Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN HASIL KERJA PRAKTEK ANALISA KURVA PRESENTAGE DEPTH DOSE (PDD) DAN DOSE PROFILE UNTUK MENGETAHUI

KUALITAS, KESERAGAMAN DAN KESIMETRISAN BERKAS DI INSTALASI RADIOTERAPI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. HASAN SADIKIN BANDUNG

DISUSUN OLEH:

Mariatul Khiftiyah (24040110130042)

JURUSAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013

HALAMAN PENGESAHAN
Dengan ini menerangkan bahwa laporan Kerja Praktek yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tanggal 17 Juli 2013 hingga 23 Agustus 2013 dengan judul Analisa Kurva Presentage Depth Dose (PDD) Dan Dose Profile Untuk Mengetahui Kualitas, Keseragaman Dan Kesimetrisan Berkas Di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung yang disusun oleh : Nama : Mariatul Khiftiyah NIM : 24040110130042

Telah disetujui dan disahkan di Semarang pada tanggal :

Mengetahui,

Ketua Jurusan Fisika

Koordinator Kerja Praktek

Dr. Rahmat Gernowo NIP 196511231994031003

Dr.Eng. Agus Setiawan, M.Si NIP 197308251999031002

HALAMAN PERSETUJUAN

Laporan Kerja Praktek dengan judul Analisa Kurva Presentage Depth Dose (PDD) Dan Dose Profile Untuk Mengetahui Kualitas, Keseragaman Dan Kesimetrisan Berkas Di Instalasi Radioterapi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tanggal 17 Juli 2013 hingga 23 Agustus 2013, disusun oleh :

Nama NIM Jurusan Fakultas Universitas

: Mariatul Khiftiyah : 24040110130042 : Fisika : Sains dan Matematika : Diponegoro

Telah diperiksa dan disetujui oleh :

Dosen Pembimbing I,

Dosen Pembimbing II,

Zaenal Arifin, M.Si NIP 197705102008121001 NIP

Susila Wardaya,ST.,M.Si

I.

TUJUAN Mengetahui kualitas, kesesaragaman dan kesimetrian berkas melalui

penggambaran kurva Precentage Depth Dose (PDD) dan Dose Profile.

II.

DASAR TEORI 2.1 Linear Accelerator (LINAC) Radioterapi telah diterima sebagai sebuah modalitas penting pada pengobatan penyakit kanker tidak lama setelah ditemukan sinar X pada akhir abad XIX disamping modalitas lain seperti pembedahan dan khemoterapi. Modalitas ini berkembang dengan pesat mengikuti perkembangan teknologi pada umumnya. Radiasi eksterna yang merupakan metode pemberian radiasi konvensional telah berubah dengan kemampuan meningkatnya tegangan yang dihasilkan oleh sistem generator pengahasil foton. Semakin tinggi tegangan yang dihasilkan semakin optimal pula hasil pengobatan., yakni diperolaeh kematian jaringan tumor sebanyak-banyaknya tetapi kerusakan jaringan sehat sekitarnya adalah minimal. Radiasi eksterna diawali dengan penggunaan anode stastis yang menghasilkan tegangan sebanyak 10 kilo volt, dan sekarang dengan teknologi akselerator dapat dihasilkan tegangan tinggi dalam penggunaan untuk kesehatan sampai dengan 15 Mega Volt di samping elektron. Di Negara maju akselerator untuk kesehatan juga telah merambah penggunaan neutron, proton serta parikel berat lainnya. Akselerator adalah alat yang dipakai untuk mempercepat gerak partikel bermuatan seperti elektron, proton, inti-inti ringan, dan inti atom lainnya. Mempercepat gerak pertikel bertujuan agar pertikel tersebut bergerak dengan cepat sehingga memiliki energi kinetik yang sangat tinggi. Untuk mempercepat gerak partikel ini diperlukan medan listrik ataupun medan magnet. Dilihat dari jenis gerakan medan partikel, ada dua jenis akselerator, yaitu akselerator dengan gerak partikelnya lurus (lebih dikenal sebutan akselerator liniear)dan gerak partikelnya melingkar (akselerator magnetik). Akselereator gerak pertama kali dikembangkan oleh dua orang fisikawan Inggris, J.D. Cockroft dan E.T.S Walton, di Laboratorium Cavendish, Universitas Cambrige pada 1929. atas jasanya itu, mereka dianugrahi hadiah

Nobel bidang fisika pada 1951. pada mulanya, akselerator partikel dipakai untuk penelitian fisika energi tinggi dengan cara menabrakan partikel berkecepatan sangat tinggi kew target tertentu. Namun, ada beberapa jenis akselerator partikel yang dirancang untuk memproduksi radiasi berenergi tinggi untuk keperluan radioterapi. Tabung Betatron dan Sinkrotron Elektron untuk mendapatkan sinar-X dengan energi yang sangat tinggi, para ilmuwan telah membangun mesin pembangkit sinar-X yang sangat kuat. Salah satu diantaranya adalah mesin pembangkit yang diberi nama betatron. Mesin pada prinsipnya adalah suatu tabung sinar-X berukuran sangat besar. Betatron peartama kali diperkenalkan pada 1941 oleh Donald William Kerts dari Universitas Illinois, Amerika Serikat. Panamaan Betatron mengacu pada salah satu jenis sinar radioakatif yaitu sinar- , yang merupakan aliran elektron yang berkecepatan tinggi. Betatron terdiri atas tabung kaca hampa udara berbentuk cincin raksasa yang diletakan diantara dua kutub magnet yang sangat kuat. Penyuntik berupa filamen panas yang berperan sebagai pemancar elektron dipasang untuk menginjeksi aliran elektron ke dalam tabung pada sudut tertentu. Setelah elektron disuntikan ke dalam tabung, ada dua gaya yang akan bekerja pada elektron tersebut. Gaya yang pertama membuat elektron bergerak mengikuti lengkungan tabung. Di dalam medan magnet, partikel akan bergerak melingkar. Gaya yang kedua berperan mempecepat gerak elektron hingga kecepatannya semakin tinggi. Melalui gaya ke dua ini, elektron memperoleh energi kinetik yang sangat besar. Dalam waktu sangat singkat, elekttron akan bergerak melingkar di dalam tabung beberapa ribu kali. Apabila energi kinetik elektron telah mencapai nilai tertentu, elektron dibelokan dari jalur lengkungannya sehingga dapat menabrak target secara langsung yang berada di tepi ruangan. Dari proses tabrakan ini pancarkan sinar X berenergi sangat tinggi. Sebagi besar Betatron menghasilkan elelktron berenergi kira-kira 20 MeV. Betatron memiliki kelemahan karena mesin itu memerlukan magnet berukuran sangat besar guna mendapatkan perubahan fluks yang diperlukan untuk mempercepat elektron. Untuk mengatasi kelemahan ini, diperkenalkan jenis akselerator elektron lainnya yang menggunakan magnet yang berbentuk

cincin yang diberi nama sinkrontron elektron. Alat ini berfungsi sebagai pemercepat elektron yang mampu menghasilkan elektron dengan energi kinetik lebih besar di bandingkan Betatron. Elektron dengan energi anatara 50-100 kV dipancarkan dari filamen untuk selanutnya dipercepat di dalam alat. Pada saat akhir proses percepatan, elektron ditabrakan menuju sasaran sehingga dihasilkan sinar X dengan energi dan intensitas tinggi. Linear Accelerator (LINAC) merupakan sebuah pesawat dengan percepatan elektron yang mampu merubah elektron menjadi energi kinetik dari 4 MeV sampai 25 MeV dengan frekwensi dari 103 MHz sampai 104 MHz, dengan luas mayoritas 2856 MHz. Pesawat LINAC terdiri dari beberapa bagian utama sebagai berikut : 1. Gantry stand Merupakan tempat wadah sumber ( radiation head source head ) dan yang menjamin perputaran iso center dari wadah sumber atau peralatan pembatas berkas.

2. Source head Merupakan wadah sumber Sinar X, diberi perisai timbal. Source head di lengkapi dengan sistem beam on / off dan lokalisasi lapangan penyinaran.

3. Collimator assembly Alat pengatur / pembatas ukuran lapangan penyinaran sesuai kebutuhan, tergantung ukuran atau dimensi tumor, collimator dilengkapi dengan diafragma dua arah ( x dan y).

4. Distance indicator Adalah suatu penunjuk jarak secara optis yang ditempatkan pada sudut 45 0 terhadap sumbu kontrol gantry menunjukkan jarak antara 65 130 cm.

5. Controls : treatment room controls console Treatment room controls adalah kontrol tangan yang ada di pesawat. Control console merupakan sistim control yang dilengkapi berbagai tombol dan

ditempatkan di ruang operator. Ini digunakan untuk memulai dan menghentikan penyinaran dan mengontrol interlocks, display dan indicator.

Gambar 2.1

Gambar 2.2

Gambar 2.3 Pesawat LINAC Keterangan Gambar : A Gantry rotation B SAD C Collimator rotation D Image intensifier (lateral) E Image intensifier (longitudinal) F Image intensifier (radial) G Patient table (vertical) H Patient table (longitudinal) I Patient table (lateral) J Patient table rotation about isocenter K Patient table about pedestal L Film casette M Image intensifier

2.2 Prinsip Kerja Pesawat Linac (Linear Accelerator) Pesawat Linear Accelerator (Linac) dapat menghasilkan radiasi elektron dan foton dengan energi tinggi. Energi radiasi elektron antara 4 MeV, 6 Mev, 8Mev, 12 Mev, 15Mev dan energi radiasi foton 6 MV dan 10 MV. Dose Rate (laju dosis) nominal hingga 200 Monitor Unit/ Menit atau lebih. Tingkat energi tersebut dapat dihasilkan melalui proses percepatan elektron secara linear di dalam tabung pemandu gelombang pemercepat (accelerating waveguide) yang hampa. Tingkat kehampaannya mencapai kurang dari 1 X 10-7 torr (1 torr = 1mmHg = 11760 atm). Tabung ini merupakan tabung penghantar yang terdiri dari susunan sel-sel berupa rongga-rongga yang terbuat dari tembaga. Dalam tabung ini disalurkan gelombang mikro (Microwave) yang dibangkitkan oleh magnetron 5 KV A dengan panjang gelombang 10 mm. Pada pesawat Linac tertentu selain magnetron masih diperlukan Klystron. Proses terselenggaranya percepatan elektron di dalam tabung dimulai dengan dibangkitkannya gelombang mikro oleh magnetron 5 KV A yang berfrekuensi sesuai dengan frekuensi resonansi tabung (3000 MHz). Gelombang mikro tersebut disalurkan melalui sirkulator dan tabung pemandu gelombang pemercepat elektron. Ada dua jenis pemandu gelombang yaitu pemandu gelombang berjalan (travelling waveguide) dan pemandu gelombang berdiri (standing waveguide). Bila daya frekuensi gelombang mikro melintasi rongga-rongga setiap sel dari pemercepat, maka akan terselenggara resonansi antara gelombang mikro dengan rongga-rongga tersebut. Akibatnya akan terjadi medan elektromagnet di dalam tabung pemercepat dan terjadi kuat medan listrik dinamis pada setiap sel yang berubah-ubah periodenya sesuai perubahan amplitudo gelombang mikro. Hal lnl akan mengakibatkan setiap sel berubah-ubah muatannya. Perubahan periode muatan listrik tersebut dimanfaatkan untuk mempercepat lintasan elektron. Elektron dihasilkan oleh elektron gun yang berupa tabung trioda, kemudian ditembakkan dengan energi awal 15 Ke V secara sinkron dengan perubahan amplitudo gelombang mikro dan secara berkelompok memasuki selsel tabung pemercepat.

Kecepatan e1ektron tersebut secara berantai dipacu lintasannya dari satu sel ke sel berikutnya sampai energi elektron tersebut sesuai dengan energi yang dikehendaki. Besar energi yang dihasilkan pesawat akan sesuai dengan banyaknya jumlah rongga resonansi lintasan elektron dan akan sesuai dengan panjang tabung pemercepat yang dipakai. Semakin besar energi yang diperlukan, akan semakin panjang tabung pemercepat tersebut. Berkas elektron yang telah dipercepat didepleksikan menuju isocenter lapangan penyinaran dengan menggunakan me dan magnet sistem pembelok berkas akromatik. Elektron dengan energi sedikit lebih tinggi atau lebih rendah dari yang dikehendaki akan dibelokkan sedemikian rupa sehingga energi dan lintasannya dapat sesuai dengan yang dikehendaki. Sedangkan elektron dengan penyimpangan energi agak besar akan dieliminir oleh sebuah filter celah mekanis (prinsip spektograph massa). Dengan demikian dapat dicapai pemfokusan berkas elektron yang sangat baik dengan energi yang monokromatis. Setelah mengalami pembelokkan, elektron-elektron energi tinggi dapat digunakan secara langsung. Bila yang dikehendaki adalah sinar X, maka elektronelektron berenergi tinggi tersebut ditumbukkan ke bidang target penerus (trasmission target). Sistem pendingin menggunakan air dengan sirkulasi tertutup ( close circuit water) pada alat yang disebut Chiller. Chiller diletakkan pada ruangan tersendiri diluar bunker Linac, mengatur sirkulasi air yang panas dari pesawat Linac ke chiller untuk didinginkan, dan dipompa kembali ke pesawat Linac. Air pendingin di suplai oleh vendor, yang selalu harus di cek pada chiller, bila kurang ditambah. 2.3 Aplikasi LINAC LINAC mempunyai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan akselerator magnetik. Di samping itu, penyutikan artikel yang akan dipercepat dalam akseleratormagnetik sangat sulit dilakukan, sedang pada LINAC partikel dalam bentuk berkas terkolimasi secara otomatis terpencar ke dalam tabung akselerator. LINAC dapat dipakai untuk mempercepat partikel hingga berenergi di atas 1 BeV. Betatron praktis tidak mungkin mencapai energi setinggi karena memerlukan magnet berukuran sangat besar. LINAC semula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan positif seperti proton. Namun, setelah berbagai

modifikasi, mesin dapat pula dipakai untuk mempercepat partikel bermuatan negatif seperti elektron. Dalam hal ini, elektron yang dipercepat mampu bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (elektron dengan energi 2 MeV bergerak dengan keceaptan 0,98 c, dengan c adalah keepatan cahaya). Jika elektron berenergi tinggi itu ditabrakan pada target dari logam berat maka dari pesawat LINAC akan di pancarkan sinar-X bernergi tinggi. Radioterapi dapat juga dilakukan dengan menggunakan elektron berenergi tinggi. Elektron yang dipercepat dalam LINAC dapat langsung di manfaatkan untuk radioterapi tanpa harus di tabrakan terlebih dahulu dengan logam berat. Jadi, LINAC dapat juga berperan sebagai sumber radiasi partikel berupa elektron cepat yang dapat dimanfaatkan untuk radioterapi tumor.

2.4 Kalibrasi Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Sistem manajemen kualitas memerlukan sistem pengukuran yang efektif, termasuk di dalamnya kalibrasi formal, periodik dan terdokumentasi, untuk semua perangkat pengukuran. ISO 9000 dan ISO 17025 memerlukan sistem kalibrasi yang efektif. Kalibrasi diperlukan untuk: * Perangkat baru * Suatu perangkat setiap waktu tertentu * Suatu perangkat setiap waktu penggunaan tertentu (jam operasi) * Ketika suatu perangkat mengalami tumbukan atau getaran yang berpotensi mengubah kalibrasi * Ketika hasil observasi dipertanyakan Kalibrasi, pada umumnya, merupakan proses untuk menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Contohnya, termometer dapat dikalibrasi sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga termometer tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius pada titik-titik

tertentu di skala. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, terdapat direktorat metrologi yang memiliki standar pengukuran (dalam SI dan satuan-satuan turunannya) yang akan digunakan sebagai acuan bagi perangkat yang dikalibrasi. Direktorat metrologi juga mendukung infrastuktur metrologi di suatu negara (dan, seringkali, negara lain) dengan membangun rantai pengukuran dari standar tingkat tinggi/internasional dengan perangkat yang digunakan. Hasil kalibrasi harus disertai pernyataan traceable uncertainity untuk menentukan tingkat kepercayaan yang di evaluasi dengan seksama dengan analisa ketidakpastian.

2.5 Presentage Depth Dose (PDD) Percentage Depth Dose (PDD) atau persentase dosis kedalaman merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi distribusi dosis pada jaringan dengan kedalaman tertentu. Kuantitas persentase dosis kedalaman (PDD) dapat di definisikan sebagai persentase perbandingan antara dosis yang diserap pada kedalaman tertentu (Dd) dengan dosis yang di serap pada kedalaman referensi(Do). Besarnya nilai PDD ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya energi radiasi, kedalaman, luas lapangan radiasi dan jarak sumber radiasi dengan permukaan jaringan/ source surface distance (SSD) (Khan,2003). Secara matematis PDD didefinisikan sebagai

Energi radiasi yang digunakan akan mempengaruhi kemampuan penetrasi radiasi tersebut terhadap jaringan. Akibatnya, semakin besar energi radiasi yang diberikan nilai PDD akan meningkat dan sebaliknya, untuk energi yang lebih rendah nilai PDD akan menurun. Faktor kedalaman berpengaruh pada pengurangan nilai PDD yang menyebabkan semakin dalam letak suatu jaringan maka nilai PDD yang dimilikinya akan semakin menurun. Lapangan radiasi yang semakin besar akan meningkatkan interaksi radiasi hambur, yang menyebabkan PDD akan mengalami kenaikan. Hal ini juga berlaku pada SSD, meskipun semakin besar jarak permukaan jaringan

dengan sumber radiasi akan mengurangi radiasi yang diterima, namun SSD yang semakin besar akan meningkatkan nilai PDD.

III. METODE PENGAMBILAN DATA 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Water phantom Fungsi : sebagai objek yang akan dikenai sinar x dan sebagai tempat detektor. 3.1.2 Pesawat Linac Precise 5991 Fungsi : sebagai objek yang dilakukan kalibrasi sekaligus penghasil berkas sinar-x. Spesifikasi pesawat Linac 1. Merk atau Type: Linac Elekta Precise 5991 2. Treatment Head: Standart Dual Leaf Jaw ( X dan Y) 3. Energy Output: Foton 6 MV, elektron 4, 6, 8, 10, 12, 15 MeV 4. Standart Output Foton: 200 MU = 200 cGy/menit. 10 x 10 cm field size 5. Standard Output Elektron: 200 MU = 200cGy 10 x 10 cm field size 6. Accesoris: Virtual Wedge ( 150, 300 dan 450 ), elektron aplikator 5 x 5 diameter cone, 10 x 10 cm, 15cm x 15 cm, 20 cm x 20 cm, 25 cm x 25 cm. 3.1.3 CCU Fungsi : sebagai kontrol untuk menggerakkan motor, sebagai pencacah, dan sebagai penyuplai bias. 3.1.4 Termometer Fungsi : sebagai alat ukur temperatur. 3.1.5 Barometer Fungsi : sebagai alat ukur tekanan.

3.1.6 Detektor condensor chamber SN-9970 Fungsi : sebagai reference detektor yang diletakkan di udara. 3.1.7 Detektor condensor chamber SN-9976 Fungsi : sebagai field detektor yang diletakkan di dalam water phantom. 3.1.8 Holder detektor Fungsi : sebagai alat bantu untuk meletakkan detektor condensor chamber SN-9976 tepat di permukaan water phantom. 3.1.9 Kabel Koaksial Fungsi : untuk menghubungkan water detektor condensor chamber dengan CCU. 3.1.10 Mephysto MCC PTW Fungsi : sebagai program pengolahan data yang menghasilkan kurva sebagai output.

3.3 Cara Kerja 3.2.1 Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam kalibrasi bulanan yaitu penentuan PDD dan Dose Profile. 3.2.2 Menyalakan pesawat Linac dan mengatur posisi tabung water phantom tepat pada isocenter gantry atau center phantom. 3.2.3 Mengisi tabung water phantom dengan aquadest sesuai dengan SSD 100 cm. 3.2.4 Memastikan SSD tepat 100 cm dengan menggunakan film. 3.2.5 Memasang detektor condensor chamber SN-9976 tepat pada permukaan air dan isocenter sedangkan detektor condensor chamber SN9970 diletakkan di udara dan dipastikan tidak menutupi detektor condensor chamber SN-9976. 3.2.6 Menghubungkan kabel koaksial dengan CCU dan detektor 3.2.7 Melakukan pengaturan terhadap program Mephysto MCC PTW dengan menginput data percobaan yang diinginkan. 3.2.8 Melakukan pengamatan terhadap kurva yang dihasilkan.

IV. DATA HASIL PENGAMATAN 4.1 Kurva PDD


120 100 80 60 40 20 0 0 50 100 150 200 250 300 350

4.2 Kurva Profile Dose


120

95.1 91.5 82.3

100 99.999.799.899.998.5 99.4100 80

94.1 87.5 74

61.3

60 49.6

36.1 19.8 12.7 10.5 7.9 6.7 5.7 -60 -40 -20

40 26.9 20 15.5 11 9.5 7.5 6.3 5.3 4.7 0 20 40 60 80 100

5 -100 -80

V. PEMBAHASAN ` Untuk pemanfaatan setiap peralatan baik radiodiagnostik maupun radioterapi

perlu adanya dilakukan kalibrasi. Kalibrasi dapat dilakukan harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Dalam hal ini yang difokusan adalah pada kalibrasi tahunan, yang bertujuan untuk mengetahui kualitas, keseragaman, dan kesimetrian berkas melalui penggambaran kurva PDD dan Profile Dose. Kurva PDD merupakan kurva yang menggambarkan presentasi dosis radiasi pada tiap kedalaman tertentu sedangkan kurva profile dose adalah kurva yang mengambarkan presentasi dosis radiasi pada tiap luas lapangan tertentu. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap nilai PDD dan nilai Profile Dose diantaranya: Kualitas dan kedalaman berkas Nilai PDD dan Profile Dose akan mencapai nilai maksimum pada dmax dikarenakan dosis serap pada titik tersebut maksimum sedangkan sebelum dmax nilai PDD dan Profile Dose akan mengalami kenaikan tetapi untuk setelah dmax nilai PDD dan Profile Dose akan mengalami penurunan. Pada kedalaman yang sama tetapi energi yang berbeda maka akan menghasilkan nilai PDD dan Profle Dose yang berbeda. Nilai PDD dan Profile Dose akan berbanding lurus dengan energi dari berkas pada kedalaman yang sama, yaitu semakin tinggi energi berkas maka nilai PDD dan Profile Dose akan mengalami peningkatan. SSD SSD atau Source Surface Distance adalah jarak antara target sinar-x dengan permukaan objek yang akan disinar juga sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi nilai PDD dan Profile Dose. SSD memiliki perbandingan yang lurus dengan PDD dan Profile Dose sehingga semakin jauh SSD maka nilai PDD dan Profile Dose akan semakin besar, dikarenakan dengan PDD dan Profile Dose yang jauh maka akan terjadi magnifikasi lapangan yang besar yang nantinya akan mempengaruhi nilai PDD dan Profile Dose. Luas dan bentuk lapangan Luas dan bentuk lapangan memiliki korelasi dengan nilai PDD dan Profile Dose. Jika dalam kalibrasi digunakan luas dan bentuk lapangan yang semakin besar

maka nilai PDD dan Profile Dose yang dihasilkan juga akan semakin meningkat itu dikarenakan semakin besar luas dan bentuk lapangan akan menyebabkan ionisasi yang semakin besar pula. Berikut analisa untuk hasil kurva PDD dan Profile Dose yang didapatkan dari program Mephysto MCC PTW. a. Kurva PDD Dari kurva PDD dapat diketahui bahwa kurva PDD berbeda untuk tiap luas lapangan yang digunakan. Untuk kurva warna merah menunjukkan luas lapangan 10 x 10, untuk kurva warna kuning menunjukkan luas lapangan 15 x 15 dan untuk kurva warna hijau menunjukkan luas lapangan 20 x 20. Terbukti bahwa semakin besar luas lapangan yang digunakan maka akan dihasilkan nilai PDD yang semakin besar pula sehingga pada kurva digambarkan dengan adanya perbedaan ketinggian kurva PDD. Toleransi perubahan kurva PDD untuk setiap kalibrasi bulanan dengan kurva PDD referensi tidak boleh melebihi 5%. b. Kurva Profile Dose Dari grafik pada data hasil pengamatan dapat dilihat bahwa untuk masingmasing luas lapangan dengan kedalaman yang sama akan didapatkan dosis relatif yang berbeda. Semakin besar luas lapangan yang digunakan maka akan terbaca dosis relatif yang semakin besar pula, begitu sebaliknya. Adanya perbedaan dosis yang terbaca pada luas lapangan yang berbeda dengan

kedalaman yang sama akan mempengaruhi flatness dari kurva Profile Dose. Perbedaan flatness dari kurva Profile Dose akan dibandingkan dengan flatness dari kurva Profile Dose referensi dengan toleransi 5%. Sedangkan untuk masing-masing kedalaman dengan luas lapangan yang sama juga akan didapatkan dosis relatif yang berbeda. Semakin besar kedalaman yang digunakan maka akan terbaca dosis relatif yang semakin turun, begitu sebaliknya. Adanya perbedaan dosis yang terbaca pada kedalaman yang berbeda dengan luas lapangan yang sama akan mempengaruhi kesimetrian dari kurva Profile Dose. Perbedaan kesimetrian dari kurva Profile Dose akan dibandingkan dengan kesimetrian dari kurva Profile Dose referensi dengan toleransi 5%.

III.

PENUTUP 3.1 Kesimpulan Kalibrasi tahunan mencakup perhitungan PDD dan Profile Dose untuk foton. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kualitas, keseragaman, dan kesimetrian berkas melalui penggambaran kurva PDD dan Profile Dose. Dari hasil pengamatan yang didapatkan PDD dan Profile Dose dipengaruhi oleh kualitas dan kedalaman berkas, SSD, luas dan bentuk lapangan.

3.2 Saran Pada penentuan kurva PDD dan Profile Dose akan lebih baik jika melakukan pengamatan pada banyak variasi kedalaman agar mendapatkan hasil yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Bethel, Gunilla C. Radiation Therapy Planning. Texas: Mosby Inc Khan, Faiz M. 2003. The Physics of Radiation Therapy Fourth Edition . Department of Therapeutic Radiology, University of Minnesota Medical School, Minneapolis, Minnesota
Oen, L.R., 1988, "Pengukuran Output Radiasi Pesawat Radioterapi Pada Rumah Sakit di Seluruh Indonesia", Majalah Cennin Dunia Kedokteran, No. 49 Tahun 1988. ISSN: 0125 -913X.

RADIOLOGY INFORMATION CENTER created by Sumarsono.Dipl.Rad,S.Si pada http://ss-radiology.blogspot.com/2008/08/dasar-dasar-linear-accelerator.html diakses pada tanggal 15 Agustus 2013 http://jannahmedicalphysics.blogspot.com/2011/05/radioterapi-1.html diakses pada tanggal 14 Agustus 2013

LAMPIRAN

1. Gambar Alat dan Bahan

Pesawat Linac Siemens / Primus M Class 5633

Termometer dan Baromater

Waterpass

Alat pemompa air

Water Phantom

Detektor condensor chamber SN-9976

Detektor condensor chamber SN-9970

ICCU

Holder Detektor