Anda di halaman 1dari 23

Skill Lab Family Folder

Laporan Kasus Hipertensi Dengan Pendekatan Kedokteran Keluarga di Puskesmas Grogol I Juli 2013

Disediakan oleh:

NOR AIN SYAFIQAH BINTI SHOLEHUDIN


NIM: 102010378 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Kampus II: Jl. Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510 Email:doneoh_lollable@yahoo.com

BAB I : PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Di negara berkembang dan maju banyak penduduknya yang mempunyai pola konsumsi dan gaya hidup yang kurang baik bagi kesehatan. Semakin sibuk, banyak penduduk yang memakan makanan yang tidak bergizi dan bahkan makan makanan siap saji yang memungkinkan timbulnya penyakit bagi tubuh. Salah satu penyakit yang dimaksud akibat pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat adalah hipertensi. Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain meningkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.1 Kebanyakan jenis hipertensi adalah hipertensi primer sebesar 90% dari semua angka kejadian hipertensi. Sedangkan hipertensi yang lain adalah hipertensi sekunder yang disertai adanya penyakit sistemik. Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga bertambah, dimana baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada lebih dari separuh orang yang berusia > 65 tahun. Selain itu laju pengendalian tekanan darah yang dahulu terus meningkat, dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi dan pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34 % dari seluruh pasien hipertensi.2

RUMUSAN MASALAH
Masalah yang dapat dirumuskan dari kasus ini adalah: 1. Faktor-faktor resiko apa saja yang dapat ditemukan pada pasien. 2. Evaluasi terapi dalam rangka pengobatan hipertensi. 3. Bagaimana fungsi keluarga menurut ilmu kedokteran keluarga dalam mendukung penyembuhan pasien. 4. Mengetahui intervensi apa yang dapat dilakukan untuk menangani hipertensi.

TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui dan memahami tentang penyakit hipertensi dan penyebabnya serta menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara komprehensif dan menyeluruh serta peran aktif dari pasien dan keluarga. 2. Memberikan informasi dan pengetahuan mengenai bentuk pelayanan kedokteran dengan pendekatan keluarga pada penderita hipertensi. 3. Untuk memenuhi tugas Skill Lab Family Folder pada blok community medicine.

MANFAAT
Manfaat yang didapatkan dari penulisan ini adalah terhasilnya informasi atau pengetahuan mengenai pelayanan kesehatan kedokteran dengan pendekatan keluarga pada pasien hipertensi. Manfaat untuk mahasiswa pula adalah lebih memahami penyakit hipertensi bukan saja dari penyebabnya malahan dari faktor-faktor resiko serta menerapkan prinsip pelayanan kedokteran keluarga secara holistik saat melakukan observasi dan wawancara pada pasien.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


DEFINISI
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. Usia lanjut membawa konsekuensi meningkatnya morbiditas dan mortalitas berbagai penyakit kardiovaskular. Tekanan darah sistolik meningkat sesuai dengan peningkatan usia, akan tetapi tekanan darah diastolik meningkat seiring dengan TDS sehingga usia 55 tahun, yang kemudian menurun oleh karena terjadinya proses kekakuan arteri akibat aterosklerosis.1 Hipertensi diartikan sebagai peningkatan tekanan darah secara terus menerus sehingga melebihi batas normal. Tekanan darah normal adalah 110/90 mmHg. Hipertensi merupakan produk dari resistensi pembuluh darah perifer dan cardiac output.3 Hipertensi yang tidak diketahui

penyebabnya didefenisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa penulis lebih memilih istilah hipertensi primer untuk membedakannya dengan hipertensi sekunder yang diketahui sebabnya. Hipertensi Sistolik Terisolasi (HST) didefinisikan sebagai TDS 140mmHg dengan TDD <90mmHg. Keadaan ini diakibatkan oleh kehilangan elastisitas arteri karena proses menua. Kekakuan aorta akan meningkatkan TDS dan pengurangan volume aorta,yang pada akhirnya menurunkan TDD. Semakin besar perbedaan TDS dan TDD atau tekanan nadi(pulse pressure), semakin besar resiko komplikasi kardiovaskular. Tekanan nadi yang meningkat pada usia lanjut dengan HST berkaitan dengan besarnya kerusakan yang terjadi pada organ target;jantung,otak dan ginjal. Pada lansia, TDS lebih berkaitan dengan prognosis komplikasi Kardiovaskular dibanding TDD.1

KLASIFIKASI
Menurut The seventh report of the joint national committee on prevention, detection, evaluation and treatment of high blood pressure (JNC 7) klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa terbagi menjadi kelompok-kelompok seperti pada tabel 1.1 Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah Normal Prahipertensi Hipertensi derajat 1 Hipertensi derajat 2 < 120 120-139 140-159 160 <80 80-89 90-99 100 TDS (mmHg) TDD (mmHg)

TDS= Tekanan Darah Sistolik, TDD= Tekanan Darah Diastolik

EVALUASI HIPERTENSI

Evaluasi pada pasien hipertensi bertujuan untuk: 1 a. Menilai pola hidup dan identifikasi faktor-faktor risiko kardiovaskular lainnya atau menilai adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan. b. Mencari penyebab-penyebab kenaikan tekanan darah. c. Menentukan ada tidaknya kerusakan target organ dan penyakit kardiovaskular. Evaluasi pasien meliputi anamnesis, riwayat penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.

DIAGNOSIS HIPERTENSI
Diagnosis pasien hipertensi dapat dibantu oleh anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. 1. ANAMNESIS Hal-hal yang perlu ditanyakan dalam anamnesis antara lain: 2 Berapa lama menderita hipertensi Adakah penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakaian obatobat analgesic atau obat lain Adakah keluarga mempunyai riwayat menderita penyakit ginjal Apakah ada episode berkeringat, sakit kepala, kecemasan, lemah otot atau tetani Apakah ada riwayat hipertensi atau penyakit kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien Apakah pasien dan keluarganya mempunyai riwayat hiperlipidemia dan diabetes mellitus Apakah pasien mempunyai kebiasaan merokok Apakah pasien mempunyai pola hidup yang baik Bagaimana kepribadian pasien Apakah pasien sering mengalami sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan Apakah ada defisit sensoris atau mororis Apakah ada nyeri dada, sesak atau kaki bengkak

Apakah pasien sering haus, sering buang air kecil, dan adakah hematuri Apakah ada pengaruh faktor pribadi, keluarga atau lingkungan 2. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernafasan. Pengukuran tekanan darah dilakukan dua kali dengan sela waktu 1-5 menit, pengukuran tambahan dilakukan jika hasil kedua pengukuran sebelumnya sangat berbeda. Konfirmasi pengukuran pada lengan kontralateral dilakukan pada kunjungan pertama dan jika terdapat kenaikan tekanan darah. Untuk orang usia lanjut, diabetes dan kondisi lain dimana diperkirakan adanya hipotensi ortostatik, perlu dilakukan juga pengukuran tekanan darah pada posisi berdiri.1 3. PEMERIKSAAN PENUNJANG : evaluasi kerusakan organ target Pemeriksaan untuk mengevaluasi organ target antara lain:2 Jantung. Meliputi pemeriksaan fisik, foto polos dada, elektrokardiografi dan ekokardiografi. Pembuluh darah. Pemeriksaan fisik termasuk perhitungan pulse pressure, USG karotis. Otak. Pemeriksaan neurologis, CT scan dan MRI. Mata. Funduskopi. Ginjal. Pemeriksaan fungsi ginjal

ETIOLOGI
Etiologi hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:1,4 Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin - angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca interselular, dan faktor faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.

Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lainlain.

Penyebab hipertensi belum diketahui secara pasti namun para ahli mengungkapkan ada 2 faktor yang memiliki terjadinya penyakit hipertensi. a) Faktor yang tidak dapat dikontrol Keturunan Jenis kelamin Umur b) Faktor yang dapat dikontrol Umumnya berkaitan dengan gaya hidup dan pola makan, antara lain : Kegemukan Kurang olah raga Stress Konsumsi kopi Konsumsi alkohol dan merokok Konsumsi garam yang berlebihan

PATOGENESIS
Hipertensi adalah penyakit multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara faktorfaktor resiko tertentu, antara lain: a. Merokok, diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, genetik.

b. Sistem saraf simpatis. c. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi: endotel pembuluh darah berperan utama. d. Pengaruh sistem endokrin setempat yang berperan pada sistem renin, angiotensin dan aldosteron.

GEJALA KLINIS dan FAKTOR RISIKO


Hipertensi biasanya tidak bergejala pada stadium awal. Bila TD meningkat secara akut, pasien dapat mengalami epistaksis, sakit kepala, penglihatan kabur, tinnitus, pusing, defisit neurologis transien atau angina. Bila perkembangan gejala lebih lambat, pasien dapat datang dengan gejala yang berhubungan dengan kerusakan organ akhir, seperti gagal jantung kongestif, stroke, gagal ginjal, atau retinopati. Pada pasien hipertensi ada beberapa factor yang dapat memicu timbulnya penyakit ini, antara lain:2 Merokok Obesitas Kurangnya aktifitas fisik Diabetes mellitus Umur (laki-laki > 55tahun, perempuan 65 tahun) Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular premature (laki-laki < 55 tahun, perempuan < 65 tahun) 1. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding untuk hipertensi esensial bisa berupa hipertensi renovaskular, hipertensi pada penyakit ginjal, hipertensi pada penyakit jantung, hipertensi ortostatik, dan vertigo.

PENATALAKSANAAN

Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah penurunan tekanan darah sampai <140/90 mmHg, dan untuk individu berisiko tinggi (diabetes, gagal ginjal proteinuria) diusahakan mencapai target <130/80 mmHg, penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular, serta menghambat laju penyakit ginjal proteinuria.2 Pada dasarnya penatalaksanaan atau pengobatan hipertensi meliputi terapi farmakologik dan non farmakologik. Terapi non farmakologi antara lain dengan mengubah pola hidup antara lain dengan mengurangi asupan garam, alkohol, rokok, menurunkan berat badan, melakukan olah raga secara teratur, mengendalikan stress, emosi dan lebih tawakal. Dan terapi farmakologik ditentukan oleh jenis hipertensi berdasarkan faktor resiko.4 Pilihan obat yang dapat diberikan pada pasien hipertensi esensial antara lain: Hipertensi tanpa komplikasi: Diuretik, Beta bloker, penghambat kanal kalsium. Indikasi tertentu: Inhibitor ACE, penghambat reseptor, Angiostensin II, alfa bloker, beta bloker, antagonis Ca, diuretik. Indikasi yang sesuai: a. Diabetes mellitus type 1 dengan proteinuria: inhibitor ACE. b. Gagal jantung : inhibitor ACE, diuretic. c. Hipertensi sistolik terisolasi : diuretic, antagonis Ca, dihidropiridin kerja lama. d. Infark miokard : beta bloker (non-ISA), inhibitor ACE (dengan disfungsi sistolik).2,4

PEMANTAUAN
Pasien yang telah mulai mendapat pengobatan harus datang kembali untuk evaluasi lanjutan dan pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapai. Setelah tekanan darah tercapai dan stabil, kunjungan selanjutnya dilakukan dengan interval 3-6 bulan, tetapi kunjungan ini juga ditentukan oleh ada tidaknya komorbiditas seperti gagal jantung, penyakit yang berhubungan seperti diabetes, dan kebutuhan akan pemeriksaan laboratorium.2 Untuk meningkatkan kepatuhan pasien pada pengobatan dapat digunakan strategi seperti berikut: a. Empati dokter akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan pasien b. Dokter harus mempertimbangkan latar belakang budaya dan kepercayaan pasien serta sikap pasien terhadap pengobatan

c. Pasien diberi tahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang masih harus dicapai, rencana pengobatan selanjutnya serta pentingnya mengikuti rencana tersebut. Jika dalam 6 bulan target pengobatan tidak tercapai, harus dipertimbangkan untuk melakukan rujukan ke dokter spesialis. Bila selain hipertensi ada kondisi lain seperti diabetes mellitus atau penyakit ginjal, baik American DIABETES association maupun International Society of Nephrology menganjurkan rujukan kepada seorang dokter yang ahli jika laju GFR mencapai < 60ml/menit/1,73m2, atau jika ada kesulitan dalam mengatasi hipertensi dan hiperkalemia, serta rujukan kepada konsultan nefrologi jika laju GFR mencapai < 30ml/men/1,73m2, atau lebih awal jika pasien berisiko mengalami penurunan fungsi ginjal yang cepat atau diagnosis dan prognosis pasien diragukan.2

KOMPLIKASI
Komplikasi pada pasien bisa terjadi karena hipertensi bertambah berat atau tiba-tiba muncul penyakit penyerta sehingga kemungkinan diagnosisnya bisa berubah menjadi hipertensi sekunder. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain ginjal hipertensi, nefropati diabetikum yang bisa bermanifestasi pada mata, otak, serta kemungkinan terjadinya penyakit kardiovaskular.

PROGNOSIS
Prognosis pasien sebenarnya tergantung pada kepatuhan pasien untuk mengikuti pengobatan. Pada dasarnya pengobatan hipertensi berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu komunikasi dokter-pasien harus terjalin dengan baik sehingga pasien mau patuh pada pengobatan. Jika pasien mematuhi rencana pengobatan, kemungkinan untuk terjadinya komplikasi bisa dicegah sehingga dapat dikatakan prognosisnya baik.

BAB III : MATERI DAN METODE


MATERI

Materi yang dievaluasi dalam kunjungan keluarga pasien didapat dari data dari puskesmas, dan data dari pasien dan keluarga sebagai berikut : 1. Penemuan tersangka penderita hipertensi/ Case Finding hipertensi di Puskemas 2. Mengikuti alur diagnosa dokter, dan mengikuti pasien mengambil obat 3. Melakukan Kunjungan Rumah pasien 4. Mengambil data dari pasien dan keluarga 5. Mengamati lingkungan Pasien dari keluarga, dan lingkungan sekitar 6. Melakukan Anamnesa, Pemeriksaan fisik pada pasien 7. Memberi penerangan pada pasien dan keluarga mengenai sakit pasien 8. Pencatatan dan pelaporan

METODA
Melakukan pencarian pasien di puskemas, dan melakukan kunjungan rumah pasien dan hasil nya di sajikan dalam bentuk laporan kunjungan

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN


PUSKESMAS: GROGOL I Alamat No.Register : Jl. Nurdin I, No.35 : 272/12

I.

Identitas Pasien: a. Nama b. Umur c. Jenis kelamin d. Pekerjaan e. Pendidikan f. Alamat g. Telepon : Tn. Sali Ali : 64 tahun : Laki-laki : Peniaga : SD Kelas I : Jl.Semeru Raya : (-)

II. Riwayat Biologis Keluarga: a. Keadaan kesehatan sekarang b. Kebersihan perorangan c. Penyakit yang sering diderita d. Penyakit keturunan e. Penyakit kronis/menular f. Kecacatan anggota keluarga g. Pola makan h. Pola istirahat i. Jumlah anggota keluarga III. Psikologis Keluarga: a. Kebiasaan buruk b. Pengambilan keputusan c. Ketergantungan obat d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Merokok, tidur lewat malam : Bapa (Pasien) : Tidak ada : Puskesmas Grogol : baik : sedang : Pusing : tidak ada : tidak ada : cucunya fimosis : sedang : baik : 5 orang

e. Pola rekreasi IV. Keadaan rumah/lingkungan a. Jenis bangunan b. Lantai rumah c. Luas rumah d. Penerangan e. Kebersihan f. Ventilasi g. Dapur h. Jamban keluarga i. Sumber air minum j. Sumber pencemaran air k. Pemanfaatan pekarangan l. Sistem pembuangan air limbah m. Tempat pembuangan sampah n. Sanitasi lingkungan V. Spiritual Keluarga: a. Ketaatan beribadah b. Keyakinan tentang kesehatan VI. Keadaan Sosial Keluarga a. Tingkat pendidikan b. Hubungan antar anggota keluarga c. Hubungan dengan orang lain d. Kegiatan organisasi sosial e. Keadaan ekonomi

: Kurang

: semi permanen : semen : 12x12 m2 : kurang : kurang : kurang : ada : ada : air ledeng : tidak ada : tidak ada : ada : ada : kurang

: baik : baik

: sedang : baik : baik : baik : kurang

VII. Kultural Keluarga: a. Adat yang berpengaruh b. Lain-lain : Sunda : Sebelum ini sering ke orang pintar untuk

berobat. Namun, kebelakang ini pasien sudah sadar akan kepentingan pelayanan kesehatan. Oleh yang demikian, pasien sudah sering berobat ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. VIII. Daftar Anggota Keluarga No 1. 2. 3. 4. 5. Nama Sali Ali Agus Tia Rifqi Fajrian Hub dgn KK Bapa Anak Menantu Cucu Cucu Umur Pendidikan Pekerjaan 64 tahun 28 tahun 26 tahun 14 tahun 4 tahun SD Kelas 3 SMP SMP SMP Peniaga Peniaga Ibu rumah tangga pelajar : Terlampir Agama Islam Islam Islam Islam Islam Keadaan Keadaan Imunisasi KB Pil KB kesehatan gizi Sedang Baik Baik Baik Baik Sedang Baik Baik Baik Baik

IX. Keluhan Utama X. Keluhan Tambahan pendengaran kurang XI. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat alergi Riwayat hipertensi Riwayat penyakit jantung Riwayat penyakit ginjal Riwayat penyakit paru : disangkal : dibenarkan : disangkal : disangkal : disangkal

: :

Pusing Nyeri pinggang, penglihatan kabur,

Riwayat penyakit diabetes : disangkal Riwayat kecelakaan motor dua kali. XII. Pemeriksaan Fisik : a. Tekanan darah b. Nadi c. Suhu d. Pernapasan : 180/100 mmHg : 80x/menit : 37o C : 18x/menit

Palpasi : Kaki pasien tidak bengkak. Kesan bengkak hanya pada kaki yang dinyatakan kecelekaan motor. Dilakukan palpasi pada kaki dan menguji krepitasi pada kaki yang dikeluh nyeri karena kecelakaan motor. Auskultasi : Tidak ditemukan bunyi abnormal XIII. Diagnosis Penyakit: Hipertensi Esensial, karena tidak didapatkan penyakit lain sebagai penyebab hipertensi. Tn. Sali mempunyai kebiasaan merokok satu bungkus sehari sejak berusia 6 tahun. Pasien baru berhenti dua bulan yang lalu. Penglihatan pasien yang kabur bisa juga karena komplikasi akibat hipertensi yang kronik. XIV. Diagnosis Keluarga: Menurut keterangan pasien, pasien tidak mengetahui apakah orang tuanya juga menderita hipertensi. Namun pasien membenarkan bahwa adiknya juga mengalami hipertensi juga. XV. Anjuran Penatalaksanaan Penyakit: a. Promotif Penyuluhan tentang definisi hipertensi, gejala hipertensi, faktor-faktor risiko terjadinya hipertensi dan pencegahan hipertensi misal dengan penyuluhan tentang hidup sehat, kurangi makanan yang banyak mengandung garam, beraktifitas fisik, dan coba untuk tetap tidak merokok. b. Preventif Kegiatan skrining dan deteksi untuk menemukan penyakit. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan kesehatan setiap tahun agar dideteksi hipertensi atau tidak, menerapkan pola hidup sehat seperti menurunkan asupan garam,

meningkatkan konsumsi buah-buahan dan sayur, menurunkan asupan lemak, menurunkan berat badan berlebih, dan melakukan latihan fisik dan olah raga teratur. c. Kuratif Bila ditemukan kasus, maka dapat dilakukan pengobatan dini agar penyakit tersebut tidak menjadi parah. Terapi yang dapat diberikan adalah Hidroklorotiazid 1 x 25mg, atau Captopril 2 x 12,5 mg. Pasien juga sedang mengkonsumsi obat Captopril dari Puskesmas. d. Rehabilitatif Rehabilitatif adalah suatu kegiatan difokuskan kepada mempertahankan kualitas hidup penderita yang telah mengalami penyakit yang cukup berat. Pada pasien belum perlu dilakukan tindakan rehabilitatif selain pemeriksaan tekanan darah teratur ke puskesmas untuk memastikan tekanan darah dalam batas terkontrol dan untuk memeriksakan tandatanda kerusakan organ target dan komplikasi akibat hipertensi tersebut. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan mata karena menurut pasien dia sudah membuat kaca mata tetapi masih kabur. Ini adalah untuk membuang kemungkinan komplikasi hipertensi pada mata pasien dan mencari penyebab penglihatan kabur pasien.

XVI. Prognosis: a. Penyakit Bila pasien teratur meminum obat yang diberikan dan selalu memeriksa tekanan darahnya ke Puskesmas secara teratur, dan didukung dengan pola hidup sehat yang baik maka prognosis penyakit pasien adalah baik (dubia et bonam). b. Keluarga Adanya hubungan yang baik antar anggota keluarga pasien serta keluarga yang sangat mendukung kesehatan pasien dapat membuat suasana keluarga yang sehat jasmani dan rohani dan prognosisnya baik untuk pasien maupun keluarganya c. Masyarakat Untuk masyarakat sekitar pasien tinggal, karena hipertensi yang diderita pasen tidak menular, maka prognosisnya ad bonam.

XVII. Resume Telah diperiksa seorang bapak (Tn.D) berumur 64 tahun dengan keluhan pusing. Keluhan lain yang mengarah ke penyakit penyerta disangkal. Pasien tinggal di pemukiman padat penduduk yang kebersihannya kurang diperhatikan. Pasien mempunyai kebiasaan merokok yang baru berhenti dua bulan yang lalu. Pasien juga mengatakan bahwa anggota keluarganya ada yang mengalami hipertensi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan tekanan darah rutin, test darah rutin, pemeriksaan gula darah, kolesterol total serum, kolesterol HDL dan LDL. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan mata karena menurut pasien dia sudah membuat kaca mata tetapi masih kabur. Ini adalah untuk membuang kemungkinan komplikasi hipertensi pada mata pasien dan mencari penyebab penglihatan kabur pasien.

BAB V : ANALISIS KASUS


ANALISA KASUS
Seorang pasien laki-laki Tn.S umur 64 tahun datang ke Puskesmas Grogol dengan keluhan pusing. Pasien datang sendirian. Kondisi pasien tampak sehat, tidak ada demam dan keluahn lainnya. Pasien juga ada mengeluh penglihatan kabur dan riwayat kecelekaan motor dua kali. Dari pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah adalah 180/100mmHg. Tanggal 15 Juli 2013 dilakukan kunjungan rumah untuk melakukan anamnesis dan melihat kondisi rumah pasien, dari situ didapatkan keterangan bahwa Tn.S sudah menderita hipertensi sejak 3 tahun terakhir. Pasien tinggal di pemukiman padat penduduk.

RIWAYAT KELUARGA
Satu adiknya juga menghidap hipertensi dan anak laki-laki dan cucunya juga merokok. Cucunya 4 tahun menderita fimosis serta menantunya sering pusing, namun riwayat hipertensi disangkal karena tekanan darahnya dalam batasan normal.

ANALISA KUNJUNGAN RUMAH


1. Kondisi pasien Kondisi pasien dalam keadaan baik, tidak ada demam. Pasien mengeluhkan pusing, akibat hipertensi yang dideritan pasien. a) Pendidikan Pasien bersekolah sampai tingkat SD Kelas 3. Pasien menyatakan bahwa dia bisa menulis dan membaca dengan bersekolah pada waktu sore selama 1 setengah tahun. b) Keadaan rumah Lokasi : Rumah pasien terletak di pemukiman padat penduduk di pinggir kali. Jarak antara rumah yang satu dengan yang lain hanya dipisahkan oleh jalan setapak dan letaknya berdampingan antar rumah. Kondisi : Jenis bangunan rumah pasien adalah semi permanen. Rumah terbuat dari batu bata tapi tidak diplester, lantainya terbuat dari semen, beratap seng. Rumah tampak kurang bersih dan tidak rapi. Bila hujan pasien menutupi atap dengan plaster juka bocor. Luas rumah : 12x12 m2

i) Pembagian rumah Rumah pasien dibagi dengan 4 kamar tidur sebesar 2x3 m 2. Jarak antara kamar sangat sempit. Dapur diletak diluar rumah karena keterbatasan ruang. Rumah pasien juga tidak ada ruang tamu. ii) Ventilasi Tidak terdapat ventilasi pada rumah pasien. Satu-satunya jendela yang seharusnya dibuka ditutup. Satu-satunya jalan udara keluar masuk adalah melalui pintu depan dan pintu belakang. a. Pencahayaan Pencahayaan didalam rumah kurang karena tidak ada jendela.

b. Kebersihan Kebersihan dalam rumah kurang, barang-barang masih disusun bertumpuk-tumpuk. Didalam rumah masih terdapat debu karena orang tidak mencuci kaki setelah masuk rumah. Selain itu, rumah agak berbau apek karena pengaruh kurangnya pencahayaan. c. Sanitasi dasar Sumber air minum berasal dari air leding, dan air tersebut digunakan untuk keperluan memasak, mencuci dan mandi. Terdapat satu kamar mandi semi permanen dengan kakus. Bangunan kamar mandi merupakan bangunan semi permanen, dimana disebelahnya digunakan untuk tempat mencuci.

ANALISA FUNGSI KELUARGA


1. Keadaan Biologis Dalam keluarga pasien saat ini, yang menderita hipertensi adalah pasien dan adiknya yang tidak tinggal bersama. Cucunya menderita fimosis di mana salah satu penyebabnya adalah hygiene yang kurang. Namun, pihak keluarga masih belum ke dokter untuk sirkumsisi karena cucunya takut untuk disunat. 2. Keadaan Psikologis Hubungan pasien dengan semua anggota keluarga terjalin dengan baik. Semua keluarga turut bekerja sama dan pasien terlihat bahagia dengan keluarga yang dimilikinya. 3. Keadaan Sosiologis Keluarga pasien juga turut ikut serta dalam kegiatan sosial di tempat mereka tinggal, dan keluarga pasien sering berkomunikasi dengan tetangga mereka. Sebelum ini pasien sering ke orang pintar untuk berobat. Namun, pasien sudah sadar akan kepentingan pelayanan kesehatan. Oleh yang demikian, pasien sudah sering berobat ke rumah sakit dan puskesmas terdekat. 4. Keadaan ekonomi Pasien mendapatkan dana dari hasil jualan baju di kaki lima.

5. Keadaan religius Semua anggota keluarganya menjalankan ibadah mereka dengan baik. Keluarga pasien tetap mengikuti kegiatan keagamaan, seperti acara pengajian yang dilangsungkan oleh lingkungannya. Keluarga pasien juga berpuasa pada bulan puasa (Ramadhan).

BAB VI : PENUTUP
KESIMPULAN
Hipertensi merupakan penyakit multifaktorial karena banyaknya faktor resiko yang bisa menyebabkan terjadinya hipertensi. Pada usia lanjut,prevalensi gagal jantung dan strok tinggi, yang kedua tinggi ialah hipertensi. Oleh karena itu,pengobatan hipertensi yang optimal penting dalam mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskular. Diagnosis hipertensi esensial pada pasien diatas didapatkan dari pemeriksaan fisik dan anamnesis. Perilaku hidup bersih dan sehat serta diet yang seimbang membantu mencegah penyakit dari memburuk.

SARAN
1. Puskesmas Diharapkan dapat lebih sering melakukan pendekatan kepada masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan masyarakat. 2. Pasien Membicarakan masalahnya kepada orang terdekat seperti keluarga atau teman atau orang yang dipercaya, sehingga mengurangi beban pikirannya. Berusaha untuk lebih memahami penyakit yang dideritanya dan tetap menjaga kesehatan melalui pola hidup sehat dan minum obat secara teratur. Tetap rajin mengontrol kesehatannya ke pelayanan kesehatan masyarakat. dalam usaha promotif dan preventif kesehatan

DAFTAR PUSTAKA
1. Sudoyo Aru W, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed.4. Jilid I. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2007. Hal. 599-603. 2. Harrison. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Ed.13. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC; 2000. hal.1128-39. 3. Brashers V.L. Aplikasi Klinis Patofisiologi Pemeriksaan & Manajemen. Ed.2. Jakarta Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008. hal.1-3. 4. Harrison. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Ed.13. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC; 2000. hal.1128-39.

LAMPIRAN

Foto bersama Pak Sali, cucu serta menantunya.

KIRI : Satu-satunya jendela dalam rumah Pak Sali. KANAN : Kamar Pak Sali berukuran 2x3 m2

KIRI : Dapur di luar rumah

KIRI : Kamar mandi

KANAN : Luar rumah