Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PEMERIKSAAN FISIK ALAT REPRODUKSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata kuliah Maternitas

Disusun Oleh :

HERI ERAWAN
NIM : 2011.047

AKADEMI KEPERERAWATAN KABUPATEN SUBANG


Jl. Brigjen Katamso No.37 Tlp/Fax. (0260) 412520 Subang 2013

KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu. Tidak lupa pula kepada rekan rekan yang telah memberikan motivasi dan bantuannya dalam pengerjaan makalah ini. Tujuan dibuatnya makalahini guna memberikan informasi tambahan pada pembaca sekalian serta untuk memenuhi tugas Maternitas. Semoga dengan selesainya makalahini dapat memberikan tambahan wawasan dan bermanfaat bagi para pembaca mengenai Pemeriksaan Fisik alat reproduksi Penulis hanyalah seorang manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis mohon kesediaan para pembaca untuk memberikan saran dan kritiknya demi kesempurnaan makalahini.

Subang, Agustus 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ i DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ........................................................................................................................ ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ....................................................................... B. Rumusan masalah .................................................................. C. Tujuan .................................................................................... D. Manfaat .................................................................................. BAB II PEMBAHASAHAN A. Konsep Pemeriksaan Fisik ................................................................................................ ................................................................................................ 3 B. Alat Reproduksi ................................................................................................ ................................................................................................ 5 C. Pemeriksaan Fisik Laki-laki dan perempuan ................................................................................................ ................................................................................................ 8 BAB III PENUTUP A. Simpulan ................................................................................................ ................................................................................................ 11 1 1 1 2

ii

B. Saran ................................................................................................ ................................................................................................ 11 DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemeriksaan fisik adalah suatu bagian dari proses keperawatan. Seorang perawat wajib melakukan prosedur pemeriksaan fisik pada pasien walaupun dengan teknik yang sederhana. Namun, terkadang pemeriksaan fisik hanya dianggap prosedur wajib dan rutin bagi perawat atau calon perawat sehingga melupakan rasionalisasi tindakan tersebut. Sebelum melakukan prosedur pemeriksaan fisik, perawat harus memahami dasar anatomi tubuh dan posisi anatomis organ dalam tubuh. Dengan demikian, pemeriksaan fisik yang dilakukan tidak hanya mengikuti pola kebiasaan tetapi karena perawat memahami rasionalisasinya. Pemeriksaan fisik yang tepat dapat membantu perawat dalam mencari kondisi abnormal dan menentukan masalah yang terjadi pada pasien. Banyak perawat pelaksana dan mahasiswa keperawatan yang melakukan tindakan pemeriksaan fisik hanya sebagai tindakan rutin serta tidak menemukan makna di dalamnya. Hal ini mungkin terjadi karena kurangnya pemahaman akan anatomi tubuh manusia. Dalam buku ini, disertakan pula sedikit tentang anatomi tubuh manusia untuk bisa melangkah pada praktik prosedur pemeriksaan fisik yang akan membantu memahami rasionalisasinya. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana pemeriksaan fisik pada perempuan ? 2. Bagaimana pemeriksaan fisik pada laki laki ? C. Tujuan 1. Agar mengetahui pemeriksaan fisik pada perempuan. 2. Agar mengetahui pemeriksaan fisik pada laki laki.

D. Manfaat 1. Mahasiswa dapat memahami pemeriksaan fisik pada perempuan. 2. Mahasiswa dapat memahami pemeriksaan fisik pada laki laki.

BAB II PEMBAHASAN A. Konsep Pemeriksaan Fisik 1. Konsep Inspeksi Merupakan proses pengamatan atau observasi untuk mendeteksi masalah kesehatan pasien. Cara efektive melakukan inspeksi adalah sebagai berikut: a. Atur posisis sehingga bagian tubuh dapat diamati secara detail b. Berikan pencahayaan yang cukup c. Lakukan inspeksi pada area untuk ukuran, bentuk, warna, kesimetrisan, posisi dan abnormalitasnya. d. Bandingkan area sisi tubuh dengan bagian tubuh lainnya. e. Jangan melakukan inspeksi secara terburu - buru. 2. Konsep Palpasi Merupakan pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba yaitu tangan untuk menentukan ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur dan mobilitas. Palpasi dibutuhkan kelembutan sensifisitas untuk itu, hendaknya menggunakan permukaan palmar jari yang dapat digunakan untuk mengkaji posisi, tektut, konsistensi, massa dan pulsasi. Sedangkan untuk temperatur suhu hendaknya menggunakan bagian belakang tangan dan jari. Pada telapak tangan dan permukaan ulnar tangan lebih sensitif pada getaran. 3. Konsep Perkusi Merupakan cara pemeriksaan denga cara melakukan pengetukan pada bagian tubuh dengan ujung-ujung jari untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi atau organ tubuh dan menentukan adanya cairan dalam rongga tubuh. Ada dua cara dalam perkusi yaitu : Secara langsung mengetuk secara langsung mengguanakan satu atau dua jari

Secara tidak langsung menempatkan jari tengan tangan diatas permukaan tubuh dan jari tangan lain dan telapak tidak pada permukaan kulit, setelah mengetuk jari tangan ditarik kebelakan 4. Konsep auskultasi Merupakan cara pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui alat stetoskop. Dalam melakukan auspultasi, beberapa hal yang perlu didengarkan diantaranya : a. Frekuensi atau siklus gelombang bunyi b. Kekerasan atau amplitudo bunyi c. Kualitas bunyi dan lamanya bunyi 5. Genetalia A. Inspeksi dan palpasi genetalia eksternal wanita a. Memberi kesempatan pada klien untuk menggosokkan kandung kemih sebelum pemeriksaan dimulai b.Anjurkan klien membuka celana mengatur posisi litotomi dan menutupi bagian yang tidak dinikmati c. Mengatur pencahayaan sehingga area parineal mendapatkan sinar dengan baik d.Memakai sarung tangan pada kedua tangan e. Jangan menyentuh area parineal tanpa memberi tahu klien, atau sentuh salah satu paha terlebih dahulu. f. Inspeksi kuantitas dan penyebaran pertumbuhan bulu pubis dan dibandingkan sesuai usia perkembangan klien. g.Observasi kulit dan area pubis. Perhatikan adanya lesi,eritema,fisura,leuplakia dan exkoriasi h.Tarik lembut radia minora,orivisium uretra, selaput darah,orifisium vagina dan perinuium. i. Perhatikan setaip adanya pembengkakan alkus,keluarkan,nedula,dll j. Palpasi pada kelenjar skene untuk mengetahui adanya discharge maupun kekakuan.

k.Palpasi pada kelenjar bartholin. B. Inspeksi dan palpasi genetalia eksternal pria a. Memakai sarung tangan b. Inspeksi penis mengenai kulit, ukuran dan kelainan lainnya c. Pada pria yang belum disirkumsisi(khitan), tarik prekursium / kulup untuk menginspeksi kepala penis dan meatus uretra terhadap adanya cairan, resi, edema, dan emplamasi. d. Inspeksi batang penis untuk mengetahui adanya lesi, jaringan parut atau area edema. e. Palpasi lembut batang penis diantara ibu jari dan kedua jari jari utama untuk mengetahui adanya area pengerasan atau nyeri lokal. f. Memakai sarung tangan.

B. Alat Reproduksi Alat Reproduksi Pada Pria

FUNGSI ALAT REPRODUKSI PRIA Alat-alat reproduksi pria yaitu: GENETALIA EKSTERNA

Penis, Berfungsi untuk menyalurkan dan menyemprotkan sperma saat ejakulasi Skrotum, berfungsi untuk melindungi testis dari taruma atau suhu

GENETALIA INTERNA

Testis, Berfungsi sebagai : Memproduksi sperma, Tempat memproduksi testosteron yang memegang peranan penting untuk sifat kelamin sekunder dan kejantanan

Epididimis, Berfungsi sebagai: menghubungkan testis dengan saluran vas deferens, memproduksi cairan yang banyak mengandung enzym dan gizi yang fungsinya mematangkan / menyempurnakan bentuk sperma

Vans deferens, Berfungsi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke vesika seminalis, Tempat menyimpan sebagian dari sperma sebelum dikeluarkan .

Vesika seminalis, Berfungsi sebagai: Tempat untuk mengeluarkan cairan yang sifatnya alkalis atau sedikit basa yang mengandung fruktosa dan zat gizi yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa dan agar sperma lebih segar, kuat dan mudah bergerak dalam mencapai ovum, Sebagai tempat penyimpanan spermatozoa sebelum dikeluarkan melalui kegiatan seksual.

Kelenjar prostat, Berfungsi sebagai: Mengeluarkan cairan yang bersifat alkalis yang encer berwarna seperti susu mengandung asam sitrat, kalsium dan beberapa zat lain

Kelenjar bulbo uretralis, berfungsi mengsekresi cairan yang membantu agar sperma lebih tahan hidup dan lebih memungkinkan untuk bergerak dan memudahkan pembuahan.

ALAT REPRODUKSI WANITA

FUNGSI ALAT REPRODUKSI WANITA Alat-alat reprofroduksi wanita yaitu: GENETALIA EKSTERNA

Mons Veneris, Berfungsi untuk melindungi alat genetalia dari masuknya kotoran selain itu untuk estetika, Labia Mayora, Berfungsi untuk menutupi orga-organ genetalia di dalamnya dan mengeluarkan cairan pelumas pada saat menerima rangsangan seksual,

Labia Minora, Berfungsi untuk menutupi organ-organ genetalia di dalamnya serta merupakan daerah erotik yang mengandung pambuluh darah dan syaraf,

Klitoris, Merupakan daerah erotik utama pada wanita yang akan membesar dan mengeras apabila mendapatkan rangsangan seksual, Vestibulum, bersenggama, Berfungsi untuk mengeluarkan cairan apabila ada

rangsangan seksual yang berguna untuk melumasi vagina pada saat

Hymen, Merupakan lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari introitus vagina, membentuk lubang sebesar ibu jari sehingga darah haid maupun sekret dan cairan dari genetalia interrnal dapat mengalir keluar

GENETALIA INTERNA

Vagina, Berfungsi sebagai : Saluran keluar untuk mengeluarkan darah waktu haid dan sekret dari dalam uterus, Alat untuk bersenggama, Jalan lahir bayi waktu melahirkan

Uterus, Berfungsi sebagai : Tempat bersarangnya atau tumbuhnya janin di dalam rahim pada saat hamil, Memberi makanan pada janin melalui plasenta yang melekat pada dinding rahim.

Tuba Fallopi, Berfungsi sebagai saluran yang membawa ovum yang dilepaskan ovarium ke dalam uterus. Ovarium, Berfungsi memproduksi ovum Ligamentum, Berfungsi untuk mengikat atau menahan organ-organ reproduksi wanita agar terfiksasi dengan baik pada tempatnya, tidak bergerak dan berhubungan dengan organ sekitarnya.

C. Pemeriksaan Fisik Laki-laki dan perempuan 1. Perempuan Alat kelamin atau sistem reproduksi merupakan bagian yang penti ng dikaji pada wanita. Berbagai masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi wanita dapat terjadi karena misalnya masalah yang berikatan dengan kontrasepsi, infertilitas, kehamilan, gangguan menstruasi atau menopause. Sistem reproduksi wanita terdiri dari dua bagian utama, yaitu :alat kelamin luar dan alat kelamin dalam yang berkembang dan berfungsi dengan pengaruh hormon-hormon dan juga mengaruhi fertilisasi, kehamilan, melahirkan dan mencapai kepuasan seksual. Alat kelamin luar terdiri dari mons pubis, klitoris,labia mayora, labia minora dan beberapa struktur yang berkaitan (kelenjar bartholin, kelenjar skene dan miatus

uretra). Alat kelamin dalam terdiri dari vagina, uterus, ovarium, dan tuba valovi. Prosedur Pelaksanaan Wanita: 1. Inspeksi genitalia eksternal: mukosa kulit, integritas kulit, contour simetris, edema, pengeluaran. Normal: bersih, mukosa lembab, integritas kulit baik, semetris tidak ada edema dan tanda-tanda infeksi (pengeluaran pus /bau) Inspeksi vagina dan servik : integritas kulit, massa, pengeluaran 2. Palpasi vagina, uterus dan ovarium: letak ukuran, konsistensi dan, massa Pemeriksaan anus dan rectum: feses, nyeri, massa edema, haemoroid, fistula ani pengeluaran dan perdarahan. Normal: tidak ada nyeri, tidak terdapat edema / hemoroid/ polip/ tanda-tanda infeksi dan pendarahan. Setelah diadakan pemeriksaan diadakan pemeriksaan genitalia evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. 2. Laki Laki Pengkajian sistem urinaria yang meliputi dua organ yakni penis dan testis serta struktur tambahan (duktus pengeluaran,kelenjar prostat dan struktur inguinal). Secara anatomi alat reproduksi pria dibagi menjadi tiga fungsi yaitu 1. Sebagai alat reproduksi 2. Sekresi hormone 3. Eliminasi urin Dalam fungsinya sebagai alat reproduksi alat kelamin pria memiliki beberapa fungsi 1. Ereksi 2. Pelumasan 3. Emisi

4. Ejakulasi Pemeriksaan Fisik pada Laki-Laki Inspeksi dan palpasi penis: Integritas kulit, massa dan pengeluaran Normal: integritas kulit baik, tidak ada masa atau pembengkakan, tidak ada pengeluaran pus atau darah Inspeksi dan palpassi skrotum: integritas kulit, ukuran dan bentuk, turunan testes dan mobilitas, massa, nyeri dan tonjolan Pemeriksaan anus dan rectum : feses, nyeri, massa, edema, hemoroid, fistula ani, pengeluaran dan perdarahan. Normal: tidak ada nyeri , tidak terdapat edema / hemoroid/ polip/ tandatanda infeksi dan pendarahan. Setelah diadakan pemeriksaan dadadan genitalia wanita evaluasi hasil yang di dapat dengan membandikan dengan keadaan normal, dan dokumentasikan hasil pemeriksaan yang didapat tersebut. Perawat membuat pengukuran yang akurat, terperinci, dan objektif melalui pengkajian fisik. Pengukuran tersebut menentukan tercapainya atau tidak hasil asuhan yang di harapkan. Perawat tidak bergantung sepenuhnya pada intuisi ketika pengkajian fisik dapat digunakan untuk mengevaluasi keefektifan asuhan.

10

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pemeriksaan fisik adalah suatu bagian dari proses keperawatan. Seorang perawat wajib melakukan prosedur pemeriksaan fisik pada pasien walaupun dengan teknik yang sederhana. Alat kelamin atau sistem reproduksi merupakan bagian yang penting dikaji pada wanitadan laki-laki . Berbagai masalah yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Sebelum melakukan prosedur pemeriksaan fisik, perawat harus memahami dasar anatomi tubuh dan posisi anatomis organ dalam tubuh. Dengan demikian, pemeriksaan fisik yang dilakukan tidak hanya mengikuti pola kebiasaan tetapi karena perawat memahami rasionalisasinya. Pemeriksaan fisik yang tepat dapat membantu perawat dalam mencari kondisi abnormal dan menentukan masalah yang terjadi pada pasien.

B. Saran Makalah yang telah disusun ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu diharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi sempurnanya makalah ini. Terima kasih.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Wattie, Anna Marie,1996, Kesehatan Reproduksi dasar pemikiran, pengertian dan implikasi, Pusat Penelitian Kependudukan UGM, Yogyakarta. 2. Mohamad, Kartono, 1998, Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. 3. http://id.scribd.com/doc/151207578/MAKALAH-GENETALIA

12