Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan kerja sangatlah penting, karena kesehatan kerja berkaitan erat dengan keefisiensian kerja seorang karyawan. Tingkat produktivitas seorang karyawan akan rendah jika kesehatannya terganggu akibat lingkungan kerja yang buruk. Sebaliknya, seorang karyawan yang bekerja di lingkungan kerja yang bersih, sehat dan tenang akan mampu mencapai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Selain produktivitas, kualitas atau mutu produk juga akan mengalami peningkatan. Gangguan-gangguan terhadap kesehatan kerja yang jika tidak ditanggulangi sesegera mungkin akan menyebabkan timbulnya penyakit yang secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu penyakit umum dan penyakit akibat kerja. Bekerja dengan tubuh dan lingkungan yang sehat, aman serta nyaman merupakan hal yang diinginkan oleh semua pekerja. Lingkungan fisik tempat kerja dan lingkungan organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam mempengaruhi sosial, mental dan fisik dalam kehidupan pekerja. Kesehatan suatu lingkungan tempat kerja dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesehatan pekerja, seperti peningkatan moral pekerja, penurunan absensi dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya tempat kerja yang kurang sehat atau tidak sehat (sering terpapar zat berbahaya yang mempengaruhi kesehatan) dapat meningkatkan angka kesakitan dan kecelakaan, rendahnya kualitas kesehatan pekerja, meningkatnya biaya kesehatan dan banyak lagi dampak negatif lainnya. Tempe merupakan makanan yang digemari masyarakat, baik masyarakat kalangan bawah hingga atas. Keberadaannya sudah lama diakui sebagai makanan yang sehat, bergizi dan harganya murah. Hampir seluruh kota di Indonesia dijumpai industri tahu dan tempe. umumnya industri tahu dan tempe termasuk ke dalam industri kecil yang dikelola oleh rakyat dan beberapa di antaranya masuk dalam wadah Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe (KOPTI). Proses pembuatan tempe masih sangat tradisional dan banyak memakai tenaga manusia. Bahan baku utama yang digunakan adalah kedelai (Glycine spp). Konsumsi kedelai Indonesia pada Tahun 1995 telah mencapai 2.287.317 Ton (Sri Utami, 1997). Sarwono
1

(1989) menyatakan bahwa lebih dari separuh konsumsi kedelai Indonesia dipergunakan untuk diolah menjadi tempe dan tahu. Industri rumah tangga merupakan industri kecil yang bergerak di sektor informal yang menjadi dasar industrialisasi di Indonesia. Industri ini tersebar di berbagai sentra usaha kecil di Jakarta, salah satunya adalah sentra industri tempe yang berada di RT07 RW02 kelurahan pasarminggu. Pekerja di industri pembuatan tempe masih tergolong belum mendapatkan pelayanan kesehatan kerja ataupun jaminan atas kesehatan seperti yang diharapkan, apabila terjadi penyakit akibat kerja. Higiene perseorangan dapat juga disebut dengan kebersihan diri yang merupakan usaha dari individu dengan cara mengendalikan kondisi lingkungan terhadap kesehatan, upaya mencegah timbulnya penyakit karena pengaruh faktor lingkungan yang merugikan serta membuat kondisi lingkungan sedemikian sehingga terjamin pemeliharaan kesehatan Penelitian yang dilakukan oleh Louise Ferdinandus didapatkan prevalensi DAK sebesar 35 % pada pekerja industri tempe di cipulir dengan jenis kelainan kulit terbanyak adalah kalus, mikosis (tinea pedis, onikomikosis), dermatitis kontak, miliaria dan paronikia serta lokasi kelainan terutama di tangan dan kaki. Adapun penyebab dari terjadinya dermatosis antara lain agen fisik : kelembaban, agen kimia : asam, basa, pelarut lemak, agen biologi : mikroorganisme (mikroba, fungi), parasit kulit dan produk-produknya juga menyebabkan penyakit kulit. Berdasarkan kenyataan tersebut maka perlu dilakukan pengkajian mengenai berbagai faktor yang berhubungan berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah, faktor-faktor apa yang berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sector informal industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasar minggu 2.

1.3 Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui berbagai faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan pemakaian APD pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. b. Mendeskripsikan higiene perorangan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. c. Mendeskripsikan masa kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. d. Mendeskripsikan dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. e. Mendeskripsikan bagian pekerjaan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. f. Mendeskripsikan pengetahuan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. g. Mendeskripsikan jam kerja pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. h. Mendeskripsikan tingkat pendidikan pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. i. Mendeskripsikan usia pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. j. Mendeskripsikan jenis kelamin pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2.

k. Menganalisis hubungan antara pemakaian APD dengan kejadian dermatosis pada pekerja sector informal industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. l. Menganalisis hubungan antara higiene perorangan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sector informal industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. m. Menganalisis hubungan antara masa kerja dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. n. Menganalisis hubungan antara jam kerja dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. o. Menganalisis hubungan antara bagian pekerjaan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. p. Menganalisis hubungan antara pengetahuan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. q. Menganalisis hubungan antara usia dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. r. Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. s. Menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian dermatosis pada pekerja sektor informal industri rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2.

1.4 Hipotesis Berdasarkan variabel yang diteliti maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut 1. ada hubungan antara dermatosis dengan umur, jenis kelamin, higiene perorangan, pengetahuan, jam kerja, masa kerja, tingkat pendidikan, dan bagian pekerjaan pada pekerja industri tempe. 2. ada hubungan antara dermatosis dengan alat pelindung diri pada industri tempe. 3. ada hubungan antara dermatosis dengan air sisa/limbah industri tempe. 4. Pekerja yang bekerja di bagian pencucian, perebusan, dan perendaman mempunyai risiko yang lebih besar untuk menderita DAK dibandingkan dengan pekerja di bagian lain. 1.5 Manfaat Penelitian Bagi peneliti untuk menambah pengalaman belajar serta wawasan tentang ilmu kedokteran komunitas. Manfaat bagi masyarakat sebagai masukan bagi pemilik industri tempe mengenai penyakit dermatosis yang timbul akibat kerja pada pekerja sector informal industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. Manfaat bagi instalasi kesehatan kesejatan kerja. 1.6 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada factor keselamatan dan kesehatan kerja, yaitu: pekerja, alat, dan bahan yang berhubungan dengan dermatosis akibat kerja pada pekerja sector informal industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2. bagi puskesmas kecamatan pasarminggu untuk

mengetahui adanya hubungan antara kejadian dermatosis dengan pelaksanaan keselamatan

\
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Kulit Akibat Kerja Kulit terdiri atas dua unsur dasar yaitu epidermis dan dermis. Epidermis luar bertindak sebagai pelindung dan tidak bisa basah, sedangkan dermis memberikan kekuatan pada kulit yang sebagian besar karena kandungan kolagennya. Kemampuan epidermis untuk menahan air, merupakan masalah potensial karena permukaan yang berlemak memudahkan penyerapan bahan yang mudah larut, dan ini merupakan jalan masuk banyak bahan-bahan kimia organik. Penyakit kulit dapat ditandai oleh lesi yang timbul dan tersebar, bercak kemerahan yang membentuk gambaran geografik berbatas tegas di daerah yang terkena serangan dari luar, dan iritasi tegas terbatas yang merupakan sisa wilayah cedera. Penyakit kulit akibat kerja atau yang didapat sewaktu melakukan pekerjaan, banyak penyebabnya antara lain agen sebagai penyebab penyakit kulit tersebut antara lain berupa agen-agen fisik, kimia maupun biologis.Dermatosis menurut Joko Suyono bahwa kelainan kulit yang timbul akibat kontak dengan bahan-bahan yang berhubungan dengan pekerjaan, lingkungan dan tempat kerja. 2.2 Jenis-jenis Penyakit Kulit Akibat Kerja a. Dermatitis kontak iritan primer, adalah dermatosis akibat kerja yang paling sering ditemukan. Bentuknya mirip dengan kebanyakan dermatosis yang lain dan penyebabnya tidak mudah dikenali. b. Dermatitis kontak alergi, baik akut maupun kronis, mempunyai ciri-ciri klinis yang sama dengan ekzema bukan akibat kerja. c. Akne (jerawat) akibat kerja. Mirip dengan jerawat pada umumnya, tetapi terutama menyerang bagian yang kontak dengan agen. d. Dermatosis solaris akut. Penyakit kulit yang dianggap sebagai penyakit kulit akibat kerja, yang sangat dipermudah oleh zat-zat fotodinamik yang digunakan dalam pekerjaan tersebut.

2.3 Dermatosis Akibat Kerja Dermatosis akibat kerja adalah segala kelainan kulit yang timbul pada waktu bekerja atau disebabkan oleh pekerjaan, istilah dermatosis lebih tepat dari pada dermatitis, sebab kelainan kulit akibat kerja tidak usah selalu suatu peradangan, melainkan juga tumor atau alergi. Presentasi dermatosis akibat kerja dari seluruh penyakit-penyakit akibat kerja sekitar 50%-60%, maka dari itu penyakit tersebut pelu mendapatkan perhatian yang cukup. Adapun ciri dari dermatosis itu sendiri adalah kulit mengelupas, berwarna kemerah-merahan disertai rasa gatal pada kulit. 2.4 Agen Penyebab Dermatosis Akibat Kerja Agen-agen penyebab dermatosis antara lain adalah : 1. Agen fisik. Antara lain tekanan atau gesekan, kondisi cuaca (angin hujan, cuaca beku, matahari), panas, radiasi (ultraviolet, ionisasi), dan serat-serat mineral. 2. Agen-agen kimia. Terbagi menjadi empat kategori : (a) Iritan primer : Asam, basa, pelarut lemak, deterjen, garamgaram logam (arsen, air raksa) (b) Sensitizer : Logam dan garam-garamnya (kromium, nikel, kobalt), senyawa-senyawa yang berasal dari anilin (p-feniloendiamin, pewarna azo) derivat nitro aromatik (trinitrotoluen), resin (khususnya monomer dan aditif seperti epoksiresin, formaldehid, vinil, akrilik, akselerator, platicizer), bahan-bahan kimia karet (vulcanizer seperti dimetil tiuram disulfida, antioksidan), obat-obatan dan antibiotik (misalnya prokain, fenotiazin, klorotiazid, penisilin dan tetrasiklin), kosmetik, terpentin, tanam-tanaman (misalnya primula dan chrysanthemum). (c) Agen-agen aknegenik : Naftalen dan bifenil klor, minyak mineral. (d) Photosensitizer : Antrasen, pitch, devirat asam aminobenzoat, hidrokarbon aromatik klor, pewarna akridin. 3. Agen biologis. Mikroorganisme (mikroba, fungi), parasit kulit dan produkproduknya juga menyebabkan penyakit kulit. Dari seluruh penyebab-penyebab ini bahan kimialah yang paling penting, oleh karena bahan-bahan itulah yang banyak digunakan oleh industriindustri.
7

Ada dua cara bahan kimia ini menimbulkan dermatosis, yaitu dengan jalan perangsangan atau pemekaan kulit (sensitisasi), bahan-bahan yang menyebabkan iritasi disebut perangsang primer sedangkan penyebab sensitisasi disebut pemeka. Perangsang primer mengadakan rangsangan kepada kulit, dengan jalan melarutkan lemak kulit, dengan mengambil air dari lapisan kulit dengan oksidasi atau reduksi sehingga kesetimbangan kulit terganggu dan timbullah dermatosis. 2.6 Pencegahan Dermatosis Akibat Kerja Pencegahan dermatosis akibat kerja dapat dilakukan antara lain sebagai berikut : 1. Penilaian bahan-bahan yang akan digunakan di perusahaan. 2. Mengganti bahan-bahan yang berbahaya dengan yang tidak berbahaya. 3. Pendidikan. 4. Hygine personal dan perusahaan. 5. Alat Pelindung Diri (APD). 6. Pemeriksaan pra kerja. Adapun upaya penanggulangan secara umum untuk mencegah penyakit kulit akibat kerja antara lain sebagai berikut : 1. Bilamana mungkin alergen kuat sensitizer dan karsilogen hendaknya diganti dengan zat-zat yang kurang berbahaya. 2. Kontak kulit dengan agen penyebab hendaknya di batasi dengan pengendalian teknologi. 3. Eliminasi kontak kulit dengan bahan penyebab. 4. Pakaian pelindung (apron, sarung tangan, topeng wajah). 5. Penyediaan fasilitas dasar untuk kebersihan diri, hendaknya di sediakan APD dan penggunaannya diharuskan untuk digunakan selama jam kerja. 2.7 Diagnosa Dermatosis Akibat Kerja Menegakkan suatu diagnosa penyakit akibat kerja tidaklah mudah, keadaan dermatosis sangatlah banyak, untuk itu haruslah diikuti cara diagnosa penyakit-penyakit
8

akibat kerja pada umumnya. Haruslah tenang, kapan dermatosis itu mulai, selanjutnya perlu pengetahuan tentang lingkungan kerja si penderita, apakah benar penyakit tersebut berada dalam lingkungan. Bila ada, bagaimana keterangannya tentang cara penyebab itu menimbulkan penyakit tersebut, apakah secara infeksi, apakah perangsangan primer, ataukah pemekaan. Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhatikan penyebab-penyebab yang ada dalam lingkungan kerja dan dengan uji laboratorium, ataupun klinis. Sangat penting diketahui ialah patch test yang dapat memastikan adanya bahan yang bekerja sebagai pemeka terhadap si pekerja. Satu cara uji sederhana, apakah dermatosis itu akibat kerja atau tidak, ialah memberi cuti beberapa hari kepada penderita, apabila penyakit itu bersumber kepada pekerjaan, biasanya dengan cuti demikian dermatosis menjadi berkurang, bahkan mungkin menjadi baik sama sekali. 2.8 Alat Pelindung Diri (APD) Bila pengendalian pada sumber atau selama transmisi tidak mungkin dilakukan maka diperlukan perlindungan tambahan, dengan menyediakan pelindung perorangan yang disebut alat pelindung diri (APD). Jenis-jenis alat pelindung diri (APD) Antara lain adalah : 1. Pelindung mata dan muka (kaca mata biasa, kaca mata pelindung, tameng muka). Perlindungan ini diberikan untuk menjaga terhadap dampak pertikelpartikel kecil yang terlempar dengan kecepatan rendah, dampak partikelpartikel berat dengan kecepatan tinggi, percikan cairan panas atau korosif, kontak mata dengan gas atau uap iritan, dan berkas radiasi elektromagnetik dengan berbagai panjang gelombang, termasuk sinar laser. 2. Pelindung kulit dan tubuh (pakaian atau baju pelindung, sarung tangan, sepatu boot) Pelindung ini meliputi perlindungan kaki, tangan, dan tubuh terhadap kerusakan akibat bahan korosif dan yang menimbulkan dermatosis, penyerapan ke dalam tubuh melalui kulit, panas radian, dingin, radiasi pengion dan bukan pengion, kerusakan fisik. 2.9 Higiene Perorangan Higiene perorangan disebut juga kebersihan diri yang memiliki pengertian yaitu suatu pengetahuan tentang usaha kesehatan perorangan untuk dapat memelihara kesehatan diri sendiri, memperbaiki, mempertinggi nilai kesehatan dan mencegah timbulnya penyakit. Menurut Labensky mendefinisikan sanitasi sebagai penciptaan atau pemeliharaan kondisi yang mampu mencegah terjadinya kontaminasi makanan atau terjadinya penyakit yang diakibatkan oleh makanan. Higiene perorangan adalah ilmu yang berhubungan dengan
9

masalah kesehatan dan berbagai usaha untuk mempertahankan atau untuk memperbaiki kesehatan. Berkaitan dengan upaya ini higiene perorangan yang terlibat dalam pengolahan makanan perlu diperhatikan untuk menjamin keamanan makanan. Di Amerika Serikat, 25% dari semua penyebaran penyakit melalui makanan disebabkan pengolahan makanan yang terinfeksi dan sanitasi perorangan yang buruk. Suatu sikap yang baik terhadap kebersihan perseorangan saat bekerja belum otomatis terwujud dalam suatu perbuatan diperlukan faktor pendukung, antara lain adalah fasilitas kesehatan. 2.10 Usaha-usaha Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Tubuh Higiene mencakup juga masalah perawatan kesehatan diri, termasuk ketepatan sikap tubuh, dalam pengertian tersebut juga terkandung makna perlunya perlindungan bagi pekerja yang terlibat dalam proses pengolahan takanan agar terhindar dari sakit, baik yang disebabkan oleh penyakit pada umumnya, penyakit akibat kecelakaan ataupun penyakit akibat prosedur kerja yang tidak memadai. Adapun usaha untuk menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh antara lain sebagai berikut : 1. Pencucian Tangan Tangan yang kotor atau terkontaminasi dapat memindahkan bakteri dan virus patogen dari tubuh, faeces, atau sumber lain ke makanan, oleh karena itu pencucian tangan merupakan hal pokok yang harus dilakukan oleh pekerja yang terlibat dalam penanganan makanan. Langkah-langkah pencucian tangan yang memadai untuk menjamin kebersihan adalah sebagai berikut : a. Membasahi tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun. b. Menggosok tangan secara menyeluruh selama sekurang-kurangnya 20 detik, pada bagianbagian meliputi punggung tangan, telapak tangan, sela-sela jari, dan bagian di bawah kuku. c. Menggunakan sikat kuku untuk membersihkan sekeliling dan bagian di bawah kuku. d. Pembilasan dengan air yang mengalir. e. Pengeringan tangan dengan handuk kertas (tissue) atau dengan alat pengering.

10

f. Menggunakan alas kertas (tissue) untuk mematikan tombol atau kran air dan membuka pintu ruangan. 2. Kebersihan dan Kesehatan Diri Syarat utama pengolah makanan adalah memiliki kesehatan yang baik, ada beberapa kebiasaan yang perlu dikembangkan oleh pengolah makanan, untuk menjamin keamanan makanan yang diolahnya, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : a. Berpakaian dan Berdandan Pakaian pengolah dan penyaji makanan harus selalu bersih, apabila tidak ada ketentuan khusus untuk penggunaan seragam, maka pakaian sebaiknya tidak bermotif dan berwarna terang. b. Rambut Rambut pekerja harus selalu dicuci secara periodik. Selama mengolah atau menyajikan makanan harus dijaga agar rambut tidak terjatuh ke dalam makanan. c. Kondisi Sakit Pekerja yang sedang flu, demam, atau diare sebaiknya tidak dilibatkan terlebih dahulu dalam memproses pengolahan makanan, sampai gejalagejala tersebut hilang. Pekerja yang memiliki luka pada tubuhnya harus menutup luka tersebut dengan pelindung yang kedap air. 2.11 Faktor-faktor Yang Berkaitan Dengan Higiene Perorangan a. Pengendalian Penyakit Pengendalian penyakit meliputi kebersihan tubuh, pemeriksaan kesehatan,

peningkatan gizi dan kesadaran akan arti pentingnya sanitasi perorangan. b. Kebersihan Selama Bekerja Kebersihan selama bekerja penting untuk menghindari dan mencegah terjadinya penyebaran sumber-sumber penyakit. c. Pendidikan dan Penyuluhan Pendidikan dan penyuluhan tentang kebersihan dan kesehatan kerja kepada karyawan tidak saja dapat meningkatkan efisiensi produktivitas tenaga kerja, tetapi juga memberikan
11

dampak yang baik yaitu dihasilkannya produk-produk yang bermutu baik, bersih dan memenuhi persyaratan. 2.12 Masa Kerja dan Jam Kerja Lamanya seseorang bekerja sehari secara baik pada umumnya 6-8 jam dan sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Memperpanjang waktu kerja lebih dari itu biasanya diserta penurunan efisiensi timbulnya kelelahan penyakit dan kelelahan. Dari penelitian-penelitian yang sebelumnya menunjukkan bahwa pengurangan jam kerja dari 8 ke jam 8 disertai meningkatnya efisiensi hasil per waktu dengan kenaikan produktivitas 3 sampai 10%. Absensi meningkat dengan cepat jika jam kerja melebihi 63,2 seminggu untuk pria dan melebihi 57,3 untuk wanita. Jumlah jam kerja tersebut dalam seminggu yang memungkinkan seorang tenaga kerja dapat bekerja dengan baik adalah 40 jam. Lebih dari ini telah diuraikan menunjukan hal-hal yang merugikan. Pengaruh masa kerja terhadap penyakit kulit yang dialami oleh para pekerja industri tahu bila tidak diimbangi dengan kebersihan individu pekerja akan berdampak buruk terhadap kulit pekerja itu dikarenakan adanya kontak langsung dengan bahan kimia (asam cuka) dan air sisa (buangan) pembuatan tempe dalam jangka waktu relatif lama. Makin lama pekerja bekerja maka makin besar peluang terjadinya dermatosis. 2.13 Proses pengolahan tempe Industri Pembuatan Tempe Sesuai dengan perkembangan zaman kondisi lingkungan untuk usaha pengolahan tempe perlu beberapa pertimbangan untuk menjaga kelangsungan produksi, keamanan, dan kebersihan, adapun proses yang dilakukan dalam pembuatan tempe pertama-tama dilakukan sebagai berikut :
1.

Kedelai dimasak, setelah masak kedelai direndam 1 malam hingga lunak dan terasa berlendir, kemudian kedelai dicuci hingga bersih. Kedelai dipecah dengan mesin pemecah, hingga kedelai terbelah dua dan kulit kedelai terpisah.

2.

3.

Kulit kedelai dipisahkan dengan cara hasil pemecahan kedelai dimasukkan ke dalam air, sehingga kulit kedelai mengambang dan dapat dipisahkan.

4.

Kedelai kupas dicuci kembali hingga bersih, kemudian peragian dengan cara kedelai dicampurkan ragi yang telah dilarutkan dan didiamkan selama lebih kurang 10 menit.
12

5.

Kedelai yang telah mengandung ragi ditiriskan hingga hampir kering, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Setelah fermentasi selama 2 hari diperoleh tempe.

2.14 Keselamatan dan kesehatan kerja Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan, agar pekerja/masyarakat pekerja beserta memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik, atau mental, maupun sosial, dengan usahausaha preventif dan kuratif, terhadap penyakit-penyakit/gangguan - gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja, serta terhadap penyakit-penyakit umum. Hiperkes pada dasarnya merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu medis dan teknis yang menjadi satu kesatuan sehingga mem`punyai tujuan yang sama yaitu menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif.

13

Kerangka Teori

Pekerja
Umur Jenis kelamin hygiene perorangan tingkat pendidikan pengetahuan masa kerja jam kerja bagian kerja

Lingkungan kerja
Panas Basah asam

Dermatosis akibat kerja (DAK)

Riwayat penyakit kulit Riwayat alergi

Bahan
Air sisa buangan

Alat
APD (alat pelindung diri)

14

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep

Dermatosis akibat kerja

Bahan
Air sisa buangan

Pekerja
Umur Jenis kelamin hygiene perorangan tingkat pendidikan pengetahuan masa kerja jam kerja bagian kerja

Alat
APD (Alat pelindung diri)

15

3.2 Variabel dan Definisi Operasional


Variabel Variabel dependent Dermatosis akibat kerja Kelainan kulit akibat bekerja di industri tempe. Dengan gambaran klinis berupa dermatitis kontak, dermatomikosis, infeksi kulit, miliaria, callus dengan penyebab utama adalah pajanan di tempat kerja. Diagnosis berdasarkan kelainan kulit diatas. Cara ukur: anamnesa dan pemeriksaan fisik Alat ukur: Variabel independent Masa kerja Lamanya pekerja telah bekerja di inustri tempe saat penelitian maupun sebelumnya. Dikategorikan berdasarkan lamanya waktu yang Hygiene perorangan memungkinkan munculnya DAK Kebiasaan pekerja untuk cuci tangan dan kaki dengan air bersih serta mengganti pakaian setelah selesai bekerja. Penilaian: Baik bila selalu mencuci tangan dan kaki serta mengganti pakaian setelah bekerja Buruk bila kadang-kadang atau tidak pernah Alat ukur: kuesioner Alat ukur: kuesioner Cara ukur: wawancara 1. Buruk 2. Baik Nominal Cara ukur: wawancara 1. > 5 tahun 2. 0 - 5 tahun Nominal 1. Tidak 2. Ya Nominal Definisi operasional Cara ukur dan alat ukur Hasil ukur Skala

16

Umur

Umur pekerja dalam tahun menurut ulang tahun terakhir pada waktu dilakukan pengumpulan data penelitian. Dikategorikan berdasarkan umur dimana risiko terjadinya DAK meningkat. Tempat dimana pekerja paling lama melaksanakan pekerjaannya setiap hari. Dikategorikan berdasarkan ada atau tidaknya hazard di bagian kerja tersebut.

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

1. > 40 tahun 2. < 40 tahun

Nominal

Bagian kerja

Cara ukur: Wawancara Alat ukur: Kuesioner

1. Pencucian, perebusan, dan perendaman 2. Bukan pencucian, perebusan, dan perendaman 1. Terpajan 2. Tidak terpajan

Nominal

Air sisa buangan

Seluruh buangan cair yang berasal dari proses seluruh kegiatan yang meliputi limbah domestik cair yakni buangan kamar mandi, dapur, limbah industri tempe. Terpajan bila pekerja selalu terpajan air sisa/limbah Tidak terpajan bila pekerja kadang-kadang atau tidak pernah

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

Nominal

17

APD

Alat yang digunakan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja, seperti sarung tangan dan sepatu. Pakai bila pekerja selalu pakai, jenis sesuai dengan kebutuhan, saat pengamatan pekerja memakai APD Tidak pakai bila pekerja kadang-kadang pakai/ tidak pakai, jenis tidak sesuai, dan tidak memakai APD saat pengamatan Sifat kelamin dari pekerja

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

1. Tidak pakai 2. Pakai

Nominal

Jenis kelamin

Cara ukur: wawancara Alat ukur:

1. Laki-laki 2. perempuan

Nominal

Tingkat Pendidikan

Jam kerja

Jenjang pendidikan formal tertinggi yang telah ditempuh dan berijazah - rendah bila belum pernah sekolah, SD tidak tamat/tamat - sedang bila SMP tidak tamat/tamat, SMA tidak tamat - tinggi bila SMA tamat, kuliah tidak tamat/tamat Waktu kerja (dari mulai sampai selesai) dalam satu hari tidak termasuk waktu istirahat. Dikategorikan berdasarkan ratarata jam kerja perhari, yaitu: Lebih dari 8 jam perhari Kurang dari sama dengan 8 jam perhari

kuesioner Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

1. Rendah 2. Sedang 3. Tinggi

Ordinal

Cara ukur: wawancara Alat ukur: kuesioner

1. > 8 jam 2. < 8 jam

Nominal

Pengetahuan

Segala sesuatu yg diketahui;

Cara ukur:

1. Tidak tahu 18

Nominal

kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui pekerja berkaitan dengan DAK dan pekerjaannya. Tahu bila mengerti tentang pekerjaannya dan DAK atau penyakit akibat kerja Tidak tahu bila tidak mengerti tentang hubungan DAK dan pekerjaannya

Wawancara Alat ukur: Kuesioner

2. Tahu

BAB IV
19

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan desain Cross sectional. 4.2 Lokasi dan waktu penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di RT 07 RW 02 Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan karena Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti memiliki kerjasama dengan Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu dan saat ini peneliti sedang sedang ditugaskan ditempat tersebut. Penelitian dilakukan pada tanggal 25 Februari 2013 20 Maret 2013. 4.3 Subyek penelitian 1. Populasi Populasi penelitian ini adalah 50 orang pekerja industri rumah tangga tempe RT 07 RW 02 Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Tahun 2013. 2. Sampel Sampel penelitian ini adalah seluruh pekerja tempe di RT 07 RW 02 Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar Minggu. Adapun kriteria inklusi dari sampel dalam penelitian ini sebagai berikut: a) Seluruh pekerja di industri rumah tangga tempe di RT 07 RW 05 Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. b) Bersedia menjadi responden c) Responden yang komunikatif Sedangkan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) Seluruh warga RT 07 RW 02 Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang bukan pekerja industri rumah tangga tempe.
20

b) Tidak bersedia untuk menjadi responden c) Responden yang tidak komunikatif 4.4 Teknik sampling Sampel diambil dengan menggunakan metode judgmental sampling atau purposive sampling. Peneliti memilih responden berdasarkan pada pertimbangan subjektif dan praktis,bahwa responden tersebut dapat memberikan informasi yang memadai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Proses pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan berdasarkan tingkat wilayah secara bertahap. Tahap pertama dengan menentukan wilayahnya yaitu Kelurahan Pasar Minggu II Kecamatan Pasar Minggu. Jumlah sampel yang diperlukan dalam penelitian ini adalah sebanyak 50 responden. Jumlah sampel ini didapat dengan menggunakan rumus sebagai berikut (S.Sudigdo, 2008): n = (Za)2 PQ (d)2 Keterangan : n a Za P Q d = besarnya sampel = batas kemaknaan, yang digunakan adalah 0,05 = untuk a sebesar 0,05 dari tabel dua arah didapatkan nilai 1,96 = proporsi penyakit kejadian dermatosis = 1-P = Akurasi dari ketepatan pengukuran untuk p > 10% adalah 0,05

Proporsi yang digunakan berdasarkan angka proporsi kejadian dermatosis di Kelurahan Pasar Minggu 2, Kecamatan Pasar minggu, Jakarta Selatan tahun 2013 sebesar 35%. berdasarkan rumus di atas didapatkan sampel:
21

(1,96) 2 x 0,35 x (1-0,35) (0,05) 2

= n =

349,58 dibulatkan menjadi 349 349 responden

Rumus Populasi finit:

n No N

= Besar sample yang di butuhkan untuk populasi finit = Besar sample dari populasi infinit = 349 responden = Besar sample populasi finit (seluruh pekerja industri tempe di Kelurahan Pasar

Minggu 2) n = 349 (1+349/50) n = 43,734 dibulatkan menjadi 44 Sample akhir, N1 N1 N1 = n + n (10%) = 44 + 44 (0.1) = 48,4 = 43,734

Jadi besar sampel penelitian 48 sampel

22

4.5 Identifikasi variable penelitian Variabel independent


1. Umur 2. Jenis kelamin 3. hygiene perorangan 4. tingkat pendidikan 5. pengetahuan 6. masa kerja 7. jam kerja 8. bagian kerja 9. air sisa buangan 10. alat pelindung diri

Variabel dependen 4.6 Dermatosis akibat kerja Instrumen penelitian

Instrumen penelitian ini diambil dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup dan terbuka tentang variabel-variabel penelitian yang diberikan langsung kepada responden untuk diisi, dan melalui proses wawancara

23

4.7 4.7.1

Cara Pengumpulan Data Alur Pengumpulan Data

Gambar 4.8. Alur Pengumpulan Data


Proposal disetujui

Saringan populasi

Mengumpulkan sampel

Peneliti melakukan wawancara dan kuesioner

Peneliti mengumpulkan data Peneliti mengolah dan menganalisis data dalam bentuk tabular, tekstular dan grafik dengan menggunakan Microsoft Word dan SPSS 17,0 Penyajian data dalam bentuk presentasi

24

4.7.2

Pengumpulan Data Primer

Data yang diperoleh dari hasil wawancara langsung dan kuesioner pada responden yang dilakukan di industry rumah tangga pembuatan tempe di RT07 RW02 Kelurahan Pasarminggu 2.

4.7.3

Pengumpulan Data Sekunder Data yang diperoleh dari pencatatan kejadian Dermatosis yang didapatkan dari

laporan surveillance Puskesmas Kelurahan Pasar Minggu II.

4.7.4 Pengumpulan Data Tersier Data diperoleh dari buku teks, jurnal, dan penelitian yang ada sebelumnya.

4.8 Rencana pengolahan dan analisis data Data yang telah berhasil diperoleh diolah secara elektronik setelah melalui proses penyuntingan, pemindahan data ke komputer dan tabulasi. Data yang terkumpul dari hasil kuesioner diolah, dianalisis dan dimasukkan dalam program computer Microsoft office excel 2007 dan SPSS 17.0. Adapun langkah-langkah pengolahan data dilakukan seperti tahap-tahap dibawah ini : 1. Cleaning Memeriksa kelengkapan data, kelengkapan kuesioner, apakah semua pertanyaan telah dijawab dengan lengkap dan benar. Memeriksa kesinambungan data, dalam arti tidak ditemukannya data atau keterangan antara satu dengan yang lainnya. Memeriksa keseragaman data, apakah ukuran yang digunakan dalam

mengumpulkan data sudah seragam atau tidak. 2. Entry Pemasukan data (data entry) yaitu memasukkan data kedalam program computer yaitu SPSS untuk kemudian dianalisa.
25

3. Coding Pengkodean data (data coding) yaitu mengklasifikasikan data dan memberi kode atau simbol tertentu, misal berupa angka untuk setiap jawaban. 4. Editing Pengeditan data (editing) yaitu mengeluarkan data yang dianggap janggal, yaitu dengan melihat distribusi frekuensi dari variabel-variabel dan melihat kelogisannya. Setelah dicek kembali untuk memastikan data tersebut telah bersih dari kesalahan, maka data tersebut siap untuk dianalisa. 4.9 Analisis Data 4.9.1 Analisis Univariat Analisis menggunakan distribusi frekuensi data berdasarkan nilai rata-rata (mean) terhadap variabel-variabel yang diteliti. 4.9.2 Analisis Bivariat Analisis bivariat yang digunakan adalah uji statistik chi-square, untuk mencari hubungan yang bermakna secara statistik antara variabel dependen dengan variabel independen yang mengacu pada nilai p-value <0,05. 4.10 Penyajian Data Tekstural, hasil penelitian disajikan dalam bentuk kalimat. Tabulasi, hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Grafik, hasil penelitian disajikan dalam bentuk diagram pie dan diagram batang

4.11 Jadwal Kegiatan Penelitian Tahapan Kegiatan A Perencanaan 1 Orientasi dan Identifikasi Masalah 2 Pemilihan Topik 3 Penelurusan kepustakaan 4 Pembuatan Proposal 5 Konsultasi dengan pembimbing 6 Pembuatan questionnaire 7 Presentasi Proposal B Pelaksanaan
26

Waktu Dalam Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

1 Ujicoba questionnaire 2 Pengumpulan data dan Survey 3 Pengolahan data 4 Analisis data 5 Konsultasi dengan Pembimbing C Pelaporan Hasil 1 Penulisan laporan sementara 2 Diskusi 3 Presentasi hasil laporan sementara 4 Revisi Presentasi Hasil akhir 5 (puskesmas dan trisakti) 6 Penulisan laporan akhir Tabel 2. Jadwal kegiatan 4.12 Perkiraan Biaya Penelitian Penggandaan Kuesioner Transportasi Kertas A4 Tinta Printer Cenderamata Biaya tak terduga: Rp. 150.000,Rp. 200.000,Rp 20,000,Rp. 220.000,Rp 100,000,Rp. 300.000,Rp. 980.000,-

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Chandra Budiman. (2006). Pengantar kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC 2. Dahlan M. Sopiyudin. ( 2009). Besar Sampel dan Cara Pengambilan Sampel dalam Penelitian Kedokteran dan Kesehatan . Jakarta : salemba Medika. 3. Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005. 4. Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. 5. Indonesia. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. 6. Silalahi, Bennett N.B. dan Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen

keselamatan dan kesehatan kerja.. Jakarta: :Pustaka Binaman Pressindo. 7. Suma'mur .1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta :Haji Masagung 8. Suma'mur .1985. Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan. Jakarta :Gunung Agung, 1985
9. Ferdinandus L. Analisis dermatosis akibat kerja pada pekerja industri tempe di Kelurahan Cipulir, Jakarta Selatan. Jakarta: FKM UI. 1998.

28