Anda di halaman 1dari 4

Pemberian intravena (IV) tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat

dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya adalah mudah tercapai efek toksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidak dapat ditarik kembali. Injeksi subkutan (SC) atau pemberian obat melalui bawah kulit, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya biasanya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Injeksi intramuskular (IM) atau suntikkan melalui otot, kecepatan dan kelengkapan absorpsinya dipengaruhi oleh kelarutan obat dalam air. Absorpsi lebih cepat terjadi di deltoid atau vastus lateralis daripada di gluteus maksimus. Pemberian secara injeksi intravena menghasilkan efek yang tercepat, karena obat langsung masuk ke dalam sirkulasi. Efek lebih lambat diperoleh dengan injeksi intramuskular, dan lebih lambat lagi dengan injeksi subkutan karena obat harus melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah. Parameter dalam farmakokinetika klinik Dalam membahas mengenai sudi farmakokinetika klinik, terdapat empat hal yang penting yaitu meliputi absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. 1. Absorpsi yaitu suatu proses dimana suatu obat masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Di dalam studi farmakokinetika klinik yang menilai mengenai absorpsi, informasi mengenai kadar suatu obat dalam darah menjadi penting, karena hal itu akan berkaitan dengan cara pemberian obat. Kadar obat di dalam darah tentu akan berbeda jika obat diberikan secara oral dibandingkan dengan pemberian obat secara intravena. Untuk menilai keefektifan obat memasuki sirkulasi sistemik, tentu saja terdapat beberapa parameter yang harus dinilai meliputi bioavailabilitas yaitu fraksi obat dalam bentuk yang tidak berubah yang mencapai sirkulasi sistemik setelah pemberian melalui jalur apa saja, laju absorpsi dan banyaknya absorpsi. Untuk dosis obat intravena, bioavailabilitas diasumsikan sama dengan satu. Pada perbandingan cara pemberian oral dan intravena, perhitungan bioavailabilitas dan rasio absorpsi menjadi penting untuk mengklarifikasi pengaruh eliminasi lintas pertama (first-pass effect) yang terjadi pada pemberian oral. Untuk obat yang diberikan secara oral, bioavailabilitasnya mungkin kurang dari 100% berdasarkan dua alasan utama: banyaknya obat yang diabsorpsi tidak sempurna dan adanya eliminasi lintas pertama. 1. Ingenito AJ, Lathers JM, Burford HJ. Instruction of Clinical Pharmacology: Changes in the wind. 1989. The Journal of Clinical Pharmacology Vol 29 no 17-17 Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya dengan kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbs obat di sini berpengaruh terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbs obat berpengaruh terhadap durasinya misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan reseptor dan apakah ada factor penghambatnya. Dari percobaan yang telah diamati, masing-masing cara pemberian memiliki keuntungan dan kerugian. Pada peroral keuntungannya mudah pemberiannya dan lebih aman, kerugiannya adalah

efeknya lama karena melalui saluran cerna dan bias terjadi inaktivasi obat dihati. Pada intraperitonial keuntungannya efek yang dihasilkan sangat cepat, kerugiannya memiliki resiko yang sangat besar karena obat tidak dapat dikeluarkan bila terjadi kesalahan. Pada intramuscular dan subkutan keuntungannya absorbsi yang terjadi relative cepat, sedangkan kerugian pada subkutan adalah hanya digunakkan untuk obat yang tidak mengiritasi jaringan. cara intravena merupakan cara pemberian obat yang reaksinya paling cepat dan yang paling lambat adalah cara oral. Cara intravena yaitu cara pemberian obat langsung masuk kepembuluh darah, sehingga cara ini tentu saja lebih cepat memberikan efek karena tidak melalui proses absorbsi dulu untuk masuk kesistem sistemik dari pada cara-cara injeksi yang lain. Sedangkan cara oral merupakan cara pemberian obat melalui pencernaan sehingga prosesnya berjalan lambat. Namun seperti kita lihat pada data, hanya kelompok I yang memiliki onset yang tercepat dengan pemberian intramuscular. Hal ini mungkin dikarenakan terjadinya penambahan dosis menjadi dua kali lipat dari seharusnya yaitu menjadi 0,26 ml. Untuk durasinya, hasil pengamatan kelompok I, II dan IV efek obat yang paling cepat hilang yaitu cara intraperitoneal dan yang efeknya lama yaitu cara intramuscular. Untuk kelompok III, efek obat yang paling cepat hilang adalah cara intravena dan yang paling lama efek obatnya dengan cara intramuscular. Sedangkan untuk kelompok V cara pemberian dengan intraperitoneal memiliki efek yang cepat hilang sedangkan cara oral yang efeknya paling lama hilangnya. Katzung, Bertram. G., 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik, Salemba Medika, Jakarta, hal.

Untuk mencapai efek farmakologis seperti yang diharapkan, obatdapat diberikan dengan cara. Antara lain melalui oral, subkutan, intramoskular, intraperitoneal, rektal, dan intravena. Masingmasing cara memiliki keuntungan dan kerugian tertentu. Suatu obat atau senyawa mungkin efektif jika diberikan melalui salah satu cara, tetapi tidak efektif bila diberikan dengan cara lain. Perbedaan ini salah satunya disebabkan oleh adanya perbedaab dalam kecepatan obsorbsi pada tiap masingmasing cara tersebut yang kemudian dapat mempengaruhi efek farmakologi obat tersebut. Cara pemberian obat yang berbeda-beda melibatkan proses absorpsi obat yang berbeda-beda pula. Yang dimaksud absorpsi suatu obat ialah pengambilan obat dari permukaan tubuh (disini termasuk juga mukosa saluran cerna) atau dari tempat-tempat tertentu dalam organ dalaman ke dalam aliran darah atau ke dalam sistem pembuluh limfe. Proses absorpsi merupakan dasar yang penting dalam menentukan aktivitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan obat selama proses absorpsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan pengobatan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses absorpsi obat pada saluran cerna antara lain: a. Bentuk Sediaan Terutama berpengaruh terhadap kecepatan absorpsi obat, yang secara tidak langsung dapat mempengaruhi intensitas respon biologis obat. Dalam bentuk sediaan yang berbeda, maka proses absorpsi obat memerlukan waktu yang berbeda-beda dan jumlah ketersediaan hayati kemungkinan juga berlainan. b. Sifat Kimia dan Fisika Obat Bentuk asam, ester, garam, kompleks atau hidrat dari bahan obat dapat mempengaruhi kekuatan dan proses absorpsi obat. Selain itu bentuk kristal atau polimorfi, kelarutan dalam lemak atau air, dan derajat ionisasi juga mempengaruhi proses absorpsi [2]. Absorpsi lebih mudah terjadi bila obat dalam bentuk non-ion dan mudah larut dalam lemak. Faktor Biologis

c.

Antara lain adalah pH saluran cerna, sekresi cairan lambung, gerakan saluran cerna, waktu pengosongan lambung dan waktu transit dalam usus, serta banyaknya pembuluh darah pada tempat absorpsi

Injeksi intravena (I.V) disuntikkan langsung ke dalam pembuluh darah, larutan injeksinya harus betul-betul jernih. Untuk infus yang merupakan volume cairan yang besar mengandung elektrolit, substansi nutrisi yang esensial diberikan hanya melalui intravena injeksi (Anief, 2004). Rute intravena adalah metode paling cepat dan paling sederhana untuk memberikan obat ke dalam sirkulais sistemik. Namun kelarutan air yang baru dari banyak obat, khususnya di jalur klinis, pemberian intravena hasilnya dalam beberapa efek samping seperti hemolisis, dan flebitis (yiyun, 2007).

Pemberian intravena (IV) tidak mengalami absorpsi tetapi langsung masuk ke dalam sirkulasisistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara capat, tepat, dan dapatdisesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya adalah mudah tercapai efektoksik karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, dan obat tidakdapat ditarik kembali.

Intravena (IV) (Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, onset of action cepat, efisien, bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat yang menyebabkan iritasi kalau diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus kontinu untuk obat yang waktu-paruhnya (t1/2) pendek) (Joenoes, 2002). Intravena (i.v), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah. Larutan dalam volume kecil (di bawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan isohidris, sedangkan volume besar (infuse) harus isotonis dan isohidris. -Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena, onset of action segera. - Obat bekerja paling efisien, bioavilabilitas 100% - Obat harus berada dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minyak tidak boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit, sediaan suspensi tidak banyak terpengaruh. - Larutan hipertonis disuntikkan secara lambat, sehingga sel-sel darah tidak banyak berpengaruh. - Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah, sehingga menyebabkan hemolisa seperti saponin, nitrit, dan nitrobenzol. - Sediaan yang diberikan umumnya sediaan sejati. - Adanya partikel dapat menyebabkan emboli. - Pada pemberian dengan volume 10 ml atau lebih, sekali suntik harus bebas pirogen.

Pemberian obat secara suntikan intravena. Pemberian obat secara intravena adalah cara yang paling cepat dan paling pasti. Suatu suntikan tunggal intravena akan memberikan kadar obat yang sangat tinggi yang pertama-tama akan mencapai paru-paru dan kemudian ke sirkulasi sistemik. Kadar puncak yang mencapai jaringan tergantung pada kecepatan suntikan yang harus diberikan secara perlahan-lahan sekali. Obat-obat yang berupa larutan dalam minyak dapat menggumpalkan darah atau dapat menyebabkan hemolisa darah, karena itu tidak boleh diberikan secara intravena.

Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga terhadap onset dan durasi. Pada literature dijelaskan bahwa onset paling cepat adalah intraperitonial, intramuscular, subkutan, peroral. Hal ini terjadi karena : Intraperitonial mengandung banyak pembuluh darah sehingga obat langsung masuk ke dalam pembuluh darah. Intramuscular mengandung lapisan lemak yang cukup kecil sehingga obat akan terhalang oleh lemak sebelum terabasorbsi. Subkutan mengandung lemak yang cukup banyak. Peroral disini obat akan mengalami rute yang panjang untuk mencapai reseptor karena melalui saluran cerna yang memiliki banyak factor penghambat seperti protein plasma. Dan durasi paling cepat adalah peroral, intraperitonial, intramuscular, subkutan. Hal ini terjadi karena : Peroral, karena melalui saluran cerna yang memiliki rute cukup panjang dan banyak factor penghambat maka konsentrasi obat yang terabsorbsi semakin sedikit dan efek obat lebih cepat. Intraperitonial, disini obat langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan intramuscular dan subkutan karena obat di metabolisme serempak sehingga durasinya agak cepat. Intramuscular, terdapat lapisan lemak yang cukup banyak sehingga obat akan konstan dan lebih tahan lama. Subkutan, terdapat lapisan lemak yang paling banyak sehingga durasi lebih lama disbanding intramuscular. Di lihat dari rata-rata waktu onset dan durasi, sangat terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan pada masing-masing cara pemberian. Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya dengan kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbs obat di sini berpengaruh terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbs obat berpengaruh terhadap durasinya misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan reseptor dan apakah ada factor penghambatnya. Janoes z.n.2002. Arsprescribendi jilid 3. Airlangga Ubniversity Press: Surabaya.