Anda di halaman 1dari 16

Presentasi Kasus

Konjungtivitis Vernalis

Pembimbing: dr Nanda Lessi, Sp.M


Disusun Oleh: Deasy Adri Susanto 406111007

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012 Jakarta

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

BAB 1 PENDAHULUAN Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah. Konjungtivitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, alergi, atau kontak dengan benda asing, misalnya kontak lensa.1,2 Konjungtivitis alergi merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap alergen. Biasanya dengan riwayat atopi.1,4 Konjungtivitis alergi biasanya mengenai kedua mata. Tandanya, selain mata berwarna merah, mata juga akan terasa gatal. Gatal ini juga seringkali dirasakan dihidung. Produksi air mata juga berlebihan sehingga mata sangat berair.1,3 Konjungtiva banyak sekali mengandung sel dari sistem kekebalan (mast sel) yang melepaskan senyawa kimia (mediator) dalam merespon terhadap berbagai rangsangan (seperti serbuk sari atau debu tungau). Mediator ini menyebabkan radang pada mata, yang mungkin sebentar atau bertahan lama. Sekitar 20% dari orang memiliki tingkat konjungtivitis alergi.4,5,6 Konjungtivitis alergi yang musiman dan yang berkelanjutan adalah jenis yang paling sering dari reaksi alergi pada mata. Konjungtivitis alergi yang musiman sering disebabkan oleh serbuk sari pohon atau rumput, oleh karenanya jenis ini timbul khususnya pada musim semi atau awala musim panas. Serbuk sari gulma bertanggung jawab pada gejala alergi mata merah pada musim panas dan awal musim gugur. Alergi mata merah yang berkelanjutan terjadi sepanjang tahun; paling sering disebabkan oleh tungau debu, bulu hewan, dan bulu unggas.1,5,6 Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang lebih serius dimana penyebabnya tidak diketahui. Kondisi paling sering terjadi pada anak laki-laki, khususnya yang berumur kurang dari 10 tahun yang memiliki eksema, asma, atau alergi musiman. Konjungtivitis vernal biasanya kambuh setiap musim semi dan hilang pada musim gugur dan musim dingin. Banyak anak tidak mengalaminya lagi pada umur dewasa muda.1 Penyebaran konjungtivitis vernal merata di dunia, terdapat sekitar 0,1% hingga 0,5% pasien dengan masalah tersebut. Penyakit ini lebih sering terjadi pada iklim panas (misalnya
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

di Italia, Yunani, Israel, dan sebagian Amerika Selatan) daripada iklim dingin (seperti Amerika Serikat, Swedia, Rusia dan Jerman).3,4 Umumnya terdapat riwayat keluarga yang bersifat alergi atopik (turunan). Kami menemukan bahwa 65% pasien kami yang menderita konjungtivitis vernal memiliki satu atau lebih keluarga setingkat yang memiliki penyakit turunan (misalnya asma, demam rumput, iritasi kulit turunan atau alergi selaput lendir hidung permanen). Penyakit-penyakit turunan ini umumnya ditemukan pada pasien itu sendiri. Dalam sebuah penelitian, 19 dari 39 pasien memiliki satu atau lebih dari empat penyakit turunan utama.3,4,5 Semua penelitian tentang penyakit ini melaporkan bahwa biasanya kondisi akan memburuk pada musim semi dan musim panas di belahan bumi utara, itulah mengapa dinamakan konjungtivitis vernal (atau musim semi). Di belahan bumi selatan penyakit ini lebih menyerang pada musim gugur dan musim dingin. Akan tetapi, banyak pasien mengalami gejala sepanjang tahun, mungkin disebabkan berbagai sumber alergi yang silih berganti sepanjang tahun.1,4

BAB 2 PEMBAHASAN
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

2.1. Definisi Konjungtivitis vernalis adalah peradangan konjungtiva bilateral dan rekuren akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I). Konjungtivitis vernalis dikenal juga sebagai catarrh musim semi dan konjungtivitis musiman atau konjungtivits musim kemarau, adalah penyakit bilateral yang jarang yang disebabkan oleh alergi, biasanya berlangsung dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun.1,5 2.2. Etiologi Penyakit ini dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas terhadap beberapa alergen eksogen seperti serbuk sari rumput. Penyakit ini juga diperkirakan menjadi sebuak kelainan alergi atopic pada banyak kasus dimana mekanisme yang dimediasi IgE memainkan peranan penting. Sejumlah pasien menunjukkan secara personal ataupun riwayat keluarga dengan penyakit atopi misalnya hay fever, asma ataupun ekszema dan pemerikasaan darah menunjukkan eosinofilia dan peningkatan level IgE serum.2 2.3. Klasifikasi a. Palpebral Ini merupakan penyakit primer dimana sebuah penyebaran perkembangan hipertrofi papil lebih utama konjungtiva tarsal superior dari pada inferior dan mungkin dihubungkan dengan penyakit kornea yang signifikan sebagai hasil dari ketidaksesuaian letak antara lempeng tarsal superior dan epitel kornea. Konjungtiva bulbi hiperemia dan chemosis bisa muncul. Pada kasus yang berat giant papillae menyerupai cobblestone yang berkembang pada tarual superior. Hal ini dapat menyebabkan ptosis mekanik. Discharge dikarakteristikkan dengan warna putih kekuningan dan konsistensi berserat dan dapat mengelupas tanpa adanya perdarahan.3,4,5

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Gambar 1. Konjungtivitis vernal bentuk palpebral b. Limbal Bentuk limbal dapat berkembang sendiri atau berhubungan dan bersaam dengan bentuk palpebral. Bentuk ini terutama muncul pada wilayah Afrika dan Asia dan prevalensi lebih tinggi pada iklim tropis. Bentuk limbus memiliki discharge yang kental, gambaran gelatinosa dan injeksi vaskular. Horner-Trantas dots, yang merepresantikan adanya macroagregat dari eosinofil dan sel-sel epitelial dan dapat diamati pada limbus yang hipertrofi pada pasien dengan vernal konjungtivitis tipe limbus.4,5

Gambar 2. Konjungtivitis vernal bentuk limbal 2.4. Patogenesis Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang interstitial yang banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtivitis vernal, antigen berikatan dengan IgE dan menyebabkan degranulasi sel mast. Alergen yang hinggap di konjungtiva, setelah terbentuk alergen-IgE spesifik akan berdempetan dengan sel mast oleh FcRI IgE receptors. Ketika alergen berikatan dengan IgE, IgE akan mengaktivasikan sel mast untuk mengeluarkan molekul-molekul efektor. Pengeluaran efektor molekul memikili berbagai fungsi; leukotriens dan histamin meningkatkan permeabilitas vaskular, IL-4 dan IL13 memperkuat respon sel Th2 yang kemudian mempromosikan perubahan isotype menjadi semakin banyak IgE dan TNF- memdiasi respon inflamasi.7

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertofi yang menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells.9 Tahap awal konjungtivitis vernalis ini ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam kaitan ini, akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil yang ditutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di antara papil serta pseudomembran milky white. Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel- sel PMN (Poli morfo nuclear), eosinofil, basofil dan sel mast.7,8 Tahap berikutnya akan dijumpai sel- sel mononuclear lerta limfosit makrofag. Sel mast dan eosinofil yang dijumpai dalam jumlah besar dan terletak superficial. Dalam hal ini hampir 80% sel mast dalam kondisi terdegranulasi. Temuan ini sangat bermakna dalam membuktikan peran sentral sel mast terhadap konjungtivitis vernalis. Keberadaan eosinofil dan basofil, khususnya dalam konjungtiva sudah cukup menandai adanya abnormalitas jaringan.7 Fase vaskular dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase, peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaan klinis. Hiperplasi jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai dengan dasar perlekatan yang luas. Horner-Trantas dots yang terdapat di daerah ini sebagian besar terdiri dari eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel PMN dan limfosit.7,8 Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemi dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobblestone.7,8,9 Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis mekanik.8,9 Pada bentuk palpebral, jaringan epitel membesar pada beberapa area dan menular ke area lainnya. Kadangkala, eosinofil (warna kemerahan) tampak kuat di antara sel-sel jaringan epitel. Perubahan yang menonjol dan parah terjadi pada substansi propria (jaringan urat). Pada tahap awal jaringan terinfiltrasi dengan limfosit, sel plasma, eosinofil, dan basofil. Sejalan dengan perkembangan penyakit, semakin banyak sel yang berakumulasi dan kolagen baru terbentuk, sehingga menghasilkan bongkol-bongkol besar pada jaringan yang timbul dari lempeng tarsal. Terkait dengan perubahan-perubahan tersebut adalah adanya pembentukan pembuluh darah baru dalam jumlah yang banyak. Peningkatan jumlah kolagen berlangsung cepat dan menyolok.8,9 Pada bentuk limbal terdapat perubahan yang sama, yaitu: perkembangbiakan jaringan ikat, peningkatan jumlah kolagen, dan infiltrasi sel plasma, limfosit, eosinofil dan basofil ke dalam stroma. Penggunaan jaringan yang dilapisi plastik yang ditampilkan melalui mikroskopi cahaya dan elektron dapat memungkinkan beberapa observasi tambahan. Basofil sebagai ciri tetap dari penyakit ini, tampak dalam jaringan epitel sebagaimana juga pada substansi propria. Walaupun sebagian besar sel merupakan komponen normal dari substansi propia, namun tidak terdapat jaringan epitel konjungtiva normal.3,8 2.5. Gejala Klinis Pasien umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat dan bertahi mata berserat-serat. Biasanya terdapat riwayat keluarga alergi (demam jerami, eczema, dan lain-lain) dan kadangkadang pada pasien muda juga. Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papilla halus di konjungtiva tarsalis inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papil raksasa berbentuk poligonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler.1 Chemosis yang merupakan pembengkakan pada konjungtiva dapat muncul walaupun biasanya tidak terlihat dan hanya dapat dilihat dengan pemeriksaan Slit Lamp.7

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Gambar 3. konjungtivitis vernalis. Papilla batu bata di konjungtiva tarsalis superior. Mungkin terdapat tahi mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda MaxwellLyons). Pada beberapa kasus, terutama pada orang negro turunan Afrika, lesi paling mencolok terdapat di limbus, yaitu pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (arcus) sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus. Bintik-bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasien dengan konjungtivitis vernalis selama fase aktif dari penyakit ini.1,9 Sering tampak mikropannus pada konjungtivitis vernal palpebra dan limbus, namun pannus besar jarang dijumpai. Biasanya tidak timbul parut pada konjungtiva kecuali jika pasien telah menjalani krioterapi, pengangkatan papilla, iradiasi, atau prosedur lain yang dapat merusak konjungtiva.1 2.6. Diagnosa Penegakan diagnosa konjungtivitis vernal umumnya berdasarkan anamnesa yang khas untuk konjungtivitis vernal setelah disingkirkan jenis konjungtivitis yang lain dan juga dapat dilakukan pemeriksaan penunjang. Pada anamnese dapat kita telusuri dan kita temukan gejala-gejala klinis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya Dan menjadi catatan, keluhan ini bisa berulang dan menahun diikuti dengan perubahan iklim, yaitu: Gatal yang hebat Kotoran mata yang berserabut Konjungtiva merah, sakit dan bengkak Lakrimasi Silau
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Pada pemeriksaan fisik, dapat kita jumpai: Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papilla raksasa mirip batu kali. Setiap papil raksasa berbentuk poligonal, dengan atap rata, dan mengandung berkas kapiler.1 Chemosis dan dapat terlihat dengan pemeriksaan Slit Lamp7 Tahi mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda Maxwell-Lyons). Pembengkakan gelatinosa (papillae). Sebuah pseudogerontoxon (arcus) sering terlihat pada kornea dekat papilla limbus. Bintik-bintik Tranta adalah bintik-bintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasien dengan konjungtivitis vernalis selama fase aktif dari penyakit ini.1,9 Sering tampak mikropannus pada konjungtivitis vernal palpebra dan limbus, namun pannus besar jarang dijumpai. Biasanya tidak timbul parut pada konjungtiva kecuali jika pasien telah menjalani krioterapi, pengangkatan papilla, iradiasi, atau prosedur lain yang dapat merusak konjungtiva.1 Pemeriksaan Penunjang dapat dilakukan berdasarkan pemahaman patofisiologi penyakit ini, daintaranya: a. Pewarnaan dengan Giemsa Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa bisa terdapat banyak eosinofil dan granula eosinofilik bebas. Pada pemeriksaan darah ditemukan eosinofilia dan peningkatan kadar serum IgE.9 b. Kerokan Konjungtiva Kikisan konjungtiva pada daerah-daerah yang mengalami inflamasi menunjukkan adanya banyak eosinofil dan butiran eosinofilik. Ditemukan lebih dari dua eosinofil tiap pembesaran 25x dengan sifat khas penyakit (pathognomonic) konjungtivitis vernal. Tidak ditemukan adanya akumulasi eosinofil pada daerah permukaan lain pada level ini.9 c. Pemeriksaan Kadar Imunoglobulin Kandungan IgE pada air mata yang diambil dari sampel serum 11 pasien konjungtivitis vernal dan 10 subjek kontrol telah menemukan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara air mata dengan level kandungan serum pada kedua mata. Kandungan IgE pada air mata diperkirakan muncul dari serum kedua mata, kandungan IgE dalam serum (1031ng/ml) dan pada air mata (130ng/ml) dari pasien konjungtivitis vernal melebihi kandungan IgE dalam serum (201ng/ml) dan pada air mata (61ng/ml) dari orang normal. Butiran antibodi IgE
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

secara spesifik ditemukan pada air mata lebih banyak daripada butiran antibodi pada serum. Selain itu, terdapat 18 dari 30 pasien yang memiliki level antibodi IgG yang signifikan yang menjadi butiran pada air matanya. Orang normal tidak memiliki jenis antibodi ini pada air matanya maupun serumnya. Hasil pengamatan ini menyimpulkan bahwa baik IgE- dan IgGakan menjadi perantara mekanisme imun yang terlibat dalam patogenesis konjungtivitis vernal, dimana sistesis lokal antibodi terjadi pada jaringan permukaan mata. Kondisi ini ditemukan negatif pada orang-orang yang memiliki alergi udara, tetapi pada penderita konjungtivitis vernal lebih banyak berhubungan dengan antibodi IgG dan mekanisme lainnya daripada antibodi IgE. 9 d. Pemeriksaan kadar histamin Kandungan histamin pada air mata dari sembilan pasien konjungtivitis vernal (38ng/ml) secara signifikan lebih tinggi daripada kandungan histamin air mata pada 13 orang normal (10ng/ml, P<0.05). Hal ini sejalan dengan pengamatan menggunakan mikroskopi elektron yang diperkirakan menemukan tujuh kali lipat lebih banyak sel mastosit dalam substantia propia daripada dengan pengamatan yang menggunakan mikroskopi cahaya. Sejumlah besar sel mastosit ini terdapat pada air mata dengan level histamin yang lebih tinggi. 9 2.7. Diagnosa Banding Walaupun secara prinsip konjungtivitis vernal sangat berbeda dengan trakhoma dan konjungtivitis demam rumput, namun seringkali gejalanya membingungkan dengan dua penyakit tersebut. Trakhom ditandai dengan banyaknya serabut-serabut sejati yang terpusat, sedangkan pada konjungtivitis vernal jarang tampak serabut sejati. Pada trakhom, eosinofil tidak tampak pada kikisan konjungtiva maupun pada jaringan, sedangkan pada konjungtivitis vernal, eosinofil memenuhi jaringan. Trakhom meninggalkan parut-parut pada tarsal, sedangkan konjungtivitis vernal tidak, kecuali bila terlambat ditangani.11 Tanda konjungtivitis demam rumput adalah edema, sedangkan tanda konjungtivitis vernal adalah infiltrasi selular. Demam rumput memiliki karakteristik sedikit eosinofil, tidak ada sel mastosit pada jaringan epitel, tidak ada peningkatan sel mastosit pada substantia propria, dan tidak terdapat basofil, sedangkan konjungtivitis vernal memiliki karakteristik adanya tiga serangkai, yaitu: sel mastosit pada jaringan epitel, adanya basofil, dan adanya eosinofil pada jaringan. 1,9 Tabel 1. Diagnosis banding Trakoma, Konjungtivitis folikularis, Konjungtivitis vernal.11
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

10

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Trakoma Gambaran lesi Kasus dini: papula kecil atau bercak merah bertaburan dengan bintik putih-kuning (folikel trakoma). Pada konjungtiva tarsal (kasus lanjut) granula menyerupai butir sagu dan parut, terutama konjungtiva tarsal atas Penonjolan besar lesi konjungtiva tarsal atas dan teristimewa lipatan retrotarsal korneapanus, bawah infiltrasi abu-abu dan pembuluh tarsus terlibat.

Konjungtivitis folikularis Penonjolan merahmuda pucat tersusun teratur seperti deretan beads

Konjungitvitis vernal Nodul lebar datar dalam susunan cobble stone pada konjungtiva tarsal atas dan bawah, diselimuti lapisan susu

Ukuran lesi Lokasi lesi

Penonjolan kecil terutama konjungtiva tarsal bawah dan forniks bawah tarsus tidak terlibat.

Tipe sekresi Pulasan

Kotoran air berbusa atau frothy pada stadium lanjut. Kerokan epitel dari konjungtiva dan kornea memperlihatkan ekfoliasi, proliferasi, inklusi seluler.

Mukoid atau purulen Kerokan tidak khas (Koch-Weeks, Morax-Axenfeld, mikrokokus kataralis stafilokokkus, pneumokokkus) Kornea: ulkus kornea Palpebra: blefaritis, ektropion

Penonjolan besar tipe tarsus atau palpebra; konjungtiva tarsus terlibat, forniks bebas. Tipe limbus atau bulbus; limbus terlibat forniks bebas, konjungtiva tarsus bebas (tipe campuran lazim) tarsus tidak terlibat Bergetah, bertali, seperti susu Eosinofil karakteristik dan konstan pada sekresi

Penyulit atau Kornea: panus, sekuela kekeruhan kornea, xerosis, kornea Konjungtiva: simblefaron Palpebra: ektropion atau entropion trikiasis 2.8. Penatalaksanaan

Kornea: infiltrasi kornea (tipe limbal) Palpebra: pseudoptosis (tipe tarsal)

Karena konjungtivitis vernalis adalah penyakit alergi, penatalaksanaan yang paling sederhana dan paling efektif adalah menghindari alergen. Konjungtivitis vernalis juga
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

11

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

merupakan penyakit yang sembuh sendiri, medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai jangka panjang. Pilihan perawatan konjungtivitis vernalis berdasarkan luasnya symptom yang muncul dan durasinya. Pilihan perawatan konjungtivitis vernalis meliputi non farmakologis dan farmakologis, yaitu : 1. Non Farmakologi Penatalaksanaan ini meliputi tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi keluhan pasien berdasarkan informasi hasil anamnesis. Beberapa tindakan tersebut antara lain3: - Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan, karena telah terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediator-mediator sel mast. Di samping itu, juga untuk mencegah superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut menunjang terjadinya glaukoma sekunder dan katarak. - Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter - Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari; - Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di udara terbuka. Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan membantu retensi allergen. - Kompres dingin di daerah mata - Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi protektif karena membantu menghalau allergen; - Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering juga disebut sebagai climato-therapy. 2. Terapi topikal - Untuk menghilangkan sekresi mucus, dapat digunakan irigasi saline steril dan mukolitik seperti asetil sistein 10%20% tetes mata. Dosisnya tergantung pada kuantitas eksudat serta beratnya gejala. Dalam hal ini, larutan 10% lebih dapat ditoleransi daripada larutan 20%. Larutan alkalin seperti 1-2% sodium karbonat monohidrat dapat membantu melarutkan atau mengencerkan musin, sekalipun tidak efektif sepenuhnya.1 - Mast cell stabilizers
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

12

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Mast cell stabilizers seperti cromolyn sodium 4% dan nedocromil 2% mencegah degranulasi sel mast sehingga mengurangi pengeluaran mediator inflamasi yang akhirnya mengurangi bengkak, merah dan gatal.7,9 - Antihistamin Antihistamin seperti Levobacatine hydrochloride 0.05% dapat menurangi permeabilitas vaskular dan keluhan gatal. Obat ini merupakan antagonis reseptor H1 pada konjungtiva dan palpebra.5,7 - NSAID (Non-Steroid Anti-Inflamasi Drugs) Penghambatan sintesis prostaglandin dengan penurunan enzim COX yang pada akhirnya akan mengurangi reaksi inflamasi. Ketorolac tremothamine 0.5% merupakan obat yang sudah direkomendasikan oleh FDA.3,9 - Untuk konjungtivitis vernalis yang berat, bisa diberikan steroid topikal prednisolone fosfat 1%, 6-8 kali sehari selama satu minggu. Kemudian dilanjutkan dengan reduksi dosis sampai ke dosis terendah yang dibutuhkan oleh pasien tersebut. Bila sudah terdapat ulkus kornea maka kombinasi antibiotik steroid terbukti sangat efektif.1 3. Terapi Sistemik - Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone asetat, prednisolone fosfat, atau deksamethason fosfat 23 tablet 4 kali sehari selama 1 2 minggu. Satu hal yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah gunakan dosis serendah mungkin dan sesingkat mungkin.1 - Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain, karena kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Apabila dikombinasi dengan vasokonstriktor, dapat memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau memungkinkan reduksi dosis.4,5 4. Allergen Immunotherapy Allergen Immunotherapy diketahui sebagai terapi desensitisasi. Pasien dihadapkan dengan alergen dengan dosis kecil tapi sering secara perlahan jumlah ditingkatkan. Hal ini diharapkan dapat mensentisisasi reaksi alregi sehingga reaksi alergi dapat dikurangi yang merupakan tujuan terapi.7 2.9. Komplikasi
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

13

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Penggunaan steroid berkepanjangan dapat menimbulkan keratitis epitel, katarak, glaukoma dan ulkus kornea superfisial sentral atau parasentral yang disebabkan oleh fungal dan opportunistik lainnya, yang dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatriks yang ringan. Penyakit ini juga dapat menyebabkan penglihatan menurun. Blefaritis dan konjungtivitis stafilokok juga merupakan komplikasi yang sering dan harus segera diterapi.1 Kadang-kadang didapatkan panus, yang tidak menutupi seluruh permukaan kornea. Perjalanan penyakitnya sangat menahun dan berulang, sering menimbulkan kekambuhan terutama di musim panas.1 2.10. Prognosa Karena penyakit ini merupakan penyakit alergi yang terkait dengan musim, maka penyakit ini akan cenderung memburuk musim pada yang berkaitan sehingga kekambuhan cenderung terjadi pada musim tersebut. Tetapi setelah sejumlah kekambuan, papillae dapat sama sekali menghilang tapa meninggalkan jaringan parut.1

BAB 3 KESIMPULAN Konjungtivitis vernalis adalah konjungtivitis akibat reaksi hipersensitivitas (tipe I) yang mengenai kedua mata dan bersifat rekuren. Konjungtivitis vernal terjadi akibat alergi dan cenderung kambuh pada musim panas. Konjungtivitis vernal sering terjadi pada anak-anak, biasanya dimulai sebelum masa pubertas dan berhenti sebelum usia 20. Terdapat dua bentuk penyakit ini, yaitu: palpebral dan limbal, yang perbedaan utamanya terletak pada lokasi. Bentuk palpebra, terutama mengenai konjungtiva tarsal superior. Terdapat pertumbuhan papil yang besar (cobble stone) yang diliputi sekret yang mukoid. Bentuk limbal, hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Trantas dot yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di bagian epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

14

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Gejala yang spesifik berupa rasa gatal yang hebat, sekret mukus yang kental dan lengket, serta hipertropi papil konjungtiva. Tanda yang spesifik adalah Trantas dots dan coble stone. Terdapat dua bentuk dari konjungtivitis vernalis yaitu bentuk palbebra dan bentuk limbal. Konjungtivitis vernalis pada umumnya tidak mengancam penglihatan, namun dapat menimbulkan rasa tidak enak. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati. Namun tetap dibutuhkan perawatan agar tidak terjadi komplikasi dan menurunkan tingkat ketidaknyamanan dari pasien. Perawatan yang dapat diberikan menghindari menggosokgosok mata, kompres dingin di daerah mata, memakai pengganti air mata, memakai obat tetes seperti asetil sistein, antihistamin, NSAID, steroid, stabilisator sel mast, dll; dan obat oral (seperti antihistamin dan steroid). Lebih baik penderita pindah ke tempat beriklim sejuk dan lembab.

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. Vaughan, D. G., Taylor, A., ----. Conjunctiva in Vaughan & Asburys General Ophtalmology 17th edition. New York: Lange Medical Books/McGraw-Hill; 111-112 Khurana, A. K., 2000. Diseases of The Conjunctiva in Comprehensive Ophtalmology 4th edition. Kuala Lumpur: New Age; 74-76 American Academy of Ophtalmology. 2007. Clinical Approach to Immune-Related Disorder of The External Eye in Basic and Clinical Science Course External Disease and Cornea Section 8 (2007-2008); 209-211 4. 5. 6. Kanski, J. J., 2007. Conjunctiva in Clinical Ophtalmology A Systematic Approach 6th edition. New York: Elsevier; 229-232 Lim, L., Donald, T., 2005. Atopic Disorders oh The Ocular Surface in Clinical Ophtalmology An Asian Prespective. Singapore: Saunders Elsevier; 217-220 James, B., Chris, C., Anthony, B., 2005. Konjungtiva in Lecture Notes Oftalmologi.
15
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

Deasy Adri Susanto (406111007) Konjungtivitis Vernalis

Jakarta: Penerbit Erlangga; 63-64 7. Reid, A., 2000. Allergic Conjunctivitis. Available from: http://www.bio.davidson.edu/courses/immunology/Students/spring2006/Reid/Conjunctiv itis 8. Ono, J. S., Mark, B. A., 2005. Allergic Conjunctivitis: Update on Pathophysiology and Prospect for Future Treatment. Available from: http://www.jacionline.org/article/S0091-6749(04)03032-5/fulltext 9. Majmudar, P. A., 2010. Allergic Conjunctivitis. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1191467
10. Morrow, G. L., Richard, L. A., 2000. Conjunctivitis. American Family Physician

Available from: http://www.aafp.org/afp/98021ap/morrow.html 11. Ilyas, S., 2007. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia; 133-1338 12. Ozcan, A. A., 2007. Management of Severe Allergic Conjunctivitis with Topical Cyclosporin A 0.05% Eyedrops. Available from: http://www.lippincott.org/lippincottwilliam&wilkins/ozcan/cornea

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata RSUD Ciawi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 3 September 2012 6 Oktober 2012

16