Anda di halaman 1dari 24

Presentasi Kasus KETUBAN PECAH DINI I HARI PADA MULTIGRAVIDA HAMIL PRETERM BELUM DALAM PERSALINAN

Oleh : Andriaz Kurniawan Irfan Prasetya Yoga Shita Ganestya G0005051 G0006012 G0006156

Pembimbing :

Prof. DR. J.B. Dalono dr., Sp.OG (K)

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR MOEWARDI

SURAKARTA 2012

ABSTRAK Tujuan: Untuk mengetahui manajemen pasien hamil aterm dengan ketuban pecah dini. Tempat: Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD DR Moewardi Surakarta. Bahan dan Cara Kerja: Pada tanggal 13 September 2012, Seorang G3P2A0, usia 29 tahun, kiriman bidan dengan keterangan ketuban pecah dengan umur kehamilan : 33+3 minggu. Pasien merasa hamil 8 bulan, kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air kawah sudah dirasakan keluar sejak 1 hari yang lalu, gerakan janin masih dirasakan, lendir darah belum dirasakan keluar. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tekanan darah 120/80 mmHg, pada abdomen teraba janin tunggal, IU, presentasi kepala, punggung kiri, kepala belum masuk panggul, denyut jantung janin (+) 12-12-12/reguler, His (-), TFU 25 cm, TBJ 2015 gram. Dari pemeriksaan dalam pembukaan 0 cm, kepala belum masuk panggul dan penunjuk belum dapat dinilai. Diagnosis sementara yaitu Ketuban Pecah Dini 1 hari, multigravida hamil preterm belum dalam persalinan Kesimpulan: Pasien multigravida usia 29 tahun hamil 33+3 minggu dengan ketuban pecah dini 1 hari belum dalam persalinan. Kata kunci: ketuban pecah dini, hamil preterm, belum dalam persalinan

BAB I PENDAHULUAN

Selaput ketuban yang membatasi rongga amnion terdiri atas amnion dan korion yang sangat erat kaitannya. Lapisan ini terdiri atas beberapa sel seperti sel epitel, sel mesenkim dan sel trofoblast yang terikat erat dalam matriks kolagen. Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi. Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecah dini pada kehamilan prematur. Dalam keadaan normal 8-10% perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini. Pecahnya selaput ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yang terjadi dalam kolagen matriks eksta seluler amnion, korion, dan apoptosis membran janin. Membran janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli, seperti infeksi dan peregangan selaput ketuban dengan memproduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin dan protein hormon.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum terjadi proses persalinan yang dapat terjadi pada usia kehamilan cukup waktu atau kurang waktu . Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membran ketuban sebelum persalinan berlangsung. Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.

B. PENYEBAB
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat

berasal dari vagina dan serviks. Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya adalah sebagai berikut : 1. Inkompetensi serviks (leher rahim) Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka di tengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin besar. Adalah serviks dengan suatu kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks yang memungkinkan terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba, 2002). 2. Peninggian tekanan intrauterin Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya : a. Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis b. Gemelli (Kehamilan kembar) adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relatif kecil sedangkan di bagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah. (Saifudin. 2002) c. Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram. Kehamilan dengan makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau overdistensi dan menyebabkan tekanan pada intrauterin bertambah sehingga menekan selaput ketuban, manyebabkan selaput ketuban

menjadi teregang,tipis, dan kekuatan membran

menjadi berkurang,

menimbulkan selaput ketuban mudah pecah. (Winkjosastro, 2006) d. Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis adalah peningkatan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja 3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang. 4. Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic disproporsi). 5. Korioamnionitis Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme vagina ke atas. Dua faktor predisposisi terpenting adalah pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama. 6. Penyakit Infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah

mikroorganisme yang meyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah. 7. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik) 8. Riwayat KPD sebelumya 9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban 10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

C. TANDA DAN GEJALA


Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.

D. DIAGNOSIS
Pastikan selaput ketuban pecah. Tanyakan waktu terjadi pecah ketuban. Cairan ketuban yang khas jika keluar cairan ketuban sedikit-sedikit, tampung cairan yang keluar dan nilai 1 jam kemudian. Jika tidak ada dapat dicoba dengan menggerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien batuk atau mengedan. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus (nitrazin tes), jika lakmus merah berubah menjadi biru menunjukan adanya cairan ketuban (alkalis). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif palsu apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Tes Pakis, dengan meneteskan cairan ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukan kristal cairan amnion dan gambaran daun pakis.
7

Tentukan usia kehamilan, bila perlu dengan pemeriksaan USG. Tentukan ada tidaknya infeksi. Tanda-tanda infeksi adalah bila suhu ibu lebih dari 38OC serta cairan ketuban keruh dan berbau. Leukosit darah lebih dari 15.000/mm3. Janin yang mengalami takikardi, mungkin mengalami infeksi intrauterin.

Pemeriksaan Diagnostik a. Ultrasonografi Ultrasonografi dapat mengindentifikasi kehamilan ganda, anormali janin atau melokalisasi kantong cairan amnion pada amniosintesis. b. Amniosintesis Cairan amnion dapat dikirim ke laboratorium untuk evaluasi kematangan paru janin. c. Pemantauan janin Membantu dalam mengevaluasi janin d. Protein C-reaktif Peningkatan protein C-reaktif serum menunjukkan peringatan korioamnionitis

E. PATOFISIOLOGI
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%). High virulensi : Bacteroides Low virulensi : Lactobacillus Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblast, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen
8

dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin -1 (iL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas iL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerasi kolagen pada selaput korion/ amnion, menyebabkan ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

F. PENGARUH KPD
1. Terhadap Janin Walaupun ibu belum menunjukan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu terjadi (amnionitis,vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal. 2. Terhadap Ibu Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi puerpuralis atau nifas, peritonitis dan septikemia, serta dry-labor. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi lainnya.

G. KOMPLIKASI KPD
Komplikasi yang timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat terjadi infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau gagalnya persalinan normal. 1. Persalinan Prematur Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm, 90% persalinan terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu. 2. Infeksi

Risiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi Korioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini prematur, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada KPD meningkat sebanding dengan lamanya periode laten. 3. Hipoksia dan asfiksia Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat. 4. Syndrom deformitas janin Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasipulmonal.

H. PENANGANAN
1. Konservatif o Rawat di rumah sakit o Jika ada perdarahan pervaginam dengan nyeri perut, pikirkan solusio plasenta o Jika ada tanda-tanda infeksi (demam dan cairan vagina berbau), berikan antibiotika sama halnya jika terjadi amnionitis o Jika tidak ada infeksi dan kehamilan < 37 minggu:

10

Berikan antibiotika untuk mengurangi morbiditas ibu dan janin Ampisilin 4x 500mg selama 7 hari ditambah eritromisin 250mg per oral 3x perhari selama 7 hari.

o Jika usia kehamilan 32 - 37 mg, belum inpartu, tidak ada infeksi, beri dexametason, dosisnya IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 x, observasi tanda-tanda infeksi dan kesejahteraan janin. o Jika usia kehamilan sudah 32 - 37 mg dan sudah inpartu, tidak ada infeksi maka berikan tokolitik ,dexametason, dan induksi setelah 24 jam.

2. Aktif o Kehamilan lebih dari 37 mg, induksi dengan oksitosin o Bila gagal, lakukan Seksio Caesaria, dapat pula diberikan misoprostol 25 g50 g intravaginal tiap 6 jam max 4 x. o Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan persalinan diakhiri. Indikasi melakukan induksi pada ketuban pecah dini adalah sebagai berikut : 1) Pertimbangan waktu dan berat janin dalam rahim. Pertimbangan waktu apakah 6, 12, atau 24 jam. Berat janin sebaiknya lebih dari 2000 gram. 2) Terdapat tanda infeksi intrauterin. Suhu meningkat lebih dari 38c, dengan pengukuran per rektal. Terdapat tanda infeksi melalui hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan kultur air ketuban. Penatalaksanaan lanjutan
11

Kaji suhu dan denyut nadi setiap 2 jam. Kenaikan suhu sering kali didahului kondisi ibu yang menggigil. Lakukan pemantauan DJJ. Pemeriksaan DJJ setiap jam sebelum persalinan adalah tindakan yang adekuat sepanjang DJJ dalam batas normal. Pemantauan DJJ ketat dengan alat pemantau janin elektronik secara kontinu dilakukan selama induksi oksitosin untuk melihat tanda gawat janin akibat kompresi tali pusat atau induksi. Takikardia dapat mengindikasikan infeksi uteri. Hindari pemeriksaan dalam yang tidak perlu. Ketika melakukan pemeriksaan dalam yang benar-benar diperlukan, perhatikan juga hal-hal berikut: Apakah dinding vagina teraba lebih hangat dari biasa Bau cairan di sarung tanagn anda Warna cairan di sarung tangan

Beri perhatian lebih seksama terhadap hidrasi agar dapat diperoleh gambaran jelas dari setiap infeksi yang timbul. Seringkali terjadi peningkatan suhu tubuh akibat dehidrasi.

12

BAB III STATUS PENDERITA A. ANAMNESIS 1. Identitas Penderita Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Agama Alamat Status Perkawinan : Ny. N : 29 tahun : Perempuan : Ibu rumah tangga : Islam : Plumbon, Mojolaban, Sukoharjo : Menikah 2 kali. Suami I: 14 tahun Suami II: 2 tahun HPMT HPL UK Tanggal Masuk No.CM 2. Keluhan Utama Air kawah sudah merembes 3. Riwayat Penyakit Sekarang Seorang G3P2A0, usia 29 tahun, umur kehamilan 33+3 minggu datang atas kiriman bidan dengan keterangan ketuban pecah sejak sehari sebelumnya. Pasien merasa hamil 8 bulan, kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air kawah sudah dirasakan keluar sejak kurang lebih 24 jam yang lalu, gerakan janin masih dirasakan, lendir darah (-). : 23 Januari 2012 : 30 Oktober 2012 : 33+3 minggu : 13 September 2012 : 01149860

13

4. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat sesak nafas Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat DM Riwayat Asma Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Mondok Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung Riwayat DM Riwayat Asma Riwayat Alergi Obat/makanan : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal : Disangkal

6. Riwayat Fertilitas Baik 7. Riwayat Obstetri Anak I: , partus spontan, 3200 gr, sekarang usia 13 tahun Anak II: , partus spontan, 2900 gr, sekarang usia 10 tahun Anak III: hamil sekarang 8. Riwayat Ante Natal Care (ANC) Teratur, pertama kali periksa ke bidan pada usia kehamilan 1 bulan. Trimester pertama Trimester kedua Trimester ketiga : 1 x perbulan : 1 x perbulan : Tiap 2 minggu sekali
14

9. Riwayat Haid Menarche Lama menstruasi Siklus menstruasi : 13 tahun : 6-7 hari : 28 hari

10. Riwayat Perkawinan Menikah 2 kali. Suami I: 14 tahun Suami II: 2 tahun 11. Riwayat Keluarga Berencana KB suntik B. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Interna Keadaan Umum : Sedang, CM, Gizi cukup Tanda Vital Tensi Nadi Suhu Kepala Mata THT Leher Thorax Cor : : IC tidak tampak : IC tidak kuat angkat
15

: : 120/80 mmHg : 80 x / menit : 36,7 0C : Mesocephal : Conjuctiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-) : Tonsil tidak membesar, Pharinx hiperemis (-) : Pembesaran kelenjar tiroid (-) : Gld. Mammae dalam batas normal, areola mammae hiperpigmentasi (+)

Respiratory Rate : 16 x/menit

Inspeksi Palpasi

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi : Bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi Abdomen: Inspeksi Palpasi Perkusi : Dinding perut > dinding dada Striae gravidarum (+) : Supel, NT (-), hepar lien tidak membesar : Timpani pada bawah processus xiphoideus, redup pada daerah uterus Auskultasi : Peristaltik (+) normal Genital : Lendir darah (-), air ketuban (+) Oedema Ekstremitas : : Pengembangan dada ka = ki : Fremitus raba dada ka = ki : Sonor/Sonor

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Ronki basah kasar (-/-)

Akral dingin -

2. Status Obstetri Abdomen (+) : Inspeksi : Dinding perut > dinding dada, striae gravidarum

16

Palpasi : supel, NT (-), teraba janin tunggal, IU, preskep, puki, kepala belum masuk panggul, DJJ (+) 1212-12/reg, His (-), TFU 25 cm, TBJ 2015 gram Pemeriksaan Leopold Leopold I Leopold II Leopold III Leopold IV : teraba bagian besar lunak : teraba bagian keras panjang sebelah : teraba bagian besar dan keras janin, : konvergen

kiri, teraba bagian kecil-kecil sebelah kanan ballotement (-) Perkusi : Timpani pada bawah processus xipoideus, redup pada daerah uterus Auskultasi : DJJ (+) 12-11-12/regular Ekstremitas : Oedema -

akral dingin -

Pemeriksaan Dalam : VT : vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio lunak, mencucu, = - cm, eff: 10%, presentasi kepala, kepala belum masuk panggul, KK dan penunjuk belum dapat dinilai, AK (+) jernih, STLD (-) C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
17

1.

Laboratorium Darah tanggal 13 September 2012: Hemoglobin Hematokrit Angka Eritrosit Angka Leukosit Angka Trombosit Golongan Darah GDS Ureum Creatinin Na+ K+ Ion klorida HbS Ag Nitrazin Test Albumin PT APTT : 9,7 gr/dl : 30 % : 3,3 x 103/uL : 15 x 103/uL : 293 x 103/uL : AB : 80 mg/dL : 18 mg/dL : 0,5 mg/dL : 138 mmol/L : 3,8 mmol/L : 108 : Non reaktif : (+) positif : 3,5 : 14,3 : 26,9

2.

Ultrasonografi (USG) tanggal 13 September 2012 : Vesika urinaria terisi cukup, tampak janin tunggal IU, memanjang, preskep, puki, DJJ (+) dengan BPD = 81 mm, AC = 250 mm, FL = 63 mm, EFBW = 1948 gr. Plasenta insersi di corpus kiri grade II, air ketuban kesan berkurang. Tidak tampak jelas kelainan kongenital mayor. Kesan : Saat ini janin dalam keadaan baik.

D.

KESIMPULAN G3P2A0, 29 tahun, UK: 33+3 minggu dengan riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri baik, teraba janin tunggal, IU, preskep, puki, kepala belum masuk panggul, DJJ (+) 12-12-12/reg, His (-), portio lunak mendatar, eff 10%, KK

18

dan penunjuk belum dapat dinilai, AK (+), STLD (-). TFU 25 cm, TBJ 2015 gram, janin dalam keadaan baik. E. DIAGNOSA AWAL Ketuban Pecah Dini 1 hari, multigravida hamil preterm belum dalam persalinan F. PROGNOSA Dubia ad bonam G. TERAPI Konservatif Mondok bangsal Cek lab darah lengkap Inj. Vicilin 1gram/ 8jam Inj. Deksametason 1 amp/12 jam NST

H. FOLLOW UP 14 September 2012 pukul 06.00 WIB KU VS : baik, compos mentis : T : 120/70 mmHg RR: 16x/ menit Mata Thoraks Abdomen Genital Diagnosis N: 84x/ menit S: 36,70C

: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-) : dalam batas normal, SDV (+/+), Ronkhi (-/-) : supel, NT (-), TFU 25 cm : AK (+), lendir (-), darah (-) : Ketuban Pecah Dini pada multigravida hamil preterm belum dalam persalinan

Terapi

:
19

Konservatif IVFD RL 20 tpm KU VS Inj. Vicilin 1gram/ 8jam Inj. Deksametason 1 amp/12 jam NST : baik, compos mentis : T : 120/80 mmHg RR: 18x/ menit Mata Thoraks Abdomen Genital Diagnosis Terapi Konservatif IVFD RL 20 tpm Inj. Vicilin 1gram/ 8jam Inj. Deksametason 1 amp/12 jam NST 15 September 2012 pukul 11.00 WIB Pasien APS N: 80x/ menit S: 36,80C

15 September 2012 pukul 06.00 WIB

: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-) : dalam batas normal, SDV (+/+), Ronkhi (-/-) : supel, NT (-), TFU 25 cm : AK (+), lendir (-), darah (-) : Ketuban Pecah Dini pada multigravida hamil preterm :

belum dalam persalinan

BAB IV ANALISA KASUS


20

A.

Analisis Kasus Diagnosis Ketuban pecah dini 1 hari pada multigravida hamil preterm belum dalam persalinan : Diagnosis KPD 1 hari dapat ditegakkan dari : a. Anamnesis : pasien mengaku keluar air kawah sejak 1 hari yang lalu dari jalan lahir. b. Pemeriksaan fisik : Pada pemeriksaan VT air ketuban (+),kulit ketuban belum dapat dinilai, STLD (-), his (-), pembukaan (-), nitrasin test (+). Pada pasien ini dari anamnesis dan pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda KPD sehingga pasien ini didiagnosis dengan ketuban pecah dini 1 hari. Diagnosis pada multigravida ditegakkan dari anamnesis dimana pasien sudah mempunyai 2 anak dan tidak pernah mengalami abortus dan sekarang adalah kehamilan yang ketiga. Multigravida adalah wanita yang pernah hamil lebih dari 2 kali. Kehamilan preterm biasanya ditegakkan dari anamnesis melalui perhitungan rumus Naegle setelah mempertimbangkan siklus haid dan keadaan klinis, juga dari pengukuran tinggi fundus uteri dengan sentimeter memberikan informasi mengenai usia gestasi. Evaluasi keadaan janin dengan pemeriksaan cairan amnion dengan USG, pengukuran pola denyut jantung janin, dan pemantauan keadaan biofisik janin. Suatu kehamilan disebut hamil preterm apabila hari perkiraan kelahiran, yaitu kurang dari 37 minggu. Pada kasus ini diagnosa ditegakkan dari :

a.

Anamnesa Didapatkan keterangan HPMT : 23 Januari 2012

21

HPL : 30 Oktober 2012 UK : 33+3 minggu Air kawah rembes. Kenceng-kenceng teratur belum dirasakan. b. USG Janin tunggal, IU, memanjang, preskep, puki, DJJ (+), BPD = 81 mm, AC = 250 mm, FL = 63 mm, EFBW = 1948 gr. Plasenta insersi di corpus kiri grade II, air ketuban kesan berkurang. Tidak tampak jelas kelainan kongenital mayor. Diagnosis belum dalam persalinan ditegakkan dari : Pemeriksaan fisik : Pembukaan 0 cm, servik mendatar, his (-), sarung tangan lendir darah (-), TFU 25 cm. Abdomen : kepala belum masuk panggul, His (-) VT : vulva / uretra tenang, dinding vagina dalam batas normal, portio lunak, mencucu, = - cm, eff: 10% presentasi kepala, kepala belum masuk panggul, KK dan penunjuk belum dapat dinilai, AK (+) jernih, tidak berbau, STLD (-) Faktor predisposisi KPD di antaranya : 1. Kehamilan multiple 2. Riwayat persalinan preterm sebelumnya 3. Koitus, namun hal ini tidak merupakan predisposisi kecuali bila hygiene buruk 4. Perdarahan pervaginam 5. Bakteriuria 6. pH vagina diatas 4,5 7. Servix yang tipis/kurang dari 39 mm 8. Flora vagina abnormal 9. Fibronectin > 50 ng/ml 10. Kadar CRH (Corticotropin Releasing Hormone) maternal tinggi

22

Pada pasien ini faktor predisposisi terjadinya KPD kurang jelas. Yang belum dapat disingkirkan adalah kehamilan multiple. B. Analisis Kasus Penatalaksanaan Datang seorang G3P2A0, usia 29 tahun, umur kehamilan : 33+3 minggu, paseien merupakan kiriman bidan dengan keterangan ketuban pecah. Pasien merasa hamil 8 bulan, kenceng-kenceng teratur belum dirasakan, air kawah sudah dirasakan keluar sejak 1 hari yang lalu, gerakan janin masih dirasakan, lendir darah belum dirasakan keluar. Riwayat fertilitas baik, riwayat obstetri baik. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tanda vital dalam batas normal, pada abdomen teraba janin tunggal, intra uteri, presentasi kepala, punggung kiri, kepala belum masuk panggul, denyut jantung janin (+) regular, his (-), pembukaan (-), nitrasin test (+). Pasien ini dimondokkan di VK observasi untuk pengelolaan konservatif mempertahankan kehamilan. Ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi, kehamilan diusahakan mencapai 35 minggu. Pasien ini diberikan antibiotik sebagai terapi karena KPD telah terjadi selama 1 hari. Pemberian antibiotik yang adekuat bertujuan sebagai profilaksis. Selain itu juga dilakukan pemberian kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan agar tercapai pematangan paru janin, jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan konservatif tersebut muncul tanda-tanda infeksi, maka segera dilakukan induksi persalinan tanpa memandang umur kehamilan. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan NST secara teratur.

23

DAFTAR PUSTAKA Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri. Jakarta. EGC. Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka. Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP. Varney, Hellen,dkk. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Volume 2. Jakarta: EGC

24