Anda di halaman 1dari 56

PENDAHULUAN

Sekitar enam belas hari yang lalu, saya menerima sebuah e-mail dari Mln. Luthfi Julian Putra yang diforward dari milist ahmadi-ina berkenaan dengan perbedaan antara nab dan rasl. Penulis e -mail itu adalah Bpk. Darisman Broto dari Kebayoran. Beliau sejatinya hanya menyalin sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ghair Ahmadi yang berisi lima point yang menurut ghair Ahmadi itu adalah dalil-dalil yang membuktikan bahwa nab dan rasl adalah dua personifikasi yang berbeda. Setelah saya cek, saya menemukan artikel itu pada aslinya terdapat di http://alatsariyyah.com/5-perbedaan-antara-nabi-dan-rasul.html. Ternyata, seusai dicermati, saya mendapati bahwa argumentasi-argumentasi penulis tersebut dibangun di atas fondasi yang sangat lemah dan rapuh, bahkan cenderung sembrono. Saya sudah melakukan riset dari buku-buku para ulam mutaqaddimn yang menyanggah argumentasi -argumentasi penulis itu. Untuk lebih jelasnya, pembaca bisa melihatnya di bagian pembahasan nanti. Saya sebenarnya cukup menyesal karena baru bisa menyelesaikan tulisan ini pada hari ini, sekitar enam belas hari setelah saya mendapat email itu. Saya seharusnya bisa menyelesaikannya dalam jangka waktu tigaempat hari, atau maksimal satu minggu. Berhubung saya harus masuk sekolah, maka sebagai konsekuensinya adalah saya harus mengerjakan tugas-tugas dan menghadapi ulangan-ulangan yang tentunya amat sangat melelahkan. Oleh karena itu, saya mohon maaf jika kehadiran tulisan ini sedikit terlambat. Satu hal yang saya harap dari para pembaca adalah, janganlah sekalikali menganggap bahwa tulisan ini adalah karya Iffat Aulia Ahmad. Iffat Aulia Ahmad hanyalah seorang bocah enam belas tahun yang bodoh lagi pandir, tak memiliki ilmu sedikitpun. Anggaplah tulisan ini adalah karya Khalfah, Hadhrat Mirz Masroor Ahmad(atba). Semata-mata karena kecintaan dan ketaatan terhadap beliaulah saya dapat menyelesaikan tulisan ini. Saya teringat kutipan syir seorang Arab Badui yang dikutip oleh Ibn Arab dalam al-Fushsh:

Engkau telah merasuk ke dalam suluk ruh dariku. Oleh karena itu, seorang kekasih dinamakan kekasih. Sesungguhnya di dalam ketaatan kepada seorang Khalfah terdapat samudera ilmu jasman dan rhn yang tiada bertepi. Sebagai khtimah bagian ini, alangkah baiknya bila saya cantumkan doa yang diajarkan kepada Hadhrat al-Mash al-Maud(as) dalam Ijz al-Mash, semoga Allh meniupkan ruh keberkatan dalam tulisan ini dan semoga Dia menjadikan hati manusia tertarik kepadanya.

TERMINOLOGI AHMADIYYAH TENTANG NAB DAN RASL


Al-Jamah al-Islmiyyah al-Ahmadiyyah berpandangan bahwa nab dan rasl pada hakikatnya sama. Dua istilah tersebut tidak mencerminkan perbedaan, tetapi dipergunakan sesuai dengan konteks yang saling berhubungan. Pendiri Ahmadiyyah, Hadhrat Mirz Ghulm Ahmad(as) bersabda: Hal ni perlu diingat bahwa kata nab secara literal berarti seseorang yang menyingkapkan ilmu-ilmu ghaibiyyah setelah diberitahu oleh Tuhan. Oleh karena itu, konotasi ini dijustifikasi di mana pun terlaksana. Seorang nab haruslah menjadi seorang rasl. Karena, apabila ia bukan seorang rasl, maka ia tidak bisa menjadi penerima ilmu-ilmu ghaibiyyah sebagaimana diindikasikan oleh ayat:

Dia tidak menampakkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasl yang diridhai-Nya. [Srah al-Jinn {72}:27-28] Karenanya, setiap orang yang diutus oleh Tuhan disebut sebagai rasl. Lagi: Kata nab sama-sama terdapat dalam bahas a Arab dan Ibrani. Dalam bahasa Ibrani, kata itu diucapkan nab yang berasal dari akar kata nab, yang berarti menubuatkan ilmu-ilmu yang diperoleh dari Tuhan. Seorang nab tidaklah harus menjadi musyarri. Semata -mata karunia Tuhan lah kabar-kabar ghaib disingkapkan. Sabda-sabda beliau di atas sangat jelas menerangkan fondasi pendapat Ahmadiyyah tentang masalah ini. Kami beranggapan bahwa kedua kata itu sejatinya adalah mutardif (sinonim). Sama seperti kita menyebut seseorang gubernur jika kita memandangnya menurut kacamata politik. Dari sisi pemerintahan, kita menyebutnya kepala daerah tingkat satu. Dua istilah itu disandang oleh satu orang secara bersamaan dalam

satu waktu. Demikian juga pangkat kenabian dan kerasulan disandang oleh seseorang dalam waktu yang sama secara serempak. Sebenarnya apa arti nab itu? Secara singkat, definisi itu telah disebutkan di atas. Namun, beliau menjelaskan lebih lanjut: Sepanjang yang saya tahu, nab adalah ia yang secara sendirian turun firman Tuhan atasnya di dalam suatu bentuk yang mengatasi segala keraguan dan turun dalam satu jumlah yang sangat banyak meliputi pengetahuan-pengetahuan yang diketahui oleh manusia. Lagi: Ketika komuni wahyu itu, dalam pembawaan dan banyaknya, mencapai titik kesempurnaan, titik kepenuhan, tidak ada ketidaksecuan serta cacat yang tertinggal di dalamnya, dan meliputi ilmu-ilmu ghaib di atas pengetahuan manusia, dengan kata lain, hal itulah yang didenotasikan sebagai nab, sebagaimana disepakati oleh seluruh nab. Mendapat firman Tuhan yang mencakup ilmu-ilmu ghaib dan nubuatannubuatan yang luar biasa dalam keagungan, seseorang yang berkomunikasi dengan khalayak ramai seraya menggunakan kata-kata ini, disebut sebagai nab dalam terminologi Islam. Sabda-sabda beliau ini meberikan penerangan yang sempurna kepada kita. Bila seseorang mengaku mendapat wahyu-wahyu dan ilhmilhm secara terus menerus dari Allh, yang mana hal itu melenyapkan keraguan di dalam hatinya, dan dia diperintah untuk memproklamasikan bahwa dirinya telah diutus, maka orang yang mendapat karunia itu disebut nab. Ibn Barr berkata:


Nab adalah seorang pengabar dari Allh Tal. Sebab Allh mengabarkannya dengan tauhd-Nya, menyibakkan kepadanya keghaibanNya, dan memberitahukannya bahwa ia adalah nab-Nya. Bagaimana cara Allh menampakkan keghaiban-Nya kepada seorang nab dan mengajarkannya ilmu-ilmu rhniyyat? Kita membaca:

Dan tidaklah Kami mengutus sebelum engkau kecuali para laki -laki yang kami berikan wahyu kepada mereka.... [Srah al-Anbiy {21}:8] Seorang nab pastilah memiliki sifat-sifat wajib, yang salah satunya adalah tablgh, yakni menyampaikan. Hal ini menjadi wajib karena wa hyuwahyu yang ia terima ditujukan kepada ummatnya, bukan semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Ada yang bersifat tabsyr (kabar gembira), ada pula yang bernada indzr (kabar pertakut). Wahyu berfungsi sebagai penolong akal pada masalah-masalah spiritual, sebagaimana pengalaman adalah penolong akan dalam masalah-masalah materil. Wahyu adalah tuntunan. Tanpa adanya wahyu, manusia tidak mampu membedakan antara yang baik dan yang benar, mereka akan cenderung egois dan mementingkan kepentingan personalnya (Homo Economicus). Jika hal ini tak terbendung dan dibiarkan terus-menerus, mereka bertransformasi tak ubahnya persis seperti serigala yang saling terkam satu sama lain (Homo Homini Lupus). Wahyu adalah sesuatu yang dengannya rhnyyat manusia dapat hidup dan eksis. Oleh karena itu, wahyu disebut dalam alQurn sebagai ruh. Kita membaca:

... Dia meniupkan ruh dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan manusia tentang hari pertemuan. [Srah al -Mumin {40}:16] Al-Allmah Ab Sud menafsirkan ayat ini dengan:

Yakni, Dia menurunkan wahyu yang mengalir dari hati sama seperti kedudukan ruh terhadap jasad. Dan beliau menyebutkan pula sebelumnya bahwa wahyu itu adalah

, rizqi rhn.
Shhib al-Khzin dalam tafsr beliau mengatakan:


Meniupkan ruh artinya menurunkan wahyu. Dia menamakannya wahyu karena dengannya, ruh dapat hidup, sebagaimana badan dapat hidup dengan ruh. Oleh sebab itu, mustahil bagi seorang nab untuk mempunyai sfat katm, yakni mennyembunyikan apa yang ia terima dari Allh. Apalagi, segala sesuatu yang datang dari Tuhan adalah nimat. Dan nimat itu haruslah disebarkan agar orang banyak pun dapat mencicipi kasih sayang Ilahi itu. Tuhan berfirman:

Dan berkenaan dengan nimat dari Rabb engkau, maka ceritakanlah!. [Surah adh-Dhuh {93}:12] Nah, ketika seorang nab diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang ia terima dan membimbing serta menuntun manusia dengannya, maka ia disebut sebagai rasl. Kita membaca:

Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb engkau. Dan jika tidak kamu kerjakan, maka kamu tidak menyampaikan rislah-Nya.... [Srah al-Midah {5}:68] Taktala seorang rasl telah diutus ke tengah-tengah manusia, seperti yang sudah diterangkan di atas, ia wajib mengabarkan dan menginformasikan berita-berita ghaibiyyah yang ia terima, baik itu berupa perintah, larangan, kabar gembira, kabar pertakut, dan al-Umr alMustaqbaliyyah (perkara-perkara yang akan terjadi di masa mendatang). Oleh karena itu, juga seperti yang sudah diterangkan dalam definisi-definisi di atas, ia disebut sebagai nab. Pada bagian selanjutnya, saya akan membahas dan mengupas dalildalil yang dijadikan argumentasi-argumentasi untuk membuktikan bahwa nab dan rasl adalah dua pribadi yang berlainan. D etail argumentasargumentasi tersebut dapat dibaca di link yang saya tampilkan di atas. Selain itu, ada dua point tambahan yang saya tambahkan juga setelah saya melakukan perburuan di internet.

MENJAWAB POINT-POINT SANGGAHAN


1. Perkataan Jenjang kerasulan lebih tinggi daripada jenjang kenabian karena tidak mungkin seorang itu menjadi rasl kecuali setelah menjadi nab adalah sama sekali mengada-ngada dan tidak mendasar. Allh SubhnaHu Wa Tal befirman tentang Nab Ms(as):

Dan ceritakanlah kisah Ms seperti tercantum dalam Alkitab. Sesungguhnya ia seorang mukhlash, seorang rasl lagi nab. [Srah Maryam: 52][1] Dalam ayat ini, kata rasl adalah khabar kna awwal, sedangkan nab khabar kna tsn. Pendahuluan kata rasl di depan nab ini menunjukkan bahwa rasl-lah sejatinya yang termasuk nab, bukan nab yang termasuk rasl. Mengapa? Karena al-Qurn disusun dengan suatu tartb yang khas, satu kata mengikuti kata yang lain, sehingga membentuk suatu pertalian yang kuat. All h berfirman:

Dan sesungguhnya telah Kami turunkan perkataan secara berturutturut kepada mereka, supaya mereka mendapat pertolongan. [Srah al-Qashash: 52] Ath-Thabar dalam Jmi al-Bayn mengatakan, sembari mengutip syir al-Akhthal, bahwa kata

pada aslinya bermakna

,
ayat ini dengan

Yakni menghubungkan satu tali dengan Kami

yang lainnya. Ar-Rghib al-Ishfahn dalam al-Mufradt menafsirkan

memperbanyak perkataan kepada mereka dengan bersambungan satu dengan yang lainnya. Setelah mengetahui bahwa al-Qurn dirancang dengan susunan tartb yang rapi dan saling bersambungan, maka penemapatan kata rasl di depan kata nab ini jelas menunjukkan bahwa Ms(as) pada awalnya adalah seorang rasl, kemudian menjadi nab. Al-Allmah Ab Sud menafsirkan ayat dari Srah Maryam di atas dengan sangat jelas

, Allh mengutusnya kepada

manusia, lalu Dia mengkahabarkan berita-berita kepada mereka melaluinya (Ms). Jadi, rislah itu pada hakikatnya adalah ushl, sedangkan fur-nya adalah nubuwwah. Hadhrat Mirz Basyr-ud-Dn Mahmd Ahmad(ra) bersabda dalam atTafsr al-Kabr: Mafhm yang benar dari tafsr ayat itu adalah seperti yang Jemaat kita sebutkan, yakni bahwa rasl adalah orang yang diutus dan dibangkitkan, sedangkan nab adalah orang yang memberitakan dan mengabarkan. Dan ini adalah shahh dengan sempurna. Ketika seseorang pada awalnya adalah mursal lalu dijadikan nab , yakni bahwa dia pada awalnya diutus kemudian mengkhabarkan kepada manusia tentang berita-berita Ilhiyyah yang diembannya, maka teranglah bahwa maqm rislah itu terdahulu sebelum nubuwwah, ketika mustahl bagi seseorang untuk menjadi seorang nab sebelum ia menjadi seorang rasl. Misalnya, ketika Allh berfirman kepada nab kita: Wahai Muhammad! Aku membangkitkan engkau untuk mengadakan ishlh terhadap dunia. Maka beliau menjadi ras l. Dan ketika Nab(SAW) bersabda: Wahai para penduduk Makkah! Saya memberitakan dan mengabarkan kepada kalian ini dan ini dari All h. Maka beliau menjadi nab. Dan sebagai contoh lagi, ketika All h berfirman kepada Nab s(as): Wahai s! Aku mengutus engkau kepada manusia! Maka beliau menjadi rasl. Dan ketika Nab s(as) mengatakan: Wahai manusia! Aku mengabarkan kepada kalian bahwa Allh telah menyuruh kalian untuk melakukan ini. Maka beliau menjadi nab. Hal itu disebabkan oleh bahwa rasl adalah orang yang memperoleh suatu rislah dan nab adalah orang yang

mengabarkan rislah itu ketika wajib baginya untuk mendengar terlebih dahulu kemudian mengabarkan apa yang ia dengar. Jika tidak, bagaimana mungkin ia menyampaikan terlebih dahulu baru kemudian mendengar setelahnya? Oleh karena itu, kapan saja kata nab dan rasl terdapat di dalam al-Qurn secara bersamaan, kata rasl selalu terdauhulu di depan nab .

Muhammad bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu melainkan dia adalah Raslu -Llh dan Khtam-un-Nabiyyn. Dan sesungguhnya Allh Maha Mengetahui atas segala sesuatu. [Srah al-Ahzb {33}:41]

Yakni orang-orang yang mengikuti Rasl lagi Nab Yang Umm itu .... [Srah al-Arf {7}:158]

... Maka berimanlah kepada Allah dan Rasl-Ny lagi Nab Yang Umm.... [Srah al -Arf {7}:159] Kalian melihat bahwa Allh menyebut kata rasl sebelum nab di setiap tempat itu. Dan Allh pun berfirman dengan hal yang sama tentang itu mengenai Nab Ismal(as) bersamaan dengan fakta

menurut pengertian mayoritas bahwa beliau tidak membawa kitab apa pun dan beliau hanyalah seorang pengikut bagi syar at yang dibawa oleh Nab Ibrhm(as). Dan tidak ada yang beriman kepada Nab Ibrhm(as) kecuali Nab Ismal(as), Nab Ishq(as), Nab Lth(as), dan beberapa pelayan beliau. Seandainya Nab Ismal(as) datang secara langsung sesudah Nab Ibrhm(as) dengan membawa kitab yang terpisah, maka siapakah yang beramal dengan syarat beliau? Maka jelaslah bahwa apa yang al-Qurn sebutkan juga mengenai Nab Ismal(as) membantah apa yang disebutkan oleh para ghair Ahmadi seputar nab dan rasl. Sejatinya, nab dan rasl adalah sesuatu yang sama. Karena ras l berarti yang diutus, sedangkan nab berarti seseorang yang datang dengan menerima banyak berita. Dan dari antara hal-hal yang jelas adalah bahwa seseorang yang Allh bangkitkan sebagi seorang rasl, pastilah dia mendapat suatu rislah. Dan seseorang yang mengabarkan kepada manusia kabar-kabar ghaib, ia pasti merupakan seseorang yang diutus dari Allh juga. Orang yang diperintah dari sisi Allh dinamakan rasl karena dia diutus dari sisi Allh. Dan dia dinamakan nab karena dia mengkabarkan kabarkabar ghaib kepada manusia. Maka, seseorang yang All h Tal utus sebagai seorang rasl, niscaya ia juga merupakan seorang nab, karena Allh tidak membangkitkan seseorang dengan tanpa suatu rislah apa pun. Dan seorang nab pastilah juga merupakan seorang rasl. Karena, seandainya ia tidak diutus, maka dia adalah muftar (pengada-ngada) dengan tanpa keraguan sedikit pun. Padahal orangorang yang diperintah dari sisi Allh bukanlah para pengada-ngada. Al-Allmah Jall-ud-Dn as-Suyth mengatakan dalam Tadrb ar Rw:


Nab dan rasl bermakna satu dan inilah yang paling benar. Adalah suatu hal yang sangat aneh bahwa, guru-guru agama semenjak SD telah menanamkan bahwa ada empat sifat wajib bagi nab, yang salah satu di antaranya adalah tablgh. Tapi, di satu sisi,

mereka mengajarkan juga bahwa seorang nab tidak harus menyampaikan (tablgh) wahyu yang ia terima. Betapa janggalnya hal ini! Sebenarnya, kata nab itu adalah sebutan untuk para ras l yang diutus dari kalangan manusia. Allh Jalla SyanuHu berfirman:

Berapa banyaknya nab-nab yang telah Kami utus kepada ummatummat yang terdahulu. [Srah az-Zukhrf {43}:7] Kita membaca dalam Shahh Muslim berkenaan dengan riwayat keislaman Hadhrat Amr ibn Absah:


Aku bertanya: Siapakah engkau? Beliau menjawab: Saya adalah nab. Aku bertanya: Apakah nab itu? Beliau menjawab: Allh mengutus aku.[2] Dalam Shahh Bukhr, Nab Muhammad(SAW) mengajarkan suatu doa kepada Hadhrat al-Barr ibn zib(ra):


Ketika Hadhrat al-Barr (ra) mengulangi doa ini, beliau mengucapkan

bukan

Kemudian Nab(SAW) menegur

, Tidak! Tetapi: Dan nab Engkau yang Engkau utus.[3]


Dengan dua keterangan dari hadts ini, jelas bahwa kata nab itu pada hakikatnya merupakan sebutan bagi para rasl yang diutus dari kalangan manusia. Lantas adakah para rasl yang diutus bukan dari

kalangan manusia? Para malaikat pun disebut sebagai ras l dalam alQurn. Allh berfirman:

Segala puji kepunyaan Allh, Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, Dzat yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusanutusan.... [Srah Fthir {35}:2]

Allh memilih rasl-rasl-Nya dari malaikat dan dari manusia. Sesungguhnya Allh Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Surah alHajj {22}:76] Salah satu tugas dari rasl malaikat itu adalah menyampaikan rislah dan mandat dari Tuhan kepada rasl manusia. Fakhr-ud-Dn ar-Rz mengatakan:


Kebanyakan para nab disepakati bahwa rislah dari Allh datang kepada mereka melalui perantaraan malaikat. Oleh karena rasl malaikat bertugas menyampaikan risalah kepada malaikat, juga membantu dan menolong-nya, maka jelaslah bahwa kedudukan rasl malaikat sejatinya adalah kh dim bagi rasl manusia. Dan oleh karena rasl malaikat adalah kh dim bagi rasl manusia, maka sebagaimana yang Abd-ul-Qhir al-Baghdd tulis:

Jumhr shahbat kami mengatakan bahwa para nab lebih mulia daripada malaikat. Jadi, perkataan Tidak mungkin seorang itu menjadi rasl kecuali setelah menjadi nab adalah aneh dan nyeleneh. Perkataan Oleh karena itulah, para ulama menyatakan bahwa Nab Muhammad(SAW) diangkat menjadi nab dengan lima ayat pertama dari Srah Al-Alaq dan diangkat menjadi rasl dengan dengan tujuh ayat pertama dari Srah Al-Mudatstsir adalah benar-benar ilegal dan tidak berdasarkan sama sekali. Kita sama-sama mengetahui bahwa Srah al-Mudatstsir ini diturunkan setelah masa fatrah wahyu selama empat puluh hari setelah turunnya wahyu pertama yang merupakan Srah Al-Alaq. Kedua Srah ini tidak ada sangkutpautnya dengan urusan sebagaimana disebutkan di atas. Tapi, sebenarnya, jika kita benar-benar menelaah kedua surat ini dengan seksama, maka akan jelaslah bagi kita bahwa kedua surat ini mengisahkan pengutusan Nab Muhammad(SAW) sebagai seorang rasl. Mengapa? Sebabnya adalah bahwa All h banyak mempergunakan Fil Amr yang menandakan perintah. Al-Allmah Ab Hayyn menafsirkan perintah sebagai berikut:


Mafl dari Iqra mahdzf (terhapus). Yakni: Bacakanlah apa yang diwahyukan kepada engkau. Jelas, ini adalah perintah untuk menyampaikan risalah yang diemban oleh Nab Muhammad(SAW). Ibn Athiyyah al-Andalus menafsirkan sebagai berikut:


Suatu pembangkitan/pengutusan untuk segenap manusia. Jelas sekali bahwa Nab Muhammad(SAW), melalui ayat ini, diperintah untuk mengumumkan risalah yang diembannya. Mandat ini adalah risalah sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

Ibn Athiyyah juga menafsirkan sebagai berikut:


Agungkanlah Dia dan sebarkanlah syar at-Nya!. Lagi-lagi ayat ini menunjukkan pengutusan Nab Muhammad(SAW) dan penzahiran misi-misi yang disematkan ke pundak beliau. Beliau juga menafsirkan sebagai berikut:


Jumhr berkata: Kata-kata ini adalah istirah dalam pemurnian perbuatan-perbuatan, jiwa, dan maksud/tujuan. Pengemban rislah memang seharusnya berbuat demikian dalam menyampaikan rislah, dan demikianlah memang yang terjadi. Hadhrat Ab Salmah(ra) menafsirkan

di sini sebagai berhala-

berhala[4]. Menyingkirkan dan menghancurkan berhala-berhala adalah satu tugas yang termaktub dalam ris lah yang dibawa oleh Nab Muhammad(SAW) dan harus beliau sebarkan dan laksanakan. Ibn Athiyyah menafsirkan sebagai berikut:


Terhadap penderitaan yang diprakarsai oleh orang -orang kfir. Inilah konsekuensi bagi seorang rasl yang wajib hukumnya untuk dihadapi. Jadi, jelaslah sudah bahwa ayat-ayat dari kedua Srah tersebut mengandung perintah bagi Nab Muhammad(SAW) untuk mengumandangkan rislah beliau kepada khalayak ramai, bukan seperti yang diklaim oleh pihak ghair di atas yang terkesan sangat memaksakan.

Tentang pendapat al-Allmah as-Safrin dan al-Hfizh Ibn Katsr, saya menghormati pendapat kedua ulam besar tersebut. Tetapi, tentu sebagai manusia, beliau berdua mungkin saja mengemukakan pendapat yang salah. Meskipun beliau berdua salah dalam ijtih d, toh dalam hadts disebutkan bahwa seorang mujtahid yang salah tetap mendapat ganjaran satu pahala. Sebenarnya, apa itu nubuwwah? mendefinisikannya seperti ini: Ibn Hazm al-Andalus


Pembangkitan/pemgutusan suatu kelompok manusia yang Allh telah mengkhususkan mereka dengan hikmah, keutamaan, dan kesucian. Bukan untuk satu tujuan tertentu melainkan karena Allh telah berkehendak demikian. Definisi ini sangat jelas menunjukkan keidentikan dan similaritas antara nubuwwah dan rislah. Sebab itu, beliau berkata lagi:


Sesungguhnya kedatangan para rasl sebelum Allh Tal membangkitkan mereka berada pada pintu kemungkinan (imkn). Tetapi, setelah Allh Azza Wa Jalla membangkitkan mereka, maka hukumnya wajib. Di lain tempat, beliau bersabda pula:


Maka, setelah kita menjelaskan bahwa nubuwwah terletak d alam kemungkinan sebelum kedatangan para nab, maka hendaknya kita mengatakan, dengan kekuasaan dan kekuatan Allh, akan hukumnya

yang wajib jika hal itu telah benar-benar terjadi (datangnya para nab) dan itu adalah pasti. Lihatlah bagaimana beliau mengidentikan rasl dengan nab. Bahkan beliau dengan terang menyatakan bahwa maqm nubuwwah belum wajib hukumnya sampai diutusnya para rasl, yakni mandat untuk mengemban rislah. Ada dua poin krusial yang dapat kita ambil dari keterangan-keterangan beliau ini: Nab dan rasl sejatinya adalah satu personifikasi yang sama Maqm nubuwwah tidak dapat terlaksana dan befungsi sebelum seseorang mendapat mandat sebagai rasl untuk mengemban rislah Keterangan-keterangan di atas adalah bukti yang irrefutable bahwa nab dan rasl sejatinya adalah dua sebutan yang penyebutannya terkondisikan terhadap kondisi-kondisi yang melahirkan dua penyebutan tersebut untuk satu orang yang sama. Dan nab sejatinya adalah istilah untuk rasl yang terpilih dari kalangan manusia. Oleh sebab itu, seseorang tidak bisa dikatakan sebagai nab sebelum ia diutus oleh Tuhan dan memperoleh maqm rislah. 2. Perkataan Rasl diutus kepada kaum yang kfir, sedangkan nab diutus kepada kaum yang telah beriman adalah gharb jiddan, saya baru pertama kali mendengarnya. Orang yang mengatakan demikian pasti sangat jarang mengkhatamkan al-Qurn, apalagi bertafakkur dan bertadabbur. Allh berfirman:

Dan tiada seorang pun nab datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya. [Srah az-Zukhrf {43}:7] Bentuk kalimat yang digunakan di sini adalah persis sama dengan yang tertulis dalam Srah Ysn:

Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba -hamba itu! Tiada seorang pun rasl datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokannya. [Srah Ysn {36}:31] Para nab tidak hanya didustakan dan diperolok-olok saja, bahkan sebagian mereka ada yang dibunuh. Kita membaca:

... Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allh. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allh dan membunuh para nab yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu terjadi karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [Srah al-Baqarah {2}:62]

... Katakanlah: Mengapa kamu dahulu membunuh nab-nab Allh jika benar kamu orang-orang yang beriman?. [Srah al -Baqarah {2}:92]

Sesungguhnya orang-orang yang kfir kepada ayat-ayat Allh dan membunuh para nab yang memamg tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yg pedih. [Srah li Imrn {3}:22]

... Yang demikian itu karena mereka kfir kepada ayat-ayat Allh dan membunuh para nab tanpa alasan yang benar.... [Srah li Imrn {3}:113]

... Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nab-nab tanpa alasan yang benar.... [Srah li Imrn {3}:182]

... Dan pembunuhan mereka terhadap nab-nab tanpa alasan yang benar.... [Srah An-Nis {4}:156] Bagaimana dengan para rasl? Ternyata, mereka pun mengalami perlakuan yang sama dengan para nab. Mereka pun bukan sekedar menjadi kfir di mata orang -orang yang mendustakan, bahkan sebagian dari antara mereka pun dibunuh. Kita membaca:

... Apakah setiap datang kepadamu seorang rasl membawa sesuatu pelajaran yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang diantara mereka kamu dustakan dan beberapa orang yang lain kamu bunuh?. [Srah alBaqarah {2}:88] Keterangan-keterangan dari al-Qurn di atas membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa nab dan rasl itu satu orangnya. Berkenaan dengan hadts yang dikutip oleh penulis ghair Ahmad, itu tidak ada pertaliannya dengan topik yang sedang dibahas. Hadts itu menerangkan sistem kepemimpinan rhniyyah yang berlangsung di dalam Ban Isrl. Nah, jika kita memperhatikan dengan seksama, gerangan apa yang menyebabkan diutusnya para nab secara konsekutif di dalam Ban Isrl? Jawabannya adalah karena mereka memiliki moral dan rhniyyah yang rendah sehingga selalu membutuhkan quwwat qudsiyyah dan nafs nthiqah para nab. Mereka bukanlah suatu ummat yang mandiri dan teguh, sebaliknya senantiasa membutuhkan bimbingan dan keras kepala. Terbukti, meskipun ribuan nab diutus untuk mengadakan ishlh bagi mereka, mereka malah semena-mena membunuh mereka karena tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka.

3. Perkataan Para rasl diutus dengan membawa syar at baru adalah salah. Di point pertama sudah saya jelaskan bahwa Nab Ismal (as) pun disebut sebagai seorang rasl, namun beliau hanya mengikuti dan menjalankan syarat Nab Ibrhm(as). Ayat-ayat yang dikutip untuk mendukung pemahaman sang penulis pada dasarnya tidak mendukung sama sekali. Penulis terkesan terlalu memaksakan legitimasi ayat-ayat untuk menyokong pemahaman beliau. Baiklah, kita bahas ayatnya satu per satu. Penulis tidak mengutip ayat Srah al-Midah itu secara lengkap dan utuh. Terjemah utuhnya adalah sebagai berikut: Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qurn dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allh turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allh menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allh-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. Ayat ini sejatinya menerangkan peran al-Qurn sebagai penjaga kitab-kitab terdahulu dalam artian bahawa al-Qurn telah mempertahankan kebenaran-kebenaran yang terdapat pada kitabkitab itu dengan mencakup kesemuanya itu di dalam wujudnya. AlQurn di satu sisi juga meninggalkan segala cacat dan kekurangan yang terdapat pada kitab-kitab terdahulu itu karena sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Sebaliknya, al-Qurn memenuhi seluruh kebutuhan manusia sepanjang zaman. Dan alQurn juga mendapat proteksi Ilhiyyah terhadap kemurnian dan keasliannya. Oleh karena itu, kita wajib berhukum kepada al-Qurn tentang segala permasalahan.

Apabila kita tidak teliti membaca, maka dhamr ayat itu. Sedangkan kata

akan terkesan

merefer kepada rasl, padahal tidak ada kata rasl sama sekali dalam

dan merujuk kepada al-Qurn.

Ab al-Abbs ibn Yazd al-Mubarrad, sebagaimana dikutip oleh asySyaukan, mengatakan bahwa berarti permulaan jalan dan berarti jalan yang berkesinambungan. Ab al-Husayn Ahmad ibn Fris mengatakan bahwa menafsirkan berarti

adalah musytaqq dari

yang

berarti hukum dalam perkara agama. Hadhrat Ibn al-Abbs(ra)

sebagai

yakni agama, sedangkan

yakni pathway. Hadhrat al-Mushlih al-Maud(ra)

menyimpulkan bahwa

adalah hukum yang mengatur perkara


mengatur perkara-perkara

perkara keagamaan, sedangkan

duniawi. Semua keterangan ini menunjukkan bahwa kedua kata itu merefer pada al-Qurn, bukan kepada syarat-syarat para rasl. Penulis beranggapan bahwa Nab s(as), selaku seorang rasl, beliau datang dengan syarat tersendiri dan mengubah beberapa hukum syarat Nab Ms(as). Dengan berkata seperti ini, penulis sama saja memansukhkan pernyataan beliau selanjutnya yang berbunyi: Adapun para nab, mereka datang bukan dengan syarat baru, akan tetapi hanya menjalankan syarat rasl sebelumnya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada nab-nab Ban Isrl, kebanyakan mereka menjalankan syarat Nab Ms(as). Sejatinya, s(as), sama seperti para rasl sesudah Ms(as), hanya menjalankan syarat beliau. Kita membaca:

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Alkitab kepada Ms, dan Kami menyusulinya berturut-turut sesudah itu dengan raslrasl.... [Srah al-Baqarah {2}:88]

Ayat ini dengan terang membantah argumentasi penulis tersebut. Para rasl di atas berfungsi sebagai pengikut dan pelaksana syarat Nab Ms(as), bukan penyandang syarat yang berbeda-beda. Kita mengetahui bahwa s(as) termasuk di antara para rasl tersebut. Kita membaca:

Dan Kami iringkan jejak mereka (nab-nab Ban Isrl) dengan s ibn Maryam.... [Srah al-Midah {5}:47] Semua nab Ban Isrl yang diutus setelah Nab Ms(as) berhukum dan tunduk kepada Taurt.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurt di dalamnya ada petunjuk dan cahaya, yang dengannya diputuskan perkara orangorang Yahudi oleh nab-nab yang berserah diri kepada Allh.... [Srah al-Midah {5}:45] Point pertama yang kita dapat adalah bahwa s(as) hanyalah seorang pengikut syarat msawiyyah, yang tunduk dan berhukum berdasarkan apa yang ada di dalam Taurt. Setelah ini jelas, maka perkataan beliau Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian pasti mengandung mafhm yang lain. Hadhrat al-Mushlih al-Maud(ra) menerangkan: s(as) datang untuk menggenabi nubuat-nubuat para nab terdahulu yang tercantum dalam Taurt. Tetapi, beliau tidak membawa hukum beliau, hanya menjadi pengikut Ms(as) dalam hal

ini. Beliau sendiri sadar akan terbatasnya wewenang beliau. Beliau bersabda: Janganlah kamu menyangkan, bahwa aku datang untuk meniadakan humum Taurt atau kitab para nab. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurt, sebelum semuanya terjadi. [Matius 5:17 -18] Ungkapan Dan untuk menghalalkan bagi kalian sebagian yang dulu diharamkan untuk kalian, oleh karena itu, tidaklah merefer kepada perubahan atau modifikasi apa pun dalam hukum msaw. Ungkapan itu hanyalah ditujukan kepada hal-hal yang orang-orang Yahudi sendiri mengharamkannya untuk diri mereka. Di tempat lain, alQurn berkata:

Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas memakan makanan yang baik-baik yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allh. [Srah an-Nis {4}:161] Dan:

Dan tatkala s datang membawa keterangan dia berkata: Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah kepada Allh dan taatlah kepadaku. [Srah az-Zukhrf {43}:64] Kedua ayat ini menujukkan bahwa ada pertentangan-pertentangan antara firqah-firqah Yahudi mengenai kehalalan dan keharaman halhal tertentu. Dan disebabkan oleh kelaliman dan pelanggaran mereka, mereka telah mencabut diri mereka sendiri dari berkatberkat ilhiyyah tertentu itu. Oleh karena itu s(as) datang untuk sebagai hakim untuk menentukan di dalam perkara-perkara yang mereka telah menyimpang dari jalan yang benar, dan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa berkat-berkat yang mereka telah dicabut darinya akan dikembalikan asalkan mereka mengikuti beliau. Ibn Katsr mengutip para ulam bahwa:


Beliau (s(as)) tidak memansukhkan apa pun dari Taurt. Beliau hanya menghalalkan sebagian yang mereka saling bertentangan mengenainya maka mereka salah. Maka beliau menyingkapan ha-hal yang tertutup bagi mereka dalam perkara ini. Ab Hayyn al-Andalus mengutip sebagian mufassir:


Kata apa yang diharamkan atas kamu adalah suatu isyarat yang mengarah kepada apa-apa yang para sarjana Yahudi haramkan dan inovasi dalam syarat. Jadi, seolah-olah s(as) mengembalikan hukum-hukum Taurt kepada pengetian-pengertiannya yang benar sama seperti dengan apa yang Allh turunkan. Nawwb Shiddq Hasan Khn mengutip Wahb ibn Munabbih:


Dari Wahb bahwa s(as) mengikuti syarat Ms(as). Beliau melaksanakan Sabat, menghadap Bait al-Maqdis. Dan beliau bersabda kepada Ban Isrl: Sesungguhnya aku tidaklah menyuruh kalian untuk menyelisihi bahkan satu huruf pun dari Taurt. Aku hanya menghapus beban yang dipundakkan atas kalian sebagai hasil inovasi kalian setelah Ms(as). Keterangan-keterangan ini rasanya cukup untuk mematahkan argumentasi sang penulis yang dibangun berdasarkan ayat Srat li Imrn tadi. Sekarang kita beralih ke hadts yang dikutip untuk menunjang pemahaman sang penulis. Setelah saya cek, ternyata al-Bukhr tidak mengeluarkan hadts dengan matan yang dikutip oleh sang penulis. Namun benar adanya bahwa al-Imm Muslim ibn Hajjj mengeluarkan hadts ini dalam Shahh beliau, Kitb al-Masjid Wa Mawdhi ash-Shalt. Juga bukan dari Hadhrat Jbir ibn Abdi-Llh(ra), melainkan Hadhrat Ab Hurairah(ra).

Yahy ibn Ayyb, Qutaybah ibn Sad, dan Al ibn Hujr menceritakan kepada kami, mereka berkata; Ismal (yakni Ibn Jafar) menceritakan kepada kami; dari al-Al, dari ayahnya, dari Hadhrat Ab Hurairah(ra) bahwa Hadhrat Raslu-Llh(SAW) bersabda: Aku diunggulkan di atas para nab dengan enam hal ; Aku dianugerahi perkataan yang singkat lagi padat (al-Qurn), aku ditolong dengan ketakutan dalam hati musuh, harta rampasan perang dihalalkan untukku, bumi dijadikan suci dan masjid untukku , aku diutus untuk seluruh ummat manusia, dan para nab dicap denganku.[5] Hadts ini tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah nab dan rasl. Hadts ini menjelaskan keutamaan dan keunggulan Hadhrat RasluLlh(SAW) dibanding nab-nab yang lain. Ucapan Yang mana perkara ini telah diharamkan atas ummat-ummat sebelum beliau sama sekali tidak berdasar. Pertama, interpretasi demikian tidak relevan dengan siyq hadts. Kedua, sekalipun kita kerucutkan point kepada penghalalan harta rampasan perang saja, itu pun tidak berarti bahwa hal itu diharamkan bagi ummat-ummat terdahulu. Dalam Bible kita membaca bahwa ketika Ban Isrl bertempur dan menang melawan bangsa Midian, Allh berfirman mengenai hukum rampasan perang: Hitunglah jumlah rampasan yang telah diangkut, yang berupa manusia dan hewan---engkau ini dan Imm Eleazar serta kepalakepala puak ummat itu. Lalu bagi dualah rampasan itu, kepada pasukan bersenjata yang telah keluar berperang, dan kepada segenap ummat yang lain. [Bilangan 31:26-27] Segala puji bagi Allh Yang telah mematahkan helah mereka! 4. Saya menangkap bahwa yang dimaksud penulis dengan nab-nab setelah Nh(as) dalah nab-nab yang tunduk dan patuh kepada

syarat beliau, sebagaimana pengertian dan pemahaman penulis yang membedakan nab dengan rasl. Seandainya yang diyakini penulis itu benar---sesuatu yang telah, sedang, dan akan kami buktikan kesalahannya---maka Nh(as) pun terkategorikan sebagai seorang nab, artinya beliau tidak membawa syarat dan hanya menjalankan hukum-hukum dari seorang nab musyarri sebelum beliau. Mengapa? Karena harf

yang digunakan di sini adalah

yakni kata sambung yang berfungsi menjadikan

sesuatu yang general sebagai penjelas sesuatu yang partikular. Nah, kata atau para nab yang bersifat umum di sini adalah penjelas dan penafsir dari entitas Nh(as). Maka, menurut ayat ini, Nh(as) adalah seorang nab. Dan menurut penulis tersebut, berdasarkan silogisme ini, Nh(as) tidak membawa syarat alias hanya menjadi nab pengikut saja. Tentu ini kontradiktif dengan fikiran beliau yang tertuang dan mengatakan bahwa Nh(as) adalah nab musyarri. Sang penulis beristidll dengan hadts syafat bahwa Nh(as) lah rasl pertama yang diutus oleh Allh. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan dari pernyataan beliau bahwa para utusan sebelum Nh(as) hanyalah nab, bukan rasl. Benarkah demikian? Dalam sebuah hadts yang diriwayatkan oleh Ibn Hibbn, kita membaca:

Muhammad ibn Umar ibn Ysuf mengabarkan kepada kami; Muhammad ibn Abd-ul-Malik ibn Zanjawayh menceritakan kepada kami; Ab Taubah menceritakan kepada kami, Muwiyah ibn Sallm menceritakan kepada kami; dari saudaranya Zayd ibn Sall m, dia

berkata: Aku mendengar Ab Sallm berkata: Saya mendengar Hadhrat Ab Ummah(ra) bahwa seorang laki-laki berkata: Wahai Raslu-Llh(SAW)! Apakah dam seorang nab? Beliau bersabda: Benar, mukallam. Laki-laki itu berkata lagi: Berapakah selang waktu antara beliau dengan Nh? Beliau bersabda: Sepuluh abad.[6] Dalam Trkh al-Umam Wa al-Mulk, ath-Thabar menyebutkan suatu hadts yang menyerupai hadts ini dengan tambahan

Allh menyampaikan kalm-Nya (berkata-kata) kepada dam

secara langsung berhadap-hadapan[7]. Di sini, Raslu-Llh(SAW) menyebut dam(as) sebagai nab mukallam. Kita menjumpai dalam al-Qurn:

Rasl-rasl itu Kami muliakan sebagian di antara mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan mereka dan Allh meninggikan sebagian di antara mereka beberapa derajat.... [Srah al-Baqarah {2}:254] Ini sangatlah menarik bahwa baik nab maupun rasl, Allh bercakap-cakap langsung dengan mereka. Apa maksudnya ini? Ini adalah indikasi yang jelas bahwa nab dan rasl itu sejatinya sama. Fakhr-Ud-Dn ar-Rz berkata:


Ummat ini telah berijma bahwa sebagian dari antara para nab lebih mulia daripada sebagian yang lain.

Dengan pernyataan ini, kita mengetahui pandangan ar-Rz bahwa nab dan rasl itu sama. Jika tidak, pasti beliau akan menulis

sama seperti yang tertulis dalam ayat, bukan .


Ternyata, suatu hal yang sangat mencengangkan bahwa Nabi(SAW) menyebut dam sebagai Awwal-ur-Rusul, yang pertama dari antara para rasl. Kita membaca dalam Trkh ad-Dimasyq:

Ab Nashr Muhammad ibn Hamd ibn Abdu-Llh al-Kibrt; Ab Muslim Muhammad ibn Al Mahrbazdannahw memberitakan kepada kami; Ab Bakr ibn al-Muqri memberitakan kepada kami; Ab Urbah al-Harrn menceritakan kepada kami ; Zakariyy ibn alHakam menceritakan kepada kami; Ab al-Mughrah menceritakan kepada kami; Haffn ibn Rifah menceritakan kepada kami; Al ibn Yazd menceritakan kepadaku; dari al-Qsim Ab Abd-ir-Rahmn, dari Hadhrat Ab Ummah(ra), bahwa Hadhrat Ab Dzarr(ra) berkata: Aku berkata: Wahai Nab Allh! Siapa nab yang pertama itu? Beliau bersabda? dam. Aku berkata lagi: Apakah dam itu seorang nab? Beliau bersabda: Beliau adalah nab mukallam, yang pertama di antara para rasl.[8] Ada lagi hadts lain yang mirip dengan yang di atas seperti dinukil oleh ath-Thabran dalam al-Ausath:

Al-Abbs ibn Hamdn menceritakan kepada kami, dia berkata; Muhammad ibn s ad-Dmighn menceritakan kepada kami, dia berkata; Salamah ibn Fadhl menceritakan kepada kami; dari Mkl, dari Layts, dari Ibrhm at-Taym, dari ayahnya, dari Hadhrat Ab Dzarr(ra) beliau berkata: Aku berkata: Wahai Raslu-Llh! Bukankah tuan pernah melihat dam, apakah beliau seorang nab ? Beliau menjawab: Ya, seorang nab lagi rasl. Allh bercakap-cakap kepada beliau secara langsung dengan saling berhadaphadapan. Dia berkata kepada kepada beliau: Tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun .[9]

Muhammad ibn Abbn menceritakan kepada kami; Muhammad ibn s ad-Dmighn menceritakan kepada kami; Salamah ibn Fadhl menceritakan kepada kami; dari Mkl, dari Layts, dari Ibrhm atTaym, dari ayahnya, dari Hadhrat Ab Dzarr(ra) beliau berkata: Aku berkata: Wahai Raslu-Llh! Bukankah tuan pernah melihat dam, apakah beliau seorang nab? Beliau menjawab: Ya, seorang nab lagi rasl. Allh bercakap-cakap kepada beliau secara langsung dengan saling berhadap-hadapan dengan beliau. Dia berkata kepada kepada beliau: Tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun .[10] Dalam kedua hadts ini, kata nab didahulukan di depan kata rasl. Tapi, hal ini tidak melegitimasi bahwa maqm nubuwwah itu terdahulu daripada maqm rislah. Karena kedua keduanya itu dhaf yang munkar dan muallal sehingga tidak bisa dipergunakan sebagai dall. Ath-Thabran berkomentar seusai mencantumkan hadts yang pertama:


Tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibrhm at-Taym kecuali Layts. Dan tidak ada yang meriwayatkannya dari Layts kecuali Mkl dan dia adalah Syaikh dari Kfah. Kami tidak mengetahui apakah ia mengisnadkan hadts selain ini. Dan pada hadts yang kedua:


Tidak ada yang meriwayatkannya dari Ibrhm at-Taym kecuali Layts. Juga tidak ada dari Layts kecuali Mkl (Mkl). Juga tidak ada dari Mkl kecuali Salamah ibn al-Fadhl. Dari keterangan ini, kita mengetahui ada tiga orang raw yang mutafarrid (bersendirian) dalam meriwayatkan. Menurut ilmu alMushthalahah, tafarrud itu adalah salah satu sebab illat dalam hadts. Kedua hadts ini munkar karena ada raw tunggal yang banyak kesalahan dan lemah ketsiqahannya, yakni Salamah bin alFadhl. Ibn Ad al-Jurjn mengutip al -Imm al-Bukhr


al-Hanzhal

yakni

Ishq

ibn

Ibrhm

mengkategorikannya (Salamah ibn al-Fadhl) dhaf. Al-Hanzhal, menurut al-Mizz dalam Tahdzb al-Kaml dan al-Hfizh dalam Tahdzb at-Tahdzb, adalah seorang yang terpercaya, hfizh, mujtahid, dan termasuk ulam yang mempuni dalam hafalan, keilmuan, dan kefaqihannya. Tautsq dan tadhf orang seperti beliau adalah maqbl di kalangan muhadditsn. Kembali kepada Salamah. Al-Bukhri mengatakan lagi

yakni di dalam hadts Salamah terdapat beberapa yang

munkar. Ibn Hibbn dalam al-Majrhn menyatakan Rhawayh, al-Imm Ahmad ibn Hanbal menyatakan

yakni Ibn Rhawayh menggolongkannya dhaf. Mengenai Ishq ibn


maka

Apabila Ab Yaqb (Ishq ibn menceritakan sesuatu,

Rhawayh), Amr al-Muminn, berpegang-teguhlah dengannya.

Ibn Ad dan Ibn Hibbn juga telah memasukan kedua hadts tersebut dalam kitab-kitab mereka masing-masing. Ibn Ad dalam al -Kmil dan Ibn Hibbn dalam al-Majrhn. Sampai di sini, jelaslah sudah bahwa dam(as) adalah rasl juga, karena nab dan rasl itu satu adanya. Sebagai tambahan, apa sesungguhnya makna mukallam itu? Perlu diketahui sebelumnya bahwa ungkapan Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata langsung dengan mereka dan Allh meninggikan sebagian di antara mereka beberapa derajat adalah satu kesatuan, karena harf

di sini mensignifikasikan

(kombinasi

absolut). Jadi, para rasl yang ditinggikan itu adalah karena Allh bercakap-cakap langsung dengan mereka, dan taklm Allh ini pasti akan melahirkan pengangkatan derajat. Kedua hal ini, meskipun sejatinya satu, adalah faktor mengapa Allh memuliakan sebag ian dari antara para rasl di atas yang lain. Diagramnya adalah sebagai berikut:

Lantas, apakah tafdhl atau pegutamaan yang lahir dari taklm Allh yang melahirkan Raf Darajah itu? Al-Allmah al-Als menyatakan:


Dan dikatakan: Maksud dari tafdhl adalah dengan membawa syarat. Di antara mereka ada yang membawa syarat, di antara mereka ada yang tidak membawa. Sekarang kita fokus pada hadts syafat. Dalam matan al-Bukhr disebutkan mengenai Nh(as)

, Rasl ,

pertama yang Allh bangkitkan kepada penduduk bumi [11]. Yang menarik adalah, Ibn Khuzaymah menyebutkan suatu hadts yang mirip dengan hadts tersebut tetapi menggunakan Karena beliau adalah yang pertama di antara para nab[12], berkenaan dengan Nh(as), demikian juga al-Bazzr dalam al-Bahr azZakhkhr[13]. Dalam al-Fath al-Kabr, ada zidah dari Ibn Askir bahwa

, Nab pertama yang diutus adalah Nh[14], ,


Kepala para nab[16]. Jadi, Nh(as) tidaklah

pun tersebut dalam Tafsr Ibn Ab Htim[15]. Dalam Musnad Ahmad disebutkan mutlak seorang rasl saja, tetapi juga seorang nab. Namun, mengapa

beliau disebut sebagai nab atau rasl pertama sedangkan kita mengetahui bahwa dam(as) lah nab atau rasl pertama? Kuncinya sebenarnya terletak pada kata

Ini

menunjukkan bahwa Nh(as) adalah nab yang pertama kali diutus ketika manusia mulai terpencar ke seluruh penjuru bumi. Kita membaca:

Wahai Nh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas ummat-ummat dari orangorang yang bersamamu. Dan ada ummat-ummat yang Kami beri kesenangan pada mereka, kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami. [Srah Hd {11}:49] Al-Baydhaw mengatakan berkenaan dengan ummat -ummat:


Mereka dinamakan ummat-ummat karena terhimpunnya mereka ke dalam kelompok-kelompok atau tercerai-berainya suku-suku dari ummat-ummat yang terdapat di antara mereka. Satu hal yang hendaknya diingat adalah, ayat ini jelas-jelas menyatakan bahwa bukan hanya keturunan Nh(as) yang diselamatkan dan dilipatgandakan di muka bumi, tetapi keturunanketurunan orang-orang beriman yang beserta beliau di dalam perahu juga dibuat maju dan dilipatgandakan. Hanya saja, karena keturunan Nh(as) menjadi lebih beradab dan mempunyai lebih banyak sumber

daya material di tempat alokasi mereka setelah banjir besar, mereka tersebar ke negeri-negeri lain dan menaklukkan bangsa-bangsa yang kurang berperadaban dibanding mereka, yang seiring dengan berjalannya waktu, mereka terabsorbsi dengan keturunan Nh(as), dan sebagai konsekuensinya adalah mereka menjadi punah. Hal ini diisyaratkan pada:

Dan Kami menjadikan keturunannya menjadi orang-orang selamat yang tersisa. [Srah ash-Shafft {37}:77] Siapakah keturunan beliau itu? Di dalam hadts ada terdapat:

Ab Bakr Muhammad ibn Abd-il-Bq mengabarkan kepada kami; Ab Muhammad al-Jauhar memberitakan kepada kami; Ab alQsim Abd-ul-Azz ibn Jafar ibn Muhammad al-Khiraq memberitakan kepada kami; Ahmad ibn al-Hasan ibn Abd-il-Jabbr memberitakan kepada kami; Sulaymn ibn Umar ar -Raq Ibn alAqtha memberitakan kepada kami; Muhammad ibn Salamah memberitakan kepada kami; dari Sulaymn ibn Qaram, dari az-Zuhr, dari Sad ibn al-Musayyab, dari Hadhrat Ab Hurairah(ra), dari Hadhrat Nab(SAW): Nh memiliki tiga orang anak; Sm, Hm, dan Yfits. Sm adalah bapak orang-orang Arab, Persia, Romawi, penduduk Sym, dan penduduk Mesir. Yfits adalah bapak orang-

orang yang bermata sipit dan Yajj Majj. Hm adalah bapak dari orang-orang yang berkulit hitam ini (Sudan).[17] Ketiga anak Nab Nh(as) ini sudah ada sebelum banjir besar dan mereka menyertai beliau di dalam perahu. Ibn Katsr berkata dalam al-Bidyah:


Dan telah shahh bahwa ketiga anak beliau berada bersama beliau di dalam perahu. Mereka, istri-istri mereka, dan ibu mereka. Berdasarkan riwayat-riwayat ini, terbuktilah sudah bahwa maksud penyebutan Nh(as) sebagai nab atau rasl pertama yang diutus kepada penduduk bumi adalah karena di masa beliau-lah ummat manusia mulai tersebar dan terpencar ke seluruh bumi, meskipun ini benar bahwa sudah terdapat suku-suku aboriginal di pelosokpelosok dunia. Satu hal lagi yang mendukung pendapat yang saya kemukakan adalah hadts Nab(SAW) tentang Dajjl. Dalam Sunan Ab Dwd ada tertulis:


Tidak ada seorang pun nab setelah Nh kecuali ia telah memperingatkan kaumnya tentang Dajjl.[18] Pertanyaannya adalah, mengapa nab-nab sebelum Nh(as) tidak memperingatkan kaumnya tentang Dajjl? Jawabannya adalah karena Nh(as) adalah nab pertama yang kaumnya tersebar dan tersiar ke seluruh dunia, dan beliau pun pasti mengetahui akan hal itu. Maka dari itu, beliau mewasiatkan kaum beliau supaya berhatihati dan waspada terhadap kedatangan Dajjl yang disifatkan sebagai berikut:

.
Maka aku akan keluar dan menjelajahi bumi. Aku tidak akan meninggalkan satu kota pun melainkan aku menetap di dalamnya

selama empat puluh malam, selain Makkah dan Thayyibah (Madnah).[19] Seorang nab adalah orang yang mendapat kabar-kabar ghaib dari alHadhrah al-Ilhiyyah. Kewajibannya adalah menyampaikan kabarkabar itu kepada ummatnya, baik yang berupa kabar suka maupun kabar pertakut. Nh(as) telah mengetahui bahwa suatu saat keturunan dan ummat beliau akan tersebar ke seluruh dunia. Oleh sebab itu, beliau mewanti-wanti mereka akan kedatangan Dajjl pada suatu zaman nanti. Seandainya beliau mengetahui bahwa keturunan dan ummat beliau tidak akan tersebar ke berbagai negeri, apalah gunanya peringatan beliau? Apalah faedahnya mendeskripsikan Aceh kepada seseorang yang hendak berpetualang ke Irian? 5. Jawaban untuk nomor ini sudah tercakup di dalam jawaban nomor kedua, jadi tidak perlu diulangi lagi. Selain kelima argumentasi di atas, sebenarnya masih ada beberapa argumentasi lain yang sering dipergunakan sebagai bukti bahwa nab dan rasl adalah dua personifikasi yang berbeda. Salah satunya adalah sebuah hadts panjang yang diriwayatkan oleh Hadhrat Ab Dzarr al-Ghifr(ra) di dalam Shahh Ibn Hibbn[20] bahwa jumlah para nab adalah seratus dua puluh ribu, sedangkan jumlah para rasl adalah tiga ratus tiga belas orang. Dalam Syuab al-mn[21] disebutkan seratus dua puluh empat ribu nab, demikian juga terdapat dalam al-Muntazham F Trkh al-Mulk Wa alUmam[22]. Hadts di atas sesungguhnya dhaf jiddan, sangat lemah. Di dalam sandnya ada Ibrhm ibn Hisym ibn Yahy ibn Yahy al-Ghassn adDimasyq. Ibn Ab Htim menjulukinya Kadzdzb dalam al -Jarh Wa atTadl. Ad-Dzahab menyebutkan dalam al-Mzn bahwa ia adalah matrk, yang ditinggalkan. Hadts ini juga diriwayatkan dari Yahy ibn Sad al-Qursy dalam asSunan al-Kubr[23] oleh al-Bayhaq dan al-Hilyah oleh Ab Nuaym[24]. Hadts ini dhaf seperti yang disebutkan oleh Ibn Ad dalam al -Kmil dan Ibn Hibbn dalam al-Majrhn. Ibn Ad berkata:


Yahy ibn Sad dikenal dengan hadts ini. Dan ini adalah hadts munkar dari jalan Ibn Jurayh. Dan hadts ini tidak memiliki jalur lain kecuali riwayat Ab Idrs al -Khln, al-Qsim ibn Muhammad dari Ab Dzarr, dan yang ketiga adalah hadts Ibn Jurayh. Dan ini adalah semunkar-munkarnya riwayat. Ibn Hibbn berkata:


Dia adalah seorang syakh yang meriwayatkan banyak hadts yang terbalikbalik dari Ibn Jurayh juga dari tsiqah-tsiqah lain yang acap kali menggelincirkan. Tidak boleh berhujjah dengannya jika dia bersendirian dalam meriwayatkan. Hadts ini juga diriwayatkan oleh al-Imm Ahmad dalam Musnad[25] melalui jalur al-Masd, dengan tidak menyebut jumlah para nab. Ini pun dhaf jiddan karena Ubayd ibn al-Khasykhsy adalah seorang yang majhl dan Ab Umar ad-Dimasyq seorang yang dhaf. Al-Masd sendiri, menurut Ibn Hajar al-Haytsam dalam Majma al-Bahrayn, adalah seorang yang tsiqah, namun berikhtilth (kacau). Al-Imm Ahmad juga menyebutkan satu hadts yang mirip dengan hadts di atas dengan raw -raw yang sama pula, hanya saja Wak di sini digantikan oleh Yazd ibn Hrn[26]. Bedanya adalah jumlah rasl yang disebut di sini adalah tiga ratus lima belas orang. Demikian juga tersebut dalam Musnad ath-Thaylis[27], juga dalam al-Bahr az-Zakhkhr dengan menyebut bahwa para nab lah yang berjumlah tiga ratus lima belas orang[28]. Pun al-Bayhaq menyebut hadts yang mirip dalam Syuab almn[29].

An-Nasaf dalam Bahr al-Kalm menyebutkan angka yang lebih fantastis lagi bahwa menurut beberapa kabar, jumlah para nab adalah satu juta dua ratus ribu. Setelah menjelaskan riwayat-riwayat yang saling berselisih, beliau menjelaskan: Keselamatan dalam masalah ini bahwa engkau berkata: Aku beriman kepada Allh dan segala apa yang datang dari sisi -Nya. Serta aku beriman kepada segenap nab dan rasl. Hingga engkau tidak beritiqd bahwa seorang yang bukan nab adalah nab dan seorang nab adalah bukan nab. Masih ada lagi beberapa yang dijadikan sebagai dalil untuk mensahkan bahwa nab dan rasl adalah dua pribadi yang berlainan. Mari kita simak hadts-hadts itu: Pertama kita disuguhkan dengan sebuah riwayat panjang dalam Shahh al-Bukhr. Di sini hanya akan disebutkan secara parsial saja yang langsung mengena dengan topik pembahasan:


Ditampakkan kepadaku ummat-ummat. Terlihat seorang nab berjalan sedang bersamanya ada satu ummat. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya ada satu kelompok. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya ada sepuluh orang. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya ada lima orang . Dan ada juga seorang nab yang berjalan sendirian.[30] Lagi:


Ditampakkan kepadaku ummat-ummat. Terlihat seorang nab berjalan sedang bersamanya ada seorang laki-laki. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya ada dua orang laki -laki. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya ada satu

golongan. Dan ada juga seorang nab berjalan sedang bersamanya tidak ada siapa pun.[31] Lagi:


Ditampakkan kepadaku ummat-ummat. Maka aku melihat seorang nab yang bersamanya ada satu golongan, seorang nab yang bersamanya ada seorang dan dua orang laki-laki, dan seorang nab yang tidak ada siapa pun bersamanya.[32] Dengan hadts-hadts ini, mereka berpendapat bahwa seorang nab bisa aja tidak mempunyai pengikut sama sekali. Namun seorang rasl pasti memiliki pengikut. Benarkah demikian? Dalam hadts-hadts lain disebutkan bahwa seorang nab pasti memiliki para shahbat dan hawr. Kita membaca:


Tidak ada seorang nab pun yang Allh bangkitkan di antara ummat sebelumku melainkan ia memiliki para shahbat dan hawr dari ummatnya yang senantiasa berpegang pada sunnahnya serta memimpin dengan perintahnya.[33] Lagi:


Tidak ada sama sekali seorang nab pun kecuali dia memiliki para hawr yang senantiasa mengikuti perintahnya dan mendapat petunjuk berkat sunnahnya dari kalangan para shahbatnya yang terdapat di dalam ummatnya.[34] Lagi:


Tidak ada sama sekali seorang nab pun kecuali dia memiliki paling tidak seorang hawr dari antara para shahbatnya serta para shahbat yang senantiasa mengikuti atsarnya dan memimpin dengan petunjuknya.[35] Lagi:


Allh tidak pernah membangkitkan seorang nab pun kecuali ia paling tidak memiliki seorang hawr. Lalu beliau menyebutkan Khalfah-Khalfah.[36] Hadts ini juga dinukil oleh Ibn Askir dalam at-Trkh.[37] Setelah menyimak hadts-hadts ini, kita mengetahui bahwa wajib hukumnya, dan memang demikian adanya, bagi seorang nab untuk memiliki pengikut, meskipun hanya satu orang saja. Seorang nab pasti memiliki sejumlah shahbah, dan dari antara mereka ada beberapa hawr yang merupakan teman-teman dekat serta para pemegang rahasia dan kepercayaan sang nab. Dari antara mereka inilah yang nantinya akan meneruskan tugas dan perjuangan nab tersebut dengan dipilih sebagai Khalfah. Lalu, bagaimana dengan hadts-hadts yang menyebut bahwa ada seorang nab yang akan berjalan sendirian di hari kiamat? Perlu diingat bahwa hadts-hadts itu diceritakan oleh Hadhrat Nab(SAW) dalam rangkaian peristiwa Isr yang beliau alami. Dalam redaksi at-Tirmidz[38] dan an-Nas[39] kita membaca:


Ketika Nab(SAW) mengalami peristiwa Isr . Oleh karena itu, kata yang beliau pergunakan adalah yang menurut Ibn Manzhr berarti

Menampakkan atau

memperlihatkan kepadanya. Dan ini bersesuaian dengan ayat:

... Dan tidaklah Kami jadikan ruy yang Kami tampakkan kepada engkau kecuali sebagai percobaan bagi manusia.... [Srah Ban Isrl {17}:61] Kita sudah sangat familiar dengan pembahasan Isr ini. Menurut alHfizh Ibn Hajar, Isr di sini bukanlah Isr yang terjadi di Makkah ketika pintu-pintu langit dibukakan satu persatu dan Nab(SAW) bertemu dengan para nabi, serta hal-hal lainnya. Melainkan Isr ini terjadi di Madnah setelah Hijrah. Al-Hfizh juga menerangkan bahwa kejadian ini merupakan dalil yang sah dan membenarkan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa Isr terjadi beberapa kali (taaddud). Namun tetap, menurutnya, bahwa Isr ini pun terjadi di saat Nab(SAW) tidur. Karenanya, beliau tidaklah melihat dengan mata zhahir, tetapi tepat seperti apa yang dinarasikan oleh al-Qurn:

Dan hati tidaklah berdusta tentang apa yang ia lihat. [Srah an -Najm {53}:12] Karena merupakan sebuah ruy, maka hadts-hadts di atas tidak bisa diartikan secara letterlejk. Hal-hal yang kontradiktif harus dinyatakan dalam bentuk tawl. Al-Jurjn dalam at-Tarft menyebutkan bahwa tawl secara bahasa bermakna kembali, sedangkan secara istilah bermakna mengalihkan lafazh dari maknanya yang zhahir kepada makna lain (batin) yang terkandung di dalamnya, apabila makna yang lain itu sesuai dengan al-Qurn dan as-Sunnah. Al-Ghazl dalam al-Musthashf malah menuturkan bahwa tawl menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditunjukkan oleh lafazh zhahir. Ingatlah bahwa ruy para nab adalah wahyu yang shdiq dan shlih. Persoalannya hanya bagaimana hal itu

ditawlkan dan ditabrkan sesuai dengan kaedah-kaedah al-Qurn dan asSunnah. Ibn Sirn mengutip hadts bahwa

Jika kamu kesulitan dalam mentawlkan ruy, maka ambillah namanama[40]. Ini adalah keterangan yang sangat jelas untuk kita. Dalam hadtshadts yang menceritakan tentang Isr di atas, kita disuguhi suatu kenyataan bahwa ada seorang nab yang berjalan sendirian. Ada juga yang berjalan bersama seorang laki-laki, dua orang, lima orang, sepuluh orang, dan seterusnya. Ini merupakan suatu perselesihan dengan hadts yang mengatakan bahwa setiap nab pasti memiliki paling tidak satu hawr. Bagaimana kita mensingkronisasinya? Menurut hemat saya, kesulitan itu terletak pada kata

. Dari kata inilah akan terbentuk kata-kata ,


dan terakhir

, , , , ,

Bila kita

mengartikan secara harfiyyah, yakni seorang laki-laki, maka kita akan menemukan kontradiksi. Tetapi, berdasarkan hadts Ibn Sirn di atas, jika kita mendapatkan kesulitan, yang kontradiksi adalah salah satu di antaranya, maka kita harus mengambil arti dari sisi yang lain. Saya berpendapat bahwa kata memiliki arti

di sini

bermakna

( ar-Rajln)

yang

Dan kata

ini merujuk kepada apa yang

disebut dalam hadts:


Dahulu seorang nab dibangkitkan hanya untuk kaumnya saja, tetapi aku dibangkitkan untuk seluruh ummat manusia.[41] Setiap nab memiliki kaum. Kaum itu bisa terdiri dari satu qablah saja, atau gabungan beberapa qablah. Kata

(satu orang laki-laki).

mengindikasikan bahwa nab yang berjalan bersama dengannya hanya memiliki satu qablah yang merupakan bagian dari satu kaum yang besar. Demikian juga kata

mengindikasikan bahwa nab itu memiliki dua

qablah yang juga masih dalam lingkup satu kaum yang besar. Kata

mengindikasikan bahwa nab itu membawahi lima qablah. Kata adalah tashghr dari

, sebutan untuk suatu kumpulan manusia yang


berjalan

berjumlah kurang dari sepuluh. Seorang nab yang

bersamanya, berarti ia memiliki kurang dari sepuluh qablah. Seorang nab yang berjalan bersamaan dengannya berarti ia diutus untuk sepuluh qablah. Kata

mengindikasikan suatu kumpulan manusia dari tiga

atau tujuh sampai dengan sepuluh. Nab yang berjalan bersamanya berarti memiliki jumlah qablah demikian. Kata adalah yang bermakna

bermakna

Kumpulan yang besar dari sekelompok manusia. Puncak dari semuanya

, Jumlah yang banyak. Nah, seusai kita

mengetahui satu per satu makna dari kata-kata itu, lalu bagaimanakah penjelasan implementatifnya? Seorang nab yang diutus kepada suatu ummat, yang merupakan gabungan yang besar dari banyak qablah, biasanya adalah nab musyarri atau bisa juga seorang nab yang bertugas memelihara dan membimbing ummat nab musyarri itu secara keseluruhan. Misalnya Nab s (as) yang diutus kepada dua belas qablah Ban Isrl yang sejatinya merupakan satu ummat dari seorang nab musyarri, yakni Nab Ms(as). Nab-nab yang hanya diutus kepada satu, dua, lima, atau sepuluh qablah pasti bukan merupakan nab musyarri, melainkan hanya menjalankan syarat seorang nab musyarri, dan itupun terbatas dan tidak menyeluruh k epada satu ummat secara penuh dan keseluruhan. Misalnya Nab Yahy(as) yang diutus hanya kepada dua qablah Ban Isrl di Palestina pada zaman beliau, Yehuda dan Benyamin, serta beberapa anggota Lewi dan Simeon, untuk menyiarkan kabar suka akan kedatangan al-Mash(as). Lantas, bagaimana dengan nab yang berjalan sendirian sebagaimana tersebut dalam hadtshadts di atas? Hal itu berarti bahwa nab yang demikian itu merupakan seorang nab pengikut dan pembantu yang hidup sezaman dengan seorang nab musyarri. Ia tidak memiliki satu qablah secara patikular dan spesifik karena ia sejatinya tergolong di dalam ummat nab musyarri itu. Ia dibangkitkan dan diutus sebagai pembantu bagi nab musyarri itu. Misal

yang konkrit adalah Nab Hrn(as) yang diutus untuk membantu Nab Ms(as). Kita membaca dalam Kitbu-Llh:

Dan jadikanlah seorang wazr (pembantu/penolong) untukku dari antara keluargaku. Yaitu Hrn, saudaraku. [Srah Thh {20}:30-31] Tawl ini sama sekali tidak bertentangan dengan al -Qurn dan asSunnah. Justru menghilangkan kerancuan dan kontradiksi antara hadtshadts yang mengatakan bahwa ada nab yang berjalan sendirian (tidak memiliki pengikut sedikit pun) dengan hadts-hadts yang mengatakan bahwa paling tidak ada seorang pengikut bagi setiap nab. Malahan, ini adalah tawl yang kuat dan benar, sesuai dengan al-Qurn, as-Sunnah, siyq dan sibq hadts.

CATATAN KAKI
[1] Keterengan bahwa Basmalah adalah ayat pertama dari setiap Srah dalam al-Qurn sudah saya bahas dalam bahasa Inggris di blog saya ini: http://nafirizaman.blogspot.com/2013/09/is-bismi-llah-ar-rahmanar-rahim-first.html [2] [3] Shahh Muslim, Kitb Shalt al -Mufassirn, Bb Islmu Amr ibn Abasah, no. 832. Shahh al-Bukhr, Kitb al-Wudh, Bb Fadhlu Man Bta Al alWudh, no. 244. Shahh al-Bukhr, Kitb at-Tafsr, Bb Qauluhu 4926. [5] [6] Shahh Muslim, Kitb al-Masjid Wa Mawdhi ash-Shalt, no. 523. Shahh Ibn Hibbn, Kitb at-Trkh, Bb Bad al-Wahy, Dzikr alIkhbr Amm Kna Bayna dam Wa Nh Shalawtu-Llh Alayhim Min al-Qurn, no. 6190. Trkh al-Umam wa al-Mulk, 1/151. Trkh Madnat ad-Dimasyq, 7/445. Al-Mujam al-Ausath, Bb al-Ayn, Man Ismuhu al -Abbs, no. 4259.

[4]

no.

[7] [8] [9]

[10] Al-Mujam al-Ausath, Bb al-Mm, Mas Ismuhu Muhammad, no. 7335. [11] Shahh al-Bukhr, Kitb at-Tafsr, Bb Qaulu-Llhi Tal

, no. 4776.
[12] At-Tauhd Wa Itsbtu Shifti Rabb Azza Wa Jalla, no. 459. [13] Al-Bahr az-Zakhkhr, Musnad Hadhrat Anas ibn Mlik(ra), no. 6223. [14] Al-Fath al-Kabr 1/471.

[15] Tafsr Ibn Ab Htim, Tafsr Srah al-Arf, Bb Qauluhu

, no. 8622.
[16] Musnad Ahmad, Musnad Hadhrat Anas ibn Mlik(ra), no. 13590. [17] Trkh Madnat ad-Dimasyq, 62/277. [18] Sunan Ab Dwd, Kitb as-Sunnah, Bb F ad-Dajjl, no. 4756. [19] Shahh Muslim, Kitb al-Fitan, Bb F Qishshat al-Jasssah, no. 2942. [20] Shahh Ibn Hibbn, Kitb al-Birr Wa al-Ihsn, Dzikr al-Istihbb li alMari, no. 361. [21] Syuab al-mn, Bb F al-mn Bi Rusuli-Llh Shalawtu-Llh Alayhim, no. 131. [22] Al-Muntazham F Trkh al-Mulk Wa al-Umam, 2/142. [23] Sunan al-Bayhaq, Kitb as-Siyar, Bb Mubtadi al-Khalq, no. 17711 [24] Hilyat al-Auliy, 1/166-168 [25] Musnad Ahmad, Musnad al-Anshr, no. 21546. [26] Ibid, no. 21552. [27] Musnad Ab Dwd ath-Thaylis, Musnad Ab Dzarr, no. 480. [28] Al-Bahr az-Zakhkhr, Musnad Ab Dzarr, no. 4034. [29] Syuab al-mn, Bb F ash-Shiym, no. 3576. [30] Shahh al-Bukhr, Kitb ar-Riqq, Bb Yadkhulu al-Jannah Sabna Alfan Bi Ghayri Hisb, no. 6541. [31] Shahh al-Bukhr, Kitb ath-Thibb, Bb Man Lam Yariq, no. 57 52. [32] Shahh Muslim, Kitb al-mn, Bb ad-Dall Al Dukhli Thawifi alMuslimn al-Jannata Bi Ghayri Hisb Wa L Adzb, no. 220. [33] Shahh Muslim, Kitb al-mn, Bb Baynu Kaun an-Nahy An alMunkar Min al-mn, no. 50.

[34] Al-Mujam al-Ausath, Bb al-Mm Man Ismuhu Masadah no. 9103. [35] Musnad Ahmad, Musnad Hadhrat Abdu-Llh ibn Masd(ra), no. 4402. [36] At-Trkh al-Kabr, Bb Isml, no. 334. [37] Trkh Madnat ad-Dimasyq, 31/9. [38] Al-Jmi al-Kabr, Kitb Shifat al-Qiymah Wa ar-Raqiq Wa al-Wara An Rasli-Llh Shalla-Llhu Alayhi Wa Sallama, no. 2446. [39] As-Sunan al-Kubr, Kitb ath-Thibb, Bb al-Kayy, no. 7560. [40] Muntakhab al-Kalm F Tafsr al-Ahlm, h. 16. [41] Shahh al-Bukhr, Kitb at-Tayammum, Bb at-Tayammum, no. 335.

DAFTAR PUSAKA
Ad-Dimasyq, Ab al-Qsim Al ibn al -Hasan. 1997 M/1418 H. Trkh Madnat ad-Dimasyq v. 7. Beirut: Dr al-Fikr Ad-Dimasyq, Ab al-Qsim Al ibn al -Hasan. 1997 M/1418 H. Trkh Madnat ad-Dimasyq v. 31 Beirut: Dr al-Fikr Ad-Dimasyq, Ab al-Qsim Al ibn al -Hasan. 1997 M/1418 H. Trkh Madnat ad-Dimasyq v. 62. Beirut: Dr al-Fikr Ad-Dimasyq, Ab al-Fid Isml ibn Umar ibn Katsr. 1998 M/1419 H. AlBidyah Wa an-Nihyah v. 1. Kairo: Hijr Ad-Dimasyq, Ab al-Fid Isml ibn Umar ibn Katsr. 1997 M/1418 H. Tafsr al-Qurn al-Azhm v. 3. Riydh: Dr Thayyibah Adz-Dzahab, Syams-ud-Dn Muhammad ibn Ahmad. 1995 M/1416 H. Mzn al-Itidl F Naqd ar-Rijl v. 1. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Ahmad, Hadhrat Mirz Basyr-ud-Dn Mahmd. 2005 M/1426 H. At-Tafsr al-Kabr v. 5. London: asy-Syirkah al-Islmiyyah Ahmad, Hadhrat Mirz Basyr-ud-Dn Mahmd. 1998. The Holy Qurn With Translation And Commentary v. 2. London: Islm International Publications Limited Ahmad, Hadhrat Mirz Basyr-ud-Dn Mahmd. 1998 M. The Holy Qurn With Translation And Commentary v. 3. London: Islm International Publications Limited Ahmad, Hadhrat Mirz Basyr-ud-Dn Mahmd. 1998 M. The Holy Qurn With Translation And Commentary v. 4. London: Islm International Publications Limited Ahmad, Hadhrat Mrza Basyr-ud-Dn Mahmd. 1998 M. The Holy Qurn With Translation And Commentary v. 5. London: Islm International Publications Limited Ahmad, Hadhrat Mirz Ghulm. 2007 M. A Misconception Removed. London: Islm International Publications Limited

Ahmad, Hadhrat Mirz Ghulm. 2006 M. Divine Manifestations. London: Islm International Publications Limited Ahmad, Hadhrat Mirz Ghulm. 2005 M. The Will. London: Islm International Publications Limited Al, Maulaw Sher. 2004 M. The Holy Qurn: Arabic Text And English Translation. London: Islm International Publications Limited Al-Als, Ab al-Fadhl Mahmd. 1353 H. Rh al-Man F Tafsr al-Qurn al-Azhm Wa as-Sab al-Matsn v. 3. Beirut: Idrah ath-Thibah alMunriyyah Al-Andalus, Ab Hayyn Muhammad ibn Ysuf. 1993 M/1413 H. Al-Bahr al-Muhth v. 8. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Andalus, Ab Muhammad Abd-ul-Haqq ibn Athiyyah. 2002 M/1423 H. Al-Muharrar al-Wajz F Tafsr al-Kitb al-Azz. Beirut: Dr Ibn Hazm Al-Anshr. Ibn Hisym. 2000 M/1421 H. Mughn al-Labb An Kutub alArb v. 3. Kuwait: as-Silsilah at-Turtsiyyah Al-Asqaln, Ahmad ibn Al ibn Hajar. 2001 M/1421 H. Fath al-Br Bi Syarh Shahh al-Bukhr v. 11. Riydh: Maktabah al -Malik Fahd alWathaniyyah Atsn an-Nasyr Al-Asqaln, Ahmad ibn Al ibn Hajar. 2008 m/1429 H. Tahdzb at-Tahdzb v. 1. Beirut: Muassasat ar-Rislah Al-Baghdd, Ab Bakr Ahmad ibn Al al-Khathb. 2001 M/1422 H. Trkh Madnat as-Salmah v. 4. Beirut: Dr al-Gharb al-Islm Al-Baydhw, Ab al-Khayr Abdu-Llh ibn Umar. 1998 M/1418 H. Anwr at-Tanzl Wa Asrr at-Tawl v. 3. Beirut: Dr Ihy at-Turts al-Arab Al-Bayhaq, Ab Bakr Ahmad ibn al-Husayn. 2003 M/1424 H. As-Sunan alKubr v. 9. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Bayhaq, Ab Bakr Ahmad ibn al-Husayn. 2000 M/1421 H. Syuab almn v. 1. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Bayhaq, Ab Bakr Ahmad ibn al-Husayn. 2000 M/1421 H. Syuab almn v. 3. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah

Al-Bazzr, Ab Bakr Ahmad ibn Amr. 1997 M/1418 H. Al-Bahr azZakhkhr v. 6. Madnah: Maktabah al -Ulm Wa al-Hikam Al-Bukhr, Ab Abdi-Llh Muhammad ibn Isml. 1361 H. At-Trkh alKabr v. 1. Hyderabad: Dirah al-Marif al-Utsmniyyah Al-Bukhr, Ab Abdi-Llh Muhammad ibn Isml. 2006 M/1427 H. Shahh al-Bukhr. Riydh: Maktabah ar-Rusyd Al-Ghazl, Ab Hmid Muhammad ibn Muhammad. 1413 H. Al-Mustashf Min Ilm al-Ushl. Madnah: al-Jmiah al-Islmiyyah Al-Hanaf, Qdh al-Qudhh Ab Sud ibn Muhammad. Tanpa tahun. Irsyd al-Aql as-Salm Il Mazy al-Kitb al-Karm v. 3. Kairo: Mathbaah asSadah Al-Hanaf, Qdh al-Qudhh Ab Sud ibn Muhammad. Tanpa tahun. Irsyd al-Aql as-Salm Il Mazy al-Kitb al-Karm v. 5. Kairo: Mathbaah asSadah Al-Haytsam, Syihb-ud-Dn Ahmad ibn Hajar. 1992 M/1413 H. Majma alBahrayn F Zawid al-Mujamayn. Riydh: Maktabah ar-Rusyd Al-Ibrhm, Dr. Muhammad ath-Thayyib. 2011 M/1432 H. Irb al-Qurn al-Karm. Beirut: Dr an-Nafis Al-Ishfahn, Ab Nuaym Ahmad ibn Abdi-Llh. 2007 M/1428 H. Hilyat alAuliy Wa Thabaqt al-Ashfiy v. 1. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Jurjn, Ab Ahmad Abdu-Llh ibn Ad. 1997 M/1418 H. Al-Kmil F Dhuaf ar-Rijl v. 4. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Jurjn, Ab Ahmad Abdu-Llh ibn Ad. 1997 M/1418 H. Al-Kmil F Dhuaf ar-Rijl v. 9. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Al-Jurjn, Al ibn Muhammad. 1985. At-Tarft. Beirut: Maktabah Lubnn Al-Mishr, Ab al-Fadhl Jaml-ud-Dn ibn Muhammad. 1300 H. Lisn alArab v. 7. Beirut: Dr ash-Shdir Al-Mizz, Ysuf ibn Abd-ir-Rahmn. 2004 M/1425 H. Tadzhb al-Kaml F Asm ar-Rijl v. 1. Kairo: Dr al-Frq al-Hadtsah

Al-Qanj, Nawwb Shiddq Hasan Khn. 1992 M/1422 H. Fath al-Bayn F Maqshid al-Qurn v. 3. Beirut: al-Maktabah al-Ashriyyah An-Nas, Ab Abd-ir-Rahmn Ahmad ibn Syuayb. 2001 M/1421 H. AsSunan al-Kubr v. 7. Beirut: Muassasat ar-Rislah An-Nasaf, Maymn ibn Muhammad. 2000 M/1421 H. Bahr al-Kalm. Damaskus: Maktabah Dr al-Farfr An-Naysbr, Ab al-Husayn Muslim ibn Hajjj. 1992 M/1412 H. Shahh Muslim. Kairo: Dr al-Hadts An-Naysbr, Muhammad ibn Ishq ibn Khuzaymah. 1988 M/1408. AtTauhd Wa Itsbt Shift Rabb Azza Wa Jalla . Riydh: Dr ar-Rusyd Ar-Rghib, Ab al-Qsim al-Husayn ibn Muhammad. 1999 M/1419 H. AlMufradt F Gharb al-Qurn. Beirut: Dr al-Marifah Ar-Rz, Fakhr-ud-Dn ibn al-Al. 1981 M/1401 H. Mafth al-Ghayb v. 5. Beirut: Dr al-Fikr Ar-Rz, Ibn Ab Htim. 1953 M/1372 H. Al-Jarh Wa at-Tadl v. 1. Beirut: Dr al-Kutub al-Ilmiyyah Ar-Rz, Ibn Ab Htim. 1997 M/1417 H. Tafsr al-Qurn al-Azhm v. 5. Riydh: Maktabah Nizr al-Bz As-Sijistn, Ab Dwd Sulaymn ibn al-Asyts. 2009 M/1430. Sunan Ab Dwd v. 7. Damaskus: Dr ar-Rislah al-lamiyyah As-Suyth, Jall -ud-Dn Abd-ur-Rahmn ibn Ab Bakr. 2003 M/1423 H. AdDurr al-Mantsr F at-Tafsr Bi al-Matsr v. 5. Kairo: Markaz Hijr Li alBuhts Wa ad-Dirst al-Arabiyyah al-Islmiyyah As-Suyth, Jall-ud-Dn Abd-ur-Rahmn ibn Ab Bakr. 1932 M/1351 H. AlFath al-Kabr F Dhamm Ziydat al -Jmi al-Kabr v. 1. Beirut: Dr al-Kitb al-Arab As-Suyth, Jall-ud-Dn Abd-ur-Rahmn ibn Ab Bakr. 1994 M/1415 H. Tadrb ar-Rw F Syarh Taqrb an -Nawaw v. 1. Riydh: Maktabah alKautsar

At-Tamm, Muhammad ibn Hibbn. 1992 M/1422 H. Al-Majrhn v. 1. Kairo: Dr al-Marif At-Tamm, Muhammad ibn Hibbn. 1992 M/1422 H. Al-Majrhn v. 3. Kairo: Dr al-Marif At-Tamm, Muhammad ibn Hibbn. 1993 M/1414 H. Shahh Ibn Hibbn v. 2. Beirut: Muassasat ar-Rislah At-Tirmidz, Ab s Muhammad ibn s. 1996. Al-Jmi al-Kabr v. 4. Beirut: Dr al-Gharb al-Islm Asy-Syaukan, Muhammad ibn Al. 1994 M/1415 H. Fath al-Qadr al-Jmi Bayna Faniyy ar-Riwyah Wa ad-Diryah v. 2. Dr al-Waf: Lajnah atTahqq Wa al-Bahts al-Ilm Asy-Syaybn, Ab Abdi-Llh Ahmad ibn Hanbal. 1999 M/1420 H. Musnad Ahmad v. 35. Beirut: Muassasat ar-Rislah Asy-Syrz, Ab Ishq Ibrhm ibn Al. 1983 M/1403 H. At-Tabshirah F Ushl al-Fiqh. Beirut: Dr al-Fikr Ath-Thabar, Ab Jafar Muhammad ibn Jarr. 2001 M/1412 H. Jmi alBayn An Tawl yi al-Qurn v. 18. Kairo: Hijr Ath-Thabar, Ab Jafar Muhammad ibn Jarr. 1969 M. Trkh ar-Rusul Wa al-Mulk v. 1. Kairo: Dr al-Marif Ath-Thabrn, Ab al-Qsim Sulaymn ibn Ahmad. 1995 M/1415 H. AlMujam al-Ausath v. 4. Kairo: Dr an-Nsyir Ath-Thabrn, Ab al-Qsim Sulaymn ibn Ahmad. 1995 M/1415 H. AlMujam al-Ausath v. 7. Kairo: Dr an-Nsyir Ath-Thabrn, Ab al-Qsim Sulaymn ibn Ahmad. 1995 M/1415 H. AlMujam al-Ausath v. 9. Kairo: Dr an-Nsyir Ath-Thahn, Dr. Mahmd. 1415 H. Taysr Musthalahat al-Hadts. Alexandria: Markaz al-Hady Li ad-Dirst Ath-Thaylis, Sulaymn ibn Dwd. 1999 M/1420 H. Musnad Ab Dwd ath-Thaylis v. 1. Kairo: Hijr

Az-Zabd, Murtadh al-Husayn. 1965 M/1385 H. Tj al-Urs Min Jawhir al-Qms v. 1. Kuwait: Mathbaah Hukmat Kuwait Azh-Zhhir, Ibn Hazm. 1996 M/1416 H. Al-Fishal F al-Milal Wa an-Nihal v. 1. Beirut: Dr al-Habl Farid, Malik Ghulam. 1987 M. Al-Qurn Dengan Terjemahan Dan Tafsir Singkat. Jakarta: Guna Bakti Grafika Ibn Arab, asy-Syaykh al-Akbar Muhy-id-Dn. 1980 M/1400 H. Fushs alHikam. Beirut: Dr al-Kitb al-Arab Ibn Sirn, Muhammad. 2002 M/1423 H. Muntakhab al-Kalm F Tafsr alAhlm. Beirut: Dr al-Marifah Ibn Zakariyy, Ab al-Husayn Ahmad ibn Fris. 1979 M/1399 H. Mujam Maqys al-Lughah v. 3. Beirut: Dr al-Fikr Lembaga Alkitab Indonesia. 2007 M. Alkitab. Jakarta: Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia Mujamma al-Lughah al-Arabiyyah. 2004 M/1425 H. Al-Mujam al-Wasth. Kairo: Maktabah asy-Syurq ad-Dauliyyah Nazir, Qazi Mohammad. Tanpa tahun. Truth Prevails. Rabwah: Naz hr Isyat Wa Tashnf Yayasan Penyelenggara Penterjemah al-Qurn. 1998. Al-Qurn Dan Terjemahnya. 1986 M/1407 C. Bandung: Gemah Risalah Press