Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kecerdasan linguistic sendiri adalah kemampuan berbicara, berbahasa dan menggunakan kata-kata secara efektif. Setiap anak, bahkan setiap orang memiliki kecerdasan linguistik berbeda-beda, ada yang mampu berbicara dan menguasai bahasa dengan lebih mudah di bandingkan orang lain karena memiliki kecerdasan linguistik di atas rata-rata Kecerdasan linguistic verbal itu sangat penting, bukan hanya untuk keterampilan berkomunikasi melainkan juga penting untuk mengungkapakan pikiran, keinginan dan pendapat seseorang. Selain itu, merupakan kemampuan yang sangat menentukan komunikasi satu sama lain, pada tataran intelektual dan sosial. Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan linguistic verbal di atas rata-rata, antara lain : Mempunyai ketermpilan pendengaran yang sangat berkembang. Menikmati permainan dengan bahasa bunyi Paling cepat belajar dengan menggunakan kata- kata, mendengar atau melihatnya. Gemar membaca

Asyik menulis cerita atau puisi. Suka bercerita atau berdongeng

Para pakar kecerdasan menyarankan ibu-ibu merangsang kecerdasan lenguistik verbal anak mereka dengan : Aktif mengajak mereka berkomunikasi sejak masih dalam kandungan Ketika anak berusia balita, ibu harus sering meengajaknya berbicara, mendongeng dan mendengarkan bunyi-bunyian.

1.2 Masalah Masalah yang peneliti angkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Kurangnya variasi media pembelajaran PAUD di bidang Linguistik Verbal Untuk mengembangkan kecerdasan Linguistik Verbal anak, sekaligus menggali potensi. Kurangnya semangat peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran

1.3 Tujuan Tujuan dari membuat permainan yang bisa meningkatkan kecerdasan Linguistik Verbal antara Lain : Meningkatkan kecerdasan Linguistik verbal Meningkatkan kemampuan membaca 2

Meningkatkan kemampuan menulis Meningkatkan ingatan nama- nama objek Meningkatkan keterampilan mendengar Meningkatkan komunikasi yang baik terhadap anak

1.4 Sitematika Penelitian Pada sub sistematika penelitian peneliti akan menjelaskan sistematika dalam penulisan makalah ini. Pertama peneliti akan menjelaskan pada BAB I Pendahuluan tentang isi dari Latar Belakang yaitu membahas tentang defenisi Verbal Linguistik, pentingnya kecerdasan Verbal Linguistik, Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan linguistik verbal di atas rata-rata. Kemudian Masalah dalam BAB I PENDAHULUAN yaitu Masalah yang peneliti angkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Kurangnya variasi media pembelajaran PAUD di bidang Linguistik Verbal, untuk mengembangkan kecerdasan Linguistik Verbal anak sekaligus menggali potensi, kurangnya semangat peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Setelah itu Tujuannya adalah meningkatkan kecerdasan Linguistik verbal, meningkatkan kemampuan membaca, meningkatkan

kemampuan menulis, meningkatkan ingatan nama- nama objek, meningkatkan keterampilan mendengar, meningkatkan komunikasi yang baik terhadap anak. Pada BAB II LANDASAN TEORI peneliti mencantumkan sub- sub pembahasan Definisi AUD (Anak Usia Dini) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia

Dini), yaitu menjelaskan tentang defenisi Anak Usia Dini, defenisi Pendidikan Anak Usia Dini, tujuan Pendidikan Anak Usia Dini, setelah itu pada sub Permainan yang Meningkatkan Kemampuan Linguistik Verbal menjelaskan tentang permainan yang bisa meningkatkan Linguitik verbal adalah permainan yang melibatkan membaca, menulis, dan berbicara serta mendengar dalam

permainan tersebut, kemudian pada sub Teori-Teori Linguistik Verbal menjelaskan tentang teori Multiple Intelligences dari Horward Gardner dalam bukunya Frames Of Mind, selanjutnya pada sub Sejarah Berkembang Teori Bermain dan Teori Tentang Permainan Anak menjelaskan bahwa Bermain pada awalnya belum mendapat perhatian khusus dari para ahli ilmu jiwa karena terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangnya perhatian mereka pada perkembangan anak, selain itu menurut Frobel lebih menekankan pentingnya bermain dalam belajar karena berdasarkan

pengalamannya sebagai guru, dia menyadari bahwa kegiatan bermain maupun mainan yang dinikmati anak dapat digunakan untuk menarik perhatian serta mengembangkan pengetahuan mereka. Pada BAB III MELATIH KECERDASAN LINGUISTIK VERBAL PADA ANAK USIA DINI MELALUI PERMAIAN LOMBA MENCARI ABJAD, yaitu berisikan tentang Perlengkapan Permainan, dan peraturan bermain. Pada Bab IV Penutup peneliti menjelaskan kesimpulan dan saran

BAB II LANDASAN TEORI

1.5 Definisi AUD (Anak Usia Dini) dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)

Pendidikan Anak Usia Dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang Sekolah Dasar yang merupakan upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang diberikan melalui rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, non formal dan informal. Pendidikan Anak Usia Dini itu sangat penting karena masa usia dini merupakan merupakan periode emas (Golden Age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika berumur 4 tahun, 80% telah terjadi ketika berumur 8 tahun dan mencapai titik kulminasi keika anak berumur sekitar 18 tahun. Hal ini berarti bahwa perkembangan yang tejadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama, sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya.

Periode emas ini merupakan periode kritis bagi anak, dimana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya hingga masa depan. Oleh karena itu, PAUD dalam bentuk pemberian rangsangan- rangsangan (stimulan) dari lingkungan terdekat sangatlah perlu untuk mengoptimalkan kemampuan anak. Singkatnya, Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitik beratkan pada perletakan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, keadaan optimal), sosio emosional (sikap dan perilaku serta moral agama), bahasa dan komunikasi sesuai dengan keunikan dan tahap- tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini : Tujuan Utama adalah untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang terarah dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal didalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan dimasa dewasa. Tujuan Penyerta adalah untuk membantu kesiapan belajar (akademik) disekolah. menyiapkan anak mencapai

2.2. Permainan yang Meningkatkan Kemampuan Linguistik Verbal

Kemampuan- kemampuan ini melibatkan pengetahuan tentang linguistic verbal, termasuk membaca, menulis, dan berbicara. Kemampuan tersebut juga melibatkan pemahaman tentang arti kata- kata dan memahami idiom, serta permainan kata. Anak- anak yang kuat dalam bidang ini akan cocok dengan permainan kata, mengarang cerita, berdebat, menulis kreatif, dan menceritakan komedi. Mereka memiliki kemampuan membaca yang baik dan cenderung untuk berfikir tentang kata- kata. Untuk memberikan anak- anak suatu permulaan, mereka membutuhkan kemampuan linguistic verbal, bagian ini menawarkan permainan pramembaca, yang melibatkan surat pengenalan dengan melihat, dengan sentuhan atau dengan seluruh tubuh. Ada beberapa permainan membaca untuk anak, yang dimulai dengan buku biografi, seperti permainan membaca kamus untuk anak yang sudah agak besar. . .Karena mengembangkan kemampuan linguistik verbal membutuhkan kemampuan mendengar yang baik maka terdapat juga permainan- permainan dengan aktivitas mendengar di dalamnya. Aktivitas mendengar tersebut merupakan sebuah bagian dari permainan. ......Dari penjelasan diatas peneliti membuat suatu permainan yang bisa meningkatkan Linguistik Verbal, yang meliputi pendengaran, dan pengetahuan nama- nama huruf yang akan peneliti bahas pada BAB III. 7

2.3. Teori-Teori Linguistik Verbal Pada awal 1980-an, Horward Gardner dalam bukunya Frames Of Mind (kerangka pikiran) mengidentifikasi tujuh kecerdasan yang berbeda atau Multiple Intelligences, disini peneliti hanya menuliskan satu kecerdasan saja, sesuai dengan pembahasan dalam makalah ini, yaitu tentang kecerdasan Linguistik Verbal. Kecerdasan lenguistik verbal adalah kecerdasan yang sekarang di pakai oleh system pendidikan kita untuk mengukur IQ seseorang. Kecerdasan Linguistik verbal merupakan kemampuan bawaan seseorang untuk membaca dan menulis kata- kata. Kecerdasan ini merupakn kecerdasan yang sangat penting. Karena, hal ini merupakan cara utama umat manusia mengumpulkan dan membagikan informasi. Para wartawan, penulis, pengacara, dan guru sering kali dianugerahi kegeniusan seperti ini.

2.4. Sejarah Berkembang Teori Bermain dan Teori Tentang Permainan Anak Bermain pada awalnya belum mendapat perhatian khusus dari para ahli ilmu jiwa, karena terbatasnya pengetahuan tentang psikologi perkembangan anak dan kurangnya perhatian mereka pada perkembangan anak. Salah satu tokoh yang di anggap berjasa untuk meletakkan dasar tentang bermain adalah Plato, seorang filsuf Yunani. Plato dianggap sebagai orang pertama yang menyadari dan melihat pentingnya nilai praktis dari bermain. Menurut Plato, anak- anak akan lebih mudah mempelajari aritmatika dengan cara membagikan apel kepada anak- anak. Selain itu, pemberian alat permainan 8

miniature balok- balok kepada anak usia tiga tahun pada akhirnya akan mengantar anak tersebut menjadi seorang ahli bangunan. Filsuf lainnya, Aristoteles berpendapat bahwa anak- anak perlu didorong untuk bermain dengan apa yang akan mereka tekuni di masa dewasa nanti. Dari tokoh- tokoh yang mengadakan reformasi dibidang pendidikan seperti, Commenius (abad 17), Rousseau,Pestalozzi dan Frobel (abad 18 serta awal abad 19) akhirnya lambat laun para pendidik dapat menrima pendapat bahwa pendidikan untuk anak perlu disesuaikan dengan miat serta tahap perkembangan anak. Frobel lebih menekankan pentingnya bermain dalam belajar karena berdasarkan

pengalamannya sebagai guru, dia menyadari bahwa kegiatan bermain maupun mainan yang dinikmati anak dapat digunakan untuk menarik perhatian serta mengembangkan pengetahuan mereka. Jadi Plato, Aristoteles, dan Frobel menganggap bermain sebagai kegiatan yang mempunyai nilai praktis artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak. Sayangnya pada hal tersebut, Teori Perkembangan Psikologi Anak belum meiliki sistematika yang teratur. Akibatnya apa yang di kemukakan oleh Frobel bahwa bermain dapat meningkatkan minat, kapasitas serta pengetahuan anak sulit dibuktikan. ......Pertengahan sampai akhir abad 19teori evolusi sedang berkembang sehingga pembahasan teori bermain banyak dipengaruhi oleh paham tersebut. Bermain memiliki fungsi untuk memulihkan tenaga seseorang setelah bekerja dan merasa jenuh. Pendapat ini di pertanuyakan karena pada anak kecil yang 9

tidak bekerja tetapi melakukan kegiatan bermain. Jadi penjelasan mengenai mengapa terjadi kegiatan bermain pada makhluk hidup belum dapat di jawab secara memuaskan. Sebelum terjadi Perang Dunia ke- 1, ada beberapa tokoh yang dapat dikategorikan dalam teori klasik. Mereka berusaha menjelaskan mengapa muncul perilaku bermain serta apa tujuan dari bermain. Ellis (dalam Johnson et al 1999) menyebutkan sebagai armchair theories karena teori itu dibangun berdasarkan refleksi filosofis dan bukan melalui riset eksperimental. Teori klasil mengenai bermain dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu : 1. Surplus energy dan teori reaksi, serta 2. Teori rekapitulasi dan praktis Fredrich Schiller seorang penyair berkebangsaan German (abad 18) dan Herbert Spencer seorang filsuf Inggris (abad 19) mengajukan teori surplus energy untuk menjelaskan mengapa ada perilaku bermain. Herbert Spencer dalam bukunya Principles of Psychology, pertengahan abad 19 (dalam Millar 1972) mengemukakan bahwa kegiatan anak kecil maupun anak binatang perlu dijelaskan secara berbeda. Spencer berpenda bermain terjadi akibat energy berlebihan dan ini hanya berlaku pada manusia serta binatang dengan tingkat evolusi tinggi. Pada binatang yang mempunyai tingkat evolusi lebih rendah, misalnya serangga, katak, energy tubuh mereka lebih dimanfaatkan untuk mempertahankan hidup.

10

Berlawanan dengan teori surplus energy, maka teori rekreasi mengajukan dalil bahwa tujuan bermain adalah untuk memulihkan energy yang sudah terkuras saat bekerja. Teori praktis di ajuakan oleh Karl Groos, seorang filsuf yang meyakini bahwa bermain berfungsi memperkuat instink yang dibutuhkan guna kelangsungan hidupdi masa mendatang.

11

BAB III MELATIH KECERDASAN LINGUISTIK VERBAL PADA ANAK USIA DINI MELALUI PERMAIAN LOMBA MENCARI ABJAD

3. 1 Perlengkapan Permainan : 1. Abjad, Abjad A sampai dengan Z, media bisa terbuat dari kertas yang tebal, karton, kardus, atau balok yang sudah diolah sehingga bersifat kondisif untuk anak. 2. Kardus, Kardus digunakan untuk menaruh abjad- abjad, dan kardus juga di beri warna supaya menarik. 3. Pewarna, Pewarna digunakan untuk mewarnai huruf, yang nanti akan ditebak oleh anak sebagai pelatihan Linguistik Verbal anak.

3.2. Aturan permainan : 1. Bagilah masing- masing anak dalam perklompok. Kelompok bisa terdiri dari dua atau tiga anak. 2. Masing- masing kelompok berkumpul sesuai dengan kelompok masingmasing.

12

3. Guru membacakan aturan main, yaitu mengambil huruf yang telah disebutkan, didalam kotak yang tersedia dan menyebutkan warna abjad tersebut (karena huruf diberi warna) 4. dengan waktu yang ditentukan, perkelompok pun maju bergiliran mengambil abjad yang diminta 5. peserta dinyatakan menang jika pengambilan abjad serta penyebutan warna benar.

13

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Begitu pentingnya bermain bagi anak- anak usia dini, dimana kita sebagai pendidik bisa mengembangkan kecerdasan masing- masing lewat permainan. Selain itu, bermain merupakan aktivitas yang tak terpisahkan oleh dunia anakanak. Jadi,kita sebagai pendidik harus bias memahami apa yang anak inginkan serta mengembangkan kecerdasan- kecerdasan anak melalui permainan edukatif. 4.2 Saran Kita sebagai pendidik harus bisa menciptakan permainan sendiri dan tidak terpaku pada permainan yang monoton. Kita harus melakukan inovasi terhadap permainan. Selain itu, permainan tidak hanya sebagai permainanuntuk kesenangan semata namun harus permainan yang bernilai edukatif yang bisa mengemembangkan kecerdasan- kecerdasan anak seperti yamg tercantum dalam Teori Multiple Intelligences.

14