Anda di halaman 1dari 13

J urnal Dialog Balitbang Kemenag RI

No. 69, Tahun XXXIII, J uli 2010, hlm. 80 - 93



TINGKAT SUKU BUNGA BANK KONVENSIONAL DAN
PENGARUHNYA TERHADAP PENETAPAN PERSENTASE BAGI HASIL
DI BANK SYARIAH

Oleh : M. Nur Rianto Al Arif
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah J akarta

Abstract
The aim of this research is to analyze the influence of conventional banking interest
rate as one of the factor to make the decision of profit sharing yield in Islamic
banking. This research used distributed-lag regression to analyze the influence of
interest in this period, the interest of past period for the decision of yield profit
sharing in Islamic banking. The results of this research show us that interest has a
significance influence in the decision for yield of profit sharing in Islamic banking. It
means the yield profit sharing decision in Islamic banking could not release the
influence of conventional banking as one the factor that used as a benchmark.

Keywords:
Interest rate, yield of profit sharing, distributed-lag, Islamic banking, conventional
banking.

Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh tingkat suku bunga bank
konvensional sebagai salah satu faktor dalam penentuan marjin bagi hasil di bank
syariah. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi distributed-lag untuk
menganalisis pengaruh tingkat suku bunga pada periode ini, tingkat suku bunga pada
periode sebelumnya terkait hubungannya dengan penentuan marjin bagi hasil di bank
syariah. Hasil yang ditemukan pada penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat suku
bunga bank konvensional secara signifikan memengaruhi dalam penentuan marjin
bagi hasil di bank syariah. Hal ini memberi makna bahwa dalam penentuan marjin
bagi hasil di bank syariah tidak dapat dipisahkan dari pengaruh dalam penentuan
tingkat suku bunga bank konvensional sebagai acuan.

Kata Kunci:
Tingkat suku bunga, tingkat bagi hasil, distributed-lag, bank syariah, bank
konvensional

1
TINGKAT SUKU BUNGA BANK KONVENSIONAL DAN
PENGARUHNYA TERHADAP PENETAPAN PERSENTASE BAGI HASIL
DI BANK SYARIAH
Oleh : M. Nur Rianto Al Arif

A. Latar Belakang Masalah
Sejak awal 1970-an, gerakan Islam di tingkat nasional telah memasuki bidang
ekonomi dengan diperkenalkannya sistem ekonomi Islam, sebagai alternatif terhadap
sistem kapitalis dan sistem sosialis. Wacana sistem ekonomi Islam itu diawali
dengan konsep ekonomi dan bisnis non ribawi. Salah satu tonggak bersejarah dalam
penerapan sistem ekonomi Islam di Indonesia diawali dengan diakuinya perbankan
syariah dalam Undang-Undang no. 7 tahun 1992 tentang perbankan, meskipun dalam
Undang-undang tersebut belum dinyatakan sebagai bank syariah tetapi bank dengan
sistem bagi hasil. Hal inilah yang menjadi dasar lahirnya bank Muamalat sebagai
bank syariah pertama di Indonesia. Walaupun lahirnya bank syariah di Indonesia
sedikit terlambat bila dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya.
Perkembangan dunia perbankan telah terlihat semakin kompleks, dengan
berbagai macam jenis produk dan sistem usaha dalam berbagai keunggulan
kompetitif. Kekompleksitasan ini telah menciptakan suatu sistem dan pesaing baru
dalam dunia perbankan, bukan hanya persaingan antar bank tetapi juga antara bank
dengan lembaga keuangan. Hal yang paling mencolok adalah adanya 2 sistem
pengembalian uang nasabah, yaitu sistem bunga dan sistem bagi hasil yang keduanya
berasal dari 2 jenis bank yang berbeda. Bank konvensional memberlakukan sistem
bunga dan bank syariah menggunakan sistem bagi hasil.
Tabel 1
Perbedaan Kelembagaan Bank Syariah dan Bank Konvensional
No Bank Syariah Bank Konvensional
1 Berinvestasi pada usaha yang halal Bebas nilai
2 Prinsip bagi hasil Sistem bunga
3 Besaran bagi hasil berubah-ubah
tergantung kinerja usaha
Besaran tetap
4 Profit dan falah oriented Profit oriented
5 Terdapat Dewan syariah Tidak ada lembaga sejenis

Wujud pembuktian keberhasilan bank syariah dalam melewati krisis ekonomi
telah membuahkan hasil pada saat banyak bank konvensional yang dilikuidasi karena
mengalami negative spread, dengan keluarnya UU No. 10 tahun 1998 tentang
Perbankan, setelah UU ini posisi Bank Syariah diakui secara tegas dalam sistem
perbankan nasional dengan dianutnya dual banking system dalam dunia perbankan.
Dengan UU ini perbankan syariah di Indonesia semakin berkembang dan diterima
masyarakat, hal ini terlihat dari jumlah bank syariah yang lahir, apabila pada kurun
waktu 1992-1998 jumlah bank syariah hanya ada 1 unit, maka setelah lahirnya UU
No. 10 tahun 1998 ini jumlah bank syariah di Indonesia terus bertambah baik berupa
bank umum maupun unit usaha syariah dari bank konvensional, serta Bank
Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

2
Dari sebuah riset yang dilakukan oleh Karim Business Consulting
1

diproyeksikan bahwa total aset bank syariah di Indonesia akan tumbuh sebesar
2.850% selama 8 tahun atau rata-rata tumbuh 356,25% tiap tahunnya. Sebuah
pertumbuhan yang sangat mengesankan, perkembangan ini dikarenakan adanya
kepastian di sisi regulasi serta perkembangan pemikiran masyarakat tentang
keberadaan bank syariah. Pada tahun 2008, sistem ekonomi dan keuangan syariah di
Indonesia telah semakin maju ke arah yang lebih baik dengan lahirnya UU no. 21
tahun 2008 tentang perbankan syariah. Dengan UU ini posisi perbankan syariah
semakin baik di dalam sistem keuangan Indonesia, karena terdapat UU yang secara
khusus mengatur tentang perbankan syariah. Sehingga diharapkan perbankan syariah
mampu mencapai 5% share perbankan nasional pada tahun 2009, suatu target yang
tidak tercapai pada tahun 2008. berbagai upaya harus dilakukan baik oleh institusi
perbankan syariah sendiri maupun Bank Indonesia sebagai regulator yang mengatur
tentang perbankan di Indonesia.
Berdasarkan data Bank Indonesia per November 2008, terdapat Bank Umum
Syariah sebanyak 3 (tiga) buah, Unit Usaha Syariah sebanyak 28 buah, dan BPRS
sebanyak 117 buah. Dengan total asset perbankan syariah per akhir November 2008
sebesar 47,2 triliun. Setelah lembaga perbankan, maka lembaga-lembaga keuangan
syariah lain seperti asuransi, reksadana, pasar modal dengan instrumen obligasi dan
saham yang menggunakan prinsip syariah didirikan dan mendapatkan respon positif
dari sebagian masyarakat Indonesia. Namun disadari atau tidak perkembangan
perbankan syariah masih tidak mampu lepas dari perkembangan perbankan
konvensional, di samping banyaknya perbankan konvensional yang membuka unit
usaha syariah. Hal ini mengakibatkan timbulnya pemikiran di dalam masyarakat
bahwasanya hampir tidak ada perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah,
hanya penggantian istilah dari bunga menjadi bagi hasil. Sehingga perbankan syariah
di Indonesia harus mampu membuktikan bahwasanya benar-benar terdapat
perbedaan antara perbankan syariah dengan perbankan konvensional.
Bertitik tolak dari hal di atas, penulis menganggap penting permasalahan
tersebut untuk dikaji dan ditelaah secara mendalam dalam sebuah penelitian, dan
pada kajian ini diamati apakah ada pengaruh penetapan tingkat suku bunga bank
konvensional dalam proses penetapan persentase bagi hasil di bank syariah. Adapun
penelitian ini diberi judul Tingkat Suku Bunga Bank Konvensional dan
Pengaruhnya Terhadap Penetapan Persentase Bagi Hasil di Bank Syariah

B. Permasalahan
Mengingat luasnya pembahasan yang akan dibahas dan juga agar tidak
meluasnya pembahasan, maka penelitian ini akan dibatasi dan diarahkan pada
analisis efektivitas pengaruh tingkat suku bunga bank konvensional terhadap
persentase bagi hasil bank syariah. Sebagai pembatasan masalah, tingkat suku bunga
dan persentase bagi hasil yang digunakan dalam penelitian menggunakan dasar dari
deposito berjangka waktu 1 bulan dari bank konvensional serta bank syariah.
Selanjutnya untuk mempermudah pembahasan, maka disini penulis memberikan
perumusan masalah yaitu Apakah ada pengaruh yang signifikan antara tingkat suku
bunga bank konvensional dan pengaruhnya terhadap penetapan persentase bagi
hasil di bank syariah?

1
Adiwarman A Karim. 2004. Bank Islam: Analisa Fiqh dan Keuangan. Rajawali Press: J akarta

3
C. Tujuan Penulisan
Setelah memperhatikan judul dari pembahasan ini serta latar belakang
masalah, maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis
secara empiris beberapa tujuan sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis apakah ada pengaruh yang signifikan antara tingkat suku
bunga bank konvensional periode saat ini dengan penetapan persentase bagi hasil
di bank syariah.
2. Untuk menganalisis apakah ada pengaruh yang signifikan antara tingkat suku
bunga bank konvensional periode sebelumnya dengan penetapan persentase bagi
hasil di bank syariah

D. Hipotesis
Selanjutnya hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah:
1. Hipotesis pertama
Ho = tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat suku bunga
bank konvensional periode saat ini dan persentase bagi hasil di bank syariah
H
1
= terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat suku bunga bank
konvensional periode saat ini dan persentase bagi hasil di bank syariah
2. Hipotesis kedua
Ho = tidak terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat suku bunga
bank konvensional periode sebelumnya dengan persentase bagi hasil di
bank syariah
H
1
= terdapat pengaruh positif dan signifikan antara tingkat suku bunga bank
konvensional periode sebelumnya dengan persentase bagi hasil di bank
syariah


E. Kerangka Teori
1. Teori Bunga
Dari manuskript sejarah yang masih tersisa diperoleh keterangan bahwa praktek
pembungaan uang telah lama dikenal. Plato dalam bukunya yang terkenal The Law
of Plato, telah melarang agar orang-orang jangan meminjamkan uang dengan
memungut rente. Sedangkan muridnya yaitu Aristoteles secara tegas mengutuk
sistem pembungaan uang. Aristoteles menyebutkan bahwa fungsi uang yang utama
adalah untuk memudahkan jalannya suatu transaksi perdagangan dan dalam rangka
mempermudah manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Itulah yang menjadi
penyebab mengapa Aristoteles mengutuk penggunaan uang sebagai alat untuk
menimbun kekayaan apalagi memperanakkannya, sekeping uang tidak boleh
membuat /menciptakan kepingan uang lainnya. Penentuan tingkat suku bunga bagi
suatu bank konvensional adalah penentuan harga dari komoditi yang diperjualbelikan
oleh pihak bank. Penentuan suku bunga dana yang dihimpun dari masyarakat
merupakan harga beli, sedangkan penentuan suku bunga kredit merupakan harga jual
dana bank yang bersangkutan.
Menjelang revolusi Industri di Eropa, aktifitas perdagangan dan keuangan
meningkat pesat. Pada kurun ini muncul para pakar ekonomi semisal Adam Smith,
David Ricardo, J ohn Stuart Mill, Edgeworth, Marshal, dan lain-lain. Menurut Adam
Smith dan Ricardo, bunga uang merupakan suatu ganti rugi yang diberikan oleh si
peminjam kepada pemilik uang atas keuntungan yang mungkin diperolehnya dari

4
pemakaian uang tersebut. Pada hakekatnya penumpukan barang atau modal dapat
berakibat ditundanya pemenuhan kebutuhan lain, dan orang tidak akan berbuat
demikian kalau mereka tidak mengharapkan suatu hasil yang lebih baik dari
pengorbanan yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, bunga uang adalah
hadiah atau balas jasa yang diberikan kepada seseorang karena dia telah bersedia
menunda pemenuhan kebutuhannya.
Sedangkan menurut Marshall, bunga uang dilihat dari segi penawaran
merupakan balas jasa terhadap pengorbanan bagi kesediaan seseorang untuk
menyimpan sebagian pendapatannya ataupun "jerih payah"nya melakukan
penungguan atas pendapatan yang tidak digunakannya. Mengenai tingkat suku bunga
uang yang riil (nyata), Marshal beranggapan bahwa besarnya suku bunga uang
terletak pada titik potong antara grafik permintaan dan persediaan jumlah tabungan.
J ika jumlah tabungan uang lebih besar dari permintaan akan uang yang hendak
ditanamkan, maka tingkat suku bunga uang akan turun, dan jumlah penanaman
modal akan bertambah besar hingga tercapai titik keseimbangan baru antara
tabungan dan penawaran modal. Begitu pula sebaliknya, akan terjadi bila permintaan
akan modal lebih besar dari penawarannya, maka tingkat suku bunga uang akan naik
dan penanaman modal akan berkurang. Dengan demikian, berarti anggapan dasar
teori Klasik tentang tabungan adalah jumlah tabungan selalu ditentukan oleh
besarnya suku bunga uang.
Teori Klasik mengenai bunga uang ini pada akhirnya dikritik habis-habisan
oleh para pakar ekonomi modern semacam Lord Keynes. Ia mengungkapkan
bahwasanya bunga uang bukanlah merupakan hadiah atas kesediaan seseorang untuk
menyimpan uangnya. Sebab, setiap orang bisa saja menabung tanpa meminjamkan
uangnya untuk tujuan memungut bunga uang, sedangkan selama ini telah dimaklumi
bahwa setiap orang hanya dapat memperoleh bunga uang dengan meminjamkan lagi
uang tabungannya itu. Begitu pula kalau kita melihat adanya pertambahan jumlah
tabungan masyarakat, maka fenomena bertambahnya penanaman modal dalam
jumlah yang sama dengan tabungan masyarakat adalah anggapan tidak benar,
terutama pada masa-masa resesi ekonomi atau pada saat terjadinya economic boom
(keadaan aktifitas ekonomi yang mencapai puncaknya). Pada dua keadaan seperti di
atas, yaitu pada masa resese ataupun pada waktu aktifitas ekonomi memuncak, maka
naiknya tingkat suku bunga uang tidaklah meningkatkan jumlah penanaman modal
sebagaiman yang diyakini para ekonom aliran klasik. Dari uraian di atas, maka kita
sampai pada suatu kesimpulan bahwa tingkat suku bunga uang yang tinggi maupun
yang rendah, keduanya tidak mampu mendorong kegiatan ekonomi /usaha yang
produktif, apalagi mendorong kegiatan ekonomi terutama pada saat terjadi resesi.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penentuan tingkat suku
bunga di bank konvensional adalah:
Likuiditas perekonomian
Pendapatan nasional
Pengeluaran pemerintah
2. Teori Bagi Hasil
Perbedaan prinsip yang dengan mudah dapat dikenali untuk membedakan
sistem bagi hasil pada sistem ekonomi syariah dan sistem bunga pada sistem
ekonomi konvensional adalah pada sistem return bagi nasabahnya. Bank
konvensional, sistem return-nya adalah sistem bunga yaitu persentase terhadap dana
yang disimpan ataupun dipinjamkan dan ditetapkan diawal transakasi sehingga

5
berapa nilai nominal rupiahnya akan dapat diketahui besarnya dan kapan akan
diperoleh dapat dipastikan tanpa melihat laba rugi yang akan terjadi nanti. Bank
syariah sistem return-nya adalah sistem bagi hasil (profit loss sharing) yaitu nisbah
(persentase bagi hasil) yang besarnya ditetapkan diawal transaksi yang bersifat tetap
tetapi nilai nominal rupiahnya belum dapat diketahui dengan pasti melainkan melihat
laba rugi yang akan terjadi nanti. Dalam perbankan syariah hubungan antara
nasabah dengan bank adalah dalam bentuk kemitraan. Sistem syariah tidak ada yang
dieksplotasi dan tidak ada yang mengeksploitasi, risiko yang merupakan kondisi
yang tidak pasti dimasa akan datang ditanggung bersama dan apabila mendapat
keuntungan yang tinggi juga dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan diawal.
Mengapa demikian? Karena, ekonomi syariah melarang sesuatu (misalnya laba atau
rugi) yang tidak pasti dimasa akan datang dibuat pasti dan ditentukan pada saat
sekarang. Di sisi lain juga melarang sesuatu yang sudah pasti dibuat menjadi tidak
pasti agar dapat melakukan spekulasi atau mengambil keuntungan untuk
kepentingannya sendiri dengan merugikan atau merusak perekonomian secara
umum.
Bagi hasil dihitung dari hasil usaha pihak bank dalam mengelola uang
nasabah. Bank dan nasabah membuat perjanjian bagi hasil berupa prosentase tertentu
untuk nasabah dan untuk bank, perbandingan ini disebut nisbah. Misalnya, 70%
keuntungan untuk nasabah dan 30% keuntungan untuk bank. Dengan sistem ini,
nasabah dan bank memang tidak bisa mengetahui berapa hasil yang pastinya akan
mereka terima. Karena bagi hasil baru akan dibagikan kalau hasil usahanya sudah
bisa ditentukan pada akhir periode. Tapi dengan sistem bagi hasil, nasabah dan bank
akan membagi keuntungan secara lebih adil daripada sistem bunga. Karena kedua
belah pihak selalu membagi adil sesuai nisbah berapapun hasilnya. Setiap produk
perbankan syariah dapat dimanfaatkan baik untuk penghimpunan dana maupun
penyaluran dana. Bagi hasil dapat dilihat baik dari aspek nasabah maupun bank. Dari
sisi nasabah bagi hasil merupakan imbalan atas dana yang mereka tempatkan di bank
syariah. Sementara dari sudut pandang bank perhitungan bagi hasil ditujukan untuk
menentukan berapa besar nisbah bagi hasil dan alokasi bagi hasil yang akan
dibagikan kepada nasabah.
Dalam penentuan bagi hasil harus memperhitungkan mengenai bobot yaitu
tingkat persentase produk pendanaan yang dapat dimanfaatkan untuk dana
pembiayaan. Dengan demikian tidak semua dana nasabah dapat dimanfaatkan untuk
pembiayaan. Hal ini dipengaruhi oleh adanya tuntutan terlaksananya sistem
prudential banking dan terpenuhinya kebutuhan likuiditas. Beberapa faktor yang
menentukan tingkat bobot adalah:
1) Tingkat Giro Wajib Minimum yang ditetapkan oleh bank sentral
2) Besarnya cadangan dana yang dibutuhkan oleh bank
3) Tingkat besarnya dana-dana yang ditarik setor oleh nasabah atau investor
Penentuan nisbah bagi hasil sangatlah penting untuk mendapatkan tingkat
bagi hasil yang diterima oleh nasabah. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan nisbah bagi hasil adalah tingkat bagi hasil yang ditetapkan bank
kompetitor serta tingkat suku bunga bank konvensional. Apabila loyalitas nasabah
dipengaruhi oleh tingkat return maka akan berdampak pada perpindahan dana
nasabah.



6
3. Hubungan Bunga terhadap Bagi Hasil
Sejak lama manusia senantiasa berkelit terhadap setiap upaya yang
menghambat segala aktifitasnya, tidak terkecuali dalam perdagangan. Dalam
prakteknya, aspek ini sepanjang sejarah manusia dipenuhi oleh perangkap-perangkap
riba yang dengan licinnya selalu berhasil menghindari larangan berbagai agama,
terutama orang-orang Yahudi dan Nashrani dengan mengemukakan dalih yang
dibuat-buat. Di Eropa sendiri, khususnya Inggris, larangan riba dikeluarkan pada
tahun 1545 oleh pemerintahan Raja Henry VIII. Pada saat itulah istilah riba (usury)
diganti dengan istilah bunga uang (interest). Istilah bunga uang dikeluarkan untuk
memperlunak sekaligus upaya untuk menghindar lewat jalan belakang terhadap
larangan riba yang waktu itu gencar didengungkan oleh para ahli filosof, pemikir
maupun pihak gereja. Tetapi mereka sepakat bahwa riba (usury) terlarang, sedangkan
bunga uang (interest) dibolehkan dengan dalih demi perdagangan (bisnis) dan untuk
usaha yang produktif. Anggapan seperti ini adalah anggapan jahiliyah, yang menya-
makan aktifitas riba dengan perdagangan. Pada saat ini anggapan seperti itu
bergaung lagi. Untuk menjawab pemahaman-pemahaman yang menyamakan riba
dengan perdagangan, maka Allah SWT menurunkan penjelasan-Nya:
2T_ l!, ,l `.1, | !. `1, _ L,>., _.L,:l _. _.l ,l: .!,
l! !..| _,,l `_.. ,l _> < _,,l > ,l _. .:,l> Ls. _. ., _..! .` !.
l. .:`. _|| < _. :!s ,.l`! .>. !.l > !, _.> ___

2TOrang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya
orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka
yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), Sesungguhnya
jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Maka baginya apa yang Telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada
Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya (QS Al-Baqarah; 275)
2TDalam menjelaskan perbedaan mendasar antara perdagangan dan riba,
Maulana Abul A'la Al-Maududi mengungkapkannya sebagai berikut:
1. 2TDalam perdagangan, antara pembeli dengan penjual (pemilik barang), saling
mendapatkan pertukaran atas dasar persamaan. Si pembeli mendapatkan
keuntungan dari benda-benda yang telah dibelinya dari Si penjual, sedangkan
penjual mendapatkan keuntungan karena tenaga, pikiran, dan waktu yang
dibutuhkannya untuk mendapatkan barang tersebut demi kepentingan pembeli.
Sedangkan dalam aktifitas riba tidak akan didapatkan pembagian keuntungan atas
dasar persamaan tersebut. Si pemilik pemilik modal pasti memperoleh suatu
jumlah tertentu karena meminjamkan modalnya, akan tetapi si peminjam hanya
memperoleh "jangka waktu" untuk menggunakan modal tersebut. Sedangkan
"waktu" saja pasti tidak akan membawa keuntungan baginya. Akibatnya salah
satu pihak dalam aqad riba akan mendapatkan laba, sedangkan pihak lainnya
belum tentu memperoleh keuntungan.

7
2. Di dalam perdagangan, bagaimanapun besarnya keuntungan yang di peroleh si
pemilik modal /barang, ia akan memperolehnya sekali saja, itupun jika kedua
belah pihak menyetujuinya. Tetapi dalam praktek riba, si pemilik modal /barang
senantiasa akan memperoleh bunga uang selama pinjaman pokoknya belum dilu-
nasi. Bahkan, dengan bergesernya waktu, maka hutang yang tidak dapat dilunasi
itu akan semakin berlipat ganda dan dapat menghabiskan seluruh harta kekayaan
si peminjam.
3. Dalam perdagangan, pekerjaan dan hasil jerih payah seseorang baru akan
mendapatkan penghasilan berupa keuntungan setelah mengeluarkan tenaga dan
pikiran. Sedangkan di dalam praktek riba, seseorang hanya meminjamkan
sejumlah uang kelebihan yang tidak dipakainya, kemudian semakin lama
semakin berkembang tanpa mengeluarkan pikiran maupun tenaga. Ia tidak peduli
terhadap keadaan si peminjam. Ia merupakan sekutu yang tidak mempunyai
kepentingan sedikitpun terhadap rugi ataupun keuntungan yang mungkin diper-
oleh pihak lainnya. J uga, ia tidak pula bisa berupaya untuk membawa suatu
kerugian ataupun keuntungan yang terjadi dalam transaksi itu. Ia hanya bisa
menghasilkan bunga uang yang dibentuknya selama waktu peminjaman itu
berakhir.
Tabel 2
Perbedaan Sistem Bagi Hasil dan Sistem Bunga
No Bagi Hasil Bunga
1 Penentuan besarnya risiko bagi
hasil dibuat pada waktu perjanjian
dengan berpedoman pada
kemungkinan untung dan rugi
Penentuan suku bunga dibuat pada
waktu perjanjian dengan pedoman
harus selalu untung untuk pihak
bank
2 Besarnya nisbah bagi hasil
berdasarkan pada jumlah
keuntungan yang diperoleh
Besarnya persentase berdasarkan
pada jumlah uang (modal) yang
dipinjamkan
3 Tergantung pada kinerja usaha Tidak tergantung kinerja usaha,
karena sifat pembayaran bunga
yang tetap
4 Bagi hasil tergantung kepada
keuntungan proyek yang dijalankan
Pembayaran bunga tetap tanpa
pertimbangan proyek yang
dijalankan oleh nasabah untung
atau rugi

F. Metode Analisis
J enis penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data ini adalah jenis
penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang menekankan pada pengujian teori-teori
melalui variabel-variabel penelitian dalam angka, dan melakukan analisis secara
empiris dengan prosedur statistika atau permodelan matematis. Pendekatan ini
menggunakan pendekatan empiris dengan memakai statistik inferensial parametrik,
artinya setelah data dikumpulkan, maka dilakukan berbagai metode statistik untuk
mengolah data dan kemudian menganalisis serta menginterpretasikan hasil analisis
tersebut yang telah didapat. Dalam teknik pengumpulan data, penelitian memperoleh
dari data sekunder. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh melalui studi
dokumentasi yang ada hubungannya dengan materi penelitian. dalam hal ini data
sekunder diperoleh dari laporan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai

8
sumber utama. Dan juga diperoleh dari berbagai dokumen, literatur, dan referensi
lain dari membaca buku-buku, majalah, karya ilmiah, makalah, dan lain-lain yang
mengandung informasi berkaitan dengan masalah yang dibahas, yang terhimpun dari
berbagai tempat mulai dari perpustakaan hingga situs internet.
Analisa kuantitatif statistik yang digunakan dalam penulisan adalah dengan
menggunakan model distributed-lag. Hal ini dilakukan karena pada analisis regresi
time series model tidak hanya mencakup nilai sekarang dari variabel tetapi dapat
mencakup nilai sebelumnya atau lagged. Dalam ekonomi regressan selain ditentukan
oleh nilai sekarang dari regressor juga ditentukan nilai sebelumnya dari regressor.
Adapun persamaan model distributed-lag yang dipergunakan sebagai analisis
dalam penelitian ini adalah:
Y
t
=
0
+
0
X
t
+
1
X
t-1
+
t
........................................(1)
Dimana
Y
t
adalah persentase bagi hasil bank syariah deposito 1 bulan
X
t
adalah tingkat suku bunga deposito 1 bulan bank konvensional
X
t-1
adalah tingkat suku bunga deposito 1 bulan periode sebelumnya
Koefisien
0
disebut angka pengganda jangka pendek atau short run
multiplier karena menjelaskan perubahan nilai sekarang Y akibat perubahan nilai
sekarang X. Jika perubahan X sama dengan perubahan sebelumnya maka (
0
+
1
)
adalah perubahan nilai rata-rata Y satu periode berikutnya atau disebut angka
pengganda antara atau intermediate multiplier.
Standarisasi koefisien merupakan proporsi angka pengganda total, yaitu:
) 2 .......( .......... .......... ..........
*

i
i
i
i
= =


Ada tiga alasan utama penggunaan lag, yaitu
2
:
1. Alasan psikologis
2. Alasan teknis
3. Alasan kelembagaan
Setelah dilakukan pengolahan regresi menggunakan model distributed-lag,
perlu dilihat apakah model tersebut baik ataukah jelek, atau dalam bahasa statistik
perlu dilihat goodness of fit dari model tersebut. Untuk melihat goodness of fit dari
model dengan melihat pada hasil t statistik, F statistik, koefisien determinasi (R
2
).
a) Uji t
Pengujian t statistik adalah suatu prosedur dengan sampel yang digunakan
untuk verifikasi kebenaran atau kesalahan dari hipotesis nol. Ide kunci di belakang
uji signifikansi adalah suatu uji statistik dan distribusi sampel dari suatu statistik
hipotesis nol. Keputusan menerima atau menolak H
0
dibuat pada basis nilai uji
statistik yang diperoleh dari data yang sudah ada. Di bawah asumsi normalitas
variabel mengikuti distribusi statistik t dengan derajat bebas N k. Suatu statistik
dikatakan signifikan secara statistik jika nilai uji statistik berada pada daerah kritis.
Begitu pula sebaliknya apabila uji statistik dikatakan tidak signifikan. Dalam
pengolahan uji statistik t bertujuan untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel
independen (tingkat suku bunga bank konvensional bank syariah periode saat ini dan

2
Damodar Gujarati dan Dawn C Potter. 2009. Basic Econometrics 5th edition. McGraw
Hill: New York


9
periode sebelumnya) terhadap variabel dependen (persentase bagi hasil di bank
syariah) secara individu.
t = [
s
] / se(
s
)
b) Uji F
Pengujian hipotesis nol dengan statistik F sangat perlu untuk menguji apakah

k
=0. Perhitungan statistik F dari ANOVA dilakukan dengan membandingkan
dengan nilai kritis F yang diperoleh dari tabel distribusi F pada tingkat signifikansi
tertentu. Apabila hipotesis nol ditolak berarti variabel independen (besaran biaya
promosi) mempengaruhi variabel dependen (jumlah DPK). Dalam pengolahan
empiris hal ini bertujuan untuk melihat pengaruh variabel independen secara
bersama-sama terhadap variabel dependen.
c) Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi atau R
2
adalah suatu ukuran yang menjelaskan besar
variasi regressan akibat perubahan variabel regressor. Koefisien determinasi
mengukur proporsi atau persentase dari total variasi regressan yang dijelaskan oleh
model regresi. J ika R
2
=1 artinya hubungan regressan dengan regressor sempurna,
sebaliknya R
2
=0 artinya tidak ada hubungan regressan dengan regressor.

G. Pembahasan
Berdasarkan pengujian yang dilakukan terlihat bahwasanya tingkat suku bunga
yang ditetapkan oleh bank konvensional mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap penetapan persentase bagi hasil pada bank syariah baik tingkat suku bunga
pada periode saat ini maupun tingkat suku bunga periode sebelumnya. Hal ini terlihat
dari pengujian uji t yang dilakukan terhadap kedua variable tersebut, dimana kedua
variable tersebut signifikan pada tingkat kepercayaan 1%.
Dari pengujian analisis regresi tersebut didapat persamaan:
R =5,347 1,351 I +1,669 It
t (15,223) (-4,952) (6,288)
dimana:
R =persentase bagi hasil pada bank syariah
I =tingkat suku bunga bank konvensional periode saat ini
It =tingkat suku bunga bank konvensional periode sebelumnya

Sementara koefisien dari variabel tingkat suku bunga bank konvensional
periode saat ini menunjukkan koefisien yang negatif. Hal ini menunjukkan bahwa
antara tingkat suku bunga konvensional memiliki pengaruh yang negatif dengan
persentase bagi hasil di bank syariah. Pengaruh yang negatif ini bukanlah berarti
ketika suku bunga konvensional periode saat ini meningkat maka persentase bagi
hasil di bank syariah akan turun. Akan tetapi pengaruh yang negatif ini lebih
cenderung kepada kekakuan hubungan antara tingkat suku bunga bank konvensional
Coefficients
a
5.347 .351 15.223 .000
-1.351 .273 -2.682 -4.952 .000
1.669 .265 3.406 6.288 .000
(Constant)
I
It
Model
1
B Std. Error
Unstandardized
Coefficients
Beta
Standardized
Coefficients
t Sig.
Dependent Variable: R a.

10
dan persentase bagi hasil di bank syariah pada periode yang sama. Karena baik
penetapan tingkat suku bunga bank konvensional dan persentase bagi hasil
ditetapkan pada periode yang sama. Besaran koefisien variabel I adalah 1,351, hal ini
berarti apabila tingkat suku bunga bank konvensional periode saat ini naik 1%, maka
persentase bagi hasil akan turun sebesar 1,351%.
Di sisi lain koefisien variabel tingkat suku bunga bank konvensional periode
sebelumnya menunjukkan koefisien yang positif. Hal ini menandakan bahwa
terdapat pengaruh yang positif antara tingkat suku bunga bank konvensional periode
sebelumnya dengan penetapan persentase bagi hasil di bank syariah. Sehingga
apabila tingkat suku bunga periode sebelumnya meningkat maka penetapan
persentase bagi hasil di bank syariah pun akan meningkat pula, begitu pula
sebaliknya apabila tingkat suku bunga periode sebelumnya menurun maka penetapa
persentase bagi hasil di bank syariah pun akan menurun pula. Hal ini dikarenakan
yang menjadi salah satu bench mark (acuan) dalam penetapan persentase bagi hasil
di bank syariah adalah tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh bank konvensional
periode sebelumnya. Sementara besaran koefisien 1,669, menunjukkan apabila
tingkat suku bunga periode sebelumnya meningkat 1%, maka persentase bagi hasil di
bank syariah akan meningkat 1,669%.
ANOVA
b
10.827 2 5.414 50.514 .000
a
3.429 32 .107
14.257 34
Regression
Residual
Total
Model
1
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), It, I a.
Dependent Variable: R b.

Kemudian dari pengujian F yang dilakukan terlihat bahwa hasilnya signifikan
pada level 1%, hasil ini member arti bahwa secara bersama-sama kedua variabel
independen yaitu tingkat suku bunga bank konvensional periode saat ini dan tingkat
suku bunga konvensional periode sebelumnya memberikan pengaruh terhadap
variabel dependen persentase bagi hasil di bank syariah. Apabila uji t merupakan
pengujian individual masing-masing variabel independen terhadap variabel
dependen, maka uji F adalah pengujian pengaruh seluruh variabel independen
terhadap variabel dependen. Koefisien determinasi yang didapat (R
2
) menunjukkan
angka 0.759, koefisien determinasi (R
2
) ini memberikan makna bahwa variabel
dependen (persentase bagi hasil di bank syariah) mampu dijelaskan oleh variabel
independe yang ada (tingkat suku bunga bank konvensional periode saat ini dan
periode sebelumnya) sebesar 75,9%, dan sisanya sebesar 24,1% dijelaskan oleh
variabel lain di luar model yang ada.
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .871(a) .759 .744 .32737
a Predictors: (Constant), It, I
Dari pengujian empiris yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dalam
penetapan persentase bagi hasil deposito di bank syariah masih mempertimbangkan
besaran tingkat suku bunga deposito di bank konvensional sebagai salah satu faktor

11
acuan dalam penetapannya. Bank syariah sebagai bank yang bebas dari sistem ribawi
seharusnya mampu melepaskan dirinya dari segala bentuk sistem ribawi, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Apabila bank syariah dalam menetapkan
persentase bagi hasilnya masih mempertimbangkan tingkat suku bunga bank
konvensional sebagai salah satu acuannya, maka bank syariah masih belum mampu
melepaskan dirinya secara tidak langsung dari sistem perbankan yang ribawi.
Akan tetapi bank syariah sebagai suatu industri yang belum lama hadir di
dalam industri perbankan, maka penggunaan tingkat suku bunga bank konvensional
sebagai salah satu acuan dalam penetapan persentase bagi hasilnya tidak dapat
dielakkan. Sebab tingkat suku bunga bank konvensional saat ini masih menjadi
bench mark di masyarakat dalam mempertimbangkan menaruh dananya apakah di
bank konvensional atau di bank syariah dengan cara membandingkan tingkat suku
bunga dan persentase bagi hasil yang ditawarkan oleh kedua jenis bank bank
tersebut. Karena nasabah menurut beberapa pengamat saat ini masih terbagi antara
nasabah rasional yaitu yang hanya menjadikan acuan tingkat suku bunga dan
persentase bagi hasil dalam memutuskan menaruh dananya apakah di bank syariah
atau di bank konvensional; dan jenis yang kedua adalah nasabah emosional yaitu
nasabah yang tidak memperhitungkan aspek return dalam pengambilan keputusan
menaruh dananya di bank syariah atau di bank konvensional, karena nasabah tersebut
hanya mempertimbangkan faktor syariat sebagai satu-satunya faktor dalam
mengambil keputusan apakah menjadi nasabah bank syariah atau bank konvensional

H. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan pengujian empiris yang telah dilakukan terhadap tingkat suku
bunga bank konvensional baik pada periode saat ini maupun periode sebelumnya
serta pengaruhnya terhadap penetapan persentase bagi hasil di bank syariah
didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara individu, uji t yang dilakukan kepada masing-masing variabel
independen yaitu tingkat suku bunga bank konvensional saat ini dan periode
sebelumnya memberikan hasil yang signifikan, artinya ada kedua variabel
independen tersebut secara individu mempengaruhi variabel dependen
(persentase bagi hasil di bank syariah) secara signifikan. Meskipun koefisien
tingkat suku bunga bank konvensional saat ini arahnya negatif, hal ini
dikarenakan kekakuan serta minimnya informasi yang dimiliki oleh bank
syariah tentang berapa besaran tingkat suku bunganya pada periode yang sama.
2. Uji F yang dilakukan menunjukkan hasil yang signifikan, hal ini menandakan
bahwa secara bersama-sama variabel independen yang ada yaitu tingkat suku
bunga bank konvensional baik periode saat ini maupun periode sebelumnya
mampu memberikan pengaruh secara bersama-sama kepada penetapan
persentase bagi hasil di bank syariah.
3. Koefisien determinasi yang didapat menunjukkan hasil 0,759, hal ini
memberikan arti bahwa variabel independen tingkat suku bunga bank
konvensional periode saat ini dan periode sebelumnya mampu menjelaskan
variabel dependen (persentase bagi hasil bank syariah) sebesar 75,9%. Serta
sisanya yaitu 24,1% dijelaskan oleh variabel independen lain di luar model
yang ada.
4. Dari hasil pengujian empiris yang telah dilakukan, dapat ditarik suatu
kesimpulan umum bahwa bank syariah dalam menetapkan persentase bagi

12
hasilnya masih menjadikan tingkat suku bunga bank konvensional sebagai
salah satu acuan dalam penetapannya. Padahal seharusnya sebagai bank syariah
yang bebas dari sistem ribawi, bank syariah harus mampu melepaskan diri dari
ketergantungan terhadap sistem ribawi. Namun tidak dapat dipungkiri
bahwasanya sebagai suatu entitas yang belum lama masuk dalam industri
perbankan bila dibandingkan dengan bank konvensional ketergantungan
tersebut tidak dapat dihindarkan. Sebab masyarakat pun masih menjadikan
tingkat suku bunga bank konvensional sebagai acuan dalam mengambil
keputusan dalam menaruh dananya baik di bank konvensional maupun di bank
syariah.
Saran-saran yang dapat diajukan oleh penulis terkait hasil di atas, adalah:
1. Bank syariah secara berangsur-angsur harus mampu tidak menjadikan tingkat
suku bunga bank konvensional sebagai acuan dalam menetapkan persentase
bagi hasil yang ditawarkan kepada nasabah, dan harus melakukan suatu
pembelajaran publik kepada nasabah bahwa selain return yang ditawarkan oleh
bank syariah ada unsur keadilan serta keberkahan yang tidak dimiliki oleh bank
konvensional
2. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini hanyalah
menggunakan acuan tingkat suku bunga deposito bank konvensional tanpa
memperhitungkan faktor lain sebagai acuan dalam menetapkan persentase bagi
hasil di bank syariah seperti likuiditas perekonomian, kondisi makro ekonomi
negara dan industri keuangan global. Sehingga apabila ada yang hendak
melakukan penelitian lanjutan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
penetapan persentase bagi hasil di bank syariah harus memasukkan faktor-
faktor selain tingkat suku bunga bank konvensional dalam penelitiannya,
sehingga didapatkan suatu hasil yang lebih komprehensif tentang faktor yang
menjadi acuan dalam penetapan persentase bagi hasil di bank syariah.

Daftar Pustaka
Al-Quranul Karim
Antonio, M. Syafii. 2001. Bank Syariah: Teori dan Praktik. Gema Insani Press:
J akarta.
Arifin, Zainul. 1999. Bank Syariah: Lingkup, Peluang, Tantangan dan Prospek.
Alfabet: J akarta
Gujarati, Damodar dan Dawn C Potter. 2009. Basic Econometrics 5th
edition. McGraw Hill: New York
Karim, Adiwarman A. 2004. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Rajawali
Press: J akarta
Kasmir, Manajemen Perbankan, J akarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2007, ed.1-7.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset: Untuk Bisnis dan Ekonomi. Erlangga:
J akarta
Levin, Richard & David S Rubin. 1998. Statistics for Management. Prentice Hall:
New York
Manurung, J onni J et.al. 2005. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi. Elex Media
Komputindo: J akarta
Muhammad. 2000. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Islam. UII Press: J akarta
--------------. 2001. Teknik Perhitungan Bagi Hasil di Bank Syariah. UII Press:
Yogyakarta