Anda di halaman 1dari 24

A. HAKEKAT PENELITIAN TINDAKAN KELAS 1.

Pengertian PTK Penelitian tindakan kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Research, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu subyek penelitian di kelas tersebut. Pertama kali penelitian tindakan kelas diperkenalkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946, yang selanjutnya dikembangkan oleh Stephen Kemmis, Robin Mc Taggart, John Elliot, Dave Ebbutt dan lainnya. Pada awalnya penelitian tindakan menjadi salah satu model penelitian yang dilakukan pada bidang pekerjaan tertentu dimana peneliti melakukan pekerjaannya, baik di bidang pendidikan, kesehatan maupun pengelolaan sumber daya manusia. Salah satu contoh pekerjaan utama dalam bidang pendidikan adalah mengajar di kelas, menangani bimbingan dan konseling, dan mengelola sekolah. Dengan demikian yang menjadi subyek penelitian adalah situasi di kelas, individu siswa atau di sekolah. Para guru atau kepala sekolah dapat melakukan kegiatan penelitiannya tanpa harus pergi ke tempat lain seperti para peneliti konvensional pada umumnya. Secara lebih luas penelitian tindakan diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Dalam konteks pekerjaan guru maka penelitian tindakan yang dilakukannya disebut Penelitian Tindakan Kelas, dengan demikian Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu kegiatan penelitian dengan mencermati sebuah kegiatan belajar yang diberikan tindakan, yang secara sengaja dimunculkan dalam sebuah kelas, yang bertujuan memecahkan masalah atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas tersebut. Tindakan yang secara sengaja dimunculkan tersebut diberikan oleh guru atau berdasarkan arahan guru yang kemudian dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini arti Kelas tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga (Suharsimi: 2005).

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 1

2. Karakteristik PTK Karakteristik PTK yang sekaligus dapat membedakannya dengan penelitian formal adalah sebagai berikut. 1) PTK merupakan prosedur penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata yang dialami Guru berkaitan dengan siswa di kelas itu. Ini berarti, bahwa rancangan penelitian diterapkan sepenuhnya di kelas itu, termasuk pengumpulan data, analisis, penafsiran, pemaknaan, perolehan temuan, dan penerapan temuan. Semuanya dilakukan di kelas dan dirasakan oleh kelas itu. 2) Metode PTK diterapkan secara kontekstual, dalam arti bahwa variabel-variabel yang ditelaah selalu berkaitan dengan keadaan kelas itu sendiri. Dengan demikian, temuan hanya berlaku untuk kelas itu sendiri dan tidak dapat digeneralisasi untuk kelas yang lain. Temuan PTK hendaknya selalu diterapkan segera dan ditelaah kembali efektivitasnya dalam kaitannya dengan keadaan dan suasana kelas itu. 3) PTK terarah pada suatu perbaikan atau peningkatan kualitas pembelajaran, dalam arti bahwa hasil atau temuan PTK itu adalah pada diri Guru telah terjadi perubahan, perbaikan, atau peningkatan sikap dan perbuatannya. PTK akan lebih berhasil jika ada kerja sama antara Guru-Guru di sekolah, sehingga mereka dapat sharing permasalahan, dan apabila penelitian telah dilakukan, selalu diadakan pembahasan perencanaan tindakan yang dilakukan. Dengan demikain, PTK itu bersifat kolaborasi dan kooperatif. 4) PTK bersifat luwes dan mudah diadaptasi. Dengan demikian, maka cocok digunakan dalam rangka pembaharuan dalam kegiatan kelas. Hal ini juga memungkinkan6 diterapkannya suatu hasil studi dengan segera dan penelaahan kembali secara berkesinambungan. 5) PTK banyak mengandalkan data yang diperoleh langsung atas refleksi diri peneliti. Pada saat secara bertahap. Setiap tahap merupakan tindakan lanjut tahap sebelumnya. 6) PTK sedikitnya ada kesamaan dengan penelitian eksperimen dalam hal percobaan tindakan yang segera dilakukan dan ditelaah kembali efektivitasnya. Tetapi, PTK tidak secara ketat memperdulikan pengendalian variabel yang mungkin mempengaruhi hasil penelaahan. Oleh karena kaidah-kaidah dasar penelitian ilmiah dapat dipertahankan terutama dalam pengambilan data, perolehan informasi, upaya untuk membangun pola tindakan, rekomnedasi dan lain-lain, maka PTK tetap merupakan proses ilmiah.

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 2

7) PTK bersifat situasional dan spesisifik, yang pada umumnya dilakukan dalam bentuk studi kasus. Subyek penelitian sifatnya terbatas, tidak representatif untuk merumuskan atau generalisasi. Penggunaan metoda statistik terbatas pada pendekatan deskriptif tanpa inferensi. 3. Prinsip PTK Menurut Hopkins (1993: 57-61), terdapat 6 prinsip penelitian tindakan kelas. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut 1) Sebagai seorang guru yang pekerjaan utamanya adalah mengajar, seyogyanya PTK yang dilakukan tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Ada dua hal penting terkait dengan prinsip ini. Pertama, mungkin metode pembelajaran yang diterapkannya dalam PTK tidak segera dapat memperbaiki pembelajarannya, atau hasilnya tidak jauh berbeda dengan metode yang digunakan sebelumnya. Sebagai pertanggungjawaban profesional, Guru hendaknya selalu secara konsisten menemukan sebabnya, mencari jalan keluar terbaik, atau menggantinya agar mampu memfasilitasi para siswa dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar secara lebih optimal. Kedua, banyaknya siklus yang diterapkan hendaknya mengutamakan pada ketercapaian kriteria keberhasilan, misalnya pembentukan pemahaman yang mendalam (deep understanding) ketimbang sekadar menghabiskan kurikulum (content coverage), dan tidak semata-mata mengacu pada kejenuhan informasi (saturation of information). 2) Teknik pengumpulan data tidak menuntut waktu dan cara yang berlebihan. Sedapat mungkin hendaknya dapat diupayakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangai sendiri, sementara Guru tetap aktif sebagai mana biasanya. Teknik pengumpulan datadiuapayakan sesederhana mungkin, asal mampu memperoleh informasi yang cukup signifikan dan dapat dipercaya secara metodologis. 3) Metodologi yang digunakan hendaknya dapat dipertanggung jawabkan reliabilitasnya yang memungkinkan Guru dapat mengidentifikasi dan merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelas, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis tindakannya. Jadi, walaupun terdapat kelonggaran secara metodologis, namun PTK mestinya tetap dilaksanakan atas dasar taat kaidah keilmuan. 4) Masalah yang terungkap adalah masalah yang benar-benar membuat Guru risau , sehingga atas dasar tanggung jawab profesional, dia didorong oleh hatinya untuk memiliki komitmen dalam rangka menemukan jalan keluarnya melalui PTK. Komitmen tersebut adalah dorongan hati yang paling dalam
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 3

untuk memperoleh perbaikan secara nyata proses dan hasil pelayanannya pada siswa dalam menjalankan tugas-tugas kesehariannya dibandingkan dengan proses dan hasil-hasil sebelumnya. Dengan demikian, mengajar adalah penelitian yang dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka mengkonstruksi pengetahuan sendiri agar mampu melakukan perbaikan praktiknya. 5) Pelaksanaan PTK seyogyanya mengindahkan tata krama kehidupan berorganisasi. Artinya, PTK hendaknya diketahui oleh kepala sekolah, disosialisasikan pada rekanrekan Guru, dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan, dilaporkan hasilnya sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis ilmiah, dan tetap mengedepankan kepentingan siswa layaknya sebagai manusia. 6) Permasalahan yang hendaknya dicarikan solusinya lewat PTK hendaknya tidak terbatas hanya pada konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, tetapi tetap mempertimbangkan perspektif sekolah secara keseluruhan. Dalam hal ini, pelibatan lebih dari seorang pelaku akan sangat mengakomodasi kepentingan tersebut B. JENIS- JENIS PENELITIAN TINDAKAN Terdapat empat jenis Penelitian Tindakan , yaitu : 1. Jenis Diagnostik: Maksudnya penelitian dilakukan untuk menuntun peneliti ke arah suatu tindakan karena suatu masalah yang terjadi, misalnya adanya konflik antar siswa di kelas, adanya pertengkaran di antara siswa dan sejenisnya. 2. Jenis Partisipan : Maksudnya penelitian dilakukan dengan keterlibatan langsung peneliti dari awal sampai akhir proses. 3. Jenis Empirik: Maksudnya penelitian dilakukan dengan cara merencanakan, mencatat pelaksanaan dan mengevaluasi pelaksanaan dari luar arena kelas, jadi dalam penelitian jenis ini peneliti harus berkolaborasi dengan guru yang melaksanakan tindakan di kelas. 4. Jenis Eksperimental : Maksudnya penelitian dilakukan sebagai upaya menerapkan berbagai teknik, metode atau strategi dalam pembelajaran secara efektif dan efisien.

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 4

C. TAHAPAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS PTK memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar, 1992) yaitu Planning (Rencana), Action (Tindakan), Observation (Pengamatan), dan Reflection (Refleksi). Namun perlu diketahui bahwa tahapan pelaksanaan dan pengamatan sesungguhnya dilakukan secara bersamaan. Berikut ini adalah penjelasannya: 1. Tahap pertama : Perencanaan tindakan Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan (apabaila dilaksanakan secara kolaboratif). Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Bila dilaksanakan sendiri oleh guru sebagai peneliti maka instrumen pengamatan harus disiapkan disertai lembar catatan lapangan. Yang perlu diingat bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Dalam pelaksanaan pembelajaran rencana tindakan dalam rangka penelitian dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 2. Tahap kedua : Pelaksanaan Tindakan Adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau penerapan isi rencana tindakan di kelas yang diteliti. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak kaku dan tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan. 3. Tahap Ketiga: Pengamatan terhadap tindakan Yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (baik oleh orang lain maupun guru sendiri). Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pengamatan ini tidak terpisah dengan pelaksanaan tindakan karena pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 dan 3 dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai pengamat, yang mana ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan "pengamatan balik"
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 5

terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi. 4. Tahap ke empat : Refleksi terhadap tindakan Merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang halhal yang dirasakan sudah berjalan baik dn bagian mana yang belum. Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Dalam hal seperti ini maka guru melakukan self evaluation yang diharapkan dilakukan secara obyektif. Untuk menjaga obyektifitas tersebut seringkali hasil refleksi ini diperiksa ulang atau divalidasi oleh orang lain, misalnya guru/teman sejawat yang diminta mengamati,kepala sekolah atau nara sumber yang menguasai bidang tersebut. Jadi pada intinya kegiatan refleksi adalah kegiatan evaluasi, analisis, pemaknaan, penjelasan, penyimpulan dan identifikasi tindak lanjut dalam perencanaan siklus selanjutnya. Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus. Untuk memperjelas fase-fase dalam PTK, siklus spiral-nya dan bagaimana pelaksanaannya, Stephen Kemmis menggambarkannya dalam siklus sebagaimana tampak pada gambar 1.

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 6

Gambar 2 : Penelitian Tindakan Model Kemmis dan Mc Taggart D. TUJUAN PTK Sebagaimana diisyaratkan di atas, PTK antara lain bertujuan untuk memperbaiki dan / atau meningkatkan praktik pembeljaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya melekat pe -nunaian misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru. Dengan kata lain, tujuan PTK adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru. Di samping itu, sebagai tujuan penyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru guna memperbaiki kinerja di kelasnya sendiri. Suhardjono (2007 : 61) menyebutkan secara rinci tujuan penelitian tindakan kelas antara lain : 1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, serta hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah. 2. Membantu guru dan tenaga kependidkan lainnya mengatasi masalah pembelajaran dan pendidkan di dalam dan di luar kelas. 3. Meningkatkan sikap profesional pendidik dan tenaga kependidikan. 4. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu pendidkan dan pembelajaran secara berkelanjutan. Berdasarkan asumsi diatas, jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud karena dilaksanakn PTK, ada tujuan penyerta yang juga dapat dicapai sekaligus dalam penelitian itu. Tujuan penyerta itu adalah tertumbuhkannya budaya meneliti dikalangan guru
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 7

E.

MANFAAT PTK Manfaat PTK bagi guru yang melaksanaknnya adalah :

1. PTK menawarkan suatu cara yang baru untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan atau profesional guru dalam kegiatan pembelajaran kelas . serta hasil PTK dapat secara langsung dimanfaatkan untuk kepentingan kualitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dan dapat meningkatkan wawasan pemahaman guru tentang pembelajaran. 2. Melalui PTK guru dapat melakukan penelitian tentang masalah-masalah aktual yang mereka hadapi untuk mata pelajaran yang diampunya. Guru langsung dapat melakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran yang kurang berhasil agar menjadi lebih baik dan efektif. 3. Saat seorang guru melakukan PTK, guru tersebut dapat tidak meninggalkan tugasnya, artinya guru masih tetap melakukan kegiatan mengajar seperti biasa, dan pada saat yang bersamaan secara terintegrasi guru melaksanakan penelitian. Oleh karena itu PTK sama sekali tidak mengganggu kelancaran kegiatan pembelajaran di dalam kelas (Kasihani, 1999). 4. Karena permasalahan-permasalahan yang diteliti di dalam PTK adalah permasalahan-permasalahan yang dirasakan dan dialami guru sendiri, maka PTK dapat menjadi jembatan kesenjangan antara teori dan praktek. Karena setelah PTK guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai kesesuaian antara teori pembelajaran dengan praktek yang mereka lakukan. Guru akan mengetahui teori yang tidak sesuai (tidak tepat) dengan praktek yang mereka lakukan. Selanjutnya guru dapat memilih teori yang cocok dan dapat diterapkan di kelasnya. 5. PTK dapat pula dilaksanakan oleh guru secara kolaborasi bersama-sama dengan pihak lain yang terkait. Misal kolaborasi guru mata pelajaran sejenis, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan yang lain untuk secara bersama-sama mengkaji permasalahan yang ada, untuk kemudian merencanakan tindakan-tindakan agar permasalahan-permasalahan yang ada dapat segera dicarikan jalan keluarnya.

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 8

PERANCANGAN PROPOSAL PTK SERTA KOMPONENNYA 1. Tujuan dan Manfaat Proposal PTK Proposal PTK merupakan paparan rencana kegiatan yang dituliskan atau dituangkan dalam narasi. Jabarkan rencana kegiatan secara terorganisir dengan berpijak pada gagasan masalah. Jadi, intisari dari proposal penelitian berisi gagasan masalah yang akan diselesaikan, rencana pemecahan Alur berpikir dalam masalah, dan alasan tentang pentingnya masalah itu untuk diselesaikan.

menyusun proposal harus logis dan sistematis yang terlihat dari keterkaitan antara komponenkomponen proposal yang satu dengan lainnya.Tujuannya agar rangkaian rencana tindakan dapat terarah, sistematis dan mencapai tujuan. Dengan demikian, proposal ini akan menjadi pedoman Kita dalam melaksanakan PTK. 2. Komponen Proposal PTK Proposal PTK pada dasarnya terdiri atas empat bagian utama, yaitu Judul ,Pendahuluan, Kajian Pustaka, dan Metode Penelitian,seperti tampak pada sistematika proposal PTK berikut Sistematika Proposal PTK: JUDUL PTK BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Cara Pemecahan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori B. Penelitian yang Relevan (bila ada) C. Kerangka Berpikir BAB III METODE PENELITIAN A. Subjek, Lokasi, dan WaktuPenelitian B. Prosedur Penelitian C. Teknik Pengumpulan Data D. Teknik Analisis Data E. Indikator Keberhasilan F. Jadwal Pelaksanaan PTK DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN PROPOSAL
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 9

Instrumen PTK ( RPP,LKS,Tes untuk setiap siklus ,Lembar Observasi,Quesioner,Angket ) Penjelasan komponen proposal a) Judul PTK Judul hendaknya dibuat secara ringkas dan mencerminkan adanya masalah dalam pembelajaran, Tindakan dan subyek sasaran. Dalam penulisan judul PTK hendaknya dihindari penggunaan kata-kata berikut : Hubungan, penggunaan kata ini pada judul menunjukkan penelitian yang dilakukan bukanlah PTK tetapi Penelitian Korelasional. Pengaruh, dengan menggunakan kata ini pada judul akan menunjukkan penelitian yang dilakukan adalah Penelitian Eksperimental bukan PTK . Bagaimana, kata ini digunakan untuk penelitian jenis deskriptif bukan pada PTK Contoh Judul PTK : Peningkatan Keberanian siswa kelas IX SMP Sedc Bandung untuk mengajukan Pertanyaan dan Mengemukakan Gagasan pada Pembelajaran Listrik Dinamis Melalui Model Latihan Inkuiri Penerapan the 5 e learning cycle model pada pembelajaran konsep Perpindahan Kalor untuk meningkatkan keberanian bertanya dan hasil belajar siswa kelas VII E SMP Sedc Bandung Implementasi Metode Cooperative Script Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Rotasi dan Benda Tegar Pada Siswa Kelas XI SMA Negeri Sedec Tahun Pelajaran 2011/2012 Peningkatan Aktivitas Belajar dan Pemahaman konsep Pengukuran Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning dengan Bantuan Tutor Sebaya pada Siswa Kelas X SMA Sedc Bandung Tahun Pelajaran 2011/2012 b) Pendahuluan Komponen pada Pendahuluan umumnya terdiri atas Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan ada yang menambahkan Identifikasi Masalah (diletakkan sebelum rumusan masalah) dan Definisi Operasional. Bagian Kajian Pustaka umumnya berisi lkitasan teori, penelitian yang relevan, kerangka pikir, dan hipotesis. Hipotesis dalam PTK adalah hipotesis tindakan sehingga dituliskan sebagai hipotesis tindakan. Komponen pada Metode Penelitian umumnya terdiri atas Jenis Penelitian, Setting Penelitian, Desain Penelitian, Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data, Jadwal Pelaksanaan

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 10

penelitian dan Indikator Keberhasilan. Bila penelitian yang dilakukan dibiayai oleh sponsor ditambahkan pula Sumber Dana Perancangan Proposal PTK Bagian Pendahuluan Komponen-komponen pada pendahuluan proposal dapat di jelaskan sebagai berikut: a. Latar Belakang Latar belakang berisi paparan tentang kondisi yang seharusnya dan kondisi yang ada sehingga terlihat adanya kesenjangan kondisi ideal yang seharusnya dilakukan dengan fakta dilapangan atau biasa disebut dengan masalah. Dukungan dari hasilhasil penelitian terdahulu akan memberikan lkitasan yang kokoh dalam argumentasi mengenai urgensi maupun signifikansi permasalahan yang akan ditangani melalui tindakan kelas yang diajukan. Kemudian rasional pentingnya masalah tersebut diselesaikan dengan suatu tindakan dalam pembelajaran yang tertuang dalam PTK. Bagian yang paling penting adalah disebutkannya tindakan 1) fakta-fakta pendukung, 2) argumentasi teoritik tentang tindakan yang akan dipilih, 3) hasil penelitian terdahulu/yang relevan (jika ada), dan 4) Alasan pentingnya penelitian ini dilakukan. Latar Belakang isinya harus meyakinkan pembaca bahwa masalah tersebut betul-betul masalah di kelas yang perlu, penting dan mendesak untuk diselesaikan. Untuk itu kemukakan secara jelas bahwa masalah itu merupakan masalah yang nyata terjadi di kelas. Memulai gagasan pada Latar Belakang adalah dari hal yang umum tapi tidak terlalu umum atau jauh. Kemudian agak spesifik pada permasalahan yang akan dilakukan. Gagasan tersebut diungkapkan dalam Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas dalam Pembelajaran IPA di SMP maupun di SMA/SMK Kalimat-kalimat yang alurnya harus logis artinya runtut dan saling terkait antara suatu kalimat dengan kalimat berikutnya. Penulisan PTK adalah karya tulis ilmiah sehingga kata-kata didalamnya dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Contohnya, bila ingin mengatakan bahwa nilai IPA siswa rendah disebabkan oleh kurangnya konsentrasi ketika mengikuti pembelajaran, maka harus memberikan argumentasi atas pernyataan tersebut dengan mengacu pada hasil penelitian atau teori yang dapat dikutip dari buku atau jurnal. Kemudian jika ingin mengatakan bahwa siswa kurang konsentrasi ketika yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah. Dalam hal ini perlu dijelaskan alasan memilih tindakan tersebut. Secara garis besar latar belakang berisi uraian

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 11

belajar di kelas, maka harus diberikan bukti-bukti yang mendukung pernyataan tersebut, misalnya data observasi, catatan guru, dan lain-lain. Contoh: Perhatikan PTK yang berjudul Peningkatan Keberanian Siswa kelas IX SMP Negeri 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan pada konsep Listrik Dinamis Melalui Model latihan Inkuiri . Fokus masalah pada penelitian ini adalah keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan Mengemukakan gagasan , maka untuk latar belakang Kita dapat memulai dari paparan tentang idealisme pendidikan IPA secara umum atau dari idealisme proses pembelajaran secara umum seerta pentingnya member kesempatan untuk mengajukan pertanyaan serta mengemukakan gagasan. Kemudian menuju pada gagasan yang agak spesifik misalnya kondisi pembelajaran IPA yang ideal dan harapan agar siswa berpartisipasi aktif. Selanjutnya dapat dituliskan paparan tentang kondisi yang ideal tersebut dengan kondisi nyata yang terjadi dalam pembelajaran IPA di kelas. Selanjutnya dapat dituliskan bahwa akan menerapkan Model Latihan Inkuiri pada pembelajaran IPA di kelas. Tuliskan alasan mengapa dipilih Mode Latihan Inkuiri. Gunakan bukti-bukti penelitian atau sedikit paparan teori yang mendukung bahwa Mode Latihan Inkuiri diyakini dapat mengatasi masalah ketidak beranian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan dalam pembelajaran. Pada akhir sub bab Latar Belakang dapat dituliskan maksud melakukan penelitian tentang peningkatan keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan dengan menggunakan Model Latihan Inkuiri.

b. Perumusan Masalah dan pemecahan Masalah 1) Rumusan Masalah Rumusan Masalah diperoleh dari pengerucutan masalah pada Latar Belakang, hal ini menunjukkan adanya jalinan logis antara Latar Belakang dan Rumusan Masalah. Perumusan tidak mempunyai makna ganda rumusan masalah dan pada umumnya menunjukkan hubungan dua variabel yaitu hubungan antara masalah dengan alternatif tindakan.Untuk mengisi bagian ini, tinggal menuliskan rumusan masalah yang telah diperoleh sebelumnya,bisa diberikan sedikit narasi sebelum menuliskan rumusan masalahnya. Contoh: Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut : Apakah Keberanian siswa kelas IX SMP Negeri 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan akan meningkat melalui penerapan Model Latihan Inkuiri?

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 12

2) Pemecahan Masalah Cara pemecahan masalah yang diungkapkan adalah ringkasan dari kerangka konseptual. Ringkasan ini menampilkan bagian-bagian esensial dari kerangka konseptual yang dapat mencerminkan alternatif tindakan yang akan dilakukan. Walaupun cara pemecahan masalah ini masih dalam bentuk konsepsi, namun tetap dapat melukiskan jawaban terhadap masalah yang diajukan. Terkait dengan contoh judul diatas , maka cara pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut: Untuk memecahkan masalah tersebut, digunakan Model Latihan Inkuiri . Model Latihan Inkuiri memiliki lima fase yaitu fase satu Konfrontasi dengan masalah, fase dua pengumpulan data verifikasi /pembuktian , fase tiga: pengumpulan dataeksperimentas, fase empat: mengorganisir, merumuskan penjelasan dan fase lima Analisis Proses Inkuiri. Dalam rangka memecahkan masalah penerapan Model Latihan Inkuiri memberi peluang kepada siswa untuk menggunakan keterampilan-keterampilan bertanya secara optimal. Oleh sebab itu, penerapan model ini diyakini dapat meningkatkan keberanian bertanya siswa.

c. Tujuan Penelitian Pada Tujuan Penelitian, dinyatakan apa yang menjadi tujuan melakukan penelitian. Tujuan Penelitian harus bermuara dari rumusan Masalah sehingga konsisten atau sejalan. Pernyataan Tujuan Penelitian dirumuskan secara tegas yang ingin dicapai, objektif dan keberhasilannya dapat dicek secara mudah. Contoh: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keberanian siswa kelas IX SMP Negeri 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan d. Manfaat Penelitian Pada Manfaat Penelitian, dituliskan nilai manfaat dari hasil penelitian yang diperoleh bagi siswa, guru, sekolah, atau instansi terkait lainnya. Uraikan sumbangsih hasil PTK terhadap kualitas pembelajaran sehingga tampak manfaatnya terutama bagi siswa. Kemukakan pula inovasi yang akan dihasilkan dari penelitian ini. Contoh: Penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi siswa , guru ,maupun bagi sekolah Bagi siswa : a. Memiliki keberanian untuk bertanya dan mengajukan gagasan b. Meningkatkan penguasaan konsep fisika
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 13

c. Mengembangkan kemampuan berargumentasi Bagi guru : Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan untuk menumbuhkan keberanian siswa untuk bertanya dan mengajukan gagasan dalam memahami sebuah konsep . Bagi sekolah : Memiliki siswa-siswa dan guru yang dapat mengemukakan gagasan dan dapat bekerja sama dengan baik e. Definisi Operasional Pada Definisi Operasional, adalh mendefinisikan istilah-istilah yang digunakan khususnya pada kalimat Judul Penelitian. Hal ini dimaksudkan agar terdapat kesamaan persepsi mengenai arti atau makna istilah yang digunakan. Hal ini juga diperlukan jika terdapat beragam definisi terhadap istilah yang sama, maka perlu ditegaskan definisi mana yang digunakan. Definisi yang digunakan ditentukan oleh dasar teori yang menjadi acuan dalam melaksanakan penelitian. Definisi istilah dalam penelitian tidak mengacu pada kamus melainkan pada dasar teori yang digunakan dalam penelitian tersebut. Contoh: Hasil Belajar Hasil belajar dalam penelitian ini adalah berupa angka-angka tertentu yang tercatum dalam nilai raport, prestasi adalah hasil yang telah dicapai atau dilakukan. Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktifitas belajar (Laksmi, 2004 : 8). Hasil belajar adalah bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif) yang terdiri atas unsur kognitif, efektif dan psikhomotorik secara terpadu terhadap diri siswa (Damandiri on line). Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum pengertian hasil belajar yaitu bentuk perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif) yang terdiri dari unsur kognitif, efektif dan psikhomotorik secara terpadu terhadap diri siswa setelah mengalami aktifitas belajar Menyusun Kajian Pustaka Bab Kajian Pustaka ibaratnya tubuh pada manusia yang menjadi penopang. Tubuh yang ideal tentu ukurannya harus proposional dan lebih besar daripada kepala (bab pendahuluan). Pada bab Kajian Pustaka, dituliskan berbagai sumber kajian yang relevan dengan masalah penelitian . Uraian tersebut tidak hanya berupa pembahasan tapi juga analisis dan kesimpulannya. Bab Kajian Pustaka umumnya berisi penjelasan mengenai landasan teori, hasil penelitian yang relevan, Kerangka Pikir dan Hipotesis Tindakan.
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 14

1. Landasan Teori Landasan teori membahas semua variabel pada judul penelitian dari perspektif teoritik. Contoh landasan teori yang diperlukan untuk PTK berjudul Peningkatan keberanian Siswa kelas IX SMP 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan pada konsep Listrik Dinamis Melalui Model latihan Inkuiri .Pada judul ini terdapat beberapa kata kunci yaitu: bertanya , gagasan ,konsep Listrik Dinamis dan Model Latihan Inkuiri . Oleh karena itu, perlu dituliskan landasan teori untuk semua kata kunci dari judul penelitian tersebut. 2. Penelitian yang Relevan Pada Kajian Pustaka perlu disampaikan hasil-hasil penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian kita . PTK ibaratnya adalah proses terapi atau pengobatan terhadap suatu penyakit dalam pembelajaran, maka dalam hal ini guru adalah sang dokter. Dokter yang baik tentu tidak akan sembarangan dalam memberikan obat. Obat atau terapi yang diberikan tentu dipilihkan yang diyakini akan berhasil. Dasar dari keyakinan tersebut adalah hasil penelitian terdahulu yang membuktikan bahwa terapi tersebut manjur. Yang diperhatikan adalah masalah penelitiannya dan bukan metode penelitiannya. Jika akan melakukan PTK bukan berarti penelitian lain yang relevan dengan penelitian tersebut juga harus berupa PTK. Hasil penelitian sebelumnya dapat menjadi dasar pertimbangan dalam menyusun rencana tindakan. Untuk itu, ketika mempelajari suatu penelitian, Kita harus melihat pada bagian kesimpulan dan rekomendasi dari laporan penelitian tersebut 3. Kerangka Pikir Kerangka Pikir merupakan standing position atau pendapat pribadi peneliti setelah mempelajari sekian banyak buku teori/kajian pustaka dan hasil penelitian orang lain. Oleh karena itu, kerangka pikir hendaknya menunjukkan orisinalitas ide atau arah pemikiran peneliti yang murni, bukan kutipan-kutipan melainkan kata-kata peneliti sendiri yang dapat dipertanggung-jawabkan secara keilmuan. Kajian pustaka dan landasan teori dari para pakar juga beberapa hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti memberi gambaran penulis untuk membuat skema tindakan dalam penelitian ini Contoh: Bagi sebagian besar siswa hasil belajar yang diperoleh pada pembelajaran IPA tentang konsep Listrik Dinamis masih rendah. Oleh karena itulah diperlukan upaya guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Apabila guru menerapkan Model Latihan Inkuiri , maka hasil belajar dan keaktifan siswa pada
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 15

pembelajaran IPA tentang Listrik Dinamis akan meningkat. Hal ini dilakukan dalam proses perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas dalam dua siklus. Tindakan tersebut apabila dituangkan dalam bentuk skema akan dapat tergambar seperti berikut.

Gambar 2 : Skema Kerangka Pikir 4. Hipotesis Tindakan Hipotesis Tindakan adalah tindakan yang akan dilaksanakan guna memecahkan masalah yang diteliti dan adanya upaya melakukan peningkatan perbaikan. Ini berarti, hipotesis tindakan merupakan pernyataan sementara peneliti berdasar kajian pustaka Contoh: Hipotesis tindakan untuk PTK berjudul Peningkatan keberanian Siswa kelas IX SMP 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan pada konsep Listrik Dinamis Melalui Model latihan Inkuiri adalah : Penerapan Mode Latihan Inkuiri pada pembelajaran konsep Listrik Dinamis dapat meningkatkan keberanian siswa kelas IX SMP N 19 Bandung untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan. 5. Mencari Sumber Kajian Pustaka dan Cara Penulisan Sumber Sumber kajian pustaka bisa dari buku, jurnal ilmiah, internet, makalah, atau dari majalah ilmiah. Bila menggunakan buku, utamakan memilih buku terbitan tahun terbaru, sehingga kita tidak ketinggalan
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 16

bahwa jika dilakukan tindakan ini maka diyakini akan

mengatasi masalah itu. Pernyataan yang dituangkan harus tegas dan diyakini kebenarannya.

perkembangan informasi dan pengetahuan. Untuk memperoleh berbagai hasil penelitian yang relevan dengan penelitian kita , jurnal ilmiah merupakan sumber yang kaya. Internet juga merupakan media informasi yang sangat kaya, Kita dapat mencari berbagai informasi dari berbagai sumber. Caranya sangat mudah dengan memanfaatkan search engine seperti Google, Kita tinggal menuliskan kata kunci maka berbagai informasi yang Kita cari akan muncul. Misalnya ingin mengetahui tentang Model Latihan Inkuiri , maka Kita dapat menuliskan kata kunci: Latihan Inkuiri Setiap kutipan yang diambil dari berbagai referensi, Kita wajib mencantumkan sumbernya. Berikut diberikan contoh menuliskan sumber kutipan: Menurut Suharsimi Arikunto (2008) penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal yang statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan. Penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut (Suharsimi A, 2008) Adapula yang mencantumkan halaman buku dimana pernyataan yang dikutip tersebut berada, contohnya sebagai berikut. Menurut Suharsimi Arikunto (2008: 7) penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal yang statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan. Penelitian tindakan sifatnya bukan menyangkut hal-hal yang statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan (Suharsimi A, 2008: 7) Merancang Metode Penelitian Bagian akhir dari suatu proposal PTK adalah Metode Penelitian. Bagian ini menggambarkan rencana teknis PTK Kita. Umumnya bagian Metode Penelitian menjelaskan tentang siapa, dimana, kapan dan bagaimana. Siapa subjek yang akan diteliti atau yang akan dikenai tindakan. Dimana penelitian tesebut akan dilaksanakan dan kapan pelaksanaannya. Bagaimana teknis penelitian akan dilakukan. Teknis penelitian meliputi bagaimana rencana tindakan penelitiannya, seperti apa teknik pengambilan datanya, bagaimana cara menganalisis data tersebut. Penelitian dengan tindakan mengandung kegiatan yang bersiklus. Hal yang dapat direncanakan hanyalah untuk siklus pertama, sedangkan rencana tindakan untuk siklus kedua dan seterusnya dirancang berdasarkan hasil refleksi. Oleh karena itu, proposal PTK berisi rencana awal yang sifatnya tentatif dan terus berkembang. Rencana tindakan pada proposal PTK bukanlah rencana yang merupakan skenario untuk setiap siklus 2. Subyek Penelitian dan Lokasi Penelitian hal-hal yang statis, tetapi dinamis, yaitu adanya perubahan

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 17

Setting Penelitian berisi karakteristik lokasi, karakteristik subyek penelitian, dan lokasi penelitian dan kapan rencana pelaksanaannya. Contoh:

karakteristik mata

pelajaran. Kita tuliskan siapa yang akan diteliti atau siapa yang menjadi target rencana tindakan, dimana

Subyek penelitian adalah siswa kelas IIIx SMP N X dengan Jumlah siswa 44 orang terdiri dari 26 siswa laki-laki dan 18 siswa perempuan Karakteristik subyek penelitian : Kelas IIIx memiliki karasteristik prestasi akademik menengah dibandingkan dengan dua kelas unggulan dan dua kelas rendah lainnya, serta memiliki latar belakang sosial ekonomi rendah. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juli 2012 atau dimulai pada awal semester 1 tahun ajaran 2012/2013. 3. Data dan Sumber Data Menentukan siapa atau apa sumber data untuk PTK Kita berdasarkan pada rumusan masalah. Jenis data dalam penelitian dapat dibedakan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif. Sederhananya, data kuantitatif tentu berupa angka-angka seperti nilai hasil belajar, sedangkan data kualitatif berupa kata-kata seperti catatan pribadi guru, hasil observasi, hasil wawancara. 4. Instrumen penelitian Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru ( observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students). Instrumen yang biasa digunakan dalam PTK adalah : 1) Tes Tes yang dimaksud disini adalah tes yang disusun untuk setiap akhir siklus bisa berupa soal pilihan ganda atau soal bentuk uraian .Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman atau daya serap siswa terhadao konsep yang sedang di pelajari.Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar berupa aspek kognitif berdasarkan jenjang C1, C2,C3,C4,C5 dan C6 2) Lembar Observasi
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 18

Observasi dalam sebuah penelitian digunakan untuk mengukur proses terjadinya suatu kegiatan langsung atau tidak langsung baik dalam situasi buatan atau situasi sebenarnya . 3) Angket Angket digunakan untuk mengetahui minat siswa terhadap model /strategi/metode /media pembelajaran yang digunakan pada proses kegiatan belajar mengajar 4) Pedoman wawancara Untuk memperoleh data atau informasi yang lebih rinci dan untuk melengkapai data hasil observasi ,peneliti dapat melakukan wawancara kepada guru laun atau siswa. Wawancara digunakan untuk mengungkap data yang berkaitan dengan sikap ,pendapat,wawasan .Wawancara dapat dilakukan bebas atau terstruktur Instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data memiliki peran yang sangat penting dalam proses penelitian. Penarikan kesimpulan penelitian Kita ditentukan oleh data yang terjaring melalui instrumen penelitian. Bentuk instrumen penelitian harus ditentukan oleh jenis teknik pengambilan datanya. Oleh karena itu, teknik pengambilan data yang dipilih harus dapat mencapai tujuan pengumpulan data yaitu untuk menjawab rumusan masalah. Contoh Jenis teknik pengambilan data dan instrumen penelitian yang bersesuaian dengan tujuan pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 2 Bentuk Instrumen Penelitian berikut. Tabel 1 : Data ,Teknik Pengumpulannya dan Instrumen Penelitian No 1 Sumber Data Siswa Jenis Data Keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan sebelum dilakukan tindakan Langkah- langkah pembelajaran Frkekuensi siswa yang mengajukan pertanyaan dan mengemukakan gagasan Aktivitas guru dan siswa selama berlangsungnya PBM Keterlaksanaan fase-fase model latihan inkuiri Teknik Pengumpulan Penyebaran angket Observasi dan perekaman Observasi dan perekaman Observasi Observasi Instrumen Angket awal

2 3

Guru Siswa

Pedoman Observasi KBM dan Handycam Pedoman Observasi frekuensi siswa yang mengajukan pertanyaan dan Handycam Pedoman Observasi aktivitas guru dan siswa Pedoman Observasi Keterlaksaan model latihan inkuiri
Halaman 19

4 5

Guru dan Siswa Guru

Penelitian Tindakan Kelas

Siswa

Hasil belajar konsep kuat arus Hasil belajar konsep beda potensial Ketuntasan belajar perorangan dan klasikal

Siswa

Respon siswa terhadap model latihan inkuiri

Melaksanakan evaluasi siklus 1 Melaksanakan evaluasi siklus 2 Hasil belajar siklus 1 dan 2 Penyebaran angket

Soal tes konsep kuat arus Soal tes konsep beda potensial Format ketuntasan belajar Angket respon siswa

Pemilihan teknik pengambilan data ditentukan berdasarkan sumber data penelitian . Misal pada contoh masalah penelitian meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya maka sumber data yang relevan adalah dari siswa melalui pengamatan atau catatan guru selama pembelajaran dan wawancara kepada siswa. Teknik pengambilan datanya menggunakan observasi dan wawancara. Contoh masalah penelitian meningkatkan penguasaan konsep Listrik Dinamis yang relevan adalah siswa yang dapat dilihat dari kinerja tertulis maupun verbal. Teknik pengambilan datanya menggunakan tes hasil belajar, hasil kerja dalam LKS, PR. Sebuah PTK memerlukan instrumen penelitian yang dapat mengumpulkan data menangkap informasi mengenai terjadinya mengenai proses pembelajaran dan tidak hanya mengenai hasil pembelajaran Instrumen yang dibuat hendaknya dapat perubahan, perbaikan, atau peningkatan dalam proses pembelajaran dan bukan hanya informasi mengenai hasil dari intervensi yang telah dilakukan guru. Oleh karena itu, tidak cukup hanya menggunakan tes sebagai alat pengumpul data dalam PTK. Berikut ini pembahasan mengenai teknik pengumpulan data dan bentuk instrumen yang berorientasi pada proses. 5. Teknik Analisis Data dan Kriteria Keberhasilan Data yang telah dikumpulkan harus dianalisis. Analisis hanya bersifat kualitatif. Jika ada data kuantitatif, analisisnya paling banyak menggunakan statistik deskriptif dengan penyimpulan lebih mendasarkan diri pada nilai rata-rata. Hasil analisis data kualitatif dikonsultasikan dengan makna kualitatif yang mencerminkan struktur dasar terhadap jawaban masalah penelitian. Misalnya, bagaimana metode demontrasi dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar? Hasil analisis data hendaknya dikonsultasikan dengan makna demonstrasi secara aktual, bukan pikiran guru atau pengamat lainnya. Hasil analisis kuantitaif, selanjutnya dikonsultasikan pada pedoman konversi. Misalnya, data hasil belajar, pedoman konversinya adalah sebagai berikut:
Penelitian Tindakan Kelas Halaman 20

Interval Kualifikasi 00,00 39,9 adalah Sangat kurang 40,00 54,9 adalah Kurang 55,00 69,9 adalah Cukup 70,00 84,5 adalah Baik 85,00 100 adalah Sangat baik Sebagai kriteria keberhasilan, peneliti dapat menetapkan nilai rata-rata minimal 55,0 atau 70,0 tergantung rasional yang dijadikan dasar atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh guru. Di samping itu, kriteria ketuntasan belajar juga dapat dijadikan kriteria keberhasilan. Misalnya, ketuntasan individual adalah nilai 7,5 dan ketuntasan klasikal 85%, 6. Jadwal Pelaksanaan Jadwal penelitian berisi penjelasan tahap kegiatan yang akan dilakukan meliputi persiapan, pelaksanaan dan pelaporan hasil penelitian beserta lamanya waktu pelaksanaan. Umumnya tertuang dalam bentuk matriks seperti contoh berikut No Rencana Agustus 1 Minggu ke Persiapan Merevisi draft Proposal Menyempurnakan Instrumen Pelaksanaan Menyiapkan kelas dan alat Melakukan Tindakan Siklus I Refleksi dan Analsis data Melakukan Tindakan Siklus II Refleksi dan Analisis Siklus II Penyusunan Laporan Menyusun konsep laporan Seminar hasil penelitian Perbaikan laporan 1 x x x x x x x x x x x x x x 2 3 4 1 BULAN DAN MINGGU September 2 3 Oktober 4 1 2 3 4

1. Penulisan daftar Pustaka


Penelitian Tindakan Kelas Halaman 21

Alternatif aturan menuliskan sumber kajian pustaka pada bagian Daftar Pustaka adalah sebagai berikut. Cara menulis daftar pustaka, berurutan secara alfabetis tanpa nomor urut. Sumber tertulis/tercetak yang memakan tempat lebih dari satu baris, ditulis denganjarak antar baris satu spasi, sedangkan jarak antar sumber-sumber tertulis yang saling berurutan adalah dua spasi. Cara menulis daftar pustaka dapat dilihat pada contoh berikut ini : 1. Jika Sumbernya buku Arikunto, S. (2006). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research-CAR) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Suhardjono. (2006). Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Kegiatan Pengembangan Profesi Guru. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : PT. Bumi Aksara. Jika buku ditulis lebih dari tiga orang, digunakan et al. Ghiseli, E. et al. (1981).. San Francisco : W.H. Freeman and. Co. 2. Jika sumber jurnal Namdeo, A. G. (2007). Plant Cell Elicitation for Production of Secondary Metabolites.Journal of PhytoBiotechnology. (1), .71-79 3. Jika Sumbernya di luar jurnal atau buku Cendrawati, C.S (2000). Kemampuan Kreatif Dalam Melakukan Elaborasi Terhadap Konsep-Konsep Sistem Reproduksi Anthophyta. Tesis. UPI Bandung : Tidak diterbitkan. Dinata, A (2005). Akibat Pengelolaan Sampah Setengah Hati. Pikiran Rakyat (28 Februari 2005). . 4. Jika Sumbernya dari internet Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari internet, pertama; tulis nama, kedua; tulis (tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung) setelah itu beri (tanda titik), ketiga; tulis judul buku / tulisannya lalu beri (tanda titik) lagi, keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma, kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut Seperti contoh dibawah ini:

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 22

Yanti Hamdiyati (2008). Cara Membuat Daftar Pustaka. Dalam http: // file.upi.edu/ Direktori/ FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196611031991012YANTI_HAMDIYATI/cara_membuat_daf pus_Pelatihan_PTK-jun-08.pdf, diunduh pada Sabtu 21 Juli 2012 5. Jika Sumbernya makalah Sumber dari makalah ditulis dengan urutan: Nama penulis (tanpa gelar). Tahun. Judul makalah (ditulis miring/italic). Makalah pada kegiatan seminar (sebut nama kegiatan), nama penyelenggara/institusi pelaksana, tanggal pelaksanaan seminar. Contoh: Gunawan. 2005. Mari ber-PTK. Makalah pada Seminar Peningkatan Mutu Perkuliahan, Universitas Negeri Yogyakarta, 22 Desember 2005 dalam rangka Hibah A2. Suwarsih Madya. 1999. Rencana Penelitian Tindakan. Makalah disampaikan dalam Penataran Guru, Lembaga Penelitian IKIP Yogyakarta.

DAFTAR PUSTAKA Depdikbud .1999. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdikbud. Edi Prayitno ,Sri Wulandari (2010). Penyusunan proposal Penelitian Tindakan Kelas dalam Pembelajaran Matematika di SD. Jakarta : Kemendiknas Dirjen PMPTK Hopkins, D. 1985. A Teachers Guide to Classroom Research. Philadelphia: Open University Press. Joni, R. (1998). Penelitian Tindakan Kelas. Makalah dalam Penataran Calon Pelatih Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah, Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Kemmis, S and Taggart,R. 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University. Suharsimi Arikunto, Suhardjono dan Supardi. 2007. Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: PT Bumi Aksara. Tim Pelatih Proyek PGSM. (1999). Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Depdikbud. Yanti Hamdiyati (2008). Cara Membuat Daftar Pustaka. Dalam http: // file.upi.edu/ Direktori/ FPMIPA/JUR._PEND._BIOLOGI/196611031991012YANTI_HAMDIYATI/cara_membuat_daf pus_Pelatihan_PTK-jun-08.pdf, diunduh pada Sabtu 2 Juli 2012

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 23

Penelitian Tindakan Kelas

Halaman 24