Anda di halaman 1dari 42

Makalah RESUSITASI JANTUNG PARU 2010

Oleh: Agusti Nala Sari HET 10-XX1-324

HIPPOCRATES EMERGENCY TEAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

rahmat dan

makalah yang berjudul

Resusitasi Jantung Paru 2010. Shalawat beriringan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti saat ini. Makalah ini diajukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar anggota khusus pada Hippocrates Emergency Team Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Keberhasilan dalam pembuatan makalah ini tidak terlepas dari peran serta berbagai pihak, baik itu bantuan, bimbingan, maupun semangat yang tidak pernah henti-hentinya diberikan kepada penulis. Oleh sebab itu pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini dan tidak lupa pula kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. 2. Ayahanda dan ibunda tercinta serta kakak-kakak yang selalu memberikan doa dan dukungannya kepada penulis. 3. Kakanda dr. Kino dan dr. Dedi Saputra sebagai penguji yang telah memberikan kritik dan saran yang sangat bermanfaat bagi kesempurnaan makalah ini. 4. Kakanda Pratama Ananda, S.Ked dan Abdurrahman Arsyad As Siddiqi, S.Ked sebagai pembimbing yang selalu memberikan masukan serta meluangkan waktunya untuk membantu kelancaran penulisan makalah ini. 5. Ketua HET, Alfy Maydo Alius, dan ketua Ketua Pantia Pemantapan Utama dan Pengondisian Khusus, Amalina Restia, beserta seluruh Panitia Pemantapan Utama dan Pengondisian Khusus angkatan XXI yang telah mengangkatkan acara ini serta

kesabaran dalam menghadapi setiap masalah maupun kendala yang timbul selama acara berlansung. 6. Rekan-rekan seperjuangan angkatan XX1 Beloved XXI (Bram Sesario Rendi, Ismul Sadly Putra, Farid I Hussein, Romance De A.S., M. Ridho Aditya, Gerry Valdy, Arrival Khadiva, Rully Perdana, Dandy Azmi Azwir, Vicca Rahmayani, Dian Rahma Kasir, Faimmatul Syuhada, Fitri Amalia, Heri Fitrianto, Atika Putri Dewi, Amelia Rahayu, Suci Chairiya Akmal, Tiara Wahyuni, Nadia Rahmah, Revi Naldi, Nitari Rahmi Putri, Irnayana Oktariah, Finisia Novianti, Fani Faradila, Elmira Puspa Sari) atas persahabatan, semangat, dukungan serta perjuangan yang tiada henti-hentinya selama ini. 7. Semua pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Semoga semua bantuan, bimbingan, saran, dan doa ataupun semua amal kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan pahala dan rahmat dari Allah SWT. Dengan keterbatasan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, penulis menyadari sepenuhnya makalah ini masih kurang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kemajuan HET kedepan khususnya maupun ilmu pengetahuan umumnya.

Padang, November 2011

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Selama 50 tahun terakhir dasar-dasar pengenalan dini dan aktivasi, Resusitasi Jantung Paru (RJP) dini, defibrilasi dini, dan akses awal untuk pelayanan darurat medis telah menyelamatkan ratusan ribu nyawa di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan pentingnya penelitian resusitasi dan terjemahan klinis RJP. Meskipun teknologi sekarang, seperti yang tergabung dalam defibrillator eksternal otomatis (Automated External Defibrillator / AED), telah memberikan kontribusi dalam kelangsungan hidup yang tinggi dari korban serangan jantung, tidak ada pertolongan awal yang dapat diberikan kepada korban serangan jantung kecuali jika para penolong siap, bersedia, dan mampu bertindak.1 Para ilmuwan dan pelayanan kesehatan berpartisipasi dalam proses evaluasi buktibukti yang komprehensif dalam menganalisis urutan dan prioritas langkah-langkah RJP dalam lingkup kemajuan ilmiah saat ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor dengan potensi dampak terbesar pada kelangsungan hidup. Atas dasar kekuatan bukti yang tersedia, mereka mengembangkan rekomendasi untuk mendukung intervensi yang paling menjanjikan. Ada dukungan bulat untuk penekanan melanjutkan RJP berkualitas tinggi, dengan penekanan laju dan kedalaman yang memadai, meminimalkan gangguan dalam penekanan dada dan menghindari ventilasi berlebihan. RJP berkualitas tinggi adalah landasan dari sistem perawatan yang dapat mengoptimalkan hasil dari kembalinya sirkulasi spontan. Kembali ke kualitas hidup sebelumnya dan keadaan kesehatan yang fungsional adalah tujuan utama dari sistem pelayanan Resusitasi Jantung Paru.1 The International Liaison Committee on Resuscitation (ILCOR) dalam rekomendasi terbarunya di Dallas, Februari 2010, terdapat perubahan mendasar dalam tata laksana

resusitasi. Yakni perubahan dari A-B-C (airway-breathing support-chest compressions) ke C-A-B (chest compressions-airway-breathing support). Hal ini dikarenakan sebagian besar serangan jantung terjadi pada orang dewasa, dan tingkat kelangsungan hidup tertinggi dari serangan jantung dilaporkan antara pasien dari segala usia yang memiliki irama awal fibrilasi ventrikel (VF) atau takikardia ventrikel (VT). Pada kasus ini, elemen awal yang penting pada Basic Life Support (BLS) adalah kompresi dada dan defibrilasi awal. Dalam urutan A-B-C, penekanan dada sering tertunda akibat membuka jalan napas untuk memberikan napas dari mulut ke mulut, membebaskan jalan napas, atau mengumpulkan dan memasang peralatan ventilasi. Dengan mengubah urutan ke C-A-B, penekanan dada akan dimulai cepat dan meminimalisir keterlambatan dalam ventilasi (yaitu hanya diperlukan waktu sekitar 18 detik untuk memberikan siklus pertama 30 kompresi dada).1.2 Maka dari itu, penulis mencoba menguraikan teknik Resusitasi Jantung Paru. Dengan harapan makalah ini dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu anggota Hippocrates Emergency Team dalam upaya mengatasi kegawatdaruratan medis. 1.2 Batasan Masalah Dalam makalah ini penulis mencoba untuk menguraikan teknik penatalaksanaan Resusitasi Jantung Paru pada dewasa. 1.3 Tujuan Makalah 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui dan memahami teknik Resusitasi Jantung Paru. 1.3.2 Tujuan Khusus Penulis menyusun makalah yang berjudul Resusitasi Jantung Paru guna memenuhi syarat kenaikan tingkat khusus pada UKM Hippocrates Emergency Team Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

1.4 Manfaat Makalah Manfaat penulisan makalah ini adalah menambah pengetahuan mengenai teknik Resusitasi Jantung Paru.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah sekumpulan intervensi yang bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan fungsi vital organ pada korban henti jantung dan henti nafas. Intervensi ini mencakup pemberian kompresi dada dan nafas buatan. Tindakan ini memungkinkan penghantaran substrat untuk memenuhi kebutuhan metabolik terutama bagi organ vital seperti otak dan jantung.3.4 Henti jantung adalah keadaan terhentinya aliran darah dalam sistem sirkulasi tubuh secara tiba-tiba akibat terganggunya efektivitas kontraksi jantung saat sistolik. Henti jantung dibedakan berdasarkan aktivitas listrik jantung (elektrokardiogram), yaitu asistol, aktivitas elektrik tanpa nadi (pulseless electrical activity, PEA), fibrilasi ventrikel (VF), dan takikardia ventrikel tanpa nadi (pulseless VT). Fibrilasi ventrikel merupakan depolarisasi dan repolarisasi yang cepat dan tidak teratur dimana jantung kehilangan fungsi koordinasi dan tidak dapat memompa darah secara efektif. Dalam penelitiannya 40% korban henti jantung mendadak mengalami fibrilasi ventrikular saat pertama kali diperiksa.5 Henti paru adalah keadaan tidak terjadinya inhalasi dan ekshalasi pernapasan.6

2.2 Indikasi dan Kontraindikasi RJP Resusitasi Kardiopulmonal tidak dapat dimulai bila pasien memiliki keterangan DNAR (do not attempt resuscitation), pasien memiliki tanda kematian yang ireversibel (seperti rigormotis, dekapitasi, dekomposisi, atau pucat), atau tidak ada manfaat fisiologis yang dapat diharapkan karena fungsi vital telah menurun walau telah diberi terapi maksimal.5

RJP dihentikan bila sirkulasi dan ventilasi spontan secara efektif telah membaik, pelayanan dilanjutkan oleh tenaga medis ditempat rujukan atau ditingkat pelayanan yang lebih tinggi, ada kriteria yang jelas menunjukkan sudah terjadi kematian yang ireversibel, penolong sudah tidak bisa meneruskan tindakan karena lelah atau ada keadaan lingkungan yang membahayakan atau meneruskan tindakan resusitasi akan menyebabkan orang lain cedera, atau keterangan DNAR diperlihatkan kepada penolong.5 Indikasi segera melakukan RJP adalah jika penolong menemukan korban tidak responsif tidak bernapas atau tidak bernapas normal (yaitu, hanya terengah-engah). Penolong harus memperlakukan korban yang telah terengah sesekali seolah-olah ia tidak bernapas. Penolong harus mengasumsikan bahwa serangan jantung hadir dan harus mulai RJP jika orang dewasa tiba-tiba jatuh atau korban tidak responsif tidak bernapas atau tidak bernapas secara normal.7

2.3 Teknik Penatalaksanaan Resusitasi Jantung Paru Perubahan yang terjadi dalan penatalaksanaan RJP tahun 2005 dengan 2010 adalah pada BLS (Basic Life Support), dari urutan A-B-C menuju C-A-B kemudian dilanjutkan dengan terapi elektrik, dan setelah itu ALS (Advanced Life Support):1.2 1. Bantuan hidup dasar (Basic Life Support)7.8 a. Menyadari segera adanya serangan jantung dan mengaktifkan sistem tanggap darurat b. Chest Compressions (Kompresi Dada) c. Airway dan Breathing support 2. Terapi listrik (Electrical Therapies)9.10 a. Awal defibrilasi dengan AED (Automated External Defibrillator)

3. Pertolongan lanjutan (Advanced Life Support)12.13 a. Manajemen airway dan ventilasi b. Bantuan lanjutan sirkulasi

2.4 Bantuan hidup dasar (Basic Life Support) 2.4.1 Menyadari segera adanya serangan jantung dan mengaktifkan sistem tanggap darurat dengan jalur berikut: Langkah pertama yang diperlukan dalam pengobatan serangan jantung adalah menyadari segera setelah serangan. Sebelum mendekati korban, penolong harus memastikan bahwa kondisi tersebut aman dan kemudian memeriksa respon korban. Untuk melakukan hal ini, tekan korban di bahu dan berteriak, "Apakah anda baik-baik saja?" Jika korban responsif dia akan menjawab, bergerak, atau mengerang. Jika korban tetap responsif, penolong harus segera mengaktifkan sistem tanggap darurat. Tenaga kesehatan juga harus memeriksa korban tidak bernapas atau tidak bernapas normal untuk tanggap darurat, jika penolong menemukan korban tidak responsif, tidak bernapas atau tidak bernapas normal, penolong harus mengasumsikan korban dalam serangan jantung dan segera mengaktifkan sistem tanggap darurat. Penolong harus memperlakukan korban yang telah terengah sesekali seolah-olah ia tidak bernapas.7 Penolong harus mengasumsikan bahwa serangan jantung telah terjadi dan harus memulai RJP jika orang dewasa tiba-tiba jatuh atau korban tidak responsif, tidak bernapas atau tidak bernapas secara normal. Penolong mungkin memakan waktu terlalu lama untuk memeriksa nadi dan mengalami kesulitan menentukan apakah denyut nadi teraba atau teraba lemah. Ada bukti, walaupun, bahwa memeriksa pernapasan, batuk, atau gerakan yang superior untuk mendeteksi sirkulasi tapi karena keterlambatan penekanan dada harus diminimalkan, tenaga kesehatan harus mengambil tidak lebih dari

10 detik untuk memeriksa denyut nadi, dan jika penyelamat tidak pasti merasa nadi dalam periode waktu, penyelamat harus mulai penekanan dada.7 a. Jika korban bernapas normal8 Posisikan korban menjadi posisi mantap atau pemulihan, seperti pada gambar dibawah ini: Langkah 1 Langkah 2

Langkah 3

Langkah 4

Gambar 1. Posisi mantap8 Mencari bantuan dengan menelepon 118 atau nomor darurat lokal untuk ambulans. Terus menilai bahwa pernapasan tetap normal. b. Jika pernapasan tidak normal atau tidak ada Meminta seseorang untuk mencari dan membawa AED (Automated External Defibrillator), jika penolong hanya sendiri segera penolong menelepon layanan ambulan dan meninggalkan korban, dilakukan hanya jika tidak ada pilihan lain. Penolong harus segera memulai kompresi dada .7.8

10

2.4.2 Chest Compressions (Kompresi Dada) Saat henti jantung, kompresi dada dapat mengalirkan darah ke organ-organ vital dan meningkatkan kemungkinan kembalinya sirkulasi spontan. Jika korban tidak responsif dan tidak bernapas, berikan 30 kompresi dada. Berikut ini adalah karakteristik RJP berkualitas tinggi :7.8 Kompresi dada dengan kekuatan dan kedalaman yang tepat. "Push fast": mendorong pada kecepatan minimal 100 tekanan per menit. " Push hard ": mendorong dengan kekuatan yang cukup untuk menekan setidaknya sepertiga anterior-posterior (AP) diameter dada atau sekitar 1 inci (4 cm) pada bayi dan 2 inci (5 cm) tapi tidak melebihi 6 cm pada anak-anak dan dewasa. Biarkan dada kembali setelah masing-masing kompresi untuk memungkinkan jantung diisi dengan darah. Minimalkan interupsi kompresi dada. Hindari ventilasi berlebihan. Untuk hasil terbaik, pastikan korban dibaringkan di permukaan yang keras. Hasil resusitasi terbaik didapatkan apabila penekanan dada dikombinasikan dengan ventilasi, tetapi jika penolong tidak terlatih dalam memberikan ventilasi, atau tidak dapat melakukannya, penyelamat harus melanjutkan dengan penekanan dada (Hands-Only) sampai bantuan tiba.7 Kompresi dada dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. 2. Penolong berlutut di sisi korban.8 Menempatkan satu tumit tangan di tengah dada korban (yang merupakan bagian bawah tulang dada atau disebut sternum), seperti pada gambar dibawah ini:8

11

Gambar 2. Meletakkan tangan pada sternum8 3. Tempatkan juga tumit tangan lainnya di atas tangan pertama, seperti pada gambar dibawah ini:8

Gambar 3. Menyatukan kedua tangan8 4. Jari-jari tangan dipautkan dan memastikan tekanan tidak dilakukan di atas tulang rusuk korban. Jaga lengan penolong tetap lurus. Jangan menerapkan tekanan pada bagian atas perut atau bagian bawah tulang sternum (tulang dada), seperti pada gambar dibawah ini:8

Gambar 4. Mengaitkan jari-jari tangan dan meluruskan siku8 5. Memposisikan diri secara vertikal di atas dada korban dan tekan ke bawah pada tulang dada minimal 5 cm tapi tidak melebihi 6 cm, seperti pada gambar dibawah ini:7.8

Gambar 5. Penekanan dada.8 12

6.

Setelah kompresi dilakukan, lepaskan semua tekanan pada dada tanpa kehilangan kontak antara tangan penolong dan mengulang kompresi minimal 100 kali permenit (tapi tidak melebihi 120 kali permenit).7.8

7.

Baik kompresi dan relaksasi harus memakai waktu yang sama. Selanjutnya kompresi dada dikombinasikan dengan napas buatan.7.8

2.4.3 Airway dan Breathing support Pembukaan jalan napas disini diikuti dengan memberikan napas bantuan. 1. Setelah 30 kali kompresi dada, dilanjutkan dengan membuka jalan napas dan melakukan napas bantuan, seperti pada gambar dibawah ini:7.8

Gambar 6. Memberi napas buatan sambil melihat dada korban terangkat8 Menutup lubang hidung dengan menjepit bagian lunak dari hidung dengan jari telunjuk dan ibu jari.8 Biarkan mulut untuk terbuka, tapi pertahankan dagu terangkat dengan teknik chin lift.8

Gambar 7. Head tilt and chin lift8 Ambil napas panjang pada udara luar, dan meniupkan ke dalam mulut korban diikuti dengan melihat dada korban apakah mengembang atau tidak, satu kali

13

hembusan setidaknya mengambil waktu sekitar 1 detik seperti pada pernapasan normal, ini adalah suatu penyelamatan jalan napas yang efektif.7.8 Setelah hembusan pertama dilihat dada korban turun sebagai udara keluar, kemudian dilakukan napas buatan yang kedua. Kedua napas tidak dari 5 detik. Kemudian dilanjutkan kembali kompresi dada dan pastikan tempatnya tepat diikuti dengan pemberian napas buatan dengan rasio 30:2.7.8 Berhenti untuk memeriksa kembali korban hanya jika korban sudah mulai bangun untuk bergerak, membuka mata, dan bernapas normal. Jika saat bantuan napas awal, dada tidak terangkat atau mengembang maka dilakukan upaya berikutnya:8 a. Melihat ke dalam mulut korban dan menghilangkan sumbatan. b. Memeriksa kembali jalan napas dengan head tilt dan chin lift. c. Jangan mencoba lebih dari dua kali memberikan napas bantuan setiap kali kembali melakukan kompresi dada. 2. Penolong yang berpengalaman bisa melakukan gabungan dua penolong RJP dan dalam situasi ini mereka harus bertukar peran / tempat setiap 2 menit sekali untuk menghindari kelelahan. Sangat bermanfaat untuk melakukan kompresi dada, penolong menghitung dengan suara keras.8 3. Kompresi dada tanpa pemberian napas buatan dapat dipakai apabila:8 a. Jika penolong tidak terlatih, atau tidak bersedia untuk memberikan napas buatan, dan hanya memberikan penekanan dada saja. b. Jika hanya penekanan dada saja yang diberikan, ini harus berkelanjutan terus menerus dalam 100 kali permenit (tapi tidak melebihi 120 kali per menit). 4. Kompresi dihentikan apabila: 7.8 a. Bantuan profesional datang dan mengambil alih, atau

14

b. Korban mulai bangun untuk bergerak, mata terbuka dan untuk bernapas normal, atau c. Terdapat tanda-tanda kematian (bernapas dan sirkulasi darah berhenti secara pasti/ireversibel, telah terbukti terjadi mati batang otak, pada kasus darurat setelah dilakukan resusitasi selama 15-30 menit pasien tetap tidak sadar dan bernapas spontan, serta pupil berdilatasi atau dibawah pengaruh barbiturat atau anestesi umum) d. Penolong kelelahan.

2.5 Terapi listrik (Electrical Therapies): Defibrillator Eksternal Otomatis (Automated External Defibrillator / AED) Defibrilasi dini sangat penting untuk kelangsungan hidup dari serangan jantung mendadak (sudden cardiac arrest / SCA) untuk beberapa alasan:9 1. Irama awal yang paling sering terjadi di luar rumah sakit untuk SCA adalah ventrikel fibrilasi (VF). 2. Pengobatan untuk ventrikel fibrilasi adalah defibrilasi. 3. Kemungkinan defibrilasi berhasil, berkurang dengan cepat dari waktu ke waktu. 4. VF cenderung memburuk menjadi asystole dari waktu ke waktu. Beberapa penelitian telah mendokumentasikan efek waktu untuk defibrilasi dan efek RJP korban pada kelangsungan hidup dari SCA. Untuk setiap menit yang lewat di antara kolaps dan defibrilasi, tingkat kelangsungan hidup dari SCA VF terjadi penurunan 7% sampai 10% jika tidak dilakukan RJP. Jika penolong memberikan RJP langsung, banyak orang dewasa dengan VF dapat bertahan dengan fungsi neurologis utuh, terutama jika defibrilasi dilakukan dalam waktu 5 sampai 10 menit setelah SCA.9

15

Defibrilasi adalah bagian dari sebuah arus listrik di seluruh miokardium yang besarnya cukup untuk depolarisasi massa kritis pada miokardium dan memungkinkan restorasi dari aktivitas listrik yang terkoordinasi. Defibrilasi didefinisikan sebagai pemutusan fibrilasi atau lebih tepatnya tidak adanya VF / VT di 5 detik setelah kejutan diberikan, Namun, tujuan defibrilasi adalah untuk mengembalikan irama yang terorganisir dan sirkulasi spontan. Teknologi defibrillator maju dengan cepat, interaksi AED dengan penolong melalui suara petunjuknya, sekarang dirancang dan dimungkinkan pada teknologi masa depan dengan instruksi yang lebih spesifik untuk diberikan dengan suara tepat. Kemampuan berkembang defibrillator untuk menilai sementara irama RJP yang berlangsung merupakan kemajuan penting dan memungkinkan penyelamat untuk menilai irama tanpa mengganggu kompresi dada. Di masa depan, analisis gelombang defibrilator juga dapat memungkinkan untuk menghitung waktu yang optimal dalam memberikan kejutan.10

2.5.1 Defibrillator Eksternal Otomatis Defibrillator Eksternal Otomatis yang canggih, dapat diandalkan lewat perangkat komputer yang menggunakan suara dan visual yang meminta untuk membimbing penolong dan tenaga kesehatan profesional untuk aman mencoba defibrilasi pada korban serangan jantung. Beberapa AED menggabungkan bimbingan bagi defibrilasi dengan bimbingan untuk melakukan penekanan dada yang optimal. Penggunaan AED oleh awam atau penolong non-kesehatan dapat dibantu dalam banyak situasi, sebuah AED digunakan untuk menyediakan defibrilasi awal tetapi kemudian ditukarkan dengan defibrilator manual pada saat kedatangan tim kesehatan emergensi.10 Berikut dibawah ini gambar alat AED dan pemasangannya:

16

` Gambar 8. AED (automated external defibrillator)11

Gambar 9. Pemasangan AED11

2.6 Pertolongan lanjutan (Advanced Life Support) Bantuan hidup lanjut (Advanced Life Support) dilakukan di fasilitas kesehatan. Tindakan bantuan hidup dasar tetap dipertahankan dan dilengkapi oleh bantuan hidup lanjut. Pada manajemen jalan napas (airway) yang dapat dilakukan adalah mempertahankan patensi jalan napas dengan head tilt-chin lift bila perlu gunakan oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway. Tindakan lanjutan seperti intubasi endotrakeal atau penggunaan laryngeal mask airway (LMA) dapat dilakukan. Untuk menjamin akses vaskular maka pasien perlu dipasang jalur intravena. Lead EKG dipasang untuk memantau adanya aritmia atau

17

henti jantung (asistol, Pulseless electrical activity/PEA, VF, atau VT tanpa nadi). Sesuai indikasi berikan cairan dan obat-obatan yang akan dijelaskan dibawah ini.5

2.6.1 Manajemen jalan napas (airway) dan ventilasi Pasien yang diberi tindakan resusitasi sering akibat dari jalan napas yang terhambat, biasanya penyebab sekunder karena kehilangan kesadaran, tapi kadang-kadang mungkin menjadi primer akibat serangan kardiorespirasi. Maka dari itu, penilaian dengan kontrol jalan napas dan ventilasi paru-paru, sangatlah penting. Hal ini akan membantu untuk mencegah kerusakan sekunder dari otak dan organ vital lainnya akibat hipoksia. Tanpa oksigenasi yang adekuat mungkin mustahil untuk memulihkan kembalinya cardiac output secara spontan. Prinsip-prinsip ini mungkin tidak berlaku pada serangan jantung yang membutuhkan defibrilator segera, dalam hal ini, prioritas defibrilasi merupakan yang utama.12 1. Obstruksi jalan napas Obstruksi jalan napas bisa terjadi secara parsial ataupun keseluruhan, dan bisa juga terjadi pada berbagai level baik hidung, mulut, ataupun trakea. Obstruksi dapat disebabkan oleh cairan muntah dan darah (regurgitasi dari isi lambung dan trauma). Pendekatan look, listen, and feel adalah metode yang sederhana dan sistematis dalam mendeteksi obstruksi saluran napas.12 Lihat pergerakan dada dan abdomen. Dengarkan dan rasakan aliran udara di mulut dan hidung. Pada obstruksi jalan napas parsial, udara yang masuk berkurang dan biasanya berisik. Stridor inspirasi disebabkan oleh obstruksi pada tingkat laring. Ekspirasi mengi menyiratkan obstruksi yang lebih rendah pada saluran napas, yang cenderung kolaps dan obstruksi selama ekspirasi.

18

Karakteristik suara lain meliputi:12 Gurgling disebabkan oleh benda asing berupa cair atau semi solid pada saluran napas besar. Snoring muncul ketika faring sebagian tersumbat oleh palatum mole atau epiglotis. Crowing adalah suara kejang laring. 2. Manajemen dasar jalan napas Head tilt dan chin lift (gambar 7)12 Jaw thrust Jaw thrust merupakan alternatif manuver untuk membawa mandibula ke depan dan menghilangkan obstruksi akibat palatum mole dan epiglotis. Keempat jari penolong selain ibu jari ditempatkan pada sudut ujung mandibula dan mendorong mandibula tersebut ke atas dan ke depan. Dengan menggunakan ibu jari, dilakukan penekanan pada dagu sehingga mulut akan terbuka(gambar 11). Metode sederhana ini berhasil dalam kebanyakan kasus pada obstruksi jalan napas akibat relaksasi jaringan lunak. Jika pembukaan jalan napas tidak dapat dicapai, maka cari penyebab lain dari obstruksi saluran napas. Gunakan nger sweep, forsep, atau suction untuk menghilangkan benda asing padat yang terlihat di mulut.12

Gambar 10. Teknik Jaw Thrust.12 19

Manajemen jalan nafas pada pasien dengan tulang belakang servikal yang diduga cedera Jika cedera tulang belakang dicurigai (misalnya, jika korban telah jatuh, telah terkena pukulan di kepala atau leher, atau telah diselamatkan setelah menyelam ke dalam air dangkal) jaga kepala, leher, dada dan daerah lumbal dalam posisi netral selama resusitasi. Memiringkan kepala secara berlebihan bisa memperburuk cedera dan kerusakan pada sumsum tulang servikal. Jika obstruksi jalan napas berlanjut dan mengancam hidup meskipun telah mengaplikasikan head tilt dan chin lift, tambahkan memiringkan kepala sedikit demi sedikit sampai jalan napas terbuka, membuat jalan napas jadi paten merupakan prioritas di atas kekhawatiran tentang potensi cedera tulang belakang servikal.13

Pemasangan OPA (Oropharyngeal airways) dan NPA (Nasopharyngeal airways) OPA (Oropharyngeal airways) Meskipun beberapa penelitian tidak secara spesifik mempertimbangkan penggunaan OPA pada pasien dengan serangan jantung, OPA dapat membantu dalam pengiriman ventilasi yang memadai dengan perangkat bag-mask dengan mencegah lidah dari obstruksi jalan napas. Cara memasukkan yang salah pada OPA dapat membuat lidah jatuh ke hipofaring dan akan menyebabkan obstruksi jalan napas. Untuk memudahkan pemasukkan udara ke ventilasi dengan bag-mask, OPA dapat digunakan dalam keadaan tidak sadar (tidak responsif) pasien sehingga tidak ada refleks batuk atau muntah dan hanya boleh dilakukan oleh orang yang terlatih dalam menggunakannya.13 NPA (Nasopharyngeal airways) Saluran udara nasofaring digunakan pada pasien dengan obstruksi jalan napas atau berisiko untuk obstruksi jalan napas, terutama pada kondisi seperti

20

rahang terkatup sehingga menutupi jalan napas oral. Saluran udara nasofaring lebih baik digunakan daripada saluran udara mulut pada penderita dengan kesadaran yang menurun. Perdarahan pada jalan napas dapat terjadi pada 30% dari pasien setelah insersi nasofaring. Menurut laporan khusus menunjukkan bahwa saluran udara nasofaring harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan cedera parah kraniofasial.13 Oksigen Berikan oksigen pada konsentrasi tertinggi (yaitu, 100%) selama resusitasi awal. Setelah sirkulasi dipulihkan, memberikan oksigen yang cukup untuk mempertahankan saturasi oksigen arteri (SaO2) pada kisaran 94-98%. Studi pada neonatus menunjukkan beberapa keuntungan menggunakan udara ruangan selama resusitasi. Pada anak yang lebih tua, tidak ada bukti manfaat dari udara yang bukan oksigen, jadi gunakan oksigen 100% untuk resusitasi awal dan setelah kembalinya sirkulasi spontan (ROSC), titrasi fraksi oksigen yang terinspirasi (FiO) untuk mencapai SaO2 dalam kisaran dari 94-98%.12 Suction Gunakan penghisap lebar dan sedikit kaku (Yankauer) untuk menghilangkan cairan (darah, saliva, dan isi lambung) dari saluran udara bagian atas. Gunakan penghisap secara hati-hati jika pasien memiliki refleks muntah, rangsangan faring yang dapat menstimulasi refleks muntah.12 3. Ventilasi a. Self-inating bag Self-inating bag dapat terhubung ke facemask/sungkup muka, ETT atau perangkat saluran napas supraglotik / supraglottic airway device (SAD). Tanpa

21

tambahan oksigen, kantong ini dapat menghantarkan oksigen ke dalam paru-paru korban dengan udara luar (21% oksigen).12

Gambar 11. Mouth-to-mask ventilation.12

Gambar 12. Teknik dengan 2 orang12 4. Perangkat alternatif jalan napas a. Supraglottic Airways Supraglottic Airways adalah perangkat yang dirancang untuk mempertahankan jalan napas tetap terbuka dan memfasilitasi ventilasi. Tidak seperti intubasi endotrakeal, intubasi dengan supraglottic airways tidak membutuhkan visualisasi glottis, sehingga pelatihan awal dan menjaga keterampilan tersebut lebih mudah. Juga, karena visualisasi langsung tidak diperlukan, supraglottic airways dapat dimasukkan tanpa mengganggu kompresi. Supraglottic airways yang telah dipelajari dalam serangan jantung adalah Laryngeal Mask Airway (LMA), tabung trakea-esofagus (Combitube) dan tabung laring (Laryngeal Tube atau King LT). Kegagalan dapat terjadi, sehingga menjaga keterampilan ini harus melalui praktek yang sering dan pengalaman adalah yang terpenting.13 22

Laryngeal mask airway (LMA) LMA memberikan cara lebih aman dan ventilasi yang dapat diandalkan daripada face-mask. Meskipun LMA tidak menjamin perlindungan mutlak terhadap aspirasi, penelitian telah menunjukkan bahwa dengan LMA kecil kemungkinan terjadi regurgitasi daripada face-mask dan aspirasi yang biasa.13

Gambar 13. Laryngeal mask airway(LMA)14

Gambar 14. Pemasangan LMA15 Bila dibandingkan dengan (Endotracheal Tube/tabung endotrakeal) ETT, LMA menyediakan ventilasi setara dengan ventilasi yang sukses selama RJP telah dilaporkan pada 72% sampai 97% dari pasien (gambar 13). Karena insersi LMA tidak memerlukan laringoskop dan visualisasi dari pita suara, pelatihan dalam penempatan dan penggunaannya lebih sederhana daripada intubasi endotrakeal. LMA mungkin juga memiliki keuntungan daripada ETT ketika akses ke pasien

23

terbatas, ada kemungkinan cedera leher yang tidak stabil, atau posisi yang mustahil dari pasien untuk dilakukan intubasi endotrakeal.13 Indikasi pemasangan LMA yaitu (1) sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi endotrakheal untuk manajemen airway (2)LMA bukanlah suatu penggantian endotrakheal, ketika pemakaian endotrakheal menjadi suatu indikasi (3) pada penatalaksanaan dificult airway yang diketahui atau yang tidak diperkirakan, pada manajemen airway selama resusitasi pada pasien yang tidak sadarkan diri.16.17.18 Kontraindikasi untuk LMA adalah pasien dengan kelainan faring (misalnya abses), sumbatan faring, lambung yang penuh (misalnya kehamilan, hernia hiatal), atau komplians paru rendah (misalnya penyakit restriksi jalan nafas) yang memerlukan tekanan inspirasi puncak lebih besar dari 30 cm H2O. Secara tradisional, LMA dihindari pada pasien dengan bronkhospasme aatau resistensi jalan nafas tinggi, akan tetapi, bukti-bukti baru menunjukkan bahwa karena tidak ditempatkan dalam trakhea, penggunaan LMA dihubungkan dengan kejadian bronchospasme lebih kurang dari pada dengan endotrakheal tube.19

Gambar 15. Insersi LMA20 24

Langkah-langkah pemasangan LMA (gambar 15):20


1.

Persiapan: pemilihan ukuran LMA, pemeriksaan LMA, periksa deflasi dan inflasi cuff, lumasi LMA, dan posisi airway.

2.

LMA dipegang seperti pena pada tangan dominan. Buka mulut korban dan pada LMA bagian belakang berupa bagian yang datar dimasukkan bersentuhan dengan langit-langit mulut.

3.

4.

Menggunakan jari telunjuk penolong, LMA dimasukkan di sepanjang langit-langit mulut pasien dan masuk ke tenggorokan sampai ada terasa hambatan.

5.

Stabilkan tabung dengan tangan yang lain dan keluarkan jari telunjuk penolong dari mulut pasien.

6.

Dengan menggunakan jarum suntik 5 ml kemudian hembuskan udara sekitar 2-4 ml pada inflation line untuk mengembangkan cuff LMA dan untuk fiksasi LMA.

Tabung Esofagus-Trakea (Combitube) Indikasi pemakaian combitube adalah:21.22 1. Pasien tidak responsif tanpa refleks muntah. 2. Upaya intubasi endotrakeal tidak berhasil. 3. Potensi cedera C-spine dengan ketidakmampuan untuk memvisualisasikan pita suara. Kontraindikasi pemakaian combitube: 21.22 1. Pasien sadar atau tidak sadar dengan refleks muntah. 2. Penyakit esofagus (kanker, varises, atau striktur). 25

3. Paten tracheostomy. 4. Tinggi pasien kurang dari 4 kaki. 5. Usia pasien kurang dari 16 tahun (kecuali tinggi 5 kaki). Kelebihan dari tabung esofagus-trakea (combitube) mirip dengan kelebihan ETT dibandingkan dengan ventilasi bag-mask, yaitu: isolasi saluran napas, mengurangi risiko aspirasi, dan ventilasi lebih baik. Keuntungan dari tabung trakea-esofagus atas ETT adalah terkait kemudahan dalam pelatihan. Ventilasi dan oksigenasi dengan tabung trakea-esofagus lebih baik dibandingkan dengan yang ETT. Dalam beberapa uji klinis terkontrol yang melibatkan resusitasi di dalam dan di luar rumah sakit, penolong/tenaga medis dengan semua tingkat pengalaman mampu memasukkan tabung trakea-esofagus dan memberikan ventilasi yang sebanding dengan yang dicapai dengan intubation endotrakeal (gambar 15).13

Gambar 16. Combitube 22

Gambar 17. Pemasangan Combitube22 Langkah-langkah pemasangan combitube:21.22 1. Berikan oksigen sebelum insersi selama 24 kali dalam 2 menit. 2. Pilih combitube yang sesuai dan lumasi. 26

3. Posisikan kepala secara netral, cegah cedera spinal jika ada indikasi. 4. Masukkan combitube ke dalam mulut korban dengan teknik tongue-jaw lift sampai tanda black ring pada tube telah sejajar dengan gigi atau garis gusi. 5. Gunakan syringe 100 cc untuk menggembungkan proximal cuff dan 10-15 cc untuk distal cuff. 6. Tanpa visualisasi, ada kemungkinan penempatan combitube pada esophagus. Oleh karena itu, tes ventilasi dapat dilakukan: a. Tabung biru, pada tabung ini udara tidak akan melewati ujung distal dari lumen faring karena ujungnya tertutup. Karena mulut, hidung, dan kerongkongan yang disegel oleh balon dan cuff, udara dapat masuk ke trakea. Jika auskultasi atas paru-paru adalah positif (dan insuflasi epigastrium negatif), ventilasi dapat dilanjutkan. Lumen tracheo-esofagus berfungsi untuk dekompresi esofagus dan lambung(gambar 18).

Gambar 18. Penempatan dan ventilasi esophageal22 b. Tabung putih, pada beberapa kasus penempatan combitube dapat masuk pada trakea. Dalam hal ini, ventilasi berubah menjadi tabung pendek, yang mengarah ke lumen tracheo-esofagus. Udara ditiupkan langsung ke trakea (gambar 19).

Gambar 19. Penempatan dan ventilasi trakea22 27

Dalam sebuah penelitian retrospektif tidak ada perbedaan dalam hasil yang diamati pada pasien yang diobati dengan tabung trakea-esofagus dibandingkan dengan mereka yang dirawat dengan tabung endotrakeal. Para tabung trakea-esofagus dilaporkan memberikan ventilasi yang selama RJP yaitu sebesar 62% sampai 100% dari pasien. Komplikasi fatal dapat terjadi dengan penggunaan tabung trakea-esofagus jika posisi lumen distal tabung trakeaesofagus dalam kerongkongan atau trakea tidak diidentifikasi dengan benar. Untuk alasan ini, konfirmasi penempatan tabung sangat penting. Komplikasi lain yang mungkin terkait dengan penggunaan tabung trakea-esofagus adalah trauma esofagus, termasuk luka, memar, dan emfisema subkutan.13

Tabung Laring (Laryngeal Tube/ King LT) Indikasi dan kontraindikasi pemakaian Laryngeal Tube ini secara umum hampir sama dengan LMA. Salah satu faktor yang mungkin yang dapat

membedakan kemudahan penyisipan antara kedua alat ini adalah ruang faring. Jika ruang faring menyempit, misalnya, amandel membengkak, penyisipan Laryngeal Tube mungkin lebih mudah daripada LMA, karena lebar dari Laryngeal Tube lebih sempit dibandingkan dengan LMA.23 Keuntungan dari Laryngeal hampir sama dengan tabung trakea-esofagus, namun tabung laring lebih padat dan lebih rumit untuk dimasukkan (tidak seperti tabung trakea-esofagus, tabung laring hanya dapat masuk ke kerongkongan). Pada saat ini, terdapat data yang terbatas pada penggunaan tabung laring dalam kejadian serangan jantung.13

28

Tabung laring dapat terlihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 20. Laryngeal tube12

Gambar 21. Pemasangan Laryngeal tube23 Langkah-langkah pemakaian laryngeal tube/king LT:23 1. Memegang king LT dengan tangan dominan seperti memegang pena yang sebelumnya sudah dicocokkan dan dilumasi, sedangkan tangan yang lain membuka mulut korban dengan teknik ibu jari dan jari telunjuk. 2. Dari sisi lateral mulut dimasukkan king LT, samapi ke pangkal lidah kemudiaan diputar sehingga blue orientation line berhadapan dengan dagu korban. 3. Tanpa kekuatan yang berlebihan, majukan tabung sampai pangkal konektor sejajar dengan gigi atau gusi korban. 4. Mengembungkan cuff dengan syringe yang telah disesuaikan untuk fiksasi. 5. Selanjutnya pangkal konektor bisa dihubungkan dengan resusitation bag.

29

b. Intubasi endotrakeal Tabung endotrakeal pernah dianggap sebagai metode yang optimal dalam pengelolaan jalan nafas selama serangan jantung. Namun, upaya intubasi oleh tenaga medis tidak terampil dapat menimbulkan komplikasi, seperti trauma pada orofaring, gangguan dari kompresi dan ventilasi untuk waktu yang lama, dan hipoksemia dari upaya intubasi yang lama atau kegagalan untuk mengenali penempatan atau

perpindahan tabung. Sudah jelas sekarang bahwa kejadian komplikasi adalah sangat tinggi saat intubasi dilakukan oleh tenaga medis yang kurang berpengalaman atau pemantauan penempatan tabung yang tidak memadai.13 Tabung endotrakeal menjaga jalan napas tetap paten, pengisapan sekresi saluran napas, memungkinkan pengiriman konsentrasi tinggi oksigen, menyediakan jalur alternatif untuk pemberian beberapa obat, memfasilitasi pengiriman volume tidal yang dipilih dan dengan menggunakan manset, dapat melindungi jalan napas dari aspirasi.13 Indikasi untuk intubasi endotrakeal darurat adalah (1) ketidakmampuan penolong untuk memberikan ventilasi yang adekuat bagi korban tidak sadar dengan bag dan mask dan (2) tidak adanya refleks pelindung saluran napas (koma atau serangan jantung). Penolong harus memiliki pelatihan dan pengalaman dalam intubasi endotrakeal. Selama penyedia RJP harus meminimalkan jumlah dan durasi gangguan dalam kompresi dada, dengan tujuan untuk membatasi interupsi yang tidak lebih dari 10 detik. Interupsi untuk penempatan saluran napas supraglotik seharusnya tidak perlu sama sekali, sedangkan interupsi untuk intubasi endotrakeal dapat diminimalkan jika penolong siap untuk memulai intubasi, yaitu dengan memasukkan laryngoscope blade dengan tube siap di tangan, dan segera dilakukannya kompresi oleh penolong sewaktu jeda. Kompresi seharusnya terganggu hanya untuk waktu yang diperlukan oleh

30

penolong untuk memvisualisasikan pita suara dan memasukkan tabung, ini adalah idealnya kurang dari 10 detik. Penolong harus siap untuk melanjutkan penekanan dada segera setelah tabung melewati pita suara. Jika usaha intubasi tidak berhasil pada awal, upaya kedua mungkin masuk akal, tetapi pertimbangan awal harus diberikan untuk menggunakan saluran napas supraglotik.13

2.6.2 Bantuan lanjutan untuk sirkulasi 1. Obat-obatan A. Vassopressors 1. Adrenalin (epinefrin) Indikasi: a. Adrenalin adalah obat pertama yang digunakan dalam serangan jantung dari setiap penyebab, ini termasuk dalam algoritma ALS untuk menggunakan setiap 3-5 menit dalam RJP (Siklus alternatif). b. Adrenalin lebih disukai dalam pengobatan anafilaksis c. Adrenalin adalah pengobatan dini kedua untuk syok kardiogenik.12 Dosis: Selama serangan jantung, awal IV / IO dosis adrenalin adalah 1 mg. Apabila akses IV/IO tertunda atau tidak dapat diberikan, adrenalin dapat diberikan melalui endotrakeal dengan dosis 2 - 3 mg dilarutkan dalam 10 ml aquades. Dalam beberapa kasus, infus adrenalin diperlukan dalam periode pasca-resusitasi. Gunakan adrenalin hati-hati pada pasien dengan serangan jantung yang terkait dengan kokain atau obat simpatomimetik lainnya.12.13

31

Penggunaan adrenalin paling sering tersedia dalam dua pengenceran: 1 dalam 10.000 (10 ml larutan ini mengandung 1 mg adrenalin). 1 di 1000 (1 ml larutan ini mengandung 1 mg adrenalin). Kedua pengenceran digunakan secara rutin di Eropa.12.13

B. Anti Aritmia 1. Amiodarone Amiodarone adalah obat anti aritmia yang meningkatkan durasi aksi potensial dan refraktori periode miokardium atrium dan ventrikel. Amiodarone memiliki aksi inotropik negatif dan ringan menyebabkan vasodilatasi perifer melalui efek non-kompetitif alphablocking.12 Indikasi Amiodaron ditunjukkan dalam: Refraktori VF / VT Hemodinamik stabil ventricular tachycardia (VT) dan tachyarrhythmias lainnya.12 Pertimbangkan dosis intravena awal 300 mg atau 5 mg/kg BB amiodarone, diencerkan dalam dekstrosa 5% atau lainnya pelarut yang cocok) untuk sebuah volume 20 ml (atau dari jarum suntik sebelum diisi), jika VF / VT berlanjut setelah kejutan ketiga. Berikan dosis lebih lanjut dari 150 mg jika VF / VT berlanjut.12.13 tahanan

2. Lidokain Sampai publikasi tahun 2000 pedoman ILCOR, lidokain adalah obat anti-aritmia pilihan. Studi banding dengan amiodarone, lidokain sekarang direkomendasikan hanya ketika amiodaron tidak tersedia. Amiodarone harus

32

tersedia di semua rumah sakit dan di lapangan juga harus tersedia tenaga medis. Lidokain menekan aktivitas depolarisasi, jaringan arrhythmogenic sementara mengganggu minimal dengan aktivitas listrik dari jaringan normal. Oleh karena itu, efektif dalam menekan aritmia yang berhubungan dengan depolarisasi (misalnya, iskemia, toksisitas digitalis) tapi relatif tidak efektif terhadap aritmia yang terjadi secara normal sel terpolarisasi (misalnya atrial, fibrilasi / bergetar). Lidokain meningkatkan ambang batas untuk VF.12 Efek samping:12 Menyebabkan toksisitas paraesthesia Mengantuk Kebingungan Kejang

Dosis:12 Dosis yang aman lidokain tidak boleh melebihi 3 mg kg/BB selama jam pertama.Jika ada tanda-tanda toksisitas, hentikan infus segera; obati kejang jika terjadi. Ketika amiodarone tidak tersedia, pertimbangkan dosis awal dari 100mg (5 mg kg/BB), Berikan bolus tambahan 50mg jika perlu. Indikasi:12 Lidokain ditunjukkan dalam refraktori VF / VT (bila amiodaron tidak tersedia). Dosis total tidak boleh melebihi 3mg/kg BB selama jam pertama.12.13 Lidokain kurang efektif jika terjadi hipokalemia dan hipomagnesaemia, yang harus segera diperbaiki.

33

3. Magnesium Indikasi:12 Takikardia ventrikel atau supraventrikuler yang terkait dengan hypomagnesaemia. Torsades de pointes (tidak teratur/ VT polimorfik yang terkait dengan interval QT yang berkepanjangan). Toksisitas digoxin.

Dosis: 12.13 Berikan dosis intravena awal 2 g (4 ml (8 mmol)) magnesium sulfat 50%) perifer selama 1-2 menit; mungkin diulangi setelah 10-15 menit. C. Obat lain Tidak ada bukti bahwa secara rutin memberi obat lain (misalnya, atropin, prokainamid, bretylium, kalsium dan hormon) selama serangan jantung manusia meningkatkan kelangsungan hidup setelah dikeluarkan dari rumah sakit. Rekomendasi untuk penggunaan obat ini didasarkan pada terbatas studi klinis, pemahaman kita tentang farmakodinamik obat sifat dan patofisiologi serangan jantung.12.13 Berikut salah satu contoh: 1. Atropin antagonis merupakan aksi neurotransmitter parasimpatis asetilkolin pada reseptor muskarinik. Oleh karena itu, blok efek dari saraf vagus pada kedua sinoatrial (SA) node dan atrioventrikular (AV) node, otomatisitas meningkatkan sinus dan memfasilitasi konduksi AV node. Efek samping dari dosis atropin yang terkait (penglihatan kabur, mulut kering dan retensi kandung kemih). Tidak ada uji klinis terkontrol prospektif telah meneliti penggunaan atropin dalam detak jantung atau brakikardi. Tidak ada bukti

34

bahwa atropin memiliki efek merugikan pada saat penangkapan bradikardi atau asystolik jantung. Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa penggunaan rutin atropin selama aktivitas listrik denyut jantung/Pulseless electrical activity (PEA) atau detak jantung tidak mungkin memiliki manfaat terapeutik. Untuk alasan ini atropin telah dihapus dari algoritma serangan jantung.13

2. Shockable ritme (ventrikel fibrilasi / pulseless takikardia ventrikel) Mengidentifikasi irama dan mengobati menurut algoritma ALS:12 Jika VF / VT dikonfirmasi, hidupkan defibrilator, sementara penolong yang lain terus melakukan kompresi dada. Setelah defibrilator siap, dan penolong siap serta pasien, kemudian berikan satu kejutan (360-J monophasic atau 150-200 J biphasic). Meminimalkan jeda antara pemberhentian kompresi dada dan pengiriman shock (jeda preshock), bahkan keterlambatan 5-10 detik akan mengurangi

kemungkinan kejutan yang sukses. Tanpa menilai kembali ritme atau merasakan denyut nadi, lanjutkan RJP (rasio 30:2) segera setelah shock, dimulai dengan kompresi dada. Bahkan jika usaha defibrilasi berhasil dalam mengembalikan ritme perfusing, dibutuhkan waktu sampai shock pasca-sirkulasi stabil dan sangat langka untuk nadi yang teraba segera setelah defibrillation. Selanjutnya, keterlambatan dalam mencoba untuk meraba denyut nadi lebih lanjut akan membahayakan miokardium jika ritme perfusing belum kembali. Lanjutkan RJP selama 2 menit, kemudian berhenti sebentar untuk menilai irama, jika masih VF / VT, berikan kejutan kedua (360-J monophasic atau 150-

35

360-J biphasic). Tanpa menilai kembali ritme atau perasaan untuk denyut nadi, lanjutkan RJP (rasio 30:2) segera setelah shock, mulai dengan penekanan dada. Lanjutkan RJP selama 2 menit, kemudian berhenti sebentar untuk menilai irama; jika masih VF / VT, berikan kejutan ketiga (360-J monophasic atau 150360-J biphasic). Tanpa menilai kembali ritme atau perasaan untuk denyut nadi, lanjutkan RJP (rasio 30:2) segera setelah shock, mulai dengan penekanan dada. Jika IV / IO akses telah diperoleh, berikan 1 mg adrenalin dan 300 mg amiodarone sekali dan lanjutkan penekanan dada kembali. Jika kembalinya sirkulasi spontan (return of spontaneous circulation / ROSC) belum dicapai dengan kejutan ke-3 adrenalin akan meningkatkan aliran darah miokard dan dapat meningkatkan kesempatan defibrilasi sukses dengan kejutan selanjutnya.

36

BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan Resusitasi Jantung Paru (RJP) merupakan suatu prosedur emegensi yang penting yang bertujuan untuk mengembalikan sirkulasi dan nafas spontan pada keadaan henti jantung dan henti nafas. Pelatihan yang khusus dan adekuat harus diberikan terutama kepada petugas kesehatan supaya dapat melakukan RJP dengan efek yang optimal. Ini karena dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa hampir separuh dari kompresi yang diberikan adalah tidak adekuat sehingga darah tidak dialirkan. 3.2 Saran Pemberian RJP dini dapat meningkatkan angka keberhasilan untuk hidup tetapi tidak semua mendapatkan RJP kualitas tinggi. Untuk itu perlu pelatihan yang khusus supaya petugas kesehatan khususnya anggota Hippocrates Emergency Team dapat mengenali kebutuhan RJP sedini mungkin serta memberikan RJP yang berkualitas tinggi untuk meningkatkan angka keberhasilan RJP.

37

Lampiran:

Lampiran 1. Algoritma bantuan hidup dasar7

38

Lampiran 2. Algoritma AED10

39

Lampiran 3. Algoritma bantuan hidup lanjut13

40

DAFTAR PUSTAKA

1. Field JM, Hazinski MF, Sayre MR, Chameides L, Stephen M, Schexnayder, et all. Executive Summary: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122:640-656. 2. Nolan JP, Soar J, Zideman DA, Biarent D, Deakin C, Koster RW, et all. European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010 Section 1. Executive summary. Rescucitation 2010;81:1219-1276. 3. Jones KM. Advanced Paedriatic Life Support, The Practical Approach. London. BMJ, 2001;3:3-70. 4. Mcmillan JA. Oskis Pediatrics-Principles and Practice. 3rd Ed. Lippincott Williams and Wilkins Publishers, 1999. 5. Mansjoer A. Resusitasi Jantung Paru. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi V. Jakarta: Internal Publishing, 2010:227-233. 6. Dorland.2000.Kamus Kedokteran edisi ke-29. Jakarta:EGC. 7. Berg RA, Hemphill R, Abella BS, Aufderheide TP, Cave DM, Hazinski MF, et all. Adult Basic Life Support: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122:685-705. 8. Koster RW, Baubin MA, Bossaert LL, Caballero A, Castrn M, Granja C, et all. European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010 Section 2. Adult basic life support and use of automated external debrillators. Rescucitation 2010;81:1277-1292. 9. Link MS, Atkins DL, Passman RS, Halperin HR, Samson RA, White RD, et all. Electrical Therapies: Automated External Defibrillators, Defibrillation, Cardioversion, and Pacing 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122:706-719. 10. Deakin CD, Nolan JP, Sunde K, Koster RW. European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010 Section 3. Electrical therapies: Automated external debrillators, debrillation, cardioversion and pacing. Rescucitation 2010;81:1293-1304. 11. National Heart Lung and Blood Institute of U.S. Departement of Health and Human Service. Automated External Defibrillator, diunduh pada http://www.nhlbi.nih.gov tanggal 12 oktober 2011.

41

12. Deakin CD, Nolan JP, Soar J, Sunde K, Koster RW, Smith GB, et all. European Resuscitation Council Guidelines for Resuscitation 2010 Section 4. Adult advanced life support. Rescucitation 2010;81:1305-1352. 13. Neumar RW, Otto CW, Link MS, Kronick SL, Shuster M, Callaway CW, et all. Adult Advanced Cardiovascular Life Support: 2010. American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Circulation 2010;122:729-767. 14. Sarkar S, Snashi P, Paswan AK, Anupam RW, Suman S, Dube SK. Use of the pro-seal laryngeal mask airway facilitates percutaneous dilatational tracheostomy in an intensive care unit. Indian Journal of Critical Care Medicine. 2010;14:185-187. 15. Niijima K, Seto A, Aoyama K, Takenaka I, Kadoya T. An Illuminating Stylet as an Aid for Tracheal Intubation Via the Intubating Laryngeal Mask Airway. Anesthesia & Analgesia 1999;88:470. 16. Thomas J Gal. Airway Management in Millers Anesthesia. Elsivier. 2005;42:1617. 17. Verghese C, Brimacombe JR. Survey of Laryngeal mask airway usage in 11910 patients : safety and efficacy for conventional and nonconventional usage. Anesth Analg 1996;82:129-133. 18. Edward Morgan et all. Clinical Anesthesiology. McGraw-Hill Companies. 2006;4:98. 19. Dunn PF. Clinical Anesthesia Procedures of the Massachusetts General Hospital. Lippincot Williams & Wilkins. 2007:213-217. 20. Clincon 2000, Airway Skills Lab, Orlando, Florida, Laryngeal MaskAirways (LMA), Indications and Use for the Pre-Hospital Provider. 21. Walz R, Davis S, Panning B. Is the Combitube a useful emergency airway device for anesthesiologists. Anesth Analg 1999;88:233. 22. Urtubia RM, Aguila CM, Cumsille MA. Combitube: A study for proper use. Anesthesia Analgesia 2000; 90:958-962. 23. Asai T, Shingu K. British Journal of Anaesthesia. The Laryngeal Tube. 2005;6:729-736.

42