Anda di halaman 1dari 28

Gel dan Absorbsi Obat Melalui Kulit a.

Definisi Gel Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar dan saling diresapi cairan (Anselb, 1989). Idealnya pemilihan gelling agent dalam sediaan farmasi dan kosmetik harus inert, aman, tidak bereaksi dengan komponen lain. Penambahan gelling agent dalam formula perlu dipertimbangkan yaitu tahan selama penyimpanan dan tekanan tube selama pemakaian topikal. Beberapa gel, terutama polisakarida alami peka terhadap penurunan derajat mikrobial. Penambahan bahan pengawet perlu untuk mencegah kontaminasi dan hilangnya karakter gel dalam kaitannya dengan mikrobial (Lieberman, dkk., 1996). b. Dasar Gel Berdasarkan komposisinya, dasar gel dapat dibedakan menjadi dasar gel hidrofobik dan dasar gel hidrofilik (Ansel, 1989). 11 1) Dasar gel hidrofobik Dasar gel hidrofobik terdiri dari partikel-partikel anorganik. Apabila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, bilamana ada, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus (Ansel, 1989). Dasar gel hidrofobik antara lain petrolatum, mineral oil/gel polyethilen, plastibase, alumunium stearat, carbowax (Allen, 2002). 2) Dasar gel hidrofilik Dasar gel hidrofilik umumnya adalah molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Istilah hidrofilik berarti suka pada pelarut. Pada umumnya karena daya tarik menarik pada pelarut dari bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik menarik dari bahan hidrofobik, sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansela, 1989). Gel hidrofilik umunya mengandung komponen bahan pembengkak, air, penahan lembab dan bahan pengawet (Voigt, 1995). Gel dapat membengkak, absorbsi cairan dalam suatu peningkatan dalam volume. Ini dapat dilihat sebagai tahap awal dissolusi. Solvent berpenetrasi ke dalam matrik gel dengan demikian interaksi gel digantikan oleh interaksi gel dengan bahan pelarut (Lieberman, dkk., 1996). Penahan lembab yang ditambahkan, yang juga berfungsi sebagai pembuat lunak harus memenuhi berbagai hal. Pertama, harus mampu meningkatkan 12 kelembutan dan daya sebar sediaan, kedua melindungi dari kemungkinan menjadi kering. Sebagai penahan lembab dapat digunakan gliserol, sorbitol, etilen glikol dan propilen glikol dalam konsentrasi 10-20% (Voigt, 1995). Disebabkan oleh tingginya kandungan air, sediaan ini dapat mengalami kontaminasi mikrobial, yang secara efektif dapat dihindari dengan penambahan bahan pengawet. Untuk upaya stabilisasi dari segi mikrobial disamping penggunaan bahan-bahan pengawet seperti dalam balsam, khususnya untuk basis ini sangat cocok pemakaian metil dan propil paraben yang umumnya disatukan dalam bentuk larutan pengawet. Upaya lain yang diperlukan adalah perlindungan terhadap penguapan, untuk menghindari mengeringnya. Oleh karena itu untuk menyimpannya lebih baik menggunakan tube. Pengisian ke dalam botol, meskipun telah tertutup baik tetap tidak menjamin perlindungan yang memuaskan

(Voigt, 1995). Keuntungan gel hidrofilik antara lain: daya sebarnya pada kulit baik, efek dingin yang ditimbulkan akibat lambatnya penguapan air pada kulit, tidak menghambat fungsi fisiologis kulit khususnya respiratio sensibilis oleh karena tidak melapisi permukaan kulit secara kedap dan tidak menyumbat pori-pori kulit, mudah dicuci dengan air dan memungkinkan pemakaian pada bagian tubuh yang berambut dan pelepasan obatnya baik (Voigt, 1995). Dasar gel hidrofilik antara lain bentonit, veegum, silika, pektin, tragakan, metil selulosa, karbomer (Allen, 2002). 13 c. Absorbsi Obat Melalui Kulit Prinsip absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul (Anief, 1997). Persamaan kecepatan difusi menurut hukum Fick 1 (Martin, 1993): dc = D x A x K (C1-C2).........................................................................................(1) dt V x h dC = kecepatan difusi obat persatuan waktu dt D = koefisien difusi (cm2/ dt) A = luas permukaan membran (cm2) K = koefisien partisi V = viskositas zat h = ketebalan membran (cm) C1 = konsentrasi obat dalam sediaan (g/ cm3) C2 = konsentrasi obat yang dilepaskan (g/ cm3) Menurut Martin (1993), difusi obat dipengaruhi oleh beberapa faktor: 1). Konsentrasi obat: semakin besar konsentrasi zat aktif, difusi obat akan semakin baik. 2). Koefisien partisi: perbandingan konsentrasi dalam 2 fase. Semakin besar koefisien partisi dan semakin cepat difusi obat. 3). Koefisien difusi: semakin luas membran, koefisien difusi semakin besar, difusi obat semakin meningkat. 4). Viskositas: semakin besar viskositas suatu zat, koefisien difusi semakin besar, dan difusi akan semakin lambat. 5). Ketebalan membran: semakin tebal membran, difusi akan semakin lambat. Absorbsi per kutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi obat melalui stratum korneum. Stratum korneum terdiri dari kurang lebih 40 % protein (pada umumnya keratin) dan 40 % air dengan lemak berupa pertimbangan 14 terutama sebagai trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak. Stratum korneum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif, jadi jumlah obat yang pindah menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat atau airnya. Bahan-bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya, minyak dan air, merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum seperti juga melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit (Ansel, 1989). 4.Luka Bakar a. Batasan Luka bakar adalah suatu atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti air, api panas, bahan kimia, listrik dan radiasi

(Moenadjat, 2003). Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada epidermis, dermis maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan lamanya kulit kontak dengan sumber panas/ penyebabnya. Dalamnya luka bakar akan mempengaruhi kerusakan atau gangguan integritas kulit dan kematian sel-sel (Effendi, 1999). Berbagai faktor dapat menjadi penyebab luka bakar. Beratnya luka bakar juga dipengaruhi oleh cara dan lamanya kontak dengan sumber panas, listrik, zat kimia, radiasi, kondisi ruangan saat terjadi kebakaran, ruangan yang tertutup. Faktor yang menjadi penyebab beratnya luka bakar antara lain keluasan luka bakar, kedalaman luka bakar, umur pasien, agen penyebab, luka-luka lain yang 15 menyertai, penyakit terdahulu (diabetes, jantung, ginjal dan lain-lain), obesitas serta adanya trauma inhalasi (Effendi, 1999). b. Derajat Luka Bakar Kerusakan yang diakibatkan oleh karena tubuh terbakar, bervariasi mulai dari yang ringan, yaitu rasa nyeri dan kulit berwarna merah, sampai tubuh korban terbakar hangus. Berdasarkan kelainan yang bervariasi tersebut, dikenal pembagian luka bakar berdasarkan berat ringannya kerusakan yaitu: luka bakar derajat pertama, luka bakar derajat kedua, dan luka bakar derajat ketiga (Idries, 1997). 1) Luka bakar derajat pertama Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di dalam proses penyembuhannya tidak meninggalkan jaringan parut. Luka bakar derajat pertama tampak sebagai suatu daerah yang berwarna kemerahan, terdapat gelembunggelembung yang ditutupi oleh daerah putih, epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah dan dibatasi oleh kulit yang berwarna merah serta hyperemis (Idries, 1997). Luka bakar derajat pertama ini hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7 hari, misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri atau hipersensitifitas setempat. Luka derajat pertama akan sembuh tanpa bekas (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). 16 2) Luka bakar derajat kedua Luka bakar derajat kedua adalah luka bakar yang pada proses penyembuhan akan selalu membentuk jaringan parut, oleh karena pada luka bakar derajat kedua ini seluruh kulit mengalami kerusakan, dan tergantung dari lokasi kerusakannya kontraktur dapat terjadi (Idries, 1997). Luka bakar derajat kedua dibedakan menjadi dua jenis yaitu, luka bakar derajat dua dangkal (superfisial) dan luka bakar derajat dua dalam (deep), pada luka bakar derajat dua dangkal kerusakan mengenai bagian superfisial dan dermis, apendises kulit seperti folikel rambut masih utuh. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari. Sedangkan pada luka bakar derajat dua dalam (deep) kerusakan hampir mengenai seluruh bagian dermis, apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea sebagian kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu satu bulan (Moenadjat, 2003). 3) Luka bakar derajat ketiga Pada luka bakar derajat ketiga tubuh akan mengalami destruksi yang hebat, tidak hanya terbatas pada kulit dan subkutis, akan tetapi sampai lapisan yang lebih dalam, jaringan otot atau tulang. Kerusakan pada ujung-ujung syaraf pada luka bakar derajat ketiga akan menyebabkan kurangnya rasa sakit. Terjadinya devitalisasi jaringan akan memudahkan terjadinya infeksi dan

lambatnya penyembuhan (Idries, 1997). Bahaya lain yang dapat timbul adalah shock, yang biasanya terjadi lambat yaitu setelah 1 atau 3 hari (Idries, 1997). 17 c. Patofisiologi Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas tersebut mungkin dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik. Luka bakar dikategorikan sebagai luka bakar termal, radiasi atau luka bakar kimiawi (Effendi, 1999). Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpejan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). Luka bakar mengakibatkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga air, natrium, klorida dan protein tubuh akan keluar dari dalam sel dan menyebabkan terjadinya edema yang dapat berlanjut pada keadaan hipofalaemi dan hemokonsentrasi (Effendi, 1999). d. Penyembuhan Luka Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). Proses yang kemudian pada jaringan rusak ini adalah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam 3 fase: 1) Fase inflamasi Fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka bakar. Dalam fase ini terjadi perubahan vaskuler dan proliferasi seluler. Daerah 18 luka mengalami agregasi trombosit dan mengeluarkan serotonin. Mulai timbul epitelisasi (Effendi, 1999). 2) Fase fibroblastik Fase yang dimulai pada hari ke 4-20 pasca luka bakar. Pada fase ini timbul timbul sebukan fibroblast yang membentuk kolagen yang tampak secara klinis sebagai jaringan granulasi yang berwarna kemerahan (Effendi, 1999). 3) Fase maturasi Terjadi proses pematangan kolagen. Pada fase ini terjadi pula penurunan aktivitas seluler dan vaskuler, berlangsung hingga 8 bulan sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada tanda-tanda radang. Bentuk akhir dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis, lemas tanpa rasa nyeri atau gatal (Effendi, 1999). e. Gangguan Penyembuhan Luka Penyembuhan luka dapat terganggu oleh penyebab dari tubuh sendiri (endogen) dan oleh penyebab dari luar tubuh (eksogen) (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). Penyebab endogen terpenting adalah gangguan koagulasi yang disebut koagulopati dan gangguan sistem imun. Semua gangguan pembekuan darah akan menghambat penyembuhan luka sebab homeostatis merupakan titik tolak dan dasar fase inflamasi. Gangguan sistem imun akan menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan dan kontaminasi (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). 19 Penyebab eksogen meliputi penyinaran sinar ionisasi yang akan

mengganggu mitosis dan merusak sel dengan akibat dini maupun lanjut. Pemberian sitostatik, obat penekan imun, misalnya setelah transplantasi organ, dan kortikosteroid juga akan mempengaruhi penyembuhan luka. Pengaruh setempat seperti infeksi, hematom, benda asing, serta jaringan mati seperti sekuester dan nekrosis sangat menghambat penyembuhan luka (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). f. Terapi Prinsip penanganan utama luka bakar ringan adalah mendinginkan luka yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa epitel untuk berproliferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka (Syamsuhidayat dan Jong, 1997). Mengingat sifat kulit sebagai penyimpan panas yang terbaik (heat restore) maka pada pasien yang mengalami luka bakar, tubuh masih menyimpan energi panas sampai beberapa menit setelah terjadinya trauma panas. Oleh karena itu, tindakan pendinginan luka perlu dilakukan untuk mencegah pasien berada pada zona luka bakar lebih dalam. Tindakan ini juga dapat mengurangi perluasan kerusakan fisik sel, mencegah dehidrasi dan membersihkan luka sekaligus mengurangi nyeri (Effendi, 1999). Infeksi secara klinis dapat didefinisikan sebagai pertumbuhan organisme pada luka yang berhubungan dengan reaksi jaringan dan tergantung pada banyaknya mikroorganisme patogen dan meningkatnya dengan virulensi dan resistensi dari pasien. Untuk mencegah terjadinya infeksi luka dan mempercepat 20 proses penyembuhan luka dilakukan tindakan debrimen. Debrimen merupakan suatu tindakan yang bertujuan untuk membersihkan luka dari jaringan nekrosis atau bahan lain yang menempel pada luka (Effendi, 1999). E. Landasan Teori Daun lidah buaya merupakan salah satu tanaman tradisional yang digunakan untuk menyembuhkan luka bakar dengan cara dioleskan bagian daun yang berlendir pada luka sampai lendir menutupi seluruh bagian luka (Hariana, 2007). Tanaman lidah buaya daun dan akarnya mengandung saponin dan flavonoid, di samping itu daunnya mengandung tanin dan polifenol (Hutapea, 2000). Saponin memacu pembentukan kolagen, yaitu protein struktur yang berperan dalam proses penyembuhan luka (Suratman, dkk., 1996). Tanin mempunyai daya antiseptik yaitu mencegah kerusakan yang disebabkan bakteri dan jamur (Claus dan Tyler, 1965). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemakaian oral lidah buaya dengan dosis 100 mg/ kgBB/ hari mampu menyembuhkan luka 62,5% sedangkan pada pemakaian topikal dengan konsentrasi 25% mampu menyembuhkan luka 50,8% pada hewan percobaan (Davis et al., 1989). Menurut Visuthikosol et al., (1995) pada penelitian 27 pasien yang mengalami luka bakar dirawat menggunakan gel lidah buaya menunjukkan penyembuhan yang lebih cepat bila dibandingkan penggunaan vaselin (p < 0,002). Waktu penyembuhan luka dengan gel lidah buaya adalah 11,89 hari dan 18,19 hari untuk penggunaan vaselin. 21 Menurut Rodriguez et al., (1988) ekstrak Aloe vera dapat menyembuhkan luka bakar selama 30 hari pada hewan percobaan. F. Hipotesis Gel ekstrak etanol daun lidah buaya yang dibuat dalam sediaan gel diduga mempunyai efek terhadap penyembuhan luka bakar. Kenaikan konsentrasi ekstrak etanol daun lidah buaya diduga dapat mempercepat penyembuhan luka bakar sampai konsentrasi tertentu akan mengalami penurunan yang disebabkan

kerapatan obat semakin besar sehingga pelepasan obat dari basisnya menjadi berkurang.

Pendahuluan
Kapsul merupakan sediaan solid dengan cangkang keras atau pun lunak dengan berbagai bentuk dan ukuran, biasanya mengandung obat dosis tunggal berupa serbuk maupun pelet untuk konsumsi oral. FI IV : kapsul didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Kapsul keras diproduksi secara masal pertama kali di Amerika Serikat pada abad ke19. Kapsul mudah diterima oleh para konsumen karena penampilannya yang

menarik dan bentuknya yang didesain sedimikian rupa sehingga mudah untuk ditelan. Pada prinsipnya kapsul dapat disi dengan berbagai macam bahan dari yang berbentuk serbuk sampai dengan cairan berbahan dasar minyak. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin, atau bahan lainnya yang sesuai. Berbeda dengan kapsul lunak,pembuatan kapsul keras khususnya yang berasal dari gelatin dapat dilakukan secara terpisah yakni pembuatan cangkang yang dilanjutkan dengan pengisisian serbuk obat atau minyak atsiri yang tidak mengganggu stabilitas cangkang gelatin. Kapsul gelatin pertama kali di patenkan oleh F.A.B .Mothes , mahasiswa dan Dublanc, seorang farmasis . Paten mereka diperoleh pada tahun 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian , berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi. Penggunaan kapsul gelatin ini menyebar bahkan diproduksi oleh banyak Negara di eropa dan amerika. Pembatasan penggunaan paten kapsul gelatin pada perusahaan tertentu saja, memicu dua bentuk kapsul baru. Pada tahun 1839 di Paris, Garot menciptakan produk salut lapis tipis, pil salut gelatin. Pada tahun 1846 famasis paris lainnya J.C. Lebhubby mematenkan kapsul 2 bagian yang sampai saat ini masih digunakan. Kapsul gelatin memiliki banyak keunggulan dibanding sediaan obat lainnya. Kapsul gelatin tidak berbau, tidak berasa dan mudah digunakan karena saat terbasahinya oleh air liur akan segera diikuti daya bengkak dan daya larut airnya. Pengisian ke dalam kapsul disarankan untuk obat yang memiliki rasa yang tidak enak atau bau yang tidak enak. Kapsul yang dimpan dalam lingkungan yang kering menunjukkan daya tahan dan kemantapan penyimpanan yang baik dan dengan teknologi modern, pembuatannya lebih mudah dan cepat serta ketepatan dosis lebih tinggi daripada tablet. Cara pengisian kapsul juga tidak perlu memperhitungkan adanya perubahan sifat material asalnya dan pelepasan zat aktifnya. Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum dan digunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki silinder tertutup satu muka atau mangkuk kecil (garis tengah 15-25 mm dan tinggi 10 mm). Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini tidak ada.

Gelatin
Di Indonesia, gelatin masih merupakan barang impor, negera pengimpor utama adalah Eropa dan Amerika. Menurut data BPS 1997, secara umum terjadi pemanfaatan dalam industri pangan dan farmasi. Dalam industri farmasi, gelatin digunakan sebagai bahan pembuat kapsul. Dalam industri pangan, gelatin pun sekarang marak digunakan. Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin merupakan protien yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari sapi (tulang

dan kulit jangat), babi (hanya (kulit) dan ikan (kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai bahan bangan bukan bahan tambahan pangan. Pada prinsipnya gelatin dapat dibuat dari bahan yang kaya akan kolagen seperti kulit dan tulang baik dari babi maupun sapi atau hewan lainnya. Akan tetapi, apabila dibuat dari kulit dan tulang sapi atau hewan besar lainnya, prosesnya lebih lama dan memerlukan air pencuci/penetral (bahan kimia) yang lebih banyak, sehingga kurang berkembang karena perlu investasi besar sehingga harga gelatinnya menjadi lebih mahal. Sedangkan gelatin dari babi jauh lebih murah dibanding bahan tambahan makanan lainnya. Itu karena babi mudah diternak. Babi dapat makan apa saja termasuk anaknya sendiri. Babi juga bisa hidup dalam kondisi apa saja sekalipun sangat kotor. Dari segi pertumbuhan, babi cukup menjanjikan. Seekor babi bisa melahirkan dua puluh anak sekaligus. Karena sangat mudah dikembangkan, produk turunan dari babi sangat banyak.

Sumber Gelatin
Sumber kolagen umumnya adalah tulang hewan, kulit babi, dan kulit jangat sapi. Gelatin yang bersumber dari kulit sapi biasanya dikategorikan sebagai gelatin kategori B (proses ekstraksi basa) dengan titik isoelektrik pada pH 4,7 (asam). Sedangkan, gelatin yang bersumber dari kulit babi dikategorikan sebagai gelatin kategori A dengan titik isoelektrik pH 9 (basa).

Pembuatan Gelatin
Proses pembuatan gelatin secara umum dapat digolongkan menjadi 3 tahap utama, yaitu: Tahap persiapan, yang bertujuan menghilangkan pengotor yang terdapat di bahan baku. Tahap ekstraksi utama, dilakukan dengan bantuan air panas atau larutan asam yang diencerkan. Tahap pemurnian.

Jenis-Jenis Gelatin
1. Gelatin Tipe A Berdasarkan proses perendaman asam Umumnya berasal dari kulit babi yang memiliki titik isoelektrik (titik pengendapan protein) pada PH yang lebih tinggi (7.5 - 9.0) Kulit dari babi muda tidak memerlukan penanganan alkalis yang intensif karena jaringan ikatnya belum kuat terikat. Untuk itu disini cukup direndam dalam asam

lemah (encer) (HCl) selama sehari, dinetralkan, dan setelah itu dicuci berulang kali sampai asam dan garamnya hilang. 2. Gelatin Tipe B Gelatin tipe B biasanya bersumber dari kulit jangat sapi dan tulang sapi. PH isoelektrik gelatin tipe b adalah 4.8 - 5.0 Cara alkali dilakukan untuk menghasilkan gelatin tipe B (Base), Mula-mula bahan diperlakukan dengan proses pendahuluan yaitu direndam beberapa minggu/bulan dalam kalsium hidroksida, maka dengan ini ikatan jaringan kolagen akan mengembang dan terpisah/terurai. Setelah itu bahan dinetralkan dengan asam sampai bebas alkali, dicuci untuk menghilangkan garam yang terbentuk. Setelah itu dilakukan proses ekstrasi dan proses lainnya. Proses pembuatan gelatin yang berasal dari tulang dapat dilakukan juga dengan menggunakan cara asam yang lebih sederhana yang akhirnya juga menggeser PH isoelektrik pada sekitar 5.5 - 6.0.

Proses Lanjutan
Setelah mengalami perendaman bahan dinetralkan untuk kemudian diekstraksi dan dipekatkan (evaporasi). Bahan yang telah mengalami pemekatan dikeringkan untuk kemudian mengalami proses penggilingan tau penghancuran menjadi partikel yang lebih kecil atau sesuai dengan standar tertentu. Secara ekonomis, proses asam lebih disukai dibandingkan dengan proses basa. Hal ini karena peresndaman yang dilakukan dalam proses asa relatif lebih singkat yaitu (3-4 minggu) dibanding dengan proses basa (sekitar 3 bulan). Penggunaan gelatin dalam pembuatan kapsul biasanya merupakan campuran gelatin dari tulang dan kulit babi. Kombinasi ini digunakan karena gelatin tulang menghasilkan lapisan tipis yang kuat dan kencang. Sedangkan, gelatin dari kulit babi memberikan kelenturan dan kejernihan pada campuran, sehingga mengurangi kekeruhan pada kapsul jadi.

Proses Pembuatan Cangkang Kapsul


Pembuatan larutan gelatin 25-30%, bahan dasar capule berupa gelatine dilarutkan di dalam air panas yang telah di demineralisasi. Bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna dicampurkan kedalam larutan gelatin sehingga membentuk campuran yang homogen Bahan dasar ini dimasukkan kedalam mesin pembuatan kapsul untuk dicetak menjadi cangkang kapsul yang siap untuk digunakan. Cangkang kapsul yang sudah jadi akan diperiksa sesuai dengan standar cGMP. Selain pemeriksaan itu dimensi kapsul seperti ketebalan, diameter, dan tinggi kapsul akan diperiksa untuk memastikan cangkang kapsul siap digunakan pada proses pengisian kapsul.

Standar Ukuran Kapsul

Alternatif Pengganti Gelatin


Gelatin disebut miracle food. Hal ini disebabkan karena gelatin memiliki fungsi yang masih sulit digantikan dalam industri pangan maupun obat-obatan. Salah satu keunggulan yang paling terkenal adalah bisa memiliki sifat melting in the mouth. Ini sifat yang paling disukai oleh hampir semua pengusaha industri pangan. Namun demikian, tidak berarti gelatin sama sekali tidak bisa digantikan dalam industri pangan maupun farmasi. Penggunaan hidrokoloid yang bersumber dari tanaman sudah banyak dikembangkan dalam rangka menggantikan peran gelatin. Sungguhpun sejauh ini hasilnya tidak sesempurna gelatin, tapi sudah cukup memadai. Misalnya ada sebuah perusahaan permen chewy yang dulunya menggunakan gelatin, sekarang telah mendapat sertifikat Halal MUI setelah menggantikan gelatin dengan beberapa sumber hidrokoloid. Jadi, walaupun hasil akhirnya tidak mirip, peran gelatin dapat digantikan dengan mengkombinasikan beberapa sumber hidrokoloid. Dan penggunaannya bersifat aman dalam konteks kehalalan karena bersumber dari tanaman. Selain itu alternatif lain yang saat ini masih terus dikembangkan adalah gelatin yang bersumber dari ikan. Sejarah mencatat penemuan kapsul pertama kali dimulai di Mesir. Namun, proses pembuatan kapsul dipatenkan oleh dua orang berkewarganegaraan Prancir yaitu Mothes dan Dublanc. Kapsul merupakan sediaan solid dengan cangkang keras atau pun lunak dengan berbagai bentuk dan ukuran, biasanya mengandung obat dosis tunggal berupa serbuk maupun pelet untuk konsumsi oral. Cangkang kapsul pada umumnya terbuat dari bahan pembentuk gel berupa gelatin. Gelatin merupakan produk heterogen yang didapat dari ekstraksi hidrolisis dari kolagen hewan. Sumber kolagen umumnya adalah tulang hewan, kulit babi, dan kulit jangat sapi. Gelatin yang bersumber dari kulit sapi biasanya dikategorikan sebagai gelatin kategori B (proses ekstraksi basa) dengan titik isoelektrik pada pH 4,7 (asam). Sedangkan, gelatin yang bersumber dari kulit babi dikategorikan sebagai gelatin kategori A dengan titik isoelektrik pH 9 (basa).

Dalam perkembangannya, proses pembuatan gelatin yang bersumber dari tulang dapat disederhanakan menjadi proses ekstraksi dengan cara merubah titik isoelektriknya menjadi pada sekitar pH 5,5-6,0. Penggunaan gelatin dalam pembuatan kapsul biasanya merupakan campuran gelatin dari tulang dan kulit babi. Kombinasi ini digunakan karena gelatin tulang menghasilkan lapisan tipis yang kuat dan kencang. Sedangkan, gelatin dari kulit babi memberikan kelenturan dan kejernihan pada campuran, sehingga mengurangi kekeruhan pada kapsul jadi.
http://megalotus.multiply.com/journal/item/133?&show_interstitial=1&u=/journal/item

Kapsul menjadi salah satu sediaan farmasi yang diproduksi oleh industri maupun apotek. Berdasarkan FI IV kapsul didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin, atau bahan lainnya yang sesuai. Berbeda dengan kapsul lunak,pembuatan kapsul keras khususnya yang berasal dari gelatin dapat dilakukan secara terpisah yakni pembuatan cangkang yang dilanjutkan dengan pengisisian serbuk obat atau minyak atsiri yang tidak mengganggu stabilitas cangkang gelatin. Kapsul telah digunakan sejak abad 19. Salah satu masalah farmasis yang muncul pada abad 19 adalah rasa dan bau yang tidak enak dari obat herbal, sediaan dan pelayanan yang kurang baik bagi pasien. Banyak sediaan baru diciptakan agar obat lebih enak dikonsumsi. Sediaan yang paling diminati adalah kapsul gelatin. Kapsul gelatin pertama kali di patenkan oleh F.A.B .Mothes , mahasiswa dan Dublanc, seorang farmasis . Paten mereka diperoleh pada tahun 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian , berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi. Penggunaan kapsul gelatin ini menyebar bahkan diproduksi oleh banyak Negara di eropa dan amerika. Pembatasan penggunaan paten kapsul gelatin pada perusahaan tertentu saja, memicu dua bentuk kapsul baru. Pada tahun 1839 di Paris, Garot menciptakan produk salut lapis tipis, pil salut gelatin. Pada tahun 1846 famasis paris lainnya J.C. Lebhubby mematenkan kapsul 2 bagian yang sampai saat ini masih digunakan. Kapsul keras yang terdiri dari satu bagian digunakan dari tahun 1830 hingga 1870. perubahan yang signifikan dipelopori oleh A. Taetz pada tahun1874 yang menyarankan inklusi gliserin saat formulasi agar kapsul lebih lunak dan dapat ditelan. Industri manufaktur yang memproduksi kapsul gelatin keras dua bagian, pertama kali didirikan oleh seorang farmasis Amerika di Detroit pada tahun 1874. he made accurate low cost molds from gauged iron rods. Duamanufaktur lainnya yang menyusul di antaranya adalah Eli Lilly pada tahun 1897dan Parke Davis pada tahun 1901. Hingga tahun 1950 manufaktur yang memproduksi kapsul keras gelatin dibatasi di USA. Dua perusahaan ini bertanggung jawab dalam penyebaran industri dan penggunaan kapsul gelatin keras di seluruh dunia. Kapsul gelatin memiliki banyak keunggulan dibanding sediaan obat lainnya. Kapsul gelatin tidak berbau, tidak berasa dan mudah digunakan karena saat terbasahinya oleh air liur akan segera diikuti daya bengkak dan daya larut airnya. Pengisian ke dalam kapsul disarankan untuk obat yang memiliki rasa yang tidak enak atau bau yang tidak enak. Kapsul

yang dimpan dalam lingkungan yang kering menunjukkan dayha tahan dan kemantapan penyimpanan yang baik dan dengan teknologi modern, pembuatannya lebih mudah dan cepat serta ketepatan dosis lebih tinggi daripada tablet. Cara pengisian kapsul juga tidak perlu memperhitungkan adanya perubahan sifat material asalnya dan pelepasan zat aktifnya. Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum dan digunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki silinder tertutup satu muka atau mangkuk kecil (garis tengah 15-25 mm dan tinggi 10 mm). Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini tidak ada.

Sejarah Cangkang Kapsul


Sejarah Cangkang Kapsul, Kapsul keras diproduksi secara masal pertama kali di Amerika Serikat pada abad ke19. Kapsul mudah diterima oleh para konsumen karena penampilannya yang menarik dan bentuknya yang didesain sedimikian rupa sehingga mudah untuk ditelan. Pada prinsipnya kapsul dapat disi dengan berbagai macam bahan dari yang berbentuk serbuk sampai dengan cairan berbahan dasar minyak. Cangkang kapsul pada umumnya terbuat dari bahan gelatin. Gelatin dipilih sebagai bahan pembuatan cangkang kapsul karena sifatnya yang stabil ketika berada di luar tubuh namun dapat mudah larut di dalam tubuh. Gelatin merupakan hasil olahan dari kolagen, sejenis protein, yang umum terdapat dalam tulang, kulit, atau jaringan pengikat binatang. Pada umumnya gelatin dibuat dari tulang sapi atau dari kulit babi. Gelatin type A biasa terbuat dari kulit babi sedangkan gelatin type B biasa terbuat dari tulang sapi. Proses pembuatan cangkang kapsul dimulai dari pembuatan larutan gelatin 25-30%. Bahan dasar capule berupa gelatine dilarutkan di dalam air panas yang telah di demineralisasi. Bahan tambahan seperti pengawet dan pewarna dicampurkan kedalam larutan gelatin sehingga membentuk campuran yang homogen. Bahan dasar ini dimasukkan kedalam mesin pembuatan kapsul untuk dicetak menjadi cangkang kapsul yang siap untuk digunakan. Seperti bahan-bahan dasar obat yang lainnya proses pembuatan cangkang kapsul ini harus memenuhi standar cGMP (cara pembuatan obat yang baik). Cangkang kapsul yang sudah jadi akan diperiksa sesuai dengan standar cGMP. Selain pemeriksaan itu dimensi kapsul seperti ketebalan, diameter, dan tinggi kapsul akan diperiksa untuk memastikan cangkang kapsul siap digunakan pada proses pengisian kapsul.

Cangkang kapsul mempunyai standar dimensi fisik tertentu yang dipakai sebagai acuan pada saat proses filling kapsul. Standar ukuran kapsul dapat dilihat pada tabel berikut:

Sumber: Capsule, Hard by Brian E Jones Encyclopedia of Pharmaceutical Technology (Visited 25 times, 3 visits today)

Pdf__http://www.ff.unair.ac.id/emodule/farmasipraktis/transp.%20kapsul.pdf

SEJARAH DAN KHASIAT ^^PUJIMIN KAPSUL ALBUMIN^^


Menurut Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti Albumin merupakan salah satu nilai tambah ikan gabus. Bagi sebagian orang, ikan gabus tak masuk hitungan lauk favorit. Untuk nelayan pun ikan gabus dianggap kurang bernilai ekonomis. Namun, di tangan Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti, ikan ini memiliki nilai tambah.

Ikan yang tidak disukai karena baunya yang amis ini, beliausulap menjadi suplemen makanan yang berfungsi untuk"mempertahankan tekanan osmotik koloid kapiler, meningkatkan kekebalan tubuh secara alamiah, menaikkan kadar albumin, dan membantu mempercepat proses penyembuhan." Ikan gabus diracik sedemikian rupa, dibuat serbuk, kemudian dimasukkan dalam kapsul. Bau amis ikan yang tidak disukai itu pun hilang, tidak terasa lagi amisnya.
Hampir semua pasien berkadar albumin rendah yang diberi suplemen dari ikan gabus ini, kadar albuminnya naik lebih cepat dibandingkan pemberian albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit lain seperti TB,diabetes, patah tulang, stroke, hingga HIV/AIDS, kondisinya bisa lebih baik dengan pemberian kapsul ikan gabus. Pada anak dengan gizi buruk dan berat badan kurang, pemberian biskuit dari bubuk ikan gabus, membuat berat badan mereka naik minimal 1 kilogram per bulan. Maka, bersama kader posyandu, petugas puskesmas, dan rumah sakit yang merawat anak bergizi buruk,Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti pun memberikan biskuit ikan gabus secara rutin. Begitu pun pada Ibu hamil yang kurang gizi juga diberi kapsul ikan gabus untuk asupan protein dan zat besi yang diperlukan selama masa kehamilan agar bayi yang dilahirkan lebih sehat. a. Fungsi Albumin

Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti memandang albumin dalam tubuh sebagai indikasi mortalitas, morbiditas, dan metabolisme tubuh. Albumin juga berfungsi mempertahankan regulasi cairan dalam tubuh. Bila kadarnya rendah, protein yang masuk ke dalam tubuh akan pecah, dan tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, penyerapan obat-obatan yang seharusnya berfungsi menyembuhkan, tidak akan maksimal. Oleh karena itu, pasien berkadar albumin rendah diberi infus untuk menaikkan kadar albuminnya. Namun, infus itu biayanya mahal, Rp 1,4 juta setiap pemberian. Ini pun minimal harus diberikan tiga kali. Untuk pasien tidak mampu, hal ini cukup memberatkan. Bahkan, pasien pengguna Askes pun menanggung sendiri biaya pemberian infus baru bila kadar albumin 2,2 Kadar albumin normal 3,5-4,5, ujar beliau. Kondisi tersebut membuat beliau berusaha mencari bahan lain untuk menaikkan kadar albumin dengan harga terjangkau. Ahli gizi yang melakukan banyak penelitian ini pun sampai

pada ikan gabus yang mengandung kadar albumin tinggi. Ikan gabus dipilihnya karena relatif mudah didapat dan harganya murah. Dalam percobaan pertama, Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti memberi masakan ikan gabus kepada pasien di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan. Ikan gabus dalam bentuk makanan ini berhasil menaikkan kadar albumin. Namun, jumlah petugas dapur di rumah sakit kurang. Kalaupun ada, mereka kewalahan meracik ikan gabus, apalagi dengan komposisi yang dianjurkan. Akhirnya Saya mencoba membuat cairan, lalu dimasukkan melalui selang makanan. Ini pun berhasil, namun banyak pasien yang menolak baunya, ujar beliau. b. Ekstrak Dalam Kapsul

Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti kemudian mencari cara agar pemberian ikan gabus bisa lebih mudah. Bersama beberapa rekannya, beliau melakukan percobaan hingga menemukan cara yaitu membuat ekstrak ikan gabus dan memasukkannya dalam kapsul. Cara ini berhasil karena pemberiannya lebih mudah dan pasien tidak lagi menolak baunya. Prof. DR. dr. Nurpudji Astuti lalu mendaftarkan permohonan paten kapsul ikan gabus dengan nomorP00200600144, berjudul Produk Konsentrat Protein Ikan Gabus. Permohonan paten ini diumumkan pada 8 Maret 2008lalu oleh Departemen Kehakiman dengan nomor publikasi047.137.A. Beliau sebenarnya telah meneliti ikan gabus ini sejak tahun 1994. Pada 2003 beliau mulai memberikan cairan ikan gabus melalui selang makanan pada pasien di Rumah Sakit Wahidin. Tahun 2004-2005, tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini membuat ikan gabus dalam bentuk kapsul. Untuk lebih meyakinkan, membuktikan, dan menguji kehandalan suplemen makanan yang dibuatnya itu supaya dapat diterima di manapun, Prof. DR. dr. Nurpudji Astutimengirimkan kapsul tersebut kepada rekan-rekan dokter di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, danJakarta. Saya meminta mereka untuk memberikan kapsul ini kepada pasien dengan beragam penyakit seperti luka patah tulang, stroke, gula, TB, atau gizi buruk. Hasilnya, pemberian suplemen makanan ini membuat pasien sembuh lebih cepat dan kondisinya menjadi lebih baik, ujar beliau. Sebagai dokter spesialis gizi, beliau resah atas maraknya kasus gizi buruk. Menurutnya, banyak pasien gizi buruk yang membaik setelah diberi biskuit ikan gabus. Sesuatu yang sebenarnya mudah didapat dan murah harganya. Kini, tinggal kemauan dan keseriusan pemerintah daerah untuk berjaringan dengan berbagai instansi, termasuk perguruan tinggi. Saya siap membantu, ujar beliau. Apalagi ujarnya, penggunaan ikan gabus untuk produksi makanan tambahan juga dapat memberi nilai tambah ekonomis bagi petambak. Ini akan lebih terasa bila produksi semakin meningkat. Beliau memang membuat kapsul itu dalam skala laboratorium karena penggunaannya pun masih terbatas.

Gambar. Perbandingan Kandungan Protein dari Beberapa Jenis Ikan

2009-03-02 Sejarah Kapsul Kapsul menjadi salah satu sediaan farmasi yang diproduksi oleh industri maupunapotek. Berdasarkan FI IV kapsul didefinisikan sebagai sediaan padat yang terdiri dari obatdalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang dapat dibuat dari pati, gelatin,a t a u b a h a n l a i n n ya y a n g s e s u a i . B e r b e d a d e n g a n k a p s u l l u n a k , p e m b u a t a n k a p s u l k e r a s k h u s u s n ya y a n g b e r a s a l d a r i g e l a t i n d a p a t d i l a k u k a n s e c a r a t e r p i s a h ya k n i p e m b u a t a n cangkang yang dilanjutkan dengan pengisisian serbuk obat atau minyak atsiri yang tidak mengganggu stabilitas cangkang gelatin.Kapsul telah digunakan sejak abad 19. Salah satu masalah farmasis yang muncul padaabad 19 adalah rasa dan bau yang tidak enak dari obat herbal, sediaan dan pelayanan yangkurang baik bagi pasien. Banyak sediaan baru diciptakan agar obat lebih enak dikonsumsi.Sediaan yang paling diminati adalah kapsul gelatin. Kapsul gelatin pertama kali di patenkanoleh F.A.B .Mothes , mahasiswa dan Dublanc, seorang farmasis . Paten mereka diperoleh pada tahun 1834, meliputi metode untuk memproduksi kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian , berbentuk lonjong, ditutup dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi.Penggunaan kapsul gelatin ini menyebar bahkan diproduksi oleh banyak Negara di eropa danamerika. Pembatasan penggunaan paten kapsul gelatin pada perusahaan tertentu saja, memicudua bentuk kapsul baru. Pada tahun 1839 di Paris, Garot menciptakan produk salut lapis tipis, pil salut gelatin. Pada tahun 1846 famasis paris lainnya J.C. Lebhubby mematenkan kapsul 2 bagian yang sampai saat ini masih digunakan.Kapsul keras yang terdiri dari satu bagian digunakan dari tahun 1830 hingga 1870. perubahan yang signifikan dipelopori oleh A. Taetz pada tahun1874 yang menyarankaninklusi gliserin saat formulasi agar kapsul lebih lunak dan dapat ditelan. Industri manufaktur yang memproduksi kapsul gelatin keras dua bagian, pertama kali didirikan oleh seorangfarmasis Amerika di Detroit pada tahun 1874. he made accurate low cost molds from gaugediron rods. Duamanufaktur lainnya yang menyusul di antaranya adalah Eli Lilly pada tahun1897dan Parke Davis pada tahun 1901. Hingga tahun 1950 manufaktur yang memproduksik a p s u l k e r a s g e l a t i n d i b a t a s i d i U S A . D u a p e r u s a h a a n i n i b e r t a n g g u n g j a w a b d a l a m penyebaran industri dan penggunaan kapsul gelatin keras di seluruh dunia.Kapsul gelatin memiliki banyak keunggulan dibanding sediaan obat lainnya. Kapsulgelatin tidak berbau, tidak berasa dan mudah digunakan karena saat terbasahinya oleh air liur a k a n s e g e r a d i i k u t i d a y a b e n g k a k d a n d a y a l a r u t a i r n y a . P e n g i s i a n k e d a l a m k a p s u l disarankan untuk obat yang memiliki rasa yang tidak enak atau bau yang tidak enak. Kapsul

yang dimpan dalam lingkungan yang kering menunjukkan dayha tahan dan kemantapan penyimpanan yang baik dan dengan teknologi modern, pembuatannya lebih mudah dan cepatserta ketepatan dosis lebih tinggi daripada tablet. Cara pengisian kapsul juga tidak perlumemperhitungkan adanya perubahan sifat material asalnya dan pelepasan zat aktifnya.Selain gelatin, cangkang kapsul juga dapat dibuat dari pati dan tepung gandum dandigunakan untuk mewadahi bahan obat berbentuk serbuk. Kapsul pati ini, memiliki silinder t e r t u t u p s a t u m u k a a t a u m a n g k u k k e c i l ( g a r i s t e n g a h 1 5 - 2 5 m m d a n t i n g g i 1 0 m m ) . Walaupun tercantum dalam farmakope, tapi peranannya sampai saat ini tidak ada.Label:farmaseteika,FI IV, gelatin,hard capsul,kapsul, sejarah kapsul, soft capsul http://muslimah-online-assalamualaikum.blogspot.com/2009/03/sejarah-kapsul.html Top of Form Go! Bottom of Form Home KumpulanPuisi TentangBlogini Cang kangKapsul January 15, 2008

Kapsul keras diproduksi secara masal pertama kali di Amerika Serikat pada abad ke19.K a p s u l mu d a h d i t e r i ma o l e h p a r a k o n s u me n k a r e n a p e n a mp i l a n n ya ya n g me n a r i k d a n bentuknya yang didesain sedimikian rupa sehingga mudah untuk ditelan. Pada prinsipnyakapsul dapat disi dengan berbagai macam bahan dari yang berbentuk serbuk sampai dengancairan berbahan dasar minyak.Cangkang kapsul pada umumnya terbuat dari bahan gelatin. Gelatin dipilih sebagai bahan pembuatan cangkang kapsul karena sifatnya yang stabil ketika berada di luar tubuh namundapat mudah larut di dalam tubuh.Gelatin merupakan hasil olahan dari kolagen, sejenis protein, yang umum terdapat dalamtulang, kulit, atau jaringan pengikat binatang. Pada umumnya gelatin dibuat dari tulang sapiatau dari kulit babi. Gelatin type A biasa terbuat dari kulit babi sedangkan gelatin type B biasa terbuat dari tulang sapi.Proses pembuatan cangkang kapsul dimulai dari pembuatan larutan gelatin 25-30%. Bahand a s a r c a p u l e b e r u p a g e l a t i n e d i l a r u t k a n d i d a l a m a i r p a n a s ya n g t e l a h d i d e mi n e r a l i s a s i .B a h a n t a mb a h a n s e p e r t i p e n g a we t d a n p e wa r n a d i c a mp u r k a n k e d a l a m l a r u t a n g e l a ti n sehingga membentuk campuran yang homogen. Bahan dasar ini dimasukkan kedalam mesin pembuatan kapsul untuk dicetak menjadi cangkang kapsul yang siap untuk digunakan.

Seperti bahan-bahan dasar obat yang lainnya proses pembuatan cangkang kapsul ini harusmemenuhi standar cGMP (cara pembuatan obat yang baik). Cangkang kapsul yang sudah jadiakan diperiksa sesuai dengan stand ar cGMP. Selain pemeriksaan itu dimensi kapsul sepertiketebalan,
diameter, dan tinggi kapsul akan diperiksa untuk memastikan cangkang kapsulsiap digunakan pada proses pengisian kapsul.Cangkang kapsul mempunyai standar dimensi fisik tertentu yang dipakai sebagai acuan padasaat proses filling kapsul. Standar ukuran kapsul dapat dilihat pada tabel berikut:

Sumber : Capsule, Hard by Brian E Jones Encyclopedia of Pharmaceutical Technology http://lutfiasyairi.wordpress.com/2008/01/15/cangkang-kapsul/20:18| Label:Chemistry A. Sejarah Sediaan KapsulA w a l n ya o b a t d i b u a t d a r i t u m b u h a n k e r a s , m i s a l n ya a k a r . K u l i t k a yu , d a n k a yu y a n g diberikan dalam bentuk kapsul. Setelah dikenal obat sintetik, kapsul lalu digunakan untuk pemberian obat yang tidak larut, misalnya : kalomel, garam bismuth, merkuri dan kapur. B. C. Sediaan kapsul bisa digunakan untuk pemakaian dalam (secara oral, melalui hidung, melaluirongga tubuh) dan pemakaian Luar (ditaburkan dibagian luar tubuh). Kapsul bisaditambahkan bahan bioadesif sehingga bisa melekat dan member efek dalam

waktu lama.B. Pengertian UmumSediaan kapsul merupakan partikel zat padat yang mempunyai ukuran 0,1- 10.000 . Dalamilmu farmasi, sediaan kapsul dapat diartikan sebagai campuran homogen dua atau lebih bahanobat yang telah dihaluskan. Menurut farmakope Indonesia Edisi IV, sediaan kapsul adalahcampuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, yang ditujukan untuk pemakaianoral atau untuk pemakaian luar.C. Tujuan Pembuatan Sediaan KapsulKeuntungan Sediaan Kapsul-Kombinasi bahan obat bervariasi sesuai kebutuhan pasien-Dosis lebih tepat sesuai keadaan pasien-Lebih stabil dibanding bentuk sediaan cair -Ukuran partikel kecil sehingga disolusi dalam cairan tubuh lebih cepat disbanding kapsul, pildan tablet.Kerugian Sediaan Kapsul-Kurang baik untuk bahan obat yang tak tahan lembab, kontak dengan udara-Obat yang pahit akan menyebabkan muntah, korosif yang sulit diatasi-Perlu waktu peracikan relative lamaD. Syarat/ Karakteristik Sediaan Kapsul- H o m o g e n : s e t i a p b a g i a n c a m p u r a n k a p s u l h a r u s m e n g a n d u n g b a h a n ya n g s a m a d a l a m perbandingan yang sama pula.-Kering : tidak boleh menggumpal atau mengandung air karena mengandung bahan yanghigroskopis, efloresen, deliquesen ataupun campuran eutektik.-Derajat kehalusan tertentu-Bila ukuran partikel kapsul sangat halus, maka :-Kapsul lebih homogen-Disolusi makin cepat sehingga kadar obat dalam darah yang tinggi cepat dicapaiDengan permukaan yang luas akan memberi daya adsorpsi yang besar. Hal ini penting untuk kapsul antasida, anti diare dan antidotum D. http://cacingbusuk.blogspot.com/2010/07/sediaan-kapsul.html E. Capsulle DOSAGE Form/Sediaan Kapsul F. Sediaan adl sesuatu yg telah dipersiapkan dan telah diformulasikan.Kapsul dibagi : G. H. Sediaan kapsul1. Keras, terdiri 2 bagian, kalo ditekan gak keras.Cara buat: bisa diisi secara manual dan biasanya cangkang kapsul dpt dbeli/ tdk dibuatsendiri. Kapsul ini lbh stabil cz diproduksi dg tujuan single use.**Berbahaya bila memasukkan obat dr bahan alam scr keseluruhan dg ampasnya, sebaiknyadiekstraksi dulu. I. J. K. 2. Lunak, terdiri 1 bagian, lbh kenyal, lunak. Pembuatan kapsul ini lebih sulit dibandingkankapsul keras cz pembuatannya hrs sekaligus. Digunakan utk anak yg gak suka minum obat,misal vit.A, vit.E, minyak ikan. Stabilitas kapsul lunak lebih jelek daripada kapsul keras czkapsul lunak berbentuk cair.Soal:1. Kriteria bahan aktif yg bisa diformulasikan utk :Kapsul Keras Kapsul Lunak - Bentuknya kering, semisolid > isinya serbuk, granul, butiran, tablet .- Dpt diisi ddg bhn cair pi penutupan cangkang hrs tepat.- Gak mengandung pelarut yg ngrusak cangkang.- Stabil thdp pemanasan/pengeringan- Homogen- Inert thdp cangkang- Zat aktif gak mudah teroksidasi - Bentuknya harus cair.- Berupa minyak-minyak (lipofil).- Kalo gak cair bisa pi sulit bwangd.- Kalo hidrofil (PEG) boLe, pi jumlahnya hrs sekecil mungkin.Inert thd cangkang- Zat aktif labil thdp pemanasan/pengeringan- Zat aktif mudah teroksidasi2. Kelebihan dan kekurangan kapsul keras dan lunak Parameter Kapsul Keras Kapsul Lunak Kelebihan - Isi lebih fleksibel- Lebih mudah dlm pembuatanLebih stabil- Cangkang dapat diberi identitas- Material yg dimasukkan lbh banyak Dari segi bentuk, lebih menarik - Dalam pemakaian lebih mudah, ex. suppositoriaPenggunaan bisa bermacam-macam- Cangkang dapat ditambah bahan pengharumKekurangan - Kurang steril- Dari segi bentuk monoton- Penggunaan

L. M. N. O. P. Q.

sempit - Kestabilan jelek cz dalamnya cair - Proses pabrikasi relatif lebih mahalButuh profesionalisme yg lebih tinggi3. Kontrol kualitas yg perlu dilakukan supaya kapsul memenuhi kualitas yg baik yaitu :a. Cangkang harus inert (gak bereaksi dg isinya) b. Kelembaban dari cangkangc. Homogenitas (obat masih di luar, sebelum dimasukkan cangkang)d. Keseragaman bobot (obat yg sudah dimasukkan ke dalam cangkang)e. Keseragaman zat aktif f. Elastisitas cangkang, misalnya pada kapsul lunak. Kapsul tersebut begitu keluar dr rol berupa pita. Dari pita itu yg diukur adl ketebalan pita.g. Warnakapsul lunak h. Rasa, tekstur peredaran darah diabsorbsi tubuh i. Dissolusi (terlepas zatnya). Maksudnya terlepasobatnyaBahan dasar cangkang kapsul :

R. S. a. Gelatin : babi -> tulang (lbh elastis) & kulit; sapi (biasanya ditambah pelunak) b. non gelatin -> selulosa atau bahan alam lainDiposkan oleh Rita Riata di04:31 Label:teknologi formulasi T. http://ritariata.blogspot.com/2010/01/capsulle-dosage-formsediaankapsul.html

http://www.scribd.com/doc/56161617/bahan-TR-kapsul

Sejarah Sediaan Kapsul Awalnya obat dibuat dari tumbuhan keras, misalnya akar.Kulit kayu, dan kayu yang diberikan dalam bentuk kapsul.Setelah dikenal obat sintetik, kapsul lalu digunakan untukpemberian obat yang tidak larut, misalnya : kalomel, garambismuth, merkuri dan kapur.Sediaan kapsul bisa digunakan untuk pemakaian dalam(secara oral, melalui hidung, melalui rongga tubuh) danpemakaian Luar (ditaburkan dibagian luar tubuh). Kapsulbisa ditambahkan bahan bioadesif sehingga bisa melekatdan member efek dalam waktu lama. Pengertian Umum Sediaankapsul merupakan partikel zat padat yangmempunyaiukuran 0,1- 10.000 Dalam ilmufarmasi, sediaan kapsul dapat diartikan sebagaicampuranhomogen dua atau lebih bahan obat yangtelah dihaluskan. Menurut farmakopeIndonesiaEdisi IV, sediaan kapsul adalah campuran keringbahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, yangditujukan untuk pemakaianoral atau untukp e m a k a i a n l u a r Kerugian Sediaan Kapsul

-Kurang baik untuk bahan obat yangtak tahan lembab, kontak denganudara-Obat yang pahit akan menyebabkanmuntah, korosif yang sulit diatasi-Perlu waktu peracikan relative lama Syarat/ Karakteristik Sediaan Kapsul -Homogen : setiap bagian campuran kapsul harusmengandung bahan yang sama dalam perbandingan yangsama pula.-Kering : tidak boleh menggumpal atau mengandung airkarena mengandung bahan yang higroskopis, efloresen,deliquesen ataupun campuran eutektik.Derajat kehalusan tertentu-Bila ukuran partikel kapsul sangat halus, maka :-Kapsul lebih homogen-Disolusi makin cepat sehingga kadar obat dalam darah yangtinggi cepat dicapai KAPSUL (CAPSULE) Bentuk sediaan obat yang terbungkusdalam suatu cangkang .*. Kapsul terbuat dari gelatin, metil celulosa*. Kapsul mudah larut dalam air perhatikanpembuatan Tujuan Dibuat Kapsul 1.Menghindari rasa pahit /tidak enak dari bahan obat2.Dapat membagi obat dalam dosis yang t e p a t 3.Melindungi obat dari pengaruh luar ( pengaruh oksidasi dar O2 ) Cara mengetahui kapsul sesuai standard Menetapkan waktu hancur dari kapsuldengan cara :memasukkan 5 kapsul ke dalam alattertentu, lalu diturun naikkan dalam air padatemp.35-39 derajat celsius.Kapsul harus larut dalam waktu 15 Menit PENGGOLONGAN KAPSUL 1 . H a r d C a p s u l e terdiri dari 2 kantong berbentuksilinderyang tertutup satu sama lain. 2 . S o f t C a p s u l e bentuknya oval terbuat dari gelatin, glycerinatau plastik tertentu
http://ichadchemical.wordpress.com/2010/11/19/sediaan-kapsul/

Pengertian dan Macam Kapsul


Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai.

Macam macam kapsul

Berdasarkan bentuknya kapsul dalam farmasi dibedakan menjadi dua yaitu kapsul keras (capsulae durae, hard capsul ) dan kapsul lunak (capsulae molles, soft capsul) Perbedaan kapsul keras dan kapsul lunak. Kapsul keras Kapsul lunak

terdiri atas tubuh dan tutup

satu kesatuan

tersedia kosong

dalam

bentuk

selalu sudah terisi isi biasanya cair, dapat juga bisa oral, vaginal, rectal, topikal bentuknya macam bermacam

isi biasanya padat, dapat juga padat cair cara pakai per oral bentuk hanya satu macam

Bentuk kapsul umumnya bulat panjang dengan pangkal dan ujungnya tumpul tetapi beberapa pabrik membikin kapsul dengan bentuk khusus, misal ujungnya lebih runcing atau rata. Kapsul cangkang keras yang diisi di pabrik sering mempunyai warna dan bentuk berbeda atau diberi tanda untuk mengetahui identitas pabrik. Kapsul dapat juga mengandung zat warna yang diizinkan atau zat warna dari berbagai oksida besi, bahan opak seperti titanium dioksida, bahan pendispersi, bahan pengeras seperti sukrosa dan pengawet. Biasanya bahan ini mengandung antara 10 15 % air. Kapsul cangkang lunak yang dibuat dari gelatin (kadang-kadang disebut gel lunak ) sedikit lebih tebal dibanding kapsul cangkang keras dan dapat diplastisasi dengan penambahan senyawa poliol, seperti sorbitol atau gliserin. Kapsul lunak dapat mengandung pigmen atau pewarna, bahan opak seperti Titanium dioksida, pengawet, pengharum dan pemanis /sukrosa 5 %. Cangkang gelatin lunak umumnya mengandung air 6 13 %, umumnya berbentuk bulat atau silindris atau bulat telur (disebut pearles atau globula). Kapsul cangkang lunak tidak dipakai di apotik, tetapi diproduksi secara besar besaran didalam pabrik dan biasanya diisi dengan cairan. Kapsul lunak yang bekerjanya long acting umumnya berisi granula dan disebut Spansule.

Macam-macam kapsul berdasarkan ukuran

Ukuran kapsul menunjukkan ukuran volume dari kapsul dan dikenal 8 macam ukuran yang dinyatakan dalam nomor kode. 000 ialah ukuran terbesar dan 5 ukuran terkecil. Ukuran kapsul : 000 00 0 1 2 3 4 5 Untuk hewan : 10 11 12 Umumnya nomor 00 adalah ukuran terbesar yang dapat diberikan kepada pasien. Adapula kapsul gelatin keras ukuran 0 dengan bentuk memanjang (dikenal sebagai ukuran OE ) yang memberikan kapasitas isi lebih besar tanpa peningkatan diameter. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu bagi kita untuk mampu memilih ukuran kapsul yang tepat atau memilih ukuran kapsul yang terkecil yang masih dapat menampung bahan obat yang akan dimasukkan. Hal ini penting dalam rangka mempersiapkan resep dokter di apotik. Ketepatan dan kecepatan memilih ukuran kapsul tergantung dari pengalaman. Biasanya dikerjakan secara eksperimental dan sebagai gambaran hubungan jumlah obat dengan ukuran kapsul dapat dilihat dalam tabel dibawah ini. Asetosal NBB No. ukuran Natrium Bikarbonat (dalam gram) (alam gram) (dalam gram) 000 1 1,4 1,7 00 0,6 0,9 1,2 0 0,5 0,7 0,9 1 0,3 0,5 0,6 2 0,25 0,4 0,5 3 0,2 0,3 0,4 4 0,15 0,25 0,25 5 0,1 0,12 0,12 Dalam mempersiapkan resep untuk kapsul, ukuran kapsul hendaknya dicatat untuk memudahkan bila diperlukan pembuatan ulang, juga diperhatikan bila seseorang pasien

mendapatkan dua macam resep kapsul sekaligus, jangan diberikan dalam warna yang sama untuk menghindari kesalahan minum obat tersebut. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Kapsul Keuntungan bentuk sediaan kapsul.
1. 2. 3.

Bentuk menarik dan praktis Tidak berasa sehingga bisa menutup rasa dan bau dari obat yang kurang enak. Mudah ditelan dan cepat hancur /larut didalam perut, sehingga bahan cepat segera diabsorbsi (diserap) usus. 4. Dokter dapat memberikan resep dengan kombinasi dari bermacam-macam bahan obat dan dengan dosis yang berbeda-beda menurut kebutuhan seorang pasien. 5. Kapsul dapat diisi dengan cepat tidak memerlukan bahan penolong seperti pada pembuatan pil atau tablet yang mungkin mempengaruhi absorbsi bahan obatnya.

Kerugian bentuk sediaan kapsul.

1.

Tidak bisa untuk zat-zat mudah menguap sebab pori-pori cangkang tidak menahan penguapan 2. Tidak untuk zat-zat yang higroskopis 3. Tidak untuk zat-zat yang bereaksi dengan cangkang kapsul 4. Tidak untuk Balita

Tidak bisa dibagi ( misal kapsul)


http://malugada.com/capsulae-kapsul.html
Faktor-faktor yang merusak cangkang kapsul 1.Adanya zat-zat yang mudah mencair (higroskopis) Zat ini tidak hanya menghisap lembab udara, tetapi juga akan menyerap air dari kapsulnya sendiri hinga menjadi rapuh dan mudah pecah. Penambahan lactosa atau amilum (bahan inert netral) akan menghambat proses ini. Cth : KI, NaI, NaNO2 2.Campuran eutecticum Zat yang dicampur akan memiliki titik lebur lebih rendah daripada titik lebur semula, sehingga menyebabkan kapsul rusak/lembek. Cth : Asetosal dengan hexamin Camphor dengan menthol Hal ini dapat dihambat dengan mencampur masing-masing dengan bahan inert baru keduanya dicampur. 3.Adanya minyak menguap, kreosot dan alkohol 4.Penyimpanan yang salah Ditempat lembab, cangkang menjadi lunak dan lengket serta sukar dibuka. Karena kapsul tersebut menhisap air dari udara yang lembab tersebut. Ditempat terlalu kering, kapsul akan kehilangan air sehingga menjadi rapuh dan mudah pecah. Mengingat sifat kapsul tersebut maka sebaiknya kapsul disimpan : Dalam ruang yang tidak terlalu lembab atau kering Dalam botol gelas tertutup rapat dan diberi silika (pengering) Dalam wadah plastik yang diberi pengering. Dalam blister/strip alufoil.

1.1. Latar Belakang Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin; tetapi dapat juga terbuat dari pati atau bahan lain yang sesuai. (Ditjen POM,1995) Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian badan dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan saling menutupi bila dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi bagian badan kapsul. (Ansel, 2005). Gelatin mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair . Sebagai contoh yang lain, cangkang kapsul gelatin menjadi rapuh jika disimpan pada kondisi kelembaban relatif yang rendah (Chang, R.K. et al, 1998). Selanjutnya, Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat yang mengiritasi lambung, seperti Indometasin. Hal ini dikarenakan kapsul gelatin segera pecah setelah sampai di lambung. Belakangan ini, beberapa bahan telah diuji untuk digunakan sebagai bahan alternatif gelatin sebagai bahan untuk pembuatan cangkang kapsul, salah satunya adalah dengan alginat. Dimana alginat memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gelatin. Pemilihan alginat didasarkan pada laporan sebelumnya yaitu secara klinis alginat mempunyai kemampuan melindungi permukaan mukosa lambung dari Universitas Sumatera Utara

iritasi (Shiraishi, et al., 1991) dan relatif lebih tahan terhadap penguraian mikroba dibandingkan gelatin. Sejak 5 tahun yang lalu, di Laboratorium Farmasi Fisik Fakultas Farmasi USU dikembangkan cangkang kapsul alginat yang tahan terhadap asam lambung (gastric resistant capsule). Beberapa penelitian sebelumnya tentang cangkang kapsul alginat yang telah dilakukan di Laboratorium Farmasi Fisik, antara lain Bangun, dkk., (2005) telah melakukan penelitian tentang karakterisasi cangkang kapsul alginat dalam cairan lambung buatan (pH 1,2), cairan usus buatan (pH 4,5), cairan usus buatan (pH 6,8), dan cairan pH berganti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cangkang kapsul alginat terbukti tahan atau tidak pecah oleh cairan lambung buatan (pH 1,2). Kapsul mengembang dan pecah dalam cairan usus buatan (pH 4,5 dan pH 6,8). Jika kapsul direndam dalam medium pH berganti, dimana mula-mula dalam medium pH 1,2, lalu medium diganti dengan pH 4,5, maka kapsul lebih cepat pecah jika dibandingkan dengan hanya dalam medium pH 4,5 saja. Selanjutnya, Bangun, dkk (2005) membandingkan laju disolusi obat (aspirin dan indometasin) pada kapsul alginat dengan kapsul gelatin. Laju disolusi obat (aspirin dan indometasin) lebih lambat pada kapsul alginat daripada kapsul gelatin, baik dalam cairan lambung buatan (pH 1,2), cairan usus (pH 4,5; 6,8; dan 7,2), maupun dalam medium pH berganti. Bangun, dkk (2007) juga meneliti pencegahan efek iritasi lokal FeSO4 dan aspirin dengan pemakaian cangkang kapsul alginat yang tahan terhadap asam lambung. Hasilnya ternyata FeSO 4 dan aspirin dalam cangkang kapsul alginat dapat mencegah pendarahan pada lambung kelinci, yang diakibatkan oleh efek iritasi obat. Universitas Sumatera Utara

KAPSUL ( KAPSULAE) Kapsul adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam cangkang kapsul. Macam kapsul: -Kapsul Keras (Hard Capsul/Capsulae Durae) -Kapsul Lunak (Soft Capsul/Capsulae Molles) KAPSUL KERAS Cangkang Kapsul Keras terdiri dari wadah dan tutup. Bahan Cangkang Kapsul keras terbuat dari metylcellulose, gelatin, pati(Amylum). Ukuran Cangkang Kapsul keras dimulai dari yang terkecil Nomor 5, 4, 3, 2, 1, 0, 00,dan 000. Kandungan Air Cangkang Kapsul keras 10 15 %. Bahan obat yang diisikan berupa serbuk/bahan padat atau butiran/granul. Digunakan untuk pemakaian Oral( melalui mulut). KAPSUL LUNAK Cangkang Kapsul Lunak merupakan satu kesatuan berbentuk bulat atau bulat telur Bahan Cangkang terbuat dari gelatin ditambah sorbitol atau gliserin agar lentur/ plastis. Kandungan Air 6 13 %. Dapat diisi dengan cairan seperti Gliserin disamping serbuk atau bahan padat kering. Untuk pemakaiaan oral, vaginal, rectal atau topikal. Keuntungan Bentuk Sediaan Kapsul Bentuk menarik dan praktis. Dapat menutupi rasa dan bau yanf tak enak. Cepat hancur dan larut dalam lambung sehingga cepat diabsorsi/diserap. Mudah ditelan. Cara pembuatannya cepat kerena tidak perlu bahan tambahan yang banyak. Dapat diisi dengan obat kombinasi dalam serbuk. Kerugian bentuk sediaan Kapsul Tidak dapat digunakan untuk balita.

Tidap dapat digunakan untuk obat- obat yang : -Higroskopis(mudah menyerap uap air) -Mudah menguap. -Bereaksi dengan cangkang kapsul.
Cara penyimpanan Kapsul Ruangan tidak terlalu lembab karena dapat menyebabkan lembek dan lengket. Ruangan tidak terlalu kering dan dingin karena dapat menyebabkan rapuh dan mudah pecah Dalam wadah botol gelas atau platik tertutup rapat, diberi zat pengering(Silika gel). Dikemas dengan alumunium foil dalam blester atau strip. Cara Pembuatan Kapsul Dengan Tangan

-Buat Resep dokter dalam bentuk serbuk terbagi(pulveres) sebanyak permintaan. -Tiap bagian serbuk masukkan ke dalam badan kapsul dan tutup.
Dengan Alat kayu / Fiber Alat terdiri dari bagian tetap dan bagian bergerak.

-Masukan Badan Cangkang Kapsul kedalam bagian tetap -Masukkan tutup cangkang ke dalam bagian bergerak. -Masukan Serbuk ke dalam badan cangkang dan ratakan dengan kertas/film. -Rapatkan kedua bagian alat tersebut. -Keluarkan dari alat tersebut.
Dengan mesin -Siapkan campuran serbuk/granul.

-masukan ke dalam Mesin secara terpisah cangkang dan serbuk / granul. -Mesin akan secara otomatis akan membuka , mengisi dan menutup kapsul
Persyaratan kapsul Memenuhi uji keseragaman bobot/kandungan.

Memenuhi uji waktu hancur. Memenuhi uji dissolusi/Kelarutan zat aktif

Dalam penelitian ini digunakan cangkang kapsul alginat dengan penambahan pewarna Ponceau 4R. Tiga pewarna yang biasa digunakan dalam pembuatan kapsul adalah Erythrosine, indigo carmine, dan kuning quinolone (Bhatt, 2007). Ponceau 4R atau yang lebih dikenal dengan nama strawberry red adalah pewarna makanan yang banyak dijumpai dipasaran. Ponceau 4R adalah pewarna sintetis yang dapat ditambahkan pada makanan. Ponceau 4R adalah pewarna azo merah yang dapat digunakan dalam berbagai produk makanan (Anonim 1, 2010). Umumnya, dengan penambahan bahan tambahan seperti pewarna akan memperbaiki penampilan cangkang kapsul. Akan tetapi bahan pewarna ini kemungkinan dapat mempengaruhi sifat-sifat fisik dari cangkang kapsul tersebut. Demikian juga dalam pembuatan kapsul alginat. Penambahan pewarna dalam kapsul pada suhu dan penyimpanan yang berbeda kemungkinan mempengaruhi sifat-sifat fisik kapsul. Dengan adanya perubahan suhu dan penyimpanan, cangkang kapsul alginat dengan pewarna mempunyai kecenderungan untuk mengalami perubahan fisik. Pada penelitian ini, penulis mencoba untuk membuat sediaan kapsul dengan bahan tambahan berupa pewarna ponceau 4R dan diteliti sifat-sifat fsik kapsul dan stabilitas fisik cangkang kapsul alginat.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22039/5/Chapter%20I.pdf

Anda mungkin juga menyukai