Anda di halaman 1dari 7

Laporan Training di PLTG Muara Tawar

LAPORAN PENYERAPAN MATERI TRAINING PERSONIL


PT PJB SERVICES

NAMA / NID : ARDIAN BURHANDONO (7708005T1)


MENTOR/INSTRUKTUR : LINGGO UTOMO
MATERI TRAINING : GAS TURBIN
PERIODE : Laporan I Bulan Juni 2009 (1 s/d 15 Juni 2009)
LOKASI : PLTG MUARA TAWAR
INTRUKSI LAPORAN :

PEMAHAMAN

COOLING AND SEALING AIR SYSTEM

TUGAS COOLING & SEALING AIR SYSTEM


Sistem Pendingin dan Perapat udara mempunyai tugas :
1. Mendinginkan rotor dan shaft.
2. Melindungi bagian-bagian atau spare part yang panas terutama pada ruang
baker, vanes dan blade.
3. Sebagai perapat pada inlet compressor untuk mencegah uadara yang tidak
tersaring oleh filter masuk ke dalam compressor.
4. Sebagai perapat bagian bearing untuk mencegah udara panas masuk kebagian
dalam bearing.
Pendingin udara yang diambil dari stage compressor aksial yang berbeda-beda dan
dari sisi buang compressor di alirkan kembali ke aliran udara panas.
Tekanan udara pendingin pada sisi ekstraksi selalu lebih tinggi dari pada sisi
hisap/masuk sehingga mencegah terjadinya aliran balik.

BAGIAN-BAGIAN UTAMA SISTEM


1. Sistem udara pendingin dan perapat MBH31 untuk bagian gas buang turbin
untuk mencegah masuknya udara panas ke dalam bearing.
2. Sistem udara pendingin MBH32 untuk stage 4 dan 5 pada turbin
3. Udara pendingin dan perapat MBH34 untuk annular combustor
4. Sistem udara pendingin MBH34 untuk dudukan vane pada stage 1 dan 2 dari
vane turbin
5. Sistem udara pendingin MBH34 untuk stage 1, 2, dan 3 dari blade turbin
6. Sistem udara perapat MBH 35 untuk sisi inlet compressor
7. Peralatan safety dan monitor.

1 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

Gambar 1 Pemipaan dan aliran Udara Pendingin dan Perapat

DESKRIPSI SISTEM
Sistem Udara Perapat MBH 35 Untuk Bagian Inlet Kompressor
Udara perapat untuk bagian inlet compressor diambilkan dari stage 4
compressor. Dari titik ektraksi pipa dibagi menjadi 2 cabang / aliran. Aliran pertama
untuk udara perapat MBH 35 yang langsung dihubungkan pada rumah bearing
compressor, dimana alirannya ditentukan oleh orifice. Aliarn udara didalam casing
bearing compressor dibagi menjadi :
1. Bagian 1, aliran menuju labirin seal dan masuk ke axial compressor setelah
Variabel Inlet Guide Vane (VIGV)
2. Bagian 2, aliran masuk diantara bagian bearing compressor dan casing udara
intake, dengan demikian mencegah udara yang belum tersaring (udara kotor)
masuk ke dalam compressor.
Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini.

Gambar2 Inlet Kompressor (Aliran Udara Perapat)

2 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

Sistem Udara Pendingin dan Perapat MBH 31 Untuk Bagian Belakang Turbin
Aliran / cabang ke-dua dari percabangan pada stage 4 kompressor, udara
langsung dialirkan menuju bagian exhaust (pembuangan) melalui sebuah orifice.
Sebelum rumah bearing, pipa dibagi menjadi 2 cabang, oleh karena itu aliran udara
perapat dan pendingin masuk pada exhaust rumah bearing dan berakhir pada 2 flange
yang saling berhubungan. Aliran udara melewati rumah bearing dan sekalian
mendinginkan bagian akhir dari shaft. Setelah itu udara keluar melalui celah antara
exhaust bearing dan shaft mencegah exhaust gas masuk ke bagian dalam exhaust
bearing. Kemudian udara keluar menuju exshaust gas. Seperti gambar dibawah ini

Gambar 3 Bagian Ujung Turbin (Aliran Udara Perapat)

Udara Pendingin MBH 32 Pada Bagian Ujung Turbin Blade


Udara Pendingin MBH 32 untuk blade turbin stage 4 dan 5 dimbilkan dari
compressor stage 12 dengan menggunakan orifice. Stelah meninggalkan saringan
udara, udara mengalir menuju bagian ujung dari rotor. Kemudian udara masuk ke
rotor melalui lubang sampai menuju lubang pada shaft chamber. Udara Pendingin
disalurkan melalui lubang radial dan mendinginkan ujung shaft yang mengalir dari
dasar blade (sudu) turbin stage 4 dan 5. Kemudian udara pendingin mengalir menuju
exhaust gas.

Gambar 4 Bagian Turbin dengan Aliran Udara Pendingin

3 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

Udara Pendingin MBH34 Untuk Annular Combustor


Annular Combustor didinginkan oleh udara compressor sisi discharge. Setelah
meninggalkan axial compressor udara masuk ke plenum, dari situ sebagian besar
aliran udara langsung menuju outer linier yang sedang terbuka yang ada pada ruang
bakar. Sedangkan sebagian kecil udara mengalir menuju ruang diantara outer liner
dan ruang bakar. Aliran udara yang langsung menuju ruang antara outer liner dan
ruang bakar membantu meningkatkan proses pendinginan. Beberapa bagian udara
pendingin masuk ke ruang bakar langsung melewati lubang, sedangkan sisa udara
yang merupakan bagian utama udara pendingin mengalir melewati EV Burners.

Gambar 5 Aliran Udara Pendingin pada Combustor

Udara Pendingin MBH34 untuk Dudukan Vane dan Stage 1 dan 2 Vane pada
Turbin
Beberapa bagian aliran udara pendingin dari plenum yang berasal dari sisi
discharge compressor mengalir melewati lubang dan chanel sampai dudukan vane dan
mendinginkan bagian dasar vane turbin stage 3 dan 4. Selanjutnya terjadi pendinginan
pada bagian pelindung panas yang terletak berhadapan dengan turbin stage 2 dan 3
(lihat gambar 4).
Udara pendingin untuk vane stage 2, masuk ke vane melalui lubang pada
dudukan vane dan langsung dari plenum.
Udara pendingin untuk vane stage 1, disediakan langsung dari plenum
sebanyak mungkin.
Vane baris 1 dan 2 pada bagian turbin adalah :
1. Pendinginan bagian dalam dilakukan dengan cara perpindahan panas dari
material vane (baja) ke udara pendingin.
2. Pendinginan permukaan dengan cara memisahkan permukaan vane dari
pembakaran gas. Diharuskan udara meninggalkan bagian dalam vane melalui
lubang yang sudah ditentukan.
Untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini.

4 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

Gambar 6 stage 1 vane Turbin dengan lubang Pendingin

Udara Pendingin untuk Blade (Sudu) 1, 2, da 3 Turbin


Udara pendingin untuk 3 stage pertama dari turbin adalah aliran udara dari sisi
discharge compressor langsung diantara rumah rotor bagian dalam dan shaft. Udara
pendingin mengalir melalui annular casing dengan diarahkan oleh nozzle pendingin
udara sampai menuju lubang bagian depan sisi masuk rotor turbin. Bagian pertama
udara pendingin langsung menuju lubang pendingin sudu turbin stage 1, 2, dan 3 yang
didesain berlubang sebagai tempat aliran udara. Setelah digunakan untuk
mendinginkan, udara dilepas ke aliran gas panas melewati lubang pada sisi samping
dan atas sudu. Sedangkan sisanya mengalir melewati bermacam-macam saluran,
mendingikan shaft, pelindung panas, dan bagian bawah sudu sebelum udara pendingin
digunakan untuk penambahan aliran udara pada pembakaran gas.

Gambar 7 Suplai pada sudu stage 1 dan aliran by-pass pada sudu stage 2 dan 3

5 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

OPERASI DAN SUPERVISI SECARA UMUM


Sistem udara pendingin dan udara perapat harus beroperasi sesuai buku
petunjuk operasi. Dan beroperasi mulai dari start rotor sampai kembali unit shut
down.

PERALATAN PENGONTROL SYSTEM


Pengontrol Tekanan
1. Pengukur tekanan MBA80 CP011/012/016 yang memonitor tekanan pada
discharge compressor (Pk2) dan lhasil pengukuran ditampilkan pada
Operation Station (OS). Hasil pengukuran ini selanjutnya sebagai persyaratan
untuk menentukan Turbin Inlet Temperatur (TIT).
2. Pengukur Tekanan MBA80 CP020 yang memonitor tekanan pada compressor
stage 12 dan menampilkanya pda OS.
3. Pengukur tekanan MBA80 031/032 yang memonitor sisi discharge compressor
dan menampilkanya pada OS.
4. Pengukur Differential MBH32 CP001 yang memonitor perbedaan tekanan
antara compressor stage 12 dan exhaust bearing dan menampilkannya pada
OS.
5. Pengukur Differential Pressure MBH33 CP011 yang memonitor perbedaan
tekanan antara sisi discharge compressor dan sisi inlet turbin bagian depan dan
menampilkanya pada OS.
6. Pengukur Differential Pressure MBH34 CP001/003 yang memonitor
perbedaan tekanan antara sisi disharge compressor dan udara pendingin pada
penutup ruang bakar dan menampilkanya pada OS.

Pengontrol Temperatur
1. Pengukur Temperatur MBA30 CT009 yang memonitor temperature udara
sebelum masuk bagian depan rotor pada ujung turbin.
2. Pengukur Tempratur MBA80 CT001/002/003/004 yang memonitor
temperature udara pada sisi discharge compressor dan menampilkanya pada
OS.

PROTEKSI DAN PENYEBAB KESALAHAN


Fungsi dari adanya peralatan proteksi adalah agar beroperasi secara aman dan
meningkatkan efisiensi dan keandalan unit. Adapun system proteksi yang ada adalah :
1. Alarm
2. Protective Load Shedding (PLS)
3. Trip
Semua system proteksi harus selalu di periksa agar berfungsi degan benar sehingga
keandalan unit bisa dipertahankan.

MALFUNGSI OPERASI DAN KEMUNGKINAN PENYEBABNYA


Temperatur Rotor pada ujung Turbin tinggi
Pengontrol : Sensor temperature MBA30 CT009
Alarm : Terjadi jika bertambah melebihi setting temperature.
Penyebab : Terjadi kebocoran pada pipa udara pendingin.

6 Oleh Ardian Burhandono


Laporan Training di PLTG Muara Tawar

Malfungsi Tranmitter Pengukur Tekanan


Pengontrol : Sensor Tekanan MBA80 CP011/012/016
Alarm : Terjadi jika satu atau dua transmitter mengalami malfungsi.
Trip : Terjadi jika 3 Trasmitter mengalami malfungsi.
Penyebab : Transmitter tidak fungsi atau mengalami kerusakan.
Settingnya tidak benar
Terjadi kebocoran pada pipa
Selenoid valve tidak bisa pada posisi buka.

Perbandingan hasil pengukuran “differential pressure MBH32 CP001” ke


“tekanan compressor stage 11 MBA80 CP020 diluar angka setting yang diijinkan.
Pengontrol : Pressure transmitter MBH32 CP001 / MBA80 CP020.
Alarm : Terjadi jika perbandingan tekanan MBH32 CP001 ke MBA80
CP020 bertambah melebihi range yang ditentukan.
Penyebab : Kompresso kotor
Terjadi kebocoran pada pipa blow of valve.

Perbandingan hasil pengukuran “differential pressure MBH34 CP001 / MBH34


CP003” ke “sisi discharge kompressor MBA80 CP031 / CP032 diluar angka setting
yang diijinkan.
Pengontrol : Pressure transmitter MBH34 CP001 / MBH34 CP003, MBA80
CP031 / CP032.
Alarm : Terjadi jika perbandingan tekanan MBH32 CP001 ke MBA80
CP020 atau MBH32 CP001 ke MBA80 CP003 bertambah
melebihi range yang ditentukan.
Penyebab : Kebocoran pipa
Kompressor kotor.

Differential Pressure bertambah diluar range yang ditentukan.


Pengontrol : MBH32 CP001
Alarm : Terjadi jika differential pressure bertambah diluar range yang
diijinkan
Penyebab : Kerusaka pada labirin seal
Kesalahan pengaturan baris VIGV
Valve untuk equalizing pengukuran terblokir tidak menutup.

Differential Pressure bertambah diluar range yang ditentukan


Pengontrol : MBH33 CP011
Alarm : Terjadi jika differential pressure bertambah diluar range I yang
diijinkan.
PLS : Terjadi jika differential pressure bertambah diluar range II yang
diijinkan.
Penyebab : Kesalahan pengaturan baris VIGV.

7 Oleh Ardian Burhandono