Anda di halaman 1dari 6

ABSTRAK Jeruk purut (Citrus hystrix) merupakan salah satu tanaman obat yang mempunyai bau aromatic yang

berasal dari minyak atsiri yang dikandungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) terhadap nyamuk Aedes aegypti. Daun jeruk purut didestilasi uap dan air untuk diambil minyak atsirinya. Efektivitas formula diuji terhadap nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan menghitung waktu perlindungannya. Formula ini dibuat dengan mencampurkan minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) 100% dengan pengencer yaitu paraffin cair. Konsentrasi minyak daun jeruk purut yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsentrasi 5%, 10%, 20%, dan 40%. Sebagai kontrol positif digunakan lotion antinyamuk yang mengandung DEET 13% dan kontrol negatif dalam penelitian ini adalah paraffin cair. Uji efektivitas antinyamuk menggunakan sampel nyamuk Aedes aegypti betina steril yang masing-masing sangkarnya berjumlah 25 ekor nyamuk yang sudah dipuasakan selama satu hari. Tangan probandus yang telah dicuci air dikeringkan kemudian diolesi dengan minyak daun jeruk. Tangan dimasukkan dalam sangkar nyamuk selama 10 menit, kemudian tangan dikeluarkan dari sangkar selama 5 menit. Jika tidak digigit selama 30 menit setelah minyak daun jeruk purut dioleskan, maka tangan dimasukkan lagi ke dalam sangkar nyamuk selama 10 menit dan keluarkan dari sangkar selama 15 menit. Waktu yang dicatat sebagai hasil penelitian ini adalah waktu mulai tangan probandus diolesi repelan sampai pertama kali nyamuk Aedes aegypti menggigit tangan probandus. Waktu tersebut disebut sebagai waktu perlindungan (protection time). Pada semua perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali. Hasil minyak daun jeruk purut melalui destilasi uap dan air yang diperoleh dari 3 kg daun jeruk purut adalah 20 ml minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) dengan konsentrasi 100%. Dari hasil uji efektivitas antinyamuk didapatkan hasil waktu perlindungan berturut-turut adalah 35.96 1.95; 44.83 4.63; 59.76 2.83; dan 139.41 3.92 menit. Konsentrasi yang memiliki waktu perlindungan terbesar adalah konsentrasi 40%. ABSTRACT Citrus hystrix is one of herbal plants having aromatic smell and derived from volatile oil contained in. This research is aimed to know the efectivity of volatile oil of Citrus hystrix as repellent of Aedes aegypti. Volatile oil water and steam distilled essential oil fraction to be taken. Formulation efectivity tested against Aedes aegypti mosquito that is by calculating the protection time.The formula is made by mixing volatile oil of Citrus hystrix with a liquid paraffin with a concentration of 5%, 10%, 20%, and 40%. As a positive control use patent lotion with 13% DEET, whereas the negative control used the liquid paraffin. The effectivity test of 1 day-fasted 25 female steril Aedes aegypti in every cage. Probandus hands which had washed and dried then smeared with test material. The hand which had smeared with testing material is put into the mosquito cage for 10 minutes then the hand is out from cage for 5 minutes. If there is no mosquitos that bite the hands for 30 minutes, then put the hands into the cage again for 5 minutes and take it out for 15 minutes. Time which recorded as result is the from application of the repellent to the time until the first bite of Aedes aegypti. Its called protection time. All consentration is tested three time repetition. The result of volatile oil by water and steam distilled from 3 kg Citrus hystrix leaves is 20 ml volatile oil of Citrus hystrix 100%. From the test results obtained activity results lotion protection time in a row were 35.96 1.95; 44.83 4.63; 59.76 2.83; dan 139.41 3.92 minutes. Preparations that have their greatest protection is formula which contains 40% volatile oil of Citrus hystrix.

PENDAHULUAN Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti sebagai vektornya. Sejauh ini pengendalian nyamuk Aedes aegypti telah banyak dilakukan. Pengendalian vektor tersebut dapat dilakukan dengan cara menghindari gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu waktu tidur, mengoles kulit dengan repelan gosok, membunuh larva nyamuk, membunuh nyamuk dewasa, menghilangkan atau mengurangi tempat perindukannya. Tindakan preventif paling dini yang dapat dilakukan oleh setiap individu dalam pengendalian vektor adalah dengan melakukan proteksi diri terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti dengan menggunakan repelan [5]. Repelan yang banyak beredar di masyarakat sebagian besar mengandung bahan kimia, yaitu DEET (N, N-diethyl-m-tolumide) 13 %. Toksisitas DEET tergantung dari rute paparan dan dosis yang masuk ke dalam tubuh. Tertelannya DEET menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti mual dan muntah (tertelan dalam jumlah kecil) dan biasanya bersifat reversibel. Dosis yang lebih tinggi menyebabkan hipertensi, takikardi, kejang, depresi sistem saraf pusat, letargi, ataksia, tremor, opisthotonus, hipertonia, hepatitis toksik, depresi saluran pernapasan dan koma. Ketika digunakan secara langsung pada kulit, masalah yang sering muncul adalah iritasi kulit, termasuk eritema (kemerahan pada kulit) dan pruritis (gatal) [1]. Oleh karena itu, untuk membatasi

penggunaan DEET sebagai repelan maka perlu dicari repelan alternatif yang aman, nyaman dan efektif untuk mencegah gigitan nyamuk. Salah satu cara adalah dengan memanfaatkan bahan dari alam. Salah satunya dengan menggunakan bahan alam yaitu daun jeruk purut [13]. Daun jeruk purut di masyarakat dikenal sebagai bumbu masak maupun sumber aroma dan rasa untuk berbagai keperluan. Kandungan utama minyak daun jeruk purut adalah minyak atsiri yang bisa mencapai kadar 2-3,5%. Beberapa jenis minyak atsiri tumbuhan telah digunakan atau mempunyai aktivitas penolak serangga (insect repellent). Berdasarkan penelitian yang yang terakhir ternyata beberapa jenis tumbuhan yang mengandung minyak atsiri, salah satunya adalah daun jeruk purut mempunyai aktivitas penolak serangga (insect repellent). Daun jeruk purut ini mempunyai bau aromatik yang berasal dari minyak atsiri (esteris) yang dikandungnya Kandungan minyak daun jeruk purut adalah sitronelal, linalool, sitronelil-asetat, sitral, nerol dan geraniol [12]. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektivitas minyak daun jeruk purut sebagai antinyamuk Aedes aegypti sebagai vektor virus Demam Berdarah Dengue yang dapat ditentukan dari waktu perlindungannya (protection time).

METODE Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Rekayasa Proses Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, Laboratorium Farmasetika Fakultas Farmasi Universitas Jember dan di Laboratorium Entomologi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Bahan-bahan yang digunakan untuk penelitian ini : minyak daun jeruk purut, nyamuk Aedes aegypti betina steril berumur 2-5 hari, parafin cair, lotion yang mengandung DEET 13%, tangan naracoba. Alatalat yang digunakan : seperangkat alat destilasi, gelas ukur, pipet, balb red, aspirator, pengukur waktu atau stopwatch, kandang uji (25x25x25) cm3, botol berwarna gelap. Isolasi minyak daun jeruk purut dilakukan dengan metode destilasi uap dan air. Daun jeruk purut dipilih yang masih muda dan segar berwarna hijau tua agak mengkilap, kemudian dipisahkan dari batangnya, kemudian dilakukan tahap penyulingan. Penyulingan dengan air dan uap dilakukan dengan cara menimbang daun jeruk purut sesuai dengan kapasitas tangki penyulingan, kemudian dirajang (dipotong kecil-kecil), bahan tersebut kemudian diletakkan di atas piring yang berupa ayakan yang terletak beberapa sentimeter di atas permukaan air dalam ketel penyuling. Penyulingan berlangsung selama 5 jam. Selama proses pemanasan ini, air dari kukusan dan ekstrak tanaman akan berubah menjadi uap air dan minyak. Keduanya akan dikeluarkan melalui saluran tabung penyuling dan nantinya akan menetes kembali ke saluran tabung penyuling bagian akhir, yang berupa kran tertutup. Air akan selalu berada di bawah minyak karena berat jenis air lebih berat dari pada berat jenis minyak. Air di bawah minyak harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum mengeluarkan minyak dari tabung penyuling. Setelah air yang berada di bawah minyak dikeluarkan dengan tuntas, minyak yang keluar bisa segera ditampung dalam wadah. Hasil akhir dari proses penyulingan daun jeruk purut (Citrus hystrix) adalah minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) dengan konsentrasi 100% [6]. Minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) 100% ini akan diencerkan menggunakan parafin cair. Dibuat empat macam formula minyak atsiri kunyit dengan konsentrasi 5%, 10 %, 20% dan 40% v/v. Pembuatan formula dilakukan dengan cara diencerkan dengan parafin cair. Parafin cair digunakan dalam pengenceran karena menurut hasil uji pendahuluan zat ini termasuk netral (tidak bersifat repelan/ menolak ataupun attractant / memikat) terhadap nyamuk Aedes aegypti [5]. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Masing masing kelompok menggunakan sampel nyamuk Aedes aegypti sejumlah 25 ekor. Kelompok perlakuan dibagi menjadi empat, yaitu kelompok perlakuan pertama (P1), kelompok perlakuan kedua (P2), kelompok perlakuan ketiga (P3) dan kelompok perlakuan keempat (P4). Kontrol negatif (K-) akan dipapar dengan parafin cair, kelompok kontrol positif (K+) akan dipapar dengan produk lotion antinyamuk yang mengandung DEET 13%, P1 dipapar dengan repelan daun jeruk purut dengan konsentrasi 5%, P2 dipapar dengan repelan daun jeruk purut konsentrasi 10%, P3 dipapar dengan repelan daun jeruk purut dengan konsentrasi 20% dan P4 dipapar dengan repelan daun jeruk purut dengan konsentrasi 40%. Uji aktivitas daya repelan dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: Disiapkan 6 buah sangkar yang masingmasing berisi 25 ekor nyamuk Aedes aegypti betina steril yang berumur 2-5 hari, nyamuk tersebut dipuasakan selama sehari sebelum percobaan. Nyamuk ini hanya boleh digunakan sekali dan harus dimusnahkan setelah perlakuan selesai. Tangan probandus dibersihkan dengan air, kemudian dikeringkan dengan handuk. Selanjutnya tangan masing-masing probandus diolesi dengan minyak daun jeruk purut sebanyak 1 ml sesuai konsentrasi yang akan diujikan sampai rata dan dimasukkan ke dalam sangkar nyamuk selama 10 menit, kemudian tangan dikeluarkan dari sangkar selama 5 menit. Jika tidak digigit selama 30 menit setelah minyak daun jeruk purut dioleskan, maka tangan dimasukkan lagi ke dalam sangkar nyamuk selama 10 menit dan keluarkan dari sangkar selama 15 menit. Seorang probandus harus menghindari konsumsi alkohol, penggunaan parfum maupun pewangi-pewangi lainnya di bagian tangan yang akan diujikan sebelum dan selama percobaan. Waktu yang dicatat sebagai hasil penelitian ini adalah waktu mulai tangan probandus diolesi repelan sampai pertama kali nyamuk Aedes aegypti menggigit tangan probandus. Waktu tersebut disebut sebagai waktu perlindungan ( protection time) [3]. Pada

semua perlakuan akan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali kemudian dilakukan tabulasi hasil dan analisis data. Pengolahan data analisis menggunakan uji Analysis of Varian (Anova) yang bertujuan untuk membandingkan minyak daun jeruk purut dengan konsentrasi yang berbeda terhadap aktivitas repelan. Jika pada uji Anova didapatkan hasil yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji LSD.

HASIL Pada penelitian ini, minyak daun jeruk purut didapatkan dengan metode penyulingan dengan air dan uap. Keuntungan dengan menggunakan sistem penyulingan tersebut adalah karena uap berpenetrasi secara merata kedalam jaringan bahan dan suhu dapat dipertahankan sampai 100C. Lama penyulingan relatif lebih singkat, rendemen minyak lebih besar dan mutunya lebih baik jika dibandingkan dengan minyak hasil dari sistem penyulingan dengan air. Hasil minyak daun jeruk purut yang diperoleh dari 3 kg daun jeruk purut adalah 20 ml. Minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) 100% ini diencerkan menggunakan parafin cair. Konsentrasi repelan minyak daun jeruk purut 5% setara dengan 0,5 ml minyak daun jeruk purut 100%, konsentrasi 10% setara dengan 1 ml minyak daun jeruk purut 100%, konsentrasi repelan minyak daun jeruk purut 20% setara dengan 2 ml minyak daun jeruk purut 100%, dan konsentrasi 40% setara dengan 4 ml minyak daun jeruk purut 100%. Penelitian dilakukan dengan mengamati waktu perlindungan repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Waktu perlindungan dinilai dari mulai dioleskannya repelan pada tangan probandus sampai ada nyamuk pertama yang mengigit tangan probandus selama perlakuan. Konsentrasi minyak daun jeruk purut yang digunakan dalam perlakuan ini adalah 5%, 10%, 20% dan 40%. Kontrol positif yang digunakan adalah sediaan repelan yang mengandung DEET, kontrol positif tidak dapat diketahui basis dan bahan pembawa dari zat aktifnya, jadi yang dibandingkan adalah efektivitas produk repelan yang mengandung DEET 13% dengan sediaan minyak daun jeruk purut bukan bahan aktif dari masing-masing sediaan. Kontrol negatif yang dipakai adalah parafin cair. Parafin cair ini dipilih karena sifatnya yang larut dalam minyak, sudah sering digunakan untuk campuran produk topical karena reaksi alergi yang mungkin ditimbulkan sangat minimal, dan diharapkan tidak memberikan efek antinyamuk atau memiliki efek antinyamuk yang sangat minimal [8]. Mekanisme kerja dalam penelitian adalah bahan uji (perlakuan dan kontrol) dilakukan sesuai dengan metode penelitian. Data hasil pengamatan pada uji efektivitas repelan minyak daun jeruk purut sebagai antinyamuk Ae. aegypti disajikan dalam bentuk tabel. Aktivitas repelan K (-) 5% 10% 20% 40% K (+) Waktu perlindungan repelan (menit) 2 3 Rata-rata SD 7.1 6.98 7.24 0.35 38.15 49.58 63.02 142.72 112.12 35.52 44.6 57.93 135.08 107.02 35.96 1.95 44.83 4.63 59.76 2.83 139.41 3.92 108.96 2.76

1 7.36 34.42 40.33 58.32 140.43 107.75

Hasil pengamatan didapatkan waktu perlindungan repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti pada setiap kelompok, baik kelompok perlakuan dengan berbagai konsentrasi, maupun kelompok kontrol. Pada penelitian ini, kelompok kontrol negatif juga mempunyai sedikit aktivitas repelan. Hal ini dikarenakan parafin mempunyai sifat oklusif, yakni mampu menutup permukaan kulit, sedangkan nyamuk mengindra mangsanya dari uap air dalam hal ini adalah keringat dan aroma yang keluar dari tubuh mangsanya. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi minyak daun jeruk purut maka semakin besar waktu perlindungannya terhadap nyamuk Ae.aegypti. Dapat dinyatakan pula bahwa minyak daun jeruk purut konsentrasi 40% yang setara dengan 4 ml minyak daun jeruk purut 100% paling efektif sebagai repelan karena memberikan waktu perlindungan terlama yaitu 139,41 menit. Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji KolmogorovSmirnov. Hasil uji normalitas didapatkan p>0,05 yang menunjukkan bahwa data dari semua kelompok terdistribusi normal. Selanjutnya untuk mengetahui keseragaman populasi sampel dilakukan uji homogenitas menggunakan Levene test. Berdasarkan hasil uji homogenitas didapatkan nilai p>0,05, hal ini menunjukkan bahwa data dari semua kelompok uji adalah homogen.

Berdasarkan uji normalitas dan homogenitas data berdistribusi normal dan homogen, maka dilakukan uji parametrik dengan uji One-way anova untuk membandingkan efektivitas tiap konsentrasi minyak daun jeruk purut sebagai antinyamuk Aedes aegypti. Berdasarkan hasil analisis data dengan One way anova diperoleh taraf signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05), artinya terdapat perbedaan yang signifikan waktu perlindungan terhadap nyamuk Aedes aegypti dari minimal dua kelompok konsentrasi. Tahap selanjutnya dilakukan uji LSD untuk mengetahui perbedaan waktu perlindungan terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti antara kelompok perlakuan yang satu dengan yang lain. Taraf kepercayan yang digunakan adalah 95% yang artinya jika didapat nilai p<0,05 maka terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan yang dibandingkan terhadap perlakuan yang lain. Berdasarkan hasil uji LSD waktu perlindungan terhadap gigitan nyamuk Aedes aegypti pada tiapa-tiap kelompok perlakuan maupun control jika dinadingkan dengan kelompok lainnya didapatkan nilai signifkansi p = 0.000 (<0,05) yang berarti semua kelompok memiliki perbedaan waktu perlindungan yang signifikan dibanding dengan kelompok lain.

PEMBAHASAN Pada penelitian mengenai potensi minyak daun jeruk purut ( Citrus hystrix) sebagai antinyamuk Aedes aegypti ini pemilihan umur nyamuk merupakan hal penting karena umur nyamuk merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap daya tahan nyamuk terhadap pajanan senyawa kimia. Jika salah memilih umur akan dapat mengakibatkan tingkat kematian nyamuk yang terlalu cepat. Oleh karena itu, pemilihan umur nyamuk adalah kegiatan yang penting dalam penelitian. Kisaran umur nyamuk Ae. aegypti yang digunakan dalam penelitian ini adalah usia antara 2-5 hari. Rentang usia 2-5 hari merupakan rentang umur terbaik dari nyamuk, dimana ketahanan tubuhnya masih kuat dan sudah produktif. Pada umur dibawah 2 hari, keadaan fisik nyamuk masih lemah sehingga akan mempermudah terjadinya kematian pada nyamuk, sementara pada umur di atas 5 hari ketahanan tubuh nyamuk telah menurun yang akan mengakibatkan meningkatnya resiko kematian [2]. Jenis kelamin nyamuk berkaitan dengan peran nyamuk dalam menularkan penyakit arthropod-borne viral disease pada manusia. Seluruh penyakit arthropod-borne viral disease yang ditularkan oleh nyamuk pada manusia, ditularkan oleh nyamuk betina. Hal ini disebabkan perilaku nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah manusia untuk mematangkan telurnya, sementara nyamuk jantan tidak menggigit manusia dan hanya menghisap sari tumbuhan [10]. Jenis kelamin nyamuk juga berkaitan dengan ketahanan tubuh antara nyamuk jantan dan betina berbeda. Nyamuk betina berumur lebih lama dibandingkan nyamuk jantan. Nyamuk jantan biasanya hanya dapat bertahan hidup selama 6 sampai 7 hari, sementara nyamuk betina dapat bertahan hidup sampai 2 minggu [9]. Oleh karena itu dalam penelitian ini digunakan nyamuk Ae. aegypti dengan jenis kelamin betina. Mekanisme kerja dalam penelitian adalah bahan uji (perlakuan dan kontrol) dilakukan sesuai dengan metode penelitian. Seorang probandus harus menghindari konsumsi alkohol, penggunaan parfum maupun pewangipewangi lainnya di bagian tangan yang akan diujikan sebelum dan selama percobaan. Hal ini dilakukan karena parfum atau pewangi terutama yang beraroma bunga akan lebih disukai oleh nyamuk, sehingga nyamuk akan lebih senang menggigit dan hasil penelitian akan menjadi bias. Alkohol juga berpengaruh karena seseorang yang mengonsumsi alkohol akan memiliki bau nafas dan bau badan yang cenderung menyengat sehingga nyamuk akan lebih tertarik [7]. Waktu yang dicatat sebagai hasil penelitian ini adalah waktu mulai tangan probandus diolesi repelan sampai pertama kali nyamuk Aedes aegypti menggigit tangan probandus. Waktu tersebut disebut sebagai waktu perlindungan (protection time). Berdasarkan analisis data penelitian dengan menggunakan uji Anova dan LSD, diketahui bahwa tiaptiap konsentrasi minyak daun jeruk purut mempunyai efektivitas sebagai antinyamuk Ae. aegypti dan mempunyai perbedaan waktu perlindungan yang berbeda signifikan antara masing-masing konsentrasi. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukan yaitu minyak daun jeruk purut mempunyai efektivitas sebagai antinyamuk Ae. aegypti. Nyamuk Ae.aegypti tidak menggigit tangan probandus dikarenakan repelan minyak daun jeruk purut yang dioleskan pada tangan probandus tersebut akan menguap dan uap yang mengandung senyawa tertentu ini akan mengelilingi bagian tubuh yang diolesi. Uap ini mencegah gigitan nyamuk dengan cara membingungkan organ yang peka terhadap karbondioksida dan uap air, sebab nyamuk mengindra mangsa bredasarkan respon uap air dalam hal ini adalah keringat manusia dan karbondioksida [4]. Gigitan nyamuk sendiri dipengaruhi oleh warna kulit, besarnya pori-pori kulit, suhu, aroma tubuh dan kelembaban kulit. Nyamuk lebih menyukai warna kulit yang cenderung gelap dan pori-pori kulit yang besar karena lebih dapat mengindra keringat yang keluar dari pori-pori tersebut. Suhu tubuh yang lebih tinggi lebih disukai nyamuk karena nyamuk memiliki sensor panas untuk mengenali mangsanya. Nyamuk lebih suka terhadap kulit yang lembab dan aroma tubuh yang menyengat [7]. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Susilowati (2009), minyak daun jeruk purut ini diketahui mengandung beberapa senyawa, antara lain senyawa sitronelal, linalool, sitronelol, sitronelil asetat, kariofilin dan geraniol. Senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa yang diduga dapat mempengaruhi keadaan fisik dan metabolisme nyamuk yang berperan penting dalam membunuh nyamuk Ae. aegypti. Sitronelal merupakan

senyawa terbanyak dalam minyak daun jeruk purut, sitronelal ini mengeluarkan bau yang tidak disukai serangga sehingga dapat menjauhkan tanaman dari hama serangga. Sitronelal juga mempunyai sifat racun dehidrasi (desiscant). Racun tersebut merupakan racun kontak yang dapat mengakibatkan kematian karena kehilangan cairan terus menerus. Senyawa lain adalah linalool, senyawa ini bersifat racun kontak yang meningkatkan aktivitas saraf sensorik pada serangga, lebih besar menyebabkan stimulasi saraf motor yang menyebabkan kejang dan kelumpuhan beberapa serangga. Senyawa lain yang dapat menjauhkan serangga adalah geraniol, senyawa ini memiliki sifat sebagai racun lambung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tawatsin (2001) menunjukkan bahwa minyak daun jeruk purut pada konsentrasi 25% dengan pengencer ethanol dapat memberikan waktu perlindungan terhadap nyamuk Ae.aegypti selama kurang lebih 1 jam. Hasil penelitian dari Tawatsin ini tidak dapat dibandingkan secara nyata karena metode dan pengencernya yang berbeda. Efektivitas minyak daun jeruk purut sebagai antinyamuk dapat dilihat dari waktu perlindungan yang diberikan. Berdasarkan data hasil pengamatan, dapat dilihat bahwa kenaikan konsentrasi minyak daun jeruk purut selalu diikuti dengan kenaikan waktu perlindungan terhadap nyamuk. Hal ini menunjukkan bahwa tiap konsentrasi dari minyak daun jeruk purut memiliki potensi sebagai antinyamuk Ae. Aegypti. Waktu perlindungan nyamuk yang paling rendah dijumpai pada kelompok konsentrasi terendah, yakni 5%. Waktu perlindungan meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi dari minyak daun jeruk purut. Pada kelompok perlakuan, kelompok konsentrasi 40% adalah kelompok yang memberikan waktu perlindungan terlama. Data hasil perlakuan didapatkan waktu perlindungan nyamuk dari kelompok kontrol positif terlihat lebih kecil daripada kelompok konsentrasi 40%, jadi minyak daun jeruk purut dengan konsentrasi 40% bekerja sangat efektif sebagai repelan terhadap nyamuk Ae. aegypti jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu sediaan repelan yang mengandung DEET . Penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Sugihantoro (2009) tentang efektivitas minyak rimpang kunyit sebagai repelan menunjukkan bahwa kontrol positifnya yaitu sediaan repelan yang mengandung DEET 13% memiliki waktu perlindungan selama kurang lebih 2 jam. Konsentrasi minyak daun jeruk purut 40% memberikan waktu perlindungan yang lebih lama daripada kontrol positif dikarenakan konsentrasinya yang tinggi, sehingga senyawa-senyawa antinyamuk yang terkandung juga akan lebih banyak dan waktu perlindungan yang diberikan juga lebih lama.

KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil kesimpulan bahwa minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) memiliki efektivitas sebagai antinyamuk Aedes aegypti dan konsentrasi yang memberikan waktu perlindungan nyamuk tertinggi adalah konsentrasi 40% yang setara dengan 4 ml minyak daun jeruk purut konsentrasi 100%. Semakin tinggi konsentrasi minyak daun jeruk purut (Citrus hystrix) semakin tinggi pula waktu perlindungan yang diberikan. Saran-saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui derajat iritatif repelan minyak daun jeruk purut terhadap kulit manusia, bentuk sediaan yang lebih dapat diterima pengguna repelan minyak daun jeruk purut ini, dan potensi minyak daun jeruk purut ini sebagai insektisida terhadap semua stadium nyamuk Aedes aegypti.

UCAPAN TERIMA KASIH Disampaikan terima kasih kepada Bapak Harso Hariyadi dan Ibu Mamik Suparti yang telah membantu penelitian dan kepada almamater Fakultas Kedokteran Universitas Jember. DAFTAR PUSTAKA Badan POM RI. 2009. Bahaya DEET pada Insect Reppellent. Info POM Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISSN 1829-9334. Vol. 10 (5): 5 8. Boewono, D. T. 2003. Pedoman Uji Hayati Insektisida Rumah-Tangga (Household Insecticides). Salatiga : BPVRP. Environmental Protection Agency (EPA). 1999. Insect Repellents for Human Skin and Outdoor Premises. US EPA. Gandahusada, S., Ilahude, H., Pribadi, dan Wita. 2006. Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kardinan, A. 2007. Potensi Selasih sebagai Repellent Terhadap Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Littri. ISSN 0853-8212. Vol. 13 (2): 39 42. Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Astiri. Jakarta: PN Balai Pustaka: Jakarta.

Logan, James. 2009. Identification of Human-derived Volatile Chemicals that Interfere with Attraction of the Scottish Biting Midge and Their Potential Use as Repellents. Journal of Medical Entomology. Vol. 46: 208-219. Rowe, Raymond., Sheskey, Paul., Quinn, M.E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition. Chicago: Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association 2009. Soedarto. 2007. Sinopsis Kedokteran Tropis. Surabaya : Airlangga University Press. Soegijanto, S. 2006. Demam Berdarah Dengue. Edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press. Sugihantoro, H. 2009.Formulasi Sediaan Emulgel Minyak Atsiri Rimpang Kunyit Sebagai Repelan terhadap Nyamuk Aedes Aegypti. Tidak Diterbitkan. Jember: Universitas Jember. Susilowati, D., Rahayu, M., dan Prastiwi, R. 2009. Efek Penolak Serangga (Insect Repellent) dan Larvasida Ekstrak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) terhadap Culex Sp. Jurnal Biomedika. ISSN 1979-35X Vol.2 (1): 31-40. Tawatsin, A., Steve, W., dan Roderic, R. 2001. Repellency of Volatile Oil from Plants Againts Three Mosquito Vectors. Journal of Vector Ecology. Vol.26 (1): 76-82.