Anda di halaman 1dari 19

Sesak Nafas dan Sistem Respirasi Oleh: Christian Salim Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

I.

Pendahuluan

Fungsi sistem respirasi adalah untuk mengambil oksigen dari atmosfer ke dalam sel sel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida yang dihasilkan sel sel tubuh kembali ke atmosfer. Organ organ respirasi juga berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan asam basa, pertahanan tubuh melawan benda asing dan pengaturan hormonal tekanan darah. Respirasi melibatkan proses berikut: Ventilasi pulmonar (pernapasan) adalah proses pemasukan dan pengeluaran udara luar dengan udara yang ada di alveol. Proses ini disebut juga sebagai proses inspirasi dan ekspirasi. Respirasi eksternal adalah proses difusi oksigen dan karbon dioksida antara udara dalam paru dan kapiler pulmonar. Respirasi internal adalah proses difusi oksigen dan karbondioksida antara sel darah dan sel sel jaringan. Respirasi selular adalah penggunaan oksigen oleh sel sel tubuh untuk memproduksi energi, dan pelepasan produk oksidasi (karbondioksida dan air) oleh sel sel tubuh.1,2

II.

Anatomi, fisiologi dan histologi sistem pernapasan

Sumber, www.lasvegascourierservice.com Secara anatomi, sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem respirasi bagian atas (upper respiratory tract) dan sistem respirasi bagian bawah (lower respiratory tract). Sistem respirasi bagian atas terdapat di kepala dan leher, yaitu hidung, faring, dan laring. Sedangkan sistem respirasi bagian bawah, terdapat di toraks, yaitu trakea, bronkus, bronkiolus, duktus alveoli dan alveoli. Secara histologi dan fisiologi. Sistem respirasi juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian konduksi (conducting portion) dan bagian respirasi (respiratory portion). Pada bagian konduksi, terdiri dari rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan bronkiolus terminalis. Bagian ini berfungsi sebagai saluran dimana udara dapat masuk dan keluar melalui bagian bagian tersebut. Sedangkan pada bagian respirasi, terdapat bronkiolus respiratori, duktus alveoli, sakus alveolus, dan alveolus. Sistem ini berfungsi sebagai tempat proses difusi gas oksigen dan karbondioksida dari alveoli dengan darah.3,4

A. Hidung Hidung bagian luar berbentuk piramid, pangkalnya berkesinambungan dengan dahi dan ujung bebasnya disebut puncak hidung. Kearah inferior hidung memiliki dua pintu masuk berbentuk bulat panjang, yakni nostril atau nares, yang terpisah oleh septum nasi. Permukaan infero lateral hidung berakhir sebagai alae nasi (cuping hidung) yang bulat. Kearah medial permukaan lateral ini berlanjut pada dorsum nasi di tengah. Penyangga hidung terdiri atas tulang dan tulang tulang rawan hialin. Rangka bagian tulang terdiri dari os nasale, processus frontalis maxillae, dan bagian nasal ossis frontalis. Rangka tulang rawannya terdiri atas cartilago septi nasi, cartilago nasi lateralis dan cartilago ala nasi major dan minor, yang berhubungan dengan tulang tulang di dekatnya. Keterbukaan bagian atas hidung dipertahankan oleh os nasale dan processus frontalis maxillae dan di bagian bawah oleh tulang tulang rawannya. Hidung juga dilapisi otot lurik yang merupakan bagian dari otot wajah, yaitu M. nasalis dan M. depressor septi nasi.5 Bagian kulit hidung terdapat epitel berlapis gepeng dengan lapisan tanduk, rambut rambut halus (vibrissae), kelenjar sebasea dan kelenjar keringat.6 B. Rongga hidung Secara sagital rongga hidung dibagi menjadi oleh sekat hidung. Kedua belah rongga ini terbuka ke arah wajah melalui nares dan arah posterior berkesinambungan degan nasopharing melalui apertura nasi posterior (choana). Rongga hidung terdiri atas tiga regio, yakni vestibulum, penghidu dan pernapasan. Vestibulum hidung merupakan sebuah pelebaran yang letaknya tepat disebelah dalam nares. Vestibulum ini dilapisi kulit yang mengandung bulu hidung, yang berguna untuk menahan aliran partikel yang terkandung di dalam udara yang dihisap. Regio penghidu berada di sebelah cranial, dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superior dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernapasan adalah rongga hidung selebihnya.5 Cranial dari rongga hidung terdapat tulang tuang penyangga, yaitu os nasale, os frontalis, os sphenoid, dan lempeng cribriformis os ethmoidale. Di lateral terdapat os maxillae yang membungkus rongga hidung. Dorsal dari rongga hidung terdapat palatum durum dan palatum

molle yang memisahkan rongga hidung dengan rongga mulut. Dan terdapat sekat vertikal yang secara sagital memisahkan rongga hidung menjadi dua bagian, yaitu septum nasi.4 Pada dinding lateral dari rongga hidung terdapat tiga tonjolan tulang yang menyerupai kulit kerang yang disebut konka (choncae). Tiga konka tersebut adalah konka nasalis superior, konka nasalis media dan konka nasalis inferior. Pada konka nasalis superior diliputi oleh epitel khusus yang disebut dengan epitel penciuman (olfactory epithelium), yang berperan dalam mendeteksi bau. Sedangkan pada konka nasalis media dan inferior diliputi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet (respiratory epithelium) yang berfungsi untuk membersihkan, menghangatkan dan melembapkan udara inspirasi. Jaringan subepitel (lamina propria) dari konka banyak terdapat pembuluh darah (plexus venosus yang disebut swell bodies, yang berperan untuk menghangatkan udara inspirasi.3 Selain itu pada lamina propria terdapat banyak kelenjar seromukosa (seromucouse gland) dan beberapa elemen limfoid, yang berperan sebagai penghasil antibodi yang melindungi mukosa hidung terhadap antigen pada saat inspirasi.6 C. Sinus paranasal Empat pasang sinus paranasal (frontal, ethmoid, maksilar, dan sphenoid) adalah kantong tertutup pada bagian frontal, ethmoid, maksilar dan sphenoid. Sinus ini dilapisi epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet (mucous membran). Sinus berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan tambahan pada saluran nasal untuk menghangatkan dan melembapkan udara inspirasi, memproduksi mukus dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara.1 D. Faring Faring adalah sebuah pipa musculomembranosa, panjang 12 14cm, membentang dari basis cranii (nares posterior) sampai setinggi vertebra servikal 6 atau tepi bawah cartilago cricoidea. Paling lebar di bagian superior, berukuran 3,5cm. disebelah caudal dilanjutkan dengan oesophagus (kerongkongan). Pada batas oesophagus lebarnya menjadi 1,2cm; tempat ini merupakan bagian tersempit saluran pencernaan, selain appendix vermiformis.5

Faring mempunyai tiga regio, yaitu : Nasofaring Terdapat di dorsal dari rongga hidung, dimulai dari nares posterior (choanae) sampai palatum molle. Nasofaring diliputi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Sel goblet di epitel nasofaring akan mensekresi mukus, yang akan membersihkan, menghangatkan, dan melembapkan udara inspirasi sebelum udara masuk ke saluran respirasi yang lebih dalam lagi. Di nasofaring terdapat tuba auditiva yang menghubungkan telinga tengah dan nasofaring, yang berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara di dalam telinga tengah dengan udara luar. Selain itu juga terdapat tonsila faringea (adenoid) berupa jaringan limfoid.1,4,6 Orofaring Terletak dorsal dari akar lidah, dari palatum molle sampai epiglotis (laring) dan os hyoid. Bagian ini diliputi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Pada bagian ini terdapat tonsila palatina. Laringofaring Terletak dorsal dari laring, dimulai dari epiglotis sampai cartilago cricoidea. Bagian ini diliputi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Orofaring dan laringofaring juga termasuk dari saluran pencernaan. Ketika makanan ditelan, epitel pada dinding dinding tersebut akan membantu melindungi jaringan dibawahnya dari kerusakan yang disebabkan pergerakan makanan yang melewati bagian bagian tersebut.4 E. Laring Laring adalah tabung pendek yang menghubungkan faring dan trakea. laring terletak inferior dari os hyoid dan lidah, dan di anterior dari oesophagus. Laring ditopang oleh sembilan kartilago hialin dan elastin. Selain itu juga terdapat ligament, otot otot laring, dan epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet (mucous membran) di permukaan dalam laring. Koordinasi antara otot otot yang berada di dalam laring (otot intrinsik) dengan pita suara (vocal ligament) berfungsi sebagai penghasil suara. Sedangkan koordinasi antara otot otot yang berada di permukaan luar laring (otot ekstrinsik) dengan epiglotis (cartilago) akan menjaga laring

agar tidak kemasukan makanan dan cairan. Pada proses menelan, kontraksi otot ekstrinsik laring akan membuat epiglotis akan menutupi mulut laring, sehingga makanan dan cairan tidak akan masuk ke sistem pernapasan. Permukaan dalam laring diliputi oleh epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet, yang berfungsi untuk membersihkan, melembapkan dan menghangatkan udara inspirasi.1,3,4 F. Trakea Merupakan tabung yang berjalan dari leher sampai dada, yang terletak anterior dari esofagus. Trakea mempunyai lumen yang lebar, yang akan menghantarkan udara dari laring ke bronkus primer. pada dinding laring terdapat 16 20 cincin yang terbuat dari kartilago hialin, yang akan membuat lumen tracea akan tetap terbuka selama bernapas. Cincin kartilago berbentuk seperti huruf C, terbuka di posterior menghadap esofagus, yang bertujuan agar makanan yang berjalanan di sepanjang esofagus tidak bergesekan dengan dinding trakea, sehingga tidak menghambat makanan untuk masuk ke sistem pencernaan. Dinding trakea terdiri dari empat lapis jaringan yang berbeda. Disepanjang permukaan lumen trakea, diliputi oleh membran mukosa, yaitu epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet, yang berfungsi untuk melembapkan, menghangatkan dan membersihkan partikel asing dari udara inspirasi. Lapisan selanjutnya terdapat lapisan submukosa. Seperti lapisan lamina propria, lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang mengandung banyak pembuluh darah, sel saraf dan kelenjar. Lapisan ketiga yaitu lapisan cartilago yang berbentuk huruf C. pada bagian terbuka dari kartilago, terdapat m. trachealis (trachealis muscle) yang berperan dalam reflek batuk. Pada saat batuk, serat m. trachealis berkontraksi, lumen trakea menyempit sehingga meningkatkan kecepatan aliran udara keluar yang membantu mengeluarkan lendir dan partikel asing. Lapisan terluar yaitu lapisan adventisia, yaitu jaringan ikat longgar yang akan mengikat trakea dengan esofagus dan organ organ terdekat lainnya.4 G. Bronkus Kira kira pada level sternum, trakea membelah menjadi dua bagian ke kanan dan ke kiri yaitu bronkus primer. sebagian bronkus primer berjalan dari luar paru, kemudian masuk ke paru dan membentuk percabangan percabangan. Udara akan disalurkan keluar masuk dari tiap paru

melalui bronkus primer. Setelah memasuki paru, bronkus primer membentuk percabangan percabangan menjadi bronkus sekunder (bronkus lobaris). Kemudian dari bronkus sekunder akan membentuk percabangan lagi menjadi bronkus tersier (bronkus segmentum) dan bronkus tersier membentuk percabangan terakhir menjadi segmen segmen bronkopulmonari

(bronchopulmonary segment). Terdapat sepuluh segmen bronkopulmonari di paru kanan, dan delapan segmen bronkopulmonari di paru kiri, karena pada paru kiri segmen 1,2 dan 7,8 bersatu. Kemudian bronkus akan membentuk percabangan menjadi bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus respiratorik, duktus alveoli dan alveoli. Pada potongan melintang bronkus, dinding bronkus telihat mirip dengan dinding trakea. pada lapisan mukosa terdapat epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet yang masih mensekresi sekret, meskipun jumlah sel goblet di bronkus sudah tidak sebanyak daripada trakea. lebih dalam dari lapisan mukosa terdapat lapisan serat otot polos yang dipersarafi saraf otonom, cartilago hialin, kelenjar seromukosa dan kelenjar mukosa. Pada bronkus besar, kartilago hialin terlihat seperti cincin, tetapi pada bronkus kecil kartilago berupa lempeng lempeng yang tidak beraturan. Seperti pada trakea, cartilago hialin pada bronkus membantu mencegah agar dinding bronkus tidak kolaps. Lapisan terluar bronkus yaitu lapisan adventisia. Lapisan ini berhubungan langsung dengan jaringan disekitar paru.1,4 H. Paru paru Paru adalah organ berbentuk piramid seperti pons dan berisi udara, terletak di dalam rongga thoraks.1 Pada anak anak, paru berwarna merah muda, tetapi dengan bertambahnya usia paru menjadi gelap dan berbintik akibat inhalasi partikel partikel debu yang terperangkap dalam fagosit paru. Hal ini khususnya terlihat nyata pada penduduk kota dan pekerja tambang. Paru paru terletak sedemikian rupa sehingga masing masing paru terletak di samping kanan dan kiri mediastinum. Oleh karena itu paru satu dengan yang lain dipisahkan oleh jantung dan pembuluh pembuluh besar serta struktur lain di dalam mediastinum. Masing masing paru berbentuk kerucut dan diliputi pleura viseralis dan pleura parietalis, dan terdapat bebas di dalam cavitas pleuralisnya masing masing, hanya dilekatkan pada mediastinum oleh radix pulmonis. Masing masing paru mempunyai apex pulmonis yang tumpul, yang menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 2,5 cm di atas clavicula; basis pulmonis yang konkaf (cekung) tempat terdapatnya

diafragma; facies mediastinalis yang konkaf yang merupakan cetakan pericardium dan struktur mediastinum lainnya. Sekitar pertengahan mediastinalis ini terdapat hilum pulmonis, yaitu suatu cekungan tempat bronkus, pembuluh darah dan saraf yang membentuk radiks pulmonis masuk dan keluar dari paru.7 Lobus dan fissura paru

Pulmo dexter sedikit lebih besar dari pulmo sinister dan dibagi oleh fissura obliqua dan fissura horizontalis. Pulmonis dextri dibagi menjadi tiga lobus; lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior. Fissura obliqua berjalan dari pinggir inferior ke atas dan ke belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai memotong pinggir posterior sekitar 6,25 cm di bawah apex pulmonis. Fissura horizontalis berjalan horizontal menyilang permukaan costalis setinggi cartilago costalis IV dan bertemu dengan fissura obliqua pada linea axillaris media. Lobus medius merupakan lobus kecil berbentuk segitiga yang dibatasi oleh fissura horizontalis dan fissura obliqua. Pulmo sinister dibagi oleh fissura obliqua dengan cara sama menjadi dua lobus, lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo sinister tidak ada fissura horizontalis.7 Segment bronkopulmonari

Segment bronkopulmonari merupakan unit paru secara anatomi, fungsi dan pembedahan. Setiap bronkus lobaris (sekunder) yang berjalan ke lobus paru mempercabangkan bronchi segmentales (tersier). Setiap bronkus segmentales masuk ke unit paru yang secara struktur dan fungsi adalah independen dan disebut segment bronkopulmonari, dan dikelilingi oleh jaringan ikat. Bronkus segmentalis diikuti oleh sebuah cabang arteri pulmonari, tetapi pembuluh pembuluh balik ke vena pulmonari berjalan di jaringan ikat di antara segment bronkopulmonari yang berdekatan. Masing masing segmen mempunyai pembuluh limfe dan persarafan otonom sendiri. Setelah masuk segment bronkopulmonari, bronkus segmentalis segera membelah. Pada saat bronkus menjadi lebih kecil, cartilago berbentuk C yang ditemui mulai dari trakea perlahan lahan diganti dengan cartilago ireguler yang lebih kecil dan lebih sedikit jumlahnya. Bronkus yang paling kecil membelah dua menjadi bronkiolus, yang diameternya kurang dari 1 mm. bronkiolus tidak mempunyai kartilago didalamnya dan diliputi oleh epitel selapis torak bersilia.

Pada bronkus yang lebih kecil, epitel akan berubah menjadi epitel selapis kubus. Selain itu juga terdapat lapisan otot polos yang mengelilingi epitel. Pada dinding terluar, bronkiolus berhubungan langsung dengan alveolus. Hubungan langsung antara bronkiolus dan alveolus akan membantu mencegah dinding bronkiolus menjadi kolaps. Bronkiolus kemudian membelah menjadi bronkiolus terminalis yang mempunyai kantong kantong lembut pada dindingnya. Pertukaran gas yang terjadi antara darah dan udara terjadi pada kantong kantong tersebut, oleh karena itu kantong kantong lembut tersebut dinamakan bronkiolus respiratorius. Bronkiolus respiratorius berakhir dengan bercabang sebagai ductus alveolaris yang menuju pembuluh pembuluh berbentuk kantong dengan dinding yang tipis disebut sakus alveolaris. Sakus alveolaris terdiri atas beberapa alveoli yang terbuka ke satu ruangan. Masing masing alveolus dikelilingi oleh jaringan kapiler yang padat. Pertukaran gas yang terjadi antara udara yang terdapat di dalam lumen alveoli, melalui dinding alveoli ke dalam darah yang ada kapiler disekitarnya.7 Alveolus

Alveolus merupakan kantong kantong tempat berdifusi gas oksigen dan karbondioksida. Dinding alveol diliputi oleh epitel selapis gepeng. Alveol mempunyai dua tipe sel epitel, yaitu sel epitel tipe 1 sekitar 95 % dan sel epitel tipe 2 sekitar 5%. Sel epitel tipe 2 berada di antara sel epitel tipe 1, yang berfungsi untuk sekresi surfactan. Surfacta yang disekresi berfungsi untuk menjaga agar alveoulus tidak kolaps. Selain itu juga terdapat sel makrofag yaitu sel debu (dust cell). Sel ini akan bergerak masuk ke dalam pori alveol dan memfagositosis benda benda asing dari udara inspirasi. Pada dinding alveol terdapat pori atau lubang yang disebut pori alvelolaris (alveolar pores). Pori ini menghubungkan antar alveol, sehingga memungkinkan terjadi pertukaran udara antar alveol. Pada ruangan interstisial terdapat kapiler darah yang dikelilingi serat kolagen dan elastin.4

III.

Mekanisme pernapasan

A. Tekanan pernapasan Udara cenderung mengalir dari daerah dengan tekanan tinggi ke daerah dengan tekanan rendah, yaitu menuruni gradien tekanan. Udara mengalir keluar dan masuk paru selama tindakan bernapas karena berpindah mengikuti gradien tekanan antara alveolus dan atmosfer yang berbalik arah secara bergantian dan dapat ditimbulkan oleh aktivitas siklik otot pernapasan. Terdapat tiga tekanan yang berperan penting dalam ventilasi: Tekanan atmosfer

Tekanan atmosfer adalah tekanan yang ditibulkan oleh berat udara di atmosfer pada benda di permukaan bumi. Pada ketinggian permukaan laut tekanan ini sama dengan 760 mmHg. Tekanan atmosfer berkurang seiring dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut karena lapisan lapisan udara di atas permukaan bumi juga semakin menipis. Pada setiap ketinggian terjadi perubahan minor tekanan atmosfer karena perubahan kondisi cuaca (naik atau turun).8 Tekanan alveol

Tekanan alveol adalah tekanan udara di bagian dalam alveoli paru. Ketika glotis terbuka, dan tidak ada udara yang mengalir kedalam atau keluar paru, maka tekanan pada semua bagian jalan napas, sampai alveoli semuanya sama dengan tekanan atmosfer, yang dianggap sebagai tekanan acuan 0 dalam jalan napas, yaitu 0 cmH2O. untuk menyebabkan udara mengalir ke dalam alveoli selama inspirasi, maka tekanan dalam alveoli harus turun nilainya sampai sedikit dibawah tekanan atmosfer (dibawah 0). Selama inspirasi normal, tekanan alveolus menurun sampai -1 cmH2O. tekanan yang sedikit negatif ini cukup untuk menarik sekitar 0,5 liter udara ke dalam paru dalam waktu 2 detik sebagaimana yang diperlukan untuk inspirasi yang normal dan tenang. Selama ekspirasi, terjadi tekanan yang berlawanan: tekanan alveolus meningkat menjadi +1 cmH2O, dan tekanan ini mendorong 0,5 liter udara inspirasi keluar paru pada saat ekspirasi selama 2 3 detik.

Tekanan pleura

Tekanan pleura adalah tekanan cairan dalam ruang sempit anatara pleura parietal dan pleura viseral. Tekanan pleura normal pada awal inspirasi adalah sekitar -5 cmH2O, yang merupakan nilai isap yang dibutuhkan untuk memepertahankan paru agar tetap terbuka sampai nilai istirahatnya. Kemudian, selama inspirasi normal, pengembangan dada akan menarik paru ke arah luar dengan kekuatan yang lebih besar dan menyebabkan tekanan menjadi lebih negatif, yaitu sekitar -7,5 cmH2O. Tekanan transpulmonal

Tekanan transpulmonal adalah perbedaan antara tekanan alveolus dan tekanan pleura, dan ini adalah nilai daya elastis dalam paru yang cenderung mengembang dan mengempiskan paru pada setiap pernapasan, yang disebut sebagai tekanan daya lenting paru.9

B. Mekanisme ventilasi paru

Inspirasi

Sebelum inspirasi dimulai, otot otot pernapasan berada dalam keadaan relaksasi, tidak ada udara yang mengalir dan tekanan alveolus sama dengan tekanan atmosfir. Otot otot inspirasi utama pada pernapasan tenang adalah diafragma dan otot intercostal externus. Pada awal inspirasi, impuls motorik dari medula spinalis berjalan di sepanjang nervus phrenicus, mempersyarafi diafragma dan impuls motorik dari medula spinalis juga berjalan di sepanjang nervus intercostal, mempersyarafi otot otot intercostal externus. Kontraksi diafrgma menyebabkan diafragma turun, dan memperbesar rongga thorax dengan meningkatkan ukuran vertikal. Kontraksi otot otot intercostal eksternus mengangkat iga dan selanjutnya sternum ke atas dan ke depan. Selama inspirasi normal, tekanan alveolus menurun sampai -1 cmH2O. tekanan yang sedikit negatif ini cukup untuk menarik sekitar 0,5 liter udara ke dalam paru dalam waktu 2 detik sampai tekanan alveolus dan tekanan atmosfer seimbang, sebagaimana yang diperlukan untuk inspirasi

yang normal dan tenang. Selain itu, tekanan pleura menurun sekitar -7,5 cmH2O akibat tekanan thorax yang membesar. Peningkatan gradien tekanan transpulmonal yang terjadi sewaktu inspirasi membuat paru teregan untuk mengisi rongga thorax yang mengembang. Inspirasi dalam (lebih banyak udara dihirup) dapat dilakukan dengan mengkontraksikan diafragma dan otot interkostal eksternal secara lebih kuat dan denganmengaktifkan otot inspirasi tambahan untuk semakin memperbesar rongga thorax. Otot otot tambahan itu adalah (1) musculus sternocleidomastoideus, yang mengangkat sternum ke atas, (2) musculus serratus anterior, yang mengangkat sebagian besar iga; dan (3) musculus scalenus, yang mengangkat dua iga pertama. Ekspirasi

Pada akhir inspirasi, otot inspirasi relaksasi. Diafragma mengambil posisi aslinya yang seperti kubah ketika relaksasi. Ketika otot interkostal relaksasi, iga yang sebelumnya terangkat turun karena gravitasi, dan karena tekanan transpulmonal (daya elastisitas lenting paru) membuat paru yang sebelumnya teregang (complience) mengalami pengempisan (recoil) seperti semula. Sewaktu paru kembali mengecil, tekanan alveolus meningkat menjadi +1 cmH2O, dan tekanan ini mendorong 0,5 liter udara inspirasi keluar paru pada saat ekspirasi selama 2 3 detik. Aliran keluar udara berhenti ketika tekanan alveouls menjadi sama dengan tekanan atmosfer. Selama pernapasan tenang, ekspirasi normalnya merupakan suatu proses pasif, karena dicapai oleh recoil elastik paru ketika otot otot ekspirasi melemas, tanpa memerlukan kontraksi otot atau pengeluaran energi. Sebaliknya, inspirasi selalu aktif karena ditimbulkannya hanya oleh kontraksi otot inspirasi dengan memerlukan energi. Ekspirasi dapat menjadi aktif untuk pada mengosongkan paru secara lebih tuntas dan lebih cepat daripada yang dicapai selama pernapasan tenang, misalnya sewaktu pernapasan dalam ketika olahraga. Untuk menghasilkan ekspirasi paksa (aktif), otot otot ekspirasi harus lebih berkontraksi untuk mengurangi volume rongga thorax dan paru. Otot otot tambahan ini adalah (1) musculus rectus abdominis, yang mempunyai efek tarikan ke arah bawah yang sangat kuat terhadap iga iga bagian bawah pada saat bersamaan ketika otot otot ini dan otot oto abdomen lainnya menekan abdomen isi abdomen ke atas ke arah diafragma, sehingga ukuran vertikal rongga thoraks menjadi semakin kecil, (2)

musculus intercostal internus, yang kontraksinya menarik iga turun dan masuk, mendatarkan dinding dada dan semakin mengurangi ukuran rongga thoraks.8,9 C. Pertukaran gas

Tekanan parsial

Pertukaran gas di tingkat kapiler paru dan kapiler jaringan berlangsung secara difusi pasif sederhana O2 dan CO2 menuruni gradien tekanan parsial. Tekanan parsial gas adalah tekanan yang ditimbulkan secara independen oleh masing masing gas dalam campuran gas. Kita menghisap udara atmosfer dengan tekanan 760 mmHg. Udara atmosfer ini memiliki komposisi gas-gas utama dengan tekanannya masing-masing sebagai berikut: N2 O2 CO2 : 79% : 21% : 0,04% P N2 P O2 : 79% X 760 = 600 mmHg : 21% X 760 = 159 mmHg

P CO2 : 0,04% X 760 = 0,3 mmHg

Dengan adanya uap air (H2O) yang relatif konstan di dalam alveoli paru yaitu dengan tekanan 47 mmHg, maka komposisi gas oksigen dan karbondioksida berbeda, yaitu:8 H2O O2 CO2 : dengan tekanan parsial 47 mmHg : dengan tekanan parsial 100 mmHg : dengan tekanan parsial 40 mmHg.

Pertukaran gas pulmonar

Difusi gas dari alveol ke kapiler harus melewati membran respirasi. Membran respirasi adalah tempat berlangsungnya pertukaran gas, membran ini terdiri dari epitel selapis gepeng pada dinding alveol, lapisan cairan surfaktan di alveol yang berfungsi untuk mengurangi tekanan permukaan alveol, membran dasar pada dinding alveol, ruang interstisial yang memisahkan kapiler dengan alveol dan membran endotel kapiler.

Molekul gas berdifusi dari area berdekatan parsial tinggi ke area bertekanan lebih rendah terlepas dari konsentrasi gas lain dalam larutan. Dengan demikian, kecepatan difusi gas menembus membran ditentukan oleh tekanan parsial dari masing masing gas. PO2 dalam alveolar adalah 100 mmHg, sementara PO2 di kapiler paru 40mmhg. Dengan demikian O2 berdifusi dari udara alveolar menembus membran respirasi menuju kapiler paru. Sedangkan PCO2 dalam udara alvelolar adalah 40 mmHg dan PCO2 di dalam kapiler paru 45 mmHg. Dengan demikian, CO2 berdifusi dari kapiler ke alveoli. selain itu, CO2 mempunyai solubilitas yang tinggi dari O2, sehingga meskipun perbedaan tekanan parsial alveol dan kapiler kecil, CO2 bisa berdifusi 20x lipat daripada O2. Transport gas

Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin (Hb), 3% oksigen sisanya larut dalam plasma. Kejenuhan 97% oksigen dalam kapiler darah mempunyai tekanan parsial sebesar 100 mmhg, sedangkan PO2 di jaringan sebesar 40 mmhg. Dengan demikian, O2 berdifusi ke dalam jaringan. Dalam sel jaringan, bahan organik dioksidasi dalam mitokondria. Untuk oksidasi diperlukan oksigen yang dibawa oleh Hb. Hasil pembakaran berupa CO2 diangkut ke paru paru dalam bentuk ion bikarbonat, karbaminohemgolobin dan gas terlarut dalam plasma, kemudian ion ion tersebut akan melewati paru dan terjadi pertukaran gas.1 IV. Volume dan kapasitas paru

Volume udara dalam paru paru dan kecepatan pertukaran saaat inspirasi dan ekspirasi dapat diukur melalui spirometer. Nilai volume paru memperlihatkan suhu tubuh standar dan tekanan ambien serta diukur dalam militer udara. A. Volume Volume tidal (VT) adalah volume udara yang masuk dan keluar paru-paru selama ventilasi normail biasa. VT pada dewasa muda sehat berkisar 500 ml untuk laki-laki dan 380 ml untuk perempuan.

Volume cadangan inspirasi (VCI) adalah volume udara ekstra yang masuk ke paru-paru dengan inspirasi maksimum diatas inspirasi tidal. CDI berkisar 3.100 ml pada laki-laki dan 1.900 ml pada perempuan.

Volume cadangan ekspirasi (VCE) adalah volume ekstra udara dapat dengan kuat dikeluarkan pada akhir ekspirasi tidal normal. VCE biasanya berkisar 1.200 ml pada lakilaki dan 800 ml pada perempuan.

Volume residual (VR) adalah volume udara sisa dalam paru-paru setelah melakukan ekspirasi kuat. Volume residual penting untuk kelangsungan aerasi dalam darah jeda pernapasan. Rata-rata volume ini pada laki-laki sekitar 1.200 ml dan pada perempuan 1.000 ml.

B. kapasitas Kapasitas residual fungsional (KRF) adalah penambaham volume residual dan volume cadangan ekspirasi (KRF=VR+VCE). Kapasitas ini merupakan jumlah udara sisa dalam sistem respiratorik setelah ekspirasi normal. Nila rata-ratanya 2.200 ml. Kapasitas inspirasi (KI) adalah penambahan volume tidal dan volume cadangan inspirasi (KI=VT+VCI). Nilai rata-ratanya adalah 3.500 ml. Kapasitas vital (KV) adalah penambahan volume tidal, volume cadangan inspirasi, dan volume cadangan ekspirasi (KT=VT+VCI+VCE) . karena diukur dengan pirometer, kapasitas vital merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkn dengan kuat setelah inspirasi umum. Kapasitas vital diperngaruhi oleh beberapa faktor seperti postur, ukuran rongga toraks, dan komplains paru, tetapi nilai rata-ratanya sekitar 4.500 ml. Kapasitas total paru (KTP) adalah jumlah total udara yang dapat ditampug dalam paruparu dan sama dengan kapasitas vital ditambah volume residual (KTP=KV+VR). Nilai rata-ratanya adalah 5.700 ml. C. Volume ekspirasi kuat dalam satu detik (VEK1) adalah volume udara yang dapat dikeluarkan dari paru yang terinflasi maksumail daat detik pertama ekhalasi maksimum. Nilai normal VEK1 sekitar 80% KV. D. Volume respirasi menit adalah volume tidal dikalikan jumlah pernapasan per menit.1

V.

Penutup

Proses respirasi adalah proses yang sangat vital bagi kehidupan manusia.udara yang masuk kedalam tubuh manusia akan mengalami proses yang sangat kompleks dimana oksigen akan didistribusikan ke seluruh tubuh untuk proses metabolisme sedangkan karbondioksida sebagai hasil metabolisme sel akan di keluarkan dari tubuh. Kerusakan proses respirasi akan mengakibatkan individu sangat sulit untuk mempertahankan hidupnya karena tidak adanya oksigen yang masuk dan didistribusikan bagi sel-sel untuk melaksanakan proses yang sangat vital dalam menunjang kehidupan manusia.

Daftar Pustaka 1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula.1th ed. Jakarta: EGC;2003 2. Dupree JR, Dupree P. Anatomy & physiology workbook for dummies. 1th ed. Canada: Wiley;2007. 3. Mescher AL. Junqueiras basic histology. 12th ed. USA: McGraw-Hill Companies, Inc;2010. 4. Respiratory system. Diunduh dari www.getbodysmart.com tanggal 22 Mei 2011 5. Gunardi S. Anatomi sistem pernapasan. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;2009 6. Gartner LP, Hiatt JL. Color textbook of histology. 3th ed. USA: Saunders;2006 7. Snell RS. Anatomi klinis untuk mahasiswa kedokteran. 6th ed. Jakarta: EGC;2006 8. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. 6th ed. Jakarta: EGC;2011 9. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. 11th ed. Jakarta: EGC;2008.

Sesak Nafas dan Sistem Respirasi

Christian salim 10.2010.268 E4 24 Mei 2011

Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta Jln. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510. Telephone : (021) 5694-2061, fax : (021) 563-1731 Ctian777@yahoo.com