Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Selama lebih dari tiga dasawarsa, Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Departemen Kesehatan telah menyelenggarakan serangkaian reformasi di bidang kesehatan guna meningkatkan pelayanan kesehatan dan menjadikannya lebih efisien, efektif serta terjangkau oleh masyarakat. Berbagai model pembiayaan kesehatan, sejumlah program intervensi teknik bidang kesehatan, serta perbaikan organisasi dan manajemen telah diperkenalkan.1 Konvensi Hak-hak Anak tahun 1990 antara lain menegaskan bahwa tumbuh kembang secara optimal merupakan salah satu hak anak. Berarti ASI selain merupakan kebutuhan, juga merupakan hak azasi bayi yang harus dipenuhi oleh orangtuanya. Hal ini telah dipopulerkan pada pekan ASI sedunia tahun 2000 dengan tema Memberi ASI adalah hak azasi ibu; Mendapatkan ASI adalah hak azasi bayi (Depkes, 2001). Terjadinya kerawanan gizi pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurang juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan.2 Pemberian ASI di Indonesia belum dilaksanakan sepenuhnya. Upaya meningkatkan perilaku menyusui pada ibu yang memiliki bayi khususnya ASI eksklusif masih dirasa kurang. Permasalahan yang utama adalah faktor sosial budaya, kesadaran akan pentingnya ASI, pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang

belum sepenuhnya mendukung PP-ASI, gencarnya promosi susu formula dan ibu bekerja. Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%, pemberian ASI satu jam pasca persalinan 8%, pemberian hari pertama 52,7%. Rendahnya pemberian ASI eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel), menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%, sedangkan dipedesaan 4%-25%. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13% sedangkan di pedesaan 2%-13%. Pada ibu yang bekerja, singkatnya masa cuti hamil/melahirkan mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini mengganggu uapaya pemberian ASI eksklusif. Dari berbagai penelitian menunjukan banyak alasan untuk menghentikan ASI dengan jumlah yang bervariasi : 13% (1982), 18,2% (Satoto 1979), 48% (Suganda 1979), 28% (Surabaya 1992), 47% (Columbia), 6% (New Delhi). Selain itu gencarnya promosi susu formula dan kebiasaan memberikan makanan/minuman secara dini pada sebagian masyarakat, menjadi pemicu kurang berhasilnya pemberian ASI eksklusif.3 Pemberian ASI sangat penting bagi tumbuh kembang yang optimal baik fisik maupun mental dan kecerdasan bayi. Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberi semuaenergi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan

bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang disebabkan berbagai penyakit yang umum menimpa anak-anak seperti diare dan radang paru, serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu menjarangkan kelahiran.4 B. BATASAN JUDUL Pemilihan judul Evaluasi Program Kesehatan Cakupan Bayi yang

mandapat ASI eksklusif di Desa Menoreh kecamatan Salaman, kabupaten Magelang pada Januari-Desember 2010, Memilki batasan-batasan sebagai berikut : 1. Evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atau permasalahan yang ditemukan. 2. Program adalah rencana kegiatan yang dilakukan Puskesmas Salaman I. 3. Promkes adalah suatu program Puskesmas Salaman I mengenai promosi kesehatan. 4. Cakupan adalah merupakan suatu total hasil kegiatan yang dilakukan perbulan yang kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. 5. ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 (enam) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman tambahan lain seperti susu formula, jeruk, madu, teh, air putih, pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi dan tim kecuali sirup obat. 6. Desa Salaman merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.

7. Periode Januari-Desember 2010 merupakan kurun waktu dimana didapatkan penghitungan hasil pencapaian Cakupan Pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Salaman. C. BATASAN OPERASIONAL Bayi atau balita yang berusia 6 bulan, yaitu dengan batasan usia 7-12 bulan atau dengan kata lain adalah bayi yang sudah melewati usia 6 bulan pada tahun 2010. Bayi atau balita yang berusia 0-6 bulan. ASI eksklusif, yaitu air susu ibu yang diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama tanpa makanan atau minuman tambahan. D. PERUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah gambaran pemberian ASI eksklusif di Desa menoreh Kecamatan salaman Kabupaten Magelang periode Januari-Desember 2010? 2. Apakah penyebab masalah dari kurangnya cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif di Desa Menoreh? 3. Apakah pemecahan masalah dari kurangnya cakupan bayi yang mendapat ASI eksklusif di Desa Menoreh ?

E. TUJUAN Penulisan laporan dengan judul Evaluasi program kesehatan cakupan bayi yang mandapat ASI eksklusif di Desa Menoreh kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang pada Januari-Desember 2010 memiliki tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu: 1. Tujuan Umum Mengetahui, mengidentifikasi, menganalisis serta melakukan evaluasi pemecahan masalah penerapan ASI Ekslusif Desa Menoreh kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui penyebab rendahnya cakupan ASI eksklusif di Desa Menoreh Kecamatan Salaman. b. Menganalisis masalah rendahnya cakupan ASI eksklusif di Desa Menoreh Kecamatan Salaman. c. Mencari pemecahan masalah rendahnya cakupan ASI eksklusif di Desa Menoreh Kecamatan Salaman. d. Membuat Plan of Action (POA) dari pemecahan masalah terpilih. F. MANFAAT KEGIATAN 1. Bagi Puskesmas Diharapkan laporan dari hasil penelitian sederhana ini dapat dijadikan bahan evaluasi, sehingga segala kekurangan yang masih terjadi dapat diperbaiki dan kelebihan yang sudah ada dapat dilanjutkan sebaik-baiknya

dengan kinerja tim yang lebih efektif. Selain itu, hasil evaluasi dapat direalisasikan kedepannya karena ASI eksklusif merupakan salah satu dari 16 indikator perilaku hidup bersih dan sehat yang berperan dalam mencapai tujuan Indonesia sehat 2010. 2. Bagi Masyarakat Dari hasil identifikasi masalah yang ada diharapkan bermanfaat dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, sehingga bila masyarakat memahami arti penting ASI eksklusif akan membawa ke arah perilaku yang lebih baik. Dalam hal ini pemberian ASI eksklusif akan terealisasi dengan kesadaran dari tiap individu, tidak hanya ibu yang sedang menyusui saja melainkan seluruh keluarga maupun masyarakat sekitar yang ikut berperan dalam menciptakan budaya ASI eksklusif. 3. Bagi Mahasiswa Penelitian sederhana ini bermanfaat bagi mahasiswa sesuai dengan trias perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sehingga mahasiswa dapat terjun langsung ke masyarakat untuk

mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang sudah dipelajari. G. METODOLOGI Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diambil merupakan data primer dengan menggunakan kuesioner yang diberikan kepada para ibu menyusui. Selanjutnya data akan dipaparkan secara deskriptif berupa frekuensi dan persentase.

Pengambilan data dilakukan pada tanggal 20 Januari 2011 ke rumahrumah warga di Desa Salaman yang memiliki anak usia 0-6 bulan dan usia > 6 bulan. Jenis data yang diambil adalah data primer yang didapatkan dengan cara pengisian kuesioner terhadap 10 responden yang merupakan ibu yang mempunyai anak usia 06 dan usia >6 bulan di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Data yang didapatkan diolah dengan metode pendekatan sistem, untuk selanjutnya dilakukan analisis masalah dengan mencari kemungkinan penyebab melalui pendekatan sistem dan menggunakan metode fishbone. Selanjutnya dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah secara sistematis yang paling mungkin dilaksanakan dengan Kriteria Matriks.