Anda di halaman 1dari 21

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit infeksi noninfeksius yang kronik pada kulit dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan kurang lebih enam hingga sembilan kali lebih besar daripada kecepatan yang normal. Sel-sel dalam lapisan basal kulit membagi diri terlalu cepat, dan sel-sel yang baru terbentuk bergerak lebih cepat ke permukaan kulit sehingga tampak sebagai sisik atau plak jaringan epidemis yang profus. Sel epidermis yang mengalami psoriasis dapat berjalan dari lapisan basal epidermis ke stratum korneum (permukaan kulit) dan melepaskan diri dalam waktu tiga hingga empat hari sehingga sangat berbeda dalam waktu 26 hingga 28 hari yang normal. Sebagai akibat dari peningkatan jumlah sel basal dan pergerakan sel yang cepat, kejadian maturasi dan pertumbuhan yang normal tidak dapat berlangsung. Proses yang abnormal ini tidak memungkinkan terbentuknya lapisan protektif kulit yang normal. Sebagai salah satu penyakit kulit yang paling sering ditemukan, psoriasis menjangkiti kurang lebih 2% populasi (Cam, 1992). Diperkirakan bahwa keadaan ini berasal dari cacat herediter yang menyebabkan over produksi keratin. Meskipun penyebab primernya tidak diketahui, kombinasi susunan genetic yang spesifik dan rangsangan dari lingkungan dapat memicu terjadinya penyakit tersebut. Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa proliferasi sel dikarenakan oleh system imun. Periode stress emosional dan ansietas turut memperburuk keadaan, sementara trauma, infeksi serta perubahan musim dan hormonal merupakan factor pemicu. Awitan psoriasis dapat terjadi pada segala usia kendati lebih sering di jumpai di antara usia 10 dan 30 tahun (Stiller, 1994). Psoriasis memiliki kecenderungan untuk membaik sendiri dan kemudian muncul kembali secara periodik di sepanjang usia penderitanya.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, dalam makalah kami dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut: 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.2.8 1.2.9 apa pengertian dari psoriasis? apa klasifikasi dari psoriosis? bagaimana epidemiologi dari psoriasis? apa etiologi dari psoriasis? bagaimana tanda dan gejala dari psoriasis? bagaimana patofisiologi dari psoriasis? apa komplikasi dan prognosis dari psoriasis? bagaimana pemeriksaan penunjang dari psoriasis? bagaimana penatalaksanaan dari psoriasis?

1.2.10 bagaimana pengobatan dari psoriasis? 1.2.11 bagaimana pencegahan psoriasis? 1.2.12 bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit psoriasis?

1.3 Tujuan Berdasarkan rumusan masalah di atas, makalah kami memiliki tujuan yaitu sebagai berikut: 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5 1.3.6 1.3.7 1.3.8 1.3.9 mengetahui apa pengertian dari psoriasis; mengetahui klasifikasi dari psoriasis; mengetahui epidemiologi dari psoriasis; mengetahui etiologi dari psoriasis; mengetahui tanda dan gejala dari psoriasis; mengetahui patofisiologi dari psoriasis; mengetahui komplikasi dan prognosis dari psoriasis; mengetahui pemeriksaan penunjang dari psoriasis; mengetahui penatalaksanaan dari psoriosis;

1.3.10 mengetahui bagaimana pengobatan dari psoriasis; 1.3.11 mengetahui bagaimana pencegahan psoriasis;

1.3.12 mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit psoriasis.

1.4 Manfaat Manfaat dari pembuatan makalah ini untuk perawat adalah untuk memberikan gambaran yang nyata tentang penyakit psoriasis dan tentang bagaimana pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien dengan psoriasis dengan menggunakan metode keperawatan sehingga dalam pemberian asuhan keperawatan dapat maksimal.

BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Psoriasi adalah suatu penyakit peradangan kronis pada kulit dimana penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup seseorang bila tidak dirawat dengan baik (Effendy, 2005). Psoriasis adalah penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak eritema berbatas tegas di tutupi oleh skuama tebal berlapis-lapis berwarna putih mengkilat (Siregar, 2005). Psoriasis adalah penyakit inflamasi non infeksius yang kronik pada kulit dimana produksi sel-sel epidermis terjadi dengan kecepatan 6-9 x lebih besar daripada kecepatan sel normal (Smeltzer, 2002). Psoriasis adalah ganggguan kulit yang ditandai dengan plaque, bercak, bersisik yang dikenal dengan nama penyakit papulosquamoas (Price, 1994). Psoriasis adalah penyakit autoimun yang mengenai kulit, ditandai dengan sisik yang berlapis berwarna keperakan, disertai dengan penebalan warna kemerahan dan rasa gatal atau perih. Bila sisik ini dilepaskan maka akan timbul bintik perdarahan di kulit dibawahnya. Namun secara umum, Psoriasis merupakan sejenis penyakit kulit yang dimana penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang, secara klinis penyakit Psoriasis sifatnya tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup serta menggangu kekuatkan mental seseorang bila tidak dirawat dengan baik.

2.2 Klasifikasi Berdasarkan bentuk lesi, dikenal bermacam-macam psoriasis antara lain: a. Psoriasis punctata : Lesi sebesar jarum pentul atau milier. b. Psoriasis folikularis : Lesi dengan skuama tipis terletak pada muara folikel rambut. c. d. e. f. Psoriasis guttata Psoriasis numularis Psoriasis girata Psoriasis anularis : : Lesi sebesar tetesan air. : Lesi sebesar uang logam. : Lesi sebesar daun. Lesi melingka berbentuk seperti cincin g. h. Psoriasis diskoidea Psoriasis ostracea karena adanya involusi

: dibagian tengahnya. : Lesi merupakan bercak solid yang menetap.

i.

Psoriasis rupioides

: Lesi berupa penebalan kulit yang kasar dan tertutup lembaran-

lembaran skuama mirip kulit tiram. Lesi berkrusta mirip rupia sifilitika.

Psoriasis terbagi atas: 1. Psoriasis vulgaris Bentuk ini ialah jenis yang paling umum karena itu disebut vulgaris, dinamakan pula tipe plak karena lesi-lesinya berbentuk plak. Tempat predileksinya seperti yang telah diterangkan di atas. 2. Psoriasis gutata Diameter kelainan biasanya tidak melebihi 1 cm. Timbulnya mendadak dan mengenai seluruh badan, umumnya setelah infeksi di saluran napas bagian atas sehabis influenza atau morbili (campak), terutama pada anak dan dewasa muda. 3. Psoriasis putulosa gejala awalnya ialah kulit yang nyeri disertai gejala umum berupa demam, mudah capek, mual, dan nafsu makan menurun. Kelainan kulit psoriasis yang telah ada makin merah. Setelah beberapa jam timbul agak bengkak dan bintil-bintil bernanah pada bercak merah tersebut. Kelainan-kelainan semacam itu akan terus muncul dan dapat menjadi eritroderma. 4. Psoriasis eritrodermis dapat disebabkan oleh pengobatan topikal yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri yang meluas. Biasanya kelainan kulit yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat kemerahan dan bersisik tebal yang menyeluruh. Ada kalanya kelainan kulit psoriasis masih tampak samar-samar, yakni lebih merah dan kulitnya lebih meninggi. 5. Psoriasis kuku menyerang dan merusak kuku. Permukaan kuku tampak lekukan-lekukan kecil. Jenis ini termasuk yang bandel, sehingga penderita sulit sembuh. 6. Psoriasis artritis penyakit ini dapat pula disertai peradangan pada sendi, sehingga sendi terasa nyeri, membengkak dan kaku, persis seperti gejala rematik. Pada tahap ini, penderita harus segera ditolong agar sendi-sendinya tidak sampai keropos.

7. Psoriasis Scalp Psoriasis tipe ini tampak pada batas rambut, kepala (seperti ketombe), kening, sekitar leher juga dibelakang telinga, berupa seperti sisik kulit atau serbuk. 8. Psoriasis Pustular Kasus Psoriasis Pustulur (PUHS-choo-ler) terutama banyak ditemui pada orang dewasa. Karakteristik dari penderita PUHS-choo-ler ini adalah timbulnya Pustules putih (blisters of noninfectious pus) yang dikelilingi oleh kulit merah 9. Psoriasis Plak Hampir 80% dari penderita psoriasis adalah tipe Psoriasis plak yang secara ilmiah sisebut juga psoriasis vulgaris (yang berarti umum). Tipe plak ini bersifat meradang pada kulit menimbulkan bercah merah yang dilapisi dengan kulit yang tumbuh berwarna keperakan yang umum nya akan terlihat pada sekitar alis,lutut, kepala (seperti ketombe), siku juga bagian belakang tubuh sekitar panggul serta akan meluas kebagian-bagian kulit lainnya.

2.3 Epidemiologi Psoriasis merupakan salah satu peradangan kulit yang sering terjadi danterdapat di seluruh dunia, prevalensi penyakit ini bervariasi pada setiap negara didunia, hal ini mungkin dikarenakan adanya faktor ras, geografi dan lingkungan.Prevalensinya mulai dari 0,1% hingga 11,8%. Di literatur lain ada yangmenyebutkan 1-3% dari penduduk di negara-negara Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis. Dan ada lagi literatur yang melaporkan 1,5-3% populasi di Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis dan jarang dijumpai pada Negara jepang. Angka kejadian pada laki-laki dan perempuan sama. Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi dari pada orang yang memiliki kulit berwarna, kasus psoriasis jarang dilaporkan pada bangsa Indian diAmerika maupun bangsa Afrika. Karena kebanyakan penderita psoriasis memilikilesi-lesi yang tak hilang seumur hidupnya. Data nasional prevalensi psoriasis diIndonesia belum diketahui. Namun di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, selamatahun 2000 sampai 2001, insiden psoriasis mencapai 2,3 persen.

Psoriasis dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya pada orangdewasa muda. Awitan penyakit ini umumnya kurang pada usia yang sangat mudadan orang tua. Dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara 20 30 tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara 50 60 tahun. Psoriasis lebih banyak dijumpai pada daerah dingin dan terjadi pada musim hujan.

2.4 Etiologi Etiologi belum diketahui, yang jelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Beberapa faktor penting yang disangka menjadi penyebab timbulnya Psoriasis adalah : a) Genetik b) Imunologik c) Trauma Psoriasis pertama kali timbul pada tempat-tempat yang terkena trauma, garukan, luka bekas operasi, bekas vaksinasi, dan sebagainya. Kemungkinan hal ini merupakan mekanisme fenomena Koebner. Khas pada psoriasis timbul setelah 7-14 hari terjadinya trauma. d) Stres Psikis e) Infeksi Pada anak-anak terutama infeksi Streptokokus hemolitikus sering

menyebabkan psoriasis gutata. Psoriasis juga timbul setelah infeksi kuman lain dan infeksi virus tertentu, namun menghilang setelah infeksinya sembuh. f) Faktor Endokrin. Puncak insidensi pada waktu pubertas dan menopause, pada waktu kehamilan membaik tapi menjadi lebih buruk pada masa pascapartus. Kadang-kadang psoriasis pustulosa generalisata timbul pada waktu hamil dan setelah pengobatan progesteron dosis tinggi. g) Gangguan Metabolik, contohnya hipokalsemia dan dialisis.

h) Obat-obatan misalnya beta-adrenergic blocking agents, litium, antimalaria, dan penghentian mendadak korikosteroid sistemik. 1. Antimalaria seperti mepakrin dan klorokuin kadang-kadang dapat

memperberat psoriasis, bahkan dapat menyebabkan eritrodermia. 2. Pengobatan dengan kortikosteroid topikal atau sistemik dosis tinggi dapat menimbulkan efek withdrawal. 3. Lithium yang dipakai pada pengobatan penderita mania dan depresi telah diakui sebagai pencetus psoriasis. 4. Alkohol dalam jumlah besar diduga dapat memperburuk psoriasis. 5. Hipersensitivitas terhadap nistatin, yodium, salisilat dan progesteron dapat menimbulkan psoriasis pustulosa generalisata. i) Alkohol dan merokok. j) Iklim Beberapa kasus cenderung menyembuh pada musim panas, sedangkan pada musim penghujan akan kambuh. k) Sinar matahari Walaupun umumnya sinar matahari bermanfaat bagi penderita psoriasis namun pada beberapa penderita sinar matahari yang kuat dapat merangsang timbulnya psoriasis. Pengobatan fotokimia mempunyai efek yang serupa pada beberapa penderita. l) Metabolik Hipokalsemia dapat menimbulkan psoriasis. Berdasarkan penelitian para dokter, ada beberapa hal yang diperkirakan dapat memicu timbulnya Psoriasis, antara lain adalah : 1. Garukan/gesekan dan tekanan yang berulang-ulang , misalnya pada saat gatal digaruk terlalu kuat atau penekanan anggota tubuh terlalu sering pada saat beraktivitas. Bila Psoriasis sudah muncul dan kemudian digaruk/dikorek, maka akan mengakibatkan kulit bertambah tebal. 2. Obat telan tertentu antara lain obat anti hipertensi dan antibiotik. 3. Mengoleskan obat terlalu keras bagi kulit.

10

4. Emosi tak terkendali. 5. Makanan berkalori sangat tinggi sehingga badan terasa panas dan kulit menjadi merah , misalnya mengandung alcohol.

2.5

Tanda dan Gejala Lesi muncul sebagai bercak-bercak merah menonjol pada kulit yang ditutupi

oleh sisik berwarna perak. Bercak-bercak bersisik tersebut terbentuk karena penumpukan kulit yang hidup dan mati akibat peningkatan kecepatan pertumbuhan serta pergantian sel-sel kulit yang sangat besar. Jika sisik tersebut dikerok, maka terlihat dasar lesi yang berwarna merah gelap dengan titik-titik perdarahan. Bercakbercak ini tidak basah dan bisa terasa gatal atau tidak gatal. Psoriasis ditandai dengan hiperkeratosis dan penebalan epidermis kulit serta proses radang, sehingga timbul skuamasi (pengelupasan) dan indurasi eritematosa (kulit meradang dan kemerahan). Menyerang kulit, kuku, mukosa dan sendi, tetapi tidak pada rambut. Pada umumnya tidak membehayakan jiwa, kecuali yang mengalami komplikasi, namun penyakit ini sangat mengganggu kualitas hidup. Kulit penderita psoriasis awalnya tampak seperti bintik merah yang makin melebar dan ditumbuhi sisik lebar putih berlapis-lapis. Tumbuhnya tidak selalu diseluruh bagian kulit tubuh kadang-kadang hanya timbul pada tempat-tempat tertentu saja, karena pergiliran sel-sel kulit bagian lainnya berjalan normal. Psoriasis pada kulit kepala dapat menyerupai ketombe, sedangkan pada lempeng kuku tampak lubang-lubang kecil rapuh atau keruh. Penyakit psoriasis dapat disertai dengan / tanpa rasa gatal. Kulit dapat membaik seperti kulit normal lainnya setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman bekas psoriasis. Pada beberapa jenis psoriasis, komplikasi yang diakibatkan dapat menjadi serius, seperti pada psoriasis artropi yaitu psoriasis yang menyerang sendi, psoriasis bernanah (psoriasis postulosa) dan terakhir seluruh kulit akan menjadi merah disertai badan menggigil (eritoderma). Gejala dari psoriasis antara lain: a. Mengeluh gatal ringan b. Bercak-bercak eritema yang meninggi, skuama diatasnya.

11

c. Terdapat fenomena tetesan lilin d. Menyebabkan kelainan kuku.

2.6 Patofisiologi Psoriasis merupakan penyakit kronik yang dapat terjadi pada setiap usia. Perjalanan alamiah penyakit ini sangat berfluktuasi. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Jumlah sel-sel basal yang bermitosis jelas meningkat. Sel-sel yang membelah dengan cepat itu bergerak dengan cepat ke bagian permukaan epidermis yang menebal. Proliferasi dan migrasi sel-sel epidermis yang cepat ini menyebabkan epidermis menjadi tebal dan diliputi keratin yang tebal ( sisik yang berwarna seperti perak). Peningkatan kecepatan mitosis sel-sel epidermis ini agaknya antara lain disebabkan oleh kadar nukleotida siklik yang abnormal, terutama adenosin monofosfat (AMP) siklik dan guanosin monofosfat (GMP) siklik. Prostaglandin dan poliamin juga abnormal pada penyakit ini. Peranan setiap kelainan tersebut dalam mempengaruhi plak psoriatik belum dapat dimengerti secara jelas.

2.7 Komplikasi dan Prognosis 1. Psoriasis Pustulosa Kadang-kadang diatas makula eritematosa pada psoriasis timbul pustula-pustula kecil dengan ukuran 1-2 mm. keadaan ini dikenal dengan psoriasis postula. Ada 2 bentuk psoriasis postula: a. Psoriasis postulosa generalisata (bentuk Von Zumbusch) Bentuk ini bersifat akut, merupakan bentuk sistemik dari psoriasis dengan ciri eritematosa disertai demam dan gejala penyakit sistemik yang lain. Postula dapat timbul diatas lesi psoriasis atau pada kulit sehat yang mengalami eritema sebelumnya. Lesi ini menyebar dengan cepat dan timbulnya bergelombang. Postula yang timbul tersusun berkelompok atau diskret. Kuku menebal dan pecah-pecah karena adanya nanah. Mukosa mulut dan lidah dapat mengalami kelainan. Kematian terjadi karena toksik atau infeksi.

12

b. Psoriasis postulosa lokalisata (bentuk Barber) Bentuk ini bersifat kronik dan sangat resisten terhadap pengobatan. Biasanya menyerang telapak tangan dan telapak kaki serta distribusinya simetris. Lesi berupa postula diatas plak eritematosa, berskuama. Postula yang masih baru berwarna kuning, kemudian berubah menjadi kuning kecoklatan dan bila postula mongering berwarna coklat gelap. Akhirnya postula yang kering ini mengelupas. Kadang-kadang timbul rasa gatal tetapi lebih sering timbul keluhan seperti rasa terbakar. 2. Psoriasis arthritis Biasanya mengenai sendi-sendi interfalangeal distal dari jari tangan dan kaki. Pada stadium akut, sendi yang terserang menjadi bengkak, keras dan sakit. Bila berlangsung lama dapat menimbulkan kerusakan tulang dan synovial eusion, menyebabkan pemendekan tulang dan hal ini mengakibatkan pergerakan sendi menjadi sulit, jari memendek dan kaku dalam posisi fleksi. Secara rotgenologik tampak sendi yang atrofi dengan permulaan osteoporosis diikuti peningkatan densitas tulang, penyempitan rongga persendian dan erosi permukaan sendi. 3. Psoriasis eritrodermia Psoriasis yang kronik dan luas dengan perjalanan penyakit yang lama dapat berkembang menjadi eritodermia. Seluruh permukaan tubuh menjadi merah dan tertutup skuama putih yang halus. Umumnya bentuk ini timbul akibat pemakaian obat topikal atau penyinaran yang berlebihan. Biasanya sulit diobati dan bila pengobatan berhasil maka erupsi eritodermia menghilang dan lesi psoriasis yang khas akan muncul kembali.

2.8 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada penyakit prosiasis adalah pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu menyokong diagnosis psoriasis tidak banyak. Pemeriksaan yang bertujuan mencari penyakit yang menyertai psoriasis perlu dilaksanakan, seperti pemeriskaan darah rutin, mencari penyakit infeksi, pemeriksaan gula darah, kolesterol untuk penyakit diabetes mellitus.

13

2.9 Penatalaksanaan Tujuan penatalaksanaan adalah untuk memperlambat pergantian epidermis, meningkatkan resolusi lesi psoriatik dan mengendalikan penyakit tersebut. Pendekatan terapeutik harus berupa pendekatan yang dapat dipahami oleh klien, pendekatan ini harus bisa diterima secara kosmetik dan tidak mempengaruhi cara hidup pasien. Terapi psoriasis akan melibatkan komitmen waktu dan upaya oleh pasien dan mungkin pula keluarganya. Ada tiga terapi yang standar yaitu: topikal, intralesi dan sistemik. a. Terapi topikal Preparat yang dioleskan secara topikal digunakan untuk melambatkan aktivitas epidermis yang berlebihan tanpa mempengaruhi jaringan lainnya. Obat-obatannya mencakup preparat ter, anthralin, asam salisilat dan kortikosteroid. Terapi dengan preparat ini cenderung mensupresi epidermopoisis (pembentukan sel-sel epidermis). Formulasi ter mencakup losion, salep, pasta, krim dan sampo. Rendaman ter dapat menimbulkan retardasi dan inhibisi terhadap pertumbuhan jaringan psoriatik yang cepat. Terapi ter dapat dikombinasikan dengan sinar ultraviolet-B yang dosisnya ditentukan secara cermat sehingga menghasilkan radiasi dengan panjang gelombang antara 280 dan 320 nanometer (nm). Selama fase terapi ini pasien dianjurkan untuk menggunakan kacamata pelindung dan melindungi matanya. Pemakaian sampo ter setiap hari yang diikuti dengan pengolesan losion steroid dapat digunakan untuk lesi kulit kepala. Pasien juga diajarkan untuk menghilangkan sisik yang berlebihan dengan menggosoknya memakai sikat lunak pada waktu mandi. Anthralin adalah preparat (Anthra-Derm, Dritho-Crme, Lasan) yang berguna untuk mengatasi plak psoriatik yang tebal yang resisten terhadap preparat kortikosteroid atau preparat ter lainnya. Kortikosteroid topikal dapat dioleskan untuk memberikan efek antiinflamasi. Setelah obat ini dioleskan, bagian kulit yang diobati ditutup dengan kasa lembaran plastik oklusif untuk menggalakkan penetrasi obat dan melunakkan plak yang bersisik.

14

b. Terapi intralesi Penyuntikan triamsinolon asetonida intralesi (Aristocort, Kenalog-10, Trymex) dapat dilakukan langsung kedalam bercak-bercak psoriasis yang terlihat nyata atau yang terisolasi dan resisten terhadap bentuk terapi lainnya. Kita harus hati-hati agar kulit yang normal tidak disuntik dengan obat ini. c. Terapi sistemik Metotreksat bekerja dengan cara menghambat sintesis DNA dalam sel epidermis sehingga mengurangi waktu pergantian epidermis yang psoriatik. Walaupun begitu, obat ini bisa sangat toksik, khususnya bagi hepar yang dapat mengalami kerusakan yang irreversible. Jadi, pemantauan melalui pemeriksaan laboratorium harus dilakukan untuk memastikan bahwa sistem hepatik, hematopoitik dan renal klien masih berfungsi secara adekuat. Pasien tidak boleh minum minuman alkohol selama menjalani pengobatan dengan metotreksat karena preparat ini akan memperbesar kemungkinan kerusakan hepar. Metotreksat bersifat teratogenik (menimbulkan cacat fisik janin) pada wanita hamil. Hidroksiurea menghambat replikasi sel dengan mempengaruhi sintesis DNA. Monitoring klien dilakukan untuk memantau tanda-tanda dan gejala depresi sumsum tulang. Siklosporin A, suatu peptida siklik yang dipakai untuk mencegah rejeksi organ yang dicangkokkan, menunjukkan beberapa keberhasilan dalam pengobatan kasus-kasus psoriasis yang berat dan resisten terhadap terapi. Kendati demikian, penggunaannya amat terbatas mengingat efek samping hipertensi dan nefroktoksisitas yang ditimbulkan. Retinoid oral (derivat sintetik vitamin A dan metabolitnya, asam vitamin A) akan memodulasi pertumbuhan serta diferensiasi jaringan epiterial, dan dengan demikian pemakaian preparat ini memberikan harapan yang besar dalam pengobatan klien psoriasis yang berat. Fotokemoterapi. Terapi psoriasis yang sangat mempengaruhi keadaan umum klien adalah psoralen dan sinar ultraviolet A (PUVA). Terapi PUVA meliputi pemberian preparat fotosensitisasi (biasanya 8-metoksipsoralen) dalam dosis standar yang kemudian diikuti dengan pajanan sinar ultraviolet gelombang panjang setelah

15

kadar obat dalam plasma mencapai puncaknya. Meskipun mekanisme kerjanya tidak dimengerti sepenuhnya, namun diperkirakan ketika kulit yang sudah diobati dengan psoralen itu terpajan sinar ultraviolet A, maka psoralen akan berkaitan dengan DNA dan menurunkan proliferasi sel. PUVA bukan terapi tanpa bahaya; terapi ini disertai dengan resiko jangka panjang terjadinya kanker kulit, katarak dan penuaan prematur kulit. Terapi PUVA mensyaratkan agar psoralen diberikan peroral dan setelah 2 jam kemudian diikuti oleh irradiasi sinar ultraviolet gelombang panjang dengan intensitas tinggi. Sinar ultraviolet merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik yang mengandung panjang gelombang yang berkisar dari 180 hingga 400 nm. Terapi sinar ultraviolet B (UVB) juga digunakan untuk mengatasi plak yang menyeluruh. Terapi ini dikombinasikan dengan terapi topikal ter batubara (terapi goeckerman). Efek sampingnya serupa dengan efek samping pada terapi PUVA. Etretinate (Tergison) adalah obat yang relatif baru (1986). Ia adalah derivat dari Vitamin A. Bisa diminum sendiri atau dikombinasi dengan sinar ultraviolet. Hal ini dilakukan pada penderita yang sudah bandel dengan obat obat lainnya yang terdahulu. Di antara pengobatan tersebut diatas, yang paling efektif untuk mengobati psoriasis adalah dengan ultraviolet (fototerapi), karena dengan fototerapi penyakit psoriasis dapat lebih cepat mengalami clearing (keadaan dimana kelainan / gejala psoriasis hilang atau hampir hilang). Keadaan ini disebut remisi, masa remisi fototerapi tersebut bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan pengobatan lainnya. Pengobatan fotokemoterapi, yaitu dengan menggunakan kombinasi radiasi ultraviolet dan oral psoralen (PUVA), namun kelemahannya adalah untuk jangka panjang dapat menimbulkan kanker kulit. Fototerapi UVB konvensional dengan menggunakan sinar UVB broadband dengan panjang gelombang 290-320 nm. Terapi kurang praktis karana pasien harus masuk ke dalam light box. Fototerapi dengan alat Monochromatic Excimer Light 308 nm (MEL 308 nm) merupakan bentuk fototerapi UVB yang paling mutakhir dengan menggunakan sinar laser narrowband UVB dengan panjang gelombang 308 nm. Dibandingkan dengan

16

narrowband UVB, MEL 308 nm lebih cepat dan lebih efektif dalam mengobati psoriasis yang resisten.

2.10 Pengobatan Sampai saat ini belum ditemukan pengobatan yang spesifik karena penyebabnya belum jelas dan banyak faktor yang berpengaruh. Psoriasis sebaiknya diobati secara topikal. Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek samping pengobatan sistemik lebih banyak. 1. Pengobatan Sistemik a) Kortikosteroid ( Prednison ) b) Obat sitostatik ( Metroteksat ) c) Levodopa

d) DDS(diaminodifenilsulfon) e) f) 2. Etretinat dan Asitretein Siklosporin

Pengobatan Topikal a) b) c) d) Preparat Ter ( fosil, kayu, batubara ) Kortikosteroid ( senyawa fluor ) Ditranol ( antralin ) Pengobatan dengan peyinaran

2.11 Pencegahan Meskipun tindakan merawat tidak akan menyembuhkan psoriasis, tetapi dapat membantu memperbaiki penampilan dan nuansa kulit rusak. Langkah-langkah ini dapat bermanfaat untuk mencegah terjadinya psoriasis atau mencegah memperburuk penyakit psoriasis pada penderita : 1) Mandi setiap hari 2) Gunakan pelembab 3) Tutup daerah yang terkena dampak dalam semalam 4) Paparkan seminim mungkin sinar matahari ke kulit

17

5) Gunakan obat krim atau salep 6) Hindari pemicu psoriasis, jika mungkin 7) Hindari minum alkohol

18

BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian 1. Identitas klien Lakukan pengkajian pada identitas klien dan isi identitasnya yang meliputi: nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama, dan tanggal pengkajian 2. Keluhan utama Sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. 3. Riwayat kesehatan sekarang Penderita penyakit psoriasis menampakkan gejala Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema berbatas tegas dan merata. Skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. 4. Riwayat kesehatan dahulu: adanya riwayat merokok, minuman beralkohol 5. Riwayat kesehatan keluarga: ada atau tidak anggota keluarga yang pernah menderita penyakit psoriasis. Data dasar pengkajian pasien berdasarkan pengkajian 11 Pola Gordon: a. Pola Persepsi Kesehatan - Adanya riwayat infeksi sebelumya. - Pengobatan sebelumnya tidak berhasil. - Riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu. - Adakah konsultasi rutin ke Dokter.

19

- Hygiene personal yang kurang. - Lingkungan yang kurang sehat, tinggal berdesak-desakan. b. Pola Nutrisi Metabolik - Pola makan sehari-hari: jumlah makanan, waktu makan, berapa kali sehari makan. - Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas. - Jenis makanan yang disukai. - Nafsu makan menurun. - Muntah-muntah. - Penurunan berat badan. - Turgor kulit buruk, kering, bersisik, pecah-pecah, benjolan. - Perubahan warna kulit, terdapat bercak-bercak, gatal-gatal, rasa terbakar atau perih. c. Pola Eliminasi - Sering berkeringat. - Tanyakan pola berkemih dan bowel. d. Pola Aktivitas dan Latihan - Pemenuhan sehari-hari terganggu. - Kelemahan umum, malaise. - Toleransi terhadap aktivitas rendah. - Mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan. - Perubahan pola napas saat melakukan aktivitas. e. Pola Tidur dan Istirahat - Kesulitan tidur pada malam hari karena stres. - Mimpi buruk. f. Pola Persepsi Kognitif - Perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat. - Pengetahuan akan penyakitnya.

20

g. Pola Persepsi dan Konsep Diri - Perasaan tidak percaya diri atau minder. - Perasaan terisolasi. h. Pola Hubungan dengan Sesama - Hidup sendiri atau berkeluarga - Frekuensi interaksi berkurang - Perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran i. Pola Reproduksi Seksualitas - Gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan. - Penggunaan obat KB mempengaruhi hormon. j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress - Emosi tidak stabil - Ansietas, takut akan penyakitnya - Disorientasi, gelisah k. Pola Sistem Kepercayaan - Perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah - Agama yang dianut 6. Pemeriksaan fisik yang meliputi: a. Keadaan umum lemah; b. Tanda-tanda vital khususnya suhu meningkat yaitu sekitar 38o-39oC; c. Eritema yang bersisik, batas tegas/menyolok; d. Lesi kering dan timbul pruritus; e. Adanya lubang-lubang atau kerusakan total pada kuku dan tangan; f. Lesi tidak simetris bilateral; g. Lesi dapat timbul pada luka bekas garukan.

B. Diagnosa Keperawatan a) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi antara dermal-epidermal sekunder akibat psoriasis; b) Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit;

21

c) Gangguan konsep diri berhubungan dengan krisis kepercayaan diri; d) Ansietas yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan sekunder akibat penyakit psoriasis.

Anda mungkin juga menyukai