Anda di halaman 1dari 22

BAB I Status pasien

1. 1. IDENTITAS Nama Umur Alamat Pekerjaan Tanggal MRS No. RM : Ny. E S : 45 tahun : Cugenang, Cianjur : ibu rumah tangga : 31 Oktober 2012 : 548909

1.2. ANAMNESIS Keluhan Utama :

Telinga kanan terasa sakit sejak 1 minggu yang lalu.

Keluhan Tambahan

Nyeri telinga, penurunan pendengaran, nyeri hidung kanan, demam, sakit kepala.

Riwayat Penyakit Sekarang : OS datang ke poli THT RSUD Cianjur dengan keluhan telinga kanan terasa sakit, nyeri seperti ada biantang masuk ke dalam telinga. Pendengaran pada telinga kanan dirasa berkurang. Nyeri pada telinga terasa lebih sakit pada pagi hari ketika bangun tidur. Pasien mengaku tidak terdapat cairan yang keluar dari kedua telinga. Pasien mengeluhkan sakit kepala sebelah kanan. Badan terasa sedikit demam.

Riwayat Penyakit Dahulu

Belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga : Di keluarga tidak ada yang menderita hal yang sama

Riwayat Pengobatan

Pasien sudah membeli obat tetes telinga tapi tidak membaik

Riwayat psikososial : Pasien tidak merokok Sering membersihkan telinga dengan cotton bud Tidak suka minum es

1.3

PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tanda tanda vital : tampak sakit ringan : Composmentis : TD = 90/60mmHg N = 80x/mnt Kepala - normocephal,rambut hitam, distribusi merata Mata Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, reflek pupil +/+, isokor +/+, strabismus -/Hidung Lihat status lokalis P = 18x/mnt S = 36,5 0C

Mulut Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor & tremor (-), fring hiperemis (-)

Telinga Lihat status lokalis

Leher Lihat status lokalis Thoraks Paru Inspeksi Palpasi Perkusi : Pergerakan dada simetris dextra-sinistra, retraksi dinding dada -/: fokal fremitus dextra-sinistra sama : sonor diseluruh lapang paru

Auskultasi : vesikular +/+, rhonki -/-, wheezing -/-

Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi Perkusi : iktus kordis teraba di ICS V sinistra, linea midclavicula sinistra : batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : bunyi jantung III, murni, regular, Murmur (-), Gallop (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi : datar, skar (-) bekas operasi (-) : supel, nyeri tekan epigastrium (-), nyeri tekan abdomen (-)

Hepar dan lien tidak teraba Perkusi : timpani di 4 kuadran

Auskultasi : bising usus (+) normal Ascites : negatif

Ekstremitas Atas Bawah : hangat +/+, udema -/-, RCT < 2 , sianosis -/: hangat +/+, udema -/-, RCT < 2 , sianosis -/-

STATUS LOKALIS THT 1. Telinga Telinga Kanan Heliks sign (-) Tragus sign (-) Mukosa tenang Serumen (-) Sekret (+)Mukopurulent Reflex cahaya (-) Perforasi (+) marginal pada arah jam 11 Hiperemis (+) Membran tympani MAE Aurikula Telinga Kiri Heliks sign (-) Tragus sign (-) Mukosa tenang Serumen (-) Sekret (-) Intak (+) Reflex cahaya (+) Hiperemis (-) Perforasi (-)

Edema (-) Hiperemis (-) Nyeri tekan (-) Radang (-) Tumor (-) Sikatriks (-)

RA

Edema (-) Hiperemis (-) Nyeri tekan (-) Radang (-) Tumor (-) Sikatriks (-)

Tes Garpu Tala Rinne Weber Schwabach : +/+ : Lateralisasi ke kiri : sama dengan pemeriksa

2. Hidung : Hidung kanan Bentuk dbn Inflamasi (-) Deformitas (-) Nyeri tekan (-) Rinoskopi anterior Mukosa tenang (+) Hiperemis (-) Sekret (-) Massa (-) Nyeri (-) Ulkus (-) Edema (-) Hipertrofi (-) Hieperemis (-) Lurus Deviasi (-) (+) Kavum nasi Mukosa tenang (+) Hieperemis (-) Sekret (-) Massa (-) Nyeri (-) Ulkus (-) Edema (-) Hipertrofi (-) Hiperemis (-) Lurus Deviasi (-) (+) Hidung luar Hidung kiri Bentuk dbn Inflamasi (-) Deformitas (-) Nyeri tekan (-)

Vestibulum nasi Konka nasi

Septum nasi

Passase udara

Sinus Paranasal Inspeksi : Pembengkakan pada wajah (-/-) Palpasi : Nyeri tekan pada pipi (-/-) Nyeri tekan bagian bawah orbita (-/-)

Transiluminasi : tidak dilakukan Tes Penciuman : (kopi) Kanan : 20 cm Kiri : 20 cm Kesan : normosmia
5

3. Tenggorokan NP : Rinoskopi posterior tidak dilakukan OP :Mukosa pharynx hiperemis (-), granule (-), lidah kotor & tremor (-) dinding belakang faring tenang (+), deviasi uvula (-), karies gigi (+) Tonsil T0/T0, tonsil hiperemis (-/-), perlegketan (-/-), pelebaran detritus (-/-) LF : Laringoskop indirek tidak dilakukan

4. Maksilo Fasial : NI : Norrmosmia NII : Pupil bulat, isokor (+/+) NIII : Gerak bola mata superior, medial, inferior (+/+) NIV : Gerak bola mata medial, inferior (+/+) NV : Rahang simetris (+/+), reflek menggigit (+/+) NVI : Gerak bola mata lateral (+/+) NVI : Wajah simetris (+/+), senyum simetris (+), angkat alis (+/+) simetris NVIII : Rinne (+/+), weber (tidak ada laterisasi), (schwabach sama dengan pemeriksa) VIX : Deviasi uvula (-) VX : Reflek muntah (+)

NXI : Angkat bahu (+/+) simetris NXII : Deviasi lidah (-)

5. Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-) 1.4 Resume :

Anamnesis : Ny. E 45 tahun datang poli THT ke RSUD Cianjur dengan keluhan otalgia sejak 1 minggu, disertai penurunan pendengaran, cephalgia, febris. Pem. Fisik : Sekret mukopurulen pada MAE (+/-), MT hiperemis (+/-), reflek cahata MT (-/+), perforasi MT (+/-) arah jam 11. Tes Webber

lateralisasi ke kiri.
6

1.5 1.6

Diagnosis kerja Diagnosis banding

: OMA stadium perforasi dextra : OMA stadium perforasi dextra Otitis eksterna dextra

1.7 1.8

Rencana diagnosis Terapi :

: Foto polos posisi waters

- Konsumsi makanan bergizi - Klindamisin caps 300 mg 2x1 - Interistin tab 50 mg 2x1 - GG 2x1 - Ascorbic Acid 1.9 Saran : Jangan terlalu sering membersihkan telinga Telinga jangan kemasukan air Hindari batuk pilek

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Telinga a. Telinga Luar Telinga luar atau pinna terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 -3cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (modifikasi kelenjar keringat=kelenjar serumen) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. Kulit liang telinga langsung terletak diatas tulang. Bahkan radang yang amat ringan terasa sangat nyeri karena tidak ada ruang untuk ekspansi. Saraf fasialis meninggalkan foramen stilomastoideus dan berjalan ke lateral menuju prosesus stiloideus posteroinferior liang telinga, dan kemudian berjalan di bawah liang telinga untuk memasuki kelenjar parotis. Rawan liang telinga merupakan salah satu patokan pembedahan yang digunakan mencari saraf fasialis; patokan lainnya adalah sutura timpanomastoideus.

Gambar . Anatomi telinga luar Membrana Timpani Membrana timpani adalah suatu bangunan berbentuk kerucut dengan puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Membrana timpani umumnya bulat. Penting untuk disadari bahwa bagian dari rongga telinga tengah yaitu epitimpanum yang mengandung korpus maleus dan inkus, meluas melampaui batas atas membrana timpani, dan bahwa ada bagian hipo timpanum yang meluas melampaui batas bawah membrana timpani. Membrana timpani tersusun oleh
8

suatu lapisan epidermis di bagian luar, lapisan fibrosa di bagian tengah di mana tangkai maleus dilekatkan dan lapisan mukosa bagian dalam lapisan fibrosa tidak terdapat diatas prosesus lateralis maleus dan ini menyebabkan bagian membrana timfani yang disebut membrana Shrapnell menjadi lemas (flaksid). Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membrane timpani disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflex cahaya (cone of light) kea rah bawah, yaitu pada pukul 7 untuk mebran timpani kiri dan pukul 5 untuk membrane timpani kanan. Reflex cahaya (cone of light) ialah cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membrane timpani. Di membrane timpani terdapat 2 macam serabut, sirkuler dan radier. Serabut inilah yang menyebabkan timbulnya reflex cahaya yang berupa kerucut itu. Secara klinis reflex cahaya ini dinilai, misalnya bila letak reflex cahaya mendatar, berarti terdapat gangguan pada tuba eustachius. Membrane timpani dibagi menjadi 4 kuadran, dengan menarik garis searah prosesus longus maleus dan garis tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian atasdepan, atas-belakang, bawah-depan dan bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi membrane timpani.

Gambar 2. Membran timpani

b. Telinga Tengah

Gambar 3. Telinga tengah Telinga tengah yang berisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral kearah umbo dari membrana timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah. Dinding superior telinga berbatasan dengan lantai fossa kranii media. Pada bagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum tulang mastoid dan di bawahnya adalah saraf fasialis. Otot stapedius timbul pada daerah fasialis dan tendonnya menembus melalui suatu piramid tulang menuju leher stapes. Saraf korda timpani timbul dari saraf fasialis di bawah stapedius dan berjalan ke lateral depan menuju inkus tetapi dimedial maleus, untuk keluar dari telinga tengah lewat sutura petrotimpanika. Korda timpani kemudian bergabung dengan saraf lingualis dan menghantarkan serabut-serabut sekretomotorik ke ganglion submandibularis dan serabut-serabut pengecap dari duapertiga anterior lidah. Dasar telinga adalah atap bulbus jugularis yang sebelah superolateral menjadi sinus sigmoideus dan lebih ke tengah menjadi sinus transversus. Keduanya adalah aliran vena utama rongga tengkorak. Cabang aurikularis saraf vagus masuk ke telinga tengah dari dasarnya. Bagian bawah dinding anterior adalah kanalis karotikus. Diatas kanalis ini, muara tuba eustachius dan otot tensor timfani yang menempati daerah superior tuba kemudian membalik, melingkari prosesus kokleariformis dan berinsersi pada leher maleus. Dinding lateral dari telinga tengah adalah dinding tulang epitimpanum di bagian atas, membran timpani dan dinding tulang hipotimpanum di bagian bawah. Bangunan yang paling menonjol pada dinding medial adalah promontorium yang menutup lingkaran koklea yang pertama. Saraf timpanikus berjalan melintas promontorium ini. Fenestra rotundum terletak di posteroinferior dari promontorium, sedangkan kaki stapes terletak pada fenestra ovalis pada batas posterosuperior promontorium. Kanalis falopii bertulang yang dilalui saraf fasialis terletak diatas fenestra ovalis mulai dari prosesus kokleariformis di anterior hingga piramid stapedium di posterior. Rongga mastoid berbentuk seperti piramid bersisi tida dengan puncak mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fossa kranii media. Dinding medial adalah dinding lateral fossa kranii posterior. Sinus sigmoideus terletak di bawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid terdapat aditus ad antrum. Tonjolan kanalis semisirkularis lateralis menonjol ke dalam antrum. Di bawah kedua patokan ini berjalan saraf fasialis dalam kanalis tulangnya untuk keluar dari tulang temporal melalui foramen stilomastoideus di ujung anterior krista yang dibentuk oleh insersio otot digastrikus. Dinding lateral mastoid adalah tulang subkutan yang dengan mudah dapat dipalpasi di posterior auruikula.

10

Gambar 4. Telinga tengah dengan batas-batasnya c. Telinga Dalam Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timfani dengan skala vestibuli. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli disebelah atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibuli dan skala timpani berisi perilimfe, sedangkan skala media berisi endolimfe. Ion dan garam yang terdapat di perilimfa berbeda dengan di endolimfa. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissners Membrane) sedangkan dasar skala media adalah membran basalis. Pada membran ini terletak organ Corti. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria dan pada membran basalis melekat sel rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanallis Corti, yang membentuk organ Corti.

11

Gambar 5, telinga dalam yang terdiri dari koklea dan vestibulum Innervasi Telinga Telinga dipersarafi oleh nervus kranial ke delapan yaitu nervus vestibulokoklearis. Nervus vestibulokoklearis terdiri dari dua bagian : salah satu daripadanya pengumpulan sensibilitas dari bagian vestibuler rongga telinga dalam yang mempunyai hubungan dengan keseimbangan, serabut-serabut saraf ini bergerak menuju nukleus vestibularis yang berada pada titik pertemuan antara pons dan medula oblongata, lantas kemudian bergerak terus menuju serebelum. Bagian koklearis pada nervus vestibulokoklearis adalah saraf pendengar yang sebenarnya. Serabut-serabut sarafnya mula-mula dipancarkan kepada sebuah nukleus khusus yang berada tepat dibelakang talamus, lantas dari sana dipancarkan lagi menuju pusat penerima akhir dalam korteks pendengaran (area 39-40) yang terletak pada bagian bawah lobus temporalis. Vaskularisasi telinga Telinga diperdarahi oleh pembuluh-pembuluh darah kecil diantaranya adalah ramus cochleae a. Labyrinthi yang memperdarahi bagian koklea, ramus vestibulares a.labyrinthi yang memperdarahi vestibulum. V. Spiralis anterior, v. Spiralis posterior, V. Laminae spiralis, Vv. Vestibulares, dan V. Canaliculi cochleae. 2.2 Fisiologi Telinga Fisiologi Pendengaran Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani, diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong,
12

sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basalis dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pengelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks serebri / korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis. Fisiologi Keseimbangan Keseimbangan dan orientasi tubuh seorang terhadap lingkungan di sekitarnya tergantung pada input sensorik dari reseptor vestibuler labirin, organ visual dan proprioseptif. Gabungan informasi ketiga reseptor sensorik tersebut akan diolah di SSP, sehingga menggambarkan keadaan posisi tubuh pada saat itu. Labirin terdiri dari labirin statis yaitu utrikulus dan sakulus yang merupakan pelebaran labirin membran yang terdapat dalam vestibulum labirin tulang. Pada tiap pelebarannnya terdapat sel-sel reseptor keseimbangan. Labirin kinetik terdiri dari tiga kanalis semisirkularis dimana pada tiap kanalis terdapat pelebaran yang berhubungan dengan utrikulus, yang disebut dengan ampula. Di dalamnya terdapat krista ampularis yang terdiri dari sel-sel reseptor keseimbangan dan seluruhnya tertutup oleh suatu substansi gelatin yang disebut kupula. Gerakan atau perubahan kepala dan tubuh akan menimbulkan perpindahan cairan endolimfa di labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Tekukan silia menyebabkan permeabilitas membran sel berubah, sehingga ion kalsium akan masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan merangsang pelepasan neurotransmiter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls sensorik melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan otak. Sewaktu berkas silia terdorong ke arah berlawanan, maka terjadi hiperpolarisasi. Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik akibat rangsangan otolit dan gerakan endolimfa di dalam kanalis semisirkularis menjadi energi biolistrik, sehingga dapat memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh akibat percepatan linier atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi
13

mengenai semua gerak tubuh yang sedang berlangsung. Sistem vestibuler berhubungan dengan sistem tubuh lain, sehingga kelainannya dapat menimbulkan gejala pada sistem tubuh bersangkutan. Gejala yang timbul dapat berupa vertigo, rasa mual dan muntah. Pada jantung berupa bradikardi atau takikardi dan pada kulit reaksinya berkeringat dingin

Gambar 6. Organ keseimbangan

2.3 Oitis Media 2.3.1 Pengertian Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah., tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (= otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME). Masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain disebut otitis media adhesive. Pada beberapa penelitian, diperkirakan terjadinya otitis media yaitu 25% pada anak-anak. Infeksi umumnya terjadi dua tahun pertama kehidupan dan puncaknya pada tahun pertama masa sekolah1. Harus dibedakan antara otitis media akut dan otitis media efusi. Otitis media efusi lebih umum daripada otitis media akut. Ketika otitis media efusi didiagnosis dengan otitis media akut, antibiotic yang diberikan bisa tidak sesuai. Otitis media efusi yaitu adanya cairan ditelinga tengah tanpa adanya gejala infeksi. Otitis media efusi biasanya disebabkan tertutupnya Tuba Eustachius dan cairan terperangkap di telinga tengah. Gejala dari otitis media akut datang bila cairan di telinga tengah terinfeksi2.

14

2.3.2 Otitis Media Akut Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di daerah nasofaring dan faring. Secara fisiologik nterdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibody. Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena factor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Selain itu, pencetus lain adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak, makin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal, dan juga adenoid pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa1.

Tympanic membrane of a person with 12 hours of ear pain, slight tympanic membrane bulge, and slight meniscus of purulent effusion at bottom of tympanic membrane. Reproduced with permission from Isaacson G: The natural history of a treated episode of acute otitis media. Pediatrics. 1996; 98(5): 968-7. 2.3.3 Epidemiologi Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, 25% anak mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Sering terjadi pada usia 3-6 tahun3.

15

2.3.4

Etiologi

Faktor pasien Prematur dan bayi berat lahir rendah Umur muda Riwayat keluarga Ras Imunitas rendah Kelainan kraniofasial Penyakit neuromuscular Alergi

Faktor lingkungan Tempat tinggal yang padat penduduk Status social-ekonomi rendah Terpapar polusi dan merokok Musin gugur atau dingin Tidak mendapatkan asi, menggunakan susu botol3.

2.3.5 Patologi Kuman utama penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus unhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas aurugenosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak dibawah 5 tahun1. 2.3.6 Stadium OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium : 1. Oklusi tuba Eustachius. 2. Hiperemis (pre supurasi).
16

3. Supurasi. 4. Perforasi. 5. Resolusi. 1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara. Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi. Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut (OMA) sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang disebabkan virus dan alergi. 2. Stadium Hiperemis (Pre Supurasi) Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh darah di membran timpani yang ditandai oleh membran timpani mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat serosa yang sulit terlihat. 3. Stadium Supurasi Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang telinga luar. Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak. Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum timpani dan akibat tromboflebitis venavena kecil. Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani

17

akan mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika membran timpani tidak utuh lagi. 4. Stadium Perforasi Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadangkadang pengeluaran sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman. Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu menurun dan bisa tidur nyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3 minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK). 5. Stadium Resolusi Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai mengering. Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara terus-menerus atau hilang timbul. Otitis media supuratif akut (OMA) dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa. Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa mengalami perforasi membran timpani1. 2.3.7 Gejala Klinik OMA Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi. Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan umur penderita, yaitu : Bayi dan anak kecil. Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 390C (khas pada stadium supurasi), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang, dan kadang18

kadang memegang telinga yang sakit. Jika terjadi rupture membrane timpani, maka secret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh menurun dan anak tertidur tenang. Anak yang sudah bisa bicara. Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek. Anak lebih besar dan orang dewasa. Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran berkurang)4.

2.3.8 Terapi Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Oklusi tuba Eustachius Pengobatan bertujuan untuk membuka kembali Tuba Eustachius, sehingga tekanan negative dalam telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung. Hcl efedrina 0.5% dalam larutan fisiologis (anak < 12 tahun) atau Hcl efedrin 1% dalam larutan fisiologik yang berumur diatas 12 tahun dan pada orang dewasa. Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman. Hiperemis (pre supurasi) Pemberian antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Antibiotika yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuscular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin. Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kgBB perhari dibagi dalam 4 dosis, atau amoksisilin 40 mg/kgBB perhari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40 mg/kgBB perhari.

19

Supurasi Diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membrane timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala klinis lebih cepat hilang dan rupture dapat dihindari.

Perforasi Sering terlihat banyak secret yang keluar dan kadang terlihat secret keluar secara berdenyut. Pengobatan diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya secret hilang dan perforasi menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.

Resolusi Membrane timpani berangsur normal kembali, secret tidak ada lagi dan perforasi membrane timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak secret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membrane timpani. Keadaan ini disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya secret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka keadaan ini disebut otitis mediasupuratif subakut. Bila perforasi menetap dan secret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis. Pada pengobatan OMA terdapat beberapa faktor resiko yang menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi resiko tinggi kegagalan terapi dan resiko rendah1.

Aturan pemberian obat tetes hidung :

Bahan. HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia dibawah 12 tahun. HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologis untuk anak berusia diatas 12 tahun dan orang dewasa. Tujuan. Untuk membuka kembali tuba Eustachius yang tersumbat sehingga tekanan negatif dalam telinga tengah akan hilang.

20

Aturan pemberian obat antibiotik : Stadium oklusi. Berikan pada otitis media yang disebabkan kuman bukan otitis media yang disebabkan virus dan alergi (otitis media serosa). Stadium hiperemis (pre supurasi). Berikan golongan penisilin atau ampisilin selama minimal 7 hari. Golongan eritromisin dapat kita gunakan jika terjadi alergi penisilin. Penisilin intramuskuler (IM) sebagai terapi awal untuk mencapai konsentrasi adekuat dalam darah. Hal ini untuk mencegah terjadinya mastoiditis, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa dan kekambuhan. Berikan ampisilin 50-100 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 4 dosis, amoksisilin atau eritromisin masing-masing 50 mg/kgbb/hr yang terbagi dalam 3 dosis pada pasien anak.

Stadium resolusi. Lanjutkan pemberiannya sampai 3 minggu bila tidak terjadi resolusi. Tidak terjadinya resolusi dapat disebabkan berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Curigai telah terjadi mastoiditis jika sekret masih banyak setelah kita berikan antibiotik selama 3 minggu.

Aturan tindakan miringotomi : Stadium hiperemis (pre supurasi). Bisa kita lakukan bila terlihat hiperemis difus. Stadium supurasi. Lakukan jika membran timpani masih utuh. Keuntungannya yaitu gejala klinik lebih cepat hilang dan ruptur membran timpani dapat kita hindari. Aturan pemberian obat cuci telinga :

Bahan. Berikan H2O22 3% selama 3-5 hari. Efek. Bersama pemberian antibiotik yang adekuat, sekret akan hilang dan perforasi membran timpani akan menutup kembali dalam 7-10 hari5.

2.3.9

Komplikasi Otitis Media Supuratif Akut (OMA)

Ada 3 komplikasi otitis media supuratif akut (OMA), yaitu : o Abses subperiosteal. o Meningitis. o Abses otak

21

Daftar Pustaka

Djaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001. h. 49-62 Liz natal, Brenda. Otitis media. Di unduh dari http://emedicine.medscape.com/article/764006-overview. tanggal 23 februari 2010; 09:30 WIB Donaldson, john D. otitis media acut. Di unduh dari http://emedicine.medscape.com/article/859138-overview. tanggal 23 februari 2010; 10.00 WIB. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997: 88-118 Al Fatih, Muhammad. Otitis Media Akut, di unduh dari http://hennykartika.wordpress.com/category/telinga/ tanggal 18 Februari 2010 ; 12.31 WIB Helmi. Komplikasi otitis media supuratif kronis dan mastoiditis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta: FKUI, 2001.

22