Anda di halaman 1dari 19

B A N G U N A N A R T D E C O K A U M A N (KOPERASI KARYAWAN RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)

KRITIK DESKRIPTIF

PENGANTAR
Langgam Art Deco memiliki keragaman yang sangat luas dan menunjukkan pengaruhnya yang tersebar di beberapa kawasan di Yogyakarta. Pada kasus kali ini, dipilih kawasan kauman sebagai kawasan amatan karena kawasan ini dipandang sebagai kawasan yang telah ada sejak lama dan menjadi salah satu area subur perkembangan Art Deco di Yogyakarta. Kasus bangunan Koperasi karyawan RS PKU Yogyakarta (Eks Toko Buku Toha Putera), terbilang cukup menarik karena bangunan ini memiliki tipologi arsitektur cina (shophouse) serta memiliki ornamentasi jawa dan tentu saja ornamentasi Art Deco yang kental pada bagian bangunan. Peleburan semangat Art Deco, cina, dan jawa menjadikan bangunan ini menjulang menarik diantara bangunan sekitarnya yang kian tergerus arus perkembangan jaman.

1. TEORI ART DECO 1.A. LATAR BELAKANG ART DECO


Dalam buku A World Histor y of Architecture, Art Deco dideskripsikan sebagai istilah yang menjelaskan langgam yang dapat dilihat pada beragam desain, mulai dari desain grafis, desain keramik, desain furnitur, dan arsitektur.1 Sedangkan wikipedia menyatakan bahwa gerakan art deco ini merupakan gabungan dari berbagai gaya dan gerakan pada abad ke-20, termasuk konstruksionisme, kubisme, modernisme, Bauhaus, Art Nouveau, dan Futurisme.2 Penerapan Art Deco memiliki prinsipprinsip tertentu seperti : ? Art deco merupakan langgam yang kental akan muatan lokal. Hal ini dikarenakan penggunaan ornamenornamen tradisional atau historika dalam Art Deco. ? Karakter-karakter teknologi yang menggambarkan kecepatan diejawantahkan ke dalam desain dalam bentuk garis-garis lengkung dan zigzag. 3 Kemunculan Art Deco berawal dari awal abad 20 yang merupakan era pembaruan bagi dunia, terutama dalam hal kemajuan teknologi dan industri. Revolusi Industri inilah yang ikut diaplikasikan dalam bidang arsitektur.
1 2

Revolusi ini mendukung eksplorasi desain para perancang menuju ke gaya baru yang tidak lagi semata-mata mengacu pada arsitektur Yunani-Romawi. Jadi dapat dikatakan bahwa revolusi industri di Eropa juga berimbas ke dunia arsitektur, sehingga muncul desain-desain yang inovatif dan eksperimentatif.4 Langgam art deco yang masuk ke setiap negara kemudian dikembangkan dengan gaya mereka sendiri di negaranya yang dikombinasikan dengan sentuhan gaya lokal sehingga art deco memiliki keberagaman di berbagai tempat.

1.B. ART DECO INDONESIA


Art deco di Indonesia sendiri diperkenalkan oleh Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan Albert Frederik Aalbers .5

Gambar 1 dan 2 Hotel Preanger Bandung, Dulu dan Sekarang

A World History of Architecture

4 5

www.asitekturindis.com www.tabloidrumah.com
KRITIK DESKRIPTIF

id.wikipedia.org 3 www.arsitekturindis.com

Gambar 5 dan 6 Hotel Savoy Dulu dan Sekarang

Gambar 11 dan 12 Gedung Bundar

Fasad Hotel Savoy Homann Bandung merupakan Art Deco masa akhir yang kedinamisan dan kelenturan fasadenya m e n u n j u k k a n ke m o d e r e n a n t e k n o l o g i arsitektural.

Gedung Bundar Magelang memiliki fasade berbentuk bundar serta ornamen yang didesain mengikuti bentukan plastis tersebut. Bangunan ini mengadopsi bentuk Villa Isola.6

1.C. ART DECO YOGYAKARTA


Bangunan Art Deco di Yogyakarta cukup mudah untuk ditemui karena di kota ini masih banyak bangunan yang masih dijaga keasliannya. Kebanyakan bangunan yang memakai langgam tersebut berada pada salah satu kawasan yang memang terdapat banyak bangunan-bangunan tua. Berikut merupakan contoh-contoh bangunan yang memiliki langgam art deco untuk lebih memperjelas keberadaan art deco di Yogyakarta. Contoh pertama adalah bangunan yang ada pada Jalan Mangkubumi, yaitu Kantor Travel Rosalia Indah. Dari pengamatan terhadap elemen-elemen yang terlihat dari fasadnya, bangunan ini termasuk bangunan Art Deco yang menonjolkan geometris bidang. Kesimpulan ini dapat diambil karena bangunan ini memiliki elemen-elemen khas art deco, seperti adanya menara, penggunaan elemen hiasan pada fasad yang mengambil bentuk dasar persegi empat. Elemen menara merupakan salah satu elemen art deco yang paling menonjol diantara elemen lainnya. Selain itu, detil-detil yang ditampilkan juga memiliki bentuk dasar yang sama dan terus diulang-ulang.

Gambar 9 dan 10 Hotel Yamato Dulu dan Sekarang

Hotel bersejarah di Surabaya, Hotel Yamato atau kini disebut Hotel Majapahit, bergaya Art Deco, di mana detail ornamenornamen geometris sangat menonjol.

Gambar 3 dan 4 Villa Isola Dulu dan Sekarang

Selanjutnya Art Deco di Indonesia tampil lebih sederhana, lebih mengutamakan pola garisgaris lengkung dan bentuk silinder seperti pada desain Villa Isola Bandung.

Gambar 7 dan 8 Stasiun Jakarta Kota Dulu dan Sekarang

Stasiun Jakarta Kota bergaya Art Deco. Stasiun ini dianggap sebagai salah satu monumen terpenting dalam arsitektur Art Deco yang memadukan unsur moderen barat dengan nilai lokal.
6

Gambar 13 Kantor Travel Rosalia Indah

cincinjempol.wordpress.com id.wikipedia.org
KRITIK DESKRIPTIF

Contoh bangunan kedua adalah Toko Jogja Silver yang masih terletak pada jalan yang sama, Jl P. Mangkubumi. Bangunan ini memiliki ciri utama pada menaranya, sama seperti bangunan pada contoh pertama. Hal lain yang dapat memperkuat alasan bahwa bangunan ini merupakan bangunan art deco adalah permainan garis horisontal dan vertikal yang jelas terlihat pada fasad bangunan dan menunjukkan dengan jelas semangat menghias ala art deco.

proporsional juga menjadi salah satu ciri khas art deco di Yogyakarta. Pemakaian langgam art deco di kota ini juga mempertimbangkan unsur lokalitas sehingga tidak mengambil mentahmentah langgam art deco yang telah ada sebelumnya tapi juga melalui sebuah proses akulturasi sehingga dapat menjadi bagian penting dari arsitektur yang ada di kota ini.

2. KRITIK DESKRIPTIF KOPERASI KARYAWAN RS PKU YOGYAKARTA


Yogyakarta identik dengan Malioboro. Namun tidak semua yang dihadirkan di Malioboro merupakan cermin dari keberagaman kultur Yogyakarta. Menyusuri malioboro ke selatan, akan terdapat beberapa bangunan indis dengan skala yang besar dan megah. Namun, dibalik kemegahan arsitektur indis tersebut, tersembunyi kawasan kauman yang memiliki nilai-nilai kultural yang jauh lebih kental. Kawasan kampung kauman terletak di sekitar Masjid Gedhe Kauman dan memiliki banyak artefak bangunan dengan perpaduan gaya arsitektur yang pernah berkembang di Yogyakarta. Berjalan ke arah barat, menyusuri Jalan KH Ahmad Dahlan, terdapat deretan bangunan komersial yang cukup ramai. Tepat di seberang RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, terdapat bangunan yang cukup menonjol dan menarik mata. Dengan wajah tuanya, bangunan ini masih berdiri kokoh ditengah pengaruh perkembangan jaman yang telah mengubah beberapa wajah bangunan di sekitarnya. Bangunan inilah yang nantinya akan dibahas sebagai Bangunan Koperasi Karyawan RS PKU Muhammadiyah yang berlanggam art deco.

Gambar 14 Toko Yogya Silver

Contoh ketiga adalah bangunan yang berfungsi sebagai bioskop, yaitu Bioskop Permata yang terletak di Jalan Sultan Agung. Secara umum bangunan ini memiliki bentuk geometri yang sama dengan dua contoh sebelumnya dengan menampilkan geometris bidangnya. Bentuk persegi panjang terdapat di berbagai elemen fasad bangunan, baik dari bentuk keseluruhan hingga ke detail bangunan. Bentuk fasad memiliki unsur ziggurat dan repetisi di hampir seluruh elemen fasad bangunan.

Gambar 15 Bioskop Permata

Dari ketiga contoh di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan art deco di Yogyakarta masih memiliki satu kesinambungan, dengan unsur geometris bidangnya yang cukup kuat melekat baik itu simetris ataupun asimetris. Selain itu, adanya menara juga menjadi salah satu ciri utama yang sangat menonjol diantara elemen art deco lainnya. Permainan garis-garis vertikal dan horisontal yang diulang-ulang dan dengan pertimbangan

Gambar 16 Koperasi Karyawan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Pada mulanya, bangunan ini dimiliki oleh seorang wiraswasta Kauman yang keluarganya juga tinggal di sekitar deretan bangunan di jalan

KRITIK DESKRIPTIF

KH Ahmad Dahlan tersebut. Bangunan ini didirikan sekitar tahun 40an.Bangunan tersebut dibeli oleh PKU kurang lebih 30 tahun yang lalu. Dahulu bangunan ini digunakan sebagai toko buku agama dan Al Qur'an dengan nama toko Toha Putra. Setelah menjadi asset RS PKU, melihat aksesnya dari RS PKU yang terhalang jalan raya, bangunan ini difungsikan sebagai bangunan penunjang non medis.

Muhammadiyah dan berprofesi sebagai wirausaha, sehingga memiliki semangat kreativitas, dinamis, mau mengadaptasi perkembangan terkini, terbuka terhadap kemajuan jaman, dan berpikiran maju (tidak kolot). Bangunan ini hanya mengalami penambahan atap fiber di void tengah untuk keperluan kemudahan perawatan bangunan. Wacana pengembangan pun hanya seputar penataan area belakang untuk kebutuhan ruang. Fungsi bangunan yang kini berada di bawah pengawasan Bp3 ini dipakai sebagai area parkir pada area depan dan semi-basement, kantor koperasi pada lantai mezzanine, dan gudang pada lantai 2.7

LANTAI 2

LANTAI MEZZANINE

LANTAI 1 SEMI-BASEMENT

PARKIR

VOID

RUANG KANTOR KOPERASI PARKIR

LORONG

VOID

Gambar 17 Denah dan tampak bangunan

Gambar 18 Potongan melintang dan membujur bangunan

Bangunan ini merupakan tipikal bangunan shophouse pada masa itu, dengan luas terbatas, konstruksi bearing wall, konstruksi kayu pada lantai atas, kuda-kuda kayu dan atap genteng kampung. Fasad bangunan ini merupakan fasad yang umum ditemukan disekitar Kauman. Tipikal ini muncul dari adanya area colonial di seputar 0 KM. Warga Kauman harus melewati bangunan itu untuk menuju ke pasar sehari-hari, sehingga timbul keinginan untuk mengolah bangunannya dengan langgam serupa, yang dianggap bagus dan mutakhir pada masa itu. Maka pada rumah kaum mampu dan berwawasan lingkungan di Kauman, banyak yang mengembangkan aset bangunannya sesuai kemajuan teknologi dan gaya bangunan pada masanya. Fenomena ini muncul atas latar belakang warga Kauman yang mayoritas memegang prisip

Semangat menghias ala art deco sudah terlihat pada bagian gavel (tembok yang diteruskan ke atas sehingga menyerupai tameng yang menutupi atap dari pandangan). Secara sekilas, pada muka bangunan ini tidak nampak menara yang menjadi salah satu ciri paling kuat dalam langgam art deco. Namun, jika diamati secara seksama, pencitraan menara ini ternyata nampak pada bagian pinggir-pinggir gavel. Penyusunan komposisi cenderung simetris tidak seperti kebanyakan perletakan menara pada bangunan art deco lainnya. Bandingkan dengan bangunan bioskop permata, yang juga memiliki komposisi menara art deco secara simetris, komposisi gavel bangunan koperasi ini juga simetris dan semakin meninggi di bagian tengahnya. Semangat menghias secara geometrik juga dimunculkan dengan adanya tiga garis di tengah gavel.
7

Wawancara dengan Bapak Ir.Ismudiyanto,MS selaku pengurus RS PKU Muhammadiyah dan Dosen Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM
KRITIK DESKRIPTIF

dengan garis-garis horisontal yang kurang memiliki fungsi namun terdapat semangat menghias yang kental.

Gambar 19 Gavel pada eksterior bangunan

Semangat menghias ini juga nampak pada bagian pintu dan jendela. Pintu dikombinasikan dengan kaca sehingga dapat memasukkan cahaya ke dalam ruangan. Secara fungsional, elemen pintu sudah dapat difungsikan, namun semangat menghias ditunjukkan dengan ornamentasi garis vertikal dimana garis-garis vertikal lebih berfungsi sebagai kesan estetika dan kesan art deco nampak pada garis-garis yang dimunculkan dalam pintu tersebut. Meskipun begitu, jika dibandingkan dengan pintu art deco lainnya, pintu pada bangunan ini tidak memiliki semangat art deco yang kental. Permainan ornamen yang minim dan cenderung masih memenuhi kaedahkaedah komposisi yang seimbang simetris konvensional, mencirikan semangat menghias yang biasa-biasa saja. Tidak berbeda jauh dengan elemen pintu, elemen jendela juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan ornamentasi pada pintu.

Gambar 21 Tritisan pada bagian atas pintu dan jendela

Khusus pada bagian pintu di lantai 2. terdapat beberapa ornamentasi kolom yang sebenarnya tidak berfungsi sebagai kolom. Keberadaan kolom semu tersebut juga dihiasi dengan ornamentasi berbentuk garis dan bidang geometrik.

Gambar 22 Railing

Gambar 23 Kolom semu

Gambar 20 Pintu jendela pada beberapa bagian bangunan

Ornamentasi art deco justru muncul pada bagian atas pintu dan jendela. Bagian ini mungkin bisa disebut tritisan yang meskipun tidak berfungsi baik karena tidak memenuhi panjang trtisan di daerah tropis. Ornamentasi ini muncul

Tidak berhenti di situ saja, totalitas dalam menghias juga nampak pada area balkon pada eksterior bangunan yang terlihat sangat menonjol. Semangat tersebut sangat terasa pada elemen-elemen penyangga dan railing. Ornamentasi garis geometrik yang simetris masih menghiasi elemen-elemen yang ada. Hal menarik lain yang semakin menguatkan citra art deco nampak pada detail perulangan dan aksen geometris pada hiasan atap yang menyangga tritisan. Namun sayang, bangunan ini terkesan seperti bangunan kosong yang sudah tidak berpenghuni. Pelataran bangunan digunakan sebagian pedagang kaki lima untuk menggelar barang dagangannya. Kondisi eksterior yang terlihat tidak terawat, kotor, kusam dan beberapa tanaman tumbuh secara liar di fasad bangunan semakin menegaskan status bangunan sebagai bangunan tua yang kosong bahkan terkesan angker. Kesan bangunan kosong ini ternyata memang hanyalah sebuah kesan belaka. Pada

KRITIK DESKRIPTIF

kenyataannya, bangunan ini berpenghuni dan digunakan secara rutin setiap harinya. Ya, bangunan ini digunakan oleh RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebagai kantor koperasi karyawan dan parkir karyawan. Terdapat pintu di samping yang ternyata tidak terkunci dan dapat digunakan sebagai akses masuk ke dalam bangunan. Melewati pintu ini, berarti harus melewati sebuah ruang yang melorong terlebih dahulu. Pengab dan gelap menyelimuti ruang ini. Ruang ini akan menghubungkan ruang luar langsung dengan void di tengah bangunan. Seketika juga kesan gelap dan pengab langsung hilang dengan adanya void ini. Sekilas melihat penyusunan ruang yang ada, langsung teringat dengan tipologi bangunan shophouse yang merupakan arsitektur cina.

ini, masih terdapat bouven light yang nampaknya masih asli dan nampak indah.

Gambar 25 Bouven light dengan sumbu simetri (garis merah)

Gambar 24 Aksonometri bangunan

Denah bangunan cukup rumit dengan hadirnya lantai semi-basement dan lantai mezzanine sehingga menambah ciri khas dari bangunan ini sendiri. Secara keseluruhan, bangunan ini seakan-akan terdiri dari dua massa karena adanya void yang berfungsi untuk memasukkan cahaya dan udara ke dalam bangunan. Pada bagian lantai 1 (bagian depan) difungsikan sebagai area parkir karyawan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pada mulanya, bagian depan ini dipakai sebagai toko buku. Tidak ditemukan jejak-jejak renovasi pada bagian ini. Pilar-pilar tembok setebal 30-45 cm masih berdiri kokoh menegakkan bangunan. Hanya bercakbercak akibat lembab dan air yang banyak menghiasi dinding-dinding ruangan ini. Kondisi ruang sangat tidak terawat dan terkesan kotor. Bahkan di beberapa bagian, pintu-pintu dan plafon telah hilang. Namun selalu ada terang dalam gelap. Diantara ketidakterawatan ruang

Desain bouven light dibuat dengan kombinasi garis-garis horisontal dan vertikal. Seperti halnya elemen lainnya, penyusunan komposisi ornamentasi bouven light cenderung simetris. Kecintaan pemilik awal dengan hal-hal yang simetris bahkan juga diaplikasikan pada pemasangan kaca bouven light. Pemilihan warna kaca dalam satu buah bouven light berbeda-beda, namun dalam penyusunannya, kesimetrisan itu tetap muncul dan semakin menguatkan komposisi estetika simetris konvensional, bagian kanan sama dengan bagian kiri. Tidak ada hakekat yang menyebutkan mana yang lebih baik, komposisi yang simetris atau asimetris, namun komposisi yang baik adalah komposisi yang s e i m b a n g. P a d a k a s u s b a n g u n a n i n i , keseimbangan tersebut banyak dicapai dengan menggunakan kesimetrisan sebagai sumbunya. Semangat Art Deco tidak hanya ditemukan dengan melihat ke atas saja, namun melihat ke bawah pun tidak lepas dengan semangat itu. Elemen lantai yang menghiasi lantai 1 sarat dengan elemen estetika. Material penutup lantai menggunakan material pilihan dengan ukiran-ukiran yang khas dan sangat tradisional. Bisa jadi, material lantai ini adalah tegel kunci yang kini harganya selangit. Warnawarni mencolok seperti merah, kuning, biru

KRITIK DESKRIPTIF

menambah semarak penyusunan pola lantai. Semangat art Deco lebih menonjol pada desain pola lantai. Terdapat beberapa corak dan ukuran penutup lantai yang disusun dengan kombinasi horisontal yang menarik. Pemilihan jenis tegel juga digunakan sebagai pembagi ruang-ruang lantai 1 yang ada.

Gambar 26 Bouven light dengan sumbu simetri (garis merah)

Tegel A merupakan tegel pada ruangan yang ada di depan. Mungkin pada jaman dulunya, ruang ini digunakan untuk display toko buku. Tegel B merupakan ruang tengah dan tegel C merupakan ruang di sekitar area void. Beralih ke dalam ruang semi-basement. Bisa jadi, ruang ini merupakan ruang yang paling lengang, sepi dan gelap. Hanya ada beberapa buah motor yang diparkir di sana. Selebihnya hanyalah ruang kosong dengan jajaran kolom yang hampir semua kolomnya berbeda ukuran. Entah karena alasan struktural atau estetika yang menyebabkan perbedaan ukuran kolom-kolom tadi. Kerusakan pada bagian tegel dan keretakan pada beberapa bagian menunjukkan betapa rentanya bangunan ini. Tidak terdapat bekas renovasi. Satu-satunya yang paling menonjol adalah jejeran kolom yang mengisi ruang ini. Kolom tidak dibiarkan polos begitu saja. Terdapat beberapa ornamen geometrik yang merupakan perulangan dari ornamen-ornamen yang telah ada sebelumnya. Ornamen vertikal mendominasi bagian kolom. Kemantapan dalam menggunakan prinsip simetris konvensional masih terus diteruskan dalam menyusun ornamen tersebut. Secara estetika, bisa jadi ornamen ini membuat kesan ruang yang lebih tinggi jika melihat ketinggian lantai ke plafon semi-basement hanya setinggi 2,1 m.

Semangat menghias memang tidak luntur bahkan saat menyentuh bagian struktur bangunan dimana ornamentasi yang ada tidak mempengaruhi aspek struktural yang ada. Berpindah ke dalam area lantai mezzanine. Suasana ruang yang lagi-lagi berbeda dari ruangruang sebelumnya. Warna-warna hangat yang didominasi warna gradasi coklat, merah, kuning menyelimuti ruang ini. Masuk ke dalam ruang inti, dapat dilihat adanya semangat menghias dalam pengerjaan plafon ruangan yang melengkung dan beruas. Bentuk plafon ini seperti gelombang laut yang teratur, cukup mencolok karena bentuk lengkungannya yang kontras diantara detail geometrik lainnya. Pada ruangan lain juga ditemukan list plafon yang berhias. Semangat tinggi dalam memberikan komposisi plafon di tiap ruangan pada bangunan ini juga terlihat dengan adanya beragam penyelesaian plafon yang beragam.

Gambar 27 Beragam jenis plafon pada ruang-ruang yang ada

Gambar 27 Kolom pada ruang semi-basement

Gambar A adalah plafon pada ruang depan dengan rangka plafon menggunakan kayu (bentuk lurus) yang diekspos. Untuk gambar B menggunakan tambahan plafon dengan bentuk yang berbeda diantara plafond ruang-ruang lainnya. Mungkin dahulunya ruangan ini berfungsi sebagai ruang utama atau bisa dikatakan ruang penting. Untuk gambar C merupakan plafon yang digunakan pada lantai mezzanine yang kini digunakan sebagai ruang kantor koperasi. Rangka plafon pada ruangan ini sangat mencirikan bangunan art deco dengan rangka plafond yang berbentuk lengkung dan diekspos sedemikian rupa sehingga dapat menambah estetika terhadap ruangan tersebut. Berbeda halnya dengan plafond pada lantai semibasement pada gambar D yang menggunakan beton ekspose dengan cat putih. Namun saat ini

KRITIK DESKRIPTIF

ada beberapa bagian yang sudah rusak dan terkelupas sehingga terlihat tulangannya. Masih di lantai mezzanine. Ruang-ruang dibentuk dengan menggunakan partisi kayu yang memang secara posisi dan material masih asli. Pergantian fungsi dari hunian menjadi kantor koperasi karyawan tidak mengakibatkan adanya renovasi yang merubah tatanan partisi. Partisi menggunakan material kayu dengan beragam ornamen. Ornamen didominasi oleh ornamen jawa yang disusun secara geometrik dan lengkung.

Gambar 28 Ornamen jawa dan partisi

Dalam keseleruhan bangunan, penggunaan ornamentasi cenderung berulang dengan susunan berbeda atau skala yang berbeda. Ornamen dengan material kayu dan bentuk meruncing sepeti di atas merupakan salah satu ornamen yang banyak terdapat dalam bangunan entah disusun secara melengkung atau geometrik. Ornamen selanjutnya adalah ornamen yang pertama kali ditemukan sebagai hiasan atap. Ornamen ini muncul kembali dalam bentuk balok dan tritisan salah satu desain jendela. Skema perulangan merupakan skema yang sering digunakan dalam mempresentasikan semangat art deco ke dalam bangunan. Skema ini jelas terlihat dari keseluruhan ornamen yang digunakan dalam menghias elemen-elemen dalam bangunan.

Menilik sejarah berdirinya bangunan ini, semangat menghias muncul karena pada era 1940an tersebut merupakan tahun-tahun berkembangnya langgam art deco. Berbeda dengan contoh bangunanbangunan art deco lainnya, bangunan yang masih bertahan saat diterpa gempa 2006 ini banyak menggunakan kesimetrisan konvensional (kanan=kiri) dalam elemen bangunan bahkan sampai pada ornamen yang terkecil sekalipun. Keseimbangan komposisi dapat dicapai dan memberikan gambaran betapa megah dan formalnya bangunan ini pada masa jayanya dulu. Akulturasi 3 budaya menjadikan bangunan ini memiliki kekhasannya tersendiri. Arsitektur cina yang muncul dari konfigurasi bangunan shophouse disatukan dengan ornamentasi jawa yang disusun dan dihiaskan dalam balutan semangat art deco. Meskipun terdapat beberapa kesulitan renovasi karena statusnya sebagai bangunan cagar budaya, bangunan ini masih siap berdiri kokoh dan memamerkan wajah tuanya yang sarat dengan kerutan-kerutan art deco yang indah.

DAFTAR PUSTAKA
id. wikipedia. org www.arsitekturindis.com www.cincinjempol.wordpress.com www.tabloidrumah.com

Gambar 29 Perulangan ornamen

KRITIK DESKRIPTIF

DATA BANGUNAN
LETAK Alamat Penghuni : Jl. KH Ahmad Dahlan no.21, Yogyakarta : Koperasi RS PKU Muhammadiyah

SEJARAH SINGKAT Nama pemilik saat ini Kepemilikan awal/sebelumnya Tahun berdiri Fungsi awal Fungsi sekarang Perubahan penting/signifikan -Renovasi -Pemecahan Kepemilikan -Penghilangan/Penambahan Kondisi bangunan Status : RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta : Wiraswasta, warga Kauman (nama tidak diketahui) : 1940an : Toko Buku Toha Putra : Parkir karyawan dan koperasi karyawan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta : : : : : Renovasi lantai dan area dapur Masih asli, kurang terawat Bangunan Cagar Budaya.

DATA FOTO EKSTERIOR


TAMPAK/PERSPEKTIF

PINTU

JENDELA

PERLUBANGAN LAIN

HIASAN ATAP

TALANG DAN CORONG AIR

DETIL ORNAMEN

LANTAI

PLAFON

PLAFON

PARTISI

ELEMEN INTERIOR LAIN

DENAH LANTAI 1

DENAH MEZZANIN

DENAH LANTAI 2

TAMPAK UTARA BANGUNAN

DETAIL PINTU DEPAN

DETAIL PINTU DAN BOUVEN

DETAIL JENDELA

DETAIL BOUVEN