Anda di halaman 1dari 28

FARINGITIS ET CAUSA VIRUS Magdalena Pranata 102009156 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana JL.

Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510 email : magdalena.magda85@yahoo.com

PENDAHULUAN Odinofagi atau nyeri tenggorokan merupakan gejala yang sering dikeluhkan akibat adanya kelainan atau peradangan di daerah nasofaring, orofaring dan hipofaring. Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa kurang lebih 14 cm, bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring (hipofaring). Unsur unsur faring meliputi mukosa, palut lendir dan otot. Bentuk mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Di sepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang terletak dalam rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam system retikuloendotelial. Oleh karena itu faring dapat disebut juga daerah pertahan tubuh terdepan. Ada dua ruang yang berhubungan dengan faring yang secara klinik mempunyai arti penting yaitu ruang retrofaring dan ruang parafaring. Kelenjar limfe di ruang retrofaring akan banyak menghilang pada pertumbuhan anak. Pada faring juga memiliki fungsi yang terutama ialah untuk repirasi, pada waktu menelan resonansi suara dan untuk artikulasi. Sedangkan faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (40-60%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin dan lain lain. Virus dan bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi inflamasi local. Faringitis ini banyak menyerang anak usia sekolah, orang dewasa dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi melalui secret hidung dan ludah.4,5

PEMBAHASAN SKENARIO : Seorang anak perempuan berusia 15 tahun dibawa oleh orang tuanya ke RS dengan keluhan demam, tenggorokan sakit, mata kiri merah dan merasa seperti berpasir dalam matanya selama dua hari . Dua minggu sebelumnya ia ikut camping bersama teman temannya. Menurut ibu pasien, beberapa temannya juga menderita sakit yang mirip dengan anaknya. Pada pemeriksaan tampak mata kiri merah, tenggorokan merah & teraba pembesaran kelenjar getah bening dibelakang telinganya. Pemeriksaan usap tenggorok hanya ditemukan Staphylococcus.

A. ANAMNESIS Anamnesis adalah cara pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara, baik langsung kepada pasien (autoanamnesis) maupun kepada orang tua atau sumber lain (aloanamnesis) misalnya wali atau pengantar. 3 Pada anamnesis, ditanyakan identitas pasien berdasarkan nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, agama, suku bangsa, keluhan utama, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit sekarang, riwayat kesehatan keluarga dan riwayat penyakit menahun keluarga. Anamnesis dilakukan bertujuan mengumpulkan data yang positif dan negative yang berhubungan dengan penyakit yang diderita pasien berdasarkan bagian tubuh yang sakit.

Keluhan utama yaitu keluhan paling utama yang menyebabkan pasien memutuskan untuk periksa ke dokter. Pada keluhan utama dapat ditanyakan apakah pasien mengatakan nyeri dan merasa tidak nyaman pada daerah leher. Pasien mengatakan mual dan muntah. Pasien mengatakan sakit saat menelan.

Riwayat penyakit dahulu Kapan mulai muncul gangguan tersebut, bagaimana frekuensi serangan, sifat serangan, akut/kronis/intermittent, durasinya, lama menderitanya, sifat sakitnya, sakitnya seperti apa, lokasinya, dimana letak pasti skaitnya, apakah disitu saja atau berpindah-pindah, perjalanan penyakitnya, riwayat pengobatan sebelumnya, hubungan dengan fungsi fisiologis yang lain, adakah gangguan fisiologis yang lain, yang
2

ditimbulkan oleh gangguan tidur, banyaknya keringat yang keluar dan akibat yang timbul, masih dapat bekerja, atau hanya tiduran saja. Mengkaji apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit yang sama atau yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita. Misalnya, sebelumnya pasien mengatakan pernah mengalami infeksi pada saluran tenggorokan dan pernah menjalani perawatan di RS

Riwayat penyakit sekarang Mengenai kemungkinan adanya riwayat penyakit sebelumnya. Pernakah pasien menderita keluhan yang sama di waktu-waktu dahulu, atau keluhan yang mirip dengan yang sekarang dirasakan. Mengenai kemungkinan riwayat penyakit yang pernah diderita dengan melihat diagnosis banding penyakit yang sekarang ini. Kemungkinan pasien menderita penyakit yang serius di waktu-waktu yang lain. Apakah pasien pernah dirawat inap di rumah sakit, sebelumnya.

Riwayat kesehatan keluarga Mengkaji apakah dalam keluarga pasien ada/tidak yang mengalami penyakit yang sama Menanyakan keadaan anggota keluarga mulai dari umur, jenis kelamin, keadaan kesehatan (masih hidup/ meninggal), jika masih hidup sehat/sakit apa, jika sudah meninggal apa penyebab meninggalnya.3

Anamnesis terarah yang dapat ditanyakan untuk mendiagnosa : 1. Batasan keluhan disfagia (rongga mulut, orofaring, esofagus). 2. Lama dan progresifitas keluhan disfagia. 3. Saat timbulnya keluhan disfagia dalam proses menelan (makan padat, cair, stress psikis dan fisik). 4. Keluhan penyerta : odinofagi, BB turun cepat, demam, sesak nafas, batuk, perasaan mengganjal/menyumbat di tenggorokan. 5. Penyakit penyerta : eksplorasi neurologik degeneratif, autoimun, kardiovaskuler dll. 6. Penggunaan obat-obat yang mengganggu proses menelan (anastesi,

muskulorelaksan pusat). 7. Evaluasi pola hidup, usia, hygiene mulut, pola makanan. 8. Riwayat operasi kepala dan leher sebelumnya.8

Pada skenario diatas, berdasarkan hasil anamnesis didapatkan umur pasien 15 tahun dengan jenis kelamin perempuan. Keluhan utamanya demam, tenggorokan sakit, mata kiri merah dan merasa seperti berpasir dalam matanya selama 2 hari. Menurut ibu pasien beberapa temannya juga menderita sakit yang mirip dengan anaknya saat 2 minggu sebelumnya ikut camping. Sebagai informasi tambahan didapatkan bahwa pasien pada pemeriksaan teraba pembesaran kelenjar getah beding dibelakang telinganya, pemeriksaan usap tenggorok hanya ditemukan Staphlylococcus.

B. PEMERIKSAAN FISIK Perhatikan dinding posterior faring apakah terdapat hiperremia, edema, membrane, eksudat, abses serta post nasal drips. Pada infeksi saluran napas bagian atas, biasanya dinding faring ikut terkena sehingga berwarna kemerah merahan, tetapi dari kelainan lokalnya saja tidak dapat dibedakan infeksi bakteri dengan infeksi virus.Edema faring biasanya ditandai oleh mukosa yang pucat dan sembab. Infeksi difteria memberikan bercak putih abu abu yang sulit diangkat dan bila dipaksa diangkat akan mudah berdarah (pseudomembran). Ulserasi dinding posterior faring juga dapat terlihat, misalnya pada leukemia atau pengobatan dengan sitostatika.Post nasal drips menunjukan terdapatnya infeksi pada hidung, nasofaring atau sinus paranasalis.3 Perhatikan tonsil dan nyatakan besarnya dalam T0, T1, T2 atau T3. Di samping besarnya, perhatikan adanya kripti, detritus, hyperemia, ulserasi, membrane atau bercak bercak perdarahan. Pada bayi dan ank tonsil relatif besardibandingkan dengan

rongga faring bila terdapat infeksi akan lebih membesar dan akan kembali ke ukuran semula dalam 2 3 minggu. Pada gamaglobulinemia serta malnutrisi, tonsil mungkin kecil sekali atau bahkan sama sekali tidak ada.3 Pemeriksaan fisik dapat dilakukan pada tenggorokan dan faring : 1. Inspeksi: Melihat tanda khas seperti : Mukosa faring hiperemis atau tidak, Melihat ada tidaknya granulasi, Tonsil hipertrofi, Uvula tidak membengkak dan Hiperemis. Kemudian melakukan inspeksi menyeluruh dengan melihat : a. Keadaan umum pasien. b. Pemeriksaan rongga mulut, evaluasi gerakan dan kekuatan otot mulut dan otot lidah.
4

c. Pemeriksaan orofaring, pergerakan palatum mole, sensibilitas orofaring dengan sentuhan spatel lidah, cari refleks muntah, refleks menelan, dan evaluasi suara (keterlibatan laring) d. Pemeriksaan faring-laring : gerakan pangkal lidah, gerakan arkus faring, uvula, epiglotis, pita suara, plika ventrikularis dan sinus piriformis. e. Pemeriksaan neurologi fungsi motorik dan sensorik saraf kranial. f. Periksa posisi dan kelenturan leher/tulang servikal, evaluasi massa leher, pembesaran KGB leher dan trauma.

2. Palpasi : Kelenjar limfe sering membesar pada proses kelainan di daerah laring, faring, dan rongga mulut, sehingga pemeriksaan tenggorokan tidak sempurna tanpa melakukan palpasi leher. Palpasi leher dilakukan dari belakang dan serentak dimulai dari trogonum posterior leher, menyusuri sepanjang rangkaian jugularis keatas menuju trigonum anterior leher. Untuk memudahkan palpasi otot

strenokleidomastoid perlu dikendorkan dengan menyuruh pasien menoleh kea rah sisi yang akan diperiksa. Pada pembesaran kelenjar limfe leher yang perlu diperhatikan adalah ukuran, letak, bentuk, konsistensi dan perlekatan dengan jaringan sekitarnya, juga apakah bergerak pada waktu menelan. Pada palpasi ini dilakukan untuk melihat limfonodi membesar, Nyeri pada daerah submandibularis.3

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG Diagnosis Laboratorium : a. Isolasi dan Identifikasi Bergantung pula penyakit klinis, virus dapat diperoleh dari tinja,urine, usapan tenggorokan, konjungtiva atau usapan rectum. Biakan primer sel ginjal embrio manusia merupakan sel yang paling peka, tetapi biasanya sukar diperoleh. Galur sel epitel manusia seperti HeLa dan KB, bersifat sensitif tetapi sukar untuk dipelihara tanpa adanya degenerasi dalam jangka waktu yang diperlukan (28 hari) untuk mendeteksi isolat alami yang mempunyai pertumbuhan lambat. Timbulnya efek sitopatik yang khas sel sel yang membengkak membulat dan berkelompok menunjukan adanya adenovirus pada biakan yang dinokulasi. Adenovirus meningkatkan glikolisis sel, sehingga cenderung menurunkan pH medium pertumbuhan biakan bersifat asam.
5

Isolat dapat diidentifikasi sebagai adenovirus dengan menggunakan antibody fluresensi atau uji fiksasi komplemen CF guna mendeteksi antigen khusus kelompok. Uji ini dilakukan dengan menggunakan antibody antiheksona dan cairan biakan dari sel yang terinfeksi. Uji HI dan Nt mengukur antigen antigen khusus tipe dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi serotype khusus. Karekteristik DNA virus dengan hibridasi atau pola pencernaan enzim restriksi endonuklease dapat mengidentifikasi suatu isolate sebagai adenovirus dan mengelompokannya. Cara ini sangat bermanfaat untuk tipe tipe yang sulit dibiakan. Adenovirus enteric yang sukar dibiakan dapat dideteksi melalui pemeriksaan langsung ekstra tinja pada mikroskop electron atau dengan ELISA. Walaupun sukar, virus virus ini dapat diisolasi dari galur sel ginjal embrio manusia yang ditransformasi dengan fragmen DNA adenovirus. Karena adenovirus dapat bertahan pada usus dan jaringan limfoid dalam waktu lama dank arena peluruhan virus yang baru keluar dapat diendapkan oleh infeksi lain, kemaknaan isolasi virus harus ditafsirkan dengan hati hati. Ditemukannya virus pada mata, paru-paru atau saluran kelamin merupakan diagnosis infeksi yang sedang berlangsung. Isolasi virus dari infeksi yang sedang berlangsung. Isolasi virus dari sekresi tenggorokan penderita penyakit pernapasan dapat dianggap relevan untuk penyakit klinis. Isolasi virus dari bahan tinja tidak menyakinkan, kecuali bilas salah satu dari tipe yang sukar dibiakan ditemukan pada penderita gastroenteritis. 1 Tabel.1 Penyakit penyakit yang berhubungan dengan adenovirus manusia.1 Kelompok B Tipe Utama 3,7,14 7,14,21 3,7 11,21 34,35 1,2,5,6 8,19,37 4 40,41 Penyakit Demam faringokonjungtiva Penyakit pernapasan akut Pneumonia Sistitis berdarah Pneumonia yang menyebar, menetap di saluran kemih Demam faringitis akut pada anakkecil, infeksi laten pada jaringan kelenjar getah bening Epidemi keratokonjungtivitis radang servik, radang saluran kemih Penyakit pernapasan akut disertai demam, pneumonia Gastroenteritis

C D E F b. Serologi

Terinfeksinya manusia oelh salah satu tipe adenovirus merangsang munculnya antibody pengikat komplemen munculnya antibody pengikat komplemen terhadao
6

antigen kelompok adenovirus yang memiliki oleh semua tipe. Uji fiksasi komplemen CF merupakan cara yang mudah diterapkan untuk mendeteksi infeksi oleh semua kelompok adenovirus. Terjadinya peningkatan titer antibody pengikat komplemen sebanyak empat kali atau lebih pada serum antara fase akut dan fase penyembuhan menunjukan adanya infeksi adenovirus yang baru terjadi, walaupun tipe yang menginfeksi tidak dapat diketahui. Bila diperlukan identifikasi khusus respons serologi penderita, dapat digunakan uji Nt atau HI. Pada kebanyakan kasus, titer antibody netralisasi penderita memperlihatkan kenaikan sebanyak empat kali atau lebih terhadap tipe adenovirus yang ditemukan pada penderita.1

D. WORK DIAGNOSIS

Gbr 1. Fringitis Virus10 Adenoviruses adalah DNA virus (menular kecil agen) yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas, konjungtivitis, dan infeksi lain pada manusia. Adenoviruses ditemukan pada tahun 1953. Tentang 47 berbeda jenis telah diidentifikasi sejak itu, dan tentang setengah dari mereka yang diyakini menyebabkan penyakit manusia. Bayi dan anak-anak yang paling sering dipengaruhi oleh adenoviruses. Infeksi adenovirus dapat terjadi sepanjang tahun, tapi tampaknya paling umum dari jatuh ke musim semi. Adenoviruses bertanggung jawab selama 3-5% dari pernapasan akut infeksi pada anak-anak dan 2% dari penyakit pernafasan pada orang dewasa sipil. Mereka lebih cenderung menyebabkan infeksi HIV di kalangan militer dan merekrut orang-orang muda lainnya yang tinggal di lingkungan kelembagaan. Wabah antara anak-anak sering dilaporkan di sekolah-sekolah asrama dan kamp musim panas.
7

Sebagian besar anak telah terinfeksi setidaknya satu adenovirus pada saat mereka mencapai usia sekolah. Paling orang dewasa telah memperoleh kekebalan terhadap beberapa adenovirus karena infeksi mereka sebagai anak-anak jenis. Dalam salah satu modus infeksi adenovirus (disebut litik infeksi karena itu merusak sejumlah besar sel), adenoviruses membunuh sel-sel sehat dan bereplikasi sampai satu jutabaru virus per sel membunuh (yang 1-5% yang menular).Orang dengan infeksi semacam ini merasa sakit. Di infeksi kronis atau laten, sejumlah lebih kecil dari virus yang dilepaskan dan sel-sel sehat dapat berkembang biak lebih cepat daripada mereka hancur. Orang-orang yang memiliki jenis infeksi tampaknya tidak menjadi sakit. Ini mungkin mengapa banyak orang dewasa memiliki kekebalan untuk adenoviruses tanpa menyadari bahwa mereka telah terinfeksi.1,6 Infeksi pada anak-anak, adenoviruses paling sering menyebabkan akut infeksi pernafasan atas dengan demam dan hidung meler. adenovirus tipe 1, 2, 3,5, dan 6 yang bertanggung jawab untuk sebagian besar infeksi ini. Kadang-kadang lebih serius penyakit pernapasan yang lebih rendah, seperti pneumonia, mungkin terjadi. Adenoviruses juga menyebabkan pharyngoconjunctival akut demam pada anak-anak. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh jenis 3 dan 7. Gejala yang muncul tiba-tiba dan biasanya menghilang dalam waktu kurang dari satu minggu, meliputi: radang pada selaput kelopak mata (conjunctivitis), demam, sakit tenggorokan (faringitis), radang kelenjar getah bening di leher (leher rahim adenitis). Dewasa infeksi ada orang dewasa, yang paling sering dilaporkan adenovirus infeksi adalah penyakit pernapasan akut (ARD, yang disebabkan oleh tipe 4 dan 7) dalam merekrut militer. Seperti gejala influenza termasuk demam, sakit tenggorokan (faringitis),pilek, dan batuk hampir selalu hadir; kelemahan, menggigil, sakit kepala,dan kelenjar getah bening di leher juga dapat terjadi. Gejala biasanya berlangsung tiga sampai lima hari. Epidemi keratoconjunctivitis (EKC, disebabkan oleh adenovirus tipe 8, 19, dan 37) pertama kali terlihat pada galangan kapal pekerja yang matanya sudah agak terluka oleh chip dari karat atau cat. Ini peradangan jaringan yang melapisi kelopak mata dan menutupi bagian depan bola mata juga dapat disebabkan oleh penggunaan solusi lensa kontak terkontaminasi atau dengan mengeringkan tangan atau wajah dengan handuk yang digunakan oleh seseorang yang mengalami infeksi ini. Kemudian radang kelopak mata karakteristik konjungtivitis mengembangkan 4-24 hari setelah terkena dan terakhir antara satu dan empat minggu. Hanya 5-8% dari pasien dengan keratoconjunctivitis pengalaman epidemi pernafasan gejala. Satu atau kedua mata mungkin akan terpengaruh. Sebagai gejala dari surut konjungtivitis, sakit mata dan
8

penyiraman mengembangkan visi dan kabur. Ini gejala keratitis dapat berlangsung selama beberapa bulan, dan sekitar 10% dari infeksi menyebar ke paling sedikit satu anggota lain dari pasien rumah tangga.1,8 Adenovirus dapat bereplikasi dan menyebabkan penyakit pada mata, saluran pernafasan, saluran pencernaan dan saluran kemih. Kebanyakan infeksiadenovirus bersifatsubklinikdan virus dapat menetap pada inang selama berbulan bulan. Sekitar sepertiga dari 41 serotipe manusia yang telah diketahui menyebabkan penyakit penyakit adenovirus pada manusia.1,7 Faringitis virus biasanya merupakan penyakit dengan awitan relatif lambat, umumnya terdapat demam, malaise, penurunan nafsu makan disertai rasa nyeri sedang pada tenggorokan sebagai tanda dini. Rasa nyeri pada tenggorokan dapat muncul pada awal penyakit tetapi biasanya baru mulai terasa satu atau dua hari setelah awitan gejala gejala dan mencapai puncaknya pada hari ke 2 3. Suara serak, batuk dan rhinitis juga sering ditemukan. Walau pada puncaknya sekalipun, peradangan faring mungkin berlangsung ringan tetapi kadang kadang dapat terjadi begitu hebat serta ulkus ulkus kecil mungkin terbentuk pada langit langit lunak dan dinding belakang faring. Eksudat eksudat dapat terlihat pada folikel folikel kelenjar limfoid langit langit dan tonsil serta sukar dibedakan dari eksudat eksudat yang ditemukan pada penyakit yang disebabkan oleh streptokokus. Biasanya nodus nodus kelenjar limfe servikal akan membesar, berbentuk keras dan dapat mengalami nyeri tekan atau tidak. Keterlibatan laring sering ditemukan pada penyakit ini tetapi trakea, bronkus bronkus dan paru paru jarang terkena. Jumlah lekosit berkisar dari 6000 hingga lebih dari 30.000, suatu jumlah yang meningkat (16.000-18.000) dengan sel sel polimorfonuklir menonjol merupakan hal yang sering ditemukan pada fase dini penyakit tersebut. Karena itu jumlah lekosit hanya kecil artinya dalam melakukan pembedaan antara penyakit yang disebabkan oleh virus dengan bakteri seluruh masa sakit dapat berllangsung kurang dari 24 jam dan biasanya tidak akan bertahan lebih lama dari 5 hari. Konjungtivitis, rinitis, batuk, dan suara serak dapat terjadi pada faringitis yang adanya dua atau lebih banyak lagi tanda-tanda atau gejala-gejala ini memberikan petunjuk pada diagnosis infeksi virus.1,7,8,9

E. DIFERNSIAL DIAGNOSIS 1. Faringitis et bakteri A. Definisi Faringitis bacterial adalah suatu peradangan pada tenggorokan (faring) yang disebabkan oleh streptococcus hemolitikus.7

Gbr 2. Faringitis bakterial10 B. Etiologi Bakteri yang menyebabkan faringitis adalah streptokokus grup A, steptokokus hemolitikus, korinebakterium, arkanobakterium, Neisseria gonorrhoeae atau Chlamydia pneumoniae. C. Gejala Baik pada infeksi virus maupun bakteri, gejalanya sama yaitu nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Selaput lendir yang melapisi faring mengalami peradangan berat atau ringan dan tertutup oleh selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah. Gejala lainnya adalah: - demam - pembesaran kelenjar getah bening di leher - peningkatan jumlah sel darah putih. Gejala tersebut bisa ditemukan pada infeksi karena virus maupun bakteri, tetapi lebih merupakan gejala khas untuk infeksi karena bakteri.7,8 D. Jenis faringitis

Tabel. 2 Jenis faringitis11


10

Faringitis Virus Biasanya tidak ditemukan nanah di tenggorokan Demam ringan atau tanpa demam Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat Kelenjar getah bening normal atau sedikit membesar Tes apus tenggorokan memberikan hasil negative Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh bakteri

Faringitis Bakteri Sering ditemukan nanah di tenggorokan Demam ringan sampai sedang Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang Pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah bening Tes apus tenggorokan memberikan hasil positif untuk strep throat Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium

E. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Jika diduga suatu strep throat, bisa dilakukan pemeriksaan terhadap apus tenggorokan. F. Pengobatan Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik), obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berusia dibawah Jika 18 tahun karena bisa adalah menyebabkan bakteri, sindroma Reye.

diduga

penyebabnya

diberikan

antibiotik.

Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita memiliki alergi terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.7,8

11

2. Tonsilo Faringitis A.Definisi Tonsilofaringitis adalah peradangan pada tonsil dan faring yang masih bersifat ringan. Radang faring pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis.Tonsilofaringitis akut merupakan faringitis akut dan tonsilitis akut yang ditemukan bersama sama. 2 B.Etiologi Penyebab tonsilofaringitis bermacam macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini yaitu : 1.Streptokokus Beta Hemolitikus 2.Streptokokus Viridans 3.Streptokokus Piogenes 4.Virus Influenza Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections ) C.Patofisiologi Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia. D. Manifestasi klinik Tanda dan gejala tonsilofaringitis akut adalah : 1.nyeri tenggorok 2.nyeri telan 3.sulit menelan 4.demam 5.mual
12

6.anoreksia 7.kelenjar limfa leher membengkak 8.faring hiperemis 9.edema faring 10.pembesaran tonsil 11.tonsil hiperemia 12.mulut berbau 13.otalgia ( sakit di telinga ) 14.malaise E. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilofaringitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi : 1.Leukosit : terjadi peningkatan 2.Hemoglobin : terjadi penurunan 3.Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat F. Komplikasi Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilofaringitis akut tidak tertangani dengan baik adalah : 1.tonsilofaringitis kronis 2.otitis media G. Penatalaksanaan Penanganan pada anak dengan tonsilofaringiti adalah : 1.penatalaksanaan medis antibiotik baik injeksi maupun oral seperti cefotaxim, penisilin, amoksisilin, eritromisin dll antipiretik untuk menurunkan demam seperti parasetamol, ibuprofen. analgesik 2.penatalaksanaan keperawatan kompres dengan air hangat istirahat yang cukup pemberian cairan adekuat, perbanyak minum hangat kumur dengan air hangat pemberian diit cair atau lunak sesuai kondisi pasien.2,7,8

13

3.

Laringitis A. Definisi Laringitis adalah peradangan pada laring (pangkal tenggorok). Laring terletak di puncah saluran udara yang menuju ke paru-paru (trakea) dan mengandung pita suara. B. Penyebab Penyebab yang paling sering adalah infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas (misalnya common cold). Laringitis juga bisa menyertai bronkitis, pneumonia, influenza, pertusis, campak dan difteri. Laringitis bisa terjadi akibat: Penggunaan suara yang berlebihan Reaksi alergi Menghirup iritan (misalnya asap rokok).

C. Gejala Gejala biasanya berupa perubahan suara berupa serak sampai hilangnya suara. Tenggorokan terasa gatal dan tidak nyaman. Gejala lainnya yang juga bisa ditemukan: demam tidak enak badan kesulitan menelan sakit tenggorokan. Pembengkakan laring menyebabkan terjadinya gangguan pernafasan.

D. Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Dengan cermin kecil bersudut seperti yang digunakan dokter gigi, dokter bisa melihat kemerahan dan pembengkakan pada laring. E. Pengobatan Pengobatan pada infeksi oleh virus tergantung kepada gejalanya. Penderita sebaiknya mengistirahatkan pita suaranya dengan tidak bicara atau bicara dengan berbisik. Menghirup uap bisa meringankan gejala dan membantu penyembuhan daerah yang meradang. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik.2,6,7
14

4. Tracheitis A. Definisi Tracheitis bakteri paling sering disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Sering mengikuti infeksi saluran pernapasan atas virus baru. Ini mempengaruhi kebanyakan anak-anak muda, mungkin karena trakea yang kecil mudah diblokir oleh pembengkakan. B. Gejala * Jauh batuk (mirip dengan yang disebabkan oleh croup) * Kesulitan bernapas * Demam tinggi * Tinggi bernada suara napas (stridor) C. Pemeriksaan Penyedia perawatan kesehatan akan melakukan pemeriksaan fisik dan mendengarkan paru-paru anak. Otot-otot antara tulang rusuk mungkin menarik sebagai anak mencoba untuk bernapas. Ini disebut retraksi interkostal. Tes yang mungkin dilakukan untuk mendiagnosa kondisi ini meliputi: * Kadar oksigen darah * Nasofaring budaya untuk mencari bakteri * Trakea budaya untuk mencari bakteri * X-ray dari trakea D. Pengobatan Anak sering perlu memiliki tabung ditempatkan ke dalam saluran udara untuk membantu pernapasan. Ini disebut tabung endotrakeal.

Anak akan menerima antibiotik melalui vena. Tim perawatan kesehatan akan terus memantau pernapasan anak dan menggunakan oksigen, jika diperlukan. Prognosis Dengan pengobatan yang tepat, anak harus pulih. Kemungkinan Komplikasi * Obstruksi jalan napas - dapat menyebabkan kematian.2,7,9

15

F. ETIOLOGI Faringitis bisa disebabkan oleh virus maupun bakteri. Kebanyakan disebabkan oleh virus, termasuk virus penyebab common cold, flu, adenovirus, mononukleosis atau HIV. Namun yang akan dibahas pada pembahasan kali ini adalah virus adenovirus yang merupakan penyebab faringitis yang berdasarkan pada pemhaasan kasus.1 Pada faringitis penyebabnya bias virus maupun bakteri dengan gejala yang sedikit berbeda satu dengan yang lain, seperti:
-

Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat

Coxachievirus dapat menimbulkan lesi vaskuler di orofaring dan lesi berupa maculopapular rash

Adeovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan konjungtivitis terutama pada anak.

Epstein Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa diseluruh tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali.

Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimbulkan keluhan nyeri tenggorokan,nyari menelan, mual dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah. Adenovirus menyebabkan 5-8% peyakit pernafasan akut pada bayi, ditambah

susunan yang lebar sindrom lain termasuk demam faringokonjungtiva, konjungtiva folikulitis, keratosusepsi dan enselomielitis. Hanya sepertiga dari 37 serotipe plus yang telah dihubungkan dengan penyakit. Walaupun kematian jarang, mereka dihubungkan dengan infeksi oleh serotype tertentu (terutama tipe 7) dan dengan infeksi pada hospes terganggu imun berat. Adenovirus adalah virus DNA double stranded, linier 26-45kbp, terdapat protein pada ujung-ujung rantainya, ukuran sedang yang diklasifikasikan menjadi subgena A sampai G. Tipe 1-39 ada dalam subgena A sampai E. tipe 40 adalah subgenus F dan tipe 41 adalah subgenus G. Virion mempunyai pembungkus ikosahedral,terdiri 252 capsomer dengan serabut menonjol pada tiap vertex yang tersusun dari berbagai antigen penting yaitu hexon, penton base, serabut (merupakan
16

struktur kapsid). Virus ini memiliki envelop (-) dan bereplikasi dengan virus. Antigen biasa yang bereaksi silang dengan semua adenovirus mamalia. penton memberi spesifikasi tipe dan antibody terhadapnya adalaah protektif. Pepton ini juga sitotoksik pada biakan jaringan dan sifat toksik telah dianggap berasal darinya juga in vivo. Adenovirus memiliki klasifikasi yaitu: Aviadenovirus yaitu yang menginfeksi burung Mastadenovirus yang menginfeksi pada mamalia termasuk manusia, pada manusia ada 51 serotipe. Adenovirus pada manusia ada 6 grup (A-E) yang digolongkan berdasarkan sifat fisik, kimia dan biologinya yang dimana dapat menimbulkan aglutinasi pada eritrosit monyet dan tikus. Adenovirus bereplikasi hanya dalam sel yang berasal dari epitel attachment.8 Virus melekat melalui serabut(fiber) pada reseptor sel hospes, pada beberapa serotype pada CAR (Coxsackie-Adenovirus Reseptor).1

G. EPIDEMIOLOGI Adenovirus terdapat di seluruh dunia. Adenovirus terdapat sepanjang tahun dan tidak menyebabkan wabah penyakit di masyarakat . Penyebaran adenovirus terutama melalui jalur oral, tinja, tetapi dapat juga ditularkan melalui droplet pernapasan atau lewat benda benda terkontaminasi. Infeksi mata dapat ditularkan melalui beberapa cara, tetapi penularan melalui beberapa cara, tetapi penularan dari tangan ke mata sangat penting. Berjangkitnya konjungtivitis kolam renang tampaknya melalui air, biasanya terjadi pada musim panas dan umumnya disebabkan oleh tipe 3 dan 7.Keratokonjungtivitis epidemic adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh tipe 8 dan menyebar dari Australia melalui kepulawan hawai ke pantai [asifik pada tahun 1941. Penyakit ini menyebar dengan cepat melalui lewat galangan kappa dan terus ke AS. Di AS, insiden antibody netralisasi terhadap tipe 8 pada populasi umum sangat rendah sekitar 1 %, sedang di Jeepang insidennya di atas 30%. Baru baru ini, adenovirus tipe 19 dan 37 yang khas. Wabah konjungtivitis di antara para penderita yang menjalani prosedur mata yang dilakukan oleh seorang oftalmologi, diduga disebabkan oleh cairan oftalmik atau alat alat diagnostic yang terkontaminasi.1 Insiden infeksi adenovirus yang terlihat pasa peenderita pencangkokan sumsum sekitar 5 %. A ngka ini lebih rendah dari insiden yang sebenarnya karena ketiadaan
17

penelitian serologi dan metode yang peka untuk isolasi virus secara rutin. Distribusi serotype yang ditemukan pada penderita pencangkokan berbeda nyata dengan distribusi serotype yang ditemukan pada penderita pencangkokan berbeda nyata dengan distribusi serotype yang ditemukan pada masyarakat, tetapi penyakit mungkin lebih serius. Tipe 34 dan 35 merupakan tipe yang paling sering ditemukan dan dilaporkan terdapat pada penerimaan cangkok ginjal dan pada urine penderita AIDS. Sumber infeksi yang paling mungkin pada penderita pencangkokan adalah pengaktifan kenbali virus endogen.10 Faringitis terjadi pada semua umur dan tidak dipengaruhi jenis kelamin, tetapi frekuensi yang paling tinggi terjadi pada anak-anak. Faringitis akut jarang ditemukan pada usia di bawah 1 tahun. Insidensinya meningkat dan mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, tetapi tetap berlanjut sepanjang akhir masa anak-anak dan kehidupan dewasa. Kematian yang diakibatkan faringitis jarang terjadi,tetapi dapat terjadi sebagai hasil dari komplikasi penyakit ini. Faktor predesposisi penyebab faringitis yaitu udara yang dingin, turunnya daya tahan tubuhyang disebabkan virus influenza, konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan, gejala predormal dari penyakit scarlet fever dan seseorang yang tinggal dilingkungan kita yang menderita sakit tenggorokan atau demam.12

H. PATOFISIOLOGI Adenovirus menginfeksi sel sel epitel faring selaput mata, usus kecil dan kadang kadang system organ lainnya. Biasanya virus ini tidak sampai menyebar di luar daerah getah bening. Virus virus kelompok C menetap sebagai infeksi laten pada kelenjar adenoid dan tonsil selama bertahun tahun dan dikeluarkan melalui tinja selama berbulan bulan setelah dimulainya infeksi. Biakan sel jangka panjang secara in vivo memungkinkan virus untuk tumbuh, tetapi tidak dapat diisolasi langsung dari suspensi jaringan. Sesungguhnya, nama adenovirus mencerminkan ditemukannya isolate pertama virus dari eksplan adenoid manusia.1 Sebagian besar adenovirus manusia tumbuh pada epitel usus setelah tertelan, tetapi biasanya lebih menghasilkan infeksi subklinik daripada gejala atau lesi. Penularan terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat
18

hiperemi, kemudian oedem dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi, pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning, putih, atau abu-abu terdapat pada folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior atau terletak lebih ke lateral menjadi meradang dan membengkak sehingaa timbul radang pada tenggorok atau faringitis. 1 Sebagian besar adenovirus pada manusia timbul pada epitel usus setelah tertelan, tetapi biasanya lebih menghasilkan infeksi subklinis dari pada gejala atau lesi.9Adenovirus berkembang biak dengan baik hanya pada sel yang berasal dari sel epitel. Siklus replikasi adenovirus berupa:

a. Pelekatan virus, penetrasi, dan pelepasan selubung Virus melekat pada sel melalui struktur serabut. Partikel virus kemudian masuk kedalam sel; interaksi basa pepton dengan integrin seluler mengikuti pelekatan yang di dahului dengan langkah internalisasi. Pelepasan selubung dimulai dengan sitoplasma dan berakhir di dalam inti. Pelepasan selubung merupakan proses berurutan yang tersusun, yang secara sistemik memecahkan interaksi stabil yang telah terjadi selama pematangan pertikel virus.

b. Tahap dini Langkah yang terjadi sebelum dimulainya sintesis DNA virus disebut tahapa dini. Segera setelah infeksi sintesis makromolekul inang dihambat oleh suatu mekanisme yang belum diketahui, yang mengenai produk gen awal virus. Pengehentian sintesis protein inang terjadi sangat cepat dan tidak diragukan lagi merupakan penyebab kematian sel yang terinfeksi. Protein penyandi daerah E1B yang menghalangi kematian sel (apoptosis) yang terjadi akibat fungsi E1A; ini diperlukan untuk mencagah kematian sel premature yang akan menghasilkan virus dengan pengaruh tambahan.

c. Replikasi DNA virus dan tahap lanjut Replikasi DNA virus berlangsung di dalam inti. Protein termini yang terikat secara kovalen dan disandikan oleh virus berfungsi sebagai primer untuk melalui sintesa DNA virus. Tahap lanjur dimulai bersamaan dengan dimulainya sintesa DNA virus. Gen lanjut (L) yang menyediakan protein-protein structural virus ditranskripsi,
19

diproses, dan dikirim kedalam sitoplasma. Sintesis protein virus terjadi di sitoplasma. Walaupun gen-gen inang terus di transkripsi di dalam inti laa setelah infeksi, beberapa urutan genetic inang dipindahakan ke dalam sitoplasma.

d. Pematangan virus Morfologi terjadi didalam inti, tetapi langkah awal proses perakitan dimulai di sitoplasma. Polipeptida yang baru disintesis di rakit menjadi kopsomer di dalam sitoplasma. Kopsomer merakit diri menjadi cangkang kosong kapsid sidalam inti sel. DNA telanjang kemudian memasuki kapsid yang telah dibentuk dengan mekanisme yang belum diketahui, diikuti oleh precursor protein inti virus. Selanjutnya precursor protein inti memisah menyebabkan konfigurasi partikel merapat dan beberapa atau semua pentona ditambahakan kedalam konfigurasi ini. Partikel yang matang kemudian menjadi stabil, bersifat infeksius dan tahan terhadap nuclease.

e. Pengaruh virus terhadap sel Adenovirus bersifat sitopatik terhadap biakan sel manusia terutama biakan ginjal dan biakan sel epitel. Pertumbuhan virus pada biakan jaringan berhubungan dengan oroduksi asam (naiknya oeristiwa glikolisis) pada tahap awal infeksi. Efek sitopatik biasanya meliputi pembulatan, pembesaran dan agregasi sel yang terinfeksi membentuk rangkaian seperti anggur. Sel-sel yang terinfeksi tidak mengalami lisis walaupun sel-sel tersebut menjadi bulat dan terlepas dari permukaan gelas tempat tumbuhnya. Klasifikasi berdasarkan lama berlangsungnya terdiri atas faringitis akut, adalah radang tenggorok yang disebabkan oleh virus dan bakteri yaitu streptokokus grup A dengan tanda dan gejala mukosa dan tonsil yang masih berwarna merah, malaise, nyeri tenggorok dan kadang disertai demam dan batuk.Faringitis ini terjadinya masih baru,belum berlangsung lama. Faringitis kronis, radang tenggorok yang sudah berlangsung dalam waktu yang lama, biasanya tidak disertai nyeri menelan, cuma terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorok.Faringitis kronis umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja atau tinggal dalam lingkungan berdebu,menggunakan suara berlebihan, menderita batu kronik, dan kebiasan menkonsumsi alcohol dan tembakau.Faringitis kronik dibagi menjadi 3, yaitu: Faringitis hipertrofi,ditandai dengan penebalan umum dan kongesti membrane mukosa, Faringitis atrofi kemungkinan merupakan tahap lanjut dari jenis
20

pertama (membrane tipis, keputihan,licin dan pada waktunya berkerut), Faringitis granular kronik terjadi pembengkakan folikel limfe pada dinding faring. Berdasarkan agen penyebab faringitis virus biasanya tidak ditemukan nanah di tenggorokan, Demam ringan atau tanpa demam, Jumlah sel darah putih normal atau agak meningkat, Kelenjar getah bening normal atau sedikit membesar, Tes apus tenggorokan memberikan hasil negative, Pada biakan di laboratorium tidak tumbuh bakteri. Faringitis bakteri sering ditemukan nanah di tenggorokan, Demam ringan sampai sedang, Jumlah sel darah putih meningkat ringan sampai sedang Pembengkakan Tes apus ringan sampai sedang pada kelenjar untuk getah bening

tenggorokan

memberikan

hasil

positif

streptococcus

Bakteri tumbuh pada biakan di laboratorium.10,11,12

I. MANIFESTASI KLINIK Hubungan antara adenovirus manusia dengan penyakit klinik sekitar sepertiga dari serotype manusia yang dikenal merupakan penyebab penyakit pada manusia. Harus diperhatikan bahwa satu serotype dapat menyebbabkan penyakit klinik yang berbeda dan sebaliknya, penyakit klinik yang sama dapat disebabkan oleh lebih dari satu tipe. Adenovirus 1 7 merupakan tipe yang umum ditemukan di seluruh dunia dan berperan pada sebagian besar penyakit yang berhubungan dengan adenovirus.1 Adenovirus bertanggung jawab terhadap sekitar 5% penyakit pernapasan akut pada anak anak, tetapi peranannya berkurang pada orang dewasa. Adenovirus kadang kadang menyebabkan penyakit pada organ lain, terutama mata dan saluran pencernaan. Penyakit Pernapasan : Gejala khususnya berupa batuk keluar cairan hidung, sakit kepala dan koriza, tetapi juga dapat disertai gejala sistemik berupa demam, rasa dingin, lemah dan mialgia. Empat sindroma infeksis aluran napas telahdihubungkan dengan infeksi adenovirus. 1. Demam faringitis akut : terutama terjadi pada bayi dan anak anak, sindroma ini biasanya menyangkut virus kelompok C. Gejalanya meliputi batuk, hidung tersumbat, demam dan sakit tenggorokan. Beberapa kasus sulit dibedakan dengan infeksi pernapasan ringan yang disebabkan oleh virus lain yang mungkin memperlihatkan gejala serupa.1 2. Demam faringokonjungtiva : gejalanya serupa dengan demam faringitis akut, tetapi juga terjadi radang selaput mata (konjungtivitis). Demam

faringokonjungtiva cenderung terjadi sebagai wabah, seperti pada perkemahan


21

musim panas anak anak (konjungtivitis kolam renang). Virus kelompok B, terutama tipe 3, 7 dan 14 paling banyak berperan.1 3. Penyakit pernapasan akut : sindroma ini biasanya ditandai oleh radang faring, demam, batuk dan rasa lemah. Penyakit ini terjadi dalam bentuk epidemic di antara para calon tentara yang berada pada kondisi lemah dan berdesakan setelah induksi. Penyakit ini disebabkan oleh tipe 4 dan 7 dan kadang kadang tipe 3.1 4. Pneumonia : akibat adenovirus merupakan komlikasi dari penyakit pernapasan akut pada calon tentara. Anak anak juga dapat terserang pneumonia yang parah dan kadang kadang fatal setelah terinfeksi oleh tipe tipe yang umum terdapat, terutama tipe 3 dan 7. Pneumonia akibat adenovirus dilaporkan mencapai tingkat kematian 8 10 % pada kelompok usia yang sangat muda.1 Infeksi Mata : Penyakit mata ringanmungkin merupakan salah satu sindroma faringitis pernapasan yang disebabkan oleh adenovirus. Biasanya terjadi penyembuhan sempurna tanpa ada efek berikutnya. Konjungtivitis kolam renang dapat disebabkan oleh adenovirus kelompok B, khususnya tipe 3 dan 7. Konjungtivitis folikuler yang disebabkan oleh berbagai tipe adenovirus menyerupai konjungtivitisyang disebabkan oleh klamidia dan dapat sembuh dengan sendirinya. Penyakit yang lebih berbahaya adalah keratokonjungtivitis epidemic. Penyakit ini sangat menular dan ditandai oleh konjungtivitis akut,dengan pembesaran nodus preaurikular, diikuti oleh keratitis yang meninggalkan kabut subepitelberbentuk bundar pada kornea selama lebih dari 2 tahun. Penyakit ini disebabkan oleh adenovirus 8, 19 dan 37.1 Penderita faringitis biasanya menunjukan gejala-gajala sebagai berikut :
-

sakit pada tenggorokan tenggorokan terasa tersumbat secara konstan sakit dan terasa sukar saat menelan, menelan ludah biasanya lebih sakit daripada menelan makanan.

Suara menjadi serak dan menjadi batuk Mulut berbau kurang sedap Demam, sakit kepala,
22

sakit pada otot dan sendi, keluar ingus. Sebagai akibat dari faringitis dapat pula muncul gejala-gejala seperti pembengkakan kelenjar getah bening di leher, panas demam, muntah-muntah, dan lain-lain. radang tenggorokan/fringitis biasanya berlangsung sekitar 3-10 hari.

Pada pemeriksaan, akan terlihat faring berwarna kemerahan dan meradang. Faringitis yang disebabkan bakteri biasanya menyebabkan pengeluaran cairan yang berlebihan.

J. PENATALAKSANAAN Pengobatan infeksi adenovirus biasanya mendukung dan ditujukan untuk menghilangkan gejala penyakit. Istirahat di tempat tidur mungkin dianjurkan bersama dengan obat untuk mengurangi demam dan / atau sakit. (Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak karena kekhawatiran tentang sindrom Reye's.) infeksi mata dapat mengambil manfaat dari kortikosteroid topical untuk mengurangi gejala dan memperpendek perjalanan penyakit. Rawat inap biasanya diperlukan untuk pneumonia beratpada bayi dan untuk EKC (untuk mencegah kebutaan). Tidak obat antivirus yang efektif telah dikembangkan.9 Untuk mengurangi nyeri tenggorok dapat diberikan obat antinyeri (analgetik) seperti asetaminofen, obat hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak-anak dan remaja yang berusia dibawah 18 tahun karena bisa menyebabkan sindroma Reye. Untuk menghindari iritasi lebih lanjut pada saluran faring, pada pasien dapat dianjurkan untuk mengurangi makanan yang berminyak dan panas, juga dianjurkan untuk istirahat sebanyak mungkin agar metabolisme lebih dikhususkan untuk memperbaiki daya tahan tubuh. Jika demam tidak turun dengan pemberian obat dapat dibantu dengan menggunakan kompres dan masukan cairan yang cukup (air putih), hindari minuman yang terlalu dingin dan bersoda. Hindari asap rokok, debu, polutan lainnya. Madu dapat membantu mempercepat penyembuhan. Jika disebabkan virus maka pengobatan bersifat simtomatik (hanya mengobati gejala), tidak diberikan antibiotika. Bisa dibantu dengan obat-obatan imunomodulator.

23

Jika diduga penyebabnya adalah bakteri, diberikan antibiotika. Penting bagi penderita untuk meminum obat antibiotik sampai habis sesuai anjuran dokter, agar tidak terjadi resistensi pada kuman penyebab faringitis.9,12

K. PENCEGAHAN Usahakan untuk mengendalikan infeksi adenovirus pada satuan milier telah dipusatkan pada penggunaan vaksin. Virus hidup yang dilemahkan, yang dibiakan pada sel diploid manusia, dimasukkan dalam kapsul berlapis gelatin dan diberikan secara oral. Dengan cara ini, saluran napas tempat virus dapat menyebabkan penyakit, terlewati. Virus kemudian dilepaskan di dalam usus, tempat virus menimbulkan suatu infeksi subklinis yang memberikan tingkat imunitas tinggi terhadap satrai liur. Virus tidak menyebar dari orang yang mendapat vaksinasi kepada orang lain yang berkontak dengannya. Vaksinasi virus hidup terhadap tipe 4 dan 7 semacam itu telah diijinkan, tetapi hanya dianjurkan untuk imunisasi pada kesatuan milier. Apabila kedua tipe virus diberikan secara bersamaan, vaksin memberikan respon antibody netralisasi terhadap kedua tipe tersebut. Sel manusia telah menggantikan sel kera dalam pembuatan vaksin ini. Suatu vaksin trivalent telah disiapkan dengan menumbuhkan virus tipe 3, 4 dan 7 pada biakan ginjal kera dan kemudian menonaktifkan virus dengan formalin. Tetapi kemudian ditemukan bahwa strain yang digunakan untuk vaksin terkontaminasi secara genetic dengan determinan virus tumor SV 40 dan vaksin segera ditarik dari penggunaan. Kemudian diketahui bahwa sebagian besar strain adenovirus tidak dapat berreplikasi pada sel kera kecuali bila ada SV 40 yang berfungsi sebagai virus penolong. Selain vaksinasi, terdapat cara lain untuk pencegahan dan pengendalian. Risiko berjangkitnya konjungtivitis melalui air dapat dikurangi dengan melakukan klorinasi pada kolam renang dan air limbah. Asepsis ketat selama pemeriksaan mata yang diiringi oleh sterilisasi peralatan yang memadai, sangat diperlukan untuk pengendalian keratokonjungtivitis epidemik. Praktek kebersihan pribadi yang baik dan menghindari orang dengan penyakit menular dapat mengurangi risiko mengembangkan infeksi adenovirus. mencuci tangan yang benar dapat mencegah penyebaran virus dengan transmisi oral-fecal. Sterilisasi instrumen dan solusi yang digunakan dalam mata dapat mencegah penyebaran EKC, seperti dapat klorinasi memadai dari kolam renang. Vaksin yang mengandung jenis
24

adenovirus tinggal 4 dan 7 digunakan untuk mengontrol penyakit dalam merekrut militer, tetapi tidak direkomendasikan atau tersedia untuk digunakan sipil. Vaksin disiapkan dari subunit dimurnikan dari adenovirus berada di bawah penyelidikan.10,11

L. KOMPLIKASI Penyakit ini, jika dibiarkan sampai menjadi berat, dapat menimbulkan radang ginjal (glomerulonefritis akut), demam rematik akut, otitis media (radang telinga bagian tengah), sinusitis, abses peritonsila dan abses retropharynx (radang di sekitar amandel atau bagian belakang tenggorokan yang dapat menimbulkan nanah).10 Glomerulonefritris akut adalah kumpulan manifestasi klinis akibat perubahan struktur dan faal dari peradangan akut glomerulus pasca infeksi streptococcus. Sindrom ini ditandai dengan timbulnya oedem yang timbul mendadak, hipertensi, hematuria, oliguria, GFR menurun, insuffisiensi ginjal.2 Demam reumatik merupakan penyakit vaskular kolagen multisistem yang terjadi setelah infeksi streptokokus grup A pada individu yang mempunyai faktor predisposisi. Penyakit ini masih merupakan penyebab terpenting penyakit jantung didapat (acquired heart disease) pada anak dan dewasa muda di banyak negara terutama negara sedang berkembang. Keterlibatan kardiovaskular pada penyakit ini ditandai oleh inflamasi endokardium dan miokardium melalui suatu proses autoimun yang menyebabkan kerusakan jaringan. Serangan pertama demam reumatik akut terjadi paling sering antara umur 5-15 tahun. Demam reumatik jarang ditemukan pada anak di bawah umur 5 tahun. Demam reumatik akut menyertai faringitis Streptococcus beta hemolyticus grup A yang tidak diobati. Pengobatan yang tuntas terhadap faringitis akut hampir meniadakan resiko terjadinya demam reumatik. Diperkirakan hanya sekitar 3 % dari individu yang belum pernah menderita demam reumatik akan menderita komplikasi ini setelah menderita faringitis streptokokus yang tidak diobati.2 Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga bagian tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif. Masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis. Pada beberapa penelitian, diperkirakan terjadinya otitis media yaitu 25% pada anak-anak. Infeksi umumnya terjadi dua tahun pertama kehidupan dan puncaknya pada tahun pertama masa sekolah.4,5
25

Sinusitis adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Sinusitis banyak ditemukan pada penderita hay fever yang mana pada penderita ini terjadi pilek menahun akibat dari alergi terhadap debu dan sari bunga. Sinusitis juga dapat disebabkan oleh bahan bahan iritan seperti bahan kimia yang terdapat pada semprotan hidung serta bahan bahan kimia lainnya yang masuk melalui hidung. Jangan dilupakan kalau sinusitis juga bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Tulisan kali ini lebih menitikberatkan pembahasan pada sinusitis yang disebabkan oleh infeksi.4,5 Abses Peritonsilar sering disertai trimus dan kepala bayi akan ke sisi yang sakit. Pasien tampak sering menelan ludah, tetapi karena terdapat disfagia hebat, terjadi hipersaliva. Bila mulut bisa dibuka maka akan terlihat tonsil sisi yang terkena akan terdorong ke depan, sedangkan uvula terdorong ke sisi yang sehat.4,5 Abses retrofaringeal biasanya terjadi pada bayi. Bayi tampak sakit berat dengan demam, adenopati servikal, bernapas dengan mulut dengan atau tanpa stridor. Kaku kuduk dapat terjadi dan biasanya pasien akan tidur dengan kepala menengadah atau miring ke satu sisi. Pada kasus yang berat dapat disertai trimus yang sangat ketet, mirip dengan tetanus. 4,5 M. PROGNOSIS Pada umumnya prognosisnya baik jika, tingkat kesembuhannya tinggi. infeksi adenovirus jarang fatal. Kebanyakan pasien sembuh.8,9

26

PENUTUP

Kesimpulan :

Faringitis adalah keadaan inflamasi pada struktur mukosa, submukosa tenggorokan. Jarinngan yang mungkin terlibat anatara lain orofaring, nasofaring, hipofaring, tonsil dan adenoid. Faringitis dapat menular melalui droplet infeksion dari orang yang menderita faringitis. Faktor resiko penyebab faringitis yaitu udara dingin, turunnya daya tahan tubuh, konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang berlebihan. Gejala dan tanda yang ditimbulkan faringitis tergantung pada mikroorganisme yang menginfeksi. Secara garis besar faringitis menunjukan tanda dan gejala gejala seperti lemas, anorexsia, suhu tubuh naik, suara serak, kaku dan sakit pada otot leher, faring yang hiperemis, tonsil membesar, pinggir palatum molle yang hiperemis, kelenjar limfe pada rahang bawah teraba dan nyeri bila ditekan dan bila dilakukan pemeriksaan darah mungkin dijumpai peningkatan laju endap darah dan leukosit. Untuk menegakkan diagnosis faringitis dapat dimulai dari anamnesa yang cermat dan dilakukan pemeriksaan fisik dan evaluasi tenggorokan, sinus, telinga, hidung dan leher. Pada faringitis dapat dijumpai faring yang hiperemis, eksudat, tonsil yang membesar dan hiperemis, pembesaran kelenjar getah bening di leher. Terapi faringitis tergantung penyebabnya. Bila penyebabnya adalah virus maka cukup diberikan analgetik dan pasien cukup dianjurkan beristirahat dan mengurangi aktivitasnya. Dengan pengobatan yang adekuat umumnya prognosis pasien dengan faringitis adalah baik dan umumnya pasien biasanya sembuh dalam waktu 1 2 minggu. Komplikasi dari faringitis yaitu glomerulonefritis akut, demam rematik akut, otitis media, sinusitis, abses peritonsilar dan abses retrofaringeal. Hal ini terjadi secara perkontuinatum, limfogenik maupun hematogenik.

27

DAFTAR PUSTAKA : 1. Jawetz Ernest, Melnick L. Joseph, Adelberg A. Edward. Mikobiologi Kedokteran. Edisi 20. Jakarta : EGC; 2000. hal:401-411. 2. Sumariyono, Linda K.Wijaya. Struktur Sendi, Otot, Saraf, dan Endotel Vaskular. Dalam: Sudoyo, Aru W. et al (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi 4. Cetakan 2. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007 hal: 274-280. 3. Bickley Lynn S, Szilagyi Peter G. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Edisi 8. Jakarta: ECG; 2009. hal 521-526. 4. Adam Boies Higler. Penyakit Sinus Paranasalis dalam Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta; ECG; 2000. 5. Soepardi, ES., Iskandar M. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 5.Jakarta: FKUI; 2001. 6. Kapita Selekta Kedokteran. Sinusitis Maksillaris Kronik. Media Aesculapius. Jakarta: FKUI; 2000. 7. Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2. Edisi 8. Jakarta: ECG; 2002. 8. Carpenito, Lynda Jual.Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 10. Jakarta : EGC; 2002. 9. Doenges, E. Marilynn. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2000 10. Faringitis. 2003 diunduh dari : http://medicastore.com/penyakit/56/Faringitis_Radang_Tenggorokan.html. 18 Juli 2011. 11. Faringitis virus. 2005 diunduh dari :http://www.scribd.com/doc/47575900/ASUHAN-KEPERAWATAN-PASIENDENGAN-FARINGITIS. 18 Juli 2011. 12. Perbedaan faringitis virus dan bakteri. 2006 diunduh dari

:http://www.scribd.com/doc/55632835/MATERI-FARINGITIS. 18 Juli 2011.

28