Anda di halaman 1dari 9

PROBLEMATIKA PENERAPAN EKSEKUSI PUTUSAN PERADILAN TUN TERHADAP PEJABAT TUN DAERAH Oleh : Supandi SH, M.Hum.

** Dalam usianya yang hampir empat belas tahun, ternyata Peradilan Tata Usaha Negara belum sepenuhnya memenuhi harapan masyarakat pencari keadilan. Masih adanya putusan Peratun yang tidak dipatuhi oleh Pejabat TUN adalah salah satu hal yang menyebabkan masyarakat masih pesimis terhadap eksistensi Lembaga Peradilan Tata Usaha Negara. Dan menurut pengamatan penulis, salah satu factor penyebab tidak dipatuhinya Putusan Hakim Peratun adalah karena masih lemahnya system eksekusi yang diatur dalam Undang undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan TUN. Eksekusi yang lebih menyandarkan pada kesadaran Pejabat TUN atau dengan penegoran berjenjang secara hirarki ( floating norm) sebagaimana diatur dalam pasal 116 UU No. 5 Tahun 1986 ternyata tidak cukup efektif dapat memaksa pejabat TUN melaksanakan Putusan Hakim Peratun. Beberapa contoh kasus kebandelan Pejabat TUN terhadap Putusan Hakim Peratun dapat dikemukakan disini : 1. Sengketa Pengelolaan Sarang Burung di Tabalong, yang telah diputus pada tahun 1994, meskipun telah dilalui prosedur eksekusi sampai tingkat Presiden, ternyata Bupati Tabalong tetap tidak melaksanakan putusan Peratun tersebut. 2. Kasus Perpakiran di Kota Medan, meskipun kepala Dinas Perpakiran Kodya Medan telah dihukum untuk mencabut keputusan yang diterbitkannya oleh PTUN Medan dan telah dilakukan penegoran sampai tingkat Presiden, ternyata pihak Dinas Perpakiran tidak melaksanakan Putusan Hakim Medan tersebut. 3. Kasus Pembongkaran Restoran Bali, Sky Light Restaurant dimana Bupati Gianyar, Bali, nekat membongkar restaurant tersebut. Padahal sebelumnya PTUN sudah memerintahkan agar Surat Printah Bongkar yang diterbitkannya dinyataka cacat hukum dan dinyatakan batal. 4. Kasus Kepala Kantor Pertanahan Kodya Medan yang diperintahkan oleh Putusan Peratun yang berkekuatan hukum tetap untuk mencabut sertifikat HGB.
*

**

Makalah, disampaikan pada Workshop yang diselenggarakan oleh LPP-HAN.Tahun 2004 di Jakarta. Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta.

Tetapi yang dilakukan Tergugat justru meminta kepada penggugat untuk mengajukan permohonan pembatalan sertifikat HGB tersebut, seolah-olah tidak ada perintah dalam putusan Pengadilan. Alasan Kepala Kantor Pertanahan tersebut bahwa hal itu dilakukan untuk memenuhi prosedur yang diatur dalam Surat Edaran Kepala BPN Pusat. Sikap demikian menimbulkan kekecewaan bagi penggugat, karena merasa tidak ada gunanya beracara dalam waktu yang cukup panjang di Pengadilan hingga memperoleh Putusan yang berkekuatan Hukum Tetap. 5. Kasus Bupati Karo, yang diperintahkan untuk mematuhi perintah penangguhan pelaksanaan Surat Keputusan Objek Sengketa patuh dalam rangka perintah pencopotan penangguhan jabatan oleh Pejabat dijajarannya. Secara lisan dan tertulis Tergugat menyatakan terhadap Pengadilan tersebut. Tetapi sejalan dengan itu Tergugat menerbitkan Keputusan baru dengan nomor dan tanggal yang berbeda, namun substansinya sama dengan Surat Keputusan Objek Sengketa. 6. Dan lain-lain kasus yang tidak dapat diuraikan seluruhnya, tetapi intinya sama yaitu Inkonsistensi sikap Pejabat Tata Usaha Negara dalam bentuk upaya-upaya untuk mengingkari Pelaksanaan Putusan Pengadilan/Perintah Hakim Peradilan Tata Usaha Negara. Oleh karena itu pemberlakuan lembaga paksa berupa: Uang Paksa (dwangsom/astreinte) dan Sanksi Administratif serta Publikasi Putusan Hakim yang diatur dalam pasal 116 Undang-undang No. 09 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, akan mengurangi pesimisme masyarakat pencari keadilan terhadap eksistensi Peradilan Tata Usaha Negara sebagai lembaga kontrol terhadap Pemerintah sekaligus sebagai perlindungan hukum bagi masyarakat. Berkaitan dengan eksekusi menurut UU No.9 Tahun 2004, apabila dihubungkan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah menurut UU No. 22 Tahun 1999, dimana kedudukan daerah propinsi maupun kabupaten atau kota, masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain, kemungkinan juga dapat menimbulkan permasalahan tersendiri, terutama apakah eksekusi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara tersebut dapat diterapkan secara efektif terhadap Pejabat TUN Daerah.

Untuk menjawab permasalahan tentang dapat atau tidaknya lembaga eksekusi tersebut diterapkan terhadap Pejabat TUN Daerah, maka sebelumnya harus jelas bagaimana penerapan lembaga eksekusi tersebut dalam praktek. Tetapi pada kenyataanya hingga saat ini belum ada produk hukum yang mengatur lebih lanjut ketentuan pasal 116 UU No. 9 tahun 2004. Guna mengkaji lebih mendalam permasalan tersebut, dalam tulisan ini akan dikupas dan ditawarkan beberapa pemikiran mengenai bagaimana penerapan lembaga eksekusi itu dalam praktek Peradilan TUN.dan beberapa problematikanya berkaitan dengan Otonomi Daerah.

A.

Penerapan Uang Paksa (Dwangsom) di Peratun. Pemberlakuan Dwangsom/Uang Paksa dalam proses eksekusi sebenarnya adalah merupakan upaya tekanan (secara psikologis), agar terhukum mau mematuhi atau melaksanakan hukuman pokok. Jadi uang paksa adalah merupakan suatu alat eksekusi secara tidak langsung. Dan penerapannya di Peradilan Tata Usaha Negara menurut penulis adalah menyangkut permasalahan sebagai berikut : 1. Jenis putusan apa saja yang dapat dikenai hukuman uang paksa. 2. Kepada siapa uang paksa dibebankan. 3. Sejak kapan uang paksa tersebut diberlakukan.

Ad. 1. Jenis Putusan yang dapat dikenakan Uang Paksa. Seperti halnya penerapan dwangsom dalam putusan Hakim Peradilan Umum, maka tidak semua putusan Hakim Peratun dapat diterapkan dwangsom. Hanya putusan yang berisi penghukuman/kewajiban melakukan tindakan tertentu kepada pihak yang kalah (putusan condemnatoir), yang dapat dikenai/diterapkan dwangsom. Jadi untuk putusan yang sifatnya declaratoir (yang bersifat menerangkan) dan constitutief (putusan yang bersifat meniadakan atau menimbulkan keadaan hukum yang baru), tidak dapat dikenai /diterapkan dwangsom. Dalam konteks Undang-undang No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Putusan yang bersifat condemnatoir adalah berupa : a. Kewajiban mencabut keputusan TUN yang dinyatakan batal/tidak sah. b. Kewajiban menerbitkan keputusan TUN pengganti/baru. c. Kewajiban mencabut dan menerbitkan keputusan TUN baru.

d. Kewajiban membayar ganti rugi, dan e. Kewajiban kepegawaian. Jadi untuk putusan hakim yang hanya berisi : Menyatakan batal atau tidak sah suatu Keputusan TUN ( vide pasal 53 ayat 1 UU No. 5 Tahun 1986 ), karena ini bukan merupakan jenis putusan yang bersifat condemnatoir, maka tidak dapat dikenakan upaya paksa . Ad. 2. Kepada Siapa Uang Paksa Dibebankan. Secara teori, seorang pejabat yang sedang menjalankan tugasnya, maka ia adalah sedang melaksanakan peran negara. Oleh karenanya manakala didalam menjalankan peran/tugasnya tersebut mengakibatkan timbulnya kerugian bagi orang/masyarakat, - sepanjang tugas-tugas tersebut dilaksanakan menurut hukum-, maka adalah benar apabila kerugian yang diderita orang/masyarakat tersebut dibebankan pembayarannya kepada keuangan kesalahan dinas. Hal mana adalah berbeda dengan, ketika seorang pejabat tidak mematuhi putusan hakim (yang dapat disamakan tidak mematuhi hukum), maka pada saat itu justru ia tidak sedang menjalankan peran negara, ( karena secara ideal , menjalankan peran negara itu adalah melaksanakan ketentuan hukum ), oleh karenanya resiko dari ketidak patuhan terhadap hukum tadi tidak dapat dibebankan kepada keuangan negara, tetapi harus ditanggung secara pribadi dari orang yang sedang menjabat, karena ini adalah kesalahan pribadi. Hal mana adalah sejalan dengan teori kesalahan yang dikembangkan dari Yurisprodensi Conseil dEtat yang pada pokoknya membedakan antara kesalahan dinas (faute de serve) dan kesalahan pribadi ( faute personelle). (lihat Paulus Effendie Lotulung, Prof.DR.SH. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum Terhadap Pemerintahan, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 1986. hal. 15) Kemudian, dari uang yang mana yang bisa dipaksakan kepada Tergugat untuk memenuhi dwangsom ?. Menurut hemat penulis, karena yang dihukum untuk melaksanakan putusan Peratun adalah selalu Badan/Pejabat TUN yang masih aktif, tentunya secara rutin ia mendapatkan gaji setiap bulannya. Oleh karenanya apabila pejabat tersebut tidak melaksanakan amar putusan, maka adalah lebih efektif dan efisien apabila pengenaan dwangsom Negara, karena itu tergolong melaksanakan rehabilitasi, dalam sengketa

diambil/dipotong dari gaji bulanan pejabat yang bersangkutan. Dan perintah pemotongan gaji, dalam amar putusan Hakim diperintahkan kepada Pejabat yang berwenang melaksanakan pemotongan gaji, (misalnya Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) untuk Pejabat TUN yang penggajiannya melalui proses di Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara, Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Daerah (KPKD) bagi Pejabat TUN yang penggajiannya diproses melewati KPKD (termasuk Bupati atau Walikota), atau Pejabat lain yang berwenang semacam itu untuk Jabatan TUN lainnya), selanjutnya uang dwangsom tersebut diserahkan kepada Penggugat dan pemotongan ini terus berlanjut sampai dengan dipatuhinya amar putusan. Ad. 3. Sejak Kapan Uang Paksa Tersebut Diberlakukan. Untuk menentukan saat kapan seharusnya pembebanan uang paksa tadi diberlakukan, maka menurut penulis hal tersebut harus bertolak dari ketentuan pasal 116 UU No. 09 Tahun 2004 sebagai berikut : Pasal 116 UU No. 9 Tahun 2004 berbunyi :
(1) dst. (2) Dst. (3) Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam pasal 97 ayat (9) huruf b dan c, dan kemudian setelah tiga bulan ternyata kewajibannya tersebut tidak dilaksanakannya, penggugat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) agar Pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan putusan Pengadilan tersebut. (4) Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang paksa dan/atau sanksi administratif. (5) Dst.

Berpedoman pada ketentuan pasal tersebut, maka menurut hemat penulis, pemberlakuan pengenaan uang paksa adalah sejak saat berakhirnya masa penegoran/perintah Ketua Pengadilan sebagaimana dimaksud oleh pasal 116 ayat (3) UU No. 9 Tahun 2004. (- untuk itu dalam surat perintah/Penetapan Ketua harus disebutkan limit waktu -) Jadi karena menurut gagasan ini, uang paksa tersebut dipotongkan dari gaji Tergugat setiap bulannya, maka pada hari berikutnya sejak berakhirnya masa penegoran oleh Ketua Pengadilan, Ketua Pengadilan harus segera mengirimkan surat Penetapan yang ditujukan kepada

Kepala KPN atau pejabat yang mempunyai kewenangan semacam itu, yang berisi perintah agar Kepala KPN memotong gaji Tergugat setiap bulan sebesar yang ditentukan dalam amar putusan, sampai dengan Tergugat mematuhi isi putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap tersebut. B. Sanksi Administrasi. Bagaimana menerapkan/mengaplikasikan sanksi administrasi dalam putusan hakim Peratun adalah menyangkut permasalahan permasalahan sebagai berikut : 1. Sanksi Administrasi apa saja yang dapat dijatuhkan. 2. Kepada siapa perintah penjatuhan sanksi administrasi diperintahkan. Ad. 1. Jenis Sanksi Administrasi Yang Dapat Dijatuhkan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil diatur, bahwa pelanggaran disiplin, kepadanya kepada PNS yang melakukan dapat dikenakan Hukuman

disipli/sanksi administratif antara lain berupa : a. Penurunan Pangkat. b. Pembebasan dari Jabatan. c. Pemberhentian dengan hormat. Dan d. Pemberhentian tidak dengan hormat. (lihat PP 30 Tahun 1980 dan peraturan terkait lainnya) Dari beberapa jenis sanksi tersebut sebenarnya dapat dipilih, mana yang paling tepat diterapkan dalam penjatuhan sanksi administratif. Penulis sendiri berpendapat, sanksi administratif Pembebasan dari Jabatan, adalah paling tepat, karena pada saat pejabat tidak mematuhi putusan Peradilan Peratun, maka pada saat itu ia adalah tidak mau menggunakan kewenangan jabatannya. Atau dengan kata lain pada saat itu ia sedang menggunakan jabatannya untuk melawan putusan Peradilan, sehingga adalah tepat apabila ancaman pembebasan dari jabatan diterapkan apabila seorang pejabat tidak mematuhi putusan. Ad. 2. Kepada Siapa Perintah Penjatuhan Sanksi Administrasi Diperintahkan. Analog dengan PP No. 30 Tahun 1980, maka amar putusan yang berisi Perintah penjatuhan sanksi administratif adalah ditujukan kepada Pejabat yang berwenang menghukum Tergugat.

Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana apabila yang menjadi Tergugat adalah Gubernur dan Bupati/Walikota, karena sesuai UU tentang Otonomi Daerah, secara hirarki ia tidak mempunyai atasan, sebagai pejabat yang berwenang menghukum ?. Dalam hal demikian, maka Sanksi Administratif tentunya tidak tepat untuk diterapkan. Dan Hakim dapat memilih uapaya paksa yang lain, yakni Uang Paksa atau Dwangsom. C. Pengumuman /Publikasi. Pasal 116 ayat (5) UU No. 9 Tahun 2004 berbunyi : Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan sebagaimana dimaksud ayat (4) diumumkan pada media masa cetak setempat oleh Panitera sejak tidak dipenuhinya ayat (3). Pengumuman/publikasi ini adalah upaya terakhir yang dapat ditempuh untuk memberikan tekanan psikis kepada Pejabat TUN (termasuk Pejabat TUN Daerah) apabila ia tidak melaksanakan Putusan Hakim Peratun. Ada permasalahan yang harus dijawab, berkaitan dengan penerapan Pengumuman /Publikasi, yakni menyangkut hal-hal sebagai berikut : 1. 2. Kapan Publikasi tersebut mulai dilaksanakan. Kepada siapa biaya Pengumuman dibebankan.

Ad. 1. Kapan publikasi tersebut dilaksanakan. Mengacu pada ketentuan pasal 116 UU No. 9 Tahun 2004, maka Publikasi dilaksanakan dengan sebuah Penetapan Ketua Pengadilan yang diterbitkan pada hari berikutnya setelah berakhirnya tenggang waktu peneguran/ aanmaning dari Ketua Pengadilan.(vide pasal 116 ayat 3 UU No.9 Tahun 2004). Ad. 2. Kepada Siapa Biaya Pengumuman Dibebankan. Ada beberapa kemungkinan pilihan, kepada siapa biaya pengumuman dibebankan : a. Dibebankan kepada Pemohon eksekusi/penggugat, (pilihan ini sangat mudah diterapkan karena Penggugat sangat berkepentingan terhadap eksekusi putusan, tetapi tentunya ini sangat memberatkan penggugat,) atau;

b.

Dibebankan kepada Tergugat Pribadi, karena pada hakikatnya ketidak patuhan terhadap putusan adalah bersifat pribadi Tergugat. (pilihan ini agak sulit dilaksanakan, karena pada dasarnya Tergugat memang sudah membandel, sehingga dapat dibayangkan betapa sulitnya meminta uang kepada pribadi orang yang nota bene akan diumumkan aibnya) atau;

c.

Dibebankan pada Negara/ keuangan negara. (pilihan ini mungkin dapat diterapkan, apabila ketentuan pasal 116 ayat 5 dipahami, bahwa pengumuman adalah merupakan keharusan/kewajiban Panitera apabila Tergugat tidak mematuhi Putusan Peradilan TUN. )

Penutup. Dalam pemikiran diatas, eksekusi putusan Hakim Peratun melibatkan peran aktif pejabat dari instansi lain, oleh karenanya untuk efektifitas eksekusi maka harus ada payung hukum seperti misalnya berbentuk Surat Keputusan Bersama (SKB), yang melibatkan Mahkamah Agung, Menteri Keuangan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara serta Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten dan Kota. Demikian tulisan singkat yang masih bersifat gagasan ini disusun, semoga dapat menjadi pancingan munculnya pendapat atau pemikiran lain yang lebih cerdas, sehingga diskusi yang diadakan oleh LPP-HAN pada hari ini benar-benar membuahkan hasil yang maksimal. Dan selanjutnya diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan hukum administrasi di Indonesia pada umumnya, dan lebih khusus bagi penyusunan peraturan pelaksanaan ketentuan tentang lembaga eksekusi sebagaimana diatur dalam pasal 116 UU No.9 Tahun 2004 tentang Perubahan UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Sehingga, harapan Peradilan Tata Usaha Negara menjadi sebuah lembaga kontrol ekstern (judicial control) terhadap pemerintah, sekaligus sebagai wahana perlindungan hukum bagi para pencari keadilan benar-benar menjadi kenyataan.

Daftar Bacaan. 1. Djazuli Bachar, SH. Eksekusi Putusan Perkara Perdata, Akademika Pressindo, Jakarta. 1995. 2. Indroharto, SH., Usaha Memahami Undang-undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara. (Buku I dan II). Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1994. 3. Irfan Fachrudin, DR.SH.MH. Konsekwensi Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan Pemerintah. Disertasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, 2003.

4. Lilik Mulyadi, SH. MH., Tuntutan Uang Paksa (Dwangsom) dalam Teori dan Praktik. Djambatan, Jakarta. 2001. 5. M. Yahya Harhap, SH. Ruang Lingkup Permasaalahan Eksekusi Bidang Perdata. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta ,1995. 6. Paulus Effendie Lotulung, Prof.DR.SH. Beberapa Sistem tentang Kontrol Segi Hukum Terhadap Pemerintahan, PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 1986. 7. Roihan A. Rasyid, Drs.SH. Hukum Acara Peradilan Agama, CV. Rajawali. Jakarta. 1991. 8. Retnowulan Sutanto, SH. dan Iskandar Oeripkartawinata,SH. Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek. Alumni, Bandung, 1986. 9. Kadar Slamet,SH. Kajian terhadap Beberapa Pasal UU No. 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peratun , Makalah, Semarang , 7 Juni 2004. 10. Bambang Heriyanto, SH MH. Dwangsom Pilihan Tepat Lembaga Paksa di Peratun , Makalah, Jakarta Maret 2004. 11. Bambang Heriyanto, SH.MH. Para Pejabat, this is Dwangsom, Makalah, Jakarta , Mei 2004. 12. Undang-undang RI. No. 8 Tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana. 13. Undang-undang RI. No. 5 Tahun 1986, tentang Peradilan Tata Usaha Negara. 10. Undang-undang RI. No.7 Tahun 1989, tentang Peradilan Agama.

Jakarta,

Agustus

2004.