Anda di halaman 1dari 36

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya

pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development goals (MDgs). Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah manusia ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Dalam buku The world malaria report 2005, Badan kesehatan dunia menggambarkan walaupun berbagai upaya telah dilakukan, hingga Tahun 2005 malaria masih menjadi masalah kesehatan utama di 107 negara di dunia, diperkirakan masih sekitar 3,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria (WHO, 2005). Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil. Setiap tahun lebih dari 500 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan lebih dari 1.000.000 orang meninggal dunia, kasus terbanyak terdapat di Afrika dan beberapa negara Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa bagian negara Eropa. Indonesia merupakan salah satu negara yang masih berisiko terhadap malaria. Pada Tahun 2007 di Indonesia terdapat 396 Kabupaten endemis dari 495 Kabupaten yang ada, dengan perkiraan sekitar 45% penduduk berdomisili di daerah yang berisiko tertular malaria. Jumlah kasus pada Tahun 2006 sebanyak 2.000.000 dan pada Tahun 2007 menurun menjadi 1.774.845 (Kepmenkes, 2009).

Secara nasional kasus malaria selama Tahun 20052010 juga cenderung menurun yaitu pada Tahun 2005 sebesar 4,10 per 1000 penduduk menjadi 1,96 per 1000 penduduk pada Tahun 2010, walaupun menunjukkan penurunan, penyakit malaria masih tetap menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Data Ditjen Bina Pelayanan Medik Depkes RI Tahun 2009, penyakit malaria yang masuk ke dalam golongan penyakit infeksi dan parasit tertentu merupakan penyebab kedua kematian pasien di Rumah Sakit di seluruh Indonesia Tahun 2006 sampai Tahun 2009 (Kementerian Kesehatan RI, 2011). Indonesia bertekad untuk melakukan eliminasi malaria pada Tahun 2030, sesuai dengan keputusan Menkes N0.293/Menkes/SK/IV/2009. Ada tiga kunci utama yang di lakukan oleh pemerintah dalam mengeliminasi malaria : ada obat ACT (Artemisinin-base Combination Therapy), ada teknik diagnosa cepat dengan RDT (Rapid Diagnostic Test), ada teknik pencegahan dengan menggunakan kelambu LLIN (Long Lasting Insectized Net) (Dirjen PPM dan PL, 2011). Berdasarkan data Riskesdas Tahun 2007 Provinsi Aceh mempunyai prevalensi malaria diatas prevalensi nasional, yaitu 3,66%. Pada Tahun 2009 dijumpai 27.367 kasus malaria klinis dan yang positif 3.375 kasus. Kasus malaria klinis tertinggi terjadi pada Kabupaten Aceh Timur (4.866 kasus), dan Kabupaten Simeulue (3.228 kasus) (Riskesdas, 2007). Jumlah penderita malaria di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2010 sebanyak 313 orang. (Profil Kesehatan Aceh Utara, 2010).

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 menunjukkan masih tingginya angka kejadian malaria di beberapa Puskesmas. Tabel 1.1 Jumlah Penderita Malaria di Kecamatan Dalam Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 Puskesmas Malaria klinis Positif malaria Simpang Keramat Geuredong Pase Kuta Makmur Sawang Paya Bakong Langkahan Lhok Sukon Meurah Mulia Matang Kuli Syamtalira Aron Dewantara Nisam Samudera Cot Girek Tanah Jambo Aye Buket Hagu Muara Batu Syamtalira Bayu Banda Baro Sampoiniet Seuneuddon Tanah Luas Baktiya Nibong Nisam Antara Tanah Pasir Lapang Blang Geulumpang 120 148 144 236 133 99 155 37 73 74 121 64 140 32 54 76 170 171 63 105 66 82 49 72 19 88 69 96 51 47 41 35 30 27 20 15 11 11 9 9 5 5 5 4 3 3 2 2 2 1 1 1 0 0 0 0 338

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

Jumlah 2756 Sumber : Dinas Kesehatan Aceh Utara tahun 2011

Menurut data dari Puskesmas Sawang, berdasarkan laporan pemeriksaan laboratorium malaria Tahun 2010 terdapat 96 orang malaria klinis dan positif 23 orang, Tahun 2011 meningkat menjadi 236 orang malaria klinis dan positif 35 orang, dengan insidensi tertinggi terdapat pada 3 Desa. Tabel 1.2 Jumlah Penderita Malaria di Puskesmas Sawang Tahun 2010 No Desa Malaria Positif Jenis Kelamin Klinis Malaria L P 1 2 3 Riseh Tunong Jurong Gunci 35 5 9 10 4 2 17 7 2 1 10 3 2 1 7

Jumlah 49 Sumber : Puskesmas Sawang tahun 2010

No

Tabel 1.3 Jumlah Penderita Malaria di Puskesmas Sawang Tahun 2011 Desa Malaria Positif Jenis Kelamin Klinis Malaria L P Riseh Tunong Jurong Gunci 38 15 25 15 0 3 24 7 0 2 15 8 0 1 9

1 2 3

Jumlah 109 Sumber : Puskesmas Sawang tahun 2011

Kecamatan Sawang merupakan salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Aceh Utara, dengan penduduknya berjumlah sekitar 33.476 jiwa dan jumlah Desanya 39 desa. Umumnya mata pencaharian penduduk kebanyakan petani dan pekerja hutan, yang sangat rentan untuk terserangnya penyakit menular seperti malaria yang salah satu penyebabnya tidak menghindari gigitan nyamuk anopheles yang merupakan bagian dari perilaku masyarakat sendiri. Masyarakat sawang mempunyai beberapa perilaku lain yang sangat rentan untuk terserang penyakit malaria, seperti tidur tidak memakai kelambu, keluar rumah tidak

memakai obat gosok, dan jarang melakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan tempat-tempat nyamuk malaria berkembang biak. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk mengetahui Bagaimana gambaran perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan malaria di Kecamatan Sawang.

1.2.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini

adalah Bagaimana gambaran perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria di Kecamatan Sawang. 1.3. 1.3.1 Tujuan Penelitian Tujuan umum : Mengetahui gambaran perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria di Kecamatan Sawang. 1.3.2 Tujuan khusus : gambaran pengetahuan masyarakat terhadap upaya

a. Mengetahui

pencegahan malaria di Kecamatan Sawang. b. Mengetahui gambaran sikap masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria di Kecamatan Sawang. c. Mengetahui gambaran tindakan masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria di Kecamatan Sawang.

1.4.

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian : a. Bagi Dinas Kesehatan Aceh Utara Sebagai bahan masukan guna pengambilan kebijakan dalam

penanggulangan malaria di Kabupaten Aceh Utara. b. Bagi Puskesmas Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Sawang tentang gambaran perilaku masyarakat terhadap upaya pencegahan malaria dalam pencapaian eliminasi malaria. c. Bagi Fakultas Menambah pengetahuan mahasiswa kedokteran khususnya Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Malikussaleh dan menambah referensi untuk perpustakaan Universitas Malikussaleh. d. Bagi Masyarakat Sebagai bahan informasi dan pengetahuan dalam pencegahan dan penularan malaria di masyarakat. e. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan dan pengalaman peneliti dalam mengkaji permasalahan tentang malaria dan pencegahan malaria sehingga dapat diterapkan di masyarakat.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. 2.1.1

Malaria Definisi malaria Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium

yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah (Harijanto, 2009). 2.1.2 Epidemiologi Malaria ditemukan hampir diseluruh bagian dunia, terutama di negaranegara yang beriklim tropis dan subtropis. Penduduk yang berisiko terkena malaria berjumlah sekitar 2,3 miliar atau 4,1% dari jumlah penduduk dunia. Setiap tahun, kasusnya berjumlah sekitar 300500 juta kasus dan mengakibatkan 1,52,7 juta kematian, terutama di negara-negara benua Afrika. Di Indonesia, penyakit ini ditemukan tersebar diseluruh kepulauan. Biasanya, malaria menyerang penduduk yang tinggal di daerah endemis atau orang-orang yang bepergian ke daerah yang angka penularannya tinggi (Prabowo, 2008). 2.1.3 Etiologi Penyebab infeksi malaria ialah Plasmodium, yang selain menginfeksi manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil dan mamalia, termasuk genus Plasmodium dari famili Plasmodidae. Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina. Secara keseluruhan ada lebih dari 100

Plasmodium yang menginfeksi binatang (82 pada jenis burung dan reptil dan 22 pada binatang primata) (Harijanto, 2009). Kemampuan bertahannya penyakit malaria di suatu daerah ditentukan oleh berbagai faktor berikut ini : 1. Parasit malaria Parasit malaria atau Plasmodium sp. merupakan protozoa yang termasuk dalam kelas sporozoa, ordo Coccidiomorphida dan genus Plasmodium. Terdapat empat spesies Plasmodium yang diketahui dapat menyebabkan penyakit malaria pada manusia, yaitu : a. Plasmodium falciparum : menyebabkan penyakit malaria

falciparum/tropica b. Plasmodium vivax : menyebabkan penyakit malaria vivax/tertiana c. Plasmodium malariae : menyebabkan penyakit malaria malariae/kuartana d. Plasmodium ovale : menyebabkan penyakit malaria ovale Infeksi lebih dari satu spesies Plasmodium disebut infeksi campuran (mixed infection). Seseorang dapat terinfeksi parasit malaria lebih dari satu spesies Plasmodium, bahkan dalam darah seorang anak Papua pernah ditemukan keempat spesies Plasmodium secara bersamaan (Purnomo, 2011). Ciri utama genus Plasmodium adalah adanya dua siklus hidup, yaitu siklus hidup askesual serta siklus seksual. a. Fase aseksual Siklus dimulai ketika anopheles betina menggigit manusia dan memakan sporozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam aliran darah manusia. Jasad

yang langsung dan lincah ini dalam waktu 30 menit sampai satu jam memasuki sel parenkim hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit. Proses ini disebut fase schizogoni eksoeritrosit karena parasit belum masuk ke sel darah merah. Lama fase ini berbeda untuk tiap spesies Plasmodium. Pada akhir fase, skizon hati pecah, merozoit keluar, lalu masuk dalam aliran darah (disebut sporulasi). Pada P.vivax dan P.ovale, sebagian sporozoit membentuk hipnozoit dalam hati (atau sporozoit yang tidur selama periode tertentu) sehingga mengakibatkan relaps jangka panjang, yaitu kembalinya penyakit setelah tampak mereda dan recurrence (Prabowo, 2008). Fase eritrosit dimulai saat merozoit dalam darah menyerang sel darah merah dan membentuk trofozoit. Proses berlanjut menjadi trofozoitskizon merozoit. Setelah dua sampai tiga generasi, merozoit terbentuk, lalu sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual (Prabowo, 2008). b. Fase seksual Jika nyamuk anopheles betina mengisap darah manusia yang mengandung parasit malaria, parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut nyamuk. Bentuk ini mengalami pematangan menjadi mikrogametosit dan makrogametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot (ookinet). Selanjutnya, ookinet menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Jika ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar air liur nyamuk dan siap ditularkan jika nyamuk menggigit tubuh manusia (Prabowo, 2008).

10

2. Nyamuk anopheles Nyamuk yang berperan sebagai satu-satunya vektor penyakit malaria, yaitu dari golongan Anophelini. Nyamuk anophelini yang berperan sebagai vektor malaria hanyalah dari genus anopheles. Di seluruh dunia, genus anopheles ini diketahui jumlahnya kira-kira 80 spesies, dan 16 spesies telah dibuktikan berperan sebagai vektor malaria, yang berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lain bergantung kepada bermacam-macam faktor, seperti penyebaran geografik, iklim, dan tempat perindukan (Natadisastra, 2009).

2.1 Gambar Nyamuk Anopheles 2.1.4 Patogenesis Patogenesis malaria sampai saat ini masih belum diketahui secara tuntas. Ada beberapa perbedaan patogenesis malaria falciparum, vivax/ovale dan malariae (Soewando, 2002). Malaria berat sering terjadi pada malaria falciparum, antara lain disebabkan karena P.falciparum dapat menyerang eritrosit semua umur, sedang P.vivax/ovale hanya pada eritrosit umur muda (retikulosit), dan pada P.malariae

11

hanya pada eritrosit tua sehingga P.vivax/ovale hanya dapat menyerang eritrosit tidak lebih dari 2%, P.malariae tidak lebih dari 1% dan P.falciparum bisa lebih dari 5%. Selain perubahan bentuk eritrosit pada eritrosit yang terserang P.falciparum berbentuk tonjolan-tonjolan (knobs) di permukaan, mengakibatkan eritrosit normal membentuk rosette dan epitel pembuluh darah (sitoadherensi), mengakibatkan terjadinya proses sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi di mikrosirkulasi organ-organ tubuh (antara lain otak, ginjal, dll). mengakibatkan anoxia dari organ-organ tersebut. Selain itu timbul reaksi radang, timbul zat-zat mediator (sitokin) yang menimbulkan reaksi sistemik gejala klinis malaria (Soewando , 2002). 2.1.5 Gejala-gejala Gejala-gejala penyakit malaria dipengaruhi oleh daya pertahanan tubuh penderita, jenis Plasmodium malaria, serta jumlah parasit yang menginfeksinya. Umumnya gejala yang disebabkan Plasmodium falciparum lebih berat dan lebih akut dibandingkan dengan jenis Plasmodium lain, sedangkan gejala yang di sebabkan oleh Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale paling ringan. Gambaran khas dari penyakit malaria adalah adanya demam yang periodik, pembesaran limpa (splenomegali) dan anemia (turunnya kadar hemoglobin dalam darah) (Prabowo, 2008).

12

2.1.6

Diagnosis Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan

laboratorium, dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis pasti dibuat dengan ditemukannya parasit malaria dalam pemeriksaan mikroskopis laboratorium. (Widoyono, 2011). 1. Gejala klinis a. Anamnesis Keluhan utama yang sering kali muncul adalah demam lebih dari dua hari, menggigil, dan berkeringat (sering disebut trias malaria). Demam pada keempat jenis malaria berbeda sesuai dengan proses schizogony. Demam karena P.falciparum dapat terjadi setiap hari, beda P.vivax atau ovale demamnya berselang satu hari, sedangkan demam pada malariae menyerang berselang dua hari. Sumber penyakit harus ditelusuri, apakah pernah bepergian dan bermalam di daerah endemik malaria dalam satu bulan terakhir, apakah pernah tinggal di daerah endemik, apakah pernah menderita penyakit ini sebelumnya, dan apakah pernah minum obat malaria. Kecurigaan adanya tersangka malaria berat dapat dilihat dari adanya satu gejala atau lebih, yaitu gangguan kesadaran, kelemahan atau kelumpuhan otot, kejang-kejang, kekuningan pada mata dan kulit, adanya perdarahan hidung atau gusi, muntah darah atau berak darah. Selain itu adalah keadaan panas yang sangat tinggi, muntah yang terjadi terus-menerus,

13

perubahan warna air kencing menjadi seperti teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai tidak keluar air kencing sama sekali. b. Pemeriksaan fisik Pasien mengalami demam 37,540C, serta anemia yang dibuktikan dengan konjungtiva palpebra yang pucat. Penderita sering disertai adanya pembesaran limpa (splenomegali) dan pembesaran hati (hepatomegali). Bila terjadi serangan malaria berat , gejala dapat disertai dengan syok yang ditandai dengan menurunnya tekanan darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi nafas meningkat. Pada penderita malaria berat, sering terjadi penurunan kesadaran, dehidrasi, manifestasi perdarahan, ikterik, gangguan fungsi ginjal, pembesaran hati dan limpa, serta bisa diikuti dengan munculnya gejala neurologis (refleks patologis dan kaku kuduk). 2. Pemeriksaan laboratorium a. Pemeriksaan mikroskopis Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (Sdr, sediaan darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya parasit malaria dalam darah. Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat jenis Plasmodium dan stadiumnya (P. falciparum, P.vivax, P.malariae, P.ovale, trofozoit, skizon, dan gametosit) serta kepadatan parasitnya.

14

Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semi-kuantitatif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adalah menghitung parasit dalam LPB (lapangan pandang besar) dengan rincian sebagai berikut : (-) (+) (++) : Sdr negatif (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB) : Sdr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB) : Sdr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)

(+++) : Sdr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB) (++++) : Sdr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB) Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada Sdr tebal adalah menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Pada Sdr tipis, penghitungan jumlah parasit per 1000 eritrosit. b. Tes diagnostik cepat (RDT, Rapid Diagnostic Test) Seringkali pada KLB, diperlukan tes yang cepat untuk dapat

menanggulangi malaria di lapangan dengan cepat. Metode ini mendeteksi adanya antigen malaria dalam darah dengan cara imunokromatografi. Dibandingkan uji mikroskopis tes ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian dengan cepat dapat diperoleh, tetapi lemah dalam hal spesifitas dan sensitivitasnya. 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah

15

(gula darah, SGOT, SGPT, tes fungsi ginjal), serta pemeriksaan foto toraks, EKG, dan pemeriksaan lainnya sesuai indikasi (Widoyono, 2011). 2.1.7 Pengobatan Beberapa prinsip pengobatan malaria yang harus diterapkan. 1. Menemukan penderita malaria sedini mungkin 2. Melakukan pengobatan yang efektif untuk membasmi parasit malaria dalam darah 3. Mencegah komplikasi dan kematian 4. Menemukan dan mengobati recrudescense dan recurrence 5. Mencegah penyakit malaria kambuh kembali 6. Mengurangi penularan penyakit malaria Beberapa cara pengobatan malaria. a. Pengobatan untuk mencegah Pemberian obat antimalaria bertujuan untuk mencegah timbulnya infeksi atau gejala-gejala lainnya. b. Pengobatan terapeutik (kuratif) Obat antimalaria digunakan untuk penyembuhan infeksi malaria yang telah ada, penanggulangan serangan malaria akut, serta pengobatan radikal. c. Pengobatan untuk mencegah terjadinya penularan Pengobatan bertujuan untuk mencegah infeksi nyamuk atau

mempengaruhi perkembangan sporogoni pada nyamuk.

16

d. Pengobatan massal Pengobatan massal diberikan kepada suatu kelompok penduduk tertentu di daerah yang endemis malaria. Sasaran pengobatan bisa seluruh penduduk atau kelompok penduduk tidak kebal (seperti bayi, anak balita, ibu hamil/menyusui, dan pendatang baru dari daerah yang nonendemis). (Prabowo, 2008) 2.2. 2.2.1 Pencegahan Definisi pencegahan Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruslah didasarkan pada data/keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan/penelitian epidemiologis (Nasry Noor, 2007). 2.2.2 Tingkatan pencegahan Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yaitu: 1. Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus. 2. Pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosis dini serta pengobatan yang tepat. 3. Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi (Nasry Noor, 2007).

17

2.2.3

Pencegahan dan pengendalian malaria Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat

disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup (Sembel, 2009). Meskipun demikian, upaya pencegahan dengan berbagai cara harus tetap dilakukan, baik memberantas nyamuk, melenyapkan habitat nyamuk maupun mencegah penularan berupa gigitan nyamuk (Anies, 2005). Tujuan pengendalian malaria di daerah-daerah yang endemik malaria adalah menurunkan serendah-rendahnya dampak malaria terhadap kesehatan masyarakat dengan menggunakan semua sumber daya yang tersedia. Tujuan pengendalian malaria tidak untuk mengeliminasi malaria secara total karena kalau demikian akan melakukan program eradikasi. Meskipun eradikasi merupakan tujuan yang sangat masuk akal, program ini tidak realistik untuk kebanyakan negara-negara tempat malaria endemik (Sembel, 2009). Di Indonesia usaha pembasmian penyakit malaria belum mencapai hasil yang optimal karena beberapa hambatan, yaitu tempat perindukan nyamuk malaria yang tersebar luas, jumlah penderita yang sangat banyak, serta keterbatasan sumber daya manusia, infrastuktur, dan biaya. Oleh karena itu usaha yang paling mungkin dilakukan adalah usaha-usaha pencegahan dan

pemberantasan terhadap penularan parasit (Harijanto, 2010).

18

1. Menghindari gigitan nyamuk malaria Upaya paling efektif mencegah malaria adalah menghindari gigitan nyamuk anopheles. Upaya tersebut berupa proteksi pribadi, modifikasi perilaku dan modifikasi lingkungan. Proteksi pribadi dengan menggunakan insektisida dan repellent (minyak anti nyamuk), gunakan gaun lengan panjang dan celana panjang. Modifikasi perilaku berupa mengurangi aktivitas diluar rumah mulai senja sampai subuh disaat nyamuk anopheles umumnya menggigit atau usahakan tinggal didalam rumah mulai sore. Jendela dan pintu rumah ditutupi mulai sore hari dan sebaiknya diberi kassa nyamuk termasuk di kisi-kisi udara, dan tidur dalam kelambu. Modifikasi lingkungan ditujukan mengurangi habitat pembiakan nyamuk, berupa perbaikan sistem drainase sehingga mengurangi genangan air, menghilangkan tempat pembiakan nyamuk seperti kaleng, bak mandi, ban bekas, menghilangkan alang-alang atau semak belukar dan mangrove di pantai, perbaikan tepian sungai untuk memperlancar aliran air, menutup atap dan genting yang bocor (Harijanto, 2010). Studi literatur dari keiser, dkk. Menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tersebut disertai modifikasi perilaku manusia efektif mengurangi resiko terkena malaria 8088%. Penggunaan insektisida sangat penting untuk pencegahan malaria. Insektisida dapat digunakan dengan disemprotkan dalam ruang keluarga atau tempat tidur, atau dilapiskan pada kelambu (permethin impregnated bed nets), atau pakaian yang dilapisi insektisida permethin. Kelambu yang dilapisi dengan insektisida permethin tersebut dapat dicuci dan digantung untuk pengeringan, kelambu harus diberi permethin lagi setiap 6 bulan supaya

19

tetap efektif. Sekarang sudah ada kelambu dengan lapisan insektisida yang tahan lama lebih dari 1 tahun yang disebut Long Lasting Insectizide Net (LLIN) (Harijanto, 2010). Studi literatur lengeler, dkk. Tahun 2004 menunjukkan kelambu berlapis insektisida efektif mengurangi insiden malaria sampai 50% dibanding tanpa kelambu, dan 43% dibanding dengan kelambu tanpa insektisida. Upaya penting lain adalah gunakan repelen nyamuk mulai sore hari, terutama jika melakukan aktivitas luar rumah. Repelent adalah bahan kimia yang dioleskan di kulit untuk mengurangi ketertarikan nyamuk terhadap manusia (Harijanto, 2010). 2. Pemberian obat pencegahan malaria Pemberian obat pencegahan (profilaksis) malaria bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya gejala-gejala penyakit malaria. Orang yang akan bepergian ke daerah-daerah endemis malaria harus minum obat antimalaria sekurang-kurangnya seminggu sebelum keberangkatannya sampai empat minggu setelah orang tersebut meninggalkan daerah endemis malaria (Prabowo, 2008). Tabel 2.1 Obat Kemoprofilaksis Malaria Indikasi Dosis dewasa Keterangan Digunakan di 500 mg basa, per Aman daerah oral, sekali kehamilan Plasmodium seminggu, falciparum dimulai 2 minggu sensitif klorokuin sebelum berangkat dan dilanjutkan sampai 4 minggu setelah meninggalkan daerah endemis

Regimen Klorokuin

untuk

20

Meflokuin

Digunakan di daerah Plasmodium falciparum resisten klorokuin

Doksisiklin

Alternatif terhadap meflokuin, digunakan di daerah resisten klorokuin

Atovakuonproguanil

Alternatif terhadap meflokuin dan doksisiklin, untuk daerah dengan Plasmodium resisten klorokuin

Primakuin

Profilaksis terminal untuk P.vivax dan P.ovale

250 mg per oral, sekali seminggu, dimulai 2 minggu sebelum berangkat sampai 4 minggu setelah pulang. 100 mg per oral sekali sehari, dimulai 2 hari sebelum berangkat dan dilanjutkan sampai 4 minggu setelah pulang. 1 tablet dewasa (250 mg atovakuon/100 mg) per oral, sekali sehari, dimulai 1 atau 2 hari sebelum berangkat dilanjutkan sampai 1 minggu setelah pulang. 30 mg basa (2 tablet), per oral, sekali sehari, diberikan sesegera mungkin sesudah terpapar nyamuk sampai total 14 hari, atau jika paparan tidak jelas dapat diberikan selama 14 hari setelah meninggalkan daerah endemis vivax.

Aman untuk kehamilan. Tidak direkomendasikan untuk pasien dengan kejang, kelainan konduksi jantung, psikosis Kontraindikasi pada kehamilan, wanita menyusui, anak kurang dari 8 tahun, diberikan bersama makanan

Kontraindikasi pada kehamilan, gagal ginjal berat atau bersihan kreatinin kurang dari 30ml/menit. Diberikan bersama makanan.

Kontraindikasi pada kehamilan, defisiensi G6PD, harus diberikan bersama atau sesudah makan, dapat timbul methemoglobinemia.

(Harijanto, 2010).

21

3. Pemberian vaksin malaria Pemberian vaksin malaria merupakan tindakan yang diharapkan dapat membantu mencegah infeksi malaria sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan angka kematian akibat infeksi malaria (Prabowo, 2008). Vaksinasi terhadap malaria masih tetap dalam pengembangan. Hal yang menyulitkan ialah banyaknya antigen yang terdapat pada Plasmodium selain pada masing-masing bentuk stadium pada daur Plasmodium. Oleh karena yang berbahaya adalah P.falciparum sekarang baru ditujukan pada pembuatan vaksin untuk proteksi terhadap P.falciparum. Pada dasarnya ada 3 jenis vaksin yang dikembangkan yaitu vaksin sporozoit (bentuk intra hepatik), vaksin terhadap bentuk aseksual dan vaksin transmission blocking untuk melawan bentuk gametosit. Vaksin bentuk aseksual yang pernah dicoba ialah SPF-66 atau yang dikenal sebagai vaksin patarroyo, yang pada penelitian akhir-akhir ini tidak dapat dibuktikan manfaatnya. Vaksin sporozoit bertujuan mencegah sporozoit menginfeksi sel hati sehingga diharapkan infeksi tidak terjadi. Vaksin ini dikembangkan melalui ditemukannya antigen circumsporozoit. Uji coba pada manusia tampaknya memberikan perlindungan yang bermanfaat, walaupun demikian uji lapangan sedang dalam persiapan (Harijanto, 2009). 2.3. 2.3.1 Perilaku Definisi perilaku Perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan dan respons. Perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Benyamin Bloom (1908) seorang ahli psikologi

22

pendidikan membagi perilaku itu ke dalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Bahwa dalam tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari: ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain) (Notoatmodjo, 2007). Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan ketiga domain ini diukur dari : 1. Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

23

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap subjek sudah mulai timbul. c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.

24

c. Aplikasi (application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya). d. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (synthesis) Sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2007). Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan yaitu : a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi : 1. Penyebab penyakit 2. Gejala atau tanda-tanda penyakit 3. Bagaimana cara pengobatan, atau kemana mencari pengobatan

25

4. Bagaimana cara penularannya 5. Bagaimana sebagainya. b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat meliputi : 1. Jenis-jenis makanan yang bergizi 2. Manfaat makan yang bergizi bagi kesehatannya 3. Pentingnya olahraga bagi kesehatan 4. Penyakit-penyakit atau bahaya-bahaya merokok, minum-minuman keras, narkoba, dan sebagainya. c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan meliputi : 1. Manfaat air bersih 2. Cara-cara pembuangan limbah yang sehat, termasuk pembuangan kotoran yang sehat, dan sampah 3. Manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang sehat 4. Akibat polusi (polusi air, udara, dan tanah) bagi kesehatan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003). 2. Sikap (attitude) Sikap merupakan reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yakni : cara pencegahannya termasuk imunisasi, dan

26

a. Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek. b. Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap objek Artinya bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek. c. Kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Artinya sikap adalah merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka (tindakan) (Notoatmodjo, 2007). Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni : a. Menerima (receiving) Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). b. Merespons (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan, lepas pekerjaan itu benar atau salah, berarti orang menerima ide tersebut.

27

c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. d. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi. 3. Praktik atau Tindakan (practice) Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu perbedaan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Tingkat-tingkat practice a. Persepsi (perception) Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil merupakan praktik tingkat pertama. b. Respon terpimpin (guided respons) Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah indikator praktik tingkat dua. c. Mekanisme (mecanism) Apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.

28

d. Adaptasi (adaption) Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasinya sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut (Notoatmodjo, 2007).

29

BAB 3 KERANGKA KONSEP

3.1.

Kerangka Konsep

Perilaku

Pengetahuan Upaya Pencegahan Malaria Prevalensi Malaria

Sikap

Tindakan

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

30

BAB 4 METODE PENELITIAN

4.1.

Jenis/Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian deskriptif dengan

rancangan cross sectional study, yakni menggambarkan pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat Kecamatan Sawang terhadap upaya pencegahan malaria. 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sawang. Hal ini didasari oleh data yang dikumpulkan dari puskesmas setempat bahwa daerah tersebut memiliki prevalensi kejadian malaria yang cukup tinggi. Penelitian ini di lakukan pada bulan Agustus s/d September 2012. 4.3. 4.3.1 Populasi, Sampel dan Kriteria Penelitian Populasi penelitian Populasi atau disebut juga universe adalah sekelompok individu atau obyek yang memiliki karakteristik sama (Chandra, 2010). Populasi pada penelitian ini berjumlah 623 Kartu keluarga, dari Desa Riseh Tunong yang merupakan masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Sawang dan di desanya tersebut Prevalensi malaria tinggi. 4.3.2 Sampel penelitian Sampel adalah sebagian kecil dari populasi atau obyek yang memiliki karakteristik sama (Chandra, 2010). Cara menentukan ukuran sampel jika populasi di bawah 10.000 dengan memakai rumus Slovin (Notoatmodjo, 2005).

31

Keterangan : N = Besar populasi d = Tingkat ketepatan/kepercayaan yang diinginkan n = Besarnya sampel Maka ditentukan besarnya sampel : n = 623 / 1 + 623 (0,10)2 n = 623 / 1 + 623 (0,01) n = 623 / 1 + 6,23 n = 623 / 7,23 n = 86,16 n = 87 Responden Sampel diambil dengan teknik Simple Random Sampling atau

pengambilan sampel secara acak. 4.3.3 Kriteria penelitian 1. Kriteria inklusi a. Masyarakat yang bersedia menjadi responden (Laki-Laki dan Perempuan). b. Umurnya 20-60 tahun. c. Masyarakat dengan Identitas sesuai Desa penelitian yang dilakukan. d. 1 Kartu Keluarga diambil 1 orang responden 2. Kriteria eksklusi a. Masyarakat yang tidak bersedia menjadi responden.

32

b. Umurnya <20 tahun dan >60 tahun. c. Orang sakit yang tidak bisa komunikasi. d. Masyarakat yang tidak bisa membaca dan menulis.

4.4.

Definisi Operasional Tabel 4.1 Definisi Operasional Definisi Instrumen Operasional Pengetahuan, Penjumlahan Sikap dan dari Tindakan kuesioner seseorang yang pengetahuan, berhubungan sikap dan dengan tindakan pencegahan penyakit malaria Segala sesuatu Kuesioner yang diketahui responden tentang malaria

No 1

Variabel Perilaku

Hasil Ukur 1.Baik (>50%) 2.Buruk (50%)

Skala Ukur Ordinal

Pengetahuan

Sikap

Tanggapan Kuesioner atau reaksi responden terhadap upaya pencegahan malaria Segala sesuatu Kuesioner yang telah dilakukan responden sehubungan dengan upaya pencegahan malaria

Tindakan

Setiap jawaban Ordinal benar diberi nilai 1, dan jawaban yang salah diberi nilai 0. 1.Baik (>50%) 2.Buruk (50%) Untuk jawaban Ordinal STS (1), TS (2), R (3), S (4), SS (5). 1.Baik (>50%) 2.Buruk (50%) Setiap jawaban Ordinal benar diberi nilai 1, dan jawaban yang salah diberi nilai 0. 1.Baik (>50%) 2.Buruk (50%)

33

4.5.

Cara Pengumpulan Data Menurut asal sumbernya, data dibagi menjadi dua kelompok yaitu : a. Data Primer Data perilaku masyarakat dikumpulkan dengan pengisian kuesioner yang berisi pertanyaan. b. Data sekunder Data malaria dikumpulkan dari Puskesmas Sawang dan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara.

4.6. 4.6.1

Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data Pengolahan data hasil penelitian dilakukan secara manual, dengan tahapan

sebagai berikut : a. Editing Melakukan pemeriksaan daftar pertanyaan yang telah diisi oleh masyarakat. Tujuannya untuk mengurangi kesalahan atau kekurangan yang ada di dalam daftar pertanyaan yang sudah diselesaikan sampai sejauh mungkin. b. Coding Mengklarifikasi jawaban-jawaban dari para responden ke dalam kategorikategori. Dilakukan dengan cara memberi tanda/kode berbentuk angka pada masing-masing jawaban.

34

c. Tabulating Pekerjaan tabulasi adalah tugas untuk membuat tabel. Jawaban-jawaban yang sudah diberi kode kategori jawaban kemudian dimasukkan dalam tabel dan dinilai, selanjutnya dimasukkan ke dalam skala pengukuran dengan rentang nilai. 4.6.2 Analisis data Untuk mendeskripsikan gambaran perilaku terhadap upaya pencegahan Malaria pada masyarakat Kecamatan Sawang dilakukan perhitungan frekuensi dan persentase. Hasil penelitian akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 4.7. 4.7.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Kuesioner Uji validitas Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui apakah apakah kuesioner yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang hendak kita ukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skors (nilai) tiap-tiap item (pertanyaaan) dengan skors total kuesioner tersebut. Bila semua pertanyaan itu mempunyai korelasi yang bermakna (construct validity), maka kuesioner tersebut sudah memiliki validitas konstruk yang berarti dapat mengukur konsep yang kita ukur (Notoatmodjo, 2005). Validitas diuji dengan menggunakan program SPSS (Statistic Product and Service Solution). Responden yang terlibat dalam uji validitas adalah 10 responden di desa penelitian. Responden sebagai uji validitas tidak dijadikan sebagai sampel

35

penelitian. Terdapat 10 pertanyaan kuesioner mengenai pengetahuan masyarakat setelah dilakukan uji validitas diperoleh 10 pertanyaan valid dengan kriteria dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Nilai r tabel diperoleh dari n = 10 dan tingkat ketepatan yang diinginkan 5% yaitu 0,632. Dengan demikian, terdapat 10 pertanyaan valid karena r hitung > r tabel (r hitung > 0,632). Nilai r hitung terendah sebesar 0,732 dan nilai r hitung tertinggi sebesar 0,937. Uji validitas pada kuesioner sikap masyarakat yaitu bahwa 10 pertanyaan sikap masyarakat setelah dilakukan uji validitas diperoleh 10 pertanyaan valid dengan kriteria dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Nilai r tabel diperoleh dari n = 10 dan tingkat ketepatan yang diinginkan 5% yaitu 0,632. Dengan demikian, terdapat 10 pertanyaan valid karena r hitung > r tabel (r hitung > 0,632). Nilai r hitung terendah sebesar 0,726 dan nilai r hitung tertinggi sebesar 0,920. Uji validitas pada kuesioner tindakan masyarakat yaitu bahwa 10 pertanyaan tindakan masyarakat setelah dilakukan uji validitas diperoleh 10 pertanyaan valid dengan kriteria dikatakan valid apabila r hitung > r tabel. Nilai r tabel diperoleh dari n = 10 dan tingkat ketepatan yang diinginkan 5% yaitu 0,632. Dengan demikian terdapat 10 pertanyaan valid karena r hitung > r tabel (r hitung > 0,632). Nilai r hitung terendah sebesar 0,732 dan nilai r hitung tertinggi sebesar 0,937. 4.7.2 Uji reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Ini menunjukkan sejauh mana hasil

36

pengumpulan itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap masalah yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama (Notoatmodjo, 2005). Dengan menggunakan program komputer SPSS akan dilihat hasil nilai reliabilitas dapat langsung dihitung, yaitu dengan menggunakan cronbach alpha. Bila nilai alpha lebih besar dari 0,6 maka kuesioner dinyatakan reliabel. Dari hasil perhitungan kuesioner pengetahuan masyarakat diperoleh nilai alpha 0,964 sehingga alpha > 0,6. Dengan demikian kuesioner pengetahuan masyarakat dikatakan reliabel. Untuk kuesioner sikap masyarakat diperoleh nilai alpha 0,961 sehingga alpha > 0,6. Untuk kuesioner tindakan masyarakat diperoleh nilai alpha 0,964 sehingga alpha > 0,6. Dengan demikian kuesioner tindakan masyarakat dikatakan reliabel.