Anda di halaman 1dari 16

1

LAPORAN KASUS

TINEA KRURIS

Disusun untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik madya SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSD dr. Soebandi Jember

Disusun Oleh: Maria Ulfah, S. ked 062011101033

Pembimbing : Prof. dr. Bambang Suhariyanto, Sp.KK (K) dr. Gunawan Hostiadi, Sp.KK

SMF ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSD DR. SOEBANDI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

BAB 1. TINJAUAN PUSTAKA

I.

PENDAHULUAN Di negara yang beriklim tropis dengan kelembaban udara relatif tinggi, menyebabkan seseorang mudah berkeringat, sehingga memicu terjadinya penyakit jamur. Pada infeksi kulit karena jamur selain gatal, gejala yang lain berupa bercak putih bersisik halus atau bintil merah. Tanda awal kulit terserang infeksi jamur adalah rasa gatal yang hebat pada saat kulit berkeringat. Gejala penyakit jamur pada kulit juga tergantung pada bagian kulit yang terkena serta jenis jamur penyebabnya . Pada dasarnya jamur sering menyerang lokasi yang lembab dan orang yang kurang menjaga kebersihannya.

II.

DEFINISI Tinea adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk (keratin), misalnya lapisan teratas pada kulit pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita (jamur yang menyerang kulit). Tinea kruris sendiri merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur pada daerah genitokrural (selangkangan), sekitar anus, bokong dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.

III.

EPIDEMIOLOGI

A. Frekuensi Amerika Serikat Dermatofitosis sekitar 10-20% dari total kunjungan ke dermatologis. Internasional Distribusi tinea cruris merata di seluruh dunia tetapi lebih sering ditemukan di iklim lembab panas. B. Mortalitas / Morbiditas Tidak ada kematian yang berhubungan dengan tinea cruris. Morbiditas diakibatkan lichenifikasi, infeksi bakteri sekunder, dan dermatitis kontak alergi atau iritan yang disebabkan oleh pemakaian obat topikal. C. Seks Tinea cruris 3 kali lebih sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita. D. Umur Lebih sering terjadi pada dewasa dibandingkan pada anak-anak. Namun, prevalensi beberapa faktor risiko seperti obesitas dan diabetes melitus, meningkat dengan pesat di kalangan remaja.

IV.

ETIOLOGI Jamur atau dermatofita yang sering ditemukan pada tinea kruris adalah, Trichophyton Rubrum dan Epidermophyton Floccosum, dan dalam beberapa kasus T. Mentagrophytes serta Trichophyton verrucosum . Lelaki lebih sering terkena daripada wanita. Maserasi dan oklusi kulit lipat paha menyebabkan peningkatan suhu dan kelembaban kulit yang akan memudahkan infeksi. Tinea kruris biasanya timbul akibat penjalaran infeksi dari bagian tubuh lain. Infeksi juga dapat terjadi melalui sentuhan langsung dengan individu yang terinfeksi atau tidak langsung melalui benda yang mengandung jamur, misalnya handuk, sprei kasur hotel dan lain-lain.

Trichophyton rubrum

Epidermophyton floccosum

Trichophyton mentagrophytes

Trichophyton verrucosum

V.

PATOFISIOLOGI Infeksi dermatofita melibatkan tiga langkah utama: perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan diantara sel, dan perkembangan respon host. 1. Perlekatan. Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar UV, suhu, kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang diproduksi oleh keratinosit. Asam lemak yang diproduksi oleh glandula sebasea juga bersifat fungistatik 2. Penetrasi. Setelah terjadi perlekatan, spora harus berkembang dan menembus stratum korneum pada kecepatan yang lebih cepat daripada proses desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma dan maserasi juga membantu penetrasi jamur kejaringan. Fungal mannan didalam dinding sel dermatofita juga bisa menurunkan kecepatan proliferasi keratinosit. Pertahanan baru muncul ketika begitu jamur mencapai lapisan terdalam dari epidermis. 3. Perkembangan respons host. Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam melawan dermatofita. Pada pasien yang belum pernah terinfeksi dermatofita sebelumnya, infeksi primer menyebabkan inflamasi minimal dan trichopitin tes hasilnya negative.infeksi menghasilkan sedikit eritema dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit. Dihipotesakan bahwa antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan

dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan proliferasi dan bermigrasi ketempat yang terinfeksi untuk menyerang jamur.

Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier epidermal menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Segera jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh.

VI.

PEMERIKSAAN 1. Anamnesis Keluhan penderita adalah rasa gatal dan kemerahan di regio inguinalis dan

dapat meluas ke sekitar anus, intergluteal sampai ke gluteus. Dapat pula meluas ke supra pubis dan abdomen bagian bawah. Rasa gatal akan semakin meningkat jika banyak berkeringat. Riwayat pasien sebelumnya adalah pernah memiliki keluhan yang sama. Pasien berada pada tempat yang beriklim agak lembab, memakai pakaian ketat, bertukar pakaian dengan orang lain, aktif berolahraga, menderita diabetes mellitus. Penyakit ini dapat menyerang pada tahanan penjara, tentara, atlit olahraga dan individu yang beresiko terkena dermatophytosis. 2. Pemeriksaan Fisik Efloresensi terdiri atas bermacam-macam bentuk yang primer dan sekunder. Makula eritematosa, berbatas tegas dengan tepi lebih aktif terdiri dari papula atau pustula. Jika kronis atau menahun maka efloresensi yang tampak hanya makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi. Garukan kronis dapat menimbulkan gambaran likenifikasi. Manifestasi tinea cruris : Makula eritematus dengan central healing di lipatan inguinal, distal lipat paha, dan proksimal dari abdomen bawah dan pubis Daerah bersisik Pada infeksi akut, bercak-bercak mungkin basah dan eksudatif Pada infeksi kronis makula hiperpigmentasi dengan skuama diatasnya dan disertai likenifikasi Area sentral biasanya hiperpigmentasi dan terdiri atas papula eritematus yang tersebar dan sedikit skuama Penis dan skrotum jarang atau tidak terkena Perubahan sekunder dari ekskoriasi, likenifikasi, dan impetiginasi mungkin muncul karena garukan Infeksi kronis bisa oleh karena pemakaian kortikosteroid topical sehingga tampak kulit eritematus, sedikit berskuama, dan mungkin terdapat pustula folikuler

Hampir setengah penderita tinea cruris berhubungan dengan tinea pedis 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan mikologik untuk membantu penegakan diagnosis terdiri atas pemeriksaan langsung sediaan basah dan biakan. Pada pemeriksaan mikologik untuk mendapatkan jamur diperlukan bahan klinis berupa kerokan kulit yang sebelumnya dibersihkan dengan alkohol 70%. a. Pemeriksaan dengan sediaan basah Kulit dibersihkan dengan alkohol 70% kerok skuama dari bagian tepi lesi dengan memakai scalpel atau pinggir gelas taruh di obyek glass tetesi KOH 10-15 % 1-2 tetes tunggu 10-15 menit untuk melarutkan jaringan lihat di mikroskop dengan pembesaran 10-45 kali, akan didapatkan hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat, dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit yang lama atau sudah diobati, dan miselium b. Pemeriksaan kultur dengan Sabouraud agar Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis pada medium saboraud dengan ditambahkan chloramphenicol dan

cyclohexamide (mycobyotic-mycosel) untuk menghindarkan kontaminasi bakterial maupun jamur kontaminan. Identifikasi jamur biasanya antara 36 minggu c. Punch biopsy Dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis namun sensitifitasnya dan spesifisitasnya rendah. Pengecatan dengan Peridoc AcidSchiff, jamur akan tampak merah muda atau menggunakan pengecatan methenamin silver, jamur akan tampak coklat atau hitam d. Penggunaan lampu wood bisa digunakan untuk menyingkirkan adanya eritrasma dimana akan tampak floresensi merah bata

VII.

DIAGNOSIS KERJA Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik

dengan melihat gambaran klinis dan lokasi terjadinya lesi serta pemeriksaan penunjang seperti yang telah disebutkan dengan menggunakan mikroskop pada sediaan yang ditetesi KOH 10-20%, sediaan biakan pada medium Saboraud, punch biopsi, atau penggunaan lampu wood.

VIII.

DIAGNOSIS BANDING 1. Candidosis intertriginosa Kandidosis adalah penyakit jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya oleh Candida albicans yang bersifat akut atau subakut dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki.Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Patogenesisnya dapat terjadi apabila ada predisposisi baik endogen maupun eksogen. Faktor endogen misalkan kehamilan karena perubahan pH dalam vagina, kegemukan karena banyak keringat, debilitas, iatrogenik, endokrinopati, penyakit kronis orang tua dan bayi, imunologik (penyakit genetik). Faktor eksogen berupa iklim panas dan kelembapan, kebersihan kulit kurang, kebiasaan berendam kaki dalam air yang lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur, kontak dengan penderita. Dapat mengenai daerah lipatan kulit, terutama ketiak, bagian bawah payudara, bagian pusat, lipat bokong, selangkangan, dan sela antar jari; dapat juga mengenai daerah belakang telinga, lipatan kulit perut, dan glans penis (balanopostitis). Pada sela jari tangan biasanya antara jari ketiga dan keempat, pada sela jari kaki antara jari keempat dan kelima, keluhan gatal yang hebat, kadang-kadang disertai rasa panas seperti terbakar. Lesi pada penyakit yang akut mula-mula kecil berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan kemerahan. Kemudian meluas, berupa lentinglenting yang dapat berisi nanah berdinding tipis, ukuran 2-4 mm, bercak kemerahan, batas tegas, Pada bagian tepi kadang- kadang tampak papul dan skuama. Lesi tersebut dikelilingi oleh lenting- lenting atau papul di sekitarnya berisi nanah yang bila pecah meninggalkan daerah yang luka, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi utama. Kulit sela jari tampak merah atau terkelupas, dan terjadi lecet. Pada bentuk yang kronik, kulit sela jari menebal dan berwarna putih. 2. Erytrasma Erytrasma adalah penyakit bakteri kronik pada stratum korneum yang disebabkan oleh Corynebacterium minitussismum, ditandai lesi berupa eritema dan skuama halus terutama di daerah ketiak dan lipat paha. Gejala klinis lesi berukuran sebesar milier sampai plakat. Lesi eritroskuamosa, berskuama halus kadang terlihat merah kecoklatan. Variasi ini rupanya bergantung pada area lesi dan warna kulit penderita. Tempat predileksi kadang di daerah intertriginosa lain

terutama pada penderita gemuk. Perluasan lesi terlihat pada pinggir yang eritematosa dan serpiginose. Lesi tidak menimbul dan tidak terlihat vesikulasi. Efloresensi yang sama berupa eritema dan skuama pada seluruh lesi merupakan tanda khas dari eritrasma. Skuama kering yang halus menutupi lesi dan pada perabaan terasa berlemak. Pada pemeriksaan dengan lampu wood lesi terlihat berfluoresensi merah membara. 3. Psoriasis Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif, ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan, disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner. Tempat predileksi pada skalp, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas ekstensor terutama siku serta lutut dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering bagian di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi dapat lentikular, numular atau plakat, dapat berkonfluensi. 4. Dermatitis Seboroik Dermatitis Seboroik merupakan penyakit inflamasi konis yang mengenai daerah kepala dan badan. Prevalensi Dermatitis Seboroik sebanyak 1-5% populasi.Lebih sering terjadi pada laki-laki daripada wanita. Penyakit ni dapat mengenai bayi sampa orang dewasa. Umumnya pda bayi terjadi pada usia 3 bulan sedang pada dewasa pada usia 30-60 tahun. Kelainan kulit berupa eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan dengan batas kurang tegas. Bentuk yang berat ditandai dengan adanya bercak-bercak berskuama dan berminyak disertai eksudat dan krusta tebal.

IX.

PENATALAKSANAAN Pada infeksi tinea cruris tanpa komplikasi biasanya dapat dipakai anti

jamur topikal saja dari golongan imidazole dan allynamin yang tersedia dalam beberapa formulasi. Semuanya memberikan keberhasilan terapi yang tinggi 70100% dan jarang ditemukan efek samping. Obat ini digunakan pagi dan sore hari kira-kira 2-4 minggu. Terapi dioleskan sampai 3 cm diluar batas lesi, dan diteruskan sekurang-kurangnya 2 minggu setelah lesi menyembuh. Terapi

sistemik dapat diberikan jika terdapat kegagalan dengan terapi

topikal,

intoleransi dengan terapi topikal. Sebelum memilih obat sistemik hendaknya cek terlebih dahulu interaksi obat-obatan tersebut. Diperlukan juga monitoring terhadap fungsi hepar apabila terapi sistemik diberikan lebih dari 4 mingggu. Pengobatan anti jamur untuk Tinea cruris dapat digolongkan dalam emapat golongan yaitu: golongan azol, golongan alonamin, benzilamin dan golongan lainnya seperti siklopiros,tolnaftan, haloprogin. Golongan azole ini akan menghambat enzim lanosterol 14 alpha demetylase (sebuah enzim yang berfungsi mengubah lanosterol ke ergosterol), dimana truktur tersebut merupakankomponen penting dalam dinding sel jamur. Goongan Alynamin menghambat keja dari squalen epokside yang merupakan enzim yang mengubah squalene ke ergosterol yang berakibat akumulasi toksik squalene didalam sel dan menyebabkan kematian sel. Dengan penghambatan enzim- enzim tersebut mengakibatkan kerusakan membran sel sehingga ergosterol tidak terbentuk. Golongan benzilamin

mekanisme kerjanya diperkirakan sama dengan golongan alynamin sedangkan golongan lainnya sama dengan golongan azole. Pengobatan tinea cruris tersedia dalam bentuk pemberian topikal dan sistemik. Obat secara topikal yang digunakan dalam tinea cruris adalah: 1. Golongan Azol a. Clotrimazole (Lotrimin, Mycelec) Merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris karena bersifat broad spektrum antijamur yang mekanismenya menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel sehingga sel-sel jamur mati. Pengobatan dengan clotrimazole ini bisa dievaluasi setelah 4 minggu jika tanpa ada perbaikan klinis. Penggunaan pada anak-anak sama seperti dewasa. Obat ini tersedia dalam bentuk kream 1%, solution, lotion. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Tidakada kontraindikasi obat ini, namun tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukan hipersensitivitas, peradangan infeksi yang luas dan hindari kontak mata. b. Mikonazole (icatin, Monistat-derm) Mekanisme kerjanya dengan selaput dinding sel jamur yang rusak akan menghambat biosintesis dari ergosterol sehingga permeabilitas membran sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Tersedia dalam bentuk cream 2%, solution, lotio, bedak. Diberikan 2 kali sehari selama 4 minggu. Penggunaan pada

10

anak sama dengan dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. c. Econazole (Spectazole) Mekanisme kerjanya efektif terhadap infeksi yang berhubungan dengan kulit yaitu menghambat RNA dan sintesis, metabolisme protein sehingga mengganggu permeabilitas dinding sel jamur dan menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan ecnazole dapat dilakukan dalam 2-4 minggu dengan cara dioleskan sebanyak 2kali atau 4 kali dalam sediaan cream 1%.. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. d. Ketokonazole (Nizoral) Mekanisme kerja ketokonazole sebagai turunan imidazole yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan

ketokonazole dapat dilakukan selama 2-4 minggu. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas, hindari kontak dengan mata. e. Oxiconazole (Oxistat) Mekanisme oxiconazole kerja yang bersifat broad spektrum akan menghambat sintesis ergosterol sehingga komponen sel jamur meningkat menyebabkan sel jamur mati. Pengobatan dengan oxiconazole dapat dilakukan selama 2-4

minggu. Tersedia dalam bentk cream 1% atau bedak kocok. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa. Tidak dianjurkan pada pasien yang menunjukkan hipersensitivitas dan hanya digunakan untuk pemakaian luar. f. Sulkonazole (Exeldetm) Sulkonazole merupakan obat jamur yang memiliki spektrum luas. Titik tangkapnya yaitu menghambat sintesis ergosterol yang akan menyebabkan kebocoran komponen sel, sehingga menyebabkan kematian sel jamur. Tersedia dalam bentuk cream 1% dan solutio. Penggunaan pada anak-anak 12 tahun penggunaan sama dengan orang dewasa (dioleskan pada daerah yang terkena selama 2-4 minggu sebanyak 4 kali sehari). 2. Golongan alinamin a. Naftifine (Naftin) Bersifat broad spektrum anti jamur dan merupakan derivat sintetik dari alinamin yang mekanisme kerjanya mengurangi sintesis dari ergosterol sehingga menyebabkan pertumbuhan sel amur terhambat. Pengobatan dengan naftitine

11

dievaluasi setelah 4 minggu jika tidak ada perbaikan klinis. Tersedia dalam bentuk 1% cream dan lotion. . Penggunaan pada anak sama dengan dewasa ( dioleskan 4 kali sehari selama 2-4minggu). b. Terbinafin (Lamisil) Merupakan derifat sintetik dari alinamin yang bekerja menghambat skualen epoxide yang merupakan enzim kunci dari biositesis sterol jamur yang menghasilkan kekurangan ergosterol yang menyebabkan kematian sel jamur.

Secara luas pada penelitian melaporkan keefektifan penggunaan terbinafin. Terbenafine dapat ditoleransi penggunaanya pada anak-anak. Digunakan selama 1-4 minggu. 3. Golongan Benzilamin a. Butenafine (mentax) Anti jamur yang poten yang berhuungan dengan alinamin. Kerusakan membran sel jamur menyebabkan sel jamur terhambat pertumbuhannya. Digunakan dalam bentuk cream 1%, diberikan selama 2-4 minggu. Pada anak tidak dianjurkan. Untuk dewasa dioleskan sebanyak 4 kali sehari. 4. Golongan lainnya a. Siklopiroks (Loprox) Memiliki sifat broad spektrum anti fungal. Kerjanya berhubunan dengan sintesi DNA b. Haloprogin (halotex) Tersedia dalam bentuk solution atau spray, 1% cream. Digunakan selama 2-4 minggu dan dioleskan sebanyak 3kali sehari. c. Tolnaftate Tersedia dalam cream 1%,bedak,solution. Dioleskan 2 kali sehari selama 2-4 minggu. Pengobatan secara sistemik dapat digunakan untuk untuk lesi yang luas atau gagal dengan pengobatan topikal, berikut adalah obat sistemik yang digunakan dalam pengobatan tinea cruris: a. Ketokonazole Sebagai turunan imidazole, ketokonazole merupakan obat jamur oral yangberspektrum luas. Kerja obat ini fungistatik. Pemberian 200mg/hari selama 2-4 minggu. b. Itrakonazole

12

Sebagai turunan triazole, itrakonazole merupakan obat anti jamur oral yang berspektrum luas yang menghambat pertumbuhan sel jamur dengan menghambat sitokrom P-450 dependent sintetis dari ergosterol yang merupakan komponen penting pada selaput sel jamur.Pada penelitian disebutkan bahwa itrakonazole lebih baik daripada griseofulvin dengan hasil terbaik 2-3 minggu setelah perawatan. Dosis dewasa 200mg po selam 1 minggu dan dosis dapat dinaikkan 100mg jika tidak ada perbaikan tetpi tidak boleh melebihi 400mg/hari.Untuk anak-anak 5mg/hari PO selama 1 minggu. Obat ini dikontraindikasikan pada penderita yang hipersensitivitas, dan jangan diberikan bersama dengan cisapride karena berhubunngan dengan aritmia jantung. c. Griseofulfin Termasuk obat fungistatik, bekerja dengan menghambat mitosis sel jamur dengan mengikat mikrotubuler dalam sel. Obat ini lebih sedikit tingkat keefektifannya dibanding itrakonazole. Pemberian dosis pada dewasa 500mg microsize (330-375 mg ultramicrosize) PO selama 2-4minggu, untuk anak 10-25 mg/kg/hari Po atau 20 mg microsize /kg/hari c. Terbinafine Pemberian secara oral pada dewasa 250g/hari selama 2 minggu). Pada anak pemberian secara oral disesuaikan dengan berat badan: 12-20kg :62,5mg/hari selama 2 minggu 20-40kg :125mg/ hari selama 2 minggu >40kg:250mg/ hari selama 2 minggu

X. EDUKASI Kepada pasien di rumah : 1. Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering 2. Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi. 3. Jaga kebersihan kulit dan kaki bila berkeringat keringkan dengan handuk dan mengganti pakaian yang lembab 4. Gunakan pakaian yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun, tidak ketat dan ganti setiap hari. 5. Untuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan handuk digunakan penderita harus segera dicuci dan direndam air panas. yang

13

XI.

KOMPLIKASI Tinea cruris dapat terinfeksi sekunder oleh candida atau bakteri yang lain.

Pada infeksi jamur yang kronis dapat terjadi likenifikasi dan hiperpigmentasi kulit.

XII.

PROGNOSIS Prognosis penyakit ini baik dengan diagnosis dan terapi yang tepat

asalkan kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.

14

BAB 2. REFLEKSI KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA Nama Jenis kelamin Usia Alamat Pekerjaan Suku Agama : Ny. T. : Perempuan : 32 tahun : Jl Perunggu RT 02 No 15 : Ibu rumah tangga : Jawa : Islam

II. ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS) Keluhan utama : Gatal dan kemerahan pada lipatan paha Riwayat penyakit sekarang : Pasien mengeluhkan rasa gatal sejak 1 bulan yang lalu pada bercak kemerahan di lipatan paha dan menjalar ke pantat. Gatal semakin hebat bila udara panas dan berkeringat. . Pasien tidak tahu penyebab dari rasa gatal pada bercak merah tersebut. (Fungiderm) di Pasien membeli obat berupa salep pasien berhenti

apotek setelah gatal dirasa berkurang

mrnggunkan salep tersebut. Sekitar 1 minggu yang lalu mulai terasa gatal lagi dan bercak semakin meluas. Pasien tidak mengeluhkan nyeri, panas, ataupun mati rasa. Pasien juga tidak mengeluhkan keputihan. Pasien menggunakan celana dalam yang agak ketat dan mengganti tiap hari. Riwayat penyakit dahulu: Pasien menyangkal pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Riwayat alergi (-), Riwayat DM (-), Pembesaran kelenjar leher (-). Riwayat keluarga : Suami pasien mengeluhkan keluhan yang sama. Riwayat pengobatan : Salep fungiderm

III. PEMERIKSAAN FISIK 1. Status Generalis Kesadaran Keadaan umum Vital sign Kepala / leher : kompos mentis : baik : TD:110/70 mmHg, N:76x/mnt, RR:18x/mnt, t:36,3 : dalam batas normal

15

Thorak Jantung Paru Abdomen Extremitas Genitalia : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

2. Lokasi

Status Dermatologis : R.inguinal : Meluas ke intergluteus : Dari pemeriksaan fisik didapatkan makula eritematous,

Distribusi Efloresensi

hiperpigmentasi, berbatas tegas dengan tepi aktif pada daerah lipatan paha, dan pantat.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Dengan menggunakan lampu Wood terlihat warna hijau biru terang.

V. RESUME Seorang wanita, 32 tahun, dating dengan keluhan utama gatal-gatal dan kemerahan pada regio inguinal sejak 1 bulan yang lalu .Gatal menjalar ke

interglutea, gatal bertambah hebat jika pasien berkeringat. Pasien menggunakan celana dalam yang agak ketat dan mengganti tiap hari. Suami pasien mengalami keluhan yang sama. Pasien tidak memiliki riwayat alergi Pemeriksaan didapatkan makula eritematous, hiperpigmentasi, berbatas tegas dengan tepi aktif pada daerah lipatan paha, dan pantat. Pemeriksaan lampu wood hijau biru terang.

16

VI. DIAGNOSIS BANDING Kandidiasis Eritrasma Psoriasis

VII. DIAGNOSIS Tinea kruris

VIII. 1.

PENATALAKSANAAN Medika Mentosa Cream : Ketokonazol 2% 2 x sehari (pagi dan sore) Ketokonazole 200 mg 2 x sehari

2.

KIE Anjurkan agar menjaga daerah lesi tetap kering Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi. Jaga kebersihan kulit, bila berkeringat keringkan dengan handuk kering dan mengganti pakaian yang lembap Gunakan pakaian dan celana dalam yang terbuat dari bahan yang dapat menyerap keringat seperti katun, tidak ketat dan ganti celana dalam setiap mandi atau jika keringat berlebih. Untuk handuk menghindari penularan penyakit, pakaian dan

yang digunakan penderita harus segera dicuci dan

direndam air panas dan tidak digunakan bersama dengan anggota keluarga yang lain. Anjurkan pasien untuk mengajak suami berobat.

IX.

PROGNOSIS

Ad Bonam