Anda di halaman 1dari 14

Review Artikel

Rehabilitasi Vestibular Pada Keluhan Pusing dan Gangguan


Keseimbangan Setelah Cedera Kepala
Bara A. Alsalaheen, Anne Mucha, Laura O. Morris, Susan L. Whitney, et.al

Ringkasan Latar Belakang dan Tujuan Penatalaksanaan keluhan pusing dan gangguan keseimbangan setelah cedera kepala merupakan sebuah tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rehabilitasi vestibular dalam mengurangi keluhan pusing dan memperbaiki sikap tubuh dan fungsi keseimbangan setalah terjadi cedera kepala. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan secara retrospektif melalui review dari 114 pasien (67 anak berumur 18 tahun atau lebih muda (rerata 16 tahun; dari 8-18 tahun); 47 pasien dewasa berumur lebih dari 18 tahun (rerata 41 tahun; dari 19-73 tahun), semua pasien pernah menjalani rehabilitasi vestibuler. Penilaian dilakukan mulai saat ada keluhan hingga keluar rumah sakit, data diambil dari laporan pasien (misal derajat pusing, skala Aktivitas-Keseimbangan, dan alat-alat bantu selama merasakan pusing) dan sikap tubuh serta kemampuan tubuh (Indeks Gait Dinamik, kecepatan langkah, dan tes pengorganisasian sensoris). Faktor campuran digunakan untuk menganalisis variasi perbedaan efektivitas rehabilitasi vestibular menurut umur dan hasil yang terukur. Hasil Penelitian Waktu rerata yang diperlukan mulai dari sesaat setelah cedera hingga evaluasi awal penelitian adalah 61 hari. Dari 114 pasien yang diteliti, sebanyak 84 pasien datang kembali lebih dari 1 kali kunjungan. Dari sampel tersebut, diperoleh jika perbaikan keluhan pada laporan pribadi, sikap tubuh dan keseimbangan yang dinilai setiap pasien berkunjung secara statistik bermakna (P < 0,05). Pasien anak mengalami perbaikan yang lebih bermakna pada derajat pusingnya (P = 0,005), baik pada kondisi 1 (mata terbuka, fixed support), kondisi 2 (mata tertutup, fixed support) pada tes pengoragnisasian sensoris (P < 0,025). Pembahasan Rehabilitasi vestibular dapat mengurangi keluhan pusing dan memperbaiki sikap tubuh dan fungsi keseimbangan setelah cedera kepala. Dari penelitian ini didapatkan jika perbaikan klinis tidak tergantung pada usia, sehingga rehabilitasi vestibular memiliki manfaat yang sama baik pada anak maupun dewasa. Kesimpulan
Page 1

2010 Neurology Section, APTA

Rehabilitasi vestibular dapat digunakan untuk penatalaksanaan pasien dengan keluhan pusing, dan gangguan sikap keseimbangan setelah cedera kepala yang tidak membaik dengan istirahat. Kata Kunci: trauma kepala ringan, vertigo, sikap tubuh

PENDAHULUAN Cedera kepala adalah gangguan neurologis yang sering terjadi pada anak maupun dewasa1,2. Berdasarkan CDC, cedera kepala merupakan istilah yang sama dengan cedera kepala ringan (mild Traumatic Brain Injury)3. Dari defensisi CDC, cedera kepala terjadi melalui patofisiologi yang kompleks yang terjadi akibat adanya tekanan trauma yang secara langsung atau tidak langsung menekan kepala sehingga mengganggu fungsi otak. Gangguan fungsi otak ditandai dengan struktur gambaran radiologis otak yang normal (CT Scan maupun MRI). Sebagai akibatnya, muncul berbagai gangguan fisik, kognitif, emosional, hingga gangguan tidur yang bisa jadi merupakan bagian dari cedera kepala. Durasi gejala dan keluhan bervariasi, mulai dari beberapa menit, hari, hingga berbulan-bulan atau lebih pada beberapa kasus. Banyak faktor mempengaruhi lamanya pusing, amnesia, dan keluhan bingung; namun penjelasan mengenai hal ini masih sangat terbatas. Keluhan pusing setelah cedera kepala sering terjadi, dilaporkan 23-81 % keluhan ini muncul pada hari pertama setelah cedera kepala. Diperkirakan prevalensi keluhan pusing persisten setelah cedera kepala ringan sebesar 1,2% selama 6 bulan dan 32,5% bertahan selama 5 tahun5-8.Keseimbangan yang buruk, dan instabilitas tubuh dilaporkan setelah cedera kepala dan berhubungan dengan disfungsi integratif sensoris9-13. Meskipun insidensi keluhan pusing dan disfungsi keseimbangan pada pasien setelah cedera kepala tinggi, namun rehabilitasi vestibular dan keseimbangan masih belum banyak dilakukan 14-17. Alasannya adalah keluhan sering membaik sebelum pasien dirujuk ke pelayanan tersier rehabilitasi vestibular. Pada suatu studi, >75% pemain bola pada sekolah menengah atas yang mengalami benturan kepala, akan kembali bermain bola setelah 3 minggu18. Penggunaan rehabilitasi vestibuler pada kasus pusing setelah cedera kepala telah lama dikenal luas, namun menurut Shepared dkk17 menyatakan jika durasi rehabilitasi vestibular diperlukan lebih lama jika dibandingkan dengan kasus disfungsi vestibular perifer unilateral. Namun, masih belum jelas apakah derajat keluhan pusing dan disfungsi keseimbangan sama pada anak dan dewasa. Lebih lanjut, juga masih belum jelas
2010 Neurology Section, APTA

Page 2

bagaimana perbedaan mekanisme perbaikan gangguan keseimbangan dan keluhan pusing antara anak dan dewasa19-21. Anak-anak lebih tolerir terhadap perubahan biokimiawi yang terjadi saat benturan kepala dibandingkan dengan dewasa sehingga diduga gejala sisa (sekuele) akan berbeda antara anak dan dewasa19. Lebih lanjut, apakah terdapat pengaruh terhadap kematangan diri, kemampuan kognitif, dan sikap tubuh setelah perbaikan juga masih belum jelas. Tujuan dari penelitian retrospektif ini adalah untuk menguji derajat beratnya keluhan pusing dan gangguan sikap, keseimbangan tubuh pada pasien yang telah menjalani terapi rehabilitatif vestibuler. Penelitian ini mencari apakah rehabilitasi vestibuler dapat mengurangi keluhan pusing, gangguan sikap dan keseimbangan, dan apakah perbaikan klinis pada anak dan dewasa memiliki perbedaan.

METODE Sampel Penelitian Penelitian ini bersifat review retrospektif dari rekam medik 114 pasien termasuk anak-anak, pada tahun 2006 hingga 2008 pada pelayanan tersier pusat rehabilitasi vestibuler gangguan keseimbangan. Defenisi operasional, sampel anak jika berumur < 18 tahun, dan tergolong dewasa bila umur > 18 tahun. Rerata umur anak (45 perempuan, 22 laki-laki) 16 tahun dalam rentang 8-18 tahun, dan rerata usia dewasa (25 perempuan, 22 laki-laki) berusia 41 tahun dari rentang 19-73 tahun. Dari 114 pasien yang diteliti, 84 datang lebih dari satu kali kunjungan, dan 30 pasien datang sekali saja. Penelitian ini dilakukan setelah mendapatkan izin dari University of Pittsburgh. Perlakuan dan Pengukuran Intervensi sampel menggunakan rehabilitasi vestibular yang berisi program terarah mencakup pengukuran gangguan yang dialami pasien, keterbatasan fungsi keseharian, terkait dengan keluhan pusing, fungsi otot okular, dan gangguan sikap keseimbangan24. Kategori latihan vestibuler meliputi latihan keseimbangan tubuh (seperti VORx1 berupa gerakan geleng kepala ke kanan dan ke kiri, dan gerakan duduk berdiri bergantian), latihan keseimbangan berdiri (berdiri dengan kaki 1 mata terbuka dan tertutup bergantian), berjalan dengan tantangan keseimbangan (jalan dengan leher miring, tandem, menghindari rintangan), dan pada beberapa kasus dengan manuver reposisi kanalith. Latihan dilakukan setiap hari.
Page 3

2010 Neurology Section, APTA

Laporan pribadi ditulis saat evaluasi awal, mingguan, dan interval bulanan. Pengukuran memperbandingkan skor saat pasien datang dan setelah menjalani sesi rehabilitasi vestibular. Bila pengukuran tidak dicatat saat evaluasi awal, penilaian menggunakan skor saat kedatangan berikutnya dan saat akhir sesi latihan. Laporan Pengukuran Individu Laporan pengukuran individu diperoleh dari keterangan pasien secara verbal terhadap skala derajat pusingnya dari kisaran 0-100 ( 0 berarti idak ada pusing, 100 pusing maksimal). Skala verbal ini kemudian diklasifikasikan menjadi derajat pusing (sangat ringan, ringan, sedang, dan berat). Lebih lanjut, pasien kemudian diminta untuk mendeskripsikan keluhan pusingnya apakah berputar, sulit melihat cahaya, gangguan keseimbangan, mual, rasa berputar, dll. The Activities-specific Balance Confidence (ABC) Scale digunakan sebagai alat ukur gangguan kepercayaan diri dari 16 fungsi aktivitas. Nilai 100 berarti yakin mengganggu, 0 bermakna tidak ada gangguan 25. The Dizziness Handicap Inventory (DHI) digunakan sebagai instrumen untuk menilai disabilitas akibat keluhan pusing terkait fisik, emosional, dan domain fungsi keseharian. Nilai tertingginya adalah 100 yang berarti ada gangguan yang sangat berat26. Penilaian Gaya Berjalan, dan Sikap Keseimbangan Penilaian skiap tubuh dan keseimbangan menggunakan The Dynamic Gait Index (DGI) yang berisi 8 item instrumen yang menilai kemampuan berjalan dengan kepala miring, perubahan kecepatan, dan berjalan memutar. Skor 0-3, dimana 0 bernilai berat, dan 3 normal. Selanjutnya, pengukuran juga menggunakan 24,27 The Functional Gait Assessment (FGA)yang berisi 10 item pada DGI. Skor maksimum 30 yang berarti pasien memiliki performa yang baik28 semakin tinggi nilainya maka performa akan semakin baik. Kecepatan langkah diukur dengan stopwatch ketika pasien berjalan sekitar 4 meter dengan penuh rasa nyaman. The Timed Up and Go adalah waktu yang dibutuhkan pasien untuk berdiri dari duduk, jalan 3 meter dengan kecepatan normal, dan kembali lagi ke tempat duduknya29. The 5 times sit to stand (FTSTS) test menilai kecepatan pasien berdiri dan duduk pada sebuah kursi dengan kecepatan 5 kali dari yang bisa ia lakukan. Pasien dipastikan untuk melakukannya dengan cara kedua tangan diletakkan bersilangan di atas dada30. Dynamic Computerized Posturography: pasien menjalani tes pengorganisasian sensoris Sensory Organization Test (SOT, Neurocom, Inc., Clackamas, Oregon). Pasien melakukan 6 kondisi sensoris berbeda antara lain (1) mata terbuka, fixed support, (2) mata tertutup, fixed support; (3) mata berputar; (4) mata terbuka dengan pasien tetap mendapat goncangan; (5) mata tertutup, pasien mendapat goncangan; (6) mata pasien diminta berputar dengan bantuan pemeriksa. Semua tes dilakukan setiap 3 kali dalam 20 detik. Secara teoritis nilai keseimbangan adalah 100 (mengindikasikan tdak ada goncongan yang dirasakan), dan hilang keseimbangan samasekali bila bernilai 0. Skor rerata diukur menggunakan skala individual. Analisis Statistik

2010 Neurology Section, APTA

Page 4

Penelitian ini dilakukan pada interval setelah cedera hingga pasien dilakukan rehabilitasi vestibular, jumlah kunjungan, durasi rehabilitasi, dan perlakuan terapi. Semua data diolah dengan statistik depskriptif. Proses Pengukuran Metode pengukuran menggunakan nonparametric Mann-Whitney U test yang dilakukan untuk menilai apakah terdapat perbedaan signifikan antara saat pasien mengalami pusing setelah cedera saat penilaian awal dan setelah mendapatkan rehabilitasi vestibular. Mann-Whitney U test juga menilai apakah terdapat perbedaan signifikan durasi dan jumlah kunjungan antara pasien anak dan dewasa yang menjalanu terapi rehabilitasi vestibular. Pengukuran Outcome Independent t test dilakukan untuk menilai apakah terdapat perbedaan antara pasien yang mendapat terapi rehabilitasi mulai dari saat penilaian awal namun tidak meneruskan terapi, dan pasien yang tetap meneruskan terapi. Independent t test juga menilai apakah terdapat perbedaan antara hasil terapi pada anak dan dewasa dimulai saat penilaian awal. Untuk Independent t test, agar variasinya berimbang dilakukan Levines test. Nilai P tidak bertujuan untuk melihat kesamaan variabilitas. Pada pasien yang menjalani lebih dari 2 kali kunjungan, faktor campuran dicari ulang untuk menyingkirkan apakah terdapat variasi sebagai bagian dari terapi, kelompok usia, dan interaksi (antara perlakuan dan umur). Dibandingkan dari dua kondisi (sebelum dan setelah terapi) serta dilihat perbedaan antara pasien anak dan dewasa. Untuk setiap pengukuran outcome, hanya pasien yang lengkap datanya dan dipakai dalam penelitian yang selanjutnya dapat dianalisis. Dikatakan signifikan bila memenuhi nilai = 0,05.

Hasil Penelitian Rehabilitasi vestibular dilakukan oleh 8 orang terapis fisik; 2 orang terapis melakukan sekitar 44% dan 27% kasus. Keluhan deskriptif yang disampaikan pasien
2010 Neurology Section, APTA

Page 5

antara lain gangguan keseimbangan (68%), bertambah berat jika melihat cahaya (54%), berputar (46%), mual (38%), dan rasa sekitar seakan bergerak (23%). Gangguan keseimbangan dilaporkan sama besar antara keluhan anak dan dewasa. Lima pasien memiliki benign paroxysmal positional vertigo (BPPV). Satu pasien dengan BPPV tidak kembali lagi setelah kunjungan pertama. Tiga pasien memiliki BPPV murni, dan terapi reposisi canalith dilakukan sebagai intervensi tunggal. Selanjutnya, kelima pasien dengan BPPV yang juga memiliki gangguan pusing dan keseimbangan dimasukkan pada kelompok yang mendapatkan perlakuan khusus pada intervensi tambahan berupa reposisi canalith. Hasil Pengukuran Dari 114 pasien, 30 pasien mendapatkan perlakuan saat penilaian awal tidak kembali pada kunjungan kedua. Alasan mengapa tidak mengikuti terapi kedua beragam: terapi fisik tidak berindikasi (n=6), jauh dari rumah (n=8), dan tidak membutuhkan (n=16). Dua kelompok pasien yang datang saat penilaian awal dan kembali pada kunjungan berikutnya tidak terkait umur (t112 = 1.1, P = 0.31), jenis kelamin (X2 = 2,6, P = 0,11), serta durasi antara cedera hingga pasien dirujuk ke klinik rehabilitasi (rerata 61 hari, dari 6-2566 hari; Mann Whitney U=717, P=0,07; tabel 1). Delapan puluh empat pasien membutuhkan lebih dari 1 kali kunjungan, dan rerata kunjungan adalah 4 kali (dari 2-13 kunjungan), dengan rerata durasi 33 hari (dari 7-181 hari). Tidak terdapat perbedaan signifikan antara jumlah kunjungan pasien anak dan dewasa (Mann Whitney U=730, P=0,323), ataupun durasi terapi (Mann Whitney U=723, P=0,363). Pengukuran Outcome pada Penilaian Awal Pengukuran outcome yang dilakukan selama penilaian awal dari 114 pasien dilaporkan pada tabel 1. Pasien yang melanjutkan terapi memiliki nilai derajat pusing, ABC, DHI, DGI, FGA, kecepatan langkah, dan FTSTS yang baik. Pengukuran FTSTS yang secara signifikan memperlihatkan pasien anak lebih cepat performanya dibandingkan dewasa (anak-anak 9,7 3,5 detik; dewasa 13,2 3,5 detik; t49,8 = -3,3, dengan P=0,002). Perubahan Pada Pengukuran Outcome Pada pasien yang menjalani terapi rehabilitasi vestibuler, terdapat efek yang signifikan dari laporan pribadinya (tabel 2). Outcome tampak signifikan pada hubungan antara terapi dan usia pasien (tabel 3). Terdapat hubungan yang signifikan antara terapi dan umur untuk derajat beratnya pusing (F1,62 = 8.6 , P = 0,005). Analisis post hoc menunjukkan setelah terapi, pusing pada anak berkurang 19 poin (F1,40 = 31.0 , P = 0,001). Namun untuk kelompok dewasa tidak terdapat perbedaan signifikan sebelum dan paska terapi (F1,22 = 0.06, P = 0,805; tabel 3). Terdapat perbedaan bermakna antara terapi terhadap usia pada kondisi 1 dan 2 dari SOT (F1,19=6.7, P=0,018 dan F1,19 = 5.9, P=0,025 taraf kepercayaan, tabel 3). Dari kedua kondisi, anak-anak secara signifikan membaik nilainya (P=0,01). Namun pada dewasa secara bermakna tidak membaik.
2010 Neurology Section, APTA

Page 6

Hanya 3 pengukuran yang menunjukkan hasil signifikan terkait usia. Anak-anak memiliki skor DHI lebih rendah (berarti baik) (366) dibandingkan dengan dewasa (4620) (F1,67=5.8, P = 0,019). Anak-anak menunjukkan skor FGA lebih tinggi (252) dibandingkan dengan dewasa (253) (F1,46=5.0, P=0,030). Anak-anak juga memiliki nilai FTSTS yang lebih rendah (9,52,6 detik) dibandingkan dengan dewasa (13,85,8) (F1,34=8.7, P=0,006).

Tabel 1. Outcome Rerata Demografik Saat Penilaian Awal Rehabilitasi Vestibular Menurut Subjek yang Menjalani Evaluasi dan Kembali Lebih 1 kali Kunjungan

Tabel 2. Rerata Pengukuran Outcome Saat Awal dan Akhir Perlakuan

Tabel 3. Rerata Interaksi Kelompok Usia dan Terapi (P<.05) pada Derajat Pusing dan Skor SOT
2010 Neurology Section, APTA

Page 7

Pembahasan Dari penelitian ini ditemukan bahwa pada pasien dengan pusing persisten dan gangguan jalan, kesimbangan setelah cedera kepala mengalami perbaikan setelah mendapatkan rehabilitasi vestibular. Meskipun secara teori gejala paska cedera seperti pusing dan gangguan keseimbangan akan membaik dalam minggu pertama18,31, namun sampel pada penelitian ini tidak demikian halnya. Hanya 8 dari 114 (7%) sampel pasien yang menjalani terapi dan evaluasi selama 3 minggu rerata durasi 61 hari (dari 6-2566 hari) dengan pusing setelah cedera kepala yang merasa dapat sembuh spontan tanpa intervensi, sisanya meyakini membutuhkan terapi. Lima pasien memiliki BPPV. Meskipun BPPV sering ditemukan setelah cedera kepala, ini tidak sama dengan pusing biasa paska trauma, sebab, pada BPPV keluhan akan berlanjut lebih lama dan membutuhkan terapi yang lengkap. Intervensi membutuhkan waktu rata-rata 4 kali kunjungan dan 33 hari. Jumlah kunjungan dibandingkan secara terbuka antar perlakuan rehabilitasi vestibular baik pada kelainan perifer maupun sentral di klinik yang sama 32,34. Namun durasi pada studi ini lebih pendek dibandingkan studi sebelumnya. Belum jelas apakah durasi terapi yang lebih singkat pada perlakuan akan memberikan perbaikan yang lebih cepat pada keluhan pasien. Namun, dari studi ini dapat dilihat jika meskipun durasi terapi rehabilitasi vestibuler lebih singkat, namun frekuensi kunjungan yang lebih sering dapat memberikan hasil yang lebih baik jika terapi dimulai lebih awal saat keluhan mulai ada. Observasi dan penilaian perbaikan kondisi pasien pada studi ini menggunakan banyak domain, mulai dari laporan pribadi, derajat gangguan pusing (dizziness handicap; DHI), kepercayaan keseimbangan (skala ABC), dan performa keseimbangan. Hasil pengukuran dibandingkan untuk setiap jenis gangguan vestibular32-36. Lebih lanjut, secara teori rata-rata perubahan terlihat bermakna secara klinis bilai nilai DHI 26 (18 poin), kecepatan langkah37 (0,1 m/s), dan skor SOT38 (10 poin). Meskipun perubahan klinis minimal tidak dapat diukur secara statistik, namun dari pengalaman klinis kami, hasil skor ABC sebesar 20 poin, 3 skor DGI, dan 6 skor FGA bermakna dan memiliki arti klinis signifikan. Meskipun tanpa grup kontrol, penelitian ini dapat mengetahui efektivitas rehabilitasi medik, penetalaksanaan terbaik, dan perbaikan klinis setelah terapi. Namun, kami masih belum dapat menjelaskan bagaimana derajat gangguan pasien setelah cedera dimana pasien sebelum cedera pernah melakukan rehabilitasi vestibular. Penelitian ini menyimpulkan bahwa rehabilitasi vestibular dapat mengurnagi keluhan pusing dan gangguan keseimbangan setelah cedera kepala 14-17.
2010 Neurology Section, APTA

Page 8

Skor derajat pusing dan DHI pada penilaian awal berhubungan dengan beberapa kelainan vestibular temasuk disfungsi perifer maupun sentral32-34. Pasien pada penelitian ini memiliki skor yang memenuhi syarat penelitian baik derajat pusing, fungsi berjalan, dan gangguan keseimbangan, termasuk DGI, TUG, dan FTSTS, dan laporan pribadi skala ABC. Pada penelitian ini juga dilihat sebaran skor menurut umur sehingga jelas distribusi kasusnya. Perbedaan umur tampak jelas berbeda untuk distribusi gaya berjalan dan gangguan keseimbangan, termasuk FTSTS dan FGA, sebab pada pasien anak-anak, sukar menjelaskan secara normatif keluhan yang mereka rasakan. Sebaliknya, dari semua kondisi, saat penilaian awal, skor SOT pada anak-anak lebih rendah dibandingkan terhadap pasien dewasa dengan gangguan vestibular, hal ini menunjukkan bahwa pada anak-anak kemungkinan lebih sering terjadi gangguan integrasi sensorik setelah cedera kepala 12,42. Untuk menilai apakah umur mempengaruhi perbaikan, interaksi antara terapi dan usia kemudian dinilai. Hanya 3 pengukuran yang menunjukkan interaksi signifikan; derajat pusing, kondisi 1 dan 2 pada SOT. Perbaikan klinis pada anak lebih besar setelah mendapatkan terapi, meskipun saat penilian awal skornya lebih buruk dibandingkan pasien dewasa. Meskipun pada pasien dewasa tetap terjadi perbaikan klinis, namun kenyataannya derajat perbaikan lebih baik pada anak, diyakini hal ini akibat banyak variabilitas setelah terapi pada pasien dewasa. Interaksi signifikan kondisi 1 dan 2 pada SOT lebih bermakna pada anak dibandingkan dengan dewasa. Pada dewasa skornya lebih sempit dari batas normal SOT di kondisi 1, sementara pada anak lebih lebar skornya sehingga angka perbaikan lebih dapat terukur. Pada kondisi 2, anak-anak lebih bermakna perbaikannya dari nilai awalnya yang lebih rendah, namun pada dewasa secara mengejutkan skor SOT tidak berubah ke nilai normal. Sehingga, hasil analisis postural harus diinterpretasi lagi sebab terbatasnya sampel (13 anak/8 dewasa). Namun, penjelasan interaksi antara terapi terhadap uaia, DGI, FGA, kecepatan langkah, FTSTS, dan SOT masih belum lengkap sehingga perlu penelitian lebih lanjut untuk mencari hubungan tersebut pada pasien setelah cedera kepala. Tujuan lain dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah umur mempengaruhi gejala dan waktu yang diperlukan untuk perbaikan. Umur berhubungan dengan DHI, FGA, dan skor FTSTS. Skor DHI secara signifikan lebih rendah pada anak dibandingkan dengan dewasa sehingga persepsi kecacatan atau kelemahan akibat pusing pada anak dan dewasa berbeda8,21. Namun demikian, pada saat penilaian awal, derajat pusing berbeda pada kedua kelompok. Kontradiksi ini menyebabkan DHI kurang dapat digunakan untuk evaluasi pada anak (misalnya dengan pertanyaan apakah pusing akan mengganggu pekerjaan dan kegiatan di rumah?) dan pada anak akan sulit menjelaskan bagaimana perasaannya8. Meskipun DHI belum valid digunakan untuk anak, kami menggunakannya sebab masih belum ada model evaluasi yang secara pas dapat mengukur aktivitas fungsional anak, dan kami meyakini jika hal ini juga akan dipengaruhi oleh rehabilitasi vestibular. Nilai rerata FTSTS yang lebih rendah pada anak (4 detik) tidak berhubungan dengan faktor cedera namun lebih kepada stamina dan kelenturan yang lebih baik pada anak. Lebih lanjut, FGA skor yang lebih tinggi dan signifikan pada anak (2 poin)

2010 Neurology Section, APTA

Page 9

menunjukkan jika kemampuan secara fisik tidak berhubungan dengan derajat pusing. Sebagai simpulan, perbedaan pada dua kelompok bermakna secara statistik. Keterbatasan dan Harapan Kedepan Meskipun penelitian ini menyimpulkan jika rehabilitasi vestibular memiliki keuntungan untuk terapi keluhan pusing dan gangguan keseimbangan pada kasus paska cedera kepala, namun hasil ini masih terbatas sebab studi masih bersifat retrospektif, dan tidak memiliki grup kontrol sebagai pembanding. Tanpa adanya grup kontrol, sulit untuk mengetahui efektivitas suatu terapi. Alasan lain, pertama, tidak semua gejala komplikasi dari cedera kepala kami ukur seperti, hilang kesadaran, bingung, amnesia, dan belum dapat memprediksi apakah adanya hal-hal tersebut akan mempengaruhi luaran dan prognosis dari pasien. Kedua, meskipun cheklist gejala paska cedera kepala direkomendasikan untuk pasien paska cedera43-47,namun hal ini kurang dapat dipakai pada penilaian vestibular. Ketiga, karena penilaian vestibuler merupakan suatu hal yang kompleks, kami seharusnya tidak mengklasifikasikan keluhan vestibuler dalam 1 kelompok sebagaimana dijelaskan oleh Hoffer dkk14. Kami mengintegrasikan berbagai profesi dan disiplin ilmu, mulai dari dokter, neuropsikologis, terapis fisik, dan atlet terlatih yang berkerja secara komprehensif dalam penatalaksanaan cedera kepala. Oleh karena penanganan cedera kepala membutuhkan tatalaksana yang komprehensif maka kami sarankan dalam pananganan dan evaluasi cedera kepala hendakanya dilakukan dari banyak segi (gejala, neurokognisi, dan keseimbangan) dan di evaluasi berkala (saat awal, gejala setelah cedera, dan setelah perbaikan) kemudian didokumentasikan agar dapat di evaluasi agar sesuai standar terapi rehabilitasi vestibular kedepannya.

Ucapan Terimakasih Terimakasih kepada: Tanya Hagen, MD, Jamie Pardini, PhD, and Vanessa Fazio, PhD, of the UPMC Sports Medicine Concussion program. In addition, we thank the following physical therapists of the Centers for Rehab Services Vestibular Rehabilitation Clinic: Corrie Amick, DPT, Kathryn Brown, MS, PT, NCS, Dana Hinderliter, PT, and Darcy Nunn, DPT, NCS.

KEPUSTAKAAN (Terlampir) 1. Rutland-Brown W, Langlois JA, Thomas KE, Xi YL. Incidence of traumatic brain injury in the United States, 2003. J. Head Trauma Rehabil. 2006;21:544 548.
2. Centers for Disease Control. http://www.cdc.gov/ncipc/pub-res/TBI_in_ US_04/TBI

%20Tables_2003.pdf. Accessed November 6, 2009.


2010 Neurology Section, APTA

Page 10

3. Centers

for Disease Control. http://www.cdc.gov/NCIPC/tbi/Facts_for_ Physicians_booklet.pdf. Accessed January 19, 2010.

4. Reddy CC, Collins MW, Gioia GA. Adolescent sports concussion. Phys Med Rehabil Clin N Am. 2008;19:247269. 5. Griffiths MV. The incidence of auditory and vestibular concussion following minor head injury. J Laryngol Otol. 1979;93:253265. 6. Kisilevski V, Podoshin L, Ben-David J, et al. Results of otovestibular tests in mild head injuries. Int Tinnitus J. 2001;7:118 121. 7. Masson F, Maurette P, Salmi LR, et al. Prevalence of impairments 5 years after a head injury, and their relationship with disabilities and outcome. Brain Inj. 1996;10:487 497. 8. Maskell F, Chiarelli P, Isles R. Dizziness after traumatic brain injury: overview and measurement in the clinical setting. Brain Inj. 2006;20: 293305. 9. Guskiewicz KM, Ross SE, Marshall SW. Postural stability and neuropsychological deficits after concussion in collegiate athletes. J Athl Train. 2001;36:263273. 10. Geurts AC, Ribbers GM, Knoop JA, van Limbeek J. Identification of static and dynamic postural instability following traumatic brain injury. Arch Phys Med Rehabil. 1996;77:639644. 11. Gagnon I, Forget R, Sullivan SJ, Friedman D. Motor performance following a mild traumatic brain injury in children: an exploratory study. Brain Inj. 1998;12:843 853. 12. Shumway-Cook A, Olmscheid R. A systems analysis of postural dyscontrol in traumatically brain-injured patients. J Head Trauma Rehabil. 1990;5:51 62. 13. Guskiewicz KM, Riemann BL, Perrin DH, Nashner LM. Alternative approaches to the assessment of mild head injury in athletes. Med Sci Sports Exerc. 1997;29(7 suppl):S213S221. 14. Hoffer ME, Gottshall KR, Moore R, Balough BJ, Wester D. Characterizing and treating dizziness after mild head trauma. Otol Neurotol. 2004;25:135138. 15. Gurr B, Moffat N. Psychological consequences of vertigo and the effectiveness of vestibular rehabilitation for brain injury patients. Brain Inj. 2001;15:387 400. 16. Herdman JS. Treatment of vestibular disorders in traumatically braininjured patients. J Head Trauma Rehabil. 1990;5:6376. 17. Shepard NT, Telian SA, Smith-Wheelock M, Raj A. Vestibular and balance rehabilitation therapy. Ann Otol Rhinol Laryngol. 1993;102: 198205. 18. Collins M, Lovell MR, Iverson GL, Ide T, Maroon J. Examining concussion rates and return to play in high school football players wearing newer helmet technology: a three-year prospective cohort study. Neurosurgery. 2006;58:275286.
2010 Neurology Section, APTA

Page 11

19. McCrory P, Collie A, Anderson V, Davis G. Can we manage sport related concussion in children the same as in adults? Br J Sports Med. 2004;38:516 519. 20. Field M, Collins MW, Lovell MR, Maroon J. Does age play a role in recovery from sports-related concussion? A comparison of high school and collegiate athletes. J Pediatr. 2003;142:546 553. 21. Vartiainen E, Karjalainen S, Karja J. Vestibular disorders following head injury in children. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 1985;9:135141. 22. Polissar NL, Fay GC, Jaffe KM, et al. Mild pediatric traumatic brain injury: adjusting significance levels for multiple comparisons. Brain Inj. 1994;8:249 263. 23. Hirabayashi S, Iwasaki Y. Developmental perspective of sensory organization on postural control. Brain Dev. 1995;17:111113. 24. Shepard NT, Telian SA, Smith-Wheelock M. Habituation and balance retraining therapy. A retrospective review. Neurol Clin. 1990;8:459 475. 25. Powell LE, Myers AM. The Activities-specific Balance Confidence (ABC) Scale. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 1995;50A:M28M34. 26. Jacobson GP, Newman CW. The development of the Dizziness Handicap Inventory. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 1990;116:424427. 27. Shumway-Cook A, Woollacott M. Motor Control: Theory and Practical Applications. Baltimore, MD: Williams & Wilkins; 1995. 28. Wrisley DM, Walker ML, Echternach JL, Strasnick B. Reliability of the dynamic gait index in people with vestibular disorders. Arch Phys Med Rehabil. 2003;84:1528 1533. 29. Podsiadlo D, Richardson S. The timed Up & Go: a test of basic functional mobility for frail elderly persons. J Am Geriatr Soc. 1991; 39:142148. 30. Lord SR, Murray SM, Chapman K, Munro B, Tiedemann A. Sit-to-stand performance depends on sensation, speed, balance, and psychological status in addition to strength in older people. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 2002;57:M539M543. 31. Lovell MR, Collins MW, Iverson GL, et al. Recovery from mild concussion in high school athletes. J. Neurosurg. 2003;98:296 301. 32. Wrisley DM, Whitney SL, Furman JM. Vestibular rehabilitation outcomes in patients with a history of migraine. Otol Neurotol. 2002;23: 483487. 33. Brown KE, Whitney SL, Marchetti GF, Wrisley DM, Furman JM. Physical therapy for central vestibular dysfunction. Arch Phys Med Rehabil. 2006;87:7681. 34. Whitney SL, Wrisley DM, Marchetti GF, Furman JM. The effect of age on vestibular rehabilitation outcomes. Laryngoscope. 2002;112:1785 1790.
2010 Neurology Section, APTA

Page 12

35. Meretta BM, Whitney SL, Marchetti GF, Sparto PJ, Muirhead RJ. The five times sit to stand test: responsiveness to change and concurrent validity in adults undergoing vestibular rehabilitation. J Vestib Res. 2006;16:233243. 36. Meli A, Zimatore G, Badaracco C, De Angelis E, Tufarelli D. Vestibular rehabilitation and 6-month follow-up using objective and subjective measures. Acta Oto Laryngologica. 2006;126:259 266. 37. Perera S, Mody SH, Woodman RC, Studenski SA. Meaningful change and responsiveness in common physical performance measures in older adults. J Am Geriatr Soc. 2006;54:743749. 38. Broglio SP, Ferrara MS, Sopiarz K, Kelly MS. Reliable change of the sensory organization test. Clin J Sport Med. 2008;18:148 154. 39. Horak FB, Jones-Rycewicz C, Black FO, Shumway-Cook A. Effects of vestibular rehabilitation on dizziness and imbalance. Otolaryngology Head Neck Surg. 1992;106:175180. 40. Gill-Body KM, Beninato M, Krebs DE. Relationship among balance impairments, functional performance, and disability in people with peripheral vestibular hypofunction. Phys Ther. 2000;80:748 758. 41. Peterson ML, Christou E, Rosengren KS. Children achieve adult-like sensory integration during stance at 12-years-old. Gait Posture. 2006; 23:455 463. 42. Guskiewicz KM. Assessment of postural stability following sport-related concussion. Curr Sports Med Rep. 2003;2:24 30. 43. Guskiewicz KM, Bruce SL, Cantu RC, et al. Recommendations on management of sport-related concussion: summary of the National Athletic Trainers Association position statement. Neurosurgery. 2004; 55:891 895. 44. Guskiewicz KM, Bruce SL, Cantu RC, et al. National Athletic Trainers Association position statement: management of sport-related concussion. J Athl Train. Sep 2004;39:280 297. 45. Oliaro S, Anderson S, Hooker D. Management of cerebral concussion in sports: the athletic trainers perspective. J Athl Train. 2001;36:257262. 46. Covassin T, Elbin R III, Stiller-Ostrowski JL. Current sport-related concussion teaching and clinical practices of sports medicine professionals. J Athl Train. 2009;44:400404. 47. Alla S, Sullivan SJ, Hale L, McCrory P. Self-report scales/checklists for the measurement of concussion symptoms: a systematic review. Br J Sports Med. 2009;43(suppl 1):i3i12.

2010 Neurology Section, APTA

Page 13

48. McCrory P, Meeuwisse W, Johnston K, et al. Consensus statement on concussion in sport: the 3rd International Conference on Concussion in Sport held in Zurich, November 2008. Clin J Sport Med. 2009;19:185200.

2010 Neurology Section, APTA

Page 14