, hanya diatur dengan diletakkan pada posisi dan hirarki Hukum
Surat Presiden No. 2826/HK/1960 dan Internasional. Ketentuan Undang-Undang No.
kemudian lahir Undang-Undang No.24 Tahun 24 Tahun 2000 yang akan menimbulkan
2000 tentang Perjanjian Internasional. berbagai implikasi dan persoalan teoritik dan
praktek, yang dapat dipertanyakan dan digugat
Ketentuan UUD NRI 1945 dalam prakteknya, berikut: Pasal 1 ayat (2)
Pasal 11, UUD Pengesahan adalah
“Meletakkan Hukum Internasional dalam
NRI 1945 Ayat (1) sistem hukum Indonesia dalam teori dan perbuatan hukum
Presiden dengan praktek tidak mudah, karena sistem untuk mengikatkan
persetujuan Dewan ketatanegaraan Indonesia masih diri pada suatu
Perwakilan Rakyat mengandung problema pada grand Perjanjian
menyatakan perang, unified theory ketatanegaraan, sehingga Internasional dalam
praktek ketatanegaraan selama ini (sejak
membuat perdamaian proklamasi sampai sekarang) tidak
bentuk ratifikasi
dan perjanjian dengan pernah dapat melengkapi dan (ratification), aksesi
Negara lain. Ayat (2) memperkuat struktur ketatanegaran (accession),
Presiden dalam Indonesia, tetapi justru makin penerimaan
membuat Perjanjian memburamkan sistem ketatanegaraan (acceptance) dan
Indonesia.”
Internasional lainnya persetujuan
yang menimbulkan (approval).
akibat yang luas dan Kesemuanya itu
mendasar bagi dalam bentuk hukum
kehidupan rakyat yang terkait dengan beban apa bisa dilakukan dalam warna hirarki
keuangan Negara, dan/atau mengharuskan perundang-undangan lndonesia dan juga dalam
perubahan atau pembentukan Undang-Undang hirarki warna Hukum Internasional. Bagi dunia
harus dengan persetujuan Dewan Perwakilan internasional soal sumber Hukum Internasional
Rakyat (Ayat (3)). Ketentuan lebih lanjut dalam pelaksanaannya masih menjadi
tentang Perjanjian Internasional diatur dengan perdebatan baik secara teoritik maupun
Undang-Undang. Ketentuan Pasal 11 UUD praktek, bahkan ada yang menuduh bahwa
NRI 1945 belum cukup mengatur posisi dan Hukum Internasional itu bukan hukum. Pasal 1
kedudukan Hukum Internasional dalam sistem ayat (3) Surat Kuasa (full powers) adalah surat
Hukum Tata Negara Indonesia dan Pasal 11 ini yang dikeluarkan oleh Presiden atau Menteri
belum bisa dijadikan payung hukum jika yang memberikan kuasa kepada satu atau
menguji ketentuan-ketentuan internasional beberapa orang yang mewakili Pemerintah RI
yang akan menjadi bagian Hukum Nasional dan untuk menandatangani atau menerima naskah
dalam praktek juga tidak jelas Indonesia perjanjian. Perjanjian menyatakan persetujuan
menganut monisme atau dualisme dalam Negara untuk mengikatkan diri pada perjanjian
hubungan Hukum Nasional dengan Hukum adalah menyelesaikan hal-ha1 yang diperlukan
Internasional. Praktek dari tahun 1945-1960 dalam perbuatan Perjanjian Internasional.
tidak ada ketentuan, baru tahun 1960 keluar Sesuatu yang sulit bisa diterima bahwa
Surat Presiden No. 2826/HK/1960 dan Presiden atau Menteri dapat memberikan Surat
kemudian lahir Undang-Undang No. 24 Tahun Kuasa kepada seorang atau beberapa orang
2000 tentang Perjanjian Internasional. Tetapi, untuk mewakili Negara Indonesia untuk
menyetujui dan menandatangani Perjanjian
30
“Dapatkah DPR dan Presiden
mengesahkan Perjanjian Internasional
yang bertentangan dengan hukum dari selera penguasa, karena UUD 1945 atau
nasional, secara teoritik tidak boleh,
tetapi dalam ha1 apa pertentangan itu
UUD NRI 1945 tidak tegas memberikan asas
terjadi dan apakah bertetangan dalam sebagai landasan untuk praktek yang nantinya
arti filosofis, jika ya maka tidak bisa sebagai bagian penyempurnaan sistem
diratifikasi.” ketatanegaraan dan praktek harus mengarah
kearah itu.
2. Kerancuan pilihan dalam praktek selama ini
Internasional. Menteri sebagai pembantu untuk menentukan hubungan Hukum Nasional
Presiden dalam tugas keeksekutifan, dengan Hukum Internasional, untuk Indonesia
memberikan Surat Kuasa kepada seseorang yang paling tepat menggunakan prinsip
atau beberapa orang untuk menyetujui dan dualisme, karena dari segi struktur
menandatangani Perjanjian Internasional, sama ketatanegaraan Indonesia belum memiliki grand
juga persoalan yang akan ditimbulkan oleh unified desain.
Pasal 1 ayat Pasal 2 Menteri memberikan 3. Karakter sistem hukum Indonesia dipengaruhi
pertimbangan politis dan mengambil langkah- oleh sistem hukum civil law system dan common
langkah yang diperlukan dalam perbuatan dan law system, pengaruh kedua sistem ini belum
pengesahan Perjanjian Internasional, dengan mampu disintesakan yang melahirkan asas
berkonsultasi dengan DPR dalam hal yang hukum yang menjadi pilihan sesuai dengan jiwa
menyangkut kepentingan publik. Tidak bisa dan karakter bangsa Indonesia.
membedakan mana Pemerintah (eksekutif) 4. Keanehan yang terjadi dalam praktek, seperti
dengan Menteri sebagai pembantu Presiden suatu ketika menggunakan logika monisme, saat
dalam melaksanakan tugas keeksekutifan, yang lain menggunakan dualisme, bahkan
sepertinya Menteri sebagai lembaga tinggi campuran antara keduanya ini disebabkan tidak
Negara, tetapi Menteri disini mewakili ada ketegasan prinsip yang diatur dalam UUD
Pemerintah (eksekutif). Pasal 3 Pemerintah RI dan Pasal 11 UUD NRI 1945 belum cukup
mengikatkan diri pada Perjanjian Internasional mengatur.
melalui cara-cara, sebagai berikut: 5. Bagaimana ratifikasi sebuah Perjanjian
(1) penandatanganan; Internasional, apakah dalam bentuk Undang-
(2) pengesahan; Undang atau Perpres harus dilihat dari hirarki
(3) pertukaran dokumen perjanjian/nota Hukum Nasional dengan muatan materi untuk
diplomatik; meletakkan hirarki Hukum Internasional dengan
(4) cara-cara lain sebagaimana disepakati para materi muatannya. Jikapun Indonesia memilih
pihak dalam Perjanjian Internasional. prinsip monisme harus ke primat Hukum
Nasional, kesadaran politik yang belum mapan
Pasal 10, pengesahan Perjanjian yang membuat Indonesia sering dirugikan akibat
Internasional dilakukan dengan Undang- Perjanjian Internasional.
Undang, apabila berkenaan dengan: 6. Ratifikasi Perjanjian Internasional harus
a. masalah politik, perdamaian, pertahanan merupakan bagian dari Hukum Nasional, asalkan
dan keamanan Negara; tidak bertentangan dengan UUD NRI 1945
b. perubahan wilayah atau penetapan batas merupakan sebuah prinsip, tetapi UUD NRI
wilayah Negara RI; 1945 masih belum memenuhi syarat sebagai
c. kedaulatan atau hak berdaulat Negara; fundamental norm Negara.
d. hak asasi manusia dan lingkungan hidup; 7. Secara teori bisa saja menggunakan format
e. pembentukan kaidah hukum baru; Perppu untuk meratifikasi sebuah Perjanjian
f. pinjaman dan/atau hibah luar negeri. Internasional, tetapi akan menjadi dilematis bagi
pemerintah, jika Perpu itu ditolak di DPR.
Komentar 8. Tentang ratifikasi UNCLOS 1982 melalui
Undang-Undang No.17 Tahun 1985, maka
Dari hasil kajian terhadap reference paper dapat terjadi perubahan rejim perairan dari internal
diambil suatu komentar dan masukan, bagaimana waters menjadi archipelagic waters. Undang-
meletakkan Perjanjian Internasional dalam Undang No. 17 Tahun 1985 dapat dijadikan
kerangka Hukum Nasional. untuk pemberlakuan rejim archipelagic waters.
1. Penempatan Perjanjian Internasional dalam Oleh sebab itu, ratifikasi suatu Perjanjian
kerangka Hukum Nasional selama ini trgantung Internasional harus sudah dipikirkan, apa-apa
31
dan ketentuan apa saja yang dipengaruhinya dan
menguntungkan Indonesia atau merugikan.
9. Dapatkah DPR dan Presiden mengesahkan
Perjanjian Internasional yang bertentangan
dengan hukum nasional, secara teoritik tidak
boleh, tetapi dalam ha1 apa pertentangan itu
terjadi dan apakah bertetangan dalam arti
filosofis, jika ya maka tidak bisa diratifikasi.
10. Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal, merupakan Undang-Undang
yang dilahirkan dengan menabrak Undang-
Undang No. 5 Tahun 1960, karena Undang-
Undang No. 25 Tahun 2007 syarat dengan
kepentingan investasi dan banyak Undang-
Undang yang dilahirkan untuk kepentingan
kelompok baik kepentingan kelompok dalam
negeri maupun kepentingan kelompok luar
negeri, bukan untuk kepentingan Bangsa
Indonesia.
11. Dari sekian banyak bentuk dan istilah yang
dipergunakan dalam Perjanjian Internasional,
maka ratifikasi menjadi sangat penting dilakukan
dalam bentuk Undang-Undang.
12. Subyek Hukum Internasional adalah Negara,
dalam ha1 ini diwakili oleh Pemerintah
(eksekutif), maka lembaga yang lain tidak bisa
melakukan Perjanjian Internasional secara
langsung, harus melalui pintu Pemerintah
(eksekutif) yang mewakili Negara sebagai subyek
Hukum Internasional.
13. Setiap lembaga atau instansi yang akan
melakukan Perjanjian Internasional, harus dilihat
dari segi subyek hukum, apakah organisasi
ASEAN merupakan Subyek Hukum
Internasional, jika ya berarti boleh, tetapi karena
ASEAN sebagai organisasi bukan sebagai Negara
yang berdaulat, maka perjanjian yang harus
dibuat hanya kapasitas untuk melaksanakan
Piagam ASEAN.

PROF. DR. IBRAHiM R. SH. MH.


• Lahir di Sekotong Lombok, 28 Nopember
1955.
• S1 Fakultas Hukum Unud;
• S2 Pascasarjana Unpad;
• S3 Pascasarjana Unpad;
• Guru Besar Fakultas Hukum Universitas
Udayana;
• Dosen Pascasarjana Unud, mengajar di
Pascasarjana Unram, mengajar di
Program Pascasarjana (Magister dan
Doktor) Unibraw.

32